Persiapan ulang tahun kelima untuk si kecil Ellios Wu hampir selesai. Rumah keluarga Wu masih ribut dan ramai. Sehun bahkan mengambil cuti satu hari ini. Professor Do yang galak melotot padanya kemarin. Tapi demi anak semata wayangnya yang sangat menyukai Ironman, Sehun akan melakukan apapun.
Meski usianya telah lima tahun, tapi ini adalah acara ulang tahun pertama untuk Tae Oh. Selama ini Kris tidak mengijinkan pesta semacam itu di gelar.
"Anakku akan menjadi semakin dewasa dan kemudian tidak membutuhkan aku lagi untuk menggendong atau menidurkan, atau memandikannya. Hal seperti itu sama sekali tidak patut dirayakan" kata Kris saat Sehun bertanya kenapa setiap tahun.
Jadi, dengan kekuatan memelas mommy Wu yang tidak ada duanya, Kris mengibarkan bendera putih.
Anak kecil yang sering di panggil pangeran muda Wu itu bangun sangat pagi hari ini karena terlalu antusias. Tapi lihatlah, kini ia sibuk sendiri degan segala macam robot sahabatnya.
Sehun dan Mommy Wu yang paling sibuk. Padahal ada banyak tenaga kerja yang sengaja mereka panggil hari ini untuk membantu. Karena pertama kali, maka Mommy mengadakan acara besar, seluruh keluarga di undang, bahkan yang di Kanada. Sehun dan Kris menyerahkan segalanya pada wanita parah bayu yang lebih antusias dari Tae Oh itu.
"Sehun, acaranya masih beberapa jam lagi. Kau bisa keluar dan ambil kue yang sudah kita pesan? Mom tidak bisa meninggalkan rumah"
"Aku hampir lupa kue nya" keluh Sehun, karena sedari tadi yang ia kerjakan hanya dekorasi rumah dan cemilan yang masih belum matang di microwave. "Baiklah mom, aku tinggal dulu tidak apa-apa?"
"Tidak apa dear"
Sehun mencolek sisa cream di piring dan mengecup pipi ibu mertuanya yang sibuk memotongi buah sebelum berlalu dari dapur. Di ruang tengah, dia menemukan keributan lain. Para pekerja masih sibuk dengan segala macam dekorasi.
"I'm home!" lengkingan suara perempuan di ambang pintu depan mengalihkan Sehun. Seorang gadis dengan penampilan modis dan koper pink menyala berjalan kearahnya.
"Oppaaaa" serunya, menyeruak masuk dalam pelukan Sehun.
"Kau datang?" tanya Sehun, membalas pelukannya.
"Tentu. Dimana Ellios yang tampan? Aku merindukannya"
Sehun tersenyum. Adik bungsu Kris ini memang selalu menjadi mood terbaik di dalam rumah. Tapi sayang, dia jarang pulang. Kesibukannya mengelilingi dunia tidak bisa di hentikan.
"Temui mom dulu, nancy sayang. Dia di dapur"
"Oppa akan pergi?"
Sehun mengangguk, "aku harus mengambil kue"
"Oke. Hati-hati di jalan"
Nancy meninggalkan Sehun untuk menemui mommy nya di dapur. Bahkan dari pintu depan, Sehun bisa mendengar suara ceriwis mereka yang saling melepas rindu.
Selama ini, Sehun tidak pernah memiliki mobil. Baik selama di Montreal, Onewhero atau Seoul. Kris selalu menjadi supir siaganya. Lagipula dia lebih suka naik kendaraan umum atau berjalan kaki. Hari ini, salah satu mobil di garasi keluarga Wu harus dia pakai karena toko kue cukup jauh. Range Rover hitam melesat keluar dari pekarangan rumah.
Cuaca sangat cerah. Di hari minggu, lalu lintas pusat kota dan pusat perbelanjaan menjadi sangat sibuk. Meski sudah cukup siang, Sehun masih terjebak macet beberapa kali. Itu salah satu alasan Sehun tidak menyukai membawa mobil sendiri. Sebelum ke toko kue, Sehun ingat jika lilin untuk kue belum di beli. Jadi saat melihat minimarket di pinggir jalan, Sehun menghentikan mobilnya.
Dokter muda itu mengambil atensi beberapa remaja yang entah sedang berkumpul untuk apa di depan minimarket. Mereka membuat halaman depan minimarket menjadi ribut. Sehun menggeleng pelan dan tersenyum kecil, meski sudah bertahun-tahun lulus sekolah, tapi pesonanya diantara anak remaja masih seperti dulu. Sehun menjadi percaya diri.
Mencari lilin, Sehun menemukan beberapa cemilan yang biasa ia makan ketika bosan di rumah sakit.
"Sehun?"
Kepalanya menoleh dan terkejut mendapati Jena di depan rak makanan instan.
"Jena? Kau di Seoul?"
"Oh darl, aku merindukanmu" seru Jena, memeluk tubuh tinggi Sehun. "dimana Ellios Wu yang tampan?" kepalanya menengok ke belakang tubuh Sehun, mencari yang dicari.
"Namanya Tae Oh, dan dia dirumah"
Jena memutar matanya, "cukup namamu saja yang membuat lidahku terbelit"
"Serius Jen, kau sedang apa disini?"
"Membeli makanan" tunjuk Jena pada jejeran mie instan.
"Di Seoul"
Tubuh mereka menyingkir ketika seorang ibu hamil memenuhi jalan dengan trolinya. Jena mengangkat bahu acuh dan kembali mengambil beberapa bungkus mie.
"Ada keluarga ku yang sakit"
Sehun bergumam sambil mengangguk. "Kebetulan, kau bisa mampir ke rumah? Hari ini ulang tahun Tae Oh"
"Oh! Kris sudah mengijinkan mu merayakan pesta?"
Lihatlah, Jena saja terkejut. Sehun terkekeh dan menggeleng.
"Ibu mertuaku"
Jena mengangguk, "kebetulan juga aku tidak bisa. Aku harus segera kembali ke rumah sakit setelah ini"
Sehun dan Jena menghabiskan beberapa obrolan sampai mereka sadar sudah di pelototi pegawai minimarket sejak tadi karena terlalu lama menghalangi jalan. Mereka berpisah di depan minimarket.
Sehun kembali memeriksa isi paper bag dan memastikan bahwa yang ingin ia beli tadi sudah terbeli semua. Kakinya melangkah menuju mobil sebelum sebuah tangan menggapai lengan nya. Mimpi apa Sehun tadi malam jadi banyak bertemu orang hari ini.
"Ada apa Jongin?"
Si pria yang disebut namanya tersenyum. Entah kenapa, ia memiliki kesenangan tersendiri ketika namanya diucapkan oleh Sehun. Mungkin karena sudah sangat lama tidak mendengarnya.
"Aku ingin mengobrol" Jongin mendongak pada seberang jalan dan menunjuk cafe disana. "Bagaimana kalau disana?"
Jongin gusar ketika hembusan nafas keras keluar dari celah bibir tipis Sehun. Dia tau bahwa kali ini tidak mudah mendapatkan pria itu lagi. Bahkan sekedar untuk berbaikan dan menjalin pertemanan seperti dulu. Sehun menggaruk pelipisnya dan menatap Jongin.
"Begini Jongin. Kau tidak perlu meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu. Kau juga sudah melihatku untuk mengurangi kerinduanmu. Maksudku, kita masih memiliki urusan lain?
Jongin mengambil nafas berat. Sesak mendengar kalimat seperti itu dari orang yang dulu sedekat hubungan darah dengannya. Kepalanya seperti terpukul palu besar, menyadarkan bahwa waktu telah banyak merubah Sehun nya.
Sehunnya?
"Hanya sebentar Sehun"
Sehun menutup kembali pintu mobil yang sudah terbuka dengan keras. Emosi itu menggumpal di dadanya entah kenapa. Ia rasanya ingin memaki Jongin. Mengeluarkan seluruh amarah. Seluruh sakit hatinya. Ia mendekat pada Jongjn, berdiri dengan jarak dua jengkal kaki di depan pria yang masih setampan dulu.
Jantungnya bertalu dan Sehun tidak bisa berbohong bahwa itu karena bola mata di depannya. Ia bisa melihat dirinya disana.
Tidak berbeda dengan Jongin. Ia berdegup karena penyesalan bahwa dulu semua hal ia sia-siakan. Manik biru malam itu masih saja terlihat mempesona. Tangannya bergetar, menahan keinginan untuk memeluk tubuh Sehun.
"Aku Wu Xiuhuan. Suami dari Wu Yifan. Dan aku miliknya. Kau masih ingin mengajakku duduk di cafe sana?"
Petir di tengah hari itu bukan mitos. Jongin mendengarnya dengan jelas sekarang. Beserta retakan kaca yang tersambar.
Benar. Bahkan jika seluruh dunia ia tundukkan, Sehun adalah Wu Xiuhuan sekarang.
"Hanya sebentar"
Jika Jongin berfikir untuk merebut Sehun dan mengambilnya untuk dirinya sendiri. Egoiskah?
Sehun menghela nafas lagi. "Kita tidak sedekat itu lagi Jongin. Minta ijin suamiku dulu jika ingin bertemu denganku. Permisi"
Desiran menyakitkan dari segala sisi menyerang Jongin. Selain itu, rasa tidak terima dan keegoisan yang muncul tidak bisa di cegah. Dengan cepat, tangannya kembali menggapai lengan Sehun dan menariknya. Sehun terkejut, tapi tidak ingin membuat keributan di depan banyak orang. Jadi kakinya mengikuti Jongin ke gang kecil di samping minimarket.
"Apa-apaan-"
Kalimat itu terlelan bersamaan rasa asing yang dirasakan bibirnya ketika Jongin dengan sangat egois mmenciumnya. Rasa manis baru yang membuat Sehun hilang kata untuk beberapa detik. Saat tersadar, ia cengkram lengan Jongin, berusaha mendorong pria yang kini semakin berani mengulum bibir nya.
Satu tangan Sehun beralih pada belakang kepala Jongin, meremas surai hitam itu sebelum mendorong nya dengan keras ke depan hingga suara benturan kening mereka terdengar nyaring dan menyakitkan.
"Akh!"
Berhasil. Jongin melepas ciumannya. Sehun menatap sekeliling yang sunyi dan tertawa mendengus.
"Disini saja keberanianmu?" ejeknya.
Jongin yang telah selesai meringankan rasa sakit di keningnya kembali menatap Sehun, menggenggam lengan itu lagi. "Aku hanya ingin sedikit waktumu Sehun. Kau tau bagaimana selama ini aku hidup dengan merindukanmu? Aku tau kau milik orang lain sekarang. Tapi tidak bisakah persahabatan kita kembali?"
"Persahabatan yang keluar dari mulutmu sejak dulu hanya omong kosong. Dan dengarkan aku baik-baik. Satu-satunya orang yang menciumku dan menyatakan bahwa aku miliknya di depan banyak orang hanya Kris Wu. Kau tidak akan memiliki keberanian seperti itu, Kim Jongin"
Dengan kalimat itu Sehun berbalik. Memunggungi Jongin dan menjauh darinya.
"Aku mencintaimu Oh Sehun!"
Dan tubuhnya tetap tidak berbalik. Meninggalkan Jongin dengan segala rasa itu di balik punggungnya. Sehun memasuki mobil dan segera melesat menjauh dari sana. Takut jika Jongin kembali menyusulnya.
"Sial!"
Jika di tanya siapa yang paling munafik. Maka Sehun berani mengangkat tangannya lebih dulu. Lihat saja bagaimana air mata itu kini mengalir di pipinya. Meremas dadanya dengan rasa sakit yang sama seperti delapan tahun lalu. Kata terakhir dari Jongin terngiang hingga ke dalam kepala. Sehun memukul setir beberapa kali guna menyadarkan dirinya lagi.
Nama Kris berkali-kali ia gumamkan. Helaan nafasnya kembali normal. Sehun mengambil tisu dan membersihkan wajah. Merutuki kebodohannya.
Mobil kembali berhenti di depan toko kue. Kali ini Sehun tidak ingin berlama-lama. Setelah membayar, ia terburu-buru keluar dan ingin segera kembali ke rumah. Tapi pemandangan WF Entertainment di seberang jalan menghentikan niatnya. Bibirnya tersenyum lebar. Sehun merogoh saku dan mengambil ponselnya.
.
"Jika tidak ada pertanyaan, rapatnya kita akhiri sampai disini. Terima kasih untuk kerja keras kalian semua"
Seluruh orang di dalam ruangan berdiri dan membungkuk pada Presdir Wu yang lebih dulu meninggalkan ruang rapat.
"Setelah ini aku akan pulang. Beberapa berkas ku serahkan padamu, Tif"
Tiffany menangguk dan mengiyakan seluruh perintah atasannya. Sebagai sekretaris pribadi, sudah jadi tugasnya mengambil alih seluruh pekerjaan yang masih bisa ia handle.
"Dan jangan lupa katakan pada seluruh karyawan untuk datang ke acara ulang tahun anakku sore nanti"
"Baik Presdir"
Kris memasuki ruang pribadinya, ingin merapikan beberapa hal sebelum bersiap pulang saat ponsel di atas meja berdering.
"Hallo sayang"
'Aku menelpon mu tiga kali, Kris'
Itu Sehun. Kris taunya tersenyum.
"Aku baru selesai rapat. Kau di rumah? Aku akan pulang sekarang"
'Aku di depan kantormu. Kita pulang bersama saja. Aku membawa mobil'
"With my pleasure, Honey"
Kekehan halus terdengar di seberang telpon. Favorit Kris. Telpon ditutup kemudian. Kris bergegas merapikan meja. Ketika tangannya tergerak membenarkan letak bingkai foto di atas meja, ia terhenti. Itu potret keluarga kecilnya. Ia, Sehun dan Ironman kecil mereka, Tae Oh. Hanya melihat hal sekecil ini, seluruh hidup seakan bisa Kris hadapi. Keluarga kecilnya adalah kekuatannya selama ini.
Meski ia tau bagaimana Sehun dan seluruh masa lalu nya pada Jongin, besarnya cinta itu tidak bisa ia lepaskan. Kris sangat mencintai Sehun denga seluruh hati serta hidupnya. Meski separuh hati dan hidup Sehun untuk lelaki lain. Ia tidak takut kehilangan. Karena bukan dia yang memiliki Sehun.
Sehun lah yang telah memiliki nya.
Kris sedikit menyesal karena selama ini tidak pernah mengijinkan Sehun merayakan pesta ulang tahun untuk Tae Oh. Jika ia tau akan sebahagia ini dua orang itu, maka setiap bulan ia akan merayakan ulang tahun Tae Oh. Kris terkekeh, membayangkan wajah Sehun dan Tae Oh di acara nanti. Mungkin ia sendiri yang harus menyiapkan kamera dan mengabadikan segala moment.
Sebelum pergi, Kris mengusap foto dalam bingkai. "Ku harap kalian selalu bahagia seperti ini"
.
.
.
Brakk!
Jongin menghempaskan tubuhnya pada ranjang. Telungkup sambil meremasi rambut sendiri.
"Akhhh! Si bodoh ini selalu melakukan hal bodoh" umpat Jongin, memukul kepalanya. "Bukannya memperbaiki hubungan dengan Sehun, aku mungkin sudah membuatnya semakin runyam"
Tok! Tok!
Jongin memutar tubuhnya dan melihat sang ibu di depan pintu yang kini terbuka. Wanita paruh baya itu tersenyum dan melangkah mendekat.
"Ada masalah?" Tanya nyonya Kim.
Jongin menggeleng, merapikan lagi tatanan rambutnya. "Tidak bu. Hanya masalah sekolah"
"Ibu mendengarmu menyebut nama Sehun"
Segala kesalahpahaman di masalalu telah Jongin ketahui kebenarannya. Tentang pot bunga, klinik, dan bagaimana ibunya menyuruh Sehun menjauhinya. Jongin bertemu Soojung, wanita itu menangis tersedu mengingat kejadian waktu itu. Dia berkali-kali bertanya perihal keberadaan Sehun, tapi tidak ada yang tau. Wanita yang kini telah memiliki dua anak kembar itu masih saja menangis jika bertemu Jongin.
Chen menjadi yang paling terlambat mengisahkan kebenaran tentang keberadaan Sehun di klinik. Chen bercerita dengan tenang bagaimana Sehun dipukuli para preman karena tidak memberi mereka uang, lalu di temukan oleh Chen dan berakhir di klinik. Saat itu, Sehun benar-benar kesakitan. Perut serta lengan dan lututnya lebam, tapi dia masih bisa tertawa agar Jongin dan Chanyeol tidak khawatir. Chen yang menelpon Jongin hanya bersembunyi di salah satu kamar. Sehun memarahinya.
Dan ibunya.
Seminggu setelah Sehun sama sekali tidak muncul di sekolah, barulah Jongin dan Chanyeol tau bahwa pria pirang itu telah mengundurkan diri dari sekolah, mengambil beasiswa nya dan berangkat keluar negeri. Jongin ingat bagaimana ia berlari ke stasiun kereta dan menemukan rumah Sehun di Busan. Hari itu, dia menangis di depan ibu Sehun.
Pulang ke rumah, ibu menanyakan Sehun yang sudah lama tidak pernah ke rumah. Jongin lupa sudah berapa lama. Karena yang ia ingat hanya pertemuan dan kebersamaan nya dengan Seolhyun. Ibu menangis juga hari itu. Jongin menjadi satu-satunya yang dikisahi banyak hal oleh orang-orang tentang Sehun.
Bagaimana perasaan Sehun. Bagaimana rasa sakit Sehun. Bagaimana keras kepalanya Sehun. Bagaimana hidup Sehun.
Jongin terlambat menyadari bahwa seluruh kisah itu selalu berakhir dengan kenyataan bahwa dia kehilangan. Dia kehilangan separuh hati yang telah Sehun bawa. Dia kehilangan cinta yang sebenarnya.
Hubungannya dengan Seolhyun berakhir dengan baik.
"Sehun berada di Seoul?"
Jongin menimang apakah harus memberitahukan ibunya atau tidak. Tapi wajah penuh harap nyonya Kim membuatnya tidak tega.
"Sudah hampir setengah tahun bu. Sehun sudah pulang"
"Kenapa tidak memberitahu ibu?"
"Aku... Entahlah bu. Aku hanya tidak ingin membuat ibu sedih"
Benar. Nyonya Kin menangis lagi. Jongin memeluk ibunya yang terus menggumamkan nama Sehun. Penyesalan wanita itu memang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya, tapi penyesalan mereka sama.
"Ibu ingin bertemu dengannya"
"Iya bu. Aku akan bicara padanya nanti"
Dering nyaring ponsel diatas ranjang mengejutkan Jongin. Ia melepas tubuh ibunya dan melihat nama yang tertera di layar.
"Tae Woo hyung?" gumamnya sebelum menjawab telpon. "Yeoboseo hyu-"
'Sehun di rumah sakit sekarang!'
"Apa?"
Jongin tidak benar-benar mendengarkan perkataan Tae Woo setelah itu. Yang bisa ia dengar hanya nama Sehun, rumah sakit dan kecelakaan. Ia panik dan berlari begitu saja, mengambil mobil dan melesat secepat mungkin. Menggumamkan nama Sehun disepanjang jalan.
"Sehunku..."
.
.
.
Beberapa waktu sebelumnya...
Duk!
"Ouh maafkan aku"
Sehun mengusap bahunya yang lumayan sakit dan tersenyum pada seorang pria di depannya.
"Tidak apa-apa... Tae Woo?"
Merasa namanya di sebut, si pria menunduk, mendekati wajah Sehun untuk memperjelas penglihatannya yang terbias matahari siang.
"Oh Sehun?"
Sehun mengangguk beberapa kali. Sumringah melihat pria yang dulu adalah kakak kelasnya ini.
"Astaga. Beruntung sekali kau bertemu denganku disini" kata Sehun yang langsung mendapat jitakan di kepalanya.
"Masih saja tidak sopan. Panggil aku hyung"
Mereka tertawa. Sehun memperhatikan penampilan Tae Woo dan menebak tujuan pria yang kini berdiri berisisian dengannya menunggu lampu merah.
"Kau bekerja di WF?"
"Ya. Keren kan?"
Sehun menggeleng. "Biasa saja"
Tae Woo memicing, "jangan-jangan kau juga bekerja disini? Karyawan magang?"
"Aku?" delik Sehun. "Maaf saja ya, aku memang sedang menunggu seseorang dari WF, tapi aku seorang dokter. Dan tidak magang"
Tae Woo terkekeh. Dari segi penampilan, Sehun memang telah banyak berubah. Tapi bicara pria ini tetap saja tidak sopan.
"Siapa yang kau tunggu?"
Sehun memanjangkan kepala guna mencari Kris diantara pejalan kaki di seberang jalan. Ketika pria disana tersenyum, ia melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
"Presdir mu"
Tae Woo membuka mulutnya sedikit, mengira-ngira sesuatu. Cekatan nafasnya terdengar lucu di telinga Sehun kemudian.
"Jangan-jangan-"
Lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, Sehun menoleh sekali lagi pada Tae Woo.
"Dia suamiku" Tegasnya sebelum melangkah, bersamaan dengan Kris yang juga menyebrangi jalan yang tidak terlalu ramai siang ini.
Kris terlihat sangat tampan hari ini dengan setelan jas abu yang Sehun pilihkan pagi tadi. Pria tinggi itu tersenyum padanya. Angin yang menggerakkan rambut pirangnya terlihat begitu bersahabat. Seolah alam telah menerimanya.
Nyuut!
Sehun terhenti. Lonjakan menyakitkan di dadanya terasa sangat aneh. Sebelum ia mengerti, suara decitan mobil mengambil alih seluruh mata di jalan raya.
Ckiitt!
"PRESDIR!"
"KRIS!"
Brakk!
Kejadiannya begitu cepat. Ketika mobil pick up hitam itu melaju kencang, dan menabrak seseorang di tengah jalan.
Seperti waktu terhenti. Yang bisa Sehun lihat hanya tubuh Kris yang terhempas keaspal keras. Seluruh pegangannya terlepas. Kakinya berlari secepat angin, menggapai tubuh bersimbah darah suaminya. Sehun bisa merasakan telinganya berdengung nyaring. Suara dari orang-orang tidak satupun yang bisa ia dengar.
"Kris..."
Hanya suara bergetarnya. Serta sentuhannya pada tubuh Kris yang bergetar kuat.
"A-andwae...Kris..."
Kris menatapnya melalui mata sayu yang penuh darah di pangkuannya. Mulutnya terbuka beberapa kali untuk berkata. Namun hanya nafas berat yang terdengar. Sehun menggeleng, menggenggam jemari Kris di pipinya.
"Presdir!"
Sehun mendongak. Menatap Tae Woo yang kini hanya berupa bayangan buram karena genangan air di pelupuk mata.
"Panggil ambulans. Ku mohon.."
.
.
.
Drak! Drakk!
Seperti de javu. Orang-orang menyingkir ketika bankar didorong dengan cepat menuju UGD. Simbahan darah di kain putih bankar terlihat mengerikan. Terlebih kemeja putih itu. Dan seseorang yang tergeletak di atas nya.
"Tambah persediaan darah!" Itu suara dokter Jung. Sehun sudah tidak bersuara sejak masuk ke ruang UGD. Ia hanya terus menekan luka di kepala Kris, berusaha menahan laju darah yang terus keluar.
Suaminya itu sudah tidak sadarkan diri. Detak jantung serta tekanan darahnya tidak stabil. Beberapa kali mengalami penurunan hingga membuat Sehun tersedak air matanya sendiri. Dokter Jung sesekali melihat raut wajah Sehun dan kembali lagi memperhatikan kardiograf.
"Ku mohon Kris.." Sehun masih berusaha menekan luka di kepala Kris serta memegangi kantung oksigen. Tubuhnya hampir sama. Penuh darah.
"Tekanan darahnya menurun dok!" dokter Jung ikut gusar.
Sehun menggeleng lagi. "Siapkan CPR! Cepat!"
Seorang perawat sigap mengambil alat tersebut dan segera menyerahkannya pada Sehun.
"150 joule! shoot!"
Tubuh Kris terlonjak. Sehun menggigit bibirnya. Ikut merasakan sakit.
"200 joule! shoot!"
"Tekanan darahnya tidak kembali normal"
Sehun melepaskan CPR dari tangannya dan ganti menekan dada Kris.
"Kumohon. Bertahanlah... Kumohon Kris..."
Setitik. Dua titik.
Air matanya ikut mengalir bersama darah diatas bankar. Kilasan segala kisah tentang mereka tiba-tiba terputar di depan matanya. Bersatu bersama wajah diam Kris. Tangannya memukuli dada Kris, berharap bisa mengembalikan pria itu.
Suara panjang dan nyaring dari kardiograf layaknya alarm kematian untuk seluruh orang. Dokter Jung menatap perawat di belakang tubuh Sehun.
"Dokter Wu"
"Selamatkan suamiku... Kumohon.."
Dokter Jung menatap prihatin pada rekan kerja nya. Ia kembali bertatapan dengan perawat dan menggeleng pelan.
"Waktu kematiannya, pukul dua siang waktu Korea"
Sehun merosot jatuh pada lantai. Dokter Jung membantunya berdiri, namun kakinya sudah selemah jely bersamaan dengan pertahanannya yang runtuh. Untuk pertama kalinya, Sehun meraungi takdir yang datang padanya.
Dokter Jung dan perawat berinisiatif meninggalkan ruangan. Beberapa orang telah berkumpul di depan ruang UGD ketika pintu terbuka. Wanita paruh baya yang pertama menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anakku?"
"Benturan yang keras menyebabkan tulang tengkorak nya pecah dan mengalami pembengkakan. Pasien, tidak bisa bertahan karena pendarahan parah. Kami mohon maaf" dokter Jung beserta perawat membungkuk penuh penyesalan.
Mommy Wu jatuh pingsan di pangkuan Nancy. Tae Woo dengan sigap membawanya ke ruangan lain. Sedangkan satu orang lain disana tak bergerak. Nanar menatap pada pintu putih yang tertutup. Khawatir akan apa yang terjadi selanjutnya.
Dokter Jung meninggalkan ruangan bersamaan pintu yang terbuka.
Jongin melihatnya. Sehun berjalan pelan dengan pakaian penuh darah. Matanya menatap Jongin, namun tidak ada siapapun di dalam bola mata biru malam itu. Kosong. Sehun layaknya mayat hidup. Hati Jongin teriris pedih.
Topangagnya pada kedua kaki melemah. Jongin menyambutnya. Membawa tubuh dingin dan bergetar Sehun dalam pelukannya. Isakan menyakitkan keluar dari tenggorokan Sehun. Jongin enggan melepasnya.
"Aku tidak sempat mengatakannya" lirih suaranya menyakiti Jongin sampai ke tulang. "Aku tidak sempat mengatakan bahwa aku mencintainya"
Sepanjang hidup, Jongin tidak pernah membayangkan akan melihat Sehun dalam keadaan seperti ini. Kehancuran pria ini sama dengan pembunuhan untuknya. Mendengar serak suara Sehun dengan deretan kalimat yang baru saja terucap, Jongin merasa bersalah pernah berpikir egois untuk merebut pria itu dari pemiliknya.
Mungkin separuh hatinya yang di bawa Sehun, telah terbagi menjadi potongan kecil hingga akhirnya tercecer dan menghilang.
"Aku sangat mencintainya. Aku mencintai suamiku..."
"Aku tau, Sehun" saat menarik nafas, sakit itu akhirnya terasa, "aku tau"
Cengkraman di belakang baju Jongin diiringi cekatan suara yang lebih menyesakkan. Jongin memeluknya semakin erat. Takut tubuh itu jatuh di depannya. Ia tidak sanggup melihat.
Takdir sudah begitu kejam pada keluarga kecil yang bahagia ini. Bagaimana pertemuan, pernikahan dan perjalanan ini berlabuh pada perpisahan seperti ini. Bahkan sumpah untuk mencintainya tidak bisa menjadi jaminan.
Seharusnya hari ini perayaan ulang tahun Tae Oh yang meriah. Seharusnya Sehun dan Kris sudah berada di rumah, di sambut lengkingan cempreng Tae Oh dan ributnya Mommy serta Nancy. Seharusnya mereka kembali menunjukkan pada dunia betapa bahagia nya si minoritas yang selalu dipandang sebelah mata.
Seharusnya...
Sehun tidak perlu menelpon Kris dan membiarkan suaminya pulang sendiri. Kris tidak perlu menyebrang jalan.
Seharusnya...
Perpisahan tidak perlu semenyakitkan ini.
Kecil harapan itu masih ada. Sehun masih berharap Kris bangun dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Sehun akan mengatakan bahwa dia mencintainya. Sehun akan melakukan apapun yang tidak sempat mereka lakukan bersama. bahkan jika kehidupan harus di tukar.
Seperti Jongin. Jika hidup bisa ditukar. Biar dia saja yang mengalami hal ini. Sehunnya tidak perlu terluka untuk kesekian kali.
.
.
.
.
.
.
Bersambung dulu ya, saya udh nggk kuat (╥_╥)
Rekomendasi bnget baca ini sambil dengerin lagunya EXO CBX yang Someone Like You.
Semoga feel-nya nyampe ke kalian (╯︵╰,)
