"ABYSMAL"

Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Abysmal milik Gigi

Warn :

T+

Akashi x Kuroko

Yaoi a.k.a Shounen-Ai

Generation Of Miracle

Romance. Family

OOC parah

Typo

Hari Pertama.

Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari sikap Akashi. Tetap perhatian, cari kesempatan dan tetap nyosor sembarangan. Hanya yang membuat berbeda adalah Kuroko yang mulai menerima segalanya. Tidak seperti biasanya yang teriak-teriak sana-sini saat Akashi bertindak, namun hanya paras yang memerah saat mendapati perlakuan sang tunangan. Ya, Kuroko mencoba bersikap fair. Selama perjanjian berlangsung, dia mencoba menerima serta memberi perhatian balik meski terkadang jantungnya berdetak dan tangan bergetar tidak karuan.

Hari Kedua.

Kuroko memandang wajah tampan Akashi yang masih terlelap didepannya. Kuroko ingat, bahwa setelah perjanjian dibuat, dia kembali tinggal di apartment mereka. Kembali berbagi hal berdua meski sekarang akan berbeda dengan title mereka yang menjadi sepasang kekasih atas persetujuan pribadi, bukan paksaan orangtua lagi.

Tangan lentik itu menyentuh ujung hidung putih yang mengeluarkan nafas teratur dengan kembang-kempis diafragma. Harum mint menenangkan. Rahang tegas seolah menegaskan juga paras rupawan penerus tunggal Akashi. Rambutnya yang merah. Mata heterokromatik yang tengah tertutup sinarnya, dipoles dengan bulu mata yang panjang lentik mempesona. Kedigdayaan yang tak terbantahkan. Kejeniusan yang tak diragukan. Semua bersanding indah dalam sosok seorang Akashi Seijuro. Sempurna kalau saja tidak Kuroko tambahkan, sikap mesum yang tak ketulungan.

Nah, baru diomongin sudah kambuh. Lihat saja tangan Akashi yang berpindah kesana kemari menyusuri tubuh Kuroko seolah mencari tempat ternyaman dan berakhir di pantat yang kenyal. Tangan itu berhenti berpindah. Menepuk dan menguyel-uyel sebentar. Hell! Menjadi kekasih bukan berarti setuju menjadi obyek rabaan sesuka hati.

'Ah, nyamannya.' Akashi meracau dalam hati sambil menepuk pantat sehalus kulit bayi milik Kuroko.

Mesum! Kuroko mulai menggerakkan tangannya. Orang yang sudah bersikap kurang-ajar layak mendapat sapaan berupa sapuan mesra ignite pass kesayangannya.

Tangan sudah terangkat. Posisi pas. Ignite pa-.

"Ohayo, Sayang."

Akashi mengecup sekilas bibir Kuroko yang nangkring didepannya. Mengabaikan pose Kuroko yang sedang mengangkat tangan.

"Tetsuya mau latihan basket?"

'Iya, kepalamu yang jadi bolanya!' Batin Kuroko dongkol.

"Ba-baru saja mau membangunkan Sei-kun."

"Padahal aku ingin kita saling memeluk seperti ini, Tetsuya."

"Nanti kita telat, Sei-kun."

"Jadi kalau hari minggu boleh?"

Kuroko tak menjawab. Namun, tangannya menjauhkan wajah Akashi yang menyeringai menyebalkan.

Wajah Kuroko memerah sempurna. Dirinya yang biasa terabaikan, kini begitu menjadi pusat perhatian. Dirinya yang semula kasat mata, sekarang menjadi pemandangan utama. Oh, sudahlah, salahkan saja Akashi yang seenak jidat menggandengnya dan sesekali berbisik mesra. Memberi kisi-kisi yang membangkitkan rasa penasaran.

"Sayang, jangan terlalu menunduk begitu."

Diamlah! Lihat, wajah Kuroko bahkan lebih merah dari rambutmu!

"Sei-kun, banyak yang lihat."

Ah, manisnya..

Tak menghiraukan banyak mata yang melihat, Akashi mengecup kilat sudut bibir Kuroko.

Hari ketiga.

Tuhan, kuatkan hati Kuroko. Dirinya benar-benar hampir meleleh dengan perhatian Akashi. Bangun tidur, disambut secangkir hangat susu vanilla, ciuman hangat, senyuman lembut Akashi yang bahkan belum pernah terdeteksi keberadaannya.

"Selamat pagi, sayang."

"Sei-kun sudah bangun dari tadi?"

Helai merah itu mengangguk, mendekatkan hidung putihnya menyentuh hidung pemuda biru yang tengah mengucek matanya, "Aku sudah bangun dari tadi dan sangat puas memandangi wajah tidur Tetsuya yang menggemaskan."

Jantungnya berdetak cepat, tenggorokannya tergagap, "A-aku mau ke kamar mandi dulu." Ujar Kuroko sambil menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

Akashi tersenyum. Semenjak perjanjian kemarin dibuat, Akashi jadi tambah tergila-gila pada lelaki mungil berzodiak Aquarius tersebut. Tingkahnya manis, menggemaskan, lucu, entahlah, semakin dijabarkan makin membuat Akashi tidak tahan ingin makan.

"Sei-kun mau makan apa?" Kuroko mengambil apron sebelum mengambil bahan-bahan yang disimpan dalam lemari pendingin.

"Makan Tetsuya."

"Ish, mesum."

Akashi terkekeh pelan sebelum melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Kuroko, "Memangnya Tetsuya tau maksudku?"

"Sei-kun mengganggu." Ujar Kuroko mengalihkan pembicaraan yang semakin bahaya untuk title perjakanya.

"Tetsuya bikin apa?"

"Sup tofu untuk sarapan dan bento untuk nanti siang. Sei-kun tak keberatan?"

"Apapun yang kau masak, aku tetap memakannya."

"Gombal. Tunggu saja aku masukan racun tikus kedalamnya." Ujar Kuroko sambil memutar kepalanya menghadap Akashi yang masih setia memeluknya dari belakang.

Deg. Terlalu dekat. Hidung mereka bersentuhan. Bibir hanya terpisah dengan jarak yang tidak aman.

"Tak masalah kau masukan racun untukku, sayang. Ada kau yang akan selalu menjadi penawarnya." Ujar Akashi sambil menyeringai tampan.

Kuroko tak menjawab. Dirinya sibuk menenangkan jantungnya yang deg-degan tidak karuan.

"Tetsuya menyiapkan juga bekal untuk nanti?"

"Iya. Sei-kun kan pernah cerita kalau jarang sekali piknik keluarga, jadi aku ingin ke-kencan kali ini dibuat seperti piknik keluarga. Sei-kun tidak suka?"

Akashi mengecup pundak Kuroko, kemudian menenggelamkan hidungnya pada leher tunangannya, "Aku sangat suka. Aku senang sekali, Tetsuya."

Deg. Deg. Deg. Jantung Kuroko kembali berulah. Wajahnya semakin memerah mengingat kencan mereka kali ini. Ya, karena hari ini hari Minggu, Akashi menginginkan kencan untuk mereka berdua. Kencan pertama sebagai sepasang kekasih yang layaknya tengah dimabuk cinta.

Dan disinilah mereka sekarang. Di sebuah taman bermain keluarga yang berada di pusat kota. Kuroko terduduk di sebuah tempat duduk yang terletak di sudut taman, menunggu Akashi yang sedang membeli tiket untuk beberapa wahana yang ingin dimainkan.

Sembari menunggu, Kuroko tenggelam dalam pemikirannya tentang hubungan mereka, Akashi dengan dirinya. Tak bisa dipungkiri, meski hanya percobaan, dirinya merasakan kenyamanan. Saat dirinya dipeluk. Saat dirinya dikecup. Saat dekapan tercipta. Saat ciuman yang telah mereka bagi bersama. Semua terasa pas. Terasa nyaman, terasa menyenangkan.

Otaknya kembali mengulang cerita, saat-saat mereka baru pertama kali bertemu. Akashi yang menyebalkan, orang yang tidak dikenalnya tiba-tiba datang ke rumahnya menyerahkan sebuah lamaran. Kalau saja.. kalau saja dirinya lah yang berada dalam posisi Akashi, mungkin Kuroko sudah menyerah sejak lama. Mana mau dirinya memperjuangkan orang yang selalu memberi dirinya penolakan. Mengingat itu, Kuroko tersenyum sendiri dan terkagum dalam hati, betapa kerasnya tekadnya Akashi.

"Tetsuya,"

Sebuah panggialn mengalihkan perhatiannya dari lamunan yang sudah jatuh semakin dalam.

"Sei-kun, sudah selesai mengantri?"

Helai merah itu mengangguk, "Tetsuya bosan?"

"Tidak. Disini menyenangkan, Sei-kun."

"Tetsuya mau naik apa dulu?"

"Terserah Sei-kun saja."

"Karena kita baru sampai, naik wahana yang tidak terlalu ekstrim dulu. Aku tidak mau Tetsuya terlalu drop nanti."

"Sei-kun aku-"

"Aku mengerti. Tetsuya tidak suka tempat yang terlalu tinggi, kan?"

Lihat, kalau seperti ini, kalau diperhatikan sampai seperti ini, bagaimana Kuroko bisa menolak Akashi?!

Mau tak mau, Kuroko tersenyum. Diperlakukan sedemikian rupa, tentu saja membuatnya tersanjung.

"Ayo, Sei-kun." Kuroko bangkit. Mengambil tas yang berisi bekal mereka dan menggandeng tangan Akashi. Mengaitkan jemarinya diantara jemari-jemari Akashi. Dirinya menyerah, pasrah sepenuhnya terhadap pesona Akashi.

Dan tanpa Kuroko sadari, tingkahnya membuat Akashi terpana. Bengong sebengong-bengongnya. Mata heterokrom itu memandang jemarinya, jemarinya yang menaut erat diantara jari-jari ramping Kuroko. Mengisi satu sama lain, mengisi asanya yang sudah terjalin. Sekarang, bolehkan Akashi berharap?

Tak terasa, Kuroko dan Akashi sudah memainkan banyak wahana. Mulai dari wahana yang tingkat ke-ekstrimannya rendah, seperti Ontang-anting, Kora-kora kemudian yang menengah seperti vertigo, Niagara hingga level tinggi seperti Roller coaster dan Tornado sudah mereka jelajahi. Matahari yang semakin meninggi membuat mereka memutuskan beristirahat sejenak dengan menggelar tikar dibawah pohon yang rindang sambil menikmati bekal yang sudah Kuroko siapkan.

"Tetsuya capek?"

Kuroko menggeleng, "Sei-kun senang?"

Kalau dirinya bukan Akashi mungkin sudah goyang kayang saking senangnya dapat perhatian dari sang pujaan.

"Kalau ada Tetsuya, aku senang."

"Gombal."

Akashi terkekeh pelan, rasanya sungguh bahagia. Dirinya memang tak salah orang. Dulu, saat dia masih kencan asal-asalan, semua selalu bermula dari restaurant mahal. Lalu ke boutique berkelas dan diakhiri dengan hotel berbintang yang kemudian Akashi melarikan diri karena tak mau menjamahi.

"Ini bekal Sei-kun."

Kuroko mengeluarkan dua kotak makan dan dua botol minuman yang dibawanya tadi dari apartment.

"Kenapa bekalmu sedikit, Tetsuya?"

"Ah, sebenarnya ini untuk Sei-kun kalau Sei-kun mau tambah."

"Kau?"

"Aku cukup ini saja, Sei-kun." Kuroko mengangkat botol minumannya yang berisi vanilla milkshake.

"Kau harus makan, Sayang."

Muka Kuroko memerah mendengar panggilan sayang dari Akashi, "Tidak, ini saja sudah cukup."

"Mau disuapi?"

"Ka-kau pikir aku anak kecil?" Ujar Kuroko sebal.

"Kalau tidak mau, makan sendiri, Tetsuya."

Kuroko mendengus, selalu saja dirinya kalah kalau adu pendapat.

Kuroko memandang Akashi yang tengah tiduran diatas pahanya yang dijadikan bantal. Mereka memutuskan untuk bersantai mengingat masih teriknya sinar matahari yang menyengat kepala. Tangan lentiknya memainkan helaian merah Akashi yang memancarkan aroma mint segar. Memanjakan hidung Kuroko sekaligus membuat jantungnya kembali deg-degan.

"Tetsuya,"

"Hm?"

"Apa kau senang hari ini?"

"Ung, Aku senang."

Tangan Akashi terangkat, membelai sebelah pipi Tetsuya yang memerah. Mata gold-red itu memandang, memberi atensi penuh pada paras rupawan yang tengah memandang langit.

"Apa Sei-kun juga senang?"

Akashi tak menjawab. Namun tangan yang sedari tadi membelai pipi Kuroko beralih ke tengkuk dan menarik pemuda biru itu menunduk. Mempertemukan kedua belah merah, mengecup sebelum akhirnya melumatnya pelan.

Vanilla. Mint. Adiktif. Candu menyatu dalam satu.

TBC.

Author's Note :

Err, ada yang masih ingat ff ini? *Nyengir gaje.

Maafkan saya yang sudah menelantarkan ff pertama saya hingga begini lamanya *bungkuk-bungkuk

Oh, nama-nama wahana permainan yang saya ambil adalah nama-nama wahana di Dunia Fantasi Ancol dan Trans Studio :D

Sebenarnya, sudah selesai lama, hanya saja setelah saya baca ulang, penulisan Abysmal begitu menyakitkan mata untuk dibaca. Jadi, saya tulis ulang. Kalau ada yang lupa ceritanya dan mau baca ulang, kalau ada (berharap) sudah saya perbaiki :D Nggak banyak yang berubah, cuman sedikit koreksi beberapa dan juga typo yang merajalela dimana-mana.

Thanks buat yang udah review, fav atau follow *pelukcium

Well, terimakasih sudah membaca!

Sign,

Gigi.