Jongin masih berada di rumah mewah milik keluarga kecil Wu meski waktu sudah menunjuk hampir tengah malam. Ia hanya membuat sedikit bubur untuk Sehun yang pingsan sore tadi. Pria itu kelelahan dan kedinginan. Ia sempat sadarkan diri, namun memilih tidur lagi setelah itu.

Jongin hanya ingat bahwa Sehun pernah terbangun tengah malam untuk mencari makan ketika menginp di rumahnya dulu. Jadi ia membuat bubur agar ada sesuatu yang bisa Sehun makan nanti. Lagipula, pria itu belum makan sejak siang. Atau mungkin seharian ini.

Setelah membersihkan dapur, Jongin memilih mengistirahatkan dirinya di ruang tengah, di samping perapian. Sejak sore, ia hanya menunggu Sehun.

Mata Jongin berpendar ke seluruh ruangan. Di atas perapian, potret besar keluarga Wu terpajang angkuh. Disana ada Sehun, di rangkulan Kris. Jongin tersenyum pahit dan kembali melihat seluruh ruangan. Rumah yang besar ini terasa hangat meski hanya diisi oleh tiga orang. Mungkin karena obrolan mereka, mungkin juga karena candaan mereka. Atau keharmonisan itu sendiri.

Jongin tidak ingin membayangkan bagaimana waktu yang Sehun lewati dengan seluruh kehangatan itu di rumah ini.

Dia cemburu.

Tapi apa yang bisa di lakukan sekarang? Bahkan berharap bisa berteman baik dengan Sehun saja mustahil.

'Kau sangat terlambat, Jongin'

Suara Sehun yang mengatakan hal itu masih terngiang di telinganya. Jongin tidak bisa membantah pun membela diri. Semua yang kini ingin dia lakukan memang sudah sangat terlambat.

Kris sudah melakukan semuanya untuk Sehun.

Apalagi yang bisa dia lakukan?

Duduk di ruang tengah keluarga Wu dan membayangkan keharmonisan mereka?

Jongin yang bodoh melakukannya.

Suara langkah kaki di anak tangga mengambil atensi Jongin. Ia bangkit dari sofa dan melihat Sehun menuju salah satu kamar.

"Ellios?" gumam Sehun ketika tak mendapati seorang pun di kamar anaknya.

"Mertuamu membawanya tadi sore" Bisa Jongin lihat Sehun yang terkejut saat mendengat suaranya. Pria itu menatapnya tanpa ekspresi.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Menema-"

"Pulanglah"

Diam sebentar dengan tatapan yang masih bertaut sebelum Jongin meraih mantelnya di lengan sofa dan melangkah keluar dari ruang tengah. Sehun memutar tubuhnya dan berniat kembali ke kamar.

"Aku sudah membuatkan bubur jika kau lapar"

Sehun berhenti di anak tangga pertama. Suara pintu yang tertutup menandakan jika Jongin sudah benar-benar pergi dari rumahnya. Sehun kembali memutar langkah menuju dapur dan menemukan panci bubur di counter. Tanpa ekspresi apapun, Sehun mengangkat panci dan menuang seluruh isinya ke bak sampah di sertai bunyi berisik dari panci yang jatuh ke lantai.

Sehun tidak perlu Jongin. Tidak perlu kebaikan hati pria itu. Walau kenyataan air matanya menetes lagi tidak bisa dibantah.

.

Pukul satu dinihari. Dua jam setelah Jongin pergi dari rumahnya. Malam pertamanya tanpa Kris. Sunyi itu sangat terasa.

Kemarin, saat ia berpikir sedang sendirian, ia hanya mengingat bahwa Kris akan segera pulang ke rumah, segera memeluknya lagi. Kini, meringkuk dan menangis sampai mati pun tidak akan membuat Kris kembali.

Sehun hanya menyesali waktu yang terlewat begitu banyak tanpa ada sedikitpun pengabdian yang telah ia lakukan. Bahkan sekedar mengucap bahwa ia mencintai Kris.

Pria itu sudah melakukan banyak hal. Salah satu yang pasti adalah membahagiakan Sehun. Kris menepati janji nya pada ibu. Pada Tuhan.

Sehun kembali meringkuk diatas tempat tidur yang luas dan sepi. Dingin. Memandangi pigura diatas nakas sambil mendekap kemeja putih suaminya. Dulu, ia adalah pria yang dibentuk dengan kejam oleh kehidupan. Sosoknya tangguh dan kokoh.

Kini ia menjadi cengeng, serapuh ini karena kehidupan yang kembali kejam menorehkan begitu banyak luka. Sehun kembali pada kenyataan bahwa, ia tidak mampu sendirian.

.

.

Tae Oh harus kembali ke sekolah hari ini setelah seminggu tidak masuk. Sehun yang memiliki waktu sampai nanti siang akhirnya berangkat sendiri untuk mengantar anak lelakinya. Di sekolah, berita duka telah menyebar. Beberapa ibu muda mendekat untuk memberi simpati, beberapa hanya mencibir tentang kenyataan bahwa si hot papa ternyata seorang gay.

Sejak hari pemakaman, Sehun telah menutup telinga untuk semua cibiran miring.

"Habiskan bekal makan siangmu. Nanti Yuan aunty yang akan menjemput. Okay?"

Tae Oh mengangguk. Wajahnya masih merengut dengan sisa air mata. Sudah seminggu, dan Tae Oh masih sering menangis mencari daddy nya. Sehun sering kewalahan mencari alasan.

"Appa menyayangimu El" satu kecupan mendarat di kening Tae Oh sebelum anak kecil itu memasuki kelasnya.

Sehun menghela nafas dan berdiri. Ia kembali merapatkan mantel dan menatap langit mendung diatas sana. Salju masih rutin memutihkan pepohonan dan jalan. Sehun ingin bergelung saja di dalam selimut, tapi kewajibannya sebagai seorang dokter tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sekolah Tae Oh tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ketika tiba, beberapa berkas diagnosa dari pasien telah menyerbunya.

"Dokter Wu, kita memiliki pasien yang harus di operasi hari ini" Jaehwan menjadi satu-satunya yang keluar dari lift dan langsung menghampiri Sehun.

"Mendadak?" Sehun mengangkat satu alisnya.

Jaehwan mengangguk, "usus buntu"

Sehun menggembungkan pipinya dan menepuk pundak Jaehwan sebelum melangkah lebih dulu menuju ruang operasi.

.

Ketika Sehun berfikir semuanya akan baik-baik saja setelah ia menghabiskan hari kemarin dengan berusaha melanjutkan hidup tanpa Kris, ia fikir akan begitu mudah. Tersenyum palsu dan berpura baik-baik saja sudah ia terapkan dengan baik. Tapi ketika masuk ke ruang operasi, ingatan akan hari itu kembali menyerbu kepalanya.

Sehun yang telah siap dengan segala persiapan operasi menjadi tak berkutik. Kedua tangannya yang terangkat bergetar. Bayangan wajah Kris diatas brankar menjadi-jadi seiring deru nafasnya yang tidak teratur.

Jaehwan yang melihat gelagat Sehun lantas meminta seorang perawat untuk memanggilkan dokter lain.

"Dokter Wu, anda bisa keluar dari ruangan sekarang. Biar dokter Park yang menggantikan"

Sehun melangkah lebih cepat dari helaan nafasnya meninggalkan ruangan operasi. Ruang kerja nya menjadi tempat terbaik untuk melarikan diri saat ini. Ia lagi terpekur pada kenyataan yang baru saja terjadi. Pikir nya itu hanya akan berlangsung hari ini.

Atau tidak sampai besok.

Dan nyatanya berlangsung sampai hari-hari berikutnya.

Sehun mendapat teguran keras dari Professor Do. Ia menjadi kacau untuk beberapa hal. Tae Oh sudah ia malam kan dirumah mertua, takut jika masalahnya akan berdampak pada anak kecil itu. Dan ia sendirian di kamar, meringkuk mengingat bagaimana tubuhnya yang berada di luar kontrol setiap kali berada dalam ruang operasi.

Saran dari psikiater sangat Sehun butuhkan di hari berikutnya. Kata dokter Luna, itu adalah trauma yang lumrah dialami oleh setiap orang ketika mengalami suatu kejadian menyakitkan. Tapi bagi Sehun, ini mengenai karirnya. Pekerjaannya

Obat-obatan menjadi temannya sejak saat itu.

"Appa" Tae Oh merengek lagi malam ini. Sudah beberapa malam anak itu terbangun di tengah malam dan masuk ke kamar Sehun.

"Ada apa El? Kau haus?" tanya Sehun khawatir.

Tae Oh yang sekarang telah resmi berganti nama menjadi Ellios itu menggeleng dengan bibir mengerucut. Matanya yang sembab ia usap beberapa kali sampai Sehun harus menahan tangannya agar mata Ellios tidak iritasi.

"I want daddy"

Dan rengekan anak itu selalu sama. Tidak ada yang lebih ia inginkan selain daddy nya.

"Daddy belum pulang. Tidur bersama appa saja ya" bujuk Sehun namun gelengan kepela Ellios lebih mantap.

"Daddy! Daddy! Huaaaa!"

Suara tangisan Ellios memecah heningnya malam ini. Sehun mencoba mendekap nya, tapi tangan kecil itu mendorong dan memukuli bahunya.

"Tae tidak mau appa~ Tae mau daddy!"

Lihat lah Kris. Apa yang sudah kau lakukan padaku? Apa yang harus ku lakukan sekarang?

"Daddy tidak ada sayang. Sekarang, Ellios hanya memiliki appa. Appa disini. Appa akan melakukan apa saja untukmu"

Kris selalu memanggil nya Ellios. Dan Sehun akan melakukan hal yang sama.

"Tidak mau! Aku mau daddy! Aku tidak mau appa!"

"Son.."

"Daddy~! Huuaaaa~!"

Sehun mencoba mendekap tubuh kecil itu lagi, dan penolakan lagi yang ia terima. Tangisan Ellios semakin menjadi. Beberapa kali ia terbatuk dengan wajah memerah.

"Daddy mu tidak ada Ellios! Dia pergi! Dia meninggalkanmu!"

Anak kecil itu berhenti menangis dan tersentak mendengar nada tinggi yang dikeluarkan oleh sang ayah. Ia mengulum bibir dengan sisa isakan dan tubuh bergetar. Ini pertama kali Sehun membentaknya.

Sehun berdiri, mengacak rambut hitamnya frustasi. Jantung nya bertalu cepat. Amarah dan rasa sakit itu menyatu. Kembali ia tatap Ellios yang masih berusaha menahan tangis. Hatinya teriris melihat ketakutan anak itu berasal dari kontrol dirinya yang buruk.

"Maafkan appa" ia angkat tubuh Ellios dalam gendongan dan bertubi memberikan kecupan pada pucuk kepalanya. "Maaf sayang"

Sehun kehilangan dirinya. Saat ia berkaca, yang ia lihat bukan lagi Wu Xiuhuan. Itu hanya Oh Sehun bertahun-tahun silam. Yang kehilangan dirinya sendiri.

.

.

.

"Saem"

"Kim songsaenim"

"Saem!"

Jongin tersentak dan langsung menegakkan posisi duduknya. Beberapa murid sudah berkumpul di depannya sekarang.

"Ada apa?"

"Ini. Tugas kimia kami"

Saat tersadar, ia masih berada dalam kelas. Hari sudah gelap di luar. Hari ini Jongin memang mengadakan kelas tambahan untuk murid yang mengalami krisis dalam pelajaran Kimia.

"Ah ya, letakkan saja disini, nilainya akan saem umumkan besok. Kalian boleh pulang sekarang"

Murid yang di dominasi siswa itu membungkuk bersamaan dan keluar kelas setelahnya. Erangan lega mereka bisa terdengar di sepanjang koridor yang sepi. Jongin tidak langsung bergerak dari tempat duduknya. Ia kembali terpekur dalam ingatan bahwa sudah berminggu-minggu sejak terakhir kali ia bertemu Sehun setelah pemakaman waktu itu.

Ia tidak memiliki kontak atau seseorang yang bisa ditanyai perihal kondisi pria itu sekarang. Dan itu jelas membuatnya tidak konsentrasi mengajar beberapa hari ini.

Dering ponsel di saku celana mengalihkannya. Nomor tidak dikenali membuat Jongin awalnya enggan mengangkat panggilan itu. Tapi ketika kedua kali ponsel nya berdering, ia fikir ada sesuatu yang penting.

"Hallo?"

Suara gemuruh angin yang menyahut. Jongin mengernyit sebelum bersuara lagi dan masih tetap hening. Ia kesal akhirnya.

"Ku tutup-"

'Jongin'

Katakan bahwa Jongin tidak salah dengar.

"Sehun?"

.

.

.

Jongin menjadi yang paling cepat memacu langkah. Ketika Sehun berkata ingin bertemu di tempat biasa, Jongin bisa mengingat dengan jelas sebuah toko roti ikan di pinggir jalan komplek perumahannya. Ia menyesal tadi pagi tidak membawa mobil hingga ia harus mengambil waktu lebih lama dengan bus untuk sampai pada toko itu.

Di belokan, pelataran toko kecil seolah menjadi bahan nostalgia. Seluruh ingatan berulang seperti rol film. Dia dan Sehun dengan seragam SMA berebutan masuk ke toko untuk taruhan konyol siapa yang paling lambat mengambil roti ikan maka dia yang akan membayar. Dan Jongin ingat bagaimana ia selalu berlari lebih cepat dan kemudian pura-pura tersandung agar Sehun tidak menjadi pihak yang kalah.

Sejak dulu, Sehun sudah mengambil alih perhatiannya.

Baru jam delapan malam saat Jongin menggeser pintu toko dan mendapati suara ribut para pria dewasa di meja kayu bundar sudut ruangan.

Nostalgia.

Sehun berada di samping Chanyeol seperti biasa. Dan Chen yang tertawa dengan suara nyaring. Seperti de javu. Seolah waktu tidak pernah menelan kebiasaan setiap orang.

"Jongin-ah" suara Chen membuat dua orang lain disana menoleh pada pintu. Chanyeol menyambutnya dengan senyum hangat, dan Sehun yang hanya menatapnya.

"Kalian sudah lama? Maaf terlambat, aku tidak membawa mobil tadi" Jongin mengambil tempat duduk di samping Chen, berhadapan dengan Sehun.

"Santai saja. Malam masih panjang'

Obrolan mereka mengalir begitu saja. Kembali mengingat masa lalu tanpa mengungkit sakitnya. Semua orang hanya berada pada porsinya untuk bercerita dan kemudian membagi sisa tawa untuk satu orang disana yang mereka tau sedang membutuhkan itu.

Sehun tidak mungkin memanggil mereka hanya untuk sekedar bertemu kan? Pria itu sudah terlalu jauh untuk sebuah persahabatan masa lalu yang pernah terjalin.

Chanyeol, Chen serta Jongin menangkap kesepian itu di kedua mata birunya. Memilih bungkam dan seolah tidak tau apa-apa. Membiarkan Sehun mereka terhibur walau hanya secuil.

"Bagaimana pekerjaanmu? Pasti menyenangkan menjadi seorang dokter" Chen taunya kehilangan satu berita terbaru. Jongin dan Chanyeol sama.

"Begitulah. Aku terancam di pecat"

Kejujuran tanpa beban Sehun mengejutkan seluruh orang. Jongin mendelik pada Chen yang hanya di tanggapi kedikan bahu tidak tau.

"Apa maksudmu? Ku dengar hampir seluruh pasien menyukai dokter Wu yang tampan ini" Chanyeol mencoba mencairkan lagi suasana.

Sehun terkekeh hampa. Tiga orang tersisa mendengarnya dengan aneh.

"PTSD. Sebagai seseorang yang mereka panggil dokter, aku sudah gagal" ungkap nya dengan kecemasan yang berudara dingin di tengah musim salju.

.

Jongin tidak tau sejak kapan kakinya melangkah seirama dengan langkah Sehun di depannya. Pria pucat itu tidak menyadari. Ia hanya terus melangkah menuju rumah dengan kepala kosong.

Ajakan mendadak dari Sehun hari ini di ketahui Jongin bukan sekedar nostalgia belaka. Pria yang telah melewatkan banyak hal dalam hidupnya itu hanya mencoba mencari sandaran untuk dirinya. Sehun pria yang kuat selama ini. Dia bertahan melawan kerasnya hidup di ibukota. Dia berhasil menyembunyikan luka dari cinta pertama yang gagal. Dia mampu menjadi Wu Xiuhuan selama masa pelariannya. Sehun sekuat itu untuk menghadapi hal lain.

Tapi ketika suaminya di rebut paksa, seperti dunia juga telah meninggalkannya. Kenyataan lain yang ia terima saat ini membuatnya goyah tanpa pegangan. Jongin menyadari bahwa Sehun hanya merindukan teman lama. Yang dulu memberi punggung untuknya. Maka ia datang. Tidak meminta pertolongan, hanya sebagai ungkapan bahwa kekuatan nya sudah di ambang batas.

Jongin tertohok dengan keadaan lain dimana ia menjadi salah satu penyebab dari segala masalah yang Sehun hadapi.

Seandainya ia tidak terlambat menyadari, mungkin Sehun tak harus berada di keluarga Wu. Mungkin Sehun tak harus menyaksikan kecelakaan itu. Mungkin Sehun sudah nyaman berada di sisi nya.

Seandainya...

Dan andai lain yang tidak akan pernah terwujud.

Jalanan semakin ramai di pusat perbelanjaan. Ketukan langkah masih konstan dalam jarak yang tak berubah. Sehun masih gontai dan beberapa kali menabrakkan bahunya pada pejalan kaki lain. Ia tidak perduli. Segala hal buruk seolah terjadi dalam satu malam. Secepat ini jika garis takdir sudah harus dilewati.

Mommy Wu datang dua hari lalu, memastikan kondisi menantu kesayangannya. Sehun hanya harus memasang wajah tersenyum untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Ibu, Ibu mertua, ipar dan sanak keluarga lain tak perlu tau kondisinya. Melihat kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, Sehun menyerahkan Ellios pada Mommy Wu. Untuk sementara, sampai ia benar-benar dalam kondisi semula.

Tidak ada pertanyaan lebih lanjut, mertuanya yang baik dengan senang hati merawat Ellios. Ada Yuan juga yang akan menjaganya. Keluarga Wu memang luar biasa. Sehun bersyukur menjadi salah satu bagian dari kisah mereka.

Lampu merah untuk pejalan kaki sudah menyala. Tidak banyak orang di hampir tengah malam ini pada penyeberangan jalan. Hanya ada seorang wanita yang sibuk dengan handphone nya. Jongin mempertajam seluruh inderanya ketika Sehun sama sekali tidak mengangkat kepala dari aspal.

Dan saat trotoar sudah terlewati, pacuan kaki Jongin secepat angin. Bunyi klakson mobil yang ribut beriringan dengan termundurnya tubuh Sehun. Pria itu berkedip cepat dan menyadari seseorang tengah menyeret tangannya ke suatu tempat.

"Hey!" protes nya terbungkam oleh dekapan tubuh sosok itu. Saat mendongak, wajah kalut Jongin memenuhi penglihatannya.

"Jangan pergi Sehun... Jangan pergi.."

"Jongin.."

"Jangan pergi lagi Sehun..." wajah Jongin kini basah oleh air matanya. Sehun bisa merasakan setitik bening itu jatuh pada bahunya.

"Ak-aku disini Jongin. Ada apa?" otaknya yang kosong selama perjalanan membuat Sehun tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Bagaimana tubuhnya hampir tertabrak truk jika saja Jongin tidak menariknya lebih cepat.

"Aku juga ketakutan Sehun. Kehilangan mu lagi membuatku sangat takut"

Ragu, tangannya terulur untuk mengusap punggung Jongin yang bergetar karena tangisan pria itu belum berakhir. Sedekat ini dengan Jongin, Sehun akhirnya bisa merasakan ketakutan yang besar dari cinta pertamanya ini.

Banyak hal yang ia lewatkan tentang Jongin. Dan Sehun memang tidak ingin memperdulikan itu. Meski nama itu masih ada dan terus akan ada di sudut terdalam hatinya, nyatanya kebekuan yang ia buat berhasil melenyapkan keinginannya untuk cinta pertama yang menggebu dulu.

Kini ia dihadapkan lagi pada perasaan itu. Rasa menyenangkan bertahun-tahun lalu yang membuatnya akhirnya bertaruh dengan diri sendiri tentang masa depan. Sehun telah menyerah dengan Jongin. Dan Jongin datang padanya dengan cinta yang sama besar dengan miliknya dulu.

"Aku lelah"

"Sekali saja lihat kalau aku ada disini Sehun"

Meskipun bisa, ia akan melihat Jongin dengan cara yang berbeda. Bukan lagi cinta pertamanya.

Hanya sebentuk pengingat bahwa ia bisa lebih kuat dari hari ini delapan tahun lalu.

Dari balik bahu Jongin, Sehun bisa melihat setitik cahaya di langit mendung musim dingin.

Bintang.

Hanya ada satu dan muncul di tengah hujan salju.

Sehun tersenyum berirama dengan isakan Jongin.

.

.

Kris...

The stars remind me that, we are not together again..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...

Ini ngebosenin nggak sih? ಥ_ಥ

Tinggal beberapa chapter lagi dan selesai sudaaaahhhh