Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan.
Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…
.
.
-In Tempore-
.
.
Happy Reading !
.
.
Chapter III : As far as possible!
.
.
Jungkook bukannya tidak tahu tentang apa yang terjadi 4 hari lalu. Ketika Taehyung dicium oleh wanita itu. Jungkook tahu benar apa yang ia rasakan. Dia sakit, benar-benar merasakan sesuatu yang nyeri di dada kirinya. Dia sebenarnya tidak sanggup seperti ini. Jungkook juga mengetahui jika Taehyung sering bertemu dengan wanita itu akhir-akhir ini. Entah keinginannya atau wanita itu yang meminta—memaksa.
Kebiasaan mereka masih seperti awal. Taehyung yang sering mencium Jungkook, dan mereka yang tidur bersama. Taehyung itu polos menurut Jungkook. Mungkin saat ini dia masih belum benar-benar melepaskan rasanya terhadap Nayeon, dan mungkin saja rasa Taehyung terhadap Jungkook juga benar-benar nyata. Bukan salah Taehyung disini karena berada disisi bimbang yang belum tahu bergerak dan mengarah kemana, bukan salah siapa-siapa. Ini hanya perkara waktu yang tidak tepat dan orang yang tidak tepat.
Jungkook hanya bisa menjalani apa yang ada. Setidaknya tekat untuk bertahan masih kuat, masih bisa mengalahkan sisinya yang mengatakan untuk menyerah saja. Jungkook takut apa yang ia perjuangkan tidak berujung dengan baik.
" Hei, kalian hari ini sangat aktif " pagi ini Jungkook bangun lebih awal, pukul 5 pagi. Ia baru mengetahui jika ada sepasang kucing punya Taehyung di apartemen itu. Berwarna coklat dan putih, masih kecil. Yang ia beri nama Caramel dan Mocha. Alasannya sederhana, hanya karena Taehyung menyukainya. Kedua kucing itu berlarian ke arah Jungkook yang baru keluar kamar, bermain-main dan berlari-lari di sekitar kaki Jungkook. Gemas sekali.
" kalian mau makan ? minum susu ?" tanya Jungkook sambil berjongkook guna mengelus makhluk lucu-lucu itu. Taehyung heran kepada kedua anak kucing itu, biasanya tidak akan mau disentuh orang. Tapi mereka sendiri yang mengajukan diri kepada Jungkook. Dan belakangan ini mereka sangat dekat dengan Jungkook dan mengabaikan pemilik mutlaknya. Jungkook tentu senang karena dapat teman baru, tidak bosan lagi karena sering ditinggal Taehyung saat malam.
Jungkook mengambil makanan kucing dan memasukkannya ke tempat makan kucing-kucing kecil itu. Kedua kucing itu makan dengan lahap, membuat Jungkook menyunggingkan senyuman.
" Cepat besar dan jaga Taehyung !" gumamnya sambil bergantian mengelus mereka.
.
.
" Tae, nanti aku mau naik bus saja ke kantor " celetuk Jungkook kepada Taehyung. Sekarang mereka sedang sarapan. Taehyung dengan rotinya dan Jungkook dengan serealnya.
" Wae? Kenapa tiba-tiba ?" tanya Taehyung. Jungkook hanya tersenyum.
" Hanya ingin" jawab Jungkook yang kemudian kembali menyuap serealnya.
Aktivitas mereka terganggu karena seseorang yang menekan bel apartemen Taehyung. Taehyung menghentikan makannya dan pergi ke arah pintu dan karena Jungkook juga penasaran dia juga mengekori Taehyung. Sedikit terkejut karena disana ada Nayeon dengan senyumnya yang merekah.
" Pagi Tae " Nayeon mengecup bibir Taehyung, dan Jungkook hanya memandangnya dengan biasa. Taehyung yang jadi salah tingkah karena wanita itu.
" kenapa ada disini ?" tanya Taehyung membukakan jalan untuk Nayeon.
" Mau berangkat kerja bersamamu " jawab Nayeon mengikuti Taehyung ke meja makan, Jungkook sudah kembali makan tanpa menatap mereka.
" Oh, Kau intern di departmen Taehyung, kenapa bisa disini ?" tanya wanita itu agak galak.
" Aku tinggal disini " jawab Jungkook. Nayeon meminta penjelasan dari Taehyung. Ayolah bahkan Nayeon bukan siapa-siapa Taehyung.
" Di—dia " Taehyung sedikit menghela nafas.
" Aku anak sahabatnya ibu Taehyung, ibunya merekomendasikan aku tinggal disini daripada menyewa tempat atau apartemen, kau tidak perlu takut menyalah artikan tentang kami. Aku selesai dan sampai bertemu di kantor Tae " ucap Jungkook.
Taehyung melirik jam dan sekarang baru jam setengah 7, Jungkook memutuskan untuk pergi. Biasanya setelah mereka selesai sarapan, Taehyung akan menemani Jungkook di depan televisi untuk menonton kartun favoritnya. Lalu mereka akan pergi ke kantor pada jam setengah delapan, dan sekarang Jungkook menghindarinya.
..
" Hah, dingin sekali.. dasar wanita itu ! kenapa tidak menganggu Taehyung di kantor saja ? kenapa harus datang ke apartemen segala. Hah ! Kajja kita jalan-jalan sebentar Jungkookie, melihat kota Seoul. Hmmm.." gumam Jungkook sambil menikmati menghirup udara pagi. Dia menunggu bus di halte yang berjarak sekitar 100 meter dari apartemen Taehyung.
Jungkook menaiki bus yang pertama berhenti tanpa tahu kemana arahnya. Jungkook baru pertama kali ini bepergian. Ada kebahagiaan tersendiri untuk pemuda kelinci itu melakukan hal-hal kecil seperti ini. Moodnya mulai meningkat sampai rasa kantuk menyerangnya.
Di tempat lain, Nayeon merengek ke Taehyung agar menemaninya sarapan diluar, mau tidak mau Taehyung menurutinya. Entah mengapa sifat manja Nayeon agak membuat Taehyung jengah. Awalnya Taehyung tidak akan mau memaafkan Nayeon, namun dia juga merasa bahwa Nayeon juga pantas mendapatkan kesempatan kedua darinya. Dan Taehyung memberikannya selagi dia juga terikat tali pertunangan yang belum jelas ujungnya dengan Jungkook.
" Tae, gomawo.. Jinjja gomawo telah mengizinkanku lagi dekat denganmu " ucap Nayeon ceria. Taehyung hanya diam sembari mengaduk-aduk kopi yang ada di depannya. Dia memikirkan Jungkook. Apa pemuda manis itu sudah sampai di kantor ? apa dia baik-baik saja.
" Tae !" panggil Nayeon.
" Hm ?" jawab Taehyung.
" Besok kencan ? mau ya ya ya.." ajak Nayeon.
" Maaf, aku belum bisa memastikan apakah jadwalku kosong atau tidak, Mommy menyuruhku pulang nanti malam" jawab Taehyung lagi.
" Hm, kalau begitu nanti malam aku akan berkunjung " ucap gadis itu lagi. Taehyung sadar betul kalau Mommy-nya sangat tidak menyukai Nayeon. Dan Nayeon juga tidak bisa dihentikan. Dan berakhir Taehyung yang menghela nafas, kenapa yang awalnya terlihat gampang menjadi serumit ini untuk dijalani.
..
Jungkook terbangun di tidurnya karena merasa Bus berhenti. Ya, Bus berhenti karena ini adalah rute terakhirnya. Seseorang yang ada disampingnya membangunkan Jungkook.
" Hei.. tujuanmu kemana ?" tanya orang itu, melihat Jungkook masih mengerjap-ngerjapkan matanya.
" Ini dimana ?" tanyanya.
"Chang-dong" jawab orang itu. Kemudian orang itu turun. Jungkook juga ikut turun. Dia tahu pasti kalau dia sekarang tersesat. Entah dimana itu Chang-dong. Jungkook duduk di halte.
" eomma, ini dimana ?" bisiknya. Jungkook menunduk. Jungkook melihat jam tangannya. jam setengah 8. Dia benar-benar tidak tahu ini dimana. Jungkook mengeluarkan ponsel dan berniat menelepon Taehyung tapi ia urungkan. Akhirnya Jungkook memutuskan untuk menelepon Yoongi.
/" Yeoboseyo, ada apa Kookie ?"
" Hyuung.. hiks" tangis Jungkook akhirnya pecah, benar-benar tidak tahu apalagi jika ia tidak bisa kembali ke apartemen atau pergi ke kantor.
/" Wae ? ada apa Kookie ? kenapa menangis ?" khawatir Yoongi.
" Aku tersesat "
/" Hah ? tersesat ? bagaimana bisa ? dimana kau sekarang ?"
" Aku tidak tahu "
/" Aku sedang diluar kota bersama Namjoon. Jangan menangis dan panik. Sekarang telepon Jimin atau Daniel"
" Hiks.. hiks hyung aku takut "
/" Hei.. kau tidak akan apa-apa, cepat telepon mereka"
" Baiklah hyung, nanti aku telepon lagi" Jungkook mematikan teleponnya dan mencari kontak Jimin.
..
Jimin kali ini berangkat kerja dengan Daniel dan Seongwoo, pasangan yang selalu mesra itu terpaksa harus berbelok jauh karena menjemput namja kesayangan Yoongi yang merengek minta di jemput. Jimin yang merasa ponselnya berbunyi langsung mengangkat ketika melihat siapa yang menelepon.
/" Yeoboseyo, Kook-ah "
" Jiminie-hyung.. hiks.. bantu aku " Jimin yang mendengar suara isak Jungkook, Jimin langsung sedikit panik. Mobil yang dikendarai Daniel sebentar lagi akan membawa mereka ke kantor, ketika akan memasuki parkir, Jimin menyuruh Daniel berhenti
/"jamkanman Daniel !" ujar Jimin kepada Daniel.
/" Ada apa Kookie, kau diapakan Taehyung? Kenapa menangis ?"
" Aku tersesat"
" Hah ? Bagaimana bisa ? Dimana kau sekarang ?"
"Chang-dong, Aku tidak tahu kenapa bisa sampai disini. Tadi aku ketiduran di Bus Hyung.. hiks.. jemput aku.. hueeee "
/" Baik, baiklah ! diam disana, kami akan menjemputmu, jangan menangis "
Jimin mematikan teleponnya, dan meminta Daniel untuk putar arah.
" Kemana,hyung ?" tanya Daniel, disebelahnya ada Seongwoo yang mendampingi.
" Menjemput Jungkook, kita ke halte Chang-dong" jawab Jimin. Dia mengirim pesan kepada Hoseok jika mereka terlambat datang dan mengutarakan alasan yang sebenarnya, menjemput Jungkook yang tersesat sampai ke halte Chang-dong.
" Kenapa jauh sekali tersesatnya, dia tidak berangkat dengan Taehyung?" gumam Seongwoo. Daniel menghela nafas.
" Ada-ada saja yang terjadi dengan Jungkook. Ah, aku tadi melihat Nayeon di basemen apartemen kita, waktu kita mau sarapan sayang " ucap Daniel. Kalau sesuai perkiraannya Taehyung berangkat kerja dengan wanita itu. Mereka semua mengetahui bahwa Nayeon yang kembali mendekati Taehyung, dan bodohnya Taehyung membuka pintu hatinya kembali untuk wanita itu, yang pintu hatinya sudah diketuk duluan oleh Jungkook setelah sekian lama tertutup rapat.
Mereka berbincang-bincang dalam perjalanan menjemput Jungkook.
Sementara dikantor, Taehyung datang memasuki ruangan Department Game Development. Menatap orang-orang yang ada disana. Tidak mendapati Jungkook, juga Jimin dan pasangan mesum. 'apa mereka belum datang?'
"Jimin, Daniel dan Seongwoo izin terlambat datang, Jae" ucap Hoseok kepada kepada ketua tim mereka.
" Kenapa ?" tanya Jackson.
" Mereka menjemput Jungkook di Chang-dong" jawab Hoseok lagi.
"Chang-dong?" ucap mereka serentak minus Hoseok.
" Kenapa Jungkook berada disana ? dia tidak berangkat denganmu Tae ?" kali ini Jeonghan yang berbicara.
" Tadi dia mengatakan kalau dia ingin berangkat dengan bus " jawab Taehyung seadanya.
" Wah, berarti dia tersesat " celetuk Hoshi.
" apa dia baik-baik saja ?" khawatir Eunwoo. Sudah rahasia umum di department mereka jika pemuda tampan dan pendiam itu menyukai intern yang baru bekerja beberapa hari itu. Mendengar kekhawatiran Eunwoo membuat Taehyung tidak tenang. Gara-gara dia tidak melarang Jungkook pergi sendiri makanya menjadi begini.
.
.
" Oi, Bunny !" Daniel turun dari mobil dan langsung menghampiri Jungkook yang sedang duduk sambil menunduk di halte seberang jalan. Jungkook menegakkan kepalanya mendengar suara yang akrab ditelinganya.
" hyung !" Jungkook memeluk orang yang ada didepannya itu. Senang sekali rasanya bertemu Daniel. Daniel hanya tertawa sambil mengusap kepala tunangan Taehyung itu. Daniel membawa Jungkook menyebrang jalan menuju mobilnya.
" Aku rela sekali rasanya jika Daniel dipeluk Jungkook" gumam Seongwoo yang melihat kejadian Jungkook memeluk Daniel tadi.
" Benar-benar tidak cemburu ?" tanya Jimin.
" Hm, siapa yang akan cemburu pada kelinci imut macam dia, kau setuju ?" tanya Seongwoo kepada rekan seumurnya itu. Jimin mengangguk mengiyakan. Dia juga sependapat dengan kekasih Daniel tersebut.
Jungkook masuk ke dalam mobil dan langsung memeluk Jimin. Membuat Jimin tertawa pelan.
" Kenapa sampai sejauh ini, hm ?" tanya Jimin. Sementara Daniel sudah mengendarai mobilnya kembali.
" Aku tidak sadar karena aku tertidur" jawabnya.
" kenapa tidak berangkat dengan Taehyung ?" tanya Seongwoo.
" Aku ingin berangkat dengan bus, awalnya ingin mengajak Taehyung, tapi wanita itu datang dan mengajaknya ke kantor bersama. Makanya aku pergi sendiri, tapi aku tersesat " ucap Jungkook yang meringkuk dalam pelukan Jimin.
" Kenapa tidak menelepon Tae-hyung ? kenapa menangis ? setidaknya kau bisa kembali menaiki bus tadi dan kembali ke halte awalmu tadi " ucap Daniel yang masih mengemudikan mobilnya.
" Uangku habis dan aku tidak mau meneleponnya " jawab Jungkook.
" Dasar cengeng ! melihat Taehyung ciuman saja tidak menangis, sedangkan tersesat malah menangis terisak " sindir Jimin.
" Biarkan saja ! nanti aku diculik bagaimana ? kalau masalah Taehyung terserah dia mau apa, aku tidak peduli" cemberut jungkook. Jungkook begitu. Meski di luar berkata tidak peduli, jujur saja dia cinta, cinta sekali dengan pemuda tidak teguh pendirian seperti Taehyung.
.
.
Mereka sampai di kantor, disambut hangat oleh anggota tim yang ada disana. Taehyung melirik Jungkook yang keadaannya bisa dikatakan baik-baik saja meskipun matanya sembab. Sedikit guyonan dari Hoseok, Jackson dan Jeonghan tentang Jungkook yang tidak tahu arah dan mereka semua tertawa.
" Kau baik-baik saja ?" tanya Taehyung memastikan. Dia duduk di dekat Jungkook yang sedang mewarnai salah satu karakter, membantu Seungwoo. Jungkook mengangguk.
" Ya, aku baik-baik saja ! tidak usah mencemaskanku, Kim " lanjutnya. Entah mengapa nada Jungkook menjawabnya dingin.
" Ketua Im, aku ingin berbicara sebentar dengan Jungkook, aku izin sebentar " Taehyung menarik tangan Jungkook dan membawanya pergi dari sana.
Jungkook berhenti ketika Taehyung mneghentikan langkah kakinya. Jungkook menunduk. Bukan, dia hanya tidak ingin mencari masalah kali ini. Badannya dan pikiran cukup lelah, dia butuh istirahat dari Taehyung dan masalah lainnya.
" Wae? Kau marah padaku ?" tanya Taehyung to the point.
" Ani ! aku tidak marah Kim " jawab Jungkook dan langsung menatap Taehyung, dia merasa tertantang karena pemuda itu. Sedikit menyeringai, membuat Taehyung mengernyit heran.
" Kenapa ?" tanya Taehyung.
" Entah mengapa hanya terasa lucu, lucu sekali " gumamnya, Taehyung merasa tersindir. Ia tahu Jungkook sedang menyindir masalah keteguhan dirinya. Keteguhan tentang pilihan antara Jungkook atau Nayeon.
" Aku tidak mengerti mengapa keadaannya begitu rumit sekarang. Apa kau marah jika aku sekarang sedang menentukan kepada siapa hatiku benar-benar jatuh ?" tanya Taehyung sedikit sendu. Ia rindu dengan Nayeonnya, dan ia juga tidak mau membuat Jungkook menjauh. Entahlah hati kecilnya tidak menginginkan itu terjadi.
" Kau tidak salah Kim " jawab Jungkook.
"Putuskan kemana hatimu benar-benar berlabuh. Aku tidak berhak karena aku baru memasuki hidupmu dalam beberapa hari " lanjutnya. Taehyung mengangguk paham.
" Boleh aku ajukan satu persyaratan ?" tanya Jungkook. Taehyung memandang Jungkook dengan pandangan bertanya.
" Aku akan mundur, aku akan benar-benar meminta pertunangan ini di akhiri jika kau bercinta dengan wanita itu. Aku benar-benar tidak rela jika kau akhirnya nanti memilihku tapi kau bercinta dengannya " jelas Jungkook.
" Aku janji tidak akan bercinta dengan siapapun sampai aku benar-benar mengetahui siapa yang aku inginkan " jawab pemuda tampan itu.
"Oh.. apa boleh aku dekat dengan orang lain ?" Jungkook mengutarakan maksudnya.
" Ye ?" Taehyung memandang Jungkook.
" Apa aku boleh dengan orang lain menjelang kau benar-benar memantapkan hatimu ?" ulang Jungkook.
" Bagaimana jika nanti kau benar-benar jatuh cinta dengannya ?" Taehyung bertanya kemungkinan jika itu terjadi.
" Itu resiko, maka kau yang membatalkan pertunangan ini " jawab Jungkook, tersenyum indah.
" Hm , baiklah.. tapi jangan menjauh lagi. Aneh rasanya " jujur Taehyung.
" Sebegitu berpengaruh aku dalam hidup Tae ? " tanya Jungkook, dia berharap jawaban Taehyung bisa membuat hatinya membaik.
" Iya, kau membuka hatiku Kook.. aku akan memilih jawaban terbaik atas apa yang diinginkan hatiku, tunggulah. Sesakit apapun kau mau menunggu kan ?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk.
" Oh ya, malam ini Mommy menyuruh kita makan malam di Mansion, kau bisa ?"tanya Taehyung. Jungkook kembali mengangguk
.
.
Mereka berangkat ke Mansion. Keluarga besar Taehyung sudah menunggu disana. Kini formasi lengkap. Mingyu juga ada. Ada Jimin dan Jin juga. Namjoon sibuk menggoda Jin dan Jimin yang sangat antusias berbicara dengan Bambam yang sesekali di sela oleh Jennie. Yoongi hanya memperhatikan mereka. Jujur, Taehyung merindukan hyung-nya yang menjadi orang terdekatnya dulu. Sayang, hanya karena kesalahpahaman mereka merenggang. Kemudian kepergian Yoongi keluar negeri juga membuat Taehyung sedikit dongkol. Yoongi tidak berusaha memperbaiki salahnya namun menghindar dan menganggap semuanya baik-baik saja.
" Hyung, kau datang " ujar Mingyu. Mingyu tersenyum membuat taringnya terlihat.
" Sepupumu tampan" gumam Jungkook yang membuat Taehyung mendelik tidak suka.
" Kalian sudah datang, ayo duduk " Baekhyun menyuruh mereka duduk dan ikut makan bersama. Di pertengahan acara makan mereka, satu keluarga kecil datang menghampiri.
" Mianhae, kami terlambat " ucap si suami, adik ipar Baekhyun. Park Bogum.
" Hm, Jiwonie.. sini-sini dengan noona.. " Jennie langsung mendekat ke arah wanita yang berstatus bibinya itu, menggendong si kecil yang berumur dua setengah tahun. Park Jiwon. Jiwon tertawa ketika digoda oleh Bambam dan Jimin.
"Irene, kenapa terlambat ?" tanya Baekhyun.
" Maaf oppa, tadi pesawatku delay, jadi terlambat" jawab wanita cantik itu.
" Heh kau si dingin, apa kabar ?" tanya Irene yang mengambil kursi di sebelah Taehyung.
" Sangat baik, Ahjumma !" jawab Taehyung. Irene langsung memukul kepala keponakannya itu. Keponakan yang hanya beda umur 5 tahun darinya. Salahkan Baekhyun yang menikah dini dengan Chanyeol sehingga Irene mempunyai keponakan seperti mempunyai seorang adik baru.
" Panggil aku Noona !" ujarnya.
" Dasar tidak sadar status " delik Taehyung. Mereka melanjutkan acara malam malamnya di selingi dengan cerita-cerita. Irene dan Bogum juga berkenalan dengan Jungkook, tunangan Kim Taehyung.
" Tae, aku bisa menitipkan Wonie kepadamu besok ?" tanya Irene. Mereka sedang duduk diruang keluarga. Bambam sedang di apeli kekasih, Mark. Teman SMA Taehyung dulu. Jennie juga duduk di depan bersama Sungjae.
" Kenapa harus aku ?" tanya Taehyung. Taehyung benci dengan anak kecil. Repot mengurusnya. Wonie juga banyak tingkah, suka merengek.
" Hanya kau yang tidak punya kegiatan. Yoongi ada rapat, Jimin ada keperluan. Hanya kau yang tidak sibuk. Please ! aku harus mendampingi Bogum dalam acara besok. Tanya kepada Mommy-mu kalau tidak percaya " jelas Irene. Biasanya Irene memang sering menitipka Wonie kepada Taehyung, dengan alasan pekerjaan, nyatanya dia pergi bersenang-senang dengan suaminya.
" Tidak apa Noona, kau bisa menitipkan wonie kepada kami. Aku akan sangat senang karena ada teman. Iya kan, Wonie ?" tanya Jungkook sambil bermain dengan Jiwon. Balita itu hanya mengangguk lucu.
" Baiklah noona, terserah saja. Jungkook juga tidak menolak " jawab Taehyung.
Irene akan mengantarkan Jiwon besok pagi ke apartemen Taehyung. Pagi-pagi sekali.
..
" Mommy !" dari luar Bambam berteriak, sedikit berlari kedalam.
" ada Nayeon. Dia ingin bertemu dengan Mommy !" lapor Bambam. Jennie dan Sungjae juga masuk. Yoongi yang tadi sedang berbicara dengan Namjoon dan Jin menoleh ke arah wanita yang mengekor Bambam dari belakang. si biang masalah.
Taehyung menegang. Jungkook santai saja. Masih bermain dengan Jiwon menyusun lego yang berserakan.
" Selamat malam, tante !" ujarnya tak tahu diri. Baekhyun menghela nafas, melirik ke arah wanita yang sempat mengubah kepribadian anaknya. Dia benar-benar tidak suka dengan gadis itu.
" Ada apa ?" tanya Baekhyun dingin.
" Aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku ingin serius dengan Taehyung. Aku ingin tinggal dengan Taehyung di apartemennya. Aku ingin mengubah semuanya, aku cinta Taehyung" ucap wanita itu. Semua yang ada disana terperanjat kaget. Jungkook menoleh ke arah mereka yang sedang berbicara serius. Taehyung masih diam.
" Bahkan Taehyung sudah memberikan kesempatan kepadaku " bela Nayeon. Baekhyun menatap Taehyung dengan bengis. Tak mengerti apa yang ada di otak tumpul anaknya itu.
" Kau tidak tahu dengan siapa anakku tinggal ?" kini Chanyeol yang berbicara. Dia harus bicara, diamnya tidak akan berguna.
" Dengan seorang intern, bukan ? makanya aku ingin lebih dekat dengan Taehyung, aku takut intern itu akan mendekati Taehyung" tanya Nayeon, dia menatap Jungkook, jelas sekali menyindir. Jungkook mengangkat sudut kanan bibirnya. 'wanita bodoh !'
" Intern ?Intern kau bilang ? Calon menantuku kau bilang intern ? Siapa kau berani-beraninya berucap seperti itu ?" Baekhyun naik pitam. Nayeon terkejut. Ternyata Jungkook adalah tunangan Taehyung. Dan dia tidak tahu apa-apa
" Nayeon ! sebaiknya kau enyah dari sini " Yoongi berucap. Nayeon hanya tersenyum kepada Yoongi.
" Kenapa Yoongi ? kau kembali ? tidak merasa bersalah dengan adikmu ?" ucap wanita itu. Pintar sekali mengadu domba ternyata wanita ini. Jennie sudah ingin menjambaknya.
" Taehyung ! maumu apa sebenarnya ?" kini Baekhyun benar-benar menantang anaknya itu.
" Mom ! semua benar-benar rumit. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa " jawab Taehyung.
" Mommy ! tidak apa-apa jika dia juga ikut tinggal di apartemen Taehyung. Tidak masalah !" Jungkook ambil suara.
" Tapi Kookie, tidak bisa seperti itu " sanggah Jennie, dari dulu sekali dia tidak pernah menyukai wanita yang digila-gilai oleh oppa-nya itu.
" Noona, ini perkara hati. Taehyung masih punya rasa terhadap dia, aku bisa apa ?" ucap Jungkook, mereka membenarkan. Perkara hati, siapa yang bisa memaksa.
" Baiklah, cobalah tinggal disana selama dua minggu, tersakiti calon menantuku, maka kau akan mati " ancam Baekhyun sebelum pergi dari sana. dia benar-benar tidak akan bisa mengontrol diri jika bertahan disana.
Jimin dan Jin tidak mengerti lagi dengan apa yang dihadapannya. Seorang Jeon Jungkook, adik yang sangat dewasa dengan santai memutuskan masalah ini dengan mudahnya. Mereka tahu Jungkook tersakiti, tapi kembali lagi, Jungkook adalah pembohong yang ulung jika itu perkara hati dan perasaannya.
.
.
Jungkook menyusul Baekhyun. Memeluk dari samping lelaki cantik yang sedang duduk itu di balkon lantai dua. Jungkook tahu Baekhyun sedang tidak baik.
" Mommy ! Gwaenchana ? " tanya Jungkook.
" Harusnya Mommy yang bertanya, apa kau baik-baik saja ? apa putra Mommy menyakitimu ? bahkan sekarang belum genap seminggu Kookie-ya.. dan cobaan sudah ada " ucap Baekhyun. Jungkook mengangguk.
" Aku baik-baik saja Mommy ! Oh ya Mommy, tetap sayang Kookie ya walaupun nanti Kookie tidak menjadi bagian dari keluarga ini. Kookie tidak bisa menjamin bahwa Kookie—ani ! bahwa Taehyung akan memilihku " ujar Jungkook. Baekhyun menangis, tidak sanggup rasanya membayangkan kalau Jungkook, pemuda manis yang dia ketahui sangat mencintai putranya ini membatalkan pertunangan mereka.
.
.
Jungkook terbangun pagi ini setelah mendengar bel apartemen berbunyi. Dia buru-buru membuka pintu karena si kecil Jiwon akan datang.
" Hei Wonie !" Jungkook mengambil alih Jiwon dari gendongan Irene yang sudah sangat rapi.
" Aku titipkan anakku kepadamu, Okay ? Oh, aku juga sudah bilang kepada Taehyung untuk membawa Jiwon ke taman bermain nanti siang, kalian bisa main sepuasnya. Ini susunya . Tolong jaga Jiwon ya Kookie.. Mama pergi sayang " ucap Irene, mengecup pipi anaknya itu sebelum pergi dari sana. Jiwon bukan tipikal anak yang harus bersama ibunya setiap saat. Asal tidak bosan Jiwon tidak akan menangis.
Jungkook membawa balita berisi itu dan mengajaknya bermain di ruang tamu apartemen itu. Jungkook juga ingat hari ini Nayeon juga akan pindah kemari. Benar-benar menyulitkan.
Taehyung bangun karena anak kecil menepuk-nepuk pipinya. Jungkook menyiapkan sarapan Jiwon dan membuatkan susunya.
" Wonie, jangan nakal " ucap Taehyung dengan suara seraknya. Taehyung memegang tangan si kecil dan bermain sebentar dengan sepupu kecilnya itu. Jiwon terkikik.
" belhenti.. Tae.. hahaha.." ucap Jiwon dengan suara cemprengnya. Taehyung membawa Jiwon keluar kamar. Duduk di ruang makan. Jiwon menikmati susunya.
Bel apartemen kembali berbunyi, Taehyung membukakan pintu. Nayeon datang. Menyusul ke ruang makan. Jiwon saja tidak suka dengan wanita itu. Jungkook juga mengacuhkannya.
" Tae, nanti aku akan sekamar denganmu, ya ?" pinta wanita itu. Jungkook menatap Taehyung, penasaran dengan apa yang akan dijawabnya,
" Tidak, kau akan pakai kamar sebelah. Aku sekamar dengan Jungkook " jawabnya.
" Tapi Tae, ak—"
" Kalau tidak mau silahkan pergi " cela Taehyung. Nayeon terdiam.
.
.
Jam menunjukkan pukul sepuluh, Jungkook sudah memandikan Wonie, dan sekarang Jungkook yang akan mandi. Taehyung duduk menonton televisi bersama anak kecil itu. Dan Nayeon sibuk memindahkan barangnya. Wonie tidak membiarkan Taehyung untuk membantunya. Dan itu membuat Nayeon sangat kesal.
Ketika Taehyung sedang membuatkan susu Wonie lagi di dapur, Nayeon duduk dekan Wonie. Dia sangat benci semua pengganggu rencananya. Dia mencubit dan mendorong tubuh Jiwon yang sedang berdiri di dekat meja di ruangan itu. Pinggang Jiwon terbentur. Si kecil merasakan nyeri pada pinggangnya dan sontak membuatnya menangis. Dan Jungkook melihat semua itu sewaktu ia akan keluar kamar dan menghampiri mereka. Kejadiannya begitu cepat.
" Yaa ! apa yang kau lakukan ?" teriak Jungkook. Dia cepat menggendong Jiwon. Mencoba menenangkan Jiwon. Taehyung yang mendengar suara tangis Jiwon dan teriakan Jungkook langsung keluar.
" Wae ? ada apa ?" tanya Taehyung. Jungkook masih menatap Nayeon tidak suka.
" Aku tidak melakukan apa-apa " ucap Nayeon dan langsung melenggang dari sana.
Untuk mendiamkan Wonie, Taehyung langsung berinisiatif mengajak Wonie dan Jungkook untuk pergi ke taman bermain. Mereka akan bersenang-senang disana. Taehyung menggendong Jiwon dan Jungkook yang mengiringinya dari samping. Keluarga kecil yang membuat iri memang.
..
Jungkook dan Wonie berebut menghabiskan permen kapas yang ada ditangan mereka. Taehyung terkekeh, dan mengambil foto kedua manusia imut itu.
" Uuuuh.. Kookie culang, Tae" adu Wonie kepada Taehyung, Jungkook menghabiskan permen kapas lebih banyak. Taehyung hanya bergumam dan berjanji akan membelikan Wonie kembali permen kapas.
Mereka menaiki banyak wahana, tentu saja dengan wahana yang bisa di naiki oleh Wonie. Sampai akhirnya mereka istirahat sejenak. Sudah sore, dan mereka duduk di salah satu kursi di taman itu. Taehyung mendapat telepon dan langsung menjawabnya. Itu Nayeon, dan Jungkook tahu ketika melihat display name yang tertera saat ponsel Taehyung menyala.
" Wonie-ya, Tae pergi sebentar ya, Tae pergi membeli permen kapas, tunggu disini dengan Kookie ya " ucap Taehyung kepada Jiwon. Jiwon mengangguk lucu mendengar Taehyung mengiming-iminginya dengan permen kapas.
" Kookie, aku pergi sebentar. Tunggu disini " ucap Taehyung. Jungkook mengangguk.
.
.
Tiga jam menunggu, Taehyung belum juga kembali. Jungkook menggendong Jiwon, si kecil yang sudah tertidur itu risih. Jungkook memegang kepala Jiwon. Panas sekali. Jiwon demam. Dari tadi Jiwon sibuk menanyakan kapan Taehyung kembali. Dimana Taehyung membeli permen kapas,kenapa lama sekali.
Cuaca yang awalnya sangat cerah, kini berubah menjadi mendung. Hujan, benar-benar tidak sesuai ekspektasi. Keadaan benar-benar menguji Jungkook. Jungkook berlari dengan Jiwon dalam gendongannya. Berlari ke tempat teduh. Jungkook meneduhkan diri pada salah satu halte, mereka memang sudah keluar dari taman bermain.
Cuaca dingin membuat Jiwon menggigil. Jungkook dengan gelisah menelepon Taehyung, berharap pemuda itu mengangkat telepon dan menjemput mereka. Jiwon sudah pucat. Jaket Jungkook yang menyelimuti badannya tidak cukup hangat saat ini. Bibirnya sudah membiru. Sungguh Jungkook tidak mau terjadi apa-apa.
Jungkook mengirim pesan kepada Taehyung.
'kau dimana ? Jiwon demam'
'aku benar-benar membutuhkanmu, jebal'
' Kim Taehyung !'
Jungkook kalap, tak tahu harus bagaimana. Dia menelepon Daniel, ternyata Daniel dan Seongwoo sedang berada di dekat lokasi Jungkook. Menunggu sepuluh menit, mobil Daniel sudah ada diseberang halte. Melindungi Jiwon, Jungkook berlari ke arah mobil itu. Dia basah kuyup, keadaannya juga tidak baik.
" Kau tidak apa-apa ?" tanya Seong-woo.
" Hyung,cepat kerumah sakit, hiks. Cepat hyung !" isak Jungkook. Dia tidak tahu harus apa lagi. Jiwon tidak sadarkan diri. Daniel mengebut membelah jalanan menuju rumah sakit. Kasihan dengan Jiwon, Jungkook juga.
Sesampainya di depan rumah sakit, Jungkook berlari ke dalam dengan Jiwon di gendongannya. Perawat menyambutnya dan menyuruhnya tenang, Jiwon ditangani oleh Dokter.
" Kookie-ya sabar ! Wonie akan baik-baik saja " Seong-woo memeluk tubuh kuyup dan bergemetaran itu.
Daniel menelepon Namjoon, Yoongi, dan Bambam. Menyuruh mereka untuk datang. Daniel juga berusaha menghubungi Taehyung. Tepat pada panggilan yang kelima kalinya Taehyung mengangkatnya dan memberitahu untuk segera ke rumah sakit. Daniel memberitahu yang sebenarnya. Dan Taehyung langsung kesana diikuti oleh Nayeon.
Dokter menerangkan bahwa Jiwon demam karena luka lebam yang ada di pinggangnya. Jungkook tahu bahwa luka itu adalah perbuatan wanita sialan yang mendorong Jiwon tadi pagi. Pinggang Jiwon memar, dan menyebabkannya demam. Jungkook benar-benar emosi sekarang. Jungkook terisak lagi. Dia merasa gagal melindungi Jiwon yang dititipi Irene kepadanya. Jiwon terpaksa di rawat dirumah sakit itu saat ini.
Taehyung datang dengan Nayeon, Jungkook yang melihat wanita itu langsung termakan emosi dan mendekat ke arahnya. Jungkook mencekik Nayeon dan langsung saja Taehyung mendorong Jungkook.
PLAK.
Satu tamparan mendarat dipipi mulus Jungkook. Nayeon menangis.
" Jangan kurang ajar ! Kenapa kau mencekik Nayeon hah ?" teriak Taehyung kepada Jungkook. Daniel dan Seong-woo terkejut bukan main. Jungkook yang nekat dan Taehyung yang berteriak. Jungkook tersenyum sinis.
" Kurekkuna, kau bisa menanyakan kepada wanitamu ini kepada Jiwonku sakit. Jiwonku pasti kesakitan karena apa yang sudah ia lakukan, sialan ! aku diam bukan berarti aku tidak berani, aku akan membunuhmu, hiks!" isak Jungkook. Dia benar-benar tidak sanggup lagi.
" Apa maksudmu? Jiwon sakit karena kehujanan !" sanggah Taehyung.
" Karena kehujanan ? hahaha, sadar Kim, kau membuatnya menunggu berapa lama hanya karena wanita ini, dan aku mulai muak ! Kau tahu aku benar-benar membencimu " teriak Jungkook hilang kendali. Taehyung masih memperhatikan Jungkook yang kalap. Namjoon dan Jin datang kepada mereka. Di susul oleh Yoongi dan Jimin. Yoongi langsung memeluk Jungkook yang hampir limbung itu. Masih terisak.
" Menyesal rasanya aku mendukungmu untuk mendonorkan jantung kepada manusia bajingan yang tidak punya perasaan seperti dia hyung, hiks " ucap Jungkook yang sangat jelas di dengar Taehyung.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hai hai… maaf ya chapter 3 udah masuk konflik. Ingat ya, sifat karakter hanya fiksi, jangan membenci atau menjudge di dunia asli. Ini hanya untuk cerita.
Jadi mohon review, kritikan dan komentarnya readers.. terimakasih sudah mampir dan meluangkan waktu.
See ya next chapter…
.
.
Aku menyayangi kalian !
