Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan.

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.

.


.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

.


Chapter VI : confession!

.

.

Terhitung sudah sebulan perkembangan hubungan Taehyung dan Jungkook tidak berjalan. Mereka benar-benar diam bila bertemu. Tidak bicara dan selalu mencoba menghindar satu sama lain. Canggung.

Jungkook yang masih hati karena melihat Taehyung tempo hari dan Taehyung yang masih takut untuk mengajak Jungkook berbicara, dia bersalah dan tidak ingin menyakiti hati tunangannya itu.

Jungkook memiliki kamar pribadi sendiri di apartemen Taehyung. Dan dia akan mengurung diri di dalam ruangan pribadinya atau bermain di apartemen Daniel jika dia tidak bekerja. Taehyung juga melakukan hal yang sama. Dia tidak akan pernah mendapati Jungkook yang menonton televisi di ruang santai atau hanya makan di ruang makan di dapur apartemen mewah itu. Mereka sangat jauh dari kata dekat saat ini.

Jungkook sudah memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi di salah satu Universitas pilihannya. Sama dengan Seongwoo. Jungkook baru mengetahui jika Seongwoo selama ini belum kuliah. Jungkook benar-benar salut mendengar cerita Seongwoo saat mereka menginap bersama.

" Jungkookie, aku rasa aku sangat beruntung karena Daniel mencintaiku. Dari awal aku sudah mencintainya, cinta pada pandangan pertama. Dan Taehyung aku bersyukur karena Taehyung mengerti dan mencoba mendekatkan kami. Daniel itu dulu siswa yang berantakan, suka bolos dan sangat amburadul meskipun dia anak orang kaya. Aku hanya orang miskin, yatim piatu. Waktu itu Taehyung merekomendasikanku untuk menjadi tutor Daniel. Bayangkan saja meskipun aku menyukai Daniel tapi sifatnya sering membuatku murka. Dan dia juga perlahan mulai mencintaiku. Dia tidak memandangku sebagaimana orang lain mengatakan kalau aku tidak pantas untuknya. Sampai Daniel membaik, absennya berkurang, dia sering mengerjakan tugas dan nilainya membaik. Kau tahu Jungkook apa yang ayah Daniel katakan kepadaku waktu aku bertemu dengannya ?" tanya Seongwoo sebelum melanjutkan ceritanya.

" Humm.. ayahnya Daniel-hyung pasti sangat senang karena perubahan anaknya, mungkin saja awalnya ayahnya menentang kalian, tapi setelah melihat bagaimana perjalanan kalian ayahnya merestui kalian, apa benar hyung ? karena menurutku sekeras apapun hati manusia, masih ada terselip rasa simpati, kebaikan dari dalam sana" jawab Jungkook.

" Yap, kau sangat pintar, benar-benar bisa menebak, eoh ?Ayahnya memang menentang sampai Daniel bercerita tentang perubahannya karenaku, katanya seperti itu. Pandangan awalnya yang sangat tajam menjadi melunak, teduh ketika memandangku. Dan aku diterima dikeluarga besar Daniel" ucapnya sambil tersenyum.

" Terus kenapa hyung tidak kuliah ? Padahal Daniel-hyung saja sudah lulus " tanya Jungkook penasaran.

" Awalnya aku memang ingin kuliah tapi aku terkendala biaya, waktu itu orangtua Daniel juga bersikeras ingin menguliahkanku dengan uang mereka tapi aku tidak ingin seperti itu, karena aku tidak ingin hutang budi kepada mereka. Aku tahu hubungan yang aku jalani dengan Daniel bisa kandas kapan saja jadi aku tidak ingin melakukan itu kepada mereka. Kemudian tahun kemarin Daniel mengajakku menikah, bocah itu benar-benar ingin mengikatku, Kook-ah" jelas Seongwoo lagi.

" Terus kenapa tidak menikah hyung ?" tanya Jungkook lagi, Seongwoo tidak bisa menahan tangannya untuk mencubit pipi menggemaskan Jungkook. Jungkook mengaduh dan itu membuat Seongwoo tertawa sebelum melanjutkan ceritanya.

" Tidak semudah itu sayang. Aku harus memantapkan hatiku, aku memang menerima lamarannya tapi tidak untuk menikah secepatnya. Aku ingin menjadi pantas untuk bersanding dengan Daniel, tidak ingin mengecewakan orangtuanya kerena tidak memiliki pendidikan yang layak. Aku tidak punya apa-apa, dan cinta tidak cukup untuk membuat semua orang merestui kami. Setidaknya pendidikan bisa aku banggakan dan membungkam orang-orang yang remeh kepadaku dan hubungan kami. Aku masih ingin kuliah dengan uang yang aku kumpulkan, dan aku akan kuliah tahun ini, dan ternyata passion kita sama. Psikologi. Hm, kau darimana tertarik tentang Psikologi, Kookie ?" tanya Seongwoo.

" Entahlah hyung. Setelah aku melihat Woonie waktu dia kesakitan dulu, aku ingin mengerti apa yang dia rasakan. Aku ingin tahu orang-orang yang sabar ketika merasakan sakit itu. Pasti mereka sangat tangguh. Dan mengerti bagaimana perasaan dan ekspresi seseorang pasti menyenangkan, kan hyung ?" tanya Jungkook. Seongwoo mengangguk. Sungguh, Jungkook sama sepertinya dulu, ingin membantu orang banyak.

" Ya sudah, ayo belajar lagi. Sebentar lagi kita ujian masuk universitas " semangat Seongwoo. Mereka tersenyum sebelum kembali membalik buku tebal yang mereka baca di meja mereka. Buku-buku jenis Psikologi dan buku paket ujian masuk universitas berserakan di atas meja di ruang santai apartemen Daniel.

.

.

Hari ini Taehyung pergi kerja seperti biasanya berangkat dengan bus umum. Semenjak mobil kesayangan dan kartu ATM di sita oleh ibunya, Taehyung benar-benar harus hemat. Bahkan dia juga sering menumpang dengan Daniel untuk berangkat ke Perusahaan.

" Hoi Taehyung !" teriak Jeonghan dari belakang. Taehyung melihat ke belakang dan menunggu lelaki cantik itu.

" Kau naik bus lagi ?" tanya Jeonghan. Taehyung mengangguk. Sifat Taehyung benar-benar balik seperti semula, dingin dan mengabaikan orang-orang yang dia anggap tidak penting.

" Tidak bersama Daniel ?" tanya Jeonghan lagi.

" Dia pergi mengantarkan Seongwoo dan Jungkook melihat ruang ujian mereka. Mereka akan ujian lusa" jawab Taehyung. Perihal Seongwoo dan Jungkook yang akan bekerja sambil kuliah disambut positif oleh rekan kerja mereka. Setelah mendapatkan izin kuliah mereka akan tetap bekerja dan pergi kuliah ketika ada jadwal.

" Hm begitu, yasudah ayo kita masuk " ajak Jeonghan sambil merangkul lengan Taehyung. Membuat orang-orang yang melihat mereka benar-benar iri. Hanya Jeonghan, Seongwoo, Jimin dan Jin yang berani begitu dan memarahi malaikat maut beraura gelap seperti Taehyung.

..

" Tae, kenapa lingkar gelap di kantung matamu semakin bertambah ?" tanya Jimin. Jimin itu sahabat yang terlampau mengetahui keadaan Taehyung. Dia juga bersabar selama sebulan belakangan ini Taehyung akan berada diapartemennya sampai malam. Hanya sekedar ingin mendengar cerita masa lalu Jungkook selama di London dari Yoongi, kekasih pucatnya. Jimin tidak pernah melihat Taehyung yang mati-matian ingin tahu tentang seseorang seperti ini, dan percayalah Jimin benar-benar melihat ekspresi Taehyung dari senyum tulus dan tertawa renyah sekali ketika mendengar cerita tentang Jungkook yang lucu.

" Tidak ada, hanya dateline Jim " jawab Taehyung singkat. Dia menjawab tanpa menatap Jimin dan tetap merancang desain di komputernya.

" Tae, aku rekan kerjamu, dan sahabatmu di luar perusahaan ini. Dan kita tidak ada dateline yang benar-benar mendesak. Jadi ada apa ?" tanya Jimin lagi.

" Chim, please " ucap Taehyung. Dia benar-benar tidak ingin membahas tentang mata pandanya kali ini.

" Oke baiklah. Tapi aku tidak akan janji kalau aku tidak akan cerita dengan Yoongi-hyung tentang ini. Kau kan adik kesayangannya, dia pasti juga khawatir denganmu. Aku sudah cukup berbagi Yoongi-hyung denganmu. Dan jangan buat dia lebih memperhatikanmu lagi, arra ?" cebik Jimin dengan bibirnya yang cemberut.

" Arrayo Kakak ipar, sudah sana " Taehyung tersenyum tipis sebelum mendorong kursi beroda yang sedang diduduki Jimin, mengusir kekasih kakak pucatnya kembali ke tempatnya.

" Kami datang !" ucap Seongwoo semangat, membuat semua orang yang ada diruangan itu menghadap ke arahnya, dibelakang Seongwoo ada Daniel dan Jungkook yang mengekor.

" Jungkookie, darimana ?" tanya Eunwoo. Dia masih belum saja menyerah dengan Jungkook. Padahal Jungkoook sudah terang-terangan menjauhi dan menolaknya.

" Dari melihat ruang ujian" jawab Jungkook, masih mencoba sopan.

" Kenapa tidak pergi denganku saja? Aku bisa mengantarmu " ucap Eunwoo, membuat Taehyung sedikit mengepalkan tangannya, jengah. Jungkook yang melihat reaksi Taehyung menyunggingkan senyumnya meski tipis.

" Tidak ap—"

"—mobilku masih cukup hanya untuk membawa Jungkook bersama kami. Kenapa harus banyak orang yang mengantar mereka untuk melihat ruang ujian. Simpan perhatianmu untuk orang lain yang lebih membutuhkan, Eunwoo" ucap Daniel. Daniel saja yang menjadi orang yang menonton hubungan Taehyung-Jungkook-Nayeon-Eunwoo sudah cukup jengah dengan orang-orang ini. Taehyung yang tidak berani, Jungkook yang masih menahan diri, dan dua orang lagi yang cukup tidak tahu diri. Tidak mengerti dengan posisi mereka yang hanya menjadi benalu, menjadi orang jahat dalam hubungan orang lain.

" Sudahlah, kembali bekerja " ucap Jaebum. Mereka kembali ke posisi masing-masing untuk mengerjakan tugas mereka.

..

Hari ini Jungkook bersiap untuk pergi ujian. Dia melangkahkan kakinya keluar dan bersirobok tatap dengan Taehyung yang tengah duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka.

" Hm, Jungkook.. semoga ujianmu lancar" ucap Taehyung menatap Jungkook. Jungkook hanya mengangguk dan pergi melangkah ke arah pintu dengan senyuman tidak bisa dia tahan. Seperti biasa Jungkook akan sarapan pagi di apartemen Daniel. Selalu seperti itu, sejak Taehyung dan Jungkook pindah ke sebelah apartemen Daniel, Jungkook selalu sarapan bersama mereka.

" Sayang nanti aku tidak bisa menjemput kalian setelah pulang dari ujian. Ayah menyuruhku untuk bertemu dengannya, tidak apa-apa kan ?" tanya Daniel. Seongwoo mengangguk.

" Tidak apa-apa, aku cukup dewasa untuk naik bus, lagipula aku bersama Jungkook" ucap Seongwoo, kemudian menyuap makanan yang enak untuk sarapannya. Jungkook hanya tersenyum melihat pasangan yang sellau mesra dan jarang berkelahi hanya masalah sepele, Daniel bisa menjadi dewasa mengimbangi sifat Seongwoo-nya.

" Bagaimana dengan Tae-hyung, Kookie ?" tanya Daniel lagi, mengambil tempat di sebelah Seongwoo.

" Bagaimana apanya,hyung ?" tanya Jungkook tidak mengerti.

" Ya apapun, perkembangan hubungan kalian. Lagipula belakangan ini Nayeon tidak melakukan apa-apa, aku takut dia merencanakan sesuatu untuk kalian" jelas Daniel.

" Tidak terjadi apapun, tadi pagi dia mengucapkan semoga sukses untuk ujianku dan untuk wanita itu, kita lihat saja ke depannya hyung " ucap Jungkook menimpali. Dia menghela nafas dan memikirkan Taehyung.

..

Jungkook mengerjakan ujian yang menurutnya sudah semaksimal mungkin, keluar dari ruangan dan menunggu Seongwoo keluar dari ruangan yang berbeda.

" Kookie !" teriak suara baritone dari belakangnya. Jungkook mengalihkan pandangannya dan tersenyum kearah yang memanggil.

" Mingyu !" balas Jungkook. Mereka berpelukan.

" Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Jungkook melepaskan pelukan pemuda yang memiliki kulit senada dengan Taehyung.

" Aku ujian, dan kau ?" tanya Mingyu balik, penasaran dengan apa yang dilakukan pemuda kelinci itu disana.

" Sama, aku juga. Ah itu Seongwoo-hyung.. Hyung !" teriak Jungkook agar Seongwoo mengarah kepada mereka.

" Kau masuk kesini juga, wah.. kita akan sekampus kalau begitu" ucap Mingyu sumbringah. Pemuda yang merupakan model itu memang sempat menunda pendidikannya demi karir yang baru saja dia bangun, dan sekarang adik dari Kim Namjoon itu sudah sukses menjadi model dan bintang iklan yang sudah menghiasi berbagai produk dan terkenal dimana-dimana.

" Itu kalau kau diterima bodoh !" sela Seongwoo yang berdiri dekat mereka, memukul pelan lengan Mingyu.

" Pastilah hyung. Kau tidak tahu saja kalau gen kami itu jenius, lihat saja Namjoon-hyung dan Tae-hyung, iya kan Jungkookie ?" goda Mingyu. Jungkook hanya tertawa menanggapinya.

" Bambam menyuruhku untuk ikut makan siang di kantin kampus ini, kalian mau ikut tidak ?" ajak Mingyu.

" Tapi nanti kau antar kami pulang ya " tawar Jungkook. Mingyu mengangguk. Dan Seongwoo langsung menggait tangan Mingyu ke arah kantin di ikuti oleh Jungkook dari belakang.

.

.

" Tae, ayo cepat !" teriak Jimin tidak sabaran. Taehyung hanya menggeleng pasrah ketika Jimin menariknya dari lift menuju basemen kantor mereka. Jadwal makan siang kali ini harus dia habiskan untuk menemani Jimin menjemput adiknya dari Bandara. Park Jihoon adik Jimin yang datang dari Kanada. Berniat untuk pindah total ke Seoul, tinggal bersama Jimin. Yoongi tadi sudah menurunkan mandat untuk Taehyung agar menemani Jimin, bahkan Taehyung sudah memegang kunci mobil Yoongi demi adik kekasihnya itu.

" kau bisa terjatuh jika buru-buru seperti itu, astaga " keluh Taehyung.

" Adikku sudah menunggu dari tadi Tae" balas Jimin. Taehyung menaiki mobil itu dan diikuti oleh Jimin. Dan mobil mewah itu siap menuju bandara.

..

" Tae-hyung !" pemuda manis itu langsung berlari menuju Taehyung dan memeluknya mengabaikan Jimin yang dari tadi antusias tapi dia tidak di gubris oleh adik kecilnya.

" Ya ! yang kakakmu itu aku, bukan Taehyung " kesal Jimin. Seorang lagi yang ikut dengan Jihoon juga terlihat lelah dan cuek dengan keadaannya.

" Jinyoung ? Kau ikut pindah kemari juga ?" tanya Jimin setelah melihat Jinyoung berjalan mendekati mereka sambil menggeret kopernya.

" Iya hyung, eomma menyuruhku tinggal di apartemen Daniel-hyung. Setelah mendengar Jihoonie pindah ke Korea, eomma juga antusias memindahkanku " jawab Jinyoung, pemuda manis yang merupakan sepupu Daniel.

" Hm, yasudah ayo makan siang dulu " ajak Jimin. Sementara Jihoon sudah menggelayut manja di lengan Taehyung. Dia merindukan sahabat hyung-nya itu dan dengan tanpa dosa mengabaikan Jimin.

Mereka pergi menuju ke tempat makan yang diinginkan Jihoon, dia mengatakan rindu makanan khas korea.

..

" Kau jangan makan rakus begitu, Hoon-ah" ucap Jimin kepada adiknya, yang terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya sehingga pipinya penuh dengan makanan.

" Makanannya tidak akan lari" Taehyung mengusap pelan rambut coklat adik Jimin tersebut, Jihoon hanya mengangguk-angguk lucu, sementara Jinyoung makan dengan tenang.

" hyung, lihat itu Mingyu-hyung !" ucap Jihoon yang menatap ke arah layar televisi besar yang ada di tempat makan itu. Mereka melihat kearah yang ditunjuk Jihoon.

" Itu kan Jungkookie !" seru Jimin yang tak kalah antusias. Taehyung juga melihat foto-foto dan video yang di tampilkan oleh acara gossip yang menyorot seputar Mingyu tersebut. Di layar itu terlihat Jungkook yang tengah tertawa bersama Mingyu ditambah Mingyu dengan mudah merangkul Jungkook. Acara gossip itu menyebutkan kemungkinan Jungkook adalah pemuda manis yang tengah dikencani oleh Mingyu, karena Mingyu selama ini sangat tertutup masalah percintaannya.

" Tae, kau baik ?" tanya Jimin. Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah Jimin dan tersenyum sekilas.

" Aku tidak baik Chim " jawab Taehyung.

" Kenapa hyung ? kau tidak senang Mingyu-hyung punya kekasih ?" tanya Jinyoung.

" Iya, mereka kan serasi " lanjut Jihoon. Taehyung hanya tersenyum lemah.

" Yang digosipkan dengan Mingyu itu tunangan Tae-hyung kalian" jelas Jimin. Mereka berdua langsung terdiam mendengar ucapan Jimin dan menatap takut ke arah Taehyung.

" kenapa kalian takut? Pendapat kalian tidak akan membuat aku marah kepada kalian. Jungkook cocok kok dengan Mingyu. Mereka serasi " tanggap Taehyung.

" Mianhae hyung, kami tidak tahu " ucap Jihoon.

.

.

Rupanya rumor kedekatan Mingyu dan Jungkook sangat cepat menyebar. Awalnya Jungkook dan Seongwoo yang di antarkan oleh Mingyu menuju perusahaan langsung di serbu oleh wartawan. Jungkook harus bergegas berlari ke dalam Perusahaan dengan perlindungan Yoongi dan Jin yang sudah menunggunya di lobby. Mereka sudah mengetahui berita itu dan langsung menunggu Jungkook disana. Bahkan hoodie kebesaran milik Mingyu yang dipakai Jungkook tidak cukup untuk menutupnya dari pemburu berita itu.

Jin dan Yoongi benar-benar mengamankan Jungkook masuk ke dalam Perusahaan. Mereka berusaha membawa Jungkook keluar dari incaran wartawan. Bahkan rekan-rekannya dari divisi mereka bekerja juga membantu.

" Hyung, aku takut !" cicit Jungkook yang tengah berada di dalam lift bersama kedua hyungnya itu.

" Tenanglah, kau sudah aman sekarang " ucap Jin menenangkan.

" Bagaimana bisa kau bersama Mingyu ?" tanya Yoongi. Dia benar-benar tidak menyangka berita yang di tontonnya bersama Jin tadi adalah Jungkook dan Mingyu yang digosipkan berkencan.

" Aku tidak tahu. Salahkan si hitam itu yang mengajakku makan dan dekat-dekat denganku. Padahal tadi ada Bambam dan Seongwoo-hyung, tapi kenapa malah aku yang digosipkan dengan dia hyung, hyuuuung..aku takut " ucapnya menahan tangis. Jungkook benar-benar tidak sadar bahwa Mingyu adalah incaran banyak media. Pantas saja waktu dulu saat mereka berjalan bersama ketika dia baru sampai di Korea, Mingyu ikut jalan dengannya memakai pakaian yang serba tertutup agar terhindar dari serbuan kamera wartawan.

" hiks..hiks, hyung.. aku tidak mau Taehyung salah paham lagi, hiks " pertahanan diri Jungkook runtuh saat membayangkan wajah kecewa Taehyung. Air matanya mengalir dari mata bulatnya, Jin langsung memeluk tunangan Taehyung itu. mengusap pelan punggung yang berbalut hoodie hitam Mingyu.

" Sudah jangan menangis, semua akan baik-baik saja. Ke ruangan kami dulu ya, menenangkan diri, Seongwoo sudah mengatakan agar kau tidak usah berpisah dengan kami sekarang"tutur Jin, dia mengerti bagaimana perasaan Jungkook, takut membuat Taehyung kembali kalap.

Yoongi menghela nafas, benar-benar gemas dengan pasangan ini. Taehyung sebenarnya selalu ada di apartemennya saat pulang kerja sampai malam. Dia akan memaksa Yoongi untuk menceritakan semua hal yang berhubungan dengan pemuda kelinci itu. Tapi sampai detik ini mereka juga belum berbicara satu sama lain. Dan sekarang mereka takut menyakiti satu sama lain.

" Yoongi tolong aku " bisik Jin, Jungkook makin terisak dalam pelukannya.

" Biarkan saja hyung. Jungkook tidak akan bisa berhenti menangis sebelum dia puas " ucap Yoongi pasrah.

..

Benar saja, Jungkook masih terisak ketika dibawa duduk di sofa dalam ruangan Namjoon dan Yoongi. Dia masih tidak mau melepaskan pelukannya dari Jin, membuat Namjoon mengernyitkan dahi heran melihat pemandangan itu. Dia baru mengerti setelah Yoongi menceritakan apa yang terjadi.

Setelah lelah menangis, Jin dapat merasakan nafas teratur dari orang yang ada di pelukannya. Jungkook tertidur karena lelah.

" Dia tertidur " ucap Jin, berusaha melepaskan pelukan itu dan menidurkan Jungkook di sofa agar dapat tidur dengan nyaman.

" Ada-ada saja masalah yang menimpa hubungan mereka. Semoga mereka dapat berbaikan setelah ini " ucap Namjoon yang melihat Jungkook, Jin masih sibuk menghapus bekas air mata di pipi berisi Jungkook. Namjoon tersenyum melihat kekasihnya itu memperlakukan Jungkook dengan sayang.

" Sayang, jangan sentuh Jungkook lagi " manja Namjoon, menggoda kekasihnya sedikit.

" Astaga Namjoon-ah. Dia tunangan adikmu dan aku tidak akan bercinta dengannya " jawab Jin cemberut.

" Hyung jangan seperti itu, aku tidak mau kalian bercinta di depanku " kata Yoongi cepat, dia melirik Namjoon yang sudah menatap Jin dengan tatapan ingin memangsa.

" Jinnie.. aku tegang !" ucap Namjoon tanpa malu dengan Yoongi yang ada diruangan itu.

" Selesaikan sendiri di toilet, Tuan. Aku masih memiliki pekerjaan lain" tutur Jin dan berlalu meninggalkan mereka.

" Rasakan, makanya jangan mudah tegang " ejek Yoongi yang kemudian kembali ke mejanya, sementara Namjoon merengut langsung menuju toilet yang ada diruangan mereka.

.

.

Taehyung tidak kembali ke perusahaan dan memilih membantu Jihoon untuk membereskan barang-barangnya. Jihoon kasihan melihat Taehyung yang terlihat banyak pikiran setelah melihat berita heboh tadi.

" Hyung, Gwaenchana ?" tanya Jihoon. Mereka sedang duduk santai setelah merapikan pakaian Jihoon dari koper. Jinyoung sudah tertidur karena perjalanan melelahkan di atas pesawat. Dia akan di jemput oleh Daniel nanti malam.

" Hm" gumam Taehyung.

" Hyung, mencintai Jungkookie-hyung ?" tanya Jihoon hati-hati. Taehyung mengangguk sebagai jawabannya.

" hyung, berjuanglah. Jangan lupa dengarkan penjelasan Jungkookie-hyung sebelum menyimpulkan semua ini. Kalian akan baik-baik saja, percaya pada Jihoonie " ucap pemuda 17 tahun itu dengan cengiran lugunya. Taehyung tersenyum mendengar kata semangat itu dan mengusak rambut Jihoon.

" Gomawo hoon-ah, doakan yang terbaik" balas Taehyung.

" Pasti hyung, kapan-kapan kenalkan aku dengan Jungkookie-hyung, ya hyung?" tanya Jihoon penuh harap.

" Tentu, Jungkookie-ku harus bertemu dengan adik menggemaskan sepertimu " jawab Taehyung.

..

Taehyung pulang larut malam ini, terlambat setengah jam dari jam biasanya. Jungkook sudah tertidur di kamarnya. Dia juga menceritakan tentang gossip yang dia lihat tadi kepada Yoongi dan Yoongi hanya menjawab jika dia harus menyelesaikan sendiri masalahnya bersama Jungkook. Taehyung membersihkan diri sebelum melihat Jungkook di kamarnya.

Jungkook tidak pernah mengunci kamarnya, dan selama sebulan ini Taehyung rajin meluangkan waktu tiga jamnya setiap malam hanya untuk melihat Jungkook dari dekat. Memeluk Jungkook yang tertidur, katakanlah Taehyung bukan seorang yang gentle, tapi dia hanya ingin Jungkook tidak tersakiti dengan apa yang dia lakukan. Taehyung tahu Jungkook sakit hati dengan perlakuannya, dengan apa yang Jungkook lihat tempo hari. Dan dia benar-benar ingin Jungkook sembuh dari luka yang dia torehkan.

Lingkar hitam yang berada dibawah mata Taehyung yang dipertanyakan Jimin memiliki jawaban, yaitu Jungkook. Taehyung merebahkan diri di samping Jungkook yang tengah tidur menyamping. Taehyung ikut menidurkan diri di sebelah Jungkook, menghadap ke arah pemuda manis itu dengan sebelah tangannya menjadi bantal untuk kepalanya. Satu tangan lagi dia gunakan untuk merapikan rambut Jungkook yang hampir menutupi matanya.

" Jungkookie.." lirih Taehyung. Matanya menatap sendu kearah Jungkook yang tertidur pulas, polos sekali.

" Hari ini rasanya panjang sekali dan sangat melelahkan. Aku takut.." ucapnya lagi. Dia mengusap pipi Jungkook dengan jari telunjuknya. Lama memandang, mata kelam itu terbuka membuat Taehyung sedikit gelagalap tertangkap basah karena melakukan hal tanpa seizin Jungkook. Taehyung ingin berdiri tapi Jungkook lebih dulu memeluk Taehyung dan menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Taehyung. Taehyung benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Jungkook.

" Hiks.. kenapa kau terlambat, hiks.. hiks " lirih Jungkook. Taehyung yang tidak mengerti masih tetap beku tanpa membalas pelukan Jungkook.

" Tae.." ucap Jungkook lagi.

" Ne?" jawab Taehyung.

" Kenapa kau terlambat datang ?" ucap Jungkook. Dia melongkarkan pelukannya dan menjauh sedikit untuk menatap Taehyung yang juga menatapnya. Taehyung mengernyitkan tahi tidak mengerti. Dia hampir saja ingin bangkit tapi Jungkook kembali menahannya.

" Jangan pergi.."

" aku pikir kau tidak pulang, kau terlambat satu jam dari biasanya. Biasanya kau akan masuk kesini jam satu, sekarang sudah jam dua. Aku takut kau tidak datang, makanya aku menunggumu " cicit Jungkook. Taehyung membulatkan matanya, berarti Jungkook tahu apa yang dia lakukan selama ini.

" Iya, aku tahu kau selalu masuk ke kamarku dan memelukku. Aku sudah terbiasa karena itu. ceritamu tentang hari yang kau lalui, ketika kau menceritakan tentang aku yang kau dapat dari Yoongi-hyung adalah pengantar aku menuju mimpi. Aku takut kau tidak akan datang setelag melihat berita tadi " ucap Jungkook lagi. Taehyung memerah, malu setelah didapati oleh Jungkook tentang apa yang dia lakukan sebulan belakangan ini.

" Mau mendengar penjelasanku ?" Taehyung mengangguk.

"Aku hanya berteman dengan Mingyu, aku tidak ada apa-apa dengannya. Aku berani sumpah ! dan untuk sebulan yang lalu, aku tidak tahu jika Eunwoo akan menciumku. Aku benar-benar tidak tahu. jangan marah lagi. Aku juga sakit hati melihat kau berciuman dengan Nayeon, tapi setelah aku tahu itu bukan kesalahanmu, aku sudah tidak sakit hati. Perhatian yang kau lakukan sebulan ini benar-benar membuatku merasa dicintai olehmu. Taehyung apa kau marah kepadaku ?" tanya Jungkook takut.

" Ani !aku hanya takut kau meninggalkanku. Mungkin karena salahku, aku benar-benar takut Jungkook" ucap Taehyung. Dia memeluk Jungkook, menenggelamkan tubuh Jungkook ke dalam dekapannya.

" Saat mendengar kau dicium Eunwoo, saat kau dikabarkan memiliki hubungan dengan tunanganku, aku benar-benar merasa sakit hati dan aku tidak rela, Kook-ah" ucap Taehyung. Dia menceritakan bagaimana yang ia rasakan kepada Jungkook.

" Kau tidak ke Club lagi ?" tanya Jungkook.

" Tidak" jawab Taehyung singkat.

" Wae ?" tanya Jungkook. Melepaskan pelukan dan menatap Taehyung lagi. Menatap pemuda yang seharian ini tidak dia temui.

" Uangku tidak cukup " ucap Taehyung jujur membuat Jungkook mendengus geli karena jawaban Taehyung yang terlalu polos.

" Aku sudah mengajak Yoongi-hyung tadi, tapi aku malah diteriaki Jimin ini itu, makanya tidak jadi pergi" cemberut Taehyung. Jungkook menyatukan kening mereka, dan Taehyung menatap netra jernih yang ada didepannya. Jungkook mencium bibir yang sebulan ini tidak menyentuh bibirnya. Dia melumat bibir bawah Taehyung, mungkin setelah ini Jungkook akan ketagihan menghisap bibir Taehyung. Taehyung membiarkan Jungkook mengambil kendali dalam ciuman kali ini. Dia tersenyum di sela ciuman mereka. Dirasa sudah cukup lama, Jungkook melepaskan bibirnya dari Taehyung dan menatap Taehyung yang tengah tersenyum kepadanya.

" Wae?" tanya Taehyung penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Jungkook.

" Meskipun kau memelukku setiap tidur, kenapa kau tidak pernah menciumku meskipun di dahi?" tanya Jungkook penasaran. Memang benar, setiap Taehyung datang ke kamarnya dan tidur memeluknya Taehyung tidak pernah berani mencium Jungkook.

"Aku merasa tidak pantas" jawab Taehyung. Jungkook kembali mencium Taehyung, beberapa kali berupa kecupan singkat.

" Kau pantas, selamanya kau pantas untuk menciumku. Bahkan bibirmu sangat menggoda daripada Eunwoo" tanggap Jungkook, membuat Taehyung kembali cemberut tidak suka.

" Haha, jangan seperti itu. kau menggelikan" ucap Jungkook.

" Aku tidak suka kau dicium siapapun" ujar Taehyung.

" Dan kau tidak boleh mencium siapapun" balas Jungkook.

" Tae.." panggil Jungkook. Taehyung hanya bergumam sebagai jawaban. Jungkook yang menggigit pelan pundak Taehyung yang dapat dia gapai.

" Temani aku melihat hasil ujianku. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang melihat aku berhasil atau gagal, mau ?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk.

" Tentu.. aku pasti akan menemanimu. Apapun hasil yang kau dapatkan aku akan berada disampingmu " jawab Taehyung. Jungkook memeluk Taehyung lagi.

" Tae, aku rasa aku sudah sangat mencintaimu, mau mencoba menjalani hubungan ini denganku ?" tanya Jungkook lagi, kali ini Taehyung yang melonggarkan pelukan dan menatap Jungkook.

" Tidak" jawabnya. Raut wajah Jungkook langsung sedih mendengar jawaban singkat yang dilontarkan Taehyung.

" Kau tidak boleh mengajukan pertanyaan seperti itu, itu tugasku. Jadi Jeon Jungkook. Aku sangat mencintaimu, dan mau menjalani hubungan ini denganku ? menjadi sepasang kekasih—ani ! menjadi tunanganku ?" tany Taehyung. Matanya tidak lepas dari pandangan Jungkook. Jungkook kembali menenggelamkan wajahnya di dada Taehyung dan mengangguk antusias.

" Tentu.. tentu saja aku mau Tae " ujarnya.

Dan mereka benar-benar melewati dini hari dengan cerita-cerita mereka selama mereka tidak bersama.

..

Tepat pukul setengah enam pagi, ponsel Taehyung berbunyi. Jungkook menggoyang-goyangkan tubuh Taehyung yang tengah mendekapnya. Mereka baru saja tertidur pukul setengah empat tadi setelah bercerita dan cuddling penuh cinta. Tangan Taehyung meraba nakas dan menemukan ponselnya dan menjawab panggilan itu. sedikit melihat nama siapa yang menelepon dipagi buta ini, Taehyung berdecak malas. Nama Daniel terpampang di layar canggih itu.

/"hyung !"

" Wae ?"

/" Kenapa kau belum kemari ? kau tidak memasakkan sarapan lagi untuk Jungkook ? biasanya jam 5 kau sudah mengetuk pintu apartemen ku"

" Sepertinya aku tidak akan membuat sarapan disana lagi"

/" Wae? Ah kau sudah berbaikan dengan Jungkook? Kalau begitu aku dan Seongwoo akan sarapan disana. Kami sudah terbiasa makan sarapan buatanmu hyung. dan aku juga akan mengajak Jinyoung nanti kesana, hyung"

" Ya ! aku hanya memasakkan sarapan untuk Jungkook. Buat kalian hanya bonus karena sudah menjada Jungkookie-ku "

/"Pokoknya kami akan kesana nanti hyung, daaah !"

Sambungan telepon mrereka diputus sepihak oleh tetangganya. Jungkook yang mendengar Taehyung yang memasakkan sarapan untuknya sudah melebarkan senyum dari tadi. Jungkook memang tahu bahwa sarapan yang dia makan selama sebulan di apartemen Daniel adalah masakan yang dibuat Taehyung. Itu adalah bentuk perhatian yang Taehyung buat untuknya.

" Tae.." panggil Jungkook dengan suara seraknya. Taehyung menjawab dengan gumaman dan menatap Jungkook yang masih enggan melepaskan pelukannya.

CUP.

Jungkook mengecup bibir Taehyung. Entah berapa kali Jungkook selalu memulai ciuman diantara mereka.

" Good Morning, Bae " ucap Jungkook sebelum menenggelamkan wajahnya malunya ke ceruk leher Taehyung lagi. Dan percayalah itu adalah pagi indah yang sangat disenangi Taehyung..

.

.

To Be Continued.

.

.

Hayooo… bagaimana ? hmmm maaf nih bakalan sering telat up.. tetap stay yaaa..

See ya next chap chingu..

Byee..

Chap depan Taekook Rate M yaaa

.

.