Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Jadi ini adalah drabble multichapter yang simple yang saya buat di tengah-tengah fic BTNS. Just remember fic ini berputar pada SugarDaddy!Kakashi dan SugarBaby!Sakura. Jika tak suka dengan genre ini, silakan kembali.

::::

SHOVE

2

Aku mengerjap-ngerjap tak percaya. Aku memejam mata lagi lalu membukanya dan menemukan pria itu masih duduk di hadapanku, dengan senyumnya yang menawan sembari menatap panggung kecil di depan sana. Ini pasti mimpi. Tidak mungkin orang seperti dia ada di tempat seperti ini, sebuah kafe murah yang terletak di daerah pinggiran kota.

"Apa yang kau lakukan di sini?" bisikku masih tak percaya. Oh God oh God oh God. Apa hanya itu yang pertama kali keluar dari bibirku saat berhadapan dengan pria yang pernah dinobatkan sebagai The Sexiest Man Alive selama dua tahun berturut-turut?

"Apa?"

"Jangan pura-pura bodoh." Hah, kenapa aku mengatakan hal itu padanya? Wajahku rasanya seolah dipenuhi asap seperti ketel air yang dipanaskan. Aku berkata dengan terbata, "Ma-maksudku, kenapa kau ada di sini?"

"Kenapa aku ada di sini?" Pria itu lalu bersandar sambil menatapku. "Aku di sini karena aku ingin. Sesederhana itu."

"Tapi bukankah kau harus…"

"Aku sudah sering ke sini, Nona. Kita hanya baru bertemu," ujar pria itu sambil menyeringai padaku.

Mata abu-abu pria itu berkilat dan senyumnya, oh God, aku bisa pingsan kapan pun. Melihat sosoknya dari jarak sedekat ini adalah sebuah keberuntungan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahkan mengobrol dengannya… jika aku mati hari ini, aku pasti mati dengan bahagia!

Aku berdehem dan senang saat menemukan suaraku tidak hilang akibat berteriak dalam hati. "Maaf jika aku kasar." Memberi kesan buruk pada pria itu saat pertama kali berhadapan langsung seperti ini memang tak bisa dimaafkan. Bad, Sakura, bad. "Hanya saja, aku masih tak percaya…"

"Tidak apa-apa," potong pria itu cepat. "Sebenarnya itu sebuah rekor karena kau berhasil tidak mengenalku selama 10 menit."

"Errr…"Aku menggaruk-garuk pipi. "Mungkin kau tidak terlalu terkenal? Ups. Haha." Hentikan tawa bodoh itu, Sakura!

Pria itu tertawa memperlihatkan gigi geliginya yang tersusun rapi. "Sassy. I like that."

"Jadi apa orang-orang di sini… kau tahu, mengenalmu? Maksudku, jika mereka tahu seorang Kakashi Hatake ada di sini… mungkin mereka…" Aku meracau lagi. Entah apa yang harus kukatakan. Aku terlalu memikirkan apa yang harus keluar dari bibirku agar tak membuat diriku malu tapi malah berakhir berantakan. Ini tidak bagus.

"Pemilik kafe ini adalah sahabatku. Dan siapa yang akan menduga jika seorang seperti diriku akan berada di tempat seperti ini?"

Pria itu menyesap minumannya lagi sembari menatapku, membuatku berusaha agar tak kehabisan napas. Oksigen, ke manakah dirimu saat kubutuhkan?

"Uh… kau benar. Kau pasti memiliki orang-orang untuk mengalihkan perhatian para pencari berita. Jadi siapa lagi yang tahu kau ada di sini?" Aku menarik napas perlahan, berusaha terlihat tak begitu excited yang pada akhirnya akan dipandang norak.

"Oh, jadi kita sudah memasuki sesi interview sekarang?" Pria itu menyeringai sambil mengedip. "Kau tahu ini tidak gratis 'kan?"

Rahangku terbuka lebar membuat pria itu menjulurkan tangannya di atas meja untuk menjangkauku dan menutup rahangku dengan ujung telunjuknya.

"You're adorable." Pria itu kembali bersandar di tempatnya.

"Aku, uuh… aku hanya…" Aku tak lagi bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku hari ini. Yang aku lakukan hanyalah menunduk dan memegang kedua pipiku yang memanas. Adorable! Kakashi Hatake mengatakan itu! Aku tidak percaya! Oh, aku bisa mati dua kali saat ini juga!

"Tidak apa-apa. Tidak semua orang kebal terhadap pesonaku."

Tidak semua orang? Apa maksudmu, Tuan Hatake? Hanya orang bodoh yang kebal terhadap pesonamu! Oh, kau terlalu merendah, Tuan. Itulah kenapa aku menyukaimu!

"Kau baik-baik saja?"

Aku menarik napas dalam-dalam dan menggeleng kuat. "Apa aku bermimpi?" bisikku dengan tatapan yang tak pernah beralih dari Kakashi Hatake. "Apa aku menang undian? Apa kau sedang syuting variety show?"

"Tidak, tidak dan tidak." Kakashi Hatake kembali tertawa.

Aku mendesah lagi. Desahan penuh impian yang menjadi nyata karena tanpa sengaja bisa bertemu dengan artis yang kuidolakan sejak usiaku sembilan tahun. Melihatnya dari jarak sedekat ini, dia ternyata jauh lebih menarik di dunia nyata. Maksudku, dia memang tak tampan seperti David Beckham, atau Brad Pitt, atau Robert Pattinson. Tapi Kakashi Hatake memiliki aura yang... aku mendesis, berusaha mencari kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya. Aura yang membuat seseorang seperti diriku bisa begitu nyaman berada di dekatnya. Oke, mungkin ini adalah efek fangirl-ing dariku yang berbicara. Aku ingat saat dia menghadiri sebuah talk show , bagaimana presenter pria yang bersamanya terus menatapnya dan dengan jelas menunjukkan kekaguman terhadap seorang Kakashi Hatake. Bagaimana pria itu berbicara dengan elegan namun santai, seolah dia memang dilahirkan untuk ini. Dia memang ditakdirkan untuk ini!

Kakashi Hatake lalu memesan semangkuk kripik kentang. Bisa kau bayangkan makan dari mangkuk yang sama dengan Kakashi Hatake? Kurasa perutku jumpalitan sekarang. "Err, aku masih tidak percaya bisa bertemu denganmu, Tuan Hatake," ujarku dengan mata berbinar.

"Hm? Apa kau adalah penggemarku?" Kakashi Hatake membuka topi yang menutupi rambut peraknya. Owh, helaian rambutnya sangat indah membuat jemariku bergerak-gerak gelisah untuk menyentuhnya. Kau pakai sampo apa, Tuan?

"Yeah, sejak usiaku sembilan tahun!" Aku tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua ibu jari tanganku. Apa aku bisa mengacungkan ibu jari kakiku juga?

"Sembilan tahun!" seru Kakashi Hatake sambil memukul pelan permukaan meja. "Wow!"

"Yep," sahutku masih dengan tersenyum lebar. Oh, aku tak peduli dengan kedua pipiku yang mulai sakit dan gigiku yang mulai mengering. "Jadi apa kegiatanmu sekarang?" tanyaku antusias dengan mata berbinar. "Errr, tidak apa aku bertanya 'kan?"

"Tidak apa-apa, santai saja." Kakashi Hatake mengibas-ngibaskan tangannya. "Kegiatanku sekarang? SSDD."

"Apa itu?" Dahiku mengernyit saat melihat pria itu menyeringai.

"Same Shit Different Day."

"Oh." Hm, kosa kata baru, nih. Oke, akan kucatat dalam kamus otakku. Aku lalu mengunyah kripik kentang sambil berkata dengan sok bijak, "Tapi semua orang mungkin seperti itu, Tuan Hatake."

"Begitu?"

"Mm," anggukku, merujuk tidak hanya pada diriku tapi juga pada orang lain di luar sana. "Asal tahu saja, dunia tidak hanya berputar di sekelilingmu." Wow, aku sendiri terkejut bisa berkata seperti itu.

"Kau pasti bercanda!" Pria itu menatapku tak percaya. "Berapa usiamu? Aku tidak sedang mengobrol dengan wanita 50 tahun 'kan? No offense, tapi pemikiranmu cukup dewasa."

"19." Aku menatap Kakashi Hatake dan saat melihat kerutan di dahinya, tiba-tiba wajahku berubah khawatir karena aku memberi tahu usiaku yang sesungguhnya. Apa dia tidak akan mengobrol lagi denganku jika tahu hal itu? Kenapa aku tidak berbohong saja? "Aku… uh, aku mungkin terlalu muda untuk…"

"Tidak, tidak. Bukan itu." Kakashi Hatake tersenyum membuatku bernapas lega. "Aku hanya terkejut ternyata kau sudah menjadi penggemarku selama 10 tahun."

"Can I touch you?" Entah ide gila dari mana yang membuatku tiba-tiba bertanya seperti itu, membuatku mendapati ekspresi terkejut di wajah pria itu.

"Oh? Here." Kakashi Hatake lalu meletakkan tangannya di atas meja, memperlihatkan telapak tangan kirinya padaku.

"Hanya untuk memastikan aku memang tidak sedang bermimpi." Terdengar tawa renyah dari pria itu membuat sepasang mata hijauku menatapnya lalu beralih pada telapak tangannya yang besar dan jemarinya yang ramping dan panjang. "Sangat lembut," bisikku saat ujung jari telunjukku mengusap telapak tangannya. Oh,God, aku menyentuhnya! Aku menyentuhnya! Aku bisa melakukan ini sepanjang hari meski cuma menyentuhnya! Dadaku berdegup semakin kencang dan aku sadar bahwa aku bisa mempermalukan diriku kapan saja, kutarik tanganku untuk kembali ke sisi tubuhku, tak berani menatap pria itu.

"Kau yakin usiamu 19 tahun?" tanya Kakashi Hatake, kali ini dengan nada suara yang berbeda dari sebelumnya. Aku mengangkat wajah dan melihat kilatan penuh arti dari sepasang mata abu-abunya. Aku meneguk ludah.

"Yeah…" ujarku setengah berbisik, masih tak bisa mengalihkan mataku dari pria itu. Apa artinya? Kenapa dia bertanya seperti itu? "Kenapa?" Namun yang kudapati hanyalah senyum menawan darinya.

Aku lalu meraih ponsel lipat di saku celanaku yang bergetar. Sialan, mengganggu saja! Saat membaca satu pesan di sana, aku bisa merasakan Kakahi Hatake menatapku. Atau mungkin menatap ponselku.

"Yang benar saja."

Atmosfir di antara kami tiba-tiba berubah. Setidaknya begitu yang kurasakan. Aku tidak suka ini. "Apa?" Aku membalas pesan tanpa menatapnya. Nada suaranya membuatku sadar jika dia sedang menatap ponselku.

"Ini tahun 2018. Kau masih pakai itu? Ada apa dengan ponsel pintar? Kau tidak bisa membelinya?"

"Terima kasih infonya," ujarku datar. Aku menutup ponsel lipatku dengan keras, memasukkan benda itu ke saku celanaku dengan kesal. Aku menatap tajam pria itu yang men-judge diriku. Kenapa kau harus mengacaukan pertemuan kita dengan pertanyaan itu, Kakashi Hatake? Aku menarik ranselku, memperbaiki posisinya di kedua pundakku dan beranjak. "Maaf, Tuan Hatake, jika aku masih hidup di tahun 2000. Tapi aku tidak suka jika setiap kali orang-orang menatapku atau menatap benda-benda yang kupakai, mereka berkata seperti itu."

Aku berusaha agar suaraku tak terdengar bergetar. Tidak semua orang memiliki uang banyak, tidak semua orang memiliki pekerjaan yang bagus hingga bisa memiliki tiga ponsel sekaligus. Tidak semua orang masih memiliki orang tua untuk membiayai kuliah mereka. Untuk kuliah saja aku perlu merangkak dan hanya membeli barang-barang yang benar-benar kubutuhkan. Aku bahkan mengajukan beasiswa kuliah. Aku memilih tidak tinggal di asrama karena tak ingin para mahasiswa di sana mengasihaniku atau… menghinaku. Seperti yang kurasakan sekarang ini.

"Hei. Bukan begitu maksudku."

"Yeah, lalu apa?"

"Aku hanya…"

Aku tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara karena tanpa aku sadari kakiku kini setengah berlari keluar dari kafe. Oh, God, kenapa rasanya begitu sakit? Dadaku sakit. Sakit sekali. Jika Ino yang mengatakannya, mungkin aku tidak akan terlalu keberatan. Tapi mengingat kalimat itu keluar dari seorang Kakashi Hatake, my long time crush sejak usiaku sembilan tahun, di mana kamarku dipenuhi dengan poster-posternya, bahkan hingga sekarang, aku diliputi kekecewaan.

::::

TBC

::::

POJOK REVIEW

Febri593: Haha. Ini impian sejak dulu sebenarnya buat fic dengan tema ini tapi baru bisa diwujudkan sekarang. Hope you like it. Thanks.

Guest: thanks kritiknya. Mungkin faktor kurang biasa aja pakai first pov karena ini baru kali kedua saya memakainya.

Kamizukyz: Thanks.

KanonAiko: Kakashi juga rindu padamu, aunty. Hahaha.

Hvig: Thanks ripyunya.

Ai Chwann: Thank you.

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.