"ABYSMAL"
Disclaimer :
Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi
Abysmal milik Gigi
Warn :
T+
Akashi x Kuroko
Yaoi a.k.a Shounen-Ai
Generation Of Miracle
Romance. Family
OOC parah
Typo
Chapter 5.
Apartment itu seperti yang lain. Mewah. Besar dan yang pasti hanya orang-orang yang punya dana melimpah yang bisa membelinya. Apartment idaman deh pokoknya. Tapi tidak dengan makhluk yang menghuninya. Berdebat, bertengkar tapi salah satu dari mereka berharap bisa bergulat. Kalau kau bertanya apartment milik siapa itu, apartment itu milik tuan muda Akashi dengan pasangan hidup yang dipilih seenak jidatnya, Kuroko Tetsuya.
Kalian ingat? tepatnya setelah tragedy di hotel yang mengakibatkan tanggal pernikahan maju kedepan, mereka resmi tinggal bersama. Mereka, lebih tepatnya Akashi yang memaksa, sepakat kalau Akashi yang ke Tokyo. Berkedok ingin membahagiakan Tetsuya agar pernikahan segera dilaksanakan. Dan hasilnya? Sukses. Ibu Kuroko bahkan terharu hingga berkata kalau tidak ada Akashi, Tetsuya tidak akan menikah dengan siapapun. Karena ibu Kuroko yakin kalau Kuroko untuk Akashi dan sebaliknya. Intinya Akakuro sepanjang masa. Lahir batin untuk Seijuro dan Tetsuya.
Tapi, meski ada kata sepakat, tak selamanya apartment itu damai. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Akakuro? Akashi yang suka mencari kesempatan, dan Kuroko yang berusaha keras menjaga kesucian. Teriakkan bukan hal yang langka untuk ditemu dan didengarkan. Setiap kali Akashi bertindak, sebanyak itulah Kuroko berteriak. Tapi tenang, meski sering perang, ini bukan perang jaman batu yang mempertahankan kehidupan dari makan memakan. Meski sama-sama berjudul 'memakan', tapi Akashi hanya memakan yang berakibat pada susah jalan. Jadi tidak akan berakibat hilangnya kehidupan, bahkan Akashi yakin, kalau memakan versinya ini bisa menambah jumlah makhluk dalam hidupnya dan Kuroko. Yang tentu saja, Kuroko menolaknya mentah-mentah akal Akashi yang nista.
…
Kesal. Kesal. Kesal! Kuroko kesal bukan main. Jangan Tanya kenapa dia menjadi kesal seperti ini. Siapa lagi kalau bukan makhluk merah yang tengah menyeringai didepannya ini. Dan yang bikin tambah kesal lagi, entah kenapa Kuroko malah berpikir bahwa makhluk itu ganteng sekali .
"Aku tidak tau kalau pindah apartemen membuatmu gila, Akashi-kun."
"Aku gila karena Tetsuya."
"Kau gila karena otak Akashi-kun sendiri yang mesum."
"Aku mesum karena Tetsuya."
"Aku tidak melakukan apapun, Akashi-kun."
"Oh ya? Lihat dirimu sekarang. Aku tak menyangka Tetsuya menggodaku. Jujur saja Tetsuya, kau membuatku gila."
"Akashi-kun yang membuatku gila!"
"Aku tidak tau kalau Tetsuya sudah jatuh cinta padaku." Ujar Akashi sambil menyeringai.
"Aku tidak tau kalau Akashi-kun sudah mimpi indah di siang hari."
"Salah Tetsuya, aku bukan mimpi indah. Aku mimpi basah. Yah, walau sebentar lagi akan menjadi indah dengan kau dan aku didalamnya."
"Jangan terlalu berharap, Akashi-kun."
"Aku tidak berharap, Tetsuya. Karena kau sendiri yang akan memberikannya."
"Aku tidak mengerti apa yang Akashi-kun maksud tapi tolong kembalikan bajuku yang Akashi-kun sembunyikan."
"Aku tidak menyembunyikan bajumu."
"Lalu siapa lagi?"
"Aku juga tidak tau."
"Disini hanya aku dan Akashi-kun yang ada."
"Siapa tau ada pencuri ,Tetsuya."
"Iya, pencurinya Akashi-kun."
"Aku hanya mau mencuri hati Tetsuya saja."
"Akashi-kun aku serius!"
"Aku juga serius, Tetsuya."
"Terakhir Akashi-kun bicara serius aku hampir mengalami pelecehan seksual dari Akashi-kun."
"Itu karena aku mencintai Tetsuya."
"Tidak ada ungkapan cinta seperti itu, Akashi-kun."
"Kau mau ungkapan cinta yang bagaimana Tetsuya?"
"Pokoknya yang bukan dari Akashi-kun."
"Jahatnya calon istriku."
"Aku laki-laki, Akashi-kun."
"Aku tidak bilang Tetsuya perempuan."
"Tapi kenapa Akashi-kun menyebutku istri?"
"Kau mau disebut apa Tetsuya?"
"Suami lah tentunya."
"Baiklah, jadi kau bersedia menjadi suamiku?"
"Sudah ku bilang, Akashi-kun. Aku straight."
"Aku tidak bilang Tetsuya belok."
"Tapi Akashi-kun membuatku belok."
"Jadi kau mengakui kalau kau sudah belok, Tetsuya?"
"Bu-bukan begitu, Akashi-kun! Arrggh!"
"Simpan desahanmu untuk nanti, Tetsuya."
"Aku tidak mendesah, Akashi-kun!"
"Lalu yang tadi?"
"Itu karena Akashi-kun yang menyebalkan."
"Bilang saja Tetsuya nervous hidup berdua denganku."
"Aku tidak nervous."
"Lalu? Ah, tentu saja Tetsuya tidak nervous, karena Tetsuya sudah menantikan hidup bersamaku."
"Kau benar-benar harus minum obat, Akashi-kun."
"Boleh, tapi obatnya harus Tetsuya yang meminumkannya dari mulut ke mulut, boleh pake lid-"
"Kenapa Akashi-kun mesum sekali?"
"Karena Tetsuya yang membuatku mesum."
"Aku tidak- oke, hentikan ini pasti nanti akan kembali di perdebatan yang tadi sudah kita lakukan."
"Maksudnya yang berakhir dengan pergulatan di ranjang, Tetsuya?"
"Kita tidak bergulat di ranjang, Akashi-kun."
"Lalu kau mau bergulat dimana?"
"Di- Hentikan itu Akashi-kun, kita tidak akan bergulat!"
"Tetsuya malu?"
"Aku tidak malu."
"Ya sudah, kita mulai sekarang, Tetsuya."
"Apanya yang dimulai?"
"Gulatnya."
"Kita tidak bergulat, Akashi-kun."
"Tetsuya malu?"
"Aku tidak ma- Stop, kita mengulang lagi kata-kata tadi."
Tangan terkepal erat. Kuroko berusaha menahan mati-matian hasrat untuk mencekik Akashi dengan tangannya sendiri. Gregetan.
"Kalau mengulang pergulatan diantara kita. Tetsuya mau?"
"Kita belum pernah bergulat, Akashi-kun." Sungguh, kalau ada lomba kesabaran, Kuroko sudah pasti masuk nominasi.
"Ya sudah, kita bergulat saja sekarang."
"Hentikan pembicaraan tentang gulat, Akashi-kun."
"Lalu mau langsung praktek bergulat ?"
"Kita kembali ke topic awal, kembalikan baju ku yang Akashi-kun sembunyikan sehingga aku tidak perlu memakai pakaian nista ini!"
"Nista? Kau sungguh menggoda saat memakainya, Tetsuya."
"Itu karena Akashi-kun mesum."
"Siapa yang tidak mesum kalau melihatmu, Tetsuya?"
Kuroko melihat keadaan dirinya. Ya, memang dia hanya memakai kemeja putih kebesaran milik Akashi yang tertinggal di lemari pakaiannya. Yang mengakibatkan leher dan bahunya terekspos, serta pahanya terlihat jelas. Tapi itu bukan salah Kuroko, salahkan saja si makhluk merah itu, semua bajunya disembunyikan, yang disisakan hanya baju nista itu.
"Bagaimana, Tetsuya? Sudah sadar betapa menggodanya dirimu?"
Akashi benar-benar sudah tidak tahan. Makhluk unyu didepannya ini memang minta ditubruk dan dilahap segera. Pahanya yang menggoda, leher, bibir, wajah memerah. Aduuh, entah sampai kapan darahnya bisa ditahan untuk tidak mengalir deras dari hidungnya. Andai Tetsuya adalah jenis ayam pasti Akashi akan betah makan dada atau paha, kalau bisa dua-duanya setiap hari. Akashi sadar kalau dia lagi masuk periode mesum, tapi siapa yang tahan melihat Tetsuya-nya? Walau begitu Akashi bertekad, tidak ada yang akan melihat Tetsuya seperti ini kecuali Akashi. Obsesi dan overprotektif yang overdosis.
"Kenapa senyum –senyum sendiri, Akashi-kun? "
"Karena aku memikirkan Tetsuya."
"Jangan terlalu berpikiran mesum."
"Aku tidak berpikiran mesum. Aku hanya memikirkan Tetsuya"
"Tapi Akashi-kun pasti memikirkanku dengan tidak-tidak."
"Maksud Tetsuya yang tidak – tidak? Aku jadi curiga kalau Tetsuya yang malah berpikir mesum." Akashi menyeringai. Dengan Kuroko, dia memang bisa mengeluarkan semua ekspresinya. Ah, tidak sabar pernikahannya dipercepat.
"Aku tau kalau Akashi-kun sedang menyeringai, tapi jangan keluarkan aura bunga-bunga dibelakangnya. itu menyeramkan, Akashi-kun dan aku tidak berpikiran mesum. Aku hanya waspada."
"Tenang saja Tetsuya, bunganya masih banyak kalau kau khawatir bunganya habis sebelum pernikahan kita. Waspada? Aku bahkan belum menyentuh Tetsuya hari ini."
"Apa maksud Akashi-kun dengan menyentuh?"
"Jadi ingin aku praktekan? Tetsuya pintar sekali memancingku."
"Akashi-kun, tolong tanggapi aku dengan serius."
"Aku selalu serius dengan Tetsuya."
"Tapi Akashi-kun selalu main-main saat kita bicara."
Wajah Akashi berubah serius. Dengan cepat ditariknya tangan Kuroko, membawa Kuroko ke pelukannya. Mata itu saling memandang. Hidung saling menempel. Netra biru bertemu heterokrom.
"Siapa yang main-main Tetsuya? Aku mencintai Tetsuya. Aku ingin menikahi Tetsuya. Aku ingin menghabiskan hidupku dengan Tetsuya. Aku ingin melindungi dan membahagiakan Tetsuya. Apa aku terlihat main-main?"
Satu kecupan didaratkan di bibir mungil Kuroko. Cari kesempatan. Kuroko mengalihkan pandangannya. Gak kuat lihat mata Akashi.
"Tatap mataku, Tetsuya. Kau pasti tau bahwa aku tidak berbohong."
"Tapi kita masih SMA, Akashi-kun."
"Aku tidak peduli. Asal Tetsuya mau, aku tidak peduli."
"Tapi aku peduli, Akashi-kun. Aku tidak mau melanggar hukum. Aku masih ingin menjadi guru TK."
"Tapi kita bisa belajar merekontruksi dan membuat anak dulu, Tetsuya. Itu tidak melanggar hukum."
JDUAAKK!
"Maaf Akashi-kun, tangan ku licin."
"Ini sakit, Tetsuya."
"Itu karena Akashi-kun mulai melantur."
"Aku serius, Tetsuya."
"Apa Akashi-kun lupa kalau aku masih straight?"
"Masih kan? Berarti ada kemungkinan kau bisa belok, Tetsuya. Aku bisa membuat Tetsuya belok. Mau?"
"Tidak. Terimakasih, Akashi-kun."
"Tetsuya jangan malu-malu. Mau belok yang seperti apa? Tikungan tajam? Atau belokan tumpul yang mematikan?"
" Sepertinya otak Akashi-kun itu yang tumpul."
"Tidak masalah. Yang tumpul juga enak kok Tetsuya. Mau coba?"
"Aku tidak mengerti pembicaraan Akashi-kun."
"Kau tidak perlu mengerti, Tetsuya. Kau hanya perlu merasakannya."
"Itu tidak pen-"
"Itu penting, Tetsuya. Penting untuk malam pertama kita."
"Tidak akan ada malam pertama diantara kita, Akashi-kun."
"Oh, aku lupa kalau kita sudah berkali-kali melakukannya."
"Kita belum pernah melakukannya."
"Ya sudah, kita lakukan saja, Tetsuya."
"Akashi-kun?"
"Hm?"
"Aku lelah berbicara dengan, Akashi-kun."
"Sudah ku bilang, Tetsuya. Kita tidak perlu mengungkapkannya. Cukup bergulat di ranjang, dan ungkapkan saja melalui desahan."
Kuroko sudah tidak tau, seberapa besar keinginannya untuk menjedukkan kepalanya ke meja.
"Akashi-kun, aku serius sekarang. Aku bisa masuk angin kalau seperti ini terus. Ini dingin."
"Jadi, kau mau kemasukan benda padat yang bisa membuat Tetsuya hangat?" Akashi menyeringai lagi.
"Maksudnya?"
"Aku tidak akan membiarkan angin memasukimu sebelum aku, Tetsuya. Kau pikir aku rela."
Kuroko Tetsuya, 16 tahun. Yakin bahwa Akashi Seijuro sudah gila.
…
Hari ini, hidup Kuroko terasa menyenangkan. Kenapa? Karena sang penginterupsi nomor satu dikehidupannya sedang pergi ntah kemana. Indahnya dunia..
Sendiri tanpa Akashi memang menyenangkan. Tapi rasa bosan mengalahkan rasa ingin kesendirian Kuroko. Sambil memikirkan cara menendang Akashi dari kehidupannya, dia mencari referensi dari novel novel percintaan yang dari dulu tidak pernah disentuhnya.
Menunduk. Berbaring. Berjalan. Ah, otak terasa buntu. Kuroko butuh cara cepat dan efektif. Dan akhirnya setelah berjalan kesana kemari, mengindahkan Nigou yang ingin jalan – jalan, Kuroko menemukan caranya. Dia butuh pacar. Pertanyaanya siapa yang mau berpura-pura menjadi pacarnya? Selama hidupnya dia hanya mengenal 5 perempuan. Ibunya, ibu Akashi-kun, Momoi, Alex, dan Riko. Ibunya dan ibu Akashi jelas bukan pilihan. Jika dengan Momoi, Kuroko ragu apakah masih bisa hidup besoknya karena terlalu sering dipeluk. Kalau Alex, Kuroko yakin akan dikira sebagai keponakan daripada pacar. Pilihan terakhir jatuh pada Riko. Secepat kilat Kuroko mengambil handphone dan menghubungi senpainya yang sudah lulus tahun lalu itu.
/"Moshi-moshi?"/
"Ah, Riko senpai?"
/"Kuroko-kun, doushite?"/
"Em- anu-"
/"Ya?"/
"Ri-Riko senpai sudah punya pacar?"
/"Belum. Kenapa?"/
"A-Ano- maukah Riko senpai menjadi pacarku? Onegaishimasu."
/"Ku-Kuroko-kun, ada apa denganmu?"/
"Aku butuh pacar sekarang, Riko senpai."
/"Kuroko-kun, sepertinya latihanmu perlu tambah porsi ya?"/
"Eh, gomen, Riko senpai. Tolong bantuannya."
/"Aku tidak tau apa masalahmu, Kuroko-kun, tapi berbohong itu tidak baik. Lagipula, terakhir kali aku jalan berdua denganmu, aku malah dikira Yuri-nan."/
"Maksudnya, Riko senpai?"
/"Kau cantik, Kuroko-kun. Cobalah menjadi tampan. Dan aku akan mencarikan pacar untukmu."/
"Ma-maksud Riko senpai aku seperti perem-perempuan?"
/"Ah, ya itu maksudku."/
JLEB
"Souka na.."
/"Gomen, Kuroko-kun."/
"Hai, arigato Riko senpai. Maaf mengganggu"
/"Jaa. Cari pacar yang ganteng, Kuroko-kun."/
JLEB
/"Jaa, Riko senpai."/
Dunia kejam. Bagaimana mungkin dirinya yang tampan disamakan dengan cantiknya perempuan. Dengan segenap tenaga yang tersisa, Kuroko menjedukan kepalanya ke meja.
TBC.
Author's Note :
Terimakasih sudah membaca!
Sign,
Gigi.
Special Thanks:
Outofblue, Anonymous, Elvoldysh , Ritsu Syalalala,
Zafreena, Seishrin A, S Hanabi, Efi Astuti L,
Shota Nogami, Sofi Asat, Akashi Seiyuuki,
Kufufufu Chan, Eruchan777, Tetsuya Ran,
Arlert09, Aishi Kichianobe,
Thalita Claluchuchachachuke, KNY14,
Kinoshita Yuu, Ice Ohice, Bona Nano,
Rukanra411, Meikha0102, Kichan Elpeu
Untuk telatnya semoga dimaafkan dan masih mau menunggu lanjutannya abysmal, hehe :*
