"Katakan padaku, Tetsuya!"

"Dari pada itu, aku ingin bertanya satu hal kepada Akashi-kun."

'Dari awal, pertemuanmu dengan Akashi adalah sebuah kesalahan'

"Pertemuan kita apakah sebuah kesalahan?"

Cengkraman Akashi mengendur. Manik crimson miliknya menatap nanar sosok rapuh di depannya.

"A-apa maksudmu?"

Kuroko tak menjawab. Ah, lebih tepatnya dia tidak tahu harus berkata apa.

"Kenapa kau berpikir jika pertemuan kita adalah suatu kesalahan? Jika itu kesalahan, aku tidak akan membelimu dari Shougo! Aku juga tidak perlu repot-repot mencarimu saat kau menghilang." ujarnya tegas. Akashi mengulurkan tangannya meraih dagu Kuroko dan mengangkatnya. Menatap lurus manik azure yang masih bergulir gelisah menghindari pandangannya. "Akashi tidak pernah membuat kesalahan."

"Akashi-kun..."

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku akan segera menemukan orang yang menculikmu. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka lakukan kepadamu."

"Akashi-kun, tolong jangan memperpanjang masalah ini." Kuroko menunduk menyembunyikan air matanya yang mulai meggenang di pelupuk matanya.

"Kenapa kau bersikeras agar aku melupakan ini? Kau tahu, kau membuatku merasa tidak berguna. Aku hanya ingin melindungimu. Apa itu kesalahan juga?"

Kuroko menggelangkan kepalanya. Bukan! Bukan itu yang dia maksud. Jika Akashi sampai terlibat, mungkin saja dia akan terkena bahaya.

'Sebenarnya dari pada menyingkirkan dirimu, aku lebih senang jika aku menyingkirkan Akashi. Tapi aku dapat uang banyak dari ini..."

"A-aku hanya tidak ingin kau sampai terluka." ujar Kuroko sembari menatap telapak tangannya yang diplaster. Namun Kuroko harus dibuat kaget saat Akashi menarik tangannya dan menenggelamkannya dalam sebuah pelukan lembut. Dia tidak peduli saat Kuroko meremat begitu kuat kemejanya.

"Akashi-kun..."

"Kurasa kau benar." Akashi menghirup aroma vanilla yang entah mengapa kini jadi salah satu aroma favoritnya. "Kesalahan terbesarmu adalah bertemu denganku. Karena kau tak akan bisa lepas dariku. Maka dari itu, ijinkan aku untuk melindungimu dengan caraku."

LOCKED IN HEAVEN

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi

Story by Kuroi Sora18

Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka

Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya

Genre : Romance / Hurt/ Comfort

Rated : M #maybe

Summary :Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini./"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "/

WARNING!!!

Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!

author proudly present

.

Chapter 7 : I Will Protect You

Kagami sudahkelima kalinya menghela napas pagi ini. Dia menatap gerbang kayu besar di depannya dengan perasaan tidak menentu. Ahh, dia ingat beberapa waktu lalu dia pernah bertandang kesini. Dan aksara kanji pemilik rumah samping gerbanglah yang membuatnya kalut luar biasa. Akashi. Kagami menghela napas lagi. Pagi-pagi buta tadi dia tiba-tiba dihubungi oleh pria crimson itu dan menyuruhnya untuk ke rumahnya dan bersiap-siap pergi kerumahnya.

"Ohayou gozaimasu, Kagami-kun!"

"KUROKO?!" teriaknya begitu sesosok remaja mungil bersurai baby blue itu tiba-tiba membuka gerbang dan mengagetkannya. "Dari mana saja kau ini?!" tanyanya sembari menggoncang-goncangkan tubuh Kuroko dengan beringas. Namun perban yang melilit kaki dan tangannya membuat Kagami berhenti melakukannya.

"A-ada apa dengan tubuhmu? Kenapa kau bisa terluka?"

"Aku baik-baik saja, Kagami-kun."

"Tapi..."

"Ehm!"

Keringat dingin nampak bermunculan di dahi Kagami saat suara baritone dari dalam sana mengintrupsinya.

"Terima kasih atas perhatianmu, Taiga-kun. Tapi, Tetsuya baik-baik saja saat ini." Akashi Seijuurou dengan kemeja dan celana hitam itu melangkah menghampirinya bersama seorang pria bersurai kelabu di sampingnya.

"Ah." Kagami mengangguk canggung. "Ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba menelponku tadi pagi?" tanyanya kemudian.

"Ayo masuk! Kita bicarakan ini di dalam." Akashi menggiring Kagami untuk masuk ke dalam. Dan Kagami hanya bisa menuruti apa yang pria crimson itu katakan. Nampaknya Akashi akan membicarakan hal yang sangat penting untuknya. Netranya bergulir memandang Kuroko yang nampak diam saja di sampingnya.

"Duduklah!" suruh Akashi saat mereka sampai di sebuah ruangan di bagian tengah manshion. Cukup luas untuk ukuran sebuah ruang tamu atau ruang berkumpul.

"Ah ya." Kagami menghempaskan pantatnya di sofa berkualitas di ruangan itu. Dia sedikit mencuri pandang saat Akashi melambaikan tangannya -mengundang Kuroko untuk duduk di sampingnya.

"Balik lagi ke pertanyaanmu tadi, alasan kenapa aku mengundangmu kemari."

"Ya itu yang ingin kutahu. Kurasa ini hal yang penting karena kau menyuruhku untuk membicarakannya langsung denganmu disini."

Pria itu tersenyum tipis. Nampaknya Akashi cukup terkesan dengan reaksi teman satu kelas Kuroko.

"Aku senang karena kau cukup peka."

Kagami hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Namun dalam hati dia mengumpat karena kepribadian garangnya mendadak lenyap begitu dia berhadapan dengan sosok Akashi.

"Aku hanya ingin meminta bantuan darimu."

"Bantuan?" beo Kagami tidak mengerti. Banyaknya kerutan di dahi remaja jakung itu membuat seorang Akashi tersenyum maklum.

"Ya. Tolong bantu aku melindugi Tetsuya selama di sekolah. Setelah kejadian kemarin aku benar-benar khawatir jika semua itu akan kembali terulang." ujarnya sambil memandang Kuroko yang berada di sampingnya dengan tatapan lembut.

"Aku tidak yakin bisa, tapi aku akan berusaha."

"Arigatou, Kagami-kun."

"Tapi Akashi-san, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa Kuroko bisa sampai seperti ini?Ada seseorang yang melukainya?"

Akashi menghela napas mendengar pertanyaan Kagami.

"Tetsuya mungkin sedang dalam bahaya. Dia diincar oleh seseorang. Aku harap kau bisa sedikit membantuku dengan melindunginya selama di sekolah."

Kagami menengguk ludah susah payah. Entah kenapa dia bisa terlibat dengan hal-hal seperti ini. Dia pikir, Kuroko adalah anak biasa yang cukup pendiam -terlepas dari dia adalah properti milik Akashi, Kagami tidak menyangka jika Kuroko menyimpan misteri yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Apakah ini semacam perekrutan bodyguard untuk Kuroko?

"Walaupun kau tidak yakin melindunginya, kau bisa mengawasinya untukku. Kenapa? Kau mau dibayar untuk ini? Berapa yang kau mau?"

"Tidak! Tidak!" Kagami berulang kali melambaikan tangannya menyangkal perkataan Akashi. "Sebagai sahabat Kuroko tentu saja aku akan membantunya. Meskipun aku tidak yakin." ujar Kagami dengan suara lirih nyaris berbisik di akhir kalimatnya.

"Aku mengandalkanmu."

Hati Kagami tercenung sebelum dia menghela napas singkat, Kagami akhirnya mengangguk. Jujur saja, dia merasa kehidupannya selama di sekolah akan merepotkan setelah ini. Hei, boleh dia mengajukan pengajuan pindah sekolah setelah ini?

.

.

.

Pelabuhan Maizuru, Perfektur Kyoto

Hanamiya menoleh kearah mobil hitam yang baru sampai di pelabuhan. Haizaki muncul dari dalam mobil dengan ekspresi kagetnya.

"Hei, kenapa kau masih disini?" tanyanya saat Hanamiya tak juga bergeming dari tempatnya. Kepala pria itu nampak di perban cukup tebal. Dan dia tahu itu perbuatan siapa.

"Aku belum mendapat apa yang sudah jadi kesepakatan kita."

"Tapi kau gagal! Lagi pula, aku sudah memberimu uang tambahan kan?"

Namun Haizaki harus dibuat kaget saat sebuah revolver ditodongkan kepadanya secara tiba-tiba.

"H-hanamiya kau bercanda kan?"

Mendengarnya, Hanamiya terlihat tertawa meremehkan saat Haizaki nampak mengangkat kedua tangannya -menyerah.

"Apa menurutmu pembunuh bayaran bisa bercanda? Kau sudah berulang kali kuperingatkan. Jangan sekali-kali bermain denganku. Meski kau temanku, aku tidak akan segan-segan untuk melubangi kepalamu dengan ini."

"Oi, kita bisa membicarakannya dengan baik-baik!"

"Dengan baik-baik?" Hanamiya kembali tertawa. Ahh, apa masih ada title 'baik' di namanya? Yang benar saja! Batin Hanamiya nyaris tergelak menahan tawa. "Memangnya kau mau membicarakannya seperti apa? Jika dipikir, kepalaku bocor juga karena dirimu! Kau menghubungiku disaat aku nyaris memenggal kepala bocah itu. Dan karena itu, bocah yang bernama Kuromo atau siapalah itu, memukulku dengan balok kayu!"

"Mana kutahu soal itu! Dan lagi, namanya Kuroko bukan Kuromo!"

"Jangan mencoba melawak!"

Haizaki terkesiap saat Hanamiya kembali mengacungkan revolver itu kepadanya.

"Sekarang bagaimana? Jika kau membunuhku pun kau sama sekali tidak diuntungkan. Malah kau rugi karena aku tidak bisa membayarmu dengan penuh."

"Tapi aku bisa meluapkan rasa kesalku. Kurasa itu harga yang pas."

"Ugh..." Haizaki mengeram frustasi. "Baiklah, bagaimana jika aku memberikan kesempatan kedua?"

"Kesempatan kedua?" Hanamiya membeo dengan sebelah alis naik beberapa milimeter.

"Ya. Dan kali ini biarkan aku langsung yang membantumu."

Hanamiya nampak diam untuk beberapa saat sebelum dia menunjukan seringaiannya.

"Sebenarnya tidak ada kalimat 'kesempatan kedua' di kamusku. Tapi kurasa itu ide yang bagus."

.

.

.

.

.

Kuroko menatap layar televisi dengan ekspresi bosan. Dia sudah dua jam lebih menatap benda berbentuk persegi panjang dengan layar tipis itu yang kini sedang menayangkan sebuah dorama anak sekolahan. Dia merasa kesepian sekarang. Sedangkan Akashi tengah pergi ke suatu tempat entah kemana saat Kagami meninggalkan kediamannya pada pukul 10 pagi tadi. Dia nampak bosan karena seharian ini dia terus berada di tempat yang sama dan tidak melakuakan apapun. Bahkan Mayuzumi melarang Kuroko untuk ikut merapihkan buku-buku di perpusatakaan pribadi milik Akashi tadi.

'Miawww...miaww!'Kuroko terkaget saat dia merasakan ada sesuatu yang melewati kakinya. Oh seekor anak kucing berwarna putih ada di bawah kakinya.

"Darimana anak kucing ini masuk?" ujarnya sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan yang nampak sepi itu.

Tak lama muncul Mayuzumi dengan mangkok kecil di tangannya. Nampaknya dia sangat terkejut saat mengetahui bahwa anak kucing yang sedang dicarinya kini tengah duduk anteng di pangkuan Kuroko.

"Ah, Mayuzumi-kun? Ini kucingmu?"

"Dia hanya kucing liar."

Netra Kuroko menatap anak kucing itu dan mangkok kecil di tangan Mayuzumi secara bergantian. Sadar telah tertangkap basah, Mayuzumi tiba-tiba berojogi di depannya.

"Sumimasen, telah mengganggu waktu anda." katanya dengan nada sedikit terburu-buru. Mungkin saja Mayuzumi berpikir jika Kuroko akan memarahinya atau bisa saja kemungkinan terburuk dia akan mengadukannya ke Akashi jika dia baru saja membawa kucing masuk ke dalam huniannya. Meskipun yang pertama sangat mustakhil dilakukannya.

"Boleh aku yang memberinya makan?"

Mayuzumi menegakan badannya. Dia menatap heran kearah Kuroko yang nampak berbinar-binar saat anak kucing itu mencoba untuk bermain-main dengan tangannya.

"Tentu saja. Tapi, jika disini Akashi-sama bisa-"

"Apa Akashi-kun tidak menyukai kucing?"

"Bukan begitu, hanya saja dia punya alergi dengan bulu hewan."

Kuroko memandang kucing itu dalam diam. Bagaimana makhluk selucu ini Akashi tidak menyukainya?

"Kalau begitu, dimana kau biasa memberinya makan?"

Mayuzumi menghela napas. Namun dia tersenyum saat Kuroko nampak antusias untuk memberi makan anak kucing itu. Akhirnya Mayuzumi mengajak Kuroko untuk menuju keluar- tepatnya taman belakang kediaman Akashi yang cukup luas.

"Jadi, siapa namanya?"

"Tidak ada. Saya hanya tidak sengaja menemukannya disini. Mungkin kucing ini dibuang oleh pemiliknya di dekat sini."

Mendengar kata 'dibuang' entah mengapa membuat Kuroko jadi kepikiran. Apakah nasibnya akan sama dengan kucing itu setelah Akashi bosan dengannya? Kuroko menggelengkan kepalanya membuat perhatian Mayuzumi tersita.

"Kuroko-san, anda tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa." Manik azure Kuroko kembali menatap anak kucing yang sedang menyantap makanannya dengan lahap. "Setelah ini, apa yang Mayuzumi-kun lakukan dengan kucing ini? Apa kau juga akan membuangnya karena Akashi-kun tidak menyukainya?"

Mayuzumi nampak terdiam. Manik kelabunya terpejam hendak memikirkan sesuatu.

"Mungkin aku akan membuangnya setelah aku memberinya makan."

"Sepertinya kalian sangat akrab."

Kuroko dan Mayuzumi terkesiap saat mendapati Akashi tengah berdiri di belakang mereka.

"Okaerinasai, Akashi-sama." Mayuzumi berojigi menyambut Akashi yang sudah pulang. Namun Akashi menghiraukannya, dia lebih tertarik saat manik crimsonnya mendapati sosok Kuroko yang sedang menggendong anak kucing.

"Dari mana kucing itu datang?"

"Boleh aku memeliharanya?"

Alis merah Akashi nampak menukik tak paham.

"Apa?" tanyanya dengan ekspresi heran. "Kau mau memelihara kucing kecil itu?"

Kuroko mengangguk. Membuat sosok Mayuzumi terpaksa merebut kucing itu dari Kuroko.

"Kuroko-san, Akashi-sama punya alergi dengan bulu hewan alangkah baiknya jika kucing ini-"

"Biarkan saja, Chihiro. Aku bisa mengatasinya.Kau bisa pergi." ujarnya dengan senyum tipisnya.

Mayuzumi hanya bisa mengangguk sebelum dia berojigi dan pergi meninggalkan Kuroko dan juga Akashi berdua disana. Meskipun dia sedikit khawatir jika Akashi akan mengamuk dan melempar kucing itu keluar dari rumahnya.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin hewan peliharaan? Kau baru saja tahu jika aku punya alergi dengan bulu hewan."

"Apa kau ingin aku tetap membuang kucing itu?" tanya Kuroko balik. Sedikit dari tatapan matanya menunjukan jika dia merasa kecewa.

Oh ayolah, ditatap dengan tatapan seperti itu membuat sisi lain dari Akashi bergejolak. Dan semoga Akashi bisa bertahan.

"Secara tidak langsung itu membuatku sulit untuk mendekatimu. Jangan-jangan kau sengaja membuat tameng untuk menghalauku?" ujar Akashi dengan seringai jahil disudut bibirnya.

"E-eh, bukan seperti itu." Kuroko mendadak tergagap saat Akashi melangkah semakin dekat kearahnya. Entah apa yang pria itu pikirkan di kepalanya, yang jelas Kuroko tidak suka seringai menyebalkan yang kini bertengger di wajah rupawannya. Seolah pria itu berusaha untuk menggodanya saat ini.

"Lantas?"

"Hanya saja, aku tidak ingin kucing itu terbuang untuk kedua kalinya." jawab Kuroko dengan tatapan sendu. "Dia mengingatkanku tentang diriku. Aku ini orang yang tidak diharapkan."

Tersenyum singkat, Akashi tak bisa menahan langkah kakinya untuk tidak mendekat ke arah Kuroko dan menenggelamkannya kedalam pelukannya.

GREB!

Kuroko terpaku saat Akashi tiba-tiba memeluknya dengan erat. Bahkan Kuroko bisa merasakan detak jantung Akashi saat dadanya dan dada Akashi saling menempel satu sama lain.

"Aku tidak akan membiarkan kau merasakannya lagi. Berjanjilah agar kau selalu disampingku dan aku berjanji aku tidak akan pernah membuang dirimu."

"..." Kuroko terdiam. Tangan kanannya terangkat mencoba mengelus punggung pria bersurai merah itu. Dia tidak tahu mulai sejak kapan dia bisa merasa senyaman ini bersama Akashi. "Ha'i." jawabnya seraya meraih punggung tegap itu dan memeluknya lembut.

.

.

.

.

"Kau sudah dapat infonya?"

Akashi berbalik badan menatap Mayuzumi yang berdiri di belakangnya dengan sebuah kertas di tangannya.

"Saya menerima info dari Sousuke Yamada -penjaga sekolah SMU Rakuzan, pada pukul 07.30 menit dia sempat melihat sebuah mobil hitam yang keluar dari pintu belakang sekolah tepat di hari study tour itu tiba. Dia juga memaparkan jika dia sempat melihat seorang pria berambut sebahu bersama seorang guru magang keluar bersama seorang siswa." Mayuzumi menatap Akashi dengan pandangan serius. Jika dia tidak salah menyimpulkan, kasus penculikan Kuroko memang sudah direncanakan sebelumnya.

"Guru mangang?"

"Ya. Ada sekitar 5 orang guru magang yang ada disana saat ini. Tiga dintaranya adalah laki-laki."

"Kalau begitu -hatchuuu!" Akashi berulang kali menggosok hidungnya yang terasa gatal sekali.

"Akashi-sama, anda tidak apa-apa?"

"Ah, sepertiya alergiku sedikit kambuh."

"Perlu saya ambilkan obat anda?"

Akashi menggeleng. "Tidak perlu. Lama kelamaan aku pasti akan terbiasa. Oh ya, siapkan agendaku untuk ke Rakuzan besok lusa. Kali ini aku ingin memastikan sendiri siapa orangnya."

"Baiklah, Akashi-sama."

"Hatchuu!! Ah, sepertinya dia memang mencoba menantangku." ujar Akashi dengan seringai jahilnya.

Sementara itu...

Netra Kuroko tak lepas menatap objek putih di depannya dengan seksama.

"Siapa namanya?"

Kuroko menegakkan posisi duduknya ketika Akashi baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Nampak dia sangat menawan dengan kaos v-neck lebar berwarna putih dan celana panjang hitam.

"Aku belum memberikan nama." jawab Kuroko. Dia sedikit mencuri pandang kearah Akashi yang sibuk menggosok hidungnya hingga memerah. Alerginya pasti kambuh. Tapi pria itu begitu keras kepala dan malah terus mendekatinya. Mungkin besok dia harus mampir ke apotek dan membelikan Akashi antihistamin.

"Jika kau memutuskan untuk merawatnya, maka kau harus menentukan nama panggilan untuknya.:

"Sei."

Alis merah Akashi nampak sedikit menukik dari posisi awalnya.

"Bagaimana jika kuberi nama Sei?"

Akashi masih terpaku. Entah harus senang atau marah karena potongan nama kecilnya malah dijadikan nama seekor kucing.

"Sepertinya namanya tidak cocok ya?" Kuroko menunduk. Mencoba memikirkan alternatif nama lain. "Apakah, Ao?Ki-chan?Midori- ah ya bulunya berwarna putih jadi namanya Shiro-"

"Namaku saja!"

"Eh?"

"Kau bertanya soal pendapatku kan?Sei, nama itu yang terbaik."

Kuroko sempat berkedip beberapa kali sebelum dia paham betul apa yang dimaksud oleh Akashi. Dia tertawa kecil ketika dia sadar jika keadaan ini seperti peliharaan yang punya peliharaan juga.

"Kenapa kau tertawa?"

Kuroko menjawabnya dengan gelengan kepalanya. Dia rasa, hal itu tidak perlu diketahui oleh Akashi. Kuroko takut jika Akashi akan tersinggung nantinya.

"Ngomong-ngomong, apa kau tahu guru magang yang ada di sekolah?"

Kuroko terdiam saat Akashi tiba-tiba mengalihakan pembicaraan kearah yang lebih serius.

"Entahlah, aku baru beberapa hari disana dan aku tidak yakin bisa mengingat semuanya. Sebagian besar mengajar di kelas 11 hanya guru olahraga dan guru biologi yang mengajar kelas 10."

"Baiklah, siapa saja yang kau kenal."

"Akashi-kun, apa ada kaitannya dengan penculikanku waktu itu?"

Akashi memegang kedua bahu Kuroko dengan erat. Sebisa mungkin, dia harus bisa meyakinkan Kuroko agar dia tidak perlu khawatir dengan keadaanya. Dia yakin jika penculik itu sudah mengancam Kuroko sebelumnya.

"Katakan saja, kau tidak perlu takut. Aku akan melindungimu." kata Akashi kala dia melihat sinar keraguan di dalam mata Kuroko.

"Iida Sousuke-sensei dan Kotaro Hayama-sensei."

Kini Akashi telah mengantongi dua nama. Sisanya, dia akan segera mengetahuinya besok. Ahh, dia tidak sabar ingin segera tahu siapa dalang penculikan itu. Meskipun sebenarnya dia sudah menduga siapa orang yang berambisi ingin menyingkirkan Kuroko dari sisinya.

.

.

.

Kise berulang kali mencuri pandang kearah managernya yang kini sedang mengantarnya sampai apartemen. Mobilnya mogok dan hari ini dan besok dia harus diantar jemput oleh Kasamatsu-managernya.

"Ano, Kasamatsu-senpai." Kise berinsiatif memanggil pria berambut hitam itu untuk pertama kali.

Yang dipanggil nampak acuh tak acuh dan tetap fokus menyetir walaupun Kise berulang kali menyolek bahunya.

"Hentikan itu, baka! Jika kau ingin cepat sampai ke rumah sakit akan kukabulkan dengan segera."

Kise mengangkat kedua tangannya-berlagak seperti tentara kalah perang. Sepertinya mood pria itu sedang buruk sekarang. Dia bisa mati muda jika dia tetap nekat menggoda managernya yang dia klaim paling galak sedunia.

"Hei, kenapa kau tidak memberitahu siapa pelaku penculikan Kurokocchi kepada Akashicchi?"

Kini Kasamatsu menoleh kearah Kise untuk sejenak dan menghentikan laju mobilnya tepat di depan apartemennya.

"Kau tidak lihat, jika anak yang bernama Kuroko itu sama sekali tidak menginginkannya? Dia lebih baik melupakan masalah itu dan memulai hidup baru di suatu tempat yang jauh -tanpa Akashi pastinya."

"Kenapa seperti itu-ssu? Akashicchi memang kadang-kadang galak dan punya kepribadian yang menyeramkan tapi aku yakin Akashicchi melakukan itu semata-mata dia hanya ingin melindunginya?"

"Kau mungkin benar. Dia sangat ambisius dalam mencapai sesuatu. Secara tidak langsung dia telah memunculkan kebencian di berbagai pihak. Kau tidak pernah belajar dari pepatah jika semakin tinggi pohon, akan semakin kencang pula angin yang menerpanya."

Kise tak mampu berkomentar apapun. Sebagai sahabat dekat Akashi, Kise hanya berharap apa yang dikatakan seniornya itu tidaklah benar.

"Kita sudah sampai. Beristirahatlah, besok pagi kau harus bersiap untuk jadwal pemotretan selanjutnya."

"Arggh, bisakah aku libur sehari saja? Aku sangat lelah karena seharian ini aku terus diomeli -terutama olehmu-ssu!" ujar Kise dengan ekspresi sebal. Namun Kasamatsu tak mau ambil pusing. Mengahadapi model bebal macam Kise, memang tendangan adalah cara terbaik.

"Pulang sana, dasar idiot!" katanya sambil menendang pantat model bersurai blonde itu keluar dari mobilnya.

"Kasamatsu-senpai, hidoi-ssu!"

"Katakan pada Akashi, jika dia harus bersiap setelah ini." ujar Kasamatsu sebelum dirinya tancap gas dan pergi meninggalkan Kise yang masih terdiam di depan apartemennya.

"Apa maksudnya?"

.

.

.

.

.

Kuroko tak tahu lagi dimana dia bisa menyembunyikan mukanya saat berpuluh pasang mata nampak kompak tertuju kearahnya. Tidak! Lebih tepatnya kearah pria bermanik crimson yang kini berjalan tegap di sampingnya. Menjadi pusat perhatian seperti ini bukanlah kesenangannya, malah dia ingin melambatkan langkahnya dan berjalan di belakang agar perhatian mereka tidak tertuju kearahnya. Namun sepertinya hal itu sulit dilakukan karena tangan Akashi lekat menggenggap tangannya. Sementara Mayuzumi berjalan lambat di belakang mereka.

"Kenapa kau selalu menundukan kepalamu?"

"Huh?" Kuroko menoleh saat Akashi tiba-tiba buka suara sambil menatapnya. Wajah bingung Kuroko membuat Akashi tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya.

"Apa kau kesal gara-gara Sei kusuruh makan di luar?"

"Bukan! Aku sama sekali tidak merasa kesal. Tapi..."

Manik Akashi mengikuti arah pandang Kuroko yang mengarah ke genggaman tangannya.

"Kenapa? Kau tidak suka aku menggandeng tanganmu?"

"Kita jadi pusat perhatian. Alangkah baiknya jika Akashi-kun..."

"Tidak. Semakin kau mencoba untuk melepas genggaman ini, maka aku akan semakin erat pula menggenggam tanganmu. Jadi diamlah!"

"Akashi-kun!" seruan Kuroko semakin keras saat melihat sosok Kagami lewat di depannya. Baiklah kali ini Akashi menyerah. Dia melepaskan tangan Kuroko dan beralih menyapa Kagami yang nampak berjalan lesu memasuki kelas.

"Ah, pagi Taiga-kun!"

Kagami tersenyum kecut melihat sosok Akashi beserta Mayuzumi di sekolahnya. Sepertinya Kagami merasa akhir-akhir ini dia terlalu sering melihat Akashi menempel di sisi Kuroko. Ah, tentu saja karena pria itu menganggap Kuroko sebagai propertinya kan? Wajar saja jika Akashi khawatir Kuroko akan hilang lagi bahkan sampai repot-repot minta tolong kepada dirinya sebagai bodyguard dadakan.

"Kebetulan sekali bertemu denganmu disini."

"Ada apa?"

"Aku titip Kuroko kepadamu. Aku akan menemui seseorang setelah ini."

Kagami menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu. Dia memandang tak enak kearah Kuroko yang berdiri di depannya.

"Hari ini aku ada pertandingan basket dengan SMU Kaijou di distrik sebelah. Kalau mau ikut ya tidak apa-apa sih, itu pun kalau kau tidak keberatan jika Kuroko kuajak pergi."

"Tentu saja aku keberatan."

Sudah Kagami duga! Pria itu tidak bisa ambil resiko membiarkan Kuroko lepas dari pengawasannya. Padahal Akashi sendiri yang bilang jika dia percaya kepadanya. Tapi ya sudahlah!

"Pergi keluar sama saja mengambil resiko. Kalau begitu, Chihiro kau yang menjaganya hari ini. Aku akan menemui orang itu sendiri."

"Ha'i, wakarimashita."

Setelah Kuroko dan Mayuzumi pergi, manik crimson Akashi kembali ke arah sosok Kagami yang masih berdiri di depannya.

"Ngomong-ngomong, apa kau pergi bersama guru olahraga?"

"Ya, tentu saja! Karena guru lama sedang cuti, maka guru magang yang menggantikannya. Memangnya kenapa?"

Akashi terdiam untuk beberapa saat. Guru olahraga itu adalah salah satu guru magang yang disebutkan Kuroko beberapa waktu lalu. Seorang guru olahraga biasanya tidak terlalu mencolok karena jam mengajarnya tidak sesering guru mata pelajaran yang lain. Bisa dipastikan jika penculik itu memilih mata pelajaran yang tidak terlalu mencolok agar tidak banyak siswa yang mengenalinya. Dan kenapa dia hanya mengajar kelas 10? Ini semakin mencurigakan untuknya. Dan sepertinya Akashi harus membelokan arah penyelidikannya kali ini. Soal Kuroko sepertinya dia bisa mempercayakan segalanya kepada Mayuzumi. Yah, pelayan setianya itu memang selalu bisa diandalkan.

"Kali ini biar aku yang mengikutimu." ujar Akashi dengan tatapan serius. Membuat Kagami menengguk ludahnya susah payah.

"B-baiklah."

Dan Kagami harus menerima keputusan itu dengan lapang dada.

TBC

Hoii~ minna apa kabar semuanya? Maaf untuk keterlambatannya. 4k, apa sudah cukup panjang? Saya berusaha menyajikan moment sweet diantara AkaKuro tp sepertiya kurang ya? T_T. Dan ada sedikit MayuKuro di atas. Selain AkaKuro saya juga ngeship sama MayuKuro sih, jadi maaf ya kalo chapter kali ini agak dipaksakan dan gantung banget. Ne? *kedipmesra*

Tak lupa untuk yang sudah memfavorite, follow dan review di sini, saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Kalaupun ada yang mau menyumbangkan ide, kritik maupun saran, kotak PM dan review saya terbuka lebar untuk para reader semua.

Sekian untuk chapter ini, semoga dapat menghibur kalian semua. Salam AkaKuro, jaa matta ne!

Kuroi Sora18

logout