! Jika ada keasamaan cerita, tempat, dll. Hal tersebut tidak disengaja !

Author : R

Main pair : YeWook

Side pair : -

Cast : Kim Jong Woon (Yesung), Ryeowook (Kim Ryeowook), Heechul (Kim Heechul), others.

Rate : T

Genre : Romance & Drama

WARNING : Yaoi , Typo, OOC, BL, BxB, cerita biasa saja, aneh, pasaran, badfic, alur cepat, dll.

FANFIC INI PERNAH KU UPLOAD DI WATTPAD, BAGI YANG PERNAH MEMBACANYA ATAU MERASA FAMILIAR DENGAN CERITA INI, ITU BUATANKU JUGA. TERIMA KASIH.

! hanya meminjam nama tokoh dan tidak ada kebencian pribadi yang ditujukan kepada siapapun dicerita ini !

!

2 menit lagi bus akan tiba.

Tapi Ryeowook terlihat masih berada sejauh 5 meter dari tempat dimana halte bus berada. Ia berlari sekuat tenaga dengan sandwich di mulutnya dan blazer yang belum sempat dikenakannya berada di tangan kirinya. Penampilannya terlihat kacau dan berantakan. Bahkan rambut yang biasanya tertata rapi kini terlihat berantakan. Kantung matanya terlihat sangat jelas, menandakan kalau ia kurang tertidur semalaman.

Ryeowook mengembuskan nafasnya dengan lega saat ia berhasil menaiki bus-dengan jurusan ke arah kantornya-di detik terakhir. Ia melihat sekelilingnya untuk mencari tempat duduk. Sayang sekali bus sedang sangat ramai di jam kerja seperti pagi ini. Ia mendesah dengan lelah, lalu memakan sandwichnya dengan santai, sedangkan tangan kanannya berpegangan pada handle grip yang berada di atas kepalanya.

Ini semua karena semalaman ia melakukan aktifitas hingga larut dan hanya sempat tertidur 1 jam di pagi hari, dan semuanya menjadi lebih kacau saat ia terlambat bangun.

Ponselnya berbunyi tepat saat ia selesai menghabiskan sandwichnya. Ia mengambil ponselnya di kantung celana lalu mendumal dengan jengkel saat melihat nama si penelepon di kontaknya.

'Boss'

Itulah nama yang tertulis di ponselnya. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengangkat teleponnya dengan enggan.

"Dimana kau?!" Ryeowook menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia mendenguskan nafasnya.

"Di bus." Jawabnya dengan singkat tetapi sopan, tentu saja ia masih waras. Sekesal-kesalnya ia dengan boss nya itu, ia masih ingin bekerja di perusahaannya. Kalau tidak, darimana ia akan mendapatkan uang untuk kelangsungan hidupnya?

"Untuk apa kau di bus?!" Ryeowook menatap ponselnya dengan heran. Untuk apa? Apa bossnya ini bodoh atau gimana?!

"Tentu saja untuk berangkat ke kantor." Jawabnya dengan sedikit tidak sabaran. Lagian bossnya ini ada-ada saja.

"Turun saja di halte berikutnya." Ucap boss nya itu, membuatnya kembali terheran-heran. Apa boss nya salah makan di pagi hari ini?

"T-tapi..." "turun saja!" Ucapannya dipotong dengan tegas oleh bossnya dari seberang telepon.

"Baiklah." Ia mengalah. Lalu ia turun dari bus itu 1 menit setelahnya, masih dengan panggilan telepon dari bossnya yang tersambung di ponselnya.

"Aku sudah turun." Ucapnya masih dengan kebingungan.

"Duduklah di halte itu, tunggu bus yang mengarah ke apartemenmu." Jawab bossnya dengan santai dari seberang line.

"Apa maksud anda?!" Ryeowook tidak dapat menahan kejengkelannya. Ia sudah susah payah berlari dan menaiki bus sebelumnya agar tidak terlambat, bahkan ia hanya sempat mencuci wajahnya dengan air sebelum berlari menuju halte agar tidak terlambat sampai kantor, tapi apa-apaan si boss sinting ini?! Menyuruhnyaa kembali ke apartemen?!

"Duh, maksudku sudah jelas, kan? Kembali lah ke apartemenmu." Jawab bossnya yang memang tempramental itu dengan sedikit jengkel.

"Tapi kenapa, Heechul hyung?" Ryeowook yang jengkel dan kebingungan memanggil nama boss nya itu dengan panggilan casualnya saat mereka sedang tidak berada di area kantor.

"Karena kau kupecat." Jawab Heechul dengan santainya. Bahkan Ryeowook dapat mendengar suara permen karet yang ditiup menjadi balon dan dipecahkan kembali oleh Heechul diseberang telepon.

"Kau bercanda?" Ucap Ryeowook dengan kesadarannya yang belum terkumpul dengan sempurna. Apa ini halusinasinya karena kekurangan jam tidur?

"Tidak." Jawab Heechul, "tapi apa kesalahanku?" Tanya Ryeowook dengan tidak percaya. Seingatnya ia selalu melakukan pekerjaannya dengan baik, bahkan ia sampai rela menginap dikantornya beberapa hari untuk menyelesaikan suatu project bersama Heechul dan teman-teman kantornya yang lain.

"Tanya Jongwoon. Sudah ya." Heechul mematikan teleponnya secara sepihak. Meninggalkan Ryeowook yang masih terbengong dengan tidak percaya. Ia bahkan melewatkan bus tujuannya yang barusan berhenti di depannya karena malamun.

!

Ryeowook kembali ke apartemennya dengan penampilan lebih berantakan dari sebelumnya. Ia membuka pintu apartemennya setelah mengetikan password lalu melepas sepatu yang ia pakai pada rak di samping pintu.

Jam menunjukkan pukul 7.16 malam. Ia menghabiskan waktu di mini market dekat halte yang menjadi saksi bisu saat dirinya di pecat via telepon. Sangat tidak elit. Untuk apa selama ini ia bekerja keras hingga berkeringat darah kalau akhirnya hanya akan dipecat dengan cara seperti itu. Berkali-kali ia memutar otak memikirkan setiap tindakan yang ia rasa menjadi penyebab ia dipecat dari perusahaannya, tapi ia menemui jalan buntu. Bahkan Jongwoon tidak mengangkat teleponnya sejak pagi ini.

"Aku pulang." Ucap Ryeowook pada kesunyian apartemennya sambil melemparkan tubuhnya ke atas sofa. Ia baru menyadari kalau ternyata ia sangat lelah.

"Ryeowook? Darimana saja kau?" Ryeowook yang hampir saja tertidur terusik dengan sebuah suara yang sangat ia kenal. Dengan susah payah ia membuka kedua matanya yang sudah terasa sangat berat, seperti ada perekat kasat mata yang menahan kelopaknya.

"Hyung!" Ryeowook tersentak dan mengubah posisinya menjadi berdiri di hadapan pria itu dengan cepat, rasa kantuknya langsung menghilang begitu saja, "Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?! YaTuhan, rasanya aku sudah mau mati kebingungan dengan semua hal yang tiba-tiba ini! Jelaskan kepadaku apa alasan aku dipecat dari perusahaan hyung-mu?"

"Maaf, aku sedikit sibuk hari ini." Jawab Jongwoon dengan wajah datar yang tidak biasa itu. Biasanya Jongwoon akan menyambutnya dengan serekah senyum dan pelukan serta ciuman di setiap inci wajahnya.

"Baiklah, aku mengerti." Jawab Ryeowook setelah sudah merasa bisa mengontrol sedikit emosinya, "tapi apa alasanku dipecat dari perusahaan? Heechul hyung bilang aku harus bertanya padamu apa alasannya." Ryeowook tidak dapat menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.

"Maaf Ryeowook. Kita sudah bukan sepasang kekasih lagi." Jongwoon menatap tepat langsung ke kedua mata Ryeowook yang sekarang terbelak dengan sempurna. Apa lagi ini?

"M-maksudmu?" Tanya Ryeowook yang masih shock dengan pernyataan Jongwoon.

"Kita sudah selesai sebagai sepasang kekasih, Ryeowook. Ini sudah selesai." Jongwoon menatap kedua mata Ryeowook dengan yakin.

"Apa aku sedang berulang tahun?" Ryeowook menatap Jongwoon dengan matanya yang memerah. "Kalian mengerjaiku, kan? Apa sehabis ini akan ada terompet yang mengagetkanku, a-atau tiba-tiba keluar badut dari arah dapur? Kau pasti bercanda kan, hyung?!" Ryeowook mengguncang bahu Jongwoon dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca.

"Tidak, Ryeowook." Jawab Jongwoon dengan datar. Habis sudah pertahanan Ryeowook. Ia mendudukan dirinya di atas sofa dengan pelan sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi olehnya. Ia sudah tidak peduli pada umurnya yang sudah berusia 27 tahun. Ia hanya ingin menangis dengan keras hanya untuk saat ini.

"A-apa hiks... salahku?" Ryeowook menatap Jongwoon dengan tatapan matanya yang tersirat akan luka dan kekecewaan.

"Kau tidak memiliki kesalahan apapun, kau sempurna. Aku hanya tidak ingin menjadi kekasihmu lagi. Kau terlalu sempurna untuk menjadi kekasihku." Jawab Jongwoon dengan sekali hembusan nafas, tanpa keraguan dalam nada suaranya, tanpa adanya nada penyesalan karena menghancurkan hatinya. Terlalu sempurna ia bilang?! Terlalu sempurna adalah kesalahan?!

Ia tidak habis pikir. Menjalin hubungan selama hampir 10 tahun dengan Jongwoon dari mereka duduk di kursi High School sampai mereka kuliah dan bekerja. Lalu sekarang Jongwoon memutuskan hubungannya karena ia terlalu sempurna katanya. Sangat kekanak-kanakan. Kenapa tidak dari saat hubungan mereka masih seumur jagung saja Jongwoon mengakhiri hubungan ini? Kenapa baru sekarang? Dengan usia yang sudah hampir menginjak kepala tiga, tidak seharusnya Jongwoon memutuskan hubungan mereka dengan cara seperti ini. Selama ini apa arti dirinya untuk Jongwoon? Pemuas seks atau apa? Dan jangan bilang alasan Ryeowook dipecat dari perusahaan kakaknya, Heechul. Hanya karena hal ini? Sangat kekanak-kanakan dan menyedihkan! Ini sangat memalukan! Sangat tidak profesional!

"Lalu inikah alasanku dipecat dari perusahaan kakakmu?!" Ryeowook menatap Jongwoon dengan wajahnya yang basah oleh air mata.

"Ya." Jawab Jongwoon dengan singkat. Hati Ryeowook menjadi sangat sakit.

"Begitukah? Kenapa kau mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan?! Sangat tidak profesional dan kekanakan!" Ryeowook kembali berdiri dan menatap Jongwoon dengan marah, walau air matanya yang masih mengalir tidak dapat dikontrol olehnya.

"Apa jangan-jangan selama ini sebenarnya kau menganggapku hanya sebagai seorang murahan hingga kau melakukan hal ini padaku sekarang?" Ryeowook menatap Jongwoon lebih sendu dari sebelumnya saat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Hatinya bertambah sakit saat Jongwoon tidak mengelak ucapannya, ia hanya terdiam sambil menatap wajah Ryeowook dengan datar.

"Ini sakit sekali." Gumam Ryeowook dengan pelan sambil meremas bagian depan kemejanya dengan erat. Ia menunduk, tidak peduli jika Jongwoon saat ini melihat dirinya yang hancur dan kacau, ia bahkan tidak menahan tangis dan isakannya. Ini terlalu sakit.

"Maafkan aku. Kau pasti sangat sakit." Bisik Jongwoon yang berada tepat di depannya.

"Kau benar-benar kejam! Kau sangat kejam!" Ryeowook mengangkat wajahnya dan menatap Jongwoon. Meskipun ia marah dan kecewa, tidak dapat dipungkiri ia masih menatap si pemilik wajah tampan itu seperti beberapa menit sebelum seluruhnya kandas. Ia sangat mencintai namja di depannya.

"Apa salahku!? Hiks... Aku begitu mencintaimu, kenapa aku begitu bodoh sampai aku tidak menyadari kalau ternyata kau-"

"Aku lebih mencintaimu." Jongwoon memotong ucapan Ryeowook. Ryeowook mendongak. Ia tidak mengerti, apa sebenarnya yang diinginkan namja ini?!

"Kau berbohong! Kalau kau memang mencintaiku lebih besar dari cintaku kepadamu, kenapa?! Hiks... kenapa!" Ryeowook memukul dada namja di depannya dengan frustasi.

"Karena aku mencintaimu, makanya aku melakukan ini semua." Jongwoon menjawab.

"Tidak masuk akal! Kau pasti sedang mempermainkanku sekarang! Hikss... cukup!" Ryeowook menjatuhkan tubuhnya yang memang sudah lelah dan lemas karena menangis kepada Jongwoon yang dengan sigap menahan tubuhnya.

"Aku sedang tidak mempermainkanmu." Jongwoon menangkup wajah Ryeowook agar menatapnya.

"Lalu apa mak- hmphh..." Jongwoon melumat bibir Ryeowook dengan lembut.

"Aku sudah tidak ingin menjadi kekasihmu." Ucap Jongwoon saat ia melepaskan lumatannya, wajah mereka berdua sangat dekat dengan satu sama lain.

Cukup! Ryeowook sudah tidak butuh Jongwoon untuk mengucapkannya lebih jelas lagi. Semuanya sudab cukup! Ryeowook sudah siap melontarkan kata-katanya dengan marah, tetapi Jongwoon lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat kedua matanya terbelak lebih lebar dari sebelumnya.

"Jadilah pendamping hidupku, menikahlah denganku, menjadi bagian hidupku hingga akhirnya, membangun keluarga kecil kita sendiri, melewati segala hal bersama, berada di sisi satu sama lain sampai kita tua nanti. Bersumpah untuk selalu bersama. Kim Ryeowook, dari dulu sekali aku melihat kau yang sangat sempurna melebihi apapun. Bahkan kau bertambah sempurna seiring waktu berlalu, hingga di satu titik aku menyadari kalau kau sudah terlalu sangat sempurna untuk hanya menjadi kekasihku, aku menyadari kalau kau sudah siap dan sangat sempurna untuk menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Jadi, ayo kita mengucapkan janji suci untuk berasama selamanya?" Jongwoon menangkup wajah Ryeowook dengan kedua tangannya. Ryeowook dapat melihat tatapan ketulusan, kejujuran, dan penuh cinta yang Jongwoon siratkan padanya.

"Kau jahat! Hikss..." Ryeowook menerjang Jongwoon dengan pelukannya hingga mereka berdua terjembab keatas sofa karena Jongwoon yang tidak siap. Jongwoon tertawa sambil membalas pelukan Ryeowook dengan erat.

"Kau hampir membuatku hancur!" Gumam Ryeowook masih sambil sesengukan dalam pelukan Jongwoon, kali ini adalah tangisan bahagia yang ia keluarkan.

"Apa kau menerimaku?" Tanya Jongwoon sambil menatap wajah Ryeowook yang ada di pelukannya.

"Tentu saja." Jawab Ryeowook dengan malu sambil menyembunyikan wajahnya pada dada Jongwoon.

"Tapi kenapa aku dipecat?!" Ryeowook kembali menatap Jongwoon dengan tatapan tidak terimanya.

"Kau sudah akan menjadi istriku sebentar lagi! Kau tidak perlu bekerja lagi, kau hanya perlu mengurus pekerjaan rumah tangga dan melayaniku!" Ucap Jongwoon dengan smirk mencurigakan di akhir kalimatnya.

"Minggu depan ya, sayang. Aku sudah menyiapkan semuanya."

"Secepat itu?!"

"Ya. Aku sudah merencanakannya dari awal tahun lalu. Aku sangat sangat mencintaimu!"

"Baby, untuk merayakannya bagaimana kalau-"

"Tidak! Aku mengantuk, aku ingin tidur! Coba kau bilang dari semalam kalau pagi ini aku akan dipecat! Aku jadi tidak perlu mengerjakan tugas kantor hingga pagi tadi!"

END

!

Aku mempost chapter ini hanya untuk mengisi waktu luang dan kerinduanku dengan couple ini.

Terima kasih untuk semua yang me-review di chapter yang kemarin. Jujur saja aku tidak menyangka kalau akan ada yang membaca ff Yewook buatanku.

Readerjamanold sama! Aku juga sudah lama sekali gak baca ff Yewook, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kalau author Yewook akan kembali lagi huhuu :"((( dan terima kasih sudah meninggalkan review!

KimHyeNi 100% SETUJU! YEWOOK FOR LYFEE!

Ryu terima kasih banyak ^^

SantyMulyanti95 iya betull dulu pasti selalu gitu btw, terima kasih sudah meninggalkan review!

Aleina8 samaa aku juga :'( terima kasih sudah meninggalkan review!