Oke.. sebelumnya aku minta maaf ya.. gk update kilat kayak sebelumnya. Karena.. pertama, azka lagi bayak acara keluarga. Kemarin aja harus rela di dalam kereta 7 jam dan perjalanan malam. Kedua, oke ini sebetulnya aneh karena sebenarnya 'Aku juga bingung sama alur ceritaku!'
hah... aneh kan? Siapa yg bikin coba? -" tapi akan aku usahakan jadi deh.. mungkin alur cerita ini bakal berbelit. Dan chap yg sangaaaat panjang. Hehe..
oiya.. karena seblum"nya sangat pendek, jadi anggap aja itu masih teaser ya? Yaah~ and the story begin, now!
Enjoy~^^
After a Minute
YeWook
Warn : GS, Typo, Alur berantakan.
The person is not mine. But the story always be MINE! :D
Disarankan untuk perhatikan baik-baik tanggal nya~ takut bingung. :)
Bukankah hal itu akan jadi menyenangkan?
Keluarga..
Liburan..
apa yg kalian fikirkan tentang itu sebelumnya?
Dan pernakah kalian berfikir bahwa itu akan menjadi perpisahan dan pertemuan sekaligus?
Perpisahan dengan keluarga..
dan pertemuan dengan satu kata yg tak bisa kuucapkan.
Mungkin kalian selalu mengatakannya dan berfikir itu adalah perasaan yg membuatmu nyaman, hangat, dan tenang sekaligu.
Dengan memancarkan kebahagiaan yg sulit orang lain dapatkan.
Tapi yang terjadi denganku adalah..
satu kata itulah yg membuat ku harus merasakan kehancuran..
France, 15 Mei 2000
Brakk!
"Appa! Aku siap!" Gadis kecil itu berteriak sambil berlari menuruni tangga. Tangannya menggeret koper kecilnya. Jelas saja. Untuk seumuran dia, semua barang pasti dibawa oleh orang tua nya, bukan?
Sang ayah tersenyum. "Aigoo.. cantik sekali anak appa. Memangnya kau mau kemana, chagi?"
gadis kecil itu merenggut. "appa.."
"sudahlah Yunnie.. jangan terus kau goda Wookie. Kasihan dia.. bagaimanapun juga ini liburan pertamanya" seorang wanita berjalan mendekati anaknya lalu menggendongnya. Ia mencubit hidung anaknya dengan gemas.
"cha.. kalau begitu ayo kita pergi. Kajja Boo.."sang ayah memasuki mobil disusul ibu dan anak itu.
ya.. hari ini keluarga kecil itu memtuskan untuk berlibur ke tempat yg sebenarna sangatlah jauh. Namun, disanalah tempat mereka seharusnya. Tempat kelahiran mereka. Tempat yg menaruh berbagai kenangan.
Dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai bandara dan menaiki pesawat. Karena pesawat itu memang dikhususkan untuk mereka.
"Eomma.."
"ne, chagi? Ada apa?"
"Halmeonie dan harabeoji itu seperti apa? Apa mereka orang yg baik?" Sang ibu tersenyum menatap anaknya. Memandang mata biru anaknya yg sangat berbeda itu dengan gemas.
"kau kan bisa melihatnya nanti jika sudah sampai, Wookie.."
sang anak kembali merenggut kesal. "tapi aku ingin tau dari eomma dulu. Agar nanti aku tidak perlu bersikap memalukan seperti kemarin."
"siapa yg bilang kau bersikap memalukan, chagi?"
"Siwon oppa."
Kali ini sang ibu tertawa kecil. Tangannya terulur mengelus lembut kepala sang anak.
"Helmeonie dan harabeoji itu orang yg sangat baik. Mereka sangat sayang kepadamu. Makanya mereka ingin kita pulang berlibur kesana. Jadi Wookie tidak perlu bersikap canggung lagi."
mata biru sang anak mengerling senang. "benarkah?"
sang ibu mengangguk. "tentu saja."
kepala gadis kecil iu beralih menatap pemandangan langit. "aku tidak sabar untuk bertemu mereka, eomma."
.
.
.
.
Seoul, 15 Mei 2012
Tap.. Tap.. Tap..
"oppa!"
Pria yg merasa dipanggil iu segera berbalik dan melihat yeoja yg sedang berlari kearahnya. Ia mengernyitkan keningnya, bingung. Kenapa yeoja itu harus berlari? Adakah yg penting?
"oppa.. hosh..hosh" yeoja itu membungkuk sejenak. Menetralkan nafasnya yg terengah.
"ada apa, Wookie?" Ryeowook mulai berdiri dan menatap pria di depannya. Tangannya terulur memberikan bag yg tadi diterimanya untuk diberikan kepada namja ini.
"Abeoji bilang oppa pasti membutuhkan ini. Jadi aku disuruh memberikannya kepada oppa secepatnya. Huft.. menyusahkan saja."Ryeowook menghembuskan nafasnya kesal. Sedangkan pria itu mrngecek bag itu. Kepalanya mengangguk meng'iya'kan ucapan ayahnya yg baru saja diucapkan yeoja di depannya.
"yasudah. Kau kembali saja ke kelas mu, Wookie. Oppa yakin dosen selanjutnya sudah datang."ucapnya. Tangannya yg kosong mengusap kepalanya lembut. Membuat yeoja itu merasa nyaman.
"dan gomawo.."kini senyum pria itu mereka. Semakin membuat yeoja itu tersipu.
"ne, arraseo.. annyeong, Kim seosangnim"yeoja itu membungkuk lalu pergi dengan wajah yg memerah. "aissh.. neo baboya, Lee Ryeowook"
Bagaimana bisa ia masih bersikap malu di depan pria tadi yg jelas-jelas selalu bersamanya?
Tak ingin berlama-lama dengan perasaan itu, Ryeowook segera memasuki kelasnya. Mulutnya masih saja bergumam merutuki dirinya yg bersikap memalukan itu. Tanpa sadar bahwa orang disebelahnya menatap dirinya dengan aneh.
"neo baboya, Lee Ryeowook.. jeongmal babo!"
"Ryeowook-ah!" Sebuah teriakan sukses membuat Ryeowook tersadar dan mendelik kesal kesebelahnya.
"ya! Bisakah kau tidak berteriak, Lee Hyukjae?" Yeoja yg dimarahi itu malah tertawa.
"kau kenapa? Datang-datang dengan muka merah dan marah-marah tak jelas. Dasar.." Ryeowook diam. Apa ia terlihat begitu aneh tadi?
"dan lagi.. berkata seolah-olah kau seumuran denganku? Ya! Kemana Lee Ryeowook yg tadi pagi menemaniku dengan sopan?" lanjut Hyukjae yg langsung membuat Ryeowook semakin terdiam dengan pikirannya.
"apa jangan-jangan kau menemui Seosangnim kesayanganmu itu? haha"tanya Hyukjae. Wajah Ryeowook kembali memerah. Dan sepertinya kali ini kau benar, Lee Hyukjae.
"haha.. Ryeowook-ah.. kau itu terlalu polos atau bagaimana? Dia kan selalu ada setiap hari. Harusnya kau terbiasa.. kenapa masih malu-malu seperti ini? haha"Sepertinya Hyukja sangat menikmati untuk menggoda Ryeowook. Lihat saja. Kini wajah yeoja kecil itu sudah sangat merah. Bahkan sampai ke telinga. Mata biru memandang tangannya yg terdapat cincin.
ya.. berdo'alah dosen segera masuk agar kau berhenti dipojokan seperti itu, Lee Ryeowook.
.
.
.
"Kim Seosangnim. Kau sudah tidak ada kelas hari ini?"pria yg ditanya menggeleng kecil.
"tidak ada, seosangnim. Memangnya ada apa?"
"ah.. aniya. Katanya kau akan berhenti dalam waktu dekat ya? Apa itu benar?" Pria yg disebut 'Kim Seosangnim' itu hanya mengangguk dengan senyum tipis. Ia selalu merasa tak nyaman jika ditanyai pertanyaan seperti itu.
"memangnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri? Apa gaji disini kurang untukmu?"pria tua itu terus saja menanyakan pertanyaan yg sebenarnya sangat melenceng dari alasan 'Kim Seosangnim' itu.
Bukan. Bukan masalah gaji. Jika gaji, ia bahkan telah mendapatkannya berkalilipat dari pada gaji nya disini.
"ah.. bukan apa-apa, seosangnim. Hanya saja.. aku butuh ketenangan dalam jangka waktu yg lama."ucap nya memberikan alasan yg sedikit masuk akal untuk diberikan kepada pria tua ini.
Pria tua itu tersenyum kecil. Tangannya menggenggam tangan Kim seosangnim itu erat.
"ingatlah.. jika kau sudah tidak kuat dengan masalah itu, aku masih ada untuk kau cerita, Jong Woon-ah.. " Jong Woon tersenyum.
"ne.. gomawo, Seosangnim."
.
.
.
.
Incheon, 17 Mei 2000
"Selamat datang, tuan, nonya, dan nona muda." Seluruh maid dan pekerja di mansion itu membungkuk hormat. Memberikan sambutan kepada majikannya yg telah lama tak pulang itu.
"eomma.. dimana Halmeoni dan harabeoji?"
Gadis kecil itu menarik baju ibunya. Merasa risih jika ada yg membungkuk hormat kepadanya. Jelas saja, jika dirumahnya ia selalu menyuruh kepada semua nya agar tidak seperti itu. Bagaimana pun juga harusnya ia yg menghormati mereka karena mereka lebih tua daripadanya.
Sang ibu menatap salah satu pelayan. Seakan mengerti, pelayan itu menjawab. "Tuan dan nyonya besar sedang berada di ruang baca, nyona"
"Kau dengar itu sayang? Kau ingin kesana?"
Gadis kecil itu mengangguk mantap. "Tentu saja!"
Sang ayah segera mengangkat anaknya kedalam gendongannya. "cha.. kalau begitu tunggu apa lagi? Aegya appa ini sangat cantik. Halmeoni dan harabeoji pasti sangat merindukanmu."
perkataan itu cukup membuat sang aegya merasakan tidak sabar.
Tok..Tok.. Tok..
"Masuk saja."
Krieet..
"Eomma.. appa.."
Kedua pasang mata kini menatap pintu yg melihatkan keluarga kecil itu.
"Yunho. Jaejong.." sang kakek menatap tak percaya. Setelah bertahun-tahun akhirnya kedua orang itu pulang. Tapi tunggu.. dengan anak kecil?
"Yunho.. jangan bilang itu.." yg ditanya hanya tersenyum. Ia menatap istrinya sejenak meminta persetujuan.
"turunkan saja."Yunho mengangguk. Perlahan ia turunkan anaknya. Sang anak menatap orang tuanya yg dibalas dengan senyuman.
"Halmeoni.. harabeoji.."
Sang kakek dan sang nenek itu menatap sang cucu dengan tatapan tak percaya. Namun beberapa saat kemudian tangan sang kakek terbuka lebar. "Kemarilah nak.."
Melihat itu, dengan cepat gadis kecil itu berlari memeluk kakeknya.
"Harabeoji.. jeongmal bogoshippeo.."
"ne.. nado."kepala gadis kecil itu di elus lembut. Kini sang nenek menghampiri keduanya dan ikut mengelus cucunya. Memperhatikan wajah cucunya. Dan seulas senyum terhias di wajah wanita tua itu.
"kau mewarisi mata keluarga yg sangat indah, nak.. kau pasti sangat istimewa."
Yunho dan Jaejong yg melihat itu hanya tersenyum haru.
"kau memang selalu tepat dalam memilih liburan, Boo.. lihatlah. Betapa senangnya mereka."
Istrinya mengangguk menyetujui.
"ne.. aku fikir awalnya appa akan marah melihat kita yg tak pulang-pulang."Jaejong merenggut kecil. Yunho, sang ayah, mengecup kening istrinya.
"tidak ada yg marah jika itu menyangkut anak kita, Boo.. benar kata eomma.. Wookie sangatlah sempurna."
.
.
.
TBC~^^
Gimana? Lumayan panjang kan kali ini? Mian ya klo gk bisa panjang.. seperti sebelumnya loo.. dan kalau sedikit bingung, tetaplah membaca dan menunggu chap selanjut nya.. kkkkk~ :D
Balasan Review :D
jeremy kim84 : Baca saja.. disini sedikit agak terungkap kan? Kkkk oiya mianhae gk bisa kilat. T.T
yulia cloudsomnia : Sudah dilanjut! memang sengaja aku buat Seosangnim.. bukan direktur kok.. baca yaa~ ^^
Liliz Cloudsomnia: bingung ya? Wkwkwk... nih udah dilanjut. :)
Guest : sudah.. :D
Guest: gimana? Mian gk bisa panjang-panjang.. inginnya mah panjang. Tapii... Ne.. Gmoawo~ :)
Rnine21 : anggap saja baca teaser.. kkkk ~ :D
Jangmiyesi : k;o yg ini gimana ? Hehe
Sudah? Gomawo..
Sign, Kim Hye Ni
