"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Chapter 7.

Kuroko mendekap dadanya erat. Gelisah. Matanya sedari tadi tak mau terpejam. Rasa aneh ini tak mau pergi. Kadang membuat Kuroko tersenyum sendiri, tapi kadang membuat dadanya sakit. Sesak dan entah rasa-rasa lain yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Matanya melirik kesamping, Akashi sudah tertidur pulas. Ya, mereka memang seranjang atas permintaan atau paksaan sebenarnya dari Akashi dan di bumbui dengan seribu pasal dari Kuroko melalui perdebatan yang sangat alot dan panjang.

Kuroko masih curi-curi pandang. Akashi memang tampan, Kuroko dengan berat hati mengakui, terlepas dari sikap mesumnya, Kuroko iri pada Akashi. Tampan, berbakat, luar biasa pintar dan tentu saja dengan kekayaan dan kekuasaan yang mungkin sanggup membeli sebuah Negara.

Kuroko tersentak dari pemikirannya. Merutuk pelan, bagaimana mungkin dia berpikiran seperti gadis kasmaran yang sering dia baca di shoujo manga. Rasanya, Kuroko ingin menangis. Rasa ini aneh, dia tidak suka. Besok dia bertekad ingin ke dokter lagi.

Merasa terusik, Akashi mengerjap pelan. Akashi sadar bahwa bocah biru ini belum tidur dari tadi.

"Tetsuya, kenapa kau belum tidur?"

"A-Akashi-kun."

"Kau bersikap aneh akhir-akhir ini, sayang."

Deg. Rasa aneh itu lagi. Kuroko merasakannya lagi.

"Tidak apa-apa. Bukan urusan Akashi-kun."

"Apa maksudmu bukan urusanku?" Mata heterokrom itu menyipit mencoba mengintimidasi.

"Akashi-kun tidur saja."

Akashi menarik Kuroko hingga di pelukannya dan mengecup bibir Kuroko pelan.

"Akashi-kun, lepaskan, kau melanggar pasal 4 dan 11."

"Aku lupa."

"Kau selalu menggunakan alasan itu, Akashi-kun. Sekarang lepaskan aku."

"Aku tidak akan melepaskan mu kalau kau tidak bilang apa masalahmu, Tetsuya."

Kuroko terdiam, mempertimbangkan sebentar.

"Akashi-kun, berapa nilai pelajaran IPA Biologi mu?"

"Tentu saja sempurna, apalagi masalah reproduksi atau," Akashi menyeringai "Tetsuya ingin melakukan anu-anu tapi takut? Tenang saja Tetsuya ini akan menyenangkan. Aku tidak akan menyakitimu."

Rasanya Kuroko ingin menarik kata-kata pujian tadi. Tuhan, makhluk cebol merah ini mesum sekali!

"Akashi-kun, aku serius." mata Kuroko bertemu mata Akashi. Sinar baby blue itu menyorot sendu membuat Akashi tercekat. Dieratkannya pelukan di pinggang ramping itu, membuat Kuroko tertidur di bahu Akashi.

"Katakan apa masalahmu, Tetsuya. Aku akan selalu membantumu. Aku disini bersamamu."

"Dadaku rasanya aneh."

Akashi tersentak. Secara otomatis dia melihat dada Kuroko dan memegang keduanya.

"Apa yang kau lakukan Akashi-kun? Lepaskan!"

"Aneh bagaimana Tetsuya? Apakah putting dadamu mengeras?"

Plak! Kuroko memukul tangan Akashi.

"Aww, sakit, Tetsuya." Protes Akashi sambil melepaskan kedua tangannya dari dada Kuroko.

Pipi Kuroko memerah, "Bukan begitu, Akashi-kun."

"Lalu?"

"Rasanya kadang sakit-"

"Kadang gatal?"

"Gatal?"

Tanpa menjawab pertanyaan Kuroko, Akashi menyingkap piama Kuroko. Dan baru setengah jalan, Akashi terpana. Putih, lembut dan wangi vanilla.

'Tuhan, ini tubuh terindah yang pernah ku lihat.'

Merasa risih, Kuroko menyentak tangan nista Akashi.

"Akashi-kun, apa yang kau lakukan sekarang!?" protes Kuroko.

"Tetsuya, kenapa malah kau tutup lagi? Aku akan memeriksanya dulu."

"Akashi-kun melihatnya seperti ingin memakan tubuhku."

"Memang iya sebenarnya." jawab Akashi sewot.

"Mesum."

"Terimakasih."

"Itu bukan pujian, Akashi-kun."

Gregetan. Rasanya Kuroko ingin menci-menendang kepala merah itu.

"Kemungkinan dadamu mulai tumbuh, Tetsuya, jadi rasanya aneh. Kadang sakit kadang gatal."

"Aku bukan perempuan."

"Aku tidak bilang Tetsuya perempuan, aku hanya bilang bahwa dadamu mulai tumbuh."

"Laki-laki dadanya tidak tumbuh. Dan dadaku itu bidang, Akashi-kun."

"Aku tidak percaya sebelum melihatnya."

"Terserah Akashi-kun, tapi aku tidak akan membiarkannya!"

"Sebenarnya aku sudah lihat kok waktu tetsuya tidur. Tapi tenang saja Tetsuya, kalau terasa aneh, bilang saja padaku, aku akan memijatnya. Dan kau bisa memilih pijat tangan atau lidah."

Sebodo amat. Kuroko memilih memasang headset dan mencoba tertidur daripada mendengar ide nista Akashi. Susah memang berbicara dengan orang mesum.

Hari ini, seperti rencananya, Kuroko menemui dokter yang memeriksanya kemarin. Setelah membuat janji, pulang sekolah, Kuroko langsung bergegas ke Rumah Sakit Kisedai.

"Jadi ada keluhan apa lagi, Kuroko-kun?" Tanya sang dokter.

"Ano, apa anda yakin bahwa kemarin jantungku baik-baik saja, sensei?"

"Hasil pemeriksaan mengatakan begitu, Kuroko-kun. Coba katakan kembali apa keluhanmu?"

"Dadaku sesak. Kadang sakit, kadang nyaman. Kadang juga berdetak cepat. Rasanya aneh."

"Apa kau mengalaminya saat dekat dengan seseorang?"

"Ya, aku mengalami ini saat dekat dengan Akashi-kun, sensei."

"Siapa Akashi-kun?"

"Makhluk cebol mesum berambut merah bermata belang."

"Aku tidak membicarakan seekor kucing, Kuroko-kun. Maksudku, apa dia temanmu?"

"Tu-Tunangan." jawab Kuroko sambil menunduk. Mukanya memerah padam. Dan jantungnya kembali berdetak cepat.

"Baiklah, aku mengerti. Kau sudah tumbuh dewasa, Kuroko-kun."

Kuroko mengerjap. Tanda tak mengerti perkataan sang dokter.

"Jadi, aku harus menjauhi Akashi-kun, sensei?"

"Tidak usah menjauh."

"Lalu harus bagaimana? Aku tidak mau merasakan rasa aneh ini lagi. Dekat-dekat dengan Akashi-kun punya pengaruh buruk bagi kesehatan."

'Polos sekali anak ini' Batin sang dokter.

"Baiklah, coba jauhi Akashi-kun selama satu minggu"

"Ap-apa? Kenapa aku harus menjauhi Akashi-kun, sensei?"

"Kau tadi bilang kalau dekat Akashi-kun, dadamu terasa aneh, nah sekarang kau jauhi dulu Akashi-kun seminggu, setelah itu, kemarilah. Katakan padaku apa yang Kuroko-kun rasakan."

"Baik sensei, aku mengerti. Terimakasih."

"Terimakasih juga sudah berkunjung, Kuroko-kun."

Akashi tersenyum lagi. Entah kenapa dia selalu tersenyum sambil melihat smartphone nya. Tidak lama kemudian, dia keluar dari apartment dan setelahnya entah pergi kemana. Hati Kuroko berdetak sakit. Sudah dua hari Kuroko menjauhi Akashi mengikuti saran sang dokter, tapi dadanya semakin sakit. Tidak ada lagi detak nyaman. Yang ada sesak dan sakit. Apalagi sejak pertemuannya dengan pemuda bersurai hitam yang tidak sengaja dia temui di taman.

Akashi merasa aneh, sudah beberapa hari tepatnya hampir seminggu Kuroko menjadi lebih pendiam. Bahkan ketika dia mencoba menggodanya, Kuroko hanya diam kemudian beranjak pergi. Akashi butuh penjelasan sekarang.

"Tetsuya, aku mau bicara."

"Silahkan."

"Pulang sekolah nanti, tunggu aku."

"Aku ada janji dengan temanku."

"Siapa?" Mata Akashi menyipit curiga.

"Aomine-kun."

"Daiki? Darimana kau kenal Daiki?"

"Bukan urusan Akashi-kun."

BRAKK! Akashi meninju pintu disampingnya dengan keras.

"Jangan pernah katakan bahwa itu bukan urusanku, Tetsuya. Kau milikku dan aku berhak atasmu."

Kuroko menunduk. Tak mau menatap wajah Akashi sekarang.

"Tatap wajahku saat aku berbicara denganmu, Tetsuya!" Bentak Akashi

Kuroko tersentak. Tangannya gemetar. Baru kali ini Akashi membentaknya. Mengetahui itu, Akashi melembut. Kedua tangannya menangkup wajah Kuroko. Mata heterokrom itu menatap binar baby blue lembut dan penuh sayang.

"Kau kenapa, sayang? Akhir akhir ini kau bersikap aneh. Aku khawatir dengan Tetsuya."

Mata Kuroko membulat. Tangannya menyentak keras tangan Akashi yang menangkup wajahnya.

"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!"

"Tetsuya, jangan-jangan kau terangsang karena sentuhanku?" Akashi menyeringai mencoba bercanda seperti biasa.

Kuroko hanya terdiam. Tidak merespon perkataan Akashi.

"Jadi benar dugaanku, Tetsuya ingin ku tidu-"

"Tiduri saja aku, Akashi-kun! Kalau itu membuatmu puas!"

Akashi tercenggang. Mata yang selalu dipujanya itu menangis. Sendu dan terlihat luka menganga disana.

"Tetsuya kau-"

"Lalu Akashi-kun bisa meninggalkan hidupku. Melepasku dari ikatan konyol ini!"

"Apa maksudmu, Tetsuya?" Tanya Akashi yang sekuat tenaga menyingkirkan rasa nyeri yang menggerogoti hati.

"Kau tau benar apa maksudku, Akashi-kun. Tiduri aku seperti keinginanmu dan kita selesai. Pertunangan ini batal." Air mata Kuroko terus mengalir. Kuroko tidak mau menangis, tapi apa yang dia tahan ternyata sudah sampai batas.

Akashi menarik Kuroko dalam pelukannya. Mendekapnya erat. Entah Akashi ingin menenangkan siapa, Kuroko yang menangis atau dirinya yang tengah kalut.

TBC.

Author's Note :

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.

Special Thanks

Outofblue, Anonymous, Elvoldysh, Ritsu Syalalala,

Zafreena, Seishrin A, S Hanabi, Efi Astuti L,

Shota Nogami, Sofi Asat,

Kufufufu Chan, Eruchan777, Tetsuya Ran,

Arlert09, Aishi Kichianobe,

Thalita Claluchuchachachuke, Kny14,

Kinoshita Yuu, Ice Ohice, Bona Nano,

Rukanra411, Meikha0102, Kichan Elpeu,

Eru Arasu, Nameless Pierrot, Fujoshi Hentai,

Rukanra, Aka To Kuro, Babyeagledeer12,

Liliya04, Macaroon Waffle, Furi Shirogane,

Uchiha Yunahitssugaya, Ryuusuke583,

Kazuharuka Takumi, Momonpoi, Guest,

Acio, Kurotatsu