Dangerous Pureblood
by
Coldnana
l
l
l
l
Chapter 12 Present~~
Cast : Nantikan dalam cerita.
Omegaverse, Chanbaek, Yaoi, Vampire, Fantasy, M-Preg
l
l
l
l
l
Sebelum pada baca, mau ngingetin ini Chapter lagi-lagi tembus di angka 10K lebiiiiih, jadi jangan bosen yaa bacanya wkwk
Oh iyaaa...jangan lupa sediakan tisu dan siapkan mental serta air mata wkwk
Aku gk tahu apa feelnya dapet, jadi tolong kasih tahu gimana perasaan kalian setelah baca chapter kali ini :')
Tapi Chapter ini memang emosional banget wkwk, aku juga ngetiknya sambil denger instrument musik sedih wkwk
So,
Happy Reading Guys~~
l
l
l
l
Chapter sebelumnya
"Jadi? Kau sudah mempercayaiku Park Chanyeol?" ujarnya membuka pembicaraan dengan sedikit seringai mengerikan.
00000
000
0
Pangeran tampan itu masih diam, tak bersuara sama sekali, dia menundukan arah pandangnya tak berani menatap sang leluhur yang terlihat marah, dalam hati dia sedikit merutuki kebodohannya, mengapa dia begitu keras kepala dan secara membabi buta menyerang leluhurnya karena enggan mempercayai ucapannya dan menganggap itu hanya lelucon semata.
"Bagaimana? Apa kau sudah percaya?" tanya Baek Gi lagi membawa Chanyeol keluar dari lamunannya.
Masih tak ada jawaban dari pangeran tampan itu, bibirnya masih setia rapat tak mengeluarkan sedikitpun suara.
"Chanyeol?"
Merasa namanya di panggil Chanyeol secara reflek mengembalikan arah pandangnya kepada leluhur di hadapannya, tepat ketika mata mereka saling bertemu, Baek Gi dapat menangkap rasa penyesalan dari Chanyeol dan ada sedikit rasa takut terlihat.
Tiba-tiba Baek Gi tertawa membuat Chanyeol mengernyitkan dahinya bingung, Chain, sebutan untuk aura legendaris yang Baek Gi keluarkan perlahan menghilang, namun tubuh Chanyeol masih senantiasa terdiam di tempatnya sekarang, seolah masih ada rantai yang membelenggunya.
Sebuah tangan terlihat di hadapan Chanyeol, pangeran tampan itu mengernyit bingung melihat ke arah tangan itu, mengikuti arah dimana ujung tangan itu berada, guna mengetahui siapa pemiliknya, seperti dugaan Chanyeol, itu adalah tangan Park Baek Gi, kakek leluhurnya.
"Berdirilah." ucap Baek Gi pada Chanyeol dengan lembut.
Pangeran tampan itu menatap bingung tangan Baek Gi, terlebih dengan ucapannya yang seolah sedang mengulurkan bantuan untuknya, walaupun dilanda kebingungan tapi Chanyeol tetap mengambil tangan Baek Gi dan segera berdiri.
"Kakek." panggil Chanyeol agak takut.
"Hmm?" Baek Gi hanya berdeham menanggapi panggilan cucu buyutnya itu.
"Apa kau tidak marah?"
"Marah? Kenapa?"
"Aku-aku berusaha menyerangmu." ucap Chanyeol terbata.
"Ahhh...itu wajar, justru aku akan marah jika kau begitu mudahnya mempercayai perkataanku, seperti yang diharapkan dari keturunanku." Ujarnya terkekeh.
"Ja-jadi kau tidak marah?"
"Tidak anakku, aku menunjukkan Chain padamu hanya agar kau mempercayaiku."
"Be-begitukah? Syukurlah." ujar Chanyeol bernafas lega.
"Jadi Chanyeol, apa kau bersedia mendengar kisahku dan juga permintaanku?" ujar Baek Gi pada Chanyeol.
Chanyeol mengangguk, tak mungkin dia menolak permintaan dari kakek buyutnya ini setelah dia tahu bahwa dia memang benar Baek Gi, sang vampire legendaris, terlebih dengan tindakan tak sopan yang telah dia lakukan padanya.
"Terima kasih nak."
00000
000
0
Sementara itu di tempat lain, Yunhoo tiba di rumah sakit, dia segera menghampiri Chanho yang sedang terduduk frustasi di taman rumah sakit, tak ada yang berani mendekati sang raja, bahkan pengawalnya tak mampu mendekati karena aura yang dia keluarkan sungguh mengerikan.
"Chanho?" panggil Yunhoo tak yakin.
Sang Raja menoleh dan menemukan sang kakak yang menjadi satu-satunya tumpuannya sedang berdiri tak jauh dari dirinya, "Hyung."ujarnya lirih nadanya terdengar sangat lemah.
"Apa yang terjadi?" ujar Yunhoo berjalan mendekati sang adik yang merupakan raja dari para vampire itu.
Chanho tak menjawab, raja para vampire itu malah berdiri dari tempatnya semula kemudian dia menatap Yunhoo sendu, setelahnya dia bersuara, "Ikuti aku hyung."
Ucapan Chanho sukses membuat Yunhoo bingung, namun dokter paruh baya itu segera mengikuti Chanho, mengabaikan kebingungan yang melanda dirinya.
Tak berapa lama mereka sampai di depan sebuah pintu berwarna putih, Yunhoo tahu itu pintu apa, pintu menuju ke bangsal khusus keluarga kerajaan.
Chanho membuka pintu dan masuk diikuti oleh Yunhoo di belakangnya, mata Yunhoo seketika membulat, dia terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini, keadaan ke-45 omega milik Chanho tergeletak tak berdaya di ranjang yang berderet di dalam ruangan itu.
"Apa ini? Mengapa bisa terjadi?" ucap Yunhoo tak percaya.
Chanho membuang nafasnya kasar, kemudian kembali menghela nafasnya berat, "Mereka begini karena proses pendonoran sperma itu hyung." Ujarnya berusaha menyembunyikan rasa frustasi miliknya.
Yunhoo tercekat, matanya kembali membulat, terlalu terkejut dengan penuturan Chanho.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" ujar Yunhoo tak percaya, tubuhnya merosot ke lantai, terlalu terkejut dan tak percaya dengan apa yang terjadi, dia juga merasa kehilangan sama seperti Chanho, biar bagaimana pun ke-45 omega di ruangan itu juga merupakan keponakannya.
00000
000
0
Beralih ke White Island, setelah sekian lama, jemari Baekhyun bergerak, wajah damainya perlahan menjadi pucat, pelipisnya di penuhi keringat, bibirnya gemetaran.
"Me-me-menjauh!" sebuah suara yang terdengar sangat rapuh terdengar dari bibir mungil itu, suara penuh dengan nada ketakutan.
Benar, itu adalah suara si mungil Baekhyun, setelah sekian lama dia akhirnya bersuara, namun bukan suara bahagia melainkan suara ketakutan yang semakin menjadi-jadi.
"MENJAUH!" teriaknya masih dengan mata terpenjam, tangan yang bergerak tak beraturan di udara berusaha menggapai apapun yang ada di depannya, bibirnya semakin bergetar, keringat dingin semakin mengucur di pelipisnya, air mata mewarnai wajah indahnya, membasahi wajah pucat itu, mengaliri kedua pipinya membentuk sungai air mata.
"Menjauh...kumohon menjauh...ja-jangan ga-ganggu aku!" ujarnya lirih, ketakutan semakin mendominasi si mungil.
"TIDAK! AKU BILANG MENJAUH!" teriak si mungil makin keras membuat Lily yang tengah memperkuat pelindung di sekitaran tempat itu mendengarnya dan berlari menghampiri cucu mungilnya, Baekhyun.
"Baekhyun!" ujar Lily ketika mendapati cucu mungilnya masih tertidur di sana dengan tangan yang bergerak semakin kacau seolah mendorong sesuatu, kondisinya semakin kacau dengan keringat dan air mata yang menghiasi serta racauan penuh nada ketakutan.
"Ada apa nak? Bangunlah! Bangun!" ujar Lily sembari menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun agar si mungil segera terbangun dari mimpi buruknya, namun semua mustahil, jiwanya terperangkat, dan Baekhyun akan tetap selamanya terjebak dalam mimpi buruk itu hingga akhir hayatnya.
"Apa keputusanku salah?" ujar Lily lirih, dia menatap cucunya sendu, berusaha sekuat tenaga memeluk tubuh mungil itu, menenangkannya.
"Baekhyun tenanglah, tenanglah nak, nenek ada disini bersamamu, jangan takut." Ujar Lily sembari terus berusaha memeluk tubuh ringkih itu, menyalurkan kekuatan yang dia miliki.
"Menjauhlah...aku mohon padamu." racau Baekhyun yang masih setia menutup matanya, tangannya berusaha bergerak kembali, mendorong-dorong sesuatu kemudian berusaha mencekik dirinya sendiri.
Lily membulatkan matanya terkejut, "Baekhyun hentikan! Hentikan nak!" Lily berujar lalu menahan tangan Baekhyun dalam pelukannya.
"Jika kau mendekat, maka lebih baik aku mati!" racau Baekhyun semakin kacau dalam tidur panjangnya, dia memang terlihat seperti seseorang yang tidur dan sedang bermimpi buruk, namun dia tak akan pernah terbangun dari mimpi buruk itu, karena saat ini jiwanya sedang terjebak dan hanya matenya lah yang mampu membebaskannya dari mimpi buruk itu.
"Baekhyun, nenek mohon tenanglah, tenanglah nak." Ujar Lily semakin lirih, dia memeluk tubuh mungil itu semakin erat, mengunci pergerakan tangan si mungil yang ingin mencekik dirinya sendiri.
Dengan kekuatannya, Lily berhasil mengikat kedua tangan Baekhyun di sisi ranjang, kakinya juga dia ikat karena si mungil berusaha meronta.
Lily menatap cucunya sedih, dia sebenarnya tak ingin mengikat tubuh mungil dan lemah itu, namun jiwa Baekhyun terjebak, bahkan jika ia mecoba membangunkan sosok itu hingga menangis darah, mengguncang tubuhnya dengan sangat kuat, memohon agar cucu kesayangannya segera bangun dan melupakan mimpi buruknya, Lily tak bisa.
Wanita tua cantik itu tak bisa melakukan apapun untuk cucu mungilnya, dia mendudukan dirinya di kursi bundar yang terbuat dari kayu di samping ranjang tempat cucunya terbaring, dia menundukan wajahnya, menangis dalam diam.
Sementara sosok mungil dihadapannya terus meracau dengan keadaan semakin parah, Lily menangis melihat keadaan cucu kesayangannya, dia berusaha untuk menghentikan penderitaan Baekhyun dengan menyuntikan obat penenang.
Namun bukannya tenang, sosok mungil itu malah semakin meracau tak jelas, jiwanya ketakutan terjebak dalam mimpi buruk yang abadi, jiwanya meraung meminta di selamatkan dari mimpi buruk yang menjebaknya.
Tubuh mungil nan ringkih itu menolak segala macam obat yang di suntikan padanya, Baekhyun hancur, di luar maupun di dalam, baik jiwanya maupun tubuhnya, semua hancur, terjebak dalam mimpi buruk yang abadi.
"Menjauh...Lepaskan aku..." si mungil masih setia meracau, matanya tetap terpenjam, dia tak di izinkan untuk terbangun dari mimpi itu.
Lily semakin menundukan wajahnya, air mata kesedihan mengalir deras membasahi kedua pipinya.
"Baekhyun, maafkan nenek, seharusnya nenek menolak permintaan ayahmu untuk menyelamatkanmu waktu itu, meski nenek berhasil mengatasi kondisi kritismu, namun jiwamu terjebak, nenek tahu itu, seharusnya nenek membiarkanmu-" Lily memutus perkataannya.
Wanita tua itu kembali menitikan air matanya, dengan berat hati dia kembali melanjutkan perkataannya, "Seharusnya nenek membiarkanmu mati, jika nenek tau kau akan semenderita ini, nenek tak akan menyelamatkanmu, nenek-" kembali dia menghentikan ucapannya.
Dia menghela nafas berat, menatap cucunya yang masih setia meracau dan meronta itu sendu, lalu setelahnya kembali bersuara melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong, "Nenek merasa telah salah mengambil keputusan."
Lily mengangkat kedua tangannya, menutupi wajahnya frustasi, kemudian dia bersuara, "Apa yang harus nenek lakukan Baekhyun? Apa yang harus nenek lakukan untuk menghentikan penderitaanmu?" ujarnya frustasi.
00000
000
0
Kembali ke tempat dimana Chanyeol dan Baek Gi berada, Klozeus.
"Baiklah, aku akan memulai ceritaku." Ujar Baek Gi agak serius.
Chanyeol menganguk, tanda dia siap mendengarkan.
"Seperti semua Alpha yang terlahir dalam keluarga kerajaan, aku adalah satu-satunya keturunan Alpha yang di miliki oleh ayahku, aku terlahir kembar, kembaranku bernama Baek Hee." Ujar Baek Gi memulai cerita.
Chanyeol terkejut mendengar pernyataan Baek Gi, tak ada yang pernah mengatakan bahwa dia memiliki kembaran, bahkan sejarah tak mencatat kembaran Baek Gi yang bernama Baek Hee itu.
"Kau terkejut?"
"Ehem..." Chanyeol berdeham canggung, tak menyangka leluhurnya mengetahui keterkejutannya.
Baek Gi tersenyum kemudian kembali bersuara, "Tentu saja kau akan terkejut, tak ada yang mengetahui keberadaan Baek Hee, dunia tidak tahu bahwa dia pernah ada dan terlahir bersamaku." Ujarnya lirih.
"Mengapa tak ada yang tahu?" tanya Chanyeol penasaran.
"Karena tak boleh ada yang tahu tentangnya."
"Atas dasar apa? Apa alasannya?"
"Karena dia adalah sebuah tragedi."
"Apa maksud kakek? Dimana dia sekarang?"
"Dia sudah tiada, aku yang membunuhnya, semua itu adalah tragedi yang di sebabkan oleh makhluk menjijikan sepertiku." Ujarnya lirih.
Chanyeol tertegun, tak di sangkanya kenyataan bisa semengejutkan ini.
"Kenapa kakek membunuhnya?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Karena aku mencintainya." Ujar Baek Gi lirih.
"Jika kakek mencintainya, mengapa membunuhnya?" tanya Chanyeol semakin tak mengerti.
"Karena dia berbahaya." Ujar Baek Gi lirih.
"Apa maksud kakek? Aku tak mengerti." Ucap Chanyeol lagi.
Baek Gi tersenyum, sebelum dia sempat menjawab pertanyaan Chanyeol, ruangan tempat mereka berada berguncang, dia tahu ada sesuatu yang terjadi, dengan cepat dia melesat ke ujung ruangan dimana terdapat dua buku yang melayang dan tak jauh dari sana ada sebuah kolam dengan air yang jernih.
Baek Gi berjalan menuju ke arah kolam.
Chanyeol yang sempat terkejut dengan guncangan itu mengalihkan perhatiannya pada Baek Gi yang melesat ke ujung ruangan, detik selanjutnya dia bersuara, "Kakek?" nadanya terdengar agak ragu.
"Bodoh." Ujar Baek Gi menampilkan wajah datarnya.
Detik selanjutnya dia menghilang, meninggalkan Chanyeol sendirian di ruangan itu.
"Kakek Baek Gi?! Kakek mau pergi kemana?" ujar Chanyeol setengah berteriak, namun tak ada balasan dari leluhurnya itu.
"Haiishh!"
Chanyeol kesal, dia berjalan mendekati kolam tempat Baek berdiri semula, matanya menangkap dua sosok yang dia kenal, "Paman Dae won dan bibi Won Hi?" gumamnya pelan.
00000
000
0
Di tempat lain, di Klozeus lainnya, dimana Dae Won dan Won Hi sedang berusaha membawa buku catatan milik Baek Gi, mendadak buku itu bersinar dan sinarnya melukai kedua vampire itu.
"Apa yang terjadi?" ujar Won Hi dengan nada panik.
"Aku tak tahu." Ujar Dae won berusaha bangkit.
Baek Gi tiba-tiba muncul di depan kedua vampire itu membuat keduanya terkejut setengah mati.
"K-ka-kau?" ujar Dae won terbata, dia kehilangan kemampuannya untuk bersuara.
Sementara Won hi jatuh terduduk, seketika dia kehilangan tenaganya untuk berdiri karena terlalu terkejut, "Tidak mungkin." Gumamnya ketakutan.
Baek Gi mengambil buku catatannya yang tergeletak di tanah, menatap kedua vampire dihadapannya datar.
"Bukankah ini buku catatan milikku?"
Kedua vampire itu bungkam, mereka dia seribu bahasa, tak sanggup bersuara.
"Mengapa diam? Aku tanya, bukankah ini buku catatan milikku?" ujar Baek Gi lagi dengan nada sedikit tinggi dan tangan yang mengangkat buku bersampul coklat bertuliskan namanya itu tinggi-tinggi.
"Apa yang kau lakukan disini?! Bukankah kau sudah mati?" Ucap Dae won yang berhasil mengatasi keterbungkamannya.
"Jawab dulu pertanyaanku." Ujar Baek Gi datar.
"Kalau itu bukumu memangnya mengapa?" ujar Dae Won menantang, sementara Won Hi beringsut menjauh, wanita itu ketakutan.
"Aku tak pernah ingat meminjamkan benda penting ini padamu." Ujar Baek Gi dingin.
"Apa peduliku?! Katakan apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sudah mati?!" tanya Dae won berusaha untuk berani.
"Mati?" ujar Baek Gi terkekeh, "Sayangnya aku belum mati." Ujarnya lagi sambil tersenyum merendahkan.
"Tidak mungkin! Aku yakin kau sudah mati! Kau palsu! Kau bukanlah dia!" ujar Dae Won mulai histeris.
Baek Gi meraih dagu Dae won, mencengkramnya dengan kuat, kemudian membuat pria itu menatap matanya, "Apa kau sungguh berharap aku mati wahai keturunanku tersayang?" ujarnya membuat Dae Won takut setengah mati.
"Ti-tidak mungkin." Ujar Dae won dengan mata kosong seolah kehilangan jiwanya.
"Apa yang ingin kalian lakukan dengan buku ini?" tanya Baek Gi sarkastis.
Keduanya bungkam, mereka berdua dilanda shock hebat, Dae won terduduk dengan tatapan kosong sementara Won Hi terduduk ketakutan.
Baek Gi terkekeh, kemudian kembali bersuara, " Kalian ingin membawa buku ini keluar dari sini, benarkan?"
Kedua vampire itu masih bungkam.
"Jawab!" ujar Baek Gi membentak membuat keduanya semakin ketakutan.
"Be-benar." Ujar Won Hi terbata, dia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Kalian sudah keterlaluan kali ini." Ujar Baek Gi dingin.
"Ma-" ucapan Won Hi terpotong kala Baek Gi bersuara, "Mau kuberitahu sebuah rahasia?" ujarnya tersenyum mengerikan.
"A-apa itu?" ujar Dae Won yang telah mengembalikan kesadarannya.
"Hmm...aku sebenarnya sayang pada kalian, saaaaangaaaat sayang." Ujar Baek Gi memulai.
Kedua vampire itu bungkam, tak mengerti perkataan Baek Gi.
"Namun kalian kali ini sudah keterlaluan, jadi aku harus memusnahkan kalian." Ujar Baek Gi dingin.
"A-aku tak mengerti." Ujar Dae Won menanggapi perkataan dingin Baek Gi.
"Kalian tahu? Klozeus yang kalian kunjungi saat ini bukanlah Klozeus yang asli." Ucapan Baek Gi sukses membuat kedua vampire di hadapannya tercengang.
"Sungguh licik bagi kalian untuk mengikutiku dan menemukan Klozeus, menyalahgunakan grimoir dan catatanku untuk keuntungan pribadi kalian dan Dark Blood, aku selama ini terperangkap tapi sekarang aku sudah bebas, dan kalian melakukan kesalahan besar dengan berusaha membawa catatanku pergi dan membuatku marah." Ujarnya lagi.
"A-a-am-ampuni kami." Suara Won Hi terdengar begitu ketakutan memohon ampunan pada sang vampire legendaris yang murka pada mereka.
"Kalian sudah banyak membuat orang menderita, terutama kesayanganku, keturunan ke-7, harapanku, kalian tega memisahkan mereka, kalian memang keturunanku tapi tidak lebih berharga dari keturunan ke-7 milikku, dan kalian telah banyak melukai mereka, sekarang saatnya sedikit keadilan bertindak." Ujar Baek Gi tenang.
"A-ampuni kami." Kali ini Dae Won yang bersuara, namun keadilan tetaplah harus di tegakan, takdir keduanya harus berhenti sampai di sini, di tangan leluhur mereka sendiri.
"Maafkan aku, selama ini aku sudah cukup sabar dengan memaafkan segala kesalahan kalian di masa lalu, namun kalian tetap serakah, dan kalian menyulut kemarahanku dengan berusaha membawa buku ini pergi." Ucap Baek Gi pada kedua vampire yang terlihat sangat ketakutan itu.
"Selamat tinggal."
Perkataan itu menutup percakapan mereka dengan Baek Gi yang melemparkan sebuah cahaya, lebih tepatnya api berwarna ungu, api permurnian, seketika Dae Won dan Won Hi lenyap di telan api itu, hari itu mereka membuat kesalahan terbesar seumur hidup mereka, hari itu hidup kedua vampire yang hatinya tertutupi oleh dendam itu berakhir.
Baek Gi tak ingin mengakhirinya seperti ini, tiap kali dia harus melenyapkan keturunannya itu sangat menyakitkan, benar-benar menyakitkan, terasa seperti kutukan.
Dia tak punya pilihan lain selain mengakhiri hidup kedua vampire itu, sebelum mereka melukai lebih banyak orang, sebelum mereka benar-benar berubah menjadi monster, meski pada kenyataannya Baek Gi terlambat, mereka memang sudah berubah menjadi monster, walaupun demikian, Baek Gi berharap setidaknya kedua vampire itu tak bisa lagi menyentuh keturunan langsungnya.
Baek Gi menghela nafas berat, dia menjentikan jarinya dan seketika ruangan yang Dae Won dan Won Hi sebut sebagai Klozeus itu runtuh, rata oleh tanah dan menghilang detik itu juga.
00000
000
0
"Inilah yang terjadi setelah pendonoran sperma dilakukan."
Di tempat lain Chanho mulai membuka suara.
"Apakah ini benar karena benih kutukan?" ujar Yunhoo tak percaya.
"Entahlah, aku tak yakin." Ujar Chanho ragu.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yunhoo khawatir.
Chanho menghela nafasnya lelah, dia lelah dengan semua yang terjadi, semua begitu tiba-tiba.
Arrrgghhh!
Tiba-tiba terdengar jeritan lagi, jeritan itu makin lama makin kuat dan berlomba-lomba, semua anak omega milik Chanho yang berada di ruangan itu kembali merasakan sakit yang luar biasa, mereka meraung kesakitan.
Kembali, sekali lagi rumah sakit dilanda kepanikan hebat, para dokter mulai berdatangan di dampingi oleh suster mereka, masing-masing mengecek keadaan anak-anak omega milik Chanho.
Chanho mengepalkan tangannya kuat, bersiap menerima kemungkinan terburuk meski terselip rasa takut yang besar di sana, dia berusaha untuk kuat, dia berusaha untuk tegar.
Yunhoo ikut membantu, dia memeriksa keadaan salah satu anak omega Chanho, dia di buat terkejut setengah mati, tidak salah lagi, benih itu memang adalah benih kutukan, benih yang membuat orang meregang nyawa.
Benih itu seolah mencari mangsa, memakan sisa kehidupan milik para anak omega Chanho hingga mereka akan berakhir dengan kehilangan nyawa mereka, benih yang sangat berbahaya.
Dengan wajah sedih dan terluka Yunhoo bangkit dan menggelengkan kepalanya ke arah Chanho, menandakan tak ada harapan, mereka semua, para anak omega Chanho akan mati.
Chanho tak dapat membendung air matanya, dia tak bisa lagi berpura-pura kuat dan tegar, dia akan kehilangan putra-putrinya, mereka yang terlahir dari benih, mereka yang tak pernah benar-benar dia perlakukan layaknya anak karena jumlah mereka yang terlampau banyak, walau begitu Chanho tetap menyayangi mereka.
Yunhoo berjalan ke arah Chanho, memeluknya erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang dia miliki, berharap Chanho kuat menghadapi semua yang terjadi.
Raja para vampire itu menangis dalam pelukan sang kakak, dia sebentar lagi akan kehilangan putra-putrinya yang dia cintai, dia kehilangan mereka hanya karena keegoisannya ingin menimang cucu, mereka kehilangan nyawa mereka hanya karena keinginan konyolnya itu.
"Sudahlah, ini bukan salahmu." Ujar Yunhoo berusaha menenangkan Chanho.
Beberapa menit setelah itu, jeritan kesakitan para omega itu terdengar lagi setelah tak lagi terdengar, Chanho menutup matanya dan Yunhoo juga menutup matanya.
Mereka tahu bahwa para omega malang itu telah pergi untuk selamanya, Chanho dan Yunhoo melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana mereka meregang nyawa, bagaimana mereka berteriak kesakitan lalu setelahnya perlahan tapi pasti terlelap, terlelap untuk selamanya.
Yunhoo melihat para keponakannya pergi untuk selamanya sementara untuk Chanho para anak omeganya meregang nyawa di hadapannya karena keegoisannya, membuatnya marah pada dirinya sendiri.
Namun nasi sudah menjadi bubur, apa yang pecah tak bisa di perbaiki lagi, meski bisa tak akan sebagus sebelum benda itu pecah, penyesalan memang selalu datang di akhir, maka hati-hati dalam mengambil keputusan, karena kehidupan tak memiliki tombol reset di dalamnya.
00000
000
0
Sementara di tempat lain, di White Island.
Lily mencoba menguatkan dirinya, tak ada gunanya menangisi keadaan, dia tak bisa membiarkan Baekhyun semakin menderita.
"Yunhoo." Panggilnya melalui telepatinya.
Yunhoo yang tengah berduka terkejut menerima telepati dari ibunya, namun dia segera menjawab karena dia tahu itu pasti hal yang penting.
"Ada apa ibu?"
"Kemarilah, kau harus melihat keadaan putramu."
"Apa yang terjadi pada Baekki bu?"
"Dia mengamuk, terjebak dalam mimpi buruk abadinya."
Yunhoo terhenyak, hatinya sakit, ini semua terjadi karena dirinya.
"Ada apa Hyung?" ujar Chanho yang melihat perubahan mimik wajah Yunhoo.
"Baekhyun mengamuk, namun jiwanya terjebak, dia mengalami mimpi buruk yang abadi, apa yang harus aku lakukan?" ujar Yunhoo dengan wajah sendu.
Chanho terdiam, Yunhoo kembali bersuara, "Ibu menyuruhku kembali ke White Island, tapi aku tak mungkin meninggalkanmu yang saat ini sedang berduka, katakan ho, katakan apa yang harus aku lakukan?" ujar Yunhoo frustasi.
"Bawa dia kembali." Ujar Chanho mantap.
Yunhoo terdiam.
"Bawa dia kembali, ini titah raja."
00000
000
0
Chanhee yang memutuskan untuk menenangkan dirinya, mendengar kabar menyedihkan dari istana.
Ratu cantik itu bergegas untuk kembali ke istananya, melakukan penghormatan terakhir untuk anak-anak omeganya, meski mereka tidak terlahir dari rahimnya, namun mereka tetaplah anaknya, karena dia adalah permaisuri sang raja.
Chanhee menghela nafas berat, kemudian bersuara, "Di saat aku sedang menenangkan diri dan jauh dari istana, mengapa hal ini bisa terjadi?" ujarnya dengan nada sedih.
00000
000
0
Sementara di Klozeus yang sesungguhnya, Chanyeol terus memperhatikan kolam itu, menatap tak percaya apa yang telah Baek Gi, leluhur ke-3nya itu lakukan.
Chanyeol memang bisa berteleportasi seperti Baek Gi, namun karena dia tak tahu dimana tempat yang Baek Gi datangi, jadi dia hanya menunggu di ruangan itu dan memperhatikan apa yang Baek Gi lakukan dari kolam itu.
"Kau terkejut?" ucap Baek Gi setelah kembali ke Klozeus yang asli, dimana Chanyeol berada.
"Sedikit." Ucap Chanyeol jujur.
"Kau kenal mereka?"
"Ya."
"Apa kau marah aku membunuh mereka?"
"Tidak."
"Mengapa?"
"Itu hakmu."
"Apa kau tahu alasanku membunuh mereka?"
Chanyeol menatap Baek Gi sebentar lalu mengalihkan tatapannya pada tangan Baek Gi.
"Karena sebuah buku?" ujar Chanyeol tak yakin.
Baek Gi tersenyum, Chanyeol, keturunan ketujuhnya benar-benar pintar.
Detik selanjutnya vampire legendaris itu membawa Chanyeol kembali mendekat ke kolam dan menampilkan kembali apa yang telah terjadi sebelum, ketika dia memusnahkan Dae Won dan Won Hi, namun kali ini suara percakapan mereka bisa Chanyeol dengar dengan jelas.
Chanyeol terkejut, bola matanya membulat, kemudian dia bersuara, "Me-mereka bagian dari Dark Blood?" ucapnya tak percaya.
"Benar." Jawab Baek Gi cepat.
"Aku makhluk yang buruk, tak layak hidup di dunia ini, aku membahayakan semuanya, aku mengecewakan ayahku dan gagal menyelamatkan keturunanku." Baek Gi kembali berucap dengan lirih.
"Seburuk itukah?" ujar Chanyeol sedikit terenyuh.
"Tentu, sangat, sangat buruk, aku benar-benar buruk."
"Sudikah kakek menceritakan apa kesalahan kakek?" tanya Chanyeol hati-hati.
Baek Gi diam, tak menyangka Chanyeol akan berkata seperti itu, kemudian dia mengangguk, tak ada lagi yang perlu di tutupi, memang hanya Chanyeol dan matenyalah harapannya satu-satunya, keturunan ke-7nya lah harapan yang dia miliki di tengah keterpurukannya.
"Berjanjilah kau tak akan marah dan bersedia membantuku." ujar Baek Gi meminta Chanyeol berjanji dengan wajah serius.
"Mengapa aku harus marah?" ucap Chanyeol tak mengerti.
"Karena ini juga menyangkut tentangmu, berjanjilah. Apa kau bersedia?" ujar Baek Gi kembali meminta Chanyeol untuk berjanji padanya.
Walau terlihat agak ragu, Chanyeol, pangeran tampan itu mengiyakan dan berjanji pada leluhurnya.
"Aku berjanji." Ujar Chanyeol tak yakin.
"Aku mendengar keraguan dalam suaramu." Ujar Baek Gi pada Chanyeol membuat pangeran tampan itu terkejut.
"Aku-aku ber-" ucapan Chanyeol terpotong kala Baek Gi kembali berujar.
"Jika kau tak mampu tak mengapa, aku tak akan memaksamu, tapi..." Baek Gi menghentikan ucapannya lalu menghela nafas berat, kemudian dia menatap Chanyeol dan melanjutkan ucapannya, "Aku tak bisa memberitahumu mengenai kisah ini."
Chanyeol terkejut, matanya membulat, sebesar itukah arti janji Chanyeol bagi leluhur di hadapannya ini? Apa sebenarnya yang Baek Gi takutkan? Chanyeol tak mengerti, namun firasatnya mengatakan bahwa cerita mengenai dirinya ini adalah cerita yang fatal, dan jika dia tak bisa mengendalikan emosinya, Chanyeol merasa Baek Gi yakin bahwa dirinya pasti akan marah besar.
Memangnya apa yang bisa membuatnya marah besar? Chanyeol tak mengerti.
Chanyeol mengepalkan tangannya erat, meredam semua rasa yang dia miliki, menyalurkan keyakinan pada hatinya, kemudian dia kembali bersuara, "Aku berjanji."
Tak ada lagi keraguan terdengar dari nada bicaranya, Chanyeol yakin mampu menahan emosinya.
"Aku lalai untuk yang kedua kalinya." Ujar Baek Gi memulai cerita.
Chanyeol hanya diam mendengarkan cerita dari leluhur ke-3nya itu.
"Mereka mengikutiku dan mengetahui keberadaan Klozeus, mereka membaca buku catatanku dan mengetahui mengenai ramalan sang harapan, mereka berusaha mencari sang harapan dan membunuhnya." Baek Gi menghentikan sejenak ucapannya.
"Mereka berusaha mencari namun tak menemukan hasilnya, mereka tak bisa menemukan sang harapan, saat itu mereka kembali menyelinap dan aku lagi-lagi lalai, mereka mengetahui keberadaan grimoir dan menyalahgunakan buku ramalan itu sehingga buku itu marah."
"Aku berusaha menahan kekuatannya dan berjanji akan menemukan tuannya yaitu sang harapan, aku membuat Klozeus yang baru di dimensi lain, aku meminta grimoir meninggalkan sedikit kesadarannya di Klozeus yang lama, agar mereka tak curiga bahwa Klozeus yang mereka ketahui bukan lagi Klozeus yang sesungguhnya, dengan kata lain Klozeus palsu."
"Grimoir bersedia melakukannya, dia membuat ramalan yang sesuai agar mereka percaya, namun ramalan itu adalah halusinasi mereka, grimoir berusaha melindungi tuannya dengan menyesatkan mereka melalui ramalannya."
"Suatu malam malapetaka terjadi, grimoir terlalu senang dengan kehadiran tuannya yang selama ini dia tunggu, hingga dia juga ikut bersinar di Klozeus palsu dan memberitahu mereka mengenai kelahiran sang harapan, dua bayi kembar yang terlahir pada malam dua bulan."
Chanyeol terkejut, dia terlahir pada malam dua bulan.
"Bayi itu aku dan kembaranku?" tanya Chanyeol semakin penasaran.
"Kau benar, namun takdir berkata lain, pada malam yang sama, dua bayi kembar lainnya juga terlahir."
"Apa itu Baekhyun dan kembarannya?"
Baek Gi terkejut, kemudian bersuara, "Kau mengenal Baekhyun?"
"Kurasa." Jawab Chanyeol tak yakin.
Baek Gi berdeham, tak menyangka bahwa Chanyeol akan menyebutkan Baekhyun.
"Apa kalian dekat?" tanya Baek Gi penasaran.
"Tidak terlalu." Jawab Chanyeol seadanya, memang dia dan si mungil tak terlalu dekat.
Baek Gi menampilkan raut kecewa yang tak di sadari oleh Chanyeol.
"Bisa kita lanjutkan?" tanya Baek Gi lagi.
Chanyeol mengangguk, kemudian bersuara, "Tentu."
Belum sempat Baek Gi melanjutkan ceritanya, sebuah suara muncul di kepala Chanyeol.
"Chanyeol kau dimana? Cepat pulang nak."
Itu suara telepati dari Chanho.
Chanyeol mengernyit, tak biasanya ayahnya menyuruhnya pulang, terlebih dia sedang sibuk dengan proses pendonoran sperma tak jelas yang sedang dilaksanakannya itu.
"Ada apa ayah? Apa ada yang terjadi? Bukankah kau sedang melakukan proses pendonoran sperma sekarang?" tanya Chanyeol dalam telepatinya.
"Cepat pulang nak, keadaan darurat di istana."
"Baik ayah."
Chanyeol sedikit terkejut dengan perkataan sang ayah, namun dia tetap menjawab melalui telepatinya.
"Ada apa nak? Apa ada yang terjadi?" ucap Baek Gi ketika melihat Chanyeol terdiam, dia tahu bahwa cucu buyunya itu sedang menerima telepati dari seseorang.
"Tak ada."
"Jangan berbohong."
"Aku tak tahu, ayah menyuruhku pulang segera, dia bilang istana sedang dalam keadaan darurat."
"Kalau begitu pulanglah, aku juga harus beristirahat." Ujar Baek Gi tenang.
"Tapi, kakek, kau belum selesai bercerita."
Baek Gi tersenyum, kemudian dia berkata, "Kau bisa datang lagi besok atau nanti setelah urusanmu selesai, aku akan menunggumu di sini."
"Oh iya kek, apa ini dimensi lain?"
"Benar nak, bagaimana kau mengetahuinya?"
"Oh...aku punya satu yang seperti ini, aku menamai dimensi itu bulan biru, dimensi yang aku buat khusus untuk mengenang kembaranku yang telah tiada."
"Manis sekali, kau sungguh romantis cucuku." Ujar Baek Gi menggoda.
"Hentikan kek! Biar bagaimanapun dia adalah cinta pertamaku, tentu aku harus membuatkan dimensi untuk mengenangnya walau dia telah tiada, tapi dia sangat berharga."
Baek Gi tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa nama dimensi ini kek?"
"Tulip." Ujar Baek Gi sembari tersenyum.
"Dimensi ini adalah dimensi tulip putih." Ulangnya kembali.
Chanyeol mengangguk mengerti, kemudian menghilang, dia akhirnya bisa membuka portal setelah tahu nama dimensi itu dan tentunya setelah mendapat izin dari Baek Gi, sang pemilik dan pencipta dimensi itu.
Setelah kepergian Chanyeol, Baek Gi menatap sendu ke arah kolam yang menampakan dua sosok yang sedang berada di tempat berbeda, Chanyeol yang tengah terbang kembali ke tempat ayahnya berada dan Baekhyun yang tengah berbaring.
"Chanyeol, anakku sayang, dia, kembaranmu masih hidup dan kau tak menyadarinya jika kau telah bertemu dengannya." Ujarnya lirih.
Kemudian kolam itu berubah menampakan ke-45 saudara omega Chanyeol yang terbaring kaku di tengah taman yang luas.
"Pada akhirnya memang ini harus terjadi, akan ada korban yang berjatuhan, akan ada korban setelah yang terpilih di pisahkan." Ujarnya kembali dengan nada lirih.
"Ahh...Baek hee aku lelah." Ujar Baek Gi kembali sembari menutup matanya dan berbaring di tempat tidur transparant di ujung ruangan itu.
00000
000
0
Kembali ke White Island, Lily saat ini masih memandangi tubuh lemah Baekhyun yang masih terus meronta, seolah tiada akhir untuk mimpi buruknya.
Wanita tua itu memikirkan perkataan Yunhoo padanya, bahwa Chanho memerintahkan mereka untuk membawa Baekhyun kembali, membawa si mungil kembali ke Grandeus, ibu kota kerajaan negeri vampire.
Yunhoo berkata bahwa itu adalah titah raja, mereka tak bisa melakukan apapun, dan satu lagi yang membuat Lily berat adalah dia juga harus ikut kembali ke Grandeus.
Cukup lama wanita tua itu terlarut dalam fikirannya, hingga akhirnya dia bangkit dari duduknya, dia mengepalkan tangannya kemudian mengangguk mantap, wanita tua itu telat membulatkan tekadnya, demi Baekhyun dia bersedia kembali, apapun akan dia lakukan untuk cucu malangnya itu.
Tak berapa lama Yunhoo muncul dengan prajurit kerajaan yang tak bisa di katakan sedikit.
"Mengapa membawa prajurit sebanyak ini?" tanya Lily tak mengerti.
"Bukankah kita berdua saja sudah cukup untuk membawanya kembali?" lanjutnya lagi.
"Ini titah raja, tentu saja prajurit akan ikut menjemput Baekhyun mah, lagipula ini juga untuk keamanannya."
"Apa maksudmu?"
Yunhoo tak menjawab, dia malah berkata, "Sekarang dimana dia? Dimana putra manisku?" ucap sembari berjalan kedalam menuju sebuah ruangan.
Lily menyusulnya dari belakang, sementara para prajurit menunggu di luar menjaga tandu kerajaan yang akan di gunakan untuk membawa si mungil.
Yunhoo tercengang melihat pemandangan di hadapannya, kaki dan tangan putranya di ikat di sisi ranjang, sementara racauan menyedihkan serta ketakutan terus keluar dari mulut manisnya, tangan dan kakinya meronta meminta untuk di lepaskan, dan tak ada yang bisa Yunhoo lakukan untuk meringankan beban penderitaan putranya, bahkan untuk sekedar membuatnya terbangun dari mimpi buruk itu, Yunhoo tak bisa.
"Baekhyun." Ujar Yunhoo jatuh terduduk, dia kehilangan semua kekuatannya untuk berdiri, dia terlalu terkejut dan sedih, melihat kondisi putranya yang begitu menyedihkan seolah kematian lebih baik untuknya.
"Penderitaan apa lagi yang harus kau alami nak? Mengapa ini bisa terjadi? Maafkan ayah nak, maafkan ayah, ini salah ayah." Ujar Yunhoo terus menyalahkan dirinya, dia kembali menjadi lemah dan tak berdaya.
"Hentikan Yunhoo, ini bukan salahmu, ini salah ibu, seharusnya ibu tak menerima permohonanmu jika pada akhirnya jiwa Baekhyun akan terjebak selamanya dalam mimpi buruk abadinya itu, ibu seharusnya membiarkan Baekhyun ma-ma-" Lily berucap di ujung kalimat sebelum dia mengatakan kalimat mengerikan itu dia sempat terbata, seolah tak sanggup mengatakan kata-kata yang begitu menyakitkan itu, tak hanya menyakiti semua orang tapi juga menyakiti dirinya.
"Hentikan ibu!" Yunhoo dengan cepat memotong ucapan Lily sebelum kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut ibunya.
"Jangan salahkan dirimu, aku yang memohon padamu, mengapa kau menyalahkan dirimu?" ujar Yunhoo frustasi, air mata yang sejak tadi berusaha dia bendung menerobos keluar, akhirnya dia tak sanggup lagi menahannya dan tetesan air mata kesedihan serta kesakitan itu keluar dengan tidak berperasaannya.
Sementara Lily hanya menatap sendu ke arah putranya, kemudian dia bersuara, "Itu karena kau begitu menyalahkan dirimu, ibu tak sanggup nak, ibu tak sanggup melihat kau hancur, kau harus kuat demi putramu Baekhyun, saat ini dia butuh dirimu."
"I-ibu." Yunhoo terbata, tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata, ini semua terlalu menyakitkan, melihat kedua mata lelah itu dihiasi air mata kesedihan, wanita yang telah melahirkannya menangis karenanya, sorot matanya terlihat begitu terluka.
Mengapa ini harus terjadi? Mengapa takdir begitu kejam? Semua ini terlalu menyakitkan, seolah dunia sedang berkata bahwa 'Ini adalah hukumanmu' pada Yunhoo.
Pria paruh baya itu memejamkan mata tak sanggup melihat wajah terluka milik ibunya, entah sudah berapa banyak dia membuat wanita itu menangis, entah harus berapa banyak lagi air mata yang tumpah agar mereka bisa meraih kebahagiaan itu, mereka akan senang meski itu hanya kebahagiaan semu, mereka tak peduli asalkan kebahagiaan datang menghampiri.
"A-a-ampuni aku." Racauan Baekhyun menghentikan moment menyakitkan diantara ibu dan anak itu.
Keduanya menoleh ke arah tubuh ringkih itu, bibir pucatnya kembali meracau tak jelas, tangan dan kakinya berusaha meronta, Yunhoo dan Lily menatap tubuh mungil nan lemah itu sendu, kesedihan yang tak berujung kembali mereka rasakan, kesakitan yang seolah menusuk hati dan jantung mereka hingga rasanya sangat sulit untuk bernafas.
Mereka tak bisa membayangkan sesakit apa Baekhyun, mereka yang melihatnya saja sudah sangat terluka, bagaimana Baekhyun yang merasakan mimpi buruk abadi itu? Apa sebenarnya yang vampire mungil itu lihat dan hadapi?
Cukup lama keduanya terdiam melihat tubuh Baekhyun dan racauannya, tenggelam dalam kesedihan yang mendalam, terhanyut dalam pemikiran masing-masing hingga jeritan Baekhyun terdengar.
"BUNUH AKU! BUNUH!"
Teriakan itu sungguh mengerikan, tubuhnya kembali mengeluarkan cahaya berwarna ungu, membuat Yunhoo dan Lily tercengang.
"Ibu!" Yunhoo berteriak, meminta Lily untuk menenangkan Baekhyun.
Lily ragu, haruskah dia menenangkan Baekhyun seperti yang dia lakukan sebelumnya ataukah membiarkan cucu tersayangnya itu mati agar penderitaannya berakhir, dia bimbang, dia ragu, dia khawatir keputusannya akan salah lagi, dia takut.
Mata tua itu terpejam, perlahan tapi pasti air mata mengalir keluar membasahi wajah lelah itu.
"Ibu! Tolong ibu, kumohon!" Yunhoo kembali berteriak.
Lily hanya terdiam, tenggelam dalam keraguan dan kebimbangan yang dia rasakan.
"Ibu!" teriak Yunhoo lagi, lelaki paruh baya itu mengalihkan perhatiannya pada ibunya, dia tercengang melihat wanita tua itu menutup matanya dan air mata mengaliri wajah lelahnya.
Detik selanjutnya Lily membuka mata, matanya bertemu dengan mata milik Yunhoo, dia tersenyum.
"I-i-ibu." Yunhoo terbata, kemudian melanjutkan perkataannya, "Ja-jangan bilang kau ingin-"
Lily hanya diam, air mata semakin deras mengalir di wajahnya, sorot matanya terlihat sangat terluka, bimbang dan rapuh, sorot mata ketakutan yang kentara.
Yunhoo jatuh terduduk di hadapan ibunya, dia berlutut di hadapan wanita tua itu, kemudian bersuara, "I-Ibu aku mohon jangan bu."
"Kita harus mengakhiri penderitaannya nak." Ujar Lily lembut sembari menepuk kepala Yunhoo yang berada sejajar dengan pinggangnya.
"Ti-tidak adakah cara lain bu?" ujar Yunhoo terbata, air mata kembali menghiasi wajahnya.
"Ibu tak tahu." Ujar Lily sedih.
"Pa-pasti ada caranya bu, a-aku tak ingin kehilangan lagi bu, dia satu-satunya yang kumiliki, aku bahkan belum menebus semua dosaku, aku belum meminta maaf lagi atas kesalahanku, aku belum membuat Baekhyun bahagia bu." Ujar Yunhoo sedih, perkataan yang mampu menyayat hati yang mendengarkannya.
Hati Lily sakit, bagai di hujam ribuan pisau tak kasat mata, putranya hancur di depan matanya, dia semakin ragu untuk mengambil satu-satunya Yunhoo miliki, dia juga begitu menyayangi Baekhyun, dia tak sanggup membiarkan cucu tersayangnya itu mati, tapi dia lebih tak sanggup jika membiarkannya terperangkap dalam penderitaan abadi.
"Ibu tak yakin nak." Lily bingung, dia putus asa.
"I-ibu." Ujar Yunhoo terisak, masih dalam posisi berlutut dihadapan sang ibu.
Di tengah kesedihan mereka, Yunhoo teringat mengenai perkataan Lily tentang mate Baekhyun, takdirnya yang akan menyelamatkan pria mungil itu.
"Ibu, bagaimana jika kita mencari mate Baekhyun?" ucapan itu meluncur dari mulut Yunhoo dan Lily yang sedikit ragu kemudian mengingat cara itu.
Wanita tua itu mengangguk ragu, namun melihat wajah bahagia Yunhoo yang seolah menemukan secercah harapan, dia akhirnya setuju dengan cara ini, dia menenangkan Baekhyun dengan kekuatannya, detik selanjut cahaya ungu itu menghilang.
"Terima kasih ibu." Ujar Yunhoo tulus.
Lily hanya bisa tersenyum.
Detik selanjutnya mereka telah pergi meninggalkan White Island dan membawa Baekhyun kembali ke Grandeus.
00000
000
0
Di istana, Chanho sedang menunggu kedatangan Yunhoo dan Lily yang tengah membawa Baekhyun kembali atas titahnya.
"Ayah." Chanyeol yang baru kembali memanggil ayahnya.
"Kau sudah pulang?" tanya Chanho pada Chanyeol, raja para vampire itu tak berniat bertanya lebih lanjut, dia terlampau lelah dengan semua yang telah terjadi.
Chanyeol mengangguk, kemudian kembali bersuara, "Apa hal darurat yang terjadi di istana ayah?"
Chanho menatap Chanyeol sejenak, sedikit ragu untuk memberitahukan putranya mengenai apa yang terjadi, namun dia tetap mengatakannya karena pangeran tampan itu berhak tahu, pada akhirnya dia harus tahu.
"Hal buruk terjadi."
"Hal buruk?"
"Ke-45 saudara omegamu mati, mereka mati karena benihmu."
Chanyeol tercengang, kemudian bersuara, "Tidak mungkin ayah, kau sedang bercandakan?" ucapnya tak percaya.
Chanho menggeleng lemah, kemudian bersuara, "Ayah harap ayah bisa mengatakan bahwa itu adalah bohong, bahwa ayah hanya bercanda, namun tak bisa nak, itu kenyataannya, mereka merengang nyawa di hadapan ayah, dan ayah tak bisa melakukan apapun."
Chanyeol terdiam, terlalu terkejut.
Chanho juga ikut terdiam.
Dalam keterdiaman mereka sebuah suara membuat mereka menoleh, itu suara rombongan yang Chanho kirim untuk menjemput Baekhyun.
"Hyung, kau telah tiba." Ujar Chanho pada Yunho.
Yunhoo hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Selamat datang ibu." Ujar Chanho memberi hormat.
Lily hanya tersenyum lembut.
Sementara Chanyeol memperhatikan sosok mungil yang terlelap di dalam tandu dan sosok lain yang duduk di samping Baekhyun.
"Ayah." Panggilan Chanyeol mengalihkan perhatian Chanho.
"Oh, perkenalkan ini putraku, Chanyeol." Ujar Chanho pada Lily.
Lily menganguk, kemudian Chanho kembali bersuara, "Chanyeol, perkenalkan ini, Byun Lily, ibu dari paman Yunhoo dan nenek dari Baekhyun."
Chanyeol menganguk tanda dia mengerti, detik selanjutnya dia kembali bersuara, "Apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah dia sedang menjalani pengobatan?" tanya Chanyeol tak mengerti sembari menatap sosok Baekhyun yang terlelap.
"Ini perintah ayah untuk membawa dia kembali."
Chanyeol ingin bertanya lagi, namun dia mengurungkan niatnya. Dia hanya diam, memendam rasa penasarannya.
"Bawa dia ke Istana Bulan." Perintah Chanho pada para pengawal.
Para pengawal mengaguk, namun Chanyeol kembali bersuara, "Tapi ayah, istana bulan itu-" ucapannya terpotong kala Chanho kembali berucap, "Ayah tahu, itu istana buatanmu untuK Chan In, setidaknya istana itulah yang paling aman untuknya karena auramu mengelilingi istana itu."
"Maksud ayah?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Dia sedang dalam kondisi yang buruk, Dark Blood juga mengincarnya, keselamatannya dalam terancam bahaya, ayah mohon padamu sekali ini saja nak, izinkan dia tinggal di sana, hanya untuk sementara."
"Aku tak mengerti, bukankah seharusnya istana Kristal jauh lebih aman? Aura ayah dan Ibu mengelilingi istana itu."
"Tidak sayang, kau fikir ayah tak tahu dengan sebutan 'Dangerous PureBlood' yang kau miliki? Ayah tahu bahwa kau bisa dengan mudah mengalahkan ayah nak, ayah pernah mencoba menghancurkan istana Bulan, namun auramu begitu kuat menjaga tempat itu, jangankan untuk menghancurkannya, mendekatinya saja ayah tak bisa jika bukan melalui izinmu."
Chanyeol tercengang, dia memang tak bisa menyimpan rahasia dari pria yang menjadi ayahnya ini.
"Hmm..." Chanyeol terlihat berfikir sejenak, kemudian bersuara, "Jika memang kondisinya sangat berbahaya, mengapa ayah tak membawanya ke dimensi Bulan Biru? Aku akan mengizinkannya."
Chanho tercengang dengan ucapan putranya, benar-benar langka bagi Chanyeol untuk menyetujui sesuatu, namun ini? Bukan hanya menyetujui, dia malah memberikan pendapatnya dan bahkan mengizinkan Baekhyun untuk tinggal di dimensi yang tak tertembus itu.
"Kau yakin nak?" Chanho bertanya pada Chanyeol, berusaha mencari kebohongan dalam mata itu, namun dia hanya melihat keseriusan di dalamnya.
Chanyeol mengangguk, dia tak tahu pasti perasaannya, mengapa dia menyarankan hal yang tak masuk akal itu pada ayahnya, seperti bukan dirinya saja, namun satu hal yang pasti Chanyeol merasa bahwa dia harus melindungi sosok mungil itu, dia harus melindungi Baekhyun, HARUS.
Yunhoo juga terkejut, penawaran Chanyeol benar-benar di luar dugaan, dia yakin pasti Baekhyunnya akan aman di dimensi itu, namun dia takut putranya akan kesepian dan tak ada yang memantaunya, jadi dia kembali bersuara, "Aku rasa istana Bulan sudah lebih dari cukup."
Ucapan Yunhoo membuat Chanho dan Chanyeol menoleh ke arahnya, "Mengapa? Apa kau tak menyukai ide Chanyeol?" tanya Chanho kecewa, sementara Chanyeol hanya terdiam.
"Tidak, tidak, tidak, aku bukannya tak menyukai ide itu, aku sangat berterima kasih, namun aku takut putraku akan kesepian dan tak ada yang memantaunya."
Chanho mengangguk, sementara Chanyeol memikirkan sesuatu yang lain, kemudian dia bersuara, " Jika memang begitu, kalian bisa membawanya ke Istana Phoenix, kali ini aku harap tak ada penolakan."
Penuturan Chanyeol membuat semua orang tercengang, tak menyangka dengan apa yang pangeran tampan nan dingin itu ucapkan.
"Tapi itu tempat pribadimu Chanyeol."
"Tak masalah, Istana Phoenix jauh lebih aman dari pada istana Bulan, auraku lebih besar di situ, dan tentu tak akan ada yang berani mendekati istanaku jika mereka masih ingin hidup, jadi bagaimana?"
"Lalu kau bagaimana? Apa kau akan tinggal di dimensi bulan biru?"
"Tidak,aku tetap akan tinggal di Istana Phoenix, aku akan memantau Baekhyun dan menjaganya."
Semua kembali di buat tercengang dengan ucapan sang pangeran, dia yang berhati dingin berkata ingin menjaga Baekhyun, sungguh terdengar mustahil.
"Kau bercanda." Ucap Chanho tak percaya.
"Aku bersungguh-sungguh." Ucap Chanyeol tenang.
"Kau tak berniat untuk memperkosa putraku lagi kan?" tanya Yunhoo memicingkan matanya curiga.
Chanyeol terkekeh, kemudian bersuara, "Tidak paman, kali ini aku ingin menjaganya, aku bersungguh-sungguh."
"Atas dasar apa kau melakukan hal ini?"
"Aku tak tahu."
"Apa maksudmu? Kau pasti memiliki alasan." Tanya Yunhoo lagi.
"Aku tak punya paman, naluriku mengatakan aku harus melindunginya, apakah jika ingin melindungi seseorang harus memiliki alasan?" ucap Chanyeol sembari menatap Baekhyun.
Yunhoo terdiam, begitu juga dengan Chanho dan Lily.
"Maafkan aku, sayangnya aku tak memiliki alasan itu, aku hanya ingin melindunginya, apakah itu salah?" tanya Chanyeol masih menatap sosok mungil yang setia terlelap di atas tandu.
"Apa kau jatuh cinta padanya?" tanya Lily, akhirnya membuka suara.
Chanyeol cukup terkejut dengan penuturan Lily, dia hanya ingin melindungi, apa itu termasuk cinta?
"Aku rasa tidak."
"Baiklah, kurasa lebih aman jika membawanya ke istana Phoenix sementara ini." Ujar Lily pada akhirnya, Chanho dan Yunhoo ikut mengangguk, tanda mereka setuju dengan keputusan Lily.
"Baiklah pengawal bawa dia ke istana Phoenix." Ujar Chanho memberikan perintah.
Chanyeol berjalan ke arah tandu, membawa tubuh mungil itu dalam gendongannya, dia menggendong si mungil ala Bridal, kemudian bersuara, "Biar aku saja."
Semua lagi-lagi di buat terkejut dengan tindakan pangeran negeri vampire itu, Lily menghela nafas berat, matanya menyiratkan luka terdalam, pikirannya melayang entah kemana, namun bibirnya mengeluarkan suara, "Chanyeol."
Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada wanita tua yang berdiri tak jauh dari hadapannya lalu menjawab dengan nada bingung, "Iya?"
"Kau yakin kau tak jatuh cinta pada Baekhyun?"
Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil dalam gendongannya, walau sempat ragu dia yakin bahwa rasa ini hanya rasa ingin melindungi bukanlah rasa cinta seperti yang sosok wanita di depannya ini ucapkan.
"Aku yakin." Jawabnya mantap.
"Bisakah kau berjanji padaku?" tanya Lily serius.
Chanyeol hanya mengangguk tanda dia mengiyakan.
"Aku minta kau berjanji padaku bahwa kau tak akan pernah jatuh cinta pada Baekhyun, kau sanggup?"
"Tentu." Ucap Chanyeol santai, dia tak memiliki perasaan lain untuk sosok dalam gendongannya ini selain rasa ingin melindungi yang kuat, karena sosok ini terlihat begitu lemah dan rapuh, lagipula dia tak membutuhkan cinta.
"Baiklah, kau bisa membawanya."
Chanyeol mengangguk, kemudian berjalan pergi membawa Baekhyun yang berada dalam gendongannya, sebelum Chanyeol berjalan lebih jauh, Lily bersuara, "Aku dan Yunhoo berencana mencari mate milik Baekhyun." Ujarnya pada Chanho.
Chanyeol mematung sebentar kemudian melanjutkan perjalanannya, sementara Lily tak mengetahui bahwa perkataannya di dengar oleh Chanyeol, sedangkan Chanyeol hanya berpura-pura tak mendengar ucapan itu, dia tetap berjalan namun dia menajamkan pendengarannya.
Satu hal yang para vampire tak tahu, Chanyeol itu memiliki banyak anugerah, salah satunya adalah pendengaran abadi, dia bisa mendengar apa saja dalam jarak sejauh apapun jika dia menghendakinya.
"Tapi bagaimana caranya?"
"Dengan darahnya."
Pembicaraan itu masih berlanjut, seiring dengan langkah Chanyeol yang berjalan semakin mendekat ke Istana pribadi miliknya, Istana Phoenix.
"Kau akan bertemu dengan matemu." Ucap Chanyeol pada sosok mungil dalam gendongannya, dia memandangi wajah terlelap itu, entah mengapa ada sedikit rasa tak rela ketika membayangkan si mungil akan bertemu dengan matenya.
DEG~
Jantung Chanyeol berdegup, terasa sakit bagai tertusuk tombak.
"Apa ini?" gumam Chanyeol.
Tanpa memperdulikannya Chanyeol kembali melangkah ke dalam Istananya.
"Kalian berjaga di luar." Ujar Chanyeol pada para pengawal, sementara dia masuk kedalam, membawa tubuh ringkih itu kedalam istananya.
Dia berjalan, kemudian masuk ke aula yang sangat indah, dia kembali berjalan ke arah tangga yang melingkar dengan ukiran Phoenix di pegangannya yang terbuat dari emas, sementara tangga itu sangat indah, terbuat dari kristal berwarna biru transparant.
Dia terus berjalan, tangga itu melingkar dan hanya memiliki satu ujung, di ujung tangga terdapat sebuah ruangan, ruangan paling atas, terpisah dari bawah, hanya memiliki satu akses yaitu tangga yang mereka lewati.
Dia membuka pintu ruangan itu, dua pintu yang memiliki ukiran burung Phoenix bermahkota merah dan biru, sebuah ruangan yang sangat indah dengan aroma menenangkan terlihat di balik pintu, aroma khas Chanyeol.
Di sudut ruangan terdapat sebuah ranjang, sementara di ujung ruangan lain juga terdapat sebuah ranjang, Chanyeol menidurkan Baekhyun di salah satu ranjang di ujung ruangan itu, ranjang yang dia ciptakan jika sang ibu ataupun kedua Special Twins ingin tidur di ruangannya yang bagai dunia mimpi itu.
Chanyeol berbaring di ranjang miliknya yang berada di ujung lain dari ruangan itu, lebih tepatnya di ruangan lain di ujung tangga, berseberangan dengan ranjang yang Baekhyun tiduri, ruangan itu terlalu luas, hingga walau berseberangan namun ranjang Baekhyun dan Chanyeol tak terlihat, karena ranjang Chanyeol memiliki sekat tertutup dan tangga lainnya yang menuju ruangan pribadi milik Chanyeol, dia menciptakan itu untuk menghindari gangguan dari ibunya maupun special twins ketika datang berkunjung.
Sementara Lily, Chanho dan Yunhoo yang telah selesai berbincang, berjalan menyusul sang pangeran dan si mungil yang sudah berada dalam Istana Phoenix.
"Dia menciptakan ini semua?" ujar Lily tercengang, begipun dengan Yunhoo, lelaki paruh baya itu juga sangat terkejut.
"Benar." Ucap Chanho tersenyum.
"Sebutan 'Dangerous PureBlood' bukan hanya sebutan belaka." Ujar Yunhoo tercengang.
"Kau benar, dia adalah vampire terhebat sepanjang sejarah dunia vampire, dia setara dengan leluhur ke-3 kita." Ujar Chanho.
"Tidak, dia bahkan bisa lebih." Ujar Yunhoo.
"Mengapa kau bicara begitu?"
"Hanya firasat."
Chanho mengangguk, sementara Lily hanya tersenyum.
"Ayo kita naik ke atas." Ujar Chanho.
Chanyeol tahu bahwa ayahnya dan dua vampire lain telah tiba, jadi dia memberi mereka izin untuk masuk dan menaiki tangga.
Ketiga vampire itu berjalan ke atas, dua di antaranya tak henti-hentinya memandang takjub atas istana yang Chanyeol ciptakan.
"Dia memiliki selera yang luar biasa." Ujar Lily.
"Ya, dia bukan vampire biasa." Ujar Yunhoo.
Sementara Chanho hanya tersenyum bangga.
Mereka sampai dan masuk ke dalam ruangan, mereka melihat Baekhyun terbarin di ranjang yang indah dengan seprai putih dan kelambu yang menutupi, sementara mereka tak menemukan sang pangeran dimanapun.
"Chanyeol?" tanya Yunhoo pada Chanho.
Chanho tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada sekat di ujung ruangan, Yunhoo mengikuti arah pandang Chanho, kemudian bersuara, "Dia di sana?"
"Benar, itu adalah sekat menuju tempat pribadinya, di baliknya ada tangga untuk menuju ke ruangan lain, dimana terdapat ranjang tempat dimana dia tidur, untuk catatan, tak ada yang bisa mendekat kesana, bisa masuk ke Istananya dan ke ruangan ini saja kita sudah beruntung, dan batas kita hanya sampai di sini." Ujar Chanho menjelaskan.
"Chanyeol akan mengawasi Baekhyun dari ruangannya, di sini tempat teraman." Lanjutnya lagi mengakhiri penjelasannya.
"Apa aku boleh di sini?" tanya Lily lagi.
"Tentu, jika Chanyeol mengizinkan kau bisa berada di sini."
"Chanyeol." Chanho memanggil putranya, karena dia tak bisa menginjakan kaki di ruangan pribadi milik Chanyeol, seolah ruangan itu adalah ruangan terlarang, entah bagi siapapun termasuk sang raja.
Chanyeol muncul, kemudian bersuara, "Tentu saja nenek Lily boleh tinggal di sini, bahkan paman Yunhoo juga boleh jika dia mau, tapi jangan pernah mendekati sekat itu dan masuk ke ruanganku." Ujar Chanyeol mengingatkan.
"Baik." Ujar keduanya.
Chanyeol menciptakan dua tempat tidur lainnya lengkap dengan fasilitas yang ada, membuat semua tercengang.
"Apa?" ujar Chanyeol datar, tak suka di perhatikan, terlebih tatapan mereka yang sangat terkejut itu.
"Kau langsung menciptakannya di sini? Sekarang?" ucap Lily tak percaya.
"Tentu saja, itu hal yang wajar, bukankah semua bisa melakukannya?" tanya Chanyeol santai.
Chanho juga baru mengetahui hal ini, bahwa putranya bisa dengan mudah menciptakan apapun yang dia mau, sepanjang sejarah tak ada yang memiliki kemampuan menciptakan dalam sekejap seperti Chanyeol, bahkan Chanho membutuhkan waktu seminggu untuk menciptakan istananya.
Ketiga vampire itu hanya bisa terdiam, terlalu terkejut dan merasa sedikit takut, Chanyeol sungguh tak bisa di tebak dan berbahaya.
"Sudah selesai, kalian bisa tinggal di sini."
Entah mengapa Lily dan Yunhoo berubah fikiran, mereka hanya akan merawat Baekhyun dan tinggal di Istana lain, tinggal dalam pengawasan Chanyeol membuat mereka tak nyaman, mereka akan menyerahkan segala keselamatan si mungil pada pangeran negeri vampire itu.
"Sebaiknya kami pergi dan membiarkan Baekhyun beristirahat."
Chanyeol mengernyit, kemudian bersuara, "Bukankah kalian juga akan tinggal di sini?"
Keduanya menggeleng pelan, kemudian Lily bersuara, "Tidak, kami akan tidur di istana lain, Baekhyun butuh ketenangan, lagipula kau pasti akan menjaganya, benarkan?"
Chanyeol mengangguk.
"Kami masih memiliki urusan penting yang harus di bicarakan dengan ayahmu, kami undur diri dulu." Ucap Yunhoo.
"Baiklah."
"Oh iya Chanyeol, pemakaman dan pemurnian ke-45 saudara omegamu akan di lakukan pada pukul 4 sore nanti, pastikan kau datang."
Chanyeol kembali mengangguk, kemudian bersuara, "Apa aku harus menyingkirkan dua tempat tidur ini?"
Pertanyaannya membuat ketiga vampire yang bersiap ingin pergi itu tercengang, menciptakan itu melelahkan dan sekarang dengan mudah dia ingin menghilangkannya, menghilangkan juga melelahkan asal kalian tahu.
"Kau bisa menghilangkannya?" tanya Lily tak percaya.
"Tentu." Ucap Chanyeol santai.
"Baiklah hilangkan saja, sisakan satu kursi untuk kami duduk bila ingin menjenguknya." Ujar Lily kemudian.
Chanyeol mengangguk, kemudian menjentikan tangannya dan seketika tempat tidur yang baru saja dia ciptakan menghilang, semua kembali seperti semula, dan lagi-lagi ketiga vampire itu di buat tercengang oleh kehebatan sang pangeran.
Tak ingin berlarut, mereka bertiga pamit untuk pergi, meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol di istana Phoenix milik sang pangeran.
Setelah keluar, Yunhoo bersuara, "Putramu sungguh hebat dan menakutkan."
"Benar,aura begitu mengintimidasi, dia akan jadi raja yang hebat kelak." Ucapan Lily membuat raut wajah Chanho berubah.
"Hei tenanglah, pasti akan ada jalannya, kita akan mencari tahu caranya." Ujar Yunhoo menenangkan.
"Yunhoo benar." Ujar Lily menambahkan.
00000
000
0
Di Heavenia, tepatnya di Royal Garden.
Ke-45 omega itu telah di baringkan di sana sejak kematian mereka tadi pagi.
Hari itu menjadi hari yang menyedihkan untuk kerajaan, para pangeran dan putri kerajaan telah tiada, menyisakan luka yang mendalam bagi yang di tinggalkan.
Di bawah guyuran hujan, di kelilingi bunga-bunga indah, wajah ke-45 omega itu terlihat cantik, mereka terlelap dalam damai.
Pukul 4 sore, pemakaman, penghormatan dan pemurnian akan di lakukan.
Chanyeol sudah datang ke Royal Garden, Baekhyun terlelap di ruangannya, Yunhoo dan Lily juga sudah berada di Royal Garden, Chanhee juga ada di sana.
Semua sudah berkumpul di Royal Garden untuk mengantar kepergian para omega malang itu.
Chanho mengeluarkan api ungu, api pemurnian, api itu membakar tubuh ke-45 omega cantik itu.
Kyungsoo, Luhan, Irene, Eunhee dan Kristal, hanya mereka berlima yang tersisa, kelimanya menatap sendu ke arah kobaran api ungu itu, mereka bersedih namun juga bersyukur karena tak harus menjadi korban, namun bukan berarti mereka bisa terbebas.
Dengan kematian ke-45 saudara-saudari omega mereka, itu artinya salah satu dari merekalah yang harus melanjutkan keturunan kerajaan dan menjadi permaisuri sang pangeran.
Irene, Eunhee dan Kristal sedikit senang meski takut bahwa apa yang menimpa saudara-saudari mereka akan mereka terima juga tapi mereka tetap senang.
Sementara Kyungsoo dan Luhan hanya saling tatap, mereka terluka, takut dan sedih. Takdir memang begitu kejam.
Di bawah guyuran hujan semua terlarut dalam fikirannya masing-masing, memandang kobaran api ungu yang membakar dan menyucikan ke-45 omega malang itu.
Kerajaan di rundung duka mendalam, Royal Garden penuh dengan air mata kesedihan, hari berkabung, seluruh rakyat Alahontas juga hadir dalam pemakaman itu, tak ada lagi yang bisa di tutupi, semua menyebar begitu cepat.
Berita kematian itu, berita mengenai benih kutukan itu, berita mengenai benih terkutuk pangeran membuat seluruh rakyat Alahontas berduka.
Setelah pemakaman selesai, semua kembali satu persatu ke tempatnya masing-masing, Chanyeol ingin kembali namun Chanho menghentikannya, semua rakyat sudah tahu mengenai hal ini, tak bisa di hindarkan, Chanyeol juga harus tahu, Chanho sudah membulatkan tekatnya untuk memberitahu sang pangeran.
"Chanyeol, ayah mau bicara." Ucap Chanho dengan berat hati.
"Apa ayah?"
"Kau tahukan bahwa mereka mati karena benihmu?"
Chanyeol mengangguk.
"Ayah memiliki kabar buruk untuk itu nak, benihmu...benihmu adalah benih kutukan." Ucap Chanho terbata, dia ragu, dia tak sanggup, berat baginya untuk memberitahukan mengenai kenyataan ini pada putranya yang sangat menantikan untuk naik tahta.
"Be-benih kutukan?" ujar Chanyeol tak percaya.
"Benar nak, benih berbahaya yang membunuh orang, bahkan untuk menyentuhnya saja kulit akan melepuh, benih terkutuk yang mengerikan, dan benih itu adalah milikmu nak." Ujar Chanho dengan wajah sedih.
Chanyeol terdiam, dia terhuyung kebelakang nyaris terjatuh jika saja Chanhee tak menahan tubuh putranya.
"Benarkah itu sayang?" ucap Chanhee yang telah berlinang air mata kepada Chanho, Rajanya.
Chanho tersentak, terkejut dengan kehadiran Chanhee, dia tak menyangka jika ratunya itu mendengar apa yang dia ucapkan pada Chanyeol, putra mereka.
"Benar sayang." Ucap Chanho sedih.
Chanyeol seolah kehilangan jiwanya, baru kali ini dia merasa amat sangat terpukul, mimpinya untuk meneruskan tahta sang ayah harus kandas karena benih kutukan ini akan membunuh siapapun yang berniat untuk mengandung anaknya, dengan kata lain Chanyeol tak akan memiliki keturunan seumur hidupnya.
Pangeran tampan itu jatuh berlutut, guyuran air hujan semakin deras, langit berwarna kelabu, sementara kobaran api ungu masih belum pada seutuhnya.
"TIDAK MUNGKIN!" Chanyeol meraung, menjerit terluka, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri.
"Ti-tidak mungkin." Lagi pangeran tampan itu berucap dengan terbata, suaranya melemah, di bawah guyuran hujan dan langit kelabu pangeran tampan itu menangis, untuk kedua kalinya dia menangis.
Kenyataan benar-benar menyakitkan, mimpinya untuk naik tahta dan menjadi raja harus kandas karena benih miliknya adalah benih terkutuk.
Chanho dan Chanhee terlihat sangat terluka melihat putranya hancur di depan mata mereka.
Sementara Lily dan Yunhoo hanya menatap dengan sendu interaksi antara ibu, ayah dan anak itu.
Kyungsoo dan Luhan juga menatap sedih ke arah Chanyeol, mereka ikut merasakan kesedihan sang pangeran, mimpinya terenggut oleh kenyataan yang kejam.
00000
000
0
Baek Gi mengawasi keturunannya dari Klozeus.
Dia menatap sedih Chanyeol yang menangis terpuruk, dia ikut terluka.
Sorot mata Baek Gi berubah, dia telah memutuskan semuanya, dia akan memberitahu mereka semua yang dia tahu, bukan hanya Chanyeol tapi juga semua yang terlibat di dalamnya, sang terpilih tak boleh lagi di pisahkan, takdir semakin dekat menuju puncaknya.
00000
000
0
Beberapa hari setelah hari berkabung itu, kejadian mengerikan dan menyedihkan kembali terjadi, seolah tiada henti, kesedihan kembali mendatangi keluarga kerajaan.
Para omega saudara Chanho, sang raja, membunuh diri mereka, terlalu sedih dengan kenyataan bahwa putra-putri mereka telah tiada, mereka memutuskan untuk menyusul anak-anak omega mereka.
Bunuh diri masal, yang menyebabkan keluarga kerajaan semakin berkurang jumlahnya.
Chanho terperanjat, dia terkejut dan terluka, di dampingi Chanhee yang berusaha menyalurkan kekuatannya agar Chanho tetap tegar.
Kerajaan kacau, Chanyeol yang mendengar kabar itu kembali terkejut, tapi dia memilih mengurung dirinya di ruangannya, membuat Chanho semakin khawatir.
Raja itu tak bisa lagi berpura-pura tegar jika sudah menyangkut satu-satu pewaris sahnya, Park Chanyeol, Alpha yang dia idam-idamkan selama ini, dengan usaha dan tangisan dia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan putranya itu, dan sekarang putranya hancur, mengurung diri di ruangannya, tak ingin keluar dari sana.
Mereka kembali melakukan pemakaman, penghormatan dan pemurnian di Royal Garden.
Tahun itu adalah tahun tersulit yang dialami oleh kerajaan Alahontas, terutama keluarga kerajaan.
00000
000
0
Seolah belum cukup kejutan dan kesedihan yang menimpa mereka, ketika Chanho, Chanhee, Yunhoo dan Lily tengah berkumpul Baek Gi muncul di hadapan mereka.
"Hallo."
Ke empat vampire di ruangan itu tercengang.
Lily yang mengenali sosok Baek Gi lalu bersuara, "Apa anda Park Baek Gi?"
"Tepat sekali."
"Bagaimana mungkin?" ucap Yunhoo tak percaya.
Sementara Chanho dan Chanhee hanya bisa diam.
"Keberatan jika aku mengganggu pembicaraan kalian sebentar?" tanya Baek Gi.
"Tentu tidak." Ucap Lily.
"Terima kasih, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian."
Ke empat vampire itu saling berpandangan, kemudian Yunhoo menjawab, "Silahkan."
"Terima kasih."
Baek Gi mulai menjelaskan mengenai dirinya, grimoir dan Chanyeol yang telah membebaskannya dari segel, mereka sempat terkejut namun tetap mendengarkan.
"Suatu malam malapetaka terjadi, grimoir terlalu senang dengan kehadiran tuannya yang selama ini dia tunggu, hingga dia juga ikut bersinar di Klozeus palsu dan memberitahu mereka mengenai kelahiran sang harapan, dua bayi kembar yang terlahir pada malam dua bulan." Baek Gi mulai menceritakan inti cerita, bagian terpenting dari cerita ini.
Chanho dan Chanhee terkejut, Chanyeol dan kembarannya terlahir pada malam dua bulan, begitu pula dengan Yunhoo dan Lily, "Baekhyun dan kembarannya juga terlahir pada malam dua bulan."
"Kalian pasti sudah tahu siapa kedua bayi kembar itu, namun pada malam yang sama dua bayi lainnya juga terlahir dan aku yakin kalian tahu siapa dua bayi itu." Ujar Baek Gi memandangi ke empat vampire di depannya.
"Jadi maksudmu, Chanyeol dan Chan In adalah tuan dari grimoir?" tanya Chanhee penasaran.
"Benar sekali, kedua putramu adalah tuan dari grimoir, namun bukan Chanyeol dan Chan In melainkan Chanyeol dan Baekhyun." Ucap Baek Gi menjelaskan.
"Apa maksudmu putraku dan pangeran adalah tuan dari grimoir? Bukankah-" ucapan Yunhoo terhenti kala menyadari sesuatu.
"Sepertinya kau sudah menyadari hal itu, ke empat vampire yang terikat takdir yang kejam, Dark Blood tak yakin siapa sang terpilih, karena kau dan Yunhwa juga memiliki darah raja di dalamnya, ramalan mengatakan bahwa jika seorang Alpha memiliki kembaran Omega, maka kembarannya adalah matenya."
"Dan mate Chanyeol adalah omega yang terlahir bersamanya."
"Jadi maksudmu Baekhyun adalah mate Chanyeol?" tanya Lily memperjelas maksud Baek Gi.
"Benar, dia adalah kembaran Chanyeol yang terpisah dari sang pangeran selama ini."
"Ta-tapi bagaimana bisa?" ujar Chanhee tak percaya.
"Yunhwa." Yunhoo berucap dengan nada sendu.
"Benar sekali, pada malam itu Yunhwa melihat seorang vampire anggota Dark Blood sedang menukar Baekhyun dan Chan In, Chan In sudah tertidur di kasur Baekhyun sementara Baekhyun yang belum sempat di letakan di ranjang Chan In segera di bawa pergi karena vampire itu panik melihat Yunhwa yang memergokinya."
Ke empat vampire itu tercekat, cerita ini sungguh mengejutkan.
"Yunhwa segera mengejar vampire itu, dia berusaha menyelamatkan putranya, namun hal buruk terjadi, baik Yunhwa maupun putranya tak terselamatkan, sementara aku tak bisa berbuat apapun karena terperangkap dan hanya bisa mengamati kalian."
"Chan In tumbuh sebagai Baekhyun, sementara Baekhyun yang asli telah tiada."
Semua tercengang mengetahui fakta ini.
"Mengapa mereka menukar anak kami?" ujar Chanhee terkejut dengan fakta bahwa anaknya masih hidup dengan menyandang nama lain.
"Ramalan mengatakan jika kembar Alpha dan omega adalah hal yang langka, oleh sebab itu kembaran sang Alpha pastilah mate miliknya, seperti telah menjadi takdir ketika mereka di kirimkan bersamaan ke rahim sang ibu, sejak lahir mereka sudah bertemu." Jawab Baek Gi cepat.
"Jadi maksudmu semua bayi yang terlahir sebagai kembar Alpha dan Omega merupakan pasangan yang di takdir sejak dalam kandungan?" tanya Yunhoo mulai mengerti.
"Tepat sekali, namun satu hal yang perlu kalian tahu, mereka yang di takdirkan tidak boleh terpisah untuk waktu yang lama, jika mereka terpisah maka sang Alpha akan memiliki benih yang terkutuk, dan jika salah satunya telah tiada maka yang lain pasti akan segera menyusul mate mereka, karena begitulah takdir mereka."
"Jadi maksudmu benih kutukan yang Chanyeol miliki di sebabkan karena selama ini dia di pisahkan dari matenya?" tanya Chanho menahan amarah.
"Benar sekali."
"Tapi mengapa?" ucap Chanhee tak mengerti.
"Dark Blood tak mengetahui dengan pasti siapa sang terpilih diantara ke dua pasang bayi yang lahir pada malam yang sama itu, namun mereka menemukan ramalan itu dan berniat memisahkan kedua pasangan yang di takdirkan itu."
"Jika memang begitu, mengapa mereka tak membunuh saja ke empat bayi itu?" tanya Yunhoo tak mengerti, cara yang di lakukan oleh Dark Blood tidak seperti biasanya.
"Mereka sudah mencobanya, namun Chanyeol dan Baekhyun yang masih bayi sangatlah kuat tak bisa di dekati dengan aura membunuh, mereka bahkan melindungi Baekboom dan kembarannya yang kalian ketahui sebagai Chan In."
Semua tercengang.
"Jadi Dark Blood memutuskan untuk mendekati ke empat bayi itu dengan kasih sayang dan menukar mereka, memisahkan pasangan yang di takdirkan agar benih terkutuk tercipta, dan pada akhirnya mereka menggiring Chanyeol untuk memperkosa Baekhyun, matenya yang selama ini terpisahkan darinya, dengan niat membunuh Baekhyun, setelah tahu bahwa yang terpilih adalah Baekhyun dan Chanyeol."
"Namun rencana mereka gagal, tak terjadi apa-apa pada Baekhyun setelah malam itu, aku juga tak tahu apa penyebabnya."
"Jadi Baekhyun itu anakku?" ujar Chanhee lirih.
Baek Gi menganguk, kemudian bersuara, "Mungkin ini terlalu mengejutkan untuk kalian terima, tapi inilah kenyataannya, Yunhoo jangan membenci Baekhyun dan melukainya setelah tahu mengenai fakta ini, Chanho dan Chanhee cobalah untuk menerimanya sebagai putra kalian, dan kau Lily, cabutlah perkataanmu mengenai Chanyeol yang tak boleh jatuh cinta pada Baekhyun."
"Mereka yang terpilih, mereka adalah mate, itu sudah di takdirkan sebelum mereka lahir, aku mendatangi kalian untuk mencegah malapetaka untuk terjadi lagi, sang terpilih tak boleh lagi terpisahkan, dan kau hampir memisahkan mereka lagi Lily dengan melarang Chanyeol untuk jatuh cinta pada Baekhyun."
Lily tercengang, dia harus membatalkan janji itu.
"Aku mendatangi kalian karena pasti jika tak mengetahui kebenaran ini kalian akan memisahkan kedua vampire itu, mereka tak boleh sampai terpisah lagi, mereka harus bersatu, nyatanya mereka harus saling jatuh cinta, maukah kalian membantuku?" ujar Baek Gi memohon bantuan.
Ke empat vampire itu saling pandang, sedikit demi sedikit pikiran mereka terbuka, walau masih ragu tapi mereka berusaha untuk menerima kenyataan itu, kenyataan kalau Baekhyun adalah Chan In, kembaran Chanyeol, dan mate yang ditakdirkan langit untuknya.
Ke empat vampire itu mengangguk, Yunhoo dan Lily sudah terlanjur menyayangi Baekhyun, mereka tak mungkin membenci Baekhyun hanya karena fakta ini, Chanho dan Chanhee sangat senang mengetahui bahwa Baekhyun merupakan anak mereka.
Akhirnya terjawab mengapa saat pertama kali melihat Baekhyun, raja para negeri vampire itu merasakan hal yang aneh, dia merasakan perasaan rindu yang dalam, rupanya karena Baekhyun merupakan anaknya, darah dagingnya.
Begitu juga dengan Chanhee, dia juga merasakan hal yang sama, saat Baekhyun sekarat dalam keadaan Purple Vanish, Chanhee merasakan sakit yang amat dalam, seolah dia ikut sekarat dan terluka, sekarang terjawab sudah, ikatan batin memang tak bisa di bohongi.
"Terima kasih, sekarang ayo ikut aku." Baek Gi membawa ke empat vampire itu pergi.
Ke lima vampire itu menghilang, Baek Gi membawa mereka menuju ke dimensi tulip putih.
"Lihat itu." Ujar Baek Gi menunjuk ke arah kolam setelah mereka sampai di dimensi tulip putih.
Kolam itu menampilkan Chanyeol yang sedang mengurung diri di kamar, merenung, menatap kosong langit-langit kamarnya.
00000
000
0
Sementara di tempat lain, Chanyeol tengah termenung di dalam ruangannya, sebelum dia mendengar jeritan Baekhyun.
"HENTIKAN!"
Jeritan Baekhyun terdengar membuat Chanyeol terkejut kemudian lekas mendatangi si mungil, dia terkejut, kondisi si mungil begitu menyedihkan, bibirnya pucat, air mata mengalir deras, keringan membasahi pelipisnya, tangan dan kakinya meronta.
"Hei, apa yang terjadi?" Chanyeol bertanya, dia masih belum tahu kondisi Baekhyun yang terperangkap.
Si mungil tetap meronta, "Hei, bangun, cepat bangun." Ucap Chanyeol sembari mengguncang tubuh ringkih itu.
Si mungil bukannya terbangun, malah semakin meracau parah, terkadang berteriak histeris.
"A-aku mohon maafkan aku, me-menjauhlah." Racauannya terdengar begitu memilukan.
Chanyeol menghela nafasnya berat, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada si mungil.
"Bangunlah." Suaranya melembut, dia mengguncang tubuh itu berharap si mungil terbangun.
Namun nihil, racauan memilukan itu berubah menjadi teriakan histeris.
"MENJAUH! Jika kau tidak menjauh aku akan bunuh diri!" sosok itu berteriak histeris, tangannya yang semula mendorong-dorong, mendekat ke arah lehernya dan berusaha mencekik dirinya sendiri.
Mata Chanyeol membulat, terkejut dengan tindakan si mungil.
"LEBIH BAIK AKU MATI!" teriak si mungil lagi.
Chanyeol dengan sigap menahan tangan si mungil.
"LEPASKAN! LEPASKAN!" si mungil berteriak histeris.
Chanyeol masih menahan kedua tangannya.
"BIARKAN AKU MATI!" si mungil kembali berteriak semakin histeris.
Chanyeol berusaha menahan tangan itu sekuat tenaga, dengan cepat dia melepaskan tangan si mungil, ketika si mungil kembali berusaha mencekik dirinya, pangeran tampan itu dengan sigap membawanya kedalam pelukan hangat sang pangeran.
Baekhyun yang berontak kembali tenang, si mungil kembali diam seperti orang tertidur dalam pelukan sang pangeran.
"Akhirnya kau tenang." Ucap Chanyeol dengan sedikit senyuman yang tak dia sadari.
00000
000
0
Di dimensi tulip putih kelima vampire itu masih mengawasi.
"Mereka terlihat serasi, aku menyesal karena telah melarang Chanyeol untuk jatuh cinta pada Baekhyun, aku hanya-" ucapan Lily terpotong kala Baek Gi bersuara,
"Aku tahu, kau pasti menginginkan yang terbaik untuk mereka, jadi setelah tahu bahwa mereka adalah mate, apa yang akan kalian lakukan?"
"Tentu saja." Ujar ke empatnya bersamaan, mereka terkejut lalu saling memandang, detik selanjutnya mereka tertawa, senyuman bahagia terlihat.
"Ternyata pemikiran kita sama." Ujar Chanho tersenyum.
Ke tiganya mengangguk.
Baek Gi tersenyum, keturunannya memang bisa di andalkan.
"Pertama kita akan menemui Chanyeol dan menjelaskan semuanya kemudian meminta dia untuk menyelamatkan Baekhyun dari mimpi buruknya, karena hanya dialah yang bisa membebaskan omega malang itu." Ujar Baek Gi memulai.
Ke empat vampire lainnya mengangguk, lalu mereka melesat ke Istana Phoenix untuk memberitahu Chanyeol mengenai kenyataan yang sebenarnya.
00000
000
0
Mereka mulai memberitahu Chanyeol dan menjelaskan semuanya, setelah berusaha meyakinkan Chanyeol dengan susah payah mereka akhirnya berhasil, Chanyeol bersedia menyelamatkan si mungil dari cengkraman mimpi buruknya.
"Ku beritahu pada kalian, aku masih belum sepenuhnya mempercayai cerita kalian, tapi aku akan menyelamatkan dia." Ujar Chanyeol pada ke empat vampire itu.
"Sulit sekali meyakinkannya." Ujar Chanhee setelah Chanyeol pergi untuk bersiap menyelamatkan si mungil.
"Biar aku yang meyakinkannya." Baek Gi tiba-tiba muncul.
"Baiklah." Ucap Chanhee pasrah.
Baek Gi berjalan mendekati Chanyeol yang sedang mengumpulkan kekuatannya bersiap untuk ke alam mimpi menjemput jiwa Baekhyun yang terperangkap.
"Merindukanku?"
"Kakek? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Sepertinya kau tak mempercayai bahwa Baekhyun adalah kembaran sekaligus matemu."
Chanyeol hanya terdiam.
"Mau aku tunjukan?"
Chanyeol menoleh, kemudian bersuara, "Apanya?" tanyanya tak mengerti.
"Kejadian malam itu."
Baek Gi lalu mengeluarkan cermin kecil yang menampilkan bayi yang di tukar, salah satu bayi di bawa kabur dan seorang wanita mengejar vampire yang membawa bayi itu.
Chanyeol tercengang, dia membulatkan matanya, tak ada lagi yang bisa dia sangkal, cerita itu benar adanya, dia harus belajar menerima kenyataan yang ada.
Baek Gi tersenyum lalu bersuara, "Sepertinya kau sudah percaya, sekarang tolong selamatkan kembaran dan takdirmu itu yaa Chanyeolku sayang, aku mengandalkanmu." Ucapnya menggoda Chanyeol.
Chanyeol tak marah, dia hanya tersenyum, kemudian dia berjalan ke arah tubuh Baekhyun yang tertidur di ranjang, di sana sudah ada Chanhee, Chanho, Yunhoo dan Lily.
"Aku pergi dulu." Ucap Chanyeol pamit.
"Hati-hati nak, tolong selamatkan adikmu, kalian berdua harus pulang dengan selamat." Ujar Chanhee pada putranya.
"Akan aku usahakan." Ujar Chanyeol tersenyum, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun, menggenggam erat tangan Baekhyun, lalu seketika jiwanya pergi ke alam mimpi, tubuh pangeran tampan itu jatuh tertidur di samping Baekhyun dengan posisi tangan yang menggenggam tangan si mungil.
Sementara ke lima orang di ruangan itu hanya bisa menunggu sampai Chanyeol kembali membawa jiwa Baekhyun keluar dari alam mimpi itu.
l
l
l
l
To be Continued~~
l
l
l
l
Akhirnya sampai juga pada kata TBC #Horeee
Perjuangan banget nulis ini Chapter, sampe begadang 2 hari T_T
Gimana? Kalian suka gk dengan Chapter kali ini?
Mind to review?
Kalo bisa sih review yang heboh :3
Semakin heboh semakin bagus wkwkwk
Pokoknya aku minta review yang heboh :v
l
l
l
l
Special thanks buat MILKYBAEK #muuuuuaaachhh
Thank you buat warm review dan kesan kamu saat baca cerita aku, chapter per chapter
Aku merasa sangat beruntung punya readers kayak kamu #Kissandhug
Thanks banget buat dukungannya, walau di chapter 11 kemaren sempet bikin kecewa karena Cuma sedikit #Hiks
Walau Cuma sedikit tapi kamu tetap review dan nyemangatin aku
Jadi aku semangat deh buat nulis lanjutannya, sampe begandang 2 hari looh wkwkwk
l
l
l
l
Okeh kayaknya gitu aja.
Cuma mau kasih tahu, I'm back wkwk
Ini update termasuk cepat yaak wkwk
Sekali lagi terima kasih buat Milkybaek
Review dari dia yang buat aku semangat lanjutin
Chapter ini special buat kalian
Pokoknya harus review yang heboh yaa, HARUS #hehe
Thanks a lot, see you next chapter :3
