Cast :
Mark Lee as Raja Viering
Na Jaemin as Putri Earl of Hielfinberg
Other Cast :
Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie
Johnny Seo as Earl of Hielfinberg
Huang Renjun as Irina Krievickie
Park Jisung as Derrick Krievickie
Jungwoo as Duke of Binkley
Somi as Duchess of Binkley
Sayup-sayup terdengar suara kereta kuda mendekat...
"Itu pasti Papa," kata Renjun gembira. Ia berlari menuju jendela dan memperhatikan kereta keluarga mereka berhenti di depan pintu masuk Mangstone dari jendela di tingkat dua itu.
"Aku akan menyambut Papa," Renjun meninggalkan jendela.
"Tidak perlu," Jisung memberi saran, "Aku yakin Papa akan segera menuju tempat ini."
Renjun memperhatikan adiknya lekat-lekat. "Bagaimana kau tahu?"
"Paduka Raja memanggil Papa pagi-pagi itu sudah cukup menjelaskan ada sesuatu yang penting dan mendesak yang harus segera diselesaikan Papa," jawab Jisung, "Dan melihat ia pulang lebih awal dari biasanya, aku bisa menebak pasti terjadi sesuatu yang membuat Papa gelisah."
"Kau benar," Renjun sependapat, "Tidak biasanya Papa pulang sepagi ini. Apakah ia tidak mampir ke Schewicvic seperti biasanya?"
"Aku yakin ia telah berkeluh kesah pada Earl Johnny. Aku juga percaya Jaemin sudah mengetahui semuanya sebelum seorang dari kita mengetahuinya."
"Ya," Renjun mendesah sedih, "Setiap kali Papa mempunyai masalah, orang pertama yang diajaknya berunding adalah Earl."
"Apa yang bisa dilakukan oleh kita?" tanya Jisung, "Kita tidaklah berpengalaman seperti Earl. Wawasan kita juga masih kalah dari Earl. Selain itu, mereka berdua adalah sahabat baik."
"Menurutmu apakah Papa akan membicarakan panggilan Paduka pada kita?"
"Bukan kita," Jisung meralat, "Tetapi kau. Papa selalu dan selalu mempercayaimu."
"Papa tidak seperti itu," Renjun membela ayahnya, "Ia tidak pernah berpikiran seperti itu."
"Kenyataannya, ia lebih suka membicarakan masalahnya denganmu. Ia lebih mempercayai pendapatmu daripada aku."
"Kau berpikir terlalu banyak," ujar Renjun.
"Tidak, aku mengatakan kenyataan," sergah Jisung.
Grand Duke muncul dengan wajah suramnya.
Seketika keduanya berdiam diri – menghentikan pertengkaran mereka yang baru saja dimulai.
"Aku perlu bicara."
Jisung berdiri, "Denganmu, Renjun," ia memotong.
"Tidak," Grand Duke Taeil membenarkan dan ia menegaskan, "Aku perlu bicara denganmu, Jisung."
"Aku?" Jisung tidak percaya.
"Sudah kukatakan, Papa juga mempercayaimu," Renjun tersenyum penuh arti. Renjun pun berdiri, "Kurasa aku tidak diperlukan di tempat ini. Aku akan melihat bila makan malam sudah siap."
"Terima kasih, Renjun," Grand Duke melihat putrinya yang tahu diri itu mengundurkan diri.
"Apa yang Papa ingin bicarakan denganku?" tanya Jisung ingin tahu. Peristiwa apakah yang membuat Grand Duke lebih suka mencari pendapatnya daripada Renjun, sang putri kesayangan yang dipercayainya itu.
Grand Duke menarik kursi ke depan Jisung.
Jisung memperhatikan kerutan-kerutan di dahi pria tua itu. Ia tahu sesuatu telah terjadi pagi ini di Istana. Sesuatu yang sangat penting telah membuat ayahnya terlihat kian tua.
"Apa pandanganmu tentang Mark?"
Jisung tidak mengerti tujuan dari pertanyaan ini. Belum sempat ia menjawab pertanyaan itu ketika Grand Duke kembali berkata,
"Ia mau menikah."
Nafas Jisung tercekat di tenggorokannya. Tiba-tiba saja ia merasa ia tidak lagi berada di dunia nyata. Pagi ini ia mendiskusikan kemungkinan itu dengan Renjun dan mereka berpendapat itu adalah suatu hal mustahil yang tidak mungkin terjadi sekalipun dunia kiamat. Itu adalah seperti mengharapkan matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur.
"Reaksiku juga seperti itu ketika ia mengungkapkannya," Grand Duke melihat putranya.
"Ia tidak sedang bercanda bukan?" Jisung masih sulit mempercayai pendengarannya, "Siapa yang akan menjadi mempelainya?"
"Itulah sebabnya ia memanggilku pagi-pagi ini," jawab Grand Duke, "Ia memintaku mencari mempelai untuknya. Ia menginginkan seorang gadis terhormat yang penurut."
"Siapa," Jisung cepat-cepat menutup mulut ketika menyadari saat ini ayahnya lebih membutuhkan seorang pendengar yang baik daripada seorang penanya. Dalam hatinya, Jisung bertanya-tanya, siapakah yang mau menjadi istri Mark hanya untuk memberikan penerus pada tahta Viering.
"Dan Jaemin mengusulkan padaku untuk mencari seekor kuda betina untuknya."
Jisung terperangah. "Tidak salah lagi. Ia memang Jaemin," Jisung tersenyum geli.
"Bagaimanakah menurutmu?" Grand Duke bertanya serius.
"Aku sependapat dengan Jaemin," Jisung menjawab dengan serius pula, "Dibutuhkan seorang gadis yang tangguh untuk menghadapi Mark. Gadis yang lemah mungkin telah meninggal karena serangan jantung sebelum ia melahirkan keturunan Mark."
Grand Duke mendengarkan dengan seksama.
"Dengan sifat pemarahnya yang menakutkan itu, aku yakin Mark akan membuat gadis malang itu pingsan. Bukanlah hal yang tidak mungkin bila mereka dibuat Mark menangis ketakutan."
"Siapakah gadis itu?" tanya Grand Duke, "Siapakah gadis yang memenuhi kriteria itu?"
Dengan tangkas Jisung menjawab. "Siapa lagi kalau bukan Jaemin?" katanya menahan tawa, "Memangnya ada lady lain yang setangkas Jaemin? Apakah ada gadis cantik lain yang pandai memanjat pohon seperti tupai seperti Jaemin? Apakah ada gadis terhormat lain yang berani mengigit orang lain bila ia disinggung? Hanya dialah satu-satunya gadis yang liar seperti kuda betina."
"Menurutmu," Grand Duke seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri, "Gadis seperti apakah Jaemin?"
Seketika Jisung terkesima. "Papa…," ia tidak dapat mengutarakan kata-katanya. Apakah Grand Duke menganggap serius gurauannya itu? Apakah Grand Duke tidak sadar ia tengah bergurau?
Jisung mengakui Jaemin adalah gadis yang cantik dan manis. Ia akan menjadi seorang Ratu yang hebat tetapi… Jisung tidak yakin Jaemin pantas menjadi pendamping Mark.
Baru pagi ini mereka membicarakannya dan sekarang…
"Aku sedang memikirkannya, Jisung," Grand Duke berkata serius.
Dari raut wajahnya Jisung juga dapat melihat sang Grand Duke itu tidak sedang bercanda.
"Apakah Earl akan setuju?" Jisung bertanya, "Mereka pernah mengejar-ngejar Jaemin."
"Mereka tidak mengejar Jaemin," Grand Duke meralat, "Mereka hanya berusaha menemukan Jaemin untuk mengetahui kebenaran dalam peristiwa Red Invitation."
"Apapun itu," kata Jisung, "Mereka telah membuat Earl begitu melindungi Jaemin."
"Johnny hanya berusaha membuat Jaemin melupakan peristiwa itu. Johnny tidak mau mereka membangkitkan kembali ingatan Jaemin akan kejadian itu," lagi-lagi Grand Duke membela tindakan Istana sepuluh tahun yang lalu.
Jisung melihat keseriusan ayahnya. Ia tahu tidak ada hal yang dapat merubah keputusan itu.
"Jaemin adalah gadis yang manis," Jisung menjawab pertanyaan yang terlupakan itu, "Ia adalah gadis yang pemberani dan tegar. Aku yakin ia akan dapat menghadapi kemarahan Mark tanpa dibuat takut oleh Mark. Mark juga seorang pemuda yang bertanggung jawab. Aku tidak akan khawatir ia akan membuat affair setelah pernikahannya. Mereka mungkin akan menjadi pasangan yang serasi."
"Aku juga berpendapat begitu," Grand Duke tersenyum dan ia menatap putra tunggalnya lekat-lekat, "Terima kasih, Jisung. Kau membuatku yakin keputusanku tidak salah."
Grand Duke berdiri. "Aku tidak ikut makan malam bersama kalian," katanya, "Aku akan pergi ke Istana saat ini juga."
Jisung termenung mengawasi kepergian ayahnya.
Tiba-tiba saja ia merasa Grand Duke mengajaknya berbicara bukan untuk meminta pendapatnya tetapi hanya untuk memantapkan keputusannya. Ia sama sekali tidak membutuhkan pendapatnya karena ia telah memutuskan!
Jisung kesal. Ternyata selama ini ayahnya tidak pernah menganggapnya cukup dewasa.
"Makan malam sudah siap," Renjun memberitahu dengan riang.
Renjun heran melihat Jisung seorang diri di dalam ruangan itu. "Di mana Papa?"
"Ia pergi ke Istana," jawab Jisung, "Ia tidak dapat makan malam bersama kita."
Renjun kecewa.
Jisung kembali termenung dengan pikirannya.
"Apa yang Papa bicarakan denganmu?" Renjun duduk di depan Jisung.
Jisung melihat raut wajah penuh ingin tahu itu. Andai saja Renjun adalah Jaemin. Jisung pasti akan memberitahunya. Sayangnya, Renjun adalah Renjun.
"Aku lapar," Jisung meninggalkan Renjun.
"Jisung!" Renjun menuntut jawaban.
"Ini adalah pembicaraan antara pria," jawab Jisung sambil lalu, "Hanya kaum pria."
Renjun tidak senang mendengar jawaban itu. Dan ia menunjukkannya dengan jelas sepanjang malam. Ia terus menuntut jawaban dari adiknya.
Di lain pihak Jisung bersikeras untuk tidak memberitahu Renjun. Ia tidak mau hal ini tersebar ke luar sebelum semuanya dipastikan.
Belum tentu Paduka Raja menerima usul Grand Duke. Earl juga belum tentu menyukai ide ini. Dan Jaemin.
Jisung rasa gadis itu tidak akan mempunyai suara. Tidak ketika sang Grand Duke dan Earl terutama Paduka Raja Kerajaan Viering menyetujuinya. Tidak peduli apa pun yang dilakukan Jaemin, tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka.
Jisung memahami Jaemin. Ia sangat memahami gadis yang tidak suka diatur itu hingga ia dapat membayangkan bagaimana reaksi Jaemin. Juga dapat dibayangkannya bagaimana Jaemin akan membangkang rencana yang pasti tidak disukainya ini.
Jisung turut bersedih untuk Jaemin.
-00000-
Duke of Krievickie menatap Schewicvic lekat-lekat.
Ia ragu. Untuk kedua kalinya di hari ini ia berada di depan pintu masuk Schewicvic.
Ia tidak ragu untuk mengetuk pintu kayu besar itu. Ia juga tidak ragu untuk menemui sahabat baiknya itu. Ia hanya ragu memberi tahu sahabatnya itu keputusannya dan keputusan Raja Mark.
Setelah meninggalkan Mangstone, ia langsung menuju istana.
Mark masih sibuk di Ruang Kerjanya ketika ia tiba. Pria itu sangat puas mendengar laporannya.
"Aku tahu aku bisa mempercayaimu," katanya puas mendengar penasihat kepercayaannya itu telah menemukan calon pengantin untuknya. "Aku tahu kau bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat."
"Terima kasih atas pujian Anda, Paduka," kata Grand Duke hormat.
"Segera persiapkan pesta pernikahan kami," katanya, "Tidak perlu pertunangan. Aku ingin segeranya segera diselesaikan. Aku tidak mau menunda waktu. Sedetik pun tidak."
Grand Duke terperangah. Ia belum memberitahu sang Raja siapakah gadis pilihannya itu tetapi siapapun pilihannya itu, ia sepertinya tidak keberatan.
"Aku harus segera menyuruh Vicenzo segera mengatur pesta pernikahan kami. Seseorang juga harus segera mengatur undangan untuk kerajaan-kerajaan lain. Aku ingin semua diselesaikan dengan cepat tanpa kesalahan."
"Saya mengerti," kata Grand Duke. "Saya akan segera meminta kesediaan Earl Hielfinberg."
Raja muda itu terperanjat. "Kau belum memberitahu mereka!?" nadanya meninggi, "Kau belum meminta kesediaan mereka?"
Grand Duke juga tidak kalah terperanjatnya. "Saya ingin meminta pendapat Anda terlebih dahulu sebelum meminta kesediaan mereka. Saya khawatir Anda tidak menyukai pilihan saya."
"Aku sudah tidak mempunyai waktu untuk memilih lagi," Mark menegaskan, "Aku telah memberikan syarat-syaratku padamu. Itu sudah lebih dari cukup. Aku percaya padamu."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Paduka," kata Grand Duke Taeil, "Saya akan segera memberitahu kabar gembira ini pada mereka."
"Pastikan mereka menerima pinanganku ini."
"Jangan khawatir, Yang Mulia," kata Grand Duke, "Ia pasti menerima pinangan Anda ini. Setiap orang di Viering bersedia melakukan sesuatu untuk Viering. Ini adalah suatu kehormatan untuk dapat melakukan sesuatu bagi Viering."
"Cepat pergi temui mereka," kata Mark tersenyum puas.
Dan itulah yang dilakukan Grand Duke. Namun sekarang ia ragu-ragu.
Tiba-tiba saja ia dapat merasakan kesedihan Johnny melepaskan satu-satunya orang tercinta yang tersisa di dunia ini. Ia dapat merasakan betapa pedih dan sunyinya kehidupan sahabatnya itu sepeninggal Jaemin. Akan sangat kejam sekali meminta satu-satunya orang yang menghiasi kehidupannya yang sunyi ini.
Grand Duke tidak memikirkan hal itu ketika ia mendapat ide ini. Ia juga tidak memiliki perasaan ini ketika ia menemui Mark.
Ia ragu. Ia tidak tahu haruskah ia melangkah maju untuk Viering atau mundur untuk Johnny. Keduanya sangat berarti baginya. Keduanya sangat penting baginya. Ia tidak bisa menguntungkan yang satu dan menyakiti yang lain. Ia tidak bisa merebut Jaemin dari sisi sahabat baiknya itu.
Jaemin adalah satu-satunya harta yang paling berharga untuk Earl of Hielfinberg yang kesepian setelah kematian istri tercintanya.
Jaemin adalah permata yang akan selalu dijaganya dengan baik.
Jaemin adalah bidadarinya yang selalu menghiasi Schewicvic.
Jaemin adalah keceriaan Schewicvic Castle yang besar.
Jaemin adalah sinar mentari yang menghangati bangunan yang dingin ini.
Membawa Jaemin pergi sama dengan membunuh kehidupan Schewicvic dan juga Earl of Hielfinberg.
Di saat Grand Duke sedang bimbang inilah, Jaemin membuka pintu.
"Aku sudah tahu itu adalah kau ketika aku mendengar suara kereta," kata Jaemin tersenyum gembira.
Grand Duke terperanjat.
"Apakah kau datang untuk menyelamatkanku?" Jaemin langsung menggandeng tangan Grand Duke, "Papa mengurungku di dalam kamar dan melarangku keluar sepanjang sore ini." Jaemin melapor dengan cemberut.
"Masih untung kau, aku tidak melarangmu makan malam," Earl muncul dari dalam.
Jaemin tersenyum nakal.
"Apa yang membuatmu datang?" tanya Earl. Tidak biasanya Grand Duke datang di waktu makan malam dan itu membuatnya curiga. Ia mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
Setelah mengetahui tugas yang diberikan Raja Mark, Earl tahu sahabatnya itu tengah berada dalam kesulitan besar. Ia turut dapat merasakan beban berat yang ditanggung sahabatnya itu dan ia turut memikirkan tugas itu.
Sepanjang sore ini, sepeninggal Grand Duke, ia terus memutar otak memikirkan siapakah gerangan gadis yang cocok menjadi pendamping Raja kerajaan ini. Siapakah gadis yang pantas menjadi Ratu kerajaan ini? Ia telah berpikir dan berpikir keras tetapi ia tidak dapat menemukan jawabannya.
Earl yakin Grand Duke Taeil pun demikian. Mereka hanyalah dua orang duda kesepian yang tidak pernah memikirkan hal lain selain keluarga mereka dan masalah kerajaan. Mereka tidak pernah tertarik untuk mendengar kabar tentang gadis-gadis keluarga lain. Mereka juga tidak pernah secara khusus mendengar kabar burung tentang kelakuan para gadis bangsawan itu.
Untuk kedua kalinya dalam hari ini Earl merasa sungguh bersimpati pada Duke of Krievickie, sang penasehat dan tangan kanan Paduka Raja Kerajaan Viering.
"Tidak ada alasan khusus," Grand Duke berbohong, "Tiba-tiba saja aku ingin bergabung dengan acara makan malam kalian." Ia melihat Jaemin dan bertanya, "Kalian belum menyelesaikan makan malam kalian bukan?"
"Belum," sahut Jaemin gembira, "Kami baru saja akan memulainya."
Jaemin menuntun Grand Duke ke dalam Ruang Makan. "Sudah lama sekali engkau tidak makan malam bersama kami."
"Kau tahu Renjun akan tidak senang bila aku melewatkan makan malamku di rumah."
Jaemin tertawa geli. "Makin lama ia makin mirip nenek tua yang cerewet. Ia terus mengomeli kelakuan dan penampilanku."
Grand Duke memperhatikan Jaemin dengan jeli. "Aku lihat engkau adalah gadis yang sempurna. Apa yang diomelkannya lagi?"
"Itulah Renjun," Jaemin tidak suka, "Ia tidak pernah menyukai penampilanku. Ia ingin aku tampil kaku seperti gadis-gadis lainnya. Ia tidak tahu aku tidak bisa. Aku tidak menyukainya."
"Ia hanya memperhatikanmu," Earl membela putri Grand Duke Taeil itu.
"Ya, aku tahu." Jaemin tersenyum lembut, "Bila Renjun tidak seperti ini, itu bukanlah Renjun. Aku menyayanginya karena ini seperti ini."
"Begitu pula kami," tambah Grand Duke Taeil.
Makan malam itu berlangsung begitu hangat. Mereka terus berbicara mengenai keluarga mereka. Tidak tersirat sedikit pun kegelisahan yang hinggap di pundak Grand Duke. Juga tidak tersirat pula simpati yang ada di dalam hati Earl. Mereka begitu menikmati makan malam mereka yang hangat itu. Tetapi semuanya berubah ketika Earl menyuruh Jaemin kembali ke kamarnya dan mengajak Grand Duke untuk duduk di tempat kesukaan mereka, Ruang Perpustakaan.
Bagaimana pun gembiranya Grand Duke sepanjang makan malam ini, ia tidak dapat membohongi Earl. Earl tahu benar ada sesuatu yang ingin dibicarakan Grand Duke padanya. Sesuatu yang sangat penting. Dan itulah yang langsung dikatakannya pada Grand Duke ketika mereka berdua telah berada di dalam Ruang Perpustakaan.
Grand Duke menanggapi pendapat Earl itu dengan menatapnya lekat-lekat.
"Johnny, apa kau mau berkorban untuk kerajaan ini?" Grand Duke ragu-ragu.
"Apa-apaan kau ini!? Tentu saja aku mau."
"Baguslah," Grand Duke lega.
Earl heran.
"Aku minta putrimu."
-00000-
Jaemin mengintip tempat tidur ayahnya. Ia tersenyum gembira melihat ayahnya masih tidur pulas. Dengan hati-hati ia menutup pintu kamar tidur ayahnya dan menuju teras.
"Semuanya sudah siap, Tuan Puteri," lapor Fauston.
Jaemin tersenyum senang.
Ini adalah hari Kamis – hari di mana Jaemin dapat pergi ke Loudline tanpa pengawasan ayahnya. Setiap hari Kamis pagi Fauston berbelanja keperluan Hielfinberg selama seminggu di Loudline. Di saat itu pulalah Jaemin selalu ikut serta.
Walaupun Jaemin tidak dapat bersikap anggun seperti layaknya seorang lady, ia tetaplah seorang gadis. Jaemin menyukai keramaian Loudline dan ia benar-benar menikmati saat-saat ia bermain di sana tanpa sepengawasan siapa pun baik itu Earl sendiri, Jisung maupun Renjun!
"Earl tidak akan menyukai ini," seperti biasanya, Nicci mengeluh.
Jaemin melihat wanita itu dan tersenyum, "Papa tidak akan tahu, ia masih tidur."
"Apa kata Countess bila ia melihat Anda seperti ini," wanita yang telah melayani Jaemin semenjak Jaemin kecil itu mendesah. Matanya menatap pakaian seorang pelayan yang dikenakan Jaemin.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain," Jaemin membela diri, "Hanya ini satu-satunya gaun yang pantas kukenakan."
"Anda perlu pergi ke penjahit dan membeli beberapa gaun baru yang sesuai dengan ukuran Anda. Saya melihat beberapa gaun Anda sudah kekecilan untuk dikenakan. Anda bisa mengajak Tuan Puteri Renjun. Saya yakin ia akan menemani Anda dengan senang hati."
"Aku tidak membutuhkan gaun baru," Jamein menolak, "Tidak untuk saat ini."
Nicci tahu itu. Ia sudah mengenal watak Jaemin dengan baik. Nicci percaya Jaemin adalah satu-satunya gadis bangsawan yang sama sekali tidak tertarik untuk mengkoleksi gaun-gaun yang indah beserta aksesorisnya juga perhiasan-perhiasan yang mempesona.
Jaemin adalah gadis yang suka tampil apa adanya. Ia juga tidak senang rambut panjangnya ditata rapi. Ia lebih suka membiarkannya tergerai bebas. Untungnya, saat Jaemin jarang menata rapi rambutnya, setiap hari dan hampir setiap saat ia berada di sekitar Hielfinberg.
"Apa kata Countess bila melihat Anda pergi seorang diri tanpa sepengetahuan Yang Mulia," lagi-lagi Nicci mendesah.
"Mama tidak akan memarahiku hanya karena aku pergi ke Loudline tanpa sepengetahuan Papa. Lagipula aku tidak sendirian," Jaemin membela diri, "Fauston ada bersamaku. Kau boleh ikut bila kau mau."
"Tidak," Nicci menolak, "Saya harus ada bila Yang Mulia menanyakan keberadaan Anda."
"Kau selalu seperti ini," Jaemin tertawa geli, "Kau selalu melarangku tetapi kau juga selalu melindungiku."
"Apa boleh buat," keluh wanita yang telah menginjak kepala tiga itu, "Saya tidak suka melihat Anda terus dikurung di sini. Sekali-kali Anda juga perlu keluar."
"Papa tidak pernah mengurungku.," Jaemin membenarkan, "Ia hanya terlalu mencemaskanku bila aku meninggalkan Hielfinberg."
"Saya akan lebih lega bila Tuan Puteri Renjun atau Tuan Muda Jisung ikut bersama Anda."
"Tidak," Jaemin menolak tegas, "Aku tidak suka terus merepotkan mereka. Mereka telah cukup menjadi pengawal dan pengasuhku. Sekarang aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan sendiri langkahku."
Lagi-lagi Nicci kalah.
"Kami harus segera pergi," Jaemin berpamitan, "Aku tidak ingin kesiangan."
Nicci pun tidak berusaha mencegah Jaemin lagi. "Berhati-hatilah di jalan," pesan Nicci, "Pastikan Anda selalu berada di sekitar Fauston."
Fauston mengulurkan tangan – membantu Jaemin duduk di sisi tempat duduk kusir kereta dan ia duduk di sisi Fauston – mengendalikan kereta barang mereka.
"Kami pergi, Nicci," Jaemin melambaikan tangannya ketika kereta mulai beranjak meninggalkan Hielfinberg.
"Apakah hari ini kau akan membeli banyak barang?" Jaemin bertanya pada Fauston.
"Tidak, Tuan Puteri. Saya hanya perlu membeli beberapa keperluan sehari-hari."
"Apakah itu akan memakan waktu lama?" Jaemin bertanya ingin tahu.
"Saya rasa tidak," jawab Fauston.
"Baguslah," Jaemin lega, "Aku tidak ingin Papa bangun sebelum aku tiba."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Tuan Puteri," kata Fauston kemudian ia mempercepat laju kereta.
Setelah melalui jalanan yang membentang di antara Hielfinberg dan Loudline, akhirnya mereka tiba di pinggiran kota itu.
Mata Jaemin melirik sebuah gedung yang megah di pinggiran Loudline. Gedung yang tampak sangat mencolok di jalan utama Loudline itulah tempat Jungwoo bertemu dengan Somi. Gedung itulah tempat terakhir Somi bekerja.
Jaemin selalu melewati tempat ini setiap kali ia menuju Loudline. Ia tidak pernah memperhatikan gedung itu sebelumnya. Sekarang, setelah berita yang ramai itu, gedung itu tiba-tiba saja menjadi pusat perhatiannya dan juga setiap orang di Viering. Tentu tidak seorang pun yang tidak ingin tahu tempat yang menjadi awal mula berita yang menghebohkan ini. Dan tentu saja gereja kecil yang menjadi saksi bisu berita paling ramai dibicarakan di Viering ini. Pastor Samuel yang meresmikan pernikahan mereka juga tidak ketinggalan dalam keramaian ini.
Jaemin telah mendengar pihak istana memanggil Pastor itu dan menanyainya tentang pernikahan Duke of Binkley.
Kereta berhenti tak jauh dari pusat kota. Di sinilah ia selalu berada setiap Kamis pagi, di pasar Loudline. Tetapi ia datang bukan untuk berbelanja. Ia datang untuk bermain-main di Loudline.
"Jangan pergi terlalu jauh, Tuan Puteri," pesan Fauston.
"Aku akan berada di sekitar tempat ini."
"Saya akan menanti Anda di atas kereta bila saya sudah selesai."
Jaemin mengangguk dan ia segera menghilang dalam keramaian. Sementara Jaemin menikmati keramaian kota, Fauston sibuk membeli kebutuhan Hielfinberg.
Jaemin berjalan-jalan tanpa tujuan – seperti biasanya. Sepanjang jalan ia dapat mendengar orang-orang sibuk membicarakan berita tentang Jungwoo dan juga keputusan Mark yang tidak terduga itu.
Memang itulah yang dinamakan gosip. Sekeras apa pun seseorang berusaha menutupinya dan serapat apa pun ia menjaganya pasti ada yang membocorkannya. Dalam hal ini Jaemin yakin bukan Taeil lah yang membiarkan keputusan Mark menjadi gosip segar.
Jaemin belum melihat koran hari ini. Pengantar koran belum datang ketika ia pergi meninggalkan Hielfinberg. Walaupun begitu Jaemin dapat menebak judul di halaman utamanya. Judul itu pasti tidak jauh dari keputusan Mark untuk menikah yang menghebohkan itu.
Kemarin ia begitu yakin pernikahan Putra Mahkota Kerajaan Viering dengan seorang wanita bekas kriminal itu adalah berita yang paling menghebohkan sepanjang sejarah Viering. Sekarang predikat itu telah digeser oleh keputusan perjaka yang paling ternama di Viering itu.
Tak perlu Jaemin menjelaskan keputusan itu, semua orang sudah tahu Mark berubah pikiran karena terpaksa dan demi masa depan Viering.
"Apa kau sudah mendengarnya?" Jaemin mendengar seorang wanita berbicara. "Istana mulai sibuk. Kudengar Paduka sedang mempersiapkan pesta pernikahannya."
"Pesta pernikahan?" tanya wanita satunya, "Apakah sang calon mempelai sudah ditentukan?"
"Entahlah. Kudengar pagi ini Paduka memanggil beberapa Menteri."
"Kurasa Paduka ingin segera mengadakan pesta pernikahan begitu calon mempelainya telah ditentukan."
Jaemin tidak lagi mendengarkan percakapan kedua wanita itu. Ia terus melangkahkan kakinya hingga ke bundaran air mancur yang berada tepat di tengah-tengah Loudline. Ruas jalan di sekeliling air mancur itu bercabang ke lima arah. Tiap arah menuju tempat yang berbeda.
Jaemin memperhatikan sekelilingnya yang perlahan-lahan mulai ramai. Ia melihat kereta-kereta kuda yang perlahan-lahan memenuhi jalanan Loudline. Ia tidak kaget melihat beberapa kereta kuda yang indah berjalan menuju satu arah. Ia tidak dapat menduga siapa yang ada di dalamnya.
Dalam hatinya Jaemin tersenyum geli. Berita tentang pencarian mempelai Mark tentunya telah tersebar di Loudline. Jaemin tidak akan heran bila pinggiran Viering juga mendengarnya.
Dalam beberapa hari mendatang ini, para penjahit ternama di Loudline akan mempunyai banyak pesanan. Dalam beberapa hari ke depan hingga calon pengantin Mark ditentukan, para gadis akan sibuk mempercantik diri.
"Sudah kuduga kau akan berada di sini."
Jaemin terperanjat. "Jisung!? Apa yang kaulakukan di sini?"
"Sama sepertimu, berjalan-jalan menikmati udara pagi," Jisung berbohong. Sebenarnya, ia sengaja datang ke kota untuk melihat keadaan Jaemin. Ia tahu Jaemin mempunyai kebiasaan datang ke kota bersama Fauston, Kepala Rumah Tangga Hielfinberg, tiap Kamis pagi. Kemarin ia terus mencemaskan Jaemin dan itulah yang membuatnya muncul di tempat ini pagi ini. Dan sekarang setelah bertemu Jaemin, ia menjadi curiga. Gadis itu tetap terlihat ceria seperti biasanya.
"Hari ini jalanan lebih ramai," mata Jaemin memperhatikan kereta-kereta kuda yang berlalu lalang di perempatan jalan tak jauh dari mereka. "Mereka tentunya tidak ingin menjadi yang terakhir."
Jisung bingung.
Jaemin menatap Jisung lekat-lekat dan tersenyum lembut. "Untuk beberapa hari mendatang kalian pasti akan kerepotan. Setiap bangsawan pasti akan berusaha menemui Taeil dan mengajukan putri mereka."
Jisung heran. Ia bertanya-tanya. Apakah ayahnya belum memberitahu Earl? Apakah Earl menolak? Ataukah ayahnya telah berubah pikiran? Apa pun itu, Jisung dapat memastikan Jaemin tidak mengetahui apa pun tentang keputusan yang telah dibuat ayahnya.
"Aku merasa ini bukan ide yang bagus," Jaemin berkata serius.
Jisung kebingungan. Ia masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan Jaemin ketika ia mendengar seseorang berseru,
"Jisung, sungguh tidak menduga aku bisa bertemu denganmu di sini."
Jisung menoleh. Ia melihat seorang wanita bangsawan mendekatinya dengan tergesa-gesa. Tangannya menarik seorang gadis yang mirip dengannya. Berdua mereka mendekatinya dengan tergesa-gesa seolah-olah takut Jisung akan pergi.
Jisung melihat Jaemin dan ia mendapatkan senyum geli.
"Mengapa engkau berada di sini sepagi ini?" tanya wanita itu tanpa memberi kesempatan pada Jisung untuk membuka mulut. "Apakah yang membuatmu muncul di tempat ini? Sungguh tidak kusangka aku dapat berjumpa denganmu di sini. Ini benar-benar sebuah kesempatan langka. Bagaimana keadaanmu? Apakah Grand Duke sehat-sehat saja? Kau tahu ia sudah tua dan sudah saatnya ia beristirahat. Tetapi kurasa hal itu mustahil terutama semenjak berita yang menghebohkan itu. Kudengar Paduka Raja telah memberi sebuah tugas penting pada Grand Duke. Katakan pada Grand Duke untuk memperhatikan kesehatannya. Aku tahu tugas ini sangat penting tetapi kesehatan tetaplah nomor satu."
Seketika Jisung menyadarinya. Wanita itu tentunya tidak mendekat untuk sekedar menyapanya. Ia mempunyai tujuan dan tujuannya itu sangatlah jelas. Sekarang ia mengerti makna di balik senyum geli Jaemin.
"Jisung, apakah kau masih ingat putriku?" wanita itu memajukan putrinya, "Kalian telah bertemu sebelumnya."
"Ya, senang berjumpa dengan Anda, M'Lady," Jisung meraih tangan gadis manis itu dan menciumnya.
Jaemin menahan senyum gelinya meihat wajah gadis itu bersemu merah. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah gadis itu selalu memerah seperti ini setiap tangannya dicium pria.
"Senang berjumpa dengan Anda lagi, M'Lord," gadis berambut merah itu menjawab dengan suaranya yang lembut, "Mengapa sepagi ini Anda sudah berada di kota bersama pelayan Anda?"
"Pelayanku?" Jaemin kebingungan. Seketika ia menoleh pada Jaemin dan sadarlah ia bahwa penampilan Jaemin saat ini benar-benar mirip seorang pelayan muda daripada seorang putri bangsawan.
Jaemin berusaha keras menahan tawa gelinya. Ia tahu ia tidak dapat membiarkan tawanya terlepas begitu saja di tempat ini dan ia mencari akal untuk meninggalkan mereka. "Terima kasih atas petunjuk anda, Tuan Muda. Saya akan segera melakukannya sesuai perintah Anda."
Jisung kebingungan melihat Jaemin membungkuk hormat pada mereka selayaknya seorang pelayan dan menjauh. Jisung yakin ia mendengar tawa lepas gadis itu ketika ia berjalan menjauh. Ia sendiri yakin ia tidak akan sanggup menahan tawa lepasnya bila bukan karena tiba-tiba saja ia melihat beberapa wanita mendekatinya.
Lengkaplah sudah kegembiraan Jaemin di pagi ini. Ia telah melihat bagaimana Jisung kewalahan menghadapi kedua wanita itu mencoba mengorek berita darinya itu. Tak lama lagi Jaemin percaya Jisung akan menarik perhatian tiap orang yang tengah berusaha mempercantik diri itu. Jisung benar-benar harus berusaha keras untuk menjawab setiap pertanyaan penuh ingin tahu mereka. Jaemin tidak berminat membantu Jisung. Ia juga tidak dapat memberikan bantuan apa-apa. Dengan dandanannya yang seperti seorang pelayan ini, siapa yang akan memperhatikannya? Para bangsawan dan orang kaya itu hanya akan merendahkannya. Tetapi itu pula yang membuat Jaemin merasa beruntung. Ia tidak perlu ikut terlibat dalam serangan pertanyaan-pertanyaan yang tiada hentinya itu.
Jaemin segera kembali ke tempat Fauston menurunkannya.
Pria tengah baya itu tengah memindahkan barang-barang belanjaannya ke dalam kereta barang mereka.
"Kelihatannya Anda sedang gembira," pria itu melihat senyum gembira di wajah manis Jaemin. "Apakah sesuatu yang baik telah terjadi?"
"Ya, Fauston," Jaemin memberitahu, "Aku bertemu Jisung dan sekarang ia tengah dikerumuni oleh para wanita."
"Tuan Muda Jisung memang tampan. Saya tidak akan heran melihat para wanita begitu memujanya."
"Tidak, Fauston," Jaemin membenarkan, "Apakah kau tidak menyadari jumlah kereta kuda lebih banyak dari biasanya?"
Fauston memperhatikan sekeliling dan saat itulah ia menyadari kereta kuda yang berlalu lalang di jalanan Loudline pagi ini lebih banyak dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul enam lebih ketika mereka meninggalkan Hielfinberg. Tidak biasanya suasana Loudline seramai ini di pagi hari seperti ini.
"Para bangsawan dan orang kaya bergerak untuk memperoleh bola di tangan Taeil."
"Saya telah mendengarnya. Setiap orang sedang membicarakannya," kata Fauston, "Mereka sibuk memperkirakan siapakah yang akan dipilih Grand Duke."
"Ah, Jaemin," seseorang berkata gembira, "Kau juga datang. Aku baru saja bertanya-tanya mengapa aku tidak melihatmu pagi ini."
Jaemin tersenyum manis melihat seorang pemuda membawa karung yang berat di punggungnya. Jaemin mengenal baik pemuda itu yang bernama Lucas itu. Ia sering terlihat membantu Fauston membawakan barang belanjaan dan dari Lucas pulalah ia sering mendapatkan gosip Viering. "Aku pergi memperhatikan keramaian pagi ini," Jaemin menjawab keingintahuan pria muda itu.
"Letakkan karung itu di sini," Fauston menunjuk tempat kosong yang telah ia siapkan.
Dengan cekatannya pemuda yang berasal dari pinggiran Loudline itu meletakkan barang itu.
"Hari ini Loudline memang lebih ramai dari biasanya," Lucas sependapat. "Sejak kemarin sore Loudline menjadi ramai. Apakah kau tidak mendengarnya, Paduka mencari mempelai!"
Jaemin hanya tersenyum. Ia sudah mengetahuinya dari Taeil.
"Aku mendengar ia memerintahkan Grand Duke untuk mencari mempelai untuknya. Aku juga mendengar Grand Duke sedang berusaha keras mencari sang mempelai. Beberapa pelayan mendengar Paduka meminta seorang gadis yang penurut dan cantik. Ia meminta seorang ratu yang sempurna! Sekarang tiap gadis berusaha keras memperoleh kedudukan itu. Ini adalah kesempatan yang langka! Setiap penduduk Loudline membicarakannya. Setiap orang sedang menduga-duga siapakah yang akan dipilih Grand Duke. Aku bertemu seorang pelayan istana. Dia mengatakan Grand Duke telah menentukan pilihannya. Kemarin malam ia menemui Paduka dengan tergesa-gesa. Pagi ini Paduka tampak begitu gembira. Ia sepertinya sudah melupakan perbuatan Duke Binkley. Beberapa orang mengatakan ia mengajukan putrinya sendiri," Lucas memberitahu dengan penuh semangat.
Jaemin terperanjat. "Jadi itulah sebabnya kemarin malam Taeil muncul di Hielfinberg," gumamnya. Jaemin tidak akan heran bila Grand Duke mengajukan putrinya sendiri. Renjun adalah seorang gadis yang cantik dan anggun. Ia akan menjadi seorang ratu yang sempurna. Tetapi Jaemin tidak yakin Grand Duke akan melakukan itu. Bila ia memang memilih Renjun, ia pasti telah mendengarnya dari Jisung pagi ini. Paling tidak dari Renjun sendiri.
Jaemin mendengarkan pria itu memberitahunya segala berita yang diketahuinya dengan penuh semangat. Pria muda itu mungkin akan terus mewartakan berita terbaru yang diketahuinya bila bukan Fauston yang menghentikannya,
"Sudah. Sudah," Fauston yang sudah memegang kendali kuda berkata dengan tidak sabar, "Kau hanya akan membuat kami kesiangan."
Jaemin tersenyum geli. "Jangan begitu, Fauston. Lucas hanya ingin bersikap ramah padaku."
"Kurasa ia hanya ingin menarik perhatian," kata Fauston tidak suka.
Jaemin tertawa geli dan Lucas memerah mengetahui niatnya telah dibongkar.
"Terima kasih sudah membawakan barang kami, Lucas," kata Jaemin, "Sekarang kami harus pulang."
Jaemin naik ke kereta dan ia melambaikan tangan pada pemuda itu.
Ketika kereta mulai bergerak menjauhi pusat kota, Jaemin melihat kerumunan di kejauhan. Ia tahu siapa saja yang berada di sana dan apa yang terjadi.
"Mereka masih mengerumuni Jisung," Jaemin memberitahu Fauston. Mereka mengerumuninya karena mereka ingin tahu langkah Taeil atas perintah Mark." Gadis itu tertawa geli, "Saat ini Jisung bagaikan madu bagi para kupu-kupu yang ingin tahu itu."
Jaemin masih tertawa geli ketika ia tiba di Hielfinberg.
"Tuan Puteri, akhirnya Anda pulang," Nicci tampak begitu lega melihat kereta barang itu mendekati pintu masuk.
Jaemin keheranan melihat wajah gelisah wanita itu. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Yang Mulia sudah bangun."
Jaemin terperanjat. Saat ini masih sekitar jam delapan lebih. Tidak biasanya ayahnya bangun sepagi ini. "Apakah kami terlambat?"
"Tidak, Tuan Puteri," jawab Nicci, "Hari ini Yang Mulia bangun lebih awal dari biasanya. Tak lama setelah Anda pergi, ia bangun.
Jaemin terperanjat. "Apa ia menanyakan aku?"
"Tidak, Tuan Puteri. Yang Mulia langsung menuju Ruang Perpustakaan. Ia tampak begitu kacau seperti saat Countess baru meninggal. Saya benar-benar cemas melihatnya. Sekarang beliau masih mengurung diri di Ruang Perpustakaan."
"Apa yang terjadi?" Jaemin bertanya cemas.
"Saya kurang tahu, Tuan Puteri. Tetapi dari wajahnya saya dapat meyakinkan sesuatu telah terjadi."
"Aku akan segera menemuinya," Jaemin pun berlari ke Ruang Perpustakaan.
-00000-
Earl termangu menatap gambar diri istrinya yang telah lama tiada.
"Apakah keputusanku ini tepat, Hansol?" ujarnya, "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?"
Kemarin ketika Grand Duke mengungkapkan lamarannya itu, satu-satunya reaksi yang ditemukan Earl adalah berseru dengan keras,
"APA!?"
"Bukan. Bukan itu," Grand Duke buru-buru menjelaskan, "Maksudku, aku ingin dia menikah dengan Paduka Raja."
Earl membelalak.
"Paduka telah setuju menikahi Jaemin."
Earl duduk kaget. "Tidak mungkin, Taeil. Kau mengenal Jaemin. Ia… ia tidak pantas menjadi seorang Ratu."
"Sebaliknya," Grand Duke berkata penuh percaya diri, "Aku pikir hanya dia yang pantas."
Earl membisu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hingga saat ini pun ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Katakan padaku, Hansol, bila keputusanku ini tepat," lagi-lagi ia bergumam.
Jaemin membuka pintu Ruang Perpustakaan. Ia melihat ayahnya sedang berdiri menatap lukisan diri ibunya. Seperti yang dikatakan Nicci, ia tampak begitu galau.
"Mama memang cantik. Ia adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui," Jaemin berdiri di samping ayahnya.
Earl menatap putrinya lalu kembali ke lukisan istrinya. "Ia adalah wanita yang hebat."
"Aku menyayanginya," Jaemin memeluk ayahnya, "Aku juga menyayangi Papa."
Earl melingkarkan tangan di pundak Jaemin. "Bagaimana perjalananmu ke kota?"
Jaemin tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia yakin ayahnya tahu kebiasaannya ini. Selama ini tidak seorang pun dari mereka yang membicarakannya.
"Menarik," jawab Jaemin, "Aku bertemu Jisung. Saat ini ia sedang dikerumuni orang-orang yang ingin mendaftarkan diri pada Taeil." Jaemin tertawa geli membayangkan reaksi Jisung mendapat serbuan para wanita yang penuh ingin tahu itu.
Earl mendesah panjang.
Jaemin terkejut. "Apa yang terjadi, Papa? Sepertinya kau tidak senang mendengarnya."
"Kurasa kita perlu duduk," Earl membimbing Jaemin ke sofa.
Sikap Earl yang lain dari biasanya itu membuat Jaemin curiga.
"Dengarlah apa yang akan kukatakan padamu."
Jaemin dapat mencium ketidak-beresan.
"Kau tahu Taeil mendapat tugas penting dari Paduka Raja, tugas yang sangat penting, tugas yang menyangkut masa depan Viering."
"Ya," Jaemin mengangguk. "Ia ditugasi untuk menemukan gadis yang tepat untuk menjadi Ratu Viering."
"Aku yakin kau telah mendengar kabar Taeil telah menentukan pilihannya," kata Earl kemudian.
Jaemin terperanjat. Apakah mungkin berita yang baru didengarnya pagi ini benar? Taeil pasti tidak akan melakukan itu. Ia pasti tidak akan mengorbankan putrinya sendiri walau ia tahu ini demi masa depan Viering. Hanya orang bodohlah yang tidak tahu pernikahan ini hanyalah demi menyelamatkan muka Viering.
"Papa… kau tidak mengatakan itu, bukan. Itu tidak mungkin terjadi."
"Ya, Jaemin," Earl berkata dengan penuh penyesalan, "Taeil memilihmu."
Memilihmu…
Jaemin membelalak. Untuk sesaat Jaemin merasa ia tidak berada di dunia nyata. "Tidak mungkin! Itu tidak mungkin," Jaemin menggelengkan kepala – mencoba mengeluarkan kata 'memilihmu' itu dari otaknya.
"Taeil memilihmu dan aku telah menyetujuinya. Kau harus mengerti ini demi masa depan Viering."
Jaemin membelalak. Ia tidak percaya ayahnya akan melakukan hal ini.
"Aku tidak mau!" Jaemin menolak, "Aku tidak mau menikah dengan Mark! Aku tidak mau menikah dengan plaboy kelas atas itu. Mati pun aku tidak mau!"
"DIAM!" suara Earl Hielfinberg meninggi.
Jaemin terperanjat. Ayahnya tidak pernah mengeluarkan nada setinggi ini padanya. Ayahnya tidak pernah sekali pun memarahinya!
"Kau tidak mempunyai pilihan lain. Kau harus menikah dengan Paduka Raja dan aku telah menyetujuinya."
Jaemin terpukul. Ia menatap ayahnya putus asa.
"Aku tidak mengerti mengapa Taeil memilihmu tetapi aku yakin ia mempunyai pandangannya sendiri," gumam Earl.
"Aku tidak percaya!" Jaemin berseru kesal, "Aku akan mencari Taeil!"
Sebelum Earl sempat mencegah Jaemin, gadis itu telah berlari menuju istal. Kehadirannya yang tiba-tiba mengagetkan para penjaga istal.
"Siapkan kuda untukku," Jaemin memberi perintah dan ia menekankan, "Sekarang juga!"
Dengan segera mereka memasangkan pelana di atas seekor kuda dan Jaemin pun melesat dengan cepat ke Mangstone. Dalam perjalanan itu ia hanya berpikir bagaimana ia akan mengorek berita dari Taeil. Ia akan membuat Taeil menjelaskan semua ini padanya.
Ia tidak memperhatikan orang-orang yang keheranan melihat seorang pelayan berkuda dengan kencang. Ia terlalu tergesa-gesa untuk memperhatikan mereka. Ia terlalu tergesa-gesa untuk membalas beberapa kusir kuda yang marah oleh caranya menggendarai kuda yang mengebut itu. Para pelayan Mangstone pun terkejut melihatnya tiba-tiba muncul dan tanpa basa-basi membuka pintu. Untunglah mereka telah mengenalnya dengan baik, bila tidak mungkin Jaemin sudah diusir. Saat ini ia tidak tampak sebagai putri Earl of Hielfinberg. Ia lebih tampak sebagai seorang pelayan muda dengan gaunnya yang hitam dan celemek putih.
"Taeil!" serunya, "Taeil! Kau ada di mana?"
Jaemin terus berseru keras sambil menuju Ruang Makan. Ia yakin mereka berada di sana. Ia tahu mereka masih menikmati makan pagi mereka.
Renjun muncul membuka pintu Ruang Makan dengan cemas. "Apa yang terjadi, Jaemin?" Dan ia terpekik melihat gaun pelayan yang dikenakan Eleanor, Mengapa kau seperti ini? Mengapa engkau berpakaian seperti ini!?"
"Di mana Taeil?" Jaemin mengabaikan kekagetan wanita itu.
"Papa tidak ada di sini," sebuah suara menjawab dari dalam.
Jaemin melihat Jisung sudah kembali ke Mangstone dan sedang menikmati makan paginya bersama Renjun.
"Pagi ini kau benar-benar keterlaluan," Jisung mengingatkan Jaemin akan dosanya, "Kau benar-benar membuat aku kewalahan."
"Di mana Taeil?" Jaemin bertanya sekali lagi dengan tegas.
"Papa sudah berangkat ke Istana," jawab Renjun, "Apa yang terjadi padamu, Jaemin? Mengapa kau tergesa-gesa seperti ini?"
"Kau tidak akan mempercayai ini, Renjun," Jaemin memeluk wanita itu. Ia ingin menumpahkan semua kekesalannya pada wanita itu. Ia ingin menjerit keras-keras untuk memuaskan diri, "Papa sudah gila. Ia mengorbankan aku. Ia membiarkan Taeil memilihku menjadi mempelai Mark."
Renjun terpekik kaget. "Benarkah itu!?"
Satu-satunya orang yang tidak terkejut di ruangan itu adalah Jisung.
"Mereka semua tidak waras! Bagaimana mungkin mereka membiarkan aku menjadi Ratu Viering!?" Jaemin berkata dengan penuh amarah. "Mereka sudah dibuat sinting oleh si sial Jungwoo!"
"Wah… wah… Sungguh tidak terduga gadis tomboy ini akan menjadi Ratu," goda Jisung.
"Tidak lucu!" Jaemin memasang muka masamnya.
Renjun tersenyum. "Kau akan membuat setiap wanita cemburu. Paduka memilihmu."
"Aku hanyalah alat untuk mendapatkan keturunannya," kata Jaemin tidak senang, "Dan menghentikan Somi mencoret muka kerajaan ini."
"Jangan khawatir," hibur Renjun, "Ia pasti akan mencintaimu. Kau adalah gadis yang menarik."
"Benar," sambung Jisung tersenyum nakal, "Sebelum ia mengusirmu dari Istana."
Jaemin menatap tajam pria itu.
Renjun tertawa geli.
"Jangan khawatir," Renjun meletakkan tangan di kepala Jaemin dan mengelusnya dengan lembut seperti yang biasa setiap kali ia menghibur Jaemin, "Kami tidak akan membiarkan ia menyakitimu."
"Katakanlah padaku bila ia menyakitimu," Jisung berkata serius, "Aku akan membuat perhitungan dengannya tak peduli siapa pun dia."
Jaemin terharu.
"Tapi itu jika ia belum babak belur," Jisung menambahkan sambil tersenyum geli.
"Jisung!" Jaemin marah. Ia berdiri dan menyerang Jisung.
"Hentikan!" Renjun segera menahan Jaemin.
Kedua orang ini memang selalu seperti ini. Jisung suka menggoda Jaemin. Tak jarang pula ia berkelahi dengan Jaemin. Untungnya, seiring dengan pertambahan usia mereka, frekuensi perkelahian mereka berkurang. Hubungan mereka sangat akrab tapi tidak akan pernah ada cinta di antara mereka. Mereka saling menganggap yang lain sebagai saudara. Mereka bertiga telah menjadi semakin dan semakin akrab dalam beberapa tahun ini setelah tragedi Red Invitation. Walaupun tidak sedarah, mereka telah menjadi saudara akrab.
"Kau tidak boleh seperti ini," Renjun memarahi, "Dan kau Jisung, kau tidak boleh terus menggoda Jaemin. Ia akan segera menjadi seorang Ratu."
Jaemin membelalak.
"Mulai saat ini kau harus merubah dirimu," Renjun meneruskan dengan serius, "Aku tidak akan membiarkanmu bertindak kasar lagi. Aku akan melatihmu menjadi seorang gadis anggun."
"Mengapa tidak seorang pun dari kalian yang berada pada pihakku!?"
Jisung tidak berkata apa-apa. Ia sudah tahu Jaemin akan seperti ini. Ia sudah menduganya. Mungkin itulah sebabnya Earl tidak segera memberitahu Jaemin.
Renjun terdiam.
"Mengapa? Mengapa kalian menyetujui ide gila ini!?"
Untuk sesaat Jisung menduga Jaemin akan menangis tetapi gadis itu malah berseru keras dan penuh amarah, "Apa kalian sudah ikut tidak waras?"
"Bukan begitu, Jaemin," Renjun mencoba menenangkan, "Kami selalu berada di pihakmu. Kami selalu mendukungmu." Tangan Renjun terulur meraih tangan Eleanor.
Jaemin menjauhkan diri. Ia menatap kedua kakaknya itu dengan marah.
"Kami tidak dapat berbuat apa-apa," Jisung ikut turun suara, "Papa telah memutuskan. Paduka Raja pun telah menyetujuinya. Tidak seorang pun yang bisa merubahnya. Kali ini keadaan benar-benar mendesak. Ini bukan main-main, Jaemin. Aku percaya engkau cukup cerdas untuk memahami apa yang tengah terjadi."
Jaemin tahu ini akan terjadi. Ia tahu Mark akan menikah untuk menyelamatkan masa depan Viering tetapi mengapa dirinya? Mengapa harus dirinya yang menjadi tumbal?
"Pilihan Papa tidak mungkin salah," Renjun menatap Jaemin serius, "Engkau tidak ingin mengatakan Papa mengambil keputusan tanpa pertimbangan, bukan?"
Jaemin tidak dapat membantahnya. Ia menyayangi Grand Duke seperti ia menyayangi ayahnya. Baginya mereka berdua adalah orang tuanya. Ia percaya pada Grand Duke. Ia mengagumi Grand Duke yang masih cekatan di usianya yang tidak muda itu. Ia selalu mengelu-elukan Grand Duke selain ayahnya.
Renjun merangkum wajah gadis itu – menatapnya lekat-lekat dan berkata lembut, "Papa pasti melihat sesuatu pada dirimu yang tidak ada pada gadis lain."
"Tapi mengapa aku?" Jaemin masih memprotes.
"Kau adalah gadis yang manis," Renjun terus meyakinkan Jaemin, "Engkau adalah gadis yang cantik."
Jisung melihat Renjun akan membutuhkan waktu sepanjang hari untuk menenangkan Jaemin dan ia memutuskan,
"Renjun, kau tetaplah bersama Jaemin. Aku akan menangani masalah di luar."
Jaemin melihat kepergian Jisung dengan heran.
"Biarlah Jisung pergi mengurus orang-orang yang mencari Papa," Renjun membimbing Jaemin ke dalam Ruang Makan, "Kau bisa bergabung denganku. Aku yakin kau belum sarapan."
Ketika Renjun menghabiskan waktu sepanjang pagi itu untuk meyakinkan Jaemin , sang Grand Duke sedang kerepotan di Istana. Selain Grand Duke, beberapa menteri juga kerepotan menerima tugas dari Mark.
Mark ingin pernikahannya segera dilangsungkan. Ia ingin segera menjalankan rencananya menghentikan langkah Jungwoo. Ia tidak akan membiarkan wanita yang tak jelas asal usulnya itu bersenang-senang terlalu lama. Ia menyuruh Pengurus Rumah Tangga Fyzool mengatur jadwal pesta pernikahannya dan acara jamuan pesta pernikahannya. Ia menginginkan Menteri Luar Negerinya segera mengirim undangan kepada negara-negara tetangga. Ia menyuruh Menteri Kerakyatannya mengatur kedatangan Uskup yang akan meresmikan pernikahannya dan mengatur pemesanan Katedral utama Viering. Ia ingin Menteri Sosialnya mendaftar tamu-tamu yang harus ia undang. Ia meminta Jenderal Utama Viering memperketat penjagaan selama pesta pernikahannya. Ia telah memikirkan semuanya semalam setelah Taeil memberitahukan pilihannya. Ia menginginkan semuanya segera dilaksanakan dengan cepat dan tanpa cacat setelah ia menyetujui pilihan Taeil. Setiap hal yang terpikirkan oleh Raja Muda itu telah diserahkan kepada mereka yang bertanggung jawab. Setiap celah yang terlewatkan olehnya telah diurus oleh Grand Duke. Segera setelah Mark selesai membagi tugas kepada para pembantu pemerintahannya, mereka bubar.
"Putri Earl of Hielfinberg," gumam Daniel ketika mereka meninggalkan Ruang Rapat.
"Apakah Earl mempunyai seorang putri?" tanya Chad, sang Menteri Dalam Negeri.
"Ya, ia punya," jawab Domingo, "Aku masih ingat ia memeluk seorang gadis kecil dalam upacara penghormatan korban Red Invitation."
"Aku ingat sekarang!" seru Chad, "Sudah lama sekali aku tidak mendengar berita tentang Earl Hielfinberg."
"Ia mengurung dirinya semenjak kematian istrinya," kata Daniel. "Semenjak itu ia terus melindungi putrinya dengan ketat. Ia benar-benar takut kehilangan putrinya. Sepertinya luka yang ditinggalkan oleh istrinya benar-benar serius."
"Bagaimanakah rupa putrinya, Taeil?" tanya Vicenzo tertarik, "Aku yakin kau pasti sering bertemu dengannya. Kudengar kalian adalah sahabat baik."
"Ia adalah gadis manis yang ceria," Grand Duke tersenyum membayangkan wajah manis Jaemin yang selalu tersenyum itu, "Ia adalah anak yang baik."
"Aku sungguh tidak menyangka Earl akan memberikan putrinya begitu saja," komentar sang Menteri Sosial.
"Ia tahu ini bukan main-main. Ini adalah masalah serius," Grand Duke memberikan penjelasan, "Ini menyangkut masa depan Viering."
"Tindakanmu cukup cepat juga, Taeil," sang Jenderal Besar Viering, Geert, memberikan pujiannya, "Baru kemarin Paduka memberimu perintah dan hari ini kau sudah memberikan jawaban."
"Kurasa ia bertidak cepat untuk menghindari segelintir orang," kata Vicenzo.
Mereka tertawa.
"Mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa karena kau sudah memutuskan," Domingo tersenyum geli.
"Lowongan sudah ditutup," Geert menegaskan.
Sekali lagi mereka tertawa.
"Aku ingin tahu kapankah berita ini akan tersebar luas," gumam Daniel.
Mereka tidak perlu menanti terlalu lama untuk menunggu seluruh Viering mengetahui kabar ini. Bukan saja karena Jisung selalu memberitahu para tamunya, "Papa pergi ke Istana untuk merencanakan pesta pernikahan Kerajaan bersama Paduka." Tetapi juga karena surat kabar khusus yang muncul beberapa jam kemudian.
"Berita khusus! Berita khusus!" teriak setiap penjaja Koran, "Calon Ratu Kerajaan telah ditentukan! Viering akan mempunyai ratu!"
Sementara berita itu menjalar dengan cepat di seluruh Viering, Renjun masih sibuk menenangkan Jaemin di Ruang Keluarga Mangstone. Ia mendengarkan keluhan-keluhan Jaemin sekaligus menasehati gadis itu.
Di tengah pembicaraan kedua wanita itu dari hati ke hati itulah, Jisung masuk.
"Nicci datang," ia memberitahu Jaemin.
"Earl pasti menyuruh Nicci menjemputmu," Renjun menggenggam tangan Jaemin– meyakinkan gadis itu, "Ia pasti mencemaskanmu."
"Tuan Puteri," Nicci muncul, "Yang Mulia mengirim saya ke sini untuk menemani Anda. Kata Yang Mulia, Anda harus tinggal selama beberapa hari di Mangstone untuk belajar tata krama pada Lady Renjun. Saya sudah membawa pakaian ganti Anda dan kebutuhan-kebutuhan yang lain."
"Lihat, ia sama sekali tidak mencemaskanku," cibirnya.
Seorang pelayan masuk memberikan selembar kertas pada Jisung. "Ini baru saja diantar, Tuan Muda," katanya memberitahu.
Jisung melihat sebaris tulisan besar di bagian atas kertas itu.
"Kurasa aku tahu mengapa Earl mengungsikanmu ke sini," ia tersenyum lebar.
"Apa itu?" tanya Jaemin tertarik. Ia langsung berdiri dan merebut kertas itu dan tangan Jisung.
CALON RATU VIERING TELAH DITENTUKAN!
Raja Mark Akhirnya Memutuskan untuk Mematahkan Sumpahnya Sendiri.
Pesta pernikahan kerajaan sudah di ambang mata! Hanya dalam sehari setelah Paduka Raja mentitahkan Grand Duke untuk mencari calon istrinya, Duke Krievickie telah menjatuhkan pilihannya. Sang calon mempelai tak lain adalah putri Earl of Hielfinberg, Lady Jaemin.
Tidak banyak yang diketahui dari Lady yang tidak pernah muncul ini. Ia tumbuh dewasa tanpa kehadiran ibunya. Countess Hansol adalah salah satu korban dalam peristiwa Red Invitation. Dan semenjak itu, Earl tidak pernah meninggalkan Hielfinberg demikian pula sang putri. Kita tidak tahu persis seperti apakah calon Ratu Viering tetapi kita yakin ia jauh lebih baik dan lebih terhormat dari Somi, sang Duchess of Binkley yang berada di urutan kedua posisi Ratu Viering.
Yang Mulia Paduka Raja Viering, Mark Arcalianne akhirnya mengambil langkah tepat untuk menyelamatkan Viering dari aib yang memalukan.
"Bagus," Jaemin geram, "Sekarang seluruh dunia sudah mengetahuinya," ia meremas kertas itu. Ia sudah bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti mengapa ayahnya menyuruhnya tinggal di Mangstone. Dulu hal ini juga pernah terjadi. Beberapa saat setelah peristiwa Red Invitation, Earl menitipkan Jaemin di Mangstone untuk beberapa waktu hingga keramaian akibat peristiwa itu mereda. Dulu ia terlalu kecil untuk mengerti ayahnya sedang menghindarkannya dari pusat perhatian tetapi sekarang ia sudah mengerti.
"Saya melihat beberapa kereta menuju Schewicvic dalam perjalanan saya ke tempat ini," Nicci melaporkan.
Jisung langsung tertawa geli, "Mereka pasti tertipu. Mereka pasti mengira kau ada di Schewicvic."
"SEMPURNA SUDAH!" seru Jaemin kesal, "Sekarang aku tidak bisa kembali ke Schewicvic. Wanita sial itu pasti puas. Ini semua gara-gara pelacur yang tidak tahu diri itu!"
"Jaemin!" bentak Renjun, "Kau tidak boleh berkata sekasar itu! Kau harus merubah caramu bersikap dan bertutur kata. Kau akan menjadi Ratu Viering. Kau tidak boleh bertindak sembarangan. Dan kau, Jisung," ia melotot pada adiknya, "Jangan sekali-kali kau mempengaruhi Jaemin!"
Mereka terdiam. Kali ini Renjun benar-benar marah!
"Kita harus mulai mengatur jadwal pelajaran tata krama Jaemin. Kita harus mengajari Jaemin cara seorang bangsawan bersikap. Ia harus bisa bersikap anggun dan halus seperti layaknya seorang lady. Tetapi mula-mula kita harus mengubah dandanan Jaemin," Renjun mengamati Jaemin dari kepala hingga ke ujung kakinya dengan mendetail sehingga membuat Jaemin merasa Renjun sedang menelanjanginya. "Kita harus memberi beberapa gaun baru untuk Jaemin. Besok kita harus pergi ke Snell. Jaemin akan membutuhkan banyak baju baru."
"Kita?" Jisung bertanya tidak percaya, "Aku tidak mau ikut."
"Aku tidak mau pergi kalau Jisung tidak ikut!" Jaemin memprotes.
"Kau harus ikut, Jisung!" Renjun menegaskan, "Kami membutuhkan seseorang untuk membawakan barang-barang belanjaan kami."
Jaemin tertawa puas.
"Seorang lady tidak boleh tertawa seperti itu!" hardik Renjun tegas, "Itu sungguh tidak sopan dan tidak berpendidikan. Kau harus menutup mulutmu ketika kau tertawa. Kau harus membuang jauh-jauh sikap kelaki-lakianmu. Mengerti?"
Jaemin merasa hari-hari bahagianya sudah berakhir dan ia langsung cemberut.
Jisung menatap gadis itu.
"Nicci," Renjun berbalik pada pelayan pribadi Jaemin, "Minta seseorang untuk menyiapkan kamar untuk Jaemin dan pindahkan barang-barang ke sana. Kemudian pergilah ke Snell dan katakan pada Nicoleta besok kami akan datang setelah ia tutup. Ingat aku tidak ingin seorang pun tahu mengenai kedatangan kami. Katakan itu pada Nicoleta."
"Baik, Tuan Puteri, saya akan segera melaksanakan perintah anda," Nicci membungkuk. Wanita itu segera mengundurkan diri dari ruangan.
Renjun tidak berhenti di situ saja. Ia terus mengeluarkan perintah-perintahnya. Ia mengatur pelajaran tata krama Jaemin selama gadis itu berada di Mangstone.
Jisung merasa ia tidak mempunyai cara lain selain menuruti perintah Renjun. Renjun benar. Sekarang Jaemin bukan sembarang gadis. Ia adalah calon Ratu Kerajaan Viering! Pikiran itu membuatnya mencemaskan Jaemin.
Ternyata bukan hanya Jisung saja yang berpikir serius mengenai masa depan Jaemin. Malam itu ketika Jaemin sudah masuk ke kamar yang disediakan untuknya, Renjun datang ke kamarnya.
"Menurutmu," Renjun bertanya serius, "Mengapa Papa mengusulkan Jaemin pada Paduka Raja?"
"Aku tidak tahu," jawab Jisung.
Renjun kecewa.
"Tetapi," Jisung melanjutkan, "Aku yakin Papa tahu apa yang dilakukannya. Ia pasti mempunyai alasannya sendiri."
"Aku tidak meragukan Papa. Sedikitpun tidak," Irina menegaskan, "Tetapi…," ia kembali ragu-ragu, "Kau tahu Jaemin."
"Jaemin memang seperti anak lelaki. Tetapi ia juga mempunyai sisi kewanitaan juga. Jangan khawatir."
"Aku juga percaya Jaemin akan dapat menjadi seorang Ratu yang baik," Renjun menegaskan. "Tetapi…," lagi-lagi ia menjadi ragu-ragu, "Kau tahu Earl selalu melindungi Jaemin dalam tahun-tahun belakangan ini. Sejak peristiwa itu, ia begitu takut orang lain menemukan Jaemin. Ia tidak ingin keceriaan Jaemin terusik oleh berita-berita itu. Selama ini ia telah aman dalam perlindungan Earl. Dan besok, ia akan menjadi berita utama kerajaan ini. Mungkin selama sisa hidupnya ia akan terus menjadi bahan gosip seisi kerajaan ini."
Renjun menatap serius Jisung.
"Kau sendiri tahu bagaimana kejamnya gosip-gosip itu. Kau sendiri tahu bagaimana liciknya para wanita angkuh itu di dalam Istana. Kau juga tahu bagaimana menyiksanya menjadi topik gosip orang lain."
Jisung berdiam diri.
"Aku kasihan pada Jaemin. Ia pasti tidak sanggup menghadapi semua ini. Aku tidak ingin melihatnya terluka oleh gosip-gosip itu."
"Jangan khawatir," hibur Jisung, "Jaemin adalah gadis yang kuat. Ia pasti bisa mengatasi semua ini. Aku juga tidak akan membiarkan ia dilukai siapa pun. Aku akan menantang siapa pun yang berani mengusiknya."
"Dan membuat gosip baru?" sergah Renjun tidak senang. "Semua orang akan mengira Jaemin berselingkuh denganmu jika kau sampai melakukan itu."
"Tidak akan," Jisung meyakinkan, "Semua orang tahu ia telah kuanggap adik kandungku."
"Siapa yang mau peduli?" tanya Renjun tajam, "Begitu Jaemin memasuki Fyzool, ia adalah sasaran empuk gosip-gosip celaka itu. Kalau kita tidak hati-hati, kita akan celaka juga. Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya gosip itu."
Jisung tidak berkata apa-apa lagi. Ia masih ingat bagaimana gosip menerpa keluarganya sepuluh tahun yang lalu dan bahkan, hampir mencabut nyawa ayahnya.
"Aku berharap Jaemin dapat mengatasi semua itu," pinta Renjun.
"Pasti," Jisung meyakinkan, "Jaemin adalah gadis yang tegar."
TBC...
