"Ellios!"

Dari jendela dapur yang terbuka, Sehun berteriak memanggil anak semata wayangnya yang bermain bola bersama anak lain di dekat kebun pir jepang milik aunty Alesa.

Ellios melempar bola yang di pegang nya pada salah satu teman sebelum berlari menuju rumah, melompati rumput liar Setinggi dengkulnya yang sengaja tidak Sehun tebas karena bisa dibentuk menjadi pagar.

"Why?" tanya Ellios saat tiba di depan jendela, hidung nya bergerak beberapa kali mencium aroma manis yang menguar.

"Sapa kakek dan nenekmu di dalam" jawab Sehun, sibuk dengan piring-piring miliknya.

Ellios mengangguk, kemudian menghilang di balik pintu dapur. Ia bermain bola tanpa alas kaki tadi, Sehun akan mengamuk jika dia tidak mencuci kaki sebelum memasuki rumah.

Ketika melewati dapur, ia bisa melihat pie apple yang baru di keluarkan ayahnya dari oven. Kali ini tenggorokan nya yang bergerak lucu. Ia berhenti guna melihat Sehun memotongi pie.

"Sepertinya enak"

Sehun mendelik. "Sepertinya?"

Ellios tersenyum lebar, kedua jempol nya terangkat ke arah Sehun. "Pie apel buatan appa selalu enak"

"Tentu saja" dengus Sehun. "Cepat ke dalam, kakek sangat merindukanmu"

"Ayay captain"

Sehun tersenyum. Suara domba di belakang rumah membuatnya kembali melongok melalui jendela. Sehun mengangkat tangannya menyapa kakek Tom yang di balas dengan lambaian dari orang tua itu.

Sejak tadi pagi sampai siang ini cuaca cerah meski masih berangin. Kakek Tom semangat memandikan domba-dombanya bahkan sebelum Sehun bangun. Sekolah mulai di libur kan hingga Sehun bisa bangun siang karena tidak perlu mengantar Ellios.

"Jangan terlalu memanjakan nya bu" kata Sehun ketika tiba di ruang tamu bersama pie beraroma manis yang menggiurkan. Ellios selalu menjadi orang pertama yang mengambil sendok dan menyantapnya.

"Tidak apa-apa. Lagipula tidak setiap bulan ibu bisa membelikannya hadiah"

Sehun mendesah, "mainan nya sudah banyak. Seluruh koleksi Gundam milik Kris juga dia bawa. Kamarnya penuh dan berantakan"

Ibu mengibaskan tangan menyuruh Sehun berhenti, "Itu wajar. Kau juga begitu dulu"

"Aku tidak pernah memiliki banyak mainan. Anak-anak di panti juga selalu berebut untuk satu mainan baru"

Ibu tersenyum.

Sehun sudah menceritakan banyak hal pada ibu. Semua hal yang ia alami. Ibu menangis lagi untuk ketidak tahuannya. Tapi yang sudah berlalu tidak akan bisa diperbaiki. Sehun sudah melewatinya, dan merelakan segalanya. Karena itulah yang jalan hidupnya inginkan.

Rumah sederhana miliknya yang dibelikan oleh Kris bertahun-tahun lalu di Onewhero menjadi persinggahan yang nyaman lagi untuk Sehun. Tanpa beban kuliah. Tanpa embel-embel dokter. Tanpa keinginan untuk kembali ke Montreal. Meski begitu, Sehun tetaplah seorang Wu.

Bekerja di salah satu pusat pelayanan masyarakat yang tak terlalu jauh dari rumah, Sehun sanggup membiayai sekolah Ellios. Keluarga Wu tidak pernah absen menambah nominal di rekening Sehun dan sesekali datang untuk memanjakan cucu semata wayang mereka. Tidak masalah untuk Sehun. Karena sampai kapanpun, Ellios adalah bagian dari keluarga Wu.

"Ibu dan Ayah seharusnya beristirahat saja di rumah. Biar kami yang datang berkunjung ke Jeju" Kata Sehun dengan segenggam kacang yang kemudian ia masukkan ke dalam mulut.

"Tapi anak ayah dan ibu ini tidak pernah datang" Ibu mendelik sebagai respon.

Sehun merapatkan mulutnya. Ibu yang kesal sudah sampai hati menyinggung kebenaran.

Seperti waktu kemarin.

Saat Sehun tidak ingin kembali ke Korea. Baginya, cukup Ellios saja, maka sudah bisa ia melanjutkan hidup. Walau keinginan untuk bertemu dengan orang yang sama masih ada. Terus ada. Dan semakin menggebu tiap harinya.

"Tunggu saja" kilah Sehun

"Sampai kapan?"

Tanpa sadar bibirnya melengkung. Keraguan yang besar disana sirna oleh sebutir harapan. Meski samar.

Dan sangat jauh.

"Sampai waktunya nanti"

"Kapan?"

"Nenek cerewet" ini Ellios dan sepiring pie.

"Nenekmu" Sehun melipat kaki diatas kursi.

"Ibumu" dan Ellios mengikuti.

Ayah tertawa untuk keakraban yang hangat. Sehun dan Ellios selalu bisa membuat nenek habis kata dan menggeleng puluhan kali.

.

.

"Appa"

...

"Appa"

...

"Appa~~"

Tubuh berisi Ellios bergerak mengikuti kepala Sehun yang beberapa kali menoleh ke kanan atau kiri untuk memeriksa berkas kerjanya.

"Appa!"

Sehun berdecak dan akhirnya mengalah di panggilan yang ke-sekian kali.

"Apa yang appa katakan tentang tidak mengganggu saat appa sedang bekerja"

"Fes-"

"Dan kerjakan pekerjaan rumah mu sebelum festival musim gugur menggerogoti seluruh isi kepalamu yang luas itu"

"Kepala El tidak besar!"

Sehun menyatukan alis setelah mendengar nada tinggi Ellios.

"Appa tidak bilang kepalamu besar"

Ellios merengut dan melengkungkan bibirnya ke bawah sampai batas maksimal di depan mata sang ayah agar ada sedikit simpati yang tertinggal untuknya.

Sehun berdecak lagi dan bersandar di kursinya, mengabaikan wajah Ellios yang kini berubah 360 derajat.

"Jangan berfikir kau sudah menang, jagoan. Sekarang masuk kamarmu dan kerjakan tugas sekolah. Festival musim gugur akan menjadi angan kalau nilai mu anjlok minggu ini" Sehun berkata cepat agar anaknya tidak semakin besar kepala.

"Siap tuan Wu yang agung"

Sehun tersenyum akan suara Kris yang menggaung ditelinga nya. Persis seperti Ellios.

Suara pintu yang ditutup membuat Sehun beralih dari berkas diatas meja. Andai saja orang tuanya tidak datang kemarin, mungkin pekerjaan ini tidak akan sampai dia bawa ke rumah. Sehun termasuk yang paling anti kerja lembur di rumah.

Angin masih sekencang biasanya malam ini. Onewhero yang sunyi dan malamnya yang berbintang berbeda jauh dengan Seoul. Musim gugur sudah di pertengahan. Warga Selandia Baru selalu menyambut segala hal dengan sukacita. Festival yang dimaksud Ellios adalah festival balon udara di Waikato.

Sekolah Ellios mengadakan darmawisata tahun lalu ke Waikato untuk menonton festival yang ternyata sangat disukai oleh anak itu. Tidak heran jika tahun ini ia menagih lagi pada Sehun.

Selama tinggal di Onewhero, tempat yang dikunjungi Sehun hanya antara rumah, sekolah Ellios, pusat perbelanjaan dan tempat kerja. Banyak waktu yang bisa ia habiskan untuk pergi ke suatu tempat, tapi Sehun lebih suka berdiam diri di rumah atau menyempatkan waktu itu untuk pergi ke rumah sakit. Ellios pun tidak pernah cerewet untuk diajak jalan-jalan.

Perlu waktu lama untuk pemulihan. Saat ini pun belum ada lima puluh persen kemungkinan ia akan sembuh. Tidak masalah. Kondisinya sekarang tidak seperti pasien kelainan jiwa akut. Ia masih bisa melakukan segala hal, selain kembali mengambil gelar dokter. Kecewa memang, tapi sekali lagi Sehun hanya ingin mengikuti kemana alur hidupnya berlabuh. Sampai mana. Dan seperti apa.

Memikirkan itu, bayangan masa depan mulai bermain jenaka dalam kepala. Sehun bisa melihat dirinya yang akan semakin tua dan Ellios yang tumbuh menjadi remaja. Entah seperti dirinya atau Kris. Atau...

Jika orang itu beruntung, mungkin ia bisa menularkan sedikit sifatnya pada Ellios.

Tidak ada orang lain selain Kim Jongin.

Kembali meninggalkan pria itu adalah keputusan yang tidak terlalu sulit. Hatinya yang meraung karena kehilangan tidak semudah itu untuk kembali bertata. Pertemuan terakhirnya dengan Jongin adalah caranya untuk mempertanyakan lagi.

Masihkah ada Jongin disana?

Ada.

Meski bukan lagi yang pertama. Meski bukan lagi satu-satunya objek mimpinya. Meski terlalu terlambat.

Jahat memang. Sehun yang terlalu bersedih di depan makam suaminya kini memikirkan pria lain.

Tapi jika melihat jauh ke belakang. Kim Jongin sudah ada sebelum Kris dan segala kebaikannya mematahkan pertahanan Sehun.

Ketukan ranting dari pohon apel di samping jendela memecah kesunyian. Sehun bangkit dari kursi dan membuka tirai. Pemandangan malam kebun belakang rumah yang dihiasi beberapa lampu taman tertangkap kedua iris biru malamnya. Dimana lagi ada ketenangan senyaman ini selain Onewhero?

Satu bintang diatas sana berkedip beberapa kali mengambil atensi Sehun.

"Kris, maaf aku memikirkan pria lain"

.

.

.

"Kau benar-benar akan pergi?"

Ibu memilin kedua jari sambil terus menatap anak laki-laki tertuanya yang sedang sibuk mengepak beberapa barang ke dalam koper.

"Hanya sebentar bu"

Jongin tersenyum menenangkan.

"Ibu hanya khawatir"

Jongin mendekat dan memeluk ibunya sayang. Sekarang, ia hanya memiliki ibu setelah ayah nya meninggal bertahun-tahun lalu. Ia mengerti kekhawatiran seperti apa yang dirasakan ibu.

"Aku akan membawanya pulang bu" kata Jongin, matanya menerawang pada kilasan-kilasan kemungkinan. "Aku sudah berjanji"

Ibu mengangguk dan mengusap punggung Jongin memberi kekuatan.

"Ibu percaya padamu. Hanya saja, jangan di paksakan. Biarkan dia yang memilih"

"Tentu bu"

Mungkin kali ini, keadaan sudah memihak padanya.

Semoga saja.

.

.

.

Beberapa kaleng kopi serta bungkus cemilan terlempar kedalam troli bersamaan dengan beberapa sayuran dan seafood. Sehun menjadi yang paling semangat memunguti satu persatu makanan ringan di rak. Dan Ellios berperan sebagai orang tua yang baik dengan segala daftar belanjaan yang di berikan nenek sebelum ke minimarket.

"Appa, kau bisa gemuk bila memakan semua coklat itu" Protes Ellios yang kini bersedekap dada.

"Appa sudah memakan coklat seumur hidup dan tidak pernah gemuk sampai sekarang"

"Mungkin diabetes"

Sehun mendelik pada Ellios yang kembali sibuk membaca daftar belanjaan miliknya.

"Hey orang tua, kata-katamu itu seperti doa"

"El tidak tua!"

"Paruh baya?"

Ellios menghentak kakinya dan berjalan mendahului Sehun.

"Appa menyebalkan!"

Sehun terkekeh lalu menyusul anak semata wayangnya menuju kasir.

Hari ini cukup cerah. Jalanan cukup padat lepas dari desa, di tambah hari minggu. Sehun akhirnya membeli mobil tahun lalu atas paksaan ibu. Dan ternyata cukup membantu juga. Biasanya, jika ingin ke minimarket atau tempat yang cukup jauh, dia akan meminjam mobil pick up tua milik kakek Feng yang seringkali mogok di tengah jalan. Sedangkan ke tempat kerja dan sekolah Ellios, ada Julio yang secara tidak langsung sudah menjadi supir taksi pribadinya. Setidaknya mobil Julio tidak suka mogok.

Lusa adalah hari perayaan festival. Sehun sengaja membeli banyak cemilan untuk dimakan nanti di penginapan. Setiap hari, Ellios tidak pernah lupa menengok kalender di samping kulkas.

"Kau suka sekali festival balon udara itu hm?" tanya Sehun di sepanjang jalan mereka menuju parkiran dengan masing-masing kantung belanjaan.

Ellios mengangguk antusias. "El sudah tidak sabar"

"Kau ingin naik balon udara?"

Ellios menggeleng dan berubah murung. Sehun menjadi merasa bersalah.

"El tidak suka tinggi"

Acrophobia.

Anaknya ini takut ketinggian.

"Tidak apa. Menonton mereka dari bawah lebih menyenangkan"

Ellios tersenyum dan mengangguk. Senyuman ayahnya adalah hal terbaik. Segala kesulitan dan ketakutannya akan hilang begitu saja hanya dengan melihat senyum sang ayah.

"Appa"

"Hm?" gumam Sehun yang kini sibuk memasukkan kantung belanjaan ke dalam bagasi.

"El rindu daddy"

Untuk beberapa detik yang tidak disadari, tangan Sehun berhenti di udara. Ia menolah ke belakang dan menemukan Ellios telah menatapnya ragu.

"Kau ingin mengunjungi daddy?"

Anggukan Ellios membuat Sehun akhirnya sadar betapa egois dia selama ini. Yang ia fikirkan hanya hatinya, mentalnya dan hidupnya. Tanpa pernah tau bagaimana Ellios setiap malam ingin bertemu daddy nya. Bagaimana anak sekecil ini merindukan orang yang dulu menggendong dan memeluknya ketika menangis.

Mungkin ini saatnya ia berhenti memikirkan diri sendiri.

"Setelah festival, kita pergi menemui daddy"

Binar di wajah Ellios ketika mendongak dan menatapnya membuat Sehun ingin menangis.

"Really?"

"Tentu saja, jagoan"

Ellios melompat dan memeluk pinggang Sehun. Ia masih terlalu kecil untuk menyamai tinggi badan sang appa.

"Thank you appa"

"Apapun untukmu El. Come on, nenek akan mengomel kalau amunisi perangnya terlambat datang"

"Hihi, ayay captain!"

.

.

.

Jongin menghempaskan tubuhnya untuk berbaring di atas kasur. Ia baru saja tiba di Waikato. Hanya penginapan sederhana yang ia pesan. Hampir seluruh hotel sudah penuh karena besok adalah perayaan festival balon udara. Banyak turis serta pengunjung dari kota lain yang datang. Jongin merasa beruntung ia datang di waktu yang tepat. Ini akan menjadi yang pertama kalinya ia menonton festival semacam ini di negara asing.

Deringan pada ponsel mengalihkannya. Pesan dari Seolhyun dan Chanyeol bergantian masuk. Dua saudara itu menjadi detektive dadakan untuknya. Segala informasi tentang yang ia cari disini datang dari mereka berdua.

"Onewhero" gumam Jongin. Tangannya menjangkau kertas peta di atas nakas dan mencari nama tempat yang ia gumamkan. Cukup jauh dari Waikato. Tapi tidak sejauh jarak yang sudah ia tempuh dari Seoul ke Selandia Baru.

Jongin menghela nafas dam tersenyum. Ia begitu dekat. Rasanya ingin menit berikutnya saja bertemu.

Jika kali ini ia ditolak lagi, mungkin waktu sebelas tahun belum cukup untuk menebus segala kesalahan di masa lalu.

"Sehun..."

Ada satu pot mawar kuning di depan bingkai jendela. Jongin tersenyum lagi.

Awal yang baru...

"Kita akan bertemu di musim semi ini"

.

.

.

"Appa tunggu disini saja. Kau pergilah melihat-lihat, tapi jangan terlalu jauh" petuah Sehun pada Ellios yang terlihat gatal ingin berlari menuju kerumanan balon udara. Anak itu mengangguk berkali-kali sebelum benar-benar meninggalkan Sehun di bawah pohon maple besar.

Cukup teduh di bawah sini meski sudah banyak daunnya yang rontok. Bangku panjang di bawah pohon Sehun bersihkan dulu dari dedaunan sebelum menyamankan dirinya disana. Tubuh kecil Ellios diantara anak kecil dan orang dewasa lainnya masih bisa di tangkap oleh mata Sehun.

Sehun mendongak dan menghela nafas. Menghirup aroma musim gugur di Waikato. Udara disini tidak selembab Onewhero, tapi karena musim gugur, cuaca menjadi cukup dingin karena angin.

Puluhan balon udara sudah bersiap untuk mengudara siang ini. Sehun tersenyum jika memikirkan bagaimana bahagia nya Ellios nanti.

Saat kembali memastikan keberadaan anak itu, satu orang lain disana mengambil penuh atensi Sehun. Tanpa sadar ia berdiri ketika dari kejauhan Ellios menunjuknya. Seolah ingin menampakkan diri agar bisa dilihat. Sehun enggan berkedip, pun bergerak menjadi sulit. Seluruh oksigen nya perlahan-lahan kembali. Senyumnya mengembang.

"Jongin..."

.

.

Keramaian siang ini membuat Jongin ikut merasakan sukacita yang terjalin. Ia memilih berdiri di tempat yang cukup jauh dari kerumunan. Tidak ingin berdesakan dengan tubuh-tubuh besar orang Selandia Baru. Balon udara beragam warna menyatu dengan langit dan pohon-pohon maple di sepanjang jalan.

Pedagang kecil juga ikut meramaikan. Suara anak kecil yang berteriak ingin naik balon tidak luput dari pendengaran nya. Ribut. Tapi menyenangkan. Penjual aksesoris di salah satu sudut menjadi sasaran Jongin. Belum sampai di depan stand, seorang anak dengan rambut coklat mengambil perhatiannya.

"El?" suaranya ragu.

Anak itu terlihat terkejut dan menatapnya lamat beberapa detik sebelum melebarkan senyum.

"Uncle Jongin!" serunya yang membuat Jongin terkekeh. "uncle juga disini?"

Jongin mengangguk. "Kau sendirian?"

"Tidak"

Jawaban Ellios entah mengapa membuat pacuan jantung Jongin menjadi berlipat lebih cepat. Pertemuannya dengan Ellios hari ini benar-benar diluar dugaan.

"Appa menunggu ku disana"

Kepala Jongin mengikuti telunjuk Ellios pada sebuah pohon maple besar di ujung lapangan. Tidak banyak orang disana. Dan tubuh tinggi itu bisa ia liat berdiri di bawah guyuran daun maple.

Helaan nafas Jongin terdengar melegakan. Senyumnya tidak bisa bersembunyi.

"Tidak apa-apa kalau uncle tinggal dulu?"

"Hum!" Ellios mengangguk.

"Baiklah. Jangan pergi terlalu jauh"

.

"Sehun..." gumaman lirihnya terulang berkali-kali selama kakinya melangkah mendekat pada pohon maple besar di ujung lapangan.

Sehun layaknya Mannequin, tak bergerak sama sekali. Hanya kerjapan matanya yang dapat memastikan Jongin bahwa pria itu masih sadar akan dirinya yang mendekat.

Mereka bertemu dalam satu tautan tatapan kerinduan. Saling berhadapan tanpa suara. Namun senyum tak bisa di elak. Buncahan segala macam emosi menjadi satu. Bingung harus merasa seperti apa.

"Kita bertemu lagi" suara Jongin.

Sehun mengangguk dengan rambut masai tertiup angin.

"Kukira kita akan bertemu di Onewhero"

"Aku kira juga begitu"

Tidak ada yang berubah. Jongin masih tetap sama. Dan Sehun pun begitu. Hanya usia yang semakin bertambah. Jongin bergumam kagum pada kulit Sehun yang masih secerah dulu. Dia tetap mempesona, tampan dan cantik. Perpaduan yang mengerikan itu lah yang membuat seorang Oh Sehun tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tentang Sehun. Seluruh kata indah di dunia tidak cukup untuk menggambarkannya. Namun, ia selalu berakhir dengan indah.

Sehun menjadi yang pertama memutus kontak mata antara mereka. Ia menunduk, mencandai tanah penuh daun dengan telapak sepatunya.

"Aku tidak berfikir kau akan datang secepat ini"

Ketika mendongak, senyum lembut di wajah tampan Jongin membuat Sehun terpaku. Ia bersyukur menjadi salah satu yang bisa melihat begitu banyak ekspresi pria ini.

"Aku datang untuk menepati janji"

"Aku tau. Untuk itu aku menunggu"

Hati mereka sudah sama-sama memilih.

"Bisakah sekarang kita berhenti untuk saling menunggu?" tanya Jongin, harapan yang besar tertanam lama di dalam matanya.

"Memangnya jika aku berlari sekarang, apa kau akan membiarkanku lagi?"

Jongin tersenyum lagi dan menggeleng mantap.

"Tidak lagi. Aku memang tidak akan lelah menunggu, tapi aku takut kesempatan tidak datang sesering ini" Jongin maju satu langkah dan merapikan anak rambut yang menutupi mata Sehun yang selalu menjadi favorit nya.

Suara dari speaker di tengah lapangan menjadi pusat perhatian seluruh orang . Pemberitahuan bahwa sebentar lagi balon udara akan lepas landas. Sorakan dari kejauhan semarak senada dengan degupan jantung dua anak adam yang masih berhadapan.

"Aku hanya memberikan seluruh kesempatan itu untukmu. Bukan orang lain" sahut Sehun, tangannya menangkap tangan Jongin dan membawanya dalam satu genggamam.

Jongin menyambutnya dengan lebih erat.

"Terima kasih"

Puluhan balon udara di terbangkan. Warna warni nya seperti lukisan di langit biru.

Indah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Daddy!" seru Ellios sambil berlari menuju salah satu pusara di bawah pohon yang berjejer.

"Hati-hati El" kata Sehun dari belakangnya.

Anak kecil itu menjadi yang pertama memberi penghormatan. Ia tidak berhenti tersenyum dan bergumam tentang rasa rindunya. Sehun tersenyum, ia tatap ukiran nama diatas keramik abu.

"Kami datang Kris" gumamnya.

Tangan lain dari arah samping menggapai telapak tangannya. Menggenggamnya dengan lembut. Sehun menoleh dan tersenyum.

Ellios berceloteh kemudian sambil mencabuti rumput di sekitar makam. Ia bercerita tentang sekolah, teman-teman dan klub sepak bola favorit nya. Tidak ada beban. Seolah Kris berada tepat di depannya, mendengarkan segala ceritanya. Ellios menoleh pada Sehun dan tersenyum menampilkan deretan gigi nya yang rapi sebelum mendekati sang ayah.

"Appa tidak ingin bicara dengan daddy?" tanyanya.

"Ingin. Tapi ada yang lebih ingin bicara dengan daddy mu saat ini"

Sehun melirik pada seseorang yang masih menggenggam tangannya. Saling melemparkan senyum sebelum yang lebih tinggi maju satu langkah dan memberi penghormatan.

"Senang bisa mengunjungi mu Tuan Wu" suaranya yang dalam tidak memiliki keraguan. "Aku Kim Jongin. Terima kasih telah menjaga Sehun selama ini. Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk membandingkan penantian ku dengan pengorbananmu. Aku disini ingin menyapamu dan meminta ijin untuk Sehun. Untuk menjaganya seperti yang sudah kau lakukan. Untuk mencintainya lebih dari yang kau berikan. Untuk menjadikannya milikku. Satu-satunya yang akan aku temukan di samping kursi masa tua milik kami nanti. Aku meminta ijin mu untuk mengganti namanya dengan namaku dan mengambil alih peranmu untuk Ellios. Aku hanya memiliki janji sebagai tanggungan. Janji untuk mencintai dua orang yang sangat kau cintai"

Sapuan angin membelai wajah Sehun. Membisikkan nyanyian musim gugur. Hangat merayapi hatinya.

Alam memberikan pesan dari tempat jauh.

Sehun tidak mampu menahan rasa haru. Matanya berkaca. Langkahnya mendekat pada Jongin. Menggapai lengan pria itu untuk menyampaikan apa yang baru ia terima. Kepalanya bersandar pada bahu tegap Jongin dengan pandangan lurus pada makam Kris serta senyum yang belum menghilang.

"Aku mencintainya" kata Jongin.

"Aku juga mencintainya" sambung Sehun.

Ellios mendekat dan mendesak masuk diantara tubuh Sehun dan Jongin. Sehun terkekeh kemudian memeluk jagoan kecilnya.

Dan kau tau, aku mencintaimu.

Kris...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

Berakhir dengan sangat aneh.

Maaf jika kurang puas sama endingnya. Tapi sekali lagi aku mau bilang kalau See You In Autumn akhirnya Tamat! Yeeaayyy! ^o^

Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Kalian yang udh rela nangis2 baca ff abal ini. Kalian yang nggk bosen nunggu tiap chapter nya. Kalian yang selalu ngasih support ke aku. Kalian yang nggk banyak protes untuk susunan kalimat dan kata2 yang menye di ff ini. Saranghae so much :* T.T

Dan untuk inspirasi ku. Cintaku. Pujaan hatiku. Menye ku. Kim Jongin dan Oh Sehun. Kalian indah.

And Kris too. I Love You so much ಥ⌣ಥ

Goodbye from See You In Autumn \(;'□`)/

Selamat berpuasa untuk yang menjalankan (∩_∩)