Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Johnny of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Johnny of Hielfinberg

Huang Renjun as Renjun Krievickie

Park Jisung as Jisung Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley

Hujan deras mengguyur bumi. Udara yang dingin menaikkan kabut tipis ke langit yang gelap.
Di tengah suasana ini, Mark bersama pasukannya mencari-cari Jaemin.
Pagi ini semenjak mengetahui Jaemin kabur, ia terus tidak bisa tenang. Pikirannya kacau balau dan perasaannya terus tidak menentu.
Mark terus mengatakan pada dirinya sendiri Jaemin akan baik-baik saja. Semua yang dikatakan gadis itu belum tentu benar. Ia mengenal Jungwoo lebih baik dari siapa pun. Selain itu di sisi Jaemin telah ada prajurit-prajurit terbaik Fyzool. Jaemin akan baik-baik saja.
Kepercayaan dirinya itu runtuh ketika mendengar laporan pasukan yang mengikuti Jaemin.
Yuta dan prajurit lainnya merasakan ketidakberesan ketika melihat Lucas mencari-cari Jaemin.
"Jaemin, di mana kau?"
"Jaemin!" seru mereka mencari-cari gadis itu.
Mereka langsung bergerak mendekati kawanan itu. "Apa yang terjadi?" tanya mereka, gusar "Di mana Paduka Ratu?"
"Katakan di mana Paduka Ratu?" seorang prajurit mencengkeram kemeja Lucas.
"Paduka Ratu?" Lucas kebingungan.
"Katakan di mana Yang Mulia Paduka Ratu Jaemin!?"
Mata orang-orang itu kian melebar.
"Lepaskan dia," Yuta segera melangkah maju mengambil tindakan. Lalu dengan suaranya yang tenang ia bertanya, "Bisakah Anda memberitahu kami di manakah gadis muda yang beberapa saat lalu berada bersama Anda, Tuan?"
Lucas langsung mengenali Yuta.
"Aku tidak tahu," jawab Lucas, "Beberapa saat lalu ia masih ada di sini."
"Apa maksudmu tidak tahu!?" prajurit itu kembali emosi, "Apa yang akan kaupertanggung jawabkan kalau terjadi sesuatu pada Paduka Ratu!?"
"Paduka Ratu?" Mrs. Lee juga semakin bingung.
"Paduka Ratu pasti masih tidak jauh," seorang prajurit menyimpulkan, "Hentikan festival ini dan cari Paduka Ratu!"
"Tunggu!" kata Yuta, "Tindakan itu hanya akan membuat kekacauan lebih besar."
"Apa kau punya ide lain?"
Yuta termenung. Semenjak Mark menanyakan kegiatan Jaemin di Loudline, Mark sangat mencemaskan keselamatan Jaemin. Yuta masih ingat hari itu Jaemin menanyai Lucas tentang seorang pria bernama Todd. Mungkinkah semua ini berhubungan dengan pria itu?
"Apakah Anda tahu tentang Todd?" tanya Yuta pada pemuda itu.
"Apalagi yang akan kaulakukan, Yuta?" sergah seorang prajurit, "Kita tidak punya waktu untuk melakukan wawancara ini."
"Tidak," kata Yuta, "Aku yakin ini berhubungan dengan Todd. Paduka Raja sangat mengkhawatirkan keselamatan Paduka Ratu semenjak Paduka Ratu melihat Todd. Aku juga mendengar dari Jancer, ia mengirim beberapa orang mengawasi Todd."
"Tuan," Mrs. Lee menghentikan perundingan orang-orang yang tak dikenalnya itu, "Todd mempunyai tempat persembunyian di sekitar sini."
Kalimat itu mengagetkan pasukan pengawal Jaemin.
"Anak muda, kau tahu tempat itu?" prajurit yang lain bertanya pada Lucas.
Lucas mengangguk dengan bingung. Ia tidak mengerti situasi yang tengah dihadapinya ini.
"Bagus," kata pria bertubuh kekar itu yang tampak lebih berkuasa dari pria-pria lain, "Yuta, bawa nyonya ini kembali ke Fyzool. Laporkan keadaan ini pada Paduka Raja. Aku akan mengejar mereka bersama pemuda ini."
"Siap," Yuta memberi hormat dengan gaya khas seorang prajurit kemudian pada Mrs. Lee, ia berkata, "Bersediakah Anda pergi bersama saya menemui Paduka Raja Mark, Nyonya?"
Mrs. Lee mengangguk. Berbagai pertanyaan di dalam kepalanya membuatnya tidak dapat berpikir jernih.
Beberapa saat kemudian mereka telah menghadapi sepasang mata murka Mark.
Mrs. Lee tidak perlu mengingat dua kali untuk mengenali pemuda yang di suatu hari muncul bersama Jaemin di kota dan mengaku Lucasagai suami Jaemin. Lucasuah pertanyaan menggantung di kepalanya namun ia tidak berani mengeluarkan suara melihat kemurkaan pemuda yang terkenal di Viering itu.
"Yuta, tanyakan dengan jelas posisi persembunyian Todd dari nyonya ini," suara tenang Mark membuat semua orang terperangah, "Jancer, siapkan prajurit. Aku akan memimpin langsung pasukan. Sepuluh menit lagi kita akan berangkat."
Tanpa menanti jawaban pemimpin pasukannya, Mark langsung bergegas mempersiapkan diri. Tidak seorang pun berani membantah perintah Mark. Emosi Mark memang tidak meledak-ledak seperti biasanya namun justru itu yang membuat mereka kian ketakutan.
Wajah Mark terlihat semakin tegang ketika mereka bertemu dengan pasukan yang semula mengawal Jaemin.
Dari pasukan itu mereka mengetahui dengan tepat lokasi persembunyian Todd dan kawanannya. Bersama mereka, tampak orang-orang yang dilihat Yuta bersama Jaemin sesaat Lucas sebelum ia menghilang. Mereka pula yang memberi informasi kepada pasukan pengawal Jaemin tentang Todd. Menurut mereka, bawahan Todd sangat banyak. Tidak hanya meliputi penjahat-penjahat Loudline namun juga daerah Pittler dan sekitarnya. Biasanya, di hari festival Pittler mereka selalu berkumpul di tempat ini untuk bersenang-senang dan melakukan aksi kejahatan mereka.
"Kami yakin mereka ada di dalam rumah itu, Paduka," lapor prajurit.
"Paduka, mungkinkah ini ada hubungannya dengan…?" Jancer tidak berani melanjutkan kata-katanya melihat ekspresi kaku di wajah Mark.
Mark diam memperhatikan rimbunan hutan di kaki bukit.
Lucas memperhatikan pemuda yang diketahuinya Lucasagai suami Jaemin dengan pandangan takjub. Seperti mereka yang mengenal Jaemin sebagai pelayan Johnny of Hielfinberg, pertanyaan demi pertanyaan menggelantung di kepalanya.
Mark marah. Ia murka tapi ia juga cemas. Inilah akibat kekeraskepalaan Jaemin.
"Lain kali ingatkan aku untuk mengikat kaki tangan Jaemin."
Perkataan Mark itu membuat mereka yang sudah kebingungan makin bingung.
"Apa yang harus kita lakukan, Paduka?" tanya Jancer, "Haruskah kita memanggil tambahan pasukan?"
"Tidak. Tambahan pasukan hanya akan membuat mereka mengetahui keberadaan kita," jawab Mark, "Saat ini kita tidak bisa bertindak gegabah. Jaemin ada di tangan mereka."
"Saya mengerti, Paduka."
"Jancer, perintahkan pasukan mengelilingi hutan ini. Aku tidak ingin seorang pun dari mereka lolos. Aku ingin beberapa prajurit ikut denganku mendekati persembunyian mereka. Tanpa perintah dariku, tidak ada yang boleh mengambil tindakan."
"Saya ikut," Lucas mengajukan diri, "Saya juga ingin menyelamatkan Jaemin."
"Paduka Ratu, Lucas!" sergah Mrs. Lee.
Lucas langsung menyadari kesalahannya. "Maafkan kelancangan saya, Paduka Raja."
"Tugasmu sudah selesai," Mark menolak, "Dari sini serahkan masalah ini pada pasukan kerajaan."
"Aku ikut!" Lucas bersikeras, "Aku telah menyebabkan Jaemin diculik!"
"Paduka Ratu, Lucas!" lagi-lagi Mrs. Lee memotong pemuda itu dengan marah.
"Anda tidak bisa menolak kami, Paduka Raja," orang-orang yang lain maju, "Kami bersama Paduka Ratu ketika beliau menghilang. Kami merasakan tanggung jawab untuk menyelamatkan beliau."
Mark diam memperhatikan orang-orang itu.
"Dengarkan perintah pasukanku," Mark membalikkan badannya, "Aku tidak ingin kalian menghambat tugas mereka."
Mata mereka membelalak gembira mendengarnya.
Demikianlah Mark dan pasukannya dibantu teman-teman Jaemin, melakukan operasi penyelamatan Jaemin.
Walaupun hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi, Mark berhasil memasuki rumah itu tanpa halangan yang berarti. Namun ketika Mark tiba di sana, rumah itu sudah kosong. Sang pemimpin komplotan penculik Jaemin telah hilang dari tempat itu. Demikian pula Jaemin.
"Kami tidak menemukan jejak seorang pun di sini," lapor Jancer.
Mata Mark terpaku pada jejak darah di tembok.
"Paduka," Jancer memberanikan diri untuk bertanya, "Mungkinkah…"
"Jangan mengambil kesimpulan tanpa bukti!" sergah Mark.
Tidak mungkin! Ya, ini tidak mungkin darah Jaemin. Jaemin baik-baik saja. Mereka membawanya pergi ke tempat lain. Para penjahat itu memindahkan Jaemin ke tempat lain mendengar pasukan kerajaan telah mengurung mereka. Jaemin baik-baik saja.
"Paduka, kami menemukan sesuatu."
Mark langsung mengikuti prajurit ke Lucasuah ruangan kecil. Matanya membelalak lebar melihat percikan darah merah di lantai.
Jancer tidak berani mengeluarkan suara.
Mark membungkuk mengambil seutas tali yang dinodari darah merah yang masih belum kering.
Jancer melihat tangan pemuda itu bergetar ketika ia memungut tali itu dari lantai. Ia yakin Raja Mark juga tahu tali itu digunakan para penjahat untuk mengikat Jaemin.
"Jaemin," Mark menggenggam tali itu, "Aku tidak akan memaafkanmu bila kau berani membiarkan dirimu terluka."
Jancer tidak pernah melihat sinar mata itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sinar mata yang penuh kemarahan, kecemasan sekaligus kepanikan itu. Seumur-umur baru kali ini ia melihat rajanya dalam keadaan kacau seperti ini.
Mark mengikuti jejak darah di sepanjang lantai dan tembok hingga ke pintu belakang yang terbuka. Ia tetap tidak mengeluarkan suara apa pun melihat pegangan pintu itu ternodai darah merah segar. Matanya yang bersinar penuh kemurkaan menerobos derasnya hujan ke hutan yang terhampar di depan.
Sikap diamnya itu membuat Jancer tidak berani mengambil tindakan.
"Jancer, ikuti jejak darah ini. Aku yakin mereka tidak jauh," Mark mengontrol kembali perasaannya. "Tidak seorang pun dari mereka boleh lolos. Sekali pun harus turun ke akhirat, tangkap mereka!"
"Baik, Paduka!" Jancer memberi hormat kemudian ia segera mengatur pasukan sesuai dengan perintah Mark.
Ketika pasukan yang berjaga-jaga di sekitar hutan bersiaga menangkap penjahat-penjahat yang bersembunyi di dalam hutan, Jancer dan pasukannya mulai menyusuri hutan sekitar rumah itu.
Mark yakin gadis liarnya itu berhasil menyelamatkan diri dari para penculiknya. Namun ia tidak berani menjamin keselamatan gadis itu. Ia juga tidak berani memikirkan kemungkinan bercak-bercak darah merah di rumah itu adalah darah Jaemin. Saat ini ia hanya berani berpikir Todd membawa Jaemin pergi ke tempat lain.
Namun lagi-lagi keyakinannya runtuh ketika seorang prajurit muncul melaporkan keadaan.
"Todd sudah tertangkap, Yang Mulia," lapornya, "Sekarang kami masih mengejar kawanannya yang lain. Di antara mereka tampak seorang wanita."
Jancer menatap Mark. "Mungkinkah itu Paduka Ratu?"
"Itu… tidak mungkin," prajurit itu ragu-ragu, "Lucasab Todd melindungi wanita itu. Ia juga memanggilnya Somi."
Jancer terbelalak.
"Tidak!" Mark langsung memotong pikiran Jancer, "Jungwoo tidak mungkin berada di balik ini! Ia bukan pria seperti itu!" lalu dengan gusar ia bertanya pada prajurit itu, "Apa kau sudah bertanya padanya tentang keberadaan Jaemin?"
"Maafkan kelalaian saya, Paduka," prajurit itu menunduk, "Kami tidak menanyakannya."
"Jaemin tidak ada berada di antara mereka. Itu artinya ia sudah meloloskan diri," Mark menyimpulkan. Ya, Jaemin adalah gadis liar. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya ditawan. Ia berhasil meloloskan diri dari penjagaan pasukan kerajaan yang ketat. Tak mungkin ia tidak berhasil meloloskan diri para penjahat murahan itu.
"Teruskan pencarian!" Mark memerintahkan prajurit, "Dan kau, kembali ke posisimu. Tangkap semua penjahat itu. Tidak seorang pun boleh lolos!"
"Baik, Paduka!" prajurit itu langsung bergegas kembali ke posisi awalnya sementara itu Mark dan pasukan yang dibawanya meneruskan pencarian mereka.
"Jaemin!" teriak Mark cemas.
"Paduka Ratu!" teriak yang lain.
Hujan yang turun kian deras membuat pencarian mereka semakin sulit. Mereka harus berjalan hati-hati di atas tanah yang becek dan di tengah guyuran air hujan yang mengaburkan pandangan mereka. Hujan yang lebat juga menghilangkan jejak-jejak darah yang masih terlihat beberapa langkah di pintu belakang rumah itu.
"Jangan bermain-main denganku, Jaemin!" Mark cemas sampai kehilangan kesabaran, "Keluar kau atau aku marah!"
Guyuran hujan deras bersahut-sahutan menjawab titah Mark.
"Paduka," seseorang mendekat, "Sepertinya di sana ada sesuatu." Prajurit itu menunjuk gundukan di barat daya mereka.
Darah Mark serasa membeku melihat sosok di kejauhan. Ia segera berlari menerobos hujan.
Sesosok tubuh tergeletak di tanah. Dari perutnya, mengalir darah merah yang bercampur dengan air hujan. Tangannya yang berdarah menggenggam erat Lucasuah pedang panjang.
"Jaemin!" Mark panik. Mark mengangkat badan Jaemin. "Jaemin! Jaemin!" Mark menepuk pipi pucat Jaemin. "Jaemin!" Mark memanggil Jaemin lagi.
Melihat tidak ada reaksi dari Jaemin, Mark kian cemas. Ia mengangkat tubuh Jaemin. "Kembali ke Istana!" perintahnya kemudian membawa lari Jaemin.
Ketika mereka hampir mencapai rumah persembunyian Todd, beberapa orang berlari mendekat.
"Jaemin," Lucas kehilangan kata-katanya melihat kondisi Jaemin.
Mata orang-orang itu terperangah melihat Jaemin di gendongan Mark. Tak seorang pun membuka suara.
"Lapor, Paduka," Yuta melaporkan keadaan, "Kami sudah berhasil menangkap sebagian besar dari bawahan Todd. Sekarang beberapa prajurit masih mengejar yang lain."
"Teruskan pengejaran," perintah Mark, "Aku akan membawa Jaemin kembali ke Istana."
"Saya tidak sependapat," Mrs. Lee mengeluarkan suara, "Hujan sangat deras. Jalanan terlalu licin untuk dilalui. Selain itu sekarang yang paling penting adalah menghentikan pendarahan Jaemin… ah tidak, Paduka Ratu."
"Saya juga sependapat dengan Mrs. Lee, Paduka," kata Yuta pula, "Kita harus segera menghentikan pendarahan Paduka Ratu. Selain itu hujan sangat deras dan kita tidak membawa kereta. Keadaaan Paduka Ratu akan memburuk bila ia terus dibiarkan berhujan-hujan seperti ini."
"Harap Anda memikirkan keputusan Anda Lucasaik-baiknya, Paduka," kata Jancer pula, "Kita harus menempuh jarak selama kurang lebih setengah jam Lucaselum mencapai Fyzool."
'Bila untuk Jaemin,' Mark memperhatikan wajah pucat di gendongannya lalu ia melihat rumah persembunyian Todd di antara hujan deras.
"Bila Anda berkenan," Mrs. Lee menawarkan, "Anda bisa berteduh di rumah saya."
"Terima kasih, Mrs. Lee," Mark menolak halus, "Kami akan berteduh di rumah itu." Lalu dengan tegas ia berkata pada pasukannya, "Yuta, kembali ke Istana dan siapkan kereta untuk menjemput kami. Jancer, pimpin pasukan mengejar penjahat-penjahat itu. Dan kau, Lucas, panggil dokter."
"Baik, Paduka," sahut mereka.
Mark pun langsung berlari ke dalam rumah persembunyian Todd.
Yuta langsung berlari ke tempat mereka menambatkan kuda mereka. Lucas juga langsung bergerak mencari dokter. Sementara itu Jancer mengatur Lucasagian pasukan untuk menjaga sekitar rumah itu dan sisanya mengejar sisa-sisa kawanan penjahat itu. Penduduk Pittler dengan senang hati menawarkan diri untuk mengawasi penjahat-penjahat yang telah tertangkap.
Mark memasukai rumah persembunyian Todd. Kakinya dengan cepat mencari tempat tidur untuk membaringkan Jaemin. Mark bersyukur ruangan di Lucaselah ruangan tempat Jaemin disekap itu mempunyai perapian. Tanpa sedikitpun membuang waktu, Mark mengambil jerami kering di ruangan Lucaselah dan menyalakan perapian.
Mark kembali ke sisi Jaemin setelah api perapian menyala. Ia melihat wajah pucat Jaemin dengan pedih dan mengambil tangan dinginnya yang memerah oleh darah.
"Jaemin…," panggilnya pedih, "Jaemin…"
Mark merasa tidak berdaya melihat keadaan Jaemin seperti ini. Wajah ceria itu nampak sangat pucat. Gadis yang selalu membantahnya dengan penuh semangat itu tampak sangat kesakitan dan ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menggenggam tangannya yang dingin. Andai saja hari ini ia tidak begitu keras kepala. Andai saja hari ini ia menemani Jaemin, semua ini tidak akan terjadi. Ia tahu nyawa Jaemin terancam. Ia tahu hanya ia yang bisa menjaga gadis liarnya ini. Namun mengapa ia tetap membiarkan gadis ini pergi seorang diri? Mengapa ia memilih duduk di belakang meja mendengarkan laporan bawahannya atas pengamatan terhadap Jungwoo?
Air mata Mark yang tidak menetes di hari kematian orang tuanya, menuruni pipinya yang basah.
Suara ketukan di pintu mengagetkan Mark.
Mark segera menyeka air matanya dan bergegas membuka pintu.
"Saya datang bersama dokter, Paduka," Lucas berdiri di pintu dengan membawa payung menaungi seorang pria tengah baya.
"Sungguh sebuah kehormatan bisa melayani Anda, Paduka," kata pria itu.
"Jangan berbasa-basi," sergah Mark, "Cepat periksa Jaemin."
"Baik, Paduka," pria itu segera mengikuti Mark ke dalam kamar tempat ia membaringkan Jaemin.
Lucas menutup payung dan melangkah masuk. Matanya terpaku pada pintu ruangan ke mana Mark dan dokter itu menghilang, yang sekarang tertutup rapat. Ia ingin masuk dan melihat keadaan Jaemin tapi ia tidak berani.
Beberapa jam lalu ia menyadari Jaemin sangat sangat jauh dari jangkauannya. Hingga saat ini pun ia sulit mempercayai gadis periang yang akrab dengannya itu adalah seorang Ratu, Ratu Kerajaan Viering. Seperti rakyat Viering lainnya, ia tahu siapa gadis yang dinikahi raja mereka. Namun tidak sedikit pun terlintas di pikirannya Lady Jaemin, putri Johnny of Hielfinberg, dan Jaemin, diketahuinya sebagai pelayan seorang Johnny adalah gadis yang sama.
Pintu terbuka dan Mark muncul.
Sekarang mengertilah Lucas mengapa suami Jaemin, sang pelayan seorang Johnny, terkesan begitu angkuh dan menjauh dari penduduk umumnya. Di perjumpaan pertama mereka, Lucas mempunyai kesan suami Jaemin adalah seorang yang tegas. Bahkan di saat-saat kritis yang menegangkan seperti ini, pemuda itu tampak penuh wibawa. Yang Lucas herankan adalah mengapa ia sedikit pun tidak curiga ketika Jaemin memanggil suaminya Mark?
"Ehmm… Paduka," Lucas memanggil pemuda itu dengan ragu-ragu, "Bila Anda berkenan, gantilah baju basah Anda dengan baju kering ini."
Mark melihat Lucas. Ia baru sadar pemuda itu masih ada di sana.
"T-tentu saja saya tidak keberatan bila Anda menolak," Lucas panik, "Saya sudah mengatakan pada Mrs. Lee baju ini tidak cocok untuk Anda tapi Mrs. Lee bersikeras. Ia khawatir Anda jatuh sakit. Ia juga memaksa saya untuk membawa baju ganti untuk Jaemin, ah, tidak, Paduka Ratu."
"Terima kasih," Mark mengambil baju kering di tangan Lucas.
Lucas terperangah. Ia memperhatikan Mark pergi ke ruangan di Lucaselah kamar Jaemin. Saat itulah ia menyadari bercak darah dari ruangan itu hingga ke pintu belakang. Ia mengamati darah yang mulai mengering di daun pintu.
"Itu adalah darah Jaemin."
Lucas terperanjat. Ia membalikkan badan melihat Mark yang sudah mengganti baju basahnya. Pemuda itu tampak aneh dengan baju kasar penduduk miskin. Kesannya seperti batu berlian dibungkus daun kering.
"Mereka telah melukai Jaemin."
Lucas serasa melihat bara api di mata pemuda itu.
Sekali lagi pintu tempat Jaemin terbaring, terbuka. Kali ini yang muncul adalah dokter yang dibawa Lucas.
"Saya sudah menghentikan pendarahan Paduka Ratu," lapornya, "Saya juga telah membalut lukanya seadanya. Maaf saya tidak bisa melakukan lebih banyak untuk Paduka Ratu."
"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik," kata Mark lalu ia berpaling pada Lucas, "Antar dia pulang. Aku akan menjaga Jaemin." Dan pemuda itu menghilang di balik pintu dengan membawa baju kering yang disiapkan Mrs. Lee untuk Jaemin.
Mark melihat Jaemin yang berbaring setengah telanjang di ranjang. Perban putih melilit perutnya demikian kedua telapak tangannya yang sesaat lalu masih berdarah.
Mark duduk di sisi Jaemin dan dengan hati-hati mengangkat tubuh Jaemin. Di saat Jaemin berada di pelukannya itulah ia merasakan tubuh dingin Jaemin bergetar.
"Jangan khawatir," bisiknya lembut, "Aku akan segera melepas baju basahmu." Dengan hati-hati ia membebaskan kulit Jaemin dari gaun basahnya dan dengan hati-hati pula ia mengeringkan tubuh Jaemin.
Setelah ia menyelesaikan tugasnya mengganti baju Jaemin, Mark duduk kembali di sisi Jaemin.
"Jaemin," Mark menggosok-gosok tangan Jaemin dengan hati-hati. "Jaemin, bertahanlah," bisiknya cemas melihat tubuh gadis itu terus menggigil.
Mark tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia telah mengeringkan tubuh Jaemin. Ia juga telah mengganti gaunnya dengan gaun kering yang disiapkan Mrs. Lee. Ia juga telah menyelimuti Jaemin dengan selimut hangat. Api dari perapian juga telah menghangatkan ruangan. Namun gadis itu terus menggigil kedinginan.
"Jaemin," Mark memegang wajah dingin yang pucat itu. "Jaemin…."
Mark sadar ia harus melakukan sesuatu. Ia pun berdiri dan mulai melepas bajunya.

-0-

Jaemin merasa hangat dan nyaman. Ia merasakan tangan yang kekar merangkul pinggangnya erat-erat. Tangan lain menggosok-gosok punggungnya. Pipinya menempel pada sesuatu yang lembut dan hangat. Entah apa yang ada di dekatnya itu. Apa pun itu, ia memberi kehangatan dan kenyamanan padanya. Ia dapat merasakan setiap kehangatan yang terpancar darinya di kulitnya yang halus. Ia dapat merasakan setiap sentuhan lembut di kulitnya yang sensitif.
"Jaemin, apa kau sudah merasa hangat?" samar-samar terdengar nada berat yang dipenuhi kecemasan, "Jaemin, bertahanlah."
Jaemin mencoba mengenali suara itu.
"Jaemin, kau tidak boleh pergi."
Suara itu… ia sering mendengar suara itu.
"Jaemin, Jaemin," orang itu terus memanggilnya dengan cemas. "Jaemin, Jaeminku."
Ya! Ia tahu siapa orang itu.
"Sadarlah, Jaemin. Tunjukkan padaku semangatmu yang menggebu-gebu itu, Jaemin."
Jaemin mencoba memanggil nama orang itu, tapi ia merasa tidak bertenaga. Jaemin mencoba berteriak, tapi yang keluar hanya lirihan kecil, "… M-Mark…"
Mark kaget. Dijauhkannya Jaemin dari tubuhnya.
Jaemin berusaha keras membuka mata. Ia berusaha untuk sadar.
"Jaemin, kau masih hidup," Mark gembira.
"M-Mark…," lirih Jaemin. Mata Jaemin yang terbuka sedikit itu perlahan-lahan menutup lagi.
"Jaemin, jangan tidur!" Mark mencegah, "Kau tidak boleh tidur," Mark memegang pipi Jaemin.
"Dingin…"
Mark menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka dan memeluk Jaemin erat-erat. "Kau sudah lebih hangat?"
Mark melihat Jaemin meringis kesakitan.
Mark cepat-cepat melonggarkan pelukannya.
Kepala Jaemin terkulai lemas di lengan Mark.
Mark melihat wajah pucat yang menahan sakit itu dan bersumpah, "Jangan panggil aku Mark kalau aku tidak bisa menangkap dalang di balik semua ini."
"Mark…," tubuh Jaemin bergetar, "Dingin…"
Mark bingung. Apa tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membuat Jaemin merasa hangat? Mark memeluk Jaemin dengan hati-hati dan menggosok-gosok tubuh gadis itu dengan hati-hati pula.
Mata Jaemin mulai terpejam lagi.
"Jaemin," Mark panik, "Jangan tidur. Tetaplah bersamaku. Berbicaralah denganku."
Jaemin membuka mata. Dengan sinar matanya yang dipenuhi kelelahan, ia melihat Mark. Sesaat kemudian ia menutup mata lagi.
"Jaemin! Jaemin!" panggil Mark, "Jangan tidur! Tetaplah terjaga. Kau harus bertahan."
Tapi… Jaemin sudah tidak kuat lagi. Mark pun tidak dapat mencegah mataJaemin terpejam.
"Jaemin!" Mark memegang wajah gadis itu – berusaha membangunkannya.
Suara ketukan pintu di tengah-tengah suara hujan deras menarik perhatian Mark.
Mark segera mengenakan celana panjangnya dan membuka pintu rumah kecil itu.
"Kereta kuda sudah tiba, Paduka," lapor Yuta.
"Saya membawa baju hangat untuk Anda dan Paduka Ratu," Nicci muncul dari belakang Yuta.
"Masuklah," Mark memberi jalan, "Jaemin ada di dalam kamar itu," ia menunjuk kamar dari mana sinar berasal.
Nicci bergegas pergi.
Mrs. Lee yang mengikuti kereta kerajaan memperhatikan Mark. Beberapa saat lalu keragu-raguannya sirna ketika melihat Nicci, wanita yang sering terlihat bersama Jaemin, muncul dari dalam kereta. Namun ia merasakan Lucasuah dorongan besar untuk memperjelas pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
"Paduka," kata Mrs. Lee hati-hati, "Saya tahu pertanyaan ini tidak sopan. Namun bila Anda berkenan bisakah Anda menegaskan kepada kami bahwa Jaemin yang kami kenal baik adalah Ratu."
"Jaemin yang kalian kenal adalah istriku, Ratu Kerajaan Viering," Mark menegaskan.
Pekikan kaget terlompat dari mulut Mrs. Lee juga kawan-kawan Jaemin yang mengikuti kereta kerajaan.
"Bila ia memang seorang Ratu," Mrs. Lee melanjutkan pertanyaannya, "Mengapa ia sering terlihat sendirian di Loudline?"
"Mrs. Lee," kata Mark, "Kau sudah mengenal Jaemin sejak lama, bukan?"
Mrs. Lee mengangguk.
"Apa menurutmu Jaemin mau duduk manis selayaknya seorang Ratu?"
"Tidak, Paduka," jawab Mrs. Lee spontan. Kemudian ia kaget oleh jawabannya sendiri. Namun Lucaselum ia mengubahnya, Mark membuatnya heran dengan tawa gelinya.
"Sekarang apakah engkau masih meragukannya?" tanyanya. Mata sayu Mark melihat pintu kamar yang tertutup rapat. "Kalau saja ia mau duduk diam, hal ini tidak akan terjadi."
Mrs. Lee termenung. Raja benar. Jaemin yang dikenalnya bukan seorang lady yang angkuh dan sombong. Jaemin yang dikenalnya adalah seorang gadis periang yang penuh semangat dan ramah.
"Mrs. Lee, Lucas, dan juga kalian semua," Mark melihat kawan-kawan Jaemin itu satu per satu, "Biarlah hal ini menjadi rahasia di antara kita."
Mereka kebingungan.
"Perlakukan Jaemin seperti biasanya," Mark menjelaskan keinginannya dan menambahkan, "Kalau kalian tidak ingin membaca peristiwa pembunuhan di Fyzool."
Mata mereka membelalak oleh kepanikan.
"Paduka, Anda tidak serius, bukan?" tanya Mrs. Lee.
"Siapa tahu apa yang akan dilakukan Xenaku," Mark tersenyum dan meninggalkan mereka ke kamar tempat Jaemin terbaring.
"Mereka benar-benar pasangan serasi," komentar Lucas melihat Mark menutup pintu.
"Kau sudah tidak punya harapan, Lucas," Mrs. Lee menepuk punadak pemuda itu.

-0-

Mark termenung menatap pedang di tangannya. Sepanjang usahanya menemukan Jaemin, Mark terus berdoa informasi yang didapatnya salah tetapi sekarang…
Mata Mark tidak lepas dari simbol yang terukir indah di pegangan pedang itu. Ia tidak mungkin salah mengenali simbol itu. Ia tidak mungkin melupakan simbol yang dilihatnya hampir setiap hari. Itu adalah simbol keluarga Soyoz. Itu adalah lambang keluarga sepupunya itu.
Mark termenung. Ia tidak dapat mempercayai semua ini. Mark juga tidak dapat mempercayai bukti yang ditemukannya di sisi tubuh Jaemin yang tergeletak dalam hujan deras.
Ia tidak percaya sepupunya yang penakut itu terlibat dalam usaha pembunuhan Jaemin! Mark dapat mempercayai dalang di balik semua ini adalah Somi tetapi Jungwoo… Tidak! Ia tidak dapat mempercayainya.
Siapakah yang dapat membawa keluar pedang ini bila bukan Jungwoo sendiri?
Apakah gunanya Somi membawa pedang ini bila ia telah menyewa segerombol penjahat untuk membunuh Jaemin?
Apakah Somi harus membawa pedang ini bila ia ingin menghabisi Jaemin dengan tangannya sendiri?
Mark benar-benar sukar mempercayai ini semua!
"Paduka," Jancer memecahkan lamunan Mark, "Apakah yang harus kami lakukan? Todd masih tidak mau membuka mulut. Ia tidak mau memberitahu kami hubungannya dengan Duke of Binkley. Somi juga masih belum tertangkap."
Mark diam termenung di kursinya.
Grand Duke memperhatikan Mark yang terus mengawasi pedang di tangannya itu lalu ia berpaling pada Jancer. "Jancer, apakah kau yakin mereka terlibat dalam masalah ini? Berhati-hatilah dengan kata-katamu. Ini bukan masalah sepele."
"Saya sangat yakin, Grand Duke," jawab Jancer, "Bukti sudah ada di tangan kita," Jancer merujuk pedang di tangan Mark, "Selain itu beberapa prajurit yakin mereka melihat Somi di antara penjahat yang kabur. Dan Paduka Ratu, seperti kata Paduka, pernah melihat Somi bersama Todd."
Grand Duke tidak melihat adanya celah untuk membantah dugaan itu. Ia melihat Mark yang kini meletakkan pedang itu di meja.
"Haruskah kami mengirim pasukan ke Arsten?" tanya Jancer pula, "Kami yakin Somi bersembunyi di sana. Perlukah kami meminta polisi Loudline dan Pittler membantu menangkap bawahan-bawahan Todd yang kabur?"
"Tidak, Jancer," akhirnya Mark membuka mulut, "Saat ini cukup awasi keadaan Arsten dengan diam-diam. Aku tidak ingin terjadi peristiwa apa pun yang mengguncang Viering."
Walaupun Jancer ingin membantah perintah itu, ia tetap berkata, "Saya mengerti, Paduka."
Jancer tidak ingin menambahi beban pemuda itu. Ia juga dapat memahami keinginan pemuda itu untuk merahasiakan peristiwa ini dari masyarakat luas.
Penduduk Pittler, di malam itu, telah diminta Mark untuk menutup mulut tentang peristiwa ini. Mark juga menyuruh setiap orang di Fyzool menutup mulut tentang keadaan Jaemin. Bila ada yang menanyakan Jaemin, Mark hanya memperbolehkan setiap orang berkata Jaemin demam. Semenjak hari itu pula Mark tidak pernah memanggil Duke of Binkley. Ia juga tidak memerintahkan polisi untuk menangkap bawahan Todd yang masih berkeliaran di Viering terutama Loudline dan Pittler. Satu-satunya pasukan yang bergerak sejak hari itu hanyalah Lucasagian kecil dari pasukan keamanan Istana.
Grand Duke pun tahu resikonya bila kabar ini tersiar luas. Kerajaan Viering pasti akan terguncang lagi – jauh lebih terguncang dari saat berita pernikahan Duke of Binkley ataupun pernikahan Raja. Peristiwa ini tentu akan memecahkan penduduk Viering. Peristiwa ini juga akan mempengaruhi pandangan kerajaan-kerajaan lain pada Viering. Yang paling parah, bila dugaan mereka salah, kepercayaan penduduk pada Raja akan hilang.
Duke of Binkley memang seorang duke yang dikenal Viering Lucasagai seorang pemuda tidak berguna yang suka bersenang-senang, berkebalikan dengan Raja. Namun ia tetaplah keluarga kerajaan dan seperti Mark, ia disegani Lucasagian penduduk Viering sebagai satu-satunya keturunan keluarga Soyoz.
Seperti Grand Duke, Duke of Binkley yang terdahulu adalah orang yang cukup berpengaruh di Viering. Grand Duke Taeil, Duke of Binkley terdahulu dan ayah Mark terkenal sebagai trio yang selalu berkerja sama mengatur Viering dengan Raja Jaehyun sebagai pemegang kuasa terbesar. Hubungan di antara ketiganya pun sangat erat seperti Mark dan Jungwoo ketika mereka masih kecil. Taeil memperhatikan Mark.
Sejak malam ia membawa pulang Jaemin yang terluka parah, ia sering seperti ini: diam termenung dengan sinar mata yang tidak terbaca. Seringkali Grand Duke ingin menanyakan apa yang tengah dipikirkannya namun ia tidak berani. Keadaan Mark yang seperti ini jauh lebih menakutkan daripada ketika ia marah.
Sejak saat itu pula Grand Duke kembali sering meragukan keputusannya sendiri. Andaikan ia tidak memilih Jaemin, peristiwa ini tidak akan pernah terjadi.
Jaemin tampaknya bukan pilihan yang tepat. Sejak Jaemin memasuki Istana, selalu ada saja yang diperbuatnya untuk menyibukkan seisi Istana. Hampir tiap hari pula ia membuat Mark marah. Setiap saat ia selalu memberontak, membuat keributan dan mengacaukan suasana. Duke Taeil berpikir apakah yang semula membuatnya memilih Jaemin?
"Taeil," panggilan Mark membuat Duke of Krievickie terperanjat.
Duke Taeil sudah siap bila Mark mau memarahinya.
"Sekarang aku mengerti mengapa kau memilih dia." Mark tersenyum.
Grand Duke terpana.
"Kau tidak salah memilih. Kalau bukan gadis seperti Jaemin, pasti tidak ada yang sanggup menjadi Ratuku."
Grand Duke membalas senyum itu. Ia ingat awal dari keputusannya ini. "Dialah yang memberi saya ide ini," katanya.
"Oh ya?" Raja tertarik.
"Dia pernah berkata hanya kuda betina saja yang cocok untuk Anda. Menurut saya, ia benar. Butuh ketegasan dan keberanian untuk menjadi istri pilihan Anda."
Raja tersenyum.
Kalau bukan Jaemin, pasti tidak ada yang sanggup menghadapi keegoisannya.
Kalau bukan Jaemin, ia tidak akan menemukan pujaannya.
Kalau bukan Jaemin, ia tidak akan pernah menemukan warna dalam kehidupan monotonnya.
Semua ini karena Jaemin, karena dia hadir dalam hidupnya.
"Terima kasih, Taeil," lagi-lagi Mark membuat Duke terpanah dengan senyumannya, "Kau sudah memilih kuda liar untukku."
Untuk pertama kalinya Duke benar-benar berlega hati telah memilih Jaemin.
"Kalau ada keperluan panggil aku," Mark berdiri, "Aku ada di kamar Jaemin."
"Saya mengerti, Paduka." Grand Duke berpikir kapankah terakhir kali ia melihat senyum yang menawan itu.
Mark melangkahkan kaki ke kamar Jaemin.
Beberapa hari sudah berlalu namun Mark merasa peristiwa itu berlangsung bertahun-tahun lalu. Suasana di Fyzool terasa sangat sepi tanpa tawa ceria Jaemin. Ia merasa tidak bersemangat melewati hari-harinya yang tanpa amarah. Ia merasakan ada yang kurang dalam dirinya tanpa seruan-seruan kerasnya.
Mark membuka pintu kamar Jaemin dengan perlahan.
Johnny of Hielfinberg, ayah Jaemin, duduk di kursi di sisi tempat tidur Jaemin. Johnny telah berada di Istana sehari setelah peristiwa itu. Setiap saat ia selalu terlihat duduk di sisi putrinya yang masih belum sadar dengan wajah sedih.
"Jaemin…," Johnny menggenggam tangan Jaemin dengan hati-hati.
Mark berdiam diri di pintu.
"Jaemin, jangan tinggalkan aku," desah Johnny lagi.
"Dia akan sembuh."
Johnny menoleh.
Raja masuk dan duduk di sebelah Johnny. "Jaemin penuh gairah hidup. Ia tidak akan pergi semudah ini. Percayalah padaku."
Johnny tidak menanggapi. Ia menggenggam erat tangan Jaemin dan menunduk dalam-dalam.
'Jaemin,' Mark melihat wajah tenang Jaemin, 'Aku yakin kau akan sadar lagi. Aku yakin!'
"Beristirahatlah, Johnny," kata Mark, "Saya akan menjaga Jaemin."
"Tidak, Paduka," tolak Johnny, "Saya ingin menemani Jaemin."
"Jaemin tidak akan senang melihat Anda seperti ini. Anda juga perlu menjaga kesehatan."
Johnny hanya memperhatikan Jaemin tanpa suara.
"Beristirahatlah," Mark meletakkan tangannya di pundak yang lesu itu, "Saya masih membutuhkan Anda menjaga Jaemin selama saya sibuk."
Mata Johnny beralih kepada pemuda yang beberapa hari ini disibukkan oleh urusan penculikan Jaemin. "Saya mengerti," ia mengalah.
Mark melihat Johnny yang pergi dengan berat hati kemudian mengalihkan perhatiannya ke Jaemin yang masih belum sadar diri.
Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa itu. Tiga hari pula Jaemin terus tidak sadarkan diri.
Seperti yang dikhawatirkan Mrs. Lee, suhu tubuh Jaemin terus meninggi malam itu. Suhu tubuhnya terus meninggi hingga keesokan harinya.
Lawrence, dokter yang dipanggil pihak Fyzool, mengatakan Jaemin terserang demam. Selain itu suhu tubuhnya meninggi akibat perlawanan tubuhnya terhadap kuman-kuman di lukanya.
Mark mengambil tangan Jaemin dengan hati-hati. "Jaemin," ia mencium tangan yang masih terbalut perban itu. "Aku yakin kau mendengar suaraku," katanya lagi, "Bila kau mendengarku, segeralah sadar. Aku benar-benar kesepian. Aku tidak punya alasan untuk marah-marah." Mark meletakkan tangan dingin itu di pipinya. Matanya terpaku pada wajah Jaemin. "Jaemin," tangannya yang lain mengelus kepala Jaemin, "Segeralah sadar. Berjanjilah padaku kau tidak akan kalah. Berjanjilah kau akan segera bangun dari tidur panjangmu."
Seseorang mengetuk pintu.
Mark segera berdiri untuk membuka pintu.
"Dokter Lawrence datang untuk melihat keadaan Paduka Ratu," lapor Nicci.
"Selamat siang, Paduka," Dokter Lawrence menyapa, "Saya datang untuk memeriksa Paduka Ratu."
Mark mengikuti Dokter ke sisi pembaringan. Tanpa sedikit pun mengeluarkan suara, ia memperhatikan Dokter merawat luka-luka Jaemin yang masih belum kering dibantu Nicci. Kemudian, seperti yang selalu dilakukannya selama tiga hari ini, ia memeriksa kondisi Jaemin.
Nicci segera merapikan baju Jaemin dan membenahi selimut tebalnya.
"Keadaan Ratu sudah mulai stabil," Lawrence melaporkan hasil pemeriksaannya, "Sekarang yang perlu kita khawatirkan adalah demamnya. Saya harap dalam waktu dekat ini panas Ratu akan turun."
Mark diam.
Lawrence tersenyum melihat wajah cemas pemuda itu. Ia mendekati pemuda itu.
"Jangan khawatir, Paduka," Dokter Lawrence menepuk pundak Mark, "Saya dengar Ratu adalah seorang yang penuh semangat. Ia akan segera sadar. Percayalah pada saya."
Mata Mark terus terpaku pada Jaemin.
"Jagalah kesehatan Anda," sang dokter kemudian berpesan, "Saya lihat akhir-akhir ini Anda sangat lelah."
"Terima kasih, Lawrence. Aku tahu batas kemampuanku," kata Mark, "Bila kau punya waktu, bisakah kau memeriksa Johnny pula."
"Johnny?" Lawrence kebingungan.
"Jaemin tidak akan senang bila mendengar ayahnya sakit ketika ia sadar," Mark menerangkan, "Kulihat akhir-akhir ini Johnny kurang sehat."
"Tentu, Paduka Raja."
Suara ketukan pintu kembali terdengar.
Nicci segera membuka pintu sesaat kemudian ia mendekati Mark.
"Grand Duke menginginkan kehadiran Anda di ruangan Anda, Paduka," ia melaporkan, "Ada seorang tamu yang ingin menemui Anda."
"Aku mengerti," lalu ia berpaling pada Lawrence, "Maaf aku tidak bisa mengantar kepergianmu, Lawrence."
"Saya memahaminya, Paduka."
"Jangan lupa periksa Johnny," pesan Mark sebelum ia pergi dan kepada Nicci, ia berkata, "Jagalah Jaemin sampai aku kembali. Johnny sedang beristirahat di ruangannya."
"Saya mengerti, Paduka."
Lawrence memperhatikan kepergian Mark dengan senyum. "Ia seorang pemuda yang mengagumkan."
Nicci mengangguk sependapat. "Tidak ada yang dapat memahami Paduka Ratu sebaik Paduka," tambahnya pula.

-0-

"Kau benar-benar sudah di luar batas, Somi!" untuk kesekian kalinya dalam lima hari belakangan ini Duke Binkley memarahi istrinya, "Apa yang harus kulakukan bila Mark marah?"
"Tidak akan! Lihatlah sampai sekarang ia belum melakukan apapun terhadapmu."
"Belum bukan berarti tidak!" seru Jungwoo gusar, "Kau tidak tahu siapa Mark. Kau tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Apa yang harus kulakukan. Apa?"
Somi mengacuhkan Jungwoo yang terus berjalan mondar-mandir dengan gusar.
"Kau benar-benar sinting! Mengapa kau membawa pedang keluargaku? Mark pasti tahu aku ada hubungannya dengan peristiwa ini. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau ia mengirimkan pasukan untuk menangkapku?"
"Tidak mungkin! Mark tidak pernah memanggilmu. Sampai sekarang juga masih tidak ada pergerakan dari Istana."
"Pedang keluarga Soyoz ada di tangannya. Apa masih ada jalan untuk memungkirinya!?"
"Katakan saja seseorang mencuri pedang itu," kata Somi tenang.
"Bagaimana kalau Jaemin mengatakan semuanya!? Jaemin melihatmu, bukan? Bagaimana kalau Mark percaya padanya?"
"CUKUP!" akhirnya Somi marah, "Kau benar-benar cerewet! Kalau memang takut, bunuh saja Mark dan Jaemin. Memangnya apa kelebihan Mark? Dia hanya seorang pemuda dengan gelar Raja! Tidak lebih dari itu!"
"Lebih dari itu!?" Jungwoo terperanjat, "Ia adalah seorang Raja! Ia bukan kebetulan menjadi seorang Raja! Apa yang harus kulakukan kalau ia menangkapmu!? Tidak! Mark pasti menangkapmu. Mark pasti akan melakukannya. Ia pasti akan menangkapku juga. Pedang Soyoz ada di tangannya bukan?"
Somi kesal melihat suami tidak bergunanya. Selama lima hari ini ia terus-terusan melihat suaminya seperti itu
Malam itu setelah ia dengan tidak mudahnya kabur dari kejaran para prajurit Istana, Jungwoo menyambut kepulangannya dengan amarah. Ia terus menanyakan keberadaan pedang keluarga Soyoz. Sedikitpun tidak mengkhawatirkannya. Setelah mengetahui ke mana perginya pedang pusakanya, Jungwoo menjadi gusar. Tiap hari ia terus meneliti isi koran-koran di seluruh Viering. Ia juga tiada hentinya mengomelinya.
Di mata Somi, Jungwoo benar-benar bodoh! Raja tidak mungkin mengambil tindakan gegabah. Jungwoo bukan hanya sepupunya tapi juga putra seorang Duke berpengaruh. Tidak ada yang perlu ditakutinya. Lihat saja buktinya. Hingga hari ini ia tidak mengambil tindakan apa pun bahkan ia menutup-nutupi kejadian itu. Pihak Istana juga hanya menjelaskan Jaemin demam. Hingga detik ini tidak ada yang mengungkit peristiwa sebenarnya yang menimpa Jaemin. Juga tidak ada yang mengungkit masalah pedang keluarga Soyoz. Kalau memang Mark bisa melakukan sesuatu pada mereka, mereka bisa mencegahnya.
"Jungwoo," Somi bergelayut manja pada suaminya. "Kau tidak ingin aku ditangkap mereka bukan?"
"Omong kosong!" hardik Jungwoo, "Tentu saja aku tidak menginginkannya!"
Somi tersenyum puas. "Kalau kau tidak ingin dinyatakan terlibat dalam masalah ini, mengapa kau tidak menutup mulut gadis ingusan itu? Gadis ingusan itu masih belum sadar, bukan?" tanya Somi, "Kau tahu kalau dia sadar dia pasti akan mengatakan semua yang terjadi padanya. Namun bila ia tidak pernah sadar, tidak akan ada yang tahu apa yang telah terjadi. Mark pasti tidak akan menghantuimu. Kau juga bisa dengan lega mengumumkan hilangnya pedang keluargamu. Tidak akan ada yang curiga. Semua akan berlanjut dengan normal kembali."
Duke Binkley itu terdiam.

-0-

"Apa yang kaulakukan, Jisung?" omel Renjun melihat adiknya masih membaca koran di ruang makan. "Mengapa engkau tidak segera bersiap-siap? Matahari sudah semakin tinggi."
"Aku belum selesai membaca koran hari ini."
"Apa kau tidak ingin melihat Jaemin?"
"Untuk apa kau terburu-buru?" tanya Jisung, "Jaemin tidak akan ke mana-mana. Bukankah Dokter juga mengatakan Jaemin tidak akan sadar dalam waktu dekat ini."
"Apa kau tidak mengkhawatirkan Jaemin?"
"Aku peduli pada Jaemin tapi adakah gunanya melihatnya setiap hari? Ia masih belum sadar. Pihak Istana juga sudah memanggil dokter untuk mengawasi perkembangan kondisi Jaemin. tidak ada yang perlu kucemaskan tentang itu. Sekarang yang lebih mengkhawatirkanku adalah desas desus yang berkembang di dalam Istana."
"Desas-desus apa?" tanya Renjun, "Bukankah Raja juga mengatakan Jaemin mengalami kecelakaan di Pittler?"
Jisung melihat wajah polos kakaknya dan mendesah. "Kau memang bukan Jaemin."
"Apa maksud perkataanmu itu1?" Renjun marah.
"Apa kau tidak curiga melihat luka-luka Jaemin? Apa kau tidak pernah bertanya mengapa Mark terlihat ingin menyembunyikan keadaan Jaemin yang Lucasenarnya?"
"Raja pasti tidak mau rakyat mengkhawatirkan Jaemin."
"Dasar wanita," keluh Jisung, "Percuma saja aku membicarakannya denganmu. Papa juga tidak mau membicarakannya denganku. Jaemin juga masih belum sadar."
"Mengapa kau tidak membicarakannya denganku?" bujuk Renjun.
"Tidak! Percuma saja! Kau tidak akan mengerti!"
"Karena kau tidak mengatakannya," bantah Renjun, "Kalau kau mengatakannya, aku pasti mengerti."
Jisung terdiam. Saat ini memang hanya kakaknya yang bisa diajaknya berbicara. Mengatakan pikirannya kepada orang lain mungkin akan membuat pikirannya terasa lebih ringan. Renjun mungkin juga mempunyai pendapat yang sama.
"Aku curiga kejadian yang menimpa Jaemin di Pittler bukan murni kecelakaan," Jisung mengutarakan kecurigaannya, "Luka-lukanya terlalu rapi untuk dikatakan Lucasagai akibat kecelakaan. Aku rasa ada yang coba membunuh Jaemin di Pittler."
Renjun terpekik kaget. "Jangan mengada-ada. Tidak akan ada yang ingin membunuh gadis semanis Jaemin."
"Aku tidak mengada-ada. Pikirkanlah baik-baik. Siapa yang paling diuntungkan bila Jaemin mati?"
Renjun langsung mengetahui jawabannya. "Itu… tidak mungkin."
"Mengapa tidak?" tanya Jisung.
"Jungwoo dapat dipastikan meneruskan tahta kalau Mark tidak mempunyai keturunan."
"Itu tidak mungkin! Kau tahu Jungwoo. Dia… dia…"
"Ya, dia adalah seorang pengecut tapi Somi?" serang Jisung, "Apakah kau pikir Somi juga seorang pengecut? Ingatlah dia adalah mantan kriminal. Membunuh bukanlah hal yang sulit baginya. Ia mengenal banyak penjahat yang mau melakukan pekerjaan itu untuknya."
Renjun benar-benar kehabisan kata-kata.
"Bagiku itu adalah alasan yang paling masuk akal atas diamnya pihak Istana," Jisung mengakhiri perdebatannya, "Mark juga tahu apa yang akan terjadi bila ia langsung memerintahkan prajurit untuk menahan Somi ataupun Jungwoo."
"Tapi… itu tidak mungkin, bukan?"
"Ini hanya dugaanku. Ini masih dugaanku." Jisung ingat ia harus memperingati Renjun. "Jangan katakan pada siapa pun. Satu omongan yang salah bisa menyebabkan gejolak di Viering," ia memperingati kakaknya.
Renjun mengangguk.
Jisung memperhatikan Renjun. memberitahu Renjun tampaknya bukan tindakan bijaksana. Ia telah memperingati Renjun namun siapa tahu yang bisa mempercayai mulut seorang wanita? Jisung juga tidak bisa menahan dirinya. Ia pernah mencoba mengutarakan dugaannya pada ayahnya tapi sang Grand Duke marah. Jaemin, gadis yang sering diajaknya bertukar pendapat, masih terbaring tidak sadar diri. Jisung juga tidak mungkin mengatakannya pada Mark ataupun Johnny.
"Mengapa engkau masih belum pergi?" tanya Jisung, "Bukannya kau ingin melihat Jaemin?"
Renjun langsung teringat tujuannya semula mencari Jisung. "Mengapa engkau tidak segera bersiap-siap?" ia memarahi Jisung lagi, "Apa kau tidak ingin melihat Jaemin?"
"Pergilah dulu," Jisung membuka kembali korannya, "Aku akan menyusul setelah aku menyelesaikan ini."
Renjun marah melihat adiknya. "Apakah engkau tidak bisa membacanya sepulang dari Fyzool!?"
"Tidak bisa," Jisung menjawab mantap, "Koran adalah bagian dari sarapan."
Renjun benar-benar marah dibuatnya. Tanpa sepatah kata pun ia meninggalkan adiknya. Ia masih mengomel ketika ia sudah tiba di Istana.
Semua pria sama saja. Jisung hanya mengkhawatirkan Jaemin di mulutnya. Demikian pula Raja Mark. Walaupun tampaknya Mark mengkhawatirkan Jaemin, ia masih jarang melihat keadaan Jaemin. Selama kedatangannya ke Istana dalam tiga hari belakangan, Renjun sama sekali tidak pernah melihat Mark di kamar Jaemin. Dari Johnny Hielfinberg, ia mengetahui Mark menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.
Entah apa yang dipikirkan pemuda itu. Jaemin masih tidak sadarkan diri dan ia terus berkutat dengan masalah lain. Renjun merasa seperti ditipu. Ia sempat memuji ketegasan Mark dalam menangani kondisi Jaemin namun sekarang ia kembali meragukan pemuda itu.
Renjun terkejut melihat seorang pemuda di sisi tempat tidur. Pemuda itu membungkuk ke arah Jaemin. Tangannya yang terulur ke wajah Jaemin menghalanginya mengenali rupa pemuda itu. Renjun baru saja berpikir pemuda itu adalah Mark ketika ia menyadari sesuatu yang tidak beres. Tangan pemuda itu bukan memegang wajah Jaemin seperti dugaannya semula melainkan memegang leher Jaemin!
"Apa yang kaulakukan?" Renjun menjadi was-was.
Pemuda itu terperanjat.
"Duke Binkley!" Renjun terperanjat. Ia teringat kecurigaan Jisung.
"A-aku hanya memeriksanya," Jungwoo gugup, "Beberapa saat lalu ia tampak kesakitan, jadi aku memeriksanya."
"Tolong Anda jauhi Jaemin," kata Renjun memperingati, "Anda tidak perlu khawatir, saya akan memanggil dokter untuk memeriksa Jaemin."
"Saya lega mendengarnya. Tolong Anda periksa keadaannya. Maaf saya masih ada urusan," Jungwoo dengan gugup bergegas meninggalkan kamar Jaemin.
Renjun memperhatikan sikap gugup Jungwoo dengan curiga. Satu jam yang lalu ia masih menertawakan kecurigaan adiknya, sekarang ia mulai memikirkannya dengan serius.
Ia yakin beberapa saat lalu ia melihat Jungwoo sedang mencekik Jaemin. Ia berusaha membunuh Jaemin! Jungwoo tidak mungkin berniat membunuh Jaemin kecuali ia ingin menutup mulut Jaemin. Tapi mengapa? Apakah dugaan Jisung benar?
Renjun tidak mengerti. Namun ia segera sadar. Dibandingkan memikirkan hal ini, sekarang yang lebih penting adalah memastikan keadaan Jaemin.
Renjun benar-benar lega merasakan nafas Jaemin yang naik turun dengan teratur.
Pintu terbuka.
"Apalagi maumu!?" Renjun langsung bersiaga. "Bukankah aku sudah mengatakan aku akan memanggil dokter!?"
Nicci melihat Renjun dengan kaget. "M-maafkan saya, M'lady," kata Nicci gugup, "Apakah saya menganggu Anda?'
Renjun sadar siapa yang baru saja dibentaknya. "Tidak, Nicci. Engkau tidak mengangguku. Aku hanya pikir kau adalah seorang penganggu yang baru saja pergi."
"Apakah ada yang menganggu Paduka Ratu selama saya pergi?" Nicci langsung memeriksa keadaan Jaemin dengan cemas. "Maafkan saya. Saya tidak akan gegabah lagi. Saya hanya pergi untuk mengganti air kompres Paduka Ratu."
Renjun melihat baskom air di tangan Nicci. Kemudian ia menyadari kejanggalan lain di kamar itu. "Di mana Johnny Hielfinberg?"
"Paduka meminta Johnny beristirahat," jawab Nicci, "Kesehatan Johnny menurun. Pagi ini Dokter Lawrence telah menyarankan Johnny untuk beristirahat seharian."
"Tentu saja kesehatan Johnny menurun!" Renjun marah teringat ketidakpedulian Jisung maupun Mark pada Jaemin, "Tiap hari ia menjaga Jaemin dari pagi sampai malam. Para pria itu mana mau peduli!"
"Siapa yang kaukatakan tidak peduli itu, Renjun?" Jisung memasuki kamar dengan kesal.
"Jisung! Aku baru saja."
'Engkau juga tahu apa yang akan terjadi kejadian ini bisa menyebabkan gejolak di Viering.' Renjun teringat peringatan Jisung pagi ini.
"Jisung," Renjun menarik tangan Jisung, "Kita harus segera mencari Paduka Raja."
Jisung bingung. "Bukannya kau ingin aku segera menjenguk Jaemin? Mengapa sekarang kau ingin mengajakku pergi?"
"Nicci," Renjun berbalik, "Jangan tinggalkan sisi Jaemin tak peduli siapa pun yang memanggilmu."
"Saya mengerti, M'lady."
"Ikut saja aku," Renjun menarik adiknya.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Jisung ketika mereka sudah meninggalkan Renjun.
"Aku melihat Jungwoo di kamar Jaemin," Renjun berbicara dengan suara kecil sehingga prajurit yang menjaga pintu kamar Jaemin tidak dapat mendengarnya.
Raut wajah Jisung langsung menjadi serius.
"Aku rasa kau benar. Jungwoo ingin menghabisi Jaemin. Aku melihat ia mencekik Jaemin."
"Apa kau sudah mengatakannya pada Nicci?" Jisung curiga.
"Apa kau pikir aku ini bodoh!?" Renjun kesal. "Aku tahu apa akibatnya kalau aku sembarangan bicara! Saat ini kita harus segera memberitahu Raja untuk memperkuat keamanan Jaemin."
Jisung mengangguk sependapat.
Sesaat kemudian mereka sudah berada di ruangan tempat Mark bekerja. Selain Mark, Duke Taeil juga ada di sana untuk mendengarkan kecurigaan Jisung.
"Jangan bicara sembarangan!" Duke Krievickie marah, "Apa kau sadar akibat apa yang bisa ditimbulkan perkataanmu itu, Jisung!"
"Jisung mungkin benar, Papa," Renjun membela adiknya, "Aku yakin aku melihat Jungwoo mencekik Jaemin."
Wajah Mark sama sekali tidak berubah mendengarnya.
"Jelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada Jaemin, Mark!" desak Jisung.
"Jisung, apa kau sadar dengan siapa kau berbicara!?" Grand Duke dan putrinya melabrak Jisung secara bersamaan.
"Sudahlah, Taeil," Mark mendinginkan suasana lalu ia melihat Jisung, "Rasanya tidak ada gunanya aku menyembunyikan hal ini lebih lama lagi darimu, Jisung."
Mark mengeluarkan sesuatu dari dalam kolong meja kerjanya.
Mata Jisung membelalak melihat pedang panjang itu di meja kerja Mark.
Renjun juga ikut kaget melihat simbol yang terukir di gagang pedang itu. "P-paduka… ini…," Renjun tidak dapat mengungkapkan perasaannya.
Tangan Mark bertumpu pada sikunya di atas meja. Jari-jari Mark bertautan di depan mulutnya yang dengan tenang berkata, "Ini ditemukan bersama Jaemin."
Mata kedua kakak beradik itu membelalak semakin lebar.
"Saat ini masih belum jelas apa keterlibatan Binkley dengan penculikan dan usaha pembunuhan Jaemin ini," Mark melanjutkan tetap dengan suara tenangnya, "Todd, sang pemimpin komplotan yang menculik Jaemin, masih tidak mau membuka mulut. Kami masih menyelidiki hubungan Somi dengan peristiwa ini."
"Bisa diyakinkan Jungwoo tidak mempunyai keberanian untuk melakukan ini," Jisung sependapat, "Tetapi kalau Somi. Tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah jenis wanita yang akan melakukan apa saja untuk meraih ambisinya."
"Saat ini hanya beberapa orang saja yang mengetahui hal ini. Aku tidak ingin berita ini tersebar luas sebelum ada bukti tentang kelibatan Binkley."
"Kami mengerti, Paduka," Renjun langsung menanggapi, "Kami berjanji tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun."
"Aku punya permintaan," kata Jisung.
"Katakanlah."
"Aku ingin dilibatkan dalam masalah ini," Jisung berkata sungguh-sungguh, "Jaemin adalah adikku. Aku tidak bisa berdiam diri melihat orang lain ingin mencelakakan Jaemin. Walaupun ke ujung dunia, aku akan menangkap orang yang mencelakai Jaemin."
"Jisung, jangan gegabah!" hardik Duke Taeil, "Ini adalah masalah serius."
"Aku bukan anak kecil lagi, Papa!"
"Setuju," Mark menarik perhatian ayah dan anak yang sudah memulai pertengkaran mereka, "Taeil, jelaskan perkembangan penyelidikan kita pada Jisung. Dan kau, Jisung, mulai besok aku mengharapkan kedatanganmu di Fyzool." Mark berdiri. "Renjun, bisakah kau pergi denganku ke kamar Jaemin. Aku ingin mendengar secara terperinci apa yang sudah kaulihat di kamar Jaemin."
"Baik, Paduka," mereka menanggapi dengan tangkas.

-0-

Seminggu berlalu sudah sejak percobaan pembunuhan Jaemin.
Panas Jaemin sudah berangsur-angsur turun. Luka di tangannya sudah mulai mengering. Namun menurut Dokter Lawrence, luka di perutnya tidak akan sembuh secepat luka di kedua telapak tangannya.
Johnny Hielfinberg juga sudah menunjukkan batas kesehatannya. Sekarang atas nasihat dokter, ia beristirahat di kamar lain yang tak jauh dari kamar Jaemin. Johnny bukan saja lelah karena menunggui Jaemin sepanjang hari namun juga karena kecemasannya. Pada awalnya ia menolak namun setelah dibujuk oleh banyak orang, akhirnya ia mau menurut.
Todd juga masih menutup mulut. Ia tetap berpura-pura tidak tahu apa yang telah terjadi di tempat persembunyiannya di Pittler. Ia terus mengelak pertanyaan demi pertanyaan yang diutarakan padanya. Sikapnya ini membuat Jisung sering lepas kendali hingga para prajurit kewalahan mencegah Jisung melukai tahanan mereka. Bawahan Todd juga tidak banyak membantu. Mereka tidak tahu siapa dalang peristiwa ini. Sebagian dari mereka bersikap keras kepala seperti Todd dan sebagian hanya tahu mereka diperintah Todd.
Di Arsten juga tidak tampak pergerakan yang mencurigakan. Somi masih tetap tidak terlihat di dalam maupun sekitar Arsten. Jungwoo juga tidak pernah menunjukkan sikap yang mencurigakan. Ia juga tidak pernah mengumumkan hilangnya pedang pusaka keluarga mereka.
Mark merasa sudah saatnya ia mengambil tindakan tegas. Mulanya ia ingin menanti Jungwoo mengumumkan hilangnya pedang warisan keluarga mereka. Namun tampaknya sekarang ia harus memanggil kakak sepupunya itu dan menanyakan langsung keberadaan pedang yang digenggam Jaemin ketika ia ditemukan.
"Jaemin, dalam waktu dekat ini aku akan meringkus semua yang menyebabkanmu seperti ini. Aku berjanji padamu."
Mark termenung melihat Jaemin. Hari-hari belakangan ini semangatnya terus mengendur. Ia merasa seluruh tenaganya telah dibawa Jaemin tidur.
Dulu ia selalu berharap Jaemin dapat bersikap tenang. Ia tidak menyukai setiap keributan yang dibuat Jaemin di Istananya. Sekarang ketika harapan itu terkabul, ia mengharapkan yang sebaliknya. Mark tidak sanggup melihat gadis liarnya tidak berdaya seperti ini.
"Hari itu seharusnya aku mengikatmu," gumam Mark. Mata kelabunya yang sendu menatap lekat-lekat wajah yang tertidur nyenyak itu. Tangannya membelai lembut setiap lekuk wajah Jaemin.
"Aku telah berusaha mencegahmu tetapi aku kalah. Kau tahu aku selalu kalah darimu," Mark menggenggam kedua tangan Jaemin erat-erat dan menunduk dalam-dalam, "Andai saja aku berusaha lebih keras, semua ini tidak akan terjadi. Kau tidak akan celaka. Kau adalah poin penting dalam perebutan tahta ini. Kaulah pion untuk memberiku keturunan."
"Pion penting?"
Mark terperanjat.
Mata biru jernih Jaemin menatapnya tajam.
"Jaemin!?" Mark terpekik kaget, "K-kau sudah sadar?"
"Ya," kata Jaemin sinis, "Cukup sadar untuk mendengar semuanya."
Mark terdiam.
Tidak ada gadis yang marah pertama kali tersadar dari tidur panjangnya.
Tidak ada seorang gadis pun yang berani menatapnya seperti itu.
Tidak ada seorang gadis pun yang sanggup menunjukkan kemarahannya ketika ia masih lemah.
Tidak ada seorang gadis pun selain Jaemin!
Mark tersenyum lega. "Ini baru kau," katanya sambil merengkuh Jaemin dalam pelukannya.
"Beginikah caramu memperlakukan poin pentingmu?"
"Tidak, Jaemin," Mark membenarkan, "Kau bukan poin pentingku. Bukan lagi."
"Oh?" Jaemin terkejut. "Setelah kau berhasil menyingkirkan Somi, kau juga akan menyingkirkanku?" suaranya tertahan oleh kesedihan yang tiba-tiba menyiksa dadanya.
"Tidak," Mark menjauhkan Jaemin dari pelukannya. Ia menatap Jaemin lekat-lekat dan menegaskan, "Aku belum mempunyai cukup bukti untuk menahan Somi walaupun sekarang kami masih memperdalam penyelidikan. Aku yakin dalam waktu dekat kami akan menemukan bukti keterlibatan mereka dalam usaha pembunuhanmu ini."
"Dan setelah itu kau akan mendepakku?"
"Setelah semua ini apakah kau kira aku sanggup?" Mark tersenyum lembut.
"Mengapa tidak?" Jaemin balik bertanya, "Kau selalu mengeluh mengeluhkan setiap tindakanku. Kau tidak pernah menyukaiku."
"Ya," Mark mengakui, "Harus kuakui itu tetapi tidak selalu seperti itu."
Jaemin tidak mempercayai pemuda itu. "Katakan yang sejujurnya padaku. Kau tahu kau tidak bisa membohongiku."
Mark tersenyum geli. "Apakah aku bisa berbohong di saat seperti ini?"
"Kau menertawakanku," protes Jaemin, "Kau menertawakanku karena aku tidak punya harga diri, karena aku menjadi istrimu demi tahta. Aku adalah pelacur kelas atas."
"Tidak. Aku tidak pernah berpikir seperti itu."
"Tapi kau mengatakannya!"
Mark terperanjat. "Itu dulu," ia mengakui, "Sekarang tidak lagi. Besok, lusa, dan seterusnya juga tidak akan."
Jaemin membuang wajah.
Mark mengulurkan tangan menyentuh pipi Jaemin dan memalingkan wajah Jaemin ke arahnya. Tangannya yang lain melingkari pinggang Jaemin.
"Jangan menghindariku."
Jaemin mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
"Kau memang…," Mark tidak dapat mengutarakan.
"Liar!" sahut Jaemin.
"Ya," Mark mengulum senyumnya, "Tapi kadang-kadang"
"Tidak punya aturan," potong Jaemin. Jaemin menatap lekat-lekat mata kelabu Mark, "Bukankah itu yang mau kaukatakan!? Aku liar, tidak bisa diatur, tidak punya adat, binal dan entah apa lagi yang ada dalam pikiranmu."
"Ya, Jaemin, kau tidak bisa diatur dan kadang-kadang tidak punya aturan. Tapi karena itulah aku mencintaimu."
Jaemin terdiam. Ia memandang Mark penuh ketidakpercayaan.
"Aku bersyukur kau bukan gadis anggun yang membosankan itu. Aku berterima kasih pada Tuhan atas keliaranmu itu," Mark bersungguh-sungguh, "Kalau bukan karena keliaranmu itu, mungkin kau sudah mati sekarang."
Mark mendekap Jaemin erat-erat, "Aku tidak mau menjadi duda di usia semuda ini."
"Ba… bagaimana mungkin?" Jaemin tidak percaya, "Kau sedang mabuk, Mark?"
Mark menjawab pertanyaan itu dengan ciuman lembutnya.
Jaemin terperangah.
"Kau merasakan anggur? Mencium bau anggur?"
Jaemin menggeleng.
Mark berkata serius. "Aku mencintaimu."
"Mengapa?"
"Kau selalu butuh penjelasan," Mark tersenyum, "Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Kau penuh semangat, bebas. Kau membuat hidupku yang monoton menjadi bergairah dan penuh kejutan."
"Aku bersungguh-sungguh, Jaemin," tegas Mark melihat raut wajah Jaemin, "Kalau bukan kau, takkan ada yang tahan menjadi istriku dan digunjingkan orang lain tiap saat. Kalau bukan kau, takkan ada yang dapat menghentikan kebiasaan burukku. Karena kaulah aku menemukan hidup yang penuh gairah. Kau membawa gairah pada hidupku yang monoton ini. Kau membuatku menemukan gadis yang benar-benar kucintai seumur hidupku. Aku mencintaimu karena kau adalah kau," tegas Mark lagi.
"Apakah itu belum cukup?"
"Biar aku pikir dulu," Jaemin meletakkan tangan di pundak Mark.
"Khawatirnya, aku tidak memberimu kesempatan," Mark membaringkan Jaemin, menindihnya dan menciumnya dengan penuh kasih.
Mark membelai wajah Jaemin. "Kau begitu menggairahkan," gumamnya.
Jaemin tersenyum. Tangannya menggelantung di leher Mark.
"Sayangnya," Mark menjauhkan diri, "Untuk beberapa waktu, aku harus mengurungmu di kamar."
Jaemin membelalak.
"Kalau perlu, aku akan menahanmu di tempat tidur."
"Aku tidak mau!" protes Jaemin.
"Kau baru sadar setelah pingsan berhari-hari. Lukamu belum sembuh. Kau butuh istirahat total."
Jaemin memasang muka masam.
"Kau membuatku tidak tega."
Jaemin tidak mengubah raut wajahnya. "Aku membencimu."
"Setelahnya kau akan mencintaiku kembali," lanjut Mark.
Jaemin membelalak. "Bagaimana kau tahu?"
"Kupikir aku selalu tahu apa yang kaupikirkan."
Jaemin memasang lagi muka masam.
Mark tertawa geli.
"Apa yang kautertawakan!?"
"Kadang kau seperti anak kecil."
"Aku tidak peduli padamu!" Jaemin menghindari Mark.
"Kalau aku mencari wanita lain?" goda Mark.
"Aku juga akan mencari pria lain!"
"Katamu kau mencintaiku."
"Aku tidak pernah mengatakannya. Kau yang mengatakannya."
"Aku akan membuatmu mengakuinya."
"Coba saja," tantang Jaemin.
"Kalau aku berhasil?"
"Tidak akan!"
"Kalau, Jaemin, kalau," Mark menekankan.
"Kau berhasil," jawab Jaemin, "Kau mendengar yang kaumau."
"Kau tahu apa yang kumau?"
"Tentu saja! Kau ingin aku berkata 'aku mencintaimu'."
Mark tersenyum penuh kemenangan, "Kau telah mengatakannya."
Jaemin terperangah. "K… kau…"
Mark menghela nafas. "Berdebat denganmu sungguh melelahkan. Kau pandai memilih kata-kata."
Jaemin membalik badan.
"Hei!" Mark menahan. Ia mengangkat Jaemin dan memangkunya.
Jaemin menghindari pandangan Mark.
"Apa kau marah padaku?" tanya Mark bersalah, "Apa mengucapkan tiga kata 'aku cinta padamu' sungguh berat untukmu?"
Jaemin tidak menanggapi.
"Kalau kau tidak suka, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Sungguh?"
"Kau bisa memegang kata-kataku."
"Aku tidak suka dikurung di kamar atau di tempat tidur. Aku ingin bebas seperti dulu."
"Baiklah."
Jaemin berpaling – melihat wajah bersalah Mark dengan senyum puas. "Kau tidak bisa mengurungku, kau sudah berjanji."
"Kau!" Mark kaget.
"Aku mencintaimu," Jaemin melingkarkan tangan di leher Mark.
"Kau sungguh pandai berbicara," desah Mark.
"Tapi kau mencintaiku karena itu."
"Ya," Mark mendesah panjang dan menunduk mencium Jaemin, "Katakan lagi, Jaemin."
Jaemin tersenyum. "Aku mencintaimu."
Dan Mark merasa kepenatannya selama seminggu belakangan ini sirna. Tangan Mark terus menjelajahi tiap lekuk wajah Jaemin. Dengan hati-hati ia membaringkan Jaemin kembali sementara bibirnya terus mencumbu Jaemin. Hatinya dipenuhi oleh perasaan cinta yang tak dapat diutarakannya dengan kata-kata. Mark tidak pernah menyangka seorang wanita bisa membuatnya luluh seperti ini.
Jaemin merengkuh kepala Mark dan saat itulah rintihan kesakitan terlepas dari mulutnya.
Mark kaget. "Kau tidak apa-apa?" ia baru sadar luka-luka Jaemin masih belum pulih.
Jaemin juga baru sadar kedua telapak tangannya dibungkus oleh kain putih.
"Aku akan memanggil Lawrence," Mark beranjak dari sisi Jaemin.
Jaemin segera menarik baju Mark. Lagi-lagi rintihan kesakitan terlepas dari mulutnya.
"Jangan banyak bergerak," Mark berkata cemas. "Aku tidak ingin lukamu kembali terbuka."
"Aku ingin minum," protes Jaemin.
Lagi-lagi Mark menyadari kecerobohannya. Jaemin baru saja sadar dari tidur panjangnya. Tentunya ia sangat kehausan setelah berhari-hari tidak minum setetes air pun.
"Tunggulah aku," Mark membungkuk mencium kening Jaemin, "Aku akan segera kembali."
Baru saja Jaemin berpikir Mark akan pergi ke mana ketika ia melihat pemuda itu melangkah ke meeja di dekat kaki pembaringan. Di atas meja riasnya, ia melihat sebuah teko dan sebuah gelas.
Mark menuangkan segelas air untuk Jaemin.
Jaemin tertawa geli.
Mark kembali di sisi Jaemin dengan wajah tidak senang. "Apa yang kautertawakan?"
"Aku pikir kau akan ke mana, ternyata…," Jaemin tidak dapat menghentikan tawanya sampai rintihan kesakitan kembali terlepas dari mulutnya. Tangannya memegang erat-erat perutnya.
"Lihatlah!" Mark marah, "Aku sudah memperingatimu." Mark segera meletakkan gelas di meja kecil sisi pembaringan Jaemin dan menyingkap selimut Jaemin.
Jaemin membelalak kaget ketika Mark membuka kancing baju tidurnya.
"A-apa yang kaulakukan!?" Jaemin panik ketika kancing sepanjang kerah baju tidurnya hingga ujung gaun tidurnya itu hampir terbuka setengahnya.
"Diamlah!" Mark memperingati dengan tajam. "Biarlah aku memeriksa lukamu."
Wajah Jaemin sudah merah padam ketika tangan Mark memeriksa kain yang membalut perutnya itu dengan teliti.
"Sepertinya lukamu tidak terbuka kembali," Mark duduk di sisi Jaemin dengan lega. "Lain kali jangan melakukan tindakan yang bisa membuatku sakit jantung."
"Aku tidak bisa berjanji," kata Jaemin jujur.
Mark menatap tajam Jaemin.
"Kau menyukaiku karena itu, bukan?" Jaemin tersenum manis.
"Kau…," Mark merasa ia benar-benar kalah telak oleh senyum yang menggoda itu.
Jaemin berusaha mengancingkan kembali baju tidurnya dengan jari-jarinya yang tidak bebas.
"Apa yang kau lakukan?" Mark panik.
"Aku hanya ingin mengancingkan gaun tidurku," Jaemin membela diri. "Aku tidak bisa terus seperti ini, bukan?"
Mark melihat dada Jaemin yang hampir telanjang. Tanpa banyak suara, ia merapikan kembali gaun tidur Jaemin kemudian membantu gadis itu duduk. Tangan kirinya terus memeluk pundak gadis itu dengan lembut sementara tangannya yang lain mengambil gelas di meja. Dengan telatennya ia membantu Jaemin meneguk air.
Suara keributan di depan pintu menarik perhatian Mark.
"Berbaringlah kembali," Mark membaringkan Jaemin dengan hati-hati kemudian menarik selimut menutupi tubuh gadis itu, "Aku akan memanggil dokter dan mengabarkan keadaanmu pada Johnny."
"Papa ada di sini?" Jaemin kaget.
"Benar," Mark tersenyum, "Karena itu kali ini aku ingin kau menjadi gadis manis. Aku tidak main-main, Jaemin."
"Aku berjanji," senyuman Jaemin tidak sanggup menghilangkan keraguan Mark. Namun Mark juga tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus memeriksa keributan di luar sebelum Jaemin juga mendengarnya dan sesegera mungkin memanggil Lawrence.
"Apa yang kalian maksud selain Nicci dan Mark, tidak ada yang boleh memasuki kamar Jaemin!?" Jungwoo menuntut jawaban. "Kalian tahu siapa aku!? Aku adalah Duke of Pittler."
"Maafkan kami," prajurit itu berkata, "Kami hanya menjalankan perintah yang diberikan pada kami."
Prajurit lain turut bersuara, "Paduka Raja sendiri yang memerintahkan kami untuk melarang tiap orang kecuali Nicci memasuki kamar Paduka Ratu."
"Apa kalian pikir aku akan percaya!? Mark tidak mungkin melarangku menemui Jaemin!"
"Benar. Aku yang memerintahkan mereka mencegah setiap orang kecuali Nicci memasuki kamar Jaemin," Mark muncul dari balik pintu dengan segala wibawanya.
Para prajurit itu terperanjat. "Maafkan kami, Yang Mulia Paduka," mereka segera berlutut, "Kami tidak berniat membuat keributan."
Jungwoo pucat pasi. Ia tidak menduga akan bertemu langsung dengan Mark di sini. Sejak hari Renjun mendapatkannya di dalam kamar Jaemin, Jungwoo telah mengutus orang untuk memperhatikan kamar Jaemin. Dari orang itu pula, Jungwoo mempelajari pola pengunjung-pengunjung Jaemin. Dan siang seperti ini Mark tidak pernah berada di kamar Jaemin. Sepertinya hari ini adalah pengecualian.
"Kebetulan engkau datang, Jungwoo. Aku ingin berbicara denganmu."
Jungwoo sadar ia tidak bisa lari. Jungwoo tegang dan takut ketika Mark terus berdiam diri.
Dalam hatinya ia mulai menyalahkan Somi. Bila Somi tidak bertindak gegabah, ia tidak akan menghadapi situasi saat ini. Bila Somi tidak terus mendesaknya, ia tidak akan berusaha membunuh Jaemin.
Jungwoo panik. Mungkinkah Mark tahu ia pernah berusaha membunuh Jaemin? Mungkinkah Renjun telah memberitahunya? Mungkinkah Mark tahu saat ini ia membawa racun yang ingin diminumkannya pada Jaemin? Mungkinkah Mark ingin menangkapnya?
"Masuklah," Mark membuka pintu ruang kerjanya.
Jungwoo semakin panik melihat ketenangan Mark. Ia sadar sikap Mark yang seperti tidak pernah terjadi apa-apa ini justru lebih membahayakan dari kemarahannya yang meledak-ledak.
Mark duduk di meja kerjanya dan menatap langsung ke mata kakak sepupunya itu. "Jungwoo," ia membuka mulut.
"A-aku tidak tahu!" Jungwoo berkata panik, "Aku tidak tahu apa pun! Semua ini rencana Somi. Dia sama sekali tidak memberitahuku! Somi merencanakan semua ini. Ia ingin membunuh Jaemin. Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak terlibat!"
Mark terperanjat. Ia tahu Jungwoo adalah seorang pengecut tapi sama sekali tidak disangkanya Jungwoo jauh lebih pengecut dari yang diduganya. Ia mengajak Jungwoo memang karena ia ingin memancing pengakuannya. Ia ingin menanyakan keberadaan pedang keluarga Soyoz pada Jungwoo tapi tak disangka…
"Jungwoo, apa kau sadar dengan perkataanmu itu?"
"Sekarang Somi ada di Arsten," kata Jungwoo pula dengan panik, "Kau bisa mengirim orang menangkapnya. Aku tidak tahu. Aku tidak terlibat dengan masalah ini!"
"Aku mengerti," kata Mark, "Sampai kami menangkap Somi, aku tidak ingin kau meninggalkan ruangan ini." Mark pun segera menyuruh orang untuk memanggil Jancer menghadap.
Sama seperti dirinya, Jancer terkejut bukan oleh pengakuan Jungwoo melainkan oleh kegugupannya.
Jancer melihat Mark setelah mendengar pengakuan Jungwoo.
"Kau tahu apa yang harus kaulakukan," Mark berdiri dari kursinya, "Aku ingin menemui Jaemin." Saat ini yang paling diinginkan Mark adalah menyembunyikan kepalanya di lekuk leher Jaemin dan melepaskan semua kekacauan pikirannya ini. Mark tahu Binkley terlibat dalam masalah ini tetapi tetap saja pengakuan Jungwoo membuatnya kaget. Mark mempercepat langkahnya. Ia ingin segera mengubur segala kepenatannya dalam pelukan hangat Jaemin.
Namun kejutan itu lebih besar ketika membuka pintu kamar Jaemin.
"Jaemin, apa yang kaulakukan!?" ia menyerbu panik melihat Jaemin bukan saja telah turun dari tempat tidur tapi telah menuju serambi. "KEMBALI KE TEMPAT TIDURMU SAAT INI JUGA!"
Seruan marah itu mengagetkan setiap orang yang mendengarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya orang-orang.
"Pasti Paduka Ratu membuat ulah lagi," seorang spontan menjawab sambil tersenyum arti.
"Paduka Ratu!?"
"Apakah Paduka Ratu sudah sadar?"
"Aku ingin melihat keadaan di luar," Jaemin membela diri.
"KEMBALI!" Mark mencengkeram pergelangan tangan Jaemin.
"LEPASKAN!" Jaemin memberontak, "KAU TIDAK BISA MELARANGKU! Aku ingin melihat keadaan di luar!"
"Paduka Ratu sudah sadar!" Mereka mengenal baik seruan yang tidak mau kalah itu. "Paduka Ratu sudah sadar!" Mereka bersorak gembira.
"Kembali ke tempat tidurmu saat ini juga," untuk ketiga kalinya Mark memerintahkan Jaemin. Namun kali ini ia tidak membuang waktu untuk bersilat lidah dengan Jaemin. Ia segera mengangkat Jaemin dan menindihnya di tempat tidur sehingga Jaemin tidak dapat berbuat apa-apa.
Jaemin merintih kesakitan merasakan perih di perutnya yang serasa seperti teriris-iris.
Mark dengan kaget memeriksa perut Jaemin. "Lihatlah apa yang sudah kaulakukan!" ia menuduh Jaemin melihat noda merah di kain putih itu. "Aku akan memanggil dokter," dan ia menegaskan, "Kali ini aku memaksamu berdiam diri di tempat tidur. Kalau kau masih berani meninggalkan tempat tidurmu, jangan salahkan aku mengikatmu."
Demi sakit yang menyerang perutnya, Jaemin tidak sanggup membantah Mark.
Mark langsung bertindak cepat.
Dalam waktu singkat, Jaemin sudah membuat keributan baru di Fyzool. Begitu sibuknya orang-orang sehingga Jungwoo yang ditahan di ruangan Mark juga mengetahuinya. Somi yang beberapa saat kemudian tiba di Fyzool pun langsung mengetahuinya.
"Aku akan membunuhnya!" teriak Somi, "Aku akan membunuh mereka! Aku akan membunuh pengkhianat itu! Jungwoo, aku akan menarikmu ke akhirat!" teriakan histeris sang Duchess of Binkley mengisi kedinginan penjara bawah tanah Fyzool.

-0-

"Aku benar-benar tidak percaya!" seru Jisung melihat reaksi ketakutan Jungwoo ketika ia diharapkan pada Somi. Hingga hari ini, beberapa hari setelah Jaemin sadar, ia masih sering mengucapkannya.
"Aku juga sukar mempercayainya," Mark mengakui, "Aku tidak mengerti mengapa aku pernah mengagung-agungkannya."
"Untung Renjun menolaknya," kata Jisung, "Tapi, andai Renjun mau menikahinya, ia mungkin menjadi seorang gentleman sejati. Aku percaya Renjun akan mendidiknya dengan ketat."
"Sekarang apa yang harus kami lakukan, Paduka?" tanya Jancer.
"Biarkan gosip itu terus beredar," jawab Mark, "Untuk saat ini kita cukup memfokuskan diri pada masalah ini. Segera selesaikan penyelidikan. Aku ingin Somi segera diharapkan ke pengadilan. Mengenai Jungwoo, perdalam penyelidikan. Periksa apakah pengakuan Somi benar. Semakin cepat semakin baik. Aku tidak mau dibuat pusing lagi karenanya."
"Tapi kulihat keadaanmu tidak membaik," komentar Jisung.
"Kau tahu Jaemin," Mark mengakui, "Sepuluh kepala tidak cukup untuk memikirkan gadis liar itu."
Jisung tertawa. "Jaemin tidak pernah mau diam di tempat tidur. Karena itulah Renjun selalu takut ia jatuh sakit."
"Jancer, Jisung," Mark berdiri, "Kuserahkan sisa masalah ini pada kalian."
"Jangan khawatir. Aku akan segera menyelesaikannya," Jisung menjamin, "Aku juga ingin segera melihat mereka dihukum."
Mark meninggalkan ruangannya.
"Anda mau ke mana, Paduka?" tanya Jancer.
"Mengawasi Jaemin," jawab Mark.
"Kau benar-benar dibuat pusing olehnya," komentar Jisung lagi.
"Setan pun tidak tahu apa yang direncanakan Jaemin," Mark melambaikan tangan dan meninggalkan mereka.
Tawa geli Jisung mengiringi kepergian Mark.
"Paduka sudah berubah," komentar Jancer, "Ia tampak lebih bahagia."
"Ya," Jisung sependapat, "Hanya dia yang bisa mengatasi Jaemin dan hanya Jaemin yang bisa mengimbangi Mark."

-0-

Dokter Lawrence tertawa geli.
"Tidakkah itu keterlaluan, Lawrence?" Jaemin melapor pada dokternya dengan penuh semangat, "Kemarin ia benar-benar mengikatku!"
Sang dokter kesulitan menghentikan tawanya. "Paduka melakukannya untuk kebaikan Anda. Ingat di hari Anda sadar, Anda sudah membuat ulah sehingga luka Anda terbuka lagi dan Anda demam lagi."
"Paduka Raja sangat khawatir sampai ia sendiri tidak tidur semalaman," Nicci mengingatkan pula dengan tajam.
"Aku akan mati bosan," Jaemin cemberut.
"Aku jamin itu tidak akan terjadi. Aku sudah mati karena sakit jantung Lucaselum kau mati bosan."
Mereka melihat ke pintu.
"Selamat siang, Paduka Raja," Nicci dan Dokter Lawrence menyambut.
"Engkau adalah iblis! Kau tidak akan mati semudah itu."
Alis Mark terangkat. "Apakah itu kesibukan barumu? Menyebarkan rahasiaku?"
Jaemin membuang muka dengan kesal.
Mark tertawa geli.
Dokter Lawrence tersenyum. Belum seminggu ia mengenal Jaemin namun ia sudah dapat memahami mengapa Fyzool tidak pernah tidur selama Jaemin membuka matanya.
"Bagaimana keadaan Jaemin?" tanya Mark.
"Sudah lebih baik. Saya yakin Paduka Ratu akan segera pulih," dan Dokter Lawrence menegaskan, "Selama ia tidak membuat ulah dan mau meminum obatnya."
"Serahkah itu padaku," Mark berjanji. "Aku merestuimu mengambil segala tindakan medis untuk membuat Jaemin diam."
"Saya mengerti, Paduka," Dokter Lawrence tersenyum penuh arti, "Maka saya akan memberinya dalam bentuk cairan untuk mempermudah Anda."
"Itu akan sangat membantu," Mark tersenyum pula.
Jaemin kesal melihat persekongkolan mereka. Ia melihat Nicci berdiri di kaki tempat tidur. "Nicci, Papa?"
Nicci tidak tahu harus menjawab apa. Ketika tahu Jaemin sudah sadar, Johnny of Hielfinberg bersikeras untuk kembali ke Schewicvic tanpa menemui Jaemin. Ia juga tidak pernah datang menjenguk Jaemin. Johnny takut. Setelah melihat Jaemin, ia tidak akan tega berpisah dengan putri kesayangannya.
Jaemin sedih.
Mark duduk di sisi Jaemin. "Kau bisa menemuinya di Schewicvic," ia memegang tangan Jaemin dengan lembut.
"Benarkah?" mata Jaemin bersinar gembira.
"Kalau kau sudah pulih," Mark menekankan, "Aku yakin saat itu akan segera tiba kalau kau mau menjadi anak manis."
Jaemin langsung cemberut.
Mark tertawa geli dibuatnya.
"Saya harus segera kembali," Dokter Lawrence meringkas peralatan kedokterannya. "Ini adalah obat untuk hari ini," ia menyerahkan sebotol cairan pada Mark.
"Seperti biasa?" tanya Mark.
"Ya, Paduka. Seperti biasa."
Jaemin langsung waspada.
"Saya akan mengantar Anda, Dokter," kata Nicci.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu, Lawrence."
"Tidak perlu, Paduka Ratu. Anda cukup berbaring di sini demi kesehatan Anda."
"Kau dengar itu?" Mark memperingati Jaemin, "Semua orang ingin kau segera sembuh."
"Kecuali kau."
"Tidak. Aku sangat menginginkannya melebihi mereka."
"Kau ingin aku mati bosan!"
"Apa kau pikir aku tega?"
"Kemarin kau mengikatku!" Jaemin mengingatkan Mark atas perlakuannya kemarin. Demi mencegah Jaemin yang memaksa turun dari tempat tidur, Mark melaksanakan ancamannya. Ia mengingat tangan Jaemin pada tiang-tiang tempat tidur sehingga gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring.
"Jadi," Mark menyimpulkan, "Itu alasannya."
"APA!?"
Mereka sudah benar-benar melupakan Lawrence maupun Nicci yang memutuskan untuk mengundurkan diri tanpa suara.
Mark membungkuk menangkap bibir yang cemberut itu. "Kau tahu, sayang, kau tidak cocok dengan wajah ini."
Jaemin marah. "Aku membencimu! Aku benci!"
"Itu bagus," Mark dengan santai membuka botol obat Jaemin, "Karena setelahnya kau sudah tidak punya kebencian lagi yang tersisa."
Jaemin membelalak melihat Mark meminum obat itu. "Aku tidak mau," Jaemin memberontak dari sepasang tangan yang meraih tubuhnya, "Aku tidak mau!" ia berusaha menjauhkan diri dari Mark.
Mark merangkum wajah Jaemin dan tersenyum penuh kemenangan.
"AKU TIDAAK," mulut Mark menutup mulutnya. Cairan obat yang dibencinya mengalir ke mulutnya tanpa dapat dihentikan dan terus menuruni tenggorokannya.
"Ini baru anak manis," Mark tersenyum puas.
Jaemin melihat pemuda itu dengan marah.
Mark mengambil air di meja. "Kau mau minum sendiri atau."
"Aku akan minum sendiri!" sahut Jaemin marah.
"Khawatirnya, aku tidak ingin kehilangan kesempatan."
"Aku bisa minum sendiri!" Jaemin bersikeras.
"Apa yang bisa kaulakukan dengan tanganmu yang seperti itu?" Mark menunjuk telapak tangan Jaemin yang terbungkus perban hingga ruas jari-jarinya.
"Kau pasti sengaja," Jaemin menuduh, "Kau pasti menyuruh Lawrence mengikatku seperti ini."
Mark hanya tersenyum. Ia memasukkan isi gelas ke dalam mulutnya dan kembali meminumkannya pada Jaemin dari mulut ke mulut.
Jaemin memberontak. Air mata membasahi sepasang mata murkanya. Namun amarahnya langsung sirna ketika Mark mulai mencumbunya, mencium matanya yang basah dan menjelajahi wajahnya.
"Aku benar-benar tidak tega," bisik Mark, "Aku tidak suka melihatmu seperti ini," Mark mencium bibir Jaemin lagi, "Jadilah gadis manis dan segera pulih. Aku ingin membawamu keluar."
Jaemin mengangguk. Ia sudah benar-benar luluh dalam cumbuan Mark. Tangannya terulur memeluk Mark tapi kemudian ia kesal menyadari perban mencegah tangannya bergerak bebas.
Mark melepaskan tangan Jaemin dari lehernya dan mencium jari-jari Jaemin yang muncul dari dalam perbannya. "Kalau kau tidak banyak menggerakkan tanganmu, Lawrence akan segera melepasnya."
"Aku akan sangat bosan," Jaemin cemberut.
"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu bosan," Mark berjanji, "Aku akan menemanimu setiap kali aku ada waktu kosong."
"Mustahil!" Jaemin merajuk lagi.
"Aku pasti akan meluangkan waktu," Mark bersungguh-sungguh, "Aku sudah terserang penyakit. Aku tertular Johnny Hielfinberg tapi aku tidak berusaha mencegahnya."
Jaemin terperangah.
Mark berbaring di sisi Jaemin. "Setiap kali berada di sini, aku tidak ingin pergi lagi. Aku ingin selalu berada di sisimu. Mencumbumu seperti ini," ia mencium gadis itu lagi, "Katakan, Jaemin."
"Aku mencintaimu," Jaemin mengatakan apa yang paling ingin didengar Mark saat ini, "Aku sangat mencintaimu."
Hati Mark dipenuhi kebahagiaan. Ia mencumbu Jaemin dengan segala kelembutan yang diketahuinya. Ia membelai Jaemin dengan kelembutan yang baru dipelajarinya.
Ketukan pintu terdengar sangat keras.
"Sialan!" umpat Mark, "Siapa yang berani mengangguku!?"
Jaemin tersenyum. "Lihatlah siapa itu. Mungkin ada yang mencarimu."
"Siapapun itu, ia harus menungguku. Aku masih tidak ingin berpisah dengan istri tercintaku."
Jaemin bahagia mendengarnya. Ia mencari kehangatan di dada Mark.
"Ada apa?" Mark bertanya dengan suara keras.
"Duke of Binkley datang menjenguk Ratu," lapor prajurit dari balik pintu.
Jaemin dan Mark saling bertatapan.
Mark berdiri untuk merapikan baju tidur Jaemin dan membenahi selimutnya. "Biarkan dia masuk," kata Mark setelahnya.
Jaemin tidak dapat melihat pria yang berdiri di pintu.
Jungwoo tidak berani menatap Mark. Ia sudah mempersiapkan diri ketika mendengar Mark ada di dalam kamar Jaemin. Namun tetap saja keberaniannya hilang melihat wibawa pemuda itu.
"Maafkan saya, Duke Binkley," suara lembut mengusir ketakutan Jungwoo, "Saya tidak dapat menyambut Anda dengan baik. Dokter hanya mengijinkan saya berbarng."
Mata Jungwoo terpaku pada gadis yang berbaring di tengah ranjang besar itu. Sepasang mata biru cerah menatapnya dengan lembut.
"B-bagaimana keadaan Anda, Paduka Ratu?" tanya Jungwoo.
"Sudah hampir pulih." Jungwoo memperhatikan tiap gerakan bibir Jaemin lekat-lekat. "Mark berjanji ia akan membawaku pergi bila aku sudah pulih."
Mark tidak menyukai cara Jungwoo menatap Jaemin.
"Hanya bila kau sudah pulih," Mark membungkuk mencium Jaemin.
"Aku akan segera pulih."
"Bila kau mau menjadi gadis manis."
Jungwoo merasa seperti disingkirkan. Ia meninggalkan mereka tanpa suara.
'Apa kau tidak pernah berpikir mengapa kau selalu dinomorduakan?' Jungwoo teringat komentar Somi di suatu siang, 'Apa kau tidak pernah berpikir mengapa kau tidak bisa menjadi raja!?'
Tanpa perlu berpikir, semua orang juga tahu. Jauh Lucaselum ia dilahirkan, Mark sudah menjadi seorang Putra Mahkota, penerus tahta Viering.
"Lihat, itu Duke Binkley."
"Mau apa dia di sini? Apakah dia melihat Duchess of Binkley?"
"Mengapa Raja belum menahannya?"
"Menurutmu, apakah Duke juga terlibat?"
"Pasti!" seorang di antara wanita itu menjawab mantap, "Sejak dulu aku sudah yakin Duke pasti akan melakukan sesuatu seperti ini."
"Benar-benar aib Viering! Almarhum Duke Binkley pasti malu melihat putranya."
"Ia harus bersyukur Raja masih memberinya muka ketika ia menikahi wanita jalang itu."
"Aku heran mengapa Raja masih terkesan menutup-nutupi masalah ini."
"Apakah kau bodoh!? Raja tentu tahu apa yang akan terjadi kalau masalah ini menjadi besar."
"Ini adalah masalah besar! Mereka ingin membunuh Ratu!"
"Karena itu Raja Mark semakin hati-hati menangani masalah ini!"
"Duke Binkley benar-benar beruntung. Raja masih memandangnya Lucasagai putra almarhum seorang yang berpengaruh di Viering."
Jungwoo mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mendengar perkataan orang-orang itu. Semenjak Somi ditangkap, omongan itu terus beredar di sekitar Istana. Pada awalnya mereka hanya membicarakannya di belakangnya sekarang mereka sudah tidak peduli lagi. Mereka tidak segan membicarakannya dengan suara keras di depannya.
"Raja Mark benar-benar pria yang mengagumkan. Tidakkah kau berpendapat demikian? Ia tahu masalah ini pasti akan mengguncang Viering karena itu ia berbohong pada setiap orang tentang keadaan Ratu. Bahkan sampai saat ini pun ia masih berhati-hati dalam menangani masalah ini. Ia benar-benar mengutamakan Viering."
"Untung penerus tahta Viering adalah Raja Mark. Aku tidak tahu apa jadinya kerajaan ini kalau Duke Binkley yang naik tahta."
"Jangan sampai itu terjadi!"
"Aku lega sangat lega ketika Raja memutuskan untuk menikah. Aku sempat khawatir akan pilihan Grand Duke tetapi sekarang aku tidak meragukannya lagi."
"Benar," mereka tertawa gembira, "Ratu memang seorang gadis yang menyenangkan. Rasanya Istana tidak pernah sepi karena Ratu."
Jungwoo ingin sesegera mungkin meninggalkan Istana. Ia tidak ingin mendengar orang-orang membanding-bandingkannya dengan Mark.
Ketika mereka masih kecil, orang-orang itu selalu menyanjungnya. Lambat laun mereka mulai mengagungkan Mark dan melihatnya seperti sampah masyarakat. Apapun yang dilakukan Mark, mereka selalu menyanjungnya. Apapun yang diputuskan Mark, mereka selalu mengagungkannya. Selalu, selalu dan selalu!
Mark juga demikian. Ketika mereka masih kecil, Mark selalu mengikutinya. Mark selalu menyanjungnya namun lambat laun ia mulai suka mengkritiknya. Sekarang Mark bersikap seolah-olah ia adalah orang yang paling berkuasa atas hidupnya.
Mengapa? Jawabannya mudah. Karena ia adalah seorang Raja.
Ia hanya menikahi wanita yang dicintainya namun dunia mengatakannya seperti ia menikahi seorang iblis. Mark menikah karena terpaksa namun mereka menyanjungnya seperti ia menikahi seorang bidadari.
Ia tidak akan datang ke tempat ini bila bukan karena ingin menunjukkan kepeduliannya pada Jaemin. Berhari-hari ia membulatkan tekad untuk menjenguk gadis itu. Namun tak sampai satu detik tekad itu dihancurkan oleh sepasang mata dingin Mark.
Mark tampaknya tidak ingin ia mendekati Jaemin. Mark tentunya ingin menguasai Jaemin seorang diri seperti ia menguasai kehidupannya.
Jungwoo teringat senyum manis Jaemin. Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Jaemin. Ia tidak menyadari kecantikkan gadis itu ketika ia mencoba mencekiknya. Namun gadis itu… Jungwoo terkenang sepasang mata biru cerah yang membiusnya.
Mark sungguh beruntung bisa mendapatkan gadis semanis itu.
'Apakah kau tidak pernah ingin menjadi Raja?' Jungwoo teringat pertanyaan Somi, 'Kalau kau menjadi Raja, tidak ada seorang pun yang berani mengatakan hal buruk tentangmu. Kau juga bisa mendapatkan segala yang kauinginkan.'
Segala yang kau inginkan…
Jungwoo teringat lagi pada sepasang mata yang menatap lembut padanya, senyum manis yang mampu menundukkan hati siapa pun, juga pada suaranya yang lembut mengusir segala kegalauan hati.
'Engkau masih Duke of Binkley!' Somi memarahinya di suatu saat.
Benar! Ia masih putra seorang Duke yang pernah berpengaruh di Viering. Bukan Mark seorang yang bisa mendapatkan yang terbaik!