"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Chapter 6.

Kuroko tidak tau lagi bagaimana dia menjaga mukanya. Terlepas dia sebagai anak yang sopan kepada siapapun, kecuali kepada ehm, yang katanya bakal calon suaminya, dia merasa telah melakukan hal yang paling memalukan dalam hidupnya. Mengabaikan surai merah yang sedang berdiri di depan kelasnya, Kuroko lebih memilih menenggelamkan wajahnya pada buku matematika. Dia benci matematika, tapi dia lebih benci Akashi yang bertingkah seenak jidatnya dan katanya absolut.

"Jadi, silahkan perkenalkan dirimu, Akashi-kun."

"Apa itu penting? Aku hanya butuh Tetsuya mengenaliku sensei. Aku hanya butuh Tetsuya."

"Tapi Akashi-kun, kelas ini bukan hanya terdiri dari kau dan Kuroko-kun."

"Tapi rumah tangga ku hanya berisi aku dan Tetsuya, sensei." muka Kuroko memerah mendengar pernyataan Akashi. Ntah karena marah atau malu hanya Kuroko dan Tuhan yang tau.

Krakk! Terdengar Suara kacamata sensei pecah. Bahkan Kagami yang tadinya tiduran langsung otomatis terbangun.

"Akashi-kun-"

"Sensei mau berkata kalau aku salah?" Mata Akashi berkilat tajam

Kuroko tidak tahan lagi. Alisnya berkedut kesal dan entah berapa siku yang telah tercipta melihat tingkah Akashi.

"Akashi-kun, apa salahnya memperkenalkan diri?" Tanya Kuroko sambil tersenyum manis.

"Baiklah, karena Tetsuya sayang yang menyuruh, aku akan memperkenalkan diri. Aku Akashi Seijuro. Calon suami Tetsuya secepatnya. Jangan mencoba menyentuh Tetsuya atau silahkan berkenalan pada pedihnya neraka." ujar Akashi sambil menekankan kata secepatnya.

Tidak ada murid yang berkomentar. Semuanya menunduk. Tak sanggup melihat pemandangan mata berkilat dan gunting yang terangkat. Pose psikopat.

Dan Kuroko Tetsuya merasa saat itu juga dunianya kiamat.

"Akashi-kun, seharusnya kau memperkenalkan dirimu dengan benar. Kenapa kau tidak melakukannya?" Tanya Kuroko pada Akashi saat istirahat.

"Tetsuya ingin aku memperkenalkan diri sebagai suami Tetsuya?"

"Bukan begitu Akashi-kun, perkenalkan dirimu. Nama Akashi-kun dan asal sekolah."

"Tidak ditambah nama calon istri?"

"Tidak usah. Itu tidak penting, Akashi-kun. Nanti jangan diulangi saat perkenalan di klub basket."

"Aku tidak berpikir ikut basket."

"Akashi-kun berhenti bermain basket?"

"Apa ini? Kau berharap aku ikut?"

"Bu-bukan begitu." Wajah Kuroko memerah "Tapi, apa Akashi-kun tidak apa-apa? Bukannya di Rakuzan, Akashi-kun menjabat sebagai kapten?"

"Aku tidak tau Tetsuya men-stalk-ku."

"Aku tidak men-stalk Akashi-kun." Alis Kuroko berkedut "Lagipula, semua tau tentang Akashi-kun. Kapten basket yang membawa Rakuzan juara Interhigh musim panas lalu."

"Kalau Tetsuya ingin aku bermain basket, aku akan bermain. Akan ku tunjukkan bahwa aku sangat pintar dalam memasukkan." ujar Akashi seduktif sambil menoel dagu Kuroko.

"Aku tidak tau apa yang Akashi-kun maksudkan. Tapi, Akashi-kun hebat dan aku berharap Akashi-kun tidak berhenti bermain basket."

Kuroko tersenyum. Senyum yang pertama kali ditujukkan kepada Akashi dan membuat Akashi berhenti bernapas. Makhluk ciptaan Tuhan yang terindah dimata Akashi.

Seperti yang sudah diduga Kuroko, suasana gym menjadi heboh karena mendapati kapten calon lawan mereka berada disana.

"Ku-Kuroko, kenapa kapten ce-"

Ckriss! Satu gunting melesat beberapa mili disamping pemuda bersurai coklat yang sedang bertanya pada Kuroko.

"Ma-maksudku kenapa kapten ce-cerdas itu ada di gym kita Kuroko?" Sambil gemetar, pemuda itu mengkoreksi pertanyaanya.

"Oh, maaf Furihata-kun, kami belum menjelaskannya. Aku akan memintanya memperkenalkan diri."

"Dan kau kenapa, Kagami? Seolah kehilangan nyawa begitu." Tanya Furihata sambil melihat kearah Kagami yang mengeluarkan aura mati segan hidup pun enggan seperti ketemu iblis dengan gunting di tangan.

"Ha? Tanyakan saja pada Kuroko."

"Dia kenapa, Kuroko?"

"Aku juga tidak tau, Furihata-kun."

Furihata gemetar. Dari tadi sosok yang berada disamping Tetsuya itu selalu melihatnya dan Kagami seolah-olah berkata 'jauh-jauh kau dari Tetsuya!'

"Ku-Kuroko sebaiknya kau segera memperkenalkannya. Semua anggota sudah hadir."

Kuroko mengangguk.

"Jangan melihat orang seperti itu, Akashi-kun."

"Mereka semua mau merebut Tetsuya, dariku."

"Terserah dengan apa yang Akashi-kun pikirkan, tapi silahkan Akashi-kun memperkenalkan diri."

"Baiklah, kalau Tetsuya yang menyuruh."

"Minna, mohon untuk diam sebentar. Akan ada anggota baru yang akan memperkenalkan diri." teriak Fukuda.

"Nah, silahkan, Akashi-kun."

"Aku Akashi Seijuro. Dari Rakuzan. Calon suami Tetsuya."

Dan bisa ditebak. Kalimat terakhir dari Akashi membuat kokoro manusia yang berada di gym Seirin menjadi retak. Sudah menjadi rahasia umum di Seirin kalau sang kapten aka Kuroko Tetsuya merupakan milik bersama. Bukannya apa-apa, mereka merasa kalau Kuroko Tetsuya terlalu indah untuk menjadi milik pribadi dan sekarang, seorang anggota baru mendeklarasikan bahwa Kuroko Tetsuya adalah hak miliknya. Betapa mereka ingin menguliti Akashi kalau tidak melihat dua gunting merah ditangannya.

"Akashi-kun!" Kuroko mencubit lengan Akashi dengan kesal.

"Maaf Tetsuya, aku lupa. Oh, iya, aku dan Tetsuya akan menikah. Jangan lupa kalian harus hadir."

"Minna, mohon abaikan kalimat terakhir." interupsi Kuroko membuat sebagian besar penghuni gym bernafas lega. Paling tidak, pujaan hati masih perawan sampai lulus SMA.

"Apa maksudmu Tetsuya?" manik heterokrom Akashi berkilat kecewa.

"Kita bicarakan nanti, Akashi-kun."

"Berikan alasan terbaik agar kau masih bisa berjalan normal besok."

Kuroko menyedot vanilla milkshake nya kuat-kuat. Ayolah, dia tau otaknya bukan otak yang expert. Tapi ini darurat. Akashi bukan tipe yang suka main-main dan otaknya juga sudah tidak polos untuk menerjemahkan kata 'masih bisa berjalan normal' yang dimaksud Akashi. Bukan, Kuroko bukannya menjadi orang yang pervert sekarang, salahkan saja Akashi yang selalu merecoki dan mencekokinya dengan kalimat mesum nan vulgar setiap hari. Dari bangun tidur hingga merem lagi.

Cari pacar gagal. Mencoba menjebak Akashi juga gagal total. Mau lari tapi Kuroko yakin dia masih seratus persen laki-laki. Kuroko menghela nafas pelan. Tidak, dia tidak boleh lari. Dia harus gentle. Bulatkan tekad, mantapkan niat. Kuroko yakin dengan berbicara empat mata dua hati, Akashi akan mengerti. Yang tidak Kuroko mengerti, kenapa hatinya kurang nyaman saat ingin memutuskan hubungannya dengan Akashi? Dan Kuroko memilih untuk mencoba menepis kuat perasaan-perasaan itu.

Tanpa membuang waktu, sepulang dari latihan basket, Kuroko segera mencari Akashi. Awalnya Kuroko menduga bahwa Akashi akan menyeretnya seperti biasa, tapi malah Kuroko ditinggal sendiri. Panggilan Kuroko pada hape Akashi juga tidak mendapat respon dan jantung Kuroko sedikit terasa sakit. Mungkin setelah pulang dari bertemu Akashi nanti Kuroko akan memeriksakan jantungnya dahulu ke Rumah Sakit Kisedai langganan ibunya.

Setelah berlarian kesana kemari, akhirnya Kuroko menemukan Akashi di sebuah taman yang dekat dengan apartment mewah milik Akashi (Kuroko tidak mau menyebut milik bersama).

"Aka-" ucapan Kuroko terhenti saat melihat Akashi tidak sendiri. Dia terlihat bersama dengan seorang pemuda bersurai hitam. Duduk berdua dibangku taman. Entah apa yang mereka bicarakan. Lagi-lagi jantung Kuroko berdenyut sakit. Mereka terlihat akrab satu sama lain. Harusnya Kuroko senang, karena bila Akashi menyukai pemuda itu, maka Kuroko akan lepas dari jerat Akashi, namun kenyataanya, alih-alih lega, jantungnya sakit lagi. Kuroko merutuk Akashi pelan. Menyalahkan Akashi atas sesak mendadak pada dadanya. Ternyata, berdekatan dengan Akashi membawa dampak buruk bagi kesehatannya pikir Kuroko. Polos sekali pikiranmu nak..

Kata-kata yang sudah tersusun rapi di kepala Kuroko buyar. Melangkahkan kakinya pelan, Kuroko berjalan menuju apartment Akashi yang berada diujung jalan sebelum nanti memeriksakan jantungnya yang tidak berhenti deg-degan.

Gelap mulai merangkak. Bergerak pelan menenggelamkan cahaya senja. Kuroko terdiam di sofa mengusir segala rasa resahnya. Matanya gelisah memandang pintu dan jam dinding yang berbackground fotonya dan Akashi saat bertunangan. Dilihatnya handphone nya berkali-kali. Tidak ada panggilan atau pesan dari Akashi. Ya, semenjak pulang sekolah tadi, Akashi belum kembali ke apartmentnya. Kuroko mencoba tidak peduli, namun rasanya ada yang kurang. Ada yang hilang.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Tak lama kemudian, pintu apartment mereka terbuka. Kuroko berlari menuju pintu depan, matanya menangkap sosok pemuda tampan bersurai merah. Oh, otaknya sakit. Kuroko merutuk pelan otaknya yang mengatakan kalau Akashi tampan.

"Kau belum tidur, Tetsuya?"

"Akashi-kun darimana?"

"Kau khawatir padaku?"

"Ya-tidak! Tentu saja tidak."

Alis Akashi terangkat sebelah, meragukan omongan Kuroko "Tentu saja kau khawatir, Tetsuya."

"Aku tidak khawatir kepada, Akashi-kun."

"Baiklah-baiklah, Tetsuya tidak khawatir." Akashi menyeringai "Lalu kenapa kau menungguku?"

"A-aku tidak menunggu Akashi-kun, hanya saja.." Kuroko menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.

'Menggemaskan.' pikir Akashi

"Hanya saja?" Tanya Akashi.

'Jantungku terasa sakit, Akashi-kun. padahal tadi saat periksa, aku tidak sakit jantung.'

"Bagaimana kalau Akashi-kun nanti diculik? Aku tidak punya uang untuk menebusnya."

Akashi terkekeh, "Kau tidak perlu takut Tetsuya, aku tidak akan diculik."

'Bagaimana kalau Akashi-kun berpaling? Aku tidak punya pesona untuk membawa Akashi-kun kembali.' Pikir Kuroko yang kemudian dirutukinya sendiri karena punya pikiran yang entah bagaimana konyolnya.

"Pokoknya, setelah ini, Akashi-kun kalau pulang malam harus memberi kabar."

Akashi tersenyum. Menepuk pelan kepala Tetsuya. Mencondongkan bibirnya ke telinga Kuroko untuk berbisik mesra dan mengecup bibirnya.

"Terimakasih, sayang. Kau istri yang baik."

Kuroko terdiam mecoba menahan agar tidak merasa ingin menjedukkan kepalanya ke tembok terdekat.

"Karena Tetsuya sudah berbaik hati mengkhawatirkanku, aku tidak akan menginterogasimu tentang pernyataanmu tadi siang. Kau boleh tidur, Tetsuya."

"Aku tidak perlu minta ijin Akashi-kun jika ingin tidur. Aku bisa tidur sesukaku."

"Baiklah-baiklah, berarti aku juga boleh meniduri Tetsuya sesukaku."

"Tentu sa-APA MAKSUDMU, AKASHI-KUN?"

"Tentu kau tau maksudku kalau kau tidak segera tidur."

"Apa pedulimu?"

"Aku peduli agar Tetsuya bisa berjalan normal besok."

"Mesum!"

Akashi menarik tangan Kuroko hingga terjatuh dipelukan akashi.

"Entah apa yang terjadi padamu hari ini, Tetsuya, tapi aku bahagia." ujar Akashi sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kuroko

Sedangkan Kuroko hanya terdiam sambil mengenggam erat kemeja depan Akashi sambil berharap bisa menyalurkan rasa detak aneh tak nyaman di dadanya.

TBC.

Author's Note :

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.

Special Thanks

Outofblue, Anonymous, Elvoldysh, Ritsu Syalalala,

Zafreena, Seishrin A, S Hanabi, Efi Astuti L,

Shota Nogami, Sofi Asat, Akashi Seiyuuki,

Kufufufu Chan, Eruchan777, Tetsuya Ran,

Arlert09, Aishi Kichianobe,

Thalita Claluchuchachachuke, KNY14,

Kinoshita Yuu, Ice Ohice, Bona Nano,

Rukanra411, Meikha0102, Kichan Elpeu,

Eru Arasu, Nameless Pierrot, Fujoshi Hentai,

Rukanra, Aka To Kuro, Babyeagledeer12,

Liliya04, Macaroon Waffle, Furi Shirogane,

Uchiha Yunahitssugaya, Ryuusuke583,

Kazuharuka Takumi, Momonpoi