Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. MPREG Guys !

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

.


Chapter X :Destination !

.

.

Dari tadi Jimin hanya memandangi pergelangan tangannya yang diinfus tanpa melihat ke arah Yoongi yang terus berusaha membujuk pemuda mochi tersebut.

" Jiminie.. " panggil Yoongi. Di tangannya sudah memegang sendok dan piring yang berisi makanan yang dibuatkan khusus oleh sahabat sehidup semati Jimin. Suasana diruangan yang sedang mereka tempati sedang benar-benar dilingkupi rasa canggung, sementara sayup-sayup dari luar terdengar suara Jihoon dan teman-temannya yang sedang bercanda.

"hyung, aku serius berbicara mengenai tentang hubungan kita. Putuskan aku dan kau bebas setelah ini " ucap Jimin tegas, memberanikan diri memandang Yoongi yang tengah memandang sayu ke arahnya. Jimin sendiri sudah muak jika harus terus kalah dengan perasaan cemburu dan gossip-gosip mengenai produser handal yang ada didepannya dengan artis yang tengah dekatnya itu.

" Kau tidak bisa seenaknya memutuskan hubungan kita. Aku punya hak atasmu dan anakku Jiminie" ucap Yoongi tak kalah tegas. Dia tidak akan pernah melepaskan Jimin demi siapapun dan tidak akan sudi mengabulkan permintaan kekasihnya itu.

" Suran mencintaimu hyung !" lirih Jimin.

" Tapi aku mencintaimu, dan di dalam tubuhmu ada diriku yang lain. Dia milikku" tanggap Yoongi. Piring yang ada ditangannya tadi sudah ditaruh di atas nakas. Yoongi berusaha meraih tangan Jimin yang sedang meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Yoongi benar-benar merindukan Jimin. Merindukan kekasih hatinya.

" Menjauh hyung, hiks, bayi ini aku bisa mengurusnya sendiri tanpamu. Pergi ! " pertahanan yang mati-matian dia tahan akhirnya runtuh. Jimin terisak. Benar-benar tidak kuat.

" Sayang. Kau salah paham. Malam itu aku tidak pulang karena Namjoon benar-benar harus dibawa ke rumah sakit. Aku tidak pergi kencan dengan wanita itu. Maaf jika menyakitimu " Yoongi berusaha memeluk tubuh Jimin yang terus memberontak dalam dekapan Yoongi.

" Aku mohon percaya kepadaku. Jebal " Yoongi benar-benar lemah jika sudah berurusan dengan Jimin. Pemuda yang terlihat sok manly namun akan benar-benar mengeluarkan sisi cute-nya jika berada di sisi Yoongi. Merasa sudah tenang, Yoongi melonggarkan pelukannya. Tangan pucatnya menyeka air mata Jimin, dan mata yang sembab itu di cium dengan lembut oleh pemuda dingin tersebut.

" Kau tahu benar jika aku selalu mencintaimu, kenapa kau ragu ?" tanya Yoongi dengan suara lembut, sangat tulus disetiap kata yang terlontar.

" Kau percaya kepadaku ? Sumpah demi bayiku yang sedang kau kandung Jiminie, aku benar-benar tidak pernah mencintai siapapun selain dirimu. Cukup menyiksa diri sayang. Kau juga menyakitiku dan bayiku" Yoongi kembali mendekap tubuh rapuh Jimin. Benar-benar menyesal karena telah melakukan hal bodoh yang melukai ibu dari calon anaknya tersebut. Tangan Yoongi terus mengelus pelan punggung sempit Jimin, sampai yang lebih muda melepaskan pelukan dan menatap Yoongi.

" Ucapkan kalau kau mencintaiku, hyung " pinta Jimin.

" Jiminie.. Min Jimin! Aku, Min Yoongi sangat mencintamu. Demi hidup dan matiku akan ku pastikan kau akan menjadi seseorang yang akan selalu menempati hatiku. Menjadi pemiliknya " Yoongi mengecup pelipis Jimin.

" Jangan seperti ini lagi sayang. Ucapkan kalau kau cemburu, tidak menyukai jika yang aku lakukan menyakitimu kau harus utarakan kepadaku. Arra ?" ucap Yoongi. Jimin hanya mengangguk lemah.

" Hyung, aku rindu " lirih Jimin. Jimin merindukan sentuhan sang dominan.

" Ani ! aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu sekarang, Chim. Sekarang ayo makan dan aku akan menemani kalian istirahat. Tidak akan ada acara bercinta sebelum kau sembuh sayang " tanggap Yoongi. Tangannya kembali mengambil piring yang berisi itu. Jimin sedikit merengut karena keinginannya tidak dituruti.

" Jangan menyakiti diri lagi sayang. Aku akan marah jika kau menelantarkan bayi kita. Dia butuh nutrisi. Beruntung Jungkook membantu memasangkan infus untukmu. Kau mau masuk rumah sakit?" Jimin total menggeleng. Dia tidak ingin dirawat.

" Ya sudah kalau seperti itu, ayo makan ! sayang nanti marahi eomma-mu jika nakal seperti ini lagi ya nak. Sekarang kalian harus makan. Jagoan Appa harus kuat, kita lindungi eomma bersama-sama dan jangan membuatnya sedih lagi ,arra ?" ucap Yoongi lembut, mengecup dan mengusap perut Jimin yang sudah hampir membuncit. Membuat Jimin mendengus geli sendiri melihat kelakuan Yoongi-nya. Dia tidak pernah menyesal karena di dalam tubuhnya saat ini ada nyawa yang dititipkan Tuhan hasil cintanya dengan Yoongi.

.

X0X0

.

Tiga minggu semenjak kejadian Jimin sakit. Tidak ada masalah berarti yang terjadi antara mereka. Yang terakhir masalah yang sangat mengguncang Department Game adalah berita tentang Daniel dan Seongwoo memutuskan untuk berpisah. Pasangan yang selalu menganggap tidak ada hari esok sudah tidak bersama lagi. Seminggu yang lalu Seongwoo mengatakan kepada anggota tim jika dia sudah putus dengan Daniel. Tanpa beban, tanpa kesedihan, Pemuda Ong itu mengatakannya dengan senyuman yang masih tersemat indah di bibir tipisnya. Sementara Daniel hanya diam ketika ditanya. Meskipun hubungan percintaan mereka kandas, tidak menjadi alasan hubungan pertemanan mereka juga hancur. Kini mereka tahu jika Daniel dan Seongwoo adalah teman dan rekan kerja.

" Tae, cepatlah ! antarkan aku ke kampus !" teriak Seongwoo masuk ke dalam apartemen Taehyung. malam tadi ia merengek kepada Taehyung agar diantarkan ke kampus pagi ini. Jungkook tidak berangkat ke kampus karena dia memang sudah mengambil mata kuliah hari ini kemarin, karena Seongwoo ada hal penting yang tidak bisa dia tinggal kemarin sore makanya hari ini Seongwoo menumpang di kelas lain. Menyelamatkan absennya.

" Astaga kau ini kenapa harus buru-buru ? Jungkook belum selesai sarapan" jawab Taehyung yang sedang memakai sepatunya.

" Biarkan saja Jungkook nanti ikut bersama Daniel, bertemu di kantor saja kalian.Ppalli!" paksa Seongwoo sambil menarik lengan Taehyung yang belum sepenuhnya berdiri.

" Sayang, aku pergi mengantar Seongwoo. Nanti bertemu dikantor ya !" teriak Taehyung pamit kepada Jungkook yang berada di dalam apartemen.

Meskipun sudah putus dari Daniel, dari beruang kesayangannya itu, Seongwoo masih tinggal satu atap dengan Daniel. Tapi mereka berbeda kamar. Kini Daniel tidur dengan Jinyoung. Mereka memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak diketahui oleh teman-temannya. Bukan karena orang ketiga dan terakhir sebelum putus mereka masih baik-baik saja. Tidak menyangka jika pasangan itu memutuskan untuk berpisah.

" Tae, hubunganmu dengan Sana semakin dekat. Jangan menyelaku ketika aku berbicara sekarang. Aku tahu kau pasti akan mengatakan jika hubunganmu dan Sana hanya sebatas sahabat. Aku tahu benar. Aku juga sahabat kalian kalau kau lupa. Bukankah aku, kau, Jeonghan, Jiminie, Sana dan Sowon memang bersahabar dari kita SMA ? Tapi aku jelas tahu jika Sana menaruh hatinya kepadamu. Sejak kepindahanmu ke Department Pembangunan kau menjadi lebih dekat dengan Sana yang juga ikut pindah kesana. Secara tidak langsung kau menyakiti Jungkook, Tae " ucap Seongwoo menjelaskan. Dia memang ingin mengatakan ini kepada Taehyung. Sejak Taehyung yang juga memutuskan untuk pindah Divisi, Seongwoo benar-benar merasakan perubahan Taehyung.

" Tapi kami hanya sahabat, dan kau tahu itu. aku dekat dengannya hanya bentuk nostalgia kita dulu. Jungkook juga tidak mempermasalahkannya. Kau sangat mencintai Jungkook" ucap Taehyung.

" Kau yakin Jungkook tidak mempermasalahkannya ? Sadar bung, kau itu sedang menjalin hubungan serius dan sebentar lagi akan menikah. Dari mana wajarnya jika dia bercanda masih memegang-megang tanganmu dan dengan serampangan memelukmu disembarangan tempat. Kita sudah dewasa harusnya semakin tahu batasan " ucapan Seungwoo. Menahan geram berbicara dengan sahabatnya yang memiliki level kepekaan di bawah standar.

Taehyung hanya diam tanpa berniat membantah ucapan Seongwoo, yang dikatakan mantan kekasih Daniel itu benar. Belakangan ini dia memang kembali dekat Sana, sahabatnya. Sering melewati makan siang bersama ataupun bertemu di waktu luang. Taehyung tidak berpikiran jauh mengenai apa yang dilakukan justru akan menyakiti hati yang seharusnya ia jaga. Sampai di depan gerbang kampus Seongwoo, pemuda Ong itu menoleh ke arah Taehyung dan akan berbicara sedikit lagi sebelum memutuskan untuk turun.

" Mengenai rencana pernikahan kalian. Bukan Jungkook yang membeberkan. Justru Jungkook tidak pernah memberitahukan kepadaku ataupun yang lain. Mommy yang memberitahu, beliau sangat antusias bercerita menginginkan Jungkook menjadi menantunya. Saudara-saudaramu sangat jelas menerima Jungkook sebagai pendampingmu. Tae, sebagai sahabatmu aku hanya memberi saran. Jangan sampai Mommy ataupun saudara-saudaramu kecewa nantinya. Oke.. aku turun, Bye !" ucap Seongwoo. Dan Taehyung masih memikirkan apa yang dikatakan sahabatnya itu.

..

" Hei sayang !" panggil Taehyung. Saat ini mereka sedang berada di toilet yang berada didekat kantin. Jungkook izin kepada teman-temannya untuk mencuci mukanya, letih sekali hari ini karena tidak berhenti bekerja mewarnai beberapa karakter. Taehyung memang sengaja menghampiri Jungkook karena dia sangat merindukan kelinci gembulnya itu.

" Tae.. jangan cium. Nanti ada yang lihat !" cegah Jungkook dengan mendorong dada Taehyung yang sedang mendekatkan wajah ke arah Jungkook.

" Disini tidak ada orang sayang. Aku sangat merindukanmu, tapi pagi kita tidak berangkat bersama, dan kita baru saja bertemu sekarang" ujar Taehyung.

" Kau seperti tidak punya waktu saja untuk bertemu denganku" kedua tangan Jungkook menangkup wajah Taehyung, mengelus pipi sang dominan. Lalu mengecup singkat bibir yang jujur saja juga sangat dirindukan Jungkook.

" Aku butuh recharging energi sayang. Lelah sekali bekerja di department pembangunan itu. semuanya aku yang handle" curah Taehyung mengeluarkan semua unek-uneknya.

" Kau memang harus meng-handle semuanya Tae, bukankah kau wakil kepala bagian ? hmm ?" tanya Jungkook. Membiarkan Taehyung memeluknya erat.

" Sudah lepaskan Tae !" perintah Jungkook yang tidak diindahkan oleh Taehyung.

" Lima menit lagi Jeon. Aku butuh tenaga darimu" ucap Taehyung yang sedang menggigit-gigit kecil pundak Jungkook.

" Kau selalu bisa bertemu denganku hyung. hanya saja aku merasa kita sedikit renggang sekarang bukan? Kau sering keluar dengan teman-temanmu dan aku juga sering kuliah. Kita seperti sedang kencan diam-diam saja. Tapi aku sangat mencintai Taehyungie. Neomu neomu saranghae" tutur Jungkook yang kemudian memamerkan gigi kelincinya. Taehyung juga melihat jelas kilatan kecewa dari pancaran mata Jungkook, setidaknya Jungkook mencoba untuk emosi dan menyulut pertengkaran dalam hubungan mereka. Taehyung sadar jika belakangan ini sepulang kerja dia selalu bertemu dengan Sana, duduk di café berjam-jam untuk menbicarakan masa SMA dan bercerita tentang apa yang mereka lakukan selama mereka tidak bersama.

" Tae, ingat aku selalu mencintaimu, kau juga mencintaiku, kan ?" tanya Jungkook yang sekarang berada di dekapan Taehyung.

" Sangat, Jungkook. Aku sangat mencintaimu.. maaf mengabaikanmu akhir-akhir ini" jawab Taehyung sambil mengecup pucuk kepala Jungkook dengan lembut.

" Cha.. kita makan siang. Mereka pasti sudah menunggu kita" ajak Taehyung sambil menggenggam tangan Jungkook dan pergi dari toilet.

" Oh, Tae.. ayo menghabiskan waktu bersama nanti malam. Aku rindu" bisik Jungkook di tengah perjalanan. Taehyung hanya mengulum senyum mendengar permintaan kekasihnya itu. benar, sudah lama mereka tidak bercinta. Belakangan ini kamar hanya menjadi tempat istirahat dan mereka hanya melewatkan malam-malam panas mereka.

" As you wish Baby " jawab Taehyung

..

Taehyung dan Jungkook bergabung di meja rekan kerjanya, di sudut kantin perusahaan. Disana ada Jeonghan, Jimin, Daniel, Hoseok dan Jackson, mereka sangat ribut, saling berebut makanan di nampan masing-masing.

" Eh, Kookie ayo gabung disini " Jeonghan menggeser tubuhnya dan mengode Jungkook untuk disampingnya. Taehyung dan Jungkook duduk disamping Jeonghan , Jungkook berada ditengah.

" Chim, itu Yoongi-hyung !" bisik Hoseok. Jimin mengikuti arah pandang Hoseok, benar saja di dekat pintu kantin ada Yoongi yang sedang di ikuti oleh artisnya. Artis yang menyukai ayah dari calon bayinya. Yoongi berjalan menuju meja mereka dan Jimin sedikit terkejut ketika Yoongi mencium bibirnya. Semua orang yang ada disana memandang mereka dengan tatapan shock.

"Oh My God !" ucap Jackson dan Hoseok serentak.

" wae ? tidak pernah melihat orang ciuman ? atau kalian sendiri belum pernah ciuman ?" jawab Yoongi yang membuat Hoseok dan Jackson tidak terima.

" Enak saja.. walaupun aku LDR dengan kekasihku di divisi lain, tapi aku sering kok berciuman " jawab Jackson tidak mau kalah. Hoseok mengangguk setuju. Meskipun pemuda hiperaktif itu juga berbeda divisi dengan Woozie, orang yang dicintainya, tetapi mereka sering menghabiskan waktu berdua diluar perusahaan.

" Terus apa yang kalian rusuhkan melihat aku mencium tunanganku ?" tanya Yoongi lagi.

" Tidak ada, eh Suran-noona, mau bergabung bersama kami ?" tanya Hoseok sekedar berbasa basi. Suran menyusul Yoongi setelah mengetahui produser muda itu menuju kekasihnya.

" Boleh ?" tanya Suran.

" Tentu saja boleh kalau kau ingin me— Ya! Ya ! Jiminie kau merusak sepatuku " teriak Jeonghan tidak terima, ucapannya terputus karena Jimin sudah dulu menyenggol sepatunya dengan kencang. Jimin tahu pasti pemuda cantik itu pasti akan menyemprot Suran dengan berbagai umpatan dan hujatan yang akan menyakitinya nanti.

Suran duduk di samping Hoseok, menikmati makanannya dengan sedikit canggung, bayangan Yoongi yang terang-terangan mencium Jimin di depan umum masih teringat, biasanya Yoongi akan diam saja atau sekedar menyapa Jimin di depan umum. Jujur saja, Suran sangat mencintai Yoongi, dia berharap bisa menjalin hubungan dengan orang yang cukup berpengaruh pada karirnya itu.

" Oh Tae !" seorang wanita cantik datang menginterupsi mereka.

" Satu wanita ular lagi datang " bisik Daniel kepada Jeonghan, dan Jeonghan mengangguk setuju. Sana. wanita cantik yang berada satu divisi bersama Taehyung. Jeonghan pribadi memang menyimpan dendam pribadi, karena sebelumnya Seungcheol sempat mengejar-ngejar Sana dan menggantung perasaannya, sekarang wanita itu mengganggu hubungan Taehyung dengan berkedok sahabat baik antara pria dan wanita.

" boleh aku ikut bergabung ?" tanya gadis yang besar di Jepang tersebut. Seulas senyuman di bibirnya menatap mereka. Sebelum mereka memberi izin si wanita ini sudah duduk di depan Taehyung. mengetahui Jungkook yang kurang nyaman, Taehyung menggenggam tangan Jungkook yang bebas dibawah meja. Mengisyaratkan kalau dia akan baik baik saja meskipun ada Sana disana.

" Silahkan, kami tidak berhak melarangmu sementara ini tempat umum " jawab Jackson.

" Tae, kau coba ini, ini sangat enak" Sana menyuapkan makanannya kepada Taehyung. sementara Jungkook sudah menahan nafas jengah dari tadi. Aneh saja rasanya melihat kemesraan yang ditawarkan Sana kepada Taehyung. persahabatan tidak harus seperti itu.

" Taehyung juga punya makanannya sendiri, kenapa kau menyuapkan Taehyung ? kau tidak lihat makanan yang ada di depan Taehyung sama dengan punyamu " sarkas Jimin. Jimin mengerti posisi Jungkook, menahan cemburu, ingin marah tapi tidak bisa.

" Oh, Hyung.. aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku permisi dulu " ucap Jungkook, buru-buru. Dia bisa saja membuat masalah disana tapi dia masih menghormati beberapa orang yang dia anggap penting itu. tidak mungkin dia memalukan Yoongi dan rekan-rekan timnya dengan bermasalah dan adu mulut dengan Sana, memberikan penjelasan bahwa dia adalah pemilik mutlak atas diri Taehyung.

" Aku juga selesai !" ucap Daniel. Dia pergi menyusul Jungkook yang sudah hilang dari kantin. Sementara Taehyung hanya mampu melihat kepergian kekasihnya dan juniornya itu. tidak sedikitpun ingin menyusul, dia akan berbicara dengan Jungkook nanti.

" Mereka kenapa ?" tanya Sana seolah-olah tidak tahu apa-apa. Dia sebenarnya tahu Taehyung sedang menjalin hubungan dengan intern di department Game yang sangat terkenal itu.

..

Sore ini mereka akan mengadakan evaluasi department secara serentak, dan mereka akan berada di lantai yang sama. Lantai 32 Perusahaan raksasa itu. Jungkook akan berada satu lantai dengan Taehyung. dan Seongwoo yang melihat Jungkook senyum-senyum dari tadi hanya mendengus geli melihat sang adik yang terlihat hampir tidak waras itu.

" Kau hanya berada satu lantai dengan Taehyung, bukan satu ruangan. Astaga !" ucap Seongwoo yang tidak digubris oleh Jungkook. Jeonghan sudah menceritakan mengenai masalah di kantin tadi, dan tidak menyangka jika Taehyung tidak memikirkan perasaan Jungkook, sementara Jungkook sudah terlalu sabar menghadapi Taehyung yang tidak bisa dinasehati agar menjauhi dari Sana. Seongwoo tahu siapa Sana sebenarnya, wanita yang akan melakukan apapun agar ambisi dan obsesinya terwujud. Dan Kim Taehyung adalah salah satu Obsesi terbesar Sana yang belum tercapai saat ini. Seongwoo juga sudah memprediksi jika situasi ini pasti akan terjadi, dan tidak menyangka justru datang ketika Taehyung sedang menjalani hubungan serius dengan Jungkook.

'aku bersumpah akan membuatnya menderita jika menyakiti Jungkook' batin Seongwoo. Dia sudah menyayangi Jungkook seperti adiknya sendiri. Jungkook yang meski terlihat baik-baik saja, mampu menahan emosi yang dia punya dengan baik tapi tidak jika berhubungan dengan Taehyung. Seongwoo mengerti jika sekarang Jungkook sedang mengkhawatirkan hubungannya.

..

Di tengah rapat departmentnya, Jungkook mendapatkan perintah untuk menambah copy draft materi rapat mereka. Dan Jungkook dengan senang hati pergi. Di tengah perjalanan menuju mesin fotocopy Jungkook di tarik oleh seseorang ke dalam sebuah ruangan yang Jungkook yakini adalah ruang rapat lainnya.

" Ya ! lepaskan !" berontak Jungkook. Dia menarik lengan orang yang tiba-tiba melakukan hal mendadak itu. Jungkook memukul lengan orang itu sampai orang itu terpental cukup jauh. Jungkook menyadari jika orang itu adalah Seungcheol, orang yang disukai Jeonghan.

" Wae ? punya masalah apa kau denganku ?" tanya Jungkook menatap nyalang kepada orang yang ada di depannya itu. Seungcheol hanya diam dan berdiri. Kemudian menyerang Jungkook. Jungkook yang tidak siap langsung terpelanting menabrak dinding keras yang ada di belakang. bunyi benturan terdengar cukup keras, membuat Jungkook meringis menahan rasa sakit.

" Sialan !" geram Jungkook. Jungkook bukan laki-laki lemah, meskipun Jungkook sering mondar mandir rumah sakit tapi Jungkook cukup ahli bela diri.

" Apa masalahmu denganku ? Brengsek !" umpat Jungkook sebelum menyerang. Baku hantam diruangan itu tak dapat terelakkan, mereka babak belur, saling memukul satu sama lain. Jungkook mendapati tubuhnya lebam dimana-mana. Dari tadi Jungkook berusaha melindungi perutnya, karena dia cukup merasakan perih di area itu.

Mereka ambruk pada posisi yang cukup jauh, Jungkook mengambil udara dan membuangnya, benar-benar melelahkan. Dia masih memandang Seungcheol dengan garang, tidak mengerti salah apa tiba-tiba saja dia diserang. Kegiatan aksi tatap mereka teralihkan karena tepukan dan suara sepatu yang berjalan ke arah mereka.

" Good Job, Seungcheol ! aku rasa hutang-hutang keluargamu bisa lunas karena kerjamu cukup bagus. Dan kau, intern kurang ajar. Siapa kau berani sekali mendekati Taehyung ? kau percaya diri sekali !" ucapnya. Jungkook yang sudah berdiri hanya menatapnya dan menyeringai ke arah wanita itu. Jungkook hanya menatap remeh kepadanya.

" Hah ! sama saja ternyata. Wanita cantik penindas, main kotor dan tidak ada harganya " ucap Jungkook. Pipi Jungkook tiba-tiba memanas karena satu tamparan dilayangkan oleh Sana. Jungkook yang sudah tidak menahan emosi langsung menyekik leher Sana. Jungkook hanya memberikan gertakan kepada Sana, memastikan bahwa Jungkook tidak lemah.

" Ya ! astaga Jungkook ! lepaskan !" Taehyung tiba-tiba masuk ke dalam ruangan mereka. Diikuti oleh Daniel, Seongwoo dan Jeonghan. Tadi seorang staff memberitahu Jeonghan jika Jungkook dibawa Seungcheol membawanya ke ruangan ini. Jeonghan di perintahkan oleh Jaebum untuk mencari Jungkook. Sementara Taehyung, mereka bertemu di koridor dan ikut mencari Jungkook.

Jungkook melepaskan tangannya dari leher Sana, wanita itu pura-pura terbatuk. Padahal Jungkook tidak mencekiknya betulan, Jungkook tidak menekan nadinya.

" Tae.. hiks !" Sana menangis dan memeluk Taehyung. dan Jungkook hanya mampu menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak. Taehyung menatap marah kepadanya.

" Aku tahu kau cem—"

" –Daniel hyung, aku ingin pergi sini" ucap Jungkook dengan suara bergetar. Mengabaikan Taehyung yang tengah mengelus punggung Sana dan berniat akan menyalahkan Jungkook kembali.

Daniel dengan cekatan membantu Jungkook dengan memapahnya keluar dari sana, tidak menggubris Taehyung sedikit pun. Sementara Jeonghan membantu Seungcheol dan akan meminta penjelasan tentang semua ini.

" Kita baru saja membicarakan hal ini tadi pagi Kim. Jujur saja, sekarang entah mengapa aku ingin mempercayakan Jungkook kepada Daniel daripada orang yang lebih mementingkan wanita ular yang berkedok sahabat. Menjijikkan !" ucap Seongwoo keluar dari sana. cukup kecewa dengan Taehyung yang lebih terkesan membela Sana daripada Jungkook. Meninggalkan Taehyung yang sedang berperang dengan pikirannya.

" Tae, kau percaya kepadaku kan ? aku tidak melakukan apa-apa kepada Jungkook, aku hanya masuk ke dalam ini setelah mendengar orang berkelahi, aku tidak tahu apa-apa dan langsung saja Jungkook mencekikku, aku takut sekali " ucap Sana dengan air matanya. Taehyung hanya diam mendengar semua ucapan Sana.

..

" hyung aku mau kerumah sakit saja, punggungku sakit sekali" ucap Jungkook yang berjalan tertatih di iringi Daniel, dibelakangnya menyusul Seongwoo dan Jimin yang sangat khawatir melihat keadaan Jungkook. Selain punggung yang sakit Jungkook juga ingin memastikan sesuatu, ingin memastikan apa yang dia khawatirkan baik-baik saja. Jimin dan Seongwoo bersumpah akan mendiamkan Taehyung setelah ini.

" Baiklah, aku akan mengantarkanmu " tanggap Daniel. Sebelum pergi Daniel ingin memastikan Jungkook baik-baik saja.

..

Malam menjelang, Taehyung sudah berniat ingin pulang dan Sana dari tadi terus menahan Taehyung di apartemennya. Karena sudah cukup jengah, Taehyung akhirnya bangkit dan pulang, meninggalkan Sana yang hanya berteriak tidak ingin ditinggalkan.

" Tae ! Tae ! jangan pergi, Taehyung !" teriak Sana dari balik pintu.

Taehyung benar-benar tidak kuat lagi, dia harus pulang. Harus menemui Jungkook, ingin meminta maaf dan akan mendengar penjelasan Jungkook. Taehyung maklum jika Jungkook cemburu dan ingin melampiaskan semuanya kepada Sana, tapi tidak harus mencekiknya dan hampir membuat Sana kehabisan nafas.

Taehyung sampai di apartemen dan tidak mendapati Jungkook dimanapun.

" Jungkook ! Kookie kau dimana ?" Taehyung terus memanggil Jungkook, nihil. Tidak ada jawaban dan di apartemen itu tidak ada siapa-siapa kecuali peliharaan-peliharaan kecilnya. Taehyung juga mencoba menghubungi ponsel Jungkook tapi ponsel Jungkook tidak aktif. Dan Taehyung berinisiatif menelepon ibunya. Ibunya menjawab jika Jungkook tidak datang ke mansion mereka. Taehyung juga menghubungi Yoongi.

"Yeoboseyo ! hyung !"

/"wae ?"

" Apa Jungkook bersamamu ?"

/" brengsek ! setelah menyakiti adikku kau masih mencarinya tanpa rasa bersalah ? Kim, jangan seenaknya!"

"Mianhae ! aku tidak bermaksud. Makanya kau katakana dimana Jungkook agar aku bisa maaf"

/" Aku tidak tahu dimana dia, tadi setelah Daniel mengantarnya ke rumah sakit, Jungkook mengatakan jika dia akan pulang sendiri, kau tidak ingin bergabung dengan kami disini ? kami sedang mengadakan pesta perpisahan, Daniel akan resign dari Departmen Game dan akan bekerja di perusahaan cabang busan "

" Aku tidak bisa, sampaikan salamku kepada mereka, bye hyung"

Taehyung tidak menyangka jika Daniel akan pindah tanpa memberitahu dia dulu. Dari dulu Daniel selalu bersikeras mempertahan pekerjaannya di Seoul dan sekarang dia dengan suka rela akan resign.

Taehyung memutuskan untuk memasuki kamarnya. Di dalam kamar itu Taehyung merasakan sedikit kejanggalkan karena tidak mendapati barang-barang Jungkook. Taehyung bergegas membuka lemari pakaian dan tidak menemukan baju Jungkook yang biasanya tersusun rapi. Jungkook pergi, membuat tulang-tulang Taehyung melemah hingga pemuta tan itu terduduk dilantai.

" Jungkook-ah, aku belum menjelaskan kepadamu" lirih Taehyung. Lama Taehyung terduduk hingga mendapati sebuah kertas yang sedikit menarik perhatiannya dibawah lemari. Dia menarik kertas itu. dan membaca isinya. Taehyung terkejut karena kertas itu berisi hasil pemeriksaan kesehatan Jungkook hari ini. Mungkin saja tercecer oleh Jungkook.

" Tulang punggung dan bahumu retak. Apa aku sejahat itu tidak mengerti keadaan dan menyalahkanmu ? Jungkook kau dimana ?" tanpa sadar Taehyung menitikkan air matanya. Benar-benar menyesal tidak menahan Jungkook.

Taehyung bangkit dan berniat untuk mengambil mantelnya yang berada di atas ranjang, tapi kembali atensi Taehyung tertarik kepada sesuatu, kali ini berada di atas nakas. Taehyung menemukan sebuah surat dari Jungkook. Dengan tangan gemetaran Taehyung membuka kertas putih yang dilipat rapi itu.

.

.

Taehyung-ah.. Ah ! Taehyungie..

Apa aku pantas memanggilmu seperti itu, setidaknya aku ingin memanggilmu sekarang dengan Kim, Kim saja dulu, boleh ya ?

Aku pergi sebentar untuk waktu yang tidak ditentukan, mungkin saja lama. Maaf jika kataku berbelit, intinya aku tidak bisa berada didekatmu untuk sekarang. Aku hanya ingin pergi menenangkan hati dan pikiranku. Maaf jika aku terkesan lari dari masalah. Tapi aku sudah memikirkan jika ini adalah yang terbaik untukku, dan tentu saja kau. Aku tidak ingin pergi tanpa mengatakan apapun kepadamu. Aku tak ingin hilang tanpa pamit kepadamu.

Kim? Maaf belum bisa memberikan recharge energimu jika kau lelah. Aku harap energi yang kau isi tadi siang melalui pelukan bisa membuatmu kuat selama aku pergi. Aku mencintaimu dan kau pasti selalu tahu itu.

Kim, jujur saja.. aku melakukan itu kepada sahabatmu bukan tanpa alasan. Aku hanya melindungi diriku dan mempertahankan milikku semampuku. Dan aku juga tidak marah karena kau tadi membela sahabatmu, mungkin aku hanya kecewa. Kecewa sebagai kekasihmu. Aku mengerti kau lebih lama mengenalnya dibanding aku, seorang Jeon Jungkook. Sungguh aku sangat mengerti.

Oleh karena itu Kim, aku ingin berhenti sejenak. Aku ingin beristirahat karena aku cukup lelah, sebentar saja. Jika waktu berkenan mempertemukan kita dan kita masih dalam keadaan saling mencintai, aku akan kembali kepadamu.

Jaga dirimu Kim, jangan pergi ke club sendirian, dan jaga kesehatanmu.

Your Bunny, Jeon Jungkook.

(belum bisa memastikan jika aku calon istrimu)

.

.

Taehyung benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada ditangannya, surat yang mewakili Jungkooknya sudah tidak ada didekatnya. Jungkook sudah pergi meninggalkannya. Taehyung bangkit dan mengambil kunci mobilnya, berniat mencari Jungkook kemanapun ia bisa. Dia memulai dengan pergi ke Mansionnya.

..

" Mom.. Mommy !" teriak Taehyung dari pintu Mansion. Baekhyun tergopoh mendengar Taehyung berteriak memanggilnya.

" Ada apa ?" tanya Baekhyun khawatir, Taehyung benar-benar kacau.

" Mom.. Jungkook. Jungkook pergi Mom.. aku menyakitinya dan dia meninggalkanku" ucap Taehyung frustasi. Baekhyun yang melihat Taehyung seperti itu langsung memeluk anak sulungnya itu. menenangkan anaknya yang tengah panik.

" Sabar nak, kita cari Jungkook bersama, jangan kacau seperti ini"ucap Baekhyun menenangkan. Baekhyun membawa Taehyung ke sofa di ruangan itu. Chanyeol juga datang menghampiri mereka, melihat Taehyung yang kacau Chanyeol mencoba meminta penjelasan dari Baekhyun yang hanya ditanggapi dengan helaan nafas panjang dan gidikan bahu.

Baekhyun mengambil ponselnya dan menelepon calon besannya, Luhan. Berniat menanyakan apakah Jungkook ada bersama ibu cantik itu. Baekhyun menelepon dengan menjauh dari ayah dan anak yang sedang duduk di sofa itu. Sekitar lima menit berbicara dengan Luhan, Baekhyun kembali dan memberitahu Taehyung apa yang dikatakan oleh Luhan kepadanya.

" Luhan mengatakan, Jika Jungkook menghubunginya tadi untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya. Dia mengatakan kepada Luhan jika dia baik-baik saja dan ingin menenangkan diri. Jungkook tidak memberitahukan dimana keberadaannya kepada Luhan" jelas Baekhyun. Mendengar penjelasan ibunya membuat Taehyung semakin frustasi.

" Mommy, aku harus bagaimana ? Jungkook meninggalkanku" lirik Taehyung.

" Apa sebenarnya yang terjadi Tae ? ceritakan kepada kami " ucap Chanyeol. Dan Taehyung mulai menjelaskan apa yang terjadi kepadanya dan Jungkook. Tentang Jungkook yang menghilang dari ruang rapat, keberadaan Jungkook dan Sana di ruangan lain, Jungkook yang mencekik Jungkook, keterangan kesehatan Jungkook dan kepergian Jungkook dengan meninggalkan surat perpisahan untuk Taehyung.

" Kau mencintai Sana ?" tanya Baekhyun kepada Taehyung. setelah merasa Taehyung sedikit lega karena sudah menceritakan masalahnya, Baekhyun ingin mengetahui perasaan anaknya itu. Taehyung menggeleng kuat. Dia sama sekali tidak mencintai Sana.

"Aku sangat mencintai Jungkook Mom. Sewaktu aku membantu Sana itu karena aku sangat terkejut melihat Jungkook yang mencekik Sana" jelas Taehyung. Benar, dia hanya membantu Sana karena kasihan saat melihat wanita itu tampak kesakitan.

" Dan sekarang kau harus terima akibat dar ulahmu, Jungkook pergi" tanggap Baekhyun. Sebagaimanapun dia menyayangi Taehyung tapi dia juga tidak bisa membela Taehyung dalam situasi ini. Jungkook pantas pergi, Jungkook berhak kecewa.

" Sekarang kau tenang, Daddy akan membantumu mencari Jungkook dan akan berbicara dengan Sehun tentang masalah ini. Untuk sekarang kau fokus pada pekerjaanmu, jangan sampai pecah fokus. Dan jika kau masih mencintai Jungkook, kau hanya perlu percaya kepadanya dan menunggunya kembali " saran Chanyeol. Dia juga tidak percaya jika anaknya akan sekalang-kabut ini karena kepergian calon menantu mereka.

" Sekarang kembalilah ke apartemen dan istirahat. Mommy akan menyuruh Bambam untuk menginap malam ini di apartemenmu " ucap Baekhyun. Tidak mungkin Baekhyun membiarkan Taehyung yang sedang kacau seperti sekarang. Bisa-bisa Taehyung melakukan hal-hal yang tidak-tidak.

.

.

.

Satu Setengah tahun kemudian..

Taehyung melangkahkan kakinya ke dalam gedung raksasa yang merupakan perusahaan tempat ia bekerja. Sasarannya kali ini adalah Department Pembangunan, pagi ini dia akan mengadakan briefing dengan staff-nya. Jabatan wakil kepala Divisi memang melekat pada Taehyung belakangan ini. Dia dituntut untuk selalu sempurna dalam pekerjaannya. Sifat dingin Taehyung yang dulu seolah kembali setelah kepergian Jungkook waktu itu. Taehyung tidak membuka dirinya untuk siapapun, dia masih menunggu sosok yang sangat dia rindukan. Sana masih terobsesi dengan Taehyung tapi tetap saja Taehyung tidak menggubrisnya. Apalagi kejadian waktu Sana terang-terangkan mendorong Jimin sampai terjatuh hingga pemuda Park itu harus melahirkan premature. Taehyung tidak menggubris apapun yang dilakukan wanita itu kepadanya. Ayah Sana juga sempat mengajak Chanyeol untuk menjodohkan mereka berdua demi kesuksesan perusahaan. Perlu diketahui bahwa ayah Sana adalah salah satu pemilik saham terbesar di Perusahana terbesar itu. Tapi Chanyeol tidak ingin gegabah dan masih membiarkan Taehyung menata hatinya.

Flashback On

Saat itu kandungan Jimin memasuki usia 7 bulan dan Jimin selalu membuntuti Taehyung kemana-mana. Yoongi sendiri tidak mengkhawatirkan hal itu selama Taehyung dapat menjaga Jimin. Jimin sering menunggui Taehyung bekerja dan akan mengajaknya makan siang. Mengenai pekerjaan Jimin sudah mendapatkan cuti sementak usia kandungannya memasuki bulan ke 6. Karena kesepian makanya Jimin akan ikut dengan sahabatnya itu untuk kerja meskipun dia hanya akan duduk di sofa ruangan Taehyung. Sana yang mengetahui itu membuatnya sedikit menaruh iri kepada sahabatnya. Jimin, dia tidak menyukai kedekatan Jimin dengan Taehyungnya.

Saat itu Jimin sedang berjalan ke dalam ruangan Taehyung dan Sana dengan sengaja mendorong Jimin sampai Jimin terjatuh dan membentur Sofa. Jimin yang meringkuk menahan sakit hanya merintih meminta tolong. Dan Sana hanya melihatnya tanpa sedikitpun ingin membantu. Taehyung datang ke dalam dan terkejut melihat Jimin yang sudah pucat memegang perutnya. Dengan sigap Taehyung mengangkat Jimin dan melarikan Jimin kerumah sakit secepat mungkin. menyalahkan dirinya tidak bisa menjaga Jimin.

Jimin harus dioperasi hari itu juga, bayinya harus dikeluarkan agar mereka berdua dapat selamat. Jimin dan bayinya. Taehyung menyetujuinya dan menghubungi Yoongi secepat mungkin. Awalnya Yoongi ingi memarahi Taehyung tapi ketika dia sadar bukan Taehyung penyebabnya, Yoongi hanya menepuk pelan bahu adiknya yang tengah menunduk itu.

" Gwaenchana Taehyung-ah.. Jimin pasti akan berjuang demi bayiku " ucap Yoongi.

Dokter keluar dari ruang operasi dan menjelaskan jika keadaan Jimin kritis. Dan bayi perempuan Yoongi harus di incubator untuk sementara. Yoongi hanya mengangguk.

Jihoon yang mendengar kabar kakaknya kritis langsung berlari dari sekolah menuju rumah sakit tempat kakaknya dirawat. Jihoon menangis dalam pelukan Guanlin disamping Taehyung yang berdiri menatap Jimin masih belum sadarkan diri di ruangan inap rumah sakit itu.

..

Taehyung kembali ke kantor keesokan harinya setelah diusir oleh Yoongi karena bersikeras untuk menunggui sahabatnya itu siuman. Taehyung memasuki ruangannya dan menatap Sana yang kebetulan satu ruangan dengannya. Gadis itu tidak memberikan sedikitpun penjelasan tentang keadaan Jimin yang didapati Taehyung sudah tergeletak di lantai. Taehyung berinisiatif melihat CCTV ruangan itu untuk memastikan apapun yang terjadi. Taehyung bersumpah akan membuat Sana menderita jika dia adalah penyebab Jimin harus merasakan sakit.

Setelah dari ruangan operator CCTV, Taehyung benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Sana memang sengaja melakukan itu semua dan sebelumnya mereka bertengkar hebat dan Sana mendorong Jimin. Taehyung juga berniat melihat CCTV sewaktu kejadian Jungkook mencekik Sana.

Taehyung benar-benar menyesal karena sudah membela Sana yang menyebabkan Jungkook sakit seperti itu. Taehyung baru tahu jika Seungcheol dibayar Sana untuk menyakiti Jungkooknya. Taehyung mengepalkan tangannya. Taehyung akan membalas perbuatan wanita jahat itu. tak percaya saja jika sahabatnya berubah menjadi monster tak berperasaan.

..

Jihoon datang ke dalam ruangan Taehyung dengan raut muka yang tidak bisa di gambarkan, lalu mendekat ke meja Sana. Jihoon menyiram Sana dengan secangkir kopi yang masih utuh di atas meja wanita itu.

" Ya ! apa yang kau lakukan ?" tanya Sana dengan teriakan keras. Jihoon sudah menggertakkan giginya menahan amarah. Dia tahu jika wanita ini adalah dalang semuanya. Membuat kakak dan keponakannya harus menderita.

" Kau jalang sialan ! aku akan membunuhmu !" ucap Jihoon dengan suara beratnya. Matanya menatap Sanadengan nyalang. Jihoon mencekik Sana, seperti Jungkook yang dulu mencekiknya. Guanlin dan Woojin menyusul ke dalam ruangan itu. Guanlin berusaha melepaskan tangan Jihoon yang membuat Sana kehilangan nafasnya.

" Sayang, lepaskan dia" bisik Guanlin. Di tengah peristiwa itu Taehyung masuk ke dalam dan sebentar memperhatikan, lantas duduk di kursinya. Mengamati apa yang akan terjadi.

" Aku harus membunuhnya Lin-ah " ucap Jihoon , air matanya jatuh. Terbayang kakaknya yang masih belum sadarkan diri dan keponakan kecilnya masih berada di dalam kotak penghangatnya.

" Jihoon-ah.. jangan mengotori tanganmu" ucap Taehyung dengan tenang. Sana masih belum mengerti jika itu adalah peringatan dari Taehyung. bahwa Taehyung sudah mengetahui semua perbuatanya.

" Jihoon-ah jika kau membunuhnya sekarang, dia tidak akan merasakan penderitaan kakakmu dan keponakanmu" ucap Woojin. Jihoon melepaskan tangannya dan menatap Sana masih dengan tatapan yang sama.

" Sekali lagi kau mengganggu keluargaku, aku sendiri yang akan membunuhmu dan aku akan mencarimu sampai sudut manapun di dunia ini " ucap Jihoon memperingatkan. Dia keluar dari ruangan itu sebelum mengajak Taehyung untuk pergi dari sana.

" Tae-hyung temani kami makan siang. Jika kau masih disini aku akan menyuruh Guanlin dan Woojin pergi dari apartemenmu " ancam Jihoon. Guanlin dan Woojin memang menempati kamar kosong di apartemen Taehyung. selain karena Guanlin dan Woojin yang jauh dari orangtua, kamar Taehyung memang juga perlu ditempati agar Taehyung sedikit melupakan Jungkook.

Flashback Off

Taehyung sedang berjalan-jalan di jalanan dekat apartemennya. Sedikit melepaskan penat usai kerja. Semakin hari Taehyung menyadari jika cintanya kepada Jungkook tidak pernah hilang justru semakin besar. Dia merindukan orang yang pernah dia sakiti itu.

Banyak perubahan selama Jungkook tidak ada di kehidupan Taehyung. Taehyung berubah menjadi sosok yang gila kerja. Menutup akses kepada orang-orang yang ingin dekat dengannya. Sahabat-sahabatnya juga tidak terlalu mengikut campuri urusan Taehyung lagi. Semua bungkam mengenai hubungannya dengan Jungkook. Seongwoo juga pergi 6 bulan lalu. Memutuskan resign dari pekerjaannya dan pergi entah kemana. Taehyung tidak pernah mendapat kabar mengenai sahabatnya itu lagi.

Taehyung akhirnya memasuki sebuah restoran yang dulu sangat dia gemar datangi bersama Jungkook. Jungkook menyukai menu restoran ini. Tapi Taehyung sedikit terkejut melihat pemandangan seorang pemuda dengan bayi di atas meja itu. Taehyung melihat jelas jika pemuda itu bermain dengan bayi yang duduk di atas meja dengan berbagai mainan di tangannya.

" Uhh.. anak Daddy pintar.." ucapnya. Taehyung memang tidak salah mengenalinya. Itu Daniel. Sejak kapan Daniel memiliki anak. Bayi sedikit gembul yang sangat menggemaskan di hadapannya.

" Daniel !" ucap Taehyung. Daniel yang merasa namanya disebut melihat ke arah suara itu.

" Tae-hyung !" sedikit terkejut mendapati Taehyung berada disana. Taehyung masih memandang Daniel tidak percaya. Mereka masih saling menatap satu sama lain sampai suara lain menginterupsi.

" hyung.. susah sekali mencari susu formula Jisung di tempat ini, maaf ak—Kim!" orang yang baru datang itu juga sama terkejut dengan Daniel melihat Taehyung berada disana.

" Jungkook ?!" ucap Taehyung tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

.

.

To Be Continued.

.

.


Maaf alurnya di cepetin ya.. hehehe…

Maaf juga sering lambat Up..

Aku lagi berusaha untuk up as soon as possible..

Maaf belum bisa balas review..

Selamat membaca dan semoga menghibur..

Salam hangat.

.

.

Noona-nya Guanlin.