Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Earl of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Earl of Hielfinberg

Huang Renjun as Irina Krievickie

Park Jisung as Derrick Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley

Jaemin mendesah panjang.
Nicci cemas melihat ratunya. Beberapa hari terakhir ini, Jaemin banyak duduk melamun seperti ini. Biasanya, setiap tidak ada kegiatan, selalu ada saja keributan yang dibuat Jaemin namun belakangan ini ia hanya mendesah panjang.
Nicci curiga. Apakah perubahan tingkah laku Jaemin ini disebabkan oleh kehidupan lain dalam dirinya. Bukankah sikap seorang wanita selama hamil sedikit banyak dipengaruhi oleh janin dalam kandungannya?
Bagaimana Nicci mengetahuinya? Tentu saja karena gosip itu. Gosip akan kehamilan Jaemin sudah sampai ke Istana bahkan Nicci sering menjadi incaran orang-orang yang ingin tahu. Namun, apa yang dapat dikatakan Nicci tentang gosip itu? Ia tidak mengetahui kebenarannya. Ia juga tidak berani memastikannya.
Pernah Nicci menyinggung masalah itu. Wajah Jaemin langsung merah padam sebagai jawabannya. Melihat kepanikan Jaemin saat itu, Nicci meragukan kebenaran gosip itu. Tapi kalau melihat sikap Jaemin yang seperti ini…
Lady Renjun juga pernah datang ke Istana hanya untuk memastikan gosip itu. Namun, seperti apa yang didapat Nicci, wajah Jaemin merah padam! Melihat kepanikan Jaemin, Renjun pun memutuskan untuk tidak terus mendesak gadis itu.
Raja Mark, di sisi lain, selalu tertawa setiap kali ada yang menyinggung masalah kehamilan Jaemin. Ia tidak membenarkan juga tidak menyangkal gosip itu.
Keduanya benar-benar tidak membantu menjernihkan gosip ini! Kalau memang benar Jaemin hamil, mengapa Jaemin selalu panik setiap kali ditanya? Kalau Jaemin tidak hamil, mengapa Mark selalu tertawa riang setiap kali ditanya? Kalau Jaemin memang benar hamil, mengapa hingga detik ini tidak ada pengumuman resmi dari pihak Fyzool?
Lawrence, sang dokter yang diajak Mark berbicara di Corogeanu pun tidak luput dari gosip itu. Orang-orang terus membanjiri rumahnya hanya untuk memastikan kebenaran gosip itu. Namun, tentu saja, Lawrence tidak dapat membantu.
Tiadanya kepastian dari pihak manapun membuat setiap orang terus berspekulasi dengan kabar kehamilan Jaemin ini.
"Apa yang sedang kau lamunkan, istriku?" Mark melingkarkan tangan di pinggang Jaemin.
Jaemin terperanjat. Ia membalikkan badan.
Senyuman Mark menabuh genderang jantung Jaemin. "Tampaknya aku benar-benar mengejutkanmu. Ini tidak baik untuk bayimu."
"K…kau…," Jaemin kehilangan kata-katanya.
Wajah bersemu itu menggoda Mark untuk menjatuhkan ciuman.
Mata Jaemin membelalak lebar ketika mulut mereka bertemu.
Mark tersenyum lembut.
Jaemin memalingkan kepala. Tangannya menutupi wajahnya yang panas. Ketika Mark menarik punggungnya merapat ke dadanya, barulah Jaemin menyadari sejak tadi tangan Mark tidak beranjak dari pinggangnya.
Keduanya sama sekali tidak menyadari pasangan-pasangan mata yang terpusat pada mereka. Sebagai pemeran utama gosip yang paling hangat di Viering saat ini, setiap tindakan mereka memancing perhatian setiap mata. Sekarang, di koridor Istana yang ramai, keduanya berpelukan dengan mesra. Setidaknya itulah yang dilihat orang lain.
"Dengarlah aku, Jaemin," bisik Mark.
Suara lembut Mark ketika menyebut namanya, menabuh genderang jantung Jaemin.
"Aku ingin kau mengucapkan selamat tinggal pada kawanmu di Loudline."
Jaemin langsung melepaskan diri dari pelukan Mark. Matanya menuntut penjelasan Mark.
"Apakah kau lupa besok kita akan berangkat ke Pittler?" Mark bertanya, "Atau mungkin kau lebih senang bertemu dengan pemuda itu daripada pergi berburu denganku?"
"T-tidak," sergah Jaemin, "Tentu saja aku mau pergi denganmu."
"Reaksimu tidak mengatakannya," Mark tidak sependapat, "Jangan katakan padaku kau lupa."
"Wajar saja kalau aku lupa," Jaemin tidak senang dengan pertengkaran yang dipancing Mark, "Orang gila mana yang mau pergi berburu ketika hewan-hewan bersiap-siap tidur selama musim dingin!?"
"Kau tidak mengerti. Justru inilah letak tantangannya. Mengapa?" Mark mencondongkan tubuhnya, "Apakah kau tidak punya kepercayaan diri untuk mengungguliku?"
Wajah yang terlalu dekat itu membuat mata Jaemin tidak bisa menghindarkan tatapannya dari bibir yang sanggup meluluhkannya. Jaemin segera mengalihkan pandangannya dan ia kembali mengutuki dirinya sendiri. Sepasang mata kelabu Mark menyedot pandangannya seperti gua gelap tak berujung. Jaemin mengatupkan tangannya di dadanya – siap menangkap jantungnya yang siap melompat sewaktu-waktu.
"Jadi, sayangku?"
Nada gembira dalam suara itu menyadarkan Jaemin akan permainan Mark.
"Aku tidak akan kalah darimu! Lihat saja!"
Mark tersenyum puas. "Aku tidak sabar melihat penampilanmu besok."
Jaemin kesal. Ia marah! Mengapa setiap saat ia baru menyadari permainan Mark ketika pemuda itu sudah puas!? Ia tidak akan membiarkan pemuda itu tahu belakangan ini ia terus memikirkannya!? Jaemin tidak akan membiarkan Mark menertawakannya karena itu!
"Mau ke mana kau?" Mark menarik tangan Jaemin.
"Aku mau mencari Lucas!"
"Jangan pergi terlalu lama," pesan Mark.
"Aku tidak akan kembali sampai besok!" Jaemin pergi dengan kesal.
Mark tertawa. Ia tahu Jaemin sedang marah padanya. Inilah Jaeminnya. Jaemin salah kalau ia pikir Mark tidak tahu hobi barunya akhir-akhir ini.
Perubahan Jaemin terlalu mencolok hingga penghuni baru Fyzool pun tahu ada yang salah pada Jaemin. Bagi tiap orang, Jaemin berubah karena bayi dalam kandungannya. Namun bagi Mark, Jaemin berubah karena ia kecewa pada kenyataan ia tidak benar-benar hamil.
Andaikan saja Jaemin tahu betapa Mark menginginkan kehamilannya…
Hari-hari belakangan ini Mark menghindari pertemuan dengan Jaemin di saat tiada orang lain di sekitar mereka. Mark tidak mau kehilangan akal sehatnya lagi seperti malam itu. Mark tidak berani menjamin di saat lain ia dapat mengendalikan tindakannya seperti saat itu.
Hari-hari belakangan ini Mark menyadari ia tidak menginginkan kehamilan Jaemin hanya karena tuntutan awal pernikahan ini. Mark tidak mau Jaemin hamil hanya karena tugasnya sebagai seorang Ratu. Mark menginginkan keturunan yang benar-benar diinginkan mereka berdua!
Melihat Jaemin yang menjauh dengan membawa kemarahannya, Mark ragu keinginannya itu dapat segera terlaksana.
Tidak mengapa. Mark tidak terburu-buru. Mereka masih muda. Mereka masih perlu membina hubungan sebelum kehadiran anak mereka. Sekarang yang harus segera ia laksanakan adalah mempersiapkan perburuan mereka – tradisi warisan ayahnya.
Mark pun mengundurkan diri dari tempat itu.

-0-

Jaemin masih kesal ketika ia sudah tiba di Loudline.
"Pria itu. Lihat saja! Akan kutunjukkan padanya siapa Jaemin! Ia pikir ia bisa mempermainkanku sesuka hatinya!"
Yuta hanya bisa diam mendengarkan omelan Jaemin. Sejak hari pertama ia mengawal sang Ratu ke Loudline, ia terus mendengar omelan Jaemin tentang suaminya itu. Sekarang ia mulai terbiasa dengannya.
Yuta tidak mengerti bagaimana ia harus menggambarkan hubungan kedua insan ini. Di saat mereka berbicara, Yuta dapat merasakan keintiman di antara mereka. Namun, ketika bersama Jaemin seperti saat ini, Yuta merasa Mark adalah musuh bebuyutan Jaemin. Entah bagaimana Jaemin di mata Mark.
Jaemin menghentikan langkah kaki kudanya dengan tiba-tiba.
Yuta terperanjat. Ia juga segera menghentikan kudanya. Ketika ia melihat Jaemin, gadis itu sudah turun dari kudanya.
"P-Nona, apa yang Anda lakukan?" tanyanya panik. Baik Mark, Jaemin hingga Jancer sudah memperingatinya untuk tidak menyebut gelar gadis itu. Namun Yuta masih tidak sanggup bersandiwara.
"Jangan berisik," Jaemin menegaskan dengan tidak senang. "Tunggu aku di sini," katanya kemudian menghilang dalam keramaian.
Yuta tertegun. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia diperintah untuk mengawal Jaemin selama sang Ratu berada di Loudline. Ia diperintah untuk tidak membocorkan identitas gadis itu. Ia diperintah untuk tidak meninggalkan sisi Jaemin. Namun sekarang, untuk pertama kalinya sejak ia menerima tugas ini, Jaemin menghilang dari pandangannya.
Yuta membawa kuda-kuda mereka ke tepi jalan dan menanti Jaemin.
Apa pun yang dilakukan Jaemin, gadis itu bukan bertindak tanpa berpikir. Inilah yang saat ini dipercaya Yuta.
Selama beberapa hari mengawal Jaemin di Loudline, Yuta melihat sosok lain sang Ratu yang anggun dan liar. Yuta tertegun di hari pertama Jaemin menyapa pedagang-pedagang Loudline dengan akrab. Ia tidak dapat berkomentar melihat sang wanita nomor satu di kerajaan ini bersenda gurau dengan rakyat biasa. Gadis itu menjadi idola di Loudline. Tua muda menyukainya. Pria wanita menyayanginya.
Yuta adalah satu di antara sekian banyak orang yang meragukan keputusan sang Grand Duke Taeil. Namun, setelah melihat sendiri pemandangan ini, Yuta sadar Duke memilih Ratu Viering bukan tanpa pertimbangan.
Raja Mark juga tentu sudah mengetahui hal ini sehingga ia membiarkan istrinya berkeliaran di Loudline hanya dikawal oleh seorang pria yang tengah memasuki masa setengah abadnya.
Baru saja Yuta berpikir seperti itu ketika Jaemin muncul di antara keramaian.
"Ke mana saja Anda, Pa," tatapan tajam Jaemiin membuatnya menutup suara.
"Aku hanya melihat seorang kenalanku," Jaemin menerangkan, "Namun aku kehilangan jejaknya."
"Kenalan Anda!?" Yuta kaget, "Apakah ia melihat Anda? Apakah ia…"
"Jangan khawatir," Jaemin menenangkan, "Aku tidak seceroboh itu. Aku tahu tidak seorang pun boleh melihatku di sini."
Yuta lega mendengarnya.
Baru saja Yuta merasa seperti itu ketika Jaemin berkata, "Tunggu aku di sini," sambil berlari ke seberang jalan.
Yuta terpaku. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang dilakukan Jaemin.
Demikian pula Jaemin. Ia tidak tahu apa yang tengah dilakukannya.
Jaemin bukanlah tipe yang suka campur tangan dalam urusan orang lain. Ia juga tidak suka mengintai tingkah laku orang lain. Namun beberapa saat lalu ketika melihat Somi memasuki Dristol, insting Jaemin mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Somi sudah menjadi Duchess of Pittler. Ia adalah istri orang nomor satu dalam urutan tahta Kerajaan Viering. Mengapa ia masih mengunjungi Dristol? Dan mengapa pula ia harus bersikap sembunyi-sembunyi seperti itu?
Jaemin semakin tidak mengerti ketika melihat Somi menggandeng seorang pria bertubuh besar. Cara Somi menggandeng pria itu membuat Jaemin yakin hubungan di antara mereka tidaklah semurni yang terlihat.
Jaemin baru memutuskan akan meminta tolong sumber gosip terbesarnya, Lucas, ketika ia kembali melihat keduanya menuju lorong ke pemukiman kumuh. Namun lagi-lagi Jaemin kehilangan jejak.
Jaemin menyusuri lorong itu. Matanya terus memperhatikan sekelilingnya – mencari sosok seorang wanita berambut merah dan seorang pria bertubuh besar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" seseorang menepuk pundak Jaemin.
Jaemin terperanjat.
Lucas bingung melihat reaksi Jaemin. "Apa aku mengagetkanmu?"
"T-tidak," Jaemin cepat-cepat menghilangkan kekagetannya. Sesaat lalu ia sempat mengira keduanya menyadari ia tengah mengikuti mereka.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Lucas, "Sebaiknya engkau tidak pergi ke tempat ini seorang diri." Lucas lalu memperhatikan sekeliling Jaemin dengan heran, "Di mana penjagamu itu?"
Jaemin tersenyum. Ia tahu siapa yang dikatakan Lucas.
Di hari pertama Yuta datang ke Loudline bersamanya, Jaemin mengenalkan Yuta sebagai teman sekerjanya yang oleh Earl Hielfinberg ditugaskan untuk membantunya berbelanja kebutuhan rumah tangga Hielfinberg. Sebagai reaksi atas penjelasannya, Lucas berkomentar, "Pasti suamimu yang melakukannya. Ia pasti cemburu padaku sehingga mengatur orang untuk mengawasimu."
Jaemin sempat was-was dengan komentar itu.
"Ia pasti bukan sekedar pelayan."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu menutupinya dariku, Jaemin. Melihatnya saja aku sudah yakin ia pasti ketua pelayan-pelayan Earl Hielfinberg. Earl pasti sangat mempercayainya sehingga ia mendengar permintaannya."
Jaemin lega. Namun di sisi lain ia berharap Mark tidak akan mengikutinya ke Loudline lagi.
Mark terlalu berwibawa untuk menjadi rakyat biasa. Auranya sebagai seorang raja terlalu kental.
Hari itu saat ia menjemputnya, sikap Mark terlalu mencurigakan sebagai seorang pelayan. Kebiasaannya memberi perintah sama sekali tidak bisa dihilangkannya walau Jaemin terus mengomelinya sepanjang hari. Harga dirinya yang tinggi juga membuat pagar pembatas yang jelas antara dia, sang raja dengan mereka, sang rakyat biasa.
Hari itu Jaemin dibuat sadar Mark adalah seorang raja dan ia hanyalah seorang gadis biasa. Ia memang dilahirkan dalam lingkungan bangsawan, sebagai putri Earl of Hielfinberg, namun hatinya dibesarkan dalam lingkungan rakyat biasa.
"Aku meninggalkannya."
"Meninggalkannya?" Lucas tak percaya. Sejak kemunculan pria tua itu, Jaemin selalu bersama pria tua itu. Pria tua itu sama sekali tidak mau meninggalkan sisi Jaemin walau hanya sejenak!
"Aku punya pertanyaan untukmu," Jaemin mengalihkan pikiran pemuda itu.

-0-

Somi melihat sekelilingnya dengan tidak senang. "Dasar orang rendahan!" gerutunya ketika seorang pria kumuh terhuyung-huyung menabraknya. Matanya melirik orang-orang yang di matanya tidak berkelas sedang berpesta pora dengan minuman keras rendahan mereka.
"Ini adalah tempat yang aman untuk berbicara," Todd menyadari kejijikan Somi akan suasana di sekitarnya dan ia menekankan, "Seperti keinginanmu."
Somi benar-benar tidak menyukai cara pria itu memperlakukannya. Mereka memang pernah mempunyai hubungan serius. Namun sekarang ia tidak lagi sederajat dengannya. Ia adalah seorang Duchess and ia tetap seorang pria kumuh tak berkelas.
"Bir?" Todd menawarkan segelas penuh minuman.
"Jangan menghabiskan waktuku!" Somi menepis kasar lalu ia berkata serius, "Aku mau kau melakukan sesuatu untukku."
"Menarik," kata Todd menegak minumannya, "Apa yang diminta Duchess of Binkley dari seorang perampok seperti aku?"
"Bunuh Jaemin!"
Todd terperanjat.
"Kumpulkan orang," kata Somi serius. "Bunuh Jaemin!"
Todd tertawa. "Ternyata Duchess of Binkley masih seorang Somi."
"Kau salah, Todd. Sekarang aku bukan Somi yang dulu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menertawakan aku lagi! Semua orang sama saja! Mereka tidak mengerti bagaimana sulitnya hidup ini."
Somi tidak akan membiarkan orang lain terus meremehkannya. Sejak kecil, tidak seorang pun menerimanya. Karena ia berasal dari luar Coaber, setiap orang memandangnya sebelah mata. Ketika orang tuanya meninggal pun tidak ada yang peduli padanya. Mereka terus meremehkannya. Sekarang ketika ia berhasil mendapatkan posisi yang mantap, semua orang kembali memandang rendah padanya. Memangnya apa artinya darah biru? Para bangsawan itu tidak lebih baik darinya. Mereka juga pernah membunuh. Mereka juga pernah mencuri. Mereka bersikap anggun seakan-akan mereka adalah makhluk mulia. Hanya karena ia melakukan pekerjaan kotor itu dengan tangannya sendiri, tidak berarti mereka bisa menghinanya!
Ia telah berjuang dengan tangannya sendiri untuk mencapai posisinya saat ini. ia tidak akan berhenti. Ia akan terus berjuang hingga puncak!
"Mereka harus tahu siapa Somi!" Somi menegaskan.
Setelah ia menjadi seorang Ratu, tidak akan ada yang berani menghinanya lagi. Saat itu ia akan membunuh semua orang yang berani menjelekkannya. Tidak akan ada lagi orang yang berani merendahkannya ketika Mathias tidak berada di sisinya. Saat ini mereka bisa menghina, mengejeknya bahkan merendahkannya ketika Jungwoo tidak ada di sisinya. Namun, ketika ia sudah menjadi seorang Ratu Viering, mereka tidak akan berani lagi.
"Apa kau pikir akan semudah itu?"
"Tentu saja tidak. Apa kau pikir aku tidak tahu? Mark tidak pernah mengijinkan gadis itu keluar Istana. Pengawalan gadis itu juga ketat. Setiap saat selalu ada prajurit yang mengawal gadis ingusan itu"
"Menarik," kata Todd, "Aku sudah lama ingin mencicipi para pasukan pengawal kerajaan."
"Kumpulkan orang-orang kepercayaanmu," Somi puas, "Kita harus mencari kesempatan untuk membunuh Jaemin. Kalau perlu kita pancing dia keluar dan habisi!"
"Bayarannya?" tanya Todd.
Somi bingung.
"Apa yang bisa kau berikan sebagai bayarannya?" Todd menantang, "Ini bukan pekerjaan mudah. Salah sedikit saja bisa kehilangan nyawa."
"Apa yang kau minta?" Somi balas menantang.
"Tidak sulit," Todd memegang dagu Somi, "Yang kuminta tidaklah sulit." Ia mendekatkan wajahnya, "Aku ingin kau."
"Kau memang bajingan," desis Somi.
Todd tertawa. "Inilah yang kusuka darimu. Kau selalu terus terang. Kau tidak pernah setengah-setengah dalam mencapai tujuanmu."
Somi membenci pria ini. Dulu mereka pernah menjadi sepasang kekasih. Tetapi itu dulu.
"Baik," Somi sepakat, "Aku terima syaratmu."
Apa salahnya tidur bersama pria ini? Ini semua juga demi mencapai tujuannya. Ketika ia berhasil membunuh Jaemin, ia akan menyuruh orang untuk menghabisi pria ini. Tidak ada yang boleh tahu ia berada di balik rencana pembunuhan Jaemin. Ia akan menghabisi siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Kalau perlu, ia juga akan menyusun rencana untuk menghabisi Mark.
"Kau memang wanita yang berambisi besar," Todd tertawa, "Aku mencintai sifatmu ini." Dan ia bertanya serius, "Kapan kau ingin aku mengeksekusinya?"
"Kau tahu Pittler?" Somi pun berkata serius.

-0-

"Kau terlambat!" Mark berkata tajam.
"Siapa bilang?" Jaemin berkata santai sambil memotong sepotong daging di piringnya, "Aku pulang lebih awal dari rencanaku."
Siapa yang bisa langsung pulang setelah mendengar tentang pria bertubuh besar yang dilihatnya bersama Somi itu!?
Tepat seperti dugaannya, sang sumber gosip terbesarnya mengetahui siapa pria besar itu. Hanya dengan menjelaskan rupa pria itu, Lucas sudah bisa mengatakan segala hal tentang pria itu.
Menurut Lucas, pria yang bernama Todd itu sangat terkenal di Loudline. Ia adalah seorang perampok yang tidak segan-segan menghabisi nyawa orang lain untuk mendapatkan keinginannya. Semua penduduk di Loudline takut padanya. Tidak seorang pun berani berselisih dengannya juga dengan bawahannya yang jumlahnya sangat banyak itu.
Jaemin tidak tahu apa hubungan di Somi dan Todd. Mengingat pekerjaan Somi sebelum ia menjadi Duchess, mungkin mereka adalah teman akrab. Namun mendengar penjelasan Lucas lebih lanjut, Jaemin menjadi cemas. Sebelumnya Duchess of Binkley pernah terlihat bersama Todd di sekitar Loudline. Tidak hanya itu saja. Lucas pernah melihat Duke dan Duchess of Binkley pergi Dristol tak lama setelah peringatan Red Invitation.
Seharian ia mengelilingi Loudline hanya untuk mencari jejak keduanya.
Jaemin tahu cara yang paling cepat adalah bertanya pada setiap orang yang dilihatnya. Namun, siapa yang berani menjamin orang yang ditanyanya bukan bawahan Todd ataupun kenalan Somi? Karena itulah Jaemin pulang terlambat.
Mark sudah menanti dengan wajah murkanya.
"Ke mana saja kau!?" seru Mark – menyambut kedatangannya, "Bukankah sudah kukatakan untuk pulang awal!? Apa kau tidak mendengarku!? Apa kau ingin diracun di sana!?"
Itulah Mark. Di hari mereka berada di Loudline, Mark selalu curiga setiap ada yang memberi mereka sesuatu. Puncaknya adalah ketika seorang pedagang langganan Fauston mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Saat itu Mark menolak. Namun Jaemin menerimanya dengan senang hati.
Mark sempat memarahinya karena itu. Kata Mark, "Bagaimana kalau makanan itu diracun? Apa kau berani menjamin kebersihannya!?"
Bagi Jaemin, Mark memang seorang Raja. Jaemin mengabaikan Mark dan terus masuk ke rumah sang pedagang sehingga Mark tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Mark terlihat sangat kesal ketika mereka telah duduk di meja makan kecil itu. Ia tampak tidak tertarik melihat masakan sederhana yang disiapkan di depannya. Setelah menyicipi masakan mereka, barulah Mark mengakui kelezatan masakan itu yang tidak kalah dari juru masak Istana. Tentu saja ketika Jaemin bertanya, Mark tidak mengakuinya. Ia hanya menjawab, "Biasa."
Jaemin, tentu saja, tidak bisa dibohongi oleh jawaban singkat itu. Walau demikian, pengalaman itu tidak membuat Mark mengerti. Ia tetap tidak menyukai ide Jaemin menerima pemberian teman-temannya di Loudline. Ia tidak suka mendengar laporan Jaemin menyantap sesuatu di luar sana. Menurut Jaemin, Mark terlalu khawatir akan keselamatannya, sang pemberi keturunan Viering.
"Kau membuatku menunggu!" Mark menegaskan kesalahan Jaemin.
Jaemin heran. Mengapa Mark harus menunggunya? Kalau ia memang lapar, ia bisa makan sendiri.
"Aku tidak pernah minta kau menungguku."
"Aku harus yakin kau tidak makan setiap makanan yang disodorkan padamu!"
Ya, tentu saja, Mark, sang pendeta Viering, tidak mau direpotkan lagi dengan pernikahan, bukan?
Tiba-tiba Jaemin sadar. Ia harus memperingatkan Mark akan tindakan Jungwoo dan Somi. Ia memang tidak punya bukti tetapi ia yakin instingnya tidak salah.
"Sebaiknya kau mewaspadai Jungwoo," Jaemin memperingatkan, "Kudengar mereka merencanakan sesuatu terhadapmu."
Alis mata Mark terangkat. "Begitu banyakkah waktu luangmu hingga kau sempat mengurusi gosip itu?"
"Ini bukan gosip," Jaemin menegaskan dengan kesal. "Aku mendengarnya dari sumber terpercaya."
"Ya… ya… sumber gosipmu," kata Mark acuh sambil menyantap makan malamnya. "Gadis sepertimu pasti mempunyai banyak sumber gosip terpercaya."
"Mark!"
"Aku mengetahui Jungwoo lebih baik dari kau," Mark mengingatkan dengan nada tegasnya, "Aku tahu ia adalah seorang pengecut. Ia tidak akan berani melakukan sesuatu padaku."
"Jungwoo mungkin tidak tetapi Somi mungkin. Somi adalah wanita yang ambisius. Ia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya."
Mata Mark menatap langsung Jaemin. "Sepertimu?"
Jaemin tidak menyukai ejekan itu. Ia telah berbaik hati memperingati Mark tetapi pria itu malah menganggapnya sedang bergosip ria.
"Terserah apa katamu!" Jaemin berdiri kesal.
"Habiskan makan malammu sebelum kau pergi," Mark memperingatkan.
"Aku sudah kenyang," kata Jaemin acuh. Dengan tenangnya, ia melangkah ke pintu.
Jaemin tahu Mark sangat tidak menyukai seseorang meninggalkan ruang makan sebelum ia menghabiskan makanan di piringnya tetapi ia sudah tidak tertarik untuk menemani Mark lagi. Pria itu telah membuang selera makannya jauh-jauh.
"Aku tidak akan mengirimmu makanan kalau kau kelaparan di tengah malam," Mark mengancam.
"Terima kasih," balas Jaemin dingin, "Aku sedang berdiet."
"Kau tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum menghabiskan makan malammu!" Mark mengulang dengan ancaman.
"Aku lelah. Aku ingin tidur," Jaemin mengabaikan perintah itu.
"Tidur?" Mark bertanya heran, "Apa aku tidak salah mendengar? Burung liar sepertimu yang suka berkeliaran di malam hari sudah mau tidur sepagi ini?"
"Aku tidak mau bangun kesiangan," Jaemin membuka pintu, "Besok pagi kita akan pergi ke Pittler."
"Selamat malam, suamiku yang idealis," Jaemin melontarkan ejekannya lalu menghilang di balik pintu.
Mark geram. Gadis itu benar-benar satu-satunya orang di dunia ini yang tidak bisa diaturnya!

-0-

"Jangan pergi jauh-jauh dariku!"
Jaemin mengacuhkan tatapan tajam pemuda itu. Ia sudah tidak dapat lagi menggambarkan kebenciannya pada pemuda egois satu ini.
Pagi ini dengan seenaknya sendiri, Mark melarangnya berkuda bersama mereka.
Mark salah bila ia pikir Jaemin tidak tahu tentang tradisi berburu keluarga kerajaan di musim gugur ini. Ayahnya memang tidak pernah mengikuti kegiatan ini semenjak ibunya meninggal dan ia sendiri tidak pernah ikut. Namun Grand Duke beserta putra-putrinya selalu mengikutinya setiap tahun. Dari merekalah Jaemin sering mendengar cerita tentang kebiasaan Raja Jaehyun ini.
Tua muda, laki perempuan, kaya miskin boleh mengikuti kegiatan berburu yang selalu diadakan di musim pertengahan musim gugur, di Pittler, daerah perbukitan yang hanya terletak 10 mil dari Fyzool. Perburuan ini hanya diadakan sehari. Pagi hari rombongan kerajaan akan berangkat dari Viering. Sementara itu rombongan lain telah menanti di Pittler.
Jaemin juga tahu. Tua muda, laki perempuan semuanya menunggang kuda ke Pittler. Ratu Taeyong pun tidak pernah naik kereta. Ia berkuda di sisi Raja Jaehyun hanya dengan dikawal pasukan pengawal Istana.
Hari ini mengapa ia harus ditawan di dalam kereta bersama dua wanita bangsawan yang terus berkicau tiada henti!?
Sekarang mereka sudah tiba di Pittler tetapi Mark tetap tidak mengijinkannya berkeliaran seperti yang lain. Ia tetap dilarang berkuda! Apa gunanya ia memakai baju berkudanya kalau ia hanya boleh duduk-duduk di bawah pohon sambil bersenda gurau bersama wanita-wanita bangsawan yang berhasil dikumpulkan Mark. Mark juga menempatkan setengah lusin prajurit di sekitarnya!
Ketika Jaemin memprotesnya, Mark mengacuhkannya.
Jaemin marah. Ia tidak terima! Mengapa ia harus diperlakukan seperti seorang tahanan!? Ia bukan kriminal!
"Ia pasti takut kau berbuat onar," komentar Jisung mendengar pertengkaran mereka, "Bukankah ini adalah keahlianmu?"
Benar, ini adalah satu-satunya kegiatan di mana ia bisa mengekspresikan jiwanya dengan bebas. Ia memang lebih suka berburu daripada berdiam diri di Fyzool! Tetapi untuk apa Mark mengajaknya pergi kalau ia hanya boleh menonton? Lebih baik Mark membiarkannya berdiam diri dalam Istana daripada menahannya seperti saat ini. Bukankah Mark selalu mempunyai alasan bila ia kabur dari tugas-tugas kerajaannya?
Kalau memang itu yang ditakutkan Mark, Jaemin akan membuktikan kepada pemuda egois itu siapa Jaemin. Akan Jaemin tunjukkan ia bukan gadis-gadisnya. Jaemin adalah Jaemin! Jaemin tidak bisa dibandingkan dengan Arin, mantan kekasihnya ataupun Somi, sang Duchess baru. Kalau Mark memang takut Jaemin mempermalukan dirinya sendiri di depan dua wanita itu, akan ia tunjukkan Jaemin bukan orang yang tolol!
Dengan berbekal keyakinan itu, Jaemin sengaja mendekati Mark yang ditempeli Arin sejak pagi.
"Maafkan ketidaksopanan saya menganggu Anda berdua," Jaemin menarik perhatian keduanya.
"Ada apa?" Mark tidak suka dengan ide Jaemin mencari pertengkaran lagi. Sejak pagi ini Jaemin terus memancing pertengkaran tanpa henti dan ia sudah sangat lelah dibuatnya.
"Yang Mulia," Jaemin berkata dengan suara lembutnya, "Bila Anda berkenan, saya ingin mengundurkan diri."
Nada lemah lembut itu langsung membuat Mark waspada. Sesaat lalu Jaemin masih memasang muka masamnya. Sedetik lalu Jaemin masih membentaknya.
"Mengapa? Apa engkau sudah bosan?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya menyukai perburuan ini. Hanya saja matahari semakin tinggi. Saya tidak tahan panas ini. Bila Anda berkenan, saya ingin berteduh di dalam kereta."
Mengertilah Mark apa yang sedang dimainkan Jaemin. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, Yang Mulia. Saya tidak ingin menganggu kesibukan Anda. Biarlah prajurit mengawal saya," Jaemin menatap Arin, "Sungguh tidak sopan meninggalkan kawan akrab Anda di tengah pembicaraan kalian yang sedang hangat-hangatnya." Jaemin tersenyum, "Silakan kalian melanjutkan pembicaraan kalian." Dan ia mengundurkan diri.
"Maafkan aku, Arin," Mark mengikuti Jaemin.
Hari ini sudah cukup Jaemin membuatnya semakin lelah dengan bantahannya yang tiada habisnya. Semalam ia memang menyepelekan peringatan Jaemin. Namun setelah kepergian Jaemin dan setelah kemarahannya yang tidak berarti, sirna, Mark berpikir dengan jernih.
Jaemin bukan seorang penggosip. Sejujurnya, baru kemarin malam Mark mendengar Jaemin membicarakan orang lain. Mark yakin Jaemin tidak mungkin mengatakannya bila bukan karena suatu alasan yang berarti.
Maka Mark pun memanggil Yuta. Darinya, Mark tahu mengapa Jaemin pulang terlambat. Dari Yuta pula ia tahu Somi muncul di Loudline bersama seorang pria tak dikenal. Yuta tidak tahu mengapa seharian itu Jaemin terus bersikap seperti seorang pemburu yang sedang mencari buruannya. Mark tahu mengapa. Mark yakin Jaemin pasti telah melihat keduanya sebelum Yuta. Jaemin pasti telah mengetahui sesuatu tentang mereka berdua.
Semalam Mark tidak bisa tidur nyenyak dibuatnya. Ia khawatir Somi memang merencanakan sesuatu terhadap Jaemin. Ia takut Somi merencanakan sesuatu di perburuan hari ini.
Mark telah melakukan segala yang terpikir olehnya untuk melindungi Jaemin. Demi keselamatan Jaemin, Mark rela membuang rencananya untuk menggembirakan gadis itu. Tetapi gadis itu…
Mark benar-benar dibuat kesal oleh pemberontakan Jaemin. Semalam Jaemin memperingatinya akan pasangan Binkley. Hari ini gadis itu melupakannya! Gadis satu ini memang benar-benar bisa mencari pekerjaan untuknya!
Jaemin salah kalau dia pikir Mark percaya Jaemin sudah melupakan kecurigaannya pada Somi.
Mark menangkap tangan Jaemin dan menggandengnya, "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, Yang Mulia," Jaemin menolak lembut, "Tidak baik meninggalkan kawan Anda seperti ini. Bila Anda mengkhawatirkan saya, saya bisa berteduh di bawah pohon besar dalam jangkauan mata Anda."
Yakin sudah Mark akan permainan Jaemin. Jaemin cukup membuatnya lelah dengan bantahannya. Mark tidak dapat membiarkan gadis itu semakin memecahkan kepalanya dengan pemberontakannya yang paling ditakutinya ini!
Mark membawa Jaemin ke bawah pohon terdekat. "Katakan," ia mengurung Jaemin di batang pohon, "Apa yang sedang kaurencanakan?"
"Apa yang Anda katakan, Yang Mulia?" Jaemin tidak mengerti, "Anda membuat saya bingung."
"Kau akan membuat kepalaku pecah sebelum kau bingung," Mark memperingati. "Hentikan permainanmu ini sebelum aku benar-benar marah."
"Maafkan saya, Yang Mulia," Jaemin mengaku salah, "Saya tidak pernah ingin membuat Anda marah. Bila Anda tidak ingin saya meninggalkan tempat ini, saya akan berdiam diri di tepian seperti keinginan Anda."
Mark menatap lekat-lekat wajah lembut itu dan menjatuhkan kepalanya di pundak Jaemin. "Kau benar-benar membuatku lelah," desahnya.
Jaemin hanya memasang wajah bingung.
Mark menatap Jaemin lekat-lekat, "Kalau kau memang sedemikian inginnya ikut berburu, aku tidak akan mencegahmu lagi."
Hati Jaemin bersorak mendengarnya namun wajahnya tetap tenang.
Memang itulah yang dikatakan Mark. Namun… "Selalu dan selalu ada tetapi", gerutu Jaemin. Mark melarangnya pergi lebih dari satu meter dari sisinya. Mark bahkan tidak segan-segan mengambil alih tali kendali kuda Jaemin bila dirasanya Jaemin akan menjauhkan diri.
Apa gunanya ia mengijinkannya berkuda kalau ia tidak diperbolehkan mengendalikan kudanya sendiri!?
"Sudah kukatakan jangan menjauh dariku!" Mark menarik tali kendali kuda Jaemin dengan tidak senang.
Jaemin membuang muka. Saat itulah ia baru menyadari sekelompok wanita tengah membicarakan mereka. Jarak mereka memang jauh tetapi dari arah pandangan mereka, Jaemin tahu ia pasti telah menjadi topik pembicaraan mereka. Jaemin tidak terlalu memusingkan pembicaraan mereka. Sejak tahu ia akan dinikahkan dengan Mark, Jaemin mulai terbiasa menjadi pusat pembicaraan.
Kali ini pun Jaemin tidak mempedulikan mereka. Mark sendiri tidak peduli. Untuk apa ia harus membantu Mark menciptakan sosok seorang istri yang manis dan penurut? Toh pernikahan ini murni hanya untuk memberi keturunan padanya.
Jaemin tertegun. Berbicara tentang Somi, sejak tadi ia tidak melihat wanita itu. Jaemin yakin ia melihat Somi bersama Duke Jungwoo ketika mereka tiba. Sekarang ia tidak melihat keduanya. Somi tidak mungkin melewatkan kesempatan ini untuk menunjukkan kekuasaannya sebagai istri penerus tahta Viering.
"AWAS! MINGGIR!"
Jaemin menoleh.
Seekor kuda melesat dengan cepat ke arahnya. Sebelum Jaemin sempat bertindak, kuda yang ditumpanginya meringkik keras karena kaget. Kedua kaki depannya terangkat tinggi-tinggi – melempar Jaemin yang tidak siap.
Jaemin mendengar jeritan panik di sekitarnya dan sesaat kemudian ia sudah berada di gendongan Mark.
Hanya Tuhan yang tahu apa yang telah terjadi dalam waktu singkat itu.
Hanya nasib baik Jaemin yang membuatnya terlempar ke arah Mark.
Hanya keberuntungan yang membuat Mark dapat menangkap tubuh Jaemin.
Mark memeluk Jaemin erat-erat. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak menyangka ia sungguh dibuat kaget oleh gadis ini. Hanya akal sehatlah yang membuatnya mengambil tindakan cepat untuk menangkap tubuh Jaemin.
Sedetik lalu ia benar-benar takut kehilangan Jaemin. Ia tidak tahu sejak kapan gadis ini menjadi bagian hidupnya yang penting. Dari awal pernikahan mereka, Mark tahu Jaemin penting untuknya. Sekarang ia baru menyadari Jaemin lebih penting dari yang ia pikirkan. Jaemin bukan lagi hanya sekedar alat untuk melahirkan keturunannya.
Jaemin adalah hidupnya! Ia mencintai gadis liar ini! Ia mencintainya dengan cinta yang tidak pernah dirasakannya pada gadis mana pun. Ia mencintai Jaemin dengan segenap jiwanya!
Mark mempererat pelukannya. Tubuhnya masih bergetar oleh kepanikan. Jiwanya masih dipenuhi oleh ketakutan akan kehilangan Jaemin.
Jaemin bingung. Pikirannya masih kosong. Tangan-tangan kekar Mark yang mendekapnya dengan erat, membuat kesadarannya pulih perlahan-lahan.
"Anda tidak apa-apa, Paduka Ratu?"
Pertanyaan itu membuat Jaemin benar-benar pulih dari kekagetannya sendiri. Jaemin memalingkan kepala melihat orang yang mengajukan pertanyaan itu.
Mark masih tidak rela melepaskan Jaemin. Mark masih ingin merasakan kehangatan Jaemin di pelukannya – meyakinkan diri Jaemin masih ada di sisinya. Jaemin berada dalam pelukannya. Jaemin baik-baik saja.
Grand Duke Taeil melihat pasangan itu dengan wajah pucat pasinya. "Apakah Anda baik-baik saja?" ia mengulangi pertanyaannya dengan cemas.
Di belakangnya, Jaemin melihat orang-orang yang menatapnya dengan pucat pasi.
"Aku tidak apa-apa," Jaemin tersenyum, "Keberuntungan masih menyertaiku."
Mark tidak suka mendengarnya. "Semua ini tidak akan terjadi kalau kau duduk diam seperti perintahku!"
Jamein melotot tajam – siap menyerang balik.
Demi kebingungan Jaemin, Mark mendesah, "Sudahlah. Aku tidak sedang ingin bertengkar denganmu." Lalu ia melihat Jisung yang berada tepat di belakang Grand Duke. "Jisung, kemarilah."
Jisung menurut.
"Temani Jaemin," demi kekagetan Jaemin, Mark mengangkatnya seperti mengangkat anak kecil dan meletakkannya di depan pelana kuda Jisung. "Aku yakin ia masih kaget." Lalu dengan sinar matanya yang lembut ia berkata pada Jaemin, "Kali ini aku ingin kau menurutiku."
Suara lembut itu membuat Jaemin tidak sanggup berkata apa-apa.
"Jaemin," Renjun mendekat dan menggenggam tangan Jaemin.
Jaemin kaget merasakan getaran hebat di tangan Renjun.
"Kau tidak apa-apa?"
Sekarang barulah Jaemin sadar betapa pucatnya wajah kedua kakak angkatnya ini.
"Jangan khawatir, Renjun," Jaemin menggenggam tangan wanita itu. "Aku baik-baik saja," katanya menenangkan.
"Jancer," Mark memanggil kepala pengawal istananya, "Aku perlu bicara denganmu."
Melihat sikap tegang Mark, Taeil sadar ini bukan hanya sekedar ketidaksengajaan. Ia segera mengikuti Mark dan Jancer.
Tampaknya bukan hanya Taeil yang merasakannya, setiap orang di tempat itu juga melihat keseriusannya masalah ini. Setiap orang menghentikan kegiatan mereka. Bahkan pria pemilik kuda yang menjadi akar kecelakaan ini segera menemui Jaemin.
Jaemin sudah duduk di bawah pohon besar bersama Renjun yang terus memegang erat tangannya. Jisung duduk di sisi Renjun sementara itu beberapa prajurit berjaga-jaga di sekitar mereka.
Getaran di tangan Renjun sama sekali tidak berkurang. Wajahnya juga masih putih pucat.
"Paduka Ratu."
Jaemin melihat pria itu melepas topinya. Tangannya mencengkeram topinya erat-erat. Wajahnya menunjukkan kekhawatirannya dan rasa bersalahnya yang mendalam. Bibirnya bergetar hebat tidak sanggup membuka suara. Matanya basah oleh air mata kepanikan.
"Ada apa?" Jaemin bertanya lembut.
"Maafkan hamba," pria itu berjenggot lebat itu tiba-tiba berlutut di hadapan Jaemin. "Maafkan kecerobohan hamba!"
Jaemin melepaskan tangan Renjun dan duduk di depan pria itu. Ia mengenali pria itu. Ialah orang yang memperingatinya akan kedatangan kuda liar itu.
"Aku tidak menyalahkanmu," Jaemin meletakkan tangan di pundak pria itu.
Pria itu tertegun melihat senyum lembut Jaemin.
"Kita hanya bisa memahami kuda tetapi kita tetap tidak tahu apa yang dipikirkannya," Jaemin menghibur, "Mungkin sesuatu menganggunya sehingga ia tiba-tiba menjadi liar."
Di kejauhan Mark tersenyum melihat Jaemin. Inilah salah satu sifat Jaemin yang membuatnya dengan cepat dicintai penduduk Loudline.
"Aku ingin kau menyelidiki masalah ini. Aku tidak percaya ini murni kecelakaan," Mark menegaskan. Sejak awal perburuan, ia terus mengawasi Jaemin dan tindak tanduk Somi. Baru ketika Arin mengajaknya, ia kehilangan jejak Somi. Ia tidak melihat wanita itu setelahnya. Sekarang barulah ia melihat wanita itu di antara kerumunan orang-orang yang mencemaskan Jaemin. Tindak-tanduknya sepanjang hari ini cukup membuatnya mencurigai wanita itu.
"Perburuan ini cukup sampai di sini." Mark tidak sanggup lagi bertahan dalam kepenatan ini. Sekarang bukan hanya jiwanya yang lelah. Pikirannya juga telah menggerogoti fisiknya.
"Saya akan memberitahu orang-orang," Duke Taeil bergegas melakukan tugasnya.
"Jancer," kata Mark sepeninggal Duke, "Kirim orang terbaikmu mengawasi Arsten."
Jancer terkejut mendengar perintah itu. Ia ingin bertanya lebih jauh tetapi demi kepenatan yang tidak pernah dilihatnya di wajah pemuda itu, ia berkata "Hamba mengerti, Paduka."
Sekarang tinggal satu tugas Mark – membujuk Jaemin!
"Pekerjaan ini tidak akan mudah," gumam Mark melangkah ke tempat Jaemin yang sekarang sudah dengan akrabnya bercakap-cakap dengan pria itu.
Baru saja Mark berpikir seperti itu ketika Jaemin berseru kaget, "APA!?"
"Papa mengatakan Paduka Raja membubarkan perburuan ini," Jisung mengulangi kabar yang baru didengarnya, "Ia ingin kalian segera kembali ke Fyzool."
Jaemin kesal. Ia baru saja diperbolehkan menunggang kudanya sendiri. Ia baru saja menikmati perburuan ini.
"Tindakan Raja Mark tepat," Renjun membela, "Sebaiknya kau segera kembali ke Istana."
Jaemin tidak terima. Ia tidak bisa hanya duduk diam melihat Mark dengan seenaknya memerintahkan semua orang berkemas.
"Jaemin, mau ke mana kau?" Renjun bertanya panik.
Jaemin menjawabnya dengan terus mendekati Mark.
Melihat Jaemin mendekat dengan wajah tidak sukanya, Mark tahu gadis itu sudah mendengar perintahnya.
"Mark, apa maksud semua ini!?" Jaemin menuntut.
"Jangan memulai!" Mark memperingati dengan tajam.
"Siapa yang akan memulainya?" Jaemin menatap tajam pria itu.
"Kau selalu memulai perdebatan kita."
"Apakah kau tidak pernah?" balas Jaemin, "Kau juga sering memulainya."
"Kau…," Mark mendesah.
"APA!?" Jaemin membusungkan dada sambil bersila pinggang.
Mark maju selangkah. Tangan kanannya meraih tangan Jaemin sementara tangan kirinya melingkari pinggang Jaemin.
Jaemin terkejut. "Mau apa," mulutnya dibungkam oleh Mark.
Jaemin membelalak.
Mark menikmati sinar kemarahan di mata Jaemin itu dan ia tidak menghentikan ciuman lembutnya.
Jaemin tergoda. Cara Mark menciumnya membuyarkan kemarahannya. Sentuhan lembut bibir Mark membuatnya terlena.
"Begini lebih baik," Mark menjauhkan bibinya.
Jaemin melihat sinar kepuasan di sepasang mata kelabu itu dan kemarahannya bangkit kembali.
"Sekarang kita bisa berkemas pulang," Mark memberitahu orang-orang yang terperangah itu.
Jaemin terkejut. Tiba-tiba ia menyadari Mark telah menciumnya di depan orang-orang itu! Wajah Jaemin memerah padam.
"Kau seperti udang rebus."
Jaemin tidak suka ejekan itu. Ia melihat Mark – siap untuk melontarkan kemarahannya.
Mark tersenyum lembut padanya!
Jaemin terperangah.
Sekali lagi Mark menarik Jaemin ke dalam pelukannya. "Kau benar-benar membiusku," Jaemin berbisik di telinga Jaemin.
Jaemin terperangah. Ia terbius oleh sepasang mata lembut itu. Ia terlena oleh kata-kata lembut itu.
"Sayangnya, kau belum cukup berpengalaman," Mark mencium bibir Jaemin.
Mark melepaskan Mark dan tertawa.
Jaemin terperanjat. Tiba-tiba ia menyadari Mark tengah mempermainkannya.
"Kau…" geram Jaemin lalu ia berseru, "Aku membencimu!"
Tawa Mark langsung berhenti.
"Aku membencimu!" Jaemin mengulangi dengan kesal.
Mark menatap tajam gadis itu.
"Aku membencimu! Membencimu! Membencimu! Membencimu!" Jaemin terus mengulangi kata-katanya.
Mark mendekati Jaemin. Ia tampak sangat berbahaya dengan wajah garangnya.
Jaemin tidak takut. "Aku membencimu! Sangat membencimu!" katanya tegas sambil membusungkan dada.
"Kusarankan kau untuk menarik kata-katamu itu," Mark berkata berbahaya.
"Aku membencimu," Jaemin mengulangi dengan riang.
"Kau!" Mark menerjang Jaemin.
Jaemin terkejut. Ia tidak siap menerima tubuh Mark.
Mark juga tidak kalah terkejutnya. Tangan kirinya dengan cepat memeluk Jaemin dan tangan kanannya melindungi kepala Jaemin dari benturan.
Mereka terjatuh dengan keras.
"Kau tidak apa-apa?" Mark bertanya cemas.
Jaeminn menganggukkan kepala sambil menahan sakit.
"Syukurlah," Mark lega.
Jaemin menatap Mark. Jarak di antara mereka begitu dekat. Jaemin dapat merasakan hembusan nafas Mark di wajahnya. Ia dapat merasakan detak jantung Mark yang teratur di kedua tangannya yang membatasi tubuh mereka. Jantung Jaemin berdebar kencang.
Mark menatap Jaemin lekat-lekat. Wajahnya mendekat.
Jaemin memejamkan matanya.
"Paduka!"
Mereka melompat menjauh. Wajah keduanya memerah.
Prajurit itu merasa bersalah. "M-maaf menganggu," ia berjalan mundur.
"Ada apa?" tanya Mark yang lebih dulu menguasai diri.
"Kami sudah selesai berkemas," lapor prajurit itu, "Kami siap menanti perintah Anda."
"Kita pulang saat ini juga," Mark memberikan perintahnya.
"Baik," prajurit itu memberi hormat kemudian pergi.
Mark berdiri dan mengulurkan tangan pada Jaemin. "Kita tidak punya waktu bermain-main."
Jaemin menerima uluran tangan itu. Jantungnya masih berdebar-debar dengan kencang.

-0-

"Aku tahu aku tidak boleh meninggalkan Fyzool. Setidaknya aku bisa pergi ke Hall!"
"Paduka Raja meminta saya mencegah Anda pergi ke bawah," Nicci berkata dengan hati-hati.
"Apa mau pria sial itu!?" Jaemin marah, "Mengapa ia tidak sekalian mengurungku di kamar!?"
"Semula itulah yang diinginkan Paduka," penjelasan Nicci membuat mata Jaemin melebar, "Namun saya memohon padanya untuk membiarkan Anda meninggalkan kamar."
Bara api kemarahan Jaemin berkobar kian ganas.
Sejak kemarin Mark memperlakukannya seperti tawanan. Kemarin ia memaksanya pulang walau mereka telah berencana menginap di Pittler. Kemarin pula ia berjanji hari ini mereka akan pergi lagi ke Pittler untuk menghadiri pesta rakyat di Pittler. Namun pagi ini…
Ya, pagi ini ia mengirim utusan untuk memberitahunya semua kegiatannya hari ini dibatalkan. Yang lebih keterlaluan, hari ini Mark melarangnya meninggalkan gedung Fyzool. Ia bahkan tidak memperbolehkannya pergi ke lantai dasar Istana. Untuk memastikan ia menuruti segala perintahnya, Mark menempatkan lebih selusin pengawal di sisinya.
Jaemin lelah diperlakukan seperti kriminal kelas atas!
Tak peduli ke mana pun kakinya melangkah, lusinan pengawal itu mengikutinya! Tak peduli ke mana kakinya berbelok, Nicci akan selalu bertanya, "Anda akan pergi ke mana, Paduka Ratu?"
Jaemin murka! Sudah cukup perlakuan ini!
"Paduka Ratu, Anda mau ke mana?" Nicci menahan Jaemin.
"Aku akan membuat perhitungan dengan pria egois itu!" Jaemin melepaskan diri dari Nicci. "Aku menuntut penjelasan darinya!" Dan tanpa menghiraukan cegahan Nicci, Jaemin berlari ke Ruang Kerja Mark. Jaemin yakin pemuda itu ada di sana.
"Paduka Ratu, Anda tidak boleh meninggalkan lantai ini!" Nicci berlari mengejar. Dengan panik ia berkata pada pasukan yang kebingungan, "Cepat hentikan Paduka Ratu!"
Mereka langsung bergerak.
"Paduka!"
"Paduka Ratu, jangan meninggalkan tempat ini."
"Paduka!" prajurit pengawal Jaemin beserta Nicci mengejar gadis itu.

-0-

"Seperti yang Anda duga, Paduka," Jancer melaporkan hasil penyelidikannya, "Kejadian kemarin bukan murni kecelakaan. Sang pemilik kuda mengatakan ia tengah beristirahat ketika kudanya tiba-tiba menjadi liar. Ketika kami memeriksa kuda tersebut, kami mendapati luka baru di tubuhnya. Tampaknya ada seseorang yang sengaja melukainya."
Duke Taeil terperanjat mendengar penjelasan itu.
Sementara itu Marki terus mendengarkan kelanjutan laporan Jancer dengan serius.
"Kemarin mata-mata kami melihat Duchess Pittler menemui seorang pria di Dristol."
Tepat seperti yang pernah dikatakan Jaemin.
"Mereka tidak mendengar pembicaraan Duchess namun mereka berhasil mengetahui siapa pria yang ditemui Duchess. Pria itu adalah kriminal yang paling ditakuti di Loudline."
"Paduka, ini…," Duke Taeil tidak dapat mengutarakan kekagetannya.
Mark memilih untuk tidak berkomentar. "Terus awasi mereka," katanya. "Dan perketat penjagaan Jaemin."
Duke melihat Mark dengan menekan segala pertanyaan di hatinya.
"Paduka, maafkan kelancangan saya," Jancer mengajukan pendapat, "Anda memusatkan pengawalan pada Paduka Ratu namun tidakkah lebih baik bila penjagaan Anda juga diperketat?"
Mark terkejut. Sejak kemarin ia hanya memikirkan keselamatan Jaemin. Sedikit pun tidak terlintas dalam benaknya mungkin sasaran mereka adalah dirinya bukan Jaemin.
"Lakukan apa yang kuperintah," Mark memilih untuk melindungi Jaemin daripada mementingkan keselamatannya sendiri.
"Baik, Paduka" Jancer pun mengundurkan diri.
Jancer baru saja akan membuka pintu ketika seseorang membuka pintu dengan kasar.
"MARK!" Jaemin melangkah dengan api kemarahannya yang membara. "Aku butuh penjelasanmu!"
"Apa yang kaulakukan di sini!?" api kemarahan Mark pun turut membara.
"Katakan apa maksud semua ini!" Jaemin menuntut. "Apa maksudmu memperlakukan aku seperti tahanan!?"
"Apa yang kau lakukan di sini!?" Mark mengulangi pertanyaannya dengan nada tinggi. "Beraninya kau meninggalkan kamarmu!" Lalu matanya menatap tajam orang-orang yang memasuki ruangan beberapa saat kemudian. "Apa yang kalian lakukan!? Apa kalian sudah melupakan tugas kalian!?"
"Ma-maafkan kami, Paduka," Nicci langsung berlutut diikuti pengawal-pengawal Jaemin, "Kami sudah berusaha mencegah Paduka Ratu."
Mark kesal pada dirinya sendiri. Mengapa ia melupakan kekeraskepalaan Jaemin? Seharusnya ia sudah tahu seluruh prajurit Viering tidak akan dapat menahan gadis satu ini. Jaemin adalah orang pertama yang akan memprotes keputusannya. Tetapi demi keselamatan Jaemin, Mark sanggup menanggung kekesalan Jaemin. Mark memilih dibenci Jaemin daripada kehilangan Jaemin.
"Demi keselamatan kita, pertemuan pagi ini terpaksa dibatalkan," Mark menjelaskan dengan tenang.
"Tetapi," bantah Jaemin, "Mereka telah merencanakan pertemuan ini sejak lama. Mereka bahkan terus menerus meminta kesediaan kita sejak awal bulan ini."
"Mata-mataku menangkap kegiatan mencurigakan di Arsten."
"Itu adalah gosip," lalu Jaemin menekankan, "Katamu."
Mark membelalak. Matanya menatap tajam gadis itu seolah-olah ingin mencabik-cabiknya menjadi serpihan-serpihan kecil.
Jaemin tidak gentar. "Katakan saja sejujurnya padaku bila kau tidak tertarik pergi ke sana. Aku tetap akan pergi ke sana walau tanpamu."
"KAU TIDAK AKAN PERGI KE MANA PUN HARI INI!" Mark menggebrak meja.
Semua terperanjat.
Jaemin menantang kemurkaan Mark itu. "Kita sudah berjanji pada mereka. Apakah kau ingin kau mengingkari aku juga janjiku!? Apakah kau mau mengatakan seorang Ratu diijinkan untuk mengingkari janjinya pada rakyat?"
"Cukup, Jaemin!" Mark geram. "Hari ini aku tidak mau mendengar bantahanmu."
"Kau tidak bisa melarangku!" Jaemin menegaskan, "Aku mempunyai tangan dan kaki. Aku bisa menggerakkannya semauku tanpa menunggu ijinmu!"
Mark kehabisan kata-katanya.
Jaemin tidak menanti lebih lama lagi untuk sambutan Mark.
"Kau tidak akan meninggalkan Istana hari ini!" Mark berseru murka ketika Jaemin melangkah ke pintu. "Tahan dia!"
"Kau tidak bisa melarangku!" Jaemin berseru keras kepala.
"Apalagi yang kalian tunggu, tahan dia!" Mark berseru murka pula melihat pengawal-pengawal Jaemin hanya berdiri kebingungan. "Apa kalian lupa apa tugas kalian!?"
"B-baik, Paduka," para prajurit itu gugup. "Maafkan saya, Paduka Ratu," dua dia antara mereka mencekal tangan Jaemin.
Mata Jaemin membelalak lebar kepada dua prajurit yang memegang tangan kanan dan kirinya itu. "Lepaskan aku!" ia memberontak.
"Bawa dia ke kamarnya!" Mark menurunkan perintah, "Tanpa seijinku, ia tidak boleh meninggalkan kamar."
"Kau tidak akan melakukan itu!" Jaemin terperanjat.
"Apa kalian tidak mendengar perintahku!" Mark murka melihat para prajurit itu tetap tidak bergerak.
"Kau tidak bisa mengurungku!" Jaemin berseru marah, "Aku bukan tawananmu! Engkau egois, Mark. Kau pengecut! Jangan kau kira aku mau melahirkan keturunanmu."
"Tutup mulutmu, Jaemin!" bentak Mark, "Aku tidak mau mendengar apapun!" lalu kepada para pengawal Jaemin, ia berkata keras, "Bawa dia pergi! Jangan sampai aku melihatnya lagi!"
"B-baik, Paduka," para prajurit itu menyadari keseriusan perkataan Mark.
"Dan kau, Nicci," Mark beralih pada wanita yang gemetar ketakutan itu, "Jaga dia baik-baik. Jangan sampai ia berani melangkahkan kaki keluar kamarnya."
"Saya mengerti, Paduka."
Mereka tidak membuang waktu untuk membawa Jaemin meninggalkan ruangan itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Berontakan kemarahan Jaemin terdengar nyaring ketika mereka membawa paksa Jaemin kembali ke kamarnya.
Ketika seruan-seruan itu menghilang, tidak seorang pun berani membuka suara. Bahkan Jancer, yang semua berniat meninggalkan ruangan itu tidak berani bergerak. Mereka memperhatikan Mark namun tidak seorang pun yang berani menatap langsung sepasang mata yang berkobar penuh kemarahan itu.
Sepuluh menit belum berlalu ketika terdengar langkah-langkah kaki mendekat dengan tergesa-gesa.
Taeil melihat bara di mata Mark kian membara ketika seorang prajurit muncul dengan wajah pucat diiringi Nicci, pelayan pribadi Jaemin.
Mereka segera berlutut di depan Mark yang masih belum bergerak semenjak kepergian Jaemin.
"M-maafkan kami, Paduka," terdengar suara ketakutan prajurit itu, "P-pa-paduka Ratu… bbbeliau…"
Semua langsung sadar sesuatu telah terjadi pada Paduka Ratu mereka.
Tidak seorang pun berani bergerak dalam suasana sunyi yang menegangkan itu. Semuanya berusaha menghindari pandangan murka Mark.
"Jae…min!" tangan Mark terkepal erat.
Prajurit itu tidak berani melanjutkan kata-katanya. Ia menunduk dalam-dalam.
"Apa yang kau tunggu?" akhirnya Mark mengeluarkan suara, "Cepat kawal Jaemin."
Nicci tertegun. "Paduka, apakah…," Nicci tidak berani melanjutkan pertanyaannya.
"Apa lagi yang kalian tunggu!?" Mark kesal, "Jaemin tidak akan menunggu kalian!"
"B-baik, Paduka," mereka langsung berbalik.
"Tunggu!" Mark menghentikan langkah mereka.
Para prajurit itu melihat Mark dengan bingung.
"Lepas seragam kalian sebelum berangkat!" kata Mark.
"Baik, Paduka," para prajurit itu menerima perintah Mark dan langsung bergegas mengejar Jaemin.
Mark duduk kembali di kursinya dan mendesah panjang. Ia benar-benar dibuat lelah oleh Jaemin.
Jaemin memang bukan lawan yang mudah dihadapi. Ia membutuhkan lebih dari satu kepala untuk memikirkan Jaemin. Ia membutuhkan lebih dari sepuluh badan untuk menghentikan gadis liar itu. Tetapi itulah yang menarik perhatiannya, bukan?
Grand Duke tertegun melihat Mark yang seperti pria kelaparan yang baru pulang dari perang besar. Ia tidak pernah melihat pemuda ini seperti ini. Sesulit apa pun masalah yang dihadapinya, seletih apa pun kerjanya, ia tidak pernah melihat pemuda ini tidak bertenaga seperti ini. Tampaknya Mark sangat serius dalam mencegah Jungwoo naik tahta.

-0-

Somi marah.
Jungwoo memang seorang pria penakut yang tidak berguna!
Mark sudah jelas akan melakukan segala cara untuk mencabut haknya sebagai ahli waris kerajaan tetapi Jungwoo tetap tidak khawatir.
Mark sudah pasti tidak akan melakukan apa pun terhadap satu-satunya penerusnya, tetapi ia tetap takut pada Mark dan juga gadis ingusan itu!
Somi mengakui ia sempat panik mendengar gosip kehamilan gadis itu. Kemarin setelah melihat Jaemin, ia yakin gadis itu tidak hamil!
Somi bukan orang yang buta dalam hal ini. Ia sudah beberapa kali hamil. Tentu saja, ia tidak membiarkan janinnya terus tumbuh. Somi tidak mau kehilangan kemolekan tubuhnya sebelum ia berhasil membenahi kehidupannya. Sekarang setelah ia berhasil mencapai kedudukanya ini pun, ia tidak mau mengorbankan tubuh moleknya yang menggoda pria mana pun hanya untuk seorang anak ingusan!
Ini bukan akhir dari ambisinya! Ini adalah langkah pertamanya untuk mencapai ambisinya!
Ia dengan tidak mudah mendapatkan posisinya saat ini. Ia juga tidak akan membiarkan orang lain dengan mudahnya merusak kehidupannya termasuk Jungwoo, alat menuju puncak kejayaan di Viering!
Jungwoo memang tidak berguna! Ia sudah tahu membunuh kedua batu halangan terbesar mereka adalah jalan paling cepat untuk mencapai puncak kekuasaan Viering, tetapi ia tidak berani! Somi sudah mengatakan ia akan mengatur semuanya. Ia tidak akan berbuat bodoh dengan membuat orang lain mengetahui perbuatan mereka, tetapi Jungwoo tetap takut!
Somi sudah lelah dengan suami penakutnya.
Kemarin Jungwoo langsung kabur ketika Somi memintanya memanfaatkan pertengkaran Mark dan Jaemin. Melihat pertengkaran yang tidak terduga itu, Somi melihat ini adalah kesempatan emas untuk menutupi perbuatan mereka. Somi berniat membuat peristiwa pembunuhan Jaemin seolah-olah dikarenakan kekesalan Mark pada istrinya. Bila rencana itu berhasil, Jungwoo harus berpura-pura sebagai saksi mata. Dengan kuasanya sebagai penerus tahta Viering, Jungwoo bisa menjebloskan Mark ke dalam penjara dengan tuduhan pembunuhan.
Rencana itu begitu sempurna! Sayangnya, Jungwoo tidak berani. Maka Somi terpaksa mengubah rencananya.
Ketika melihat Jaemin akhirnya masuk ke arena perburuan, Somi melihat adanya kesempatan untuk membunuh gadis itu. Dengan tidak mudahnya kesempatan itu tiba. Sialnya, nasib baik gadis itu menyelamatkannya.
Somi geram. Apa dasar Jungwoo mengatakan dua orang itu tidak akan muncul di pesta rakyat hari ini?
Somi tidak tuli. Dari jauh-jauh hari ia sudah mendengar Raja Mark akan menghadiri pesta rakyat di Pittler bersama istrinya. Ini adalah kesempatan bagus untuk menghabisi mereka! Di antara kerumunan orang banyak, siapa yang dapat melihat orang yang membunuh Jaemin? Siapa yang dapat melihat kemunculan anak panah ke jantung Jaemin?
Walau Jungwoo tidak mau membantunya, Somi masih bisa melaksanakan rencananya. Todd sudah mencari orang-orang untuk membantunya menjalankan rencananya ini. Jungwoo tidak dapat diandalkan tetapi Todd sangat dapat diandalkan. Tidak ada ruginya Somi tidur dengannya.
Sinar terang pedang keluarga Soyoz di bawah sinar mentari menarik perhatiannya.
Somi tersenyum licik. Gadis ingusan itu boleh tertawa senang tetapi ia tetap harus sadar ia tidak lebih dari alat penghasil bayi Mark. Jaemin bukan apa-apa dibandingkan keluarga Soyoz!
Somi meraih pedang itu.
"Apa yang Anda lakukan, Yang Mulia?" seorang pelayan mencegah.
"Lepaskan tangan kotormu!" bentak Somi tidak senang, "Beraninya kau melarangku! Kau pikir siapa kau!?"
"Maafkan kelancangan saya," terdengar jelas pelayan itu tidak sudi mengucapkannya.
"Dasar pelayan tidak berguna!" umpat Somi, "Sekali lagi kau berani membantahku, aku akan mengirimku keluar dari sini!"
Pelayan itu pergi meninggalkan Somi dengan mengomel.
"Semuanya sama saja!" Somi kesal.
Mereka semua iri padanya. Mereka tidak mau mengakui usaha kerasnya.
"Semuanya akan segera berubah," Somi tertawa puas.

-0-

Jaemin tertawa geli melihat pengawal-pengawalnya yang kewalahan menerobos keramaian. Jaemin yakin mereka telah diperintahkan Mark untuk membawanya pulang. Tetapi siapa yang saat ini mau pulang?
Dengan tidak mudahnya ia datang ke tempat ini. Jaemin tidak pernah berada dalam pesta rakyat seperti ini. Ia masih ingin menghabiskan waktu Ia tidak pernah melihat orang-orang berkumpul di suatu sisi hanya untuk mendengarkan nyanyian penyair ataupun memainkan permainan yang unik. Ia juga tidak pernah melihat pertunjukan-pertunjukan yang mereka mainkan di tepi jalan.
Ia begitu sibuk memperhatikan keramaian sehingga ia menabrak seseorang.
"Ma-maafkan saya," Jaemin cepat-cepat meminta maaf.
"Jaemin, mengapa kau ada di sini?" Lucas bertanya heran.
Jaemin kaget melihat pemuda itu. "Lucas!" serunya riang, "Tak kusangka akan bertemu denganmu. Angin apa yang membawamu ke sini?"
"Aku berasal dari Pittler."
"Benarkah!?" senyuman Jaemin kian lebar, "Itu artinya kau bisa membawaku berkeliling!"
"Tentu saja. Tapi…"
Jaemin bersorak gembira karenanya. "Ayo kita pergi," ia menarik lengan Lucas, "Cepat! Cepat!"
Lucas kalah oleh Jaemin. Ia membiarkan Jaemin menariknya ke mana pun ia ingin.
"Lihat, Lucas! Lihat orang itu! Apa yang dia bawa di punggungnya!" Jaemin menunjuk seorang pria yang memanggul sebuah karung besar di punggungnya. "Lihat! Lihat!" ia mengalihkan perhatiannya pada seorang pria yang mempertunjukkan keahliannya melempar beberapa pisau sekaligus ke udara.
"Jaemin, tampaknya kau benar-benar menyukai festival ini."
"Tentu saja. Ini pertama kalinya aku datang ke festival seperti ini. Papa tidak pernah mengijinkanku keluar rumah. Ia terlalu melindungiku. Mark juga begitu. Memangnya dia itu siapa!? Dia sama sekali tidak berhak melarangku keluar rumah."
Jaemin menyadari amarahnya kembali membara ketika melihat ekspresi wajah Mark berubah. "Ah, maaf," Jaemin menyesal, "Tidak semestinya aku…"
"Tidak mengapa," Lucas memahami. "Suamimu benar-benar mencintaimu."
"Siapa yang mengatakannya!?" lagi-lagi emosi Jaemin membara, "Dia…" Jaemin menyadari emosinya kembali membara. Otaknya berputar cepat mencari topik pembicaraan lain.
"Lihat, Lucas," Jaemin menarik pemuda itu ke kerumunan di depan, "Apa yang mereka jual di sana?"
Lagi-lagi Lucas kalah oleh Jaemin.
"Lucas, siapakah gadis yang kaubawa itu? Apa ia adalah kekasihmu?"
Langkah mereka terhenti oleh panggilan itu.
"B-bukan," wajah Lucas merah padam. "I-ia adalah…"
Jaemin melihat orang yang barusan memanggil Lucas itu. "Mrs. Doyoung!?" pekik Jaemin senang, "Mengapa Anda ada di sini?"
"Jaemin?" wanita kurus itu kaget melihat Jaemin. "Mengapa kau ada di sini?"
"Apakah Anda juga berasal dari Pittler?" Jaemin menanyai wanita tengah baya itu dengan penuh antusias.
"Benar, aku berasal dari sini," jawabnya lalu ia mengulai pertanyaannya, "Mengapa kau ada di sini? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah Vicenzo juga datang?"
"Tidak, aku datang sendirian," mata Jaemin melirik keramaian. Hatinya tertawa puas menyadari tidak seorang pasukan Keamanan Istana terlihat.
"Baru kali ini aku melihatmu tanpa baju pelayan," lanjut Mrs. Doyoung pula, "Darimana kau mendapatkan gaun ini?" ia menyentuh gaun coklat muda Jaemin.
Jaemin terperanjat. "I-ini pemberian Tuan Puteri," Jaemin berbohong. Dalam hatinya ia mengumpat memarahi Mark. Ini semua karena pemuda itu ia tidak sempat mengganti gaunnya dengan gaun yang lebih pantas.
Para prajurit itu menyeretnya dengan paksa hingga ke dalam kamarnya.
"Lepaskan aku!" Jaemin menyentakkan lengannya dengan keras begitu ia telah memasuki kamarnya.
"Maafkan kami, Paduka Ratu," kata mereka lagi, "Kami hanya menuruti perintah."
Jaemin sama sekali tidak mau melihat mereka.
"Kami akan berjaga-jaga di luar. Bila Anda memerlukan sesuatu, Anda bisa memanggil kami kapan saja," mereka mengundurkan diri.
Jaemin melangkah dengan kesal ke lemari bajunya.
"Paduka, apa yang Anda lakukan?" Nicci cepat-cepat mencegahnya dengan panik.
"Aku mau mandi!" Jaemin membuka pintu lemari bajunya lebar-lebar. "Pemuda egois itu benar-benar menyebalkan! Pikirnya dia itu siapa? Jangan harap aku akan melahirkan keturunannya. Mati pun aku tidak mau."
Nicci diam memperhatikan Jaemin membongkar isi lemari bajunya.
"Mengapa tiap hari aku harus berhubungan dengan pemuda sial itu!?" Jaemin terus menggerutu, "Benar-benar menjijikan! Aku ingin sekali mencincangnya dan membuangnya ke laut. Lihat saja! Begitu ada kesempatan aku akan melakukannya!"
Nicci lega melihat Jaemin terus membongkar isi lemari bajunya – mencari-cari gaun baru. Ia yakin majikannya saat ini ingin mandi untuk mendinginkan kepalanya yang panas. "Saya akan meminta pelayan menyiapkan air mandi Anda," katanya mengundurkan diri.
Jaemin tidak menyahut. Ia terus menyibukkan diri dengan gaun-gaunnya. Namun ia langsung bersorak senang ketika mendengar pintu tertutup.
Jaemin tidak perlu memeriksa pintu karena ia yakin Nicci telah mengunci pintu untuk memastikan ia tidak keluar. Itu membuatnya kian marah pada Mark. Mark bukan saja telah merampas kebebasannya tapi juga orang yang dipercayainya.
Jaemin segera memanfaatkan waktu untuk kabur. Ia merayapi dinding luar Fyzool dari balkonnya menuju serambi lain yang dekat dengan pohon. Dari sana, ia memanjat pohon ke lantai dasar kemudian berlari ke istal kuda.
Tak seorang pun memergokinya ketika ia melarikan kuda ke Pittler. Namun Jaemin yakin Mark akan mengirim pasukan untuk membawanya pulang dengan paksa segera setelah ia mengetahui kepergiannya ini.
Jaemin menangkap sosok-sosok yang dikenalinya dengan baik di dalam lautan manusia.
Para pasukan Keamanan Istana itu terperanjat menyadari Jaemin tengah tersenyum penuh kepuasan kepada mereka.
"Paduka Ratu…," desah mereka kehabisan kata-kata.
Beberapa saat lalu mereka sempat panik melihat Jaemin ditarik seorang pemuda. Mereka pasti sudah membongkar penyamaran mereka bila Yuta tidak segera mencegah.
"Tunggu dulu," katanya, "Pemuda itu tidak berbahaya. Ia adalah teman Ratu. Lihatlah."
Mereka memahami perkataan Yuta ketika melihat Jaemin berbicara dengan gembira kepada pemuda itu.
"Sekarang aku mengerti mengapa Paduka sangat mencemaskan Paduka Ratu," seorang prajurit melihat Jaemin yang sekarang sudah dikelilingi orang-orang.
"Paduka Ratu memang seorang gadis yang menawan," prajurit yang lain sependapat.
"Sekarang aku juga mengerti mengapa Grand Duke memilihnya," prajurit lain berkomentar melihat Jaemin sudah membaur dengan rakyat.
Yuta tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Ia juga satu di antara orang-orang yang sempat menyangsikan keputusan Grand Duke. Namun setelah beberapa hari mengawal Jaemin ke Loudline, ia memahami keputusan Grand Duke tersebut.
"Untuk saat ini sebaiknya kita mengawasi Paduka Ratu dari kejauhan," kata Yuta, "Aku yakin beliau tidak akan senang bila kita berada di sekitarnya."
"Aku sependapat denganmu," kata yang lain.
"Apa yang sedang kaulihat, Jaemin?" Lucas memecah perhatian Jaemin.
"Tidak ada."
"Di mana suamimu?" tanya Mrs. Doyoung, "Tak kusangka ia mengijinkanmu keluar sendirian."
"Benar. Ia tampaknya tidak suka kau berteman dengan kami," kata yang lain.
Jaemin hanya tertawa. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada mereka.
"Ia tidak punya alasan melarangku. Hari ini aku tidak punya tugas," katanya.
Ya, Mark telah membatalkan semua kegiatannya hari ini. Jaemin yakin pemuda itu akan membatalkan semua kegiatannya dan mengurungnya di dalam kamar hingga ia melahirkan keturunannya.
"Untuk kau bisa hamil," jari-jari Mark menyentuh bibirnya, "Kita harus melakukan lebih dari ini."
Wajah Jaemin merah padam teringat akan cumbuan Mark di suatu malam.
"Jaemin, apa yang kaulakukan?" Lucas menghentikan langkahnya, "Kami tidak akan menantimu."
"Tunggu aku," Jaemin segera mengikuti mereka.
Seseorang menarik tangan Jaemin dan tangan yang lain membungkam mulutnya.
Jaemin terkejut. Ia berusaha melepaskan diri dari tarikan kuat itu. Matanya melihat kepergian Lucas dan beserta kawan-kawannya dengan panik. Ia berteriak memanggil pemuda itu namun kain yang menutupi mulutnya, meredam suaranya. Jaemin memberontak tetapi kesadarannya yang kian kabur tidak mengijinkannya.
Ketika membuka matanya kembali, Somi sudah berdiri di depannya dengan senyum puas. Di sisinya, berdiri pria yang dilihat Jaemin bersamanya di kota, Todd.
"Bagaimana rasanya, gadis ingusan?"
Jaemin sadar tangannya terikat erat di belakang punggungnya. Kakinya pun terikat erat dan sebuah kain menutupi mulutnya.
"Aku sudah lama menanti saat ini."
Mata Jaemin melotot tajam. Mulutnya menuntut penjelasan namun yang keluar hanyalah gerangan-gerangan tidak jelas.
"Apa?" Somi mendekatkan telinganya, "Apa katamu? Aku tidak mengerti bahasa monyet." Dan ia tertawa geli.
Jaemin mengangkat kakinya menghantam kaki Somi.
Somi menjerit kesakitan. "KAU!" ia menghunuskan pedangnya.
"Somi!" Todd menahan, "Sabar. Jangan terburu-buru! Apa gunanya kita membawanya ke sini kalau bukan untuk menikmati kematiannya."
Somi menurunkan pedangnya.
Jaemin berusaha sekuat tenaga memuntahkan kain yang menyumpal mulutnya.
Somi membungkukkan badan. "Katakan bagian mana yang harus kuambil dulu," ia membelai wajah Jaemin dengan ujung pedangnya yang tajam, "Wajahmu yang cantik ini atau," ia melihat bibir Jaemin, "Mulutmu yang tajam ini."
Jaemin meludahkan kain di mulutnya ke wajah Somi.
Somi murka. "Aku akan membunuhmu!"
"Berhenti, Somi!" Todd menahan wanita itu tepat sebelum ia menusukkan pedangnya di perut Jaemin.
"Aku akan membunuh gadis ingusan ini! Aku akan menghancurkan siapa pun yang menghinaku."
"Kau memang patut mendapatkannya." Jaemin memutar otak untuk mengulur waktu sementara ia berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
"Apa yang kau mengerti, gadis ingusan!? Apa yang kalian orang kaya mengerti!?" Somi membentak histeris, "Kalian hanya mengerti menertawakan orang miskin. Kalian tidak peduli pada orang-orang di sekitar kalian. Yang kalian mengerti hanyalah bagaimana mengumpulkan kejayaan. Kalian sama sekali tidak mengerti usahaku untuk mencapai kejayaan. Kalian hanya bisa menertawakanku, memandang rendah padaku!"
"Kaulah yang tidak mengerti," Jaemin memberitahu, "Kau tidak mengerti bagaimana menjadi seorang bangsawan. Selamanya kau tidak pantas!"
"DIAM!" Somi menerjang Jaemin.
Jaemin cukup siaga untuk menghindar. Ia memanfaatkan waktu yang sangat singkat itu untuk memotong ikatan tali di tangannya dengan pedang Somi yang tertancap di sisinya.
"Semua sama saja! Semua sama!"
Jaemin tertegun melihat air mata Somi menetes.
"Apa kau mengerti bagaimana rasanya diusir dari satu tempat ke tempat lain? Apa kau tahu bagaimana memohon bantuan orang lain? Apa kau pernah merasakan hari-hari tanpa makanan? Tidak ada seorang pun yang peduli pada kami. Tidak seorang pun mau membantu orang tuaku. Mereka hanya bisa mengusirnya. Mereka bahkan membiarkan jasadnya membusuk di pinggir jalan. Sekarang aku telah menjadi seorang Duchess tetapi semua orang tetap saja memandang rendah padaku. Kaya miskin semua sama saja! Tidak ada yang mengerti usaha kerasku. Setiap orang hanya bisa iri padaku!"
Tiba-tiba Jaemin merasa kasihan pada Somi. Ia memahami segala tindakan Somi yang begitu sombong pada bangsawan-bangsawan yang lain. Namun ia tidak memahami penyebab di balik semua ini.
"Engkau tidak mengerti," Jaeminn bersimpati, "Tindakanmu sendirilah yang menyebabkan semua ini!"
"Ini semua karena kau! Kalau kau tidak ada maka aku akan menjadi Ratu!"
"Jadi itukah rencanamu sekarang? Setelah menjadi Duchess, engkau ingin menjadi Ratu."
"Benar," Somi menegaskan, "Aku tidak akan membiarkan seorang pun menghalangiku!"
Jaemin tetap berpura-pura tangannya terikat erat. Matanya melihat sosok besar Todd di belakang Somi. Jaemin sadar ia bisa menjatuhkan Somi tetapi ia tidak yakin ia bisa menjatuhkan pria besar itu. Sekarang ia hanya berharap pria itu segera meninggalkan mereka.
"Aku benar-benar kasihan padamu," Jaemin mengejek Somi, "Kau telah dikuasai oleh ambisimu."
"Tutup mulutmu!" Somi menampar Jaemin. "Engkau memang tidak mengerti aturan, bukan? Engkau memang seorang monyet!"
"Setidaknya aku masih seorang Ratu," Jaemin puas oleh kenyataan.
"Tidak lagi. Engkau tidak lagi menjadi seorang Ratu. Aku akan memancing Mark keluar dan setelah itu aku akan menghabisi kalian berdua."
Jaemin terperanjat, "Engkau benar-benar gila."
"Katakan apa yang kausuka," Somi tertawa.
Jaemin memperhatikan wanita itu tertawa histeris. Ia sungguh kasihan pada Somi. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang cantik namun ambisi telah mengubahkan menjadi seorang iblis.
Tidak! Tidak ini tidak benar! Ia tidak punya waktu berbelaskasihan. Ia harus mencari cara meninggalkan tempat ini. Ia harus memperingati Mark. Mereka tidak boleh menyentuh Mark.
"Todd! Todd!"
Terdengar suara seseorang memanggil di luar.
Todd meninggalkan kedua wanita itu.
"Bukannya sudah kukatakan jangan tinggalkan tempat itu!" Todd membentak. "Apa kau tidak mendengar perintahku!"
Tidak terdengar suara apa pun.
"Kau memang tidak berguna!" Todd mengumpat.
Sesaat kemudian pria besar itu masuk kembali.
Dari balik tubuh Somi, Jaemin melihat seorang pria lain berdiri di depan pintu rumah kecil ini.
Todd membisikkan sesuatu di telinga Somi.
Jaemin ingin tahu apakah yang dikatakan pria itu pada Somi hingga Somi terlihat begitu murka.
"Aku akan memeriksa keadaan. Tetaplah di sini," Todd berpesan, "Aku akan segera kembali."
Todd pergi bersama pria yang terus menanti di depan rumah.
Inilah kesempatannya! Jaemin harus mencari cara untuk menjatuhkan Somi. Sekarang tangannya terbebas tapi kakinya tidak. Selain itu Somi memegang pedang. Andaikan saja ia bisa merebut pedang itu…
"Dasar pria tidak berguna! Kalian sama saja!" Somi pun beranjak pergi.
Tidak! Ia tidak ada waktu lagi! Jaemin menerjang Somi.
Somi jatuh terjerembab di bawah Jaemin.
Jaemin menggunakan tangannya yang bebas untuk merebut pedang di tangan Somi.
"Apa yang kaulakukan!?" Somi mendorong Jaemin menjauh dengan kakinya.
Jaemin terlempar ke dinding. Ia mengerang kesakitan.
"Engkau memang mencari mati!" Somi mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Jaemin kaget. Ia tidak punya kesempatan untuk menghindar. Teriakan kesakitannya melepas begitu saja ketika pedang itu menusuk perutnya.
Jaemin menahan pedang itu dengan tangan kosong dan dengan seluruh kekuatannya melemparkan kakinya ke perut Somi.
Somi jatuh kesakitan.
Sekali lagi jeritan kesakitannya melompat ketika ia menarik pedang di perutnya. Jaemin tidak membuang waktu untuk melepas ikatan tali di kakinya. Kemudian sekuat tenaganya, ia menghantamkan pangkal pedang ke perut Somi untuk membuatnya pingsan. Telapak tangannya yang berdarah terasa semakin perih ketika ia memegang pangkal pedang itu erat-erat.
Jaemin berjalan tertatih-tatih ke pintu belakang yang terbuka.
"Somi! Somi!"
Jaemin terkejut.
"Somi, apa yang terjadi?"
Jaemin sadar ia tidak punya banyak waktu. Ia harus segera menjauhi gubuk ini.
"Gadis itu kabur! Cepat kejar gadis itu!"
"Gadis itu pasti tidak jauh!"
"Ikuti jejak darah gadis sial itu!" perintah Somi.
"Jejak apa yang harus kuikuti? Di luar hujan deras."
"Sial!" umpat Somi, "Mengapa di saat seperti ini harus turun hujan!?"
Jaemin berlari ke dalam hutan. Ia tidak berani membuang waktu dengan memastikan keberadaan pengejarnya. Ia tidak berani membuang waktu untuk merasa kesakitan. Saat ini ia hanya punya waktu untuk berlari secepat mungkin, sejauh mungkin dari para penyekapnya.
Kaki Jaemin tersangkut sesuatu. Tanpa bisa dihindari lagi, Jaemin jatuh tersungkur.
Jaemin meringis kesakitan menahan perutnya yang menghantam tanah tak rata itu.
Jaemin menancapkan pedang di tanah dan berusaha untuk bangkit. Belum sampai sedetik ia berlutut, ia jatuh tersungkur kembali.
Jaemin lelah. Seluruh tenaganya sudah habis untuk menahan sakitnya.
Jaemin menoleh ke belakang sekali lagi.
Hujan lebat yang tiba-tiba membasahi bumi membuat Jaemin tidak dapat melihat kejauhan dengan jelas. Ia juga tidak dapat mendengar tapak kaki dalam deru hujan yang mengguyur bumi itu.
Jaemin melihat sekitar – mencari tempat yang aman untuk berhenti sejenak.
Matanya melihat sebuah lubang di sebatang pohon besar yang tua.
Sekali lagi Jaemin berusaha bangkit dengan bantuan pedang yang ditancapkannya jauh ke dalam perut bumi. Dengan tertatih-tatih Jaemin berjalan ke lubang itu sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.
Jaemin merasa seluruh tenaganya sudah hilang. Ia langsung menyandarkan diri di dalam lubang itu dan beristirahat.
Ia sudah tidak kuat lagi.
Pandangannya mengabur. Kepalanya pening. Sakit yang menyiksa di perutnya sudah tak terasa lagi. Darah merah yang terus mengalir keluar tanpa dapat dihentikan membuatnya merasa kian lemah.
Jaemin melihat angkasa asal hujan itu dan berharap seseorang akan menemukannya.
Tetapi… siapakah itu?
Terlintas wajah berang Mark pagi ini.
Jaeminn tersenyum sedih.
Pemuda itu mungkin tidak akan mencarinya. Apalah artinya ia selain pion pentingnya untuk menghentikan langkah Jungwoo menuju tahta?
Pemuda itu tidak akan tertarik untuk menemukannya. Ia adalah satu-satunya makhluk yang paling tidak disukainya di bumi ini. Ia adalah pelacur kelas atas yang tidak ingin disimpannya di dalam istananya yang agung dan suci.
Jaemin mencibir mengingatnya.
Pemuda itu mengira siapakah dirinya?
Benar ia adalah orang yang paling berkuasa di Viering. Benar ia adalah Yang Mulia Paduka Raja Kerajaan Viering. Benar ia adalah suaminya.
Tetapi apakah haknya untuk mengatur dirinya?
Tiba-tiba saja Jaemin menyesal. Andai saja pagi ini ia tidak bersikeras sekarang ia sedang menikmati kenyamanan istana. Andai saja ia mengalah pada Mark, ia tidak akan berada dalam hujan lebat, kedinginan dan kesakitan seperti ini. Andai saja ia tidak mendengar kemurkaannya sendiri, ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri. Tetapi semua itu hanyalah andai.
Andai…
Telinga Jaemin menangkap suara asing. Seketika ia menggenggam pedangnya erat-erat dan bersiaga.
Sesuatu melompat mendekat.
Jaemin langsung menghunuskan pedangnya.
Seekor katak menatapnya lalu ia meloncat menjauh.
Jaemin menghela nafas lega dan menurunkan pedangnya.
Otak bawah sadarnya mengingatkannya akan kemungkinan kemunculan para penculiknya.
Jaemin tahu ia tidak bisa berdiam diri di sini.
Ia kembali bertumpu pada pedangnya dan berusaha berdiri. Dengan tertatih-tatih, Jaemin melanjutkan perjalanan panjangnya.
Jaemin tidak tahu ke mana ia harus melangkah. Ia tidak tahu sekarang ia berada di mana. Ia tidak mengenal tempat ini. Ia hanya tahu ia harus melangkah maju menjauhi rumah kecil itu.
Jaemin membiarkan kakinya melangkah. Belum jauh ia meninggalkan lubang itu ketika ia kembali terjatuh.
Jaemin tidak mencoba berusaha untuk berdiri. Ia sudah terlalu lelah untuk berjalan. Ia terlalu lelah untuk menggerakkan tubuhnya. Ia sudah tidak mempunyai tenaga untuk berpikir. Ia juga tidak mempunyai tenaga lagi untuk merasakan sakit di perutnya yang robek.
Di saat seperti ini Jaemin benar-benar mengharapkan Mark muncul dengan wajah garangnya.
Jaemin tidak pernah menyukai Mark. Ia membenci pemuda itu! Tetapi di saat seperti ini ia benar-benar mengharapkan wajah garang Mark. Mark memang suka mengejeknya tetapi setidaknya pemuda itu tidak pernah benar-benar menyakitinya.
Pemuda yang sombong itu memperlakukannya dengan baik. Mulutnya memang kasar tetapi sikapnya sangat terjaga.
Pemuda pemarah itu menghormati pernikahan mereka. Ia tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita lain semenjak pernikahan mereka. Ia benar-benar menghormatinya.
Pemuda itu kasar, pemarah, suka memandang rendah orang lain, suka mengejek orang lain, dan suka membangkitkan kemarahan orang lain. Tetapi ia juga seorang yang tahu diri, sopan, dan kadang lembut.
Jaemin tertawa geli.
Memang benar apa kata orang. Setiap orang barulah menyadari betapa berharganya hidupnya ketika ia akan mati. Ketika kematian menjelang barulah orang menyadari betapa pentingnya orang-orang di sekitarnya. Ketika ajal di depan mata itulah orang baru menyesal.
Demikian pula Jaemin. Satu-satunya hal yang disesali Jaemin adalah pertengkarannya dengan Mark pagi ini. Jaemin tidak pernah berbaikan dengan Mark untuk setiap pertengkaran-pertengkaran mereka dan itulah yang membuatnya semakin sedih.
"Maafkan aku, Mark," bisik Jaemin lirih sambil berharap Mark ada di sisinya untuk mendengarnya.
Jaemin tidak dapat mengumpulkan konsentrasinya untuk mendengar suara langkah kaki di kejauhan. Bahkan ia sudah tidak dapat lagi mendengar deru hujan di sekitarnya.
Pandangan Jaemin semakin mengabur.
Jaemin sudah tidak peduli lagi. Ia sudah tidak peduli lagi bila mereka menemukannya. Ia sudah berusaha untuk bertahan. Ia telah bertahan hingga titik darah penghabisannya.
Biarlah Somi menemukannya. Biarlah para penculiknya itu menangkapnya kembali. Jaemin sudah tidak peduli semuanya lagi karena ia tahu ketika itu ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

TBC…