"-sebenarnya apa hubunganmu dengan orang yang bernama Akashi Seijuurou itu? Yah, kau tahu jika kalian memiliki marga yang berbeda, jadi kalau pun kalian saudara kurasa dia terlalu mengekangmu."

Kepala Kuroko menunduk lesu. Dia tahu hubungannya dengan Akashi pasti akan menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang. Apalagi perhatian yang Akashi yang diberikan kepadanya. Sebagai peliharaan, pada akhirnya Kuroko merasa tidak pantas mendapatkan itu semua dari Akashi.

Melihat itu Kagami merasa pertanyaannya telah menyinggung hati Kuroko. Dia memegang tangan Kuroko untuk minta maaf.

" Ahh... maaf jika kau merasa tersinggung dengan pertanyaanku. Aku tidak bermaksud untuk- "

Kalimat Kagami terpaksa terpotong saat Ferrari merah milik Akashi berhenti tepat di depan mereka. Tak lama sosok Akashi keluar dari mobil itu dan manik crimsonnya langsung menyambar ke arah dua tangan yang saling berpegangan.

"Akashi-kun."

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Kagami langsung melihat jika tangannya telah memegang tangan Kuroko begitu erat. Tak ingin nyawanya terancam karena singa ganas, Kagami buru-buru melepaskan pegangan itu dan menjelaskan semuanya -ahh tidak! Minus pertanyaan itu tentunya.

"Ah, warui."

Akashi tidak terlalu memikirkannya. Dia berpikir mungkin siswa dengan alis aneh itu adalah satu dari sekian siswa yang menjadi teman baru Kuroko.

"Tetsuya, kita pulang!"

Sebelum Akashi sempat membuka pintu mobil untuknya, Kuroko langsung memengang ujung baju dari pria itu dengan gugup.

"Doushita?"

"Ano... bolehkah aku mengajak Kagami-kun?"

Dan melihat ekspresi memohon itu, sisi lemah seorang Akashi adalah dia tidak bisa mengatakan 'tidak'.

LOCKED IN HEAVEN

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi

Story by Kuroi Sora18

Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka

Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya

Genre : Romance / Hurt/ Comfort

Rated : M #maybe

Summary :Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini./"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "/

WARNING!!!

Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!

author proudly present

.

Chapter 5 : Hunters, Rabbit and the Lion

Kagami tidak bisa membedakan bagaimana rasanya antara diawasi oleh singa buas dan diawasi oleh orang bernama Akashi Seijuurou. Yang jelas dua-duanya sama-sama menakutkan dan menengangkannya. Bahkan jika dia disuruh memilih, mungkin diawasi oleh singa lebih terdengar melegakan dari pada pilihan yang terakhir. Sungguh! Setiap kali dia bertemu pandang dengan manik crimson itu, rasanya manik itu dapat mengeluarkan tombak yang biasa membunuhnya kapan saja. Posisi duduknya berubah canggung saat tiba-tiba Akashi datang- mengawasi belajar kelompoknya bersama Kuroko di ruang tengah.

"Kagami-kun, daijoubu desuka?"

Kagami mengangkat wajahnya sejenak dan mendapati Kuroko tengah menatap khawatir kearahnya.

"Ah, daijoubu! Daijoubu!" ujarnya kikuk. Kagami sedikit mencuri pandang kearah Akashi yang nampak sedang berkutat dengan laptop miliknya. Ini sepertinya bakal sulit untuk berkonsentrasi dengan buku pelajaran di depannya ketika pria itu tepat berada di belakangnya.

Kuroko sendiri merasa jika mungkin saja teman satu kelasnya itu merasa tidak nyaman jika harus mengerjakan tugas di kediaman Akashi. Meskipun pria itu mengijinkannya, tetap saja dia merasa tidak enak. Apalagi kejadian sepulang sekolah tadi.

Mereka berdua pun mengerjakan tugas itu dengan serius. Terkadang Akashi akan membantu mereka berpikir saat keduanya dilanda kebingungan. Meskipun terkadang pula Kagami akan protes dengan nada kekanakan saat Akashi mengatainya terlalu lamban dalam berpikir namun sepertinya pria itu tidak merasa terganggu dengan itu. Melihat perdebatan dua orang laki-laki dengan warna rambut hampir sama itu tak pelak membuat Kuroko tertawa kecil.

"Kau orang Jepang, tapi pelajaran Fisika maupun sastramu sungguh buruk." Sudut bibir Akashi naik beberapa centi saat melihat Kagami nampak bereaksi dengan kata-katanya.

"Itu karena aku lama tinggal di Amerika." ujar Kagami membela diri.

"Itulah yang dinamakan kacang lupa pada kulitnya."

"Tidak ada hubungannya dengan kacang."

"Ano..."

"Itu namanya peribahasa. Kau tidak pernah tau? Itulah mengapa aku mengataimu terlalu bodoh untuk menjadi teman satu kelompok Tetsuya."

"Ugh..."

Kagami nampak sudah tidak tahan lagi. Dia tidak habis pikir dengan Kuroko yang bisa-bisanya tahan menghirup oksigen yang sama dengan pria itu di rumahnya.

"Kalau Kagami-kun mau, aku tidak keberatan mengajarimu."

"Eh,hounto?"

Kuroko pun mengangguk. Tak sadar jika Akashi nampak terkejut saat Kuroko mangajukan diri sebagai tutor dadakan Kagami- siswa yang dianggapnya bodoh. Dan tentunya Kagami menyadari tatapan itu. Bahwa ada sesuatu yang spesial diantara mereka.

"Tetsuya, lebih baik kau buatkan tamu kita minum. Biar aku saja yang mengajarinya. Akan lebih baik jika ahlinya langsung yang mengajarimu." ujar Akashi sambil tersenyum mengerikan. "Ne,Taiga-kun?"

Dan Kagami berdoa, semoga dia bisa pulang dengan keadaan utuh ke apartemennya.

.

.

.

.

.

.

Aomine berjalan dengan malas setelah dia keluar dari sebuah gedung yang merupakan apartemennya. Melewati taman kota karena, Momoi Satsuki-managernya yang cerewet tiba-tiba menelponnya untuk datang ke kantor agensi untuk membahas kontraknya. Namun karena kantuk yang tak kunjung hilang akibat insomniannya kambuh membuatnya tak sengaja menabrak seorang pria berjaket hitam.

"Ah, gomen!Eh, Haizaki?"

"Aomine?!" Haizaki yang terkejut dengan terburu-buru menutup tudung jaketnya dan hendak berlari pergi sebelum Aomine mencekal tangannya dan menyeretnya untuk duduk di sebuah bangku taman.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Omae wa kankenai." ujar Haizaki cuek.Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Aomine. "Dimana pun aku berada sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, Aomine."

Aomine mendengus. " Memang. Tapi kau pikir aku tidak tau jika kau menjual sepupumu kepada Akashi?"

"Ahh...tidak mengejutkan. Kau memang salah satu anak buah Akashi. Wajar saja pria sinting itu memamerkan peliharaannya kepada kalian."

"Bukanlah yang sinting itu kau sendiri? Menjual sepupu sendiri ke orang mengerikan semacam Akashi, apa namanya kalau bukan sinting huh?!"

"Ahh~ apa kau berharap aku menjual Kuroko kepadamu? Kau masih sedih karena Kuroko tidak mengenalimu saat setelah insiden kecelakaan itu?" Haizaki terkekeh saat melihat ekspresi wajah Aomine nampak berubah. "Ironis sekali mengingat kalian dulu adalah teman dekat. Bahkan saat ini dia masih tidak mengenalimu."

"Urusai!"

Aomine hampir saja melayangkan tinjuan ke wajah Haizaki sampai dia ingat bahwa mereka di tengah ruang publik. Akan sangat merepotkan jika dia sampai terlibat dengan polisi setempat.

"Baiklah! Aku tidak ingin berurusan denganmu maupun Akashi."

"Aku pun juga! Aku bahkan sangat muak hanya dengan mendengar namanya."

"Tapi jika itu menyangkut Tetsu, lain lagi ceritanya..."

"Kau memang tidak berubah. Selalu saja menghalangi jalanku."

Aomine nampak mengeratkan genggaman tangannya kala melihat tatapan merendahkan Haizaki.

Sementara itu...

"Maaf jika Kagami-kun merasa tidak nyaman."

Di depan gerbang kediaman Akashi, Kuroko memandang Kagami yang hendak pulang dengan motor besarnya.

"Ah,tidak usah kau pikirkan. Setidaknya, orang itu -iie! maksudku Akashi-san sudah membantu mengajari kita tugas hari ini."

Kuroko hanya mengangguk dan tersenyum tipis menanggapinya. "Kyou wa arigatou gozaimashita."

"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa di sekolah! Jaa!"

Melambaikan tangannya singkat sebelum Kagami pergi dengan motor besarnya.

Akashi yang mengamati keduanya dari kejauhan nampak beraut datar. Meski dirinya sedikit bersyukur karena sepertinya Kuroko telah menemukan kembali kehidupannya, di satu sisi dirinya merasa kecewa karena dia tidak bisa membuat Kuroko tersenyum seperti tadi.

"Akashi-kun, kenapa kau disini?"

Akashi tersentak saat tiba-tiba Kuroko sudah berada di depannya dan memasang raut wajah heran.

"Ah tidak apa-apa! Cepat masuk kedalam! Hari sudah hampir malam."

"Ha'i." sahutnya sebelum dia mengekori Akashi masuk ke dalam rumah.

"Ini."

Sesampainya di dalam, Kuroko dibuat heran saat Akashi tiba-tiba menyerahkan sebuah paper bag berwarna biru kepadanya.

"Apa ini, Akashi-kun?"

"Ponsel. Kau membutuhkannya kan?"

"Akashi-kun, aku tidak ingin menambah hutangku padamu. Aku tidak bisa-"

"Aku memberikan ini agar aku bisa mengawasimu."

Mendengar kata 'mengawasi' membuat raut wajah Kuroko berubah muram. Dia tidak boleh lupa jika dia merupakan peliharaan di rumah ini. Tapi apakah Akashi masih mencurigainya jika dia akan kabur?

"Aku tidak tahu apakah kau suka dengan modelnya. Anggap saja ini hadiah dariku." ujar Akashi dengan cepat. Tak bisa dipercaya jika dia akan merasa sekaku ini berbicara dengan Kuroko. Kuroko diam saja. Dia hanya menjatuhkan pandangannya ke paper bag di tangannya.

"-kembalilah ke kamarmu. Aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."

"Ha'i."

Dan langkah lunglai Kuroko membawanya menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

"Ano..." Kuroko terhenti tepat di anak tangga kelima.

Akashi menoleh hanya untuk mendapati Kuroko tengah menunduk dengan wajah merona. "A-arigatou gozaimasu."

"Ah."

Dan Kuroko berlari menaiki tangga dengan tergesa sementara Akashi terlihat mengacak rambutnya sambil mengerang frustasi.

"Kenapa aku mengatakannya dengan cara seperti itu?!"

.

.

.

"Ohayou gozaimasu, Kagami-kun."

"UWAAAH!! Bisakah kau muncul secara normal?!"

Sapaan Kuroko dari belakangnya membuat Kagami yang baru datang terkaget. Terkadang remaja dengan perawakan tinggi 190 cm itu berpikir mungkin Kuroko adalah hasil persilangan antara hantu dan manusia mengingat hawa keberadaannya yang begitu tipis dan kerap kali muncul secara tiba-tiba dan sering mengagetkan orang-orang di sekitarnya. Menghiraukan wajah heran Kuroko, Kagami berjalan memasuki area sekolah dengan helaan napas.

"Hah~ hari ini aku ngantuk sekali. Oh- ponsel baru?" tanya Kagami saat Kuroko sedang melihat pesan yang baru saja dia terima dari Akashi. "Kau bilang kau tidak punya."

"Akashi-kun yang memberikannya."

"Ooh... tentu saja. Kau bisa dikira manusia jaman purba jika tidak punya ponsel jaman sekarang.Hahaha-" ujar Kagami deselingi tawa renyahnya. Namun Kagami buru-buru meredam tawanya saat melihat wajah Kuroko nampak datar-datar saja. Sepertinya lawakannya barusan tidak membuat remaja bersurai baby blue itu tertawa. "Ah, ngomong-ngomong boleh aku pinjam ponselmu?"

"Tentu saja. Tapi untuk apa, Kagami-kun?"

"Aku akan mengetikan nomor ponselku. Jaga-jaga saja kalau Kagetora-sensei memberikan tugas kelompok seperti kemarin lagi." ujar Kagami sembari meringis -malu. Namun tawanya sirna begitu dia membuka menu kontak ponsel Kuroko. Bagaimana bisa Kuroko hanya memiliki satu kontak di ponselnya. Terlebih lagi, deretan angka itu bukan nomor salah satu keluarga Kuroko. Akashi. Ah, siapa lagi?

Tak mau berpikir macam-macam, Kagami dengan segera mengetikan nomor ponselnya.

Sementara itu...

"Hoo, jadi dia orangnya?" Hanamiya menyeringai dibalik jendela sebuah restoran cepat saji di seberang SMU Rakuzan. "Melihatnya jadi sayang sekali kalau nasibnya akan berakhir tragis di tanganku."

"Hei, memangnya kau tidak ngeri jika Akashi sampai tahu?Kau pasti akan dicincangnya."

Hanaminya menatap pria bersurai pirang yang duduk di depannya. Dia tertawa lebar saat pria dengan gigi runcing itu menakut-nakutinya.

"Hei, itu namanya tantangan. Lagi pula, jika aku bisa mengeksekusinya dengan bersih, semuanya akan berjalan lancar tanpa hambatan, Kotaro! Dan jika aku beruntung, mungkin aku bisa bermain-main dengannya sedikit."

Kotaro Hayama hanya mendengus keras. Percuma juga berbicara dengan Hanamiya. Dia dan tantangan adalah satu, ditambah dia seorang kepala batu yang sulit diajak kompromi.

"Kau dan Haizaki memang kombinasi yang buruk. Ngomong-ngomong, kapan kau akan membunuh anak itu? Jangan sekali-kali melibatkan namaku, aku hanya membantumu sedikit. Kau sudah janji."

"Ya! Ya! Kau itu berisik sekali! Tunggu saja tanggal mainnya." Hanamiya menatap gedung di sebrangnya dengan tatapan misterius. "Aku hanya ingin melihat buruanku menikmati hidupnya untuk yang terakhir kalinya."

.

.

.

"Study tour?"

Akashi membeo dengan dahi dipenuhi kerutan mengerikan. Sementara Kuroko hanya mengangguk mengiyakan. "Kemana?" tanyanya kemudian.

"Sapporo untuk 5 hari."

Sapporo - Kyoto sama saja seperti perjalanan dari ujung selatan Jepang menuju ujung utara Jepang. Itu jauh sekali! Dia tidak bisa membayangkan jika harus melepaskan pandangannya kepada Kuroko selama itu. Katakanlah dia posesif, tapi memang itu kenyataannya.

"Aku tidak bisa bilang 'iya' untuk hal ini. Aku bisa saja bilang ke kepala sekolah untuk memberikan toleransi kepadamu. Kau tidak harus ikut perjalanan itu."

Seketika pandangan Kuroko jatuh ke sup miso yang mulai mendingin. Ya, dia raja apapun bisa dilakukan sesuai dengan keinginannya.

"Kapan perjalanan itu dimulai?"

"Lusa." Berikutnya suara kursi digeser mengalihkan Akashi dari cangkir kopinya. Kuroko mengangkat mengkuk dan beranjak dari meja makan. "Aku sudah selesai."

Dan Kuroko melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencuci perabotan makan yang dipakainya.

Drrrtt...drrrttt...

Akashi memandang layar ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Dia melihat layar ponsel mahalnya dan menemukan nama Daiki tertulis disana.

"Ada apa, Daiki?"

'Aku bertemu dengan Haizaki di taman depan Universitas Touo'

Dari seberang telfon suara Aomine terdengar.

"Apa?! Untuk apa dia datang kemari?"

'Entahlah. Dia tidak bilang sesuatu tentang Tetsu kepadamu?'

Manik crimson Akashi memandang Kuroko yang masih berkutat dengan peralatan makannya.

"Aku tidak benar-benar berpikir jika Shougo akan serius mengembalikan uang pemberianku untuk mengambil Tetsuya kembali."

'Tidak. Bukan itu Akashi! Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakannya, tapi kurasa dia punya niat yang buruk denganmu. Kau harus berhati-hati.'

"Baiklah. Terima kasih telah memberitahuku."

Dan sambungan telepon itu pun terputus.

.

.

.

.

Alis Kagami tak berhendi berkedut-kedut mendapati fenomena di depannya. Bukan karena dia melihat gajah terbang atau sapi berkepala kucing, melainkan hadirnya Akashi Seijuurou di SMU Rakuzan.

"Akashi-san, kenapa kau ada disini?"

Pria dengan surai merah itu hanya tersenyum menanggapinya.

"Keluargaku adalah donatur sekolah ini wajar jika aku ikut. Aku perpartisipasi 85% dana perjalan ini."

"Ah, harusnya aku tidak bertanya." ujar Kagami disertai senyum kecut. Dia lupa jika Akashi adalah donatur terbesar sekolahnya. Sial!

"Apa tidak apa-apa? Akashi-kun orang yang sibuk, aku tidak apa-apa jika tidak ikut."

Akashi tersenyum dan mengacak surai Kuroko dengan lembut.

"Tidak apa. Sesekali mungkin aku butuh liburan."

"Hei ini bukan liburan! Study tour ini untuk pelajaran tahu!"

"Jangan mengguruiku, alis aneh. Tetsuya ayo kita ke dalam bis."

"Hei, jangan tinggalkan aku!"

Namun Kuroko tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Akashi terkejut.

"Ada apa, Tetsuya?"

"A-aku..."

Akashi nampak menunggu kata-kata Kuroko, tetapi saat dia melihat sekelilingnya, jujur dia baru sadar jika banyak pasang mata yang menatap kearahnya dan juga Kuroko. Dia tidak yakin apakah karena itulah Kuroko nampak tidak nyaman berada di dekatnya?

"Maaf, tiba-tiba aku ingin pergi ke toilet. Akashi-kun dan Kagami-kun duluan saja!"

"Mau kutemani?"

Tawaran dari Akashi tentu saja membuat Kuroko merona malu dan Kagami nyaris saja tersedak air mineral yang sedang ditenggaknya.

"Oi, memangnya Kuroko anak TK yang harus diantar ke toilet?" ujar Kagami sembari mengelap bibirnya. Dan dia langsung bungkam kala manik crimson itu menatapnya tajam.

"Tidak perlu! Aku akan segera kembali."

Melihat tatapan Kuroko, mau tak mau membuat Akashi terdiam. Dia mengijinkan remaja itu untuk pergi ke toilet meski ada perasaan tidak enak yang menelusup ke sanubarinya.

Kuroko berjalan dengan tergesa melewati koridor-koridor sekolah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Perasaan aneh itu datang lagi. Perasaan sesak -seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di tubuhnya setiap Akashi bersikap lembut kepadanya.

"Aku tidak boleh begini."

Kuroko menggelengkan kepalanya berulang kali -mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh yang memenuhi kepalanya. Dia adalah laki-laki begitupun Akashi. Dan dia harusnya tahu jika mereka tidak seharusnya saling menyukai.

"Aku harus segera kem-HEUMPH!!!"

Kuroko meronta-ronta saat dia tiba-tiba dibekap menggunakan saputangan beraroma aneh. Dan semuanya berubah gelap...

'Akashi-kun...'

.

.

.

.

.

T.B.C

.

.

.

Hai, hai! Author kembali! \/

Senang sekali akhirnya bisa kembali update ditengah kesibukan yang tiada hentinya ini. Gomenasai, chapter ini terasa begitu pendek tapi untuk selanjutnya akan saya usahakan untuk memperpanjangnya di chapter mendatang. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi yang jelas saya sangat berterima kasih kepada reviewer semua yang bersedia meninggalkan jejak di akun saya #walaupun saya tidak bisa membalasnya satu persatu. Untuk semua juga yang berbaik hati memfavorite atau memfollow fic saya, silent reader juga yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic absurd saya. Saya tahu masih banyak kekurangan di fic ini, jadi kritik dan saran sangat saya nantikan dari kalian.

Sekian dari saya

Arigatou gozaimashita

Kuroi Sora18

logout...