Pals
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
AU, OOC for sure
So
Karin memperhatikan Ino yang tengah berbicara dengan Shikamaru di depan loker sepatunya. Beberapa saat yang lalu ketika ia, Sakura dan Ino hendak pergi ke Akihibara, ritual mingguan favorit mereka, Naruto berlari ke arah mereka bertiga sambil berteriak kencang mengatakan bahwa Sasuke terluka dan kini sedang berada di ruang kesehatan. Setelah itu pemuda bodoh itu menarik Sakura begitu saja, meinggalkan ia dan Ino yang berdiri termanggu, membawa gadis berambut merah muda itu ke ruang kesehatan. Tak hanya itu! Tak beberapa lama kemudian, datang si pemuda Nara, yang entah bagaimana tiba-tiba mengajak Ino untuk berbicara sebentar. Berdua saja.
"—Bagaimana, apakah kau bisa?" Karin mengamati Ino yang kini tengah mengerutkan dahinya, gadis itu melirik ke arah Karin, nampak sedikit bingung.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa. Hari ini aku sudah memiliki acara dengan Karin, maaf. Aku titip salam saja untuk Baa-san."
"Hmm."
"Hah!" Karin menghembuskan nafas dengan kencang, gadis berambut merah itu melangkah ke arah Ino dan kemudian menepuk bahunya. "Tidak apa, lagi pula sebenarnya hari ini aku punya urusan lain. Kau pergi saja ke rumah pemuda pemalas itu. Jaa!"
"Tapi— Karin!" panggilan Ino tak ia indahkan, ia melangkah dengan cepat meninggalkan Ino dan Shikamaru.
Karin kesal, Sakura sudah pacaran dengan Sasuke, dan kini Ino sepertinya mulai akrab lagi dengan cinta pertamanya, Nara Shikamaru. Bukannya dia tidak bahagia sih melihat kisah percintaan temannya yang nampaknya bahagia itu, tapi ia menjadi prihatin dengan kisah percintaannya sendiri. Bukannya kedua sahabatnya tidak menolong kisah cintanya sih, sebenarnya itu lebih karena sifat tsunderenya yang selalu kambuh saat melihat sang pemuda. Karin mengerang.
Neji Hyuuga, tak seperti yang diduga oleh Ino dan Sakura yang mengira ia menyukai sang ketua osis saat melihatnya menyampaikan pidato upacara masuk sekolah dulu, ia sudah menyukai sang pemuda sejak dua tahun yang lalu. Nah! Bahkan lebih lama dari Sakura yang menyukai Sasuke. Dan kini sahabat merah mudanya itu sudah resmi pacaran. Sementara ia. Karin mendengus, ia bahkan berani menjamin bahwa sang ketua osis tidak mengingat namanya.
Gadis berambut itu memutuskan untuk tidak pergi ke Akihibara, moodnya berantakan gara-gara dua sahabatnya yang ia yakin sekarang sedang bermesraan dengan pasangan mereka masing-masing, Ia mendesah panjang, dan menatap nanar ke arah langit.
"Hah, mungkin lebih baik aku pergi karaoke."
Mood Karin sedikit lebih baik setelah menghabiskan waktu tiga jam di karaoke. Suaranya sekarang menjadi serak, akibat menyanyi terus menerus. Gadis itu berjalan dengan gembira, sesekali terdengar gumaman nyanyian dari bibirnya. Mungkin ia pergi saja ke Akihibara, siapa tahu ada paman kantoran tampan berkacamata yang mengajaknya kenalan. Lumayanlah, daripada menunggu kisah cintanya dengan sang pemuda Hyuuga yang nampaknya mustahil terjadi. Ia membalikkan tubuhnya ingin menuju ke stasiun, saat tiba-tiba saja rintikan air menerjang kepalanya. Hujan! Bergegas Karin berlari dan berteduh di teras sebuah kombini terdekat.
"Uzumaki-san." Gadis itu secara otomatis menoleh ke arah suara bariton yang memanggilnya dan terkejut saat mendapati Neji, dengan pakaian bebas dan bungkusan di tangannya.
Damn! Dia tampan! Terlalu tampan! MAYDAY MAYDAY! DIA BUTUH SAKURA DAN INO SEKARANG!
"Uzumaki-san?" Karin tersentak dari lamunan konyolnya, dan kemudian memandang ke arah sekitarnya, berusaha menemukan sepupu berambut pirangnya. Bagaimanapun Neji tidak mungkin mengetahui namanya, lain soal dngan sepupunya Uzumaki Naruto yang terkenal di sekolah mereka sebagai biang keributan. Tapi sayangnya ia tidak melihat helaian pirang sepupunya itu. Apa itu artinya Neji berbicara dengannya? Ia melirik tak yakin ke arah Neji yang tengah menatapnya.
"Kau tahu namaku?" Neji melihat ke arahnya dengan sebuah senyum geli terpatri di wajahnya.
"Tentu. Ah, kau tidak membawa payung? Aku akan mengantarmu." Mata Karin membelalak saat melihat Neji membuka payung berwarna abu-abu miliknya.
"A—aku tidak butuh payung jelekmu!" Karin merutuki sikap tsunderenya. Ia ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Kenapa ia tidak bisa bersifat manis seperti Ino atau Sakura sih? Karin melirik ke arah Neji yang kini tak lagi ada di tempatnya semula.
"Baka." Rutuk gadis itu pelan. Ia sudah melewatkan kesempatan satu payung dengan Neji. Gadis itu tengah menyalahkan dirinya sendiri saat pundaknya tiba-tiba disentuh oleh seseorang. Mata Karin terbelalak saat melihat payung bermotif bunga-bunga yang kini dipegang oleh Neji. Payung yang menurutnya sama sekali tidak cocok dengan sang pemuda. Gadis itu tak sengaja melihat segerombolan siswi dari sekolah keputrian yang tengah memekik senang memegang sebuah payung berwarna abu-abu, yang sepertinya milik Neji.
"Aku sudah menukarnya, Bagaimana?"
Pemuda itu menukar payungnya. Demi dia. Agar mereka bisa sepayung berdua. Ah, dan tak hanya itu! Neji tahu namanya! Hari ini sempurna walau ia tidak jadi pergi ke Akihibara bersama dua sahabatnya.
"I—itu bukan berarti aku mau sepayung denganmu! A—aku hanya tidak ingin terkena flu!" ucap Karin saat mereka akhirnya berjalan bersama. Karin merutuki dirinya yang secara tak sadar bersikap tsundere largi. Gadis itu melirik ke arah lain, dan menggigit bibirnya. Ah, sebaiknya mulai sekarang ia harus mulai menghilangkan sifat tsunderenya.
"Manis," gumam Neji pelan namun masih cukup terdengar oleh Karin. Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Neji yang kini menatapnya dengan sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Wajah Karin memerah.
"Ba—baka!" Gadis itu hendak berlari saat Neji menahan tangannya, mencegahnya berlari.
"Ini sedang hujan. Lagipula aku tak akan membiarkanmu lari lagi kali ini."
Oh tuhan, Oh tuhan, Oh tuhan, ia ingin pingsan saat ini juga!
TBC
