Dangerous Pureblood

by

Coldnana

l

l

l

l

Cast : Nantikan dalam cerita.

Omegaverse, Chanbaek, Yaoi, Vampire, Fantasy, M-Preg

l

l

l

l

l

Cuma mau ngingetin nih, Chapter kali ini tembus sampai 9K Yeyyy #Tepuktanganyangmeriah.

Spesial untuk mengisi liburan kalian dan oh yaa, Happy 6th Anniversary My Lovely EXO #Muaaacchh #KissandHug

Maafkan segala jenis typo daaaaannn

l

l

l

l

Happy Reading guys~~

l

l

l

l

l

Pasukan bala bantuan, lebih tepatnya pasukan tempur yang langsung di pimpin oleh sang raja mulai bergerak menuju markas para vampire jahat yang berada di hutan kesunyian.

Sementara itu, pasukan rahasia yang terdiri dari para pengikut setia pangeran Chanyeol, Blue Crown atau pasukan mahkota biru juga bergerak menuju tempat yang sama tanpa di ketahui oleh sang raja karena tanpa disadari mereka telah berbaur dengan sangat sempurna pada pasukan yang raja pimpin.

Benar-benar pasukan yang sangat hebat dan juga berbahaya sampai bisa membuat raja tak menyadari pergerakan dan keberadaan mereka.

Pasukan itu terus bergerak menuju hutan kesunyian, jangan bayangan berapa banyak jumlahnya, karena bagi sang raja, putranya pangeran Chanyeol itu sangat berharga, sehingga jumlah pasukan yang di bawa setara dengan jumlah pasukan ketika dia akan perang.

Belum lagi diantara mereka ada anggota dari pasukan Blue Crown, pasukan ini bisa di pastikan sangatlah kuat, sepertinya Dark Blood harus benar-benar hati-hati dan segera meninggalkan hutan kesunyian.

Dark Blood belum cukup kuat saat ini, mereka masih membentuk kekuatan, mustahil bagi mereka untuk bisa mengalahkan pasukan yang di pimpin langsung oleh raja.

Oleh karena itu, satu-satunya pilihan yang bisa mereka ambil adalah dengan segera pergi meninggalkan markas sementara mereka di hutan kesunyian dan kembali ke markas utama mereka, sebelum mereka di bantai habis.

ooooo

ooo

o

Sementara itu, pangeran Chanyeol masih tetap memperhatikan gerak-gerik ke tiga vampire itu, dia tak segera menyelamatkan si mungil karena kesempatan langka ini akan menuntunnya menuju markas mereka.

Pangeran tampan itu, memanfaatkan situasi ini untuk mengetahui letak markas para vampire jahat itu, dia berniat menghancurkan markas mereka sampai hancur tak bersisa.

Ketiga vampire itu benar-benar sepenuhnya tak menyadari keberadaan sang pangeran yang sedang mengikuti mereka, mereka benar-benar tak sadar telah di ikuti.

Di sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang, dan perbincangan mereka cukup jelas bahkan sangat jelas untuk bisa di dengar oleh Chanyeol.

"Omega ini sangat manis." ujar salah satu vampire memulai percakapan.

"Benar, dia begitu mungil dan manis, sangat menggoda." vampire lain menanggapi.

"Ya, aku benar-benar ingin merasakan seperti apa tubuhnya memanjakanku," ujar vampire lain yang sedang menggendong Baekhyun dengan posisi seperti mengangkat karung dengan kepala si mungil di bawah dan pantangnya menungging.

"Terutama lubang serta liang surganya ini." lanjutnya lagi lalu dengan kurang ajarnya tangannya melakukan pelecehan pada bokong sintal berisi milik Baekhyun dan meremasnya, tak cukup sampai di situ, dia juga membelai lubang si mungil yang tertutup celana dalam tipis miliknya serta dia meremas milik Baekhyun dengan gemas.

Perlakuan vampire kurang ajar itu nyatanya membuat Chanyeol sangat murka, dia sendiri bingung mengapa dia seperti itu, mengapa dia sangat marah karena hal itu.

Namun satu hal yang pasti, Chanyeol tidak suka ada yang menyentuh Baekhyun, dia benar-benar membenci hal itu.

Apa yang vampire itu lakukan hampir membuat Chanyeol keluar dan menghajar si vampire, namun beruntung pangeran tampan itu berhasil mengontrol amarahnya.

Apapun yang terjadi dia tak boleh mengacaukan rencana yang telah dia buat, karena sejatinya Chanyeol sebenarnya tak membutuhkan pasukan bala bantuan untuk menghancurkan para vampire jahat ini.

Beberapa vampire yang tergabung dalam Blue Crown, vampire kuat, dengan julukan yang lebih hebat dari pada Blue Crown, vampire-vampire luar biasa yang kekuatannya di luar nalar.

Para vampire ini selalu berada di sekitar pangeran Chanyeol, dengan kata lain mereka adalah pelindung sang pangeran serta kaki tangan pangeran tampan itu.

Sebutan bagi mereka adalah Shield of the prince atau Perisai Pangeran, bagian dari Blue Crown yang selalu ada di dekat pangeran layaknya bayangan sang pangeran, sehingga mereka lebih terkenal sebagai Prince Shadow atau Blue Shadow.

Pasukan vampire ini di pimpin oleh Suho, jangan lupakan pula Sehun serta Kai, meski terkadang mereka suka bersikap tidak sopan pada sang pangeran namun soal kesetiaan, tidak perlu di ragukan lagi, mereka bahkan rela mengorbankan nyawa mereka.

Chanyeol, pangeran tampan itu terus bersabar meski beberapa kali para vampire kurang ajar itu melakukan pelecehan pada tubuh si mungil.

Dia terus mengikuti mereka hingga mereka benar-benar sampai di pusat hutan, Chanyeol tahu bahwa dia semakin dekat dengan markas mereka, hingga ketika salah satu vampire yang menculik Baekhyun merapalkan mantra.

Pangeran tampan itu tahu, mantra apa itu, itu adalah mantra pembuka, siapa sangka markas mereka di lapisi sihir antar ruang dimensi, dimana orang luar tak akan bisa melihat markas mereka namun mereka bisa melihat orang yang lewat dari dalam.

Sihir yang di gunakan untuk menyembunyikan markas mereka dari musuh, Chanyeol menyeringai, pangeran tampan itu telah menduganya, bahwa mereka pasti akan menggunakan sihir antar dimensi untuk menyembunyikan markas mereka.

Namun dia belum tahu pasti letak markas mereka sehingga dia harus mengikuti mereka, dia bisa saja menghancurkan semuanya, tapi dia benar-benar membenci ide itu.

Ide yang akan menghancurkan salah satu tempat bermain favoritenya, meski nyatanya bagi hampir seluruh vampire di kerajaan vampire, baik bangsawan maupun rakyat biasa, tempat itu merupakan tempat terlarang yang tak boleh di kunjungi jika mereka masih menyayangi nyawa mereka.

Tempat yang bagi seluruh rakyat Alahontas merupakan tempat yang sangat terlarang dan berbahaya, ternyata adalah tempat bermain favorite sang pangeran, benar-benar tak bisa di percaya, pangeran benar-benar mengerikan dan luar biasa.

Chanyeol memberikan tanda kepada Blue Shadow untuk segera bersiap.

Setelah perapalan mantra yang di lakukan oleh salah satu vampire itu selesai maka markas para vampire jahat itu akan terlihat dan pintu menuju markas mereka akan terbuka.

Pangeran tampan itu sangat menantikan hal itu, dia benar-benar akan menghancurkan mereka, dia menunggu waktu yang tepat.

Dan akhirnya waktu yang di tunggu tiba, rapalan terakhir dari mantra pembuka telah di ucapkan, perlahan tapi pasti markas para vampire jahat itu terlihat.

ooooo

ooo

o

Terlalu senang karena merasa misi yang mereka lakukan berhasil membuat ke tiga vampire itu lengah, terutama vampire yang menggendong Baekhyun layaknya karung beras.

Dia sungguh tak sabar untuk mencicipi tubuh indah si mungil hingga dia lengah.

Dengan gerakan secepat kilat, Chanyeol mengambil tubuh si mungil dari gendongan vampire itu dan menebas kepala ke tiga vampire itu dengan sekali tebasan.

Pangeran vampire nan tampan itu juga merapalkan mantra lain, lebih tepatnya mantra penghancur, mantra yang tidak sembarang orang bisa menguasainya, hanya orang-orang terpilih yang bisa merapalkan mantra itu dengan sempurna.

Seketika mantra antar dimensi yang melindungi markas para vampire jahat itu hancur karena rapalan mantra yang Chanyeol ucapkan.

"Suho!" panggil Chanyeol dengan nada penuh perintah, pangeran tampan itu saat ini sedang menggendong Baekhyun dengan keadaan bridal syle.

"Ya pangeran." Suho muncul begitu saja, dengan keadaan menunduk hormat dia menjawab panggilan sang pangeran.

"Jaga dia, bawa dia ke tempat yang aman, jangan biarkan mereka menyentuhnya, jaga dia dengan nyawamu, jaga dia layaknya kau menjagaku!" perintah Chanyeol pada Suho sembari menyerahkan Baekhyun yang berada dalam gendongannya.

Chanyeol sedikit tak rela sebenarnya menyerahkan Baekhyun yang masih setia menutup matanya pada Suho untuk di jaga, meski dia tahu bahwa kesetian Suho sangatlah besar.

Bukan itu yang dia takutkan, bukan Suho yang akan menghianatinya dan membuat Baekhyun dalam bahaya, hanya saja dia tak rela, entah mengapa dia ingin lebih lama menggendong si mungil, memeluknya, menjaganya, memandangi wajah manisnya.

Perasaan seperti ini adalah yang pertama baginya, perasaan dimana dia tak ingin melepaskan sesuatu walau hanya sekejap saja, dia ingin di saat si mungil membuka mata, dia ada di sisinya, sungguh bukan seperti dirinya yang biasanya tak peduli pada apapun.

Di lain sisi, omega manis nan mungil itu masih pingsan, dia masih menutup matanya dan tak tahu apapun yang terjadi di sekitarnya, termasuk pangeran yang menyelamatkannya.

"Baik pangeran!" ujar Suho dengan sigap menerima tubuh si mungil dari gendongan sang pangeran, kemudian dia menghilang, membawa Baekhyun ke tempat yang aman seperti yang di perintahkan oleh sang pangeran.

Chanyeol sedikit sedih karena Baekhyun tak lagi berada dalam jangkauan penglihatannya, namun dia tahu si kecil sudah aman sekarang.

Kemudian dia melihat ke arah markas para vampire jahat itu, mantra penghancur yang dia rapalkan masih bekerja menghancurkan mantra antar dimensi yang para vampire jahat itu buat untuk menyembunyikan markas mereka.

Dia menyeringai, seringai mengerikan penuh dengan aura berbahaya.

Detik selanjutnya, sang pangeran telah bersiap dengan memasang wajah datar penuh dengan aura dingin yang berbahaya serta sangat menakutkan, seringai miliknya tak lagi dia tampilkan, itu berarti kali ini dia telah serius, dan markas musuh di hadapannya akan hancur dalam hitungan detik.

Berhati-hatilah, siapapun kalian para vampire jahat yang telah menculik Baekhyun dan mengusik daerah kekuasaan tempat pangeran bermain, kalian telah membuat sang pangeran, Park Chanyeol murka dan berdoalah semoga kalian masih bisa melihat matahari di esok hari.

~~~~~

Sementara itu pasukan yang di pimpin oleh sang raja masih dalam perjalanan menuju hutan kesunyian, tempat Chanyeol berada.

"Aku tak akan memaafkan mereka jika sesuatu sampai terjadi pada Baekhyunku!" geram Yunhoo di sebelah Chanho.

"Ya, aku tahu bagaimana sifatmu."

"Chanho! Bagaimana jika kita terlambat datang dan putraku terluka?!"

"Tenang saja, putraku pasti akan menjaga putramu."

"Bagaimana mungkin? Dia hanya sendirian Chanho!"

"Dia tidak sendirian temanku." ucap sang raja vampire, Chanho, dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.

"Apa maksudmu?" ujar Yunhoo tak mengerti.

"Kau hanya perlu tahu bahwa dia tidak sendirian dan sangat bisa di andalkan." ujar Chanho kembali, masih dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.

"Apa maksudnya itu?" gumam Yunhoo nyaris tak terdengar, namun detik selanjutnya dokter paruh baya itu memilih untuk bungkam, mempercayai perkataan sahabatnya tentang sang pangeran.

Sementara itu, Suho saat ini tengah membawa Baekhyun ke tempat aman, ruangan khusus milik sang pangeran, dimana ruangan itu sangat rahasia, terletak di dimensi lain, dimensi Blue moon atau dimensi Bulan Biru.

Dimensi yang pangeran ciptakan, dimensi berbeda yang tak akan ada yang tahu, dimensi yang tidak dapat terdeteksi, dimensi yang tak akan bisa dimasuki oleh makhluk apapun tanpa seizin pangeran.

Suho sendiri cukup terkejut atau bahkan sangat terkejut karena pangeran memerintahkannya membawa si mungil ke tempat yang aman serta menjaganya dengan nyawanya.

Tentu saja tempat aman yang Chanyeol maksud adalah dimensi Bulan Biru, dimensi yang dia ciptakan untuk beristirahat dalam damai.

Suho membuka portal menuju dimensi itu, dan benar saja, dengan mudah dia bisa membuka portal itu dan menuju dimensi Bulan Biru yang sangat sulit untuk dimasuki bahkan mustahil.

Itu adalah bukti bahwa sang pangeran mengizinkannya masuk ke dimensi Bulan Biru dan membawa Baekhyun ke dalam ruangan sang pangeran.

"Siapa kau sebenarnya?" gumam Suho tanpa sadar saat menatap wajah tertidur Baekhyun.

Tentu saja vampire Alpha kepercayaan Chanyeol itu bertanya-tanya siapa Baekhyun sebenarnya, dia merasa Baekhyun itu sangat special untuk sang pangeran.

Pangeran vampire tampan itu tak pernah memperlakukan siapa pun seperti ini sebelumnya, dia sangat dingin dan tak berperasaan, dia tak akan pernah melakukan sesuatu seperti ini untuk orang lain.

Bahkan para saudara dan saudari omeganya pun tak ada yang berani mendekati sang pangeran karena aura mematikannya.

Siapa sebenarnya pria mungil di hadapannya ini? Siapa dia sampai pangeran mengerahkan Blue Shadow dan Blue Crown untuk pergi menyelamatkannya? Apakah dia mate pangeran? Apakah pangeran cinta padanya?

Itulah berbagai pertanyaan yang menghantui pemikiran sang penjaga, Suho. Dia ragu, pertanyaan-pertanyaan itu berputar di dalam kepalanya bagai kaset rusak.

Dia penasaran ingin lebih tahu mengenai Baekhyun dan mengenalnya, karena saat ini bahkan sekedar namanya pun Suho tidak tahu.

Dia ingin tahu apa si mungil memang benar seseorang yang special bagi tuannya, dan apa benar dia adalah mate pangeran, walau itu sebenarnya mustahil, karena seseorang yang menjadi mate pangeran pastilah saudaranya.

Dan si mungil begitu asing, dia tak tahu siapa pria mungil di hadapannya ini, dari mana dia berasal, siapa namanya, asal usulnya bagaimana, semua itu masihlah menjadi misteri.

Satu hal yang Suho tahu pasti, dia harus melindungi pria manis nan mungil di hadapannya ini dengan segenap jiwa raga, bahkan sampai mengorbankan nyawanya.

Vampire penjaga yang tampan itu menidurkan Baekhyun di sebuah ranjang yang berukuran cukup besar, bahkan sangat besar, berukuran king size dengan atap di atasnya, kelambu berwarna putih transparant dengan bahan yang sangat halus terjuntai ke bawah menutup bagian dalam tempat tidur itu, tempat tidur dengan seprai putih.

Di masing-masing sisi ranjang ada tiang dengan ukiran burung phoenix yang indah, tiang itu untuk menyangga atap tempat tidur dan tiang itu terbuat dari emas.

Benar-benar indah, dan ruangan itu, tentu saja milik sang pangeran, lengkap dengan semua fasilitas yang ada, Baekhyun benar-benar beruntung.

Pria mungil itu tertidur di sisi dalam tempat tidur, visualnya tertutupi oleh kelambu dengan bahan sehalus sutra, berwarna putih dan terjuntai sempurna membentuk tirai menutupi bagian dalam tempat tidur, tempat Baekhyun tertidur.

Sekarang si mungil sudah benar-benar tidur dengan damai dan tenang, dia sudah berada di tempat yang aman.

Suho bergegas meninggalkannya dan kembali mendampingi pangeran untuk berperang.

Dalam sekejap vampire tampan itu menghilang, meninggalkan dimensi Bulan Biru, kembali bergegas menuju hutan kesunyian, tempat sang pangeran, tuannya berada.

ooooo

ooo

o

Di Istana

Kyungsoo dan Luhan sedang berbincang-bincang di taman istana, setelah Chanho melarang keras mereka berdua untuk ikut pergi ke hutan kesunyian.

"Menyebalkan!" ujar Luhan dengan muka di tekuk, dia mencebikan bibirnya, cemberut, dia kesal karena di larang untuk ikut membantu sang pangeran.

"Biar bagaimanapun, hanya karena kita omega bukan berarti kita lemah!" protesnya kembali.

"Tenanglah! Sadari posisimu!" ujar Kyunsoo kemudian.

Luhan kembali mengerucutkan bibirnya, cemberut dan kesal. Namun detik selanjutnya dia teringat akan sosok vampire mungil hebat yang telah membuat sang pangeran rela mengorbankan waktu berharganya hanya demi menyelamatkan si mungil.

"Aku penasaran dengan sosok Byun Baekhyun ini." ujar Luhan dengan penuh antusias, tiba-tiba saja vampire cantik itu mengubah topik pembicaraan.

"Aku juga." ucap Kyungsoo singkat, padat dan jelas, vampire lucu ini tak ambil pusing dengan Luhan yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

"Haiissh! Kau ini tidak asik! Cobalah lebih banyak berbicara saudaraku!" protes Luhan karena ucapan singkat Kyungsoo sedikit melukai hatinya.

"Aku harus menjawab apa?" ujar Kyungsoo lagi di sertai wajah datarnya.

"Jawablah dengan semangat!" ujar Luhan sedikit geram.

"Semangat!" ujar Kyungsoo dengan nada yang menjengkelkan di indra pendengaran Luhan.

"Bukan itu maksudku!" ujar Luhan frustasi.

"Aku kan sudah menjawabnya dengan semangat?" ujar Kyungsoo dengan menampilkan wajah polos yang sangat menjengkelkan.

"Maksudku bukan kata-katanya! Maksudku itu lebih semangat!" Luhan berusaha untuk menjelaskan namun sepertinya gagal.

"Lebih semangat!" ujar Kyungsoo masih tak mengerti maksud Luhan.

"Sudahlah lupakan!" ujar Luhan frustasi, pada akhirnya Kyungsoo tetaplah Kyungsoo.

Dengan wajah cemberut Luhan kembali bersuara, "Jadi, menurutmu Baekhyun bisa menaklukan Chanyeol?"

"Ntahlah, aku tak tahu, bahkan wajahnya saja aku tak tahu, bagaimana bisa menebaknya?"

"Tapi sayang," Kyungsoo kembali berujar.

"Sayang kenapa?" tanya Luhan tak mengerti.

"Tapi sayang, meski dia berhasil menaklukan Chanyeol dan membuatnya jatuh cinta, pada akhirnya mereka tak akan bisa bersatu," ujar Kyunsoo pada Luhan, kemudian dia menghela nafasnya berat dan membuangnya.

Kyungsoo menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan, setelah itu dia kembali melanjutkan ucapannya, "Kau tahu Luhan? Meski Chanyeol telah berjanji pada Sehun dan Kai bahwa dia tak akan menyentuh kita dan mendukung hubungan kita, tapi tetap saja takdir kita tak akan mengizinkannya."

"Aku tahu! Tapi setidaknya izinkanlah aku untuk bermimpi sebentar saja! Meski pada akhirnya aku dan Sehun tidak bisa bersatu, namun setidaknya hanya untuk saat ini kami bisa memiliki kenangan indah bersama, hanya untuk saat ini aku tak ingin memikirkan masa depan!" ujar Luhan sembari menahan air matanya untuk jatuh keluar.

"Aku juga sama! Setiap aku mengingat takdir dan kewajiban kita, aku akan selalu teringat pada Kai, pria itu, saat aku pertama kali bertemu dengannya sampai dia yang memohon pada Chanyeol agar bisa bersama denganku, aku takut! Sangat takut akan kenyataan bahwa mungkin saja kelak di masa depan aku dan dia tak bisa bersama!" ujar Kyungsoo sedikit frustasi.

"Mengapa takdir begitu kejam?! Mengapa kita harus terlahir sebagai anggota keluarga kerajaan?!" ujar Luhan frustasi.

"Tak ada gunanya kita menyesali itu, hal itu adalah takdir yang di gariskan langit untuk kita, sekarang lebih baik kita harus mencari tahu lebih banyak mengenai Byun Baekhyun ini." final Kyungsoo

"Aku setuju." ujar Luhan pada akhirnya.

Kemudian ke dua vampire mungil yang terkenal dengan sebutan special twins itu bergegas pergi ke rumah sakit.

Karena menurut mereka rumah sakitlah yang pasti menyimpan informasi lebih banyak mengenai si mungil Byun Baekhyun.

~~~~~

Sementara itu, tak jauh dari taman istana, tampak ratu Chanhee yang tak sengaja mendengar percakapan Kyungsoo dan Luhan.

"Byun Baekhyun?" gumam Chan hee.

"Mengapa nama itu terdengar tidak asing bagiku?" ujarnya lagi.

"Baekhyun, Baekhyun, Byun Baekhyun." sang ratu terus menggumamkan nama si mungil.

"Aku pernah mendengar nama ini di suatu tempat." ujarnya lagi.

"Tapi dimana?" tanya lagi, mencoba mengingat dimana dan kapan dia pernah mendengar nama Byun Baekhyun.

"Tunggu dulu! Bukankah itu nama yang Yunhwa katakan akan dia berikan pada anaknya?" ujar Chanhee setelah mengingat dimana dan kapan dia mendengar nama itu.

"Jadi Baekhyun yang mereka bicarakan adalah putra Yunhwa? Dan apa tadi? Pangeran jatuh cinta padanya?!"

Seketika wajah sang ratu menjadi pucat, dia panik, "Oh...tidak, tidak, tidak, mereka tidak boleh sampai jatuh cinta, mereka tidak boleh sampai saling mencintai! Itu tidak boleh!" ujar Chanhee dengan wajah pucat pasi karena terlalu shock dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.

"Anak-anak bodoh ini! Mengapa mengulangi kesalahan yang sama?!" ujar Chanhee frustasi di iringi air mata yang keluar dari pelupuk matanya dan isak tangis yang mulai terdengar.

Dengan kasar dia menghapus air matanya, untuk saat ini dia tidak boleh menjadi lemah, dia sedikit terkejut dengan fakta bahwa Yunhwa memiliki anak, dia tak pernah tahu hal itu.

Dia tak pernah tahu keberadaan si mungil Baekhyun, baik dari Yunhwa maupun dari Yunhoo, dia menyadari bahwa dia tak tahu apapun mengenai sahabatnya! Dia tak tahu apapun mengenai Yunhwa!

"Mengapa Yunhoo tak memberitahukan tentang putranya padaku?" ujar Chanhee frustasi.

"Apa jangan-jangan?"

"Tidak! Itu tidak mungkin! Dia tidak mungkin..." Chanhee menutup mulutnya tak percaya, tak sanggup melanjutkan perkataannya, air mata kembali mengalir dari matanya.

"Katakan padaku itu tidak benar! Dia putra Yunhwa dan Yunhoo kan? Dia tak mungkin..."

"Anak malang itu." ujar Chanhee dengan raut penuh kesedihan dan kesakitan.

"Aku akan bertanya pada Yunhoo! Akan aku pastikan bahwa anak itu bukanlah sebuah kutukan!" ujar Chanhee mantap.

ooooo

ooo

o

Kembali ke hutan kesunyian, saat ini para vampire jahat itu merasakan kekuatan yang sangat dasyat sedang menghancurkan mantra antar dimensi yang mereka buat untuk menyembunyikan markas sementara mereka.

"Apa itu?!" ujar salah satu vampire.

"Ada seseorang yang sedang menghancurkan mantra antar dimensi yang kita buat!" lanjut vampire lain.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

"Tuan, apa yang harus kita lakukan?!"

"Kita mundur! Kita tak akan bisa melawan mereka!" ujar vampire yang sepertinya adalah salah satu ketua di markas sementara mereka.

Saat ke tiga vampire itu sedang berbincang, datang vampire lainnya menghadap.

"Tuan gawat!" ujar vampire yang baru datang itu.

"Ada apa?!" ujar vampire yang mereka panggil tuan.

"Markas kita di kepung! Kita tak bisa keluar! Bagaimana ini tuan?!"

"Hadang mereka! Kalian bersedia menyerahkan nyawa kalian kan?!"

"Baik tuan!"

"Aku akan meminta bantuan pada markas pusat, ini gawat!" ujar vampire yang mereka sebut tuan itu.

"Alihkan perhatian musuh! Kita harus segera keluar dari tempat ini!"

"Pasang mantra pelindung."

"Segera bergegas mengikuti aku, kita akan kabur lewat lorong bawah tanah!"

Berbagai perintah di keluar oleh vampire yang bertindak sebagai ketua di markas sementara itu.

ooooo

ooo

o

Sementara di sisi lain, pangeran Chanyeol bersama pasukannya Blue Shadow sedang menghabisi para vampire yang berusaha menghalau jalan mereka, mereka menghabisi para vampire itu tanpa sisa.

Pangeran tampan itu sampai di dalam markas para vampire jahat itu, dia melihat ke sekitar, banyak vampire yang berusaha menyerangnya.

"Dimana pimpinan kalian?!"

"Dia tak ada!"

"Jangan berbohong, aku ingin bicara dengannya."

"Jangan pernah berharap!"

Chanyeol geram, dengan segera dia mengangkat tangannya, tanpa merapalkan mantra, dia bisa dengan mudah membuat seluruh vampire itu menjadi satu dan mengikatnya.

"Kalian akan jadi tawanan! Aku akan menyiksa kalian sampai aku mendapatkan informasi yang aku inginkan!"

"Kami tak sudi!"

Kemudian satu persatu para vampire itu meminum ramuan, sepertinya itu adalah racun yang akan membunuh mereka, jadi dengan kata lain mereka bunuh diri, mereka membunuh diri mereka sendiri demi kerahasiaan organisasi mereka.

"Cukup sampai di situ!" ujar Chanyeol lantang.

Namun para vampire itu tetap meminum ramuan itu dan mati satu persatu.

"Jika itu cara main kalian, kita lihat siapa yang akan menyesal!"

Kemudian Chanyeol mengangkat tangannya, dan botol-botol ramuan itu terbang di udara lalu seketika hancur ketika Chanyeol melakukan gerakan menggenggam tangannya seperti menghancurkan sesuatu.

"Jika kalian ingin mati, maka aku bisa mengabulkannya!" ujar Chanyeol dengan menampilkan seringai mengerikan miliknya.

Kemudian dia membunuh satu persatu vampire yang tersisa, dia tak butuh mereka, dia membunuh semuanya tanpa sisa.

Tapi tunggu dulu, ada yang aneh di sini, dia tidak merubah mereka menjadi abu, apa sebenarnya yang pangeran tampan itu rencanakan?

Detik selanjutnya dia merapalkan mantra, "Hul death" lalu semua vampire jahat yang sudah mati secara ajaib kembali hidup lagi.

"Selamat datang, selamat bangkit dari kematian, sekarang hidup kalian adalah milikku, nyawa kalian milikku, kalian akan menjadi pengikut setiaku." ujar Chanyeol dengan seringai mengerikan.

"Baik tuan." jawab para vampire itu secara serempak.

Sekali lagi, pangeran tampan itu memperkuat pasukan miliknya, benar-benar mengerikan.

Sementara itu, sang pemimpin vampire jahat itu berhasil kabur, tanpa tahu bahwa semua pengikutnya telah mati dan bangkit kembali sebagai pengikut setia pangeran.

Chanyeol hanya iseng melakukannya, dia tak serius, para vampire itu nantinya akan dia jadikan sebagai pionnya, itulah yang terjadi jika membuat sang pangeran marah.

Pangeran tampan itu menjadi sedikit tak terkendali, dan menggunakan mantra penghidup dan pengikat, sehingga vampire itu menjadi pengikut setianya, hal ini terjadi karena dia benar-benar murka.

Selamat wahai pemimpin para vampire jahat, kau telah menambah jumlah pion milik pangeran, kau menambah pasukan miliknya.

"Pemimpinnya berhasil lolos pangeran!" ujar salah satu anak buah Chanyeol.

"Biarlah, terima kasih untuknya karena aku berhasil mendapatkan pion-pion lucu." ujar Chanyeol.

"Hancurkan markas mereka tanpa sisa!" perintahnya kemudian.

"Baik pangeran."

Kemudian para pengikut setia Chanyeol yang sebenarnya menghancurkan markas para vampire jahat itu tanpa sisa.

Setelah itu, Chanyeol menghubungi ayahnya lewat telepati,

"Ayah, kembalilah ke istana, aku sudah berhasil mengalahkan musuh, kau tak perlu ke sini." ujar Chanyeol pada ayahnya.

Chanho tersenyum, kemudian membalas telepati putranya.

"Baiklah putraku."

Kemudian raja para vampire itu berkata pada Yunhoo.

"Temanku, putraku berhasil mengalahkan mereka, putramu aman." ujarnya dengan senyum yang sulit di artikan.

"Kau serius?! Dimana mereka?" ujar Yunhoo sedikit senang.

"Mereka akan kembali, kita di minta untuk kembali ke istana."

"Tapi..."

"Ayolah, percaya pada putraku, dia pasti membawa putramu kembali." ujar Chanho meyakinkan Yunhoo.

"Baiklah." ujar Yunhoo pasrah.

Kemudian ke dua vampire yang berstatuskan sebagai ayah itu berputar arah untuk kembali ke istana bersama pasukan mereka.

ooooo

ooo

o

Sementara itu di rumah sakit, kedua vampire omega yang terkenal dengan julukan special twins, Kyungsoo dan Luhan, saat ini tengah bertanya kepada beberapa suster yang bekerja di rumah sakit mengenai Baekhyun.

Semua jawaban sama, bahwa Byun Baekhyun adalah putra dari Byun Yunhoo, itupun hanya beberapa suster yang terlihat cukup berpengalaman yang tahu tentang hal itu.

Byun Baekhyun benar-benar misteri, dia benar-benar terisolasi dari dunia luar, orang-orang yang mengetahui keberadaannya bahkan bisa di hitung dengan jari.

Ketika mereka bertanya mengenai penyakit yang di deritanya, tidak ada yang tahu sama sekali, penyakitnya benar-benar di rahasiakan, hanya Yunhoo, sang ayah yang tahu sakit apa yang di derita si mungil.

Terlalu sedikit informasi mengenai Byun Baekhyun ini, membuat Kyungsoo dan Luhan putus asa, setidaknya mereka harus tahu apa si mungil memiliki kemungkinan untuk menjadi mate pangeran atau tidak.

Hal ini membuat Kyungsoo dan Luhan memutuskan untuk menemui langsung pria mungil bernama Byun Baekhyun ini, meski mereka tidak tahu dimana dia berada sekarang.

Namun satu hal yang pasti, mereka harus menemuinya. Bukan, lebih tepatnya mereka sangat ingin menemuinya, dengan kata lain, itu merupakan keinginan mereka sendiri, sungguh mereka benar-benar penasaran dengan rupanya.

"Byun Baekhyun semakin membuatku penasaran." ujar Luhan memulai percakapan.

"Ya, kau benar, keberadaannya penuh misteri, penyakitnya juga masih misteri." ujar Kyunsoo menanggapi ucapan Luhan.

"Siapa sebenarnya Byun Baekhyun ini? Mengapa paman Yunhoo harus menyembunyikannya dari dunia?" ujar Luhan lagi.

"Ntahlah, sekarang aku benar-benar ingin menemui pria mungil bernama Baekhyun ini, aku sangat penasaran." ujar Kyungsoo.

"Aku juga ingin bertemu dengannya, tapi dimana kita bisa menemukannya?" ujar Luhan.

"Aku tak tahu." ujar Kyungsoo sambil menundukan wajahnya lesu.

Haaahh~~ kedua vampire dengan julukan special twins itu menghela nafas berat tanda kekecewaan.

Mereka kecewa karena tidak menemukan titik terang tentang pria mungil bernama Byun Baekhyun, kedatangan mereka ke rumah sakit adalah hal sia-sia.

Dengan lesu kedua vampire dengan julukan special twins itu bergegas kembali ke istana, tidak ada gunanya mereka berdiam diri lebih lama di tempat itu.

ooooo

ooo

o

Saat ini Suho sudah bergabung bersama dengan pangeran dan pasukannya.

"Tuanku, ada yang bisa aku bantu?" ujar Suho segera setelah bergabung dengan pasukan Blue Shadow.

"Tidak ada, mengapa kau kemari?! Bukankah aku menyuruhmu menjaganya dengan nyawamu?!" ujar Chanyeol dengan wajah datar.

"Maafkan hamba pangeran, hamba fikir itu tidak di perlukan karena dimensi Bulan Biru sangatlah aman dan mustahil untuk di tembus, hamba akan kembali ke sana untuk menjaganya." ujar Suho sembari menunduk meminta maaf atas kelalaiannya.

Kemudian detik selanjutnya dia bergegas untuk kembali ke dimensi Bulan Biru, namun pangeran tampan itu mencegahnya.

"Sudahlah, tak perlu kembali, dimensi itu sangat kuat, kau tak perlu kembali ke sana untuk menjaganya." ujar Chanyeol dengan wajah datar.

"Baik pangeran, maafkan kesalahan hamba." ujar Suho kemudian.

"Kali ini kau kumaafkan, lain kali jangan pernah melalaikan tugasmu lagi!" ujar Chanyeol dengan wajah datar serta nada penuh perintah dominan.

"Terima kasih banyak tuanku." ujar Suho sambil menundukan kepalanya dan membungkuk penuh hormat.

"Sehun, Kai." ujar Chanyeol memanggil Sehun dan Kai.

"Ada apa pangeran?" ujar keduanya serempak.

Mereka cukup sadar dengan situasi, jika saatnya bersikap sopan mereka akan bersikap dan berbicara sesuai dengan status mereka.

"Terima kasih telah membantu, kalian boleh kembali."

"Tidak masalah pangeran, kami juga merupakan bagian dari Blue Shadow, tak mungkin kami meninggalkan sisi anda."

"Itu dulu sebelum kalian memiliki kekasih, sekarang kalian adalah Blue Crown, kalian akan datang saat aku membutuhkan bantuan, kalian tak perlu setiap saat selalu berada di sisiku." ujar Chanyeol pada Sehun dan Kai.

"Itu juga berlaku pada kalian Blue Shadow, tidak perlu mengikutiku setiap saat." ujar Chanyeol lagi.

"Maafkan kami Yang Mulia, apa kami mengganggu anda?" ujar para anggota Blue Shadow dengan nada penuh sesal.

"Tidak, hanya saja jangan ikuti aku setiap saat, kalian tahu kan bahwa aku beribu kali lebih kuat dari yang kalian fikirkan? Mengapa tak menikmati hidup dan berhenti untuk mengikutiku?"

"Ini pilihan kami pangeran, untuk selalu setia, melindungi dan selalu ada di sisi anda di saat anda membutuhkan bantuan." jawab mereka kompak.

"Benar, ini pilihan kami, terima kasih sudah mau mengerti pangeran, kami akan mengikuti saranmu, tapi izinkan kami tetap menjadi bagian dari Blue Shadow." ujar Sehun.

"Kami memang memiliki kekasih, tapi tanpa izin anda kami tak akan bisa bersama mereka, sungguh demi apapun kami telah bersumpah setia sampai mati pada anda." ujar Kai.

"Lakukan sesuka kalian, aku memberi kebebasan pada kalian." ujar Chanyeol pada akhirnya.

Meski kejam, berdarah dingin dan berhati dingin, namun Chanyeol sangat peduli dengan para pengikut setianya.

Mereka semua memilih bersumpah setia sampai mati kepada sang pangeran bukan tanpa alasan, mereka memilih pilihan itu karena pangeranlah alasannya.

ooooo

ooo

o

Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di dimensi Bulan Biru. Si mungil Baekhyun mulai mendapatkan kesadarannya kembali.

Dia enggan untuk membuka matanya, rasanya sangat nyaman, Baekhyun merasa seperti sedang bermimpi.

Vampire mungil nan manis itu masih setengah sadar, perlahan tapi pasti membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan matanya agar terbiasa dengan cahaya dari luar, hal pertama yang dia tangkap adalah gambar dua burung phoenix berwarna merah dan biru.

Beberapa detik Baekhyun sempat terpaku dengan gambar atau lukisan yang ada di atap ranjang tempat dia tertidur sekarang, namun detik selanjutnya dia sadar bahwa tempat ini dan gambar itu adalah sesuatu yang asing baginya.

Dalam sekejap dia mendapatkan kesadarannya kembali secara penuh.

"Dimana aku?" gumamnya sembari melihat ke sekitar.

Ruangan ini begitu asing baginya, namun di saat yang sama begitu indah dan menakjubkan di matanya, dia merasa seperti berada di surga sekarang.

"Apa aku sudah mati?" gumamnya lagi, bermonolog pada dirinya sendiri seperti oranh bodoh.

"Benar, kau sudah mati." tiba-tiba sebuah suara menyahuti pertanyaan dari si mungil.

"Siapa itu?! Apa benar aku sudah mati?! Apa ini di surga?" Baekhyun bertanya dengan wajah polos, dia benar-benar lugu.

Sementara Chanyeol, pangeran tampan itu hanya bisa tertawa geli, dia tak pernah tahu bahwa mengerjai seseorang bisa semenyenangkan ini.

Benar sekali, suara yang menjawab pertanyaan konyol Baekhyun adalah suara dari sang pangeran, Park Chanyeol.

Pangeran vampire dengan wajah rupawan itu dengan segera membuka portal menuju dimensi Bulan Biru untuk melihat keadaan si mungil.

Namun tak di sangka si mungil sudah bangun dan bergumam sendiri seperti orang bodoh, dia menyangka dirinya sudah mati dan sedang berada di surga sekarang.

Pemikiran naif, lugu serta polos seperti itu mau tak mau membuat pangeran tampan itu sedikit terhibur dan pada akhirnya memilih mengerjai Baekhyun.

"Aku malaikat, kau sudah mati dan ini bukanlah surga." ujar Chanyeol kemudian.

Saat ini pangeran tampan itu sedang berada di balik tirai.

"Kalau ini bukan di surga, lantas ini dimana?" ujar Baekhyun dengan lugunya masih belum sadar jika dia saat ini tengah di kerjai.

"Menurutmu?"

"Menapa kau malah balik bertanya padaku? Kau kan malaikat!" ujar Baekhyun sedikit cemberut.

"Ini ruanganku."

"Ruanganmu?"

"Ya, apa kau menikmati tidurmu?"

"Hah? Tidur? Bukankah aku sudah mati?" ujar Baekhyun penuh kebingungan.

Chanyeol masih berusaha menahan tawanya, kemudian dia kembali bersuara.

"Menurutmu kau sudah mati atau belum?"

Baekhyun mengernyitkan dahinya tanda dia bingung, mengapa malaikat itu malah balik bertanya padanya?

Namun detik selanjutnya vampire mungil nan manis itu mengambil inisiatif untuk mencubit tangannya.

Auuuuchh~~ teriak Baekhyun.

"Sakit! Mengapa sakit? Apa itu artinya aku belum mati?"

"Ya kau belum mati bodoh." ujar Chanyeol yang sudah keluar dari tempat persembunyiaannya dan menyibakan kelambu putih transparan yang menutupi sisi dalam ranjang tempat Baekhyun berada.

Sekarang Baekhyun bisa melihat Chanyeol dengan sangat jelas.

"Ka-kau!" pekik Baekhyun dengan mata melebar karena terkejut dan dia menunjuk ke arah sang pangeran.

"Apa?" ujar Chanyeol datar.

"Mengapa kau ada di sini? Apa kau juga sudah mati?" si mungil masih belum sadar bahwa dia belum mati.

Chanyeol, pangeran tampan itu menepuk jidatnya dan menghembuskan nafasnya berat, dia merasa sedikit kesal dan frustasi, memang polos dan bodoh itu tak beda jauh.

"Dengarkan aku baik-baik, kau belum mati, aku belum mati, kita sekarang ada di ruanganku dan berterima kasihlah padaku karena telah menyelamatkan dirimu dari para vampire jahat yang menculikmu itu!" ujar Chanyeol mulai menjelaskan dengan nada sedikit gemas.

Seketika Baekhyun mengingat bahwa dia terakhir kali sedang di culik, dia melirik ke arah Chanyeol yang sedang duduk sembari menghembuskan nafasnya perlahan.

Dia di culik, dan pangeran dihadapannya ini yang menyelamatkannya? Pangeran yang menghinanya? Menyelamatkannya? Bukankah itu terdengar tidak masuk akal untuk menjadi kenyataan?

"Jangan berbohong, kau tak mungkin menyelamatkanku, ingatlah kau orang yang sama yang telah menghina bahkan sampai mencekik diriku! Itu mustahil!" ujar Baekhyun tak percaya.

ooooo

ooo

o

Di tempat lain, lebih tepatnya di Klozeus, grimoir, buku itu kembali bersinar, menyerukan kembali kata-kata yang tervisualisasi layaknya sebuah hologram.

Empat vampire dengan takdir yang telah di tuliskan oleh langit, dua vampire pergi dan dua lainnya tinggal, kedua vampire yang tinggal memiliki takdir yang lebih kejam dari pada kematian, aku berharap mereka bisa melewatinya dan segera menemukan keberadaan diriku.

Itulah kata demi kata yang keluar dari buku suci yang di beri nama grimoir itu, buku suci yang hidup.

Itu ramalan lama yang kembali membuat grimoir gusar, sudah lama dia menanti kedatangan tuannya, namun mereka belum juga menampakkan diri mereka.

Takdir kembali mempertemukan mereka, namun takdir seolah mempermainkan mereka, takdir begitu kejam, bukan salah mereka, bukan juga salah langit yang menuliskan takdir itu, itu bukan salah takdir, itu adalah kesalahan mereka yang berusaha mengubah takdir dan menjadikan ke empat vampire malang itu sebagai korban dalam prosesnya.

Kata-kata yang sedikit menyayat hati kembali keluar ke permukaan, grimoir turut sedih atas takdir yang menimpa tuannya, dia tercipta karena hal itu, karena kesalahan dan untuk menyelamatkan serta menuntun kembali tuannya yang tersesat dan menjauh dari takdirnya.

Langit tak akan membiarkan kejahatan menang begitu saja, sebab itulah mereka memberikan kesempatan pada Baek Gi untuk memperbaiki kesalahan yang dia buat, mereka menciptakan grimoir dan mengirimkannya pada Baek Gi.

Langit memang tak akan membiarkannya, namun mereka tak bisa langsung terlibat, mereka hanya bisa membuat jalan, dan itu sangat rumit, para korban itu harus bertahan dengan kerumitan itu, memecahkannya dan meraih kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik mereka.

Terikat, itulah yang membuat mereka bertemu.

Kesalahan, itulah awal mula terjadinya semua masalah ini.

Kedengkian, itulah yang menguasai mereka untuk berusaha merubah takdir.

Kemarahan, itulah yang membuat mereka buta, tak bisa melihat semuanya dengan jelas, mementingkan diri mereka sendiri tanpa peduli penderitaan orang lain.

Takdir, itulah yang sedang berusaha untuk mereka ubah sesuai keinginan mereka.

Langit, itulah yang menggariskan takdir untuk semuanya.

Bodoh, itulah kata yang menggambarkan mereka yang berusaha mengubah takdir.

Ujian, itulah yang saat ini tengah langit berikan untuk mereka hadapi.

Kebahagian, itulah yang menanti mereka yang bersabar dan menghadapi semua ujian yang langit berikan.

Kehancuran, itulah yang menanti mereka yang berusaha menantang langit dan merubah takdir yang di tuliskannya.

ooooo

ooo

o

Kembali ke dimensi Bulan Biru.

"Jika kau tak percaya tak apa." ujar Chanyeol datar.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, dia tampak berfikir, dia tak yakin, namun ketika dia sempat terbangun sejenak dan meronta untuk melepaskan diri dari sang penculik, dia merasa mencium aroma sang pangeran.

Dua ragu, namun mungkin saja memang benar pangeran negeri vampire ini yang telah menyelamatkannya.

"Baiklah aku percaya, tapi apa alasanmu menyelamatkan diriku? Bukankah kau senang jika aku tak ada? Tak akan ada yang mengganggumu, tak ada yang akan menggodamu untuk di berikan tahta." ujar Baekhyun sedikit menyindir namun nada kesedihan terpancar dari ucapannya.

Chanyeol mendadak kaku, rupanya dia sudah menyakiti si mungil sangat dalam, masih maukah dia memaafkan sang pangeran?

"Euum, itu...itu..." perkataan sang pangeran membuat si mungil dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada sang pangeran.

"Eumm, itu..itu.." Chanyeol kembali mengulang kata yang sama membuat si mungil mengernyitkan dahinya bingung.

Detik selanjutnya si mungil bersuara, "Itu apa?"

"Euum, itu...itu..." Chanyeol masih mengulangi ucapan yang sama, dia berusaha untuk meminta maaf, namun mengapa rasanya begitu sulit?

Perlu kalian ketahui, pangeran memiliki harga diri yang tinggi, dia egois dan dingin, seumur hidupnya dia tak pernah memikirkan perasaan orang lain, apalagi meminta maaf atas perkataan dan perlakuannya yang kasar pada seseorang.

"Eumm, itu...itu..." pangeran tampan itu masih tetap mengulangi ucapannya, dia terlihat seperti orang bodoh sekarang.

"Itu apa?" Baekhyun kembali bertanya, dia memandangi wajah Chanyeol, menanti sang pangeran untuk menjawab pertanyaannya.

"Itu...itu...Haiiissh! Mengapa sulit sekali sih?!" pangeran tampan itu menggerutu karena tak berhasil mengucapkan kata sederhana itu.

"Apa yang sulit?" tanya Baekhyun kebingungan.

"Kau sulit! Itu tidak, maksudku, mengapa berbicara denganmu sangat sulit?!"

"Apa sesulit itu berbicara denganku?" ujar si mungil dengan nada sedih yang kentara.

"Iya! Ah...maksudku tidak! Maksudku ya, eum..tidak, tidak, bukan itu maksudku" Chanyeol sendiri kebingungan dengan kalimatnya.

Nyatanya kalimat itu malah membuat keadaan semakin menjadi buruk dan canggung.

Baekhyun tahu dia bukan orang yang menyenangkan untuk di ajak berbicara, dia kikuk, tak sopan, kaku, tidak memiliki rasa humor, sepanjang hidupnya dia hanya berbicara pada beberapa orang saja, selebihnya dia hanya berbicara dengan dirinya sendiri atau dengan bunga dan binatang yang dia temui.

Dia tak pernah memiliki teman, bahkan mungkin dunia tidak tahu jika dia ada, keberadaannya di rahasiakan, hubungannya dengan dunia luar di batasi, rumah sakit sudah seperti rumahnya sendiri, ruang isolasi sudah seperti kamarnya sendiri, ruang lingkupnya hanya berada di ruang isolasi itu.

Ruang yang bagaikan penjara, dimana dirinya begitu di larang untuk meninggalkan ruangan itu, atap adalah satu-satunya tempat pelarian Baekhyun, dia begitu menyukai suasana di sana, dia akan mengendap-endap dan keluar dari ruang isolasi miliknya, hanya untuk merasakan hembusan udara dari atap.

Baginya atap adalah surga, begitu terang dan menyilaukan, hembusan angin di atap begitu pelan membelai wajah dan tubuhnya, hembusan angin itu membuatnya serasa terbang, terbang bebas di angkasa.

Hal itu karena kebebasan adalah mimpi yang Baekhyun pendam sejak dulu.

"Sudahlah, tak perlu memaksakan diri untuk berbicara denganku jika itu sulit bagimu." ujar Baekhyun pada akhirnya.

"Bukan, maksudku bukan sulit berbicara denganmu, hanya saja..." Chanyeol menggantung ucapannya, dia bingung harus mengatakan apa.

Baekhyun diam, mengangkat wajahnya yang sempat menunduk untuk melihat sang pangeran, mata merah rubi miliknya menatap lurus ke arah mata sang pangeran yang memiliki warna serupa.

Menunggu kalimat selanjutnya yang akan pangeran vampire tampan itu ucapkan.

Chanyeol menarik nafasnya perlahan, dan melanjutkan ucapannya, "Hanya saja, sulit bagiku untuk mengatakannya."

Ucapan Chanyeol membuat si mungil semakin kecewa, dia kembali menundukan wajahnya, air mata yang ingin menetes dia tahan.

Detik selanjutnya dia menetralkan emosinya, berusaha terlihat baik-baik saja di depan sang pangeran, kemudian dia bersuara,

"Aku tahu, jangan memaksakan dirimu." ujarnya sembari menampilkan senyuman yang menutupi kesedihannya, senyum kepura-puraan, bukan senyum kebahagiaan.

Chanyeol, pangeran tampan itu merasa tak senang melihat senyuman itu, dia merasa meski si mungil tersenyum di hadapannya namun hatinya tak tersenyum.

Ketika sang pangeran ingin berkata bahwa dia tak menyukai senyuman itu, si mungil sudah terlebih dahulu bersuara,

"Oh iya...ngomong-ngomong dimana tempat ini? Mengapa aku tak bisa melakukan telepati dengan ayahku?"

"Ini adalah ruanganku di dimensi lain."

"Dimensi lain?!" ujar Baekyun tak percaya.

"Ya, dimensi lain, dimensi yang aku ciptakan." ujar Chanyeol lagi.

"Kau-kau menciptakan sebuah dimensi lain?!" lagi-lagi Baekhyun di buat terkejut.

"Ya, dimensi ini adalah dimensi buatanku, yang kuberi nama dimensi Bulan Biru." ujar Chanyeol.

"Bulan biru?" tanya Baekhyun penasaran.

"Ya, Bulan Biru." jawab Chanyeol singkat.

Dia sampai lupa jika beberapa saat yang lalu dia sempat merasa terganggu dengan senyum kepura-puraan milik Baekhyun.

Pembicaraan mereka sudah berubah topik, dan masih berlanjut.

"Mengapa kau menamakan dimensi ini sebagai dimensi Bulan Biru?" tanya Baekhyun penasaran.

"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" tanya Chanyeol, karena dia merasa tak perlu menjelaskan mengapa dia menamai dimensi itu sebagai dimensi Bulan Biru.

"Ti-tidak perlu, aku hanya penasaran, itu saja." jawab si mungil terbata-bata, dia kembali menundukan wajah manisnya.

"Dan mengapa kau merasa penasaran? Apa itu ada hubungannya denganmu?" ujar Chanyeol sedikit tertarik.

"Ti-tidak ada." jawab Baekhyun cepat sembari semakin menundukan kepalanya dalam.

Haaah~~ pangeran tampan itu menghembuskan nafasnya gusar, dia tak bermaksud untuk membuat si mungil kembali bersedih.

"Aku menamakannya dimensi Bulan Biru sebagai dedikasi untuk kembaranku yang terlahir di saat Bulan Biru sedang bersinar di langit, ini untuk mengingatkanku bahwa aku memiliki kembaran, saudara yang terlahir bersamaku, salah satu yang mungkin menjadi mateku." ujar Chanyeol mulai menjelaskan.

Baekhyun sedikit terkejut mendengar penuturan sang pangeran, kemudian dia berkata, "Mengapa kau menjelaskannya padaku? Bukankah kau tak ingin memberitahukannya padaku?" ujarnya penuh keheranan.

"Tak ada salahnya memberitahukannya padamu, kau terlihat sangat penasaran." ujar Chanyeol pada Baekhyun.

"Kau pasti sangat menyayangi kembaranmu itu, sampai memberikan nama dimensi ini berdasarkan kelahirannya." ujar Baekhyun lagi.

"Entahlah, tapi aku rasa dia adalah cinta pertamaku." ujar Chanyeol menerawang.

"Cinta pertama? Lalu bagaimana perasaannya terhadapmu?" ujar Baekhyun mulai tertarik.

"Entahlah, kami tak pernah bersama sejak awal."

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun bingung.

"Eumm, kau tau, beberapa hari setelah dia di lahirkan kedunia bersamaku, dia meninggalkan dunia ini untuk selamanya."

Baekhyun tersentak, dia cukup terkejut dengan penuturan sang pangeran, cerita mereka cukup sama namun sedikit berbeda.

Detik selanjutnya vampire mungil itu bersuara, "Maafkan aku, aku tak bermaksud..."

"Tak apa, itu hanya masa lalu."

"Lantas, bagaimana kau tahu dia adalah cinta pertamamu? Bukankah dia meninggal dunia tepat beberapa hari setelah kelahirannya?" ujar Baekhyun penasaran.

"Aku melihat fotonya, dia begitu cantik, mungil dan manis di saat yang bersamaan, aku rasa itu adalah cinta pada pandangan pertama." ujar Chanyeol agak tidak yakin.

"Begitu romantis, namun menyedihkan di saat yang bersamaan." ujar Baekhyun ikut prihatin.

"Haha...kau benar, cinta pertama yang tak akan pernah bersemi." ujar Chanyeol pada akhirnya.

"Aku rasa kau masih menyukainya?" ujar Baekhyun menerka.

"Kurasa kau benar, kau tahu, cinta pertama itu selalu memiliki tempat di hati kita meski ada cinta baru yang datang, sebab itulah aku buat dimensi ini khusus untuknya, khusus untukku mengenangnya."

"Haha...aku begitu iri padanya, meski telah tiada namun tetap selalu di ingat dan di cintai, seperti Baek Boom yang selalu di kenang dan di cintai."

"Baek Boom?" tanya Chanyeol sedikit penasaran dan tertarik dalam waktu yang bersamaan.

"Ah...apa aku baru saja menyebutkan nama Baek Boom?" ujar Baekhyun terkejut.

"Ya, kau baru menyebutkannya, siapa dia?"

"Hmm...karena kau sudah berbaik hati menceritakan sedikit kisahmu, aku juga akan menceritakan sedikit tentang kisahku, seperti dirimu, aku juga memiliki seorang kembaran, namanya adalah Baek Boom, dia Alpha kebanggaan keluarga Byun." ujar Baekhyun mulai bercerita.

"Wow...ternyata kita sama-sama memiliki kembaran." ujar Chanyeol tak percaya.

Baekhyun hanya bisa mengangguk.

"Lalu dimana kembaranmu itu sekarang?"

"Baek Boom telah tiada, semua menyalahkanku atas kepergiannya, bahkan ayahku." ujarnya semakin menundukan kepalanya, kembali mengingat akan masa-masa kelam itu membuat hatinya terasa sangat sakit entah mengapa.

"Ayahmu?"

Baekhyun hanya mengangguk, kemudian kembali bersuara, "Hei, bisakah aku bercerita padamu? Maukah kau mendengarnya untukku?"

Ini memang terasa sedikit aneh, bagaimana Baekhyun bisa terbuka dengan orang asing, sementara selama ini dia begitu tertutup, tapi dia sekarang benar-benar merasa ingin berbagi cerita dan beban yang dia tanggung selama ini, entah mengapa dia merasa nyaman bercerita dengan sang pangeran di hadapannya, namun dia masih sedikit trauma atas apa yang terjadi.

Detik selanjutnya dia kembali melanjutkan ucapannya, "Berjanjilah kau tak menyela ucapanku, berjanjilah untuk tak menghinaku lagi,berjanjilah untuk tak berprasangka buruk lagi padaku, dan berjanjilah untuk tak mengasihaniku setelah kau mendengar cerita ini, maukah kau berjanji?"

Dia memutuskan untuk membuat sang pangeran berjanji kali ini, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Chanyeol sempat terkejut, si mungil dihadapannya ini masih sedikit trauma akibat hinaan dan prasangka buruk yang dia lontarkan untuknya, dia sadar bahwa dia sudah sangat keterlaluan.

Detik selanjutnya sang pangeran berkata, "Aku berjanji, dan...aku minta maaf."

Baekhyun membulatkan matanya, dia sangat terkejut dengan permintaan maaf tiba-tiba dari sang pangeran.

"Maaf untuk?"

"Maaf untuk segalanya, segala yang telah aku lakukan padamu, hinaan yang aku lontarkan untukmu aku tarik kembali, maafkan segala perlakuan kasar yang ku lakukan padamu, aku menyesal."

Baekhyun hanya bisa diam seribu bahasa, terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, dia tak menyangka bahwa pangeran yang memiliki ego yang begitu besar saat ini sedang meminta maaf padanya, ternyata pangeran tak seburuk apa yang rumor katakan, nyatanya dia meminta maaf dengan tulus padanya.

"Itu tak apa, bahkan perlakuan yang aku terima darimu tidak lebih buruk dari apa yang aku terima selama aku hidup." ujar Baekhyun kembali menampilkan senyuman kepura-puraan miliknya.

Lagi, Chanyeol benar-benar tak suka dengan senyuman ini, senyuman palsu untuk menutupi rasa sakit dan sedih di hatimu, pangeran tampan itu benar-benar membencinya.

"Hentikan senyum milikmu itu, aku tak suka melihatnya." celetuk Chanyeol tiba-tiba.

"Mengapa?" tanya Baekhyun polos.

"Jika kau tak bahagia, jangan tersenyum, itu benar-benar mengganggu." ujar Chanyeol datar.

Baekhyun sangat terkejut, selama ini tak ada yang benar-benar tahu bahwa dia menggunakan senyumannya untuk menutupi kesedihan dalam hatinya, pangeran adalah orang pertama yang berkata seperti itu dan melihat dirinya yang sebenarnya.

Hatinya menghangat, kemudian dia berkata, "Terima kasih." sembari menampilkan senyuman indah miliknya, kali ini bukan senyuman palsu yang menutupi kesedihan di hati, senyuman kali ini benar-benar senyuman dari lubuk hatinya, senyuman kebahagian.

Chanyeol yang mendengar ucapan terima kasih dari si mungil segera mengalihkan perhatiannya pada si mungil, kemudian dia bersuara, "Untuk apa kau mengucapkan terima-" ucapannya terputus begitu saja kala dia melihat senyuman milik Baekhyun.

Dia terpesona, senyuman itu benar-benar membuatnya terpesona, dia kehilangan kesadarannya, senyuman itu membuat hatinya menghangat dan berdetak dengan cepat, dia ingin selalu melihat senyuman itu.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, air mata sudah membasahi pipinya, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan, dia menghapus air matanya kemudian bersuara,

"Tidak, aku memang harus mengucapkan terima kasih, terima kasih karena telah menyelamatkanku, terima kasih karena telah berjanji padaku, terima kasih karena bersedia mendengarkan ceritaku, terima kasih karena telah berkata jujur padaku, dan terima kasih karena sudah melihat kedalam diriku." ujarnya tulus penuh senyuman.

Chanyeol sedikit canggung, apa yang dia lakukan sampai si mungil mengucapkan begitu banyak ucapan terima kasih, dia merasa tak pantas untuk itu, terlebih setelah apa yang dia lakukan pada si mungil.

"Kau tak perlu berterima kasih, aku lah yang seharusnya berterima kasih karena kau bersedia memaafkanku." ujar Chanyeol pada akhirnya.

Baekhyun hanya bisa tersenyum, dan Chanyeol kembali terpesona.

"Ada yang aneh dengan diriku." gumam pangeran tampan itu nyaris tak terdengar.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" ujar Baekhyun tiba-tiba.

"Ti-tidak, aku tidak mengatakan apapun." ujar Chanyeol pada Baekhyun sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Baiklah, bersediakah kau mendengar ceritaku?" ucap Baekhyun memulai.

"Tentu saja."

"Kau tahu mengapa aku penasaran dengan nama dimensi yang kau ciptakan?"

"Tidak."

"Itu karena aku juga lahir pada saat bulan biru bersinar terang di langit."

Chanyeol terkejut bukan main, pria mungil di hadapannya ini juga terlahir di saat bulan biru bersinar terang di langit? Apa itu mungkin?

Kemudian dia bersuara, "Baekhyun, jangan katakan padaku jika kembaranmu yang terlahir pertama kali, dengan kata lain dia adalah sang kakak dan dia terlahir saat bulan merah bersinar cerah di langit?"

Baekhyun cukup terkejut dengan pertanyaan Chanyeol, kemudian dia bersuara, "Bagaimana kau tahu?"

"Baekhyun, katakan padaku kapan kau dan kembaranmu lahir?"

"Hmm, kami lahir pada saat fenomena dua bulan terjadi, pada saat bulan merah dan bulan biru terjadi secara bersamaan, kakakku terlahir saat bulan merah terjadi dan aku lahir saat bulan biru terjadi."

"Sama."

"Apa yang sama?" ujar Baekhyun bingung.

"Katakan padaku, apa kau dan kembaranmu terlahir pada tanggal 7 di bulan pengharapan?"

"Wow...bagaimana kau tahu?" tanya Baekhyun tak percaya.

"Karena aku dan kembaranku juga lahir pada hari yang sama."

"Apa?"

"Ya, benar-benar aneh bukan? Bagaimana bisa ada begitu banyak kemiripan dalam hidup kita, bahkan hari lahir kita juga sama."

"Ahaha...sebuah kehormatan bila aku memiliki tanggal lahir yang sama dengan pangeran."

"Hentikan, itu tak lucu."

"Ini aneh, mungkinkah itu hanya kebetulan?"

"Aku rasa itu hanya kebetulan." ujar Chanyeol pada akhirnya.

"Baiklah, aku rasa itu tidak terlalu penting, jadi kau sudah tahu kan mengapa aku begitu penasaran dengan alasanmu menamai dimensi ini sebagai dimensi Bulan Biru.

Chanyeol mengangguk.

"Bisakah aku melanjutkan ceritaku?"

"Tentu saja."

"Jika kembaranmu mati tepat beberapa hari setelah terlahir ke dunia, maka kembaranku mati karena salahku."

"Mengapa dia mati karena salahmu?"

"Entahlah, mereka bilang aku yang salah, Baek Boom mati karena diriku, sementara aku sendiri tak ingat apapun mengenai hal itu, mereka tetap terus menyalahkan diriku dan membenciku." ujar Baekhyun sedikit sedih.

"Mereka tak bisa menyalahkanmu begitu! Kau sendiri bahkan tak ingat apa salahmu, mengapa kembaranmu bisa mati." ujar Chanyeol geram.

"Tak apa, aku sudah terbiasa dengan semua itu, jika kau ingin tahu, bahkan ayahku sendiri membenci dan menyalahkan diriku." ujar Baekhyun dengan senyum yang di paksakan.

"Ayahmu? Paman Yunhoo?"

"Ya, ayahku, Byun Yunhoo."

"Bagaimana dia bisa..."

Ucapan Chanyeol terpotong begitu saja kala Baekhyun kembali bersuara, "Tenang saja, itu semua di masa lalu, sekarang ayahku begitu menyayangiku, meskipun karena luka di masa lalu yang ayah berikan padaku membuatku menjaga jarak darinya, ayah tahu itu, hingga terkadang ketika dia mengingat apa yang telah dia lakukan padaku di masa lalu dan kesalahan yang dia perbuat padaku, dia menjadi lemah dan menangis."

"Aku tak tega melihatnya, dia begitu menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyakitku, meski aku sendiri tak tahu penyakit apa yang aku derita, bagaimana bisa aku menderita penyakit seperti ini? Kesalahan apa yang ayah perbuat? Ayah bilang penyakitku sangat parah dan oleh karena itu aku harus di pisahkan dari pasien lainnya, jauh di sudut rumah sakit, di ruang isolasi, terisolasi dari dunia." lanjutnya lagi, kemudian dia menghentikan ucapannya sejenak.

"Kau tahu? Meski aku tak ingin percaya bahwa aku menderita penyakit yang parah, namun nyatanya itu benar, sejauh yang aku ingat hari-hariku kuhabiskan di rumah sakit untuk menjalani perawatan, berbagai tes aku jalani, bermacam obat aku minum, terkadang rasanya begitu sakit hingga mati terasa lebih baik, aku tahu aku tak normal dan selalu menyusahkan." dia berhenti lagi.

Detik selanjutnya kembali melanjutkan ceritanya, "Ayah selalu merasa khawatir, tapi aku takut dia akan kembali membenciku jika aku selalu menyusahkannya, aku mengingat sebagian kecil bagaimana perlakuan ayah padaku, dan itu sangat menakutkan, aku bahkan tak ingin mengingat dan merasakan hal itu lagi, perlakuan ayah padaku benar-benar sangat mengerikan, hal yang tak ku ingat adalah hari dimana aku mulai terserang penyakit berbahaya ini." ujarnya lirih.

Sementara Chanyeol, pangeran tampan itu masih setia mendengarkan, dia tak menyangka hidup yang di jalani pria mungil nan manis di depannya ini sangatlah berat, dan itu menakjubkan bagaimana dia masih bisa bertahan hidup hingga saat ini, bagaimana dia masih bisa menampilkan senyum tulusnya ketika berterima kasih tadi serta bagaimana semua orang tak menyadari kesedihan yang di tanggungnya selama ini, karena dia bersembunyi dalam topeng senyum kebahagian yang palsu.

Baekhyun masih melanjutkan curhatannya, ini aneh, dia baru beberapa kali bertemu dengan pria tampan di hadapannya ini, namun entah mengapa pria ini begitu tak asing baginya, dia nyaman bersamanya, dia nyaman berbagi cerita serta keluh kesahnya pada sang pangeran, dan ini semua adalah pertama kalinya terjadi, dimana pria mungil itu begitu terbuka pada seseorang.

"Aku selalu menyelinap diam-diam, sekedar untuk keluar dari ruang isolasi milikku, ruang itu sudah seperti penjara bagiku, aku butuh sedikit kebebasan, aku tahu tubuhku lemah, aku tahu tak seharusnya aku keluar dari ruang isolasi itu, aku tahu penyakit yang ku derita bukanlah penyakit sembarangan, tapi kau tahu? terkadang orang bisa menjadi gila jika terlalu lama di kurung, jika aku minta izin dengan cara yang biasa, ayah pasti tak akan mengizinkan diriku, sebab itulah aku memutuskan untuk menyelinap keluar, dan mengendap-endap ke atap." lanjutnya lagi.

"Atap?" tanya Chanyeol sedikit penasaran dan tertarik dalam waktu bersamaan.

"Ya, atap. Atap rumah sakit adalah surga bagiku, tidak banyak orang yang datang ke atap, atau mungkin tidak ada yang datang ke atap sama sekali, hal itu membuatku sangat senang, atap adalah tempat tersepi di rumah sakit, hembusan anginnya membuatku serasa terbang dan melayang di udara, suasananya begitu romantis, atap seperti surga, begitu indah, terang dan menyilaukan, tapi..." Baekhyun menjeda ucapannya, dia menundukkan kepalanya sedih.

Chanyeol yang semula hanya mendengarkan, menjadi tertarik dan akhirnya bersuara, "Tapi apa?"

HAAAH~~ si mungil menghela nafasnya kecewa, kemudian melanjutkan ucapannya, "Tapi mungkin aku tak akan di izinkan untuk kembali ke atap lagi, atau bahkan aku tak akan di izinkan untuk keluar dari ruanganku lagi mulai dari sekarang, mungkin selama sisa hidupku aku akan terkurung dalam ruang isolasi itu." ujarnya penuh dengan nada kesedihan yang terdengar jelas.

"Mengapa begitu?!"

"Kemarin aku melakukan kesalahan lagi, aku menyelinap ke atap namun tak sengaja melukai jariku dan berakhir dengan koma selama hampir 5 bulan." ujar Baekhyun sedikit menyesal.

"Apa?! Hanya karena melukai jarimu, kau berakhir koma?" ucap Chanyeol tak percaya.

Baekhyun hanya bisa mengangguk, mengiyakan pertanyaan Chanyeol.

"Separah apa sebenarnya penyakitmu itu?" tanya Chanyeol kemudian.

Baekhyun hanya bisa menggeleng tanda dia tak tahu.

"Tunggu dulu." ucap Chanyeol tiba-tiba membuat si mungil mengernyitkan dahinya bingung.

Kemudian sang pangeran merogoh saku celana yang dia kenakan dan mengambil sebuah kertas usang yang sudah sangat kusut lalu membukanya kemudian dia menyerahkan kertas itu pada si mungil, "Ini milikmu kan?" tanyanya setelah itu.

Baekhyun memperhatikan kertas itu dan pada akhirnya dia ingat itu adalah kertas yang dia temukan di lab bayangan milik sang ayah, "Kau benar, ini milikku." si mungil menghentikan sejenak ucapannya.

"Lantas, apa hubungannya dengan kertas ini? Mengapa kau tiba-tiba mengeluarkannya dan memberikannya padaku?" lanjutnya lagi, bertanya dengan nada penuh kebingungan.

"Aku rasa, kertas itu berhubungan dengan penyakitmu." ucap Chanyeol kemudian.

"Benarkah? Kau yakin?" ujar Baekhyun penuh antusias.

"Ya, aku sedikit mengerti tentang isi dari kertas itu." ujar Chanyeol mantap.

"Beritahu aku, apa sebenarnya penyakit yang ku derita ini?"

"Penyakit yang kau derita bukanlah sebuah penyakit."

"Apa maksudmu?"

"Menurut kertas itu, kau sakit selama ini karena sebuah racun."

"Racun?"

"Ya benar, racun."

"Racun apa itu?"

"Aku tak tahu, tapi racun itu sudah menyebar dalam tubuhmu dan sulit untuk di hilangkan, racun yang sangat berbahaya dan mematikan, itu hebat bahwa kau bisa bertahan selama ini."

"Apa aku akan mati? Apa racun itu akan membunuhku? Apa tubuhku sudah sampai pada batasnya?" tanya Baekhyun sedikit takut.

"Tenanglah, menurut hasil dari tes di kertas itu, racun itu tak akan membunuhmu, namun tak bisa di hilangkan karena sudah menyatu dengan darahmu, kemungkinan racun ini sudah ada di tubuhmu untuk waktu yang cukup lama."

"Lalu? Jika racun itu tak membunuhku dan juga tak bisa di hilangkan, apa yang terjadi?"

"Kau tak akan mati karena sepertinya racun itu gagal membunuhmu, namun di sisi lain kau harus hidup menderita karena pengaruh racun itu."

"Benarkah? Menderita seperti apa maksudmu?"

Chanyeol mengambil kertas itu dari tangan Baekhyun dan mulai membacanya, kemudian dia bersuara,

"Kau akan menjadi lemah, terkadang demam tinggi, pingsan, harus bergantung pada obat-obatan untuk membatasi penyebaran racun, jika terluka sedikit dan darahmu bercampur dengan zat merkuri maka kau akan kesakitan dan berada di ambang kematian, tapi kau tak akan mati, hanya koma saja, begitulah cara kerja racun itu, racun yang sangat berbahaya."

"Kau bilang racun itu di batasi penyebarannya?"

"Ya benar, sepertinya ketika kau terkena racun ini, penyebarannya berhasil di hentikan sebelum sampai pada jantungmu, namun efeknya kau harus terus meminum obat, menjalani berbagai tes fisik, pengecekan darah rutin, isolasi dan sebagainya, racun ini berbahaya."

Haahh~~ Baekhyun menghembuskan nafasnya lega.

"Mengapa kau terlihat lega begitu?" tanya Chanyeol bingung.

"Jadi selama ini aku tidak menderita penyakit? Itu semua karena racun?"

"Ya benar."

"Syukurlah."

"Apa maksudmu?! Tidakkah kau merasa takut?"

"Tidak ada yang berbeda hanya karena semua ini disebabkan oleh sebuah racun, tidak ada yang lebih berbahaya kan? Aku sudah hidup berdampingan dengan racun itu selama ini, apa yang perlu di takutkan?"

"Apa maksudmu? Apa kau tak ingin menghilangkan racun yang ada di tubuhmu?"

"Kau sendiri yang bilang bahwa racun itu telah bercampur menjadi satu dengan darahku, bukankah itu artinya mustahil untuk menghilangkan racun itu dari tubuhku?"

"Tapi kau akan merasakan semua efek itu jika tetap membiarkan racun itu terus berada di dalam tubuhmu!"

"Itu bukan hal yang baru, semua efek yang kau katakan itu, aku sudah mengalami semua itu." ujar Baekhyun dengan senyuman palsunya.

Chanyeol hanya bisa diam seribu bahasa, lidahnya kelu, dia tak bisa berkata apa-apa lagi, dadanya mendadak sakit, dia tak sanggup membayangkan betapa berat dan menderitanya hidup pria mungil di hadapannya ini.

Dia ingin berkata untuk jangan menampilkan senyuman palsu itu lagi, namun dia tak bisa, baginya saat ini lebih baik melihat senyum palsu itu, begitu lebih baik, tandanya si mungil masih memiliki semangat hidup dan memberitahunya untuk jangan lagi khawatir.

Chanyeol tiba-tiba berjalan mendekat ke arah si mungil, hal itu membuat si mungil mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya.

Si mungil mengalihkan perhatiannya pada sang pangeran, ketika dia berkata, "Apa yang kau-" perkataannya terhenti karena sang pangeran memeluknya dan berkata,

"Tenang saja, kau kuat, menangislah jika kau ingin menangis, aku tahu bebanmu berat, tetaplah kuat dan jangan kehilangan semangat untuk menjalani hidupmu." ujar Chanyeol sembari mengeratkan pelukannya pada si mungil, dia membenamkan wajah si mungil di dadanya.

Sementara Baekhyun yang sempat terkejut, pada akhirnya memasrahkan dirinya untuk di peluk oleh sang pangeran.

Dia membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang pangeran, dan tanpa dia sadari dia menangis, bulir-bulir air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan, berada dalam pelukan sang pangeran membuatnya nyaman, dan pada akhirnya dia menangis di dalam pelukan sang pangeran.

Biarlah untuk saat ini saja, mereka melupakan status mereka, mereka melupakan hukum darah murni, mereka melupakan segalanya dan saling menghibur serta saling memaafkan, saling berpelukan, berbagi kehangatan dalam diam.

Meluapkan rasa sedih yang selama ini terpendam di dalam hati, biarlah hanya untuk saat ini saja, di dimensi Bulan Biru, dimana tak seorang pun bisa mengganggu mereka.

Chanyeol mengelus punggung si mungil yang terlihat naik turun karena menangis, benar, dia yakin si mungil saat ini tengah menangis dalam pelukannya, punggung yang begitu kecil dan rapuh, membuat Chanyeol ingin merengkuh, memeluk dan melindunginya, dia merasa sesak di dada, entah mengapa dia seperti merasakan rasa sakit dan sedih yang sama dengan si mungil.

Tanpa pangeran tampan itu sadari, buliran bening keluar dari matanya, untuk pertama kalinya dia menangis karena ikut merasakan rasa sakit seseorang, untuk pertama kalinya air mata keluar begitu saja, tak bisa dia bendung, tak bisa dia hentikan, air mata ketulusan yang keluar karena ikut merasakan penderitaan seorang omega bernama Byun Baekhyun.

l

l

l

l

To be Continued~~

l

l

l

l

l

l

Holla I'm back (':

Ada yang kangen aku? Hehe

Hmm, updatenya lumayan cepetlah yaa, wkwk...

Spesial untuk liburan dan hari jadi EXO yang ke 6 nih...

LOVE YOU EXO #Muaaachh daaan mau bilang aku bangga jadi fans kalian #Hug#Cry

l

l

l

l

Udah itu aja, wkwk

Keep review my story yaa guys #Muaaachh

Soalnya Review dari kalian itu adalah segalanya buat aku (':

Review kalian itu adalah sumber inspirasi aku, sumber semangat aku dan sumber kebahagian aku (':

So, jangan kapok yaa buat review ini cerita XD

l

l

l

l

Thank you very much guys #Kiss

Mind to review this Chapter? (;

Thanks a lot, see you in next Chapter okay #Muaaaachhh