Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Earl of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Earl of Hielfinberg

Huang Renjun as Irina Krievickie

Park Jisung as Derrick Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley

-00000-

Seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat pasi. Dengan langkah-langkahnya yang lebar, ia bergegas menemui Mark.

"Maafkan saya, Paduka," prajurit itu melapor dengan gugup, "Saya tidak dapat melaksanakan tugas saya dengan baik."

"Ada apa?"

"Paduka Ratu menghilang."

"Jaemin menghilang!?" Grand Duke Taeil terperanjat.

Sebaliknya, Mark tampak begitu tenang. "Katakan apa yang terjadi."

"Siang ini Paduka Ratu mengatakan ia ingin beristirahat siang. Seperti yang ada perintahkan, kami menjaga kamar Paduka Ratu selama ia beristirahat. Nicci juga langsung meninggalkan kamar Ratu setelah beliau berbaring di tempat tidur. Kemudian beberapa saat lalu ketika Nicci akan membangunkan Ratu, Ratu sudah menghilang. Kami sudah mencarinya ke mana-mana namun kami tidak dapat menemukannya di mana pun. Kami tidak tahu bagimana Ratu meninggalkan kamarnya. Selangkah pun kami tidak meninggalkan pos kami."

Mark tidak menanggapi.

Prajurit itu menanti titah.

"Aku mengerti," Mark akhirnya berkata, "Kembalilah pada rutinitasmu."

Prajurit itu terkejut namun ia tetap berkata, "Saya mengerti, Paduka," dan mengundurkan diri dari Ruang Kerja Mark.

Sementara itu Grand Duke Taeil melihat rajanya dengan cemas. Ia tahu cepat lambat ini akan terjadi. Ia dapat menduga Jaemin kabur dengan memanjat pohon di dekat serambi kamarnya. Hal ini sering terjadi di masa kecil gadis itu. Namun Grand Duke ingin tahu ingin tahu mengapa Mark tetap bisa setenang ini walau ia tahu istrinya menghilang.

"Taeil."

Grand Duke Taeil terperanjat mendengar suara serius Mark.

"Aku memintamu memilih seorang gadis yang penurut tetapi kau memberiku seorang pembangkang. Aku meminta seorang gadis yang pendiam dan kau memberiku seorang gadis liar. Ia benar-benar seorang gadis yang tidak bisa diatur. Tidak satupun tindakannya yang menunjukkan ia adalah seorang lady yang baik. Sepanjang hari ia hanya bisa membuatku kerepotan dan kelelahan. Kau telah memilih seorang gadis yang benar-benar berlawanan dengan syaratku."

Grand Duke menelan ludahnya. Ia sudah tahu saat ini akan tiba ketika Mark memuji pilihannya di pesta pertunangan mereka. Entah mengapa, Grand Duke lega. Mungkin memang sebaiknya Raja mengetahui sifat Jaemin yang sebenarnya.

Sejak Jaemin memasuki Istana, ia telah menanti kalimat ini. Karena Mark tidak pernah mengutarakannya, Grand Duke hanya bisa cemas. Dan hari ke hari kecemasannya kian bertambah apalagi ditambah gosip yang mulai beredar seputar Jaemin.

Perlahan-lahan isi Fyzool mulai mengetahui watak Jaemin yang sebenarnya. Namun akan membutuhkan waktu panjang bagi mereka untuk menerima tingkah laku Jaemin yang berbeda dari para bangsawan pada umumnya.

Jaemin tidak pernah memperlakukan pelayan istana sebagai seorang pesuruh. Sebaliknya, ia memperlakukan mereka sebagai sahabatnya. Ia tidak pernah ragu-ragu membantu para pelayan itu. Ketika ia melihat para perawat kebun sibuk, dengan riang hati Jaemin bergabung bersama mereka. Tanpa mendengar larangan orang-orang di sekitarnya, Jaemin tidak pernah ragu-ragu membuat kotor gaunnya yang mewah.

Mark sudah membuat jadwal tamu gadis itu. Ia juga memanggil guru piano untuk gadis itu tetapi itu tidak cukup untuk membuatnya diam. Ketika Jaemin merasa lelah dengan tamunya, tanpa ragu-ragu ia akan mengusir tamunya dengan cara halus. Ketika ia bosan bermain piano, ia akan mencari pekerjaan lain tanpa bisa diganggu gugat!

Namun yang paling sering menjadi bahan pembicaraan adalah pertengkaran Mark dan Jaemin. Semula setiap orang kaget mendengar Jaemin yang berani membantah Mark. Bahkan Jaemin kini sudah menjadi tameng setiap orang yang takut akan kemarahan Mark.

Tentu saja yang paling tidak suka dengan fakta itu adalah Mark. Ia tidak pernah menyukai interupsi Jaemin ketika ia sedang memarahi seseorang. Ia tidak suka Jaemin yang suka membela orang yang sedang dimarahinya. Ia sama sekali tidak menyukai permainan pahlawan Jaemin.

Orang-orang pun mulai berspekulasi dengan perkembangan yang terjadi di Fyzool. Banyak yang tidak mempercayai cerita cinta di antara mereka. Jaemin kian lama kian menunjukkan sifatnya yang jauh berbeda dengan gadis-gadis tipe Mark. Jaemin bukanlah tipe Mark. Ia benar-benar bertolak belakang dengan gadis-gadis yang pernah berkencan dengan Mark.

Grand Duke dibuat semakin cemas setiap harinya. Setiap kali bertemu Mark, hal yang pertama kali dipikirkannya adalah Mark akan melabraknya. Dan setiap detik ia selalu memperingati dirinya untuk bersiap sedia mendengar amarah Mark.

Mark memang masih belum menunjukkan amarahnya namun sekarang ia merasa sangat lega. Beban berat di pundaknya telah diangkat.

"Taeil, kau tidak memilih Jaemin karena kedekatan hubunganmu dengan Ruben, bukan?" Johnny merapikan meja kerjanya.

Pertanyaan itu membuat Grand Duke tercekat.

"Taeil, apakah kalian masih mempunyai tempat kosong untukku?"

Grand Duke melongo. Ia tidak dapat memahami Mark.

-0-

Sementara itu beberapa mil dari Fyzool, Renjun sedang kewalahan. Semenjak siang yang mengejutkan ini ia sudah kewalahan.

"Demi Tuhan, Jaemin!" pekik Renjun, "Apa lagi yang kau lakukan!?"

Jaemin mengacuhkan komentar kakak angkatnya itu.

Jisung tertawa geli.

Mereka berdua benar-benar dibuat kaget oleh kedatangan Jaemin yang mendadak ini.

Jaemin berdandan seperti seorang pekerja kasar. Baju coklatnya tampak kotor dan lusuh. Rambut emasnya disembunyikannya dalam topi coklatnya. Kulitnya yang putih juga tidak kalah kotornya.

Entah bagaimana Jaemin mendapatkan baju itu. Entah bagaimana ia mendandani dirinya sendiri seperti seorang pemulung. Yang pasti sekarang ia telah berada di Mangstone, beberapa mil dari Fyzool.

"Kau pasti membuat kehebohan lagi," Renjun menyalahkan.

"Kehebohan sendiri yang tidak mau meninggalkanku," gerutu Jaemin tidak senang.

"JAEMIN!"

Jaemin memasang wajah cemberutnya. "Aku hanya ingin pergi dari penjara sial itu."

"Jaemin!" Renjun berseru lebih keras. Matanya melotot besar.

"Jisung," Jaemin mengabaikan Renjun, "Aku merindukanmu!" ia memeluk pria itu erat-erat. Kemudian menatapnya dengan manja, "Mengapa engkau tidak pernah mengunjungi aku?"

Renjun geram.

"Maafkan aku," jawab Jisung, "Aku tidak mempunyai waktu."

"Apakah sekarang kau mempunyai acara?"

"Hamba akan selalu mempunyai waktu untuk Anda, Paduka. Kapan pun Anda ingin, saya akan selalu siap menemani Anda," Jisung membungkuk hormat kemudian ia melihat Jaemin dan tersenyum, "Siapakah yang berani mengabaikan keinginan Paduka Ratu?"

"Temani aku," Jaemin menggandeng tangan Jisung, "Renjun," ia menoleh pada wanita itu, "Kau tidak keberatan meminjamkan gaunmu padaku selama beberapa hari, bukan? Aku tidak membawa apa-apa."

Renjun terperanjat. "Kau kabur dari Istana!?"

"Tidak," Jaemin membenarkan, "Aku hanya memutuskan untuk meninggalkan Istana."

Jisung tertawa. "Renjun," katanya, "Kau seperti baru mengenal Jaemin saja."

"Renjun," panggil Jaemin, "Kau tidak keberatan meminjami baju padaku, bukan? Aku ingin segera mandi dan berganti baju."

"Aku akan segera menyuruh pelayan mempersiapkan air mandimu," kata Renjun lalu ia berpaling pada Jisung. "Dan, Jisung."

"Jangan memberitahu Mark!" Jaemin memotong. "Aku tidak mau pulang ke Fyzool. Walaupun pria kejam itu memaksaku, aku tidak akan pulang!"

Renjun terkejut.

"Kau tidak ingin aku mati jamuran, bukan?" Jaemin merengek manja pada Renjun lalu ia berpaling pada Jisung, "Jisung, kau paling mengerti aku. Kau pasti tidak rela aku terkurung."

"Aku tidak mengatakan akan memulangkanmu," Jisung menepuk kepala gadis itu.

Jaemin berseru senang. "Aku akan meminta seseorang mempersiapkan air mandiku," dengan langkah-langkah riangnya ia berlari ke dalam.

"Apa kau serius?" Renjun bertanya cemas.

"Apa kau bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Mark bila ia tahu Jaemin kabur ke sini?"

"Akan lebih berbahaya kalau ia tahu kita membiarkan Jaemin tinggal di sini tanpa sepengetahuannya."

"Renjun, apa kau tidak kasihan pada Jaemin?" Jisung bertanya serius, "Semenjak memasuki Istana, ia tidak pernah keluar. Jaemin bukan gadis yang bisa duduk diam. Ia pasti menderita selama berada di Istana. Selain itu Earl juga keterlaluan. Ia tidak mau menemui Jaemin dan tidak membiarkan Jaemin pulang ke Schewicvic."

"Earl juga terpaksa melakukannya," Renjun memberitahu, "Sebenarnya Earl ingin sekali berjumpa dengan Jaemin namun ia tidak berani menemui Jaemin. Ia takut ia tidak rela ditinggalkan Jaemin lagi kalau ia bertemu Jaemin."

"Ternyata Earl juga pengecut," gumam Jisung.

"Apa katamu!?" Renjun mendengar gumaman itu.

"Tidak ada," Jisung cepat-cepat mengelak, "Bukankah ini bagus, Renjun?" Jisung melihat tempat Jaemin menghilang beberapa saat lalu, "Tidakkah kau menyadari Jaemin menjadi lebih feminim?"

Renjun terperanjat.

Jisung benar. Jaemin yang biasa tidak akan mempedulikan pakaiannya. Walau pakaiannya sudah kotor, ia tidak akan terganggu oleh perlunya berganti baju apalagi mandi.

"Bukankah Jaemin patut mendapat hadiah?" Jisung tersenyum.

"Apakah kau yakin?" Renjun bertanya serius. "Mark akan murka kalau ia tahu."

"Jaemin pasti akan kabur ke tempat lain kalau kita tidak membiarkannya tinggal. Ini akan menjadi masalah yang lebih besar daripada membiarkannya."

Renjun pun percaya gadis itu akan melakukannya. "Kurasa kita tidak punya pilihan lain," ia menyerah, "Aku akan mencari baju ganti untuk Jaemin." Dan ia pun meninggalkan Jisung.

Sepeninggal kedua gadis itu, Jisung berpikir, 'Kita akan punya masalah besar untuk membujuk Jaemin pulang.'

Dan tebakannya itu tidak meleset. Sepanjang siang itu mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengulangi masa kanak-kanak mereka daripada membujuk Jaemin. Setiap kali merasa pembicaraan sudah mengarah ke Fyzool, Jaemin segera mengalihkan pembicaraan atau melakukan sesuatu yang membuat perhatian mereka teralih.

Jisung bahkan ragu akan ada kesempatan bagi mereka untuk membujuk Jaemin pulang. Hanya satu yang tidak perlu diragukan. Jaemin akan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya bila mereka memaksa gadis itu.

Di saat Jaemin bersikeras akan sesuatu, gadis itu tidak akan dapat dihentikan. Semakin ia dihentikan, semakin keras keputusannya bahkan tidak mungkin ia tidak mengambil tindakan yang berbahaya. Jaemin memang dapat menjadi seorang yang egois. Ia sering bertindak sesuai keinginannya sendiri tanpa mau mendengarkan orang lain. Jaemin juga tidak suka dikekang oleh peraturan. Untungnya, Jaemin adalah gadis yang baik. Ia tidak akan pernah dengan sengaja melakukan sesuatu yang membahayakan orang lain. Ia hanya suka membuat orang lain kerepotan.

Sorenya ketika mendengar suara kereta mendekat, Jisung langsung melihat keluar jendela. Ia ingin tahu apakah itu kereta utusan istana yang dikirim Mark untuk menjemput Jaemin.

"Papa sudah pulang," Jisung memberitahu ketika melihat kereta keluarganya berhenti di depan pintu.

"Papa sudah pulang?" tanya Renjun tidak percaya. "Mengapa ia pulang secepat ini? Apakah ia tidak pergi ke Schewicvic?"

Renjun juga berlari ke jendela. Ia terperanjat melihat ayahnya turun dari kereta diikuti seseorang.

"Tebaklah, Jaemin," pancing Jisung, "Siapakah yang dibawa Papa besertanya."

"Siapa?" tanya Jaemin gusar.

"Menurutmu siapa?" Jisung berteka-teki.

'Mark Arcalianne!' Jaemin langsung berdiri. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu memaksanya pulang. Ia akan menegaskan pada pria itu bahwa ia bukan bawahannya. Mark tidak bisa seenaknya mengatur dirinya.

Renjun terperanjat melihat Jaemin yang langsung menerjang keluar.

Jisung tersenyum geli. Ia akan menikmati pemandangan hari ini.

"Apakah Paduka Raja datang untuk menjemput Jaemin?" Renjun bertanya-tanya.

"Kurasa," Jisung tidak dapat memberi jawaban pasti.

"Aku yakin," Renjun dapat menyakinkan.

Jisung tersenyum geli. "Kurasa kita akan punya tontonan menarik."

"Jisung!" hardik Renjun, "Tampaknya kau benar-benar menikmati pertengkaran keduanya."

Jisung tertawa. "Aku ingin melihat pertunjukan menarik," ia bergegas mengikuti Jaemin.

"Jisung!" Renjun pun mengekor di belakang.

Jaemin melihat Mark melintasi Hall bersama Bernard.

Jaemin berdiri di ujung tangga dan berseru lantang – menyambut kemunculan Mark, "Aku tidak akan pulang denganmu! Aku tidak mau kembali ke sana!"

Mark melihat Jaemin di ujung tangga menuju lantai dua. Ia tersenyum sinis melihat raut keras kepala gadis itu.

Grand Duke terperanjat. Ia bertanya-tanya mengapa Jaemin bisa berada di rumahnya.

"Aku tidak datang untukmu," Mark berkata santai.

"Bohong!" sergah Jaemin, "Aku tahu kau datang untuk memaksaku pulang ke Istana!"

"Aku tidak datang untuk menjemputmu," Mark menegaskan, "Aku datang untuk memenuhi undangan makan malam Taeil."

Jaemin langsung menoleh pada Taeil, "Benarkah itu, Taeil?"

Duke of Krievickie merasakan posisinya benar-benar sulit sekarang. "Benar," katanya ikut berbohong, "Aku mengundang Paduka untuk makan malam di sini."

Jaemin melotot tidak senang.

Mark tertawa dibuatnya.

"Selamat datang, Paduka," Renjun memberikan sambutannya, "Makan malam masih belum siap. Saya harap anda tidak keberatan untuk menanti beberapa saat."

"Tidak. Tentu saja tidak," kata Mark. "Aku sudah sangat berterima kasih kalian mau mengundangku bergabung dengan acara makan malam kalian."

"Jadi, Taeil," ia merangkul pundak Grand Duke, "Kita bisa melanjutkan pembicaraan kita yang belum selesai sambil menanti makan malam siap." Ia membawa Grand Duke menuju Ruang Kerja.

"Paduka," gumam Taeil, "Saya mempunyai pertanyaan."

"Mengapa aku tahu ia ada di sini bukan?" Mark menebak, "Tanpa perlu berpikir pun aku tahu ia akan ada di sini. Jaemin dekat dengan kedua putra-putrimu, bukan? Ke mana lagi ia akan pergi selain Schewicvic dan Mangstone? Jaemin tidak akan pulang ke Schewicvic karena Johnny sudah menegaskan pada Jaemin untuk tidak pulang. Jaemin adalah putri yang penurut. Ia tidak akan melanggar perintah ayahnya. Ke mana lagi tujuan Jaemin bila bukan Mangstone?"

Grand Duke terperangah mendengar penjelasan itu.

"Untuk beberapa hal Jaemin mudah ditebak," ujar Mark dan ia tertawa puas.

Tawa itu membuat Jaemin kian kesal. Ia geram. Ia marah!

"Sudahlah, Jaemin," Jisung merangkulkan tangannya di pundak gadis itu. "Untuk apa kau marah? Bukannya ia datang bukan untuk menjemputmu?"

Jaemin langsung menatap tajam Jisung. "Kau memberitahu Mark?" ia menuntut jawaban. "Ataukah kau, Renjun?"

Keduanya terkejut.

"Tidak," jawab Renjun, "Kami tidak memberitahu Paduka."

"Apakah mungkin kami memberitahu Mark ketika kami terus berada di sisimu?" tanya Jisung.

"Bagaimana mungkin ia tahu aku ada di sini kalau tidak seorang pun dari kalian memberitahu pria sial itu!?"

"Sikapmu sudah keterlaluan, Jaemin," Renjun tidak senang oleh cara Jaemin menyebut Raja, "Apakah kau sadar apa yang selama ini kau lakukan? Kau sudah membuat banyak masalah. Kau masih beruntung Raja tidak pernah menghukummu."

"Kata siapa?" tuntut Jaemin, "Sepanjang hari ia menghukumku. Setiap saat ia memperlakukanku seperti seorang tahanan berbahaya! Ke mana-mana selalu ada prajurit yang mengawalku. Nicci seorang saja sudah membuatku terkekang apalagi pasukan pengawal. Katakan apa aku tidak seperti tahanan berbahaya?"

Jisung tersenyum geli mendengar Jaemin memperupamakan dirinya sendiri.

"Itu juga karena kau sendiri," Renjun menyalahkan Jaemin, "Kau tidak pernah menyadari posisimu saat ini. Kau terus bersikap seperti kau di Schewicvic. Fyzool bukan Schewicvic, Jaemin. Dan sekarang kau adalah Ratu Kerajaan Viering. Ingatlah itu."

"Memangnya seorang ratu hanya bisa duduk diam di dalam Istana seperti pajangan!?"

Renjun tidak bisa membantah Jaemin.

"Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Aku tahu apa yang dapat kulakukan, apa yang tidak dapat kulakukan!"

"Ya, ya," Jisung segera menghentikan keduanya sebelum bara api ini semakin membara, "Apakah kau mau terus berada di sini, Jaemin? Kurasa kau lebih tertarik untuk pergi ke Ruang Makan dan melihat apa yang bisa kaulakukan sebelum hidangan disiapkan."

"Tentu saja," Jaemin menyambut gembira, "Mungkin aku bisa menyiapkan sesuatu untuk meracuni Mark."

Jisung tersenyum geli. "Kau harus bergegas sebelum seorang pun melihatmu."

Tanpa perlu diperintahkan, Jaemin segera menghilang di lorong.

Renjun tidak suka cara Jisung mengalihkan perhatian Jaemin.

"Kau tidak bisa terus menerus meminta Jaemin bersikap seperti selayaknya seorang lady," Jisung berkata pada kakaknya dengan serius. "Kau tahu Jaemin bukan gadis-gadis itu. Kau juga sering mengatakan Jaemin adalah seorang lady yang unik. Selama ini kau bisa menerima sikap Jaemin. Mengapa akhir-akhir ini kau terus menuntut Jaemin bersikap seperti mereka?"

"Aku tidak ingin mereka terus membicarakan Jaemin."

"Jangan mengkhawatirkan Jaemin. Waktu akan membuat mereka menerima Jaemin," Jisung merangkulkan tangan di pundak Renjun. "Sekarang tidakkah kau mengkhawatirkan Jaemin? Apa kau tidak khawatir terjadi kriminal di tempat ini."

Renjun terbelalak. "Jisung, kau tidak serius, bukan?"

Jisung tertawa. "Siapa tahu apa yang dipikirkan Jaemin?"

Memang tidak seorang pun dari mereka yang tahu apa yang sedang dipikirkan Jaemin namun mereka semua tahu Jaemin tidak menyukai keberadaan Mark di Mangstone. Ia tidak berbicara apa-apa sepanjang makan malam mereka. Mata birunya yang cantik terus memandang tajam Mark. Sebaliknya Mark terus bersikap santai tanpa mempedulikan Jaemin.

Kedua orang itu benar-benar merusak suasana makan malam itu. Perang dingin di antara mereka membuat Grand Duke sekeluarga berada dalam posisi sulit yang tidak menyenangkan.

Menjelang kepulangannya ke Fyzool, Mark tidak mengucapkan apa pun tentang kepulangan Jaemin ke Fyzool. Hingga kereta keluarga Krievickie sudah siap mengantar Mark kembali ke Istana, Mark tidak menyebut apa-apa tentang keberadaan Jaemin di Mangstone.

Mark terus berjalan ke kereta tanpa sedikit pun menoleh atau pun berkata apa-apa.

Tindakannya ini membuat Jaemin sakit hati. Ia semakin sakit hati ketika Mark membuka pintu kereta.

Jaemin sudah membalik badan dan siap memasuki Mangstone ketika Mark berkata,

"Kau pulang tidak?"

Jaemin tertegun melihat tangan Mark yang terulur itu. Bunga kebahagiaan bersemi di dalam hatinya.

"Aku pulang bukan karena kau," Jaemin berkata keras kepala ketika ia menyambut uluran tangan itu.

Mark hanya tersenyum geli sambil memberikan tangannya untuk tumpuan Jaemin ketika gadis itu memasuki kereta.

"Maaf telah menganggu kalian," Mark berpamitan.

"Besok aku akan datang lagi," Jaemin melongok keluar jendela.

Para anggota keluarga Krievickie itu melambaikan tangan sambil tersenyum.

Jisung mendesah penuh kelegaan ketika kereta kerajaan sudah jauh. "Kukira Jaemin akan tinggal di sini selamanya."

Renjun termenung dengan pikirannya sendiri. "Tidak kusangka Paduka dapat menundukkan Jaemin begitu mudahnya. Aku menghabiskan waktu sepanjang hari untuk mencari cara menyuruh Jaemin pulang dan Paduka dengan satu kalimat sudah bisa membawa pulang Jaemin."

Jisung meringis. "Jaemin sudah mendapat tandingannya."

"Paduka adalah orang yang cerdas. Ia tahu bagaimana menangani sifat Jaemin."

"Paduka jauh lebih pandai dari Jisung," giliran Renjun yang tertawa geli.

Grand Duke memperhatikan langit sore yang sudah menggelap. "Ini sudah hampir akhir musim panas, bukan?"

Renjun terperanjat. "Papa, apakah ini artinya…" Renjun tidak dapat melanjutkan kecemasannya.

"Apakah Jaemin harus pergi?" Jisung bertanya cemas.

Grand Duke mendesah panjang. "Jaemin tidak punya pilihan lain. Ia harus pergi."

Renjun pucat pasi.

Jisung tidak dapat memberi tanggapan apa pun.

Duchess of Binkley memandang langit-langit kamarnya.

Semua ini berawal dari kejadian di Ruang Makan pagi ini.

Somi sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Setiap pagi semenjak kepulangan mereka ke Viering, Jungwoo mulai melakukan ini. Bahkan kian hari ia kian parah. Semua koran yang ada di Viering dibelinya dan setiap pagi ia selalu menjelajahi satu koran ke koran yang lain.

"Hentikan, Jungwoo!"

Jungwoo terus membolak-balik koran dengan gelisah.

"Untuk apa kau terus mengkhawatirkan hal itu?" tanya Somi, "Mark sudah tidak mengusikmu lagi. Bukankah itu bagus? Seharusnya kau lega Mark tidak pernah memanggilmu lagi."

Jungwoo menggeleng. "Tidak. Kau tidak memahami Mark."

Ini bukan cara Mark. Mark tidak pernah melepaskannya semudah ini. Mark selalu mencari dan mencarinya hingga ia bersumpah ia tidak akan melakukan kesalahannya lagi.

Namun Somi benar, sejak awal Mark sudah tidak mengambil sikap seperti biasanya. Mark tidak mengirim pasukan ketika mereka meninggalkan Viering. Mark tidak memaksanya untuk membatalkan pernikahannya. Mark tidak melakukan apa pun untuk menceraikan mereka. Mark juga tidak pernah memanggilnya lagi semenjak malam itu.

Justru karena tindakan Mark yang tidak biasa inilah, Jungwoo menjadi semakin gelisah. Ia tidak tahu apa yang tengah direncanakan Mark. Ia sama sekali tidak bisa memprediksinya.

Somi sudah lelah melihat kegelisahan suaminya yang tidak berarti ini.

"Kulihat ia sudah cukup dibuat lelah oleh istrinya yang liar itu," komentar Somi.

"Tidak. Itu tidak mungkin," Jungwoo gusar, "Aku melihat sendiri mereka."

"Apa yang kaulihat?" tanya Somi. "Mereka berdua berkasih-kasihan?"

"Ya," jawab Jungwoo, "Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku."

"Jungwoo, Jungwooku yang malang," desah Somi, "Mengapa engkau begitu mudah dipengaruhi Mark? Tak heran kau begitu takut pada Mark."

"Kau tidak mengenal Mark," sergah Jungwoo, "Kau sama sekali tidak memahami Mark!"

"Ya, aku tidak mengenal Mark," Somi sependapat, "Namun aku tahu ia menikahi Jaemin hanya untuk mengganjalmu." Kemudian ia menegaskan, "Tidak pernah ada cinta di antara mereka dan tidak mungkin ada."

"Aku melihat mereka sendiri," sergah Jungwoo.

"Kalau Mark memang mencintai Jaemin, mengapa sampai sekarang ia belum mengajak Jaemin pergi berbulan madu? Mengapa ia malah mengurung Jaemin?"

"Mark sibuk," kata Jungwoo membela, "Ia pasti akan mencari waktu yang tepat untuk berbulan madu."

"Apakah kau akan mengurung istri yang kaucintai?" potong Somi, "Semua membicarakannya, Jungwoo, untuk apa kau masih berkeras kepala? Seisi Viering mengetahuinya. Mark tidak pernah mengijinkan Jaemin meninggalkan Fyzool. Bagaimana mungkin Mark mengurung Jaemin di Istana kalau ia memang mencintai Jaemin? Bahkan hampir setiap saat mereka bertengkar. Semua pernah mendengar pertengkaran mereka. Apa mungkin mereka saling mencintai kalau mereka sering bertengkar sehebat itu? Mereka sama sekali bukan pasangan yang serasi juga bukan pasangan yang saling memahami. Mereka justru terlihat seperti sepasang musuh bebuyutan."

"Aku juga mendengar Earl of Hielfinberg melarang putrinya pulang ke Schewicvic. Ia juga tidak pernah mengunjungi Jaemin. Menurutmu apakah yang ada di balik semua ini? Kalau memang ia merestui pernikahan mereka, ia pasti tidak akan memperlakukan Jaemin seperti putri durhaka. Jaemin pasti telah memanfaatkan persahabatan ayahnya dengan Grand Duke untuk mendapatkan posisinya saat ini. Jaemin tidak selugu yang kaulihat. Percayalah aku mengenal banyak gadis seperti itu."

"Tetap saja itu tidak berarti Mark tidak sedang merencanakan sesuatu!"

"Ia sudah bukan lagi merencanakan sesuatu!" Somi kesal, "Ia sudah menjalankannya. Apa kau tidak bisa melihatnya!?"

Jungwoo mengacuhkan istrinya dan meraih koran yang lain.

Somi mendesah panjang melihat suaminya membolak-balik koran dengan panik seperti menanti kabar kematiannya sendiri itu.

"Jungwoo," ia berdiri di belakang Jungwoo dan merangkulkan tangannya di dada pria itu. "Temani aku." Dengan suara manjanya, Somi merayu, "Aku ingin pergi ke Loudline. Temani aku berbelanja."

"Kau ingin membeli apa?" Jungwoo menarik Somi ke pangkuannya. "Katakan sayangku, apa yang bisa kubelikan untukmu untuk mempercantikmu?"

"Aku hanya akan mempercantik diriku untukmu seorang," Somi mencium Jungwoo.

"Aku ingin kau terlihat cantik setiap saat. Kau adalah wanita tercantik dan terhebat yang pernah ada di dunia ini," Jungwoo memeluk istrinya. "Segeralah bersiap-siap."

Begitulah akhirnya mereka berada di pusat perbelanjaan Loudline beberapa saat setelahnya.

Berada di pusat Loudline dapat membuat Jungwoo melupakan kegelisahannya. Somi pun juga menikmati waktunya. Dengan kekayaan Duke of Binkley, tidak ada yang tidak bisa dibelinya. Ditambah kekuasaan Jungwoo yang masih bergelar Putra Mahkota Viering, tidak ada yang tidak bisa didapatkannya.

Somi menyukai kehidupan barunya ini.

Matanya memang tidak salah. Ketika ia bertemu Jungwoo untuk pertama kalinya di Dristol, ia tahu masa depannya akan berubah bila ia berhasil menggaet pria ini. Ia berhasil! Sekarang ia adalah wanita nomor dua di Viering, Duchess of Binkley! Dengan kekuasaannya sebagai satu-satunya calon ratu setelah Jaemin, siapa yang berani mengusiknya?

Ketika berada di Loudline itulah, Somi mendengar kabar ini. Jaemin menghilang dari Fyzool! Pihak Istana tidak tahu bagaimana ia bisa menghilang dari penjagaan mereka yang ketat. Tidak seorang pun punya ide bagaimana Jaemin pergi tanpa diketahui seorang pun.

Somi tahu. Ia tahu gadis itu pergi ke mana. Bukankah wanita bangsawan selalu seperti ini? Melompat ke pelukan pria lain walaupun ia sudah bersuami.

Yang paling menarik adalah sikap Mark. Pria itu sama sekali tidak peduli oleh kepergian Jaemin. Ia malah pergi ke rumah Grand Duke untuk merayakannya.

Tampak jelas bagi Somi, Mark tidak menikahi Jaemin karena cinta. Cerita di balik pernikahan mereka adalah murni omong kosong!

Somi menoleh pada Jungwoo yang tidur nyenyak di sisinya.

Ia akan membuktikan pada Jungwoo. Ia akan membuat Jungwoo sadar Mark sedang berusaha mematahkan jalannya menuju tahta.

Somi membunyikan bel.

Berdiri telanjang di depan cermin, Somi mengagumi kulit halusnya. Ia mencintai tubuh moleknya yang telah menaklukan banyak pria. Ia mengagungkan wajah cantiknya yang telah merebut hati banyak pria.

"Aku adalah orang yang pantas menjadi Ratu Viering," ia berkata pada dirinya sendiri.

Somi baru saja mengenakan baju tidurnya ketika pelayan datang.

"Adalah yang bisa saya lakukan?"

"Siapkan kereta dan panggil orang untuk membantuku."

Pelayan itu mendengus tidak senang dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Somi mengacuhkan pelayan tidak tahu diri itu. Semua orang sama saja! Mereka tidak menghormatinya.

Somi sering mendengar orang-orang membicarakan dirinya.

Ketika Jungwoo tidak berada di sisinya, mereka menghina, mengacuhkan bahkan tidak memandangnya sama sekali.

Somi tidak mau ambil pusing. Dengan kedudukannya sebagai Duchess of Binkley, siapa yang berani melawannya? Selama ia masih seorang Duchess of Binkley, setiap orang harus tunduk padanya!

-0-

Mark memandang ke luar jendela.

Jaemin sudah membuat keributan lagi di halaman belakang Fyzool.

Hari ini adalah waktu rutin merawat halaman Fyzool.

Sejak pagi Jaemin sudah melepas gaun mahalnya beserta perhiasan-perhiasannya yang indah. Tanpa mempedulikan pelayan-pelayan yang berusaha menghentikannya, Jaemin bergabung dengan para pekerja yang sudah mulai terbiasa oleh gangguan Jaemin.

Jaemin tampak akrab dengan mereka bahkan tanpa ragu-ragu menyuruh prajurit pengawalnya turun tangan.

Mark tersenyum. Dengan caranya sendiri, gadis itu merebut hati setiap penghuni Fyzool.

Hari ini Mark bisa lega. Jaemin akan sibuk sepanjang hari hingga tidak punya waktu untuk kabur.

"Paduka."

Mark membalikkan badan.

"Duchess of Binkley minta bertemu Anda," pelayan pria itu memberitahu dengan hati-hati.

Mark membelalak. Apa wanita itu hanya datang untuk merusak harinya!?

Pelayan itu memperhatikan perubahan wajah Mark. Seisi Viering tahu Somi adalah hal yang sensitive bagi Mark.

"Apakah saya harus mengatakan Anda sibuk?"

Mark tidak menanggapi.

Mengusir Somi tampaknya adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. Somi harus tahu walau ia sudah menjadi Duchess of Binkley, di matanya ia tidak lebih dari seorang pelacur!

Mark memandang kebun.

Jaemin tampak menikmati kesibukannya merapikan semak-semak.

'Apa yang akan dilakukan Jaemin?' ia bertanya-tanya.

Gadis itu mungkin akan langsung menerjang Somi dan memakinya. Tidak, itu pasti! Gadis itu pasti akan melakukannya.

Mark tersenyum geli membayangkannya.

Pelayan itu kebingungan.

"Suruh dia menemuiku di Ruang Duduk."

"Baik, Paduka," pelayan itu langsung pergi.

Mark pun meninggalkan koridor menuju Ruang Duduk.

-0-

Nicci membawa keranjang besar di tangannya.

"Cepat! Cepat, Nicci. Cepat!" Jaemin memanggil tidak sabar.

Semua orang tersenyum.

"Tampaknya Anda sudah tidak sabar, Paduka Ratu," ujar seseorang.

"Tentu saja!" sahut Jaemin, "Aku harus segera mengumpulkan bunga-bunga ini sebelum ia rontok."

Nicci menyerahkan keranjang itu pada Jaemin.

"Aku sungguh tidak menyangka aku bisa menemukan bunga kesukaan Mama di sini," tangan Jaemin sibuk memasukkan bunga-bunga yang telah dipetiknya ke dalam keranjang, "Aku harus segera merangkai dan mengirimnya ke Schewicvic. Mama pasti akan gembira."

"Paduka Ratu memang gadis yang baik," puji yang lain.

"Paduka Ratu," kata Nicci, "Saya mempunyai berita yang pasti tidak akan Anda percayai."

"Apa itu, Nicci?" seorang wanita berkata tidak sabar.

"Cepat katakan!" kata pelayan yang lain.

"Duchess of Binkley datang!"

"Ia datang!?" mereka terpekik tidak percaya.

"Sekarang Paduka Raja pergi menemuinya," Nicci memberitahu.

"Akhirnya ia datang juga," gumam Jaemin puas. "Di mana dia?"

Jaemin tidak sabar ingin bertemu wanita yang menyebabkan nasib sialnya ini. Ia sudah tidak sabar ingin mencaci maki wanita yang tidak tahu diri itu. Kekesalannya sudah hampir meluap dan perlu segera disalurkan.

"Mereka berada di Ruang Duduk."

Jaemin langsung bergegas.

"Tunggu dulu!" Nicci menahan Jaemin, "Anda tidak bisa ke sana seperti ini."

"Aku tidak punya banyak waktu," Jaemin menegaskan.

"Anda tidak ingin terlihat kacau seperti ini, bukan?" tanya Nicci, "Anda harus tampil selayaknya seorang Ratu Viering."

"Benar, Paduka Ratu," yang lain mendesak, "Anda tidak boleh tampil seperti ini di hadapan Duchess."

"Ia harus tahu Anda lebih pantas menjadi Ratu Viering," timpal yang lain.

"Ia benar-benar buruk. Tidak seorang pun di Arsten yang menyukainya."

Jaemin melihat pelayan itu.

"Benar, Paduka Ratu," seorang pekerja kebun membenarkan, "Saudara saya bekerja di Arsten. Ia mengatakan Duchess benar-benar tidak tahu diri. Sikapnya itu benar-benar membuat muak. Ia seenaknya saja memerintah orang lain. Ia belum menjadi Ratu namun sikapnya sudah seperti seorang Ratu. Ia sudah lupa dulunya ia juga wanita biasa. Ia tidak berdarah biru dan tidak akan pernah berdarah biru!"

Jaemin melihat pria itu.

"Anda tidak boleh kalah dari wanita rendah itu," yang lain menegaskan.

Mereka benar. Ia tidak bisa tampil seperti ini terutama di hadapan Somi. Ia tidak akan membiarkan wanita itu menertawakannya.

"Cepatlah," Jaemin menarik tangan Nicci, "Segera siapkan air mandi dan gaun gantiku. Aku tidak punya banyak waktu."

"Baik, Yang Mulia," para pelayan wanita yang berada di tempat itu langsung bergerak.

"Kami akan mengumpulkan bunga-bunga itu untuk Anda, Paduka Ratu," kata para pekerja kebun.

"Terima kasih," Jaemin tersenyum gembira dan menarik Nicci ke dalam.

Kedua pengawal Jaemin juga bergegas mengekor.

Para pekerja kebun itu saling tersenyum.

"Paduka Ratu memang masih anak-anak," kata seorang di antara mereka.

"Namun ia jauh lebih baik dari Somi. Aku lebih suka Paduka Ratu daripada wanita rendahan itu," tegas yang lain.

-0-

Mark melihat Somi duduk di sofa di tengah ruangan. Ia merasa jijik melihat wanita itu dengan dandanannya yang mencolok. Bibirnya dipoles merah terang. Pipinya pun tidak kalah merahnya. Tampaknya ia ingin semakin menonjolkan rambut merahnya. Gaun yang yang dikenakannya pun tidak kalah menonjolnya. Potongannya yang rendah memamerkan dadanya yang penuh.

'Benar-benar wanita rendahan,' Mark berkata pada dirinya sendiri.

Somi langsung berdiri begitu melihat Mark tiba.

"Ada apa kau mencariku?" tanya Mark langsung pada tujuan.

"Saya mempunyai satu pertanyaan. Apakah itu benar?" tanya Somi tanpa basa-basi, "Pernikahan Anda dengan Paduka Ratu tidak akur. Kalian sering bertengkar bahkan kemarin saya mendengar Paduka Ratu kabur."

"Ia tidak kabur," Mark meralat, "Ia hanya pergi ke Mangstone. Ia sudah kembali."

Somi hanya menatap Mark dengan penuh kecurigaan.

Mark dapat memaklumi bila Somi masih belum mendengar Jaemin sudah kembali ke Istana. Hari sudah larut ketika mereka tiba di Fyzool. Mark tidak ingin membuat perhitungan dengan Jaemin dan ia membiarkan gadis itu langsung kembali ke kamarnya. Ia sendiri juga langsung menuju kamarnya untuk beristirahat.

"Jaemin masih berdandan di kamar. Tak lama lagi ia pasti akan muncul," Mark berkata sambil berharap.

"Benarkah itu?"

"Apakah kaukira aku sedang berbohong?" Mark tidak suka cara wanita itu menatapnya. Wanita itu benar-benar merendahkannya dan itu membuatnya semakin muak. "Kami mendengar kabar kedatanganmu bersamaan."

"Saya mendengar kalian pisah kamar," Somi terus mengutarakan keyakinannya.

"Kau terlalu mempercayai gosip," Mark berkelit.

Mark berharap Jaemin akan segera muncul. Belum lima menit ia menghadapi wanita ini tapi ia sudah lelah. Ia membutuhkan bantuan. Ia tidak dapat menyuruh seseorang untuk memanggil Jaemin. Satu-satunya yang menjadi harapannya adalah Jaemin mendengar dari seseorang bahwa Somi datang.

Mark yakin Jaemin akan muncul begitu ia mendengar Somi datang. Ia percaya!

Baru saja Mark berkata seperti itu ketika pintu terbuka.

"Saya tidak menduga akhirnya saya bisa berjumpa dengan Anda," kata Jaemin begitu ia muncul, "Saya sudah menantikan perjumpaan ini sejak lama."

Kedatangan Jaemin benar-benar membuat Mark lega. Tekanan yang ditanggungnya ketika menghadapi Somi tiba-tiba saja hilang tanpa bekas. Ia merasa Jaemin telah membawa pergi tekanan yang ditanggungnya selama ia menahan diri untuk bersikap sopan pada wanita yang jelas-jelas tidak disukainya ini.

"Aku banyak mendengar sepak terjangmu. Kau benar-benar terkenal sejak kabar pernikahanmu yang menghebohkan itu. Seluruh dunia membicarakannya. Pernikahanmu benar-benar membuka lembaran baru sepanjang sejarah Viering," Jaemin melanjutkan tanpa memberi kesempatan pada Somi untuk membuka mulut. "Sayang sekali kalian sudah berada di luar negeri ketika kami mengetahuinya. Andai saja kalian masih ada di sini, kami pasti akan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahan kalian. Aku yakin kau pasti menginginkan pesta yang meriah dan mewah seperti pesta pernikahanku, Somi."

Jaemin berhenti sejenak seolah-olah menyadari sesuatu, "Kau tidak keberatan aku memanggilmu Somi, bukan?"

Somi geram. Gadis itu sengaja mengungkit-ungkit pernikahannya! Ia sengaja menyindir pernikahannya yang diadakan secara rahasia itu! Ia berkata seolah-olah pernikahannya adalah skandal yang memalukan Viering. Bagaimana mungkin gadis ingusan ini berkata sekurang ajar itu padanya? Gadis itu hanya putri seorang Earl sebelum ia menikah dengan Raja Mark. Tidak lebih dari itu!

"Tidak, tentu tidak, Paduka Ratu."

Jaemin tersenyum manis – membuat Somi kian geram.

Mark menahan tawa gelinya melihat wajah merah Somi yang menahan kesal. Memang sudah seharusnya Jaemin yang dimajukan untuk menghadapi Somi. Gadis itu jauh lebih tahu bagaimana menghadapi wanita seperti Somi.

Somi merasa ia sudah tidak perlu berbasa-basi. "Saya dengar pernikahan kalian ini direncanakan mendadak. Saya rasa kalian menikah untuk mencegah Jungwoo naik tahta," kata Somi langsung pada tujuan.

"Aku?" Mark bertanya heran, "Apakah kau kira kami menikah gara-gara kalian?" Mark merangkul pundak Jaemin.

Jaemin terkejut.

"Apakah kau kira aku adalah orang seperti itu?" Mark bertanya tidak senang.

Jaemin langsung menyadari suasana.

"Siapakah yang mau menikah tanpa cinta? Memangnya kau siapa sehingga kami harus menikah karena kalian?" Jaemin bertanya sambil merapatkan dirinya pada Mark. "Aku mencintai Mark. Ia adalah segalanya bagiku."

Jaemin menatap Mark penuh kasih dan ia melingkarkan lengannya di leher Mark.

Mark membalas pelukan Jaemin dengan menurunkan tangannya di pinggang Jaemin.

Somi melihat sepasang pengantin baru itu memulai adegan mesra mereka dan ia merasa muak. Tanpa berkata apa-apa lagi ia meninggalkan tempat itu.

Jaemin mendengar pintu terbuka dan sesaat kemudian tertutup. Ia segera menjauhkan diri dari Mark dengan kesal.

"Aku tidak percaya!" dengusnya, "Aku tidak percaya aku mengatakan kalimat menjijikkan itu!"

Mark tersenyum sinis melihat gadis itu mengomel sendiri. "Kau cukup meyakinkan sebagai seorang pemula."

Jaemin langsung menatap tajam pria itu. "Aku sungguh tidak percaya semua ini!" serunya, "Ini benar-benar gila! Kau membuat aku bertingkah seperti… seperti…" Jaemin tidak dapat mengutarakannya.

"Seperti pelacur?" sambung Mark mengejek.

"Dan kau bersuka cita atasnya!" Jaemin murka melihat kesenangan dalam mata pria itu.

Mark tertawa geli.
"Gila! Ini benar-benar tidak masuk akal," komentar Jaemin, "Pernikahan ini benar-benar konyol!"

Tawa Mark langsung menghilang. Ia mencengkeram tangan Jaemin dan menatapnya dengan tajam. "Kuperingatkan kau," katanya berbahaya, "Jangan bertindak macam-macam."

"Dan mempermalukan diriku sendiri lebih dalam?" sambung Jaemin tidak senang, "Membiarkan diriku dalam bulan-bulanan koran? Menyeret diriku sendiri dalam gosip terbesar abad ini?"

Mark terdiam mendengar nada tidak senang dan terluka Jaemin.

"Tidak. Terima kasih," sambung Jaemin, "Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi korban lebih dalam lagi."

Mark melepaskan Jaemin.

"Terima kasih," Jaemin balas mengejek Mark, "Suamiku yang tercinta."

Mark tidak memberi tanggapan apa-apa.

Jaemin pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah.

"Aku benci gadis ingusan itu! Aku benci!" teriak Somi.

"Iya… Iya…"

"Beraninya ia menyindirku!? Beraninya ia menyindir pernikahanku!? Memangnya siapa dia!? Mentang-mentang pernikahannya lebih mewah dariku, ia bisa mengatakan aku seperti itu!? Gadis ingusan itu tidak pantas menjadi seorang Ratu! Viering! 'Aku sudah lama ingin bertemu denganmu'. Apanya yang sudah lama!? Jelas-jelas ia tidak ingin bertemu denganku. 'Bolehkan aku memanggilmu Somi?'. Memangnya siapa dia!? Bisa-bisanya dia berlagak akrab. Ia kira aku tidak tahu ia memandang rendah padaku? 'Aku yakin kau juga menginginkan sebuah pesta pernikahan yang meriah'. Kalau iya memangnya mengapa!?"

Todd mengangguk-angguk.

"Dia sama sekali tidak pantas menjadi seorang Ratu. Akulah yang paling pantas menjadi Ratu Viering!"

"Lalu," Todd menekuk sikunya di atas bantal dan mengawasi wajah cantik Somi yang dinodai kemarahan itu, "Apa yang akan kaulakukan?" Todd memegang dagu Somi. "Wajahmu yang cantik ini tidak pantas dinodai oleh kemarahan."

"Hentikan, Todd!" Somi menepis tangan Todd. "Sekarang aku bukan Somi yang dulu!"

"Wah… wah…," komentar Todd, "Setelah menjadi seorang Duchess, sekarang kau menjadi sombong."

"Justru karena aku adalah seorang Duchess, aku harus menjaga sikapku!" Somi menegaskan.

"Oh ya?"

"Jangan meremehkan aku!" Somi marah.

"Lalu, mengapa kau ada di sini?"

"Apa kau tidak suka aku mengunjungimu?" Somi berkata dengan genitnya. Ia memiringkan badannya menghadap Todd.

"Bagaimana dengan sang Duke of Binkley?" tanya Todd tertarik.

"Ia tidak lebih dari sebuah alat bagiku. Ia hanya kumanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dan kau, kau adalah petualangan liar. Duke bodoh itu tidak bisa memberikan apa yang bisa kauberikan padaku."

"Dan ia bisa memberimu apa yang tidak bisa kuberikan padamu."

Somi menindih tubuh telanjang Todd.

"Ia mempunyai uang dan kekuasaan tapi ia adalah seorang pria bodoh yang penakut. Kau adalah seorang pria cerdas yang pemberani. Hanya kau yang bisa memberikan kepuasan padaku. Tapi kau tidak bisa mendapatkan hatiku."

"Kau kira aku tidak tahu?" tanya Todd, "Tidak akan ada yang pernah mendapatkan hatimu. Kau cantik tetapi kau juga berbahaya."

Somi mendaratkan ciuman ganasnya di leher Todd.

"Inilah yang kusuka darimu," Todd membalas ciuman wanita itu, "Hatimu hanya milik ambisimu."

Keduanya pun kembali bergulat pada petualangan liar mereka yang terlarang.

Sementara itu di kediamannya, Jungwoo terkejut mendapati Somi tidak ada di sisinya ketika ia terbangun. Ia semakin panik ketika mengetahui dari pelayan Somi pergi ke Istana Fyzool untuk menemui Mark.

Ia sudah memperingati wanita itu untuk tidak mendekati Fyzool. Ia sudah memberitahunya untuk tidak menemui Mark.

Dari pertemuannya dengan Mark yang terakhir, Jungwoo tahu Mark pasti akan membunuh Somi bila ia mempunyai kesempatan. Sekarang Somi malah pergi menemui pemua itu. Ini sama saja dengan pergi mengirim nyawa ke dunia lain!

Jungwoo benar-benar cemas. Ia tidak berani ke Fyzool. Ia tidak berani menganggu Mark. Tidak ketika Mark sedang marah besar.

Ia pernah menjadi seorang sosok kakak yang dikagumi Mark. Namun sekarang ia hanyalah seorang makhluk yang tidak berarti di mata pemuda itu. Mark telah melampauinya.

Mark adalah seorang Raja dan ia hanyalah seorang Duke. Mereka bukan lagi sepasang saudara yang bermain bersama dengan riangnya.

-0-

Jaemin bersin.

"Anda sakit, Paduka Ratu?" seorang pelayan melihat Jaemin.

Jaemin terus bersin tanpa henti.

"Gawat," Nicci cepat-cepat memegang dahi Jaemin, "Apakah Anda demam? Apakah Anda sakit?"

Seorang pria tua menghentikan gerakan gunting rumputnya. "Sudah hampir musim gugur 'kan?"

Semua orang langsung melihat Jaemin lalu ke Nicci.

Nicci melihat gaun Jaemin yang memamerkan pundaknya yang putih. "Setelah menemui Duchess, Paduka Ratu memaksa langsung ke sini. Ia tidak mau berganti baju," katanya bersalah.

"Siapa yang mau berganti baju!?" Jaemin diingatkan paksaan Nicci di saat suasana hatinya sedang buruk. Mau tak mau kemarahannya bangkit lagi. "Pria sial itu sudah merusak suasana hatiku. Di saat begini apa aku masih punya waktu memikirkan ganti baju!?"

Mereka semua tertawa geli.

"Anda bertengkar lagi dengan Paduka," kata seorang pelayan.

"Sepertinya kalian tidak bisa tidak bertengkar," timpal yang lain.

"Katakan itu pada Mark!" Jaemin geram, "Ia selalu mencari perkara. Setiap saat ia hanya bisa memarahi orang."

"Paduka Raja bukan orang seperti itu," seorang pelayan tersenyum penuh arti.

"Ia adalah orang yang sabar," kata yang lain.

"SABAR!?" Jaemin naik darah, "Setiap saat ia mencari kesalahanku. Setiap kali ia mencari kesempatan untuk memarahiku. Kalian mengatakan ia sabar."

"Hanya kepada Anda," pria tua itu kembali melanjutkan pekerjaannya memotong rumput.

Jaemin tertegun.

"Dulu Paduka adalah orang yang periang. Kami semua menyukainya. Namun semenjak kepergian orang tuanya, ia berubah," kata pria itu.

"Hubungannya dengan Duke Jungwoo pun berubah."

Jaemin langsung menoleh pada pelayan yang mengatakan hal itu.

"Duke Jungwoo dan Paduka adalah teman dekat. Ke mana pun mereka berada, mereka selalu berdua. Paduka selalu mengagumi Duke Jungwoo. Ia memujanya sebagai idolanya. Mereka berdua benar-benar akrab," wanita itu melanjutkan.

"Perlahan-lahan Paduka Raja berubah," timpal yang lain, "Ia menjadi seorang yang serius dan dingin. Kami menjadi jarang melihat senyumnya. Ia juga tidak pernah sembarangan menunjukkan kemarahannya. Ia tahu benar bagaimana mengendalikan perasaannya."

"Sekarang Paduka sudah mulai kembali ke masa kecil Paduka," pria tua itu tersenyum penuh arti, "Hanya kepada Anda, Paduka bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya."

"Hanya kepadaku," dengus Jaemin tidak percaya.

"Tampaknya Paduka benar-benar mencintai Anda," timpal yang lain.

"Cinta padaku!?" Jaemin memekik jijik, "Benar-benar membuat orang semakin kesal."

Mereka semua tersenyum.

Nicci terperanjat. Ia harus segera bertindak sebelum Jaemin membuka sendiri kebohongan di balik cerita cinta mereka.

"Sudah cukup, Paduka Ratu," Nicci memegang tangan Jaemin, "Sekarang Anda harus kembali. Saya tidak mau disalahkan kalau Anda sakit."

Jaemin terperanjat. "Lepaskan aku, Nicci. Aku masih belum selesai."

"Nicci benar, Yang Mulia," kata orang-orang itu, "Kami tidak mau Anda jatuh sakit."

"Masalah bunga-bunga ini," seorang wanita mengangkat keranjang bunga Jaemin dari tanah, "Serahkan pada kami."

"Kami akan mengumpulkan bunga-bunga yang terbaik untuk Anda."

Jaemin tersenyum. "Terima kasih," katanya kemudian membiarkan Nicci membawanya ke dalam Istana.

Orang-orang itu tersenyum melihat kepergian Jaemin yang setengah ditarik Nicci diikuti para pengawalnya.

"Grand Duke telah memilih istri yang tepat untuk Paduka Raja," komentar pria tua itu tanpa menghentikan gerakan tangannya yang terampil membentuk semak-semak halaman Fyzool.

Jaemin tertarik kerumunan di halaman belakang Fyzool. Ia ingin tahu apa yang sedang ditonton oleh kerumunan yang kebanyakan adalah para gadis itu. Tanpa berpikir panjang, Jaemin melangkahkan kakinya ke kerumunan itu.

"Paduka Ratu!" Nicci lekas mengejar.

Kedua prajurit yang selalu mengawal Jaemin pun langsung mengekor.

Jaemin menerobos kerumunan itu untuk berada di depan.

Mark sedang bermain pedang dengan seorang prajurit. Dengan gerakan-gerakannya yang anggun, ia memukau para penontonnya. Para gadis itu berteriak histeris ketika Mark berada dalam posisi terjepit dan mereka berseru senang ketika Mark mengambil alih keadaan.

Jaemin membuang mukanya. Apa bagusnya menonton pria ini? Dan mengapa pula para gadis ini harus berteriak histeris seperti ini?

"Paduka Ratu," Nicci akhirnya berhasil kembali ke sisi Jaemin dan ia mengeluh, "Jangan tiba-tiba lari seperti ini."

"Mari kita pergi," Jaemin menarik tangan Nicci, "Tidak ada yang menarik di sini."

Nicci melihat Mark yang sedang bermain pedang. "Paduka Raja tampak sangat mahir," pujinya.

"Ia tidak jauh lebih baik dariku."

Mark mendengar komentar itu.

"Mari kita buktikan!" Mark melempar sebuah pedang pada Jaemin.

Semua orang kaget. Nicci langsung berlindung di belakang Jaemin.

Jaemin menangkapnya. "Ide bagus," ia menerima tantangan Mark.

"Paduka Ratu," pelayan Jaemin itu cemas.

"Menyingkirlah, Nicci," perintah Jaemin.

Senyum di wajah Mark mengejek Jaemin.

"Apa kau kira aku takut padamu?" Jaemin tidak suka cara pria itu mengejeknya.

Dalam waktu singkat mereka terlibat duel yang seru. Suara pedang mereka yang saling bertautan memanggil setiap orang yang mendengarnya untuk mendekat.

"Permainan pedangmu cukup bagus," puji Mark tanpa meninggalkan nada-nada mengejeknya.

"Kau juga tidak jelek," Jaemin membalas pujian yang mengejek itu.

"Sayangnya kau tidak bertenaga."

Jaemin tidak menyukai ejekan itu. Tetapi Jaemin juga mengakui permainan pedangnya tidak dapat mengimbangi permainan Mark.

Jaemin bukanlah seorang yang lemah. Jaemin sering bermain pedang dengan ayahnya dan ayahnya sering memuji permainan pedangnya. Jaemin juga yakin ia akan dapat mengalahkan Mark.

Gaun panjangnyalah yang menghambat gerakannya. Jaemin tidak dapat bergerak dengan leluasa tanpa mengkhawatirkan kakinya menginjak ujung gaunnya. Jaemin tidak dapat bergerak seperti keinginannya tanpa memperhatikan gaun sutranya yang mengganggu itu.

Mark menyudutkan Jaemin ke sebuah batang pohon.

Jaemin menahan pedang Mark sekuat tenaganya.

"Ada apa, Jaemin?" ejek Mark, "Ke mana semangatmu yang meluap-luap itu."

Jaemin kesal. "Aku tidak selemah itu!" Jaemin mengangkat lututnya dan menghantamkannya sekuat tenaga ke perut Mark.

Mark merintih kesakitan.

"Tunggu di sini!" Jaemin menggunakan kesempatan itu untuk menghindari Mark.

"Ada apa? Apa kau takut?" ejek Mark sambil memegangi perutnya.

"Aku tidak takut padamu!" Jaemin melempar pedang di tangannya.

Semua orang menjerit panik.

Mark menghindar tepat sebelum pedang itu menyentuh wajahnya.

Pedang Jaemin tertancap di batang pohon.

Jaemin geram melihatnya. "Jangan tinggalkan tempat ini sebelum aku datang!" serunya lalu ia berlari menerobos kerumunan orang yang memperhatikan mereka dengan tertarik itu.

"Benar-benar gadis liar," gumam Mark sambil tersenyum penuh arti.

"Paduka," Grand Duke Taeil mendekat.

"Ada apa?" tanya Mark.

"Saya mohon hentikanlah permainan yang berbahaya ini," pinta Grand Duke, "Paduka Ratu tidak tahu apa yang sedang dimainkannya. Ia masih anak-anak."

"Jangan khawatir, Taeil," Mark mencabut pedang Jaemin, "Kau juga melihatnya bukan? Dia bukan sekadar menggerakkan pedang. Ia cukup terlatih untuk permainan ini."

"Tetapi, Paduka."

"Aku tidak akan mencelakakan Jaemin," kata Mark, "Aku hanya ingin menghilangkan kebosanannya itu."

Grand Duke Taeil tersenyum.

"Permainan ini tidak akan berhenti dengan cepat," kata Mark lagi, "Kau tentu bersedia membantuku."

"Tentu, Paduka," Grand Duke mengerti permintaan itu, "Hari ini saya akan mewakili tugas Anda mempersiapkan hal itu."

Mark tersenyum. "Bubarkan orang-orang ini. Aku tidak suka ditonton seperti ini. Kami bukan tontonan yang menarik."

"Saya mengerti, Paduka," Grand Duke Taeil membungkuk lalu ia mundur dari sisi Mark.

Bersama beberapa prajurit, Grand Duke menghalau orang-orang itu.

Jaemin berlari mendekat.

Mark tersenyum penuh arti melihat tubuh mungilnya yang terbungkus baju ketat berkudanya.

"Apa? Kau tidak suka?" Jaemin tidak menyukai senyuman itu, "Maaf, aku tidak pernah ingin mengikuti seleramu. Hanya ini yang bisa kutemukan."

"Aku tidak mengatakan apa-apa," Mark membela diri.

"Benar. Tapi senyummu itu sudah menjelaskan semuanya," balas Jaemin kesal.

Mark mengabaikan pernyataan itu. "Kau sudah siap?" ia melempar pedang itu ke Jaemin.

"Kapan pun kau siap," Jaemin menangkap pedang itu dan bersiap siaga.

Grand Duke memperhatikan kedua orang yang mulai terlibat dalam permainan pedang yang seru itu.

Grand Duke tahu Jaemin tidak sekedar menggerakkan pedangnya. Jaemin memainkan pedangnya dengan bagus dan terencana. Jaemin tidak mempermaikan permainan pedang anak kecil. Ia benar-benar terlatih untuk itu.

Grand Duke juga tahu kemampuan Mark berada jauh di atas Jaemin tetapi Mark nampaknya terus mengalah pada Jaemin. Mark membiarkan Jaemin menguasai keadaan dan terus mengimbangi permainan lincah gadis itu.

Grand Duke tersenyum. "Permainan mereka tidak akan berhenti sebelum malam," gumamnya sambil meninggalkan tanah berumput itu.

Nafas Jaemin tersenggal-senggal. Ia sudah kehabisan tenaganya.

Seumur hidup tidak pernah Jaemin bermain pedang sepanjang hari seperti ini. Tidak seorang pun yang menantangnya bermain hingga matahari tenggelam. Bintang-bintang sore mulai keluar dari tempat persembunyiannya tetapi mereka masih belum berhenti.

"Kau tidak buruk," kata Mark juga tersenggal-senggal.

"Kau juga," balas Jaemin.

"Tidak," Mark menerjang.

Jaemin terkejut.

Mark memainkan pedangnya di pedang Jaemin, "Aku lebih baik darimu," pedang Jaemin terlempar dari tangan Jaemin.

Jaemin terperangah. Pedangnya jatuh tak jauh dari sisinya.

Mark tertawa puas.

Jaemin menatapnya dengan tajam.

"Kau benar-benar membuatku lelah," Mark menjatuhkan diri di atas rumput.

Jaemin menatap tajam pria itu.

"Hari sudah larut," kata Mark, "Sebaiknya kita berhenti."

Jaemin melihat langit malam yang bertaburan bintang dan membaringkan diri di sisi Mark.

Jaemin memperhatikan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Matanya terpejam merasakan angin sepoi-sepoi yang menari-nari di udara. Ketenangan sore ini benar-benar membuai dirinya. Jaemin ingin terus seperti ini – berbaring di atas rumput sambil menikmati semilir angin yang membuaikan diri. Dan kesunyian alam yang menenangkan hati.

Mark juga berdiam diri memperhatikan langit malam dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip di atasnya. Entah sudah berapa lamanya ia tidak menghabiskan banyak tenaga seperti ini. Gadis ini memang liar. Gerakannya sama sekali tidak terduga.

"Sudah waktunya kita kembali," Mark berdiri dan menoleh pada Jaemin.

Mata Jaemin terpejam rapat. Nafasnya naik turun dengan teratur.

Mark berlutut di sisi Jaemin. "Kau pasti kelelahan," tangannya terulur menyeka keringat di dahi Jaemin yang belum mengering. "Kau bisa sakit kalau kau tidur di sini," ia berkata lembut.

Jaemin sudah terbuai ke dalam dunia mimpinya.

Mark tersenyum. Ia membungkukkan badan, meletakkan kepala Jaemin di bahunya dan mengangkat tubuh gadis itu dari tanah.

"Bawa masuk pedang yang tergetak di kebun belakang," perintahnya pada prajurit pertama yang dilihatnya dan ia terus membawa masuk Jaemin.

Grand Duke Taeil melihat Mark mendekat sambil membopong Jaemin.

"Yang Mulia," Grand Duke mendekat dengan cemas.

"Tidak apa-apa," Mark menenangkan pria tua itu, "Ia hanya kelelahan."

Grand Duke memperhatikan mata Jaemin yang terpejam. Ia tampak begitu tenang dengan wajah tidurnya yang manis itu.

"Tampaknya beliau benar-benar kelelahan."

Mark tertawa. "Ia adalah Xena."

"Xena?" Grand Duke bertanya heran.

Mark tersenyum. "Tapi ia tetaplah seorang wanita," matanya memandang lembut gadis dalam gendongannya itu.

Grand Duke tertegun. Belum pernah ia melihat Mark tersenyum seperti itu. Belum pernah ia melihat sinar mata itu.

"Aku akan membawanya ke kamarnya."

"Silakan, Paduka," Grand Duke menepi – memberi jalan.

Grand Duke memperhatikan Mark yang berjalan menjauh sambil membopong Jaemin. Dalam hati ia berpikir, 'Pilihanku mungkin tidak salah.'

-0-

Jaemin terbangun oleh rasa lapar. Ia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan sekelilingnya dengan bingung.

"Kau sudah bangun?"

Jaemin tertegun melihat Mark duduk di kursi depan perapian.

"Mengapa kau di sini?" Jaemin tiba-tiba menyadarinya. Semenjak ia mengeluhkan sikap Mark yang seperti pengasuh yang selalu mau memastikan ia tidur, Mark hampir tidak pernah datang ke kamarnya. Dan tiba-tiba saja hari ini ia berada di sini dengan senampan teh dan makanan ringan.

"Apakah aku tidak boleh berada di dalam kamar istriku?" Mark menyelidiki.

"Tidak. Aku tidak bermaksud demikian," Jaemin membela diri, "Aku hanya merasa heran."

"Kau tertidur pulas seperti seekor babi kecil dan aku tidak tega membiarkanmu terbangun dengan perut lapar."

Jaemin terperangah. Perutnya berbunyi.

"Sudah kuduga kau akan kelaparan," Mark tersenyum geli.

Jaemin tidak suka cara pria itu berbicara. Ia membuang mukanya dengan angkuh dan melangkah ke pintu.

"Kau tidak mau menemaniku?" Mark bertanya heran, "Aku telah meminta mereka menyiapkan jatah untuk dua orang."

Langkah kaki Jaemin terhenti. Ia melihat Mark yang dengan tenangnya menyiapkan sebuah piring di depannya dan dengan tenang pula ia menuangkan teh dalam cangkir di depannya.

"Mereka akan kecewa kalau kau tidak menghabiskan jatahmu."

Dengan kesal Jaemin duduk di kursi panjang di depan pria itu.

"Tidak ada perdebatan," kata Mark santai, "Aku sudah sangat lelah."

Jaemin tidak menanggapi. Ia mengulurkan tangan mengambil cangkir yang telah diisi Mark untuknya. Saat itulah ia menyadari ia sudah berganti baju.

Jaemin melihat Mark dengan pucat. "Apa yang kaulakukan?"

Mark kebingungan.

"Mengapa aku sudah berganti baju!?" Jaemin ingat persis ia berbaring di sisi Mark di atas rumput dengan pakaian berkuda merah pemberian Renjun dan sekarang ia sudah mengenakan baju tidur coklat muda sutranya.

Mark tertawa geli.

Jaemin tidak suka mendengarnya. "Apa yang lucu!?" bentaknya kesal.

Tawa Mark langsung menghilang. Ia berdiri.

Jaemin dapat merasakan bahaya ketika pria itu mendekat. Ia bergeser menjauhi pria itu.

Mark sengaja memojokkan gadis itu di salah satu sudut kursi panjang itu. Satu tangannya memegang sandaran kursi dan satunya memegang pegangan kursi. Tubuhnya membungkuk pada Jaemin yang meringkuk di pojok.

Jaemin benar-benar terpojok di kursinya. Mark mengurungnya di antara dua tangannya. Ia tidak punya ruang untuk kabur.

"Katakan, istriku," Mark mendekatkan tubuhnya.

Jaemin tidak suka cara pria itu memanggilnya. Jelas sekali pria itu tengah mengejeknya!

"Apa kau mau memulainya?" Mark mendekatkan wajahnya.

"Memulainya?" Jaemin bingung.

"Bukannya kita belum pernah melakukannya sama sekali," Mark terus memperpendek jarak di antara mereka.

'Mark terlalu dekat!' sesuatu dalam diri Jaemin memperingatkan. Jaemin dapat merasakan hembusan nafas Mark. Ia dapat merasakan gerakan bibir Mark di atas bibirnya. Apa pun yang tengah dimainkan pria itu, Jaemin tahu ia harus segera mencari cara untuk melepaskan diri.

"Katakan," bisik Mark berbahaya, "Apa yang bisa kulakukan pada seorang babi kecil yang tidur pulas sepertimu?"

Jaemin marah. Ia membenci pria itu menyebutnya babi!

"Mulutmu bau," katanya dingin.

Jaemin termangu. Ia menatap sepasang mata biru yang kesal itu.

"Mulutmu bau," ulang Jaemin dengan tatapan mata dinginnya.

Mark tertawa geli. "Kau memang benar-benar pandai merusak suasana," pria itu menjatuhkan diri di sisi Jaemin.

"Apa katamu!?" Jaemin melayangkan tinjunya ke dada pria itu.

"Dan liar," Mark menangkap kedua tangan Jaemin.

"Kau yang," Jaemin terpesona. Ia tidak pernah melihat Mark tersenyum seperti ini padanya. Sepasang mata kelabunya menatapnya lembut bukan mengejek seperti biasanya. Mark benar-benar memberikan senyumnya yang menawan!

"Kau sungguh manis dengan pipimu yang memerah itu," tangan Mark memegang pipi Jaemin. Sekali lagi Mark mendekatkan wajahnya.

Jantung Jaemin berdebar kencang tanpa bisa dihentikan gadis itu. Sepasang mata birunya terus terpaku pada sepasang mata kelabu yang tersenyum lembut itu.

"Kuberitahu, istriku yang lugu," Mark berbisik di telinga Jaemin, "Pelayanlah yang membantumu berganti baju." Senyum di wajah Mark berubah menjadi senyum mengejek yang selalu ia tunjukkan.

Jaemin langsung sadar. Mark sedang mempermainkannya!

"Kau benar-benar menyebalkan!" Jaemin mendorong Mark.

Mark tertawa geli. Membuat Jaemin marah memang hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan setelah sepanjang hari berkutat dengan pekerjaan yang membosankan.

"Tidak lucu!" Jaemin berdiri dengan kemarahan yang memuncak. Ia benar-benar membenci pria ini!

"Duduk!" Mark menangkap tangan Jaemin.

Jaemin melihat sepasang mata Mark yang berkilat itu. Ia tahu Mark tidak suka ia pergi tanpa menghabiskan makanannya. Namun Jaemin sendiri juga sudah mencapai puncak kemarahannya. Maka, ia menebaskan tangan Mark. "Mengapa aku harus mendengarkanmu!?" katanya marah.

Mark terkejut. Ini kedua kalinya Jaemin meninggalkan makannya yang belum tersentuh sama sekali.

Jaemin tahu Mark pasti sudah menyuruh prajurit menjaga pintu kamarnya. Ia pasti telah memikirkan segala cara untuk tetap menahannya di dalam kamar. Namun ia tidak akan membiarkan pria itu terus menang.

Mark memperhatikan Jaemin yang berjalan ke beranda dengan kesal. Tiba-tiba ia sadar Jaemin sudah marah besar. Mark kesal ketika menyadari ia dibuat takut oleh kemarahan gadis itu.

Hingga saat ini ia tidak mengerti mengapa ia suka melampiaskan kepenatannya kepada Jaemin. Ia mengakui ia menikmati kemarahan gadis itu. Walaupun ia tidak menyukai keliaran gadis itu, ia benar-benar dibuat takut ketika gadis itu bersikap anggun.

Ia tidak mungkin lupa ketika Jaemin benar-benar marah pada hari itu. Hari itu adalah pertama kalinya Jaemin menghadiri pesta sebagai seorang Ratu Viering. Juga pertama kalinya Mark mengijinkan Jaemin keluar Fyzool.

"Aku tidak mau!" itulah reaksi pertama Jaemin ketika ia mengajukan syarat-syaratnya. "Kau tidak bisa memerintahku!"

"Kau harus ingat siapa yang berkuasa di tempat ini!" nada Mark meninggi, "Kau harus ikut!"

"Tanpa bantahan!" Mark menambahkan dengan tegas ketika melihat Jaemin akan membuka mulutnya, "Dan kuperingatkan kau, jangan berbuat yang macam-macam," Mark memberikan sinyal bahaya, "Aku tidak ingin kau mempermalukan aku!"

"Kau tidak bisa memerintahku!"

"Siapa yang mengatakannya? Aku adalah suamimu. Aku berhak mengaturmu!"

"Siapa yang memintanya!? Aku hanya kebetulan terpilih menjadi istrimu! Aku tidak pernah sudi menikah denganmu!" suara Jaemin meninggi. Jaemin kesal. Ia marah. Ia sudah tidak mau melihat pria itu lagi. Mati pun ia tidak akan sudi melihatnya!

Tanpa menanti jawaban Mark, Jaemin langsung meninggalkan ruangan itu. Ia akan menunjukkan pada pria itu bahwa ia bukan gadis yang bisa sembarangan diperintah. Akan ia tunjukkan ia bukan gadis yang bisa dipermainkan. Ia bukan seorang dari para penggemarnya yang terus berlomba-lomba untuk menunjukkan siapa yang paling pantas untuk menjadi pendamping Mark!

Dan keesokan sorenya, Mark puas ketika melihat Jaemin. Gadis itu tampak begitu memukau. Ia jauh lebih cantik dari saat pernikahannya. Ia jauh lebih anggun dari pesta pertunangannya. Dari aura yang ditebarkannya, Mark merasa gadis itu sudah menjadi sosok lain yang tidak dikenalnya.

Mark benar-benar puas. Ia tahu mengapa Arin tiba-tiba mengadakan pesta itu dan mengundang keduanya. Arin masih tidak dapat menerima keputusannya untuk menikah dengan gadis lain ketika mereka masih bersama. Arin tidak mengakui Jaemin! Ditambah dengan kelakukan Jaemin yang mulai menjadi bahan pembicaraan, Arin pasti ingin membuktikan pada dunia bahwa Jaemin tidak pantas menjadi seorang Ratu Viering. Namun dalam pesta itu Jaemin merebut perhatian semua orang. Ia menjadi seorang gadis muda yang bersinar paling cantik dan menawan dalam pesta itu.

Sayangnya, kepuasan itu tidak bertahan lama. Mark mulai merasakan kejanggalan ketika Jaemin bersikap angkuh kepada setiap undangan di pesta itu bahkan Renjun, sang kakak angkat kesayangannya. Ia baru benar-benar menyadari kejanggalan itu ketika Jaemin tetap bersikap kaku dan anggun keesokan harinya dan beberapa hari setelahnya.

Sepanjang hari Jaemin tidak terlihat berkeliaran di sekitar Fyzool. Ia tidak nampak ketika para pekerja kebun melakukan pekerjaan rutin mereka. Ia tidak terdengar muncul tiba-tiba di dapur. Ia tidak muncul seperti seorang pahlawan ketika Mark sedang memarahi seseorang. Ia tidak lagi kabur dalam pelajaran musiknya. Sepanjang hari Jaemin duduk di Ruang Musik memeriahkan suasana Fyzool dengan permainan pianonya yang lembut. Di lain waktu ia menemani tamunya sepanjang hari. Sikapnya yang berubah total itu membuat semua orang bingung dan membuat Mark panik.

Mark memerintahkan gadis itu untuk berhenti mengambek seperti seorang anak kecil namun gadis itu dengan polosnya bertanya,

"Mengambek? Siapakah yang sedang mengambek?"

"Berhentilah bersikap seperti ini!" Mark menegaskan.

"Maafkan saya, Paduka," Jaemin menyesal, "Saya sungguh tidak mengerti permintaan Anda."

"Berhentilah bersikap seperti ini. Kau membuatku muak."

"Apakah yang membuat Anda tidak puas, Paduka?" tanya Jaemin tidak mengerti, "Bukankah ini yang Anda inginkan dari istri Anda?" Jaemin menyeka bibirnya.

Mata tajam Mark tidak lepas dari Jaemn yang dengan anggun meletakkan sendok garpunya. Kemudian ia berdiri.

"Maafkan saya, Yang Mulia," kata Jaemin lembut, "Saya tidak dapat menemani Anda lebih lama lagi."

Mata Mark terus memperhatikan Jaemin yang berjalan dengan anggunnya menuju pintu. Dadanya membusung selayaknya seorang lady yang mengerti benar posisi dan kekuasaannya. Jaemin sudah menjadi sesosok yang tidak dikenalnya.

Mark juga meminta Grand Duke untuk menyampaikan pesannya pada Jaemin.

"Katakan pada gadis itu aku sudah tidak akan memaksanya," kata Mark kepada Grand Duke, "Katakan padanya untuk berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini."

Mark berharap setidaknya Jaemin akan mendengar pria yang dihormatinya itu. Namun ia salah, Jaemin tidak berhenti bersikap dingin dan anggun.

Mark tidak mengerti. Ia sama sekali tidak mengerti keadaan ini. Bukankah seharusnya ia senang dengan keadaan ini? Inilah istri yang diinginkannya! Seorang lady cantik yang anggun, pendiam dan penurut. Tetapi mengapa justru keadaan ini membuatnya tidak tenang? Mengapa ia justru merasa tersiksa. Ia merasa seperti sedang dihukum!

Mark geram. Ini semua gara-gara gadis itu! Ia pasti tengah merencanakan sesuatu yang membuatnya was-was. Tapi… apa yang telah dilakukan gadis itu? Ia telah menuruti perintahnya dengan bersikap anggun selayaknya seorang lady sejati. Hari ini pun ia tidak melakukan sesuatu yang merepotkannya. Kemarin ia juga tidak membuat ulah. Ia sudah menjadi sosok istri yang diinginkannya.

Sudah tujuh hari ini Jaemin bersikap manis. Mark tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia tidak bisa membiarkan keadaan yang menyiksa ini berlanjut terus menerus.

Mark mendengar dari Taeil. Renjun adalah orang yang membesarkan Jaemin tetapi Jisung adalah orang yang membentuk Jaemin yang sekarang. Satu-satunya cara untuk menghentikan Jaemin adalah memanggil kembali keliarannya itu.

Maka di malam ketujuh itu, Mark, setelah sekian lama absen, muncul di kamar Jaemin.

Jaemin sudah hampir tertidur ketika ia masuk.

Matanya yang setengah mengantuk melihatnya dengan bingung ketika ia membaringkan diri di sisi gadis itu.

"Apa yang kaulakukan!?" Jaemin terperanjat ketika Mark menarik tubuhnya. Sepasang mata birunya membelalak kaget.

"Menurutmu, apakah yang dilakukan istri penurut sepertimu terhadap permintaan suaminya yang mendesak?"

"Apa?"

"Kuberitahu, Jaemin," Mark menindih Jaemin, "Apa yang seorang lady sejati lakukan untuk suaminya."

"Kalau kau kesepian, jangan cari aku," Jaemin berkata dingin.

Mark bingung.

"Aku bukan pengasuhmu!" Jaemin mendorong Mark sekuat tenaganya.

Mark duduk di sisi Jaemin dan tertawa geli.

"Apa yang lucu!?" Jaemin bangkit.

Melihat wajah kesal gadis itu, Mark tahu ia membangkitkan kembali keliaran gadis itu. Setelahnya mereka memang bertengkar hebat namun Mark merasa lega. Jaemin telah kembali ke sifat aslinya.

Mark memutuskan! Ia harus melakukan sesuatu sebelum Jaemin memutuskan sesuatu yang akan menyusahkannya.

Tangan Jaemin memutar pegangan pintu serambi.

"Aku tidak akan melakukannya kalau aku adalah kau," tangan Mark menahan pintu.

Jaemin melihat pria itu dengan kesal.

"Atau aku akan membatalkan bulan madu kita?"

"Bulan madu?" Jaemin bertanya bingung, "Apa itu?"

"Jangan membuat usahaku sia-sia. Aku sudah bersusah payah menyisihkan waktu untuk membawamu pergi."

"Pergi!?" Jaemin berseru senang. "Kita akan pergi ke mana? Ke mana?"

Mark tersenyum geli melihat reaksi gadis itu. Ia benar-benar seperti seorang gadis kecil yang diberi permen.

"Ke Corogeanu," Mark menjawab.

"Corogeanu...?" mata Jaemin nanar.

"Ada apa?" Mark mengejek, "Apa kau takut ke Corogeanu?"

"T-tidak!" sahut Jaemin, "S-siapa yang takut!?"

Walaupun Jaemin berkata seperti itu, Mark tahu Jaemin berbohong. Ia melihat mata gadis itu menunduk ke lantai dan tangannya bertautan di depan dadanya. Mark yakin ia melihat tubuh gadis itu bergetar.

"Teh kita pasti sudah dingin," Mark memeluk pundak gadis itu. Sekarang ia dapat merasakan getaran tubuh gadis itu di telapak tangannya.

'Red Invitation memang telah meninggalkan luka di hati banyak orang,' Mark berkata pada dirinya sendiri.

TBC…

Maaf ya baru update sekarang kemarin lagi hiatus buat tahun baru..

Happy New Year All^^

Makasih ya buat yg udah setia nunggu ff remake ini ..

Semoga suka^^