Butiran salju di Kota Kyoto turun perlahan layaknya konfeti ulang tahun dalam skala besar. Menghujani kota yang memiliki sebelas distrik itu dengan kristal esnya yang dingin ketika disentuh dengan tangan. Setelah melewati perjalanan beberapa jam dari Tokyo menuju Kyoto, disinilah Kuroko berada -sebuah rumah besar nan mewah bergaya tradisional Jepang dengan gerbang kayu besar yang membatasi area rumah dengan dunia luar.
Tangannya terulur menyambut butiran salju yang jatuh di telapak tangannya yang memucat dan langsung mencair begitu butiran es itu menyentuh permukaan tangannya.Akhirnya salju telah turun.
"Oi, sampai kapan kau akan berdiri disana, Kuroko?"
Si surai baby blue terlonjak mendapati sepupunya telah berada tepat sepuluh langkah di depannya. Sementara Mayuzumi, pria itu berdiri di samping Haizaki dan nampak sibuk membuka gerbang besar di depan mereka.
" Haizaki-kun, aku merasa -" jeda sejenak, Kuroko melangkah hanya untuk menarik ujung jaket milik Haizaki. " -aku merasa jika aku tidak bisa disini.Bisakah kita kembali saja?Aku berjanji aku akan membantumu melunasi hutang."
" Apa katamu?!" Manik hitam Haizaki melotot tajam berusaha mengintimidasi sosok mungil di depannya. "Kau pikir, karena siapa kau bisa sampai seperti ini huh? Lagi pula, jika kau ingin membantuku kau cukup jadi peliharaan yang baik saja disini."
Pegangan itu dilepas paksa.
"Kita sudah sampai." Mayuzumi bersuara mengintrupsi perdebatan mereka dengan nada rendahnya. Dia membuka lebar pintu gerbang itu dan mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan masuk, Kuroko-san."
"Kuroko kau kuantar sampai disini. Mulai saat ini, lupakan keluargaku dan jangan pernah lagi mencariku."
"Matte, Haizaki-kun!"
Kuroko hendak berlari mengejar Haizaki yang pergi setelah dia menerima amplop dari pria kelabu yang sekarang mencekal tangannya.
"Kuroko-san, tenanglah!"
"Haizaki-kun!!"
Kuroko tetap meronta untuk melepaskan diri. Namun dia terhalang oleh Mayuzumi yang terus mengencangkan dekapannya ketika Kuroko kembali meronta.
"Lepaskan dia, Chihiro!"
Kuroko jatuh merosot saat Mayuzumi melepaskan dekapannya. Dia menatap kosong mobil Haizaki yang sudah menghilang ditelan jarak yang kian bertambah.
"Akashi-sama." Mayuzumi berojigi saat dia mendapati Akashi Seijuurou - tuannya telah berdiri di belakangnya dengan balutan kimono hijau bermotif bambu.
Kuroko menoleh mengikuti arah datangnya suara baritone asing yang menyambangi telinganya. Batinnya bertanya-tanya siapa gerangan pria berambut merah yang berdiri angkuh di belakangnya? Pria dengan surai merah itu mendekat kearah Kuroko yang masih lekat menatap dirinya.
"Yokozo, Tetsuya." Tangan kokoh Akashi terulur membantu Kuroko yang masih terduduk di tanah. Dengan ragu Kuroko menyambutnya. Pegangan pria itu begitu kuat sehingga dalam satu tarikan, Kuroko bangun dengan ekspresi kebingungannya.
" Ano, dare desuka?"
Akashi tersenyum kala melihat ekspresi penasaran yang terlukis di wajah manis Kuroko.
" Aku -Akashi Seijuurou. Akulah yang membelimu dan mulai sekarang kau adalah properti milikku, Kuroko Tetsuya!"
LOCKED IN HEAVEN
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
Story by Kuroi Sora18
INSPIRATED Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka
Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Genre : Romance / Hurt/ Comfort
Rated : M #maybe
Summary : Kuroko Tetsuya -remaja 16 tahun bernasib apes yang harus dijual oleh sepupunya sendiri sebagai balas budi./ " Yokozo,Tetsuya."/ Dirinya menyesali keadanyaanya yang serapuh butiran salju.
WARNING !!!
Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!
author proudly present
LOCKED IN HEAVEN
Chapter 1 : Mine
*
*
*
Klan Akashi -siapa orang Jepang yang tidak mengetahuinya? Sebuah marga yang dianggap ningrat oleh sebagian masyarakat Kyoto itu memanglah bukan klan biasa.
Kaya, tampan, cantik, berkarisma, jenius dan berbakat itu merupakan hal yang biasa di keluarga itu.
Kuroko tidak tahu, haruskah dirinya bersyukur atau sedih lantaran pada akhirnya dia harus terkurung di ruangan besar seorang anggota keluarga konglomerat di Kyoto. Dia sendiri tidak melakukan apapun kecuali duduk di lantai kayu sambil berkutat dengan ujung gakurannya. Semenjak dia sampai di rumah ini, dia langsung digiring menuju ruangan yang menjadi tempatnya saat ini dan tidak tahu harus melakukan apa. Dan dia tidak tahu kenapa dia bisa menurut dengan begitu mudahnya kala pria merah -Akashi Seijuurou atau siapapun itu namanya menuntunnya memasuki manshion dan menyuruhnya untuk menunggunya.
Suara pintu geser di ruangan itu membuat Kuroko berhenti memilin ujung gakurannya karena gugup. Di depannya Akashi melangkah mendekatinya sambil membawa makanan dan minuman untuk Kuroko.
" Aku membawakanmu makanan."
Kuroko menundukan kepalanya, entah mengapa setiap kali Akashi berada di dekatnya, seperti berkilo-kilogram batu membebani kepalanya. Tatapan pria itu begitu dalam seolah bisa menyelami isi otak orang yang ditatapnya. Dan Kuroko tidak suka cara pria itu menatapnya. Hingga setiap kali pria itu menatap intens kearahnya yang bisa dia lakukan hanyalah menundukan kepalanya.
"Sumimasen, apakah aku boleh bertanya?"
Tangan Akashi terhenti setelah dia selesai meletakan nabe berisi Kinoko-zosui. Seketika manik crimsonnya memaku Kuroko dengan tatapan tajamnya.
"Katakanlah!"
"Apa hubungan Akashi-kun dengan Haizaki-kun?"
Manik azure Kuroko memandang ragu Akashi yang kini duduk berhadapan dengannya. Wajah pria itu berubah dengan begitu cepat. Tidak ada senyum ramah lagi di wajah itu.
" Untuk apa kau menanyakan pria itu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Kuroko, Akashi malah melontarkan kembali sebuah pertanyaan dengan nada dingin. Sepertinya hubungan sepupunya dengan pria itu tidaklah baik. Dan Kuroko akui pria berusia 21 tahun itu memang sangatlah menawan, namun Kuroko perlu tekankan bahwa dia tidak menyukai cara manik crimson itu menatapnya. Aura superior yang diumbar pria bermanik crimson itu sungguh membuatnya tertekan dan tak kuasa barang satu centimeter untuk mengangkat kepalanya.
"Maafkan aku jika Akashi-kun merasa tersinggung. Tapi aku sungguh penasaran dengan hubungan kalian berdua."
Kuroko kian merasa suasana di sekitarnya makin terasa berat dan tidak nyaman ketika Akashi tak kunjung menjawab pertanyaannya. Jemarinya kini sibuk memainkan ujung gakurannya -lagi dengan perasaan tidak menentu.
" Apakah dia tidak menjelaskan sesuatu kepadamu?"
Gelengan kuat Kuroko membuat dengusan Akashi mengudara disertai tawa renyahnya.
"Ck. Sebenarnya dia hanya mantan rekan tim basketku dulu sewaktu SMP. Hingga kami bertemu kembali.Dia selalu kalah berjudi hingga berakhir meminjam uang kepadaku. Karena dia tidak bisa mengembalikan uangku dalam jangka waktu tiga bulan, maka kaulah yang menjadi gantinya."
"Berapa banyak?"
Azure bertemu dengan crimson. Meski singkat, nyatanya Akashi cukup menikmati momen saat netranya bertemu dengan manik biru berkilauan orang yang kini telah dia klaim sebagai propertinya.
" Dua ratus juta yen."
Berikutnya dunia Kuroko terasa berputar tak beraturan hingga berhasil menggoyahkan keseimbangan tubuhnya.
" Ya." Akashi bersidekap menatap ketika ketidakberdayaan Kuroko dan itu menjadi hiburan tersendiri baginya. "Dan itu belum termasuk bunga 2 % yang kubebankan kepadanya."
"Akashi-kun, aku tahu ini akan lama. Tapi bisakah aku mencicilnya?Bolehkah aku keluar dari sini?Aku tidak akan kabur dan melunasi semua hutang Haizaki-kun. Aku berjanji!"
"Sampai kapan?"
Kuroko menjatuhkan pandangannya ke uap Kinoko-zosui di atas meja. Kuroko tahu jika dua ratus juta yen bukanlah angka yang sedikit untuknya -malah dia tidak yakin bisa melunasinya selama separuh hidupnya atau tidak.
" Kau tahu aku bukanlah orang yang penyabar, Tetsuya.Lagi pula aku sudah melupakan hutang itu dan memberikan sepupumu itu sejumlah uang dan beberapa jaminan untuk biaya hidup sepupumu dan keluarganya. Dengan syarat -tentu saja kau harus jadi milikku, Tetsuya."
"Aku akan be-"
BRUK!!!! PRANG!!
Kuroko perlu beberapa detik untuk menganalisis keadaan. Meja serta nabe jatuh membentur lantai kayu dengan keras hingga menyisakan kinoko-zosui yang berceceran di lantai. Sedangkan dirinya, dia bahkan sampai menahan napas saat menyadari sosok Akashi sudah berada di atas tubuhnya dan mencekal kedua pergelangan tangannya.
"Perlu kau ketahui jika setiap omonganku adalah absolut, Tetsuya." ujar Akashi sambil melepas semua kancing seragam Kuroko dan mulai menciuminya.
"Aku sudah berbaik hati membiarkan Haizaki hidup bebas hingga kini. Fakta bahwa dia terlibat dengan beberapa anggota mafia dan perjudian di pasti akan dihukum dengan berat. Ditambah dia sudah menjual anak di bawah umur untuk melunasi hutang."
Kuroko kembali memberontak.Cekalan di pergelangan tangannya menguat hingga Kuroko harus meringis menahan sakit disana. Selanjutnya Akashi mencium bibir Kuroko dengan kasar. Lidahnya mengaduk-aduk rongga mulut Kuroko hingga membuatnya kepayahan.
"Hentikan!" seru Kuroko begitu ciuman panjang mereka terlepas.
" Dan kuberitahu satu hal lagi. Paman dan bibimu juga bisa terkena imbasnya jika kau tetap bersikeras untuk pergi dariku. Aku mempunyai beberapa bukti jika paman dan bibimu memalsukan beberapa dokumen agar uang hasil asuransi kedua orang tuamu bisa dikuasai oleh mereka. Itu sebabnya mereka mau memeliharamu."
" Hentikan! Obasan dan jisan -mereka adalah orang yang baik!
Seolah tuli, Akashi terus menjamah tubuh Kuroko dengan ciumannya. Kini dia menghisap perpotongan leher jenjang berwarna putih itu hingga menimbulkan kissmark hingga Kuroko harus menggigit bibirnya hingga berdarah agar desahannya tidak lolos begitu saja. Akashi telah menandainya dan Kuroko menyesali dirinya yang serapuh butiran salju.
"Jika kau terus membantah dan melawanku, aku tidak bisa menahan diriku lagi."
"Kenapa?"
Kedua manik crimson Akashi memaku manik azure yang menatapnya kosong.
"Kenapa kau bersedia membeliku, Akashi-kun?"
*
*
3 Tahun yang lalu...
Akashi menggosok-gosokan tangannya dengan kencang. Udara pertengahan bulan Desember kini memang sangat dingin.Tangannya telah memucat setelah satu jam lamanya dia bertahan di udara sedingin itu di luar ruangan.
Meringis kala memar di wajahnya kembali terasa sakit. Perkelahiannya dengan beberapa preman di gang sempit di distrik sebelah membuat seluruh badannya pegal-pegal. Ahh.. akan merepotkan jika sampai dia pulang kerumah dengan keadaan babak belur seperti ini.Ayahnya pasti akan mengoceh macam-macam seperti biasanya.
Growlll...
Akashi terkekeh saat perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Mengenaskan sekali.
"Ano, kalau tidak keberatan kau bisa memiliki ini."
Akashi sedikit terkejut dengan kehadiran tiba-tiba seorang bocah disampingnya yang sedang menyodorkan bungkusan plastik dengan logo restoran cepat saji kepadanya. Wajahnya yang merona tenggelam dalam balutan syal merah muda tebal yang melilit lehernya untuk melindunginya dari udara dingin. Sedangkan surai biru mudanya menari-nari mengikuti arah angin berhembus. Akashi terpana oleh keindahan sosok di depannya, terlebih manik azurenya yang teduh menatapnya lembut.
Akashi menerima bungkusan itu dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Arigatou..."
"Douitashimashite." jawab anak itu sambil mengangguk singkat.
"Ngomong-ngomong sejak kapan kau ada disini?" tanyanya. Pasalnya Akashi mengira dia duduk sendirian di halte itu dan tidak menyadari kehadiran si baby blue di sampingnya.
" Sakikara desu." jawabnya dengan nada datar.Akashi kembali terkekeh dengan wajah merona menyadari ketololannya. Saat perutnya berbunyi, berarti bocah itu mendengarnya? Memalukan! Rasanya Akashi ingin menabrakan diri saja ke mobil terdekat.Dia membuka bungkusan itu dan mendapati satu buah hamburger dan sebotol vanilla shake ukuran medium.
" Bagaimana denganmu?"
Akashi menoleh kearah bocah yang duduk di sampingnya. Dia takut jika dia telah mengabil jatah makan bocah itu.
" Aku sudah makan. Itu dibelikan oleh temanku."
"Lain kali biarkan aku mentraktirmu, ano..."
Akashi celingukan mencari sosok baby blue yang tadi duduk di sampingnya. Anak itu sudah pergi tanpa sepengetahuan Akashi -ahh tidak! Lebih tepatnya, Akashi tidak menyadari kepergian bocah itu. Namun sesuatu berwarna putih menyita perhatiannya. Payung. Tertinggalkah? Atau-
-dia sengaja meninggalkannya?
*
*
Pandangan mata Akashi melembut. Dia melepaskan cekalan tangannya dan terduduk dengan ekspresi kacau. Dia mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Ini benar-benar awal yang buruk baginya dan Kuroko.
Dia hanya ingin Kuroko nyaman bersamanya.Dia hanya ingin Kuroko selalu ada untuknya. Dia ingin -Kuroko jadi miliknya.
" Sumimasen. Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya."
Akashi jelas tahu apa penyebabnya. Kecelakaan besar yang dialami Kuroko tiga tahun yang lalu tepatnya dua hari setelah pertemuannya dengan Kuroko, dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kedua orang tua Kuroko meninggal dunia dan menyisahkan dirinya seorang yang mengalami amnesia. Dia diadopsi oleh keluarga Haizaki yang merupakan mantan rekan tim basketnya sewaktu SMP. Dan semenjak itu, Akashi bertekad untuk melindungi bocah itu suatu saat nanti.
Akashi merogoh sebuah amplop putih dari saku kimononya dan menyerahkannya kepada Kuroko.
" Ini adalah bukti jika sepupumu telah menjualmu kepadaku. Aku menerimanya, karena aku ingin melindungimu, Tetsuya."
Kuroko lantas membuka isi amplop itu dan terkejut kala mendapati surat perjanjian yang ditanda tangani oleh Haizaki.
"Jika sampai kau pergi dari sini, surat perjanjian itu sudah menjelaskan jika Haizaki diwajibkan membayarku sebanyak tiga kali lipat dari yang seharusnya."
Kuroko meremat surat itu. Air mata tak kuasa ditahannya namun dia tetap diam dan berusaha tetap tegar. Dia sedih mengetahui jika kebebasannya memang telah dijual.
"Aku harap kau memikirkannya matang-matang, Tetsuya."
Tak tega melihat keadaan Kuroko, Akashi memilih untuk melangkah meninggalkan Kuroko yang masih memeluk kedua lututnya dan membiarkannya tenang.
" Apa mereka sudah sampai?" tanya Akashi kepada Mayuzumi yang berjaga di depan pintu.
"Sudah. Mereka sedang menunggu anda di ruang tamu, Akashi-sama." jawab Mayuzumi.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan bersiap. Dan jangan lupa, jaga pintu ini dengan baik-baik. Aku tidak ingin anjingku kabur mencari tuannya yang lama."
"Ha'i."
Sementara itu...
"Hoammh, lama sekali si Akashi itu!" keluh seorang pemuda navy berkulit sawo matang -Aomine Daiki vokalis band rock itu bersandar sambil bermalas-malasan di sofa.
"Sudah lama sekali ya kita tidak reuni seperti ini-ssu! Ne, Midorimacchi? " celetuk pria blonde di samping Aomine - Kise Ryouta si model tampan yang populer di kalangan gadis.
"Urusai.Damare!"
Bersebrangan dengan Kise, Midorima Shintarou -mahasiswa fakultas kedokteran yang selalu membawa benda-benda aneh sebagai lucky item itu berseru garang. " Murasakibara jangan makan seperti bebek-nanodayo! Remah keripikmu mengenaiku."
Midorima menoleh ke sampingnya dan mendapati pria tinggi dan bertubuh besar yang sedang makan.
"Gomen, Midochin." -Murasakibara Atsushi si doyan makan itu adalah anak pemilik usaha restoran bintang lima di Akita.
"Ohisashiburi, minna!"
Keempat pasang mata itu memandang kearah ambang pintu dimana Akashi berada. Penampilannya begitu menawan dengan stelan kemeja hitam dan celana putih panjang.
"Ahh, Akashicchi!" Kise melambaikan tangannya dengan semangat mengetahui pemilik rumah sudah datang.
Akashi pun bergabung bersama teman-temannya.
"Oi, Akashi! Sebanarnya untuk apa kau memanggil kami kemari, huh?"
"Benar, nanodayo! Bukannya aku sok sibuk atau apa, tapi aku terpaksa membatalkan kelasku karena pertemuan ini nodayo."
" Aku mengumpulkan kalian karena aku akan memperkenalkan anggota baru di rumah ini kepada kalian."
*
*
*
Kuroko memunguti pecahan beling dari gelas yang pecah karena insiden tadi. Dia masih memikirkan nasibnya yang terkurung di rumah mewah yang bahkan Kuroko tak ingat pernah bertemu dengan si pemilik yang mengaku pernah ditolong olehnya.Setiap kali dia mencoba mengingat-ingat peristiwa itu, alih-alih ingatan yang didapat tapi hanya sakit di kepala yang dia rasakan.
"Kuroko-san!"
"Ahh!"
Suara Mayuzumi yang memanggilnya membuat Kuroko terkaget dan tanpa sengaja tangannya tergores pecahan beling hingga membuat tangannya berlumuran darah.
"Kuroko-san! Tanganmu terluka!"
Mayuzumi meletakan makanan yang di meja dan membantu Kuroko untuk membersihkannya di westafel.
" T-terima kasih, ano..."
"Mayuzumi Chihiro. Anda seharusnya tidak usah membereskan itu semua, Kuroko-san!"
Kuroko terdiam. Manik azurenya mengamati tangan terampil Mayuzumi yang sedang membersihkan lukanya yang terus mengalirkan darah.
"Kuroko-san. Sebaiknya anda menuruti kemauan Akashi-sama jika tidak ingin melihat orang yang anda sayangi menderita. Akashi-sama tidak akan menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau."
Kuroko hanya terdiam. Lukanya sudah berhenti mengalirkan darah dan ketika dia menoleh, Mayuzumi -pria itu sedang membuka laci meja nakas di sudut ruangan untuk mengambil peralatan P3K.
"Biarkan saya mengobati anda."
Kuroko menurut. Dibandingkan diobati, tadi Kuroko berharap pergelangan tangannya saja yang teriris dan bukan jarinya. Jika dia mati rasa sakit di hatinya mungkin saja terobati.
Mayuzumi terdiam, dia sedikit melirik kearah Kuroko untuk melihat ekspresinya.
Datar dan kosong. Lalu luka di bibir dan bercak merah di lehernya pastilah ulah majikannya.
"Sudah selesai."
"Maaf merepotkanmu. Arigatou gozaimasu."
"Tidak apa-apa. Setelah anda selesai makan, Akashi-sama menyuruh anda untuk segera berganti pakaian, Kuroko-san. Saya akan menunggu anda di luar."
Kuroko mendongkak saat pria kelabu minim ekspresi itu berdiri dan menghilang di balik pintu.
Di meja, dia telah di siapkan satu kemeja biru muda dan celana hitam.
Haruskah dia menerimanya?
*
*
*
Kise mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya dengan mulut menganga seolah dia baru saja melihat suatu fenomena luar biasa di depannya. Dia melirik kearah Aomine yang juga bereaksi sama dengannya. Sementara disisi lain Midorima nampak biasa saja namun dia bisa melihat rona merah tipis di kedua pipinya. Murasakibara -ahh pria tinggi besar itu berdiri paling depan untuk mengamati objek di depannya.
" K-kawaii~" koor Kise dan Aomine secara bersamaan.
Akashi tersenyum tipis melihat reaksi konyol teman-temannya.
"Cotton candy." Murasakibara menyentuh surai si objek yang tak lain adalah Kuroko.
" Kenalkan dia Kuroko Tetsuya - peliharaanku."
"Hoi, dia manusia Akashi! Tega sekali kau mengatainya sebagai peliharaanmu." Aomine memprotes sebutan Akashi untuk anak polos di depannya.
" Doumo, Kuroko Tetsuya desu."Kuroko membungkuk singkat. Dia tak berekspresi dan kelewat datar. Akashi tak memungkiri jika dia agak kecewa dengan perilaku Kuroko yang tak ubahnya seperti sebuah boneka.
" Uwahh, dari mana kau menemukan makhluk seimut dan semanis ini, Akashicchi?"
"Aku membelinya."
"Heh?! Dimana ? Aku juga mau beli-ssu! "
Seruan heboh Kise membuat bibir Midorima gatal untuk menghardik makhluk kuning satu itu.
"Damare, Kise!" Kise pun sontak bungkam dengan wajah cemberut. " Aku tidak menyangka jika kau menjadikan sepupu Haizaki sebagai peliharaanmu, Akashi."
Akashi bersidekap menatap datar si megane yang merupakan mantan shooter terbaik tim basketnya dulu.
" Dia telah berani berhutang kepadaku. Dia menjual sepupunya sendiri sebagai balasannya. Dan aku menerimanya. Apa aku melakukan sebuah kesalahan?"
"Tapi tetap saja jika - Murasakibara jangan menjilat wajah orang sembarangan-nanodayo! Itu menjijikan."
Sontak titan besar bersurai ungu itu terpaku di depan wajah Kuroko. Dia berdiri tegak dan kembali duduk bersama snacknya.
" Tetsuya tidak keberatan disini. Aku memperlakukannya dengan baik. Kau bisa melihatnya sendiri kan?" Akashi menyeringai tipis kala Midorima seperti tercekat tak mampu lagi berkomentar.
" Dari pada kau menjadikan Kurokocchi sebagai peliharaanmu, mending jadi pacarku saja-ssu!"
"Oi, kau mau mati Kise?"
Aomine buru-buru mengingatkan si Kuning saat sebelum kepala sahabatnya bocor tertembus gunting yang kini sedang dimainkan oleh Akashi.
"Tetsuya mendekatlah!"
Kuroko menahan segala ketakutannya dan lebih menuruti apa yang di perintahkan oleh tuannya.
Namun kelanjutan dari itu semua membuat kelima pasang mata termasuk Kuroko membulat terkejut. Akashi menciumnya tepat di bibir.
" Kucampkan bahwa Kuroko Tetsuya adalah milikku! Tidak ada orang yang bisa merebutnya dariku." ujarnya dengan seringainya yang mengembang.
*
*
*
-TSUZUKU-
Author's Note :
kinoko-zosui : bubur khas jepang yang terbuat dari campuran beberapa jenis jamur dan ikan salmon atau kerang-kerangan.
Halo semuanya...
Terima kasih untuk semua reader yang bersedia menyisihkan waktunya untuk meninggalkan jejak di kotak review saya. Saya sangat menghargai apa yang kalian tulis sebagai bentuk perhatian kalian terhadap fic yang saya tulis. Dan beribu terima kasih bagi reader yang memuji fic saya yang bagi saya yang terbilang newbie di fandom KnB. Maaf jika ficnya terlalu pendek, alurnya kecepetan, OOC, typo dan lain-lain. Karena saya akui mencari inspirasi tidak semudah mengetik huruf diatas keyboard.
Tapi jika kalian punya pertanyaan ,saran ataupun kritik yang baik silahkan tulis di PM ataupun kotak review ya!
Untuk beberapa pertanyaan di chapter sebelumnya, sudah terjawab di chapter ini ya~
Selanjutnya,
SPECIAL THANKS:
Classical Violin ryu elchan Rabendaa Violant KuroShuNid AkaKuro-nanodayo vira-hime
Juga untuk Guest1, Guest2 dst, silent reader, follower, dan favoriter...
NB : Thanks pada Guest yang mengingatkan saya untuk mencantumkan inspirasi saya yaitu benar Okane ga nai. Jujur saya benar-benar lupa untuk mencantumkannya di disclaimer. Dan segera saya perbaiki.
Sekian dari author dan sampai jumpa di chapter selanjutnya...Jaa matta ne!
