"Apa karena kau menyukai Kuroko?"

Pertanyaan yang keluar dari Haizaki membuat Akashi tersentak dan berakhir terdiam. Namun selanjutnya dia menyeringai senang seolah ia baru saja memenangkan undian berhadiah dalam jumlah besar.

"Apa aku perlu menjawabnya? Bukankah kau sudah tahu jawabannya, Shougo?"

"Sialan kau, Akashi!" umpat Haizaki kesal.

"Kaulah yang pertama kali datang kepadaku dan meminta uang. Sekarang, kau mau aku mengembalikan Tetsuya kepadamu?" Akashi terkekeh hingga bahunya terguncang. "Asal kau tahu saja, aku tidak akan pernah melepaskan Tetsuya kepada siapapun."

Dari seberang telepon Haizaki mengumpat. Ini semua di luar perkiraannya. Dia berharap menjual Kuroko kepada Akashi adalah keputusan yang terbaik, namun nyatanya keputusan itu tidak di dukung oleh sang ibu yang bahkan menganggap Kuroko lebih berharga dari pada dirinya.

"Cih, aku tahu ini semua memang sudah direncanakan olehmu kan? Kau sengaja membuatku terlibat dengan anggota mafia dengan iming-iming hadiah besar karena kau tahu aku sedang dalam masa sulit."

Akashi memandang jam tangannya. Pembicaraan ini sudah banyak memakan waktunya.

"Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk mendengarkanmu mengoceh terlalu lama. Tetsuyaku sudah lama menungguku."

"O-oi, Akashi! Aku belum selesai bica-"

"Jaa."

TUT! Sambungan telepon itu pun terputus. Dan Akashi kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju Kuroko yang menunggunya di taman.

LOCKED IN HEAVEN

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi

Story by Kuroi Sora18

Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka

Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya

Genre : Romance / Hurt/ Comfort

Rated : M #maybe

Summary : Kuroko Tetsuya -remaja 16 tahun bernasib apes yang harus dijual oleh sepupunya sendiri sebagai balas budi./ " Yokozo,Tetsuya."/ Dirinya menyesali keadanyaanya yang serapuh butiran salju.

WARNING !!!

Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!

author proudly present

.

LOCKED IN HEAVEN

.

Chapter 3 : Tetsuya's Feeling

"Apa kalian tidak malu melawan anak kecil?"

Sang kapten klub sepak bola itu menatap nyalang sosok remaja baby blue yang berdiri tidak jauh darinya. Dia sedikit terkejut karena dirinya sama sekali tidak menyadari kehadiran Kuroko di sekitarnya.

" Berani-beraninya kau melemparku dengan bola basket itu, Teme! "

Kerah baju dan jaket Kuroko dicengkram dengan kasar oleh sang kapten bertubuh besar itu.

" Lapangan ini bukan milikmu. Ini fasilitas umum. Jika kau ingin bermain disini, tunggulah giliran kalian." ujar Kuroko tak gentar. Wajahnya yang tidak menyiratkan ketakutan membuat remaja berambut hitam itu mendesis marah.

"Pukul saja dia, Kapten!" seru salah satu anggota klub sepak bola di belakang mereka.

" Ya! Beri laki-laki kecil itu pelajaran!"

Meskipun Kuroko sudah meringis sakit di lehernya, dia masih bersikukuh membela anak kecil yang kini bergetar ketakutan di sebelah sana.

" Baiklah! Karena kau sudah berani menantangku, kau akan kuberi pelajaran agar kau tahu siapa yang berkuasa di sini, bocah lemah!"

Kuroko sudah bersiap menerima pukulan yang akan dilayanglan kapten klub sepak bola di depannya itu.

" Apa yang sedang kalian lakukan? "

Semua mata kompak menoleh kearah sumber suara baritone yang menyambangi pendengaran mereka.

"Akashi-kun?"

Manik crimson Akashi memandang Kuroko sejenak sebelum dia menatap tajam si kapten sepak bola yang dengan berani-beraninya menyentuh si baby blue yang sudah dia klaim sebagai properti miliknya.

"Lepaskan dia."

"Oi, memangnya kau siapa?!"

"Kau tidak dengar kata-kataku?"

Nada bicara Akashi berubah dingin dan mengerikan. Netranya menatap tajam satu per satu teman si kapten sepak bola.

" Kapten, sebaiknya kau lepaskan dia saja!Dia Akashi Seijuurou -anak donatur terbesar di sekolah kita!" bisik salah seorang anggota klub sepak bola itu di telinga kaptennya. "Jika kau sampai berurusan dengannya kau bisa tamat! "

Cengkraman di leher Kuroko dilepas secara kasar, membuat pemuda ringkih itu sedikit terhuyung ke belakang dan nyaris terjatuh.

Sang kapten berdecih kesal. Namun pada akhirnya dia tetap meninggalkan lapangan itu bersama teman-temannya yang lain sambil mengumpat sepanjang jalan.

"Daijoubu desuka?" tanya Akashi kala dia mendapati Kuroko masih mengelus lehernya yang memerah.

"Ha'i. Daijoubu desu."

" Kenapa kau ikut campur urusan mereka?"

Manik azure Kuroko memandang tidak mengerti Akashi yang berdiri di depannya. Dia merasa terkejut dengan perubahan sikap Akashi kepadanya. Perasaannya saja, atau memang nada bicara Akashi terkesan -lebih dingin?

"Bagaimana jika sampai kau dikeroyok oleh mereka? Kau pikir dengan tubuh lemahmu itu, kau bisa melawan mereka?!"

"Lalu aku harus bagaimana?!"

Kuroko menyahut dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini.

"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "

Telapak tangan Kuroko mengepal erat. Kata-kata Akashi seperti air garam yang disiramkan ke lukannya yang belum sembuh.

" Lalu, kenapa tidak bunuh saja diriku, Akashi-kun? Jika aku mati, Akashi-kun bisa mengendalikanku semaumu."

" Tetsuya...kau-"

"Onii-chan..."

Kalimat Akashi terpotong karena dia merasakan sentakan kecil di jaket yang dia kenakan. Seorang gadis kecil bersurai coklat bersama dua orang teman laki-lakinya berdiri disampingnya dengan wajah takut.

"Onii-chan itu tidak bersalah. Dia berusaha membela kami saat kakak pemain sepak bola itu mengusir kami dari sini."

"Yang Riko-chan katakan benar. K-kami sangat berterima kasih. Jika saja Onii-chan berambut biru itu tidak datang, pasti aku sudah dipukul oleh mereka."

" Tolong jangan marahi, Onii-chan baik hati itu."

Akashi menatap Kuroko dan tiga bocah di sampingnya itu secara bergantian. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri melihat mata-mata polos bocah-bocah itu terus menyorotnya bagaikan sinar laser yang begitu menyilaukan. Ahh...jika keadaanya berbalik seperti ini, apa yang harus dia katakan kepada Kuroko?Kok, rasanya dia yang salah disini?

Suasana berubah canggung dengan cepat. Akashi entah mengapa jadi blank seketika dan tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan mata Kuroko terus saja menghindari kontak dari matanya. Arrrrrghh...

.

.

.

.

.

"Huahahahahaha...hu-huahahaha.."

Midorima menatap tajam Kise sebagai kode keras agar dia bisa menjaga mulutnya yang berisik itu. Namun nampaknya tatapan tajamnya sama sekali tidak cukup untuk membungkam mulut ember si blonde.

"Pfft...dengan kata lain, Akashicchi pasti sedang galau saat ini kan?Bwuahahaha..." ujar Kise dengan nada jenaka.

"Jika Akashi tahu kau sedang menertawainya, aku jamin karir modelmu itu hanya tinggal sejarah, baka Kise!" ujar Aomine dengan kejamnya.

Midorima memijit keningnya yang mendadak nyeri. Curhatan Akashi semalam tak pelak menambah masalah baru di kehidupannya. Jika Akashi tumpul soal romansa, maka Midorima seakan tak peduli dengan urusan cinta.

'Shintarou, kira-kira obat apa yang bisa membuat Tetsuya tidak marah kepadaku?'Kira-kira seperti itulah pertanyaan absurd Akashi untuknya. Dia memang seorang dokter yang mustinya tahu banyak soal obat. Tapi dokter manusia dengan penyakit yang lumrah! Bukannya dokter cinta! Midorima misuh-misuh di benaknya.

" Aku yakin, itu karena Akashi terlalu mengekang Tetsu hingga jadi berakhir seperti itu. Ahh.. sekarang aku paham kenapa dia tidak muncul disini sekarang."

Murasakibara mengangguk-angguk sok paham dengan obrolan teman-temannya. Padahal dia hanya jadi pendengar yang selalu sibuk dengan makanannya.

"Hah, kenapa aku harus ikut repot dengan masalahnya-nanodayo?"

"Itu karena Midochin orang terdekat Akachin."

" Huahahahahaha ..."

"Urusai-nodayo!!"

"Hei, kakiku pegal. Kenapa kita terus berdiri di depan konbini seperti ini? Bukannya lebih baik kita masuk dan membeli sesuatu?"

Tiga pasang mata kompak menatap Aomine yang melenggang pergi memasuki konbini dengan wajah malasnya.

"Kau yang mengajak kami untuk bertemu di depan konbini-nanodayo?!!" teriak Midorima murka.

.

.

.

.

.

Baru kali ini, Akashi merasa canggung luar biasa. Dia sudah sering berhadapan dengan kolega-kolega penting ayahnya yang berasal dari keluarga terhormat seperti dirinya. Namun, sekarang -dihadapan Kuroko Tetsuya, kepercayaan dirinya mendadak ringan seperti debu.

Manik crimson miliknya mencuri pandang kearah Kuroko yang menunduk -menjatuhkan pandangannya ke sup tofu yang dihidangkan untuknya di meja.

" Kenapa kau tidak makan?"

"Eh?"

"Apa kau tidak suka? Aku bisa menyuruh Hibiki-san untuk membuatkanmu makanan baru."

Kuroko langsung menatap pria paruh baya berpakaian koki yang berdiri di samping Akashi.

"Apa perlu saya buatkan masakan yang lain, Kuroko-sama?" tanya koki pertengahan enam puluh tahun itu sembari tersenyum ramah.

" Ah..terima kasih. Tapi ini saja sudah cukup."

"Lantas kenapa kau hanya menatap sup tofu itu?"

Dalam hati Akashi sedikit bersyukur karena topik sup tofu ini bisa mencairkan suasana canggung antara mereka.

" Ano... aku hanya teringat dengan ibuku yang sering memasakan sup tofu seperti ini untukku."

"Ini juga makanan favoritku.Ibuku juga sering membuatnya untukku."

"Sumimasen."

Akashi berhenti menyeruput kuah sup tofu di sendoknya dan memandang Kuroko dengan alis merahnya yang terangkat sebelah.

"Maaf telah membuatmu khawatir."

"Tidak usah kau pikirkan."

Kuroko mendongkak hanya untuk mendapati Akashi tengah tersenyum kearahnya.

"Aku hanya khawatir kau terluka. Maaf aku telah mengatakan kata-kata yang kejam kepadamu."

Netra azure Kuroko mendadak bergulir gelisah mengalihkan kontaknya dari netra Akashi. Nampaknya untuk yang satu itu Kuroko sepertinya belum menerima permintaan maaf Akashi. Tak pelak sikap Kuroko membuat Akashi tersenyum maklum.

"Kuroko, mulai saat ini aku tidak akan terlalu mengekangmu. Aku akan menyekolahkanmu di SMU Rakuzan tempat dimana dulu aku bersekolah agar kau bisa menemukan teman."

"Eh?"

"Kenapa reaksimu seperti itu? Kau tidak suka?"

Akashi menompang dagu sembari menikmati penampang wajah polos Kuroko di depannya.

Gelengan kuat kepala Kuroko membuat Akashi lagi-lagi tak bisa menahan senyumnya yang menawan.

" Mulai besok, Chihiro akan mengantarmu ke sana. Jadi, kau bersiap-siaplah."

"Ha'i. Arigatou gozaimasu."

.

.

.

.

.

.

SMU Rakuzan.

"Ohayou."

"Ah! Ohayou!"

Nampak siswa siswi berseragam SMU Rakuzan hilir mudik memasuki area gedunh sekolah megah yang di bangun di pusat distrik.

Tak lama sebuah mobil audi hitam berhenti dengan mulus di depan gerbang sekolah bertaraf internasional itu. Chihiro dengan sigap turun dan membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan Kuroko untuk turun.

"Silahkan, Kuroko-san."

Kuroko turun dari mobil dengan sedikit menundukan kepalanya kala perpuluh-puluh pasang mata menatap kagum kearahnya.

"Akashi-sama telah menempatkan anda di kelas 2A dan pelajaran pertama akan dimulai sekitar 30 menit lagi."

" Arigatou gozaimasu, Mayuzumi-kun."

"Itu sudah jadi tugas saya mulai saat ini. Kuroko-san semoga hari-hari anda menyenangkan."

Senyuman Kuroko mengembang. Suatu hal di luar kebiasaan Kuroko untuk bisa tersenyum selebar itu. Hah...jika saja Akashi melihat ini, sudah dipastikan dia akan terbang melayang saking senangnya melihat fenomena itu.

"Kalau begitu, sampai jumpa Mayuzumi-kun." ujar Kuroko sambil melambaikan tangannya.

Mayuzumi ikut melambaikan tangannya meskipun pada akhirnya dia bertingkah seolah-olah ada lalat yang terbang di sekitar wajahnya. Wajahnya merona malu. Tak ingin wajah merahnya jadi tontonan banyak orang, Mayuzumi akhirnya memasuki mobil dan pergi meninggalkan area sekolah.

.

.

.

.

.

Midorima Shintarou pagi tadi mendapat amanah dari dosennya untuk memberi pembelajaran kecil tentang suatu penyakit di SMU Rakuzan.

Setelah satu jam mengoceh panjang lebar di aula, hidungnya merasa butuh menghirup udara segar. Makanya setelah acaranya selesai, dia menaiki tangga menuju atap dengan santai.

Midorima sedikit bernafas lega saat jam istirahat begini, siswa-siswi Rakuzan tidak menghabiskan waktu makan siang mereka di atap sekolah. Tahu saja jika Midorima itu pecinta keheningan dan kedamaian.

Hembusan angin membuat manik hijau Midorima terpejam.

"Ah...aku lelah sekali-nanodayo." desahnya kala hembusan angin mengenai wajahnya.

Midorima membuka mata. Namun dia terkaget saat mendapati 'peliharaan' Akashi duduk memojok di atap bersama dengan dirinya.

"Sejak kapan kau disana?!"

"Konnichiwa, Midorima-kun."

Kuroko menunduk menyapa Midorima yang berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejutnya.

Midorima mengelus dadanya yang berdebar-debar karena kaget.

"Kutanya sejak kapan kau disana, Kuroko?"

" Aku sudah sejak tadi berada disini. Lalu Midorima-kun datang dan berdiri disitu."

Dengusan Midorima mengudara. Dia beringsut mendekati Kuroko yang sedang duduk di dekat tempat penampungan air. Nampak di sampingnya terdapat dua buah roti sandwich dan satu susu kotak rasa vanilla.

"Tak kusangka kau bisa membuat Akashi berubah sikap diluar kebiasaanya."

Kuroko mendongkak menatap Midorima yang berdiri membelakanginya.

" Umm... sumimasen. Tapi aku tidak mengerti dengan yang Midorima-kun katakan."

Midorima terkekeh. Benar juga! Anak sepolos Kuroko mana menyadari tentang perubahan itu. Apalagi mereka belum lama ini dipertemukan kembali.

"Kalau begitu lupakan saja apa yang ku katakan barusan-nodayo. Ngomong-ngomong bukankah Akashi pernah bilang untuk melakukan home schooling untuk mu? Bagaimana kau membujuknya untuk menyekolahkanmu di Rakuzan-nanodayo?"

"Aku tidak mengatakan apapun." jawab Kuroko pendek."Tapi, aku tahu jika Akashi-kun sebenarnya adalah orang yang sangat baik."

Midorima sedikit terpana mendengar jawaban Kuroko yang diluar perkiraannya. Kenyataan tentang dibelinya kebebasan remaja baby blue itu ternyata tidak membuat remaja itu takut ataupun benci dengan Akashi. Mungkin kah...

"Apa kau mulai menyukai Akashi?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC dengan gajenya. LOL