"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Chapter 9.

Kuroko heran. Akashi memang aneh, tapi yang ini aneh banget. Semenjak dirinya sadar kemarin, Akashi cengar-cengir sendiri kalo menatapnya. Blush! Muka Kuroko memerah lagi mengingat dirinya yang berada di dekapan Akashi saat sadar. Tapi meski terbangun dengan muka tersipu untuk Kuroko dan cengar-cengir Akashi, pasangan akakuro ini tetap tidak akur.

Flashback kemarin

"Engh.." Kuroko mengerang pelan. Dirasakannya berat disekitar perutnya. Matanya berkedip, membiasakan diri terhadap terangnya cahaya. Setelah kesadaran sepenuhnya pulih, pandangannya tertuju kepada sepasang lengan kekar yang melingkar posesif di perutnya. Pandangan itu berakhir di wajah tampan yang sedang menatapnya dengan pandangan yang entah Kuroko tidak bisa mengartikan.

"Akashi-kun?"

"Halo, Sayang. Tidur nyenyak?"

Mata Kuroko membulat. Terkejut meski tetap datar.

"Lepaskan!"

Brak! Kuroko mendorong Akashi menjauh hingga menabrak meja samping tempat tidur mereka.

"Ittai, Tetsuya."

"Mesum!"

"Terimakasih."

Kuroko langsung terbangun. Mencari-cari koper yang sedianya akan dibawa untuk pulang ke rumah orangtuanya.

"Dimana koperku, Akashi-kun?"

"Koper? Aku tidak melihat koper."

"Kau bohong. Koper yang berisi barang-barangku."

"Aku tidak tau, Tetsuya. Sudahlah. Ini sudah malam, sebaiknya kita kembali tidur."

"Tidur saja. Aku tidak ikut tidur."

"Kau mau aku tiduri?"

"Hentikan! Hentikan semua ini, Akashi-kun."

"Apanya yang dihentikan?"

"Semuanya. Jangan sakiti aku. Aku tidak mau sakit!"

"Maksudmu sakit jantung?"

"Bagaimana Akashi-kun tau?"

Akashi menarik tangan Kuroko dan menempelkannya di dada Akashi.

"Seperti ini kan yang Tetsuya rasakan?"

Deg. Deg. Deg. Tetsuya bisa merasakan jantung Akashi berdetak menggila.

"Akashi-kun juga sakit jantung?" Mata Kuroko membulat horror.

"Iya, aku juga merasakan sakit kalau Tetsuya dekat dengan orang lain."

"Akashi-kun ketularan atau aku yang ketularan Akashi-kun?"

Demi gunting merah Akashi, mana ada penyakit jantung menular?!

"Kita sudah terikat takdir yang sama, Tetsuya. jadi sebaiknya-"

"Aku mengerti, Akashi-kun. Aku terima kalau pertunangan ini batal. Permisi."

Lah! Malahan. Sungguh deh, Akashi benar-benar gemas melihat tingkah Kuroko. Lihat saja kalau mereka sudah menikah nanti. Malam pertama bakal dibikin hardcore oleh Akashi.

End flashback.

Kuroko tidak tau kalau yang mulia kanjeng Akashi ternyata punya penyakit telinga. Dia yakin kemarin sudah bilang kalau pertunangannya batal, lalu kenapa makhluk merah mesum itu malah tiduran diranjangnya?!

"Ano, Akashi-kun, sepertinya kemarin pertunangan kita batal, lalu kenapa Akashi-kun disini?"

"Kau bisa tanya pada Okaa-san, Tetsuya Sayang."

Tunggu-tunggu, tadi Akashi memanggil ibunya dengan Okaa-san? Ini rumahnya kan?

"Akashi-kun kenapa memanggil ibuku dengan Okaa-san?"

"Kau bisa tanya pada Okaa-san, Tetsuya Sayang."

Oke, daripada Kuroko frustasi menunggu jawaban, lebih baik dirinya bertanya kepada ibunya yang sedang berada di dapur.

"Okaa-san,"

"Iya, Tet-chan?"

"Kenapa Akashi-kun kesini?"

"Loh, kan Tet-chan yang minta kemarin. Okaa-san tidak menyangka kalau kau mengambil langkah seekstrem ini."

"Maksud Okaa-san?"

"Kau mendapat surat rekomendasi untuk menyatakan cinta ke Sei-chan kan?"

Surai baby blue mengangguk-angguk.

"Kau membatalkan pertunangan kalian kan?"

Kuroko mengangguk. Sampai fakta ini benar.

"Okaa-san tidak menyangka kalau Tet-chan akan mengumumkannya secepat ini mengingat kemarin baru akan diumumkan saat Final Winter Cup nanti."

"Okaa-san, sejujurnya aku tidak mengerti yang Okaa-san katakan."

"Tet-chan jangan malu-malu ih, hihihi. Tenang saja, Otou-san sudah pesan undangan kok."

"Undangan? Undangan untuk apa, Okaa-san?" Perasaan Kuroko mulai tidak enak.

"Tentu saja undangan pernikahan kalian, kau dan Sei-chan."

"Oh, undangan pernikahan kam- Apa?!"

"Meski tidak rela, tapi Okaa-san ikhlas kalau Tet-chan bahagia."

"Tapi-tapi aku-"

"Nah sekarang, Tet-chan temenin calon suami Tet-chan ya, Sayang."

"Ini salah paha-"

"Tet-chan tergoda paha Sei-chan?"

"Bukan begitu, Okaa-san. Maksudku, aku ha-"

"Oh my, Tet-chanku hamil?"

Rasanya Kuroko ingin menggaruk muka frustasinya.

"Okaa-san aku-"

"Sudahlah, Tet-chan Sayang. Sekarang kau temani Sei-chan ya di kamar. Mau berbuat gituan juga nggak papa kok. Eh, tapi direkam ya? Kalau Tet-chan malu, ya foto aja."

Demi Tuhan, apa salah Kuroko hingga di nistakan?

Oke, sekarang cara mentransfer rasa frustasi adalah melabrak Akashi.

Dengan langkah yang grusak-grusuk, Kuroko kembali menemui Akashi yang sedang leyeh-leyeh dikamarnya.

"Akashi-kun, aku mau bicara."

"Tetsuya kan juga lagi bicara."

"Ini serius! Apa maksudnya kita menikah?"

"Loh, kan Tetsuya yang minta."

"Aku minta pertunangan kita dibatalkan, Akashi-kun."

"Iya, kalau kita menikah, otomatis pernikahan kita batal kan?"

"Akashi-kun, aku serius! Kau tidak mencintaiku jadi kita tidak-"

"Diam."

Senyum Akashi pudar. Matanya menatap dalam-dalam mata Kuroko. Kakinya melangkah pelan menuju obyek yang sedang dipandanginya. Satu tangan Akashi memegang tangan Kuroko dan satu tangannya mengelus pelan pipi sang bayangan.

"Kenapa kau selalu meragukanku, Tetsuya?"

Kuroko mencoba memalingkan mukanya. Tak mau menatap mata heterochrome milik Akashi.

"Tatap mataku dan jawab pertanyaanku."

"A-Akashi-kun bersamaku karena nafsu."

"Siapa yang bilang?"

"Ma-mantan kekasih Akashi-kun." Kuroko merutuk nada bicaranya yang gagap.

"Apa yang dia bilang?"

"Dia bilang, Akashi-kun tidak mencintaiku karena selalu mencoba menyentuhku. Itu artinya, Akashi-kun tidak menghormatiku seperti mantan kekasihmu yang tak pernah kau sentuh."

"Dia benar."

Deg. Kuroko bisa merasakan sakit dalam dadanya.

"Dia benar, aku memang tidak pernah menyentuh mantan-mantanku yang sebelumnya. Selain karena menghormati, aku juga tidak mau. Aku tidak mau menyentuh orang yang tidak akan aku jadikan pendampingku. Aku menghormatinya, biarkan orang yang menjadi pendampingnya nanti yang menyentuhnya, dan itu bukan aku." Akashi mengakhiri penjelasannya sambil menautkan jari-jarinya dengan milik kuroko.

"Jadi, Akashi-kun tidak menghormatiku?"

"Aku menghormatimu, Tetsuya. Aku memperlakukanmu layaknya pasanganku. Aku menyentuhmu karena aku ingin dan aku mau menjadikanmu pendampingku."

"Tapi-"

"Aku ingin berhenti menyentuhmu, tapi tidak bisa. Kau adalah pendampingku. Aku bisa gila memikirkanmu kalau sampai kau disentuh orang lain."

Deg. Deg. Deg. Jantung Kuroko berdetak menggila mendengar penuturan Akashi. Wajahnya memerah sempurna.

"Maaf Tetsuya, tapi aku mencintaimu dan itu benar."

Kuroko tidak menjawab, tapi tangannya mulai membalas tautan tangan Akashi.

"Dengar, Tetsuya. Ijinkan aku mencoba selama seminggu menjadi kekasihmu, kalau kau tetap tidak merasakan apapun kepadaku, lakukan sesukamu."

"Tapi kita kan sudah tunangan, Akashi-kun."

"Kita bertunangan karena perjodohan, dan aku mengajukan permintaan sebagai kekasihmu sebagai seorang Seijuro. Atas nama pribadi."

Kuroko menggigit bibir bawahnya bingung.

"Hanya seminggu, Tetsuya."

"Baiklah Akashi-kun, aku mau."

"Panggil namaku."

Wajah Kuroko semakin memerah. "Iya Sei-kun."

Akashi memajukan wajahnya. Matanya tertuju pada belah ranum Kuroko. Sedang Kuroko sendiri hanya memejamkan mata. Entah kenapa dirinya tak bisa menolak saat Akashi mencium bibirnya.

TBC.

Author's Note :

Terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.