Hitam.

Bunga.

Bingkai foto.

Dan peti.

Sehun terjebak dalam hal-hal itu. Ketika ia berfikir untuk melarikan diri, ia kembali pada tempat duduk. Meratap dengan sisa tenaga. Orang-orang datang silih berganti, dan dia tetap disana. Duduk diam, kadang menatap lantai, kadang mendongak memastikan senyum dalam bingkai.

Dan setiap kali senyum itu terlihat, hatinya hanya kembali sakit. Mata bengkaknya bahkan tidak mampu lagi mengeluarkan air mata. Ia terisak menyakitkan, tanpa ada hal tersisa yang bisa di keluarkan.

Mommy Wu berada di sebelahnya, menyambut tamu yang ingin mengucap sepatah dua patah kata basa basi tentang penghiburan yang diabaikan oleh Sehun. Dia hanya lelah untuk sekedar bicara.

"Appa" rengekan Tae Oh sedikit menyadarkannya. Sehun menoleh dan mendapati anak semata wayangnya telah berdiri di sampingnya.

"Kenapa Tae?" tanyanya serak, mencoba satu senyuman sambil mengusap rambut Tae Oh.

"Where's daddy? I want daddy"

Tae Oh itu tidak suka jika berada dalam satu ruangan yang penuh dengan orang asing. Seperti sekarang. Kalau tidak Sehun, ia akan mencari Kris. Seperti mencari perlindungan.

Sehun menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tak membuat Tae Oh terkejut dan ikut menangis. Ketika akan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Tae Oh, suaranya tersendat di tenggorokan hingga tidak ada kata yang keluar.

Apa yang harus ia katakan?

"Hey Tae, mau cake berbentuk Ironman?" Nancy datang dari belakang dan mengambil perhatian bocah berusia lima tahun itu. Sehun sedikit nya menghela nafas lega ketika Tae Oh mengangguk dan pergi bersama adik iparnya.

Lagi, ia mendongak untuk memastikan bahwa bingkai foto Kris masih berada diatas sana. Puluhan tangkai bunga krisan putih menyebarkan harum yang berbeda.

Harum kematian.

Sehun benci.

Di luar, cuaca sedang buruk karena awal musim dingin sudah di mulai. Berbulan-bulan akan penuh salju dan angin yang menggigiti kulit.

Berfikir lagi tentang kesendiriannya selama musim salju yang dingin, Sehun meringkuk ke sudut tembok, melipat kakinya sebagai tumpuan dan tidak beralih dari wajah Kris di bingkai. Dia menangis lagi.

'Entahlah. Aku tidak memiliki jadwal apapun seminggu ini. Tapi sepertinya aku akan pergi mendadak'

Perkataan Kris dua hari lalu terngiang kembali. Sudah berkali-kali sejak kemarin. Dan Sehun selalu menyalahkan diri tentang ketidak pekaan dirinya. Tidak ada firasat sama sekali. Setaunya, hari bahagia untuk ulang tahun Tae Oh akan menjadi moment yang tidak terlupakan.

"Kau meninggalkanku" gumamnya lirih, masih pekat menatap foto tersenyum Kris. "Untuk apa aku bersumpah kalau kau yang akhirnya meninggalkanku?"

"Hunnie"

Suara familiar itu membuat Sehun berpaling dengan cepat. Dengan sisa tenaga, ia bangkit berdiri dan segera menyandarkan diri dalam dekapan sang ibu.

"Ibu.."

"Kenapa hal ini terjadi padamu sayang?" tangisan ibu membuat Sehun akhirnya ikut menangis. Memerah sisa air mata.

"Kris meninggalkanku bu. Dia berjanji di depanmu tidak akan meninggalkanku, tapi dia pergi bu. Dia pergi seperti ini" isak Sehun, erat memeluk ibunya.

Sejak menikah, keluarga Wu yang baik memang memberikan sebuah penginapan di Jeju untuk ibu jaga. Jadi, selama ini ibu sudah tidak tinggal di Busan lagi. Karena cuaca buruk, pesawat mengalami delay yang panjang hingga baru kini Ibu bisa tiba di Seoul. Menemui putra nya yang terlihat mengenaskan dengan sisa air mata.

Pemandangan itu tak elak membuat tamu yang lain merasa pilu. Juga beberapa orang di tengah ruangan yang sejak tadi tak lepas mata dari Sehun. Chanyeol, Chen, Tae Woo dan Jongin.

Sakit itu menular walau dalam konteks yang berbeda. Jongin merasakannya. Bagaimana sakit itu membuatnya takut untuk mendekati Sehun. Takut dengan kenyataan bahwa kehancuran Sehun sekarang membuktikan dengan jelas bagaimana rasa cinta dalam ikatan pernikahan mereka begitu kuat.

Sekali lagi jika harus Jongin katakan. Ia kalah.

Kerinduannya tidak sepadan dengan cincin putih yang melingkar di jari manis Sehun.

"Kau ingin menemuinya?" tanya Chanyeol.

Jongin menatapnya sebentar dengan ragu, "haruskah?"

"Menurutmu?"

Jongin menoleh lagi untuk melihat Sehun yang kini duduk berdampingan dengan ibunya yang sibuk mengusap air mata di pipi putih itu. Seperti anak kecil kehilangan miliknya yang berharga. Jongin memastikan lagi dan detik berikutnya berdiri untuk menghampiri Sehun.

Belum sempat mendekat, beberapa orang dengan pakaian hitam yang sama memberitahukan bahwa peti mati akan segera di bawa ke pemakaman. Jongin urung melanjutkan langkah nya dan berdiri dengan jarak yang cukup jauh bersama tamu lain.

Sehun seperti kembali di tarik ke saat pertama kali mendengar alarm kematian Kris di ruang gawat darurat. Dadanya berdenyut beberapa kali. Sangat sakit. Tuan Wu, Kenneth yang datang dari Montreal, Chanyeol, dua orang sepupu Kris, dan Sehun sendiri yang akan mengangkat peti mati menuju mobil.

Hening dengan suara tangisan dari segala sudut mengiringi langkah para keluarga. Nancy menggendong Tae Oh bersama nya, sedangkan mommy Wu berada dalam rengkuhan Yuan, anak sulung keluarga Wu. Wanita paruh baya itu tidak berhenti menangis dan sesekali tersandung kakinya sendiri.

Sehun sama. Ia seolah hanya memegang peti, sedangkan lima orang lain membantu mengangkatkan untuknya. Seluruh tubuhnya lemah. Kakinya hanya terpaksa untuk melangkah.

Setiap langkah yang terjalin, yang terdengar hanya suara tawa Kris, kata-kata Kris, dan senyumnya. Setitik air mata lolos di pipi Sehun.

'Aku mencintaimu, Wu Xiuhuan'

Setidaknya, sampai peti dimasukkan ke dalam mobil, barulah pertahanan diri Sehun runtuh. Kakinya tidak sanggup lagi menopang tubuh dan akhirnya jatuh berlutut di depan peti Kris. Tidak ada lagi yang bisa Sehun tahan. Isakannya terdengar nyaring, gumamannya yang menyebut nama Kris berkali-kali bisa di dengar oleh seluruh orang. Kenneth yang berdiri paling dekat mengusap bahunya, membantunya agar tidak tersungkur.

Chanyeol mengusap sudut matanya. Sakitnya karena melihat kesakitan Sehun. Adiknya yang entah mengapa selalu melewati banyak hal untuk terus bertahan hidup.

Nancy mendekat karena Tae Oh terus bergerak ingin menemui ayahnya. Ia turunkan Tae Oh di samping tubuh berlutut Sehun.

"Appa, uljimayo" suara kecilnya menarik perhatian, terlebih ketika jemarinya berlarian di pipi Sehun untuk menghapus jejak air mata disana. "Kata Nancy aunty, daddy hanya sedang tidur. Jadi Appa jangan sedih"

Hancur lagi hati Sehun. Ia terisak semakin keras dan memeluk tubuh Tae Oh. Tubuh kecil yang juga sering Kris peluk. Tae Oh yang terkejut dan merasa terjepit karena pelukan erat dari ayahnya akhirnya merengek.

"Appa~" bibirnya mengerucut, tapi Sehun sudah tuli oleh segala kenangan yang masuk silih berganti ke dalam kepalanya. Bagaimana di sisa malam yang panjang, ia, Kris dan Tae Oh akan menghabiskan waktu di tempat tidur, membaca beberapa dongeng dan berakhir dengan tidur bersama.

Chanyeol akhirnya mendekat, dengan pelan melepaskan lengan Sehun dari tubuh Tae Oh dan membawa anak itu dalam gendongannya menjauh dari mobil. Entah apa yang ia pikirkan saat menyerahkan Tae Oh pada Jongin. Chanyeol hanya melihat Nancy yang sudah repot menenangkan Nyonya Wu.

Jongin dengan canggung menggendong Tae Oh dan mengusap punggung nya agar anak itu tidak menangis sebelum Nyonya Oh datang dan mengambil alih.

"Lama tidak bertemu, Ibu" sapa Jongin, membungkuk singkat. Nyonya Oh hanya tersenyum dan mengusap pipinya akrab.

Mobil yang mengangkut peti serta keluarga sudah siap berangkat. Chanyeol mendekat bersama Kenneth dan berkata bahwa pria bule itu akan ikut bersama mobil mereka. Hari itu, di awal musim dingin, hanya keluarga dan kerabat dekat yang ikut ke pemakaman terakhir Kris.

.

.

.

Gundukan tanah beraroma basah serta salju pertama yang turun. Sehun masih disana, di samping suaminya. Enggan berfikir pulang seperti yang lain. Hanya dirinya kini. Chanyeol, Ibu serta Tuan Wu sudah mencoba membujuknya tetapi tidak berhasil. Ia masih ingin berlama-lama dengan suaminya.

Salju pertama.

Sehun dengan jas hitamnya tidak merasa dingin. Ia sudah beku. Mati rasa. Hempasan butiran salju pada pucuk kepala dan bahu tidak menarik sedikitpun perhatian pria yang kini duduk di tanah basah itu.

"Kita melihat salju pertama bersama lagi" katanya pada pusara. "Setiap tahun selama enam tahun ini kita tidak pernah melewatkan salju pertama. Kata Nancy, kita memang ditakdirkan bersama. Kata orang, kita terlihat serasi. Kata keluargamu, kita seperti akan menua bersama"

Sehun menggenggam jemarinya yang mengkerut. Bajunya pun basah karena salju, tapi waktu masih panjang. Ia ingin sebentar lagi berada disana.

"Tapi aku sendirian sekarang" Ia menoleh berkeliling dan benar jika pemakaman telah sunyi. Ia sendirian. "Aku jadi takut pulang ke rumah"

Ditinggal Kris selama berhari-hari keluar negeri tidak pernah semengerikan ini sebelumnya. Menyadari bahwa pria itu tidak akan kembali lah yang membuat Sehun enggan pulang ke rumah. Kenangan itu masih tertinggal. Aroma itu masih ada. Sehun tidak ingin merasakannya meski ia tidak akan melupakannya. Tidak saat ia sendirian.

Bibirnya mengering dan Sehun menatap sekali lagi pada gundukan tanah yang telah menyembunyikan Kris sepanjang waktu disana. Helaan nafasnya beruap dingin. Tapi ia tersenyum kini.

"Aku tidak akan melupakanmu selama kau masih ada di bumi, Wu Yifan"

Salju semakin deras memutihkan tanah. Sehun menggigil akhirnya. Getaran tubuhnya bersamaan dengan air mata yang kembali menganak sungai di pipi. Tidak ada isakan, tidak ada raungan. Hanya lautan rindu yang menguap.

"Aku sudah merindukanmu Kris"

Bayangan seseorang di belakang serta salju yang berhenti mengguguri badannya membuat Sehun mendongak untuk sekedar mendapati pria dengan setelan dan payung hitam disana. Untuk beberapa detik, mereka larut dalam pemahaman pada tatapan masing-masing.

Sehun menyeringai dengan sisa basah pada pipi. Matanya menerawang jauh pada ingatan lain.

"Aku jadi ingat ketika ibumu memintaku untuk meninggalkanmu. Apa kau tau aku disana ketika kau dan kekasihmu berpegangan tangan di sepanjang jalan? Kau tau siapa yang membawaku di bawah payung nya ketika hujan membuatku lemah?"

Tidak ada sahutan. Sehun kembali mendongak. Menghujam mata di depannya dengan ribuan kata yang tidak akan pernah terucap. Iris biru malamnya mengkilat di bawah salju. Basah.

"Dia Kris Wu. Bukan Chanyeol hyung, bukan Chen, bukan Yixing hyung, dan bukan dirimu, Jongin"

Seperti belati, Jongin tertusuk di bagian dada. Menyakitkan dan tidak bisa membela diri. Berdiri kaku dengan payung yang masih menaungi tubuh Sehun. Ia seperti mengejek dirinya sendiri sekarang.

"Jadi untuk apa kau disini? Mengulang moment dan menggantinya dengan namamu?" bisik Sehun parau. "Sangat terlambat, Jongin"

"Ayo pulang" Jongin menyumpahi dirinya yang tak berkutik. "Sangat dingin disini"

"Pulang kemana? Kris adalah rumahku, tempatku pulang"

Tes!

"Sehun-ah..."

"Pulanglah. Tidak perlu mencemaskanku. Aku bersama suamiku"

Tes!

Jongin melepas payungnya dan menggapai tubuh limbung Sehun. Pria pucat itu pingsan dengan darah yang terus keluar dari hidung.

Di tengah salju, Jongin menggendong tubuh itu. Melewati makam Kris. Mengabaikan dingin. Memikirkan satu nama.

Oh Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung..

Update cepet supaya cepet ending (¬_¬)ノ

Kangen KaiHun gue tuh ╥﹏╥ nyari moment mereka sekarang susah banget.