"Aku tidak mengatakan apapun." jawab Kuroko pendek."Tapi, aku tahu jika Akashi-kun sebenarnya adalah orang yang sangat baik."
Midorima sedikit terpana mendengar jawaban Kuroko yang diluar perkiraannya. Kenyataan tentang dibelinya kebebasan remaja baby blue itu ternyata tidak membuat remaja itu takut ataupun benci dengan Akashi. Mungkin kah...
"Apa kau mulai menyukai Akashi?"
Kuroko terdiam. Dia sendiri tidak tahu dengan perasaannya selama ini. Apakah suka, benci, atau hanya sekedar rasa hormatnya karena Akashi telah melindunginya. Namun Kuroko juga tidak menampik jika ada sedikit rasa takut di dalam hatinya mengingat perlakuan Akashi kepadanya tempo hari.
"Aku tidak mengetahui hubunganmu dengan Akashi di masa lalu. Namun perlu kau ketahui jika kau sudah jatuh kedalam jeratnya, maka kau akan sulit lepas darinya."
"Sepertinya Midorima-kun sangat memperhatikan Akashi-kun?"
Mata Midorima melotot dibuatnya.
"A-apa?!" tanyanya dengan wajah merona. Dia mendengus dan memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan polos Kuroko. "Ini bukan karena aku perhatian kepadanya-nanodayo! Aku sudah kenal Akashi sejak lama, tentu saja aku tahu segala sifat dan tindakannya."
"Pfftt..." Kuroko terkekeh. Namun selanjutnya dia mendesah pelan dan bangkit menghampiri Midorima. Mata azurenya mengobservasi pemandangan kota Kyoto dari atap sekolah. "Aku iri dengan kalian."
"Iri?"
Wajah tidak mengerti Midorima tak pelak membuat Kuroko tersenyum tipis.
" Kalian terlihat begitu dekat dan saling menyayangi. Aku juga ingin seperti itu..."
LOCKED IN HEAVEN
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
Story by Kuroi Sora18
Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka
Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Genre : Romance / Hurt/ Comfort
Rated : M #maybe
Summary :Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini./"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "/
WARNING!!!
Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!
author proudly present
.
.
.
Chapter 4 : Plan
Ferrari merah yang dikemudikan Akashi melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Kyoto. Kuroko cukup dibuat terkejut saat pria bersurai merah itu sendiri yang menjemputnya sepulang sekolah dan bukannya Mayuzumi yang tadi pagi mengantarnya. Kedatangan pria itu dengan Ferrari merahnya cukup membuat seisi gedung geger karena sang pewaris Akashi Corp datang ke sekolah untuk menjemput seorang siswa transfer yang bahkan tidak mereka ketahui identitasnya sebelumnya. Padahal statusnya tidak lebih dari properti, peliharaan atau semacamnya. Dia telah dibeli dan Kuroko cukup tahu diri akan status itu. Bagaimana bisa laki-laki itu memperlakukannya secara berlebihan begini? Ah, Kuroko ingat Akashi pernah bilang jika dia menyukai dirinya.
"Bagaimana hari pertamamu?" tanya Akashi memulai pembicaraan setelah 15 menit mereka meninggalkan area sekolah.
"Umm...baik-baik saja." Kuroko merunduk saat Akashi meliriknya dari kursi kemudi. Dia terus terpikir kata-kata Midorima yang masih berputar-putar memenuhi kepalanya.
'Apa kau mulai menyukai, Akashi?'
Menyukai? Sungguh Kuroko tidak paham dengan konteks kalimat yang Midorima utarakan sebelumnya. Dia memang memendam rasa kagumnya dengan sosok Akashi Seijuurou. Dia kaya, tampan, cerdas dan berkarisma. Dia yakin sebelumnya itu hanyalah rasa kagumnya saja. Namun seiring berjalannya waktu, dia bisa melihat sisi lain seorang Akashi yang terkenal dengan keabsolutan dan kedinginannya. Dia juga punya sisi hangat yang tidak semua orang mengetahuinya, dan Kuroko bisa merasakan debaran jantungnya saat Akashi berada di dekatnya. Apakah selama ini dia mengidap penyakit jantung? Atau dia mulai menyukai Akashi seperti yang Midorima katakan kepadanya? Tidak, tidak! Kuroko menggeleng keras. Dia tidak sepatutnya bersikap demikian.
'-jika kau sudah jatuh kedalam jeratnya, maka kau akan sulit lepas darinya.'
Kuroko memejamkan matanya erat-erat. Apa semua keputusannya ini sudah benar? Mendadak dirinya mulai bimbang dengan keputusan yang sudah dibuatnya. Apakah dia masih bisa -mundur?
Lamunan Kuroko seketika buyar saat mobil yang mereka naiki berhenti tiba-tiba. Kuroko langsung melihat sekelilingnya dengan gusar. Dan Akashi terdiam di kursi kemudinya. Pandangannya lurus menatap jalanan sepi di depannya.
"Ada apa?" tanyanya saat Akashi tidak juga mencoba menyalakan mesin mobilnya.
"Kau sedang memikirkan apa? Katakan padaku! apa yang membuatmu serisau ini?"
"Aku tidak memikirkan apapun." jawab Kuroko datar namun terselip nada khawatir saat manik crimson itu menatap tajam kearahnya. Netra azure membuang pandangannya ke deretan pohon maple di sisi jalan. Akashi memegang kemudinya dengan erat. Seolah dia berharap bisa meremukannya dalam sekali genggam. Moodnya tiba-tiba memburuk.
"Tatap aku jika kau sedang bicara padaku, Tetsuya!"
Kuroko terkaget saat tiba-tiba Akashi berteriak dan menarik kedua bahu mungilnya agar dia bisa berhadapan dengan pemilik surai merah itu.
"Sampai kapan kau terus seperti ini?! Kenapa kau tidak bisa terbuka denganku?!"
"A-Akashi-kun..."
" Apa aku terlihat sangat menakutkan bagimu?"
Kuroko diam saja. Membiarkan pewaris Akashi Corp itu mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Aku berharap jika kau bisa sedikit terbuka kepadaku." Pegangan Akashi di bahu Kuroko melemah. Dia mendekatkan wajahnya hendak meraup bibir cherry si baby blue . Kuroko menutup matanya erat-erat dan tanpa sadar tangannya mendorong tubuh Akashi menjauh darinya. Reaksi penolakan itu membuat Akashi memalingkan wajahnya dan kembali menyalakan mesin mobilnya. "-Maaf." ujarnya lirih.
Dia kembali fokus dengan kemudinya.
Kuroko menyentuh dadanya yang bergemuruh tak beraturan. Perasaannya kacau lagi.
.
.
.
.
.
.
Seorang pria bertudung jaket hitam berdiri berhadapan dengan pria berambut hitam sebahu di sebuah gang sempit di jalanan kota Kyoto. Pria berjaket itu melepaskan tudung jaketnya dan menampilkan surai perak si pemilik.
"Aku butuh bantuanmu, Hanamiya."
"Ah..." Pria yang dipanggil Hanamiya itu mendesah pelan. "Apa yang membuat seorang Haizaki Shougo datang menemuiku?" ujarnya dengan nada mengejek.
" Aku punya pekerjaan untukmu. Sebagai seorang pro, harusnya kau bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan mudah."
Raut wajah pria bernama lengkap Hanamiya Makoto itu berubah serius. Yah, dia bisa serius jika ada bau uang disekitarnya. Haizaki mendengus melihat reaksi itu. Dia merogoh saku jaketnya dan menyerahkan selembar foto kepada Hanamiya.
"Bunuh orang ini."
Alis Hanamiya saling bertaut sebelum dia terbahak sambil menunjuk figur di foto itu.
"Kau sedang melawak ya? Kau jauh-jauh datang ke Kyoto hanya untuk memintaku membunuh bocah ingusan seperti dia?"
"Aku tidak bercanda. Namanya Kuroko Tetsuya. Dia memang lemah dan masih bocah. Tapi kau perlu tahu jika dia ada di dalam perlindungan seorang Akashi Seijuurou."
Hanamiya bersidekap bersender di dinding kusam di dekatnya. Nampaknya dia sedang menpertimbangkan tawaran Haizaki. Berurusan dengan Akashi sama saja cari mati. Tapi mati dan tantangan adalah dirinya. Hanamiya sudah sering melakukannya dan berhasil.
"Sepertinya ini akan sulit. Kuroko itu...bukannya sepupumu sendiri?"
" Ya. Dan aku ingin dia hilang dari muka bumi ini. Dia telah membuat hidupku susah. Aku membuat kesalahan dengan menjualnya kepada Akashi. Tapi tenang saja aku akan membayarmu 2 kali lipat."
Hanamiya menggosok dagunya mencoba berpikir ulang.
" Hmm...kau yakin kan menyingkirkan sepupumu sendiri? Dia bocah yang sangat manis, rasanya sayang sekali jika nasibnya harus tragis seperti ini.Buatku saja, boleh?"
Candaan Hanamiya membuat dengusan Haizaki mengudara.
"Apa yang merasuki otakmu, huh? Apa kau akan bertaubat dan berubah jadi pria baik hati? Lagi pula jika aku menyingkirkan Akashi, para orang-orang bodoh yang mereka sebut Kiseki no Sedai atau apalah itu pasti tahu aku yang dibalik semua itu. Tapi jika Kuroko yang kusingkirkan, mereka tidak akan tahu karena Kuroko adalah sepupuku. Jadi mereka pasti tidak terpikir jika akulah pembunuhnya."
"Hahahaha...baka! Ternyata kau punya sisi sadis juga, eh?Sebagai kenalan lama, aku akan membantumu. Transfer uangnya besok dan pekerjaan semuanya akan beres dengan segera." ujar Hanamiya diselingi seringaian di wajahnya.
.
.
.
.
.
Kuroko termenung sendirian di bangku taman yang terletak di belakang kediaman Akashi. Udara dingin berhembus menerpa tubuh mungilnya. Namun dia tersentak saat sebuah selimut tebal hinggap di kedua bahunya.
"Akashi-sama akan sangat khawatir jika anda demam, Kuroko-san. Sebaiknya anda masuk dan hangatkan diri anda."
"Mayuzumi-kun?" Kuroko tersentak saat didapatinya Mayuzumi telah berdiri di belakangnya dengan kaca mata dan sebuah buku berada di tangannya. Sepertinya dia habis membaca buku di suatu tempat.
"Hari ini, Akashi-sama terlihat sangat kacau. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"A-Aku mungkin telah membuatnya kecewa. " jawab Kuroko dengan nada lirih. Azurenya berpaling menatap telapak tangannya yang memucat karena udara dingin.
"Akashi-sama sudah merasakan kesepian sejak dia lahir. "
"Eh?"
Manik azure Kuroko terbuka lebih lebar saat mendengar Mayuzumi tiba-tiba bercerita kepadanya.
"Ibunya meninggal saat usianya tujuh tahun. Dia tumbuh dengan didikan keras dan dituntut untuk harus sempurna di mata semua orang. Karena kepribadiannya, dia tidak punya banyak orang yang dekat dengannya. Itulah mengapa dia menjadi sangat posesif dengan apa yang sudah dimilikinya. Akashi-sama dia sudah lama memikirkan anda. Saya harap anda tidak akan mengecewakannya, Kuroko-san."
"Kenapa Mayuzumi-kun menceritakan hal ini kepadaku? Aku- bukanlah siapapun baginya."
Kuroko mengeratkan pegangannya ke selimut yang diberikan Mayuzumi kepadanya.
" Karena, bagi saya Akashi-sama adalah penyelamat saya. Saya berasal dari keluarga yang berkekurangan. Dia menawariku untuk bekerja kepadanya. Saya sangat berhutang kepadanya. Kuroko-san, justru andalah, bagian terpenting dalam hidupnya. Maaf, saya harus segera kembali. Shitsurei shimasu."
Setelah mengatakan itu, Mayuzumi berojigi sejenak sebelum dia pergi meninggalkan Kuroko sendirian di bangku taman itu. Membiarkan remaja bersurai baby blue itu tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.
.
.
.
.
Akashi terpaku di meja makan saat dia hendak berangkat menuju kampusnya. Di depannya Kuroko dengan wajah malu-malu menunggunya bersama dua buah mangkuk sup tofu di depannya.
"O-ohayou gozaimasu, Akashi-kun." sapanya dengan rona wajah semerah kepiting rebus. Dia bahkan tidak berani untuk sekedar melihat ekspresi Akashi.
"Ah. Ohayou. Kau yang menyiapkan semua ini?"
Kuroko hanya mengangguk menanggapinya. Jari-jarinya seperti biasa sibuk memilin ujung blazernya ketika dia merasa gugup atau gelisah.
"Aku bertanya resepnya kepada Hibiki-san, maaf jika rasanya tidak seenak yang Hibiki-san buat."
Akashi terpaku lagi namun selanjutnya dia tersenyum lebar. Mendadak seperti ada kupu-kupu yang berterbangan memenuhi dadanya yang mengusir segala perasaan tidak enaknya kemarin. Akashi merasa begitu terkesan dengan inisiatif Kuroko yang menyiapkan makanan favoritnya dan mungkinkah Kuroko mulai menerimanya? Dia tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
"Arigatou, Tetsuya. Aku senang sekali." ujarnya diselingi senyum tipis yang merekah di wajah rupawannya. Jantung Kuroko berdetak lebih keras melihatnya. Namun dia juga tersenyum saat melihat Akashi terlihat begitu semangat menyendok kuah sup tofu buatannya.
Kuroko menyerngit saat kuah sup buatannya memasuki rongga mulutnya. Dia lekas mendongkak untuk melihat ekspresi Akashi. Supnya terasa asin, namun pemuda bermanik crimson itu terlihat biasa saja dan tidak menyuarakan kritikan maupun pendapatnya. Akashi terlihat begitu menikmati hidangan sederhana dari koki abal-abal sepertinya.
"Sumimasen, aku memasukan garam terlalu banyak. Akashi-kun jangan memaksakan diri jika rasanya tidak enak."
" Tidak. Sebagai pemula, bagiku ini sudah lumayan." Akashi meletakan sendoknya. Mangkuknya telah tandas tak bersisa sementara netranya menatap lurus kearah Kuroko yang berada di depannya.
"Sumimasen."
"Apa?"
"Aku sudah banyak merepotkan dan mengecewakan Akashi-kun. M-mulai hari ini, aku akan membuang rasa egoisku dan akan berusaha semampuku untuk menerima keadaan ini. Terima kasih untuk semua perhatian yang Akashi-kun berikan kepadaku. Aku harap Akashi-kun akan menerimaku dengan segala kekurangan ini."
Kuroko memberanikan diri melihat wajah Akashi yang masih terdiam di kursinya. Namun tak lama seulas senyum menawan terukir di bibirnya. Ini suatu awal yang baik bagi hubungan mereka berdua.
"Ah, yorokonde."
.
.
.
.
"Ketika detak jantung berubah menjadi lebih cepat, lambat bahkan tidak teratur, kadang disertai rasa sesak, lemas dan jika gejala berlanjut semakin parah dapat menyebabkan penderita pingsan-"
Netra Kuroko bergulir mengikuti deretan huruf yang terpampang di buku yang sedang di bacanya.
"Tidak salah lagi, aku menyidap - aritmia?" ujarnya dengan wajah kelewat serius.
Helaan nafas berulang kali mengudara dari mulut Kuroko. Dia menatap tak berminat vanilla milk shake yang dibelinya dari kafetaria sekolah. Namun dia terkesiap saat sosok siswa bertubuh jakung beralis cabang -yang menurutnya sangat aneh, tiba-tiba duduk di depannya dan memakan setumpuk roti melon di atas nampan.
Si pendatang nampak belum sadar jika dia duduk bersama seseorang di depannya, sampai pada akhirnya iris merah itu harus membulat dan berakhir tersedak oleh roti melon yang dimakannya sendiri.
"Sejak kapan kau disana?!" ujarnya sambil menunjuk ke arah Kuroko yang berwajah kalem di depannya dengan tidak sopan.
"Sejak tadi aku berada disini."
Siswa dengan alis bercabang itu berkedip beberapa kali sebelum dia memalingkan wajah sambil mendengus.
"Aku tidak akan minta maaf karena merebut bangku ini. Ku kira tempat ini kosong."
"Aku juga tidak memintanya." sahut Kuroko dengan wajah poker facenya. Sedangkan siswa itu nampak lekat menatapnya seperti sedang mengawasi pencuri.
"Ne, aku baru melihatmu. Kau siswa transfer ya?"
"Iya, Kagami-kun."
"O-oh.." Siswa beralis unik itu mengangguk paham. "APAAAA?! Bagaimana kau tahu namaku?" teriaknya dengan wajah kagetnya.
"Kita sekelas. Aku duduk tepat di belakangmu, Kagami-kun."
"EHHHHH?!! L-lalu namamu siapa?"
"Doumo, Kuroko Tetsuya desu."
Kuroko terkaget saat Kagami tiba-tiba melempar sebuah roti melon kepadanya.
"Kagami Taiga, yoroshiku!"
"Aku sudah tahu namamu,Kagami-kun."
"Yah, anggap saja ini sebagai formalitas. Kita teman kan? Tidak adil rasanya jika cuma kau yang memperkenalkan dirimu." ujar Kagami dengan senyum lebarnya.
.
.
.
.
Akashi berdiri di depan etalase sebuah counter Softbank di dekat universitasnya sejak 30 menit yang lalu semenjak dia sampai di sana. Manik crimsonnya nampak serius memilih ponsel-ponsel yang berjejer di etalase tersebut.
"Chihiro, menurutmu ponsel mana yang cocok untuk Tetsuya?"
Akashi menoleh kearah Mayuzumi yang mengekor di belakangnya dengan wajah datarnya.
"Saya rasa jika itu pemberian Akashi-sama, dia pasti akan senang. Apakah anda akan memberikan hadiah ulang tahun untuk Kuroko-san?."
"Iie!" Sebelah tangan Akashi terangkat -tanda penolakan. "Aku merasa kesulitan untuk mengawasinya selama di sekolah. Kurasa Kuroko butuh ponsel untuk berkomunikasi denganku. Pasti selama ini keluarga Shougo tidak mengijinkannya memiliki sebuah ponsel."
Akashi kembali termenung. Apakah Kuroko akan senang jika dia membelikan smartphone yang paling bagus?Akashi menggelengkan kepalannya. Mengingat kepribadian anak itu pasti Kuroko akan dengan senang hati menolaknya. Atau efek buruknya mungkin saja dia akan ngambek dan mendiaminya selama seminggu penuh.
"Apakah anda kebingungan untuk menentukan pilihan anda?"
Kepala dangan surai semerah delima itu mendongkak. Di depannya seorang laki-laki penjaga counter itu bertanya kepadanya dengan nada ramah.
"Ah..Hanya saja mungkin dia tidak suka dengan apa yang kupilihkan."
Si penjaga tersenyum sekilas sebelum dia mengambil sebuah ponsel garake berwarna putih dan menunjukannya kepada Akashi.
"Saya tidak yakin pilihan saya akan berkenan di hati anda. Ini adalah model paling populer di kalangan remaja. Disign-nya cukup sederhana namun fiturnya lengkap dengan kamera beresolusi tinggi."
Terdiam cukup lama, akhirnya Akashi menjatuhkan pilihannya kepada ponsel itu.
"Aku ambil itu." ujarnya tanpa pikir panjang lagi. "Ah, Chihiro! Kali ini biar aku saja yang menjemput Tetsuya. Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat setelah ini."
"Baiklah. Saya mengerti, Akashi-sama."
.
.
.
"APAAAA?!"
"Kagami-kun, teriakanmu membuat telingaku sakit."
Kagami tak habis pikir dengan kehidupan seorang Kuroko Tetsuya. Dia merasa anak itu terlalu pendiam dan misterius. Hari ini saja, sudah dua kali jantungnya hampir copot karena anak stoic satu itu.
"Kau bilang kau tinggal bersama Akashi? Akashi yang itu? Si Akashi Seijuurou?Maji ka yo! "
"Ha'i." Kuroko mengangguk mengiyakan. Ekspresinya terkesan datar dan biasa saja. Berbanding terbalik dengan Kagami yang terkena shock berat karena kalimat Kuroko barusan. "-aku perlu ijin darinya jika kita akan mengerjakan tugas Fisika dari Kagetora-sensei di rumahnya."
"Kalau begitu di apartemenku saja!"
Melihat Kuroko menggeleng membuat Kagami beraut bingung.
"Aku juga butuh ijin darinya jika akan mengerjakan tugas di apartemenmu."
Kagami mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya apa hubungan Kuroko dengan Akashi?Jika pun mereka adalah saudara, tidak ada saudara seprotektif itu di dunia ini.
" Ne, Kuroko..."
Kagami menatap lurus Kuroko yang tepat berada di depannya. Dia sedikit melirik ke kanan dan ke kiri guna memastikan keprivasian pembicaraan mereka kali ini.
"-sebenarnya apa hubunganmu dengan orang yang bernama Akashi Seijuurou itu? Yah, kau tahu jika kalian memiliki marga yang berbeda, jadi kalau pun kalian saudara kurasa dia terlalu mengekangmu."
Kepala Kuroko menunduk lesu. Dia tahu hubungannya dengan Akashi pasti akan menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang. Apalagi perhatian yang Akashi yang diberikan kepadanya. Sebagai peliharaan, pada akhirnya Kuroko merasa tidak pantas mendapatkan itu semua dari Akashi.
Melihat itu Kagami merasa pertanyaannya telah menyinggung hati Kuroko. Dia memegang tangan Kuroko untuk minta maaf.
" Ahh... maaf jika kau merasa tersinggung dengan pertanyaanku. Aku tidak bermaksud untuk- "
Kalimat Kagami terpaksa terpotong saat Ferrari merah milik Akashi berhenti tepat di depan mereka. Tak lama sosok Akashi keluar dari mobil itu dan manik crimsonnya langsung menyambar ke arah dua tangan yang saling berpegangan.
"Akashi-kun?"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC dengan gajenya.
AUTHOR'S Note :
garake ponsel model flip yang biasa di anime-anime atau dorama itu loh... Sebetulnya jaman sekarang orang di Jepang sana sudah mulai beralih menggunakan ponsel iph*ne atau android.
Ulalalaa~ kembali lagi dengan saya, Kuroi Sora18 desu! Maaf saya baru update karena faktor K (kudet, kere, what ever?) sehingga fic ini baru dipublish. Tehee~
Yah, iro iro arigatou buat kalian semua yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic saya, mereview, bahkan memfollow atau memfavorite fic abal-abal dari saya. Dan maaf saya tidak bisa membalas review kalian satu persatu dikarenakan author ini sibuk ?*halah!*
Sekian dari author yang tidak profesional ini, ada salah kata saya mohon maaf. Sampai jumpa di chapter selanjutnya... Jaa~
