Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO, Wanna One dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. MPREG Guys !

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

..


.

Jungkook bukannya tidak mengerti apa yang dia rasakan. Rasa kalut, takut, rindu dan apapun yang menyesakkan dadanya dari saat bertemu dengan Taehyung. Bahkan selepas bangun dari tidurnya beberapa menit lalu, dia masih belum merasakan kelegaan. Ada rasa marah karena Taehyung seperti itu, tapi dia hanya bisa bertahan untuk saat ini. Demi Jisungnya. Dia terbangun setelah tidur karena lelah menangis 20 menit yang lalu. Tidak mendapati siapapun di dalam kamar besar milik Taehyung.

" Ah, Jisungie.." Jungkook bangkit dan keluar dari kamar itu.

" Eoh ? Jiminie-hyung !" Jungkook sedikit berlari ke arah Jimin dan memeluk pemuda yang berstatus sebagai teman hidup Yoongi. Jimin yang awalnya tidak siap langsung terhuyung hingga tersandar ke punggung sofa yang dia duduki.

"Jungkookie.. hei !" ucap Jimin di balik pundak Jungkook. Jungkook masih memeluk Jimin dengan erat.

" Aku rindu hyung !" gumam Jungkook. Jihoon dan Guanlin yang masih memerhatikan mereka tersenyum satu sama lain, melihat kedua adik kakak yang masih melepas rindu tersebut.

Setelah merasa puas, Jungkook melepaskan pelukannya dari Jimin dan duduk di dekat Jimin.

" Hyung, bagaimana kabarmu ? Si kecil Yoonji ?" Jungkook bertanya, sambil memandang gadis mungil yang tengah berbagi mainan dengan anaknya.

" Seperti kau lihat, aku dan dia baik-baik saja Kook-ah. Kau benar-benar tidak menjenguk kami lagi setelah di rumah sakit itu ya " ucap Jimin. Sedit menelisik adik kecil yang sudah menjadi seorang ibu itu.

" Mianhae hyung ! aku ke London karena hyung-ku sakit, jadi aku menjaganya sampai benar-benar sembuh. Jisung saja lahir disana, padahal aku ingin dia lahir di Seoul, di tempat ayahnya berada" jelas Jungkook.

" Apa berat menjalaninya sendirian ?" tanya Jimin dengan hati-hati.

"Um.. awalnya aku rasa seperti itu. tapi aku cukup di sadarkan dengan kenyataan bahwa aku harus bertahan demi Jisung, demi Taehyung. Setiap hari Daniel-hyung dan Ongie-hyung mencecoki dengan semangat dari mereka, menjelaskan bagaimana Taehyung masih mencintaiku dan rasa penyesalannya ketika aku meninggalkannya. Tapi aku tidak tahu jika saja kemarin aku melihat siaran televisi yang menyiarkan bahwa Taehyung akan bertunangan dengan Sana. Hm, mau bagaimana lagi hyungaah air mataku.." Jungkook mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

" Astaga Jungkook. Menangis bukanlah kejahatan, menangislah jika kau ingin " ucap Jimin. Dengan naluri kekakak-an nya Jimin memeluk Jungkook dan membiarkan adiknya itu menangis terisak meluapkan hal-hal yang tidak bisa dia tahan.

" Aigoo.. kau sudah besar" gumam Jimin.

..

Jungkook menidurkan anaknya di dalam kamar Taehyung. Jungkook memang tidak melihat Taehyung ketika dia sudah terbangun tadi, Jimin mengatakan jika Taehyung pergi dengan Yoongi untuk bertemu dengan Namjoon. Sementara Jimin baru saja diantarkan pulang oleh Guanlin dan Jihoon. Malam ini Guanlin dan Jihoon akan tidur di rumah Yoongi. Otomatis meninggalkan Jungkook dengan Taehyung.

" apa kau senang bertemu dengan ayah, sayang ?" tanya Jungkook kepada bayinya yang tengah terlelap itu. gemas melihat putranya yang tidur dengan tenang, Jungkook mencium pipi dan kening anaknya itu berkali-kali.

Karena kantuk yang masih enggan datang , Jungkook berniat menyelesaikan tugas paper-nya. Jungkook masih mahasiswa meskipun dia sudah punya anak. Kuliah Psikologinya masih terus berjalan sampai sekarang. Bahkan saat hamil dan di luar Seoul Jungkook masih mengikuti perkuliahan secara online, dia tidak mau cuti dan semakin menunda study-nya. Dia dengan Seongwoo memang masih sangat antusias akan mimpi menjadi seorang Psikolog.

Jungkook mengeluarkan laptop yang sengaja dia bawa dan mencari bahan-bahan yang dia butuhkan untuk tugasnya. Satu jam berkutat dengan tugasnya, Jungkook diganggu dengan seseorang yang tengah membuka pintu kamarnya. Dia menatap ke arah orang yang melakukan itu. Jungkook benar-benar terkejut mendapati Taehyung dengan lebam-lebam yang sangat banyak di wajahnya.

" Astaga ! Kau tidak apa-apa ?" Jungkook membantu Taehyung untuk duduk di pinggir ranjang mereka.

" Tunggu sebentar, aku akan mencari obat" ucap Jungkook dan berlari keluar kamar. Jungkook masih hafal letak obat-obatan di apartemen mewah itu.

Taehyung masih memandangi Jungkook yang datang dengan sebaskom air dan kotak obat di tangannya.

" Ah, apa sakit ?" tanya Jungkook sewaktu membersihkan luka lebam itu. Jungkook sendiri meringis ketika menyetuh luka-luka itu dengan handuk basah yang dia pegang. Taehyung benar-benar terpaku kepada wajah tanpa cela itu. Jarak mereka cukup dekat, Taehyung rindu.

" Agghh.. pelan-pelan " rintih Taehyung.

" Kenapa kau bisa seperti ini ?" tanya Jungkook. Tangannya sangat telaten membersihkan dan mengoleskan obat merah di luka Taehyung.

" Aku berkelahi dengan Yoongi-hyung " jawab Taehyung sekenanya.

"Hm, selalu saja seperti itu " jawab Jungkook acuh. Selesai dengan pekerjaannya Jungkook mengembalikan peralatan itu keluar kamar.

Jungkook kembali ke dalam kamar dan menyelesaikan tugasnya di atas sofa seberang ranjang di ruangan itu, Taehyung melirik apa yang dilakukan oleh ibu dari anaknya tersebut.

" Kim, besok aku akan pulang ke rumah appa dan eomma di Busan " ucap Jungkook di tengah kesunyian antara mereka.

" Membawa Jisung ?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk.

" Andwe ! kau tidak boleh membawa Jisung. Appa dan eomma besok akan ke Seoul, mereka akan ke Mansion, kita akan bertemu dengan mereka disana. Aku akan menjelaskan Jisung kepada mereka" jelas Taehyung.

" Kim ak—"

" Jisung putraku kalau kau lupa Jungkook. Meskipun kau sudah mengandungnya, aku juga butuh Jisung. Aku baru bertemu dengannya beberapa jam dan kau berniat memisahkan kami?" cerca Taehyung. Jungkook hanya menghela nafas mendengar ucapan Taehyung dan mereka diam setelahnya.

" Tetaplah berada di apartemenku selama seminggu dan turuti 3 buah permintaanku, aku janji tidak akan mengganggumu setelah ini " lanjut Taehyung.

" eoh ? kenapa kau seegois ini Kim ?" ucap Jungkook tidak terima.

" Turuti atau aku akan mengambil hak asuh Jisung ?" balas Taehyung. Jungkook menegang setelah mendengar ucapan Taehyung tersebut.

" Andwe ! jangan Kim" lirih Jungkook sambil menggelengkan kepalanya.

" Makanya turuti perintahku. Hanya seminggu di apartemen ini, sebelum pengumuman pindah tangan perusahaan dan acara pertunangan itu. aku ingin menghabiskan waktu dengan Jisung" tutur Taehyung. entah mengapa ucapan Taehyung sangat membuat hati Jungkook merasa sakit. Tapi bukan Jungkook namanya jika dia mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

" Baiklah, hanya seminggu dan kau akan membebaskanku setelah itu Kim " ujar Jungkook. Dia mematikan laptopnya dan beralih ke samping anaknya. Merebahkan diri dan memeluk bayi yang menguatnya sampai saat ini.

" Panggil aku Taehyung seperti dulu, Kookie-ya.. aku merindukannya. Itu akan menjadi permintaan pertamaku. Selamat malam " ucap Taehyung sambil mengecup pelan kening Jungkook. Jungkook tidak menolak atau marah kepada Taehyung. dia sadar dia sudah terjebak selama seminggu ke depan dengan Taehyung dan perasaannya sendiri.

" Jalja-yo, sayang !" Taehyung juga mengecup pipi bayinya sebelum menyusul tidur di sebelah Jisung. Malam pertama tidur dengan Jungkook dan Jisung sebagai keluarga kecil.

.

.

Jungkook bangun pagi, menyesuaikan matanya untuk menerima cahaya. Atensinya menatap bayinya yang masih tertidur dan Taehyung yang memeluk makhluk menggemaskan itu.

" Selamat pagi, nak " Jungkook bangun dari tidurnya setelah mengecup pelan pipi Jisung. Jungkook keluar dari kamar itu dan berniat akan membuatkan sarapan untuk mereka. Saat Jungkook memasak, pintu apartemen mereka seperti di buka. Jungkook melihat Guanlin dan Jihoon yang mengekorinya dengan wajah mengantuk.

" Pagi Hyung !" sapa Guanlin. Bocah itu duduk di meja makan, menunggu Jungkook yang kembali melanjutkan acara memasaknya.

" Kenapa pagi sekali kembali ?" tanya Jungkook. Dia melirik Jihoon yang kembali melanjutkan tidurnya di atas meja makan. Guanlin hanya mengacak surai Jihoon dengan sayang.

" pagi ini ada acara di kampus Jihoonie hyung, dia akan ikut lomba menyanyi dan dia tertidur sekarang" jawab Guanlin.

" Kau baik sekali" puji Jungkook. Dimata Jungkook, Guanlin memang terlihat sangat menyayangi adik Jimin tersebut.

" aku akan dikebiri Yoongi-hyung jika aku menyakiti kesayanganku ini hyung. Sayang ? mau sarapan dulu atau melanjutkan tidur ?" tanya Guanlin kepada Jihoon.

" Aku mau sarapan dulu, baru tidur setelah itu, boleh Linlin ?" tanya Jihoon dengan suara seraknya, khas baru bangun tidur. Jungkook sedikit terkekeh melihat pasangan muda itu.

" Nah, ini sarapannya. Silahkan dimakan " ucap Jungkook, menyodorkan nasi goreng buatannya.

"Waaah sepertinya enak sekali.." celetuk Jihoon dengan semangat, meninggalkan rasa kantuknya yang lenyap entah kemana.

" eoh, Jisung sudah bangun ? apa dia mengganggu tidurmu Tae ?" tanya Jungkook. Kehadiran ayah dan anak itu memang menjadi perhatian pasangan Guanlin-Jihoon. Permintaan Taehyung semalam untuk memanggil Taehyung dengan nama kecilnya membuat Taehyung sedikit berbangga hati.

" waaah, wajah mereka benar-benar mirip. Uh, kenapa anakmu sangat menggemaskan hyung? kesini sayang, dengan Jihoonie.." Jihoon berdiri dan mencoba mengambil Jisung dari Taehyung, tapi Jisung langsung menyembuyikan wajahnya ke leher Taehyung.

" Haha, dia tidak mau Ji.. sana kembali makan" usir Taehyung.

" Kau belum mandi, makanya dia tidak mau denganmu. Cepat habiskan sarapanmu dan bersiap-siap Hoonie " ucap Guanlin, sedikit gemas dengan Jihoon yang cemberut karena Jisung tidak mau dengannya.

Taehyung duduk di sebelah Jungkook. Menunggu sarapan dan kopi yang sedang di siapkan oleh pemuda manis tersebut.

" Tunggu sebentar ya, Jisungie.. bunda buatkan susumu dulu " ucap Jungkook kepada Jisung.

" Waah.. Jungkookie-hyung sangat berbakat menjadi ibu ya hyung " ucap Guanlin. Jungkook hanya merona ketika dipuji seperti itu. Taehyung membenarkan, jika dia memiliki anak maka Jungkooklah yang harus menjadi ibunya.

" kau siap menjadi ibu seperti Jungkookie-hyung Ji ?" goda Guanlin kepada Jihoon.

" Kau bobol Jihoon, maka kau akan aku deportasi dari Korea Lin " ancam Taehyung.

.

.

Keluarga kecil itu sedang berada di dalam mobil mewah Taehyung. Jisung sangat senang mengetahui dia akan jalan-jalan hari ini. Bayi mungil itu sangat bersemangat di dalam gendongan ibunya.

" Nanti biar aku yang menjelaskan kepada orangtua kita " ucap Taehyung kepada Jungkook. Jungkook memang sedang menutupi rasa ketakutan dan rasa bersalahnya kepada orangtua mereka. Dia membayangkan reaksi mereka nanti ketika melihat Jungkook datang bersama Taehyung dan ada Jisung di tengah-tengah mereka.

..

Sesampainya di depan Mansion mewah tersebut. Jisung sudah beralih ke gendongan Taehyung. mereka berjalan beriringan masuk kedalam Mansion itu. Sebelah tangan Taehyung menggenggam tangan Jungkook yang saat ini sudah dingin dan berkeringat karena rasa gugupnya.

" Kau datang Tae—Astaga Jungkookie !" teriak Baekhyun ketika melihat Jungkook. Sehun dan Luhan yang duduk membelakangi pintu tersebut juga menghadap ke arah Baekhyun berucap. Luhan langsung berdiri dan memeluk erat anak bungsunya tersebut.

" eomma.. aku merindukanmu, hiks.. " gumam Jungkook dalam pelukan ibunya.

" Eomma juga merindukanmu nak.." ucap Luhan. Sehun juga menyusul, menggantikan Luhan untuk memeluk anaknya tersebut.

" itu anak siapa, Tae ?" tanya Baekhyun. Chanyeol hanya menatap Taehyung dan bayi yang ada di gendongannya.

" Ini Jisung Mom, Kim Jisung. Putraku dan Jungkook" Taehyung duduk di sebelah ayahnya dan menjelaskan kepada kedua belah keluarga tersebut. Penjelasan yang awalnya membuat orang-orang yang mendengar penjelasan Taehyung sedikit shock dengan kenyataan tersebut.

" Astaga Jungkook. Jadi cucuku selama ini berada di London ?" tanya Baekhyun. Dia beralih dan menggendong Jisung yang sangat tenang tersebut.

" Dasar anak nakal. Jangan seperti itu lagi, arra ? jangan menyulitkan dirimu sendiri, nak " keluh Luhan kepada Jungkook yang sedang bermanja di dalam pelukannya tersebut.

" Aku sangat menyayangi kalian makanya takut merepotkan, mianhae" ucap Jungkook penuh sesal.

" Sudahlah apalagi yang harus disesali jika sudah terjadi, jangan ulangi lagi" ucap Sehun. Terkadang Sehun heran dengan anak-anaknya, mereka sangat mandiri dan takut merepotkan orang lain.

" Jisung mirip sekali dengan Taehyung kecil ya Yeolie.." ujar Baekhyun menatap penuh cinta kepada cucunya tersebut. Chanyeol hanya mengangguk. Dia masih memikirkan jika Jisung saat ini sudah sebesar ini, berarti semenjak Chanyeol meminta bantuan kepada Jungkook, calon menantunya itu sudah hamil Jisung.

" Dad, kau memikirkan apa ? Bukankah Jisung sangat tampan ? Apa dia cocok menjadi pewaris Perusahaan ?" tanya Jungkook.

" Tentu Jungkook-ah.. dia akan menjadi pewaris Perusahaanku " ucap Chanyeol mengelus pipi cucunya tersebut.

Taehyung dan Jungkook tidak menyangka jika keluarga mereka menerima kesalahan mereka. Mereka bercerita mengenai apa saja yang terlewatkan. Sampai Jennie dan Bambam datang bergabung.

" Apa ini Jisung ?" tanya Jennie. Taehyung langsung memeluk adiknya tersebut, sementara Bambam berlari ke arah Jungkook dan memeluk sahabatnya tersebut.

" Maafkan aku yang tidak peka, aku akan menjaga Jungkook dan Jisung " lirih Taehyung. Meskipun terhalang karena keributan ibu-ibu di rumah itu, Jennie jelas mendengarkan penyesalan kakaknya tersebut.

" Jangan kau buat aku membencimu, Oppa. Aku sangat menyayangi Jungkook dan keponakanku" balas Jennie yang kemudian membalas pelukan kakaknya yang dia sayangi tersebut.

Kedua keluarga tersebut benar-benar menghabiskan waktu akhir pekan mereka dengan baik di Mansion keluarga Park tersebut.

Taehyung dan Jungkook pulang setelah makan malam bersama keluarga mereka. Mengenai hubungan keduanya, baik keluarga Taehyung ataupun Jungkook benar-benar menyerahkan keputusan ditangan mereka berdua. Pihak keluarga mereka hanya akan mendukung keputusan terbaik untuk mereka berdua. Bersama atau tidak bersama, Jisung merupakan pengikat kedua keluarga besar tersebut.

.

.

Jungkook cukup bersabar melihat Taehyung yang mulai memonopi Jisung darinya. Jisung juga terlihat sangat lengket dengan ayahnya tersebut.

"Nanti aku akan membantu Daniel-hyung merekrut beberapa karyawan tambahan. Aku akan membantu di HRD, Jisung aku titipkan di rumah Mommy " ucap Jungkook yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Kemampuan memasak Jungkook semenjak hamil memang semakin meningkat. Dan itu semua dia dapatkan setelah mengikuti les memasak saat di London.

" anak ayah nanti bersama halmeoni ya nak.." ucap Taehyung kepada anaknya tersebut. Taehyung menggelitiki perut anaknya dengan mulutnya, membuat Jisung tertawa.

'bagaimana jika nanti kalian berpisah ?' batin Jungkook.

" Kau berangkat bersamaku nanti, setelah kita mengantar Jisung kita akan langsung ke kantor " ucap Taehyung yang diangguki Jungkook.

.

.

Di kantor, para karyawan menatap Taehyung yang datang bersama seorang pemuda yang sangat manis, membuat beberapa orang terpana menatap kecocokan ketika dua makhluk sempurna itu beriringan.

" Jungkook !" teriak seseorang dari pintu masuk. Jungkook mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia tersenyum mendapati seorang rekan yang dulu bekerja sama dengannya.

" Jeonghan-hyung!" Jungkook memeluk pemuda cantik tersebut.

" Tae, kau duluan saja, aku ingin pinjam Jungkook sebentar " ucap Jeonghan kepada sahabatnya itu. Taehyung sedikit mendengus sebelum meninggalkan kedua uke tersebut.

" Kau apa kabar ? kau mau singgah ke departemen ku ? " tanya Jeonghan antusias.

" Aku baik,hyung. hyungie bagaimana ? nanti setelah aku bekerja akan singgah ke tempatmu hyung. aku membantu dibagian HRD" jawab Jungkook.

" Aku juga baik. Jungkook aku minta maaf atas kelakuan seungcheol yang menyakitimu dulu Kook-ah " sesal Jeonghan. Dulu dia memang berniat meminta maaf langsung kepada Jungkook, tapi Jungkook sudah lebih dahulu hilang.

" Haha, tidak apa-apa hyung. bukan dia yang salah hyung" jawab Jungkook, dia tidak ingin membuat Jeonghan merasa bersalah karena kesalahpahaman dimasa lalu tersebut.

" Hm, bagaimana jika nanti kita berkumpul saat istirahat makan siang ? aku akan menghubungi Jin-hyung dan yang lainnya " ajak Jeonghan. Jungkook mengangguk setuju.

Mereka berpisah untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

..

Tim HRD akan rapat dengan atasan untuk menentukan kualifikasi karyawan baru yang akan direkrut.

Jungkook sadar di dalam ruangan itu dia akan bertemu dengan Taehyung dan Sana. Jungkook harus mampu menahan gejolak rasa tidak sukanya.

" Jadi Tae, kita membutuhkan orang yang seperti apa ?" tanya Sana.

" Maaf Nona, kau seharusnya bisa menjaga panggilan sopan di dalam ruangan ini. Bukankah ini rapat formal ?" tegur Namjoon. Sana mendelik tidak suka kepada Namjoon yang memiliki jabatan wakil direktur tersebut.

" Menurut saya, kita bisa merekrut orang-orang yang kompeten dan tidak menusuk kita dari belakang" Ucap Daniel sambil melirik sinis kepada Sana.

" Ya ! apa maksudmu menatapku seperti itu ?" tanya Sana tidak terima.

" Aku menatapmu memangnya seperti apa Nona ?" tanya Daniel balik.

" Sudah, kita serahkan saja untuk perekrutan karyawan baru kepada tim HRD, bagaimana Jung-kwajangnim ?" tanya Namjoon kepada Jung Yerin yang merupakan kepala HRD mereka.

" Kami sudah siap untuk melakukan perekrutan itu Busajangnim" ucap Yerin denga hormat.

.

.

Saat selesai melakukan wawancara dan masuk makan siang, Jungkook yang berniat untuk makan siang bersama Jeonghan dengan yang lainnya harus sedikit telat ketika dihadang oleh Sana. Sana mengajaknya berbasa-basi dan duduk sebentar di kantin bagian ujung.

" hm, ada apa nona ?" tanya Jungkook. Dia sudah siap sekarang. Jungkook juga masih berharap jika posisinya sedikit lebih tinggi dari Sana di hati Taehyung.

" Kau masih belum menyerah setelah apa yang terjadi ?" tanya Sana dengan remeh.

" Kau terlalu percaya diri Nona. Bisa saja kau akan bertunangan dengan Taehyung. tapi entah mengapa aku yakin Taehyung masih mencintaiku " ucap Jungkook. Sana menggeram mendengar ucapan Jungkook.

" Kau siapa memangnya ? Taehyung sudah memilihku, tepat saat kau diabaikan olehnya dulu" balas Sana.

" Terserah kau saja lah. Tapi aku akan membuat Taehyung kembali mencintaiku lagi Nona, aku mencintai Taehyung. dan aku akan membuat dia benar-benar tidak lagi peduli kepadamu " ucap Jungkook.

" Aku pergi, permisi " pamit Jungkook.

" Sialan !" Umpat Sana. Taehyung yang berada tidak jauh dari mereka jelas mendengar percakapan kedua orang itu.

'membuatku jatuh cinta lagi, Jeon ?' batin Taehyung.

.

.

3 hari berselang Jungkook dan Jisung tinggal bersama Taehyung. malam ini Taehyung mendapati Jungkook sedikit pucat, ketika ditanya Jungkook akan menjawab tidak apa-apa. Jisung juga sedikit rewel dari tadi pagi.

Saat selesai makan malam bersama pasangan Guanlin-Jihoon, mereka berkumpul di ruangan keluarga dan bermain dengan si kecil yang tidak mau lepas dari Jungkook.

" Jisungie.. jangan buat Bunda lelah, sayang" ucap Jihoon yang sedari tadi berusaha mengambil Jisung dari pangkuan Jungkook.

" Astaga hyung.. hidungmu berdarah.." ucap Guanlin. Guanlin langsung mengambil alih Jisung, sementara Taehyung langsung mencari kain untuk membantu menghentikan pendarahan dari hidung Jungkook.

" Guanlin, bawa Jisung ke rumah Yoongi-hyung, sepertinya Jungkook benar-benar butuh istirahat"perintah Taehyung.

"Tap—" belum selesai Jungkook berbicara sudah disela oleh Taehyung.

" Aku tidak mau Jisung ikut sakit dan kau semakin sakit memikirkan Jisung yang rewel dari tadi. Jisung akan aman karena Jimin juga memiliki Yoonji. Percaya padaku " ucap Taehyung. entah mengapa melihat Jungkook yang sok kuat membuat hati Taehyung sakit.

Taehyung membantu Jungkook pergi ke depan wastafel cuci muka untuk membersihkan hidung Jungkook.

" bernafas dengan mulut untuk sementara, astaga mengapa darahnya banyak sekali " ucap Taehyung. dengan telaten Taehyung membantu pendarahan tersebut.

" mengadah untuk sementara Jungkook. Aku tahu ini akan membuatmu lelah, tapi akan membuat pendarahannya cepat berhenti" ujar Taehyung kembali. Jungkook hanya pasrah mengikuti perintah Taehyung. merasa sudah membaik, Taehyung menyumbat hidung Jungkook dengan kapas dan membawa Jungkook ke kamar mereka.

" Tidurlah, kau kelelahan " ucap Taehyung, menyelimuti Jungkook sampai batas leher pemuda manis tersebut.

" Tae, aku mencintaimu, apa kita bisa kembali ?" racau Jungkook. Taehyung tahu Jungkook sedang demam, dan omongan Jungkook benar-benar membuat Taehyung terenyuh.

" Tidurlah, kau sedang sakit. Cepat sembuh, Jisung membutuhkanmu" ucap Taehyung sebelum mengecup kening Jungkook.

.

.

Pagi ini, Taehyung dan Jungkook akan menjemput Jisung ke rumah Yoongi. Jungkook yang merasa agak baikan memaksa Taehyung agar mengantarnya untuk bertemu dengan putranya tersebut.

" Kau juga akan ke kantor, mengapa harus bertemu dengan Jisung ? kau bisa bertemunya nanti sore " ucap Taehyung.

" Aku merindukan putraku" jawab Jungkook singkat.

" Dia juga putraku omong-omong. Kau tidak bisa membuatnya sendirian" balas Taehyung, membuat Jungkook memutar matanya bosan.

..

" Hei Jiminie-hyung.. dimana Jisung ?" tanya Jungkook memasuki rumah Yoongi tersebut.

" Oh, Jisung masih tidur" jawab Jimin.

" Kalian sudah sarapan ?" tanya Jimin.

" Sudah Chim, Yoongi-hyung mana ?" tanya Taehyung.

" Sedang tidur juga, mereka terjaga sampai jam 2 tadi malam. Yoongi-hyung nanti siang akan ke kantor" jawab Jimin.

" Hyung kalau begitu boleh aku melihat Jisung sebentar sebelum bekerja ? boleh aku titip Jisung sampai aku selesai bekerja nanti hyung ?" tanya Jungkook.

" Kau ini seperti dengan siapa saja. Tentu saja boleh. Lagipula Yoonji sangat menyukai Jisung. Mereka terus bermain dan lupa waktu " balas Jimin.

" Gomawo, hyung.. aku melihat Jisung dulu " ucap Jungkook berlalu ke kamar bayi Jimin.

" Tidak percaya jika perhatian Jungkook benar-benar teralihkan kepada Jisung kan Tae ?" ucap Jimin ketika melihat adiknya itu sangat antusias jika menyangkut putranya.

" Apa semua ibu begitu ?" tanya Taehyung.

"Tentu, ibu sangat menyayangi anak mereka" jawab Jimin. Benar, dia juga menyayangi Yoonji, buah hatinya bersama Yoongi seperti Jungkook menyayangi Kim Jisung.

..

Di dalam mobil yang di kendarai Taehyung menuju kantor mereka. Ponsel Jungkook berbunyi , Taehyung sedikit melirik Jungkook ketika pemuda kelinci itu mengangkat teleponnya dengan antusias.

" Oh hai, Mingyu-ah,.. , ne aku dalam perjalanan ke kantor bersama Taehyung, hm ? makan bersama ?Oke.. nanti kabari saja aku.. wah benarkah ? aku juga merindukannya, baiklah sampai bertemu nanti, bye " Jungkook menutup teleponnya dan senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya.

" Kau tidak lelah tersenyum seperti orang gila ?" tanya Taehyung sarkas.

" Bibirku jadi terserah aku mau tersenyum atau tidak. Jangan urusi urusanku Kim " geram Jungkook.

'siapa yang Jungkook rindukan ? kenapa dia begitu senang ?' batin Taehyung.

.

.

Jungkook sedang menunggu Mingyu di depan pintu utama Perusahaan besar itu. pemuda Kim tersebut berjanji menjemput Jungkook di depan Perusahaan, dan jadilah Jungkook menunggu disana. Sebuah klakson menyadarkan Jungkook dari lamunannya.

" Oi ! melamun saja, ayo naik !" ucap Mingyu dari balik kemudinya. Jungkook tersenyum dan berjalan kea rah mobil tersebut sebelum seseorang menyenggolnya dan masuk duluan ke dalam mobil itu.

" Ya ! Kim Idiot !" teriak Jungkook. Hari ini entah mengapa Taehyung benar-benar menyebalkan.

" Kau kenapa hyung ? kenapa kau masuk ke dalam mobilku ?" tanya Mingyu melihat sepupunya tersebut sudah duduk di sampingnya.

" Aku bosan makan di kantin Perusahaan, aku ikut dengan kalian " jawab Taehyung tanpa rasa bersalah.

" Sialan kau Kim !" ucap Jungkook yang sudah duduk di bangku belakang.

" Aku juga Kim, Jungkook " balas Mingyu. Mereka terpaksa membawa Taehyung kepada orang yang akan ditemui mereka berdua.

" Ngomong-ngomong kita mau kemana ?" tanya Taehyung.

" Menjemput orang yang sangat aku rindu" jawab Jungkook. Jawaban Jungkook sontak membuat Taehyung terdiam.

Perjalanan mereka menuju bandara cukup lama, seseorang sudah menunggu Jungkook dan Mingyu dari tadi.

" Hyung !" Jungkook sedikit berlari dan memeluk orang yang sedang berdiri dekat ruang tunggu di bandara tersebut. Taehyung sedikit cengo melihat Jungkook yang begitu senang dengan kehadiran orang itu. Jujur saja Taehyung tidak suka melihat pemandangan itu.

"Tidak harus selama itu berpelukan "sela Taehyung di tengah acara pelukan melepas rindu Jungkook dengan orang yang sedang menatap Taehyung dengan heran.

" Wae? Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Taehyung tidak suka.

" Sudah Sayang, jangan intimidasi Tae-hyung " ucap Mingyu, kini pemuda tinggi itu memeluk orang baru tersebut.

" Tidak ku restui untuk menikahi adikku baru tahu rasa !" kesal orang tersebut.

" Dia kakakku Tae, Wonwoo hyung. kekasih Mingyu juga" ucap Jungkook kepada Taehyung. Taehyung menjadi bodoh sendiri karena sudah cemburu kepada calon ipar sendiri.

.

.

Sudah seminggu Jungkook hidup dengan Taehyung. Jungkook tidak menyangkal jika masih sangat mencintai sang dominan yang merupakan ayah dari anaknya tersebut.

Hari ini, Sungjae melamar Jennie, sehingga membuat Taehyung dan Jungkook harus datang ke Mansion dan membantu acara tersebut berjalan dengan lancar. Jisung bermain dengan Yoonji yang diawasi oleh Jihoon dan Bambam. Sementara Jungkook membantu Baekhyun dan Jin mengemasi makanan dan ruangan untuk acara tersebut. Taehyung yang berbicara dengan Seme di rumah itu, sesekali melirik Jungkook yang sangat bersemangat.

" Agh..." Jungkook yang sedang merapikan meja sedikit terhuyung dan bajunya basah terkena air minum yang dibawa oleh seorang maid di rumah itu.

" Gwaenchanna, Kookie ?" tanya Baekhyun. Jungkook tersenyum.

" tidak apa-apa Mom, aku hanya terkejut tadi " jawab Jungkook.

" Sudah ganti baju dulu, kau bawa baju ganti kan ? Tae, bawa Jungkook ke kamarmu " perintah Baekhyun.

Jungkook mengikuti Taehyung menuju kamarnya. Taehyung menunggui Jungkook yang sedang mengganti pakaiannya. Jungkook tidak sadar mengganti baju di depan Taehyung, membuat Taehyung sedikit menahan nafas melihat tubuh tanpa cacat tersebut.

Setelah selesai mengganti baju, Jungkook mengajak Taehyung kembali ke lantai bawah.

" –hyung, Taehyung !" panggil Jungkook, membuat Taehyung buyar dari imajinasi liarnya.

" Ayo turun" ajak Jungkook. Taehyung mengikuti Jungkook keluar dari kamarnya.

.

.

"Jeon ?" panggil Taehyung membuat Jungkook menatap Taehyung yang sedang memandangnya. Taehyung mendekat ke arah Jungkook yang berada di depan lemari pakaian. Jungkook berniat mengganti pakaiannya, acara di rumah orangtua Taehyung membuatnya cukup lelah ditambah baju yang semi formal yang membuatnya gerah.

" Aku ingin permintaan keduaku " bisik Taehyung di dekat telinga Jungkook. Membuat Jungkook sedikit merinding karena posisi mereka yang sangat dekat.

" Menjauh Tae ! dan ucapkan apa keinginanmu" ujar Jungkook. Tapi Taehyung dengan keras kepala yang melekat dari lahir semakin mendekatkan tubuhnya dan mengecup cuping telinga Jungkook.

" Ya !" teriak Jungkook. Jungkook mengadah dan menatap Taehyung dengan tatapan mematikan yang dia punya. Taehyung tersenyum gemas sebelum mendaratkan ciuman di bibir merah menggoda itu. tangan Taehyung yang tadi berada di pinggang Jungkook kini turun mengamit bongkahan menggoda yang masih berbalut dengan celana dasar.

" Ahhhnn.. Tae, berhenti !" Jungkook terus berusaha melepaskan diri dari Taehyung. Jungkook benar-benar merasa keadaannya dalam bahaya, dia bisa merasakan aura nafsu Taehyung yang sangat pekat diantara mereka.

" Tae, kau tidak berpikiran untuk melanjutkan ini kan ? Tae ?" tanya Jungkook takut-takut, wajahnya sudah merona. Meskipun Jungkook sangat merindukan sentuhan Taehyung, tapi dia cukup sadar Taehyung mungkin sekarang tidak lagi mencintai dia. Status Taehyung hanya sebagai ayah dari Jisung, anaknya.

" Wae ? jika seks merupakan permintaanku darimu kau bisa apa Jeon ? Ah, Ani ! bukan seks, tapi bercinta. Aku sedang ingin bercinta dengan ibunya Jisung. Karena besok hari terakhir kau tinggal disini dengan Jisung, dan aku akan mengucapkan permintaan terakhirku besok. Dan sekarang aku ingin permintaan keduaku untuk dikabulkan. Bercinta denganmu,Otte ?" suara berat yang menurut Jungkook sangat sialan itu mengalun dengan ringat dan bahagia di telinganya.

" Sialan !" umpat Jungkook.

" Hei ! jangan mengumpat sayang !" Taehyung kembali mengecup bibir Jungkook, kali ini dengan lumatan-lumatan kecil yang membuat Jungkook menghela nafas kasar. Induk kelinci benar-benar pasrah dimakan oleh Singa licik di depannya demi anak yang dia sayang.

" Hm,demi anakku.." gumam Jungkook yang membiarkan Taehyung menjelajahi daerah lehernya yang benar-benar mulus itu. Taehyung membuka kancing kemeja formal milik Jungkook, sedikit menyibak dan meloloskan dari bahu putih itu hingga Jungkook dapat merasakan hembusan nafas Taehyung menyapu kulit bahu kirinya.

" Jeon, hanya jadi dirimu sendiri sekarang sayang. Jadi Jeon Jungkook yang aku cinta " ucap Taehyung sebelum kembali mengecup bibir Jungkook. Taehyung mengangkat tubuh Jungkook dan menggendongnya dengan gaya koala, kaki-kaki Jungkook melilit pinggang sang dominan karena takut terjatuh. Penyatuan bibir mereka terus berlanjut dan Jungkook mulai berani mengimbangi permainan pemuda keras kepala itu.

" Hnnngg… Taehhhh.." desah Jungkook ketika sebelah tangan Taehyung mengelus punggungnya dengan gerakan yang sangat menggelitik Jungkook.

Taehyung membawa Jungkook ke arah ranjang yang ada di kamar itu,Taehyung mendudukkan dirinya dan bersandar ke kepala ranjang, sementara Jungkook berada di pangkuannya. Taehyung tahu betul bahwa kejantanannya sudah benar-benar sesak dan ingin segera di lepaskan.

Taehyung memandang wajah merona itu, mencuri kecupan sebelum melepas total pakaian yang melekat di tubuh mereka.

" Tae, bukankah kau melakukan perselingkuhan jika seperti ini ? kau bercinta dengan ibu dari anakmu ? sementara kau akan bertunangan besok, waaah !" sindir Jungkook. Dia udah benar-benar telanjang, menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya sambil menyindir tuan muda yang akan menggagahinya sebentar lagi.

" Diam Jeon. Aku hanya ingin bercinta denganmu sekarang, bukan mendengar sindiran dari bibir indahmu itu " ucap Taehyung, bergabung dengan Jungkook di atas ranjang, menindih Jungkook dan kembali meraup bibir Jungkook.

Tangan Taehyung tidak tinggal diam, setiap inchi dari tubuh Jungkook tidak lepas dari jangkauan tangan besar Taehyung. sampai pada kejantanan milik Jungkook, Taehyung sedikit bermain dan menggoda kejantanan yang sudah mengeluarkan pre-cum tersebut.

" Shit ! don't tease me Taehh.." geram Jungkook.

" Siapa yang menggoda siapa hari ini Jungkook ? bukankah kau dari tadi dari Mansion selalu menggodaku, hmm ? jadi sekarang aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban darimu yang sudah membuatku menegang dari tadi, Sunshine !" ucap Taehyung. Taehyung menurunkan tubuhnya sampai wajah tampan itu bertemu langsung dengan kejantanan Jungkook. Taehyung tanpa basa-basi langsung mengulum kejantanan Jungkook. Satu tangan Taehyung bermain di lingkaran hole Jungkook.

" Ahhnnnn… Taehhh…. Aaahhhsshhhh.." Jungkook hanya mampu mendesah akibat ulah Taehyung di bawah sana. Bahkan rambut Taehyung menjadi korban jambakan Jungkook.

" Annggghhh.. Taehhh….. aku akan keluarrhh… Hmmnnhh.." Selepas Jungkook mengatakan itu, tubuh si manis melengkung dan cairan Jungkook keluar di mulut Taehyung. Jungkook terengah-engah menatap Taehyung yang menyeka bibirnya dengan punggung tangannya.

" Hah.. Taehyung Sialan !" ujar Jungkook. Sungguh pesona Taehyung membuat atensi Jungkook hanya berpusat kepadanya. Tubuh atletis Taehyung yang selalu menghipnotis Jungkook, tattoo yang membuat Taehyung terkesan semakin jantan.

" Simpan tenaga dan umpatanmu untuk acara inti kita sayang " ucap Taehyung sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Jungkook.

Taehyung kembali mendekati Jungkook dan kini si tampan itu mengekspoitasi dada Jungkook dengan seduktif. Taehyung menggigit kecil dan menghisap sesuatu yang mencuat dari dada Jungkook.

" Sayang, kau siap ?" tanya Taehyung. jari Taehyung dimasukkan ke dalam hole Jungkook yang membuat Jungkook sedikit terkejut.

" Anggghhh.. .." Jungkook sudah lama tidak merasakan sensasi seperti ini. Dia akui dia hanya bercinta dengan Taehyung. berarti dia sudah satu tahun setengan hole-nya tidak pernah dimasuki. Satu jari lagi masuk ke dalam hole Jungkook yang terus menghisap jari-jari Taehyung.

" Hmm… kenapa kau sangat menggoda Kookie?" tanya Taehyung. Taehyung memposisikan kejantanannnya di depan hole Jungkook.

"Damn ! kenapa sa—sangat sakithh? Agghh.." umpat Jungkook di tengah menggigiti bahu Taehyung karena menahan perih saat kejantanan Taehyung kini berada di dalam hole-nya.

" Aku bergerak sayang !" ucap Taehyung seraya mulai menggengjot Jungkook dengan tempo pelan.

" Ahhhnnn… aahhh…"

" Astagaa.. kenapa kau sempit sekali, hmm? Ahhnn.. Kokie-yaaahh"

" Ahhnn.. there Tae.. Hmmm… Shit, nikmatthhh.. terus Taehhh.." racau Jungkook di tengah kenikmatan yang dia rasa saat Taehyung tepat menumbuk titik kenikmatannya.

" Lebihh cepattt… fasterrrhhh Taehyunggghhh, aaannggghhh. Shit !" desah Jungkook. Taehyung juga terus mengecupi seluruh tubuh Jungkook.

" hmm, nakal sekali, lebih cepat, Hm ? seperti ini? Hmm?" tanya Taehyung dengan terus mempercepat gerakannya.

" Ahhhnn… aahhhnnhh.. aku akan sampaaiihhh… Taehhh" Jungkook benar-benar merasa nikmat yang dia rasa sampai klimaks ia dapat saat Taehyung gencar menggenjotnya dengan cepat. Jungkook juga tahu bahwa Taehyung akan mencapai puncak kenikmatannya sebentar lagi karena di dalam hole-nya dia merasakan kejantanan Taehyung semakin membesar dan berdenyut.

" Ahh… Ahhhnnn.. aku juga akan sampaiihh.. Ahhhnnn… !" Taehyung total ambruk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk Jungkook. Jungkook merasakan nafas Taehyung yang tersengal seperti habis lomba lari .

" Senang Tae ?" tanya Jungkook. Taehyung mengangguk di leher Jungkook.

" siapa yang tidak senang bercinta denganmu, Jeon ?" tanya Taehyung, dia mengambil tempat untuk tidur di samping Jungkook. Mengarah menghadap si manis dan memandang wajah yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.

" Terimakasih sudah mau bercinta denganku" ucap Taehyung tulus. Jungkook tersenyum dan mengangguk.

" Terimakasih sudah melahirkan anakku " ucap Taehyung lagi.

" Kookie-ya, jika hari ini adalah hari terakhir untuk kita seperti ini, apa kau memaafkanku ?" tanya Taehyung.

" Aku selalu mencoba untuk memaafkanmu Tae, aku mencoba ikhlas untuk kau dan wanita itu. demi Jisungku " tanggan Jungkook. Jungkook membalik badan, memunggungi Taehyung yang sedih menatapnya.

'aku sangat berharap bahwa besok tidak akan pernah ada' batin Jungkook.

Air mata Jungkook mengalir dengan sendirinya, dia harus kuat. Dia tak mau terlihat lemah di depan Taehyung. Taehyung mendekat dan memeluk Jungkook dari belakang. tangannya dia lingkarkan di perut ramping milik Jungkook.

" Terimakasih Jeon" bisik Taehyung sebelum keheningan di antara mereka terjadi dan malam menjemput mereka untuk masuk ke dalam mimpi.

.

.

To Be Continued.

.


.

.

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca cerita ini chingu-deul. Sorry for Typo !

See ya net chap.

.

.

Aku menyayangi kalian.

.

.

Guanlin's Noona.