"Apa kau lihat ini? Gigiku sampai patah karena dihajar olehnya!"

"S-sejujurnya..aku pernah melihat dia melawan 15 orang.."

"Dia benar-benar gila! Dua bahkan muncul dalam mimpiku!"

"Anak itu sebenarnya adalah MONSTER!!!"

Berbagai macam bisikan teman sekelasnya membuat Sehun lega, sekarang tidak ada yang mengganggunya lagi.

'Mereka benar-benar memperlakukan ku seperti monster, cih.', Batin Sehun sambil masuk kekelasnya dan duduk tenang dibangkunya.

Tidak ada coretan hinaan dimejanya. Tidak ada baju kotor. Tidak ada gangguan.

Ah, senangnya.

Tapi--

Masalahnya sekarang adalah kenapa Kai menatapnya terus? Tentu saja ia risih.

'K-kenapa dia menatapku seperti itu?', Batin Sehun merinding. Ia tidak berani menolehkan kepalanya sedikit pun kearah Kai.

"AHAHHHAHA Dia bahkan memanggilnya MONSTER!! Ini akan semakin menarik..", Dari kejauhan Baekhyun selalu mengamati Shixun yang sedikit berubah, sama seperti Kai yang mengamati Shixun.

"Aku bahkan tidak pernah lelah melihat aksinya itu. Sungguh kereeen~", Mata Baekhyun berbinar-binar sambil membayangkan Shixun yang bertengkar melawan orang banyak," Oh ya jong, menurutmu dia bagaimana? Kau kan sudah mengawasinya selama seminggu ini."

"Hmm..aku merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiranku tentangnya.", Kai tidak mengalihkan andangannya sedikitpun dari arah Sehun.

"Kau benar, dia sudah banyak berubah setelah amnesia.", Baekhyun menyetujui perkataan Jongin, temannya.

"Lebih tepatnya seperti orang yang berbeda sekarang."

"Well, aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan Kim Shixun. Tapi jika itu sangat mengganggumu, kau hanya perlu mengatasinya dengan caramu sendiri."

"...", Kai mengeluarkan smirknya, seakan-akan suatu ide muncul diotaknya. Ia akan bertekat membongkar identitas Kim Shixun yang sebenarnya.

Ding! Dong!

"Baiklah anak-anak, bapak akan mengumumkan hasil test kalian kemarin. Yang mendapatkan nilai 50 kebawah akan melakukan remidial.", Ahn songsaenim mengeluarkan kertas-kertas ujian para murid dan mulai membaginya satu persatu.

"Hmm..untuk Kim Shixun, bapak rasa nilaimu benar-benar menurun sekarang..."

'Hell, Setelah lulus dari SD, aku benar-benar tidak pergi kesekolah lagi.', Batin Sehun malu.

"Maafkan aku, Ahn Songsaenim."

"Aku tidak punya pilihan lain. Jongin, bisakah kau membantu Shixun belajar?"

'Huh?'

WHAAAAATTT!?!?!?!

"T-tunggu dulu, songsaenim. Dia..dia mungkin orang yang sibuk sekarang, jadi--", Sehun dengan cepat menolak mentah-mentah tawaran Ahn songsaenim.

"Kau benar, tapi tidak ada yang bis mengajarimu selain Jongin sekarang. Apa kau keberatan, Jong?", Ahn songsaenim melepas kacamatanya dn mulai membereskan peralatannya.

"Well, aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan Kim Shixun. Tapi jika itu sangat mengganggumu, kau hanya perlu mengatasinya dengan caramu sendiri.", Mendadak dirinya mengingat perkataan yang dibilang Baekhyun tadi.

Kalau begitu--

"Tidak, songsaenim. Aku baik-baik saja.", Jongin mengeluarkan senyum miringnya.

'What the f*ck!', Batin Sehun.

o

o

o

o

o

Ugh~

"Apa yang kau lakukan? Jawablah pertanyaannya."

Yah, sesuai dengan permintaan Ahn songsaenim tadi. Kai benar-benar mengajari Shixun sepulang sekolah. Dan disinilah mereka, berduaan dikelas dengan suasana yang tegang.

'J-jika seperti ini--bagaimana bisa ku mengerjakan?', Batin Sehun gugup. Tangannya sudah gemetar dari tadi. Antara bingung menjawab pertanyaan soal dan Kai yang daritadi menatapnya seakan-akan ingin menggigitnya.

Sungguh mengerikan.

'Sial! Sekalipun bukan situasi seperti ini, aku tidak akan bisa menjawab soal ini hah! Apakah ini soal math atau bahasa inggris? Kenapa keduanya dicampur?', Sehun berusaha memahami pertanyaan tersebut.

Otaknya sudah mulai bekerja keras hingga rasanya mau pecah. Tapi--tetap saja hasilnya nihil. Belum ada satupun soal yang bisa ia jawab.

'Ah, aku menyerah. Aku akan melihat soal ini saja.', Batin Sehun putus asa.

"...", Sementara orang didepannya masih diam dan terus memperhatikan Sehun.

"--ak bisa."

"Aku tidak bisa.", Pipi Sehun mulai memerah. Bukan karena ia tersipu, melainkan ia merasa harga dirinya seperti terinjak-injak.

"Yang mana?", Kai terus menatap Shixun smbil mengetukkan jarinya diatas meja.

"A-aku tidak bisa semuanya.", Sehun mengacak rambutnya frustasi.

"Bukankah ini aneh?"

"Maafkan aku, aku tidak bisa mengingat semuanya."

'Sebenarnya, tidak ada yang perlu diingat olehku.', Batin Sehun.

"Bukan itu. Bukankah aneh seseorang bisa berubah begitu banyak hanya karena kehilangan memorinya.", Kai melipat tangannya angkuh.

Deg!

Huh?

"Apa maksudmu, hah?", Jantung Sehun berdegup kencang.

'Tenang Sehun..jangan terprovokasi olehnya..'

"Hmm..", Kai mendekatkan wajahnya kewajah Sehun,"Saat aku melihatmu, aku merasa jika kau bertingkah seperti orang lain. Ya--seseorang yang harus memulai dari bawah dan tidak kenal rasa takut. Itu sangat berkebalikan dengan Kim Shixun yang sebenarnya...", Kai mengangkat dagu Shixun. Menatapnya dalam.

Sedangkan Sehun sempat terdiam sesaat karena ia tidak tau harus menjawab apa.

'Aku pikir tidak ada yang memperhatikan kelakuanku..'

'Tindakanku terlalu ceroboh untuk seorang Kim Kai.'

Tsk.

'Kenapa tiba-tiba kau begitu tertarik pada Kim Shixun, hah?'

'Apa karena kau melihat Oh Sehun didalam Kim Shixun, Kai?'

'Kau tidak berhak berkata seperti itu, Kai.', Sehun kesal, kenapa Kai seolah-olah menyalahkannya karena telah meninggalkannya?

'Karena--satu-satunya orng yang pergi dan menghilang begitu saja adalah KAU!', Sehun meremat ujung bajunya. Ia sudah tidak tahan lagi. Tanpa basa-basi ia segera membereskan bukunya dan peralatan tulisnya.

"Kita belum selesai.", Kai menahan tangan Shixun.

"B*st*rd! Apa kita seperti sedang belajar sekarang?", Yang mereka lakukan hanyalah berdebat. Sehun tidak mau terjebak lebih lama lagi dengan Kai. Ia masih belum siap untuk mengungkapkan identitasnya yang asli.

Belum waktunya.

"Tsk. Itu karena kau lebih bodoh dari perkiraanku.", Kai hanya memandang Shixun datar.

'Tuhann! Maafkan diriku yang bodoh ini..', Batin Sehun putus asa. Kenapa semua orang menyalahkan dirinya yang bodoh ini? Ini sudah bawaan, maklumi saja jika ia tidak pernah sekolah setelah lulus SD.

"L-lagipula aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengajariku. Kenapa juga kau mengiyakan tawa--eh?"

"Nomermu. Berikan aku nomerku.", Kai mengeluarkan hpnya dan meletakkannya diatas tas Shixun.

"Tsk! Buat apa aku memberikan nomerku?"

"Setidaknya aku harus membuat nilaimu menjadi stabil.", Well, Kai kan sudah diamanahkan Ahn Songsaenim untuk mengajari Shixun. Jika nilai Shixun tidak berkembang, dia juga yang kena masalah nantinya.

"Sungguh merepotkan.", Sehun dengan cepat mengetik nomernya dan memberikannya kembali ke Kai.

"Tidakkah kau tau cara berterima kasih kepada orang yang menolongmu? Dasar payah."

"Cih, terima kasih untuk pelajaran yang sangat berguna ini sialan!", Sehun langsung berdiri dari kursinya dan ergi meninggalkan kelas. Moodnya hancur sudah.

"Loh? Apa kalian sudah selesai belajarnya? Kenapa sangat cep--", Baekhyun yang tidak sengaja berpapasan dengan Shixun hendak berbasa-basi, namun niatnya ia tunda saat melihat tatapan mengerikan yang terpancar dari mata Shixun.

'Ada apa dengan mereka?', Batin Baekhyun.

o

o

o

o

o

TBC.