Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Earl of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Earl of Hielfinberg

Huang Renjun as Irina Krievickie

Park Jisung as Derrick Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley

Akhirnya hari ini tiba juga.
Suasana di Tognozzi sudah ramai mulai pagi ini. Sebuah kapar pesiar mewah bersandar di dermaga. Sejak jauh hari para awak kapal sudah membersihkan dan menyiapkan kapal itu untuk menyambut para tamu mereka hari ini. Sebuah podium pun telah disiapkan sebagai tempat misa mengenang korban Red Invitation dan pelepasan kapal pesiar kerajaan.
Para pekerja sibuk memasukkan barang-barang ke dalam kapal. Para wanita mengumpulkan bunga yang akan dilepas bersamaan dengan kepergian kapal pesiar kerajaan. Orang-orang berlalu lalang. Anak-anak kecil berkumpul di dermaga untuk mengagumi kapal besar itu. Kereta-kereta kuda mulai berdatangan dari penjuru Viering. Para pedagang juga mulai berkumpul. Mereka datang untuk mengumpulkan rejeki dari keramaian yang hanya terjadi sekali dalam setahun ini. Semua sibuk mempersiapkan kegiatan ritual yang sudah mereka lakukan selama beberapa tahun ini untuk memperingati Red Invitation.
Jaemin pun sudah berdiri di sana - di depan kapal mewah yang menanti mereka.
Renjun memperhatikan Jaemin yang berdiri di sisi kereta kuda kerajaan.
"Apakah Jaemin baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Jangan khawatir," Jisung menenangkan, "Mark ada di sisinya."
"Dia tidak tahu!" Renjun tidak sependapat, "Ia tidak tahu Jaemin... Jaemin... dia... dia..."
"Kurasa ia tahu," ujar Jisung tanpa melepas matanya dari pasangan nomor satu di Viering itu, "Lihatlah itu."
Renjun melihat sekarang Mark sudah berdiri di sisi Jaemin. Ia membiarkan Jaemin memeluk lengan kirinya dan mereka melangkah perlahan ke kapal yang telah menanti kedatangan mereka sejak pagi ini. Matanya menatap Jaemin dengan cemas.
"Bukankah kau adalah seorang Xena yang tidak kenal takut?" ejek Mark.
Cengkraman tangan Jaemin di lengan Mark tidak melonggar. Dengan semakin mendekatnya mereka ke kapal, semakin erat cengkeraman Jaemin.
Mark termenung melihat gadis itu tidak terpancing ejekannya. Ia melepaskan tangan dari cengkeraman Jaemin dan memeluk pundak gadis itu.
Jaemin cepat-cepat mencengkeram kemeja Mark dan merapatkan dirinya pada Mark.
Mark dapat merasakan getaran hebat tubuh Jaemin di balik mantel panjangnya.
Mark melihat kepala Jaemin yang terus menunduk dalam-dalam lalu ke kapal yang tengah mempersiapkan diri untuk pelayarannya.
Tanpa berpikir dua kali, Mark mengangkat tubuh Jaemin.
Jaemin tekejut.
"Berpeganganlah padaku," bisik Mark. "Aku akan membawamu ke sana."
Tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya, Jaemin langsung memeluk leher Mark dan membenamkan kepalanya di pundak Mark.
"Aku benar, bukan?" Jisung puas, "Mark tidak akan membiarkan Jaemin."
Renjun tidak melepaskan matanya dari kedua orang itu.
Mark membopong Jaemin ke kapal. Sementara itu Jaemin terus menyembunyikan pandangan matanya di pundak Mark.
Renjun melihat ayahnya muncul yang muncul dari dalam kapal mendekati mereka dengan panik. Entah apa yang dikatakan Mark pada ayahnya. Dari tempatnya berdiri Renjun hanya dapat melihat wajah serius sang Grand Duke yang terus menganggukkan kepala.
Kemudian tanpa mempedulikan orang-orang yang kebingungan, Mark melangkah mantap ke dalam kapal pesiar megah itu dan langsung ke kamar yang disediakan untuk mereka berdua.
"Kurasa ini sudah saatnya," Jisung berkata ketika melihat Uskup Agung Viering naik ke mimbar misa.
Renjun melihat sekeliling. "Mengapa Earl belum datang?"
"Earl of Hielfinberg tidak akan pernah datang," Jisung meletakkan tangan di punggung Renjun. "Kau tahu itu."
"Tetapi Jaemin..."
"Justru karena Jaemin datang, ia semakin tidak mungkin datang. Earl masih tidak bisa melupakan peristiwa itu."
Renjun mengangguk mengerti.
Earl tentunya tidak ingin peristiwa yang sama terulang lagi, bukan? Ia tentu tidak ingin mengantarkan kepergian orang yang dicintainya untuk selama-lamanya. Namun ia juga tidak dapat mencegah kepergian Jaemin.
Misa berlangsung dengan lancar. Uskup Agung melakukan ritual tahunannya di Tognozzi tanpa halangan berarti. Namun, Mark tidak muncul dalam pidato tahunannya. Sebagai gantinya, Duke of Krievickie berdiri di mimbar menghadap semua orang yang berkumpul untuk ikut mengenang peristiwa Red Invitation.
"Saya berada di sini untuk mewakili Yang Mulia Paduka Raja Mark," kata sang Grand Duke membuka pidato.
"Lihatlah, dia sama sekali tidak memandangmu sebagai Putra Mahkota," bisik Somi ketika Taeil memulai pidatonya.
"Taeil lebih mampu memberi pidato mendadak daripada aku."
Somi sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu. Mengapa Jungwoo bisa sedemikian bodohnya?
Segera, setelah pidato Grand Duke usai, para undangan bergerak memasuki kapal. Para awak kapal pun langsung mempersiapkan pelayaran. Bersamaan dengan itu, menebarkan bunga yang telah dipersiapkan sejak pagi ditebarkan ke laut - untuk para korban Red Invitation dan untuk mengucapkan selamat jalan pada mereka. Anak-anak kecil yang masih di dermaga itu berteriak melompat-lompat gembira. Orang-orang melambaikan tangan - mengucapkan selamat jalan diiringi doa demi keselamatan perjalanan keluarga kerajaan dan para bangsawan yang ikut serta.
Renjun bergegas menghampiri ayahnya.
"Mengapa Paduka Raja tidak muncul?" seseorang bertanya pada Taeil. "Beberapa saat lalu aku melihatnya bersama Paduka Ratu."
"Beliau sedang menemani Paduka Ratu," jawab Grand Duke.
"Apa yang terjadi pada Paduka Ratu? Apakah beliau baik-baik saja?" ia terus mengejar Taeil.
"Jangan khawatir. Paduka Ratu hanya tidak enak badan. Sekarang Paduka Raja menemaninya," jawab Grand Duke Taeil diplomatis.
"Syukurlah kalau beliau baik-baik saja," kata yang lain.
"Mungkin beliau kelelahan," Grand Duke mencoba memberikan alasan yang masuk akal. "Mungkin ia tidak terbiasa dengan jadwal kegiatan istana yang padat."
"Mungkin juga."
Renjun termenung.
Taeil melihat wajah cemas gadis itu. "Jangan khawatir," katanya, "Paduka Raja ada bersamanya."
Renjun pun mempercayai itu.
"Aku akan melihat keadaan mereka," kata Grand Duke meninggalkan kedua putra-putrinya.
Mata Renjun tidak lepas dari ayahnya yang menaiki tangga menuju kabin istimewa keluarga Raja.
"Jaemin akan baik-baik saja," Jisung meyakinkan kakaknya.
Renjun melihat Jisung dan mengangguk. Ia percaya Jaemin akan baik-baik saja.
"Mereka pasti sedang bersandiwara agar semua orang percaya pada omong kosong mereka."
Renjun langsung menoleh.
Somi berjalan dengan angkuh di sisi Jungwoo. Ia terus mengomel ketika Jungwoo membawanya menuju ke dalam kabin mereka. Matanya memandang sinis orang-orang yang dilaluinya.
"Mengapa ia ada di sini?" gumam Renjun.
"Apa boleh buat. Sekarang ia adalah seorang Duchess," Jisung memberi jawaban yang sudah diketahui semua orang.
Renjun termenung. Para undangan di kapal ini adalah keluarga para korban Red Invitation dan itu termasuk Jungwoo. Selain itu sekarang Somi adalah Duchess of Binkley.
"Kuharap Jaemin tidak mencari masalah."
Jisung tertawa. "Aku yakin Jaemin pasti mencari perhitungan dengan mereka."
Renjun memelototi Jisung. Ia tidak suka mendengar komentar itu tetapi ia juga percaya Jaemin akan melakukannya. Jaemin sudah membenci Somi sejak detik pertama ia diharuskan menikah dengan Mark. Jaemin sudah ingin membuat perhitungan dengan pasangan itu semenjak ia menjadi calon mempelai Mark.
"Hari ini mereka juga menyiapkan banyak makanan lezat. Apa kau tidak mau bergabung?"
Jisung mengajak Renjun bergabung dengan para undangan yang sudah menikmati acara yang disiapkan untuk mereka. Meja-meja telah tertata rapi di Ruang Pesta perut kapal pesiar megah itu. Hidangan lezat terus disajikan tanpa henti. Para pemain musik melantunkan lagu-lagu lembut mengiring para pasangan yang berdansa di tengah ruangan. Semua ini disiapkan untuk menghibur para undangan selama empat jam mendatang sebelum mereka mencapai Corogeanu.

-0-

Mark duduk di sisi tempat tidur, memperhatikan Jaemin yang sudah tidur tenang di bawah pengaruh obat tidur.
Seseorang mengetuk pintu dengan perlahan.
Mark berdiri membuka pintu.
Taeil melihat ke dalam dengan hati-hati.
"Ia sudah tenang," kata Mark perlahan. "Sekarang ia tidur."
Grand Duke tampak lega. Dengan hati-hati ia melangkah masuk. Ia tidak mau langkah kakinya membangunkan Jaemin.
"Bagaimana keadaan di luar?"
"Semua telah saya tangani sesuai keinginan Anda."
"Bagus," Mark tersenyum puas.
Taeil menatap Mark yang tengah tidur nyenyak. "Paduka," ia berkata ragu-ragu, "Saya rasa ini terlalu banyak untuk Paduka Ratu. Anda tahu... ia..."
"Aku tahu," Mark melanjutkan, "Ia adalah satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan itu. Ia adalah orang yang dicari-cari untuk mengorek kejadian kelam itu. Dia adalah orang yang kau lindungi walau taruhannya adalah kepercayaan rakyat Viering padamu."
Grand Duke terperangah.
"Kurasa aku tidak pernah melupakan gadis kecil yang menatap kosong laut dan menjerit pilu pada hari itu. Tangisannya yang keras membuat semua orang pilu," Mark menatap Jaemin. "Gadis kecil itu adalah Jaemin. Aku tahu di hari pertama kami bertemu."
Grand Duke kehabisan kata-katanya.
"Ia harus mengatasi ketakutannya, Taeil. Ia tidak dapat terus melarikan diri dari kenyataan pahit itu. Aku telah mengatasi rasa pedih itu. Ia pun harus bisa bangkit dari peristiwa itu."
Mark menepuk pundak Taeil. "Jangan khawatir. Aku tidak akan membuatnya kian terpuruk. Aku tidak akan memaksanya."
Grand Duke melihat kesungguhan di wajah Mark. Tanpa Mark meyakinkannyapun, Grand Duke percaya pada Mark. Ia percaya Mark tidak pernah ingin mencelakakan Jaemin.
Grand Duke mengangguk.
"Kuserahkan semua kejadian di luar sana padamu," kata Mark, "Untuk sementara ini, aku rasa aku tidak dapat meninggalkan Jaemin seorang diri."
Sekali lagi Grand Duke mengangguk. "Saya mengerti," ia tersenyum, "Serahkan semuanya pada saya."
"Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," Mark tersenyum puas.
Sepeninggal Grand Duke, Mark menuju sisi Jaemin. Ia memperhatikan lekat-lekat wajah yang tidur tenang itu.
'Mungkin aku terlalu memaksamu,' pikirnya.
Bagi kebanyakan orang Red Invitation hanyalah sebuah peristiwa bencana alam biasa. Namun bagi sebagian orang Red Invitation adalah bencana alam luar biasa. Bencana itu membawa perubahan besar bagi hidup Mark dan kebanyakan bangsawan Viering. Bencana itu telah membawa perubahan besar pada kelangsungan kehidupan bangsawan Viering.
Dalam satu hari Viering kehilangan banyak bangsawannya termasuk Raja dan Ratu. Tidak satu orang pun selamat dalam bencana itu. Setidaknya itulah yang semula dianggap semua orang dan dipercayai sebagian orang hingga detik ini.
Setelah seminggu pencarian yang tidak membuahkan hasil, Duke of Krievickie yang kala itu sudah menjadi Grand Duke kepercayaan Raja Jaehyun, mengambil tindakan. Ia menghentikan pencarian, mengumumkan berita meninggalnya Raja dan Ratu Kerajaan Viering beserta para bangsawan yang menjadi tamu dalam kapal pesiar itu, serta mengumumkan pengambilalihan posisi Raja Viering oleh dirinya hingga Mark cukup umur untuk naik tahta.
Sempat terjadi banyak spekulasi dalam masa-masa berkabung itu. Orang-orang mulai mempertanyakan mengapa sang Grand Duke tidak ikut dalam pesta yang akan diadakan di Corogeanu itu? Mengapa sang Grand Duke yang tidak pernah meninggalkan sisi Raja Jaehyun absen dalam peristiwa yang mengguncang Viering itu? Mengapa tidak seorang pun menghentikan Raja pada hari itu?
Awan mendung mengiringi kepergian Red Invitation, nama sang kapal pesiar maut itu. Angin sudah berhembus kencang di detik-detik terakhir sebelum Red Invitation meninggalkan Tognozzi. Ombak juga sudah menunjukkan keganasannya. Para pelaut juga merasakan adanya badai yang mendekat. Namun mengapa tidak ada yang menghentikan Raja?
Mark juga sempat menjadi seorang dari mereka yang mencurigai Duke of Schewicvic. Ia yakin Taeil telah memanipulasi ayahnya untuk tetap melanjutkan pelayarannya ke Corogeanu walau cuaca mulai memburuk. Taeil pasti memanfaatkan cuaca buruk itu untuk mendapatkan tahta Viering.
Selama ini tidak ada badai yang melalui selat antara daratan utama Viering dan Corogeanu yang berada beberapa mil di sisi barat Viering. Namun itu tidak berarti tidak akan pernah ada badai yang memotong selat itu!
Hari itu para pelaut memang masih melakukan aktivitas mereka walau mereka tahu badai terakhir musim panas berada di sekitar mereka. Kapal besar kecil masih berhilir mudik di Tognozzi ketika Red Invitation berlayar. Namun tidak ada yang menyeberang ke Corogeanu!
Mark tidak dapat menerima kenyataan orang tuanya meninggal dalam bencana itu. Ia menyalahkan Taeil. Ia tidak percaya Taeil tidak mengetahui keberadaan bahaya yang menghadang itu. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah Bernard tetap bergeming walau semakin hari semakin banyak orang yang mencurigainya.
Kemudian muncullah kabar itu. Ada seorang korban selamat!
Mark mendengar berita adanya seorang pelaut yang menemukan seorang gadis kecil terapung-apung di atas sebuah kayu di tengah laut.
Banyak pihak berlomba-lomba memastikan siapa gadis kecil itu. Banyak yang berharap gadis kecil itu adalah keluarga mereka yang hari itu ikut orang tuanya ke Corogeanu. Bagi Mark, gadis itu adalah kunci untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Mengapa Grand Duke yang pergi ke Tognozzi, akhirnya pulang tanpa ikut berlayar di Red Invitation?
Taeil tetap terlihat tenang walau berita itu semakin lantang. Ia sama sekali tidak memerintahkan pencarian gadis kecil itu. Ia juga tidak berusaha mencari tahu siapa gadis kecil itu. Malahan ia memberi nasehat,
"Itu hanya omong kosong. Jangan mempercayai kabar burung yang tidak mempunyai bukti."
Mark tidak mempercayai penjelasan Taeil itu. Dan ketika tidak seorang pun berhasil menemukan jejak gadis itu, ia semakin mempercayai keterlibatan Taeil.
Tidak seorang pun berhasil menemukan pelaut yang menemukan gadis itu. Juga tidak seorang pun memastikan kebenaran berita itu. Orang-orang pun mulai meragukan berita itu.
Namun Mark percaya, korban selamat itu benar-benar ada dan Taeil telah melakukan sesuatu sebelum seorang pun mendengar kabar itu. Taeil pasti telah menghabisi gadis itu beserta pelaut yang menemukannya sebelum seorangpun menemukan mereka. Mark percaya!
Mark terus mempercayai hal itu hingga misa berkabung yang diadakan di Tognozzi untuk mengiringi kepergian para korban Red Invitation.
Dalam misa itu, perhatian semua orang tertuju pada seorang gadis kecil yang meraung-raung di pelukan Earl of Hielfinberg. Gadis kecil itu memberontak dengan liarnya, membuat semua hadirin merasa pilu. Countess of Hielfinberg adalah satu di antara korban Red Invitation. Mark melihat Taeil menghampiri Earl beserta putra putrinya kemudian Earl menyerahkan gadis kecil itu pada Renjun. Renjun dan Jisung membawa gadis kecil itu pergi sehingga misa bisa berlanjut dengan tenang.
Dalam misa itu, Mark sempat mendengar beberapa orang membicarakan Earl of Hielfinberg dan putri kecilnya.
"Mengapa gadis itu ada di sini?" ia mendengar seorang wanita berbicara pada wanita yang lain, "Bukankah ia ikut Countess Hansol? Aku melihat Countess Hansol membawanya masuk ke dalam Red Invitation."
"Mungkin Countess Hansol meminta Grand Duke membawanya pulang," kata wanita satunya, "Bukankah Grand Duke akhirnya pulang sebelum Red Invitation berlayar?"
Mark bertanya-tanya. Mungkinkah itu yang terjadi di hari itu sehingga gadis itu selamat? Ataukah gadis itu benar-benar sang korban selamat yang sempat menjadi bahan pemberitaan itu?
Kemudian sorenya Taeil menemuinya.
"Maafkan saya," mata Taeil berkaca-kaca saat itu, "Seharusnya saya ikut menjadi korban di hari naas itu. Saya sering menyesali diri saya sendiri. Mengapa hari itu saya menuruti keinginan Paduka Raja Jaehyun untuk kembali ke Fyzool?"
Mark kaget mendengar penjelasan yang tidak pernah didengarnya dari mulut Taeil semenjak berita naas itu.
"Saya menduga Paduka Raja sudah mempunyai firasat ia akan pergi sehingga ia memaksa saya kembali ke Fyzool. Saya telah berjanji pada Paduka Raja untuk membesarkan dan mendidik Anda menjadi seorang Raja Viering yang bijaksana. Hari ini saya bersumpah kepada Anda juga kepada para korban Red Invitation, saya akan mengabdikan diri pada Anda hingga Anda naik tahta."
Hari itu Mark langsung mempercayai apa yang didengarnya. Ia percaya peristiwa itu adalah murni kecelakaan yang tidak bisa dicegah siapa pun.
Hari ini Mark memahami mengapa Taeil tidak pernah melakukan pengejaran pada sang korban selamat yang digosipkan itu. Mengapa ia terus mengingkari berita yang jelas-jelas nyata itu. Akan terlalu kejam bila mereka memaksakan pengejaran pada seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu, pada gadis kecil yang mengalami trauma yang tidak dapat dilupakannya seumur hidupnya.
Mark tersenyum melihat wajah manis yang tenang itu.
Kalau saat itu ia bertindak gegabah, saat ini Taeil tidak akan ada di sisinya. Dan entah apa jadinya dirinya saat ini. Mungkinkah ia menjadi seperti Jungwoo yang lemah ataukah ia menjadi seorang Raja yang penuh dendam? Ia juga mungkin telah menghancurkan hidup Earl of Hielfinberg dan gadis ini.
Semua mungkin saja...

-0-

Jaemin memperhatikan sekelilingnya.
"Kau sudah bangun?" Mark bertanya lembut.
Mata Jaemin beralih ke pemuda yang duduk di sampingnya itu.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tangannya merapikan rambut di sekeliling wajah Jaemin.
"D-Di mana ini?" tanya Jaemin panik.
Mark hanya tersenyum.
Jaemin pucat pasi. Tangannya menggenggam erat selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Mark duduk di sisi Jaemin. "Tidak ada yang perlu kau takuti," ia meraih tubuh Jaemin.
Jaemin mencengkeram baju Mark. Wajahnya terus memutih. Tubuhnya bergetar hebat.
"Kau pasti telah melalui masa-masa yang sulit," bisik Mark di telinga Jaemin. Tangannya bergerak membelai rambut gadis itu.
"Aku ingin pulang," pinta Jaemin.
"Tak lama lagi semuanya akan usai. Corogeanu sudah dekat."
"Aku masih harus pulang ke Schewicvic," gerutu Jaemin tidak sependapat.
Mark termenung. Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk mengalihkan perhatian gadis ini?
"Ini adalah kesempatan langka," Mark berdiri, "Mengapa kau tidak melihat pemandangan luar?"
Jaemin mencengkeram baju Mark semakin erat.
Mark mau tidak mau duduk kembali. "Kau tidak bisa terus begini."
"Aku mau pulang," Jaemin mengulangi.
Mark mendesah. Trauma berhasil membuat Jaemin menjadi seorang gadis manja yang penakut.
"Aku menyesal sekarang aku tidak bisa menuruti keinginanmu."
Jaemin juga tahu sekarang terlalu terlambat untuk kembali ke Fyzool. Sekarang sudah amat terlambat untuk menarik kembali keputusannya menerima tantangan Mark. Sekarang sudah terlambat untuk menghentikan harga dirinya yang terusik oleh ejekan Mark.
Mark menyandarkan punggungnya di atas tumpukan bantal tanpa melepaskan Jaemin. "Katakan apa yang harus kita lakukan untuk menghabiskan waktu?"
Jaemin mengangkat kepalanya melihat Mark.
"Kita masih punya waktu yang panjang sebelum tiba di Corogeanu."
Jaemin tertegun. Mark membiarkannya setengah berbaring di atas tubuhnya. Sementara itu tangannya merangkul punggungnya erat-erat. Mark tidak pernah memperlakukannya dengan lembut seperti ini. Mark yang biasanya pasti sudah mengejek dirinya dan terus menghinanya. Jaemin membaringkan badan di atas tubuh Mark. Ia tidak ingin pergi dari kenyamanan ini. Ia tidak ingin melepaskan diri dari kehangatan ini. Ia ingin terus berada di tempat yang menenangkan ini.
Rasa tenang, aman dan nyaman membuat mata Jaemin berat.

-0-

"Di mana matamu!"
Semua kegiatan di Ruang Pesta langsung terhenti. Pasangan yang sedang berdansa mematung. Tangan para pemain musik terhenti di udara. Kata-kata orang yang sedang mengobrol tertahan dalam kesunyian.
Semua mata langsung menuju Somi yang bertolak pinggang. Matanya mengadili seorang wanita yang kurang lebih seusia dengannya.
"Apa kau tidak tahu siapa aku!?" Somi membusungkan dada. "Beraninya kau menabrakku!"
Wanita bangsawan itu kesal. Nampak jelas sekali ia tidak suka cara Somi merendahkannya.
"Ada apa, Somi?" Jungwoo bertanya.
"Tidak ada apa-apa," Somi membalikkan badannya dengan angkuh, "Hanya seorang tidak tahu diri menabrakku."
Jisung mengalihkan pandangannya. "Lagi-lagi ia membuat ulah," katanya.
"Selama Jungwoo ada di sisinya, tidak ada yang berani melawan Somi," Jisung sependapat.
"Aku ingin tahu," gumam Jisung, "Apa yang akan dilakukan Jaemin kalau ia ada di sini."
Renjun tersenyum geli. "Ia pasti akan melabrak Somi."
"Saat itu aku ingin melihat wajah Somi," Jisung juga tersenyum geli.
"Sayangnya," Renjun kembali cemas, "Kita tidak tahu bagaimana keadaan Jaemin saat ini. Ini sudah berlangsung tiga jam semenjak kita meninggalkan Tognozzi. Paduka juga tidak muncul. Aku benar-benar cemas."
Renjun melihat ayahnya melintasi kerumunan di Hall.
"Papa," Renjun mencegat Grand Duke, "Apa tidak ada kabar? Ini sudah lebih dari setengah perjalanan. Tidak lama lagi kita akan tiba di Corogeanu."
"Jangan khawatir," Taeil menenangkan, "Paduka Raja ada di sisinya."
"Bahkan Paduka Raja pun tidak meninggalkan sisi Jaemin, apakah itu tidak berarti keadaan Jaemin benar-benar gawat!" sergah Renjun. "Paduka tidak pernah meninggalkan tamu-tamunya seperti ini."
Grand Duke tidak dapat membantah. Ini pertama kalinya Mark meninggalkan tamu-tamunya. Pertama kalinya pula ia meninggalkan perjamuan tanpa menyambut para tamunya terlebih dahulu.
"Aku rasa bukan itu alasan Mark tidak meninggalkan Jaemin."
"Jisung!" suara sang Grand Duke meninggi.
"Maksudku Paduka," Jisung langsung membenarkan.
"Ia bukan tipe orang yang mengambil tindakan untuk mengubah arah gosip," kata Renjun pula.
Ini juga benar. Mark tidak pernah ambil pusing oleh gosip-gosip yang beredar seputarnya. Ia tidak mungkin sengaja terus berada di sisi Jaemin untuk membuat gosip baru.
Semenjak mendengar dari Grand Duke bahwa Paduka Raja Mark tidak dapat meninggalkan Paduka Ratu Jaemin yang sedang tidak enak badan, para tamu mulai berspekulasi. Sebelumnya terdengar santer pernikahan mereka yang selalu diwarnai pertikaian hebat. Sebelumnya lagi juga tersiar kabar Jaemin kabur ke Mangstone. Pernikahan keduanya sudah menjadi gosip rahasia selama beberapa bulan terakhir ini. Tidak ada yang mempercayai pernikahan ini akan berlangsung lama. Tidak ada yang mempercayai pula keduanya benar-benar saling mencintai seperti yang pernah mereka umumkan. Dan hari ini...
"Renjun benar. Ia bukanlah tipe orang seperti ini," Jisung sependapat. "Ia bukan orang yang dengan mudah menyerahkan tugasnya pada orang lain. Kecuali ia benar-benar mendapat halangan besar, ia tidak akan menyerahkan tugasnya pada Papa."
Grand Duke pun sependapat. Walaupun ia adalah tangan kanan Raja terdahulu dan penasehat Raja yang sekarang, Mark lebih suka melakukan sendiri tugas-tugasnya.
"Bisakah Papa melihat keadaan Jaemin?" pinta Renjun. "Aku benar-benar cemas."
"Baiklah," Grand Duke sependapat, "Aku akan melihat keadaan Jaemin."
Grand Duke langsung melangkahkan kaki ke kabin khusus keluarga kerajaan.
Renjun menarik tangan Jisung.
"Bukankah Papa sudah setuju akan melihat keadaan Jaemin?" protes Jisung.
Renjun tidak menjawab. Ia terus menarik Jisung mengikuti ayah mereka.
Jisung memperhatikan sorot cemas di mata kakaknya. "Aku kalah darimu," gumamnya.

-0-

Suara ketukan di pintu membuka mata Mark yang terpejam.
"Seseorang perlu membuka pintu."
Jaemin pun membuka matanya. Ia melihat Mark yang setengah mengantuk.
Ketukan di pintu kembali terdengar.
Jaemin melihat pintu.
"Kalau kau tidak mau membuka pintu berarti aku yang harus pergi."
Jaemin mencengkeram baju Mark dan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan segera kembali," Mark melepaskan cengkeraman Jaemin.
Jaemin terkejut. Tiba-tiba saja ia merasa kesepian.
Mark membuka pintu. "Ada apa, Taeil?" tanyanya melihat orang di depan pintu.
"Saya datang untuk melihat keadaan."
Jaemin merasakan angin laut yang menerobos pintu. Ia mendengar suara yang menderu bagaikan panggilan kematian itu. Ia dapat mencium bau yang membekukan darahnya. Ia teringat angin ribut yang menerbangkan apapun, ombak besar yang menggapai langit, sinar-sinar di langit kelam yang menyilaukan serta jeritan halilintar yang memekikkan telinga.
Mark menyadari perubahan Jaemin.
"Masuklah ke dalam," katanya memerintah dan ia menutup pintu rapat-rapat.
Taeil melihat Jaemin yang meringkuk di atas tempat tidur dengan tubuh bergetar heba. Lalu ia melihat Mark.
"Ia sudah bangun," Mark memberitahu.
Taeil turut cemas melihat wajah pucat gadis itu. Ia berharap ia dapat melakukan sesuatu untuknya.
"Katakan bagaimana perkembangan keadaan di luar," Mark mengalihkan perhatian Taeil, "Apa yang mereka katakan? Apa ada yang mencariku?"
"Tidak ada, Paduka Raja. Saya telah memberitahu alasan Anda tidak bisa berada bersama mereka. Mereka mengkhawatirkan keadaan Paduka Ratu namun saya telah meyakinkan mereka Paduka Ratu baik-baik saja."
Semua orang percaya pada penjelasan Taeil kecuali Renjun. Sang kakak angkat dan ibu asuh Jaemin itu tidak dapat berhenti menemaskan Jaemin. Tidak akan ada yang dapat menghentikan kecemasan putrinya itu kecuali ia melihat sendiri Jaemin.
Ketika Mark berada di sisi Jaemin, apakah yang dapat dilakukan Renjun? Mark sudah lebih dari cukup untuk menjaga Jaemin. Itulah yang dikatakan Jisung pada Renjun. Namun Renjun menahan dirinya bukan karena itu. Melainkan karena ia tidak ingin menganggu mereka.
Sebagai orang yang bertanggung jawab mewakili Mark, Taeil memutuskan untuk memeriksa sendiri keadaan Jaemin. Ia ingin tahu apakah Paduka Rajanya bisa menghadiri pesta yang ia adakan untuk para tamunya itu. Sekarang ketika melihat Jaemin yang meringkuk di atas tempat tidur, Taeil percaya kali ini Mark tidak dapat menjadi tuan rumah yang baik untuk alasan yang baik.
"Semua orang mulai membicarakannya, Paduka," lapor the Grand Duke, "Semua membicarakan betapa besarnya cinta Anda pada Paduka Ratu hingga tidak sanggup meninggalkannya walau hanya sedetik."
"MENARIK!"
Suara keras pemuda itu memanggil kembali Jaemin dari bayangan masa lalunya yang kelam.
"Kau dengar itu, Jaemin?" Mark menoleh pada Jaemin, "Kau telah membuat gosip-gosip itu berubah haluan."
Jaemin kesal mendengar nada mengejek yang tersembunyi dalam suara geli itu. Pemuda ini benar-benar tahu bagaimana mempermainkannya. Sesaat lalu bersikap manis padanya dan sekarang mengejeknya kembali. Jaemin meraih bantal dan melemparkannya pada Mark.
Mark menghindar dengan sigap. Tangannya menangkap bantal itu sebelum ia mendarat di wajah Grand Duke Taeil yang termangu.
"Lihatlah!" Mark menyalahkan, "Kau telah melukai Taeil."
Jaemin langsung meloncat dari tempat tidur. "Kau tidak apa-apa, Taeil?" tanyanya cemas, "Aku tidak membuatmu terluka, bukan?"
Grand Duke Taeil kebingungan.
Mark tersenyum geli melihat Jaemin yang tidak mau meninggalkan tempat tidur, berdiri di depan Taeil.
Tiba-tiba saja Jaemin menyadari permainan Mark.
"KAU!" geram Jaemin kesal.
"Setidaknya kau telah membuat kemajuan," senyum nakal di wajah Mark kian lebar.
"Rasanya aku ingin memberi pelajaran padamu," Jaemin mendekati Mark dengan kemarahan terpendam.
"Apakah itu yang ingin kaulakukan setelah meninggalkan sarangmu?" selidik Mark.
Jaemin tidak mempedulikan gurauan itu. Ia merebut bantal di tangan Mark.
"Hei!" Mark melindungi dirinya sendiri dari serangan Jaemin.
Grand Duke melihat keduanya kembali hanyut dalam keasyikan mereka sendiri dan ia meninggalkan mereka dengan diam-diam.
"Tidak seorang pun yang bertingkah sepertimu setelah meninggalkan sarangnya," komentar Mark sambil terus menangkap serangan Jaemin.
"Kau yang memulainya!" kata Jaemin kesal.
"Sudah cukup permainan hari ini," katanya sambil mengambil alih bantal di tangan Jaemin.
Sebuah ombak besar menerjang kapal.
Jaemin terkejut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Mark segera memeluk Jaemin sebelum ia terjatuh. Saat itulah Mark menyadari getaran hebat tubuh Jaemin.
"Sial," gerutu Mark.
Kaki Jaemin kehilangan tenaganya dan ia bergelantung lemas di tangan Mark.
Mark mendudukkan Jaemin di lantai kabin dan duduk di sisinya sambil memeluknya erat-erat.
"Tidak apa-apa," bisiknya, "Tidak ada apa-apa. Itu hanyalah ombak biasa."
Jari jemari Jaemin mencengkeram kemeja Mark erat-erat.
"Tidak akan terjadi apa-apa," Mark meyakinkan, "Aku ada di sini. Aku tidak akan meninggallkanmu."
Jaemin mendekapkan diri kian erat pada Mark.
Otak Mark berputar cepat mencari topik yang dapat mengalihkan perhatian Jaemin.
"Kau membuat kemajuan besar," gurau Mark, "Kau merubah haluan gosip-gosip itu. Aku tidak akan heran kalau tak lama lagi mereka menyebutmu pelacur kelas atas."
Telinga Jaemin memerah mendengar ledekan itu. "Siapa yang pelacur!?" Jaemin naik pitam. Mata biru beningnya menantang Mark. "Katakan itu lagi maka aku akan... aku akan..."
"Aku apa?" Mark tersenyum simpul.
"Aku... aku...," Jaemin tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
"Menunjukkan padaku bahwa kau benar-benar seorang yang ahli dalam hal ini?"
"KAU!" Jaemin geram, "K-kau..." Jaemin begitu marah hingga ia kehabisan kata-kata.
Mark tertawa geli melihat muka Jaemin yang memerah karena amarahnya yang memuncak itu. Jaemin sungguh tidak cocok dengan ekspresi murkanya itu. Wajahnya terlalu cantik, terlalu kekanak-kanakan. Mata biru beningnya yang lembut tampak begitu aneh dengan sorot tajamnya.
"Apa yang kau tertawakan!?" bibir mungil itu mencibir kesal.
"Ini," Mark menyentuh bibir Jaemin.
Sentuhan lembut Mark mendinginkan api amarah Jaemin dan membuat dadanya berdebar kencang.
"Kau sungguh tampak begitu menggelikan dengan ekspresi kemarahanmu itu. Kau sungguh tidak cocok untuk marah," bisik Mark sambil mendekatkan wajah.
Jaemin pasrah. Ia membiarkan tangan Mark menjelajahi wajahnya. Ia membiarkan Mark mengangkat dagunya. Jaemin menutup matanya. Ia sudah benar-benar luluh oleh cara Mark menyentuhnya.
Mark pun tanpa ragu-ragu mendekatkan bibirnya.
Seseorang mengetuk pintu.
"Sial!" Jaemin mendengar Mark menggerutu. "Siapa yang berani merusak suasana ini!?"
Seketika itu Jaemin sadar dari pengaruh biusan Mark dan ia menjauhkan diri.
"Belum, sayangku," Mark menarik Jaemin kembali ke pelukannya, "Aku belum selesai."
Sebelum Jaemin sempat menyadari kekagetannya sendiri, Mark mendaratkan ciuman lembut di atas bibirnya dan ia berdiri untuk membuka pintu.
Jaemin terperanjat. Kejadian ini sangat cepat. Terlalu cepat untuknya. Ia tidak siap untuk itu. Ciuman pertamanya melayang begitu saja tanpa ia sadari. Entah mengapa, Jaemin tidak kecewa. Dadanya terus berdegup kencang. Ia tidak dapat mempercayai ini. Mark, si pemuda yang lebih suka mengejeknya daripada memujinya, telah menciumnya!
"Saya datang untuk memeriksa keadaan," kata seorang awak kapal, "Apakah Anda baik-baik saja, Paduka?"
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Guncangan barusan disebabkan oleh gelombang besar."
"Kuharap badai tidak datang."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Paduka. Kapten mengatakan tidak akan ada badai. Gelombang barusan murni gelombang biasa."
"Untunglah," Mark lega. "Masih berapa lamakah sebelum kita mendarat?"
"Kurang lebih setengah jam lagi, Paduka."
Mark melirik Jaemin yang masih duduk di lantai. Gadis itu sedikitpun tidak bergerak. Matanya menerawang kosong seperti tubuh tidak berjiwa. Lalu ia berkata, "Kau bisa pergi sekarang."
Pria itu langsung mengundurkan diri.
Mark duduk di depan Jaemin. "Kau sudah lebih baik?" tangannya merangkum wajah Jaemin.
Wajah Jaemin langsung memerah. Wajah Mark yang begitu dekat itu mau tidak mau membuatnya teringat ciuman singkat Mark beberapa saat lalu.
"Melihat wajahmu yang seperti ini," Mark menggoda, "Kau sudah jauh lebih baik."
Jaemin kesal. Lagi-lagi ia membiarkan dirinya dipermainkan Mark!
Mark tersenyum melihatnya. Tiba-tiba ia berdiri sementara tangannya menarik tubuh Jaemin.
Tubuh Jaemin yang tidak siap langsung limbung.
Mark memeluk gadis itu dengan lembut. Tangan kanan Mark memegang pipi yang memucat itu sementara tangan kirinya memeluk pinggang Jaemin, menahan gadis itu.
"Kau tahu, kau bisa membiusku dengan wajahmu yang tanpa dosa itu," Mark tersenyum penuh kasih.
Wajah Jaemin merona.
"Kau sungguh membuatku tidak berdaya," sekali lagi Mark mendaratkan ciumannya di bibir Jaemin.
Jaemin tidak pernah tahu sebuah ciuman bisa terasa menakjubkan seperti ini. Jaemin tidak dapat menggambarkan perasaan ini. Ia tidak dapat mengutarakannya. Ia merasa luluh tidak berdaya sekaligus terbuai.
Tubuhnya bergetar hebat ketika Mark melepaskan bibirnya. Bibirnya membuka - haus akan kenikmatan yang baru dikenalkan Mark padanya. Matanya menatap Mark penuh kerinduan.
Tangan Mark menyandarkan kepala Jaemin di pundaknya.
Jaemin menggenggam erat kemeja Mark dan menyembunyikan wajahnya di dada Mark. Ia terlalu malu untuk melihat wajah pemuda itu.
"Sekarang," katanya memecah kesunyian di antara mereka, "Apa yang harus kita lakukan denganmu?"
"Denganku?"
"Pertama-tama aku perlu memulangkanmu ke sarangmu."
Lagi-lagi Mark mengagetkan Jaemin. Sebelum Jaemin menyadarinya, Mark mengangkat Jaemin dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.

-0-

Mark menurunkan kaki Jaemin di atas tanah.
"Kita sudah sampai," ia memberitahu.
Jaemin melepaskan tangannya dari leher Mark dan membuka matanya. Ia tersenyum lebar melihat jalan setapak ke villa kerajaan, Corogeanu. Matanya langsung melihat Renjun yang berdiri tak jauh di depannya bersama Jisung.
"Renjun!" Jaemin berlari riang.
Renjun menyambut gadis itu dengan pelukannya. Ia lega melihat Jaemin yang kembali segar bugar.
"Ayo kita pergi, Renjun," Jaemin menarik lengan wanita itu, "Aku sudah tidak sabar menjelajahi tempat ini."
Renjun tidak mempunyai kesempatan untuk melawan Jaemin. Ia hanya bisa membiarkan gadis itu menariknya dengan paksa.
"Hati-hati Jaemin!" Jisung berseru cemas, "Awas Renjun!" serunya ketika melihat Renjun hampir terjatuh karena Jaemin.
Jisung memegang dahinya dan mengeluh panjang. Jaemin memang selalu bisa membuatnya cemas. Sejujurnya, Jisung tidak terlalu cemas akan Jaemin. Ia lebih mencemaskan Renjun. Renjun bukan seorang gadis liar seperti Jaemin. Ia adalah seorang lady!
Mark tertawa.
Jisung terkejut. Entah sejak kapan Mark telah berada di belakangnya.
"Sepertinya Jaemin sudah pulih."
Jisung melihat kedua wanita yang terpenting dalam hidupnya itu telah menjauh.
Mark pun tersenyum melihat Jaemin yang kembali ceria itu. Jaemin di atas daratan memang berbeda dengan Jaemin di atas laut.
"Paduka," Jisung berkata serius, "Saya telah mendengarnya. Anda mengetahui tentang Jaemin."
"Ya," gumam Mark.
Jisung melihat Mark dengan serius.
"Itu adalah cerita masa lalu. Kejadian itu murni kecelakaan. Tidak ada gunanya mengungkit cerita masa lalu. Lagipula itu akan terlalu kejam untuk Jaemin."
Jisung lega mendengarnya.
"Mungkin hari ini aku boleh memberi kebebasan pada Jaemin," Mark tersenyum penuh arti melihat gadis itu membuat Renjun panik.
"Mari kita pergi," Mark menepuk pundak Jisung. "Kau mencemaskan Renjun, bukan?" Mark melalui Jisung, "Aku tidak mencemaskan Jaemin tapi aku mencemaskan Renjun. Aku percaya Jaemin akan membuat Renjun celaka," dan pemuda itu tertawa.
Jisung terperangah. Mau tak mau ia pun tersenyum. "Baik, Paduka," katanya mengikuti Mark mengejar kedua gadis di depan itu.
"Jisung, kau bisa memanggilku Mark," Mark memberitahu. "Aku sudah bukan hanya seorang Raja bagimu. Sekarang aku juga menjadi bagian dari keluarga kalian."
"Saya juga sependapat," kata Jisung, "Tapi... Papa."
"Taeil memang seorang yang masih kolot," Mark tertawa geli.
Jisung terperangah. Baru kali ini ia mendengar Mark berkomentar tentang ayahnya.
"Tapi kerajaan ini membutuhkan orang seperti dia, bukan?" kata Mark serius.
Jisung mengangguk. Andai bukan karena pikiran kolot ayahnya, mungkin ayahnya sudah langsung mengambil alih tahta ketika Mark masih terlalu kecil untuk menjadi seorang Raja.

-0-

Grand Duke bingung melihat Raja Mark duduk santai di Ruang Duduk Corogeanu menikmati anggurnya. Beberapa saat lalu seorang pelayan menyampaikan panggilan Mark. Ia menduga ada sesuatu yang hendak dirundingkan Mark dengannya. Namun apa yang dilihatnya saat ini berbeda dengan dugaannya.
"Duduklah," ia menyambut kedatangan sang Grand Duke.
"Paduka Ratu?" Taeil melihat sekelilingnya.
"Ia ada bersama Renjun dan Jisung yang menemaninya menjelajahi Corogeanu. Untuk sementara waktu ini aku memiliki waktu luang," lalu ia menawari, "Kau mau minum apa? Brandy? Armagnac? Atau Sherry? Vodka?"
"Anggur merah," jawab Grand Duke.
Mark tersenyum, "Kau masih tidak berubah." Mark menuangkan segelas anggur merah untuk Grand Duke.
Taeil menerima gelas itu.
Mark menuju jendela dan memperhatikan kegiatan para tamunya di luar. Sekitar lima ratus bangsawan dan keluarga ternama yang diundang itu tampak menikmati keindahan Corogeanu. Sekelompok wanita tampak berkumpul di bawah rimbunan pepohonan dan bercanda riang. Sekelompok tamu menikmati jamuan yang disiapkan di kebun. Beberapa pria tampak merundingkan sesuatu dengan serius. Sekelompok anak kecil yang turut serta bersama orang tuanya, bermain dengan riang.
Entah di mana sekarang Jaemin berada. Begitu melihat bangunan villa yang dinamakan sesuai dengan nama pulau ini, Jaemin berseru gembira. Ia menarik Renjun menjelajahi Corogeanu sambil mengumumkan, "Ini adalah waktu penjelajahan!"
Melihat Jaemin kembali membawa kabur kakaknya, Jisung langsung mengikuti mereka. Mark memutuskan untuk menyerahkan mereka pada Jisung. Ia masih punya pekerjaan yang perlu dilakukannya sejak awal perjalanan ini yaitu menyambut tamu-tamunya.
Mark berpikir andai bencana itu tidak pernah terjadi, mungkin Jaemin sudah dari dulu jatuh cinta pada tempat ini.
Corogeanu bukanlah pulau besar. Bahkan pulau ini masih terlalu kecil untuk disebut pulau kecil.
"Sepertinya suasana tahun ini berbeda dari tahun-tahun yang lalu."
Grand Duke mengangguk setuju.
"Entah mengapa aku merasa Jaemin akan membawa sebuah kejutan."
"Mungkin karena ia selalu membuat kejutan," Taeil memberikan komentarnya.
"Dia suka membuat keributan," Mark membenarkan. Matanya mencari-cari Jaemin di seputar pulau kecil ini.
Mark melihat sesuatu melompat dari beranda di lantai tiga Corogeanu tak lama kemudian muncul seorang wanita dengan wajah paniknya disertai seorang pria. Sesaat kemudian wanita itu melompat dari beranda. Pria itu tampak panik dan kemudian ia pun melompat dari beranda ke pohon di bawah beranda itu.
Pemandangan itu membuat Mark teringat peristiwa serupa yang dilihatnya beberapa tahun lalu.
Mark masih ingat saat itu ia berada di dalam kereta menanti sang Grand Duke yang mengambil barang di dalam Mangstone.
Di saat ia menanti itulah tiba-tiba ia melihat sebuah sosok kecil melompat dari beranda ke pohon terdekat. Ia bergelayutan dari satu dahan ke dahan yang lain dengan lincahnya selayaknya seekor monyet.
Sesaat kemudian tampak seorang gadis remaja muncul di beranda dengan wajah geramnya. Ia bertengkar dengan seorang pemuda sebelum ia melompat dari beranda.
Mark membelalak kaget. Ia mengenali wajah gadis itu. Ia adalah Renjun, putri Duke of Binkley!
Pemuda yang tak lain adalah Jisung itu tampak panik dan ia pun mengejar kedua gadis itu.
Mark tertawa. Ia benar-benar tidak menduga Renjun, putri Duke of Binkley yang anggun ternyata bisa bertingkah seperti ini.
Grand Duke yang muncul dari dalam Mangstone kebingungan melihat rajanya tertawa geli.
Mark tidak pernah memberitahu Taeil apa yang membuatnya tertawa saat itu. Taeil juga tidak pernah bertanya.
Mark tersenyum geli melihat Renjun dengan susah payah mengejar Jaemin yang dengan lincahnya melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Jisung, di sisi lain, kebingungan mengejar kedua gadis itu.
"Aku tidak bisa hanya berdiam diri di sini," Mark beranjak meninggalkan jendela,

"Jisung membutuhkan bantuan."
Grand Duke tidak mengerti tapi ia juga tidak menghentikan Mark.
Mark langsung menuju halaman tempat ia melihat kedua wanita itu saling kejar mengejar dan Jisung yang kewalahan menghentikan keduanya melakukan tindakan yang berbahaya dengan gaun mereka yang merepotkan itu.
Mark berdiri di bawah sebatang pohon dan menengadah.
"Sudah waktunya kau berhenti."
Jaemin terkejut. Kakinya terpeleset. Tangannya langsung bertindak cepat berpegangan pada dahan pohon.
Renjun membelalak kaget. Ia melihat Mark yang berdiri di bawah mereka dengan wajah memerah.
Jisung juga tidak kalah kagetnya melihat Mark tiba-tiba muncul.
Jaemin memanjat dahan pohon tempat ia menggelantung dan duduk. Matanya langsung menatap tajam Mark, setajam suaranya, "Apa-apaan kau ini!? Apa kau ingin mencelakaiku!?"
"Aku tidak mencelakaimu," kata Mark tenang, "Kau sendiri yang mencari bahaya."
"Apa katamu!?" Jaemin marah.
Mark menghela nafas panjang.
"Apa!?" Jaemin tidak suka melihat wajah lelah pria itu. Ia tidak melakukan apa-apa yang menganggu pria itu. Untuk apa ia memasang wajah itu!? Jaemin benar-benar tidak menyukai Mark!
Mark mendekati pohon itu. Di luar dugaan Jaemin, pria itu mulai memanjat ke arahnya.
Renjun membelalak.
Jisung melotot.
"Jisung, dia," bisik Renjun.
"Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya," jawab Jisung.
Beberapa tahun lalu Mark tidak bisa berbuat apa-apa selain bisa tertawa dan menahan rasa iri hatinya melihat ketiganya bersenda gurau sambil melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain.
"Apa yang kau lakukan!?" Jaemin memelototi pria yang langsung duduk santai di pangkal dahan yang sama dengannya.
"Bukan hanya kau yang ingin duduk di sini," Mark menyandarkan punggung ke batang pohon. Ia menutup matanya seolah-olah sedang menikmati hawa segar di sekitar pohon itu.
"Sebaiknya kau jangan melakukan sesuatu yang bodoh!" Mark memperingati, "Aku tidak mau merepotkan diriku sendiri."
"Siapa yang menyuruhmu merepotkan dirimu sendiri?!" Jaemin memalingkan badan. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat tubuh Jaemin kehilangan keseimbangan. Jaemin membelalak kaget. Dahan tempatnya duduk terlalu dekat dengan ujung dahan dan tidak cukup kuat untuk menahan gerakannya yang tiba-tiba itu.
Mark segera meraih tangan Jaemin dan memeluknya erat-erat.
"Kau benar-benar liar," keluh Mark, "Kau hanya akan membuat masalah besar kalau kau jatuh. Duduklah yang manis seperti Renjun."
Mendengar namanya disebut, wajah Renjun memerah lagi. Selama ini tidak seorang pun selain Jaemin dan Jisung tahu ia bisa memanjat pohon. Bahkan ayahnya pun tidak tahu!
Jisung melompat dari dahan tempatnya berdiri ke sisi Renjun. Berdua mereka memperhatikan Jaemin yang masih belum pulih dari kekagetannya, meringkuk di pelukan Mark.
"Kurasa kita harus meninggalkan mereka," bisik Jisung.
Renjun mengangguk mengerti dan menerima uluran tangan Jisung.
Jaemin berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sesaat yang lalu ia merasa nyawanya telah pergi meninggalkan raganya.
Mark tersenyum geli melihat gadis itu. "Kau sudah kehilangan nyalimu?"
Kemarahan Jaemin langsung bangkit lagi mendengar suara mengejek itu. Ia memelototi Mark.
"Sekarang tinggal kita berdua," kata Mark sebelum Jaemin sempat melontarkan kemarahannya.
Jaemin langsung melihat tempat Renjun dan Jisung beberapa saat lalu berada.
"Mereka sudah pergi," Mark memberitahu.
Mata Jaemin menangkap sosok Jisung yang membantu Renjun turun dari pohon.
Jaemin memalingkan kepala.
"Jangan!" Mark mencoba memperingati tetapi ia terlambat. Mata Jaemin menggelap melihat hamparan laut di belakangnya. Tubuhnya bergetar keras. Ia merasa seluruh dunia berputar dan bersamaan dengan itu tenaganya menghilang.
Mark kembali memeluk Jaemin erat-erat. "Tidak apa-apa," bisiknya, "Tidak akan terjadi apa pun."
Jaemin mencengkeram kemeja Mark. "A-aku ingin kembali."
"Tidak ada salahnya kau menemaniku di sini," Mark memegang tangan Jaemin.
Jaemin melihat senyum lembut Mark. Jantungnya berdebar keras. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Sementara itu di dalam, Renjun berdiri di sisi jendela. Matanya tidak lepas dari pohon tempat Mark dan Jaemin berada.
"Kau tidak perlu mencemaskan mereka," Jisung berkata, "Paduka tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya."
Renjun tidak menanggapi.
"Seharusnya kau lebih tenang sekarang," Jisung membuka mulut, "Setidaknya sekarang ada Paduka yang mengawasi Jaemin."
"Aku bingung," gumam Renjun, "Haruskah aku memanggil mereka?"
Jisung bingung melihat kegundahan Renjun.
"Makan malam sudah hampir siap."
Jisung tersenyum. "Kulihat kau tidak perlu memusingkan hal itu. Paduka sudah tahu. Lihatlah."
Renjun memperhatikan halaman.
Mark sudah berdiri di dahan kemudian ia meloncat.
Renjun terkejut. Di sana, Jaemin pun membelalak kaget.
"Apa yang kaulakukan!?" seru Jaemin panik.
Mark mendarat di tanah dengan mulusnya kemudian ia menengadah. "Melompatlah."
"APA!?"
"Aku akan menangkapmu," Mark mengulurkan tangan.
"Siapa yang akan melakukan hal gila sepertimu!?" Jaemin kesal.
Mark tersenyum geli. "Bukannya kau selalu melakukannya?"
Jaemin termenung.
"Ia tidak akan melakukannya, bukan?" Renjun menatap adiknya dengan cemas, "Jaemin tidak akan melompat seperti Paduka, bukan?"
"Siapa tahu," gumam Jisung, "Aku tidak yakin apa yang akan dilakukan Jaemin tetapi aku tahu Paduka tidak akan mencelakakan Jaemin."
"Jaemin, jangan melompat," Renjun berdoa namun di saat yang bersamaan Jaemin menjatuhkan diri dari dahan.
"JAEMIN!" Renjun terpekik kaget.
Jisung langsung menangkap tubuh lemas kakaknya. "Tidak apa-apa," katanya menenangkan, "Jaemin tidak apa-apa. Lihatlah itu."
Renjun membuka matanya.
Paduka Raja tengah membopong Jaemin. Ia tidak menurunkan Jaemin malah membawanya ke dalam.
"Tampaknya ia lebih kuat dariku," gumam Jisung.
"Ya, Tuhan, Jaemin...," Renjun tidak tahu harus berkata apa.
Sementara Renjun sedang memulihkan kekagetannya, Jaemin berusaha keras melepaskan diri dari Mark.
"Turunkan aku!" Jaemin memasang wajah cemberutnya.
"Mengapa?" Mark bertanya tidak mengerti, "Ini adalah bulan madu kita. Apakah salah kalau aku bersikap manis pada istriku selama bulan madu?"
"Bulan madu?" Jaemin mencibir. "Tidak ada orang yang berbulan madu dengan membawa berpuluh-puluh penonton."
Mark hanya tersenyum. Sudah sejak tadi ia menyadari puluhan pasang mata yang terus memperhatikannya membopong Jaemin. "Apakah itu artinya kau ingin berbulan madu hanya denganku?" ia sengaja menggoda Jaemin, "Setiap malam kita bisa berbulan madu."
"Mati pun aku tidak sudi!" Jaemin menanggapi dengan cepat.
"Aku tidak akan membiarkannya," Mark meneruskan godaannya, "Kalau kau mati, aku tidak akan mempunyai pasangan bulan madu."
"Dengan rekor kekasihmu, aku yakin dalam satu jam kau akan menemukan pasangan baru."
Alis Mark terangkat. "Kau cemburu?"
"S-si-si," wajah Jaemin merah padam, "Siapa yang cemburu!?" suaranya meninggi dengan kesal.
Mark tertawa geli. Ia tidak tahu wajah Jaemin memerah karena kesal atau memang karena malu. Mark hanya tahu Jaemin tidak menyukai godaannya dan itu sudah cukup untuknya.
Mark melihat Duke Taeil mendekat diikuti putra-putrinya.
"Sudah, jangan marah," Mark menurunkan Jaemin, "Renjun akan menggantungku kalau melihat wajahmu itu."
"Aku akan melaporkanmu pada Renjun!" Jaemin menjulurkan lidahnya pada Mark dan langsung berlari ke pelukan ibu angkat kesayangannya itu.
Mark hanya tersenyum melihat Jaemin menarik Renjun pergi dengan gembira. Dalam hati ia berpikir Jaemin memang masih anak-anak.
"Apa yang terjadi, Paduka?" Duke Taeil bertanya cemas, "Tampaknya Paduka Ratu tidak senang berada di dekat Anda."
Mark hanya tertawa. "Dia alergi padaku," katanya kemudian ia bertanya, "Ada apa kau mencariku, Taeil?"
"Saya hanya ingin bertanya apakah Anda akan menginap di sini atau langsung pulang bersama tamu-tamu yang lain."
Mark melihat Jaemin yang kini sudah berbaur dengan tamu-tamu yang lain dikawal Jisung.
"Aku tidak berani menjamin Jaemin dapat melupakan laut di sekitarnya ini," Mark memutuskan, "Kami akan pulang bersama kalian." Dan sebelum sang Grand Duke berkata, ia menambahkan, "Dapatkah kau mencari Lawrence untukku?"
Walaupun tidak mengerti akan permintaan Rajanya, Duke Taeil tetap berkata, "Tentu, Paduka Raja."
Kemudian, seperti Jaemin, Mark pun berbaur dengan tamu-tamunya sambil menunggu makan malam.

-0-

Jaemin sedang bercanda dengan tamu-tamunya, ketika terdengar bentakan kasar.
"APA!? Apa kalian sudah puas melihatku!" Somi bersila pinggang memelototi sekelompok wanita, "Memangnya kalian pikir siapa kalian!? Beraninya kalian memelototi Duchess of Binkley!?"
Seperti semua orang di tempat itu, Renjun melihat Somi melabrak sekelompok wanita itu tanpa dapat berkata apa-apa.
Jaemin langsung mendekati mereka.
"Kita akan melihat pertunjukan menarik," Jisung tersenyum simpul.
Renjun langsung memelototi Jisung dengan tidak senang. Sementara itu Jaemin sudah tiba di sisi kumpulan orang yang menjadi pusat perhatian itu.
"Apa yang terjadi, Somi?" Jaemin sengaja bertanya pada wanita itu dengan senyum manis tersungging di wajah lembutnya.
Karena Somi tampak tidak ingin menjawab pertanyaannya, Jaemin berpaling pada sekelompok wanita di sisi yang lain. "Dapatkah kalian memberitahuku apa yang telah terjadi?"
Mereka pun tidak mengeluarkan suara.
Jaemin pun menyadari sesuatu. "Walau aku tidak mengerti apa yang telah terjadi, sebagai senior Somi, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya."
Baik Renjun maupun Jisung terperanjat.
"Aku harap kalian bisa memaklumi tindakan Somi. Ia masih baru dalam lingkungan ini," Jaemin berkata dengan segenap ketulusannya, "Aku tidak terlalu mengerti masa lalu Somi. Namun sepertinya, Somi tidak suka terus-terusan menjadi pusat perhatian. Aku berharap kalian bisa memaklumi sikapnya ini. Selain itu aku juga berharap kalian bisa membantu Somi terbiasa dengan kehidupan barunya."
Bibir Jisung membentuk senyum geli. "Aku sudah tahu Jaemin tidak akan berpihak pada Somi."
"Sejak kapan dia pandai menyindir orang?" gumam Renjun.
Tidak seorang pun dari mereka yang membuka suara. Kemudian Jaemin berpaling pada Somi. "Somi, sebagai Duchess of Binkley, aku ingin kau memahami kedudukanmu. Aku berharap engkau bisa memperlakukan tamu-tamuku seperti tamu-tamumu sendiri. Aku yakin Duke Jungwoo sudah menjelaskan pentingnya kedudukanmu ini." Raut wajah Jaemin dipenuhi rasa bersalah. "Maafkan aku, tak seharusnya aku berkata sekeras itu padamu." Sepasang bola mata birunya menatap Somi lekat-lekat, "Aku lupa engkau pasti masih tidak dapat meninggalkan kebiasaan masa lalumu."
Tangan Somi terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Aku tidak tahu apakah Duke Binkley sudah mengajarkan dasar-dasar tata krama pergaulan kelas ini. Aku hanya ingin mengulangi sebagai seorang Duchess, kau tidak boleh mengumbar emosimu seperti itu. Perbuatan itu hanya merendahkan dirimu sendiri. Semoga engkau bisa memahaminya. Aku tidak ingin orang lain memandang rendah pada wanita yang akan menjadi penerusku sampai putra kami lahir. Engkau juga perlu memahami sebagai Duchess of Binkley, engkau tidak akan dapat terlepas dari pusat perhatian. Jangan khawatir, perhatian setiap orang padamu berbeda dengan perhatian tiap pria ketika kau masih bekerja di Dristol." Kemudian Jaemin mendesah kecewa. "Aku sungguh iri padamu. Aku, sang Ratu Kerajaan Viering, tidak mendapatkan banyak perhatian walau kedudukanku lebih tinggi darimu." Lalu Jaemin tersenyum manis, "Apa boleh buat, kau lebih punya daya tarik daripada aku. Bukankah begitu, Duke Jungwoo?" mata Jaemin tertuju pada sang suami Somi, Duke of Binkley yang sejak awal hanya berdiri terpaku di tempatnya.
Duke Jungwoo terperanjat. "B-benar, Paduka Ratu." Ia menjawab dengan gugup.
Jisung tidak dapat menahan tawa gelinya. "Jaemin benar-benar luar biasa."
"Dia benar-benar tidak mudah dihadapi."
Jisung terperanjat. Ketika ia menoleh, Mark sudah berdiri di belakangnya.
"Renjun, aku perlu bantuanmu," kata Mark ketika ia mendapat perhatian wanita itu.
"Dengan senang hati, Paduka."
Mark mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku bajunya. "Aku ingin kau memasukkan obat ini pada minuman Jaemin."
Keduanya membelalak kaget.
"Aku sudah mengatur tempat duduk kalian selama makan malam," lanjut Mark, "Aku akan mengalihkan perhatian Jaemin untuk memberi kesempatan pada kalian."
"I-ini?" Renjun menerima botol itu dengan bingung.
"Ini adalah obat tidur yang kuterima dari Lawrence," Mark menjelaskan, "Lebih baik membiarkan Jaemin tidur sepanjang perjalanan daripada membiarkannya membuat ulah."
"Jaemin pasti akan marah besar," komentar Renjun.
"Tidak ada cara lain," Jisung juga berkomentar, "Hanya ini satu-satunya cara untuk membawa pulang Jaemin tanpa membuat gadis itu ketakutan."
Mark tersenyum penuh arti. Kemudian ia berkata, "Sudah saatnya aku menghentikan ini." Mark pun mendekati Jaemin.
Renjun menarik baju Jisung untuk mendapatkan perhatiannya. "Sejak kapan ia berada di sana? Apakah ia melihat semuanya?"
"Entahlah," hanya itu yang dapat dijawab Jisung.
"Jaemin, sayangku," Mark menyelipkan tangannya di pinggang Jaemin, "Aku tahu engkau tertarik pada masa lalu Somi namun sekarang bukan saatnya mendengar cerita yang menarik itu."
Jaemin langsung menengadah melihat Mark.
"Aku yakin makan malam sudah siap," Mark memberitahu, "Engkau mau ke sana sendiri atau kugendong?"
Wajah Jaemin langsung memerah. "Aku bisa berjalan sendiri," ia langsung membalikkan badan.
Mark tersenyum melihatnya. Ia berpaling pada Jungwoo dan berkata, "Kuharap engkau bisa membantu istri pilihanmu terbiasa dengan kehidupan barunya ini," dan ia segera mengikuti Jaemin.

-0-

"Di mana Jaemin?" Mark menatap tajam pelayan pribadi Jaemin, "Katakan padanya aku menyuruhnya datang sekarang juga!" Mark marah.
"Ehm..., Paduka Raja. Itu... anu... Paduka Ratu," Nicci bingung, "Dia... Paduka Ratu..."
Mark menghela nafas.
Kemarin malam ketika Jaemin masih terlihat segar bugar ketika mereka akan kembali ke Tognozzi, Mark sempat curiga kakak beradik Krievickie tidak melakukan tugas mereka. Namun ketika Jaemin terus berpegang padanya ketika mereka sudah memasuki kapal, Mark tahu keduanya telah berhasil tanpa sedikit pun menimbulkan kecurigaan Jaemin. Hanya semangat Jaeminlah yang membuat obat itu tidak bekerja seperti yang diharapkan Mark.
Jaemin sempat membuat keributan ketika ia tiba-tiba terjatuh tak lama setelah kapal meninggalkan Corogeanu. Mark segera mengatasi keadaan dengan membawa Jaemin ke kamar dan memanggil Lawrence untuk memeriksanya. Tentu saja keduanya tahu apa yang membuat Jaemin tiba-tiba jatuh pingsan namun tak seorang pun dari mereka yang membuka suara.
Lawrence sempat mengagumi daya tahan Jaemin pada obat tidurnya. Namun ia yakin, Jaemin akan terus tertidur hingga mereka mencapai Istana. Dan memang itulah yang terjadi. Jaemin terus tidur hingga pagi ini!
Ketika Jaemin muncul di Ruang Makan dengan wajah cerianya, Mark yakin gadis itu tidak tahu apa yang membuatnya pingsan kemarin malam. Namun rupanya ia terlalu menyepelekan Jaemin. Gadis cerdas itu pasti tahu apa yang sudah diperbuatnya dan sekarang ia memberikan pembalasannya!
Pagi ini ia sudah memberitahu Jaemin mereka akan menghadiri sebuah perjamuan sosial. Sekarang, gadis itu menghilang. Seharusnya ia sudah tahu akan begini jadinya. "Ke mana dia?"
Nicci terkejut.
"Ke mana biasanya dia menghilang?"
Nicci sadar ia tidak bisa berbohong pada Raja Mark. "Baju pelayan yang Paduka Ratu minta tidak ada di tempatnya," Nicci memberitahu dengan hati-hati. Matanya terus mengawasi setiap perubahan di wajah tampan Mark, "Mungkin Paduka Ratu pergi ke Loudline. Paduka Ratu suka pergi ke Loudline dengan menyamar sebagai pelayan Earl Hielfinberg."
Dengan tingkah Jaemin yang seperti itu, Mark sama sekali tidak terkejut. "Nicci, kau bisa mencarikan baju pelayan untukku?"
Nicci terperanjat. "Paduka, Anda... Anda... tidak bermaksud... bukan?"
"Seseorang harus menjemput Jaemin."
"Anda bisa mengirim saya untuk menjemput Jaemin. Saya tahu di mana biasanya Ratu berada."
"Aku tidak ingin mengulangi perintahku, Nicci," Mark memperingati.
"B-baik, Paduka. Hamba akan segala melaksanakan perintah Anda," Nicci langsung bergegas pergi.
Kalau semua orang mengatakan Jaemin adalah satu-satunya orang yang bisa menghadapi amarahnya, Mark pun mempunyai kepercayaan diri ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengatasi pemberontakan Jaemin.
Mark menghela nafas. Tampaknya hari ini ia tidak akan bisa ke mana-mana. Ia harus mengirim seseorang ke perjamuan itu.
"Paduka," Jancer, sang Kepala Pengawal Istana muncul dengan wajah pucatnya, "Saya telah mendengarnya. Saya bisa mengirim pasukan untuk menjemput Paduka Ratu."
Mark tidak terkejut melihat wajah panik pria itu. "Harus aku sendiri yang menjemput Jaemin."
"Saya akan mengatur pasukan untuk menemani Anda."
"Tidak, Jancer. Aku tidak mau dikawal," perkataan Mark membuat Jancer membelalak, "Aku punya tugas lain untukmu."
Jancer tidak mengerti rajanya. Semenjak kehadiran Jaemin di Istana ini, Mark mulai berubah. Sekarang ia menjadi seseorang yang benar-benar tidak dikenal Jancer.
Dulu Mark selalu berkepala dingin menghadapi setiap masalah. Ia jarang mengumbar emosinya. Sekarang, tiada hari mereka tidak mendengar bentakan Mark. Anehnya, amarah Mark tidak lagi semenyeramkan dulu. Entah itu karena mereka sudah mulai terbiasa dengan suara nyaring Mark yang mengagetkan istana setiap saat ataukah karena kehadiran Jaemin yang selalu membantah Mark dengan suara nyaringnya pula. Jancer tidak mengerti.
Dulu Mark tidak pernah menolak setiap wanita cantik yang muncul di depannya. Sekarang Mark hanya memfokuskan perhatiannya pada tugas-tugas kerajaan. Mark tidak pernah lagi terlihat bersenda gurau dengan wanita-wanita cantik kecuali menyangkut urusan kerajaan.
Jaemin membawa banyak perubahan pada Mark. Semenjak kedatangannya, Jancer sering mendengar tawa pemuda yang hampir tidak pernah tertawa semenjak kematian orang tuanya itu. Ia juga sering memergoki rajanya itu mengawasi tingkah Jaemin dengan senyum penuh arti.
Jaemin...
Jancer tidak tahu bagaimana ia harus menggambarkan gadis itu. Di satu saat gadis itu tampak masih kanak-kanak. Di saat yang lain, ia begitu berwibawa. Di satu kesempatan ia sungguh liar dan di kesempatan lain ia sangat anggun.
Kemarin ia melihat sendiri sisi Jaemin yang lain. Sebagai Kepala Pengawal Istana, sudah menjadi kewajibannya mengawal pasangan nomor satu di kerajaan ini. Ia berada di tempat itu ketika Jaemin menghadapi Somi yang menjadi pusat perhatian.
Gadis itu tampak begitu manis dan polos ketika ia mengucapkan kata-katanya yang memahami posisi sang Duchess baru itu. Kata-katanya yang lembut berpihak pada Somi. Setidaknya itulah yang dilihat setiap orang pada saat itu. Namun bila seseorang berpikir lebih jauh, tidak sulit menangkap sindiran-sindiran tersembunyi gadis belia itu.
Jancer tidak tahu haruskah ia berkata Ratu Jaemin adalah seorang malaikat, atau seorang iblis atau seorang iblis berbaju malaikat atau seorang malaikat berbaju iblis. Ia sungguh tidak dapat memahami tindakan ratunya yang satu ini.
Ratu Viering satu ini suka berbuat sesuka hatinya tanpa berpikir banyak. Dan sekarang ia juga membuat Raja Viering ikut-ikutan.
Tidak! Tunggu dulu! Jancer tidak dapat menjamin Ratu akan dalam keadaan selamat ketika pasukan Istana mulai menyisir Loudline. Jangan-jangan keberadaan pasukan Istana di Loudline malah membahayakan Ratu.
Jancer tersenyum Rajanya memang orang yang dapat dihandalkan. Duke Taeil pasti tahu kedua orang itu memang cocok hingga ia memilih Jaemin. Seperti Jaemin yang selalu bisa menghadapi Mark, Mark juga adalah satu-satunya orang yang bisa menghadapi Jaemin.
Namun keyakinan itu mulai goyah ketika Jancer melihat pekikan ngeri Duke Taeil saat ia menyampaikan pesan Raja untuknya.
"Paduka Raja ingin Anda mewakilinya dalam perjamuan siang ini. Bila mereka bertanya apa yang terjadi, Anda diminta untuk mengatakan Paduka Ratu sedang dalam keadaan tidak sehat sehingga Paduka Raja memutuskan untuk menemaninya."
"Apa katamu!?"
"Sekarang Paduka Raja pergi ke kota dan melarang seorang prajurit pun menemaninya," Jancer mengulangi.
"Mengapa kalian begitu ceroboh? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Paduka Raja? Bagaimana kalau tiba-tiba ada perampok?" Taeil gelisah, "Cepat kirimkan prajurit ke kota!"
"Tenanglah, Duke Taeil," Jancer menenangkan.
"Bagaimana kau bisa tenang!? Ini menyangkut keselamatan Paduka Raja!"
"Saya juga mencemaskan keselamatan Paduka Raja. Namun, saya merasa lebih berbahaya bila tiba-tiba segerombolan prajurit menyusuri kota. Mungkin akan lebih aman bila membiarkan mereka berdua berada di kota tanpa seorang prajurit pun. Tidak akan ada seorang rakyat pun yang akan mengenali mereka. Paduka Raja pasti tahu bagaimana menyembunyikan identitasnya."
"Mereka?" Duke bertanya tidak percaya.
"Bukankah saya telah mengatakan Paduka Raja pergi ke kota untuk menjemput Paduka Ratu?"
"Oh, Tuhan," Taeil tiba-tiba lemas, "Jaemin..."
Jancer tercengang. Tampaknya tidak seorang pun benar-benar memahami sang Ratu Terpilih ini.

-0-

"Apa kau sudah membeli semua kebutuhanmu?" seseorang memegang pundak Jaemin.
Jaemin terkejut. Matanya terbelalak lebar.
Mark menatap tajam Jaemin dengan kesal. Tidak sulit menemukan gadis ini di Loudline. Seperti yang dikatakan Nicci, gadis ini berada di satu di antara toko-toko langganan Fauston. Tapi Nicci lupa mengatakan keberadaan pemuda yang jelas-jelas jatuh cinta pada Jaemin di toko ini. Mark tidak tahu apakah Jaemin benar-benar cerdas atau bodoh.
"Jaemin, siapa dia?" tanya Lucas.
"Dia... dia...," kepala Jaemin langsung berputar cepat, "Dia juga adalah pelayan Earl."
"Oh, jadi dia teman sekerjamu," Lucas mengambil kesimpulan.
"Bukan hanya itu saja," Mark menarik Jaemin mendekat ke sisinya, "Aku juga adalah suaminya." Matanya melihat pemuda itu dengan penuh kemenangan.
Mata Jaemin melotot pada Mark.
Lucas tampak terpukul. "Oh," mata nanarnya menatap Jaemin, "Kau tidak pernah memberitahuku, Jaemin."
"Itu karena kau tidak pernah bertanya," Jaemin menjawab cepat.
Mark tersenyum puas melihat reaksi pemuda itu. Pemuda itu salah kalau ia berpikir Jaemin juga tertarik padanya. Mark tahu Jaemin hanya senang berteman dengannya. Tidak lebih dari itu!
"Maaf, aku masih ada pekerjaan lain," Lucas mundur.
Jaemin merasa bersalah melihat Lucas. "Besok aku akan datang lagi," janjinya.
Mark tersenyum puas melihat pemuda itu kabur dengan wajah pucat pasi.
"Apa maumu!?" bentak Jaemin - menatap tajam Mark. "Engkau membuat Lucas kabur. Apa yang harus kulakukan kalau ia membenciku karenanya!?"
Mark tidak suka mendengarnya. "Rupanya kau memihak pemuda itu."
"Aku tidak memihak siapa pun! Lucas adalah temanku!" Jaemin tertegun, "Jangan-jangan...," ia melihat wajah kesal Mark lekat-lekat, "Kau cemburu?"
"Jangan memancing pertengkaran di tempat ini," Mark memperingati dengan berbahaya.
"Apa maumu datang ke sini?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak mau pulang!" Jaemin bersikeras, "Aku tidak mau kembali pada orang licik sepertimu! "
"Aku juga tidak ingin mengajakmu pulang."
Jaemin tertegun.
"Hari ini aku ingin menjalankan tugasku sebagai seorang suami yang baik," Mark memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelipkan tangan Jaemin di sikunya.
"Apa kau ingin mencari kesempatan untuk memberiku obat tidur lagi?" Jaemin menyelidiki.
Mark tersenyum tak bersalah. "Biasanya apa yang dilakukan seorang suami ketika istrinya berbelanja?"
"Mengomel sepanjang jalan, melarang istrinya menghamburkan uang," Jaemin menjawab spontan.
"Tidak, kau salah," Mark membenarkan, "Seorang suami yang baik berkewajiban mengeluarkan uang ketika istrinya yang bijaksana memutuskan membeli sesuatu dan membawakan barang belanjaan istrinya." Mark tersenyum lembut. "Aku adalah seorang suami yang baik dan aku percaya kau adalah seorang istri yang bijaksana."
Wajah Jaemin memerah.
"Jadi, kau mau ke mana?"
Ketika keduanya menyibukkan diri di kota, sebuah gosip baru beredar di Loudline.
Orang-orang heran melihat sang Grand Duke muncul di jamuan sosial yang seharusnya dihadiri pasangan nomor satu Kerajaan ini. Mereka mulai berspekulasi mendengar penjelasan sang Grand Duke.
"Apakah itu mungkin?"
"Tidak mungkin salah lagi. Bukankah kemarin kita juga mendengar sendiri Ratu mengatakannya?"
"Tidak. Itu tidak mungkin. Mereka baru menikah."
"Mengapa tidak mungkin?"
"Bukannya kemarin Ratu terlihat tidak segar. Bahkan ia pingsan dalam perjalanan pulang. Raja juga tampak cemas sekali hingga ia terus berada di sisi Ratu."
"Tidak mungkin salah! Kemarin aku melihat Raja berbicara dengan Dokter Lawrence."
"Kalau itu benar, mengapa sampai sekarang tidak ada pengumuman resmi dari Istana?"
Setiap orang menggabung-gabungkan peristiwa kemarin dengan absennya Raja dan Rau dari perjamuan sosial yang juga dihadiri bangsawan-bangsawan ternama Viering ini. Begitu cepat dan liarnya gosip itu berkembang hingga berita itu sampai di telinga Renjun.
"Jisung, apakah engkau sudah mendengarnya?" Renjun bertanya. "Apakah mungkin Jaemin...?"
"Jaemin juga seorang wanita?" Jisung balik bertanya.
"Ini bukan saatnya bergurau!" Renjun naik pitam, "Ini bukan masalah sepele!"
Sang pasangan yang sedang digosipkan sedang asyiknya berkeliling Loudline tanpa menyadari gosip tentang mereka juga akhirnya sampai di telinga Somi.
Sang Duchess of Binkley itu langsung panik mendengarnya. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" pekiknya sambil terus berjalan mondar-mandir di depan suaminya, "Kita sudah tidak punya waktu! Kita tidak boleh membiarkan anak itu lahir!"
"Apa yang kau khawatirkan?" Jungwoo heran melihat kepanikan istrinya, "Belum tentu gosip itu benar."
"Bagaimana kalau gadis ingusan itu benar-benar sedang mengandung!?"
"Belum tentu anak itu adalah pria."
"Engkau memang bodoh! Apa kau tidak sadar kritisnya posisimu ini!?" emosi Somi meledak. "Aku harus melakukan sesuatu," Somi berbalik meninggalkan Jungwoo, "Aku harus melakukan sesuatu. Todd! Benar, aku harus segera menyuruh Todd membunuh gadis sialan itu!"
Jungwoo hanya duduk bengong melihat Somi terus bergumam sambil menjauh. Ia tidak mengerti mengapa istrinya harus panik seperti itu hanya karena mendengar gosip yang beredar di jamuan sosial siang ini. Bukankah ini adalah hal bagus kalau Jaemin memang sedang hamil?

-0-

Nicci tercengang melihat Raja membantu istrinya turun dari kuda.
Mereka masing-masing pergi hanya dengan seekor kuda. Sekarang keduanya kembali dengan menunggangi seekor kuda sementara kuda yang lain membawa dua keranjang besar yang menggelantung di kedua sisi pelana kuda di atas punggungnya.
Nicci tidak dapat mengeluarkan suara apa pun.
Mark menyuruh prajurit yang juga tercengang di pintu, untuk menurunkan dua keranjang besar itu.
"Pa-paduka," Jancer juga tidak kalah kagetnya melihat kepulangan keduanya sore ini bersama belanjaan mereka, "Apa yang Anda lakukan?"
"Berbelanja," Mark menjawab santai.
"Anda tidak perlu melakukan itu. Anda bisa menyuruh Vicenzo mengatur orang untuk membeli barang-barang yang Anda perlukan," kata Grand Duke Taeil yang juga menyambut kedatangan mereka.
"Istriku ingin memilih sendiri bahan-bahan dapurnya," Mark tersenyum melihat Jaemin yang sekarang dengan gembira memamerkan hasil belanjanya pada Nicci. "Panggil Vicenzo untuk menyimpan belanjaan kami," katanya pada seorang prajurit, "Katakan padanya pula kami sudah kenyang." Kemudian ia berbalik pada Jancer, "Apakah kau punya seorang prajurit tengah baya yang tangguh dan tidak kaku?"
Jancer terkejut oleh pertanyaan tidak terduga itu.
"Paduka Raja?" tanya Taeil.
"Lebih baik membiarkan dia pergi ke tempat yang kita ketahui daripada membiarkannya menghilang tanpa petunjuk."
"Tapi... itu...," Duke Taeil tidak sependapat dengan keputusan Mark.
"Ia punya caranya sendiri untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Ratu," Mark percaya keputusannya ini tidak salah.
Seharian bersama Jaemin di kota membuat Mark menyadari mengapa gadis itu mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Harus diakui Mark, ia sempat terkejut menyadari betapa terkenalnya Jaemin di Loudline. Rasanya hampir tidak ada yang tidak menyapa Jaemin. Melihat Jaemin tampak begitu akrab dengan mereka, Mark yakin kegiatan Jaemin ini bukan hanya masalah sehari dua hari. Sejujurnya, barang-barang yang mereka bawa pulang kebanyakan adalah pemberian teman-teman Jaemin.
Tak heran Jaemin suka kabur ke Loudline.
"Jancer, aku harap engkau segera menemukan prajurit itu. Aku tidak berani menjamin Jaemin akan duduk diam sampai engkau menemukannya."
"Saya mengerti, Paduka. Saya rasa saya tahu siapa yang dapat menerima tugas itu."
"Suruh ia menemuiku di ruang kerjaku," kata Mark.
"Saya akan segera melaksanakan perintah Anda," Jancer mengundurkan diri.
Mark pun masuk ke dalam istana diiringi Taeil. "Bagaimana perjamuan siang ini?"
"Semua berjalan dengan lancar, Paduka," Duke Taeil memulai laporannya. "Saya memberi penjelasan sesuatu petunjuk Anda."
"Bagus," Mark puas. Ia memasuki Istana diiringi Duke Taeil.
"Hm..., Paduka," Duke Taeil ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimana harus mengutarakan pertanyaannya, "Apakah Paduka Ratu... apakah ia..."
Mark melihat Taeil dengan tertarik.
"Semua orang di jamuan membicarakannya. Paduka Ratu sedang hamil."
Mark terperanjat. Kemudian ia tertawa geli.
Taeil bingung melihat reaksi itu.
"Jaemin pasti senang mendengarnya," Mark tidak menyangkal juga tidak membenarkan pertanyaan Taeil.

-0-

"Benarkah itu!?" Jaemin mengulang dengan gembira.
"Benar, Paduka Ratu. Mulai hari ini hamba ditunjuk untuk menemani Anda setiap kali Anda ingin ke kota."
"Bukankah ini bagus, Paduka Ratu?" tanya Nicci, "Anda tidak perlu sembunyi-sembunyi pergi ke Loudline."
Senyum di wajah Jaemin kian mengembang. "Katakan padanya aku akan jatuh cinta padanya kalau ia terus seperti ini."
"Mengapa tidak kau katakan sendiri pada orang yang bersangkutan?"
Mereka terperanjat.
Mark memasuki kamar Jaemin dengan seluruh wibawanya.
"Paduka Raja," Nicci dan prajurit itu memberi hormat - menyambut kedatangan Mark.
Wajah Jaemin memerah dan ia langsung membuang muka.
Nicci memberi tanda pada prajurit di sisinya untuk meninggalkan tempat itu.
"Jadi, apa yang barusan akan kaukatakan padaku?" Mark mendekati Jaemin. "Kalau kau malu mengatakannya dengan keras, mengapa kau tidak membisikkannya padaku?" ia mencondongkan tubuh ke arah Jaemin.
Rona merah di wajah Jaemin kian menyala. "P-pergi kau!" ia mendorong Mark kuat-kuat.
Mark tertawa geli.
Jaemin sama sekali tidak menikmati tawa pemuda itu. "Pergi! Jangan ganggu aku!" usirnya kesal.
"Begitukah tindakanmu pada seseorang yang ingin memberimu hadiah?"
"Hadiah?" Jaemin mencermati wajah Mark dengan curiga.
Mark hanya tersenyum. "Lihatlah apa yang kubawa untukmu," ia memberikan bungkusan di tangannya pada Jaemin.
Tidak perlu diperintah, Jaemin segera membuka bungkusan itu. Sebuah gaun katun hitam terlipat rapi di atas pangkuan Jaemin. Mata Jaemin terbelalak melihat Mark.
"Kau adalah pelayan Earl Hielfinberg, bukan?"
Jaemin memperhatikan wajah Mark dengan curiga. "Apa tujuanmu?"
"Apa kau masih perlu bertanya?" Mark menjawab polos, "Tentu saja membuatmu jatuh cinta padaku."
Wajah Jaemin langsung memerah oleh amarah.
Mark tertawa.
"KAU!" Jaemin menerjang.
Mark menangkap tangan Jaemin dan menindihnya di atas tempat tidur.
Jaemin geram. Ia tidak bisa bergerak di bawah tindihan tubuh Mark.
"Kau tahu, istriku," Mark tersenyum simpul, "Gosip apa yang beredar di Viering hari ini?"
"APA!?"
"Semua orang mengatakan engkau sedang hamil," Mark tidak sabar mengetahui reaksi Jaemin.
Jaemin membelalak lebar. "Benarkah itu?" tanyanya tidak percaya, "Sejak kapan? Mengapa aku tidak menyadarinya?"
Nada riang dalam suara itu membuat Mark waspada.
"Lihatlah. Aku sudah mengatakannya, bukan. Kalau waktunya sudah tiba, aku juga akan hamil."
Tawa Mark lepas tanpa bisa dikontrolnya. Ia menjatuhkan diri di sisi Jaemin dan menggeliat karena sakit di perutnya.
Jaemin sama sekali tidak senang melihat reaksi yang berlebihan itu. Ia tahu Mark tidak sedang bergembira tetapi sedang menggodanya. "Apa yang sedang kautertawakan!?" Jaemin duduk sambil menatap tajam Mark.
"Istriku, oh istriku," akhirnya Mark berhasil mengatasi tawanya. Ia pun duduk dan menyeka air matanya yang keluar karena tawa. Melihat wajah cemberut Jaemin, Mark benar-benar harus mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mencegah tawanya lepas lagi. "Aku sungguh tidak tahu engkau ini cerdas atau tolol," Mark mengulum tawanya dalam senyum gelinya.
"HEI!"
"Jangan marah," Mark memegang dagu Jaemin. "Itu tidak baik untuk bayimu," tangannya turun ke perut Jaemin.
Wajah Jaemin merah padam.
Mark tidak dapat menahan dirinya lagi.
Jaemin sadar ia sedang dipermainkan.
"KAU!" Jaemin menghantam dada Mark, "Kau mempermainkanku!" ia menerjang dengan sekuat tenaganya.
Mark langsung terjatuh lagi di atas tempat tidur dengan Jaemin di atasnya. Tawanya yang tidak terkontrol sudah menguras seluruh tenaganya sehingga ia tidak punya kemampuan untuk menghindari pukulan Jaemin.
Jaemin pun kaget menyadari ia sedang menindih tubuh Mark. Ketika ia akan bangkit, tangan Mark sudah melingkari pinggangnya dan menariknya merapat.
"Kau tahu, Jaemin, kau sungguh manis kalau engkau diam," Mark tersenyum lembut.
Wajah Jaemin merah padam.
Mark memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium Jaemin. "Aku mendapatkannya," ia tersenyum penuh kemenangan.
"Kau," Jaemin geram. "Lepaskan aku!" iapun memberontak.
Sebagai jawabannya, Mark menggulingkan tubuh mereka sehingga sekarang ia menindih Jaemin.
"Akan sangat menyenangkan sekali kalau membiarkan engkau terus percaya engkau sedang hamil," suara serius Mark membuat Jaemin terdiam.
Jaemin sadar ada sesuatu yang penting yang harus diketahuinya.
"Aku tidak tahu haruskah aku memberitahumu atau haruskah aku meminta Renjun menerangkannya padamu."
"Apa maksudmu?"
Mark tersenyum geli. "Kurasa aku lebih suka melihat wajahmu yang seperti udang rebus daripada membiarkan Renjun mengajarkan apa yang sudah seharusnya ia ajarkan ketika kau akan menikah."
"Engkau benar-benar membuatku bingung."
"Dengarkan aku, sayangku," Mark memilih kata-kata yang mudah dimengerti oleh Jaemin, "Hamil tidaklah semudah yang kaupikirkan. Pernikahan tidak dapat memastikan engkau dapat hamil. Untuk hamil, kita perlu lebih dari tidur bersama seperti kemarin."
"Tidur bersama?" wajah Jaemin merah padam diingatkan kejadian yang tidak sudi diakuinya itu.
Kemarin Jaemin sama sekali tidak memikirkan tindakannya sepanjang hari itu. Namun pagi ini ketika ia terbangun dengan kepala pening, ia mulai menggunakan kepala dinginnya mengulang kembali kejadian sepanjang hari kemarin untuk mencari jawaban mengapa setelah makan malam ia terus mengantuk hingga akhirnya ia benar-benar tertidur hingga pagi ini.
Jaemin masih ingat dengan jelas bagaimana ia bermanja-manja di pelukan Mark. Jaemin ingat bagaimana ia melarang Mark meninggalkannya. Ia ingat semuanya mulai dari ia tidur di atas dada Mark hingga Mark mengambil ciuman pertamanya. Tidak ada satu pun yang terlupakan oleh Jaemin!
Sampai mati pun Jaemin tidak akan mengakui semua tindakannya kemarin. Itu bukan perbuatan yang dilakukannya dengan akal sehat. Mark pasti tahu ia takut akan laut dan ia memanfaatkan ketakutannya itu! Pasti itu yang terjadi!
Sepanjang pagi ini ia terus mengingkari kejadian kemarin. Sepanjang makan pagi ini ia berusaha menghindarkan mata dari Mark. Namun matanya terus terpaku pada sosok Mark yang kemarin telah memeluknya sepanjang perjalanan menuju Corogeanu. Ingatannya terus melayang pada tangan-tangan kekar yang terus melingkari tubuhnya sepanjang hari. Siang ini pun ketika Mark memergokinya di kota, Jaemin tidak dapat melepaskan matanya dari bibir yang kemarin mencuri ciuman pertamanya.
Jaemin melihat wajah tampan yang begitu dekat itu. Tubuhnya bereaksi menyadari tubuh kekar yang kemarin menjadi kasurnya, menindihnya. Jantungnya berdegup keras merasakan tangan kekar yang kemarin memeluknya, kini tengah melingkari pinggangnya.
"Oh, Jaemin, sayangku," tangan kanan Mark beralih ke wajah Jaemin, "Jangan menatapku seperti itu."
Seperti apa? Jaemin tidak mengerti. Apakah yang sedang dikatakan pemuda ini?
"Kau benar-benar tidak menyadari pesonamu, bukan?" Mark memperhatikan sepasang bola mata biru yang memandangnya dengan bingung itu, "Kau benar-benar membuatku ingin meneruskan tidur kita kemarin ke tingkat yang lebih jauh," ia pun kembali menjatuhkan ciuman di bibir Jaemin.
Jantung Jaemin berdebar keras. Mark kembali membangkitkan sensasi yang kemarin dirasakannya. Ciuman Mark tidak berhenti di situ saja. Ia mulai menjelajahi wajah Jaemin dan bergerak turun ke dagunya, lehernya.
Jaemin merasakan tangan Mark yang di pinggangnya bergerak naik sepanjang punggungnya. Tangannya yang lain melusuri lekuk lehernya, pundaknya dan terus turun sepanjang sisi tubuhnya. Tubuh Jaemin bergetar oleh sensasi yang tak dikenalnya. Jaemin takut namun ia menginginkan lebih dari itu. Jaemin mencengkeram kemeja Mark takut sewaktu-waktu ia akan melebur.
Tiba-tiba Mark menghentikan semuanya. Matanya bersinar lembut. "Untuk kau dapat benar-benar hamil, aku harus terus meneruskan ini dan menyatukan tubuh kita berdua," ia tersenyum lembut.
Rona merah menghiasi wajah Jaemin.
"Malam ini aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan melakukannya sampai kau benar-benar siap," Mark berjanji dan ia beranjak bangkit.
Tangan Jaemin terulur menarik kemeja Mark.
Baik Mark maupun Jaemin terkejut melihat tangan yang mencengkeram lengan kemeja Mark itu.
"A...aku... aku...," Jaemin tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya.
Mark tersenyum. Ia mengangkat tubuh Jaemin dan membaringkannya di posisi yang benar. Kemudian ia menarik selimut menutupi tubuh gadis itu dan mencium dahinya. "Selamat malam, sayangku."
Mark tahu ia harus bergegas meninggalkan kamar Jaeminn. Ia tidak dapat menjamin ia dapat terus bersikap seperti seorang gentleman. Sesaat lalu hampir saja ia kehilangan akal sehatnya. Memang tujuan pernikahan ini adalah untuk memberi keturunan Arcalianne namun sekarang Mark meragukan niatnya.

TBC …

Maaafkan keterlambatan update dari saya karena saya beberapa kali kehilangan mood untuk mengedit. Dan untuk Jaemin saya ucapkan welcome back to NCT and NCT Dream saya tunggu MarkMin momentnya^^

Salam hangat dari saya *bow ^^