Pair : Taekook, YoonMin, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. MPREG Guys !
Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…
.
.
-In Tempore-
.
.
Happy Reading !
.
..
.
Jungkook sangat sibuk, itulah yang Taehyung rasa belakangan ini. Jungkook akan sibuk mengerjakan skripsinya dan sesekali mendatangi perpustakaan kampusnya. Dan Taehyung merasa jika Jungkook sedikit mengabaikannya dan si kecil Jisung. Meskipun usia pernikahan mereka sudah lebih dari setahun, Taehyung tak pernah merasa Jungkook secuek saat sekarang ini.
Taehyung harus menyiapkan pakaiannya sendiri dan memasakkan sarapan untuk Jisung ketika pagi hari, saat Jungkook masih tertidur. Taehyung tidak setega itu membiarkan Jisung dalam keadaan lapar di pagi hari sebelum mengantarnya ke Mansion utama. Taehyung jelas mengerti jika Jungkook berusaha menyelesaikan pendidikannya, dan Taehyung tidak keberatan dengan semua itu.
Seperti pagi sebelumnya Taehyung sudah rapi dan Jungkook masih tertidur, semalam Taehyung terbangun ketika Jungkook masuk ke kamar mereka. Jungkook menyelesaikan tugasnya jam 3 pagi.
" Sayang, aku berangkat. Sarapan dulu baru kembali tidur, hum ?" Taehyung mendekat ke arah Jungkook dan mengecup bibir Jungkook yang sedikit terbuka itu. kebiasaan Jungkook ketika tidur dengan menampakkan gigi kelinci kesukaan Taehyung.
" Eung.. hati-hati Tae " Jungkook menggeliat dalam tidurnya dan menatap suaminya yang tampan itu keluar dari kamar mereka. Lantas Jungkook duduk dan mengumpulkan nyawanya. Hari ini ia akan kembali berperang dengan skripsinya. Waktunya hanya tinggal 2 minggu menjelang waktu wisuda periode kedua dalam tahun ini, dan Jungkook tidak bisa melewatkannya begitu saja, dia harus wisuda tahun ini.
..
Hari ini Taehyung sedikit larut pulang kerja, dia juga melewatkan makan malam. Dari ruang tengah ia sudah mendengar suara tangis Jisung. Hari ini Jisung memang Taehyung tinggalkan dengan Jungkook, itu permintaan dari Jungkook sendiri. Saat memasuki ruanga tengah, Taehyung menatap Jisung yang tengah menangis dengan posisi sedang menarik pelan baju Jungkook. Jungkook tidak menggubris anaknya itu sama sekali, dia hanya fokus pada pekerjaannya yang berada di atas meja belajarnya.
" Unda.. hiks..hiks.. cucu.. cungie mau cucu nda..hiks" Taehyung hanya menggeleng melihat Jungkook. Pasti anaknya sudah menangis dari tadi.
" Kookie, Jisung menangis" ucap Taehyung.
" Aku lelah Taehyung " jawab Jungkook singkat. Taehyung menggeram, kesal kentara sekali hanya karena tiga kata laknat itu meluncur dari bibir indah istrinya. Kemudian Taehyung menggendong Jisung yang masih meremat baju Jungkook.
" Unda.. unda ayaa..hiks" isak Jisung. Taehyung memegang dahi Jisung. Panas. Pasti karena efek menangis terlalu lama anaknya itu jadi demam.
" Jeon Jungkook ! Jinjja ! kau lelah dengan anakmu ?" teriak Taehyung. Jisung yang tengah memeluk leher Taehyung makin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher ayahnya kerena teriakan tersebut. Jungkook juga terkejut, tidak pernah selama mereka menikah ataupun berhubungan Taehyung sebegini marahnya.
" Demi apapun aku tidak pernah menuntutmu karena kau mengabaikan dan tidak mengurusku, aku paham benar jika kau sedang sibuk. Tapi ini Jisung ! Jisung anakmu" ucap Taehyung lagi. Taehyung sudah tidak bisa menahan semua gejolak amarah yang dia pendam. Jisung yang di abaikan adalah hal yang sangat Taehyung benci.
" Aku tidak menyangka jika kau sebegitu tergila-gilanya dengan pendidikan. Aku tidak menyangka jika kau bisa mengabaikan Jisung hanya demi title bodoh itu. Jisung tidak butuh orang yang berpendidikan tinggi untuk mengabaikannya, dia hanya butuh ibu yang baik Jeon !" setelah mengucapkan semua yang mengganjal di hatinya Taehyung pergi membawa Jisung dari sana. Menyisakan Jungkook dengan semua sesal karena telah membuat Jisung seperti itu.
" Benar, aku memang bukan ibu yang baik Tae, hiks hiks " isak Jungkook. Jungkook bangkit dan berniat menyusul Taehyung, tapi Taehyung sudah pergi dari Mansion mereka membawa Jisung. Ini berawal dari Jungkook yang mual berdekatan dengan Jisung dari tadi. Jungkook berusaha menjauhi anaknya dan berakhir dengan Jungkook yang benar-benar mengabaikan Jisung, mood Jungkook hari ini membuat semuanya ini terjadi. Sudah 3 hari dari yang lalu Jungkook seperti ini, dan inilah puncaknya. Jungkook memang sengaja meminta Taehyung meninggalkan Jisung dengannya, tapi dia tidak menyangka jika Jungkook memang mual berada di dekat anaknya itu, bukan hanya sugesti dari tubuhnya.
Jungkook yang panik langsung menyambar mantelnya dan berlari ke garasi, dia akan menyusul Taehyung.
" hiks.. Mianhae.. Jisung..maafkan bunda hiks" Jungkook terus saja terisak saat ia sudah berada di dalam mobil. Jungkook menghubungi orang-orang terdekatnya, menanyakan apakah Taehyung ada bersama mereka.
Langkah pertama Jungkook akan mengunjungi Mansion utama, kemungkinan Taehyung akan membawa Jisung kesana. Jungkook mengemudikan mobilnya dengan kencang. Tapi di tengah perjalanan, Jungkook di tabrak dari belakang oleh sebuah mobil menyebabkan dia terbentur cukup keras ke kemudi mobilnya. Pelipis Jungkook berdarah, cairan kental berwarna merah itu membuatnya meringis. Ia tidak mempedulikan orang yang menabrak ataupun belakang mobilnya yang pasti sangat lecet saat ini. Yang ada di pikiran Jungkook hanya Taehyung dan Jisung.
..
Jungkook turun dari mobilnya dan langsung berlari memasuki Mansion utama.
" Tae ! Taehyung !" teriak Jungkook. Baekhyun dan Chanyeol yang sedang bersantai langsung tgerkejut mendapati menantu mereka yang panik.
" Astaga Jungkook ! kau berdarah, Ahjumma cepat ambilkan obat !" teriak Baekhyun kepada salah satu maid di rumah itu.
" Mommy ! apa Taehyung kemari ? hiks ! Mom..a-aku, Ta-Taehyung hiks" isak Jungkook semakin menjadi. Ia berjongkok dan mengusap air matanya yang terus mengalir.
" Ya ampun, hei sayang ! ada apa ?" Baekhyun yang tidak tega langsung memeluk Jungkook yang terus menangis. Baekhyun membawa Jungkook ke arah sofa. Membiarkan menantunya itu tenang sebelum mengajaknya bercerita.
" Mommy, aku bukan ibu yang baik hiks " ucap Jungkook dalam pelukan Baekhyun. Pelipis Jungkook sudah di obati oleh Chanyeol. Ayah Taehyung itu berusaha sebaik mungkin agar menantunya itu tidak kesakitan.
" Maksud Kookie apa, hum ?" Baekhyun mengusap pelan punggung Jungkook, menyalurkan rasa nyaman untuk putra bungsu Jeon tersebut.
" Jisung, aku menyakiti anakku Mom, dan Taehyung marah" Jungkook meremat baju Baekhyun, merasakan jika dia sangat tidak pantas untuk menjadi ibu untuk Jisung dan istri untuk Taehyung.
" Jungkook, sini lihat Mommy " Baekhyun melepaskan pelukannya dan menagakkan tubuh Jungkook, kemudian menatap manik hitam yang membuat Taehyung jatuh cinta tersebut.
" Dengarkan Mommy baik-baik ne, ka—"
" Mom, kami da—" belum sempat Jihoon melanjutkan teriakannya, Chanyeol sudah menyuruhnya diam. Jihoon dan Guanlin yang baru datang langsung duduk di sebelah Chanyeol, memandang Jungkook dengan raut khawatir.
" Kookie, dengarkan Mommy sayang, tidak masalah jika kalian memiliki masalah dalam rumah tangga kalian. Wajar jika kau dan Taehyung memiliki masalah. Kalian 2 orang dengan pikiran yang berbeda. Yang kalian perlu hanya saling memahami, apalagi sekarang ada Jisung di antara kalian " wejang Baekhyun. Baekhyun dengan senang hati memberikan nasehat untuk para menantunya, terutama kepada Jimin dan Jungkook yang menurutnya masih baru dalam urusan rumah tangga dan membangun keluarga.
" Tapi Mom, aku mengabaikan Jisung tadi hiks.." curhat Jungkook. Jungkook memang tidak pantas untuk menjadi seorang ibu. Harusnya Jungkook bisa menahan mual yang ia alami. Jisung pasti sangat haus sampai ia terus merengek meminta dibuatkan susu oleh Jungkook.
" Sudah, sekarang istirahat saja disini dulu, Mommy akan meminta Daddy menyuruh orang-orangnya mencari Taehyung. kau sangat berantakan sekarang, istirahat ?" tanya Baekhyun. Jungkook mengangguk. Benar, dia memang butuh istirahat sekarang. Jungkook juga tidak boleh memaksakan dirinya jika tidak ingin terluka lebih dari ini.
" Mom, carikan Taehyung dan Jisung untukku, hiks" ucap Jungkook.
" Iya, sekarang ayo ke kamar, biar Mommy antar " Baekhyun memapah Jungkook dan benar-benar memastikan Jungkook beristirahat sebelum bergabung dengan Chanyeol, Jihoon dan Guanlin kembali.
" Ada apa, Mom ?" tanya Jihoon penasaran.
" Taehyung dan Jungkook mungkin sedang berkelahi, kau dengar sendiri tadi. Ada apa kalian malam-malam kesini ?" tanya Baekhyun melihat anak sahabatnya itu datang. Seenaknya menganggap rumah ini rumah mereka.
" Mommy sensi sekali. Padahal aku sedang ingin menunjukkan koleksi terbaru eye-liner dari kosmetik langganan Mommy " rajuk Jihoon.
" Benarkah? Omo omo ! tapi nanti dulu Ji. Kita urus kakak-kakakmu yang bermasalah itu dulu. Yeollie, kau sudah menghubungi Taehyung ?" tanya Baekhyun kepada suaminya.
" Sudah, tapi tidak aktif ! aku juga sudah menyuruh Sekretaris Cha untuk melacar nomor Taehyung, tapi belum ada kabar " jawab Chanyeol dengan suara beratnya, mirip sekali dengan Taehyung.
" Kenapa bisa mereka berkelahi, Dad?" tanya Guanlin.
" Perkara rumah tangga Guan. Cepat kalian hubungi siapa saja yang mungkin di datangi Taehyung. Terutama Yoongi dan Daniel" perintah Chanyeol. Bersamaan dengan itu Guanlin dan Jihoon langsung menghubungi mereka.
.
.
" Tae, kau tidak ingin kembali ?" tanya seseorang dari bilik counter dapurnya. Jisung yang berada di dalam dekapan Taehyung sudah mendapatkan susunya dan sedang menyedot cairan putih itu dari botol kecil yang dia pegang. Dan di dahinya sudah tertempel gel penurun panas.
" Aku ingin menenangkan diri dulu Han-ah. Aku tidak sadar ketika aku membentak Jungkook kerena dia mengabaikan Jisung seperti itu saja. Aku tahu dia lelah dan dia juga yang memintaku meninggalkan Jisung bersamanya. Jika seperti itu untuk apa ? menyiksa Jisung ?" tanya Taehyung.
" Mungkin Jungkook juga memiliki alasan Taehyung. kau hanya terlalu membentaknya. Mungkin saja Jisung rewel saat tadi. Sudahlah, tidak baik seperti itu " Jeonghan kembali menyentuh kening Jisung, panasnya sudah agak turun. Pemuda yang tengah mengandung anak Seungcheol itu memang sempat terkejut karena kedatangan sahabatnya dengan membawa Jisung yang terus menangis dalam gendongannya.
" Menyesal rasanya aku membiarkan Jungkook kuliah, Han-ah " curhat Taehyung.
" Ya ! kau ini bicara apa ? tidak suka jika istrimu cerdas ?" Jeonghan memukul lengan Taehyung.
" Tapi dia mengabaikan Jisung !" ucap Taehyung. Jeonghan menggelengkan kepalanya melihat pemikiran dangkal Taehyung.
" Kau itu ya, masih saja berpikiran dangkal. Seharusnya kau juga memikirkan bagaimana tertekannya Jungkook saat ini. Kau pikir gampang mengurus rumah tangga bersamaan dengan skripsi Tae ? sedangkan saat sendiri saja mengurus kertas-kertas revisi itu saja membuatmu hampir bunuh diri, dan kau sama sekali tidak memikirkan saat kau punya suami dan anak yang harus kau urus? Aku tahu kau pasti merasa Jungkook mengabaikanmu dan Jisung saat ini. Dan kau juga tahu jika saat ini adalah puncaknya dia sebelum sidang dan wisuda Taehyung. Harusnya kau disampingnya mengerti bagaimana susahnya dia, bukan menghakimi dan menghujani dengan berbagai kesalahan sepele yang dia buat dengan tidak sengaja " Taehyung masih diam mendengarkan pemikiran sahabatnya itu. Tidak salah Taehyung melarikan diri kesini daripada ke tempat Yoongi-hyungnya ataupun Daniel yang pasti akan di ceramahi aneh-aneh oleh Jimin dan Seongwoo yang cintanya setengah mati kepada Jungkook, istri cantiknya.
" Tae, harusnya kau bangga punya istri berkemauan keras untuk memantaskan diri agar bisa cocok denganmu. Secara tidak langsung, dia sudah sering mendengar dan mencerca dirinya yang tidak berpendidikan kenapa bisa bersanding dengan orang sepertimu. Menikahi salah satu pewaris Perusahaan besar dan memiliki pendidikan yang bagus bukankah sama saja melemparkan diri ke dalam api yang akan membakarmu Tae ? orang-orang akan menghakimi tentang kepantasan untuk bersanding dengan orang-orang sepertimu Tae . harusnya kau beruntung memiliki Jungkook yang tangguh, yang bisa mematahkan asumsi orang-orang jika dia tidak pantas untukmu. Harusnya kau dan Daniel bahagia memiliki istri macam Jungkook dan Seongwoo. Bukannya mengeluh dan menyalahkannya, bodoh ! Lagipula Jungkook itu sudah menjadi ibu yang hebat karena bisa mendidik Jisung menjadi anak yang cerdas. Mana ada sekecil Jisung sudah pandai berbagai hal, gen mu mungkin menuruni kepintaranmu, tapi tanpa Jungkook kau bukan apa-apa Taehyung !" lanjut Jeonghan.
Taehyung terdiam mendengar ucapan Jeonghan. Benar, kenapa dia menyalahkan Jungkook ? padahal Jungkook melakukan itu juga untuk dirinya dan Jisung.
" Astaga, jadi aku bersalah Han-ah ?" tanya Taehyung.
" Tentu saja, memangnya kapan kau tidak salah ? Sini Jisung biar denganku. Sekarang tidurlah, istirahat di kamar tamu rumah ini. Grup Uke dari tadi ribut tentang kau dan Jungkook yang berkelahi. Oh, Jungkook tadi kecelakaan kata Jihoon " mendengar ucapan Jeonghan, nafas Taehyung langsung memburu, khawatir sekali dengan Jungkook.
" Dia tidak apa-apa, hanya luka di pelipis. Dia sedang istirahat di Mansionmu. Sekarang biarkan saja dia tenang dulu, dia pasti juga sama kacaunya denganmu. Oh satu lagi, Jimin dan Seongwoo juga akan membunuhmu jika mereka bertemu denganmu nanti dan mereka sepakat akan memotong asetmu jika kau masih membuat Jungkook mereka sedih " ucap Jeonghan, pemuda yang hamil 5 bulan itu menggendong Jisung yang sudah tidur. Setidaknya malam ini Jeonghan akan tidur dengan buah hati Taehyung dan Jungkook yang imut itu. Dan biarkan Taehyung juga merenung tentang kesalahannya malam ini.
.
.
Jungkook terbangun saat merasakan ada tubuh kecil yang menindihnya. Benar saja, si kecil Jisung sedang telungkup di atas tubuh Jungkook. Jungkook terkejut mendapati putranya ada disana.
" Jisungie.." Jungkook mengangkat tubuh anaknya dan perlahan duduk.
" Unda atit ?" tanya Jisung dengan cadelnya. Telunjuk Jisung menunjuk ke arah perban yang membalut luka di pelipis Jungkook. Bayi kecil Taehyung itu sudah terlampau pandai membaca situasi di sekitarnya.
" Tidak sayang, bunda tidak sakit. Jisung baik-baik saja, hum ? Hiks.. maafkan bunda ya nak, sudah mengabaikan Jisung " Jungkook memeluk anaknya itu. Jisung yang bingung lantas melepaskan pelukan bundanya, menatap bundanya dengan tatapan polos.
" Unda, nan nanis ndaaa" ucap Jisung heboh. Baekhyun masuk ke dalam kamar Jungkook. Menggapai Jisung yang melonjak di atas kasur. Jisung sudah mandi, tercium bau parfume Baekhyun di pakaian Jisung.
" Aigoo.. cucuku pagi-pagi sudah heboh, sini sama Halmeoni" Baekhyun menggendong Jisung.
" Ayo sarapan sayang, yang lain sudah menunggu di bawah" Baekhyun mengusap pelan rambut Jungkook, sayang sekali dengan menantunya itu.
" Mom, Taehyung ?" tanya Jungkook.
" Dia pergi buru-buru setelah mengantar Jisung pukul 5 tadi. Dia ada pekerjaan keluar kota selama satu minggu. Dia juga sempat melihatmu tadi, sepertinya anakku itu khawatir kepada istrinya. Karena tidak tega membangunkanmu makanya dia tidak pamit" jelas Baekhyun. Memang benar, Taehyung datang subuh tadi ke Mansion utama. Membangunkan Baekhyun agar bisa dititipi Jisung. Baekhyun juga tahu anaknya itu ingin berbaikan dengan Jungkook. Tapi mungkin karena terdesak, Taehyung pergi dengan hanya mengecup kening dan bibir Jungkook yang tengah terlelap.
" Taehyung masih marah ya Mom ?" tanya Jungkook dengan lirih.
" Kau ini bicara apa ? dia tidak marah sayang. Dia bilang kemarin hanya lelah dan Jisung mungkin juga rewel. Dia ingin membangunkanmu tadi, ingin meminta maaf tapi Mommy melarang karena kau pasti sudah sering melewatkan tidur berkualitasmu. Dia hanya pergi seminggu. Kau disini saja dengan Jisung, ajak Jihoon dan Guanlin juga" titah Baekhyun, dan Jungkook hanya mengangguk mengerti.
.
.
Seminggu Jungkook diisi dengan merevisi skripsinya, dan Jungkook berhasil. Dengan membawa Jisung di gendongannya, dia memasuki kampusnya. Disana juga ada Seongwoo yang tengah memegang skripsinya, sibuk menghafal. Hari ini sidang Seongwoo, dan suami tercintanya sudah berada di sampingnya.
" Jangan gugup Ongie" ucap Daniel disampingnya. Setelah Seongwoo nanti maka giliran Jungkook yang masuk. Jungkook tenang, tidak mau membuat Jisung yang berada di dalam gendongannya ikut panih.
" Hyung, fighting !" ucap Jungkook dengan senyumannya. Dia ikut duduk di sebelah Daniel, kemudian menurunkan Jisung, membiarkan anaknya itu bermain.
" Jiminie-hyung belum datang ?" tanya Jungkook. Jimin memang berjanji akan datang saat mereka sidang, tapi istri Yoongi itu belum jiga menampakkan batang hidungnya.
" Masih di jalan Kookie, sebentar ini dia mengatakan dia baru keluar dari apartemennya " jawab Daniel. Jungkook hanya mengangguk mengerti.
" Eomma Luhan dan Mommy Baek tidak datang ?" tanya Daniel kepada Jungkook.
" Tidak hyung. aku melarang mereka datang. Nanti pasti berisik sekali " memang benar jika kedua besan itu bertemu maka mereka pasti akan sangat ribut sekali.
" Silahkan Ong Seongwoo masuk " salah satu staff menyuruh Seongwoo memasuki ruangan sidang. Membuat Jungkook semakin tegang.
" Eotteokkhae ? nanti jika aku tidak bisa menjawab hyung ?" panik Jungkook. Kedua telapak tangannya sudah dingin, gugup sekali.
" Kau pasti bisa Kookie, Tae-hyung datang ?" lagi-lagi Daniel bertanya. Pasalnya dia tidak melihat hyungnya itu dari tadi. Jungkook menggeleng.
" Tidak tahu hyung. tapi aku sudah memberitahu jika aku hari ini sidang. Aku tidak berharap banyak jika Taehyung datang hyung. Haaah !" teriak Jungkook frustasi.
" Hoi, kau pasti bisa.. jangan gugup begitu " Yoongi datang dengan Yoonji di gendongannya diiringi Jimin yang membawa dua buket bunga berukuran sedang. Satu untuk Jungkook dan satu lagi untuk Seongwoo.
" Kau pasti lulus Jungkook, kau sudah berusaha keras untuk hari ini, fighting !" ucap Jimin menyemangati.
" Ne, Gomawo hyung !" balas Jungkook sambil meyakinkan dirinya jika ia bisa.
Setengah jam kemudian Seongwoo keluar dari ruang sidang dengan menangis, memeluk Daniel dengan sesegukan.
" A-aku berhasil Niel-ie.. Aku berhasil, hiks" isak Seongwoo. Membuat orang yang ada disana bernafas lega kecuali Jungkook yang semakin gugup.
" giliranku hyung, aku titip Jisung ya hyung " Jungkook mempersiap diri di depan ruangan sidang sebelum namanya di panggil. Dia harus berhasil hari ini, setelahnya ia akan menunggu Taehyung kembali dan meminta maaf kepada Taehyung.
Sekitar 15 menit Jungkook di dalam ruang sidang, Taehyung datang dengan membawa buket bunga mawar besar di tangannya. semua orang disana cukup terkejut dengan Taehyung yang datang tiba-tiba.
" Waaah, kau datang hyung !" ujar Daniel.
" Tentu saja, istriku sedang berperang di ruang sidangnya mana mungkin aku tidak datang. Hei jagoan ! sini sama ayah !" Taehyung berjongkok merentangkan tangannya menunggu Jisung yang berlari kecil ke arahnya.
" Ayaaaaaah !" teriak Jisung di iringi tawa kecil dari anaknya itu. Jisung pasti sangat merindukan ayahnya itu.
" Aigoo, ayah rindu Jisung. Jisung tidak nakal selama ayah pergi, kan ? tidak merepotkan bunda?" tanya Taehyung yang kini sudah menggendong anaknya. Jisung menggeleng berkali-kali, membuat orang yang ada disana gemas.
" Kau hanya membawa bunga untuk Jungkook ?" tanya Jimin.
" Aku membawa cinta yang banyak untuknya Chim. Kau tidak akan tahu, Oh hai menantuku.. tambah cantik saja !" Taehyung menggoda Yoonji yang sedang bermain dengan squisy bebek kecil miliknya.
" Jangan menggoda anakku bodoh !" ucap Jimin tidak terima. Yoongi hanya tersenyum geli melihat Jimin overprotective kepada bayi cantik mereka.
Mereka berbicara random, membicarakan berbagai hal sampai saat Jungkook akan keluar dari ruangnya.
" Sini sama Daddy, Jisungie ! sebentar lagi bundamu keluar dan dia pasti butuhkan pelukan dari ayahmu " Daniel yang peka langsung mengambil Jisung dari gendongan Taehyung, dan tepat saja Jungkook langsung keluar dari ruangannya. Pandangan mereka bertemu. Jungkook langsung berlari dan memeluk Taehyung dengan erat.
" Bae, hei ak—"
" Diam Taehyung ! kau bisa memarahiku sepuasmu nanti, sekarang aku rindu hiks" mereka lama dalam keadaan seperti itu, Taehyung berusaha melepaskan pelukan Jungkook yang masih erat.
" Kookie, ayo lepaskan.. Jisung menangis itu " Taehyung berusaha melepaskan Jungkook, bukannya tidak mau memeluk istrinya itu, tapi anak mereka cemburu melihat ayah bundanya melepas rindu.
" Eung, anak bunda juga mau di peluk ? Sini !" Jungkook menggendong Jisung dan menyerbu anaknya itu dengan ciuman bertubi di pipi gembul Jisung.
" Apa kami terlambat ? Ini hyung, Chukkae.. selamat sudah lulus " Jihoon datang memberikan buket bunga kepada Jungkook dan Seongwoo.
" Apa kita akan makan setelah ini ? Ayolah, kalian harus mentraktir kami karena sudah lulus " ucap Jimin. Dia lapar, belum makan siang ini.
" Baiklah, Kajja ! kalian ikut kan, Tae, Kookie ?" tanya Seongwoo. Mereka mengangguk. Padahal masalah antara Taehyung dan Jungkook yang seminggu lalu belum selesai.
..
Di dalam mobil menuju café tempat mereka makan, Jungkook masih diam belum menyapa Taehyung. Mereka hanya berdua. Jisung ikut dengan mobil Yoongi, merengek ingin ikut dengan Yoonji-noonanya.
" Tae.. aku minta maaf. Aku memang bukan ibu yang baik untuk Jisung dan aku juga benar-benar menyesal karena terlalu larut pada kuliahku sehingga aku mengabaikan kalian" ucap Jungkook memberanikan diri.
" Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu. Aku juga salah karena aku langsung memarahimu tanpa bertanya dulu" Taehyung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, Jungkook yang heran kenapa suaminya itu malah berhenti, padahal tempat makan mereka masih cukup jauh.
" Ken—" ucapan Jungkook terpotong karena Taehyung sudah menyambar bibir Jungkook. Mencuri ciuman disana. Ciuman yang cukup tergesa, Taehyung melumat bibir Jungkook yang seminggu ini ia rindukan. Taehyung menyudahi ciumannya, menyatukan kening mereka.
" Aku rindu, dan selamat sayang. Aku bangga karena kau bisa menjadi ibu yang hebat untuk anakku " ucap Taehyung sebelum melumat bibir Jungkook kembali.
" Eungghhh… Taeeehhh" Taehyung kembali memutuskan ciuman mereka, menatap Jungkook yang tengah merona, cantik sekali.
" Nanti kita terlambat, mereka bisa marah " ucap Jungkook, menunduk menyembunyikan wajah malunya. Membuat Taehyung langsung terkekeh.
" Ya ampun kesayanganku ini, masih saja malu. Padahal sudah punya anak. Baiklah, kita akan melepaskan rindu nanti di kamar. Ide yang bagus bukan ?" tanyaTaehyung yang kemudian menjalankan mobilnya, berniat sekali menggoda pemuda kelinci yang imut itu.
..
" Ya ! kenapa lama sekali ?" tanya Jimin kesal. Dia sudah duduk di samping suami tercintanya. Yoongi malah sibuk dengan membantu Yoonji dan Jisung membukakan jeli. Disana juga ada Seongwoo dan Daniel, Jihoon dan Guanlin.
" Kami melepas rindu sebentar. Ck, kau kenapa tidak sabaran sekali, sih ?" tanya Taehyung yang mengambil tempat di samping Jungkook.
" Oh ya hyung, kita tunggu Namjoon hyung ya, dia sebentar lagi datang" ucap Daniel. Dan para uke disana langsung senang. Dimana ada Namjoon disana pasti ada Jin nanti. Dan mereka pasti akan bahagia karena mereka bisa curhat satu sama lain, membuat para suami bosan menunggui mereka bercerita.
"Kami datang !" Jin datang bersama Namjoon yang menggandeng putra mereka.
" Omo ! lihat siapa yang tampan ini ? Astaga hyung, kenapa anakmu tampan sekali, eoh ?" Jihoon langsung turun dari tempat duduknya dan sibuk menguyel pipi anak Namjoon.
" Kim Jihoo, aunty " ucap si kecil Kim dengan senyumannya.
" Uh, pintar sekali. Aku rasa aku bisa diabetes dihadirkan makhluk-makhluk kiyowo macam mereka. Ayo duduk dengna aunty, dengan adik-adik Jihoo juga " Jihoo menyambut tangan Jihoon yang tengah terulur kepadanya. Mereka pun menyambangi Jisung dan Yoonji yang tengah sibuk dengan jeli dan dunianya sendiri.
" Bagaimana tadi Woo-ya? Kookie?" Jin melepas mantelnya dan menyampirkan di kursi miliknya.
" Baik hyung, dan kami akan wisuda minggu depan. Jangan lupa datang " ucap Seongwoo. Dia duduk disamping Daniel yang terus memainkan tangannya dari tadi. Kebiasaan Daniel tidak berubah.
" Tentu saja aku akan datang, mana mau aku melewatkan makan gratis sekali lagi. Lagipula Joonie tidak akan sibuk lagi " tanggap Jin.
" Benarkah? Suaminya yang super sibuk ini tiba-tiba tidak sibuk, wae ?" tanya Jimin antusias.
" Kami sedang program anak kedua Chim, dan Namjoon aku tidak perbolehkan untuk sibuk " jawab Jin, melirik Namjoon yang tengah menatapnya penuh cinta.
" sayang,ayo kita bikin juga adik untuk Yoonji " ajak Yoongi kepada istrinya.
" Ani ! Ani ! aku tidak mau. Yoonji saja sudah cukup hyung " jawab Jimin sambil menggeleng. Membayangkan dia hamil lagi sungguh sangat tidak dia mau.
" kita buat juga adik untuk Jisung, hum ?" bisik Taehyung kepada Jungkook, membuat Jungkook bersemu.
" Jangan buat anak lagi hyung, jangan di tambah lagi, aku tidak mau menjadi baby sitter terus-terusan, waktu kencanku dengan Linlin jadi berkurang " tanggap Jihoon setelah mendengar hyung-hyung mereka akan menambah anak kembali.
" Padahal kau dengan suka rela menjaga anakku " tukas Daniel.
" Itu kan beda hyung, mereka ini sangat kiyowo, jangan berikan adik untuk mereka lagi. Iya kan, hoo-ya ?" Jihoon mencubit gemas pipi Jihoo.
.
.
Taehyung dan Jungkook sampai di Mansion mereka. Jisung merengek minta ikut dengan Yoonji dan berakhirlah jagoan Taehyung ikut dengan keluarga Yoongi.
" Aku lelah sekali, mau tidur " rengek Jungkook. Tangannya masih di genggam oleh Taehyung. suaminya itu tidak melepaskan Jungkook sejak mereka turun dari mobil.
" Tapi aku merindukanmu " balas Taehyung. Taehyung langsung memepet Jungkook ke sofa ruang tamu mereka dan langsung menyambar bibir Jungkook dengan terburu. Dia sangat merindukan Jungkook, dan dari tadi sudah berusaha menahan diri untuk tidak menyerang istrinya itu di tempat umum.
" Taeeeehhh…" desah Jungkook. Taehyung menurunkan ciumannya ke leher Jungkook. Taehyung memberikan gigitan kecil dan menjilat bekas ciptaannya disana.
" Aku sangat menginginkanmu sayang " bisik Taehyung. Taehyung membuka beberapa kancing kemeja Jungkook. Menyibak baju Jungkook sampai bahu mulus Jungkook terekspos. Taehyung tidak melewatnya dan juga memberi tanda kepemilikannya disana.
" Aku gila karena terlalu merindukanmu " lirih Taehyung lagi. Taehyung naik kembali dan mencium bibir Jungkook yang sudah memerah. Tatapan sayu Jungkook adalah salah satu favorit Taehyung dari sekian hal yang di punya Jungkook.
" Tae, aku lelah " Jungkook melingkarkan tangannya ke leher Taehyung. mengecup bibir Taehyung sekilas.
" Tap—Aw.. sakit Mom !" teriak Taehyung. Telinga Taehyung di jewer oleh Baekhyun yang datang tiba-tiba.
" Kau ini, Jungkook baru saja pulang dari sidangnya. Seenaknya menyerang menantuku " amuk Baekhyun kepada Taehyung. Taehyung yang kemudian duduk, membenarkan baju Jungkook. Dan menatap tidak suka kepada ibunya itu. Di belakang ibunya sudah ada ayah dan adiknya.
" Dia istriku Mom ! Jadi aku bisa saja melakukan apapun dengan Jungkook, dan ini juga Mansionku. Astaga apa kejahatan bercinta dengan istri sendiri ?" tanya Taehyung kesal. Ibunya hanya mengelus pelan rambut Jungkook.
" Kau tidak boleh bercinta dengan Jungkook sampai dia wisuda, awas saja kalau kau berani menyentuh Jungkookku sampai dia wisuda, aku dan suamiku akan mengeluarkanmu dari daftar pewaris keluarga" ancam Baekhyun. Taehyung menepuk keningnya, kesal sekali mendengar ucapan ibunya itu.
" Astaga Mom !" teriak Taehyung frustasi
" Dad ! bawa istrimu pulang, aku juga merindukan istriku. Sudah seminggu tidak bertemu " rajuk Taehyung. kenapa keluarganya harus datang di saat yang tidak tepat.
" Aku harus memastikan menantuku aman. Dia pasti masih kelelahan, seenaknya saja di serang oleh orang mesum sepertimu. Ayo sayang kita ke dalam " Baekhyun menggandeng Jungkook, memasuki ruang tengah Mansion mereka. Bambam mengekor dibelakangnya. Sementara Chanyeol duduk di samping Taehyung. Menepuk pundak anaknya itu, mengisyaratkan lebih mengalah daripada meladeni istrinya berdebat. Tidak akan pernah menang sampai kapanpun. Di keluarga Chanyeol, Baekhyunlah pemegang keputusan.
" Senjatamu berdiri, mengajak perang. Sana ke kamar mandi, kau punya sabun kan ?" sindir Chanyeol melihat celana anak sulungnya yang menggembung dan sedikit kasihan melihat Taehyung di ancam oleh istri tersayangnya.
.
.
Selama seminggu Taehyung sama sekali tidak berani menyentuh Jungkook. Ibunya dengan kurang kerja akan menelepon Jungkook 2 jam sekali menanyakan apakah dia di serang oleh Taehyung atau tidak. Lagipula Taehyung tidak tega menyerang Jungkook, istrinya itu terlihat kurang enak badan. Kerjaannya seminggu ini hanya tidur, wajahnya juga terlihat pucat.
" Sayang !" Taehyung yang sudah selesai mandi langsung ikut merebahkan diri di samping Jungkook. Menidurkan kepalanya di dada Jungkook. Nyaman sekali. Jungkook mengelus pelan rambut Taehyung yang sudah wangi itu.
" Bagaimana keadaanmu ?" tanya Taehyung.
" Aku baik-baik saja, Taehyungie " jawab Jungkook. Taehyung menggenggam tangan Jungkook yang tengah mengelus rambutnya itu, mengambilnya dan mencium pelan punggung tangan Jungkook.
" Jangan sakit. Besok kau harus wisuda, merayakan kerja kerasmu sayang. Kesayanganku ini hebat sekali. Cha, kita tidur.. Jalja sayang " Taehyung mencium kening istrinya itu sebelum memeluk Jungkook.
..
Pagi ini mereka sibuk. Jihoon dari tadi sibuk memakaikan Jisung pakaian yang bagus, karena hari ini bunda Jisung sedang wisuda. Taehyung mengantarkan Jungkook pagi-pagi ke kampusnya, sementara yang lain akan menyusul nanti.
Taehyung bangga, bangga sekali. Istrinya bisa menggapai gelar sarjana yang ia impikan bersama sahabatnya, Ong Seongwoo. Taehyung dan Daniel yang ikut dalam acara wisuda tersebut tidak henti-hentinya mengumbar senyum bahagia mereka untuk orang terkasih mereka.
Acara selesai. Jungkook dan Seongwoo di hujani buket bunga yang dibawa oleh orang-orang terdekat mereka. Jungkook berdiri di samping Jimin dan Jihoon yang sibuk memoto mereka. Mengabadikan momen berharga Jungkook.
" Selamat sayang !" Luhan memeluk anak bungsunya, ikut bahagia atas wisuda Jungkook.
" Menantu Mommy cantik sekali, selamat Kookiee !" Baekhyun tidak kalah antusias dibanding besannya. Setelah ini mereka akan mengadakan acara di Mansion utama. keluarga besar Daniel juga ikut bergabung.
Jungkook limbung, dia pingsan. Untung saja Guanlin yang berjarak dekat dengan Jungkook dapat menopang tubuh Jungkook sebelum pemuda manis itu jatuh ke tanah.
" Jungkook !" teriak Taehyung panik. Pemuda itu langsung melarikan Jungkook ke ruang kesehatan kampus. Akses terdekat. Minhyun yang juga datang bersama Hyunbin langsung ikut berlari menyusul Taehyung.
" Tae, sini kuperiksa. Tunggu saja diluar !" perintah Minhyun. Taehyung menurut, Minhyun pasti lebih mengerti keadaan istrinya itu.
" Kookie.. hei.. kau dengar hyung !" ucap Minhyun yang berusaha menyadarkan Jungkook. Minhyun memeriksa Jungkook dengan stetoskop yang ada disana, meminjam kepada penjaga ruang kesehatan.
" Eunggg.." Jungkook membuka matanya dan berusaha duduk.
" Apa yang sakit ?" tanya Minhyun.
" Pusing hyung!" Jungkook memegang kepalanya.
" Kau sudah minum obatmu ? harusnya kau beristirahat sekarang. Kau sudah mengatakan kepada Taehyung ?" tanya Minhyun. Minhyun sudah menyarankan kepada Jungkook agar menjaga kesehatannya.
" Aku akan katakan nanti hyung, biar aku yang mengatakannya ya hyung ?" pinta Jungkook. Minhyun mana tega menatap manik polos itu.
" Ya sudah kalau itu maumu. Sekarang kita pulang saja, lebih baik istirahat di Mansion saja daripada disini " Jungkook mengangguk, dan Minhyun memanggil Taehyung agar bisa menggendong istrinya itu ke mobil mereka.
..
Suasana riuh sekali, di halaman belakang Mansion Chanyeol mereka berpesta. Taehyung sedang memeluk Jungkook di balkon kamar Taehyung yang mengarah ke halaman belakang langsung.
" Mereka bahagia sekali " tukas Jungkook. Tangannya memegang lengan Taehyung yang melingkari perutnya.
"Kau harus istirahat sayang, tidak bisa bergabung dengan mereka " tanggap Taehyung, mengecup rambut Jungkook.
" Tae, ada yang ingin aku beritahu kepadamu, hadiah dariku untukmu " Jungkook tersenyum.
" Apa itu ? harusnya aku yang memberikanmu hadiah sayang " tanya Taehyung penasaran.
" Aku tidak tahu apa kau senang atau tidak dengan hadiah yang akan aku beri " Jungkook mengambil tangan Taehyung dan meletakkannya di perut Jungkook.
" Apapun itu, aku pasti akan sangat menyukainya" tanggap Taehyung
" Disini, ada Taehyung kecil. Adiknya Jisung " ucapan Jungkook membuat Taehyung menegang.
" Maafkan aku karena tidak bisa melayanimu bercinta, aku harus menjaga si kecil ini untuk sementara. Aku juga yang meminta kepada Mommy agar melarangmu bercinta denganku untuk sementara " ucap Jungkook lagi. Mendapati Taehyung diam, Jungkook langsung membali badan. Mata Taehyung berkaca.
" Tae ?"
" Hum ? Astaga sayang ! aku bahagia sekali. Jadi disini ada anakku ? adik Jisung ?" Taehyung berjongkok, menyamakan kepalanya dengan perut Jungkook yang masih rata, menyibak baju Jungkook dan mencium perutnya. Dan Taehyung baru mendapat jawaban kenapa Jungkook akhir-akhir ini tidak enak badan, faktor bayi di dalam kandungannya.
"Anak ayah ! jaga Bunda ya, jangan nakal di dalam sini. Ayah senang sekali .. maaf ayah hampir saja menyakitimu dan Bunda. Ayo sama-sama berjuang sampai kau hadir ke dunia sayang, nanti kau akan bertemu ayah, bunda dan kakakmu " Taehyung tidak bisa mengungkapkan seberapa bahagia dia sekarang.
" Berapa umurnya, bunda ?" tanya Taehyung.
" 5 minggu ayah, usianya 5 minggu " jawab Jungkook. Taehyung berdiri kemudian mendekap istrinya.
" Terimakasih sayang, terimakasih !" ucap Taehyung bahagia.
Ingatkan Taehyung setelah ini agar mengucapkan terimakasih kepada ibunya. Ibunya sudah mengancam Taehyung yang sebenarnya sedang menyelamatkan istri dan anaknya, dan Taehyung tidak akan keberatan menahan hasrat untuk menyerang Jungkook beberapa bulan ke depan.
Dan selamat datang di dunia ibu hamil Taehyung, rasakan sensasinya saat istrimu mengidam dan kau harus menuruti semua kemauan istri dan anakmu
.
.
Sequel 2 END
