Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. BXB , YAOI, MPreg

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.

.


.

.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

.


Chapter V : Second Chance!

.

.

Malam itu, Yoongi ditemani oleh Jin untuk rapat penting di sebuah hotel ternama. Rapat dan makan malam bersama kolega penting yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka. Saat ini mood Jin sedang berantakan, tiba-tiba saja Jimin saat di tengah jalan dari rumah sakit tadi merengek ingin makan ditemani oleh Namjoon, terselip cemburu sedikit. Jin kesal dengan kekasih Yoongi tersebut, Yoongi juga tidak mencegah hal itu terjadi. Terpaksa Namjoon tidak ikut kali ini. Padahal konsep rapat sebenarnya dikuasai oleh Namjoon tapi entah kenapa dapat di handle oleh pemuda pucat yang lebih muda setahun darinya itu.

Sementara di tempat lain, Namjoon dan Jimin sedang menuju ke salah satu tempat makan untuk bertemu dengan seorang wanita. Wanita yang memiliki cincin yang sama seperti di jari manis Namjoon. Gadis itu sudah sampai duluan menanti Namjoon.

Tadi sewaktu dijalan, Jimin meminta kepada Namjoon untuk berbicara bahasa Korea dengan tunangannya nanti saat bertemu. Jimin juga ingin tahu apa yang kedua orang itu bicarakan. Mereka berdua besar diluar negeri, sangat fasih bahasa inggris.

" Hyung, nanti bicara pakai bahasa korea, ya " pinta Jimin, Namjoon mendengus.

" Kenapa?" tany Namjoon.

" Biar aku tahu apa yang kalian bicarakan " sontak jawaban tersebut membuat Namjoon tertawa kencang.

Disinilah mereka, disalah satu restoran terkenal. Wendi menyambut mereka dengan senyuman yang sangat indah. Selama berpacaran tiga tahun dan bahkan sekarang mereka bertunangan, Namjoon dan Wendy tidak pernah terkena masalah yang sangat serius dalam hubungan mereka. Terkesan datar. Sangat berbeda yang dirasakan Namjoon saat bersama Seokjin, lelaki yang ia cintai diam-diam.

" Hi Honey !" Wendy memeluk Namjoon dan tersenyum kepada Jimin, menyilahkan kepada kedua orang itu untuk duduk.

" Oppa, How are you today ?" tanya Wendy.

" I'm Fine. Wendy, bisakah kita berbicara dengan bahasa Korea?" ujar Namjoon sesuai dengan permintaan kekasih Yoongi tersebut.

" Why ?" tanyanya heran.

" Jimin don't understand about that, so can we talk with Korean Language ?" tanya Namjoon kembali. Wendy melirik Jimin dengan senyuman yang masih sama seperti jadi. Jimin yang merasa dibicarakan tersenyum canggung kepada wanita cantik itu.

" Haha, baiklah-baiklah. Jadi bagaimana kalau kita dinner dulu sebelum membicarakan apa yang kau ingin bahas di telepon tadi, bagaimana Oppa ?" tanya Wendy. Namjoon mengangguk setuju. Mereka memesan makanan dan makan malam dengan tenang.

Setelah selesai, Wendy masih menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Namjoon, sementara dia juga ada yang ingin dia katakan kepada laki-laki Jenius itu, laki-laki yang dipuja banya karyawan wanita di Perusahaannya. Dia tidak ingin terlalu jauh dalam menutupi hal ini, Namjoon harus mengetahui segera sebelum pemuda itu sakit hati kepadanya.

" Oppa, boleh aku bicara dahulu ?" pinta Wendy. Namjoon mengangguk. Penasaran apa yang ingin dikatakan wanita yang masih berstatus tunangannya itu.

Wendy memperlihatkan sebuah foto di ponselnya kepada Namjoon, dan Jimin juga ingin melihatnya sehingga sedikit memajukan kepalanya ke samping, penasaran. Foto Wendy yang dengan seorang pemuda bule, terlihat bahagia sekali. Namjoon kenal siapa dia.

" Orlando ?" tanya Namjoon memastikan. Wendy mengangguk. Itu adalah sahabatnya, pemuda Amerika yang sudah bertahun-tahun berteman dengan Namjoon, dengan Wendy juga. Mereka bertiga bersahabat saat sekolah menengah pertama di Amerika.

" Orlando menyatakan cintanya kepadaku tahun lalu. Awalnya aku menolak. Tapi Orlando tidak menyerah. Maafkan aku Oppa ! aku mencintainya, bukan aku tidak mencintaimu lagi. Hanya saja aku merasa nyaman dengan dia. Awalnya aku sangat takut mengambil keputusan, tapi aku yakin aku juga mencintainya"jelas Wendy. Namjoon tersenyum.

Dia mengajak Wendy bertemu juga ingin membicarakan hal yang sama. Dia jatuh cinta kepada Seokjin bahkan bertahun-tahun yang lalu. Dia menyadari bahwa rasa cintanya kepada Wendy tidak sebanyak rasa sayangnya kepada Seokjin. Benar kata orang-orang, waktu kebersamaan sangat berpengaruh terhadap rasa seseorang.

" Gwaenchana Wendy-ah, aku senang kau jujur. Awalnya aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu. Aku ingin mengatakan jika aku mencintai orang lain" ucap Namjoon. Wendy mendongakkan kepalanya dan menatap Namjoon.

" Jinnie-oppa?" tebak Wendy. Lelaki manis yang selalu menghargai Wendy sebagai tunangan Namjoon. Menjamu Wendy dengan baik jika dia bermain ke kantor Namjoon dan menjadi teman ceritanya tentang keseharian Namjoon. Namjoon mengangguk lagi.

" Aku benar-benar rela melepaskanmu untuknya Oppa" lanjut Wendy. Memegang tangan Namjoon yang ada diatas meja. Perlahan melepaskan cincin dari tangan Namjoon, Namjoon juga melakukan hal yang sama.

Jimin dari tadi hanya menatap mereka dengan takjub kepada mereka. Pasangan yang jujur satu sama lain.

" Dan aku juga rela melepasmu untuk sahabatku, Wendy-ah. Katakan padanya ia hutang cerita padaku" tanggap Namjoon. Wendy terkikik mendengar ucapan Namjoon.

" Untuk selanjutnya, mari kita bertemu sebagai kakak dan adik , otte? can I get my last kiss as your fiance, Oppa?" pinta Wendy.

Namjoon berdiri, sontak Wendy juga berdiri. Menunggu Namjoon kearahnya. Sementara Jimin masih heran dengan apa yang akan dilakukan oleh pasangan itu.

Namjoon menangkup pipi Wendy. Wanita itu mengadah karena perbedaan tinggi mereka, dan Namjoon menempelkan bibir mereka. Awalnya tidak bergerak, kemudian Wendy melumat bibir Namjoon. Merasakan bibir itu untuk yang terakhir kalinya, biarlah sedikit panas. Jimin melongo mendapat tontonan gratis tersebut. Namjoon juga melumat bibir wanita yang pernah ia cintai itu, yang kini masih ia cintai hanya saja tidak sebesar dulu.

" Hah ! kau masih saja menjadi good kisser, Oppa !" puji Wendy. Namjoon memeluk Wendy, membenamkan wanita itu di pelukannya.

" Mataku ternodai hyung, noona " cemberut Jimin, dia jadi merindukan kekasih pucatnya. Namjoon dan Wendy tertawa.

" Sampaikan salamku kepada orangtuamu, sampaikan maafku karena tidak menjagamu sampai akhir " lirih Namjoon.

" Aku juga ! tidak kau saja yang salah Oppa. Ani, kita sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Terimakasih karena sudah berjuang denganku sampai sejauh ini" Wendy mengeratkan pelukannya.

" Baiklah.. pesawat Orlando akan landing sebentar lagi. Aku harus menjemputnya ke bandara, Oppa " ucap Wendy. Namjoon melepaskan pelukannya dan membiarkan wanita itu sedikit bersiap dengan mengambil tas dan ponselnya di atas meja.

" Okay.. perpisahan kita ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Hm, aku pergi.. Bye Oppa, Jimin !" pamit Wendy kepada mereka.

..

" Wah, benar-benar Daebak, hyung !" puji Jimin. Namjoon lagi-lagi mendengus geli karena antusias Jimin.

" Oh ya hyung, Yoongi-hyung dan Jin-hyung sudah selesai rapat, mereka sedang menunggu kita di hotel" lapor Jimin. Namjoon mengangguk.

" Chim, bisa kau telepon Yoongi-hyung ? aku ingin memastikan sesuatu, agar aku dapat melakukan langkah berikutnya " Jimin mengangguk, dan melakukan apa yang dikatakan oleh Namjoon.

/" ada apa, sayang ?"

" Namjoon-hyung ingin berbicara hyungie "

/" ada apa?"

" Bisakah kau memastikan tentang perasaan Jin-hyung, hyung ?"

/" Baiklah, jangan matikan teleponmu" Yoongi memang sedang berada di toilet saat Jimin-nya menelepon. Dia segera menuju Jin yang sedang duduk di sofa santai di lobby hotel tersebut.


" Yoon, kenapa mereka lama sekali ?" tanya Jin.

" Tunggu saja hyung. Oh ya hyung, kenapa mood-mu berantakan dari tadi ?" tanya Yoongi. Jin sedikit cemberut.

" Aku benci Namjoon!" ujarnya.

" Kau mencintainya ?" tanya Yoongi, sedikit menggoda.

" Huh, kau sok tahu. aku memang mencintainya. Tapi aku harus sadar bagaimana statusku, siapa aku dalam hidupnya. Aku hanya bisa mencintainya sepihak, Yoongi-ya" Jelas Jin. Tak apa cerita dengan Yoongi.

" Kenapa tidak kau nyatakan cintamu kepada Namjoon? bisa jadi dia juga mencintaimu " saran Yoongi, dia melirik ponselnya yang masih ditangan, masih tersambung dengan Jimin.

" Dia mencintai Wendy, tak mungkin mencintaku " jawab Jin. Setelah itu sambungan telepon tadi sudah diputus oleh Namjoon.

.

.

" Kajja Chim, kita pergi " Jimin yang sedang memakan ice-creamnya terpaksa ditarik oleh Namjoon.

" hyung ! ice-cream ku.." rengek Jimin, Ice-creamnya yang ketiga belum habis.

" Nanti aku belikan lagi, ayo temani aku ke toko perhiasan " ujar Namjoon bersemangat"

..

Setengah jam kemudian, Namjoon dan Jimin menghampiri mereka. Jin sudah hampir tertidur karena mengantuk.

" Lama sekali " celetuk Yoongi. Namjoon hanya menyengir.

" Iya lama sekali, kalian kencan dulu ?" tanya Jin curiga.

" Wah, Jin-hyung cemburu yaa.. " goda Jimin.

" Jangan salahkan aku hyung, kekasihmu memorotiku dengan meminta seember ice-cream saat mau kemari" jelas Namjoon, dia melirik Jin, lelaki manis yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

" Ini kunci mobilku, kau bawa saja " Namjoon melemparkan kunci mobil kepada Yoongi. Yoongi merangkul pinggang Jimin dan mengajaknya keluar dari hotel itu.

" Kenapa mereka pergi ? kenapa kita masih disini, Joon-ie?" tanya Jin heran. Namjoon menggenggam tangan Jin, langkahnya mengarah ke resepsionis. Berniat memesan kamar ekslusif malam ini untuknya dan Jin.

..

Mereka memasuki kamar mewah, tepatnya dengan Jin yang sedang di tarik Namjoon.

" Joon, kau tidak berpikir untuk mengajakku bercinta, kan ? Harusnya kita hentikan semua ini, kau memiliki Wendy, kau de—" ucapannya benar-benar terputus karena benda kenyal membungkam bibir merahnya. Namjoon membawa Jin ke kasur tanpa melepaskan tautan panas mereka. Jin di hempaskan oleh Namjoon ke kasur empuk tersebut.

" Joon-ie ?" raut memelas dari Jin sangat jelas saait ini. Tapi bukan Namjoon namanya jika tidak terangsang melihat pemandangan langka yang diciptakan oleh Jin. Namjoon langsung merangkah menaiki tubuh Jin, menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh itu. Membuka kancing kemeja pemuda yang lebih tua darinya itu. Menjelajahi leher putih tanpa noda, beralih ke nipple merah muda. Menghisap dengan kuat sehingga Jin meleguh nikmat.

" Joon-ieehh… ahhhnn.. "

" Wae, Jinnie ? kapan terakhir kita bercinta, hm ?" tanya Namjoon menggoda. Lututnya menggesek kejantanan Jin yang mulai menegang. Desahan merdu Jin membuat Namjoon terangsang, kejantanannya benar-benar membutuhkan Seokjinnya sekarang.

"Aku lupa.. ahhh.. Namjoon-ahhh.. " Namjoon memasukkan tangannya ke dalam celana Jin, menyapa kejantanan yang juga mengeras.

" Mau bermain?" goda Namjoon lagi. Jin hanya mengangguk pasrah, sungguh Namjoon adalah pemain yang sangat handal dalam urusan ranjang.

Entah sadar atau tidak, keadaan mereka sudah benar-benar polos tanpa pakaian satu pun. Jin berusaha sekuat mungkin menahan desahannya saat Namjoon melakukan pola menggunting menggunakan jarinya di dalam hole ketatnya.

" Mendesahlah sayang, kenapa menahannya " ujar Namjoon di sela-sela kegiatan lainnya, mengecupi leher dan cuping telinga Jin.

" Joonhh.. Jinjja! jangan mempermainkanku.. aaahhh… ahhnn.." lolos sudah desahan nikmat yang sangat ingin di dengar Namjoon dari tadi. Merasa sudah cukup, Namjoon mengocok sebentar kejantanannya sebelum memasuki hole Jin.

" Saatnya kau memasuki sarangmu" kata Namjoon kepada kejantanannya yang sudah sangat tegang.

Sekali hentak kejantanannya masuk ke dalam hole Jin, membuat Jin merintih sakit karenanya.

" Agghhh..appo Joon-ah " ringis Jin, Namjoon mengecup kening Seokjin, menggumamkan kata-kata penenang sebelum melanjutkan aktivitasnya.

" Bergeraklah Joon" ucap Jin. Namjoon yang mendengar kata sakti itu langsung melanjutkan aksinya. Menggenjot tubuhnya untuk mengeluar-masukkan kejantanannya. Jin mendesah kala Namjoon tepat menyerang titik nikmatnya.

" Ahhhnn.. aaahhh.. there Joon.. aaahnn.."

" disana, sayang ?"

" Hm.. fasterrr , aaahh.. aaahhh…."

Wajah cantik Jin jelas terlihat oleh Namjoon ketika dia berada diatasnya. Namjoon terus bergerak lebih cepat, Jin sudah tidak kuat hingga ia melepaskan cairannya dan menyembur ke arah perut Namjoon. Jin lelah tapi ia tidak mau puas sendiri, ia tahu Namjoon belum melepaskan hasratnya.

" Mau menungging ?" tanya Namjoon, Jin mengganguk dan mengambil posisi berbalik dan mengangkat bokongnya, kejantanan Namjoon belum keluar dari holenya, tumpuan ada pada kedua tangannya. Siap dengan posisi itu Namjoon kembali menggenjot Jin agar ia dapat orgasme dengan baik.

" Ahhnn.. ahhh,.. Namjoonie.. ahhh.."

" Ahh.. Jin-ah.. ahhh.,… holemu menjepit kejantananku, aaah…" Namjoon terus menggenjot dengan cepat, Jin tahu sebentar lagi Namjoon pasti akan melakukan pelepasan, ia merasakan kejantanan itu semakin tegang dan berkedut.

" Jinnie.. aahhh " akhirnya Namjoon mengeluarkan kejantanannya dan menyemprotkan maninya ke samping, agar tidak mengenai Jin.

Ia menghela nafas, menatap lelaki cantik yang baru saja bercinta dengannya. Ia menidurkan diri di samping Jin. Tersenyum kearah Jin yang menatapnya seolah mempertanyakan cintanya. Jin menangkup pipi Namjoon dan sedikit heran melihat jari manisnya sendiri, sejak kapan ada cincin disana?

" Joon-ah.. ini ?" tanya Jin sambil menatap cincin itu, tangan kanannya memutar cincin yang indah itu, serasi dengan tangannya yang lentik

" cantik, bukan ?" Namjoon mendekat ke arah Jin dan memeluk pemuda itu, mengamati Jin yang masih bingung. Jin memaksa melepaskan pelukan Namjoon dan menatap pemuda itu dengan tatapan ingin sebuah penjelasan.

" Namjoon-ah.. ini benar-benar salah. Aku tidak mencintaimu " tekan Jin, tentu saja dia berbohong.

" Jangan berbohong Jinnie, aku sudah memastikan kau mencintaiku makanya aku berani melakukan ini. Aku ingin kau menjadi milikku " jelas Namjoon.

" Ani ! Ani ! ini sangat salah. Aku tidak mau menyakiti Wendy, jangan lakukan ini " cegah Jin, dia benar-benar tidak ingin mengambil milik orang lain.

" Aku milikmu sekarang " ucap Namjoon cepat. Dia memperlihatkan cincin yang sama dengan Jin di jari manisnya, menggantikan cincin yang melekat selama beberapa tahun belakangan. Jin masih bingung, masih tidak mengerti.

" Ya sudah kalau kau tidak mau menjadi kekasihku, aku akan melepaskan cincinmu " rajuk Namjoon. Mengambil tangan Jin dan hampir melepas cincin di jari manis Jin. Jin langsung mengepalkan tangannya agar Namjoon tidak bisa melepasnya. Jelas dia melarang.

" Jelaskan apa maksudmu, Kim Namjoon " ucap Jin serius.

" Pertama berhenti merasa seolah-olah kau menjadi perebut, menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Wendy, arra ?" Jin mengangguk, menunggu kelanjutan kalimat yang akan dilontarkan Namjoon.

" Aku sudah putus dengan Wendy, memutuskan tali pertungan kami tadi sebelum bertemu denganmu. Bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa. Kami memutuskan hubungan dengan baik-baik. Panjang sekali ceritanya, lain kali akan aku ceritakan. Sekarang, Jinnie.. Kim Seokjin, aku mencintaimu.. Be Mine ? Forever Mine ?" Namjoon menyelami jelaga indah yang ada di depannya. Jin langsung memeluk tubuh tegap itu. Membenamkan tubuhnya ke dalam dada bidang Namjoon yang benar-benar akan menjadi miliknya.

" Mau, mau sekali Namjoon" suara Jin teredam disana, Namjoon terkekeh melihat tingkah kekasih barunya itu. Malam ini adalah malam terindah yang kesekian kalinya bagi Namjoon yang dapat ia nikmati bersama lelaki manis yang ia cintai, kekasih barunya.

" Namjoon-ah, kapan kau memasangkan cincin ini kepadaku ?" tanya Jin, masih menikmati pelukan hangat mereka di bawah selimut, tak berniat sedikit pun melepaskan diri.

" Tadi, saat kau sedang mencapai orgasmemu. Kau pasti tidak tahu karena kau sedang berada dipuncak kenikmatanmu, Jinnie-ku terlihat sangat cantik " goda Namjoon.

" Dasar Byuntae !" seru Jin yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Namjoon.

.

.

.

Jungkook terbangun ditidurnya tepat pukul setengah tiga pagi. Matanya mengerjap sebentar, merasa heran melihat tulang selangka yang penuh dengan butiran keringat, juga sebuah tattoo sayap di lengan kiri, sangat indah kalau ia boleh berpendapat. Jungkook mengadah melihat siapa yang memeluknya erat, Kim Taehyung. Jungkook membulatkan matanya, dia tidak memakai baju sama sekali. Sedikit mengintip ke dalam selimut, dia dan Taehyung sama-sama tidak memakai baju. Sial.

BRUK. Jungkook menendang Taehyung sampai pemuda itu jatuh kelantai dan tentu saja terkejut, memaksa nyawanya berkumpul dengan tiba-tiba.

" Yaa ! Astaga !" teriak Taehyung dengan suara serak, mengelus kepalanya. Benturan kepala yang mencapai lantai terlebih dahulu membuatnya meringis nyeri, ia yakin kalau itu akan berakibat adanya benjolan di kepalanya. Kemudian ia berdiri dari jatuhnya dan menatap ke arah Jungkook.

" Wae ?" tanya Taehyung dengan muka polosnya, rambut berantakan.

" Ya ! Kau ! apa yang kau lakukan kepadaku ?" Jungkook menaikkan selimutnya sampai ke bahunya, menyisakan leher dan kepalanya.

" Apa maksudmu ?" tanya nya lagi. Taehyung memungut bajunya yang berserakan dan memakainya asal, benar-benar kesal ia sekarang.

" Kau dan aku telanjang, kau pasti melakukan sesuatu kepadaku, kan ?" tanya Jungkook. Mukanya memerah, entah karena demam atau karena malu.

" Terus kenapa kalau aku melakukan sesuatu kepadamu? Kau kan tunanganku, jadi wajar " jawab Taehyung .

" Ya ! Kim !" teriak Jungkook kepada Taehyung. Jungkook sudah akan menangis karena jawaban Taehyung. Bagaimana jika ia ditiduri oleh Taehyung dalam keadaan dia yang tidak sadarkan diri. Dia benar-benar tidak mau itu terjadi.

" Wae ?" Taehyung juga balik berteriak. Dia mendekat ke arah Jungkook, sementara Jungkook berusaha untuk menjauhkan badannya.

" Cabul !" gumam Jungkook. Taehyung mendengus geli karenanya.

TUK. Taehyung menyentil dahi Jungkook. Dia benar-benar gemas sekarang. Jungkooknya benar-benar lucu.

" Dasar kau ini ! jangan bertingkah imut lagi " Taehyung memegang dahi Jungkook. Sudah tidak panas lagi.

" Syukurlah demammu sudah turun" Taehyung mengangkat dagu Jungkook. Mencium bibir yang tengah terbuka itu.

" Aku tidak mungkin mencabulimu saat tidak sadar, itu namanya pemerkosaan Bae " ucap Taehyung.

" Meskipun tubuhmu menggiurkan, membuatku tegang, aku ingin melakukannya saat kita sama-sama sadar, kalau sekarang kita lakukan bagaimana ?" Taehyung menaik turunkan alisnya, membuat Jungkook tersadar apa yang dikatakan pemuda yang ternyata sangat mesum itu. Jungkook memukul kuat bahu Taehyung.

" Sialan Kau !" ucap Jungkook. Taehyung tertawa, sangat menyenangkan menggoda Jungkook.

" Aku lapar" lanjut Jungkook.

" Terus kalau lapar ?" tanya Taehyung.

" Aku mau makan, pesankan aku makanan " ucap Jungkook lagi.

" Apa kau sedang mengigau ? sekarang pukul setengah tiga pagi. Ayo keluar, aku buatkan kau makanan " ajak Taehyung. Dia sudah berdiri. Jungkook hampir saja berdiri, kalau Taehyung tidak langsung mencegatnya.

" Kau yakin mau keluar telanjang begitu ?mau aku perkosa di dapur ? " ujar Taehyung dengan enteng, tanpa dosa. Jungkook melemparkan bantal ke muka Taehyung.

" Pergi kau keluar ! aku mau pakai baju " teriak Jungkook.

" Kookie kau yakin bisa pakai sendiri ? Padahal tadi aku yang membukanya, tubuhmu itu—" Taehyung membuat pola vertikal yang bergelombang dengan kedua tangannya.

" Ya ! kau mau kubunuh ? cepat keluar !" ucap Jungkook kesal. Taehyung mengalah dan pergi dari Jungkook. Taaehyung berniat meminjam dapur Seongwoo untuk membuatkan makanan sederhana yang bisa mengisi perut Jungkook. Wajar jika Jungkook terbangun dan lapar, dia belum makan dari kemarin sore.

Taehyung membuka kulkas dan melihat ada beberapa bahan makanan yang bisa ia olah. Dia ingin memasakkan Jungkook, walaupun sederhana setidaknya Jungkook bisa mengisi perutnya pagi ini.

..

Jungkook dengan pakaian yang sudah lengkap, piyama yang tadi dilepas Taehyung sudah melekat kembali di tubuhnya. Dia menatap Taehyung yang sedang memasak. Sangat cekatan. Kagum sekali pada laki-laki yang bisa memasak padahal ia sendiri tidak pernah menjamah dapur, ingatkan dia nanti untuk kursus memasak kepada eomma-nya atau Mommy-nya Taehyung.

" Kim !" panggil Jungkook. Taehyung hanya membalas dengan deheman, sebentar lagi omelette-nya akan matang.

" apa sayang ?" Taehyung meletakkan omelette itu di depan Jungkook, masih panas. Jungkook masih melihat makanan sederhana tapi menggugah seleranya itu. Jungkook memulai acara makannya, mengabaikan Taehyung yang memandangnya.

" Jungkookie !" Taehyung memanggilnya, Jungkook menatapnya sambil menguyah omelette yang sangat cocok dilidahnya itu. Dia akan memasukkan omelette buatan Taehyung ke dalam daftar makanan favoritnya setelah ini.
" Aku minta maaf " ucap Taehyung tulus.

" Maaf untuk apa ?" tanya Jungkook. Terlalu banyak rasanya salah Taehyung yang membuat si pemuda kelinci itu.

" Karena telah menyakitimu, karena telah menyakiti Wonie, karena terlambat mengingat jika dulu aku berjanji akan menikahimu " jelas Taehyung. Jungkook membelalakkan matanya, mana mungkin Taehyung juga mengingat tentang masa lalu mereka. Jujur saja, Jungkook juga baru mengingatnya ketika dia bermimpi tadi.

" Kau mengingatnya ?" tanya Jungkook penasaran. Taehyung mengangguk.

" Kau adalah cinta pertamaku, cinta yang sempat terlupakan " jawab Taehyung, Jungkook rasa bukan hanya Taehyung yang melupakan janji kecil mereka, tapi dia juga. Tapi sekarang mereka berdua sudah ingat tentang janji masa kecil mereka, tinggal mereka yang memutuskan akan di bawa kemana janji itu. Mewujudkan atau Melupakan.

" Kim—"

" –Jungkook, beri aku kesempatan kedua. Jujur aku ingin sekali memperbaiki apa yang sudah aku rusak, izinkan aku memperbaikinya dalam waktu yang tersisa " pinta Taehyung. Jungkook menatap omelette-nya. Bingung Taehyung menjadi seperti ini. Awalnya dia berpikir akan membatalkan saja pertunangan mereka karena Taehyung akan memilih wanita itu, Taehyung tidak memiliki cinta sedikitpun untuknya.

" Aku tidak berbohong untuk cintaku yang mulai tumbuh kepadamu" lanjut Taehyung. Jungkook menatap Taehyung, benar tak ada kebohongan disana.

" Hah ! kau menyulitkan keadaanku Kim. Kau berhasil membuatku tidak jadi menyerah atas cintaku kepadamu " jawab Jungkook. Ucapan Jungkook membuat Taehyung terperanjat, sungguh Jungkook benar-benar memberikan kesempatan kedua kepadanya.

" Sekali lagi kau menyakitiku, kita berakhir. Walaupun belum berakhir 100 hari kita " ancam Jungkook. Taehyung mengangguk, berlari ke arah Jungkook dan memeluk Jungkook yang tengah duduk itu. Kepala Jungkook berada di perut Taehyung yang tengah berdiri, Jungkook juga melingkarkan tangannya di pinggang Taehyung.

" Gomawo.." bisik Taehyung.

.

.

Pagi hari mereka kembali ke apartemen mereka, meninggalkan apartemen Daniel tanpa pamit. Pemilik apartemen itu masih bergumul, mungkin malam tadi mereka menikmati malam mereka dengan panas. Taehyung merangkul pinggang Jungkook, sementara Jungkook membiarkannya, biarkan saja Taehyung senang. Caramel dan Mocha mengikuti mereka dari belakang. kedua kucing kecil itu berlari mengikuti sambil bergelut.

" Kim, wanita itu masih di apartemen ?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk.

" Kau mau aku mengusirnya ?" tanya Taehyung. Jungkook mendengus mendengar pertanyaan Taehyung.

" Biarkan saja, memangnya kau tega mengusir wanita yang bertahun-tahun kau cintai ? wanita yang lebih kau percaya dibanding hyung-mu sendiri " sindir Jungkook, menohok sekali.

" Jangan diungkit masa lalu, aku hanya akan mencintaimu sekarang, besok, dan selamanya " Taehyung mencium tangan Jungkook, tepat pada bekas tusukan jarum-jarum yang mungkin menyakiti pemuda imut itu. Jungkook ingin menarik tangannya namun dicegah oleh Taehyung.

" Aku sudah mengetahui tentang dialisismu itu, jangan ditutupi. Aku akan melindungi dari sekarang " ucap Taehyung. Apa Yoongi menceritakan semuanya kepada Taehyung ?"

" Kim, apa kau dan Yoongi-hyung ?" tanya Jungkook.

" Aku sudah berbaikan dengannya, dengan hyung-ku ! dan aku mencintaimu" jawab Taehyung. Jungkook hanya diam, berpikir Taehyung dan Yoongi-hyung yang berbaikan, kenapa dia tidak tahu.

" Kenapa aku tidak tahu ?" tanya Jungkook.

" Kau terlalu memikirkan Wonie ya ? sampai-sampai kau tidak ingat aku dan Yoongi-hyung keluar, bahkan Namjoon-hyung, Jimin, Daniel juga ikut " jawab Taehyung. Jungkook menggeleng, ia hanya ingat kemaren dia menangis sesegukan karena Jiwon yang sakit.

Mereka sampai di depan apartemen, setelah memasukkan password, mereka berdua masuk. Bau alkohol menyerbak di ruangan tamu, menggeleng melihat wanita yang berantakan iu. Nayeon dengan pakaian minim tidur di sofa. Taehyung mengeluh karena itu, berlalu ke kulkas untuk mengambil air karena dari tadi dia memang haus. Jungkook melirik sebentar, berniat tidak mau memperdulikan wanita yang membuat Wonie itu sakit.

" Kau selimuti dia, kau tidak kasihan dengan wanitamu ?" sindir Jungkook.

" Tidak mau " jawab Taehyung, merangkul Jungkook kembali. Ingin membawa pemuda kelinci itu ke kamar, menikmati waktu pagi berdua. Berbicara mengenai kebiasaan masing-masing agar dapat lebih mengerti satu sama lain.

"Kau benar-benar tidak berniat ? menyelimuti dia tidak akan mengurangi cintaku kepadamu " Jungkook menatap Taehyung, Taehyung malah menyambar satu kecupan dari bibir Jungkook.

" Tidak. Mau. Aku tidak mau, biarkan saja dia. Ayo masuk kamar " Taehyung dan keras kepalanya yang tidak bisa dibantah. Jungkook hanya menggeleng dan mengikuti Taehyung karena tangannya ditarik Taehyung.

Ponsel Jungkook di nakas berbunyi, satu pesan masuk dari seseorang. Eunwoo. Jungkook membiarkan Taehyung membuka pesan tersebut.

'Jungkook, aku dengar kau sakit. Aku sangat khawatir, apa kau baik-baik saja ?'

Rahang Taehyung mengeras. Satu saingannya telah tampak, ini benar-benar sebuah perang untuk mendapatkan kemenangan hati Jungkook. Taehyung harus menyiapkan kekuatan hatinya setelah ini.

.

.

To Be Continued.

.

.

Hai.. hai.. up nih..

Rate M Taekook belum yaaa.. Namjoon menang waktu suit sama Taehyung, jadinya pasangan Namjin yang duluan.

See ya next chap yaaa..

.

.

Aku menyayangi kalian semuaaaa…

.

.

.