"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Chapter 4.

Kuroko menghela nafas pelan. Badannya terasa pegal semua mengingat sudah beberapa jam dia tidur menyamping tanpa bisa bergerak sedikitpun. Salahkan Akashi yang memeluknya terlalu erat hingga Kuroko merasa tulangnya remuk. Kuroko sudah berusaha untuk mencoba melepaskan pelukan Akashi yang luar biasa kuatnya. Tapi setiap Kuroko mencoba melepaskannya, yang ada tangan Akashi berpindah ke bagian-bagian yang ehm, sedikit terlarang. Atau istilahnya Akashi grepe-grepe. Kuroko yakin, sebenarnya Akashi tidak bobok. Mengingat tangan Akashi yang mencari kesempatan sana-sini.

Sebersit akal jahil terlintas di benak Kuroko. Dengan perlahan dia mengambil ponsel yang tergeletak di meja sampingnya. Dengan sengaja Kuroko menaruh tangan Akashi di ehm, dadanya dan membuat seolah Akashi merematnya. Tidak berhenti disitu, Kuroko mengumpankan lehernya pada bibir Akashi seolah Akashi sedang menciuminya. Setelah itu Kuroko memasang ekspresi seperti orang yang dilecehkan. Memejamkan mata dan menggigit bibirnya seolah menahan desahan. Meskipun Kuroko yakin, ekspresinya seperti orang yang menahan konstipasi daripada orang yang sedang di grepe-grepe. Tidak lupa Kuroko menutup mata Akashi yang sedang tidur dengan tangan seolah sedang melawan. Pose sempurna. Tinggal membuka menu kamera dan memotretnya.

Setelah beberapa kali mengambil gambar dan memberi judul pelecehan seksual, Kuroko menekan tombol send tanpa melihat email siapa yang tertera, karena semalam, Kuroko yakin terakhir dia berkirim pesan dengan paman Haizaki yang merupakan seorang Polisi. Email terkirim sukses. Hape diletakkan lagi dan Kuroko mengambil posisi semula. Tapi..

Ada yang aneh. Jelas aneh. Tangan Akashi tidak mau pergi dari dadanya. Bibir Akashi juga semakin menghisap lehernya. Kuroko panik. Bahkan mulutnya berusaha menahan sesuatu yang menyerupai desahan. Wajahnya memerah. Ingin menjerit tapi yang keluar hanya desah nafasnya saja. Ingin memberontak tapi gerakannya sudah terkunci.

"A-Akashi-kun!"

"…"

"Akashi-kun!"

"…"

Akashi tak menjawab. Tapi tangannya sudah mulai menyusup di baju Kuroko. Memainkan sesuatu, yang entah apa sehingga Kuroko mendesah. Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, Kuroko menelengkan kepalanya menghadap Akashi dan menggigit hidung Akashi.

"Aduh!" Akashi langsung membuka mata. Memegang hidungnya yang memerah karena gigitan Kuroko. Kuroko yang melihat kesempatan untuk kabur segera mendorong Akashi dan segera bangun dari tempat tidur.

"Apa yang Akashi-kun lakukan?!"

"Apa yang ku lakukan? Aku hanya melakukan hal yang Tetsuya inginkan."

"Maksud Akashi-kun?"

"Kau sendiri kan yang menaruh tanganku di dadamu dan lehermu di mulutku? Kalau Tetsuya ingin, bilang saja."

"Aku tidak ingin, Akashi-kun."

"Lalu, kenapa kau melakukan itu, Tetsuya?"

"A-Aku.."

"Ya?"

"A-Aku melaporkan Akashi-kun atas pelecehan seksual yang sudah Akashi-kun lakukan terhadapku"

"Heh? Benarkah?" Akashi menyeringai meremehkan.

"Iya. Dan sekarang aku sudah mengirimkan buktinya ke pada polisi, Akashi-kun."

"Oh ya? Sudah ada balasannya? Kapan mulai sidang, Tetsuya?"

Secepat kilat Kuroko meraih hape yang tadi dipakainya. Berharap pamannya akan bilang bahwa Akashi sudah melanggar pasal dan ayat sekian. Menggeser lock screen-nya , Kuroko melihat icon email di sudut pojok layar. Dengan senyum kemenangan dia membuka email balasan. Senyumnya luntur. Berganti Akashi yang menyeringai lebar.

"Kenapa, Tetsuya? Aku melanggar pasal berapa?"

Tangan Kuroko gemetar. Entah menahan malu, kesal atau marah pada dirinya sendiri. Ini bukan hapenya! Kuroko lupa bahwa yang dipakainya tadi adalah milik Akashi. Terkutuklah Akashi yang memaksanya memakai hape kopel! Diliriknya balasan yang sudah dibukanya.

Mama

Sei! Nikahi Tet-chan sekarang juga! Dasar anak muda!

Papa

Atas nama laki-laki Sei, tanggung jawab terhadap Tetsuya. Papa akan segera membicarakan pernikahan kalian dengan keluarga Kuroko. Tak ku sangka kalian sudah masuk tahap ini.

Mama mertua

Tet-chan ku sudah dewasa rupanya :* . Kalian memang sudah tak sabar ya?

Papa mertua

Mau tidak mau , rela tidak rela, kalau sudah seperti ini, akhirnya aku harus merelakan Tetsuya. jaga Tetsuya , Sei!

Kuroko kicep. Niatnya pertunangan dibatalkan, apa daya malah dipercepat tanggal pernikahan. Pandangan Kuroko mulai buram. Dan yang terakhir diingat adalah sepasang manik heterokrom yang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

"Nghh.." Kuroko merasa kepalanya pusing sekali.

"Tet-chan, kau tidak apa-apa sayang?" Sayup-sayup Kuroko mendengar suara ibunya.

Kerjap-kerjap. Mata Kuroko mengerjap perlahan. Cahaya lampu yang menyilaukan. Beberapa pasang mata yang memandangnya dengan pandangan yang tidak dimengertinya.

"Okaa-san?" Kuroko menengok ke samping kiri dimana seorang wanita bersurai hitam memandangnya khawatir.

"Sayang, kau tak apa-apa?" Ujar wanita itu lagi.

"Tetsuya dimana?" Tanya Kuroko.

"Tetsuya , kau tidak apa-apa? Apa kita bermain terlalu keras sayang?"

Otak Kuroko masih me-loading ucapan tadi. Dengan cepat Kuroko menengok ke sumber suara. Kesadaran Kuroko complete seratus persen. Hotel. Akashi. Hukuman. Honey moon. Polisi. Pelecehan seksual. Peristiwa yang mencegangkan berupa Hape yang tertukar.

Kuroko langsung terduduk. Memeriksa keadaan tubuhnya. Matanya membulat horror. Baju sekolahnya sudah berganti kemeja putih yang entah milik siapa. Dan lehernya, penuh bercak merah-merah yang Kuroko yakini akibat gigitan nyamuk. Nyamuk berambut merah.

"Apa yang Akashi-kun lakukan kepadaku?"

"Sayang? Kau melupakan yang kita lakukan tadi? Aku mengerti." Akashi menunduk dalam.

"Ada apa, Sei? Kenapa kau murung?" Tanya mama Akashi.

"Sei-chan?"

"Okaa-san, mama.. sebaiknya perjodohan ini dihentikan saja." Ujar Akashi. Semua mata menatapnya kaget.

"Apa yang kau bicara kan, Sei?" Kali ini papa Akashi yang berbicara.

"Tetsuya tidak menginginkan keberadaanku. Dia membenci-ku." Wajahnya tertunduk begitu dalam.

"Tet-chan?! Apa yang kau lakukan pada Sei-chan?"

"Jangan salahkan Tetsuya, Okaa-san. Ini salah Sei yang memaksa Tetsuya."

"Apa maksudmu, Sei-chan? Kalian akan tetap menikah."

"Tapi Okaa-san-"

"Tet-chan, kau tau apa yang kau lakukan hari ini? Kau menyakiti Sei-chan."

Kuroko melirik Akashi yang berdiri di depannya. Seringai tipis terpampang jelas di wajah tampan sang Tunangan. Sayangnya yang melihat itu hanya Kuroko. Sungguh Kuroko ingin menendang kepala Akashi saat itu juga.

"Lagipula, kalian sudah melakukan hal ini-itu yang harusnya dilakukan saat menikah!"

"Ta-tapi Okaa-san-"

"Cukup Tet-chan. Mulai sekarang, kau harus bisa menjadi calon pasangan hidup yang baik bagi Sei." Kali ini ayah Kuroko ikut berbicara

"Baiklah. Tanggal pernikahan akan segera ditetapkan. Sambil menunggu itu, Tet-chan dan Sei akan tinggal bersama."

"Okaasan, Akashi-kun sekolah di Kyoto, aku di Tokyo."

"Gampang. Tinggal pilih, Sei pindah ke Seirin, atau Tetsuya ke Rakuzan."

"Ta-tapi-"

"Tet-chan!"

"Ha-hai Okaa-san."

"Sayang, aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya." Akashi mendekati Kuroko dan menggenggam tangan Kuroko.

"Iya sayang." Kuroko balik menggenggam tangan Akashi dengan erat seolah ingin meremukkannya.

"Tetsuya, kau memegang tanganku terlalu erat. Kau sudah tidak sabar ya?"

'Aku tidak sabar menendang kepalamu' Kuroko menggeleng pelan.

"Maafkan aku, Akashi-kun. "

"Tet-chan, kau harus membiasakan diri memanggil Sei dengan namanya. Sebentar lagi kau juga seorang Akashi."

"Hai. Maafkan aku Sei-kun." Ugh! Rasanya Kuroko ingin mencuci mulutnya karena memanggil iblis berkedok manusia yang entah karena dosa apa menjadi tunangannya dan sebentar lagi menjadi pasangan hidupnya. Tidak. Kuroko tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun sekarang statusnya entah masih pera- err, perjaka atau tidak, Kuroko tidak akan tunduk pada makhluk merah yang mungkin saja bertanduk itu.

"Baiklah, karena Tet-chan sudah sadar, dan ini sudah malam, kami pulang dulu ya. Jaga diri kalian berdua."

"Ta-tapi Okaasan, Tetsuya ikut pulang."

"Tet-chan, temani calon suamimu disini. Tak perlu malu-malu, lagipula kalian sudah anu-anu."

"Sei, jaga Tet-chan ya. Dan kau, Tet-chan, aku tidak sabar kau menjadi bagian dari keluarga Akashi. Ehm, dan sebaiknya kau pakai sweater yang berkerah tinggi ya kalau mau keluar nanti." Wanita cantik bersurai merah yang merupakan ibu Akashi ini tersenyum penuh ke ambiguan kepada Kuroko

Kuroko terdiam. Menatap nanar keluarga dan calon keluarganya yang telah menutup pintu hotel mewah itu. Meninggalkan Kuroko bersama manusia paling luar biasa dalam hidupnya. Mata Kuroko menerawang. melihat cermin dilemari kaca yang berseberangan dengan kasur king size yang tengah di dudukinya. Kemeja putih kebesaran memperlihatkan leher jenjang dan sebelah kiri bahunya yang putih. Bercak merah itu terlihat jelas. Tidak hanya satu, namun begit- eh, Kuroko tidak ingin tau berapa kali Akashi menandainya malam ini. Yang entah kenapa, memikirkan itu membuat semburat merah tanpa permisi muncul di pipi Kuroko.

Hening. Akashi menyeringai melihat ekspresi demi ekspresi yang dikeluarkan pemuda imut di depannya. Sungguh, Akashi merasa beruntung malam ini. Tidak hanya pernikahannya yang dipercepat, dia juga bisa melihat begitu banyak ekspresi yang biasanya tidak pernah diperlihatkan Kuroko. Marah. Panic. Kesal. Jengkel. Semuanya terlihat manis dan imut. Apalagi ekspresi tersipu itu. Bolehkah Akashi berharap? Semburat merah yang sekarang mewarnai pipi putih Kuroko merupakan ekspresi tersipu? Jika iya, ekspresi Kuroko yang tersipu itu sungguh.. damn, So sweet! Rasanya Akashi pengen ngunyah Kuroko hidup-hidup.

"Apa yang Akashi-kun lihat?"

"Tetsuya tentu saja."

"Dan kenapa Akashi-kun memanggil ibuku dengan Okaa-san juga?"

"Karena dia ibu mertuaku Tetsuya. Kau mendengar sendiri tadi tanggal pernikahan kita sudah ditetapkan."

"Akashi-kun sudah puas?"

"Belum. Lagipula aku belum bermain 'masuk Tetsuya'"

"Apa maksud Akashi-kun?"

"Aku memang ingin melakukannya Tetsuya, tapi aku bukan orang seperti itu. Memaksakan kehendakmu bukan cara ku untuk mendapatkanmu. Yah, kecuali kita sudah menikah nanti." Akashi tersenyum.

'Kata-kata ku pasti keren banget dan Tetsuya akan takluk padaku.' Dalam hati Akashi tertawa keras-keras.

"Jadi aku masih-"

"Ya, kau masih perjaka Tetsuya, kalau itu yang kau tanyakan." Kuroko lega mendengar jawaban Akashi. Ternyata Akashi tidak sejelek yang dia kira .

"Tapi, kalau Tetsuya ingin dan memaksa ku untuk melakukannya aku juga tidak masalah, sayang." Entah bagaimana caranya, Akashi menarik lengan Tetsuya dan menindihnya. Seringai terpampang jelas diwajah tampan Akashi. Menundukkan wajahnya pada telinga kanan Kuroko, Akashi berbisik .

"Desahanmu saat tidur luar biasa, Tetsuya." Mencium kilat bibir Kuroko dan Akashi segera bangun dan meninggalkan Kuroko yang masih terdiam dengan wajah yang merah mengalahkan rambut Akashi. Entah malu atau marah. ralat. Kuroko meralat perkataannya tadi. Akashi Seijuro masih mesum mutlak.

TBC.

Authors Note :

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.

Special Thanks:

Outofblue, Anonymous, Elvoldysh, Ritsu Syalalalala,

Zafreena, Seishirin. A, , Efi . Astuti .L,

Shota Nogami, Sofi Asat, Akashi Seiyuuki

Kufufufu Chan, Eruchan777, Tetsuya Ran,

Arlert09, Aishi Kichianobe,

Thalita Claluchuchachachuke, KNY14

Untuk telatnya semoga dimaafkan dan masih mau menunggu lanjutannya abysmal, hehe :*