After A Minute
YeWook
Warn : GS, Typo, Alur berantakan.
The Person is not mine, but the Story always be MINE! :D
Disarankan untuk perhatikan tanggal nya baik-baik ya~ takut bingung.
Ibu?
Bolehkah aku merindukanmu?
Setahun.. 2 tahun.. hingga beratus-ratus tahunpun.
Meniup lilin bersama, menyanyikan lagu yang riang bersama.
Selamat hari Ibu, bu~
Aku mencintaimu..
France, 22 Desember 1999
Bukankah itu terlihat biasa? Kegiatan akhir pekan yang membuat seluruh penghuni rumah sibuk untuk membersihkan rumahnya. Sang ibu yang membersihkan bagian dalam rumah, sang ayah yang membersihkan seluruh ruang yang ada diluar rumah seperti tempat penyimpanan barang, dan sang anak perempuan satu-satunya yang ikut membantu dengan membereskan kamarnya.
Jaejoong-sang ibu- mengusap dahinya yang basah karena keringat. Melihat seluruh ruangan yang bersih tanpa noda dan tersenyum lebar.
"ah.. akhirnya selesai juga."
"eomma!"
"eits.. jangan lari-lar, sayang. Nanti jatuh." Jaejoong merentangkan tangannya guna menangka anaknya yang kini berlari ke arahnya. Sedangkan Ryeowook kecil tetap berlari tanpa memedulikan perkataan ibunya.
Dan saat ia sudah dekat dengan ibunya,
DUG!
Set!
"tuhkan.. apa eomma bilang. Jangan lari-lari. Coba saja kalau tadi eomma tidak dekat. Pasti wajah mungil ini sudah hancur deh." Jaejoong tertawa kecil sambil mengelus-elus kepala Ryeowook kecil.
"ugh.. eomma." Ryeowook kecil mengusap matanya yang mulai berair.
"cup..cup. sudah. Wookie tidak apa-apa kan? Sudah ya.. " sang ibu kini memangku anaknya dan mengusap air mata di pipi chubby Ryeowook kecil.
"eomma.. huwee.."dan sekarang Ryeowook kecil mulai menangis dengan kencang.
"aduh.. sayang. Kita buat cupcake, yuk! Tadi katanya Wookie mau buat kue.. kita buat sekarang yuk." Bujuk Jaejoong yang dibalas gelengan kecil. Melihat anaknya yang semakin menangis membuatnya kewalahan.
"aduh.. appa mu kemana lagi. Sudah ya.. Wookie kan kuat. Jadi jangan menangis, oke?" bujuk Jaejoong lagi. Ryeowook kecil tetap saja menangis dan tidak mendengarkan perkataan sang ibu.
Tak lama kemudian Jaejoong sudah bisa bernafas lega walaupun sedikit. Melihat suaminya memasuki rumah. Setidaknya ada bantuan untuk menenangkan anaknya ini.
Dengan gerakan tangan Jaejoong menyuruh Yunho untuk mendatanginya. Melihat itu Yunho langsung mendatangi dapur dan langsung menggendong Ryeowook kecil.
"Aduuh. Anak appa kenapa menangis, heum?" tanya Yunho sambil mengecup kedua pipi anaknya.
Ryeowook kecil menggeleng. Walaupun tangisannya sudah berhenti, gadis kecil itu masih sesegukan ditambah cegukan. Yunho menatap Jaejoong meminta penjelasan. Tetapi yang didapatnya adalah tatapan tajam dari istrinya yang seolah-olah berkata "cepat tenangkan anakmu!"
Yunho mengangguk kecil. Ia membawa Ryeowook kecil keluar rumah menjauhi sang ibu sambil sesekali berkata untuk menenangkan Ryeowook kecil.
"hei, putri appa yang paling cantik. Mau tau satu hal tidak?" Yunho tersenyum kecil melihat anaknya kini menatapnya penasaran.
"tau apa, appa?" tanya Ryeowook kecil.
Sang ayah mendudukan dirinya di bangku taman rumahnya dan memangku anaknya. Tangannya mengelus lembut rambut hitam anaknya.
"Wookie, sayang eomma tidak?" Ryeowook kecil mengangguk.
"lalu.. Ryeowookie mau tidak membantu appa membuat kejutan untuk eomma?" tanya Yunho lagi. Mata biru Ryeowook kecil berbinar menatap ayahnya.
Kejutan?
'kejutan itu adalah perbuatan yang membuat orang itu senang. Tapi bisa juga membuat kita sedih. Biasanya kejutan dilakukan untuk orang yang sangat kita sayang dan tak akan pernah terlupakan.'
Dengan cepat Ryeowook kecil mengangguk. "tentu saja, appa! Ayo kita buat kejutan untuk eomma!"
Yunho tersenyum lebar. Menampilkan rentetan giginya yang rapih. Sepertinya anak kecil satu itu sudah melupakan rasa sedihnya. Yunho kembali menggendong anaknya dan bangkit dari duduknya.
"baiklah kalau begitu. Ayo kita siapkan semuanya! "
"ne, appa..!"
Seoul, 22 Desember 2014
"Ryeowook-ah?"
"ye, halbeoji." Ryeowook membungkuk sejenak lalu menatap lawan bicaranya.
"apa hari ini kamu akan pergi kesana?"
"tentu saja, halbeoji. Kau mengizinkanku, kan?" Ryeowook menunduk. Tak berani menatap pria tua di depannya. Sedangkan pria tua itu tersenyum kecil melihat tingkah Ryeowook. Cucunya itu.. tak pernah berubah. Selalu meminta izin untuk melakukan segala hal. Persis seperti ibunya.
Ibunya? Apakah sekarang masih berhak dikatakan seperti itu?
"Ryeowookie.. cucuku. "
"ye, halbeoji. " Ryeowook tetap menunduk. Membuat pria tua itu menjadi gemas sendiri melihatnya.
"tegaklah. Jika kau seperti itu bagaimana halbeoji dapat melihat mu?"
Mendengar ucapan itu, Ryeowook mengangkat kepalanya. Memperlihatkan mata biru nya yang dari tadi memancar cerah. Pria tua itu tertegun sejenak.
'Mata itu. Jaejoong. Apa kau melihatnya? Kini mata itu kembali cerah hanya karena kamu. Apa aku sudah menjadi orang yang sangat jahat memisahkan kalian?'
"halbeoji?" panggilan dari Ryeowook membuatnya kini kembali tersadar.
"ah ya.. maaf. Jadi apa yang kau katakan tadi?" tanya pria tua itu. Ryeowook menunduk sejenak lalu kembali menatap kakeknya.
"eung.. apa kau mengizinkanku untuk.."
"tentu saja kau diizinkan, Ryeowookie." Sang kakek memotong perkataan Ryeowook.
"ah? Apa maksud.."
"tanpa kau meminta izin pun kau pasti selalu dibolehkan kesana." Sang Kakek tersenyum lebar. Ia mengelus rambut hitam Ryeowook dengan lembut.
Ryeowook tersenyumlebar lalu memeluk sang kakek dengan sangat erat. "terima kasih, kakek! Aku menyayangi kakek!"
Sang kakek membalas pelukan itu dan mengusap punggung Ryeowook.
"tentu saja. Maafkan kakek, sayang."
Ryeowook melepaskan pelukan itu lalu menatap sang kakek heran.
"eh? Kenapa kakek meminta maaf? "tanya Ryeowook. Sang kakek menggeleng kecil.
"sudah sana kau berangkat. Kelihatannya sebentar akan turun hujan."ucapan sang kakek membuat Ryeowook melihat keluar jendela yang ada disana.
"ah, iya.. ini sudah mulai mendung." Dengan cepat Ryeowook mengambil tas dan jaketnya kemudian berlari keluar ruangan.
"aku berangkat, kakek! "
"kakek titip salam ya! Hati-hati!"teriak sang kakek. Matanya tak lepas dari cucu nya yang sibuk dibawah karena terburu-buru. Tertawa saat melihat Ryeowook tersadung karena tali sepatunya yang kembali lepas. Dan tersenyu kecil saat melihat Ryeowook yang terdiam di foto keluarga nya.
"dia masih saja ceroboh ya? Selalu meminta izin dalam melakukan sesuatu, dan mengenang rasa bersalahnya. Persis seperti ibunya." Sebuah suara menyadarkan sang kakek.
"ya. Tentu saja. Dia kan anaknya." Ucap sang kakek tanpa membalikan badannya. Pandangannya masih saja menatap keluar walaupun Ryeowook telah pergi.
Orang itu tertawa kecil. Seolah menertawakan pernyataan pria tua itu.
"kenapa tertawa?" tanya sang kakek tak suka.
"hahaha.. maaf. Hanya ingin saja. "orang itu kini berdehem.
"lalu. Ada keperluan apa kau kesini, Lee Donghae? Bukankah sudah kubilang untuk tidak kembali kesini?" sang kakek kembali bertanya dengan sinis. Tak lupa juga pandangan yang sangat sinis untuk pria di belakangnya.
"ah.. jangan terlalu tegang seperti ini dong, halbeoji. Begini juga aku kan tetap cucu mu."Donghae tersenyum kecil. Berucap seolah tidak ada yang terjadi.
"sudah cepat katakan apa maumu, Lee Donghae. Sebelum kupanggil pengawal untuk membawamu keluar."perintah sang kakek. Kini pria tua itu berbalik menghadap Donghae.
"wow.. wow.. tenang, kek.. aku kesini juga bukan mauku. Ini adalah permintaan dari salah satu cucu kesayanganmu itu. "
"JongWoon? "
Donghae mengangguk. "Yap. Dia menanyakan keadaan mu dan dia tak sempat kesini."
Sang kakek terdiam di tempatnya. Sudah berapa lama ia tak melihat pria yang sudah ia anggap sebagai cucunya itu? Pria yang kini telah menjadi suami dari cucu berharganya. Dan karena kesalahannya lah cucu berharganya tak menganggap suami nya itu.
Merasa tak mendapat respon dari sang kakek, Donghae menepuk pundak sang kakek pelan. Matanya berubah menjadi sendu.
"halbeoji. Cinta tak akan pernah ada jika itu karena paksaan. Halbeoji gunakan kristal itu dan memberinya kepada JongWoon berharap Ryeowook akan mencintai nya tentu saja berhasil. Namun Halbeoji tak akan pernah berhasil untuk membuat hati Ryeowook mencintai JongWoon seutuhnya. Karena kristal itu hanya akan mengendalikan jiwa Ryeowook saja . bukan hati nya." Donghae diam sejenak.
"jika Halbeoji ingin, biarkanlah Ryeowook dengan kehidupannya sendiri. Jangan mengaturnya lagi. Sudah cukup ia kehilangan keluarganya. Dan apa halbeoji ingin Ryeowook kembali kehilangan hatinya?"
"apa maksud.."
"percayalah. Ryeowook pasti akan melakukan hal yang halbeoji mau tanpa paksaan dari kristal itu. Tanpa sadar hati nya yang sudah tak tertutupi oleh jiwanya itu sudah terisi penuh dengan orang yang halbeoji inginkan. Ingatlah itu, halbeoji."
Setelah berucap panjang lebar, Donghae berjalan meninggalkan sang kakek sendiri. Dengan tatapan yang sangat merindukan apa yang di tatapnya, ia kembali memfokuskan dirinya untuk keluar. Keluar dari rumah yang sangat dirindukannya.
France, 22 Desember 1999
"Ryeowookie! Yunnie! Dimana kalian?! Aissh.." Jaejoong menghela nafasnya kasar lelah mencari suami dan anaknya itu. Pasalnya mereka berdua sudah menghilang sejak kejadian pagi tadi.
Dengan kesal, ia menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dan kini ia berusaha mencari saklar lampu. Keadaan kamar tentu saja gelap. Ini sudah malam hari dan hanya kamarnya lah yang masih belum dinyalakan lampunya. Tentu saja karena mencari-cari 2 orang yang sangat penting di hidupnya itu.
Cklek. Cklek.
"eh? Kenapa tidak mau menyala?" heran jaejoong.
Kemudian ia berjalan mencari meja riasnya. Berniat untuk menyalakan lampu dari ponselnya. Setelah dapat meja rias, ia meraba permukaan meja itu.
"kenapa hpku tidak ada? Seingatku, tadi pagi aku taruh disini kok. Kenapa sekarang tidak ada?"
Sudah lelah mencari, wanita itu merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Tapi tak lama karena ia merasakan sesuatu menghalangi punggungnya dengan kasur.
"apa ini?" tanya Jaejoong dengan heran. Kini tangannya memegang papan yang tadi menghalangi punggungnya.
"haha."
"sssst.."
"eh?" Jaejoong mengerutkan keningnya. Ada suara. Sepertinya ia kenal dengan suara-suara itu. Jaejoong meyakinkan hatinya untuk berbalik. Berharap tak akan ada apa-apa yang ditakutinya.
'1..2..3..'
Set.
DUAR!
"Happy Birthday, eomma! Saengil Chukahamnida!"
Jaejoong menatap keduanya dengan tidak percaya. Tangannya menutup mulutnya.
Ryeowook kecil yang membawa kue itu kini mendekati Jaejoong. Dengan penerangan dari lilin kue itu, Jaejoong dapat melihat anaknya dengan jelas.
"eomma.. cepat tiup lilinnya. Aku kan juga mau makan kue itu. "ucapan polos dari anak 5 tahun itu membuat kedua orang tuanya tertawa kecil. Jaejoong mengangguk. Ia menutup matanya berharap.
'Ya Tuhan.. tolong jaga malaikat kecilku ini apapun yang terjadi. Walaupun aku dan Yunho tidak bisa berada disisinya lagi. Kumohon berikan dia kesehatan dan kekuatan yang lebih. Dan aku harap aku dan Yunho masih bisa memeluknya, ya Tuhan.'
Dan dengan cepat Jaejoong meniup lilin nya.
"yeaay! Appa! Umma sudah meniup lilinnya! Yay!"Ryeowook kecil berteriak senang.
Yunho tersenyum senang. Ia menekan tombol yang sedari tadi ia pegang. Dan sedetik kemudian kamar yang gelap ini menjadi berwarna warni. Lampu-lampu kecil yang telah disusun rupa olehnya dan anaknya itu kini menyala. Tak ada kalimat yang terbentuk dari lampu-lampu kecil itu. Namun Jaejoong merasa punggung nya sedikit hangat.
"eomma.. lihat kebelakang eomma.."perintah Ryeowook kecil. Jaejoong mengusap pipi anaknya dan mengangguk.
Set!
"ah!" Mata Jaejoong tak bisa berhenti mengeluarkan air matanya lagi. Papan yang tadi menghalangi punggungnya kini ada ucapan dan terang karena pantulan cahaya dari lampu-lampu.
Tangannya kembali menutup mulutnya yang terbuka. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Dan hembusan nafas terasa di lehernya. "kau suka?" tanya Yunho.
Jaejoong mengangguk tanpa suara. Ryeowook yang melihat ibunya menangis kini mengusap kedua pipi ibunya. "eomma. Kenapa menangis? Jangan nangis, eomma.."
Sang ibu yang gemas melihat itu kini menarik Ryeowook kecil kedalam pelukan hangatnya.
"tidak sayang.. eomma bukan menangis karena sedih. Tapi karena eomma bahagia. Makasih ya, sayang.."
Yunho ikut memeluk 2 orang yang sangat ia sayangi itu. "terima kasih karena telah memberikan hidupku untuk bersamaku, Boo.. aku sangat menyayangimu. Saranghae.."
Keluarga kecil itu kini saling memeluk. Memberikan kehangatan satu sama lain. Dan mengabaikan papan di depannya. Ya menampilkan tulisan sang ayah dan gambar khas anak umur 5 tahun.
'Kami mencintaimu, eomma..'
Seoul, 22 Desember 2014
Srekk.. srekk. Srek..
Ryeowook mencabut tumbuhan liar yang tumbuh datas batu itu. Dengan teliti tanpa menhancurkan rangkaian bunga yang sudah ia susun beberapa bulan sebelumnya.
Setelah selesai, ia kembali menyusun bunga-bunga yang baru saja ia beli dari toko bunga langganannya. Bunga lily putih. Kesukaan sang ibu.
Tangan lentiknya kini mengusap batu dengan tulisan itu. Sesekali ia mengecupnya. Seolah-olah batu itu adalah barang yang sangat disayanginya.
"eomma.. sudah berapa tahun aku tidak melihat mu? 13 tahun? Kenapa aku sangat merindukanmu, eomma."
Tes..
Air hujan mulai turun dan membasahi bumi. Bersamaan dengan turunnya airmata gadis itu. Ryeowook perlahan menghadapkan kepalanya kelangit dan merasakan air hujan yang turun.
"eomma.. dulu kata eomma kalau hujan turun berarti malaikat juga turun. Apa itu benar? Berarti seharusnya eomma juga turun. Eomma kan malaikat yang sangat cantik."Ryeowook kembali berucap. Tangannya tak berhenti untuk mengelus batu itu.
"eomma.. apa eomma tau bagaimana keadaan appa? Dia kesepian eomma.. apa eomma tidak ada niat untuk kembali? " Ryeowook menghela nafasnya. Tangannya merogoh tas nya dan melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar. Melihat nama di ponselnya membuatnya kembali menaruh ponsel itu ke tasnya. Tak peduli jika orang itu terus memanggilnya.
"eomma.. aku ingin bersama appa. Tapi aku tidak bisa.." kini ucapannya melemah. Pancaran mata biru nya meredup.
"eomma.. aku sudah mulai mencintainya dengan hatiku. Apa boleh? Dengan begini apa aku masih boleh mencintai eomma? Hiks.." sebuah isakan lolos dari mulutnya.
"eomma.. kenapa hidupku bergantung pada kristal itu? Aku membenci nya eomma.. hiks.. aku bukan membenci orangnya. Tapi. Hiks.. aku membenci kristalnya eomma.. a.. aku tak peduli tidak mempunyai mata biru ini. Asal, hiks.. aku bisa bersamanya tanpa paksaan lagi, eomma.. aku mohon.. hiks" sekarang Ryeowook berlutut menghadap batu yang dari tadi ia elus.
"aku mohon eomma.. bantu aku meminta pada Tuhan untuk mencabut aturan kristal itu.. hiks. Aku tak mau.. hiks. Aku mencintainya eomma.. mencintai JongWoon! Tolong eomma.. hiks hiks.."
Ryeowook kini memeluk batu itu. "eomma. Aku mencintai eomma.. selamat ulang tahun eomma.."
Dan perkataan terakhirnya itu menutup kesadarannya.
Oh, siapa saja tolong gadis mungil ini.
Selamanya, aku tak akan pernah menggantimu dalam hatiku.
Sebesar apapun itu aku mencintainya, tetap saja.
Tuhan.. bisakah kau bantu aku?
Kabulkanlah segala permintaannya.
Dengan begitu aku akan hidup dengan tenang.
Sekali lagi.
Aku mencintaimu, eomma~
Aneh gk sih? Ngetik nya sumpah lamaaaa banget! Semua kosakataku hilang! Huwee.. jadi aja mikirnya lama banget. Maaf kalau jelek ya..
Last, Mind for review?
KimHyeNi
