After A Minute
YeWook
Warn : GS, Typo, Alur berantakan.
The Person is not mine, but the Story always be MINE! :D
Disarankan untuk perhatikan tanggal nya baik-baik ya~ takut bingung.
Sepertinya semua orang memang lebih beruntung dariku.
Mereka menggunakan satu kata itu memang untuk kebahagiaan mereka.
Tidak seperti ku..
Tapi, bisakah kalian membuat akhir dari semua ini menjadi indah?
Sehingga aku dapat meninggalkan kalian dengan tenang.
Incheon, 18 Mei 2000
"eh?"
"apa?"
Ryeowook kecil mengerjapkan matanya, menatap aneh laki-laki didepannya. Sedangkan yang ditatap hanya dapat tersenyum kecil.
"appa.. dia siapa?" Ryeowook kecil bertanya. Tangan kecilnya menarik-narik baju sang ayah.
"dia Jong Woon. Mulai hari ini Wookie akan terus bersamanya. "jawaban sang ayah membuat gadis kecil itu sedikit tidak mengerti. Melihat pandangan tidak mengerti itu sang ayah tersenyum kecil.
"teman. Jong Woon akan menjadi teman untukmu Wookie.. dan panggil dia oppa, oke?"
"teman..oppa.." Ryeowook kecil mengulang-ngulang kata yang baru saja ia dengar. Mata biru nya terus menatap Jong Woon. Membuatnya terlihat sangat lucu. Rasanya laki-laki muda itu ingin sekali mencubit pipi chubby nya dan memeluk erat tubuh kecil itu jika saja tidak melihat jika disini ada ayah kandung gadis kecil didepannya ini.
Yunho menatap sendu anaknya. Terlihat sekali jika anak perempuannya ini menyukai sosok lawan jenis di depannya. Pasalnya, Sebelum gadis kecil itu menghampiri tamu yang sedang datang gadis kecil itu sedang menangis keras. Entah karena apa, namun firasatnya tak mungkin salah.
'Hari ini waktunya'
"ehem.. nah, Ryeowookie. Perkenalkan, Jong Woon imnida." Jong Woon mengulurkan tangannya. Senyuman cerah pun terlihat. Sedangkan Ryeowook kecil mengulurkan tangannya ragu.
"err.. Lee Ryeowook imnida. Salam kenal, oppa.."
"waah~ kau lucu sekali, Ryeowookie!" dan kali ini Jong Woon memekik senang. Tanpa sadar gadis kecil itu menunduk dalam. Semburat kemerahan muncul di pipi nya.
"te.. terima kasih, oppa."
.
.
.
.
Seoul, 20 Juni 2012
Hari yang cerah ini seharusnya dinikmati dengan perasaan yang juga ikut cerah kan? Lalu apa yang terjadi dengan perempuan mungil ini?
Di taman yang ramai, duduk sendirian, ditambah penampilannya yang kacau. Tak jarang tangan nya mengusap kasar matanya yang terus mengeluarkan air mata. Dan mulutnya pun tak berhenti bergumam kecil.
"Bodoh.. pria yang bodoh. Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?"
Sesekali kaki nya menghentak-hentakan tanah. Meluapkan rasa kesal yang sangat menganggu dirinya.
Hei.. bukankah sikap itu hanya pantas dilakukan oleh anak kecil? Lalu kenapa perempuan yang mengatakan dirinya sudah dewasa ini masih bersikap seperti itu? Dengan tubuh mungil dan wajah yang manis itu, orang-orang dengan mudahnya pasti akan mengira kalau perempuan ini adalah anak SMP yang sedang merajuk.
Lihat saja. Banyak pengunjung taman yang lewat dan tersenyum geli melihat tingkahnya. Bahkan sampai ada yang berbisik,
"Apa ia ditinggalkan orang tuanya?"
"kenapa bisa anak itu menangis sendirian disini?"
Wah.. bisa-bisa Ryeowook akan berteriak dengan keras jika dia sudah berumur 18 tahun dan sudah belajar di perguruan tinggi. Ckckck.. abaikan saja.
Ryeowook mengecek handphone nya. Dan sekarang sudah ada 20 panggilan tak terjawab dan 15 pesan belum terbaca terhitung dari 1 jam yang lalu. Selebihnya, tak ada lagi panggilan ataupun pesan .
"dasar, pria bodoh. Hanya 15 menit ia mengkhawatirkanku. Cih.." Ryeowook berdiri. Ia membenahi penampilannya. Walaupun tak berpengatuh banyak, setidaknya orang-orang tidak menganggapnya orang gila yang kabur kan?
Ia mengusap-usap rambutnya yang dari tadi menjadi sasaran amuknya. Rambut coklat sepunggungnya kini sudah terlihat lurus lagi. Dengan gelombang kecil yang menggantung. Kemudian ia mengambil tasnya dan bersiap pergi jika saja seorang pria tidak memeluknya dari belakang.
"baby.. jangan seperti ini. Oppa kan sudah bilang. Kalau oppa akan keluar bersama sekretaris oppa.. kau sendiri kan yang menolak permintaan oppa tadi. Jadi, maafkan oppa, ya? Oppa janji akan menunggumu lain kali. Jangan menangis, sayang.." Jong Woon mengeratkan pelukannya. Kepalanya bersandar pada bahu Ryeowook. Membuat perempuan itu geli sendiri.
"hentikan oppa.. aku mau pergi. Kalau seperti ini aku akan pulang aja kerumah 'Appa'! " Tubuh mungil itu memberontak. Tapi tetap saja sia-sia. Tenaganya tentu tak lebih kuat dari pria yang memeluknya ini.
Mendengar ucapan Ryeowook, tubuh Jong Woon menegang. Dengan cepat Jong Woon mengusap-usap dada Ryeowook tepat di bagian jantungnya sambil berbisik pelan.
"tidurlah. Dan ketika kau terbangun hadirkanlah senyum yang sangat kusukai darimu itu. Lupakanlah semua masalah yang terjadi hari ini. Sehingga semua rasa kesal mu itu kembali tertutupi oleh rasa cintamu itu untukku."
Seketika pancaran dari mata biru nya perlahan menghilang dan matanya mulai terpenjam. Dengan sigap, Jong Woon menangkap tubuh Ryewook lalu membawa tubuh itu ke mobilnya. Sebelum ia mengendarai mobil ini, pria itu menatap Ryeowook dalam lalu mengecup pelan bibir cherry Ryeowook. Bibirnya terangkat kecil. Senyuman pahit yang bahkan orang-orang tidak mengerti arti dari senyumannya.
Hingga sebuah kata mengakhiri pandangannya.
"apa kau akan membenciku jika mengetahui ini semua, Wookie? Sungguh. Aku mencintaimu tulus tanpa ada maksud apapun. Kumohon cintai aku dari hatimu juga. Dan teruslah ingat, bahwa aku tidak akan pernah melepasmu. "
.
.
.
.
Incheon, 18 Mei 2000
Jamuan makan malam ini tidak terlalu mewah. Bagi mereka ini memang sudah seharusnya. 2 keluarga kecil dengan anak perempuan/laki-laki mereka dan sepasang suami-istri yang sudah menua. Tak ada yang aneh. Hanya saja kedua orang tua gadis kecil itu sangat takut. Perasaan mereka tidak tenang sekarang.
Sedangkan kedua orang tua laki-laki muda itu terlihat sangat senang. Bahkan sesekali sang ibu laki-laki muda itu menyuapi gadis kecil yang ada di sampingnya.
Suasana hening itu terus berlanjut selama makanan mereka masih ada. Sampai akhirnya sebuah suara memecahkan keheningan itu.
"nah, Wookie.. apa kau senang bersama ahjumma?" tanya sang Kakek. Ryeowook kecil mengangguk dengan semangat. Dan membuat orang tua itu saling tatap dan tersenyum lebar.
"lalu.. apa kau mau menetap di Negara ini bersama mereka?"
Deg!
Yunho dan Jaejoong bertatapan. Perasaan takut mereka kini terungkap. Mereka memang sudah merasakan dari awal. Orang tua mereka tidak ingin terpisah dengan cucunya itu dan membuat nya tinggal dengan keluarga lain.
Seharusnya Yunho menolak dari awal ketika ayahnya berencana mengenalkan sebuah keluarga kepada Ryeowook kecil. Seharusnya pria itu tidak membiarkan interaksi keluarga itu dengan Ryeowook kecil terlalu lama. Dan juga, harusnya pria itu sadar, bahwa ia memang tidak akan pernah bisa tinggal lagi di negara ini.
Ryeowook kecil mengerjapkan matanya. Kemudian ia menatap kedua orang tuanya bingung.
"eomma.. appa.. kalian kenapa?"
Dengan cepat pasangan suami-istri itu menggeleng lalu tersenyum manis. "tidak apa-apa sayang.. eomma hanya kelelahan." Sang ibu mengelus kepala anaknya lembut.
Ryeowook mengangguk kecil pertanda ia mengerti. Ia pun membalas senyuman sang ibu. Setelah itu ia menatap ayahnya.
"appa.. jika aku menyetujui ini apa aku bisa terus bersama abeoji dan 'Eomma' ini?" pertanyaan polos Ryeowook kecil sukses membuat dua orang itu kaget. Sampai beberpa detik, sang ayah tersenyum kecil.
"tentu saja. Setiap hati kau akan terus bersama mereka selama yang kau mau." 'bahkan kau tidak akan bertemu dengan ayahmu lagi, Ryeowookie sayang~'
"Tidak. Aku mau bersama appa dan 'Eomma' dulu! Besok baru bersama abeoji, 'eomma', dan Jong Woon oppa. Bolehkan appa? Eomma?" Ryeowook kembali bertanya kepada orang tuanya.
Kadua orang itu mau tak mau mengangguk mengiyakannya.
"yeay! Wookie.. besok kau harus mau ikut denganku. Aku akan menunjukan pemadangan yang sangaaaaat indah! Pasti kau mau kan, Wookie?" Ajak Jong Woon dengan bersemangat. Melihat itu, Ryeowook kecil pun ikut bersemangat. "tentu saja aku mau!"
Sang kakek dan sang nenek pun tersenyum lega melihat itu. Setidaknya di akhir kehidupan mereka, ada cucu mereka yang menemani hari mereka kan?
Disisi lain, Yunho menggenggam tangan sang istri erat. Berusaha menyalurkan kekuatan . Jaejoong pun berusaha mati-matian agar air matanya tidak turun. Tubuhnya sudah sedikit gemetar. Menahan rasa sakit yang sangat mendalam.
'Semoga kau bahagia dengan apa yang kau pilih, nak.. appa dan eomma akan tetap menyayangimu lebih dari apapun.'
Update? Update kaaan? Huaaa. Akhirnya di update juga ya ni cerita.. hehe mian, mian... gomenasai~ *bow
Sakit hati sama laptop yang hilang! Oiya, makasiiiiiih banyak yang mau nunggu cerita yang sangat-sangat GJ ini yaa.. aku sang menghargai. T,T
Balasan Review :
Jangmiyesi : haha.. suka kah? Dengan yg ini? Gimana? Lumayan gk? Hehe maafkan aku yang tidak bisa update cepaat. T.T
: bingung yaa? Maaf.. hehe
Rnine21 : ini.. disini udah kejawab^^ kalo Siwon.. ya Cuma anak rekan. Teman Wookie satu-satunya.. haha nanti bakal ada siwon lagi kok. Hehe
Guest : makasih banyaaak.. tetep baca dan review yaa^^ makasiih.
yulia cloudsomnia : yah.. begitulah aku. Hampir semua tipe nya gini. Maju-mundur dan ngebuat bingung. Sampe akupun bingung. *eh?
Guest : makasih sudah mengerti akuu.. hiks hiks.. *lapmuka. Oke.. ini udah dilanjut. Makasih buat review nyaa! ^^
ClouDyRyeoRez : oke deh.. gpp kok. Baca saja oke? Next chap up! Haha ^^ makasih udh review. Tetap baca dan review yaa..
Last, mind to review?
Sign, Kim Hye Ni
