Cast :

Mark Lee as Raja Viering

Na Jaemin as Putri Johnny of Hielfinberg

Other Cast :

Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie

Johnny Seo as Johnny of Hielfinberg

Huang Renjun as Renjun Krievickie

Park Jisung as Jisung Krievickie

Jungwoo as Duke of Binkley

Somi as Duchess of Binkley

"Seperti keinginan Anda, Paduka," lapor Jancer, "Minggu lalu kami sudah mengirim Todd dan bawahannya ke kepolisian Loudline. Menurut kabar yang kami terima dari Wayne, polisi sudah bergerak meringkus kawanan Todd yang belum tertangkap. Paling lambat Selasa mendapat mereka akan dihadapkan ke pengadilan.
"Kami juga telah menambahkan kesaksian Jaemin dan Jungwoo pada laporan itu," kata Jisung pula.
"Pekerjaan bagus," puji Mark sambil merapikan kembali tumpukan kertas yang baru dibacanya.
"Apakah ini baik?" tanya Jancer, "Kita tidak memberi keputusan yang jelas tentang keterlibatan Duke Binkley."
"Biar pengadilan yang memutuskan," jawab Mark, "Tugas kita hanya menulis laporan sejelas mungkin sesuai yang kita ketahui." Mark berdiri dan mendekati Jancer. "Serahkan laporan ini ke kepolisian Loudline hari ini juga. Biar Wayne bisa segera melaksanakan tugasnya."
"Baik, Paduka," Jancer menerima kembali laporan itu, "Apakah kami harus mengirim Duchess pula?"
"Tidak. Biarkan dia di sini sampai mereka membutuhkannya," lalu Mark melihat Jisung, "Sudah waktunya aku menemui wanita rendah itu."
Mereka terperanjat.
"Saya tidak setuju!" cegah Jancer, "Duchess adalah wanita yang berbahaya."
"Kalau kau memang ingin bertemu dengannya, kami bisa membawanya ke sini," timpal Jisung, "Ia tidak pantas kaukunjungi."
"Di sini terlalu banyak mata dan telinga," Mark terus melangkah ke pintu, "Jisung, temani aku."
Jisung sadar ia tidak bisa mencegah Mark. Demikian pula Jancer. maka Jancer menambah pasukan untuk mengawal Mark ke ruang penjara bawah tanah dan Jisung menunjukkan jalan ke ruang tempat mereka menahan Somi.
Somi langsung menerjang pintu selnya mendengar kedatangan Mark. "Aku akan membunuh kalian! Aku akan menghancurkan kerajaan ini!" serunya.
"Dia sudah gila," komentar Jisung, "Apa yang bisa dilakukannya dari sini?"
"Apa kau lupa masih banyak anak buah Todd yang berkeliaran di Loudline? Mereka pasti akan meneruskan rencana ini ketika gadis ingusan itu berkeliaran di kota," Somi mengingatkan, "Suatu saat nanti mereka pasti akan membunuh gadis itu!"
Demi keheranan mereka, Mark tertawa geli. "Rupanya kau masih belum mendengar gosip itu. Jaemin pasti akan sangat berterima kasih padamu. Berkat kau, sekarang aku tidak perlu khawatir lagi melepas Jaemin seorang diri di Loudline. Penduduk Loudline tahu ratu mereka sering berkeliaran di kota dengan menyamar menjadi gadis desa. Sekarang anak kecil pun sibuk mencari-cari Ratu Jaemin di antara penduduk Loudline. Teman-teman Jaemin juga sudah bersumpah padaku akan menjaga baik Jaemin selama ia berada di kota."
Somi marah mendengarnya. "Kusumpah kalian. Kusumpah kalian tidak akan mendapat keturunan!"
"Kau tidak perlu khawatir," Mark menanggapi dengan suara tegasnya, "Aku yakinkan kau dalam waktu dekat ini kau akan mendengar lahirnya putra kami."
"Kaupikir aku buta!? Gadis itu tidak hamil! Ia tidak pernah hamil!"
"Tidak pernah tidak berarti tidak akan," lagi-lagi Mark menanggapi dengan kepala dinginnya, "Daripada memikirkan kami, lebih baik kau memikirkan masa depanmu," Mark memberitahu, "Hari ini laporanmu sudah diserahkan ke pengadilan. Hukuman yang menantimu tinggal menunggu hari."
Somi membelalak.
"Kau boleh membujuk Jungwoo atau siapa pun untuk membebaskanmu," kata Mark lagi, "Tapi aku tidak menjamin itu adalah keputusan bijaksana. Di luar sana ada banyak orang yang ingin berjumpa denganmu."
Jisung mengagumi Mark. Somi adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Jaemin namun Mark tetap bersikap sebagai seorang raja yang bijaksana. Ia lebih mengutamakan keselamatan Somi dibandingkan meluapkan amarahnya. Kalau ia adalah Mark, ia pasti akan membiarkan Somi mati di perjalanan ke Loudline di tangan orang-orang yang marah pada perbuatannya pada Jaemin.
"Ikutilah nasehatku. Jagalah sikapmu sampai hari itu tiba."
"Jungwoo tidak akan melepaskanmu! Jungwoo pasti akan membalas dendam!"
"Kita pergi," Mark membalik badan.
"Kau tidak mengenal Jungwoo. Jungwoo pasti akan membalas dendam!"
Mark sama sekali tidak terpengaruh oleh teriakan itu.
Jisung diam memperhatikan wajah tenang Mark. Ia ingin tahu apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Jisung, apakah menurutmu Jungwoo terlibat?"
Jisung kaget mendengar pertanyaan adalah yang selalu diucapkan tiap orang. Itu adalah pertanyaan yang selalu diajukan tiap orang pada Mark.
"Aku tidak tahu," Jisung menjawab jujur, "Itu mungkin saja tapi melihat ketakutan Jungwoo, hal itu rasanya mustahil."
Mark diam.
Jisung yakin pemuda itu pasti tahu seisi Viering menanti jawabannya. Sikap Mark yang tidak jelas telah memecah Viering. Sebagian percaya Mark ingin melindungi Jungwoo dan sebagian percaya Jungwoo tidak terlibat.
"Aku pun tidak tahu," akhirnya Mark menjawab, "Wanita sangat menakutkan. Ia bisa mengubah seorang pria."
"Seperti Jaemin mengubahmu?" goda Jisung.
Mark tidak menjawab. Matanya terpaku pada halaman Istana.

-0-

"Selamat, Paduka Ratu," Dokter Lawrence tersenyum, "Luka di tangan Anda sudah sembuh."
Jaemin berseru gembira. Hampir setengah bulan lamanya ia terbaring di tempat tidur. Musim dingin juga sudah ada di depan mata. Selama itu keadaannya sudah semakin membaik. Dokter sudah memperbolehkannya duduk di atas tempat tidur dengan bersandar pada tembok ditumpu bantal-bantal empuk seperti saat ini.
"Rasanya sudah lama aku tidak menggerakkan tanganku," Jaemin menggerak-gerakkan jari-jarinya dengan gembira.
"Aku rasa itu bukan pilihan yang bagus," keluh Renjun, "Lihatlah Jaemin sudah siap-siap melompat pergi."
"Oh," Dokter Lawrence kaget, "Haruskah saya membalutnya lagi?"
"Tindakan bagus," Renjun langsung merestui.
"Benar," Nicci sependapat, "Paduka Ratu tidak akan bisa memegang apa pun kalau tangannya terperban erat."
"Tidak mau!" Jaemin langsung menyembunyikan tangannya di belakang bantal yang menyangga punggungnya.
"Kemarin Paduka Ratu diam-diam meninggalkan tempat tidur," Nicci memberitahu.
"Itu karena aku bosan."
"Kemarinnya lagi Anda pergi ke beranda."
"Matahari sangat hangat. Apa salahnya aku berjemur matahari!?"
"Kemarinnya lagi Anda bermain api sampai api hampir membakar gaun tidur Anda dan Paduka Raja panik."
"Api perapian hampir padam! Aku hanya ingin menghidupkannya kembali!" Jaemin membela diri, "Lagipula percikan api hanya kebetulan melompat ke gaun tidurku. Mark hanya suka membesar-besarkan masalah!"
Renjun pucat pasi mendengarnya. "Tampaknya kau masih tidak boleh melepas perban tangan Jaemin."
"Benar," Dokter Lawrence sependapat.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" Jaemin menolak, "Aku janji aku akan menurut."
"Minggu lalu kau juga berjanji padaku akan menjadi gadis manis."
Mereka melihat ke pintu.
Mark memasuki kamar dengan tangan terlipat di belakang punggungnya diikuti Jisung.
Dokter Lawrence segera berdiri untuk menyambut Mark. "Selamat siang, Paduka Raja," katanya memberi salam.
"Selamat siang, Paduka," Nicci membungkuk hormat dan memberi jalan pada Mark ke sisi Jaemin.
"Selamat siang, Paduka," Renjun pun menjinjing ujung gaunnya - memberi hormat, "Maaf adik saya suka merepotkan Anda."
"Jangan khawatir. Aku sudah biasa. Sekarang kalau ia tiba-tiba menjadi gadis manis, aku akan berpikir apakah dia benar-benar Jaemin."
"Dia adalah iblis!"
"Jaemin!" hardik Renjun. "Jaga bicaramu!"
Mark tertawa. "Ini adalah kebiasaan barunya," katanya memberitahu, "Memberitahu seisi dunia akan rahasiaku."
Jaemin langsung membuang mukanya dengan marah.
Renjun tidak suka melihat sikap Jaemin.
"Hari ini kau sangat cantik," Mark mengulurkan setangkai bunga pada Renjun. "Jangan biarkan Jaemin merusak wajah cantikmu itu."
"T-terima kasih, Paduka," Renjun menerimanya dengan gugup.
Jaemin membelalak marah. "Jisung," perintahnya, "Bawa rangkaian bunga yang besar untukku."
Jisung kaget.
"Hei! Hei!" protes Mark, "Mana ada istri yang minta rangkaian bunga pada pria lain di depan suaminya?"
"Ingat, aku mau rangkaian bunga yang besar dan indah," Jaemin mengabaikan Mark.
Jisung bingung.
"Aku tahu," Mark menyimpulkan, "Kau cemburu."
"Siapa yang cemburu!?" Jaemin membuang muka.
"Baiklah, aku bersalah. Aku menyesal," kata Mark, "Aku akan memberi rangkaian bunga yang besar untukmu."
Jaemin tidak menghiraukannya.
"Jaemin, jangan keras kepala!" hardik Renjun lagi, "Ini adalah penghujung musim gugur. Dari mana kau akan mendapatkan bunga sebanyak itu?"
Mark tersenyum. "Renjun, kau akan menjadi seorang ibu yang baik."
Wajah Renjun merah padam.
"Nah, Jaemin, apakah kau sudah mendengar kata ibu angkatmu?" Mark berdiri di sisi Jaemin, "Jangan keras kepala."
Saat itulah Renjun melihat bunga-bunga yang disembunyikan Mark di belakang tubuhnya.
Jaemin masih tidak memalingkan kepalanya melihat Mark.
"Aku kalah darimu," desah Mark dan ia meletakkan rangkaian bunga yang sejak awal disembunyikannya dari penglihatan Jaemin, di atas pangkuan gadis itu.
Jaemin terkejut melihat bunga warna warni yang memenuhi pangkuannya. Begitu banyaknya bunga-bunga itu hingga mereka berserakan di sekitar tubuhnya. Jaemin melihat Mark dengan mata terbelalak. Kemudian ia sibuk memungut bunga-bunga itu ke dalam pelukannya.
Mark tersenyum melihat kegembiraan gadis itu. "Lawrence," katanya kemudian, "Apakah kau yakin akan melepas perban tangan Jaemin?"
Dokter Lawrence melihat Mark dengan heran.
"Apakah kau tidak khawatir jantungku akan berhenti berdetak?"
"Anda benar!" Dokter Lawrence langsung tersadar. "Tampaknya saya harus memikirkan kembali keputusan saya." Dokter melihat Jaemin, "Nah, Paduka Ratu," ia mengulurkan tangan.
Merasakan gelagat tidak baik, Jaemin segera menyembunyikan tangannya di belakang punggung. "Aku tidak mau! Aku berjanji akan menjadi gadis penurut."
"Bagaimana menurutmu, Nicci?" Mark melihat pelayan yang sudah mengikuti Jaemin semenjak ia masih kecil.
"Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu," jawab Nicci, "Saya dapat meyakinkan Anda Paduka Ratu tidak akan menepati janjinya."
"Aku sependapat," Mark mengangguk-angguk, "Sepertinya, aku juga harus mencabut semua janji-janjiku sebagai hukuman."
"Tidak!" Jaemin berseru keras memprotes Mark, "Kau sudah berjanji akan membawaku pergi setelah aku sembuh!"
"Apakah aku pernah menjanjikannya?" tanya Mark lalu ia berpaling pada pelayan Jaemin yang berdiri di sisi Dokter Lawrence, "Nicci?"
Menyadari permainan Mark, Nicci menjawab, "Saya rasa Anda tidak pernah menjanjikannya."
"Renjun?"
"Saya juga tidak pernah mendengarnya."
"Lawrence?" Mark ganti menanyai dokter yang menangani Jaemin.
"Saya berani bersumpah saya tidak pernah mendengar Anda menjanjikannya."
"Aku juga tidak pernah mendengarnya," Jisung langgung menanggapi.
"Nah, Jaemin?" Mark menahan senyum gelinya melihat wajah cemberu Jaemin.
"Kau pernah menjanjikannya!" seru Jaemin keras kepala, "Kau sudah berjanji padaku!"
"Seseorang juga pernah berjanji padaku untuk menjadi gadis manis tapi ia selalu membuat jantungnya hampir berhenti."
Jaemin marah. "Kau juga sering berjanji akan meluangkan waktu untuk menemaniku tapi mana buktinya!? Kau tidak pernah datang menemuiku!"
"Aku berkata aku akan berusaha," Mark membela diri.
"Sama saja!" Jaemin kembali membuang wajah sambil menyilangkan tangan di dada.
"Baiklah," Mark menyerah, "Sekarang di depan orang-orang ini, aku membuat janji padamu. Aku akan mengajakmu pergi jika Dokter Lawrence mengijinkanmu."
"Pembohong!" sahut Jaemin sengit tanpa memalingkan wajah.
"Melihat kesembuhan Anda yang cepat, saya yakin besok saya bisa mengijinkan Anda keluar," sang Dokter menjanjikan pula dan ia segera menambahkan, "Namun itu bila Anda mau menuruti pesan-pesan saya dan tidak pernah menolak minum obat yang saya berikan untuk Anda."
"Penipu!" Jaemin menanggapi lagi dengan sengit.
"Celaka," Mark kebingungan, "Jaemin benar-benar marah. Tampaknya hari ini aku harus menyusun rencana untuk besok. Lawrence, apakah besok kau bisa mengijinkanku membawa Jaemin pergi?"
"Tentu, Paduka Raja," jawab Lawrence, "Namun saya berharap Anda mengijinkan saya ikut serta. Saya perlu mengawasi Paduka Ratu selama 24 jam."
"Tentu," Mark meloloskan permintaan itu, "Tidak masalah."
"Benarkah itu!?" Jaemin langsung melihat Mark dengan mata berbinar-binarnya. "Benarkah besok kau akan mengajakku pergi?"
"Tentu," Mark berjanji, "Hanya bila kau adalah gadis manis."
"Kau sudah berjanji!" rengek Jaemin, "Kau sudah berjanji padaku. Kau sudah berjanji di depan mereka."
"Aku juga sudah memberi syarat."
"Tidak ada! Tidak ada syarat itu!" Jaemin memprotes dengan gencar.
"Jaemin," Renjun yang memperhatikan pasangan itu berkomentar, "Sejak kapan kau menjadi manja seperti ini?"
"Apakah kau tidak tahu, Renjun?" tanya Mark, "Dia adalah gadis yang paling manja dan keras kepala yang pernah ada di dunia."
"Mark yang memulainya!" Jaemin membela diri, "Dia suka membuat janji kosong."
"Jaemin!" tegur Renjun, "Paduka Raja bukan orang yang tidak punya pekerjaan! Ia sibuk mengurusi urusan Viering. Sebagai seorang Ratu, kau tidak boleh menambahi beban Paduka. Engkau harus bisa membantunya memimpin kerajaan ini. Kau tidak boleh keras kepala!"
Jaemin langsung memasang wajah cemberut.
"Aku yakin kau akan menjadi seorang ibu yang baik," Mark tersenyum lembut pada Renjun dan menambahkan, "Tidak seperti seseorang."
Wajah Renjun memerah padam.
"Aku juga bisa kalau aku mau!" protes Jaemin.
"Kalau kau mau," Mark menekankan.
Merasa diledek, Jaemin kembali memasang wajah marah.
Dokter Lawrence meringkas barangnya.
"Engkau akan pulang, Dokter?" tanya Jisung, "Kebetulan aku juga akan pulang. Aku akan mengantarmu."
"Kau akan pergi, Jisung?" Jaemin bertanya kecewa, "Kalau kau pergi, siapa yang akan menemaniku?"
Mark mengeluarkan suara batuk keras.
"Jangan pergi," pinta Jaemin, "Kita sudah lama tidak berbincang-bincang."
Jisung tersenyum. "Aku harus pergi sebelum seseorang membunuhku."
"Siapa?" tanya Jaemin tertarik, "Apakah kau sudah punya kekasih? Siapa itu? Mengapa kau tidak pernah memberitahuku?"
Mark mengeluarkan lagi suara batuk keras.
"Orang itu ada di sisimu," Jisung membenarkan.
"Siapa?" Jaemin melihat sekelilingnya.
"Kau ini...," akhirnya Mark tidak dapat menahan kegeramannya, "Apa kau tidak sadar aku ada di sini?"
"Kau masih di sini?" Jaemin bertanya heran seolah baru menyadari keberadaan pemuda itu.
"Kau memang mencari mati," Mark menjatuhkan diri di atas Jaemin dan menggelitik gadis itu.
"Kita juga harus pergi," Renjun melihat Nicci penuh arti. Bersama Jisung dan Dokter, mereka meninggalkan kamar Jaemin tanpa suara.
"Untuk sementara Paduka Raja tidak ingin diganggu," Jisung memberitahu prajurit Istana yang menjaga pintu kamar Jaemin, "Bila ada yang mencari beliau, katakan padanya untuk menunggu."
Suara tawa yang terdengar ketika pintu terbuka, sudah memberitahu mereka apa yang harus mereka lakukan.
"Kami mengerti," sahut mereka.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka berpisah dengan Nicci dan Dokter Lawrence, Jisung bertanya pada kakaknya, "Renjun, kau tidak jatuh cinta pada Mark, bukan?"
Renjun terperanjat. Serta merta wajahnya memerah. "A-apa maksud kata-katamu itu!? Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada Raja Mark!? Ia adalah suami Jaemin!"
"Untunglah kau menyadarinya," Jisung lega dan ia mengakui, "Aku sempat cemas melihat reaksimu di kamar Jaemin."
Renjun termenung. Ia tidak dapat memungkiri detak jantungnya yang sangat keras ketika Mark memujinya. Ia juga tidak dapat menahan panas di wajahnya melihat senyum Mark yang ditujukan padanya. Namun ia tidak dapat meyakinkan dirinya itu bukan reaksi cinta. Dari sekian banyak pujian yang diterimanya, baru kali ini ia tersipu.
"Renjun," Jisung menarik perhatian kakaknya, "Mark minta aku menyampaikan sesuatu kepadamu. Ia ingin kau membujuk Johnny Hielfinberg."
"Membujuknya menjenguk Jaemin?" tanya Renjun, "Aku rasa itu tidak mungkin. Kau tahu Johnny sama keras kepalanya dengan Jaemin."
"Mark percaya Johnny akan mendengarmu."
Renjun termenung. Seperti semua orang yang mengenal Jaemin, ia pun tahu Jaemin sangat merindukan ayahnya namun Johnny bersikukuh untuk tidak bertemu muka dengan putri kesayangannya. "Aku akan mencobanya tetapi aku tidak dapat berjanji."

-0-

Suara ketukan di pintu menarik perhatian Jaemin dan Nicci.
"Pasti Renjun!" sahut Jaemin gembira.
"Anda tidak boleh turun dari tempat tidur, Paduka Ratu!" Nicci memperingati ketika melihat gadis itu sudah bersiap-siap turun dari tempat tidur, "Biar saya yang membuka pintu."
"Baiklah," Jaemin kecewa. Dengan tidak sabar, ia menanti kemunculan Renjun di balik pintu. Ia heran ketika melihat seorang prajurit berbicara dengan serius kepada Nicci. Jarak yang cukup jauh dari tempat tidurnya ke pintu dan suara mereka yang kecil, membuatnya tidak dapat mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian Nicci menutup pintu dan dengan senyum gembira ia berkata, "Saya punya berita bagus untuk Anda, Paduka Ratu. Paduka sudah mendapat ijin Dokter Lawrence dan ia sedang menanti Anda di Tognozzi saat ini."
"Benarkah itu!?" Jaemin langsung bersorak gembira. "Aku harus segera bersiap-siap," Jaemin turun dari tempat tidur, "Mark pasti tidak senang menungguku terlalu lama."
"Hati-hati dengan luka Anda!" Nicci khawatir melihat gerakan lincah gadis itu yang terkesan sembrono.
"Aku harus segera bersiap-siap atau Mark akan marah-marah," Jaemin membuka lemari bajunya.
"Jangan khawatir," Nicci menenangkan, "Prajurit itu mengatakan Raja meminta Anda untuk tidak tergesa-gesa."
Namun Jaemin tidak mendengarnya, ia sudah membongkar isi lemari bajunya.
Nicci pun tersenyum. Ia tahu benar majikannya tidak dapat berdiam diri di dalam kamar. Berminggu-minggu berbaring di atas tempat tidur, bukanlah hal yang bisa diterimanya. Hanya Raja Marklah yang bisa membuatnya berbaring selama itu di atas tempat tidur. Sekarang ia tentu telah mencapai titik di mana ia sudah tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bermain keluar seperti kesukaannya.
Dengan sigap, Nicci membantu Jaemin berdandan kemudian mengantar gadis itu ke kereta yang sudah menantinya. Senyum gembira di wajah Jaemin membuatnya turut bergembira.
Beberapa saat kemudian Nicci berdiri di depan pintu Istana sambil melambaikan tangan hingga kereta yang membawa Jaemin menghilang. Kemudian ia pergi untuk merapikan kamar Jaemin yang berantakan oleh ulah gadis itu.
Dengan kepergian Jaemin, pasukan yang biasanya menjaga pintu kamar Jaemin pun menghilang.
Ketika merapikan kamar Jaemin, Nicci berpikir sudah berapa lamakah ia tidak merasakan kesunyian seperti ini. Selalu ada saja yang dilakukan Jaemin hingga ia kewalahan. Selalu ada saja yang diributkan Jaemin hingga suasana kamar yang besar ini tidak pernah sesunyi ini.
Nicci melihat tempat tidur Jaemin yang sekarang sudah kosong. Ia pun tersenyum bahagia untuk majikannya yang liar itu.
"Paduka Raja benar-benar memahami Anda," gumamnya, "Ia tidak akan membuat Anda bersedih."
Ketika merapikan bunga dalam vas yang kemarin dipetik Mark untuk Jaemin, Nicci teringat komentar Jaemin sepanjang malam kemarin.
"Lihatlah bunga-bunga ini. Apakah kau percaya ini adalah musim gugur!? Besok aku akan meminta Mark memetiknya lagi untukku. Aku akan membuat kamarku serasa seperti musim semi!"
"Paduka Ratu pasti akan senang bila ia kembali sore ini kamarnya sudah penuh oleh bebungaan," pikir Nicci.
Segera setelah tugasnya selesai, Nicci segera menuju kebun Istana sambil menenteng sebuah keranjang besar.
"Apakah Jaemin sedang tidur, Nicci?" cegat Mark melihat wanita itu di Hall Istana.
"Paduka!?" Nicci terperanjat. "Anda di sini?"
"Aku berada di tempat ini sejak pagi."
"Bu-bukankah Anda menanti Paduka Ratu di Tognozzi?"
Mark langsung bersiaga. Ia menjadi was-was tetapi ia tetap berusaha tenang. "Katakan apa yang terjadi."
"Beberapa saat lalu seorang prajurit memberitahu Paduka Ratu bahwa Anda menanti beliau di Tognozzi. Menurut prajurit itu, Anda akan membawa Paduka Ratu bepergian."
"Sudah berapa lama Jaemin meninggalkan Istana?" tanya Mark.
"Kira-kira dua sampai tiga jam yang lalu."
"Terima kasih, Nicci," kata Mark, "Sekarang panggil Jancer menghadapku sesegera mungkin di Ruang Kerjaku"
Nicci bingung mendengar perintah itu tetapi ia tetap berkata, "Baik, Paduka."
Mark segera bergegas ke Ruang Kerjanya. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih panjang lagi untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ia juga tidak perlu memutar otak untuk mengetahui dalang di balik semua ini.
Setelah berulang kali gagal membunuh Jaemin, akankah Jungwoo melepaskan gadis itu?
Mark geram. Somi benar-benar merupakan racun. Ia telah mencoreng muka kerajaan ini dan ia telah mempengaruhi Jungwoo menjadi seseorang yang tidak ia kenal.
Begitu sampai di Ruang Kerjanya, Mark mengeluarkan peta dari laci meja kerjanya. Mark mempelajari segala rute yang mungkin diambil para penculik Jaemin itu dari Tognozzi.
Mark tidak akan melepaskan para penculik itu. Sekali ia pernah kecurian. Sekali pula ia pernah hampir kecurian dan sekarang ia kembali kecurian!
Mark tidak bisa meremehkan masalah keamanan Jaemin. Ia tidak lagi bisa mengandalkan para prajurit tangguh Viering. Setiap orang bisa membohongi Jaemin atas namanya. Harus ia sendirilah yang mengawasi Jaemin siang dan malam.
"Saya datang membawa Jancer menghadap Anda, Paduka," kata Nicci.
"Aku punya tugas lain untukmu, Nicci," kata Mark, "Beritahu Vicenzo aku ingin ia membersihkan Ivory Chamber. Aku dan Jaemin akan pindah ke sana mulai dari malam ini."
Lagi-lagi Mark membuat Nicci bingung dengan perintah yang diucapkannya dengan penuh ketenangan itu. "Baik, Paduka," Nicci memberi hormat kemudian mengundurkan diri dari ruangan itu.
"Kita punya masalah gawat," Mark tidak membuang waktu untuk menjelaskan keadaan pada Kepala Pengawal Istana itu, "Siapkan prajurit berkuda terbaikmu sesegera mungkin. Kita akan melakukan pengejaran. Mereka menculik Jaemin."
Jancer terkejut. Ia telah memperketat pengawalan terhadap Jaemin semenjak peristiwa usaha pembunuhannya yang terakhir dan ia masih saja kecurian.
"Perintahkan pula seorang prajurit untuk menghadap Houghton dan memintanya menyiapkan kapal perang tercepatnya. Kirim prajurit ke Tognozzi untuk memerintah mereka menutup pelabuhan sampai kita tiba. Kita tidak punya banyak waktu. Mereka telah meninggalkan Istana dua sampai tiga jam yang lalu."
"Hamba mengerti, Paduka," Jancer menegapkan dada dan memberi hormat ala prajurit. "Saya akan menyiapkan prajurit saat ini juga."
Dalam waktu singkat suasana Istana menjadi ramai.
Prajurit berlarian di sepanjang koridor Istana untuk mempersiapkan diri. Para penjaga kuda dengan sigap memasang pelana para kuda andalan Viering. Beberapa prajurit diutus untuk menghadap Komandan Angkatan Laut Viering dan beberapa diperintahkan untuk segera ke Tognozzi dan memerintahkan pejabat setempat menutup pelabuhan.
Mark pun segera menanggalkan baju santainya dengan baju perangnya dan ia bergegas memimpin prajurit yang mulai berkumpul di halaman Istana.
Kesibukan mendadak di dalam Istana membuat para pengunjung Istana terheran-heran tetapi mereka hanya dapat berspekulasi sendiri tentang keadaan yang sebenarnya.
Nicci pun mulai menyadari keadaan dan ia menjadi ketakutan karenanya. Ia telah membiarkan mereka menculik Jaemin!
Seharusnya ia curiga ketika prajurit itu mengatakan Dokter Lawrence memberikan restunya pada Raja Mark. Ia sendiri juga tahu luka di perut Jaemin belum sembuh bahkan sebuah gerakan sembrono Jaemin akan membuka kembali luka itu.
Seharusnya ia curiga ketika prajurit itu menyebut Tognozzi. Tidak mungkin Mark tidak tahu ketakutan Jaemin akan laut. Mengapa ia menunggu gadis itu di Tognozzi? Ia tidak mungkin menantinya di pelabuhan bila ia tidak ingin mengajaknya berlayar.
Nicci terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia berdoa demi keselamatan gadis yang disayanginya itu.

-0-

Jaemin terbangun dengan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Otaknya mengulang kembali kejadian yang baru saja dialaminya.
Ia merasa sangat gembira ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Fyzool. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Mark. Namun ia mulai merasa curiga ketika melihat laut melalui jendela kereta. Ia tidak mendengar dengan jelas di mana Mark menantinya namun ia yakin Mark tidak akan membawanya ke laut. Mark sudah berjanji padanya.
"Berhenti!" Jaemin berteriak pada kusir kuda. Kereta terus melaju dengan kencang. "Berhenti, kataku!" serunya keras-keras. Melihat kusir kuda yang sengaja mengacuhkannya, Jaemin mulai merasa tidak tenang. Ia mencoba membuka pintu kereta namun pintu itu terkunci rapat. Ia juga tidak dapat membuka jendela kereta.
Jaemin langsung sadar ia sudah masuk dalam perangkap. Karenanya Jaemin langsung menerjang ketika pintu kereta terbuka.
Sayangnya, bagi Jaemin, seorang pria bertubuh besar menghadangnya. Sebelum ia sempat memberikan perlawanan, seseorang memukul kepalanya dari belakang hingga ia pingsan.
"Kau sudah bangun?"
Jaemin terkejut mendengar suara itu. "Mengapa kau ada di sini?" tanyanya kemudian ia merasakan tubuhnya terayun-ayun. "Di...di... mana kita?" tanyanya panik.
"Kita sudah jauh dari Viering," jawab Jungwoo sambil mendekati Jaemin, "Mark tidak akan menganggu kita."
"A-apa yang kaulakukan?" Jaemin menghindari Jungwoo ke sisi ranjang yang lain. Ayunan ombak laut membuatnya kembali sadar saat ini ia berada di tempat yang paling ditakutinya, laut!
Jungwoo memanfaatkan kelengahan Jaemin itu untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Jaemin langsung tersadar. "Lepaskan!" rontanya, "Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Sekarang kau tidak bisa kabur. Di tempat ini hanya ada aku dan kau! Tidak akan ada yang menganggu kita," Jungwoo menjatuhkan ciumannya di sekujur tubuh Jaemin sementara tangannya terus menggerayangi tubuh gadis itu.
"TIDAAAKKK!" ronta Jaemin, "LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" Kepanikan dan ketakutan Jaemin langsung pecah dalam tangisannya. "Mark!" serunya memanggil, "Mark!"
Mata Jungwoo langsung membelalak penuh kemarahan mendengar nama itu. "DIAM!" Jungwoo menampar Jaemin dengan keras hingga Jaemin terpelanting ke atas ranjang.
Jaemin memegang pipinya yang memerah karena sakit sambil menatap Jungwoo dengan mata nanarnya.
"Mark! Mark! Selalu Mark! Semua wanita memilih Mark. Setiap orang mengelu-elukannya. Mengapa setiap orang selalu menyanjung Mark!? MENGAPA!? Katakan mengapa!?" Jungwoo memprotes tanpa dapat dihentikan, "Apa bagusnya Mark? Apa kekuranganku!?"
Jaemin tidak berani mengeluarkan suara melihat pemuda yang sudah lepas kendali itu.
"Mark tidak lebih dari seorang pemerintah, pemarah, dan penghancur kebahagian orang lain! Ia suka memerintahku melakukan segala keinginannya. Ia melarangku menikahi wanita yang kucintai. Ia mencacatiku karena menikahi Somi. Sekarang ia merampas Somi dariku. Katakan, apa salahku!? Apa salahku menikahi wanita yang kucintai!? Mengapa kalian tetap saja memilih Mark!?"
"Kau sudah gila," komentar Jaemin.
"Ya, aku sudah gila. Dunia ini sudah gila!" balas Jungwoo, "Somi benar. Bila aku menjadi raja, tidak akan ada yang berani menghinaku."
Jaemin sadar pemuda ini sudah lebih gila dari Somi.
"Jangan khawatir, setelah aku membunuh Jungwoo, aku akan menjadikanmu ratuku."
"Matipun aku tidak sudi!" sahut Jaemin.
Jungwoo menertawakan Jaemin. "Apa kau pikir aku bodoh? Kau menikahi Mark karena statusnya."
"Aku menikahinya karena aku mencintainya!"
"Mark hanya menginginkan keturunan darimu."
"Tidak! Ia mencintaiku!"
"Tidak akan lagi setelah ini," Jungwoo mendekati Jaemin, "Aku akan membuatmu melahirkan anakku."
Jaemin kembali panik. Ia meronta-ronta sekuat tenaganya dari pelukan Jungwoo. Hanya nyeri yang tiba-tiba muncul di perutnyalah yang melemahkan perlawanannya. "Mark! Mark!" Jaemin memanggil-manggil suaminya dalam tangisan paniknya.
"Panggilah sesukamu. Ia tidak akan datang," Jungwoo dengan kasar merobek gaun Jaemin.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan panik di pintu.
"Aku tidak ingin diganggu!" seru Jungwoo murka.
Ketukan itu tidak berhenti. "Keadaan sangat gawat, Yang Mulia. Kapal perang kerajaan sudah mengejar kita."
"PERSETAN!" Jungwoo mengumpat kasar sambil melemparkan tubuh Jaemin ke atas tempat tidur. Kemudian ia melangkah ke pintu.
Jaemin memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari jalan kabur.
"Apa kaukira kau dapat kabur!?" Jungwoo mencengkeram tangan Jaemin.
Jaemin kaget.
"Mark tidak akan selamat. Ia akan mati sebelum ia mencapai kapal ini!" Jungwoo mengumumkan.
"Tidak!" bantah Jaemin, "Mark bukan seorang yang lemah. Ia pasti akan menyelamatkanku." Jaemin tahu ia harus mencari cara untuk mengulur waktu hingga Mark tiba. "Ia pasti akan menghukummu!"
"DIAM!" Jungwoo menampar Jaemin lagi.
Jaemin jatuh tersungkur di lantai karena kerasnya tamparan itu.
"Mengapa!? Mengapa tidak seorang pun menghargaiku!? Mengapa Mark selalu mendapatkan yang terbaik sedangkan aku selalu dihina!?"
Jaemin melihat ke pintu. Ia sadar itulah satu-satunya pintu keluar dan satu-satunya kesempatan untuk kabur adalah saat ini, saat Jungwoo kembali kehilangan kendali atas emosinya!
"Kau pun begitu."
Jaemin terperanjat. Ketika ia membalikkan badan, Jungwoo sedang melihat ke arahnya.
"Aku begitu mencintaimu, tetapi mengapa engkau membenciku?"
Jaemin merasakan bahaya ketika Jungwoo berjalan ke arahnya. Ia berjalan mundur menjauhi pemuda itu. Sedetik pun ia tidak berani memindahkan matanya dari Jungwoo.
Bahaya yang dirasakannya semakin mendekati kenyataan ketika Jungwoo mengeluarkan sebilah pisau dari sakunya.
"Aku akan mengantarmu ke dunia sana," Jungwoo menghunuskan pisaunya. "Aku tidak akan membiarkan seorang pun yang menolakku, hidup."
Jaemin jatuh tersungkur karena gugupnya. Tiba-tiba luka di perutnya terasa sangat perih. Jaemin memegang perutnya.
"Sekarang kau tidak bisa lari."
Jaemin kaget menyadari Jungwoo sudah berada di depannya. Pedangnya yang berkilat tertimpa sinar matahari, terangkat tinggi-tinggi. Jaemin memejamkan matanya - sadar ia tidak bisa lari dari takdirnya.

-0-

Mark mendobrak pintu dari mana ia mendengar suara Jaemin. Menyadari bahaya yang mengancam Jaemin, ia langsung melemparkan pedangnya ke tangan Jungwoo sambil berseru, "Jauhkan tangan kotormu dari Jaemin, Jungwoo!"
Pisau di tangan Jungwoo jatuh. Jungwoo merintih kesakitan memegang tangannya yang tergores pedang Mark.
Jaemin terkejut. Ia terperangah melihat Mark berdiri di pintu.
"Apa yang kaulakukan, Jaemin!" seru Mark, "Cepat menjauh!"
Teriakan itu langsung membangkitkan akal sehat Jaemin. Jaemin langsung berlari menjauh.
"Apa kau pikir aku akan melepaskanmu!?" Jungwoo mencabut pedang Mark yang tertancap di dinding.
Mark melihat gelagat tidak baik.
Jungwoo melemparkan pedang itu ke Jaemin.
Mark langsung menerjang tubuh Jaemin tepat sebelum pedang itu mengenai gadis itu. Pedang itu menggores lengannya sebelum menancap di lantai.
Jaemin terkejut. Sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, Mark berdiri di depannya dan membentak murka, "Apa yang kaulakukan, Jungwoo!?"
Tinju Mark melayang di wajah Jungwoo. Begitu keras tinjunya sehingga Jungwoo jatuh tersungkur.
"Apa kau sadar apa yang sudah kau," Mark terperanjat.
Jaemin memeluk tubuhnya erat-erat.
Jungwoo memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
"Mark... Mark...," panggil gadis itu di sela-sela tangisnya.
Kemarahan Mark langsung sirna.
Mark membalikkan badan. "Jaemin," panggilnya lembut. "Sudah aman," ia memeluk Jaemin erat-erat. "Keadaan sudah aman, Jaemin."
Di sela-sela air matanya, Jaemin melihat seseorang di belakang Mark.
Sebilah pisau menancap di punggung Mark.
"Mark!" pekiknya.
Mark jatuh menimpa Jaemin.
"Kalian berdua akan mati di sini," Jungwoo tertawa, "Kalian akan mati!"
Mark mencabut pedang di punggungnya. "Jaemin," katanya perlahan sambil menahan sakit. Tangannya memegang wajah pucat itu. "Tetaplah di sini."
"Kalian adalah pasangan yang menyedihkan. Kalian akan mati di sini."
"Kau...," bertumpu pada lututnya, Mark berusaha berdiri.
"Kau memang menyedihkan, Mark," Jungwoo mengejek, "Kau semakin lemah."
"Rupanya wanita jalanan itu sudah merubahmu. Sekarang kau tidak lebih dari seorang pembunuh."
Wajah Jungwoo memerah oleh kemarahan. "DIAM!" Jungwoo mengayunkan pedangnya dengan brutal.
Mark membawa Jaemin menjauhi pemuda yang sudah kehilangan kontrol itu sambil melindungi Jaemin.
"Kau tidak mengerti apa-apa! Kau tidak mengerti berapa lama aku menunggu hingga hari ini. Kau tidak mengerti betapa aku ingin membalas dendam padamu. Semua orang selalu mengaung-angungkanmu. Selalu, selalu, dan selalu! Di mata mereka kau adalah segalanya dan aku adalah sampah! Tapi semua akan segera berubah. Aku akan menjadi raja setelah kalian tidak ada. Aku akan membunuh kalian."
Jaemin mencengkeram kemeja bergetar oleh takut - takut Jungwoo akan mengambil Mark darinya.
"Kalau kau memang mengincar tahta, lakukan secara jantan!" seru Mark, "Ambil pedangmu. Kita selesaikan secara jantan."
"Kaupikir aku takut!?" Jungwoo mengambil pedang Mark yang masih menancap di lantai.
"Mark..."
"Jangan khawatir, Jaemin," Mark melepaskan pegangan Jaemin dan segera bersiap menerima serangan Jungwoo, "Aku tidak akan kalah oleh seorang pengecut seperti ini."
Jungwoo menerjang maju.
Mark menyambut serangan Jungwoo.
Jaemin mematung melihat permainan pedang keduanya. Matanya nanar. Kakinya lemas. Alam bawah sadarnya terus mengingatkan dirinya di mana ia berada sekarang. Otaknya terus memerintahkannya untuk membantu Mark.
Mark sadar mereka dapat membahayakan Jaemin bila mereka berkelahi di tempat ini. Perlahan namun pasti, ia menggiring Jungwoo meninggalkan ruangan itu.
Jaemin terus mendengar suara pertempuran yang mulai mereda di luar. Ia dapat mendengar bunyi pedang saling beradu. Ia dapat mendengar teriakan kesakitan. Ia dapat mendengar suara hantaman benda. Namun di atas semua itu, ia mendengar jelas bunyi hantaman ombak laut di dinding kapal.
Tubuh Jaemin bergetar keras. Mereka berada di tengah laut! Mereka jauh dari daratan!
Otak Jaemin terus memerintahkan tubuhnya untuk membantu Mark. Alam bawah sadarnya melumpuhkan tubuhnya.
"PADUKA!"
Jaemin terperanjat. Ia dapat mendengar bunyi seseorang jatuh ke dalam laut. Kaki Jaemin langsung menerjang ke luar.
Beberapa prajurit melihat ke laut dengan panik.
Seseorang prajurit yang melihat kemunculan Jaemin langsung berseru, "Lindungi Paduka Ratu! Lindungi Paduka Ratu!"
Mereka langsung berada di sekitar Jaemin, melindunginya dari para perampok yang masih belum mereka ringkus.
Jaemin melihat dua sosok yang berkelahi dengan seru di laut. Mereka berdua menghilang ke dalam laut.
"MARK! MARK!" Jaemin berseru panik di pagar dek.
Sesosok tubuh muncul dari dalam laut.
"MARKN!" pekik Jaemin histeris.
Jaemin melihat wajah orang yang terapung itu. Ia langsung mengenali wajah Jungwoo yang tidak sadar itu.
"Mark, di mana Mark?" Jaemin bertanya panik, "Di mana Mark?"
Prajurit-prajurit itu terus melawan penjahat sewaan Jungwoo yang berusaha membunuh Jaemin.
Jaemin memutuskan. Ia telah memutuskan untuk mencari Mark sendiri.
Mark muncul dari dalam laut.
Jaemin melangkahi pagar dek.
Mata Mark membelalak lebar melihat dek. "Jangan ke sini!" Mark berseru, "Aku baik-baik saja!"
Jaemin menerjunkan diri.
"PADUKA RATU!" teriak para prajurit yang tidak sempat menghentikan gadis itu.
"JAEMIN!" Mark cepat-cepat berenang mendekati gadis itu.
"Mark!" kepala Jaemin muncul di permukaan dan sesaat kemudian ia kembali tenggelam.
Jaemin menggerak-gerakkan tangan dan kakinya mencoba untuk tetap berada di permukaan. Jaemin merasa gaunnya membelit kakinya.
"Mark!" Jaemin mencoba meraih permukaan.
Tubuh Jaemin tenggelam. Jaemin tidak dapat mempertahankan dirinya di permukaan laut. Jaemin merasa ia sungguh tidak berguna. Ia telah menarik Mark dalam bahaya.
Mark melihat Jaemin hilang dari permukaan laut dan ia menjadi semakin panik. Mencoba untuk tetap tenang, Mark menyelam ke dalam laut dan mencari Jaemin.
"Mark...," Jaemin merasa lehernya tercekik.
Jaemin seolah-olah melihat Mark. Jaemin melihat Mark mendekat.
Mark segera meraih tubuh Jaemin dan membawanya ke permukaan.
"BODOH!" hardiknya marah, "Bukankah kau sudah kuperintah untuk tetap di sana!? Bagaimana kalau lukamu bertambah parah!?"
Jaemin terbatuk-batuk memuntahkan air laut yang tertelan olehnya.
Mark menatap tajam gadis itu.
"Mark...," Jaemin memeluk Mark erat-erat. Tubuhnya kembali bergetar hebat.
Mark tertegun. "Kau memang benar-benar liar," bisiknya dan membawa gadis itu mendekat ke kapal perang kerajaan.
Sementara itu pertempuran di atas kapal penculik Jaemin itu sudah hampir usai.
"Paduka Raja dan Paduka Ratu ada di sana!" seseorang awak kapal yang bertugas di menara berseru sambil menunjuk ke arah Mark dan Jaemin.
"Arahkan kapal mendekati mereka!" perintah Houghton, sang komandan, "Siapkan tali untuk menarik mereka."
Para prajurit yang bertahan di kapal perang langsung bertindak. Mereka melemparkan tali ke arah Mark.
Dengan satu tangannya yang bebas, Mark menangkap tali itu.
"Jaemin, jangan melepaskan diri dari aku," katanya sambil membelitkan tangan kanannya di tali itu. Tangan kirinya merapatkan tubuh Jaemin di tubuhnya. Lalu ia memberi sinyal pada prajurit di dek untuk mulai menarik mereka.
"Tarik mereka!" Houghton memberi aba-aba.
Para prajurit itu langsung menarik tali sekuat tenaga. Beberapa bersiap sedia di dek. Begitu keduanya mendekat, mereka langsung mengulurkan tangan.
"Paduka Ratu!" mereka mengulurkan tangan.
Jaemin menyambut uluran tangan itu.
Mark membiarkan prajurit membantu Jaemin terlebih dulu. Kemudian mengulurkan tangannya. Ia begitu lega melihat Jaemin berdiri di antara para prajurit yang gembira melihatnya itu.
"Paduka, punggung Anda...," Houghton cemas melihat darah di kemeja Mark.
"Tidak mengapa. Ini hanya luka kecil," Mark tidak ingin membuat Jaemin cemas.
"Saya akan memerintahkan orang untuk segera menangani luka Anda," Houghton segera mengambil tindakan.
Jaemin mematung.
Mark selamat.
Mark baik-baik saja.
Mark berdiri di depannya sekarang.
Jaemin merasa sangat lega. Seluruh tenaganya menguap begitu saja.
Mark terkejut. Ia cepat-cepat menangkap tubuh Jaemin.
"Paduka Ratu!" Houghton dan para prajuritnya juga ikut cemas.
Jaemin mencengkeram kemeja Mark. "Aku takut. Aku takut kau pergi," bisiknya di sela-sela air mata.
Mark terperangah. "Jangan khawatir," Mark mendekapnya erat-erat, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Mark mengangkat tubuh Jaemin dan memberi perintah, "Bereskan tempat ini dan segera kembali ke Tognozzi!"
"Siap melaksanakan perintah, Paduka!" Houghton memberi hormat.
Jaemin melingkarkan tangannya di leher Mark dan memeluk pemuda itu erat-erat. Ia tidak ingin melepaskan diri dari Mark lagi.
Mark membawa Jaemin ke dalam kabin kapal.
Houghton segera menyuruh dokter kapal pergi memeriksa keadaan Jaemin dan Mark lalu membagi tugas kepada bawahannya. Sebagian ia perintahkan untuk mengambil alih kapal Duke Binkley, sebagian ia tugaskan untuk mengikat bawahan Duke Binkley dan sebagian lagi mengangkat tubuh-tubuh yang mengapung di laut termasuk tubuh sang Duke yang entah masih bernyawa atau tidak.
Melihat pertempuran di atas kapal sudah selesai, beberapa perahu kecil yang berada di sekitar dua perahu besar itu segera turun tangan memungut tubuh-tubuh yang terjatuh ke laut. Mereka bahkan tidak segan-segan menghajar mereka yang masih sadar.
Houghton mengawasi pekerjaan mereka dari dek tertinggi kapal perang.
Ketika mendapat tugas dari utusan Istana, ia sangat panik. Secepat mungkin ia menyiapkan pasukan dan kapal perang. Beberapa saat kemudian ketika ia dan kapal perangnya tiba di Tognozzi, rakyat segera menghampiri kapal.
"Kami melihat Paduka Ratu dibawa masuk sebuah kapal," lapor mereka, "Kami sudah mengutus beberapa orang untuk mengejar mereka."
Houghton sadar keadaan benar-benar gawat.
Sesaat kemudian ia melihat Mark dan pasukan Istana mendekat.
Rakyat segera melaporkan apa yang baru saja mereka saksikan pada Mark.
"Tunjukkan jalan pada kami!" Mark segera memberi perintah pada mereka kemudian ia berbalik pada Jancer. "Jancer, bawa pasukan menggempur Arsten." Mark sudah kehilangan kesabarannya, "Aku tidak ingin seorang pun meninggalkan tempat itu sampai masalah ini tuntas!"
"Baik, Paduka," Jancer segera melaksanakan perintah itu dengan membawa pasukannya meninggalkan Tognozzi.
Sejurus kemudian Mark memimpin langsung kapal perang mengikuti petunjuk kapal-kapal rakyat. Mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk menemukan kapal yang membawa Jaemin itu. Setiap beberapa meter, sebuah kapal rakyat menanti mereka untuk menunjukkan arah kepergian kapal itu. Karena itulah mereka dapat dengan segera mengejar kapal yang kemudian diketahui sebagai kapal keluarga Soyoz.
Houghton dapat melihat muka Mark dipenuhi kemurkaan yang luar biasa ketika melihat bendera kapal itu. Kemurkaan yang tidak pernah dilihatnya itu membuatnya tidak berani melihat pemuda itu. Karena itu pula ia tidak tahu ketika pemuda itu sudah beranjak dari sisinya dan menyerbu ke kapal Duke Binkley bersama prajurit.
Houghton dapat memahami kemurkaan Mark. Satu-satunya keluarga dekatnya telah mengancam jiwa gadis yang dicintainya.
Di atas kapalnya, rakyat terlihat menghajar bawahan Duke dengan puas. Mereka sangat marah para orang-orang yang berashil mereka pungut itu.
Houghton tidak mengerti mengapa mereka bisa semarah itu? Rakyat marah pada orang yang telah mengancam keluarga kerajaan adalah wajar. Namun kemarahan mereka ini tidak wajar.
"Karena dia adalah Jaemin."
Houghton terperanjat melihat Mark di belakangnya. Houghton adalah kapten kapal yang beberapa bulan lalu mengantar Mark beserta para undangannya ke Corogeanu. Sepanjang perjalanan pergi ke pulau itu, Mark tidak pernah meninggalkan sisi Jaemin. Demikian pula ketika mereka kembali ke Arsten. Sekarang ia juga tidak mengharapkan kemunculan Mark.
"Apakah Jancer belum memberitahumu?"
Houghton teringat pembicaraannya dengan Jancer tak lama setelah drama penculikan Jaemin di Pittler.
"Aku tidak meragukan pilihan Grand Duke lagi," kata Jancer saat itu, "Ratu Jaemin memang seorang ratu pilihan, gadis yang terpilh dari gadis terbaik Viering."
Houghton kembali melihat rakyat yang mengiringi kapal perang. Sekarang ia dapat berkata pada Jancer, "Aku sependapat denganmu."
Dalam sejarah Viering, tidak ada seorang Ratu yang seliar Jaemin. Namun juga tidak ada Ratu yang begitu dicintai rakyat seperti Ratu Jaemin.
"Bagaimana luka Anda, Paduka?" kini seluruh perhatian Houghton tertuju pada pemuda yang hanya mengenakan celana panjangnya yang masih basah. Perban putih membalut dadanya yang telanjang.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Mark, "Aku akan segera pulih. Daripada mengkhawatirkan aku, lebih baik kau mengkhawatirkan mereka," Mark merunjuk pada penjahat-penjahat yang ada di tangan rakyat, "Aku tidak ingin kehilangan terdakwa-terdakwaku."
Houghton langsung menyadari rakyat sudah membuat kawanan Jungwoo babak belur. "Saya akan segera memerintahkan mereka untuk berhenti."
"Beritahu aku bila kita tiba di Tognozzi," kata Mark.
"Baik, Paduka." Houghton tersenyum melihat kepergian pemuda itu. Pada akhirnya Mark tidak tega meninggalkan Jaemin seorang diri.
"Baiklah," ia kembali memperhatikan keadaan sekitar, "Ini akan menjadi pekerjaan besar."

-0-

Mark tersenyum memperhatikan Jaemin. Gadis itu sudah tertidur sebelum mereka tiba di kabin kapal. Ia sama sekali tidak terbangun ketika ia menanggalkan gaunnya. Pun ketika dokter kapal merawat luka di perutnya yang kembali terbuka.
"Kau pasti sangat lelah," Mark membelai wajah Jaemin, "Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini."
Jaemin mengeluarkan erangan panjang. Tangannya terangkat untuk mengusap mata.
Mark tersenyum. "Kau bangun lebih cepat dari dugaanku."
Jaemin melihat Mark kemudian ia menyadari tubuhnya hanya tertutup oleh selimut. "Mengapa...?" Jaemin malu melanjutkan pertanyaannya. Ia mencengkeram selimutnya erat-erat untuk menutupi pundaknya yang telanjang.
"Ada apa, Jaemin? Kau malu?" Mark heran, "Kita pernah tidur telanjang berdua."
"Kapan!?" Jaemin panik, "Kau penipu! Kau membohongiku!"
"Kau tidak ingat?" Mark mengerutkan dahinya. "Apakah aku perlu mengingatkanmu?" lanjutnya sambil mendekat.
"Kau maniak!" Jaemin melempar bantal.
Mark menangkapnya dan tersenyum nakal sambil terus mendekat dengan membawa segala bahaya yang dikenalnya.
Jaemin geram. Ia meraih bantalnya yang lain dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah Mark.
Lagi-lagi Mark menangkapnya dengan sukses.
Jaemin tidak terima. Ia menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya dan melempar bantal-bantal putih yang lain ke arah Mark.
"Maniak!" seru Jaemin murka.
Ketika bantal keempat dan terakhirnya sudah melayang ke arah Mark, Jaemin bergerak mengambil barang-barang di atas meja.
"Hentikan, Jaemin! HENTIKAN!"
Jaemin meraih gelas - benda pertama yang teraih olehnya dari atas meja kecil semester di dari tempat tidur.
"Aku bilang hentikan!" Mark menangkap tangan Jaemin sebelum ia mengambil gelas itu dan menindihnya.
Jaemin menatap tajam pria itu. "Aku membencimu!"
Mark menempelkan dahinya di atas dahi Jaemin. "Syukurlah," ia merangkum wajah Jaemin. "Melihat keliaranmu, aku tahu kau sudah pulih."
Jaemin cemberut.
Mark tersenyum lembut. Mata abu-abunya menatap Jaemin penuh kelegaan. "Kau benar-benar membuatku cemas. Rasanya aku hampir mati melihat kau menceburkan diri ke laut," Mark membelai Jaemin dengan hati-hati dan menciumnya dengan lembut.
Jaemin terlena. Ciuman Mark membuatnya merasa ia seolah-olah mabuk. Pipinya terasa panas. Tubuhnya seperti terbakar.
Mark merasakan perubahan suhu tubuh Jaemin. "Kau butuh istirahat," Mark menjauhkan diri dari Jaemin. "Aku akan memerintahkan mereka bersiap-siap berlabuh."
"Kita masih di kapal?" Jaemin terkejut.
"Aku tidak punya pilihan lain. Gaunmu basah kuyup dan aku tidak mempersiapkan baju ganti untukmu. Aku tidak mau tiap orang mengira aku memperkosamu."
Jaemin tertawa geli.
"Sekarang kau menertawakanku," Mark tidak senang. "Kita lihat apa kau masih bisa tertawa jika aku benar-benar memperkosamu."
"Kau sudah mermperkosaku," Jaemin mengingatkan.
"Tidak, Jaemin," Mark membenarkan, "Aku hanya menelanjangimu." Ia tersenyum nakal, "Untuk yang kedua kalinya."
Jaemin geram.
"Sekarang, istriku yang manis," Mark tersenyum nakal, "Jangan kau memamerkan tubuhmu yang molek itu. Tetaplah di sini. Aku akan melihat apakah gaunmu sudah kering.."
"Aku tidak peduli!" Jaemin sengaja membantah, "Aku ikut!" Jaemin mencengkeram selimut dan berdiri.
Mark mengangkat Jaemin dan menidurkannya kembali di tempat tidur. "Dengarkan aku, istriku tercinta, kau benar-benar membuatku bergairah. Kau benar-benar cantik dan molek sehingga aku harus menahan sekuat tenaga untuk tidak memperkosamu. Percayalah padaku aku bisa melakukan segala yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya." Mark menatap Jaemin dengan penuh kasih. "Kau bisa membuatku melupakan segalanya dan aku ingin engkau mempunyai kenangan manis yang akan kauingat seumur hidupmu di saat pertamamu."
Wajah Jaemin memerah.
"Karena itu, Jaemin, tetaplah di sini dan jangan membuat pertahananku goyah," Mark berkata serius, "Engkau tidak berada dalam kondisi yang sehat."
"Aku janji," kata Jaemin lirih.
Mark mencium Jaemin. "Ini baru gadis manisku," ia tersenyum.
Jaemin tidak dapat mengutarakan kebahagiaannya. Ia gembira dapat menyentuh Mark lagi. Ia merasa begitu aman menyadari Mark selalu ada untuknya.
Ini sungguh aneh. Dulu ia begitu takut akan lautan. Sekarang, walau menyadari ia tengah berada di atas lautan, ia sama sekali tidak takut. Jaemin tersenyum. Ini semua karena Mark. Mark membuatnya merasa aman. Jaemin percaya Mark akan selalu menolongnya ketika ia dalam bahaya.
Pikiran itu membuatnya merasa sangat damai.
Mark menutup pintu kamar kabin dengan hati-hati.
"Paduka, apa yang terjadi?" Houghton mendekat dengan cemas. "Saya mendengar seruan Anda."
Mark hanya tersenyum. "Houghton, sekarang kau bisa berlabuh. Kirim orangmu untuk memanggil kereta sewaan. Kami akan segera kembali ke Istana."
"Apakah Paduka Ratu sudah bangun?" tanya Houghton.
"Ialah penyebab seruan yang kau dengar itu."
Houghton pun tersenyum penuh arti. Sebagai seorang yang tidak pernah tinggal di Fyzool, ia hanya sering mendengar kisah Raja dan Ratu Viering.
Mark meninggalkan Houghton ke tempat ia menjemur gaun Jaemin. Secepat mungkin ia kembali ke sisi Jaemin. Ia masih menyadari ketakutan Jaemin akan lautan.
"Gaunmu masih belum terlalu kering," ujar Mark sambil melangkah masuk.
Mark tertegun.
Jaemin tidur meringkuk dengan nyenyaknya.
Mark mengeluh panjang. "Rasanya aku seperti mempunyai bayi sendiri."
"Mama..."
Mark tersenyum menatap wajah tidur yang damai itu. "Kau benar-benar bayi besar," ujarnya dan ia menambahkan, "Aku bukan 'Mama'."

-0-

Mark merasakan Jaemin bergerak dalam tidurnya. Ia menutup buku yang sedang dibacanya dan meletakkannya di atas meja di sisi tempat tidur.
Sepasang mata biru jernih Jaemin menatap Mark dengan bingung dan heran.
"Kau sudah bangun?" Mark tersenyum lembut sambil merapikan rambut di kening Jaemin.
"Mengapa kau di sini?" tanya Jaemin. Matanya menjelajahi sekelilingnya dengan bingung, "Di mana aku?"
"Kita sudah berada di Istana dan sekarang kau tidur di atas tempat tidur kita."
"Tempat tidur kita?" ulang Jaemin heran.
Mark tersenyum lembut. "Aku tidak bisa membiarkanmu terbangun di malam hari dan tidak seorang pun berada di sisimu." Mark membaringkan diri di sisi Jaemin. "Aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat di saat kau membuka matamu yang indah itu."
Jaemin teringat luka tusuk di punggung Mark. "Lukamu?"
"Sudah tidak apa-apa," katanya, "Lawrence telah mengobatinya. Untung pedang itu tidak melukai daerah vital. Dalam beberapa hari ia akan sembuh." Dan Mark tersenyum penuh kemenangan, "Lukaku masih lebih baik dari lukamu."
Mata Jaemin menjadi sendu. Ini semua karena tindakannya yang gegabah.
"Aku tidak apa-apa," Mark menarik Jaemin ke dalam pelukannya.
Sepasang tangan Jaemin menyentuh dada Mark. "Kau tidak boleh berada di dekatku," katanya sambil menjauhkan diri, "Aku tidak mau membuatmu sakit."
"Tidak apa," Mark memeluk Jaemin erat-erat, "Aku tidak mudah sakit sepertimu," senyum nakal tersungging di wajah tampannya, "Aku bahkan ingin menyerap penyakitmu itu. Melihatmu terbaring tidak berdaya di tempat tidur sungguh membuat hatiku sakit daripada melihat tingkah liarmu."
"Aku dengan senang hati akan menularkannya padamu," Jaemin mencari tempat yang nyaman di dalam pelukan Mark.
"Lawrence memintaku menyuruhmu minum obat begitu kau sadar."
Senyum bahagia di wajah Jaemin langsung hilang.
"Aku tahu kau tidak menyukainya. Sejujurnya, sayangku," Mark merangkum wajah Jaemin, "Aku ingin sekali menggantikanmu tetapi tidak untuk saat ini. Kau lebih membutuhkannya daripada aku."
Jaemin memasang muka masamnya.
"Jangan membuat hatiku sakit dengan melihatmu terbaring tanpa daya di tempat tidur, sayangku," bujuk Mark, "Jadilah gadis manis yang penurut hingga kau pulih."
Jaemin melingkarkan tangan di leher Mark - menahannya beranjak dari tempat tidur. "Aku tidak mau kau tinggalkan," rengek Jaemin manja.
"Jangan menggodaku, Jaemin," Mark memperingatkan, "Kau tahu bagaimana ampuhnya godaanmu padaku hingga aku harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berubah menjadi seorang monster."
"Jangan pergi," mata biru Jaemin menatap Mark dengan sendu.
Mark mengeluh panjang. "Tuhan akan menghukumku karena ini," keluhnya. Ia membaringkan Jaemin di tempat tidur, menindihnya dan membuainya dengan cara-cara manis yang ia ketahui.
Jaemin pasrah. Ia menyerahkan diri sepenuhnya pada Mark. Ia membiarkan Mark menuntunnya ke dunia yang belum pernah ia masuki.

-0-

Sinar mentari yang menyusup melalui tirai jendela menyilaukan mata Jaemin. Jaemin membuka matanya.
Mark bersandar di atas tumpukan bantal-bantal, sedang menatap Jaemin lekat-lekat.
Wajah Jaemin bersemu melihat dada telanjang Mark.
"Aku tidak dapat mempercayai diriku sendiri," gumam Mark, "Aku telah bercinta sepanjang malam dengan orang sakit!" Mark tersenyum bahagia, "Aku benar-benar kalah darimu. Kau benar-benar..."
Mata Jaemin bersinar geli melihat Mark seperti kesulitan mengungkapkan pikirannya.
"Seorang penggoda," akhirnya Mark menemukan kata yang tepat.
Alis mata Jaemin terangkat. "Kukira kau akan mengatakan pelacur."
"Kukira, sayangku," Mark menunduk, "Aku telah berjanji untuk tidak mengatakan hal itu. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali."
"Apakah aku telah berhasil?" Jaemin merangkul leher Mark, "Apakah aku berhasil menggodamu?"
"Tentu, sayangku?" Mark mencumbu Jaemin lagi, "Kau sangat berhasil."
Jaemin kembali luluh dalam cumbuan Mark.
"Kau begitu menggairahkan sehingga tidak ada hal lain yang terpikirkan olehku selain berada di sisi dan bercinta denganmu sepanjang hari," bisik Mark tanpa menghentikan cumbuannya.
Jaemin tersenyum bahagia.
"Setelah semua ini selesai," bisik Mark, "Aku harus membantumu mengenakan kembali pakaianmu dan membuatmu meminum obatmu atau Lawrence akan memenggalku."
Jaemin tertawa geli mendengarnya.
"Kau berani menertawakanku?" ancam Mark sambil menatap Jaemin tajam.
"Mengapa tidak?" Jaemin mendekatkan wajahnya, "Aku yakin ia pasti akan menghukummu karena telah bercinta dengan pasiennya."
"Aku akan mengatakan padanya bahwa kaulah yang memulainya."
"Sekarang, mungkin," Jaemin tersenyum penuh kemenangan, "Tetapi tidak selalu."
"Kau ini," geram Mark sambil menindih Jaemin.
Jaemin tertawa geli. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya.
Beberapa saat kemudian ketika Mark akhirnya muncul di ruangannya, matahari hampir mencapai tahta tertingginya di langit. Ia segera memanggil bawahan-bawahannya, sebuah tugas yang seharusnya telah ia lakukan pagi ini.
"Kami sudah mengamankan Arsten," lapor Jancer, "Tidak seorang pun bisa meninggalkan Arsten tanpa seijin dari Anda."
"Kami sudah mengirim seluruh awal kapal Duke ke kepolisian Loudline. Kepala kepolisian Loudline, Wayne berjanji akan segera memproses tindakan kejahatan mereka," lapor Houghton pula. "Dan Duke Jungwoo sudah kami masukkan ke dalam penjara bawah tanah Fyzool."
"Berkas-berkas Somi sudah kami tarik kembali dan sekarang kami sedang menyelesaikan pemeriksaan terhadap Jungwoo," Jisung melaporkan perkembangan tugasnya, "Saat ini kami masih meminta keterangan dari Jungwoo. Kami yakin dalam waktu singkat ini kami akan segera menyelesaikan laporannya."
"Jancer, kau bisa menyerahkan pengamanan Arsten kepada Geert. Suruh ia mengirim prajurit terbaiknya mengawasi tempat itu. Kita masih memerlukan kesaksian tiap orang di sana," setelahnya Mark beralih pada Houghton, "Houghton, tugasmu dalam masalah ini sudah selesai. Dan untukmu, Jisung, aku ingin kau segera menyelesaikan laporanmu."
"Kami mengerti," sahut mereka bersamaan.
"Kalian bisa pergi sekarang," kata Mark.
Sepeninggal mereka, Mark mengeluarkan pedang keluarga Soyoz yang masih ada di bawah mejanya. Matanya terpaku pada ukiran di pedang itu. Pikirannya kacau balau.
Mark tidak tahu dengan wajah apakah kelak ia harus bertemu ayah ibu Jungwoo. Ia tidak tahu lagi bagaimana ia harus bertanggung jawab pada keluarga Soyoz. Selama ini ia selalu berusaha mencegah Jungwoo melakukan perbuatan yang akan mengecewakan mendiang orang tuanya. Ia selalu memperingatkan Jungwoo ketika tindakannya menjadi bahan pembicaraan Viering. Jungwoo sudah mencoreng nama baik Binkley ketika ia menikahi Somi. Sekarang ia bukan hanya mencoreng wajah Binkley namun juga mempermalukan keluarga Soyoz.
Sudah dapat dipastikan Jungwoo tidak dapat menghindarkan diri dari hukuman mati. Ia bukan hanya telah mencoba membunuh Jaemin namun juga telah mencoba membunuhnya. Luka di punggungnya adalah bukti yang paling jelas. Mark juga tidak dapat mengingkari perbuatan Jungwoo lagi. Ia tidak dapat lagi menutup sebelah mata atas perbuatan Jungwoo ini.
Mark teringat masa-masa kecilnya bersama Jungwoo yang sangat dikaguminya. Saat itu tidak terpikirkan olehnya Jungwoo akan menjadi seperti apa ia hari ini. ia sama sekali tidak pernah menduga setelah kematian orang tua mereka, Jungwoo mulai berubah hingga menjadi, seperti kata Jungwoo sendiri, sampah. Ketika mereka bermain bersama, sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran Mark, suatu hari nanti ia akan menjadi orang yang mengirim Jungwoo ke ajalnya. Mungkin orang-orang akan menyuruhnya marah pada Jungwoo namun ia tidak dapat. Ia masih menyayangi kakak sepupunya itu. Ia bersedih atas kelemahan Jungwoo hingga ia terpengaruh oleh Somi.
Ketukan di pintu mengagetkan Mark.
Mark dengan cepat menyembunyikan pedang itu di bawah mejanya.
"Lady Renjun dan Johnny Hielfinberg ingin bertemu," lapor prajurit.
"Biarkan mereka masuk."
Prajurit segera memberi jalan pada kedua tamunya.
"Selamat siang, Paduka," sambut Renjun dengan wajah panik yang tidak dapat ditutupi oleh senyumannya.
"Jaemin baik-baik saja," Mark langsung menjawab kecemasan Renjun itu.
"Di mana dia?" tanya Renjun, "Kami tidak dapat menemukan Jaemin di kamarnya. Nicci juga tidak ada."
"Sejak kemarin malam Jaemin telah aku pindah ke Ivory Room," Mark memberitahu.
"Ivory Room?" Renjun mengulangi. Ruangan itu adalah kamar terbesar dan termewah Fyzool. Seperti namanya, seluruh lantai hingga dinding ruangan itu terbuat dari marmer. Marmer itu pula yang membuat ruangan itu dingin dan sejuk di hari-hari panas. Namun di musim dingin seperti ini, tanpa pemanasan yang memadai, ruangan itu bukanlah pilhan yang bagus.
Sejauh yang Renjun ketahui, sudah lama ruangan itu kosong. Tidak ada raja-raja terdahulu Viering yang suka menempati ruangan itu. Entah apa tujuan ruangan itu dibangun. Mungkin raja yang memerintahkan pembangunan Istana Fyzool adalah satu-satunya orang yang pernah menempati ruangan itu.
"Nicci ada di sana," lanjut Mark, "Ia bisa membukakan pintu untuk kalian." Mark menatap Johnny dan tersenyum, "Saya senang Anda mau datang lagi."
"Renjun telah menyadarkan saya. Saya tidak bisa terus menghidari ketakutan saya. Semakin saya menghindari Jaemin, semakin ingin saya menemuinya dan semakin takut saya kehilangannya."
"Anda bisa tinggal di sini selama yang Anda inginkan. Namun untuk kali ini, saya bersikeras mengundang Anda tinggal setidaknya hingga Jaemin sudah cukup sehat untuk mengunjungi Anda di Schewicvic."
Johnny tertawa. "Saya khawatir Anda perlu menyiapkan ruangan untuk Taeil."
"Saya tidak keberatan. Istana mempunyai lebih dari cukup ruangan untuk menampung kalian. Bila kau menginginkannya, Renjun, kau juga bisa tinggal di sini."
"Saya menerima tawaran Anda dengan senang hati, Paduka," Renjun berterima kasih, "Namun saya khawatir saya tidak bisa meninggalkan Mangstone. Ayah dan adik saya masih memerlukan saya untuk mengurusi hal-hal kecil."
"Kau bisa," Mark bersikeras, "Mereka harus mulai terbiasa mengurusi diri mereka sendiri. Suatu hari nanti kau juga akan meninggalkan Mangstone ke sisi orang yang kaucintai."
Wajah Renjun memerah mendengarnya. "Saya masih belum menemukan orang itu."
"Tinggallah di sini. Jangan terus mengurung diri di Mangstone. Aku percaya kau akan segera menemukan orang itu."
Renjun semakin tersipu mendengarnya.
"Mengenai tawaran Anda, Paduka," kata Johnny, "Saya akan memikirkannya dengan serius."
"Jaemin pasti akan sangat senang bila Anda mau tinggal di sini," Mark memahami keputusan Johnny, "Segeralah temui Jaemin. Aku yakin saat ini ia sudah bangun."
Mereka pun segera mengundurkan diri dari ruang kerja Mark dan segera menuju Ivory Room.
"Paduka benar, Renjun," kata Johnny, "Kau tidak boleh terus menghabiskan waktumu memikirkan Jaemin. Jaemin sudah bukan anak kecil. Ia sudah dewasa dan sudah menikah. Aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kaulakukan untuknya."
"Mengapa Anda tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Renjun, "Saya tidak pernah merasa terbebani oleh Jaemin. Saya menyayanginya seperti adik saya sendiri."
"Aku tahu. Namun apakah kau pernah berpikir Taeil juga sangat ingin melihatmu menikah?"
"Saya masih belum memikirkannya," Renjun membela diri.
"Engkau memang seorang gadis yang baik. Engkau lebih mementingkan Jaemin dan Jisung daripada dirimu sendiri. Aku dapat memahami mengapa Taeil begitu membanggakanmu. Tidakkah kau pikir Taeil akan semakin bahagia bila engkau menikah?"
Renjun segera mencari jalan untuk menghidari pembicaraan ini. Pernikahan bukanlah hal yang saat ini ada dalam pikirannya. Ia masih belum berpikir untuk menikah bukan saja karena ia masih belum menemukan pasangan yang cocok tetapi juga karena ia masih mencemaskan Jisung. "Saya yakin jalan tercepat ke Ivory Room adalah ini," Renjun membelok tiba-tiba.
Dari arah yang berlawanan, muncul seorang pria yang juga tampak tergesa-gesa. Seperti Renjun, pria itu tidak melihat Renjun sampai mereka bertubrukan dengan keras. Begitu kerasnya tubrukan mereka hingga Renjun jatuh terpelanting.
"Renjun, kau tidak apa-apa?" Johnny Hielfinberg dengan cemas membantunya berdiri.
"Renjun?" pria itu melihat Renjun lekat-lekat, "Apakah Anda adalah Renjun, putri Grand Duke Taeil yang terkenal itu?"
Mata Renjun bertemu sepasang mata biru yang dalam itu. Tanpa dapat dikendalikannya, jantungnya berdegup kencang melihat wajah menarik pria itu.
"Ah, maafkan ketidaksopanan saya," pria itu segera berlutut, "Nama saya adalah Jeno Yarichiv, putra dari seorang bangsawan kecil Rusia," pria itu mengambil tangan Renjun dan menciumnya, "Saya sungguh merasa beruntung dapat bertemu dengan Anda. Sudah lama saya mendengar kecantikan Anda." Ia menatap Renjun lekat-lekat. "Saya minta maaf yang sedalam-dalam atas kecerobohan saya beberapa saat lalu. Saya tidak melihat Anda. Apakah Anda bersedia mengampuni saya, M'lady?"
"T-tentu saja," wajah Renjun merah padam. Jantungnya sudah tidak dapat lagi dikontrolnya.
Renjun terperanjat. Ia sudah benar-benar melupakan tujuan mereka semula. "Maafkan saya, er..."
"Jeno, Jeno," pria itu mengulang namanya.
"Maafkan saya, Tuan Yarichiv," Renjun mengulang, "Saya ingin segera menemui Jaemin."
"Apakah orang ingin Anda temui itu adalah Ratu Jaemin?" tanya Jeno.
"Benar," Renjun membenarkan.
"Bagaimana keadaan Ratu?" tanya Jeno, "Apakah benar ia hampir dibunuh oleh Duke Jungwoo? Saya mendengar berbagai macam desas-desus tentangnya di Tognozzi."
Walaupun mengetahui kebenarannya, Renjun memilih untuk bersikap hati-hati. "Maafkan saya. Saat ini saya tidak mempunyai wewenang untuk membicarakan hal tersebut. Namun saya dapat memberitahu Anda Jaemin baik-baik saja. Saat ini ia sedang beristirahat."
"Dapatkah saya menjenguk Ratu Jaemin?"
"Saya khawatir Anda memerlukan ijin Yang Mulia Raja Mark."
"Kau bisa mengantarnya meminta ijin Raja, Renjun," Johnny memotong pembicaraan mereka, "Aku bisa pergi sendiri ke Ivory Room."
"Apakah Anda berkenan mengantar saya menemui Yang Mulia Raja Mark?" pria itu bertanya penuh harap.
"T-tentu," lagi-lagi pandangan pria itu membuatnya kehilangan kontrol atas emosinya.
Johnny tersenyum melihat Renjun menunjukkan jalan kepada pria itu dan meneruskan langkahnya ke kamar baru Jaemin.
Penjagaan di kamar baru Jaemin lebih ketat dari sebelumnya. Prajurit yang menjaga pintu Ivory Room sudah bertambah hingga 6 orang. Tiga berjejer di sisi kiri dan tiga berjejer di sisi kanan pintu putih besar yang berdaun dua itu.
Prajurit yang tepat berada di kanan kiri pintu Ivory Room langsung menyilangkan tombak mereka - menghadang jalannya.
"Aku adalah Johnny of Hielfinberg, ayah Ratu Jaemin," Johnny memberitahu mereka.
Prajurit segera mengetuk daun pintu. Tanpa membuka pintu, ia melaporkan kedatangannya, "Seorang pria yang mengaku sebagai Johnny of Hielfinberg, ayah Ratu Jaemin, ingin menemui Ratu."
Johnny dibuat kaget oleh kecurigaan mereka. Namun ia dapat memahaminya. Setelah kejadian demi kejadian yang menimpa Jaemin, Mark tentu tidak ingin kecurian lagi. Andai Jaemin masih di Schewicvic, ia pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin ia akan melarang seorang pun menemui Jaemin.
Sebagai jawaban, Nicci muncul membuka pintu.
"Selamat siang, Yang Mulia," sambut wanita itu ramah, "Paduka Ratu sangat senang mendengar kedatangan Anda."
Baru setelah itulah prajurit menurunkan tombak mereka dan mempersilakan Johnny masuk.
Ketika kakinya menginjak lantai marmer Ivory Room, Johnny merasakan hawa dingin dari setiap sisi ruangan yang didominasi warna putih itu. Seperti namanya, seluruh bagian ruangan ini terbuat dari marmer putih. Meja kecil di sisi kanan kiri ranjang dan meja rias yang terletak tak jauh dari sisi tempat tidur terbuat dari marmer. Perapian besar yang berada di dinding seberang tempat tidur juga terbuat dari marmer. Hanya tempat tidur dan kursi-kursi yang tidak terbuat dari marmer.
Tempat tidur Jaemin melintang di tembok kiri, tepat di depan pintu kaca besar menuju serambi. Ranjang yang ukurannya hampir dua kali ranjang di kamar lama Jaemin itu berdiri kokoh di atas karpet putih tebal. Tiang-tiangnya yang berlapis emas putih dihiasi oleh ukiran artis terampil. Tali keemasan mengikat rapi kelambu putih yang menaungi tempat tidur di keempat tiang tempat tidur. Hanya kelambu pada sisi kepala tempat tidur yang bersandar pada tembok yang dibiarkan jatuh lembut.
Tirai pintu kaca menuju serambi dibiarkan terbuka sehingga sinar matahari bisa memasuki kamar. Demikian pula tirai jendela-jendela di sisi pintu serambi.
"Papa," Jaemin yang bersandar di atas tumpukan bantal, mengulurkan tangannya.
Johnny segera memeluk putrinya erat-erat.
"Aku merindukanmu, Papa," kata Jaemin.
Ketika melihat sisi luar tempat tidur yang dekat pintu serambi kosong, Johnny Hielfinberg mengerti mengapa Mark memilih kamar yang lebih dingin ini.
"Bagaimana keadaanmu?" Johnny bertanya penuh perhatian.
"Aku sudah lebih baik."
"Lebih baik apanya?" Nicci memprotes, "Demam Anda masih belum turun tetapi Anda sudah ingin turun tempat tidur. Tak heran Raja memilih kamar ini. Dari ruang kerjanya, Raja bisa terus mengawasi setiap gerakan Anda"
Mata Jaemin membelalak. "Ruang Kerja Mark ada di depan kamar ini?"
"Ruang Kerja Raja ada di seberang kamar," Nicci membenarkan, "Anda bisa melihatnya dari serambi." Tepat setelah Nicci menyelesaikan kalimat itu, ia menyadari kesalahannya. Jaemin sudah melompat dari tempat tidur sebelum ia bisa menyadarinya dan menuju serambi.
Jaemin tersenyum lebar melihat punggung Mark di jendela sisi lain gedung Istana yang berseberangan dengan serambi Ivory Room. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, "MARK!"
Di Ruang Kerjanya, Mark terkejut mendengar panggilan itu. Kepalanya langsung menoleh ke jendela di belakangnya. Ia melompat dari tempat duduknya ketika melihat Jaemin berdiri di serambi hanya dengan mengenakan gaun tidurnya.
"APA YANG KAUPIKIR SEDANG KAULAKUKAN!?" Mark membuka jendela lebar-lebar.
Renjun dan Jeno yang masih berada di ruangan itu terperanjat.
Jaemin melambai-lambaikan tangannya dengan gembira.
"MASUK KE DALAM SEKARANG JUGA!"
Orang-orang yang berada di halaman juga terperanjat. Mereka menengadah melihat asal seruan marah itu.
"TIDAK!" Jaemin berseru keras kepala, "Aku bosan!"
"Aku tidak peduli kau bosan atau tidak. MASUK SEKARANG JUGA ATAU..."
"ATAU APA!?" tantang Jaemin.
Semua orang menengadah melihat keduanya saling berseru dari kejauhan.
"Sudah lama kita tidak mendengarnya," seseorang menceletuk.
"Benar. Rasanya sudah bertahun-tahun Istana tidak seramai ini," yang lain tertawa geli.
Jeno benar-benar keheranan melihat Raja muda yang beberapa saat lalu terlihat penuh wibawa itu kini berteriak marah-marah tanpa kendali.
"Jaemin...," Renjun tidak sanggup lagi mengutarakan keluhannya atas sikap Jaemin.
Johnny terbengong melihat ulah Jaemin dan Mark.
"Mereka sering seperti ini," Nicci memberitahu.
"Tidak ada bantahan! Kembali ke dalam sekarang juga!" Mark memperingatkan dengan tajam, "Jangan biarkan aku mengucapkannya untuk yang ketiga kalinya!"
"Aku tidak mau!" Jaemin membantah keras kepala, "Jangan biar..." Pandangan Jaemin mengabur.
"JAEMIN!" Mark berteriak panik.
Tubuh Jaemin jatuh lemas di pagar pembatas serambinya.
Renjun pingsan.
Jeno dengan cepat menangkap Renjun.
Johnny berdiri kaku karena kagetnya.
Nicci segera berlari menangkap tubuh Jaemin sebelum gadis itu jatuh bebas dari lantai tiga.

-0-

"Maafkan saya. Maafkan saya. Maafkan saya, Paduka," Nicci menyatakan penyesalannya sedalam-dalamnya. "Maafkan saya."
Mark duduk di sisi Jaemin dengan tangan menyangga kepalanya yang berat oleh beban pikiran akan Jaemin.
"Aku tidak sengaja," Jaemin membela diri.
"TIDAK SENGAJA APANYA!?" Mark menyahut marah, "Kurang sedikit saja kau sudah mati."
"Jangan berteriak sekeras itu!" Jaemin memegang kepalanya, "Kau membuat kepalaku semakin sakit. Bagaimana pun juga, aku adalah orang sakit."
"KALAU KAU MEMANG SADAR KAU MASIH SAKIT, MENGAPA KAU BERANI KE SERAMBI!?"
Kepala Jaemin berdenyut semakin keras oleh teriakan itu.
Mark mendesah panjang. "Aku tidak tahu sampai kapan jantungku bisa bertahan. Aku ingin kau cepat sembuh dan berkeliaran seperti dulu daripada setiap saat membuat jantungku copot."
"Maafkan kelalaian saya, Paduka."
"Ini bukan salahmu, Nicci. Aku sudah tahu Jaemin akan membuat ulah."
Jaemin sama sekali tidak senang mendengar tuduhan itu.
"Aku akan mengunci pintu serambi dan menambah orang untuk membantumu mengawasi Jaemin sampai ia benar-benar sembuh," Mark memutuskan untuk mengambil tindakan tegas, "Aku juga akan menambah prajurit di setiap pintu kamar ini termasuk pintu serambi dan jendela-jendela."
"Aku bukan penjahat!" Jaemin memprotes.
"Aku bisa meyakinkanmu. Engkau akan menjadi penjahat terbesar Viering dalam waktu dekat," Mark memperingatkan dengan tidak senang.
"Kau tidak akan apa-apa. Kau adalah iblis!"
"Tutup mulutmu, Jaemin!"
Nada dalam suara Mark membuat Jaemin sadar pemuda itu tidak dalam suasana hati untuk berdebat.
Mark meletakkan kedua sikunya di atas paha. Jari-jarinya yang saling bertautan, menumpu dahi kepalanya yang tertunduk.
"Nicci," dalam suaranya terdengar kelelahannya, "Katakan pada Taeil aku tidak akan muncul untuk sisa hari ini. Lalu katakan pada Jancer aku minta ia menambah pasukan untuk Jaemin. Beritahu Vicenzo pula aku ingin pelayan Jaemin ditambah. Pilihlah sendiri berapapun pelayan yang kau pikir bisa membantumu mengawasi Jaemin, Nicci."
"Saya mengerti, Paduka."
Tak lama setelah kepergian Nicci, Renjun membungkuk dalam-dalam. "Maafkan saya, Paduka. Saya tidak bisa mendidik Jaemin dengan benar."
Mark sama sekali tidak bersuara.
"Maafkan kegagalan saya. Saya yakin Jaemin tidak bermaksud membuat keributan."
"Benar. Dia hanya ingin mencabut nyawaku secepat mungkin," Mark bergumam.
"Aku!" protes Jaemin terhenti oleh lirikan tajam Mark.
"Saya benar-benar tidak menyangka Ratu bisa berbuat seperti itu," komentar Jeno.
"Aku juga tidak bisa menduga kapan dia akan membuat jantungku berhenti," Mark sependapat lalu ia melihat keduanya, "Tinggalkan kami berdua. Hari ini aku sudah cukup lelah untuk melakukan yang lain. Maafkan aku, Jeno. Bisakah besok kita membicarakannya lagi?"
"Saya mengerti, Paduka," Jeno dapat memahami kepenatan pemuda itu dan ia berpaling pada Jaemin, "Semoga Anda cepat sembuh, Paduka Ratu."
Sesuai dengan perintah Mark, mereka bergegas meninggalkan tempat itu.
Jaemin tidak berani bergerak juga tidak berani mengeluarkan suara. Ia tidak pernah melihat Mark sedemikian murkanya. Jaemin tahu Mark tidak membutuhkan bantahan.
"Jaemin...," Mark menjatuhkan diri di atas Jaemin dan menyusupkan kepalanya dalam-dalam di lekukan leher gadis itu. "Kumohon... kumohon padamu, Jaemin, jangan membuat sesuatu yang mengkhawatirkanku."
Jaemin tidak pernah mendengar Mark begitu putus asa. Ia tidak pernah melihatnya begitu tidak bertenaga seperti ini.
"Berjanjilah padaku kau akan menurutiku. Berjanjilah kau akan beristirahat dengan tenang dan tidak membuat ulah apa pun sampai engkau benar-benar sembuh. Berjanjilah padaku, Jaemin."
Jaemin terpaku.
"Aku tidak bisa hidup dengan ini. Aku tidak sanggup kehilanganmu. Aku tidak sanggup lagi menanggung beban pikiran akan kehilanganmu. Aku sungguh takut, Jaemin. Aku sungguh takut kehilanganmu. Setiap saat aku berpikir kegilaan apa yang tengah kau lakukan. Jangan biarkan aku hidup dalam ketakutan ini. Aku tidak sanggup."
Sang Raja Viering yang ditakuti setiap orang di Viering, ketakutan. Mark yang penuh wibawa itu memohon padanya!
Bunga kegembiraan dalam hati Jaemin mekar. Ia dapat merasakan besarnya cinta Mark padanya. Jaemin menaikkan tangannya memeluk Mark. "Maafkan aku," katanya bersungguh-sungguh. "Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji akan menuruti perintah dokter. Aku berjanji padamu aku akan berdiam diri di tempat tidur sampai aku pulih. Aku berjanji tidak akan membuat keonaran lagi."
Mark mengangkat tubuhnya mendengar rentetan janji Jaemin. "Aku tidak sekedar membutuhkan janji."
"Aku juga tidak sekedar berjanji," Jaemin tersenyum melihat ketidakpuasan di mata Mark. Ia tahu Mark benar-benar mencemaskannya.
Mark hanya menatap ke dalam mata Jaemin. "Katakan, Jaemin."
Jaemin memberikan senyumannya yang termanis dan mengatakannya, "Aku mencintaimu."
Mark pun menyambutnya dengan ciuman yang panjang.

-0-

"Selamat pagi, Paduka."
"Selamat pagi, Taeil," balas Mark.
"Bagaimanakah keadaan Paduka Ratu?"
"Ia sudah membaik tetapi panasnya masih belum turun. Sekarang ia sedang tidur nyenyak."
"Tidur nyenyak?" Grand Duke tidak percaya. Ia tahu benar bagaimana sulitnya membuat Jaemin bertahan di atas tempat tidur sepanjang hari. Hingga detik lalu ia yakin Mark pun tidak dapat apalagi setelah mendengar keributan yang dibuat Jaemin kemarin.
"Ia tidak mempunyai tenaga untuk berbuat apa pun selain tidur," Mark tersenyum penuh arti.
Grand Duke menangkap arti yang tersembunyi dalam kalimat itu dan ia tersenyum pula. Sering ia merasa keputusannya tepat. Namun Jaemin juga sering membuatnya khawatir telah mengambil keputusan yang salah. Namun sekarang tiada lagi yang perlu ia khawatirkan tentang kedua orang ini. Hanya Mark yang bisa mengatasi Jaemin. Demikian pula Jaemin. Hanya ia yang bisa memberikan kebahagiaan pada Mark.
"Taeil," Mark tiba-tiba berubah menjadi serius, "Sudah waktunya kita menyelesaikan masalah ini. Segera kumpulkan orang-orang yang terlibat. Secepatnya lusa besok aku tidak ingin mendengarnya lagi. Dan, Taeil, panggil Jeno menemuiku."