"Kali ini biar aku yang mengikutimu." ujar Akashi dengan tatapan serius. Membuat Kagami menengguk ludahnya susah payah.
"B-baiklah."
Dan Kagami harus menerima keputusan itu dengan lapang dada.
"Sebenarnya ada apa, Akashi-san?" tanya Kagami. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki sebuah bis yang mengantar rombongan klub basket menuju Kaijou."Aku merasa kau jadi semakin overprotective dengan Kuroko."
"Kau sudah tahu mengenai insiden waktu itu kan? Kurasa sudah cukup jelas." jawab Akashi dengan nada datar.
"Ahh ya..." Kagami menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan canggung. Sepertinya dia menanyakan hal yang sia-sia.
"Ngomong-ngomong, dimana guru olahraga itu berada?"
"Dia langsung menuju Kaijou. Dia bilang dia ingin melihat pemain Kaijou berlatih terlebih dahulu. Kenapa?"
"Tidak."
Keduanya pun saling terdiam sampai bis yang mereka naiki melaju meninggalkan area sekolah.
Sementara itu di SMU Rakuzan...
"Uwah..."
"Dia siapa?"
"Kakkoi yo ne!"
Kuroko menghela napas saat mendapati teman-teman sekelasnya nampak tertarik dengan sosok pria yang menunggunya di luar kelasnya. Mayuzumi Chihiro - tak Kuroko sangka sebelumnya bahwa pria yang dia anggap pendiam itu ternyata begitu keras kepala. Dia bersikeras untuk tetap menunggunya sampai pelajaran telah usai.
"Kuroko-kun..."
Kuroko terkesiap saat seorang siswi teman sekelasnya tiba-tiba memanggilnya dengan suara cukup lirih.
"Nani desuka?"
"Ano, siapa pria diluar itu? Aku sering melihatnya mengantarmu. Dan sekarang dia sampai repot-repot menunggumu di luar kelas."
"Rinoguchi-san, sebenarnya dia orang yang disuruh untuk menjagaku."
"Uwaah, ternyata kau itu anak orang kaya ya? Kupikir rumor yang ada disekolah ini benar."
Rumor?
"Rumor a-apa?"
"Ah, iya rumor yang mengatakan kalau kau dan Akashi Seijuurou itu..."
Sebelum gadis itu mengatakan yang rumor yang menyebar ke penjuru sekolah, guru yang sedang mengajar mereka tiba-tiba memanggil gadis itu.
"Minami Rinoguchi-san!"
"HA'I!"
"Walaupun aku seorang guru magang disini, aku tidak akan segan-segan dengan siswa yang tidak memperhatikan penjelasanku."
"Gomenasai, Hayama-sensei."
LOCKED IN HEAVEN
Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi
Story by Kuroi Sora18
Little bit INSPIRATED by Okane Ga Nai by Hitoyo Shinozaki and Tohru Kousaka
Main Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya
Genre : Romance / Hurt/ Comfort
Rated : M #maybe
Summary :Meskipun dirinya mengakui bahwa dia memang lemah, setidaknya dia mempunyai sedikit keberanian berbicara dengan laki-laki yang sedang mencoba mengintimidasinya saat ini./"Tetsuya, kau adalah properti milikku.Yang harus kau lakukan adalah diam dan turuti saja perintahku! "/
WARNING!!!
Fic ini mengandung unsur Yaoi/ Shounen-ai/ BoysLove, bagi yang alergi silahkan klik button back pada layar masing-masing. No, Flame! Silahkan beri kritik dan saran yang baik dan sopan. Yang nggak suka jangan baca!!!
author proudly present
Chapter 8 : The Sharp Edge
.
.
"Jadi anak itu?"
"Iya. Aku tidak menyangka jika Akashi-sama tertarik dengan dia."
"Jangan bicara sembarangan! Kau bisa mati jika dia sampai dengar!"
"Uwahh, kowai..."
Berbagai bisikan terdengar dari segala penjuru kafetaria saat Kuroko datang bersama Mayuzumi dengan nampan di tangannya. Dia memilih bangku paling belakang yang jauh dari keramaian.
Kuroko menunduk menatap makan siangnya tak berminat. Sedikit mencuri pandang ke sekitarnya yang berubah begitu hening beberapa saat setelah kedatangannya.
"Anda baik-baik saja, Kuroko-san?"
Manik azure-nya teralihkan kepada Mayuzumi yang menemaninya makan siang di kafetaria sekolah. Sampai saat ini, pria itu masih begitu lengket menempelinya kemana pun dia pergi- bahkan saat dia ingin ke toilet sekalipun.
"Tidak apa-apa."
Bohong. Mayuzumi tau jika remaja di depannya menyembunyikan sesuatu. Beberapa hari Kuroko tinggal di kediaman Akashi, Mayuzumi telah tahu beberapa hal jika Kuroko sama sekali tidak pandai berbohong. Itu jelas terlihat dari perubahan ekspresi wajahnya tentu saja.
"Apakah anda merasa risih dengan keberadaan saya?"
"Bukan seperti itu. Hanya saja..."
"Saya tahu ini akan sulit. Jadi kumohon bersabarlah karena ini demi kebaikan anda."
Kuroko menunduk lagi. Percuma, bahkan Mayuzumi sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya sebelum dirinya sempat berbicara. Jari-jarinya mulai memilin ujung blazer abu-abunya dengan wajah kalut. Mayuzumi tahu jika Kuroko merasa terganggu dengan keberadaannya. Tapi tanggung jawab adalah tanggung jawab. Akashi sudah mempercayakan keselamatan anak itu kepadanya. Dan dia harus menjaganya terlepas dari perasaan anak itu suka ataupun tidak.
"Ngomong-ngomong kapan Akashi-kun akan kembali?"
"Anda sudah merindukannya?" ujar Mayuzumi dengan nada datar.
Candaan Mayuzumi tak pelak membuat wajah Kuroko seperti kepiting rebus. Tidak, itu sama sekali tidak terdengar seperti sebuah candaan.
"Tolong jangan berkata seperti itu, Mayuzumi-kun." Kuroko membalas dengan wajah tertekuk. Nampaknya dia sedikit kesal karena Mayuzumi sedikit menggodanya tadi. Mayuzumi tersenyum tipis. Sepertinya ada kebahagiaan tersendiri untuknya saat dia berhasil membuat remaja bersurai baby blue itu kesal.
"Baiklah, maafkan saya. Akashi-sama akan kembali ketika urusannya selesai."
"Ano, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sebelumnya. Setelah aku beberapa hari tinggal bersama Akashi-kun, apa dia hanya tinggal seorang diri? Maksudku, selain Mayuzumi-kun dan Hibiki-san tentu saja."
"Keluarga Akashi-sama?"
"Hmm." Kuroko mengangguk mengiyakan. "Yang kutahu, ibunya telah meninggal dunia saat dia kecil. Lalu kemana ayahnya?"
Dalam sekejap, punggung Mayuzumi menegak tegang. Dia terdiam untuk sejenak -mencoba menimang apakah dia harus menceritakan seluk beluk keluarga Akashi kepada Kuroko.
"Kepala keluarga Akashi sedang berada di luar negeri untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Mungkin setahun sekali dia akan kembali untuk sekedar istirahat atau ada keperluan yang memang harus diselesaikan di Jepang."
Jawaban Mayuzumi membuat Kuroko termenung untuk sejenak.
"Selama itu?"
"Begitulah. Selama ini Akashi-sama lah yang mengurusi perusahaan dan urusan keluarga Akashi disini. Tapi tenang saja di sudah terbiasa dengan keadaan itu."
Setelahnya Kuroko terdiam. Dia baru tahu beban pria crimson yang meyelamatkannya itu begitu berat.
.
.
.
.
Manik crimson Akashi tak pernah lepas dari sosok pria yang ada di depannya saat ini.
"Saya tidak menyangka jika anda ingin melihat pertandingan kami secara langsung."
Akashi tidak yakin jika pria di depannya saat ini adalah orang yang menculik Kuroko.
"Aku hanya ingin melihat-lihat sebentar. Apa kehadiranku mengganggu?"
"Ah tidak-tidak!" Pria tinggi dengan stelan training serba hijau itu menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya. "Justru saya senang sekali."
Kagami yang melihat interaksi keduanya dari kejauhan pun hanya menghela napas berat. Sebelum mereka sampai di Kaijou, Akashi telah berhasil membuat dirinya shock untuk sesaat karena pernyataan tidak masuk akal pria crimson itu. Bagaimana bisa guru olahraga magang itu menjadi pelaku penculikan Kuroko? Meskipun itu hanya dugaan saja. Tapi dugaan itu menurutnya terlalu berlebihan. Bagaimana guru magang yang satu itu adalah pelakunya?
"Taiga!"
Kagami terkejut saat Akashi tiba-tiba memanggilnya.
"Y-ya?"
"Kurasa bukan dia orangnya."
"Sudah kubilang kan kalau itu tidak mungkin. Orang semacam dia-" telunjuk Kagami mengarah kearah kearah guru olahraga yang nampak malu-malu saat ada guru wanita yang menawarinya minuman. "rasanya tidak akan melakukan hal seperti itu." lanjutnya dengan nada datar.
"Bagaimana jika itu hanya kedok? Kau mau menjaminnya?"
"I-itu...Ahh! Kau belum tahu kan, guru Biologi di kelasku? Koutarou Hayama-sensei. Dibanding Yamada-sensei, menurutku dia terlihat sangat mencurigakan."
"Kapan dia mengajar?"
"Hari ini dan-Oi! Akashi-san, kau mau kemana?!"
Akashi berjalan secepat yang dia bisa menuju ke Rakuzan. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya dengan perasaan khawatir yang tiba-tiba datang menelusup ke hatinya. Tanpa pikir panjang dia segera membuka smartphone miliknya dan menghubungi seseorang.
"Chihiro!" serunya begitu sambungan teleponnya berhasil terhubung.
'Ya,Akashi-sama. Ada apa anda-'
"Sekarang kau ada dimana?" tanya Akashi dengan nada tidak sabar.
Jeda sebentar sebelum Mayuzumi menjawab lagi dengan nada lirih.
'Saya sedang mengawasi guru magang yang mengajar di kelas Kuroko-san.'
Mata Akashi nampak melebar untuk sesaat karena terkejut.
"Bagaimana dengan Tetsuya? Apa kau meninggalkannya sendiri?"
'Tidak, Akashi-sama. Justru sekarang Kuroko-san sedang bersama guru itu dan saya mengawasinya.'
Dan Akashi tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak bergegas menuju Rakuzan dengan perasaan kalut.
.
.
.
.
"Jadi kau sudah mengerti Kuroko-kun?"
Kuroko mendongkak memandang Kotarou yang berdiri di depannya.
"Saya akan mengusahakannya." ujarnya dengan nada ragu.
"Ano ne-" Pria dengan rambut pirang itu menghela nafas singkat sebelum memulai bicara lagi. "Bukannya apa-apa sih, cuma aku juga penasaran dengan hubungan kalian berdua. Kau tidak perlu marah, karena wajar seluruh penghuni sekolah penasaran dengan hubunganmu dan juga Akashi Seijuurou. Sebagai wali kelasmu yang baru, aku tidak ingin muridku sampai terkena masalah."
"Saya hanya-"
"Kuroko-san!"
Manik Kotarou menyipit kala melihat sosok kelabu muncul dari tikungan koridor. Kalau tidak salah, dia adalah seniornya sewaktu SMU dulu.
"Mayuzumi-kun?"
"Sudah saatnya kita pulang."
"Ara! Kau sudah dijemput, Kuroko-kun." ujar Kotarou dengan senyum yang agak dipaksakan. "Mungkin kita bisa membicarakan itu di lain waktu."
"Sumimasen, Hayama-sensei." Kuroko membungkuk menghormat sebelum dia berjalan mengekori Mayuzumi.
"Hah~ kenapa aku harus melakukan ini?" ujar Kotarou dengan wajah sebal.
Drrrrrttttt drrrrtttt
Getaran ponsel yang Kotarou simpan di saku celananya membuat guru magang itu berdecih. Dia sudah menduga siapa yang menghubunginya sekarang.
"Kenapa lagi, Hanamiya?"
'Kau berhasil?'
Merotasi kedua bola matanya, Kotarou menjawab pertanyaan Hanamiya dengan nada sebal.
"Kau pikir mudah berpura-pura seperti seorang guru yang baik huh?"
'Kutanya kau berhasil atau tidak?'
"Anak itu ada penjaganya. Tidak mudah mengajaknya pergi kesuatu tempat. Kupikir kau langsung saja menghabisinya. Menabraknya dengan truk atau kau bisa menembaknya dengan pistol."
'Sudah kuduga, meminta bantuanmu itu hal yang sia-sia.'
TWITCH
"SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK MELIBATKANKU KAN?!"
'Kenapa kau marah-marah? Jangan cuma mengomel dan lakukan saja tugasmu!'
Kotarou mengeram-jengkel.
"Baiklah akan kucoba lagi besok."
'Kenapa harus menunggu besok?'
TWITCH
"JIKA KAU TIDAK SABAR, KENAPA TIDAK KAU LAKUKAN SAJA SENDIRI?!"
'Ya ya lakukan saja sesukamu.'
Kotarou mengepalkan telapak tangannya dengan erat. Mungkin dia sedang berimaginasi jika dia bisa meremukan kepala Hanamiya dengan menggunakan kepalan tangannya.
"Hei, kurasa kita sudah terlibat terlalu jauh dengan Akashi. Kau sudah tahu akhirnya jika mereka tahu kan?"
'Sejak awal kita telah mengambil langkah yang cukup jauh. Aku tidak bisa mundur lagi. Bukankah penghalang terbesar kita adalah klan Akashi? Sebagai penguasa ekonomi negara kita, keberadaannya itu sangat merepotkan.'
Mendengar itu Kotarou hanya bisa menghela nafas.
"Sebaiknya kau selesaikan hari ini juga! Aku punya firasat yang tidak enak."
Guru bersurai pirang itu menatap layar ponselnya yang telah berubah ke tampilan awalnya. Panggilan itu terputus begitu saja.
"Cih, selalu saja omonganku tak didengar!" umpatnya entah kepada siapa.
.
.
.
.
"Anda tidak apa-apa, Kuroko-san?"
Kuroko mendongkak memandang Mayuzumi yang berjalan di sampingnya. Mata pelajaran terakhir sudah usai sejak 30 menit yang lalu. Kini mereka berdua berjalan menuju mobil Akashi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."
Mayuzumi hanya memandang remaja itu dengan heran.
Kaduanya pun memasuki mobil itu dan melaju keluar dari area sekolah. Selama perjalanan, baik Mayuzumi maupun Kuroko sama sekali tidak ada yang membuka suara. Suasana dalam mobil itu begitu hening sampai Kuroko tiba-tiba buka suara dengan nada ragu.
"Mayuzumi-kun, sebenarnya apa yang Akashi-kun lihat dari diriku?"
Mayuzumi terdiam sejenak. Dia mengurangi kecepatan mobil itu agar perasaan Kuroko jadi lebih rileks. Mungkin pembicaraannya dengan guru salah satu magang itu membuat Kuroko bertanya hal itu.
"Entahlah. Setiap orang punya pandangan tersendiri dalam menilai sesuatu. Jadi maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda."
Kuroko menundukan kepalanya. Tangannya seperti biasa memilin ujung blazernya dengan gelisah.
"Apapun yang guru itu katakan kepada anda, mohon untuk jangan memikirkannya Kuroko-san. Atau itu akan menjadi kerugian untuk anda sendiri."
"T-tapi, meskipun kau dan Akashi-kun selalu berkata demikian, tetap saja kehadiranku bukankah hal yang patut dipertanyakan? Bukankah aneh m-membeli orang hina sepertiku hanya karena sekotak ayam goreng dari restoran cepat saji?"
"-dan bahkan aku tidak mengingat peristiwa itu. Mungkinkah Akashi-kun hanya sebatas kasihan kepadaku?"
Manik kelam Mayuzumi melirik kearah Kuroko yang duduk di sampingnya.
"Kenapa Kuroko-san selalu mempermasalahkan hal itu? Dari pada membicarakannya dengan saya, akan lebih baik jika anda sendiri yang bertanya langsung kepada Akashi-sama."
"..." Kuroko terdiam. Dia berpikir mungkin karena Mayuzumi adalah orang terdekat Akashi yang dikenalnya, mungkin saja pria itu mengetahui alasan sebenarnya kenapa Akashi bersedia membelinya. Alasan karena Kuroko pernah memberikan sekotak ayam goreng nampaknya kurang masuk akal bagi Kuroko.
"Anda sebaiknya jangan memaksakan diri memikirkannya, atau anda akan jatuh sakit."
"A-aku mengerti." ujar Kuroko dengan wajah kecewa.
Mayuzumi hanya menghela nafas sembari kembali memfokuskan diri kearah jalanan yang ada di depannya sebelum mereka harus terlonjak kaget saat tiba-tiba bagian belakang mobil yang mereka naiki ditabrak oleh mobil lain yang mengekor dibelakang mereka.
"Kuroko-san, anda baik-baik saja?"
Mayuzumi menaikan kecepatan mobilnya untuk menghindari mobil misterius yang sedang mengikuti mereka.
Kuroko tak merespon. Wajahnya terlihat kaku dan badannya gemetaran. Ada apa dengan anak itu?
Manik kelam Mayuzumi melirik kearah spion mobil. Mobil misterius itu terus mendekat. Berkali-kali Mayuzumi harus membanting kemudi dengan keras saat mobil itu berulang kali mencoba untuk menabrakan diri ke arahnya.
Sementara Kuroko merasa jika dia tiba-tiba diliputi rasa takut yang luar biasa. Bayang-banyang kecelakaan mobil yang pernah dialaminya terus menghantuinya.
BRAK!!!
Mobil yang naiki Mayuzumi dan juga Kuroko ditabrak dari samping hingga membuat mobil itu menabrak sebatang pohon pinus di pingggir jalan.
"Hah~ kenapa kalian begitu ngeyel sih? Harusnya kalian menyerah saja tentu semuanya tidak akan berakhir jadi seperti ini~" Hanamiya memastikan diri untuk melihat keadaan Kuroko dan juga Mayuzumi. Keduanya nampak tak sadarkan diri dengan kepala bercucuran darah. "Kau sudah puas, Haizaki?" tanyanya begitu Haizaki keluar dari mobil sedan yang sudah penyok di bagian depannya.
"Apa mereka sudah mati?"
"Belum. Tapi kurasa, sekarat iya." jawabnya ketika melihat keadaan Kuroko yang terengah-engah. "Apa kupercepat saja kematian mereka? Melihat mereka tersiksa sepeti ini membuatku sedikit kasihan juga."
"Sebentar, aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Haizaki mendekat kearah mobil dan memeriksa keadaan Kuroko. Namum dia terkejut saat sebuah pistol diacungkan kearahnya.
"Kau masih hidup ternyata." ujarnya saat melihat Mayuzumi nampak menodongkan pistol kearah Haizaki dengan satu tangan.
DZING!!!
Bunyi desingan peluru terdengar. Mayuzumi dengan cepat menendang tubuh Hizaki dan bergegas keluar dari dalam mobil.
Hanamiya menyeringai.
"Permainan jadi semakin menengangkan."
.
.
.
.
.
Akashi berulang kali mengecheck layar ponselnya. Tak ada kabar apapun dari Mayuzumi setelah panggilan terakhir mereka selesai beberapa waktu yang lalu. Perasaannya menjadi kacau saat melihat titik GPS yang dia pasang di tas Kuroko berhenti dititik yang sama. Apa mobil yang mereka naiki mogok dijalan? Tidak, Mayuzumi selalu mengechek mobilnya setiap hari. Dan Akashi berani bertaruh jika Mayuzumi sebenarnya adalah mekanik yang cukup handal dibandingkan mekanik manapun. Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Berbagai kemungkinan buruk kini memenuhi kepala Akashi. Apalagi saat dia mencoba menghubungi pelayan setianya, Mayuzumi sama sekali tak mengangkat telfonnya.
Dengan langkah terburu-buru, Akashi memasuki audi A8 berwarna hitam yang sudah menunggunya.
"Hibiki-san, kita pergi sekarang."
"Ha'i. Seijuurou-sama."
.
.
.
Manik azure Kuroko perlahan terbuka, pandangannya memburam dan rasa nyeri menghujam kepalanya begitu dia mencoba menegakan kepalanya. Hal pertama yang dia lihat adalah sosok Mayuzumi yang sedang terkapar di tanah sementara dua sosok lainnya yang dia ketahui bernama Hanamiya Makoto dan sepupunya -Haizaki Shougo sedang menendangi tubuh Mayuzumi yang nampak tak berdaya.
"Y-yamete kudasai!"
Pada akhirnya semua mata tertuju kepada sosok ringkih yang mencoba untuk keluar dari dalam mobil untuk menghampiri tubuh Mayuzumi.
"K-kuroko s-san! Lari!"
Manik azure Kuroko membulat melihat pelayan setia Akashi itu dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Dia ingin berlari menyelamatkan Mayuzumi, namun seluruh badannya terasa kaku dan kepalanya nyeri luar biasa.
"Ooh, rupaya tuan putri sudah sadar! Hei, Haizaki! Bukankah ini jadi dramatis sekali?"
Haizaki mengacuhkan lelucon Hanamiya. Dia berhenti menendang tubuh Mayuzumi. Kakinya yang berbalut jins abu-abu mendekat kearah Kuroko dan menarik surai baby blue miliknya.
"Ah, kita bertemu lagi sepupuku tercinta! Kau tahu, aku dapat banyak masalah karena dirimu."
Tangan Kuroko menggenggam tangan Haizaki yang sedang menjambak rambutnya.
"K-kumohon hentikan semua ini, Haizaki-kun!"
"Hentikan? Apa kau mulai nyaman dengan kehidupanmu saat ini? Menjadi peliharaan anak dari rival kedua orang tuamu? Kau menjijikan, Kuroko!"
'Rival?'
Haizaki menyeret Kuroko keluar dari dalam mobil dan mendorongnya ke tanah dengan kasar.
"Melihat reaksimu, aku yakin kau tidak tahu apa-apa tentang ini. Keluarga Akashi adalah rival perusahaan kedua orang tuamu. Kau mungkin tidak tahu mengenai hal ini, tapi penyebab bangkrutnya Phantom Corporation adalah Akashi Masaomi- kepala keluarga Akashi."
"Kau pasti berbohong."
"Kuroko, kau adalah sepupu kesayanganku, untuk apa aku berbohong kepadamu? Asal kau tahu, kegagalan proyek konstruksi di Distrik Kaijo beberapa tahun lalu adalah karena adanya sabotase dari Klan Akashi. Hanya karena mereka kalah tender proyek dari perusahaan Amerika, mereka bekerja sama dengan anggota yakuza untuk mengacaukan proyek itu. Dan akibatnya, proyek itu mogok di tengah jalan karena banyak pekerja konstruksi memilih untuk berhenti bekerja. Gagalnya proyek itu membuat Phantom Corporation terkena denda besar hingga membuat perusahaan orang tuamu bangkrut."
Haizaki menyeringai saat melihat Kuroko nampak shock setelah mendengar ceritanya. Dia masih terpaku -mencerna kata-kata sepupunya. Entah dia harus percaya atau tidak karena dia sama sekali tidak ingat tentang mengenai itu.
"Kuroko-san, jangan dengarkan dia!"
Mayuzumi berteriak untuk menyadarkan Kuroko. Namun, setelah itu Mayuzumi harus berteriak kesakitan karena kepalanya diinjak oleh Hanamiya yang masih menonton drama menarik di depannya.
"Aku tidak ingat."
Haizaki mendesah lelah. Dia menyisir poni rambut kelabunya ke belakang dan mengacungkan sebuah pistol ke arah Kuroko.
"Ah, menyebalkan! Aku sudah menceritakan panjang lebar begini tetapi kau malah tidak ingat. Apa perlu kulubangi kepalamu dulu agar kau bisa ingat semuanya?"
Suara gerungan mesin mobil membuat perhatian semua orang tertuju kearah mobil berwarna hitam yang baru saja berhenti di depan mereka.
"Aku akan menunjukan drama yang menarik untukmu. Aku penasaran, apakah orang semacam Akashi akan lebih sayang harga dirinya yang setinggi langit itu atau peliharaan rendahan seperti kalian."
Haizaki menarik tangan Kuroko untuk memaksanya berdiri.Lengannya menghimpit leher Kuroko hingga pemuda kecil itu merasa sesak nafas. Apalagi benturan di kepalanya membuat pandangannya semakin berkunang-kunang.
Akashi dengan wajah dingin menatap Kuroko dan pelayan setianya yang dalam keadaan tidak berdaya secara bergantian. Tangannya terkepal erat saat melihat darah nampak mengotori sebagian wajah Kuroko. Berani-beraninya Haizaki melukai Kuroko sampai seperti ini.
"Aku tidak habis pikir dengan kebodohan kalian hingga menggunakan cara kotor seperti ini." ujar Akashi. Dia menahan diri untuk tetap tenang meskipun dirinya sangat ingin menghajar Haizaki dan juga Hanamiya.
"Untuk mengalahkan setan licik sepertimu, terkadang cara kotor perlu di gunakan." sahut Hanamiya. Kakinya sekali lagi menginjak kepala Mayuzumi hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Lepaskan mereka!"
"Lepaskan? Jika kau ingin para peliharaanmu ini kulepaskan, berlututlah kepadaku! Merangkak dan jilat sepatuku lalu ucapkanlah kata maaf!"
Akashi masih belum bergeming. Dia memandang sengit kearah Haizaki. Mereka berniat menjatuhkan harga dirinya dan mempermalukannya. Seumur hidupnya dia baru pertama kali diperlakukan seperti itu.
"Akashi-kun, jangan lakukan i-tkhh!!"
"Lebih baik kau diam saja, atau peluru di pistol ini menembus kepalamu."
Suara Kuroko tertahan oleh lengan Haizaki yang semakin erat membelit lehernya.
Haizaki tersenyum senang saat melihat wajah Akashi nampak memerah menahan amarah.
"Ayolah, disaat seperti ini kau masih memikirkan harga dirimu? Kau tidak ingin kepala peliharaan kesayanganmu ini berlubang kan?" ujar Haizaki sembari menekan moncong pistol itu ke pelipis Kuroko.
Kuroko menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Akashi melangkah. Air matanya tak bisa dibendung lagi kala Akashi sudah menjatuhkan lututnya di tanah berdebu. Kenapa pria itu begitu peduli kepadanya sampai seperti itu? Kuroko- dia merasa bukanlah orang yang spesial bagi pemuda bersurai merah itu.
"A-akashi-sama..." Mayuzumi mencoba meraih majikannya, namun dengan sangat kejam Hanamiya menginjak tangan itu hingga berdarah.
"Sepertinya kau begitu berharga di matanya ya, Kuroko? Si arogan itu bahkan sampai melakukan ini demi dirimu."
Kuroko mencoba meronta sekuat tenaga. Namun lengan Haizaki begitu kuat melilit lehernya hingga yang dia dapat hanya rasa pusing yang mendera kepalanya.
"Sekarang merangkahlah kemari, Akashi Seijuurou!"
Dan demi langit dan bumi, saat itu Akashi ingin sekali membunuh Haizaki.
.
.
.
.
.
TBC
