Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. BXB , YAOI, MPreg

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…


-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

.


Chapter III : Its You!

.

.

Mereka masih terdiam bersama disana. Ucapan Jungkook membuat semua orang disana mematung. Taehyung yang terkejut dan Yoongi yang setelah ini harus menjelaskan sesuatu kepada Taehyung. Sesuatu yang harus dirahasiakan dari Taehyung. Ya, hanya Taehyung seorang.

" Kookie.. sudah berhenti menangis" Jimin ikut mengelus pelan punggung Jungkook, yang terus terisak di dalam pelukan Yoongi. Memang benar seperti yang dikatakan Seongwoo, dia juga tidak cemburu melihat kekasihnya memeluk Jungkook. Memeluk tubuh rapuh itu.

" Hei dengar kata Jimin ? berhentilah,jangan menangis lagi " ucap Yoongi lembut, semakin mempererat pelukannya.

" Hiks.. Wonie hyung.. dia kesakitan.. semua salahku.. hiks hiks " Jungkook tidak bisa menghentikan tangisnya. Dia tidak mempermasalahkan Taehyung yang menamparnya, ketakutannya sekarang hanya pada Jiwon yang tengah di rawat dokter di dalam ruangan serba putih itu.

" Kookie, jebal uljima, eung? Kau mau dirawat lagi ? nanti kau akan sesak nafas kelamaan menangis" Yoongi sudah menyerah. Jungkook kalau sudah menangis lama akan berhenti, apalagi jika sudah terisak.

Kepala Jungkook yang ada di dada Yoongi menggeleng. Dia tidak mau dirawat lagi. Untuk yang kesekian kalinya.

" Makanya jangan menangis " Yoongi mengusap rambut Jungkook. Taehyung yang melihatnya merasakan sedikit perih. Merasa tidak nyaman melihat Jungkook di peluk Yoongi. Ada rasa aneh di di dadanya, semacam rasa tidak rela.

Nayeon yang berada di samping Taehyung dari tadi berusaha mengamit tangan kekar itu. Taehyung menolaknya, benar-benar tidak ingin berdekatan dengan wanita itu.

" Apa kau benar-benar melakukan hal yang membuat adikku sakit ?" tanya Taehyung mengintimidasi Nayeon. Matanya sudah memerah menahan marah. Dia juga tidak menyangka jika keadaannya menjadi begini. Logika saja, tidak mungkin Jiwon sakit karena hujan sementara Jungkook membawanya berteduh. Jika benar yang dikatakan Jungkook, maka ia benar-benar tidak akan memaafkan wanita yang naru saja ia beri kesempatan kedua. Sepele memang, tapi ini sangat membuatnya sakit melihat Jiwon yang sakit dan Jungkook yang terisak.

" Aku, ak—" gagap Nayeon.

" Jawab aku !" bentak Taehyung. Jungkook semakin meringkuk di dalam pelukan Yoongi, terkejut mendengar suara berat Taehyung yang sedikit berteriak.

" Aku hanya mendorongnya sedikit, tidak tahu akan mengenai meja. Aku benci karena adikmu itu selalu menghalangiku untuk bersamamu Tae " ucap Nayeon. Sedikitpun tidak merasa bersalah.

" Demi Tuhan, Jiwon hanya bocah 2 tahun ! dan kau melakukan itu ke—"

" -Aku akan memperkarakan hal ini ke jalur hukum. Anakku korban, dan kau harus menanggung terhadap apa yang sudah kau lakukan " Irene datang. Di iringi oleh suaminya dan Chanyeol sekeluarga. Setelah Bambam ditelepon oleh Daniel tadi, langsung saja si bungsu itu menghubungi orangtuanya.

" Eonnie.. Jeongmal Mianhae, sungguh ! aku tidak bermaksud, hiks " isak wanita itu. Jennie sudah benar-benar marah. Dia menjambak wanita itu.

" Mati kau, Jalang ! sampai mati pun aku tidak akan pernah menyetujuimu dengan oppa-ku " marah Jennie. Dia benar-benar muak. Bambam mencoba melepaskan jambakan kakaknya.

" Sudah noona.. kalau dia mati sekarang, dia tidak akan menderita " ucap Bambam. Mendengar apa yang di ucapkan Bambam, Jennie melepaskan jambakannya.

" Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang !" ancam Jennie. Benar-benar bibit Baehyun, penyimpan dendam.

Dokter keluar dari ruangan Jiwon, dan memberi izin kepada keluarga untuk melihatnya. Jiwon terbangun dan kondisinya sangat lemah. Irene langsung memeluk anaknya itu. Sambil bergumam kata maaf berkali-kali. Jungkook juga dibawa masuk yang di papah oleh Baekhyun.

" Jiwonie…" lirik Jungkook. Jiwon menatap takut ke arah Nayeon yang berdiri di depan pintu. Irene yang merasa anaknya ketakutan menyuruh Bogum mengusirnya. Tentu saja anaknya mengalami trauma. Bahkan Jiwon tidak ingin Taehyung ada disana.

" Kookie, ayo duduk dulu disofa " ajak Jin. Dia melihat Jungkook yang juga sangat lemah, bajunya yang awalnya kuyup sekarang sudah kering dibadan. Jungkook mengangguk dan mengikuti Jin untuk duduk disana.

Namjoon mengajak Yoongi dan Taehyung untuk berbicara. Kedua kakak beradik itu butuh bicara, butuh kejelasan. Namjoon juga mengajak Daniel, takut-takutnya nanti Namjoon tidak bisa melerai mereka jika terlarut emosi dan berakhir dengan baku hantam. Jimin meminta memelas minta ikut. Dan Yoongi tidak bisa menolaknya.

.

.

Mereka duduk di salah satu cafe di depan rumah sakit. Taehyung duduk berhadapan dengan Yoongi. Disamping Yoongi ada Jimin , dan Namjoon duduk di sebelah Taehyung. Sementara Daniel duduk di antara mereka, di kursi tunggal di meja mereka.

Tangan Jimin daritadi menggenggam tangan Yoongi. Menguatkan. Memberitahu cepat atau lambat Taehyung harus tahu kebenaran dan dia harus menjelaskan agar Taehyung dapat merubah sudut pandangnya untuk tidak membenci Yoongi.

" Ceritakan semuanya " ucap Taehyung dingin. Mereka semua aura dingin benar-benar menguar dari yang kecil diantara mereka.

" Bagian mana yang kau ingin tahu ?" tanya Yoongi.

" Kenapa kau mencium Nayeon ? Dan kenapa kau pergi ?" tanya Taehyung lagi.

" Masalah cium mencium aku sudah menjawab dari dulu, 5 tahun yang lalu. Dan terakhir sudah aku jelaskan waktu di Mansion, bukan ? perkara aku pergi keluar negeri, kau bilang membenciku dan aku meminta pada Mommy untuk pindah saja. Mommy merekomendasikan London. Dan aku pergi kesana " jawab Yoongi. Taehyung belum puas dengan jawaban Yoongi.

" Intinya, aku memilih pergi karena kau membenciku. Aku tidak bisa tinggal dengan orang yang selalu mengacuhkan dan selalu membuang muka kepadaku" ucap Yoongi lagi.

" Mengenai apa yang dikatakan Jungkook tadi, apa maksudnya ?" tanya Taehyung.

" Hyung, boleh aku yang menjelaskan ?" pinta Jimin. Jimin mengetahui semuanya, Namjoon juga.

" Tae, kau ingat mengenai kecelakaan 4 tahun lalu ? kecelakaan yang menimpa kita ?" tanya Jimin. Taehyung mengangguk. Itu adalah kecelakaan mobil yang dialami Taehyung, Jimin, Namjoon dan Hoseok. Mereka pulang dari club malam. Hoseok yang mengendarai mobil. Bukan salah mereka sebenarnya, ada truk yang melaju kencang dan hilang kendali. Mereka bertabrakan.

Taehyung yang duduk di samping Hoseok harus menjadi korban yang paling parah. Jantungnya bermasalah dan dia memerlukan transplantasi jantung secepatnya. Jimin mengalami patah tulang dibagian leher, sementara Hoseok dan Namjoon hanya mengalami luka-luka yang masih bisa ditangani.

.

.


Flashback on.

" hyung, kau mau kemana ?" tanya seorang pemuda kelinci yang sedang menatap sedang berkemas. Pemuda pucat itu harus bergegas, setelah mendapat telepon dari Mommy-nya bahwa adiknya kecelakaan. Helikopter akan datang menjemputnya sebentar lagi.

" Hyung mau ke Seoul, Taehyung kecelakaan " jawab Yoongi. Yoongi sangat gamblang berbicara dengan anak sahabat Mommy-nya ini. Hidup di rumah dan rumah sakit membuatnya menjadi anak yang cukup tertutup dan dekat dengan Yoongi.

" Si ganteng ? Kecelakaan ?" tanyanya. Dia tahu siapa Taehyung. Melalui cerita dari Yoongi, foto yang diperlihatkan dan sekelebat masa lalu tentang masa kecil cukup membuatnya tertarik kepada anak sulung Baekhyun itu.

" Iya dan aku harus pergi ! Jungkookie, jika nanti aku kembali dengan keadaan tidak baik-baik saja, tolong bahagiakan Taehyung ya " ucap Yoongi sambil memeluk Jungkook, pemuda yang baru akan memasuki usia kelima belas tahun ini.

" Ani ! jangan pergi hyung, kau lagi sakit " Jungkook mengeratkan pelukannya pada tubuh yang ringkih itu. Setahun di London, kerjanya hanya mabuk, membuat hatinya mengalami kerusakan. Dia harusnya di operasi dan melakukan transplantasi hati jika ingin melanjutkan hidup. Yoongi tidak ingin melakukannya.

" Hyung, jangan mengambil keputusan yang membuat semua orang menyesal, hiks " ucap Jungkook. Jungkook tahu jika Taehyung harus cepat memerlukan transplantasi jantung untuknya. Dan dia tahu Yoongi akan menyelamatkan hidup adiknya itu.

" Jebal cepat kembali dan temani aku melakukan dialisis lagi " pinta Jungkook.

" Wonwoo ada, pergi dengannya" tanggap Yoongi.

" Tidak mau, dia pemarah dan tidak akan mau membelikanku permen kapas sehabis dari rumah sakit " cemberut Jungkook.

..

Katakanlah jika Yoongi gila atau tidak waras, keputusannya membuat Jimin sebagai kekasihnya menangis tidak setuju. Dia harus kehilangan Yoongi, sungguh dia tidak menginginkan itu. Baekhyun juga sama tidak terimanya dengan Jimin. Dia membutuhkan pendonor jantung untuk Taehyung, bukan Yoongi yang ia inginkan untuk mendonor. Yoongi menceritakan kondisinya yang juga terkena kanker hati stadium akhir, agar mereka dapat menyetujui keinginan Yoongi. Mereka semua pasrah ketika melihat Yoongi yang begitu.

Sebelum masuk ke ruangan operasi, Yoongi menghubungi Jungkook video call. Jungkook menangis tersedu melihat Yoongi yang memakai pakaian berwarna biru polos khas rumah sakit.

" Hei kenapa menangis ?" tanya Yoongi sambil tersenyum.

/" Bodoh ! kau bodoh hyung !" teriak Jungkook.

" Sudah, percaya padaku, Okay ?"

/" Aku membiarkanmu pergi dan kau harus kembali,hyung "

" Sudah jangan menangis, kau mengalahkan Jiminie yang terus menangis dari tadi " Layar ponselnya di hadapkan kearah Jimin yang juga terisak.

/" Kau bodoh ! Sangat bodoh ! kalau kau menyakiti Jimin, aku akan datang kesana dan membunuhmu, hiks.. berjanjilah bahwa ini adalah keputusan terbaik hyung. meski berat aku mendukungmu. Katakan pada eomma untuk tidak terlalu menyakitimu nanti diruang operasi hyung, hiks" ucap Jungkook sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Yoongi mengangguk mantap dan tersenyum sebelum mematikan sambungan mereka.

" sampai jumpa lagi, Jungkookie" ucap Yoongi, air matanya yang ia tahan dari tadi akhirnya terjatuh juga. Dia takut, sangat takut. Menghadapi kematian, bukan ! ia hanya mempercepat kematiannya bukan menyerahkan diri secara sia-sia.

..

Luhan sedang bersiap untuk melakukan operasi tranplantasi jantung untuk Taehyung. Luhan, dokter bedah dari London yang diminta langsung oleh Chanyeol untuk mengoperasi putranya. Dengan berat hati Luhan mengiyakan, Yoongi sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Sudah setahun tinggal dengannya di London. Baekhyun menitipkan anak pucatnya itu kepada keluarganya. Dan sekarang Luhan harus mengeluarkan jantung Yoongi dan diberikan kepada adiknya. Taehyung, kesedihan terbesar Yoongi.

.

.

Sebut saja semesta benar-benar tersanjung karena ketulusan Yoongi. Baru saja akan dilakukan pemindahan jantung, Luhan dari ruang operasi mendapat kabar bahw seorang pemuda sebatang kara mengalami kecelakaan dan mengalami mati otak. Ternyata pemuda tersebut sudah membuat surat pernyataan apabila dia meninggal dan dia akan menyumbangkan organ-organnya. Hari itu juga Chanyeol harus menandatangani surat persetujuan untuk operasi Yoongi. Transplantasi jantung dan hati untuknya.

..

Setelah sadar, Yoongi benar-benar akan berjanji untuk bersyukur dalam hidupnya. Berterimasih dan menjaga kehidupan yang diberikan oleh pendonor yang tidak diketahui olehnya.

Yoongi meminta agar semua orang yang tahu tentang dia yang memberikan jantungnya kepada Taehyung untuk merahasiakannya. Taehyung tidak boleh tahu. Biarkan saja itu bentuk terimakasih Yoongi kepada Taehyung karena mau berbagi orangtua dan kasih sayang kepadanya. Meski harus mati, Yoongi benar-benar rela, jika itu untuk keselamatan Taehyung.

Yoongi meminta kembali ke London, melanjutkan hidupnya disana. Dan tentu saja itu adalah sebuah kebahagiaan untuk Jungkook. Selain karena dia menyayangi Yoongi seperti hyungnya, dia mendapatkan seorang story-teller yang akan menceritakan si ganteng Kim Taehyung yang sudah memikat hatinya dan membuatnya jatuh cinta.

.


.

Taehyung menunduk, benar-benar tidak menyangka. Terdiam dan semua yang ada disana memandang ke arahnya. Daniel yang tidak mengerti apa-apa juga merasa kasihan kepada mereka. Ego Taehyung dan Yoongi yang mungkin dikatakan bodoh.

" Tae ! Taehyung" panggil Namjoon. Taehyung menegakkan kepalanya. Matanya total memerah. Menahan tangis. Percayalah, ini adalah pertama kali air matanya jatuh setelah 5 tahun berlalu. Taehyung menangis.

" Apa semenyakitkan itu, Yoongi-hyung ?" Yoongi mendengar Taehyung memanggilnya dengan panggilan yang sangat dia rindukan. Yoongi memandangnya, tersenyum.

" Tidak, karena aku menyayangimu " jawab Yoongi. Jimin mencubit perut Yoongi. Sedikit cemburu.

" Hanya boleh mengatakan itu kepadaku " cemberut Jimin. Taehyung mendecih melihat sahabatnya itu.

" Mianhae, maafkan aku. Sungguh aku minta maaf" ucap Taehyung menyesal. Dia menyentuh dada kirinya, merasakan detakan yang seirama yang diciptakan organ hadiah dari Yoongi.

" Jaga baik-baik, Yoongi-hyung sudah sangat baik kepadamu hyung " tutur Daniel. Lega rasanya mendapatkan keluarga itu rukun kembali.

Taehyung menggangguk. Mendapatkan tepukan pelan dari Namjoon. Bangga kepada Taehyung yang sudah sadar dan merendahkan hatinya untuk meminta maaf.

" Good boy ! sekarang apa yang akan kau lakukan kepada wanita itu ?" tanya Namjoon. Taehyung bingung. Dia lupa jika Nayeon masih akan tinggal di apartemennya.

" Aku tidak tahu " ucapnya.

" Kenapa kau membiarkannya kembali ke kehidupanmu ?" tanya Yoongi. Kesal rasanya atas keputusan Taehyung.

" Maafkan aku, aku tidak tahu jika dia benar-benar jahat. Justru aku baru sadar setelah dia menyakiti Wonie" ujarnya.

" Yasudah biarkan saja dia, toh Mommy Baek hanya memberikan waktu dua minggu tinggal disana" celetuk Jimin. Mereka semua membenarkan. Itu tergantung Taehyung.

" Tae, kau mencintai Jungkook ?" tanya Yoongi. Taehyung menarik sudut bibirnya.

" Mungkin !" jawab Taehyung. Terbayang wajah polos pemuda imut itu.

" Hyung, aku melihat tangan Jungkook, seperti banyak tusukan, bekas jarum infuse. Ada apa dengannya ?" sudah lama Daniel ingin menanyakan itu kepada Yoongi, karena Yoongi terlihat dengan Jungkook. Meskipun Jungkook selalu memakai baju lengan panjang, sesekali Daniel memperhatikan tangan yang memiliki bekas tusukan jarum itu.

" Jungkook ya, dia pernah mengalami kerusakan pada ginjalnya " jawab Yoongi. Mereka semua yang ada disana terkejut. Bahkan Jimin juga tidak mengetahui hal ini sebelumnya.

" Wae ? kenapa bisa ?" kali ini Namjoon yang berbicara.

" Entahlah, semenjak tinggal di London, Jungkook sudah terbiasa dialisis. Jungkook harus cuci darah setidaknya dua atau tiga kali dalam seminggu, kata Luhan eomma Jungkook sudah melakukan itu dari usia sebelas tahun " jelas Yoongi lagi. Dia terbayang Jungkook yang terlihat kuat dan baik-baik saja setelah melakukan cuci darah.

" Astaga, dia kuat sekali !" tanggap Daniel.

" Jungkook baru mendapatkan donor ginjal yang cocok dengannya baru tiga bulan yang lalu. Setelah aku berencana untuk kembali kesini, dia semangat untuk ikut. Awalnya hanya untuk melihatmu, melihat Kim Taehyung yang sangat dia kagumi dari ceritaku, dia mengatakan dia ingin bertemu dengan orang yang dia cintai, dia memastikan apakah hanya kagum kepada Taehyung atau benar-benar mencintamu—" Yoongi menatap Taehyung, sementara Taehyung menunggu kelanjutannya.

" Setelah pertemuan makan malam itu, awalnya dia tidak menyangka akan ditunangkan secepat itu denganmu, kau tahu Tae? Dia langsung memberitahuku lewat pesan jika dia benar-benar mencintaimu. Sangat menyenangkan duduk disebelahmu ketika kau mengendarai mobil , dia menceritakan itu semua, matanya berbinar " lanjut Yoongi. Taehyung merasa sangat bersalah karena menampar dan menyakiti Jungkooknya tadi. Dia benar-benar brengsek.

" Jungkook itu benar-benar baru keluar dari dunianya. Dia sangat polos, mengenal dunia hanya melalui cerita dari orang-orang yang pernah dia temui dan televisi yang dia tonton" Yoongi sedikit tersenyum.

" Ah, pantas saja dia menangis kemarin ketika tersesat " ingat Jimin.

" Iya, dia seperti anak ayam kehilangan induk " sambung Daniel. Mereka disana minus Yoongi benar-benar tidak menyangka jika seorang Jungkook juga memiliki penderitaan masa lalu di balik wajah cerianya.

"Tae, sehabis ini sepertinya kau harus berjuang lebih keras untuk Jungkook" tutur Yoongi. Taehyung mengernyitkan dahi tidak mengerti.

" Jungkook sudah menggumamkan kata benci, dan dia sangat konsisten dengan apa yang dia ucapkan. Berjuang untuk memperbaiki hubungan kalian " lanjutnya.

" Benarkah ?Jungkook orang yang seperti itu ?" tanya Daniel. Yoongi menggangguk.

" Jungkook tipe orang pendendam ?" tanya Namjoon. Yoongi kembali mengangguk.

" Ya, Jungkook orang yang seperti itu. Bisa di pastikan Nayeon juga tidak akan baik-baik saja setelah ini. Jungkook sayang Wonie, dan Wonie disakiti oleh Nayeon. Kalian bisa membayangkan bagaimana hidup wanita itu setelah ini " jelas Yoongi.

" Hm , tidak apa. Aku rela saja jika wanita itu tersiksa " tanggap Jimin, membuat Daniel dan Taehyung sedikit meringis membayangkannya.

Intinya mereka sudah menyelesaikan satu masalah. Yoongi sudah berbaikan dengan Taehyung. Masalah bertahun-tahun itu larut dalam percakapan yang tidak sampai satu jam. Mereka kembali ke rumah sakit untuk melihat Wonie.

.

.

" Bagaimana keadaan Wonie, noona?" tanya Namjoon. Dia mengambil tempat di sebelah Jin dan merangkul pinggang pemuda cantik itu. Jin terlalu malas untuk menolaknya karena jika itu terjadi, dia akan berdebat panjang dengan laki-laki yang sebenarnya sangat manja kepadanya itu.

Daniel juga mengambil tempat di sebelah Seongwoo, dan Taehyung memandang Jungkook yang duduk disebelah Wonie.

" Sudah membaik. Kalian bisa pulang, disini ada aku, Bogum dan babysitter-nya Wonie. Kalian butuh istirahat, Kookie pulang ya " Irene sedikit mengelus rambut Jungkook yang masih memandang Wonie yang tertidur.

" Tap—"

" Tidak ada tapi-tapian Kookie, cepat pulang " Yoongi mendekat, memeriksa Jungkook, agak pucat. Benar saja badannya panas.

" Tae bawa Kookie pulang, badannya panas " perintah Yoongi. Jungkook menggeleng. Masih marah dengan Taehyung.

" Aku tidak mau pulang ke apartemen Taehyung " jawab Jungkook, menggeleng kuat.

" Aku minta maaf, Jungkook-ah. Ayo pulang !" ucap Taehyung lembut. Menggenggam tangan Jungkook. Jungkook berusaha melepasnya tapi Taehyung menggenggam tangan rapuh itu dengan kuat.

" Lepaskan !" lirih Jungkook. Taehyung mengusap air mata yang kembali jatuh itu.

" Hiks, aku tidak mau pulang. Disana ada wanita jahat itu hiks " kalau saja keadaannya tidak seperti ini, Taehyung pasti rela meniduri Jungkook yang sangat terlihat polos. Taehyung masih menahan diri melihat wajah lesu, masih terisak, dan hidung memerah.

" Tidur di tempat kami saja " Seongwoo berbicara. Ada kamar kosong di apartemen mereka. Mereka tetap pulang ke gedung apartemen yang sama, tapi beda ruangan kali ini.

" Tae, kami pergi dulu. Sebentar lagi aku ada keperluan dengan Namjoon. Jaga Jungkook baik-baik. Noona, kabari aku dan Namjoon perkembangan Wonie " Yoongi undur diri dari mereka semua. Pamit karena ada hal penting.

Namjoon dan Jin serta Yoongi dan Jimin pergi dari sana, mereka ada urusan yang harus di urus, sangat penting. Ada pertemuan penting yang membutuhkan Namjoon dan Yoongi. Tentu saja Jin dan Jimin ikut dengan mereka.

" Apa tidak apa-apa menginap di tempat kalian ?" tanya Taehyung.

" Tidak apa-apa hyung. Kau ini !" jawab Daniel. Taehyung menggendong Jungkook, badannya sangat panas. Mereka memakai satu mobil menuju apartemen mereka.

Dalam perjalanan, Jungkook bersandar di dada bidang Taehyung. Dia benar-benar lelah. Nafasnya memburu dan hangat, Taehyung berkali-kali mengusap keringat yang terus bercucuran dari kening Jungkook. Sesampainya di basemen, Taehyung langsung menggendong Jungkook ke apartemen Daniel.

Seongwoo membenarkan letak bantal agar posisi Jungkook menjadi nyaman. Taehyung juga ikut menginap. Dia akan turun ke apartemennya nanti untuk mengambil baju mereka dan keperluan lainnya. Jungkook tertidur, Seongwoo dengan setia mengompres Jungkook. Daniel pergi mengganti baju. Taehyung masih memandangi Jungkook, tak tega rasanya melihat Jungkook seperti ini.

" Jangan merasa bersalah terus, pergilah ke apartemenmu, ambil apapun yang kau perlukan. Aku dan Daniel akan membeli makan malam, sudah jam sembilan dan kita belum makan sedikit pun. Aku juga akan membeli obat untuk Jungkook, cepat sana " usir Seongwoo. Taehyung menurut.

..

Sekitar lima belas menit pergi, Taehyung kembali. Meletakkan tas tempat barangnya di dekat nakas yang ada di dalam kamar minimalis itu.

" wanita itu ada disana, hyung ?" tanya Daniel. Taehyung menggeleng. Entah kemana perginya, dia belum ada di apartemen.

" Hm, baiklah. Kau bisa gantikan aku mengompresnya, kan ?" tanya Seongwoo, Taehyung mengangguk. Dan Taehyung di tinggalkan dengan Jungkook dikamar itu berdua.

" kau cantik sekali ! maafkan aku menampar wajahmu tadi" Taehyung mengelus pipi mulus tanpa noda itu. Jungkook masih tertidur.

Percaya atau tidak, mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Taehyung tertidur setelah memandangi Jungkook. Mereka bermimpi yang sama, teringat sewaktu kecil, saat Taehyung berusia 8 tahun dan Jungkook 4 tahun. Memiliki panggilan sayang, Taetae dan Kookie. Waktu itu Taehyung dibawa Baekhyun berlibur ke Busan, bertemu dengan Luhan, menginap beberapa hari disana. Sementara Jennie dan Bambam ikut dengan nenek mereka.

Taehyung dan Jungkook Saling berjanji kala kecil.

' Kookie cinta taetae?'

'cinta itu apa ?'

'cinta itu, Kookie sayang sekali dengan taetae, suka tertawa karena taetae, dan tidak mau taetae pergi'

'hm. Kookie cinta taetae, taetae jangan pergi. Disini saja dengan kookie'

' besok kalau sudah dewasa, Taetae akan menikahi Kookie, harus !'

'benar? Huh, Kookie tidak sabar. Menjadi istri Taetae dan kakak Bambam '

' Besok saat dewasa kita akan bertemu lagi dan Kookie tunggu Taetae melamar ya'

Jungkook mengangguk kala itu. Jangan salahkan Baekhyun dan Luhan yang membuat mereka bertunangan saat ini, bukankah mereka membantu Taetae dan Kookie kecil mewujudkan mimpi mereka sewaktu kecil?

Taehyung terbangun saat Daniel menggoyang-goyangkan tubuhnya. Mereka sudah pulang, dan mengajak Taehyung makan bersama.

" Maaf lama Tae, mengantri sekali !" ujar Seongwoo, Taehyung tidak merespon. Hanya langsung memakan makanan yang ada didalam piring. Sudah jam 10 ternyata.

" Tae, tunggu saja Jungkook bangun, berikan dia obat nanti , kalau ada apa-apa panggil aku saja atau Daniel" Taehyung mengangguk dan kembali ke dalam kamar. Meninggalkan pasangan itu yang sedang menonton televisi.

.

.

Jungkook meringkuk dalam tidurnya, dia merasa kedinginan. Taehyung yang awalnya masih sibuk mengganti kompres Jungkook, terkejut karena Jungkook yang memegang tangannya, dingin.

" Dingin… " kening Jungkook masih panas, tapi kenapa dia merasa kedinginan. Taehyung beralih keluar dan meminta selimut tebal kepada Seongwoo, sedikit berlari dan memasangkannya kepada Jungkook. Selimutnya sudah dua lapis dan Jungkook masih kedinginan.

" Dingin Tae.. dingin hiks " isak Jungkook. Jungkook membuka mata sayunya. Taehyung tak tahu harus berbuat apa. Merasa kasihan dengan Jungkook yang seperti ini.

" Maafkan aku, Jungkook !" lirih Taehyung. Taehyung membuka bajunya. Dia juga melakukan itu kepada Jungkook. Membuka baju dan celana piyama Jungkook. Taehyung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Jungkook dan memeluk tubuh yang menggigil itu.

Jungkook makin mengeratkan pelukannya, mencari sisi hangat dari tubuh Taehyung. Taehyung mengusap rambut Jungkook, bau lemon. Tangan Taehyung yang lain juga mengusap punggung polos Jungkook, berharap Jungkook tidak kedinginan lagi. Nafas Jungkook teratur, menandakan kalau ia tidur kembali. Taehyung menatap wajah yang sangat damai dalam tidur itu.

" Ternyata kita sudah dari kecil, kenapa aku baru ingat, Kookie ? Cepat sembuh, aku baru sadar jika aku mencintaimu, dari dulu" senyum Taehyung sebelum mengecup bibir Jungkook. Kalau saja mereka yang tidak tahu dan memergoki kamar itu, mereka akan menyangka Taehyung baru saja meniduri Jungkook.

.

.

Hoseok dan Jackson baru pulang dari club, mereka berencana akan mampir ke apartemen Taehyung, baru jam 12. Taehyung atau Daniel pasti belum tidur. Mereka berdua memang hafal password apartemen mewah itu.

" Oh My God !" teriak Jackson ketika memasuki ruangan tamu dan menemukan Nayeon yang sudah berantakan dengan make-up yang berantakan di wajahnya, dia mabuk.

" Hosikie, dia siapa ?" tanya Jackson. Hoseok yang ada di belakang Jackson juga sama terkejut.

" Omoo ! Nayeon, apa yang kau lakukan disini ?" Hoseok ataupun Jackson tidak mau mendekat kearahnya. Masih di posisi yang sama.

" Taehyung.. hiks.. mengapa dia memilih intern sialan itu dibanding aku, hiks.." Nayeon meracau, dia mabuk.

Jackson langsung menghubungi Daniel. Dia tidak mendapati siapapun disana kecuali wanita itu.

" Daniel, kau dimana ? kenapa ada wanita aneh disini"

/"memangnya kau dimana,hyung ?"

"Apartemen Taehyung"

/" Oh, wanita gila itu.."

" Kalian dimana ?"

/" Apartemenku,hyung. Tae-hyung juga disini. Jungkook sedang sakit "

" Kami akan kesana

/" Hyung, bawa Caramel dan Mocha "

"Wae? Kau tahu kedua kucing itu susah sekali ditangkap"

/" Nanti wanita itu bisa saja membunuhnya, cepat kemari"

" Wanita ini ? memangnya siapa dia ?"

/"Cepat saja, nanti aku ceritakan"

Sambungan telepon diputuskan. Jackson memberitahu Hoseok apa yang dikatakan Daniel. Dan mereka berdua terlibat acara berlarian menangkap dua ekor anak kucing yang ditemani wanita sedang menangis.

.

.

To Be Continued.

.

.


.Chapter 4 Up, hmmm…. Gimana gimana ?

Maaf review belum bisa balas nih,tetap dukung yaaa…

Sampai ketemu di next chap..

Aku menyayangi kalian.

.

.