"Tetsuya mendekatlah!"
Kuroko menahan segala ketakutannya dan lebih memilih untuk menuruti apa yang di perintahkan oleh tuannya.
Namun kelanjutan dari itu semua membuat kelima pasang mata termasuk Kuroko membulat terkejut. Akashi menciumnya tepat di bibir.
" Kucamkan bahwa Kuroko Tetsuya adalah milikku! Tidak ada orang yang bisa merebutnya dariku." ujarnya dengan seringainya yang mengembang.
Sontak saja Kuroko bergerak reflek menjauh dari jangkauan Akashi. Wajahnya semerah tomat dengan bibir yang kembali berdarah. Dia menatap tajam Akashi meskipun tatapannya nampak seperti seekor kucing yang direbut ikannya. Menggemaskan sekali pikir Akashi. Dia bahkan tidak peduli tindakannya yang kelewat agresif itu mengundang tatapan takjub dari keempat rekannya. Apalagi Kise - rahangnya sampai hampir menyentuh lantai saking terkejutnya.
" Aku baru tahu jika kau bisa seagresif itu-nanodayo!"
Akashi melirik Midorima yang nampak sudah kembali ke mode biasanya. Pemuda dengan surai seperti lumut itu sedikit takjub dengan perubahan perilaku mantan kapten tim basketnya yang bisa terjatuh oleh pesona Kuroko yang notabene seorang laki-laki.
" Tentu aku jadi seperti itu karena ada Tetsuya bersamaku." sahutnya dengan ekspresi angkuhnya.
" Ugh...aku juga mau cium, Kurokocchi-ssu!"
" Sebelum kau melakukannya, kurasa Akashi sudah memotong bibirmu itu Kise!"
"Aominechi hidoi-ssu!"
Aomine kembali mengamati Kuroko dalam diam. Ada yang mengganjal dihatinya saat melihat remaja baby blue itu.
" Apakah Akachin akan membiarkan Kurochin seperti itu?"
Seluruh pasang mata memandang kearah Murasakibara yang masih sibuk dengan gunungan snack miliknya.
" Apa maksudmu, Atsushi?"
" Umm...dia masih kecil. Berarti dia masih sekolah kan?"
Akshi tersenyum sambil memandang kearah Kuroko yang masih menutup bibirnya dengan punggung tangannya.
" Mana mungkin hal kecil seperti itu terlewat olehku. Tentu saja aku akan menyewakan guru terbaik untuknya agar dia bisa belajar dengan tenang di rumah ini."
Pernyataan Akashi tentu saja membuat semua orang disitu sweatdrop. Protektif sekali! Kira-kira begitulah isi kepala warna warni di depan Akashi.
Kuroko sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia pasrah saja dengan apa yang Akashi lakukan.Toh, semua kebebasannya telah dibeli oleh pria berambut merah itu.
LOCKED IN HEAVEN
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
Story by Kuroi Sora18
Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka
Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Genre : Romance / Hurt/ Comfort
Rated : M #maybe
Summary : Kuroko Tetsuya -remaja 16 tahun bernasib apes yang harus dijual oleh sepupunya sendiri sebagai balas budi./ " Yokozo,Tetsuya."/ Dirinya menyesali keadanyaanya yang serapuh butiran salju.
WARNING !!!
Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!
author proudly present
LOCKED IN HEAVEN
Chapter 2: Akashi's feeling
Akashi menghela napas berat saat didapatinya Kuroko lagi-lagi menatap keluar jendela kamar yang disediakan untuknya. Menatap kosong hujan butiran salju yang tak lagi selebat semalam.
Sebenarnya dia sangat ingin memeluk Kuroko-nya dan memberikan dia kehangatan. Bohong jika dia merasa senang dan terhibur melihat Kuroko yang sudah seperti burung yang terkurung di dalam sangkar. Apalagi Kuroko sama sekali belum pernah menanggapi ucapannya semenjak kejadian beberapa hari yang lalu. Dia yakin, dirinya telah menorehkan luka yang cukup dalam di hati Kuroko. Andai Kuroko tahu jika rasa protektifnya adalah bentuk kepeduliannya terhadap remaja bersurai baby blue itu. Dia ingin Kuroko melihat hatinya- orang yang selalu mencintai dan melindunginya.
" Tetsuya..."
Kuroko menoleh. Dia sedikit terlonjak kaget kala melihat Akashi sudah berdiri di belakangnya.
"Akashi-kun." Kepalanya menunduk dan sedikit melangkah mundur hingga tubuhnya menyentuh pinggiran jendela. Akashi tau jika Kuroko merasa takut kepadanya jadi dia sedikit manahan dirinya untuk tidak berlari dan menenggelamkan tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
" Kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Eh?"
" Aku mengajakmu bepergian. Kau ingin kemana?"
Kuroko tak menjawab. Dia kembali memandang kearah luar jendela untuk sesaat. Salju sudah berhenti dan menyisahkan tumpukan kristal es di luar sana.
"Bukankah Akashi-kun melarangku untuk keluar?"
" Pengecualian jika kau bersamaku." ujar Akashi sambil menyeret Kuroko pergi bersamanya. Kuroko terpontang-panting menyamakan langkahnya dengan Akashi yang berjalan dengan semangat dengan langkah lebarnya. Tibanya di depan gerbang, disana Mayuzumi telah bersiap bersama audi hitamnya.
" Akashi-kun sebenarnya kita akan kemana?" tanya Kuroko saat Akashi mencoba membantunya memasang sabuk pengaman di badannya.
" Nanti kau juga akan tahu." jawab Akashi dengan senyum misterius yang terukir di bibir tipisnya.
Dan audi hitam itu melesat membelah jalanan kota Kyoto dengan kecepatan sedang.
Sepanjang jalan, Kuroko terpaku menatap jalanan sekitar yang sudah dipenuhi aksesoris berbau Natal dan Tahun Baru. Dia jadi teringat dengan kedua orang tuanya. Bertukar kado, wangi kue jahe buatan ibunya dan membuat boneka salju bersama ayahnya, sungguh Kuroko merindukan semuanya. Namun Natal kali ini mungkin akan menjadi Natal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kini ada Akashi Seijuurou yang merupakan pemiliknya.
" Berhenti Chihiro!"
Suara Akashi membuat Kuroko terlempar dari lamunannya. Dia baru tersadar jika mereka sudah sampai di sebuah taman dengan lapangan basket yang cukup besar berada di tengahnya. Nampak beberapa anak kecil bermain lempar bola salju dan sisanya membuat boneka dari salju.
" Ini adalah tempat favoritku sewaktu kecil."
Akashi menoleh kearah Kuroko yang masih terpaku dengan pemandangan di depannya. Akashi tersenyum tipis. Meskipun wajah Kuroko nampak biasa saja dan terkesan datar, dia tahu jika ada binar kebahagiaan di manik azurenya.
" Kau bisa bermain basket?"
"Eh?" Kuroko menggumam tak paham. Dilihatnya Akashi yang berlarian mengitari lapangan sambil mendrible bola basket.
"Kau pernah bermain basket? Aku mengajakmu bermain. Ini permainan favoritku."
" Tentu saja aku pernah. Tapi, Akashi-kun aku-" kalimat Kuroko terpotong karena Akashi tiba-tiba saja mengoper bola basket itu kepadanya. Kuroko yang tidak dalam posisi siap membuat remaja berusia 16 tahun itu terhuyung nyaris jatuh.
"Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun, Tetsuya."
Kuroko menghela nafas. Sepertinya hari ini akan jadi hari yang melelahkan untuknya. Dia tidak ahli dalam bidang olahraga, hal itu membuat tubuhnya terlalu kecil untuk ukuran remaja SMU lainnya. Melihat Akashi, meskipun dia bernasib sama dengannya soal tinggi badan, tapi proporsi badannya sangatlah proporsial dibandingkan dirinya. Apalagi dari cara Akashi memegang bola basket itu, dia bisa langsung tahu jika Akashi adalah seorang profesional.
" Kenapa kau masih berdiri disana?"
" Eh?"
Dengan perasaan canggung luar biasa, Kuroko akhirnya mendekat kearah Akashi yang berdiri di bawah ring. Sekarang dalam jarak kurang dari dua meter, Kuroko bisa lihat hembusan uap dari mulut Akashi. Dia tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya.Haruskah dia percaya kepada orang di depannya?
.
.
.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di sebuah kediman sederhana di Tokyo. Haizaki menoleh dengan pipi yang memerah sehabis ditampar.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau menjual Tetsuya ke orang tidak dikenal huh?!"
Seorang wanita paruh baya bersurai hitam yang merupakan ibu Haizaki berkacak pinggang sembari berteriak emosi kala mendengar kabar mengejutkan dari anaknya.
"Dia temanku Kaa-san!Aku tidak ada pilihan lain menjual Kuroko kepadanya. Lagi pula dia bersedia membayar Kuroko dengan harga yang tinggi. Aku bahkan mendapatkan beberapa jaminan untuk keluarga kita."
"Lupakan!" Wanita itu mengibaskan telapak tangannya bak mengusir lalat. "Anak itu bisa saja buka mulut tentang apa yang telah kita lakukan padanya. Dan juga -kita perlu anak itu untuk mengambil seluruh uang dari asuransi kedua orang tuanya.Kenapa kau tidak mau bersabar?!"
Haizaki mencengkram kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Arghh...dia sangat frustasi sekali! Dia telah melakukan hal bodoh dengan menjual Kuroko kepada Akashi. Dia tahu ketertarikan pria posesif itu dengan Kuroko semasa dulu. Jadi dia berpikir akan mudah mengeruk uang mantan rekan basketnya itu dengan mengatas namakan Kuroko.
"Apa aku perlu menculiknya?"
"Sepertinya kau sudah gila!"
Ibu Haizaki mendengus mendengar kalimat anaknya.
"Aku memang sudah gila, Kaa-san! Aku gila karena memikirkan kenapa hidup kita miskin?"
Ibu Haizaki mendelik marah. Dia mengangkat tangannya hendak menampar Haizaki kembali. Namun dia menahannya.
"Kenapa tidak jadi memukulku?"
"Sebaiknya kau pergi. Kembalikan uang yang kau terima dan bawa kembali Tetsuya."
"Tapi Kaa-san! Kau tidak tahu jika Klan Akashi itu-"
"Apa?!"
Haizaki sedikit terhuyung ke belakang saat ibunya malah mencengkram kerah jaketnya dengan erat.
"Kau menjual Tetsuya ke mereka? Kau memang anak tidak berguna! Kaa-san tidak mau tahu, bawa Tetsuya kembali atau kau pergi saja dari rumah ini. Tetsuya lebih berharga dari pada dirimu!"
"Cih!"
Haizaki melangkah tergesa-gesa pergi meninggalkan rumahnya. Dia terus mengumpat di sepanjang jalan. Bagaimana bisa ibunya berkata bahwa Kuroko lebih berharga dari pada dirinya? Apa itu sebuah lelucon? Cih, yang benar saja!
.
.
.
.
Kuroko membungkuk terengah-engah sambil sesekali mengusap peluhnya yang bercucuran. Sementara Akashi nampak biasa saja meski memang dia sesekali menghela napas berat.
"Kau terlalu memaksakan diri, Tetsuya."
Kuroko terperanggah. Memaksakan diri? Benar juga. Selama ini, Kuroko tidak pernah seserius ini dalam hal olahraga.
"Sumimasen."
Akashi terkekeh geli saat melihat Kuroko nampak kepayahan. Jelas sekali jika ketahanan fisik remaja yang dia klaim sebagai peliharaannya itu jauh di bawahnya.
"Sepertinya kau memang payah dalam hal ini. Tapi kau bekerja dengan keras. Itu yang kusuka darimu."
Bola basket yang dipegang Kuroko jatuh menggelinding melewati kaki Akashi. Pipinya entah mengapa berubah warna dengan cepat hanya karena mendengar pria itu memujinya. Ah, bahkan setelah Akashi melakukan hal-hal diluar norma kepadanya tempo hari.
"Sumimasen deshita."
"Pffttt.. Apa kau tidak punya kata-kata lain selain itu?Jujur saja aku sedikit kecewa saat kau terus-terusan bermuram durja sambil memandang ke luar jendela kamar. "
Azure Kuroko bergulir gelisah saat crimson Akashi menatap lurus ke arahnya.
"Apa karena kau memikirkan keluargamu? Aku tahu jika kau menyalahkanku atas apa yang menimpamu."
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Akashi-kun." Kepala Kuroko lagi-lagi tertunduk hingga poni rambutnya menutupi rona wajahnya. "Aku hanya berpikir, apa yang harus kulakukan setelah ini. Kebebasanku sepenuhnya telah kau beli, jadi aku tidak tahu harus melakukan apa."
Akashi terdiam cukup lama. Anak itu memikirkan apa yang harus ia lakukan? Pasti situasi seperti itulah yang membuatnya merasa tertekan.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba untuk menyukaiku saja?"
"Eh?"
"Hmm lupakan saja yang tadi kukatakan!"
Akashi mengibaskan telapak tangannya seperti menampar udara. Dia menggandeng Kuroko yang kelelahan untuk duduk di sebuah bangku taman berwarna putih di pinggir lapangan.
"Tunggulah disini. Akan pergi membeli minuman untuk kita berdua."
Kuroko mengangguk patuh. Selanjutnya dia menghela napas berat kala sosok Akashi sudah menghilang dari pandangannya. Tangan berbalut kulit putihnya tak henti-hentinya menepuk pelan dadanya yang entah kenapa berdebar-debar tidak karuan.
"Ada apa denganku ini?" gumamnya.
"Pergi dari sini bocah-bocah sialan!"
Kuroko menoleh kearah lapangan sepak bola yang terletak bersebelahan dengan lapangan basket. Lapangan itu hanya dibatasi oleh pagar besi hingga Kuroko bisa melihat apa yang sedang terjadi di sebelah sana.
"Onii-san tachi tunggu saja giliran mainnya.Kami baru saja bermain disini." seorang anak perempuan bersurai coklat maju menghadang segerombolan anak berseragam SMU yang hendak berlatih sepak bola.
"Riko-chan, sebaiknya kita mengalah saja."
" Tidak, Teppei!Kita yang lebih dulu disini."
"Benar, kalian harus menunggu giliran untuk bermain disini!"
"Berani juga kau anak kecil?" si kapten kesebelasan itu maju dan mencengkram kerah kaos yang digunakan bocah berkacamata di depannya.
"Hyuuga-kun!"
Gadis cilik bernama Riko itu berlari hendak menyelamatkan bocah berkacamata temannya namun remaja SMU lainnya mendorongnya hingga dia terjatuh.
"Kalian bocah-bocah cilik sialan jika kalian terus melawan kami, kalian akan- "
DUAK!
Sang kapten jatuh tersungkur hingga cengkramannya terlepas kala sebuah bola basket tiba-tiba mengenainya.
"Siapa yang berani melempar bola sialan ini kepadaku?!"
Sang kapten kesebelasan itu berseru marah sedangkan anggota yang lain nampak kebingungan karena mereka sama sekali tidak menyadari datangnya bola itu.
"Apa kalian tidak malu melawan anak kecil?"
.
.
.
.
Akashi membungkuk saat minuman isotonik yang dia beli keluar dari dalam mesin penjual minuman otomatis. Namun saat dia hendak berjalan kembali ke tempat Kuroko berada, ponselnya tiba-tiba berdering hingga membuat Akashi berdecak sebal.
Alis merahnya nampak saling bertaut kala nama Haizaki Shougo tertera di layar ponsel miliknya.
"Doushita?" tanyanya langsung saat panggilannya tersambung.
"Akashi, aku perlu bertemu denganmu. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu mengenai Kuroko."
"Ada apa dengan, Tetsuya?"
Di seberang telpon Haizaki nampak terdiam. Sepertinya dia sedang memikirkan kata-kata seperti apa yang akan dia katakan kepada pria bersurai merah itu.
"Bisakah kita bertemu hari ini? Kita bertemu di tempat biasa."
"Aku sibuk. Katakan langsung disini. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara denganmu."
Akashi menyahut dengan nada dingin. Dia sedikit melihat kearah jam tangannya yang masih menunjukan pukul 10 pagi. Sudah lima belas menit dia pergi meninggalkan Tetsuya-nya sendiri di bangku taman.
"Baiklah."
Akhirnya Haizaki mengalah. Meski Akashi bisa dengan jelas mendengar bahwa pria yang merupakan sepupu Kuroko mendecih kesal lewat sambungan teleponnya.
"Aku akan kembalikan uangmu."
"Apa?"
"Aku akan mengembalikan semua uang yang kau berikan kepadaku termasuk jaminannya. Dan aku akan segera melunasi hutangku kepadamu.Tapi aku ingin kau juga menyerahkan Kuroko kembali kepadaku."
Akashi terkekeh. Apa telinganya sedang bermasalah hari ini? Haizaki akan mengambil Tetsuya-nya? Sepertinya Haizaki mencoba untuk bermain-main dengan seekor singa.
"Apa kau sedang melawak?Kupikir kau sudah cukup mengenalku,Shougo. Apa kau tidak pernah tahu jika 'barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar atau dikembalikan'. Sekarang Tetsuya adalah miliku. Apa yang akan terjadi kepadanya, akulah yang berhak menentukannya. "
"Apa karena kau menyukai Kuroko?"
Pertanyaan yang keluar dari Haizaki membuat Akashi tersentak dan berakhir terdiam. Namun selanjutnya dia menyeringai senang seolah ia baru saja memenangkan undian berhadiah dalam jumlah besar.
"Apa aku perlu menjawabnya? Bukankah kau sudah tahu jawabannya, Shougo?"
"Sialan kau, Akashi!" umpat Haizaki kesal.
"Kaulah yang pertama kali datang kepadaku dan meminta uang. Sekarang, kau mau aku mengembalikan Tetsuya kepadamu?" Akashi terkekeh hingga bahunya terguncang. "Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah melepaskan Tetsuya kepada siapapun."
.
.
.
.
.
-TSUZUKU-
