"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Chapter 2.

Kuroko POV

Kalau kau bertanya padaku, aku orang yang seperti apa, aku orang yang baik. Aomine-kun, Kise-kun, Kagami-kun adalah teman-teman yang cukup dekat denganku. Kalian bisa bertanya pada mereka. Aku juga tidak pernah melawan kehendak Okaa-san ataupun Otou-san. Semua keluarga ku menyayangiku. Anak-anak kecil mencintaiku (tapi aku bukan pedophile) .walau tingkat keberadaanku mepet, teman-temanku tidak pernah mem-bully-ku. Aku juga bukan anak yang sombong. Rajin menabung dan suka beramal. Tidak merokok apalagi minum alcohol. Aku juga bukan orang mesum. Terutama mesum seperti makhluk kepala merah didepanku ini. Sebenarnya, aku jarang menyela sikap orang. Tapi gara-gara Akashi-kun, title ku sebagai anak yang baik hati sedikit berkurang. Maafin Tetsuya Tuhan..

Normal POV

"Akashi-kun, kenapa kau mengikutiku?"

"Aku tidak mengikutimu, Tetsuya."

"Akashi-kun bohong."

"Aku tidak berbohong, Tetsuya."

"Kalau Akashi-kun tidak mengikuti, kenapa Akashi-kun ikut aku kesini?"

"Tempat ini bukan milikmu, Tetsuya."

"Tempat ini memang bukan milikku, Akashi-kun. Tapi ini sekolahku. Dan sekarang kita sudah di kelasku. Padahal aku ingat Akashi-kun bilang tidak mengikutiku."

"Aku memang tidak mengikuti Tetsuya."

"Lalu, kenapa Akashi-kun disini?"

"Aku hanya ingin bersama Tetsuya, menikmati masa indah kita berdua."

KRAAKK. Suara imajiner memecah hening yang menyelimuti kelas 3D. mata para siswa membulat. Memandang pasangan biru-merah yang tengah 'berdrama'.

"Mimpi yang indah, Akashi-kun."

"Akan selalu indah jika bersama Tetsuya. Apalagi bisa bareng Tetsuya pas mimpi bas-"

"Akashi-kun, ini di tempat umum."

"Hee, jadi Tetsuya mau melakukannya jika tidak ada orang?"

'Melakukan apaa!?' Teriak para siswa OOC dalam hati

"Hentikan, Akashi-kun."

"Tidak mau kalau bukan Tetsuya yang menutup mulutku dengan mulutmu. Bisa juga dengan lid-"

"Akashi-kun, sebentar lagi bel"

"Lalu?" Akashi hanya menyeringai dengan santai menanggapi ocehan Kuroko.

"Nanti sensei marah melihat murid dari luar sekolah Seirin berkeliaran disekolah, Akashi-kun."

"Tetsuya menghawatirkanku?"

"Bukan begitu maksudku, Akashi-kun."

"Tsundere eh? Lalu kenapa, Tetsuya? Ah, jangan bilang.."

"Jangan bilang apa, Akashi-kun?"

"Apa kau nervous dekat calon suamimu sendiri, Tetsuya?"

'Calon suamii?!' Mata teman sekelas Kuroko membulat horror mendengar dua kata nista itu. Memang Yang satu tampan mutlak. Yang satu manis dan unyu nggak ketulungan. Cocok. Serasi. Tapi menikah? Ujian saja belum sudah main nikah-nikahan.

"Kita tidak ak-"

CUP. Satu kecupan mendarat di bibir Kuroko

"Sudah selesai ceramah, Tetsuya?"

Akashi mengambil kursi dan menaruhnya disamping kursi Kuroko. Sedang Kuroko hanya bisa terdiam sambil memegang bibirnya yang di kecup oleh Akashi. Semburat merah mewarnai pipinya. Entah malu, atau marah. Atau dua-duanya. Teman-teman Kuroko? Jangan Tanya. Mereka sudah tewas bersimbah darah akibat hidung yang tidak berhenti mimisan.

"A-Apa yang A-Akashi-kun lakukan?"

"Kau gagap, Tetsuya."

'Tuhan, Ijinkan Tetsuya menendang makhluk didepanmu ini.' Teriak Kuroko OOC dalam hati

"Akashi-kun, kita sudah membicarakan ini tadi. Aku masih suka perempuan."

"Lalu?"

"Akashi-kun bukan perempuan."

"Kau ingin aku berubah menjadi perempuan, Tetsuya?"

"Tidak. Apapun bentuk Akashi-kun, aku tidak suka."

"Kenapa?"

"Karena itu Akashi-kun."

"…"

"A-Aku. Maksudku-"

"Kau menyakitiku, Tetsuya."

Sedetik itu Kuroko tersadar. Ia melukai Akashi. Sebenci-benci nya ia dengan makhluk merah didepannya, seharusnya ia tetap tidak melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Meskipun Akashi itu menyebalkan, mesum, dan suka pegang-pegang, dia tidak pernah menyakiti hati Kuroko.

"Akashi-kun, gomenasai."

"…" Akashi hanya diam. Tidak menanggapi

"Aku minta maaf, Akashi-kun. Bukan maksudku berbicara seperti itu."

"Lalu?"

"Tadi hanya reflex. Akashi-kun selalu menyebalkan. Ja-jadinya.. maaf."

"Aku tidak memaafkanmu, Tetsuya."

"Ta-"

"Kenapa bisa ada murid Rakuzan yang berada disini? Ada yang bisa menjelaskan? Kuroko-kun?"

Akashi menyeringai. Kuroko kaget atas interupsi tiba-tiba yang dilakukan oleh gurunya.

"Ano, sensei.."

"Ya, Kuroko-kun?"

"Ah, ini, perkenalkan namanya Akashi Seijuro, sensei."

"Ada keperluan apa dia kemari?"

"A-Ano-"

"Sayang, biar aku yang jelaskan. Sensei, apa saya salah jika ingin bertemu dengan tunangan saya setelah beberapa tahun tidak bertemu dengannya?" Tanya Akashi sambil memberi senyuman yang mampu membuat siapapun bertekuk lutut.

Kuroko hanya bisa menatap horror Akashi yang menyeringai melihat tingkah sang guru akibat senyum dan kalimat yang dia ucapkan.

"Tu-tunangan?"

"Iya, sensei. Kuroko Tetsuya adalah tunanganku. Ada masalah?" Tanya Akashi masih dengan senyumnya yang membuat klepek-klepek

"Akashi-kun! Kau membuat sensei salah paham." Bisik Kuroko pada Akashi

"Iya sayang. Tenang saja, sensei ini tidak akan memisahkan kita. Sudah cukup kita berpisah setelah sekian lama. Makanya aku ingin mengajukan ijin ke sensei mu, agar kita diijinkan merencanakan pernikahan kita, meskipun hanya sebentar." Dengan lantang Akashi berkata sambil memandang wajah Kuroko yang tengah pasang tampang bego. Masih berusaha mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Akashi.

"Apa maksudmu, Akashi-kun!?" bisik Kuroko tajam sambil mencubit lengan kekar Akashi.

"Sayang, sabar dulu dong. Iya-iya habis ini kita ke hotel, oke?"

Kuroko cengo. Sang guru pingsan. Murid sekelas mimisan

"Nah , Tetsuya, masalah ijin selesai. Kita selesaikan permintaan maafmu."

"Kau membuat kekacauan, Akashi-kun."

"Maksudmu?"

"Lihat ini semua akibat perbuatanmu, Akashi-kun. Lagipula kita baru bertunangan beberapa hari yang lalu, bagaimana bisa terpisah bertahun-tahun?"

"Harusnya kau berterimakasih padaku, Tetsuya."

"Kenapa aku harus berterimakasih kepada Akashi-kun?"

"Karena aku tampan."

"Akashi-kun, aku serius."

"Aku juga serius, Tetsuya."

"Tapi jawaban Akashi-kun dengan pertanyaanku tidak nyambung."

"Nyambung kok. Bibir kita sudah tersambung tadi, Tetsuya. Kau mau lagi?"

"Itu tidak ada hubungannya, Akashi-kun."

"Jelas ada, Tetsuya. Kau saja yang sebenarnya ingin ku cium lagi. Iya kan? boleh sih kalau aku sudah memaafkanmu. "

'Sabar Tetsuya. sabar. Orang sabar, porsi minum vanilla milkshake nya besar.'

Kuroko hanya terdiam sambil membelai dadanya sendiri. Memberi kekuatan untuk menghadapi makhluk nista berkepala merah di depannya.

"Kau tak perlu membelai dadamu sendiri, Tetsuya. Aku mau kok melakukannya untukmu. Dengan dua tangan malah. Dan kau akan berteriak dan mendesah. Aku bisa jamin loh. Kalau gagal, aku mau mengulangnya sampai berhasil."

"Aku tidak butuh jaminan konyol seperti itu, Akashi-kun. Dan aku tidak perlu tanganmu."

"Tapi sensasinya berbeda, Tetsuya. Jadi mau mencoba?"

"Tidak, Akashi-kun. terima kasih."

"Baiklah. Daripada kita berdiri ditempat konyol dengan background guru dan teman-temanmu terkapar, ayo kita pergi."

"Tidak mau. Lagipula, ini salah Akashi-kun"

"Kau harus mau karena aku calon suamimu ,Tetsuya."

"Masa bodo."

"Baiklah. Aku tidak akan memaafkanmu, Tetsuya."

"Oke. Kita pergi, Akashi-kun. Jangan beri tau Okaa-san tentang masalah ini."

"Ya tergantung."

"Tergantung bagaimana?"

"Tergantung bagaimana cara kau meminta maaf padaku, Tetsuya sayang."

Kuroko memutar bola matanya mendengar panggilan nista dari Akashi .

"Jadi kita mau kemana, Akashi-kun?" Tanya Kuroko sambil memasuki mobil mewah Akashi

"Hotel, Tetsuya."

"Kenapa kita harus ke hotel, Akashi-kun?"

"Karena ijinku ke sensei seperti itu."

"Tapi jika kita ke hotel, akan membuat salah paham semakin besar, Akashi-kun."

"Salah paham bagaimana?" Tanya Akashi sambil menyeringai

"Kita belum menikah, Akashi-kun. Lagipula kita sama-sama laki-laki."

"Kau mau kita menikah dulu sebelum ke hotel? Atau kau mau cross dress dulu, Tetsuya?"

"Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikiran Akashi-kun."

"Aku sudah menawarkan jalan untuk saling mengenal, tapi kau tidak mau, Tetsuya."

"Jalan yang Akashi-kun tawarkan hanya jalan mesum yang aku tidak mau membayangkannya."

"Tidak perlu dibayangkan, Tetsuya. Kita bisa langsung praktek kok." Jawab Akashi kalem

Sedetik kemudian Kuroko sadar bahwa Akashi adalah orang pertama yang membuat tangannya gatal untuk mencekik orang.

TBC.

Author's Note :

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.

Special Thanks

Outofblue, Anonymous, elVoldysh, Ritsu Syalalalala, Zafreena, Seishirin. A

Dan semua yang udah Follow dan Fav :)