Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Earl of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Earl of Hielfinberg

Huang Renjun as Irina Krievickie

Park Jisung as Derrick Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley


Nicoleta memekik keras,

"Ya, Tuhan! Apa yang terjadi pada Anda? Mengapa Anda berpakaian seperti ini? Seorang Ratu tidak boleh berpakaian seperti gadis puritan."

Jaemin langsung memasang muka cemberut. "Aku tidak memintanya," gerutunya.

Jisung tersenyum simpul melihat gadis itu. Tanpa berpikir pun ia tahu Jaemin akan sangat tidak senang dengan berita ini. Jaemin bukanlah seorang gadis yang bersumpah untuk tidak menikah tetapi ia adalah gadis yang bebas. Ia tidak suka dikekang. Sebelum Jaemin dilamar Raja, Jisung percaya Jaemin akan menikahi seorang petualang bukan seorang bangsawan yang membosankan apalagi Yang Mulia Paduka Raja!

"Tolong kau percantik gadis ini, Nicoleta," Renjun memberitahu, "Ia akan membutuhkan banyak gaun baru."

Pria itu langsung mencermati gaun Jaemin yang entah berapa bulan lalu dibelinya.

"Duduklah di sini," pria itu berkata dengan genitnya lalu dengan gayanya yang kewanitaan, ia mulai membongkar-bongkar koleksi gaun-gaunnya, "Saya masih menyimpan beberapa gaun terbaru saya."

"Keluarkan semua yang kau punya," kata Renjun, "Kau tahu gadis ini paling tidak suka disuruh membeli baju baru. Ia lebih suka memakai baju lamanya sampai robek-robek."

"Mengapa aku harus membuang uang kalau bajuku masih bisa dipakai?" protes Jaemin.

Jisung langsung menyikut Jaemin. "Jangan berbicara lagi," bisiknya memperingati, "Hari ini Renjun bukan Renjun yang biasa. Kau tahu itu."

Tetapi Jaemin bukan gadis yang kenal takut. "Terus?" ia menantang.

Jaemin kesal. Ia marah besar. Saat ini tidak ada lagi yang ditakutinya. Bahkan kematian pun akan ditantangnya. Jaemin mengerti keadaan Viering saat ini yang sulit. Ia paham seseorang harus berkorban untuk masa depan Viering tetapi mengapa harus ia? Mengapa harus ia yang menjadi tumbal? Dan mengapa harus pria yang paling menjemukan di dunia ini yang harus menjadi suaminya?

Walaupun di mata keluarganya, Jaemin adalah seorang anak laki-laki dalam tubuh wanita, Jaemin masih mempunyai impian tentang cinta. Ia memimpikan sebuah cerita cinta yang manis. Ia akan jatuh cinta dengan pria yang menarik, pria yang akan membiarkannya terbang ke mana pun ia ingin, pria yang akan membawanya ke berbagai petualangan yang menarik. Ia menginginkan sebuah cinta yang manis dari pria yang benar-benar memahami dirinya seperti Jisung. Ia menginginkan pernikahan yang penuh cinta! Ia sama sekali tidak menginginkan pernikahan konyol seperti ini! Apalagi dengan makhluk paling membosankan yang pernah ia ketahui di dunia ini.

Jisung memperhatikan Renjun yang masih sibuk memilih gaun bersama Nicoleta dan ia menjadi lega dibuatnya. Ia tidak dapat membayangkan kemarahan Renjun bila ia mendengar protes Jaemin.

"Gaun ini cantik," Renjun menarik keluar sepotong gaun dari antara koleksi gaun-gaun Nicoleta dan mempertunjukkannya pada mereka berdua. "Bagaimana menurut kalian?"

"Pilihan sempurna," puji Nicoleta menunjuk pada gaun hijau cerah di tangan Renjun. Bunga-bunga musim semi yang segar tersulam indah dari sisi kanan dada gaun berleher rendah itu dan terus melintang hingga bagian pinggang kiri. Kain sifon hijau yang membentuk lengannya yang lebar dan panjang, merumbai-rumbai lembut.

"Aku akan tampak seperti tumbuhan hidup," komentar Jaemin.

"Cantik sekali," Jisung cepat-cepat berkomentar sebelum Renjun menyadari komentar Jaemin itu, "Jaemin akan tampak sangat cantik dalam gaun itu. Gaun itu benar-benar sesuai dengan sifat Jaemin."

Namun rupanya Renjun telah mendengarnya karena setelahnya ia tidak pernah menanyakan pendapat keduanya. Bersama Nicoleta ia terus menyibukkan diri memilih gaun untuk Jaemin mulai dari gaun untuk dipakai sehari-hari, gaun untuk ke pertemuan-pertemuan penting hingga gaun pesta.

Jaemin dibuat bosan olehnya. Pendapatnya sama sekali tidak dibutuhkan di sini. Renjun memilih dan ia pula yang memutuskan apa yang cocok untuk Jaemin. Jaemin merasa kehadirannya sama sekali tidak diperlukan di sini. Mengapa Renjun tidak mengambil ukurannya dan kemudian pergi ke tempat ini seorang diri? Mengapa ia harus ikut serta? Jaemin benar-benar bosan. Ia tidak bisa ke mana-mana. Nicoleta, sang penjahit langganan mereka yang genit itu telah memerintahkannya untuk duduk manis di kursi yang ia sediakan dan Renjun tidak akan suka bila ia beranjak pergi dari situ.

Bukan hanya Jaemin yang bosan. Jisung juga bosan melihat Irina yang terus sibuk bersama Nicoleta. Ia ingin sekali meninggalkan tempat ini. Ia tidak ingin terus berdiam diri sambil memperhatikan Renjun memilih gaun tanpa kenal lelah itu.

Keduanya berharap Renjun segera selesai. Namun di saat Renjun sedang berada dalam suasana hati gembira dan tertarik seperti ini, rasanya itu sulit.

Jisung tahu Jaemin juga sudah mulai menjamur seperti dirinya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Renjun tidak akan suka ia membawa pergi Jaemin. Dalam keadaan normal, Renjun tidak akan melarangnya. Di lain pihak Jisung sendiri tidak ingin membawa Jaemin pergi. Saat ini Jaemin adalah incaran setiap orang yang ingin tahu. Mereka mungkin tidak mengenal Jaemin tetapi mereka pasti mengenalinya. Ia adalah putra tunggal sang Grand Duke yang diharapkan menjadi penerus Grand Duke.

"Gaun-gaun ini begitu cantik, Nicoleta. Aku sungguh tidak tahu harus memilih apa," kata Renjun, "Untuk hari ini aku rasa ini cukup. Bila kami membutuhkan yang lain, aku akan memberitahumu."

Betapa leganya mereka mendengarnya.

"Ijinkan saya akan mengukur ukuran Anda, M'lady."

Jaemin langsung melompat berdiri mendengar keinginan Nicoleta itu. Ia bertindak sangat manis dan penurut sehingga Nicoleta dapat dengan cepat menyelesaikan pengukuran tubuh Jaemin.

"Aku ingin kau segera menyelesaikan gaun-gaun ini."

"Jangan khawatir, M'lady," kata Nicoleta, "Saya akan langsung mengerjakannya malam ini. Saya hanya perlu menyesuaikannya dengan ukuran Tuan Puteri."

"Kirimkan bon-bonnya ke Schewicvic," kata Renjun puas.

Jaemin pun kegirangan. Ia langsung memeluk tangan kanan Jisung dan menariknya, "Ayo kita pulang."

Renjun hanya menggeleng kepala melihat ketidak-sabaran Jaemin. Ia sendiri sadar ia telah menyiksa Jaemin dengan rasa bosan. Tiba-tiba mata Renjun terpaku pada sepotong baju yang tergantung di belakang koleksi gaun Nicoleta.

"Tunggu aku di luar. Aku masih mempunyai beberapa urusan," Renjun memberitahu.

Jaemin tidak berkomentar apa-apa. Ia terus menarik Jisung meninggalkan toko itu dan begitu ia berada di luar ia berkata gembira,

"Akhirnya aku dapat menghirup udara bebas."

Jisung pun tertawa geli mendengar nada gadis itu yang seperti baru keluar dari penjara gelap.

Sementara itu Renjun mengambil sepotong baju yang menarik perhatiannya itu.

Nicoleta memperhatikan Renjun membentangkan celana panjang putih yang ketat itu dengan atasan merahnya dengan beberapa garis hitam dan sebuah pita di bagian lehernya yang tinggi.

"Aku rasa Jaemin akan menyukai ini," Renjun berkata. Ia ingin membelikan baju ini untuk Jaemin sebagai kompensasi rasa bersalahnya telah membuat gadis itu bosan.

"Lady Jaemin pasti akan sangat cantik dalam pakaian berkuda itu. Ia akan mempesona tiap orang."

"Ya," Renjun sependapat, "Ia mempunyai bentuk tubuh yang sempurna." Lalu ia melihat Nicoleta, "Apakah baju ini sesuai dengan ukuran Jaemin?"

"Ya, baju itu saya rancang untuk seseorang dengan tubuh kecil seperti Lady Jaemin."

"Aku ambil baju ini," Renjun pun memberikan baju itu. Kemudian ia menambahkan, "Aku akan membayar tunai sekarang. Kau tidak perlu mengirimkan bonnya ke Schewicvic."

"Saya mengerti." Nicoleta tersenyum.

Pengurus Rumah Tangga Schewicvic tidak pernah heran menerima bon dalam jumlah banyak atas nama Renjun. Earl juga tidak pernah berkomentar. Mereka tahu bon-bon itu adalah bon pembelian Jaemin. Semua ini sudah berlangsung semenjak Countess Hansol meninggal dunia. Jaemin yang masih kecil membutuhkan tangan seorang wanita. Dan Renjun lah yang mengambil peran itu. Ia telah mengenal Jaemin sebelum Countess Hansol meninggal. Mereka adalah kawan akrab sebelum bencana itu memisahkan mereka dengan ibu kandung mereka dan mereka menjadi semakin akrab setelahnya.

Renjun segera menyelesaikan pembayaran. Ia tidak ingin membuat Jaemin dan Jisung menanti terlalu lama di luar atau mereka akan mengomel sepanjang malam ini.

Di luar, Jisung tersenyum geli melihat Jaemin yang merentangkan tangannya lebar-lebar seolah-olah ia baru bangun tidur. "Kau sama sekali bukan seorang lady yang baik," ia memberikan komentarnya.

"Aku memang bukan seorang lady," balas Jaemin tidak suka, "Aku adalah aku!"

"Memang," Jisung geli, "Kau seperti bukan Jaemin ketika duduk manis di dalam."

"Renjun benar-benar membuatku lelah. Aku tidak mengerti mengapa seorang wanita harus seperti Renjun," Jaemin mulai mengomel. "Mengapa pula aku harus membeli gaun baru? Aku tidak membutuhkannya!"

"Saat ini kau tidak membutuhkannya," Jisung sependapat, "Tetapi kau akan sangat membutuhkannya ketika kau memasuki Fyzool."

Diingatkan akan masa depan yang menantinya, Jaemin langsung memasang muka cemberut.

Jisung sadar ia telah melakukan kesalahan dan ia juga menutup mulutnya rapat-rapat. Jisung tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk mengembalikan keceriaan Jaemin.

Setiap hal yang mereka lakukan sepanjang hari ini dan untuk beberapa hari mendatang selalu berhubungan dengan masa depan Jaemin sebagai Ratu Kerajaan ini. Mulai dari pagi, Renjun telah memerintahkan gadis itu untuk bersikap lemah lembut, gemah gemulai dan penuh sopan santun selayaknya seorang lady yang baik.

Bagi Jaemin yang tidak suka dikekang, hari ini adalah hari yang paling menyiksa seumur hidupnya demikian pula hari-hari mendatangnya. Ia sama sekali tidak menikmati hari-harinya di Mangstone seperti biasanya.

Bukan hanya Renjun yang bersikap keras padanya hari ini. Jisung yang biasanya selalu berada di pihaknya, juga bersikap keras padanya.

Tidak seorang pun dari mereka membuka mulut. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.

"Bukankah Countess Hansol meninggal ketika ia masih lima atau enam tahun? Itu artinya ia tumbuh dewasa tanpa kehadiran seorang wanita. Apakah ia mampu menjadi seorang Ratu?"

"Kau benar. Earl seorang diri tidak akan mampu mendidiknya menjadi seorang lady."

"Kurasa Grand Duke memilihnya karena Earl adalah sahabat baiknya."

Jaemin langsung memelototi sepasang wanita yang berjalan semakin dekat ke arah mereka.

"Aku yakin ia tidak pernah muncul karena suatu alasan," wanita itu terus berkata tanpa mengenali Jisung maupun Jaemin yang mereka lewati.

Jisung melihat Jaemin. Ia sendiri tidak yakin Jaemin akan sanggup menghadapi semua ini. Ia hanya yakin Jaemin akan membuat sensasi baru.

Ia hanya bergurau ketika ayahnya bertanya tentang wanita yang cocok menjadi istri Mark. Ia tidak serius ketika ia mengajukan Jaemin. Jelas Jaemin tidak akan menjadi seorang Ratu yang anggun dan lembut. Jaemin bukanlah seorang gadis yang bisa duduk berdiam diri sepanjang hari. Namun Jisung percaya ayahnya mempunyai pendapatnya sendiri hingga ia berani memilih Jaemin.

Jaemin tumbuh dewasa tanpa sentuhan seorang wanita. Dan di negara yang memandang tinggi keutuhan sebuah keluarga dengan pengertian keluarga lengkap dengan ayah, ibu dan anak, Jaemin sudah mendapatkan nilai kurang di mata penduduk Viering. Nilai kurang Jaemin yang lain adalah ia tumbuh dewasa hampir tanpa sentuhan seorang wanita. Selain itu, Jaemin tidak pernah muncul dalam pergaulan para bangsawan. Tak heran bila banyak orang yang meragukannya.

Ia bersimpati pada Jaemin.

Jisung melingkarkan tangan di pundak Jaemin.

"Mengapa kau menahanku?" protes Jaemin. Matanya yang biru cerah melotot tajam, "Mereka merendahkan Taeil! Mereka tidak mempercayainya!"

Jisung terperanjat.

"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka."

Jisung tertawa geli. Untuk sesaat ia lupa gadis ini adalah Jaemin.

"Perhitungan apa yang akan kaubuat?" Renjun muncul dengan wajah marahnya. Ia langsung menatap tajam Jaemin dan berkata, "Ingat kedudukanmu sekarang ini! Jangan berbuat macam-macam."

Jaemin memasang wajah cemberutnya. Ia benar-benar tidak menyukai keadaannya saat ini. Ia membencinya dan ia lebih membenci pria yang menyebabkan semua ini juga wanita yang menjadi biang keladinya.

"Jangan berteriak-teriak seperti ini," Jisung mengambil alih kotak-kotak besar di tangan Irina. "Kita harus segera ke kereta sebelum seorang pun melihat kita."

Renjun langsung bersiaga. Matanya melihat sekitar dengan was-was. "Ayo, Jaemin," ia menarik tangan gadis yang masih memendam kekesalannya itu, "Kita harus segera pulang."

Jaemin menggerutu semakin panjang ketika Renjun menggeretnya ke kereta yang telah menanti mereka tak jauh dari tempat itu.

Untuk menghindarkan perhatian orang-orang, Irina dengan sengaja memanggil kereta sewaan untuk mengantar mereka malam ini. Ia juga meminta sang kusir menghentikan kereta beberapa meter dari Snell.

Jaemin langsung melompat gembira ke dalam kereta. Ia sudah tidak sabar lagi. Ia ingin segera kembali ke Mangstone.

Jisung pun tersenyum geli melihat gadis itu. Ia dapat memahami gadis itu karena ia pun sudah ingin segera meninggalkan Snell ketika Renjun mulai memilih gaun-gaun untuk Jaemin. Sering Jisung merasa, dibandingkan Renjun, ia lebih dapat memahami Jaemin. Ia tidak heran melihat Jaemin langsung melompat keluar ketika kereta mereka telah sampai di Mangstone. Gadis itu seperti seekor burung yang baru saja dibebaskan dari sarangnya.

Untuk sesaat Jaemin tercengang melihat sebuah kereta di depan pintu masuk Mangstone. Ia tersenyum lebar ketika melihat kereta itu dan langsung berlari mendekat ketika pintu kereta terbuka.

"Taeil!" ia memanggil pria tua itu. Ia langsung menjatuhkan diri dalam pelukan pria yang dihormatinya sebagai ayah keduanya itu. "Kau pulang lebih cepat." Lalu Jaemin mulai merajuk, "Kau pulang cepat untuk menyelamatkanku?"

Sang Grand Duke kebingungan. "Menyelamatkanmu?"

"Ya," Jaemin berkata mantap, "Mereka berdua benar-benar keterlaluan," ia menunjuk Renjun dan Jisung yang baru keluar dari dalam kereta. "Sepanjang hari mereka menyiksaku. Mereka ingin aku lebih cepat mati."

"Mereka melakukan semua ini untuk kebaikanmu," hibur Grand Duke.

Jaemin cemberut. Baginya hiburan Grand Duke hanyalah dukungan bagi Renjun dan Jisung. Jaemin yakin saat ini Mark sedang berpuas diri. Ia telah berhasil menyelamatkan wajah Viering. Ia telah menyelamatkan pertanggungjawabannya kepada nenek moyangnya.

Jaemin tidak tahu bahwa Mark juga sama kesalnya seperti dia. Mark sudah tahu sebuah pernikahan akan merepotkan tetapi ia tidak pernah menyadari bahwa hal yang paling dihindarinya ini akan menyita seluruh waktu dan perhatiannya. Hanya satu ikatan perjanjian! Dan seluruh tenaga dan jiwa raganya telah terkuras.

Mark menjatuhkan diri di atas sofa empuk di dalam kamarnya. Kepalanya berdenyut keras.

Hari ini ia telah melewati hari yang sangat panjang dan melelahkan.

Ia pikir ia telah mengambil tindakan atas segala hal yang harus dipersiapkan untuk sebuah pernikahan. Tetapi masih ada saja detail yang ia lewatkan. Ia juga telah menyerahkan tugas persiapan pernikahan ini pada bawahannya tetapi tetap saja ia diperlukan untuk mengatur pernikahan ini! Mark sadar ia tidak akan bisa melepaskan diri dari segala peraturan dan tata cara pernikahan yang merepotkan.

Pagi ini orang-orang yand ditugasinya datang untuk meminta petunjuknya. Mereka terus menerus meminta persetujuannya sebelum memutuskan sesuatu walau ia telah memberi kewenangan pada mereka untuk memutuskan. Bagi mereka pernikahan ini adalah peristiwa besar dalam hidupnya dan mereka tidak mau membuat suatu kesalahan pun!

Pagi ini pula utusan Lady Renjun datang untuk menanyakan perihal gaun pengantin Jaemin – satu-satunya hal yang terlupakan olehnya! Ia telah memikirkan segala tentang pernikahannya kecuali sang mempelai sendiri! Sang mempelai – baik gadis itu maupun dirinya sendiri – sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Dan ia tidak mempunyai ide sama sekali mengenainya. Karena itulah ia menyerahkan masalah ini pada Lady Renjun, sang pengasuh Jaemin.

Mark tidak peduli ke manakah bon gaun-gaun Jaemin itu akan dikirimkan. Ia sanggup membayar bon-bon gadis itu. Ia mempunyai lebih dari cukup kekayaan untuk memuaskan gaya mewah gadis itu. Hanya satu yang diminta Mark, jangan mengganggunya dengan gaya mewah dan manja gadis bangsawan!

Namun, sayangnya, Mark tidak dapat menghindarinya sebelum pernikahan mereka.

Siang ini Earl datang menemuinya. Earl of Hielfinberg datang karena gosip-gosip yang beredar dengan cepatnya setelah kabar pernikahan kerajaan ini diumumkan. Semua orang berspekulasi dengan pernikahan dadakan ini. Semua orang berpendapat sendiri tentang pernikahan yang tidak terduga ini. Semua menggosipkan sang ratu pilihan Paduka Raja Viering yang tidak tertarik untuk menikah!

Earl of Hielfinberg sangat terganggu oleh pandangan-pandangan miring yang mulai keluar tentang putri kesayangannya. Ia mulai terusik oleh spekulasi-spekulasi yang berkembang liar itu.

Dari perundingan mereka, diputuskan dalam waktu dekat ini, sebelum pesta pernikahan, akan diadakan semacam pesta pertunangan di Schewicvic. Melalui pesta pertunangan itu diharapkan gosip-gosip itu akan berhenti atau setidaknya berganti arah.

Masih belum sirna keletihan Mark ketika wanita terakhir yang sedang berhubungan dengannya, datang untuk memprotesnya dan menuntut pertanggungjawabannya.

"Apa maksud semua ini!?" protes wanita cantik berambut pirang itu.

"Semuanya sudah jelas," jawab Mark singkat, "Hubungan kita berakhir."

"Mengapa dia? Mengapa gadis puritan itu yang kau pilih?"

"Ia memenuhi syaratku," lagi-lagi Mark memberi jawaban singkat yang membuat wanita cantik itu kian kesal.

"Apa kekuranganku? Apa kelebihannya!?"

"Kau adalah wanita yang cantik dan menarik. Engkau adalah tipe wanita yang diidamkan setiap pria," Mark berkata dengan suara tenangnya, "Namun kau bukanlah wanita yang akan menjadi pendampingku. Kau sudah tahu itu."

Ya, para wanita itu sudah tahu ketika mereka mulai berhubungan dengannya. Ia menikmati masa-masa kebersamaan mereka. Ia menikmati setiap detik yang ia lewatkan bersama mereka tetapi ia tidak akan pernah mengikat janji dengan seorang pun dari mereka. Setiap gadis di Viering tahu jelas akan hal ini.

Mark sudah bersumpah untuk tidak menikah dan tidak akan merusak pernikahan orang lain. Ikatan dengan seorang wanita hanyalah suatu hal yang paling dihindarinya. Dan kali ini dunia tahu mengapa ia melanggar sumpahnya sendiri.

"Aku tidak punya waktu untukmu," kata Mark dan ia melangkah menuju pintu, "Aku masih punya banyak pekerjaan."

Wanita itu benar-benar dibuat geram oleh Mark. Tetapi Mark tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Itulah Mark, sang Paduka Raja Kerajaan Viering yang tampan. Pria dambaan setiap gadis di Viering itu dapat menjadi seorang yang romantis ketika ia mengikat hubungan dengan seorang wanita. Tetapi ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, ia dapat menjadi seorang yang dingin. Ia akan bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka. Tidak seorang gadis pun di Viering yang tidak menginginkan cintanya. Mereka rela berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya yang mahal itu. Ia adalah pria yang mempesona. Sayangnya hingga detik ini tidak ada yang berhasil mendapatkan cintanya yang tulus itu.

"Atau mungkin belum," gumam Jisung ketika mereka membicarakan pesta pertunangan Jaemin yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Schewicvic.

"Pria semacam itu seumur hidup tidak akan pernah jatuh cinta!" tegas Jaemin.

Jisung tersenyum geli melihat adik angkatnya itu. Semenjak ia diharuskan menikah dengan Mark, Jaemin membenci Mark dan kebenciannya itu kian lama tumbuh kian dalam.

"Siapa tahu dia jatuh cinta setengah mati padamu," goda Jisung.

"Jatuh cinta sampai mati pun tidak akan pernah!" omel Jaemin, "Pria semacam itu adalah Narcissus. Aku tidak akan menjadi Echo kedua!" Jaemin merujuk pada seorang pemuda tampan dalam legenda Yunani yang mencintai bayangan dirinya sendiri di permukaan kolam dan menolak seorang nymph bernama Echo. Atas kesombongannya itulah kemudian para dewa menghukumnya. Ia diubah menjadi sebatang bunga yang kemudian dinamakan seperti namanya, bunga Narcis.

"Siapa yang mengatakan kau akan menjadi Echo?" Jisung terus menggoda Jaemin.

Jaemin merah padam. Ia benar-benar dibuat kesal oleh Jisung.

Jisung tertawa. "Aku tidak sabar melihat pertemuan kalian berdua."

Renjun pun tersenyum. "Aku juga tidak sabar melihat pertunangan kalian."

"Tapi sebelumnya," Jisung berkata serius, "Kau harus menjinakkan Jaemin atau ia akan menyerang Mark di pesta pertunangannya."

"Jisung!" bentak Jaemin, "Apa maksudmu!?"

Jisung tidak dapat menahan tawa gelinya.

"Sudah. Sudah," Renjun mengelus-elus kepala Jaemin, "Jisung hanya menggodamu. Jangan terpancing olehnya."

Tiba-tiba saja Jaemin merasa ia tengah diperlakukan seperti seorang anak kecil berusia empat tahun yang mudah digoda dan dibujuk.

Grand Duke Taeil tersenyum melihat ketiga pemuda-pemudi itu. Ia lega melihat Jaemin yang masih bisa bercanda seperti biasa. Ia merindukan saat ketiga pemuda-pemudi itu masih kecil. Ia merindukan canda tawa mereka yang selalu menghiasi Schewicvic dan Mangstone. Ia akan selalu merindukannya.

-00000-

Jungwoo membalik-balik koran di tangannya dengan tidak percaya.

"Kau masih tidak percaya?" tanya Somi kesal.

"Bagaimana mungkin?" kata Jungwoo, "Ia sudah bersumpah tidak akan menikah. Aku mengenal wataknya. Ia tidak suka terikat."

"KAU MASIH TIDAK PERCAYA JUGA!?" seru Somi marah.

Pagi ini ia dibuat shock oleh berita tentang pernikahan Raja Kerajaan Viering yang terkenal oleh keteguhannya untuk tidak menikah. Ia langsung memberitahu suaminya yang juga langsung membelalak melihat judul besar yang terpampang di halaman depan koran itu.

Koran itu membahas tuntas berita yang paling mengejutkan dari kerajaan yang indah itu setelah berita pernikahan orang pertama yang berada di urutan tahta Viering setelah Mark.

"Aku sudah tahu ia akan melakukan ini! Aku sudah dapat menebak ini akan begini jadinya. Ia pasti akan melakukan sesuatu untuk menghalangi jalanmu!"

"Jaemin, putri Earl of Hielfinberg," gumam Jungwoo melihat nama sang calon mempelai. Ia merasa pernah melihat nama ini.

"Memang apa bagusnya putri keluarga Hielfinberg!?" Somi terus mengomel, "Ia tidak lebih terkenal dari aku. Mengapa mereka mengeluelukannya seakan-akan ia adalah seorang pahlawan?"

Jungwoo mengabaikan istrinya yang terus mengomel itu. Ia menuntaskan berita yang sedang diberitakan dengan hangat baik di dalam maupun di luar Viering.

Pernikahan kerajaan ini akan diselenggarakan secara besar-besaran di Cathedral Soyoz sebelum akhir musim panas ini. Diperkirakan tamu yang hadir sekitar 1500 orang meliputi undangan dari negara sekitar Viering dan bangsawan dari dalam dan luar Viering.

Demi memastikan segalanya berlangsung dengan lancar, berbagai persiapan sudah mulai dikerjakan dengan penuh perhitungan semenjak Raja Mark memutuskan calon mempelainya.

Bahkan sebelum mengikat tali pernikahan dengan Lady Somi, sebuah pesta pertunangan akan diadakan di Schewicvic dalam waktu dekat.

Tidak jelas apakah Duke of Binkley juga diundang dalam pesta pernikahan ini. Pihak Istana Fyzool menolak untuk memberi komentar.

Tentunya setiap orang ingin tahu apa yang akan dilakukan sang Duke. Apakah dia berani muncul pada pernikahan orang yang telah dibuatnya malu?

"Kita harus segera kembali," Jungwoo memutuskan.

Somi terkejut.

"Siapkan barang-barangmu. Kita akan kembali ke Viering saat ini juga."

"Apa aku tidak salah dengar!?" pekik Somi, "Siapa yang mau kembali? Aku tidak mau hadir dalam pernikahan mereka. Kalau kau mau pergi, pergi saja seorang diri. Aku tetap tinggal di sini."

"Somi sayang," Jungwoo langsung berdiri memeluk pundak istrinya,

"Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa pernikahan mereka tidak mempengaruhi kita."

"Kau berjanji untuk membawaku keliling Eropa!" rujuk Somi.

"Kita masih bisa datang ke sini sewaktu-waktu," bujuk Jungwoo.

"Aku mau sekarang!" Somi menegaskan. Somi membalik badannya – melingkarkan tangan di sekeliling leher Jungwoo. "Kau sudah berjanji padaku. Kau tidak akan mengingkarinya, bukan?" ia berkata dengan manjanya.

"Tentu, sayang," Jungwoo memeluk Somi dan mulai mencumbunya.

"Aku akan melakukan semua keinginanmu."

.

.

.

"Tuan Muda Jisung," panggil Nicci.

Jisung langsung berhenti.

"Apakah Anda melihat Tuan Puteri Jaemin?"

"Tidak," jawab Jisung, "Aku tidak melihatnya sejak semalam."

Guratan cemas terlukis jelas di wajah wanita itu. "Ke manakah dia," gumam wanita itu panik.

"Apa yang terjadi?" tanya Renjun yang kebetulan berada di sekitar lorong itu.

"Tuan Puteri Jaemin tidak ada di tempat tidurnya ketika saya membangunkannya pagi ini," jawab Nicci, "Saya tidak tahu ke mana Tuan Puteri pergi."

"Apa kau telah mencarinya?" Renjun ikut panik.

"Saya telah berusaha mencarinya di sekitar Mangstone tetapi saya tidak dapat menemukannya."

"Ke mana anak itu pergi?" Renjun bertanya-tanya cemas, "Besok lusa adalah pesta pertunangannya. Apa ia berniat kabur dari pernikahannya?"

"Ia bukan gadis yang seperti itu," Jisung menenangkan keduanya, "Aku akan menjemputnya."

"Kau tahu ia ada di mana?" tanya Renjun heran.

"Ini adalah hari Kamis bukan?" Jisung berteka-teki.

Nicci langsung tersenyum mendengarnya. "Benar," katanya, "Tuan Puteri pasti ada di sana."

"Di mana?" tanya Renjun bingung.

"Jangan khawatir," kata Jisung, "Aku akan menjemputnya sekarang juga."

Tanpa berbasa-basi lagi, Jisung langsung meninggalkan kedua wanita itu. Dalam waktu sekejap ia telah berada di atas punggung kudanya dan menuju ke Loudline.

Seperti yang telah diduga Jisung, Jaemin tengah berada di tengah kota Loudline. Namun tidak seperti biasanya, kali ini ia tengah berdebat dengan Fauston, sang kepala rumah tangga Hielfinberg.

"Maafkan saya, Tuan Puteri," Fauston menegaskan, "Kami tidak bisa membawa pulang Anda hari ini. Ini adalah perintah dari Yang Mulia Earl."

"Schewicvic adalah rumahku!" tegas Jaemin, "Kalian tidak bias melarangku pulang! Aku hanya ingin pulang sebentar untuk melihat ayahku. Mengapa kalian melarangku!?'"

"Kami juga ingin membawa Anda pulang, tetapi ini adalah perintah dari Yang Mulia. Kami tidak bisa melanggarnya. Ini semua demi kebaikan Anda."

Jaemin geram. Semenjak ia dipaksa menikah dengan Mark, hidupnya diatur orang lain dan ia dikekang seperti seekor binatang buas yang harus dijauhkan dari keramaian. Semua ini hanya karena SOMI!

"Ah, Jaemin," seseorang memanggil, "Engkau datang lagi."

Jaemin langsung membalik badan.

Lucas tersenyum lebar. "Hari ini kau tampak cantik seperti biasanya," mulutnya yang manis memuji Jaemin sebelum ia meletakkan karung besar di pundaknya ke atas kereta.

"Terima kasih," jawab Jaemin sekenannya. Ia sedang tidak dalam suasana hati untuk berbincang-bincang dengan seorang pun!

"Ke mana saja kau selama ini?" tanya Lucas, "Mengapa minggu lalu kau tidak datang? Kukira engkau sudah berhenti."

Ke mana lagi Jaemin berada selama dua minggu ini selain dikurung di dalam Mangstone? Earl Hielfinberg tidak mengijinkannya pulang. Renjun mengekangnya dengan pelajaran tata krama yang katanya untuk membentuk dirinya menjadi seorang lady yang anggun.

Jisung juga tidak lebih baik dari seorang penjaga pintu. Ialah yang memastikan Jaemin tidak kabur ke Schewicvic.

Sungguh lucu. Schewicvic adalah rumahnya dan Mangstone adalah tempat ia menginap selama beberapa hari terakhir ini. Tetapi sekarang Mangstone sudah menjadi seperti penjaranya dan Schewicvic adalah tempat berbahaya yang harus dia jauhi.

Hari Kamis lalu Jaemin sudah berniat pulang ke Hielfinberg tetapi ia terlalu lelah untuh bangun pagi. Renjun telah membuatnya lelah dengan pelajaran tata-kramanya yang serba sulit dan merepotkan itu.

Jisung juga tidak mau kalah. Ia benar-benar membuat Jaemin kelelahan dengan bentakan-bentakannya selama ia mengajarinya berdansa.

Bukan sifat Jaemin untuk berdiam diri dalam siksaan seperti ini. Bukan watak Jaemin menuruti perintah yang tidak disukainya. Satu-satunya hal yang membuat Jaemin masih bertahan di Mangstone adalah Earl-ayahnya.

Jaemin tahu ayahnya melakukan semua ini demi melindunginya.

Ayahnya mencemaskannya. Namun Earl tidak sadar bahwa Jaemin pun mencemaskannya.

Jaemin tahu benar bagaimana kesepiannya ayahnya bila ia pergi. Earl memang tidak pernah mengatakannya dengan terus terang tetapi Jaemin mempunyai banyak mata untuk mengetahui ayahnya terus melamun seorang diri ketika ia tidak ada di Schewicvic.

Di sisi lain Jaemin tidak dapat pulang ke Schewicvic tanpa bantuan orang lain.

Inilah yang paling konyol dan tidak masuk akal! Schewicvic adalah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Sekarang ia membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelundupkannya ke dalam Schewicvic! Benar-benar konyol. Tidak masuk akal!

Hanya karena satu berita dan satu pernikahan, ia harus menanggung semua ini.

Jaemin tidak keberatan ia dijadikan bahan tertawaan orang lain. Ia tidak mau ambil pusing dengan kenyataan ia menjadi bahan gosip yang paling hangat di seluruh Viering. Tetapi Earl…

Andai saja ini semua bukan untuk Earl, Jaemin pasti sudah kehilangan kendalinya.

"Apa kau sudah mendengar itu?" tanya Lucas. "Paduka Raja akan menikah!"

Jaemin menyembunyikan senyum kecutnya.

"Menariknya, nama sang calon mempelai sama denganmu!" Lucas berkata penuh semangat. "Aku yakin kau akan lebih cantik dari calon Ratu."

Dalam hati Jaemin berpikir apakah pria ini benar-benar tolol. Tidak mungkin ia tidak tahu mereka berasal dari keluarga Hielfinberg.

Setidaknya, ia pasti tahu Fauston adalah Kepala Rumah Tangga Hielfinberg. Apakah ia tidak dapat memikirkan kemungkinan ia dan sang calon ratu itu adalah orang yang sama?

Kemudian ketika Jaemin berpikir lebih panjang, ia mensyukuri kebodohan pria itu.

Andai Lucas sadar siapa gadis yang berdiri di depannya ini, Jaemin pasti akan berada dalam masalah besar dan tidak mungkin ayahnya tidak marah besar karenanya.

"Orang-orang membicarakannya," Lucas kembali memberitahunya, "Lady Jaemin tidak pernah muncul pasti karena suatu alasan. Ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil, bukan? Dan setelah itu ia diasuh Earl seorang diri. Memangnya Earl bisa mendidiknya menjadi seorang lady yang anggun?"

Jaemin terpaku.

"Semua mengatakan Grand Duke memilihnya karena hubungan dekatnya dengan Earl Hielfinberg. Earl pasti mendengar berita ini sebelum orang lain tahu dan ia memanfaatkan hubungan dekatnya dengan Grand Duke untuk membuat putrinya terpilih menjadi calon mempelai Paduka raja."

Mata Jaemin langsung melotot.

"Kali ini Grand Duke membuat keputusan yang dengan gegabah. Ia pasti telah termakan bujukan Earl sehingga ia tidak berpikir panjang. Di luar sana masih banyak wanita cantik yang lebih pantas menjadi Ratu Kerajaan Viering. Memangnya Viering kekurangan gadis yang anggun sehingga Grand Duke harus memilih wanita yang tidak jelas adat istiadatnya?"

Fauston terperanjat. "Cukup. Cukup," ia cepat-cepat menghentikan pemuda itu sebelum ia berkata lebih banyak.

"Kami tidak punya cukup waktu untuk mendengar gosipmu. Kami sudah kesiangan!" Kemudian

Fauston menggiring Jaemin ke kereta.

"Kau sudah mau pergi?" tanya Lucas kecewa, "Sayang sekali. Aku masih punya banyak cerita untuk kudengarkan padamu."

"Terima kasih," Jaemin mencoba untuk tetap bersikap sopan walaupun hatinya sudah mendidih, "Kami harus mengejar waktu."

Fauston juga tidak membuang waktu. Ia cepat-cepat duduk di sisi Jaemin dan menjalankan kereta.

"Terima kasih atas ceritamu," Jaemin melambaikan tangan pada pemuda itu ketika kereta bergerak menjauh. Senyum yang sedetik lalu mengembang di wajahnya menghilang. "Fauston," kata Jaemin,

"Turunkan aku di depan tikungan sana."

"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston tanpa berani bertanya lebih banyak.

Fauston menghentikan kereta di tempat yang ditunjuk Jaemin.

Jaemin langsung melompat turun tanpa menanti Fauston membantunya turun dari kereta. "Fauston," ia berkata tenang. Matanya memandang Fauston dengan serius.

Melihat sinar mata yang jarang dilihatnya itu, Fauston tahu Jaemin tidak dalam suasana hati untuk beramah tamah. Ocehan Lucas pasti telah membangkitkan kemarahan gadis periang itu.

"Katakan pada ayahku untuk tidak mengkhawatirkanku. Aku tidak akan mengecewakannya."

"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston tegas.

"Cepatlah pergi sebelum seorang pun melihat kita."

"Baik, Tuan Puteri," kata Fauston lagi dan ia melajukan kereta meninggalkan Loudline.

Jaemin langsung membaurkan diri dalam keramaian. Ia sudah pernah mendengar gosip semacam ini sebelumnya.

Walaupun Renjun maupun Jisung telah menyembunyikan koran dari jangkauannya, Jaemin tahu setiap hari mereka membicarakan dirinya ramai-ramai.

Jaemin sudah tahu sejak detik ia dipaksa menikah dengan Chanyeol. Ia sudah tahu ia akan menjadi umpan paling hangat untuk seisi Viering! Daya tariknya cukup untuk mengalahkan daya tarik Somi.

Namun, satu hal yang tidak pernah diperhitungkan Jaemin adalah parahnya gosip itu. Ia tidak pernah menduga mereka akan mulai mengungkit-ungkit hubungan dekat antara ayahnya dan Grand Duke.

Ia tidak sedikitpun berpikir mereka akan menuduh ayahnya membujuk Grand Duke untuk memilihnya. Ia pernah mendengar mereka menuduh Grand Duke memilihnya karena ia adalah putri sahabatnya.

Ini sudah benar-benar di luar batas!

"Besok lusa adalah pesta pertunangan mereka, bukan?"

"Kudengar pesta itu akan diadakan di Schewicvic."

"Sudah lama Schewicvic tidak mengadakan pesta."

"Aku benar-benar tidak sabar menanti esok lusa."

"Aku juga. Aku ingin tahu rupa Lady Jaemin."

"Kudengar akhir-akhir ini ia mendapat pelajaran khusus untuk mempersiapkannya menjadi seorang ratu."

Seorang dari wanita itu tertawa. "Ia pasti membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi seorang lady. Memangnya Earl bisa mendidiknya menjadi seorang lady? Malah kudengar setiap hari ia berkumpul dengan pria."

"Aku jadi ingin tahu apa yang membuat Grand Duke memilihnya."

"Pasti Earl. Memangnya ada kemungkinan yang lain?"

"Grand Duke pasti sudah pikun. Sudah saatnya ia digantikan."

Jaemin langsung melotot ke arah wanita yang sedang mengucapkan kalimat itu. Ia tidak peduli orang-orang itu meragukannya. Ia tidak peduli seisi Viering menggosipkannya.

Tetapi ia tidak dapat menerima komentar mereka tentang ayahnya dan Taeil! Ia tidak dapat memaafkan mereka untuk itu!

Seseorang menepuk pundak Jaemin. "Jangan kau hiraukan mereka," suara yang dikenal baik oleh Jaemin berkata.

"Jisung," kata Jaemin serius, "Akan kuperlihatkan pada mereka siapa Jaemin. Akan kubuktikan Taeil dan Papa bukan orang seperti itu."

Jisung tersenyum dan mengangguk. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Jaemin saat ini.

"Lekas pergi dari tempat ini sebelum seorang pun melihat kita," Jaemin menjauhi Jisung.

Untuk sesaat Jisung terperangah. Ia tidak mengharapkan Jaemin akan segera pulang. Tidak setiap saat Sehun memberikan kelonggaran kepada Jaemin.

Ini adalah kesempatan yang langka untuk melepaskan penat dari aktivitas akhir-akhir ini yang kata Jaemin, menyiksa dirinya. Jisung tidak menduga Jaemin akan langsung pulang ke Mangstone.

Ia tidak dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.

Bukan hanya Jisung saja yang kebingungan melihat keseriusan Jaemin hari ini. Renjun juga dibuat bingung semenjak Jaemin menginjakkan kaki di Mangstone.

Begitu mendengar derap kuda mendekat, Renjun tahu Jisung membawa pulang Jaemin. Ia langsung menyambut mereka dan bersiap-siap memarahi Jaemin. Ia baru saja akan membuka mulut ketika Jaemin berkata,

"Renjun, apa saja yang harus kita lakukan hari ini? Aku tidak ingin membuang waktu. Banyak yang harus kita siapkan untuk pesta besok lusa." Dan Jaemin berjalan melalui Renjun yang kebingungan.

Ia lantas berkata pada Nicci, pelayan pribadinya,

"Nicci, siapkan air mandi untukku. Aku ingin mandi sebelum memulai pelajaranku hari ini."

Bukan hanya keseriusan Jaemin pagi ini yang membuat Renjun keheranan.

Ia juga heran oleh lancarnya pelajaran tata krama mereka hari ini.

"Jisung, apa yang terjadi padanya?" bisik Renjun ketika Jaemin berlatih berjalan anggun. "Apa yang terjadi di kota?"

"Aku tidak tahu," jawab Jisung.

Renjun pun semakin tidak mengerti melihat Jaemin untuk pertama kalinya tidak mengomel. Untuk pertama kalinya pula Jaemin tidak berusaha kabur.

Renjun maupun Jisung juga tidak perlu memanjat pohon untuk menemukan gadis itu. Renjun tidak perlu berseru memanggil Jaemin untuk muncul di kelas yang sudah disiapkannya.

Jisung tidak perlu mengawasi setiap pintu Mangstone. Dan yang terutama adalah untuk pertama kalinya Jaemin melakukan semua tugasnya dengan lancar tanpa sebuah kesalahan pun!

Ia tidak menjatuhkan sebuah buku pun dari atas kepalanya ketika berjalan. Ia tidak menginjak kaki Jisung ketika berlatih berdansa. Ia tidak mengeluarkan sebuah suara pun ketika makan. Ia bersikap santun sepanjang hari ini.

Tidak sesaat pun ia mengeluarkan sikap kelaki lakiannya. Jaemin seakan-akan terlahir kembali menjadi sebuah sosok yang tidak mereka kenali lagi.

"Bukankah ini bagus?" tanya Jisung ketika Renjun tidak henti-hentinya mengomentari perubahan Jaemin yang mendadak ini, "Ia sudah menjadi seorang lady yang anggun seperti keinginanmu."

Renjun juga tidak dapat memberi pendapat selain mengomentari dan berpikir.

-00000-

Perlahan-lahan halaman Schewicvic dipenuhi oleh kereta para tamu undangan.

Para wanita tampak cantik dan anggun dalam balutan gaun mereka yang berwarna-warni. Para pria tampak gagah dalam baju resmi mereka. Senyum tersungging di setiap wajah yang meramaikan Schewicvic.

Berbagai macam bunga yang berwarna-warni tertata rapi di setiap sudut Schewicvic. Taman Schewicvic yang telah ditata cantik sejak seminggu lalu, siap menampung setiap hadirin yang ingin menikmati keindahan Schewicvic.

Setiap orang berkumpul dan berbincang-bincang dengan teman-teman mereka. Ada yang tengah membicarakan pacuan kuda yang akan berlangsung. Ada yang membicarakan masalah politik dan ada pula yang tengah membicarakan pesta pertunangan ini.

Keheningan dan ketenangan Schewicvic selama sepuluh tahun ini tersibak oleh keceriaan setiap orang yang memenuhi Hall utama Schewicvic.

"Sudah lama Schewicvic tidak seramai ini," komentar Jisung.

"Ya," guman Grand Duke Taeil, "Johnny tidak suka mengadakan pesta. Ia lebih banyak mengurung diri di Ruang Perpustakaan Schewicvic semenjak kepergian Hansol."

"Hari ini Earl tampak bahagia," Jisung melihat Earl yang tidak henti-hentinya menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.

Grand Duke tidak menanggapi. Ia sibuk memperhatikan gerbang belakang Schewicvic.

Dari pintu belakang itulah sang Paduka Raja Mark akan masuk. Menurut skenario yang mereka buat, Mark akan dibawa menemui Jaemin. Mereka akan diberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain. Kemudian mereka berdua akan muncul bersama-sama di Hall utama tempat pesta diselenggarakan. Berdasarkan skenario yang telah mereka sepakati pula, Jaemin akan diperkenalkan sebagai kekasih Mark yang tidak pernah muncul.

Detik-detik menjelang pesta pertunangan ini, semakin banyak orang yang meragukan Jaemin. Semakin banyak yang mempertanyakan keputusan Duke of Krievickie. Earl tidak menyukainya. Ia tidak mau seorang pun berpikir Jaemin terpilih karena hubungan dekatnya dengan sang Grand Duke. Earl tidak mau putrinya menikah di bawah olok-olok orang lain.

Ketika ia mengeluhkan gencarnya gosip yang terus berkembang ini kepada Grand Duke Taeil, Renjun secara tidak sengaja mendengarnya. Dan ialah yang kemudian memikirkan skenario ini. Mark yang sudah tidak suka kehidupan pribadinya menjadi sarapan setiap orang, langsung menyetujui skenario mendadak ini. Satu-satunya orang yang tidak setuju adalah Jaemin. Ia sempat memberontak kemarin malam hingga Renjun khawatir Jaemin akan kembali ke sifat lamanya setelah semenjak hari Kamis ia bersikap sangat anggun dan lemah lembut. Namun sayangnya Jaemin tidak mempunyai suara. Ia sudah tidak mempunyai suara semenjak ia ditetapkan menjadi calon pengantin Mark, sang Ratu terpilih Viering.

Pagi ini ketika Jaemin dipulangkan ke Schewicvic, ia masih memasang wajah cemberutnya. Satu-satunya yang membuat Renjun berlega hati adalah Jaemin masih menjaga tata kramanya. Earl juga seisi Schewicvic sempat dibuat terperangah oleh perubahan sikap Jaemin setelah dua minggu lebih berada di Mangstone.

"Paduka Raja sudah datang," Grand Duke Taeil memberitahu.

Jisung melihat kereta kerajaan yang bergerak mendekati gerbang belakang Schewicvic.

"Aku akan segera menyambutnya," Jisung langsung bergerak. Tugasnya hari ini adalah mengawal Mark ke kamar Jaemin dan ayahnya bertugas memastikan tak seorang pun mengetahui Paduka Raja Mark telah datang dari gerbang belakang Schewicvic.

Pasukan pengawal Raja langsung membentuk barikade di pintu belakang Schewicvic. Sementara itu seorang prajurit membuka pintu kereta.

Seorang pemuda berambut kuning kecoklatan turun. Sinar mata abu-abu yang tegas menatap langsung Jisung.

"Selamat datang, Paduka," Jisung membungkuk memberi hormat, "Kami telah menantikan kedatangan Anda."

"Tunjukkan jalannya padaku," suara berat Raja muda itu berkata penuh wibawa.
Dengan langkahnya yang anggun dan penuh wibawa, ia memasuki pintu belakang Schewicvic.

Jisung langsung membawa Mark ke kamar Jaemin.

Sementara itu Renjun tengah mengagumi hasil karyanya.

"Kau benar-benar cantik," gumamnya tiada henti.

Nicci menangis gembira. "Countess pasti akan gembira melihat Anda saat ini."

Jaemin berdiri dengan tenangnya di hadapan kedua wanita yang sepanjang pagi ini terus sibuk mendadaninya. Mata biru cerahya memandang keduanya tanpa rasa tertarik. Mentari sore yang mengintip dari balik gunung, menyinari rambut keemasan Jaemin yang tertata rapi layaknya seorang putri negeri dongeng. Gaun hijau cerahnya membuatnya semakin cantik dan menyegarkan di puncak musim yang menyengat ini. Lekuk-lekuk kain sifon yang lembut menonjolkan bentuk tubuhnya yang sempurna.

"Kau akan menjadi pusat perhatian malam ini," Renjun terus mengagumi Jaemin, "Kau akan membawa pulang hati setiap pria di Viering."

Jaemin tertawa sinis. "Terima kasih," katanya tidak senang, "Aku tidak ingin menjadi saingan Mark."

"Kalian akan menjadi pasangan yang serasi malam ini," Renjun tersenyum bahagia. Matanya hijaunya tidak pernah lepas dari Jaemin.

"Hanya malam ini," Jaemin menegaskan pada dirinya sendiri.

"Mengapa Paduka Raja belum tiba?" tanya Nicci cemas.

"Aku tidak tahu," Jaemin duduk di depan meja riasnya untuk menegaskan ketidaktertarikannya atas kehadiran Mark. Ia menatap tajam bayangan dirinya di dalam cermin. Seumur hidup tidak pernah ia merasa kepalanya seberat ini. Ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ia harus mengenakan permata berwarna-warni di atas kepalanya. Kata Renjun itu untuk membuatnya tampil semakin cantik tetapi bagi Jaemin itu hanya membuatnya semakin pendek.

"Kurasa tak lama lagi ia akan segera datang," Renjun berkomentar.

Jaemin juga berharap pria itu akan segera datang. Ia sudah tidak sabar memberi pelajaran pada orang-orang yang bermulut usil itu. Ia tidak sabar menunjukkan dirinya pada orang-orang yang sedang menanti kemunculannya itu.

Seseorang mengetuk pintu.

"Itu pasti mereka," kata Renjun gembira.

Nicci langsung beranjak membuka pintu.

"Kalian sudah siap?" Jisung melihat ke dalam ruangan. Matanya terpaku pada sosok Jaemin yang duduk manis di depan meja rias. Ia terpesona. Tidak pernah ia melihat Jaemin secantik ini. Gadis yang tengah duduk di sisi Renjun itu bukan Jaemin yang dikenalnya. Ia adalah seorang gadis yang terlahir dari sebuah bunga musim semi di musim yang panas menyengat ini.

"Sebaiknya kita tidak menganggu mereka," Renjun mendorong adiknya menjauh.

Nicci menangkap maksud Renjun. Dari posisinya berdiri, ia juga dapat melihat Raja Mark yang terpaku melihat Tuan Puterinya yang cantik. Ia pun mengundurkan diri dari dalam ruangan itu. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar Jaemin.

Jaemin menatap pemuda di depannya lekat-lekat. Seperti dugaan Jaemin, ia sama sekali tidak tampak seperti seorang Raja. Jaemin lebih mudah mempercayai pemuda di depannya ini adalah seorang playboy kelas atas daripada seorang Raja dari kerajaan besar seperti Viering. Dengan reputasinya yang panjang, ia lebih tepat disebut seorang ladykiller.

Mata abu-abunya yang hijau kekuningan menatap Jaemin lekat-lekat seolah-olah ia adalah satu-satunya wanita ia yang pernah ia temui di dunia ini. Sebuah senyum ramah tersungging di wajahnya yang tampan. Kemeja malam resminya membalut tubuhnya yang gagah tegap. Rambut kuning kecoklatannya tertata rapi.

Mark melangkah anggun dan penuh wibawa ke arah Jaemin. Langkah-langkahnya yang penuh percaya diri membawa suatu pesona yang membuat mata setiap orang terpaku padanya.

Dalam hatinya Jaemin tersenyum sinis. 'Tak heran setiap wanita di Viering bertekuk lutut di hadapannya,' pikirnya sinis.

Mark berlutut di depan Jaemin. Tangannya terulur meraih tangan Jaemin yang berada di pangkuannya.

"Senang berjumpa dengan Anda, M'lady," katanya sopan, "Anda sungguh cantik seperti sekuntum bunga segar di padang pasir." Dan ia pun mencium tangan Jaemin.

Jaemin terperanjat. Dadanya berdegup kencang.

"S-senang berjumpa dengan Anda, Yang Mulia."

Mark tersenyum melihat rona memerah di wajah cantik itu.

Jaemin mengumpat dirinya sendiri. Ia tidak dapat menerima reaksi dirinya sendiri atas sikap Mark yang mendadak ini. Mengapa ia harus malu!? Mengapa ia harus tersipu-sipu!?

'Ah,' ia membela dirinya sendiri. Seumur hidupnya, ia hanya berkumpul dengan tiga orang pria, ayahnya, Grand Duke Taeil, dan Jisung. Mereka tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Yang terutama, pria di hadapannya ini adalah seorang ladykiller yang ahli dalam menaklukan wanita!

Jaemin bersumpah ia tidak akan jatuh dalam jerat pria ini! Sekali lagi ia menegaskan, ia tidak akan menjadi Echo kedua! Ia adalah seorang Narcissus.

"Saya ingin menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan Anda tetapi para undangan telah menanti," Mark kembali berdiri tegak.

'Dan pria ini mempunyai mulut yang manis!' Jaemin memberitahu dirinya sendiri.

"Apakah Anda berkenan menunjukan jalan pada saya?" pria itu mengulurkan tangan.

"Tentu," Jaemin menyambut uluran tangan itu.

Mark menyembunyikan senyum puasnya. 'Taeil memang dapat dipercaya,' pikirnya puas. Gadis ini benar-benar seperti keinginannya. Cantik, mempesona, lugu, penurut, dan tidak bertele-tele.

Jaemin kembali memarahi dirinya sendiri ketika ia menyadari betapa lugunya dirinya sendiri. Ia pasti terlihat seperti seorang gadis lugu yang tengah terpesona oleh daya tarik pria tidak berhati ini! Namun Jaemin masih dapat menahan dirinya sendiri untuk tidak merusak rencananya sendiri. Ia masih ingin membuktikan pada dunia siapa Jaemin dan mengapa sang Grand Duke kepercayaan Yang Mulia Paduka Raja Mark memilihnya!

Dengan langkah-langkahnya yang penuh keyakinan, Jaemin membawa Mark ke Hall Utama. Jaemin tidak ingin membuang waktu berbasa-basi dengan Mark. Ia sudah cukup tahu tentang Mark. Dan ia tidak peduli apakah pria itu cukup mengenalnya atau tidak. Ia yakin masa lalunya tidak penting untuk pria ini. Bagi pria ini, yang terpenting adalah ia bersedia memberinya seorang keturunan!

Sikap diam Jaemin benar-benar membuat Mark puas. Ia benar-benar senang dengan pilihan Taeil ini. Gadis ini benar-benar memenuhi segala kriteria yang diberikannya pada Taeil. Tidak rugi ia mengikuti skenario 'kekasih yang disembunyikan' Renjun.

Pasukan pengawal Mark langsung membentuk barikade di tangga yang menuju Hall Utama.

Setiap undangan langsung tahu Mark telah tiba.

"Yang Mulia Paduka Raja Mark dan Lady Jaemin of Hielfinberg tiba," Fauston – sang Kepala Rumah Tangga Hielfinberg mengumumkan.

Jaemin langsung menegakkan kepala dan memasang senyum bahagia.

Mark mengapit lengan kanan Jaemin di sikunya dan ia melangkah dengan penuh wibawa di sisi Jaemin.

Untuk sesaat setiap undangan sore ini terperangah. Mata mereka tidak lepas dari sepasang insan yang menuruni tangga dengan penuh percaya diri itu. Senyum di wajah mereka melukiskan kebahagiaan mereka hari ini.

Gaun hijau Jaemin menyapu lembut lantai tangga. Lekukan-lekukan gaunnya melambai seirama dengan gerakannya yang lemah gemulai. Mata biru cerahnya sungguh memberikan kesegaran yang tak terlukiskan di hari yang menyengat ini. Rambut pirangnya yang cerah sungguh tampak serasi dengan kulit kuning kecoklatannya yang halus.

"Jaemin benar-benar cantik," gumam Jisung.

"Apakah kau menyesal tidak merebutnya dari Paduka?" goda Renjun.

"Kurasa ia lebih cocok menjadi pendamping Paduka," kata Jisung lagi, "Lihatlah. Semua orang pasti sependapat denganku."

Renjun menatap wajah-wajah terpesona para tamu. Hampir setiap orang menunjukkan raut terpesona mereka dan tidak sedikit yang iri melihat pasangan yang serasi itu.

Jaemin yang cantik memesona dan Mark yang gagah tampan.

Renjun tersenyum melihat mereka berdua.

"Jaemin benar-benar luar biasa," gumam Duke of Krievickie kepada sahabatnya.

"Ia benar-benar mirip Hansol."

Grand Duke dapat melihat air mata menggenangi sepasang mata Earl Johnny.

"Ia benar-benar cantik seperti Hansol," ia merangkul pundak Earl, "Hansol pasti tersenyum bahagia di alam sana."

Dengan penuh percaya diri, Jaemin melangkah di antara para undangan yang memberi jalan kepada mereka. Ia sedikit pun tidak tampak seperti seorang gadis yang telah dipingit selama sepuluh tahun lebih.

Fauston langsung memberi tanda kepada para pemain musik untuk mulai memainkan lagu.

Raja Mark berlutut di depan Jaemin. Tangannya terulur – mengundang Jaemin.

"Apakah Anda bersedia berdansa dengan saya, M'lady?"

'Ia benar-benar tahu bagaimana mengambil hati wanita,' Jaemin berkata sinis pada dirinya sendiri.

"Dengan senang hati," Jaemin menyambut uluran tangan Mark.

Mark meletakkan tangannya yang lain di pinggang Jaemin dan mulai berdansa bersama gadis itu.

"Semoga Jaemin tidak melakukan kesalahan," gumam Renjun.

"Tidak akan," kata Jisung, "Hari ini Jaemin bukan Jaemin yang kita kenal."

Jisung mempunyai alasan tersendiri untuk mengatakan hal itu. Ia tidak pernah melihat Jaemin seserius ini. Pandangan mata gadis itu tidak pernah lepas dari keceriaan. Ia juga tidak pernah bersikap seangkuh dan seanggun ini. Sekalipun Renjun telah berusaha keras membentuk Jaemin menjadi apa yang dilihatnya saat ini, Jisung tahu Jaemin tidak akan pernah bisa menjadi seorang lady yang angkuh dan anggun seperti para lady pada umumnya.

Jaemin adalah seorang gadis yang ramah. Ia dapat dengan cepat menjalin hubungan baik dengan setiap orang dari segala usia dan segala golongan. Ia tidak pernah memilih teman. Ia tidak pernah membedakan orang yang satu dari orang yang lain. Sungguh mustahil gadis yang memilih berbelas kasihan pada pencuri itu dapat berubah menjadi seorang yang angkuh – yang berjalan dengan kepala terdongak tinggi di keramaian hanya dalam dua hari.

Jisung masih ingat jelas peristiwa enam tahun lalu itu. Jaemin kecil dan ia kabur dari Renjun. Mereka berdua berkuda ke pedesaaan. Ketika mereka beristirahat di sebuah peristirahatan di pinggir jalan, seseorang membawa pergi kuda Jaemin. Jisung yang melihatnya langsung berteriak dan mengejar pria itu. Teriakan Jisung menarik perhatian setiap orang. Seorang polisi yang kebetulan melewati tempat itu langsung bergerak menghentikan pria pencuri itu.

"Apakah Anda mengejar pencuri kuda ini?" tanya polisi yang berhasil membekuk pria itu.

"Terima kasih," kata Jisung menerima tali kendali kuda Jaemin, "Ia telah mencuri kuda kakak saya. Bawa saja ia ke kantor polisi dan hukum seberat-beratnya."

Jaemin yang datang kemudian langsung melotot. "Apa yang kau lakukan!?" bentaknya saat itu.

Jisung langsung membusungkan dada. Ia merasa telah berjasa bagi Jaemin, gadis kesayangannya.

"Aku memberikan kudaku padanya. Mengapa kau mengejarnya?"

Jisung pun langsung membelalak. Dan polisi itu kebingungan sementara pria itu melongo.

"Maaf," Jaemin berkata sopan kepada polisi itu, "Adik saya telah salah paham. Ia tidak tahu saya telah memberikan kuda saya kepada pria ini." Kemudian kepada pria itu ia berkata, "Maafkan adik saya. Ia pasti telah menduga Anda telah mencuri kuda saya."

Jaemin mengambil tali kendali kudanya dari tangan Jisung kemudian menyerahkannya pada pria itu. "Rawatlah kuda ini baik-baik," Jaemin tersenyum ramah, "Ia adalah seekor kuda yang penurut. Tidak sulit untuk memeliharanya."

Tampak jelas pria itu kebingungan ketika menerima tali kendali kuda coklat milik Jaemin. Ia masih terlihat linglung ketika pergi seiring lambaian tangan Jaemin.

Jaemin kembali menegaskan kepada polisi, "Maaf telah merepotkan Anda. Ini semua hanya kesalahpahaman di antara kami."

"Untunglah kalau semua sudah jelas," kata polisi itu.

Jaemin tersenyum manis – semanis ketika ia mengantarkan kepergian pencuri kudanya.

"Maafkan saya," mau tak mau Jisung meminta maaf.

Sepeninggal polisi itu Jisung menuntut, "Pria itu jelas-jelas mencuri kudamu."

"Biar saja ia membawa pergi kudaku," kata Jaemin santai sambil berjalan kembali ke pondok peristirahatan.

"Apa maksudmu!?" Jisung menuntut jawaban.

"Dengar, Jisung," Jaemin tiba-tiba berhenti. Ia menatap serius Jisung dan berkata, "Pria itu pasti membutuhkan uang. Aku tidak keberatan ia mengambil kudaku selama itu bisa membantunya. Aku masih mempunyai banyak kuda di Schewicvic. Lagipula," mata biru Jaemin menatap Jisung penuh harapan, "Apakah kau tidak ingin memberi tumpangan padaku?"

"Tidak setiap hari kau bisa memberi tumpangan padaku," Jaemin berlagak jual mahal dan Jisung pun kalah olehnya.

Mereka tidak pernah menceritakan pengalaman mereka itu pada seorang pun termasuk Renjun. Dan Jisung tidak pernah melupakannya. Itu adalah untuk pertama kalinya ia melihat sisi Jaemin yang pemurah.

Saat ini lebih mudah bagi Jisung untuk mempercayai Jaemin sedang menjalankan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Jisung mengulurkan tangan pada Renjun, "Kau mau berpasangan denganku?"

Renjun terkejut.

"Ah," Jisung sadar, "Kau pasti ingin aku bersikap seperti Raja." Jisung pun berlutut di depan Renjun. "Apakah Anda bersedia berdansa bersama saya, M'lady?" ia mengulurkan tangannya.

Renjun tertawa geli dibuatnya. "Tentu, M'lord," ia pun menerima uluran tangan Jisung.

Ketika mereka telah berada di tengah lantai dansa bersama Jaemin, Jisung bergumam, "Kapan aku akan menemukan pasangan yang lain selain kau."

"Kau sama sekali tidak manis," gerutu Renjun, "Masih lebih baik kau mempunyai aku sebagai pasanganmu daripada tidak sama sekali."

Jisung tertawa. "Mestinya kau berkata masih untung aku tidak menyalahkanmu. Gara-gara kau sampai sekarang aku tidak mempunyai pasangan."

Renjun berpikir keras. "Mungkin kau benar. Kau memang patut disalahkan."

"Hei! Hei!" Jisung memprotes, "Kau yang memintanya. Kau selalu berlari padaku setiap kali kau diusili pria."

"Sudah sepatutnya kau melindungi aku. Setiap hari kerjamu hanya bermain-main dengan Jaemin," Renjun menatap tajam Derrick. "Ah, aku tahu. Kau sedang cemburu pada Raja makanya kau menggodaku."

"Siapa yang cemburu?" giliran Jisung yang merasa ia sedang dipermainkan.

"Ah…," Renjun mendesah panjang, "Pantas saja sampai sekarang kau masih seorang diri. Di sisimu ada seorang gadis yang menarik tetapi kau buta."

"Hei, apa maksud semua ini. Bukankah kita ingin bersenang-senang?" Jisung menganti topik.

Renjun menatap adiknya dan tersenyum mesra. "Sudah lama kita tidak bersenda gurau seperti ini."

"Kalau Jaemin sudah masuk Istana, kita akan semakin jarang berkumpul lagi. Hari-hari mendatang pasti akan sepi tanpa Jaemin."

"Jangan memulai," Renjun memperingati, "Kau hanya akan memberi alasan baru pada Jaemin untuk kabur."

"Saat ini ia tidak akan kabur," gumam Jisung.

"Apa katamu?" tanya Renjun.

"Tidak ada," Jisung memilih untuk berdiam diri. Mereka tidak banyak berbicara setelahnya. Mereka membaur di lantai dansa bersama pasangan-pasangan yang lain.

Beberapa saat kemudian mereka duduk di dalam Ruang Jamuan, siap menyantap sajian yang telah disiapkan untuk mereka.

Jaemin duduk di antara Mark dan Jisung. Sedangkan Renjun berada di depannya.

Renjun telah mengatur tempat duduk ini sedemikian rupa sehingga ia bisa mengawasi Jaemin. Renjun benar-benar tidak mau kecurian. Matanya selalu bersiap siaga untuk melirik tajam Jaemin bila gadis itu membuat suatu kesalahan.

Jisung menghela nafas panjang dibuatnya. Renjun benar-benar seperti seorang ibu yang khawatir putrinya akan melakukan sesuatu yang memalukan. Namun di sisi lain Jisung dapat memaklumi sikap Renjun ini.

Hari ini adalah pertama kalinya Jaemin muncul di kalangan bangsawan dan hari ini akan menjawab semua pertanyaan yang telah menghantui seisi Viering selama hari-hari terakhir ini.

Karena itulah tidak seorang pun melewatkan kesempatan untuk bertanya pada Jaemin ketika mereka telah menyelesaikan santapan malam dan berkumpul di Ruang Duduk. Beberapa tamu memilih pulang tetapi beberapa memilih untuk bergabung bersama calon pasangan mempelai di Ruang Duduk.

Di antara mereka, tentu saja, ada beberapa wartawan yang memang sengaja diundang.

Jaemin duduk dengan anggunnya di sisi Mark. Dari kejauhan Renjun dan Jisung mengamati sofa panjang tempat keduanya duduk dikerumui orang-orang yang sudah siap dengan pertanyaan mereka.

Jaemin sama sekali tidak berniat membuka percakapan. Ia membiarkan orang-orang yang ingin tahu itu memulai percakapan.

"Saya dengar Anda mempunyai hubungan spesial dengan Jisung. Apakah itu benar?" seorang wanita bertanya pada Jaemin.

Jaemin tersenyum penuh arti. Wanita itu pasti adalah satu dari sekian pengagum sang dingin Jisung. Ia sudah mendengar adanya sekelompok orang yang diam-diam mengagungkan Jisung. Namun, sayangnya, Jisung tidak pernah tertarik pada mereka karena ia sudah memiliki dua wanita yang menarik di sisinya.

"Bagiku ia adalah kakak angkat. Kami sudah bermain bersama semenjak kanak-kanak."

"Apakah itu benar?" Wanita itu terus mendesak. "Saya sering melihat kalian berduaan. Bahkan beberapa hari lalu aku melihat kalian di Loudline."

Jaemin terkejut. Ia sudah berhati-hati tetapi rupanya masih ada yang melihat mereka.

"Saya dengar semenjak pertunangan kalian diumumkan, Anda tinggal di Mangstone."

"Apakah ini ada hubungannya dengan Lord Jisung?" seorang wanita langsung menyahut.

"Apakah Anda berusaha menghabiskan waktu bebas Anda yang tersisa bersama Lord Jisung?" seseorang berkata tidak percaya.

Seulas senyum sinis mengembang di wajah Mark.

Renjun langsung melirik adiknya, "Sekarang pembicaraan mengarah padamu."

Jisung tidak tahan melihat kerumunan orang-orang itu mendesak Jaemin.

Tangan Renjun terulur menghadang jalan Jisung. "Kalau kau maju, kau hanya akan membuat keadaan semakin buruk," ia memperingati.

Mungkin setiap orang di ruangan ini tidak menyadari senyum sinis Mark itu tetapi Jaemin melihatnya. Ia tidak suka melihatnya. Pria itu seperti tengah menuduhnya berbuat serong. Jaemin ingin sekali memberikan senyum kepuasannya yang manis sebagai jawaban. Sang calon istri sempurna yang dimintanya telah membuat cacat. Jaemin tidak peduli. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Jaemin juga tidak ingin memberi tanggapan pada setiap orang yang tengah memusatkan perhatian pada dirinya itu tetapi ia berkata,

"Berarti Mark telah merebutku dari Jisung," kata Jaemin santai, "Tetapi, kenyataannya ia telah merebut diriku dari diriku sendiri."

Semua kebingungan mendengar jawaban Jaemin.

Mata Mark langsung menatap tajam Jaemin.

"Semenjak bertemu dengannya, ia telah membuatku melupakan diriku sendiri. Aku merasa seperti menjadi diriku yang lain. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan diriku yang sekarang ini ada. Ia telah membuat hidupku terasa lebih berarti."

Mark menyembunyikan senyum sinisnya dalam sinar matanya.

Jaemin menyadarinya dan ia sama sekali tidak menyukainya. Sedikit pun tidak! Ia tahu ia tidak akan pernah menyukai pria ini.

"Apakah pernikahan kalian ini direncanakan karena pernikahan Duke Jungwoo?"

"Tidak. Sama sekali tidak!" jawab Mark tegas.

"Akan merupakan kebohongan besar bila kami mengatakan tidak," lagi-lagi Jaemin membuat mata Mark melotot. "Bila pernikahan ini tidak direncanakan dengan baik, apa jadinya pernikahan kami?"

Jawaban cerdas Jaemin membuat semua orang tertawa.

"Aku begitu iri melihat kebahagian mereka berdua dan aku berkata pada Mark bahwa sudah saatnya kami mengikat perjanjian," lanjut Jaemin, "Aku bersikeras padanya bahwa aku tidak mau menanti lebih lama lagi."

"Mengapa selama ini tidak pernah terdengar kabar tentang kalian?"

Pertanyaan itu membuat keduanya terkejut. Juga Duke of Krievickie.

"Itu karena ayahku," jawab Jaemin sebelum Mark membuka mulut, "Papa begitu takut aku menjadi santapan lezat kalian sehingga ia bersikeras untuk tidak membiarkan hubungan kalian diketahui orang lain selain keluarga dekat kami sendiri."

Jisung tersenyum. "Sungguh tidak kusangka ia sepandai ini."

"Jaemin memang pandai berbicara," kata Renjun, "Sekarang aku yakin mereka tidak akan dapat melukai Jaemin."

"Ya," Jisung sependapat, "Kecuali mereka dapat menang dari Jaemin."

.

.

.

.

TBC...


Maafkan atas keterlambatan update..

karena saya agak sedih liat yang respon sedikit banget..

tapi gk apa-apa ..saya tetap lanjutin remake novel ini..

akhir kata..semoga suka *bow^^