Dangerous Pureblood

by

Coldnana

l

l

l

l

Cast : Nantikan dalam cerita.

Omegaverse, Chanbaek, Yaoi, Vampire, Fantasy, M-Preg

l

l

l

l

Sebelumnya mohon maaf yaa kalau Chapter kemarin mengecewakan #bow

Sekali lagi aku ingetin, this is my first ffn, cerita pertama yang aku buat dengan pengalaman seadanya, ngumpulin keberanian buat postnya aja butuh waktu yang lama, jadi sekali lagi maaf yaa, mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau cerita ini membingungkan dan mengecewakan #bow

Hmm...tapi jangan berharap banyak yaa sama Chapter ini, takutnya mengecewakan :')

Tunjukan padaku bagaimana perasaan kalian setelah baca Chapter kali ini yaa ;)

l

l

l

Sekedar ngingetin kalo Chapter ini tembus 9K plus..plus aka 10K, jadi jangan bosen yaak bacanya :3

So, silahkan temukan kejutan di dalamnya :3

Hope You Like It ^_^

Jangan lupa review yaaa :* #muuaacch

Thankssss, and...

Happy Reading Guys~~

l

l

l

l

l

Chapter sebelumnya...

"Aku pergi dulu." Ucap Chanyeol pamit.

"Hati-hati nak, tolong selamatkan adikmu, kalian berdua harus pulang dengan selamat." Ujar Chanhee pada putranya.

"Akan aku usahakan." Ujar Chanyeol tersenyum, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun, menggenggam erat tangan Baekhyun, lalu seketika jiwanya pergi ke alam mimpi, tubuh pangeran tampan itu jatuh tertidur di samping Baekhyun dengan posisi tangan yang menggenggam tangan si mungil.

Sementara ke lima orang di ruangan itu hanya bisa menunggu sampai Chanyeol kembali membawa jiwa Baekhyun keluar dari alam mimpi itu.

00000

000

0

Chanyeol, pangeran tampan itu saat ini sedang berada di lorong waktu, jalan yang menghubungkan alam nyata dengan alam mimpi, sekelilingnya berwarna biru laut dengan jam-jam di dinding lorong itu.

Dia sedang dalam perjalanan menuju ke alam mimpi, lebih tepatnya jiwanya yang sedang dalam perjalanan menuju ke alam mimpi untuk menyelamatkan jiwa Baekhyun yang terjebak di dalamnya.

Dalam perjalanan pangeran tampan itu tersenyum dengan tulus dan bahagia, saat ini dia akan menjemput cinta pertamanya, Byun Baekhyun, ah atau sekarang dia harus menyebutnya Park Chan In? Entahlah, Chanyeol tak terlalu peduli, baginya Byun Baekhyun maupun Chan In sama saja setelah dia mengetahui kebenarannya.

Tak peduli dia akan tumbuh sebagai Byun Baekhyun atau sebagai Park Chan In, kembarannya, itu tak mengubah fakta bahwa si mungil merupakan cinta pertamanya, wajah itu, dia tahu wajah bayi mungil yang membuat dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan memutuskan untuk membuat dimensi Bulan Biru adalah wajah milik Baekhyun.

Dia tersenyum dan kemudian menggumamkan nama Baekhyun, baginya akan terlalu aneh untuk memanggil si mungil Chan In, baginya si mungil itu tetaplah Byun Baekhyunnya yang manis.

Bukan, bukan fakta mengenai kembarannya di tukar dan identitas Baekhyun yang sebenarnya yang membuat Chanyeol pada akhirnya secara sukarela untuk masuk ke dalam alam mimpi dan menyelamatkan si mungil, namun karena pantulan di cermin yang menunjukan bayi Baekhyun yang telah di tukar maka Chanyeol memutuskannya.

Setelah tahu kenyataan dan dia melihat bahwa sosok bayi itu adalah Baekhyun, cinta pertamanya adalah sosok mungil yang tengah terjebak dalam alam mimpi itu yang membuat Chanyeol dengan senang hati mengabaikan bahwa dia bisa saja kehilangan nyawanya karena masuk ke alam mimpi seseorang.

Sampai sekarang Chanyeol masih mencintai cinta pertama yang dia sangka telah mati, sekarang dia tahu bahwa cinta pertamanya masih hidup dan membutuhkan pertolongannya, tentu saja dia akan menyelamatkannya dan tak akan lagi pernah melepaskannya.

Chanyeol saat ini sudah ada di alam mimpi, lebih tepatnya jiwanya telah masuk ke alam mimpi dengan tujuan menyelamatkan jiwa malang Baekhyun, cinta pertamanya yang terjebak di dalamnya.

Keadaan di sekitarnya hening, pangeran tampan itu melihat ke sana kemari mencari sosok jiwa si mungil, berharap dia bisa menemukannya dan segera keluar dari sana dengan membawa cintanya.

"Byun Baekhyun." Suara Chanyeol sedikit berteriak memangil si mungil.

00000

000

0

Sementara itu, kelima sosok itu tengah menunggu dengan sabar, berharap Chanyeol dan Baekhyun bisa keluar dengan selamat.

"Lihatlah mereka, terlihat begitu serasi." Ujar Chanhee memulai percakapan, senyuman manis terpatri di wajahnya.

"Kau benar, tampan dan cantik." Ujar Lily menambahkan, senyuman menenangkan terlukis di wajahnya yang tetap cantik meski tidak bisa dikatakan muda lagi.

Yunhoo dan Chanho saling memandang dan melempar senyum, melihat masing-masing putra kesayangan mereka tengah terlelap dengan jari tangan yang saling terpaut indah.

Baek Gi juga tersenyum.

"Semoga mereka bisa kembali dari sana dan hidup bahagia selamanya." Ujar Baek Gi.

Ke empat vampire lainnya menoleh ke arah sang leluhur kemudian tersenyum.

"Mereka telah cukup menderita selama ini." Ujar Chanho dan Yunhoo bersamaan, keduanya menoleh ke arah masing-masing dan menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.

Sementara ke tiga vampire lain yang melihatnya hanya bisa tertawa, tak lama Chanho dan Yunhoo ikut bergabung dalam gelak tawa itu, ruangan itu di penuhi oleh gelak tawa bahagia mereka berlima.

"Oh...lihat...lihat..." ujar Chanhee antusias sembari menunjuk ke arah kedua vampire yang tengah tertidur di ranjang.

Ke empat vampire lain mengalihkan perhatian mereka ke arah dua sosok yang Chanhee tunjuk, tak lama Chanhee kembali bersuara, "Chanyeol tersenyum."

Chanho tersenyum sementara ke tiga vampire lainnya tak mengerti.

"Memangnya hal aneh jika dia tersenyum?" tanya Lily tak mengerti.

"Putraku itu jarang sekali tersenyum, dia adalah sosok yang dingin." Ujar Chanho.

"Sekarang lihatlah dia, tersenyum seperti itu, itu senyuman tulusnya, dia terlihat begitu bahagia." Chanhee menambahkan.

Ke tiga vampire lainnya lantas kembali tersenyum, benar-benar pasangan yang di takdirkan sampai-sampai pangeran tampan yang begitu dingin bisa tersenyum dengan tulus penuh dengan aura kebahagiaan.

"Tentu saja dia bahagia, dia telah menemukan separuh jiwanya." Ujar Baek Gi santai.

"Ah maksud anda dia bahagia karena telah mengetahui bahwa Baekhyun adalah matenya?" tanya Lily.

Baek Gi menggeleng, "Bukan, Chanyeol bahkan tak pernah peduli jika dia memiliki mate dan tak berniat mencarinya."

"Lantas?" tanya Chanhee tak mengerti.

"Itu...karena Baekhyun adalah cinta pertamanya." Jawab Baek Gi santai.

"Apa?" ucap ke empatnya bersamaan.

Fakta ini sungguh mengejutkan.

Sementara Baek Gi hanya tersenyum mengingat pembicaraannya dengan Chanyeol sebelum pangeran tampan itu pergi menyelamatkan takdirnya.

#Flashback

Baek Gi berjalan mendekati Chanyeol yang sedang mengumpulkan kekuatannya bersiap untuk ke alam mimpi menjemput jiwa Baekhyun yang terperangkap.

"Merindukanku?"

"Kakek? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Sepertinya kau tak mempercayai bahwa Baekhyun adalah kembaran sekaligus matemu."

Chanyeol hanya terdiam.

"Mau aku tunjukan?"

Chanyeol menoleh, kemudian bersuara, "Apanya?" tanyanya tak mengerti.

"Kejadian malam itu."

Baek Gi lalu mengeluarkan cermin kecil yang menampilkan bayi yang di tukar, salah satu bayi di bawa kabur dan seorang wanita mengejar vampire yang membawa bayi itu.

Chanyeol tercengang, dia membulatkan matanya, tak ada lagi yang bisa dia sangkal, cerita itu benar adanya, dia harus belajar menerima kenyataan yang ada.

Baek Gi tersenyum lalu bersuara, "Sepertinya kau sudah percaya, sekarang tolong selamatkan kembaran dan takdirmu itu yaa Chanyeolku sayang, aku mengandalkanmu." Ucapnya menggoda Chanyeol.

Chanyeol tak marah, dia hanya tersenyum, lalu setelahnya dia berujar, "Tak perlu mengandalkanku, karena aku akan menjemput cintaku."

"Cintamu? Wah...apa kau telah jatuh cinta padanya?" tanya Baek Gi meledek Chanyeol.

"Benar kakek, aku jatuh cinta lagi,aku telah menemukan separuh jiwaku, dia, Baekhyun ternyata adalah cinta pertamaku, cintaku yang ku sangka telah tiada."

"Wah mengejutkan." Ucap Baek Gi pura-pura terkejut.

"Aku sedang serius, berhenti bercanda dasar kau kakek tua." Ujar Chanyeol menatap sebal ke arah Baek Gi.

Baek Gi tak peduli, dia kembali bertanya, "Mengapa tiba-tiba kau berkata bahwa dia adalah cinta pertamamu bocah?"

Chanyeol menatap tajam Baek Gi, dia tak suka kalimat terakhir Baek Gi yang mengatakan dia bocah.

"Sosok bayi itu adalah Baekhyun."

"Wuuaah...kau...kau jatuh cinta pada bayi? Bayi polos nan mungil? Tak ku sangka kau sangat berbahaya, tak hanya auramu tapi otakmu juga kotor, bisa-bisanya jatuh cinta pada bayi, tak ku sangka kau adalah seorang pedofil." Ujar Baek Gi histeris.

"KAKEK!" Chanyeol berteriak, geram dengan ucapan sang leluhur yang terus menggodanya.

"Apa? Apa? Dasar kau pedofil, maniak." Ujar Baek Gi histeris yang di buat-buat.

"ISSSH...Aku bukan pedofil!"

"Lalu apa? Tukang jagal?"

"Bukan." Ujar Chanyeol datar.

"Penculik?"

"Bukan." Ujar Chanyeol berusaha menahan amarahnya.

"Penyuka bocah?"

"Bukan." Ujar Chanyeol masih bersabar.

"Ah aku tau, OM-OM MESUM."

"BUKAAAAAANNN!" kali ini Chanyeol berteriak, kesabarannya sudah habis.

Sementara Baek Gi tertawa terbahak-bahak, senang sekali rasanya menggoda keturunan ke-7 kesayangannya.

"Terserah kakek sajalah." Ujar Chanyeol mendengus sebal, beberapa saat yang lalu Chanyeol berhasil menetralkan emosinya.

"Oh...OM-OM MESUM sedang marah." Ujar Baek Gi menggoda Chanyeol dengan penekanan pada gelar baru yang dia berikan pada Chanyeol.

Chanyeol menghembuskan nafasnya kesal, berusaha menetralkan kembali emosinya yang sempat terpancing, kemudian dia bersuara, "Satu hal yang perlu kakek tahu." Ujar Chanyeol sembari menunjuk wajah Baek Gi.

"Aku telah menemukannya dan aku tak akan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya bersedih, aku bahkan rela mengorbankan jiwa dan ragaku untuknya." Ujarnya mantap.

Kemudian dia berjalan ke arah tubuh Baekhyun yang tertidur di ranjang, di sana sudah ada Chanhee, Chanho, Yunhoo dan Lily.

Sementara Baek Gi terdiam kemudian tersenyum.

"Aku pergi dulu." Ucap Chanyeol pamit.

00000

000

0

"Byun Baekhyun."

Chanyeol kembali memanggil sosok mungil itu namun tak ada jawaban.

Pangeran tampan itu kembali berjalan menyusuri ruangan tempat dia berada, dia berjalan dan terus memanggil nama si mungil, namun yang dia temui sejauh ini hanyalah hampa, ruangan putih tanpa ada apapun di dalamnya, tanpa ada jawaban ataupun suara apapun dari si mungil yang tengah di carinya.

Chanyeol berhenti sebentar, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan cepat dan berat.

"Byun Baekhyun."

Sekali lagi pangeran tampan itu berteriak memanggil nama si mungil pujaan hatinya.

"Dimana kau?" sekali lagi sang pangeran bersuara.

Hening. Tak ada jawaban sama sekali.

Chanyeol kembali memutuskan untuk berjalan, dia masih belum menyerah, tidak, lebih tepatnya dia tidak boleh menyerah.

"Jawab aku Byun Baekhyun, jawab aku jika kau ada di sini." Chanyeol kembali bersuara.

Hening. Tetap tak ada jawaban.

"Kumohon jawablah, jawablah jika kau mendengarku." Kembali Chanyeol bersuara, namun kali ini cukup pelan, lebih seperti bisikan dengan nada frustasi yang tampak jelas di iringi dengan desahan lelah serta kecewa dari sang pangeran.

"Tolong."

Sebuah suara tertangkap oleh indra pendengaran sang pangeran, suara yang sangat pelan, tapi dia tahu itu suara si mungil.

Secepat kilat sang pangeran menajamkan indra pendengaran, lebih tepatnya mengaktifkan salah satu anugerah yang dia miliki, pendengaran abadi.

"MENJAUH DARIKU!"

Kali ini Chanyeol menangkap sebuah jeritan, jeritan dari si mungil, seperti racauan yang dia teriakan di dunia nyata.

"Siapapun tolong aku."

Kali ini suara si mungil kembali terdengar, dengan suara bergetar menahan tangis dan takut, meminta pertolongan pada siapa saja.

"Baekhyun?"

Chanyeol mengaktifkan telepatinya.

Sementara si mungil di kejauhan tersentak, tiba-tiba sebuah suara terdengar di kepalanya, tanpa pikir panjang Baekhyun membalas telepati dari Chanyeol.

"Pangeran Chanyeol?"

"Baekhyun kau dimana?"

"Ini benar pangeran?"

"Iya."

"Tolong aku."

"Kau dimana?"

"Aku di sebuah sangkar, aku tak tahu ini dimana."

"Bisa kau bawa aku ke tempatmu?"

"Ba-bagaimana caranya?"

"Hanya pikirkan aku berada di sampingmu."

"Baiklah, akan ku coba."

Kemudian si mungil mencoba melakukan apa yang Chanyeol ucapkan, dia tak peduli, dia hanya berharap bahwa ini berhasil.

Secepat Baekhyun membayangkan bahwa Chanyeol berada di sampingnya secepat itu pula tubuh Chanyeol menghilang dan muncul tepat di samping Baekhyun.

Baekhyun tak percaya bahwa cara itu berhasil.

"Pangeran." Ucap si mungil sembari menghambur ke dalam pelukan sang pangeran.

"Baekhyun kau tak apa? Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol lembut pada si mungil di dalam pelukannya sembari mengelus surai keperakan milik si mungil dengan penuh kasih sayang.

Sejenak Baekhyun terdiam, dia tak yakin bahwa pria di hadapannya memang benar sang pangeran vampire maha agung yang sombong dan menyebalkan, Park Chanyeol, sifatnya sungguh jauh berbeda, membuat Baekhyun merinding namun nyaman dalam waktu bersamaan.

Si mungil mendorong tubuh sang pangeran pelan, kemudian bersuara, "Kau siapa?" tanyanya takut-takut.

Chanyeol bingung tapi dengan cepat dia menjawab, "Aku Chanyeol, pangeran negeri vampire, calon raja Alahontas dan tentu saja matemu."

Si mungil memandang wajah sang pangeran dengan raut shock kemudian bersuara, "Kau bercanda, kau bukan pangeran Chanyeol."

"Aku pangeran, Park Chanyeol."

"Bukan, kau bukan."

Chanyeol menaikan sebelah alisnya kemudian bersuara, "Mengapa kau begitu yakin?"

Astaga, pertanyaan bodoh, tentu saja karena sikapmu itu berbanding terbalik dengan Park Chanyeol yang dia kenal, BODOH.

"Pangeran itu menyebalkan, sombong, kasar, dia bahkan pernah mencekik leherku, kau jelas bukan pangeran." Jelas Baekhyun membuat Chanyeol meringis mendengarnya.

"Aku pangeran, percayalah padaku." Ucap Chanyeol berusaha menyakinkan si mungil.

Si mungil menggeleng, dia menolak untuk percaya pada makhluk serupa pangeran yang memperlakukannya sangat berbeda dengan apa yang dilakukan pangeran yang asli, menurutnya.

"Kau bukan pangeran, kau bukan dia, apa yang kau mau? Apa kau juga mau membunuhku? Pergi! Menjauh dariku!" teriak si mungil histeris.

Oke, sekarang suasana jadi sedikit tidak menyenangkan.

Chanyeol mengeram frustasi, dia harus melakukan sesuatu untuk menenangkan si mungil, kemudian tanpa pikir panjang sang pangeran berjalan mendekat, menarik tangan si mungil yang menutupi wajahnya dan menarik si mungil agar mendekat ke arahnya.

Disisi lain, si mungil yang ketakutan dan histeris berusaha meronta dan melepaskan tarikan sang pangeran, namun apa daya, tenaga pangeran jauh lebih kuat darinya, tubuhnya tertarik mendekat, namun si mungil masih berusaha meronta.

Detik selanjutnya, si mungil merasakan sesuatu yang kenyal, hangat dan basah menyentuh permukaan bibir tipisnya, matanya yang semula terpejam dia buka, betapa terkejutnya omega mungil kala dia melihat wajah pangeran yang sangat dekat dengannya, wajahnya sangat tampan dengan mata terpejam, dan catat, pangeran menciumnya, itu bibir pangeran, sesuatu yang menempel di bibir tipisnya adalah bibir tebal sang pangeran.

PANGERAN MENCIUMNYA!

Pupil mata Baekhyun membesar dan melebar, dia terlalu terkejut, sangat terkejut sampai tubuhnya mendadak kaku, seluruh indranya seolah kehilangan fungsi, dia tak bergerak sama sekali.

Pangeran hanya menempelkan bibirnya, tidak menuntut, hanya menciumnya dengan penuh kasih sayang, menyalurkan perasaan miliknya, agar si mungil mengerti.

Mereka berdua saling merasakan nafas hangat yang menerpa wajahnya, ah lebih tepatnya hanya Baekhyun yang merasakan, sementara pangeran tak merasakannya karena entah di sengaja atau tidak si mungil menahan nafasnya.

Baekhyun tetap tak bergeming, terlalu terkejut dengan apa yang pangeran lakukan, sementara sang pangeran menyadari bahwa si mungil tak bernafas dengan benar, perlahan dia membuka kedua matanya yang terpejam, dia melihat mata si mungil menatapnya dengan tatapan terkejut.

Disisi lain, si mungil yang menangkap mata sang pangeran terbuka akhirnya kembali menghembuskan nafasnya, dia kembali pada kenyataan dan mendapat kembali kesadarannya, dengan segera dia mendorong tubuh sang pangeran menjauh.

"A-apa yang kau lakukan?" ucap Baekhyun terbata-bata.

"Menciummu." Jawab Chanyeol santai.

"M-m-mengapa?"

"Karena aku mencintaimu."

"Hah?"

Chanyeol jelas dapat menangkap wajah kebingungan dari si mungil, sepertinya cara ini masih belum meyakinkan si mungil. Dia menghela nafas berat.

Detik selanjutnya dia mendekat ke arah si mungil, tanpa peringatan yang berarti membuat si mungil lengah dan akhirnya sang pangeran menempelkan kedua dahi mereka, menggunakan anugerahnya yang lain, berbagi ingatan.

Baekhyun ingin meronta, tapi sekejap semua ingatan sang pangeran memasuki kepalanya, mulai dari pertemuan mereka dan semua yang terjadi ketika dia terjebak di alam mimpi.

Tanpa sadar air mata Baekhyun menetes.

Chanyeol kembali menjauh dari si mungil setelah dia berbagi ingatan padanya, pangeran tampan itu terkejut melihat kesayangannya menangis.

"Mengapa menangis, hmm?" ujarnya lembut.

Si mungil diam, tak menjawab pertanyaan sang pangeran.

"Baekhyun?" Chanyeol kembali berujar lembut.

"Maaf." Cicit si mungil pelan.

"Maaf?" sang pangeran mengulangi ucapan si mungil dengan nada tak mengerti.

"Maaf karena meragukanmu pangeran, dan turut berduka untuk saudaramu."

Chanyeol tersenyum bahagia, sangat lembut dan penuh perhatian, matanya menatap si mungil dengan penuh kasih sayang.

"Aku memaafkanmu." Ujar sang pangeran lembut.

"Terima kasih." Si mungil kembali mencicit.

Chanyeol mengangguk tanda dia memaafkan si mungil, lagipula dia tak mungkin marah pada cintanya.

"Sekarang maukah kau jelaskan padaku mengapa kau bisa ada di sangkar ini?" tanya sang pangeran lembut sembari mengelus pipi si mungil lembut menggunakan ibu jarinya membuat si mungil merasakan kenyamanan yang tak bisa dia jelaskan.

Si mungil mengangguk ragu, namun akhirnya mulai menjelaskan apa yang saat ini sedang terjadi.

Saat si mungil sedang menjelaskan kepada sang pangeran, tiba-tiba muncul seorang pria misterius dengan jubah hitam yang menutupi tubuh serta kepalanya. Seketika itu pula wajah si mungil berubah menjadi pucat, ketakutan tergambar jelas di wajahnya, dia menjadi bungkam, kemudian secepat kilat memeluk sang pangeran, membenamkan wajah serta tubuhnya di dada bidang sang pangeran, mencari perlindungan.

Chanyeol terkejut saat si mungil tiba-tiba memeluknya, namun tak membutuhkan waktu lama bagi sang pangeran untuk menyadari eksistensi di belakangnya yang dia yakini pelaku yang telah membuat cintanya ketakutan.

Tangannya yang bebas pangeran gunakan untuk membalas pelukan si mungil, kemudian beralih mengelus pucuk kepalanya penuh dengan kasih sayang dan kehangatan, berusaha memberikan perlindungan kepada si mungil, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Baekhyun yang berada dalam pelukan sang pangeran berangsur-angsur tenang, nafasnya kembali teratur seperti semula setelah sebelumnya nafasnya menjadi tak beraturan dan memburu karena terlalu takut.

Chanyeol mengeluarkan auranya yang begitu mengancam, namun anehnya Baekhyun malah semakin nyaman berada dalam pelukan sang pangeran, bukannya terancam dengan aura yang sang pangeran keluarkan, si mungil malah merasa aman dan nyaman, seolah aura itu melindunginya.

"Tenanglah sayang, aku disini, aku akan selalu melindungimu." Ucapan Chanyeol bagai mantra yang semakin membuat Baekhyun merasa aman berada dalam dekapan sang pangeran.

Tanpa membalik tubuhnya, dengan posisi yang masih memeluk tubuh si mungil sayang, Chanyeol bersuara, "Siapa kau?" ujarnya dingin.

"Apa kabar Yang Mulia?" pria misterius itu mengeluarkan suaranya menyapa sang pangeran.

Chanyeol mengangkat kedua alisnya, sedikit bingung, kemudian kembali bersuara, "Siapa kau?". Pangeran tampan itu kembali mengulang pertanyaannya kembali.

Pria itu kembali diam, tak ada suara sama sekali, membuat Chanyeol akhirnya memutuskan untuk membalik badannya untuk melihat sosok yang tengah dibelakanginya itu, pangeran tampan itu mengubah posisi si mungil, dia mengendong si mungil yang entah sejak kapan tertidur ala bridal.

Baekhyun terusik dari tidurnya, dia perlahan membuka matanya, dia juga tak tahu sejak kapan dan bagaimana dia bisa tertidur dalam dekapan sang pangeran, terlalu nyaman membuatnya terlena dan akhirnya terlelap tanpa dia sadari.

Matanya bertemu dengan mata sang pangeran yang memandangnya dengan hangat dan penuh kasih sayang membuat wajah si mungil bersemu merah, dia malu, terlebih setelah menyadari posisinya kini tak lagi memeluk sang pangeran, melainkan berada dalam gendongannya.

Baekhyun menggerakan tubuhnya tak nyaman, dia berniat untuk turun dari gendongan sang pangeran, namun ketika pandangannya kembali menangkap sosok misterius yang selalu mengangganggunya itu membuatnya urung melakukan niatnya itu.

Baekhyun kembali memeluk Chanyeol erat, membenamkan wajahnya ke dada bidang sang pangeran, kembali mencari perlindungan.

Sementara Chanyeol yang menyadari si mungil ketakutan kembali bersuara, "Tidurlah, kau aman bersamaku." Ujarnya memenangkan, membuat si mungil kembali merasakan kenyamanan serta keamanan tak terhingga.

"Te-terima kasih." Cicitnya pelan dan terkesan malu-malu.

"Ma-maaf merepotkanmu." Lanjutnya lagi, kembali mencicit.

Chanyeol mengecup dahi si mungil sayang, cukup lama dia mengecup dahi si mungil, mencurahkan kasih sayangnya sebelum dia bersuara, "Kau tak merepotkanku sayang." Ujarnya sambil tersenyum hangat membuat hati Baekhyun menghangat.

"Sekarang tidurlah, aku akan selalu berada di sisimu." Lanjutnya lagi.

Mendengar perkataan sang pangeran membuat si mungil kembali tertidur dalam gendongan pangeran negeri vampire itu.

"Sekarang, bisa kau jawab pertanyaanku?" ujar sang pangeran pada sosok misterius di hadapannya setelah yakin si mungil telah tidur dengan pulas dalam gendongannya.

00000

000

0

Sementara di tempat lain, tepatnya di istana, keributan sedang terjadi tanpa di ketahui oleh kelima vampire yang masih setia menunggu kepulangan dua insan yang tengah berada di alam mimpi.

"Dimana tuanku?!" ujar seorang pria misterius berjubah hitam yang tiba-tiba menerobos masuk istana pada penjaga istana.

"Maaf, anda siapa? Anda tak bisa masuk sembarangan kesini, ini adalah istana." Ujar salah satu penjaga pada sosok itu.

"Aku tak peduli! Dimana tuanku?!" ujarnya kembali bertanya kepada sang penjaga dengan jeritan yang cukup lantang hingga menggundang para penghuni istana untuk berkumpul melihat apa yang tengah terjadi.

"Apa yang terjadi?" itu suara Luhan yang bertanya pada penjaga.

"Pangeran." Ucap semua para penjaga yang melihat salah satu pangeran mereka datang untuk melihat keadaan, semua penjaga itu menunduk hormat pada Luhan dan Kyungsoo yang ada di sampingnya.

Kemudian salah satu penjaga mulai menjelaskan apa yang tengah terjadi, mata Luhan dan Kyungsoo melirik ke arah pria misterius yang penjaga itu bicarakan, pria itu masih berteriak-teriak mencari tuannya.

"Biar aku yang bicara padanya." Ucap Luhan pada akhirnya.

"Berhati-hatilah." Ujar Kyungsoo pada Luhan.

Luhan menggangguk, kemudian dia berjalan mendekati pria yang mengamuk itu, dia menjaga jaraknya agar tak terlalu dekat dengan pria itu.

"Tuan, apa yang anda inginkan?" ujar Luhan memulai.

Pria yang masih mengamuk tak jelas pada penjaga itu menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada Luhan dan dia diam tak bersuara.

"Tuan?" Luhan kembali bersuara karena pria yang berjarak cukup jauh darinya itu diam tak lagi bersuara.

Hahaha...

Gelak tawa terdengar dari pria itu membuat semua orang kebingungan dengan tingkahnya yang sangat aneh.

"Siapa ini? Wah..wah...bukankah ini pangeran Luhan?" ujar pria itu dengan nada agak tidak bersahabat.

Luhan tak gentar, dia memasang wajah datar, gertakan seperti itu baginya tak ada apa-apanya, saudaranya Chanyeol jauh lebih berbahaya dan mengerikan menurutnya.

Clap...Clap...Clap...

Terdengar suara tepukan tangan dari pria itu, "Seperti yang rumor katakan, meski omega pangeran adalah salah satu yang harus di pertimbangkan." Ujarnya santai, terdengar sedikit meremehkan.

"Oh...Saya lupa jika anda adalah 'Special Twins'" lanjutnya sembari menekankan kata Special Twins yang di ucapkannya, "Bagaimana kabar kembaran anda?" dia kembali berucap sarkastis.

Luhan mencoba menahan amarahnya, kemudian dia bersuara, "Hati-hati dengan ucapan anda tuan." Ucapnya sarkastis.

Hahaha...

Pria misterius itu kembali tertawa, lalu dia berkata, "Oh...maafkan saya, saya akan lebih berhati-hati." Ujarnya tanpa ada rasa penyesalan sama sekali.

Luhan terdiam, masih mencoba menahan amarahnya yang semakin memuncak, tanpa sadar auranya menguar di udara, begitu mencekam penuh dengan rasa amarah.

"Jangan marah pangeran, saya hanya ingin tahu dimana tuan saya." Ucap pria itu menenangkan Luhan, tak ada lagi nada meremehkan di dalamnya, hanya ada keseriusan yang pria itu tunjukan.

Luhan menghela nafasnya, bersabar, kemudian dia bersuara, "Tuan?"

"Benar, tuan saya."

"Tuan yang mana? Chanyeol?" ucap Luhan tak mengerti.

Aura di sekitar pria itu berubah mencekam membuat Luhan bergidik ngeri, satu hal yang Luhan tahu pasti, pria di hadapannya ini bukanlah vampire sembarangan, bahkan auranya mirip seperti saudaranya Chanyeol, berbahaya.

Dan sepertinya tuan yang pria di hadapannya ini cari bukanlah sang pangeran, Park Chanyeol.

"Chanyeol kau bilang?" ujarnya dingin.

"Bu-bukankah tuanmu adalah Chanyeol?" ujar Luhan terbata.

"Bukan." Ujarnya semakin dingin.

"Jadi siapa tuanmu?" ujar Kyungsoo lebih dingin.

Melihat kembarannya yang kesulitan membuat Kyungsoo memutuskan untuk mendekat dan terlibat dalam permbicaraan itu.

"Baekhyun, Byun Baekhyun, dia tuanku. Dimana dia?!" ujar pria itu kemudian.

Luhan dan Kyungsoo saling berpandangan, sedikit bingung, karena mereka tak mengetahui jika si mungil telah di bawa kembali ke istana atas perintah raja dan saat ini sedang berada di istana Phoenix.

"Apa yang kau bicarakan? Baekhyun tak ada di sini." Ucap Kyungsoo dengan wajah datar terkesan dingin.

"Jangan bohong!" ucap pria itu tak terima.

"Kami tak berbohong." Ucap Luhan.

"Tuanku ada disini!" pria itu tetap pada pendiriannya.

"Dia tidak ada di sini!" ucap Kyungsoo yakin.

"Kau ini siapa sebenarnya? Pelayan keluarga Byun? Jika kau pelayan mereka, tunjukan wajahmu, kau saat ini terlihat sangat mencurigakan." Ujar Luhan memicingkan matanya, mulai kehilangan kesabarannya, ketakutan yang sempat dia rasakan menghilang entah kemana.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap pria itu marah.

"Kau yang jangan mengalihkan pembicaraan! Apa kau lupa kami ini siapa? Sadari tempatmu!" ujar Kyungsoo mulai memanas.

"Tunjukan wajahmu!" ujar Luhan memerintah pria itu.

Pria itu hanya diam.

Saat Luhan dan Kyungsoo mencoba mendekatinya, secepat kilat pria itu menghilang bagaikan debu tertiup angin, namun di detik terakhir sebelum kepergiannya, Luhan dan Kyungsoo mendengar suaranya.

"Tuanku dalam bahaya, tolong lindungi dia."

Itulah yang sosok itu ucapkan membuat Luhan dan Kyungsoo yang berniat mengejarnya mengurungkan niat mereka, berusaha mencerna maksud dari perkataan pria bertudung hitam itu.

00000

000

0

Kembali ke alam mimpi, saat ini sang pangeran yang menggendong si mungil tengah berhadapan dengan pria berjubah hitam lainnya.

Haaahh...

Terdengar helaan nafas berat, pria misterius itu menghela nafasnya lelah.

"Apa yang anda rencanakan pada pria di gendongan anda itu pangeran?"

"Membawanya pergi." Ujar Chanyeol singkat.

"Sekarang kau jawab pertanyaanku, siapa kau?" lanjutnya lagi.

"Aku orang yang bertugas melindungi anda, tuanku."

Chanyeol menaikan sebelah alisnya, kemudian bersuara, "Apa kau orang suruhan ayah? Apa maksudnya itu? Aku bisa menjaga diriku sendiri." Ujarnya tak terima.

"Anda tak perlu tahu, aku hanya orang yang bertugas menjaga anda, sekarang pangeran, tinggalkan makhluk hina itu." Ujar pria itu mulai memberitahu maksudnya pada Chanyeol.

"Aku harus melindungi anda dari dia, kutukan itu harus dimusnahkan dari dunia ini." Lanjutnya lagi dingin, dengan memandang Baekhyun dalam gendongan Chanyeol dengan tatapan mengerikan, meski wajahnya tak terlihat, tapi Chanyeol tahu bahwa pria itu memandang pujaan hatinya dengan tatapan benci dan berniat membunuh si mungil, terbukti dengan auranya yang penuh nafsu membunuh ketika menunjuk si mungil dalam gendongan sang pangeran.

Chanyeol semakin mengeratkan gendongannya pada si mungil, kemudian bersuara, "Apa maksudmu? Jangan coba berani menyentuhnya atau kau akan menyesal!"

"Apa anda sudah buta pangeran?! Bukankah anda membencinya? Tinggalkan dia! Dia berbahaya!"

"Apa yang kau katakan? Dia 'mate' milikku, bagaimana mungkin dia berbahaya? Dia separuh jiwaku!"

"Mate? Apa yang membuat anda berfikir seperti itu pangeran? Siapa yang meracuni fikiran anda? Lihatlah dia! Dia bahkan bukan salah satu dari saudara anda!"

"Dia saudaraku! Kembaranku! Sekarang minggir! Aku harus segera membawa dia keluar dari sini."

"Tak akan kubiarkan!" Pria itu sedikit terkejut namun dia kembali berteriak ketika melihat sang pangeran yang mulai berjalan menuju pintu keluar.

"Coba saja hentikan aku jika kau bisa!" ucap Chanyeol acuh, dia berjalan menuju jalan keluar dari alam itu dengan si mungil dalam gendongannya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

Lebih dari 10 pria berjubah hitam lainnya mengepung sang pangeran, membuat pangeran tampan itu mengeram kesal.

"Tinggalkan dia disini pangeran! Biarkan kami melaksanakan tugas kami! Kami harus melindungimu dari kutukan itu!" ujar pria itu frustasi.

"Dia bukan kutukan! Dia mateku!" ujar Chanyeol dengan penuh amarah.

Pada akhirnya emosi Chanyeol yang sejak tadi dia tahan tak dapat lagi dia bendung dan dia mengeluarkan aura yang membuat semua pria berjubah hitam itu terbelenggu.

Tepat sekali, pangeran tampan itu mengeluarkan aura yang kita kenal sebagai Chain, aura yang dapat membelenggu siapa saja.

Chanyeol tersenyum puas melihat semua pria berjubah hitam yang mencoba mengepungnya berlutut di tanah dan tak dapat bergerak, dia bahkan tak menyadari jika dia baru saja mengeluarkan aura legendaris Chain.

Pria misterius itu ikut terbelenggu, tapi bukan tanpa alasan dia menyebut dirinya sebagai pelindung sang pangeran, dengan mudah dia bisa membebaskan diri dari aura itu, bahkan semua vampire lainnya juga melakukan hal yang sama.

Chanyeol terkejut, kemudian dia bersuara, "Mengapa kalian bisa lolos dengan mudah?"

Pria itu tersenyum di balik tudungnya kemudian bersuara, "Kami adalah pelindungmu, tentu saja itu adalah hal yang mudah bagi kami."

"Kau sungguh hebat pangeran, bahkan kau sudah bisa mengeluarkan Chain di usia semuda ini." Lanjutnya lagi.

Perkataannya membuat Chanyeol tersadar bahwa dia telah mengeluarkan Chain, tanpa sadar dia tersenyum, ini semua karena dia ingin melindungi Baekhyun, kakek Baek Gi benar dengan ucapannya, bahwa mate membuat kita kuat.

Namun senyum sang pangeran luntur ketika pria itu kembali mengatakan hal yang mengerikan, "Sekarang anda tak memiliki pilihan lain pangeran, serahkan dia pada kami, dia harus terjebak selamanya disini, bahkan mati bila perlu." Ujarnya dingin.

"Kalian bilang kalian pelindungku?" ujar Chanyeol memulai, dia hanya tidak mengerti harus bagaimana, namun dia tak akan pernah meninggalkan separuh jiwanya, tak lagi, tak akan setelah dia mengetahui dan menemukannya, jadi dia menanyakan hal yang terus membuatnya berfikir.

"Benar."

"Dia adalah mateku, bukankah seharusnya kalian juga melindunginya?"

Pria itu mengeram kesal, kemudian bersuara, "Tugas kami adalah melindungi anda dari dia."

"Mengapa? Apa salah Baekhyun?"

"Dia berbahaya! Dan untuk catatan pangeran, aku tak tahu siapa yang telah mengatakan omong kosong itu, tapi dia bukan matemu!"

"Apa yang kau katakan? Dia mateku, aku merasakannya."

Pria itu mengerang frustasi, mereka telah terlanjur membuat kesalahan dengan membuat keduanya bertemu, semua karena Choi sialan itu, pangeran tak akan semudah itu di bohongi.

"Dia bukan matemu pangeran, percayalah, dia bahkan bukan saudaramu, matemu hanyalah saudaramu pangeran."

"Tapi dia saudaraku, dia kembaranku."

Lagi, ucapan Chanyeol membuat para pria berjubah hitam itu bingung, namun mereka akhirnya menyeringai, sepertinya ada yang membuat spekulasi yang salah disini.

"Benarkah pangeran? Darimana kau mengetahuinya?" ujarnya mulai bertanya untuk mengalihkan perhatian sang pangeran.

Tepat ketika sang pangeran ingin menjawab, salah satu pria berjubah hitam disana menyambar tubuh dalam gendongan sang pangeran dan membawanya menjauh.

"Sialan kau!" ujar Chanyeol penuh amarah.

Para pria berjubah hitam itu kembali mengepung sang pangeran, kali ini mereka mengeluarkan aura Chain yang membuat Chanyeol tak berdaya, mereka bukanlah lawan-lawan lemah yang biasa Chanyeol hadapi, mereka berbahaya.

Baekhyun terusik dan terbangun dari tidurnya di saat dia tak lagi merasakan aroma dan aura sang pangeran, sejak tadi Chanyeol mengeluarkan aroma dan aura yang membuat si mungil tertidur pulas.

Baekhyun yang mulai menyadari dia dalam bahaya ketika melihat dia akan di bawa ke hadapan pria berjubah hitam yang selama ini mengganggunya berusaha meronta.

"Lepaskan aku!" ujarnya berteriak.

"Sekarang kau sudah tak lagi berada dalam sangkar emas itu, akhirnya aku bisa membunuhmu." Ujar pria berjubah itu dengan nada bahagia.

"Apa yang kau katakan! Bukankah kau yang memasukanku kedalam sana?" ujar Baekhyun marah.

"Aku? Hahaha...bukan, bukan, itu bukan aku, mereka melakukan itu untuk melindungimu dan sialnya aku tak bisa melakukan apapun selain menerormu, semua karena sangkar sialan itu!"

"Mereka?" ucap Baekhyun tak mengerti.

"Kau tak perlu tahu, yang perlu kau lakukan adalah mati!" ujar pria itu sembari menodongkan sebuah pisau perak ke arah jantung si mungil.

"Tidak, tidak." Ujar Baekhyun beringsut mundur.

Sementara Chanyeol berusaha melepaskan diri dari belenggu Chain yang di keluarkan oleh ke 10 vampire yang mengepungnya, satu vampire yang mengeluarkannya saja bisa membuat seribu vampire lumpuh, apalagi 10 vampire yang mengeluarkannya, bahkan vampire sekuat Chanyeol saja membutuhkan waktu untuk melepaskan diri.

"Baekhyun!" Chanyeol berteriak saat pria itu semakin dekat berusaha menancapkan pisau perak itu tepat di jantung si mungil.

Chanyeol masih belum bisa melepaskan diri, sementara cintanya dalam bahaya.

Baekhyun berusaha melawan, namun kedua tangannya di pegangi oleh pria berjubah lainnya.

Saat pisau itu semakin mendekat sebuah tangan datang dan memukul tangan pria itu membuat pisau itu terhempas.

"Berani sekali kau menyentuh tuanku!"

Sebuah suara terdengar dari pria berjubah hitam lainnya, membuat Chanyeol dan Baekhyun bingung dibuatnya, bukankah mereka adalah teman? Mengapa saling menyerang?

"Ck, kau mengganggu kesenanganku." Ujar pria yang berusaha membunuh Baekhyun tadi.

"Minseok kau sialan!" ujar pria berjubah itu marah.

"Jangan sebut namaku sialan! Sekarang mereka tahu identitasku!"

"Aku tak peduli."

"Kau, kim jongdae sialan!"

"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Dan sekarang mereka tahu identitasku kau sialan!"

"Itu pembalasanku!" ucap Minseok kesal.

Jondae mengabaikan Minseok, kemudian beralih menatap tuannya, dia sudah membuka penutup wajahnya sehingga wajah tampannya terlihat, matanya menatap tajam pria yang memegangi kedua tangan Baekhyun kemudian bersuara, "Kau! Lepaskan tuanku atau kubunuh dirimu!"

Pria itu segera melepaskan Baekhyun dan beringsut menjauh, dia sungguh takut pada Jongdae yang setara dengan ketuanya Minseok.

Jongdae langsung membungkuk hormat pada Baekhyun yang kebingungan, kemudian dia bersuara, "Tuan kau tak apa?"

"A-aku tak apa." Ujar Baekhyun takut.

"Jongdae sialan! Berani kau mengabaikanku!" jeritan Minseok membuat Jongdae menutup telinganya dan mendelik kesal pada pria manis itu.

"Berisik kau!"

Kemudian mata beralih pada Chanyeol yang masih terbelenggu, mata Minseok mengikuti pergerakan mata Jongdae.

"Bahkan kau membelenggu tuanmu sendiri?" ujar Jongdae sinis.

"Aku tak punya pilihan lain." Ujar Minseok tak mau kalah.

"Baguslah." Ujar Jongdae bangkit.

"Apa maksud-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, mata Minseok membulat, sadar betul bahwa saat ini tuannya menjadi sasaran empuk bagi Jongdae.

Dengan mudah Jongdae menyingkirkan ke 10 vampire lainnya dan berusaha menyerang Chanyeol, dia mencekik Chanyeol kemudian bersuara, "Kau tadi berusaha membunuh tuanku kan? Ini pembalasanku." Ujarnya tersenyum licik.

"Kau! Berani sekali kau menyentuh tuanku!"

10 vampire berjubah hitam lainnya tiba-tiba muncul dan menyergap Minseok dan anggota kelompoknya yang lain, menghentikan mereka yang berusaha menolong Chanyeol.

Jondae semakin bersemangat mencekik Chanyeol, hingga Baekhyun berteriak, "Hentikan!" membuat Jongdae mengendurkan sedikit cekikannya namun tak berniat melepasnya.

"Tuanku, pangeran Baekhyun, pria ini berbahaya, aku harus segera membunuhnya." Ujar Jongdae santai.

"Jondae sialan! Lepaskan tuanku!" teriak Minseok yang telah berhasil menyingkirkan semua anak buah Jongdae, membuat vampire tampan itu mendengus kesal.

Jondae semakin mempererat cekikannya, sementara Minseok berusaha menyerangnya, Baekhyun yang melihat hal itu semakin kalut, kemudian tanpa sadar dia mengeluarkan aura yang membuat semua vampire terbelenggu sempurna.

Baik Jongdae maupun Minseok terdiam, tubuh mereka tak bisa di gerakan, bahkan ketika mereka mencoba melepaskannya mereka tetap tak bisa, aura ini jelas bukan Chain, mereka bisa dengan mudah melepaskan diri dari aura satu itu, keduanya membulatkan mata saat tahu aura apa ini, Absolute Chain.

Aura teratas, terkuat, penyempurnaan dari Chain, Jongdae tersenyum bangga dalam hatinya, tuannya Baekhyun memang hebat, sementara Minseok sedikit merasa marah dan takut, Byun Baekhyun memanglah berbahaya, dia harus segera menyingkirkannya.

Baekhyun berjalan menuju Chanyeol yang terlihat kesakitan, Chanyeol sendiri terkejut dengan cekikan Jongdae, tak pernah ada vampire yang bisa membuatnya sampai seperti ini.

Chanyeol sedikit merasakan aura aneh dari si mungil, namun dia tak memusingkannya, bahkan dia tak tahu jika itu adalah Absolute Chain.

Ketika si mungil sudah dekat, dia memeluk tubuh si mungil, kemudian bersuara, "Ayo, kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka kembali berulah." Ucap Chanyeol sembari melirik Jongdae dan Minseok yang entah karena apa malah terdiam mematung.

"Kau benar." Ucap si mungil tersenyum manis.

Kemudian sang pangeran menggendong si mungil dan secepat kilat keduanya meninggalkan alam mimpi itu, beserta para pria berjubah hitam itu disana.

Setelah dua pasang vampire itu pergi, semua kembali normal.

Jongdae dan Minseok kembali beradu mulut.

"Ini semua gara-gara kau! Berani sekali kau mengganggu tuanku di alam mimpi ini!"

"Kau juga menggagalkan rencanaku, 2 kali! Mengapa pula kau memasukannya kedalam sangkar itu membuatku tak bisa membunuhnya!"

"Itu tugasku! Kau yang menggagalkan rencanaku! Harusnya kubunuh saja tuanmu itu! Dia berbahaya! Lihatlah, dia bahkan tak terpengaruh dengan 'Absolute Chain' yang tuanku keluarkan."

"Tuanmu itu yang berbahaya! Dia bahkan bisa mengeluarkan bentuk sempurna dari Chain! 'Absolute Chain'! Monster itu mengeluarkannya!"

"Tuanku bukan monster, dia pria yang hebat, omega legendaris." Ujar Jongdae memuji.

"Dia monster."

"Bukan."

"Monster."

"Bukan."

"Aku ingin mencakar mukamu!" ujar Minseok kesal.

"Aku ingin menjambak rambutmu!" balas Jongdae lebih kesal.

"Hummmpphh." Ucap keduanya serempak sembari membalikan badan, kemudian keluar dari alam mimpi itu dengan anak buah mereka masing-masing.

Sementara anak buah mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah masing-masing ketua mereka, membuat mereka kadang serba salah, mereka itu bermusuhan namun kadang tak terlihat seperti itu, malah terlihat sangat akrab.

00000

000

0

Di istana Phoenix, kelima vampire itu masih setia menunggu sang pangeran dan si mungil untuk kembali, ketika mereka melihat pergerakan dari tangan Baekhyun dan Chanyeol, mereka tersenyum, sepertinya sang pangeran telah berhasil membawa si mungil kembali.

Beberapa detik berlalu, Chanyeol dan Baekhyun mulai membuka kedua mata mereka.

"Kalian sudah sadar?" itu suara Chanhee yang berucap lembut.

Chanyeol hanya diam, sementara si mungil terlihat bingung dengan keadaan sekitarnya, dia menangkap tangan pangeran yang menggenggam tangannya membuat wajahnya bersemu merah tanpa dia sadari.

Baekhyun menunggu cukup lama, namun sepertinya Chanyeol tak berniat untuk melepaskan genggamannya, jadi Baekhyun menggerakan tangannya berusaha melepaskan genggaman sang pangeran.

Bukan terlepas, genggaman itu malah semakin kuat namun lembut disaat bersamaan, seolah sang pangeran takut untuk melukai tangan yang di genggamnya.

"Umm, pangeran?" ujar si mungil untuk pertama kalinya.

"Hmm?" Chanyeol hanya membalas si mungil dengan gumaman yang terdengar seksi di telinga Baekhyun.

"Apa kalian mendengarku?" Chanhee kembali berujar ketika dia merasa diabaikan.

Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada sang ratu, kemudian raja, ayahnya, neneknya dan seorang pria asing.

"Maafkan aku Yang Mulia Ratu, kami sudah sadar." Ucap Baekhyun sesopan mungkin, dia masih menyadari posisinya di sini.

"Tak perlu kaku begitu sayang, aku ibumu." Ujar Chanhee tersenyum.

"Ibu?" si mungil berujar bingung.

"Iya, aku ibumu, Baekhyunku."

"Ibuku itu Byun Yunhwa Yang Mulia."

"Itu benar sayang, Yunhwa juga merupakan ibumu." Ucap Chanhee lembut.

"Apa maksud anda?"

"Ssttt...panggil aku ibu."

Baekhyun terdiam, kemudian mengalihkan perhatiannya pada sang ayah, "Ayah?" ujarnya dengan nada meminta penjelasan.

Yunhoo tersenyum, kemudian berjalan mendekat, lalu bersuara, "Sebaiknya kau duduk dulu." Ucapnya lembut.

Kemudian dia menyadari genggaman tangan kedua vampire itu yang belum terlepas sejak tadi, "Eheem...ada apa dengan tangan kalian?" tanyanya dengan nada sedikit menggoda.

Baekhyun kembali menyadari tautan tangannya dengan sang pangeran yang belum terlepas, kemudian pipinya kembali bersemu merah.

"Baekhyun, kau malu?" tanya Chanhee yang menyadari rona merah di pipi si mungil.

"Benarkah itu Baekhyun?" ucap Yunhoo menggoda.

"Ayah hentikan~" ucap si mungil tak sadar mengeluarkan nada protesnya yang terkesan manja, begitu menggemaskan.

"Aww..lucunya, Chanyeol berhenti menggoda adikmu, lepaskan genggaman kalian." Ucap Chanhee pada Chanyeol.

Sementara ke tiga vampire lainnya tersenyum melihat interaksi yang terjadi di ruangan itu.

"Tidak ibu." Jawab Chanyeol singkat.

"Mengapa Yeol?" ucap Chanho pada putra kesayangannya itu.

"Aku takut."

"Apa maksudmu?" tanya Chanhee tak mengerti.

"Aku takut dia akan menghilang lagi jika genggaman tangan ini kulepaskan, aku takut dia akan kembali terjebak di alam mimpi itu, aku takut kehilangannya." Ujar Chanyeol sembari membuang wajahnya, entah mengapa dia sedikit malu, tak dia sangka dia bisa mengucapkan kata-kata romantis itu, seperti bukan dirinya saja.

"Aww...begitu romantis." Ujar Chanho menggoda putranya.

Chanyeol tak peduli, lebih tepatnya berpura-pura tak peduli, padahal dia sangat kesal dengan godaan sang ayah.

"Tenanglah Chanyeol, Baekhyun tak akan menghilang." Ujar Baek Gi pada akhirnya.

"Kau yakin kakek tua?" ujar Chanyeol kembali tak sopan.

"Dasar cucu kurang ajar." Ujar Baek Gi menjitak kepala sang pangeran.

Chanyeol hanya menatap leluhurnya itu datar, kemudian dengan santai kembali berucap,"Kau yakin apa tidak kakek tua?"

"Ck, aku yakin." Ucap Baek Gi setengah kesal.

"Baiklah." Ujar Chanyeol pada akhirnya, dia melepaskan genggamannya meski sedikit merasa tak rela.

"Jadi Baekki, biar ayah jelaskan sesuatu padamu." Ujar Yunhoo setelah sang pangeran melepas genggaman tangan mereka.

Yunhoo menjelaskan semuanya, siapa Baekhyun sebenarnya, apa yang selama ini terjadi, dan siapa itu Chanyeol sebenarnya.

Baekhyun terlihat sedikit shock, namun segera bisa mengendalikan diri, "Jadi aku bukan anak ayah?"

Itulah kalimat pertama yang dia ucapkan setelah tahu kebenarannya, dia takut Yunhoo akan berhenti menyayanginya, biar bagaimanapun, yang dia tahu ayahnya selama ini adalah Yunhoo, hanya Yunhoo seorang, sulit baginya menerima kenyataan yang ada.

"Kau masih anakku, tak peduli jika kau bukan, bagiku kau adalah anakku, anak kesayanganku, Baekki yang paling kusayang." Ujar Yunhoo lembut.

Mendengar hal itu, air mata Baekhyun tanpa sadar terjatuh dari mata indahnya, secepat kilat dia memeluk tubuh sang ayah dan menangis di pelukan pria paruh baya itu.

"Terima kasih ayah, terima kasih, aku sayang padamu." Ucap Baekhyun dalam pelukan sang ayah.

Suasana emosional itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Baekhyun melepaskan pelukannya.

Keadaan hening sejenak, lalu Chanhee kembali bersuara memecah keheningan, "Tak ingin memberi pelukan pada ibu?" ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya.

Baekhyun menghambur kepelukan wanita yang saat ini dia ketahui sebagai ibunya, kemudian beralih memeluk Chanho, setelah itu Lily, ketika dia ingin memeluk Baek Gi, Baekhyun berhenti, agak ragu dia bersuara, "Apa kakek juga ingin di peluk?' ucapnya dengan lugu.

Semua di ruangan itu tertawa, kemudian Baek Gi bersuara, 'Tentu saja, kemarilah, berikan kakek pelukan."

Baekhyun memeluk Baek Gi, setelah itu melepasnya, Chanyeol tiba-tiba berdiri, kemudian bersuara, "Kau tidak ingin memberikan pelukan untukku juga sayang?"

Pipi Baekhyun sukses merona, dia terdiam di tempat.

"Auuuchh." Chanyeol berteriak memegangi dadanya.

Baekhyun yang melihatnya berubah menjadi panik dan berlari mendekati sang pangeran.

"C-chanyeol kau tak apa?" ucapnya ragu.

"Aku sakit."

"A-a-apa? Kau sakit? Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" ujar si mungil khawatir, dia berjalan semakin mendekat, kemudian secepat kilat sang pangeran memeluknya.

"Hatiku Bee, hatiku sakit karena kau tak mau memelukku." Ujar Chanyeol dengan nada berat di telinga si mungil.

Si mungil yang ada di pelukan Chanyeol kembali dibuat merona, ini memalukan, Baekhyun rasanya ingin masuk ke dalam jurang saja, dia membenakan wajahnya di dada sang pangeran, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.

"Bodoh." Gumamnya kecil.

Chanyeol hanya terkekeh dengan gumaman si kecil.

Sementara ke lima vampire lainnya hanya tersenyum melihat interaksi sepasang mate yang baru bertemu itu.

00000

000

0

Sementara itu, jauh, di tempat lain yang tak di ketahui dimana letaknya, terlihat seorang wanita sedang membaca sebuah buku, di temani dengan dua vampire yang manis dan tampan.

"Ibu, apa yang sedang kau baca?" ucap lelaki manis itu lembut.

Wanita itu tersenyum, kemudian menutup bukunya untuk memperlihatkan sampul buku itu pada pria manis itu.

"Kisah Cinta Alahontas?" tanya pria itu tak mengerti.

Wanita itu kembali tersenyum, kemudian bersuara, "Ini adalah kisah cinta mereka, tak ku sangka salah satunya memilih lahir dari rahimku dan menjadi saudara suamimu."

"Saudara suamiku?"

"Benar, saudara kembarnya, dan yang lainnya memilih lahir dari rahim sahabatku dan menjadi kembaranmu." Ucapnya melanjutkan.

"Aku tak mengerti."

"Tenanglah, bagaimana keadaanmu sayang?" ujar wanita itu pada pria yang sejak tadi hanya diam saja.

"Entahlah ibu, aku sungguh menyesal dan ingin memperbaiki semuanya."

"Apa yang kalian bicarakan?" ujar pria manis itu tak mengerti.

"Biar ibu ceritakan kisahnya padamu." Ujar sang wanita lembut.

Pria manis itu tersenyum kemudian mengangguk semangat.

"Dahulu kala dunia vampire terbagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah Barat dan wilayah timur. Kedua wilayah itu memiliki dua kerajaan yang sama kuatnya, dua kerajaan itu bermusuhan sejak ribuaan tahun lamanya, baik pihak Barat maupun Timur tak ada yang mau mengalah." Ujar sang wanita mulai bercerita.

"Kebencian, permusuhan, keserakahan dan dendam telah mendarah daging dalam pikiran mereka, tanpa tahu akar dari permasalahan, tanpa mengetahui dan mencoba memahami penyebab dari permusuhan yang terjadi, dua kerajaan itu terus berperang dan bermusuhan." Lanjutnya lagi.

"Tak ada yang berubah selama beribu tahun lamanya, hubungan kedua kerajaan itu sangat buruk, sampai langit mengirimkan sebuah kutukan pada keduanya, masing-masing dari pangeran mereka bertemu di tanah terlarang, tanah yang membatasi kedua kerajaan, juga merupakan tanah dimana peperangan biasa terjadi, namun mereka bukan bertemu di tanah terlarang yang biasanya."

"Mereka bertemu di tanah cinta terlarang, tanah yang akan mengutuk siapa saja yang bertemu dan jatuh cinta di sana, kedua pangeran itu sayangnya tak tahu larangan itu dan mereka saling jatuh cinta."

"Lalu ibu? Apa yang terjadi?"

"Bahkan jika mereka tidak di kutuk, cinta mereka merupakan cinta terlarang mengingat hubungan kedua kerajaan yang sangat buruk, mereka yang di butakan oleh cinta pada akhirnya tak peduli dengan semua orang, mereka berusaha lari dari masing-masing kerajaan dan bertemu di tanah cinta terlarang dimana tempat mereka bertemu pertama kali."

"Terjadi perang besar, perang yang terjadi setelah tanah terlarang tercipta untuk mencegah kedua kerajaan berperang, masing-masing pihak tak peduli, mereka ingin pangeran mereka kembali."

"Keduanya berusaha menghentikan peperangan itu, bahkan pangeran dari timur sampai menangis melihat pertumpahan darah itu, dia lemah, dia adalah seorang omega, dia memeluk pangeran dari Barat, orang yang di cintainya dengan erat, dia ketakutan."

"Pada akhirnya demi menghentikan peperangan mereka memutuskan berpisah dan kembali ke kerajaan masing-masing, semakin lama seiring bergantinya hari menjadi minggu kemudian berganti menjadi bulan, keadaan kedua pangeran itu semakin menyedihkan, mereka tak berselera makan, selalu murung dan terlihat begitu menyedihkan."

"Kedua pihak kerajaan sangat sedih melihat keadaan kedua pangeran mereka, pada akhirnya mereka memutuskan untuk merestui hubungan keduanya dan berdamai kemudian menggabungkan kedua kerajaan menjadi satu, Alahontas."

"Kedua pangeran menikah dan hidup bahagia, mereka bahkan memiliki anak kembar yang manis, sepasang kembar Alpha dan Omega, mereka menjadi raja dan ratu di kerajaan baru yang mereka beri nama kerajaan Alahontas."

"Seiring waktu berjalan, kedua anak kembar mereka tumbuh besar dan sehat, mereka melupakan kutukan tanah cinta terlarang, anak mereka ternyata adalah mate, maka keduanya pun menikah."

"Mereka di karuniai banyak anak, namun semua anak mereka adalah omega, merasa ada yang salah, keduanya kembali ke tanah cinta terlarang dan bertemu dengan perwakilan langit disana."

"Itu kutukan yang kami berikan, kerajaan kalian dulu selalu bermusuhan, penuh dengan dendam, cinta kalian haruslah di uji agar kerajaan Alahontas tak kembali terpecah menjadi dua, itulah yang dikatakan oleh perwakilan langit itu."

"Lalu ibu?" tanya pria manis itu antusias.

"Keduanya memohon pada perwakilan langit agar memberikan mereka keturunan berdarah Alpha, mereka tak tahan melihat anak mereka terus bersedih."

"Apa perwakilan langit mengabulkan permintaan mereka bu?"

"Awalnya tidak, namun mereka selalu kembali datang dan memohon, bahkan mereka sampai tinggal di tanah cinta terlarang itu tanpa makan dan minum, kondisi mereka terlihat menyedihkan."

"Baiklah akan kami kabulkan, pada akhirnya langit menyerah, cinta mereka begitu besar pada anak mereka."

"Permintaan mereka di kabulkan bu?"

"Benar, tapi..."

"Tapi apa bu?"

"Tapi ada harga yang harus mereka bayar."

"Apa itu bu?"

"Penderitaan." Ucap wanita itu tersenyum sedih.

"Apa maksud ibu?" tanya pria manis itu tak mengerti.

"Penderitaan tiada akhir, keturunan yang mereka mohon itu akan melakukan sebuah kesalahan besar yang akan mengancam kerajaan."

"Mereka tak peduli asal anak mereka bahagia, dan pada akhirnya terlahirnya sepasang anak kembar, Alpha dan Omega, yang mereka beri nama Baek Gi dan Baek Hee, awal dari segala penderitaan dan kehancuran."

"Mereka tersenyum bahagia tanpa tahu kejadian mengerikan yang menanti mereka di masa depan, seiring waktu Baek Gi dan Baek Hee tumbuh besar, Baek Gi harus mencari matenya dan juga mencari anak berstatus omega, jadi dia di perintahkan untuk tidur dengan semua saudara omeganya."

"Baek Hee tidak terima dan membunuh seluruh saudara omeganya, hanya menyisakan dirinya yang tengah mengandung anak Baek Gi, Baek Gi ketakutan, kembarannya berubah menjadi monster, dia berpaling dan memperlakukan Baek Hee dingin."

"Hal itu membuat hati Baek Hee hancur, perlahan tapi pasti kegelapan menggerogotinya, waktu terus berjalan dan Baek Hee melahirkan anak kembar, sepasang Alpha dan Omega yang akan melanjutkan kerajaan, anaknya di ambil paksa darinya, Baek Gi tak ingin monster mengasuh anaknya yang berharga."

"Baek Hee yang mendengarnya semakin gelap mata, dia berkata jika memang dia tak boleh mengasuh anaknya sendiri maka lebih baik mereka mati bersamanya, dia berusaha membunuh kedua bayi malang itu dengan pisau namun pangeran timur menghentikan aksinya, namun sayang, pisau itu malah menancap tepat di jantung sang pangeran."

"Pangeran Barat dan Baek Gi yang melihat itu sangat terkejut, pangeran barat menghampiri ratunya yang sedang sekarat, air mata berlinangan di pipinya, dia memohon pada pangeran timur untuk jangan meninggalkannya."

"Sebelum menutup mata, pangeran timur berkata : Cinta kita penuh ujian, aku tak menyesal bertemu denganmu, namun aku harap di kehidupan selanjutnya kita tak akan bertemu lagi, terlalu menyakitkan untuk melihatmu menangis lagi seperti ini ketika kau kehilanganku, aku harap di kehidupan selanjutnya aku tak bertemu dengamu agar tak melihat air matamu, itu membuatku sakit."

"Perkataan itu menjadi akhir dari nafas pangeran timur, omega manis itu menghembuskan nafasnya dan mati di pelukan orang yang di cintainya, sementara pangeran Barat menjerit, menangis pilu kehilangan separuh jiwanya."

"Baek Hee beringsut mundur, berlari menjauh, Baek Gi mengejarnya, di tengah hutan Baek Hee merasakan sakit yang luar biasa, dia kembali melahirkan, seorang bayi berstatus Alpha, saat itu darah murni Baek Hee telah sepenuhnya berubah menjadi darah kegelapan, hingga bayi yang terlahir saat itu memiliki darah murni kegelapan atau yang disebut Dark Blood."

"Inilah permulaan dari Dark Blood, Baek Gi yang melihat Baek Hee melahirkan terkejut bukan main, bayi yang di lahirkan memiliki aura gelap yang begitu mencekam dan menakutkan, bayi itu berbahaya, Baek Gi mencekik Baek Hee, dia berteriak, memanggil wanita itu monster dan mengatakan bahwa dia telah melahirkan monster, anak ke tiga mereka, anak termuda mereka."

"Hati Baek Hee semakin hancur, untuk terlahir kalinya dia menangis, dengan sisa tenaganya dia berkata : Bunuhlah aku jika itu membuatmu bahagia, maafkan aku karena telah berubah menjadi monster, semua itu karena aku cinta padamu, maafkan aku karena telah melahirkan monster, kau bisa bunuh dia, maafkan aku, aku mencintaimu."

"Perkataan Baek Hee menyadarkan Baek Gi betapa dia mencintai wanita itu, dia sadar bahwa dia telah menyakiti hati wanita itu dengan meniduri semua saudara omeganya, dia merasa menjadi orang paling jahat, 'Baek Hee maafkan aku', ucapnya mulai menangis."

"Baek Hee tersenyum tulus, 'Aku mencintaimu' Baek Gi berbisik di telinga wanita itu membuat dia menangis bahagia, 'Aku sangat senang' ucap Baek Hee, 'Tetaplah bersamaku' Baek Gi memohon, 'Aku ingin, tapi maaf aku harus meninggalkanmu seperti ini' ucap Baek Hee menyesal."

"Baek Hee menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Baek Gi, Baek Gi menyangka dia telah membunuh Baek Hee karena telah mencekiknya, namun Baek Hee meninggal karena melahirkan anak ke tiga mereka, Baek Gi masih menyesal sampai sekarang."

"Baek Gi beranjak ke arah bayi yang baru saja Baek Hee lahirkan, anaknya, saat dia hendak mengambilnya, sekelebat bayangan muncul dan dengan cepat mengambil bayinya, bayinya di culik."

"Waktu terus berjalan, Baek Gi tetap memikirkan anaknya yang di culik, hingga teror 'Dark Blood' dimulai, dan dia tahu bahwa itu semua adalah ulah anaknya, yang diracuni dan berniat membalas dendam padanya, dia tahu itu salahnya, sang ayah menghukumnya dan dia mengasingkan diri."

"Lalu bagaimana dengan pangeran Barat ibu?"

"Seiring berjalannya waktu dia semakin tua, mencoba mencari cara agar terbebas dari kutukan, mencoba mencari cara agar bisa kembali bertemu pangeran timur di kehidupan selanjutnya."

"Dia selalu berkunjung ke tanah cinta terlarang, menyerukan protes pada langit betapa menyedihkannya cintanya, mempertanyakan apa salahnya dan pangeran timur hingga kutukan yang mereka terima begitu mengerikan."

"Perwakilan langit hanya berkata : Itu takdir kalian, mungkin lebih baik kalian tak bertemu di kehidupan selanjutnya."

"Pangeran Barat marah, kemudian mengeluarkan kekuatannya yang membuat langit takut, aku akan menghilangkan kutukan ini, aku akan terlahir kembali bersamanya sebagai kembaran dan mate hingga aku tak perlu mencarinya karena dia selalu bersamaku sejak lahir."

"Kutukan itu bisa kau hilangkan, namun terlahir kembali itu adalah pilihan, dia memilih terlahir sebagai orang lain, bukan kembaranmu, dan dia berharap tak akan pernah bertemu denganmu dikehidupan selanjutnya karena itu menyakitkan."

"Pangeran Barat marah karena itu tak adil, namun perwakilan langit hanya berkata, 'Omega Bulan Biru' dia akan terlahir dengan menyandang gelar itu, dia akan terlahir pada hari yang sama denganmu, jika kau beruntung kau akan kembali bertemu dengannya tapi jika tidak itu artinya takdir kalian tak berlanjut di kehidupan selanjutnya."

"Hanya itu yang bisa kami berikan sebagai permintaan maaf, semoga kau berhasil dan berdoalah takdir kalian tetap berlanjut di kehidupan selanjutnya."

"Setelah itu perwakilan langit kembali ke langit dan tak pernah turun, kondisi pangeran barat semakin hari semakin lemah, kemudian dia menghembuskan nafasnya di depan makam pangeran timur."

"Hiks...mengapa kisah cintanya sungguh tragis?" Ucap pria manis itu sembari menitikan air mata.

"Ahhh! Kita harus segera kesana, anakku dalam bahaya." Ujar wanita itu panik.

"Kau terlalu asik bercerita." Ujar pria tampan itu mencibir sang ibu.

"Berisik kau, kita harus segera menolong adikmu, cepatlah Baek Boom."

"Bukankah maksudmu pangeran timur ibu?"

"Sekarang dia adalah Byun Baekhyun, anak ibu dan juga adik kembarmu, jadi ayo cepat kita harus segera menolongnya."

Baek Boom tersenyum, kemudian bersuara, "Kau benar ibu, dia adikku tersayang, ayo kita selamatkan dia."

"Mari Chan In."

"Baik ibu."

"Ini akan jadi perjalanan yang panjang, kalian siap?" ucap Baek Boom pada dua vampire dihadapannya.

Keduanya mengangguk yakin, tak ada keraguan sama sekali terlihat dari kedua omega berbeda jenis kelamin itu.

"Tunggulah ibu Baekki sayang." Ujar wanita itu.

Benar sekali, dia adalah Yunhwa, setelah lama berbenah, ketiga vampire itu segera pergi, bergegas menuju ke tempat dimana Baekhyun sang reinkarnasi pangeran timur berada.

00000

000

0

Di taman istana, terlihat dua omega cantik sedang memperbincangankan sesuatu.

"Hei." Ujar Luhan memulai.

Kyungsoo hanya diam.

"Kyung." Luhan kembali bersuara.

Kyungsoo tetap diam.

"Yaakk! Park Kyungsoo!" kali ini Luhan menjerit membuat kembarannya itu terlonjak kaget.

"Kau mengagetkanku." Ucap Kyungsoo sembari melotot.

"Salah sendiri dari tadi di panggil tapi tak menjawab." Ujar Luhan mencibir.

Kyungsoo mendengus kesal, kemudian kembali mengabaikan Luhan, fikirannya masih memikirkan perkataan pria berjubah misterius itu.

"Kyung." Luhan kembali bersuara.

"Hmm?' Kyungsoo hanya menjawab dengan deheman singkat.

Luhan tak peduli, dia tetap bersuara, "Menurutmu apa yang maksud dari pria itu?"

"Entahlah." Jawab Kyungsoo singkat.

Plak~

Luhan menjitak kepala Kyungsoo, kemudian dengan kesal dia bersuara, "Bisakah kau serius?"

"Aku serius." Jawab Kyungsoo singkat.

Luhan mendengus kesal, Kyungsoo sedang dalam mode 'hemat bicara' rupanya, sungguh menyebalkan.

"Apa menurutmu Baekhyun ada di istana ini?" Luhan kembali bersuara.

"Entahlah." Jawab Kyungsoo singkat.

Luhan mendengus kesal, dia mengerucutkan bibirnya sebal, Kyungsoo benar-benar menyebalkan.

Dari arah lain, Sehun dan Kai sedang berjalan dan melihat pujaan hati mereka sedang duduk di kursi taman istana, dengan semangat keduanya datang menghampiri Luhan dan Kyungsoo.

"Tuan putri." Ucap keduanya bersamaan sembari menekuk satu lutut mereka dan meraih tangan masing-masing pujaan hati mereka untuk mereka kecup dalam penuh cinta, dua omega yang sedang terlarut dalam pemikiran mereka itu sedikit terkejut namun pada akhirnya tersenyum geli.

"Manis sekali." Ucap Luhan menggoda.

"Kau lebih manis Luhanku." Ucap Sehun membalas godaan Luhan membuat omega manis itu bersemu merah.

Sementara Kyungsoo hanya tersenyum dan beralih mengelus surai rambut Kai lembut, kemudian bersuara, "Kai, apa yang kau lakukan disini?"

"Aku hanya sedang berjalan dan kebetulan melihat seorang malaikat sedang termenung." Ucapnya santai membuat Kyungsoo ikut bersemu merah.

"Benar-benar kalian ini." Luhan berucap sedikit kesal namun senang disaat bersamaan.

Baik Sehun maupun Kai hanya bisa tertawa, kemudian mereka bertanya apa yang sedang keduannya fikirkan sampai wajah mereka terlihat sangat serius.

"Begitulah ceritanya." Luhan menutup cerita, saat omega manis itu menyelesaikan ucapannya Sehun dan Kai bangkit dari posisi mereka dan menarik tangan masing-masing pasangan mereka, satu tempat yang mereka fikirkan saat ini.

"Kita mau kemana?" tanya Kyungsoo dan Luhan bersamaan.

"Istana Phoenix." Ucap Kai dan Sehun bersamaan.

Detik selanjut ke empat vampire itu telah berjalan menuju istana phoenix.

00000

000

0

Chanyeol dan Baekhyun masih dalam acara berpelukan mereka hingga sang pangeran mendapatkan telepati dan akhirnya mempersilahkan Sehun dan ke tiga vampire lainnya masuk ke istana miliknya.

Sekarang semuanya berkumpul di istana Phoenix, mereka mencerita apa yang terjadi membuat Chanyeol, Baekhyun dan para tetua di sana sedikit terkejut.

"Apa dia bagian dari 'Dark Blood'?" tanya Chanhee sedikit takut.

"Kami juga tidak tahu." Kyungsoo menjawab dengan sopan.

"Senang sekali mereka mengganggu kami." Ucap Chanyeol geram.

"Mungkin itu Jongdae Chan." Ucap Baekhyun mengalihkan perhatian semua vampire padanya.

"Jongdae? Kau mengenalnya nak?" ucap Yunhoo memulai.

"Tidak ayah, tapi saat di alam mimpi dia menyelamatkan nyawaku saat aku hampir mati dan dia bilang bahwa aku adalah tuannya."

"Kau hampir terbunuh?!" pekik Yunhoo tak percaya, kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada sang pangeran dan bersuara, "Chanyeol bisakah kau jelaskan maksud dari perkataan Baekhyun?"

Chanyeol menjelaskan semua yang terjadi di alam mimpi dan berbagai spekulasi mulai keluar dari mulut para vampire di sana.

"Aku rasa mereka bukan bagian dari Dark Blood." Luhan yang pertama kali menyuarakan pendapatnya.

"Itu belum tentu." Kali ini Kyungsoo ikut berpendapat.

"Jadi mereka siapa?" tanya Baekhyun entah pada siapa.

"Sepertinya mereka itu 2 kelompok terpisah." Kali ini Yunhoo bersuara.

"Aku setuju, satu kelompok adalah pelindung Chanyeol sementara yang lain pelindung Baekhyun." Ucap Chanho menambahkan.

"Tapi kelompok apa?' Chanhee membuka suara.

Semuanya saling berpandangan, mereka bingung.

Suasana menjadi hening untuk sesaat, semua vampire larut dalam pemikiran masing-masing.

"Lebih baik kita berhati-hati, memikirkannya juga tak ada gunanya." Ujar Lily pada akhirnya menengahi.

"Lily benar." Baek Gi membenarkan ucapan Lily.

Semua vampire itu mengangguk setuju.

"Sepertinya sudah terlalu lama waktu terbuang, Chanyeol dan Baekhyun juga harus istirahat, sebaiknya kita segera pergi dari sini dan biarkan mereka beristirahat." Ucap Chanho pada akhirnya.

"Kau benar." Chanhee membenarkan ucapan suaminya.

"Baekhyun tinggal di sini?" ucap Luhan dan Kyungsoo bersamaan dengan nada tak percaya.

"Benar, hanya istani phoenix yang benar-benar aman, lagipula mereka mate, kita harus memberikan waktu untuk dua pasang ini untuk saling mengenal." Ucap Chanho menggoda.

Dan pada akhirnya semua vampire yang tadi berkumpul di sana pergi menuju tempat mereka masing-masing.

Tinggalah dua vampire yang saat ini berstatus sebagai mate, suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.

"Umm, jadi kita adalah mate?" ucap Baekhyun memulai pembicaraan.

"Benar sayang." Ucap Chanyeol tersenyum sembari berjalan mendekat.

Baekhyun mengikuti instingnya dan berjalan mundur.

"A-apa yang mau kau lakukan?" ucap si mungil terbata.

Sementara Chanyeol mengeluarkan seringainya yang menggoda dan berjalan semakin dekat menuju Baekhyun.

"Apa lagi?' ucap sang pangeran menggoda si mungil.

Baekhyun semakin beringsut mundur hingga kakinya mengenai pinggiran kasur dan tubuhnya terjatuh di atas kasur dalam posisi terlentang, kesempatan ini tak Chanyeol sia-siakan, pangeran tampan itu segera mengungkung tubuh si mungil dan menggenggam kedua tangan si mungil di samping kepalanya agar dia tak bisa bergerak.

Chanyeol menatap Baekhyun intens, tubuh mereka terlihat begitu intim.

"K-kau mau melakukan itu? Kita bahkan belum sedekat itu." Ujar Baekhyun gugup.

"Kau lupa? Kita sudah pernah melakukannya Bee." Ucap Chanyeol menggoda si mungil.

"Ta-tapi...itu kesalahan, kita di jebak, kita sama-sama tak sadar."

"Tapi aku mau melakukannya sekarang."

"Ka-kau tak dengar kata Yang Mulia kita harus mengakrabkan diri terlebih dahulu." Ucap Baekhyun terbata, dia semakin gugup, dia belum siap.

"Tapi kita sudah akrab Bee, bahkan kita kembar."

"Tapi kita kan sudah terpisah sejak lama."

"Kau salah Bee, kita pernah bertemu waktu kecil." Ucap Chanyeol tersenyum.

"Apa maksudmu?"

"Ingat anak kecil di hutan kesunyian yang kau temui dulu?" ucap Chanyeol memulai.

"Bagaimana kau tahu aku bertemu anak kecil di hutan kesunyian?"

"Umm, itu, saat di alam mimpi aku melihat serpihan kenanganmu dan aku sangat terkejut karena anak kecil itu adalah aku."

"Jadi anak kecil itu adalah kau?"

"Benar."

"Ternyata kita sudah saling mengenal sejak lama." Ujar Baekhyun tersenyum.

"Jadi, mau melakukannya?" tawar Chanyeol kembali.

"Ki-kita harus menikah dulu Chanie." Ucap Baekhyun gugup dengan nada yang terdengar imut membuat Chanyeol tak tahan dan mencium bibir mungil itu dalam.

Baekhyun membelalakan matanya, ciuman Chanyeol semakin lama semakin menuntut, penuh hasrat dan juga penuh cinta, Baekhyun terbuai dan membalas ciuman sang pangeran.

Chanyeol melepas pagutan bibir mereka saat Baekhyun mulai kehabisan nafas, dia melepaskan kungkungannya dan berdiri, dia tersenyum melihat wajah Baekhyun yang memerah dan terengah-engah kehabisan nafas.

Chanyeol menarik tangan si mungil untuk membantunya duduk di tepi kasur, kemudian Chanyeol mendudukan dirinya di sebelah Baekhyun, ibu jari Chanyeol mengusap pipi si mungil lembut lalu beralih mengusap surai rambutnya lembut.

"Tak lama lagi kita akan melakukan upacara kedewasaan, lalu setelah itu kita akan menikah. Aku tahu saat ini kau belum siap, jadi persiapkanlah dirimu Bee, kau terlihat sangat menggoda hingga aku tak kuat dan menciummu, tapi tenanglah Bee aku tak akan melakukan yang lebih dari itu sebelum kita menikah, aku mencintaimu." Ucap Chanyeol lembut kemudian dia mengecup dahi si mungil lama dengan penuh kasih sayang.

"Istirahatlah, jika kau memerlukan sesuatu aku di sana." Ucap Chanyeol sembari menunjuk ruangannya.

Chanyeol beranjak pergi ke ruangannya, sementara Baekhyun, wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

00000

000

0

2 minggu kemudian...

Upacara kedewasaan adalah upacara yang harus di lakukan oleh setiap vampire untuk menunjukan bahwa mereka telah dewasa.

Chanyeol dan Baekhyun akan menjalani upacara ini, setelah tahu bahwa mereka adalah mate, tak ada alasan lagi bagi mereka untuk menunda upacara ini.

Lagipula sekarang keduanya sudah meminum darah vampire lain, bukan darah hewan lagi.

"Chanyeol masuklah kedalam kolam kedewasaan dan basuhlah dirimu di sana."

Chanyeol menggaguk kemudian melangkah menuju ke dalam kolam kedewasaan.

"Sekarang minum darah ini."

Darah yang di minum oleh Chanyeol adalah percampuran darah Chanho dan Chanhee selaku kedua orang tua sang pangeran.

Chanyeol meminum cairan merah itu lalu seketika dua buah cahaya yang berbeda warna mengelilingi sang pangeran.

Cahaya berwarna merah dan biru itu berputar mengelilingi sang pangeran.

Upacara untuk Chanyeol selesai, sekarang giliran Baekhyun.

Baekhyun masuk kedalam kolam kedewasaan dan membasuh dirinya.

"Sekarang minum darah ini." Itu darah yang sama dengan yang Chanyeol minum, mengingat orang tua mereka adalah sama.

Saat Baekhyun hendak meminum darah itu, sebuah suara mengejutkan semua orang yang berada di sana.

"TIDAK! JANGAN MINUM DARAH ITU BAEKKI."

Sebuah jeritan terdengar, itu adalah Yunhwa yang mencoba mencegah putra tersayangannya untuk meminum darah itu.

Namun terlambat, Baekhyun yang terkejut dengan jeritan itu tanpa sadar menegak sedikit dari darah itu dan tubuhnya bereaksi aneh.

ARRRRGGHHH!

Baekhyun menjerit kesakitan dan semua yang ada di sana tercengang melihat keadaan si mungil yang terlihat kesakitan.

"BEE!" Chanyeol menjadi orang pertama yang berlari ke arah Baekhyun.

"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Chanho melihat keadaan Baekhyun, sementara Chanhee di sampingnya sudah menangis melihat keadaan Baekhyunnya tersayang.

Semuanya panik, upacara kedewasaan yang sakral berubah menjadi penuh dengan kepanikan.

Hanya satu orang yang menyadari dari mana suara teriakan itu berasa, dia adalah Yunhoo, matanya terbelalak terkejut kemudian dia bersuara, "Yunhwa?"

"KAUKAH ITU BYUN YUNHWA?" kembali Yunhoo berteriak membuat suasana seketika menjadi hening.

Semua mata tercengang melihat tiga sosok vampire di sana, vampire yang selama ini mereka kira telah tiada, saat ini ada di sini, mereka masih hidup.

ARRGGGHHH!

Semua pandangan kembali tertuju pada sosok Baekhyun yang menjerit kesakitan di pelukan Chanyeol, kemudian tak lama sosok mungil itu mulai kehilangan kesadarannya.

"BAEKHYUN! BYUN BAEKHYUN SADARLAH!" Chanyeol menjerit histeris, memanggil-mangil nama si mungil memintanya untuk sadar.

Suasana menjadi semakin mencekam, semua terdiam tak ada yang berani bersuara, apalagi setelah mereka merasakan aura yang tak biasa keluar dari tubuh sang pangeran, aura yang begitu mencekam dan mengerikan.

"SIAPA YANG SUDAH MERACUNI KEKASIHKU?!"

Teriakan itu membuat suasana menjadi semakin mengerikan, auranya semakin kuat, semua tak ada yang bisa bergerak, Chanyeol mengeluarkan aura 'Absolute Chain' yang membuat semua vampire terbelenggu sempurna.

"KATAKAN PADAKU! SIAPA YANG SUDAH BERANI MERACUNI BAEKHYUN?!"

Teriakan itu menjadi penutup segala, tak ada yang bisa bergerak, sementara Chanyeol semakin murka dan Baekhyun yang tak sadarkan diri di gendongannya semakin memperburuk keadaan.

Keadaan saat ini sungguh mengerikan, keadaan ini sungguh kacau, upacara kedewasaan yang sakral berubah menjadi upacara kematian!

l

l

l

l

l

~To be Continued~

l

l

l

l

Wow...wow...wow...

I AM BACK GUYS !

Apa kabar kalian? Jamuran yaa nunggu cerita ini lanjut? Wkwk:v

Maaf yaak kalo lama wkwk:v

Oke...oke...oke...

Chapter kali ini tembus di angka 9 ribu plus plus sih, kalo di genapin sampe lah 10 K (OMG-OMG-OMG!)

l

l

l

l

JANGAN LUPA REVIEW YAAK BEIBSS _

YANG HEBOH POKOKNYA WKWK

OIYA...FOR NEW READERS : WELCOME! :3 :3 :3 OH MY GOD WELCOME SAY :* :* #CIPIKACIPIKI

UDAH AH KAYAKNYA GITU AJA WKWK

l

l

l

l

POKOKNYA JANGAN LUPA REVIEW YAA SYANTIKK :3

THANK YOU #MUUUAAACCHH