Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

3

"Sudah selesai?" tanya Ino sambil melirik laptop di pangkuanku.

"Sedikit lagi," jawabku dengan mata yang tak pernah beralih dari layar laptop. Aku harus segera menyelesaikan tugas kuliah secepat mungkin karena laptop yang kupakai saat ini adalah milik Ino. Aku mendengar gadis pirang itu menyeruput milkshake-nya lagi. Aku memindahkan data-data milikku ke flashdisk dan… "Selesai!" Dengan cepat Ino menarik laptop miliknya. "Uh, oke, terima kasih banyak."

"Sudah bawa laptopmu untuk diperbaiki?" Kali ini Ino memindahkan data-datanya, sebagian besar foto-foto selfie, lalu mengeditnya. Aku belum menjawab saat dia kembali bertanya, "Menurutmu bagus mana? Yang ini atau… yang ini?"

"Bagiku tampak sama saja." Jawaban yang salah. Pada akhirnya Ino tidak akan berhenti bicara mengenai perbedaan di antara kedua foto yang dia tunjukkan padaku. Dia harus ikut lomba Temukan 10 Perbedaan dalam Gambar, dan Ino pasti jadi pemenangnya.

"Sama? Yang ini lebih terang dan yang ini lebih gelap. Tapi yang ini warna mataku lebih jelas. Oh, lihat rambut itu. So shiny! Jadi yang mana menurutmu lebih bagus?"

"Yang ini," tunjukku pada foto pertama. Ino terlihat lebih cantik di situ dengan warna matanya yang biru serta latar cahaya di senja hari, meski pada foto kedua hanya berbeda pada pengambilan sudut gambar.

"Tapi satu jerawatku kelihatan," ujar Ino dengan nada tak suka.

"Kau jago mengedit. Edit saja. Atau pakai kamera jahat," sahutku sambil memutar kedua bola mata. Aku harus segera pergi dari sini. "Sampai jumpa, Ino."

"Mmhmm," jawab Ino yang kini sibuk mengedit.

Aku berjalan meninggalkan gadis pirang itu, melewati koridor-koridor kampus sebelum tiba di salah satu gedung asrama mahasiswa. Aroma pembersih lantai segera tercium sesaat aku mendorong pintu Plexiglas agar membuka. Koridor nampak sepi di jam 10 pagi. Ketika melihat ke sebelah kanan, kutemukan sebuah jendela di atas meja yang membentuk semacam kasir dan seorang sekretaris yang sedang menelepon. Aku menunggu wanita itu menyelesaikan pembicaraannya.

"Ya?" Resepsionis itu melihatku.

"Aku ingin mengunjungi seseorang," jawabku.

"Siapa?"

"Naruto. Namikaze Naruto."

"Tunggu sebentar." Si resepsionis membuka sebuah buku besar dan jemari lentiknya mencari nama yang aku sebutkan. "Kau beruntung. Dia belum keluar saat ini. Tulis namamu dan nama orang yang kau kunjungi di buku yang ini."

Aku mengangguk pelan dan melakukan instruksinya.

"Sebenarnya aku agak bosan harus mengulangi kata-kata itu tiap kali ada orang yang keluar masuk di sini." Si resepsionis tertawa.

"Same Shit Different Day," timpalku, mengingat kalimat pria itu semalam di kafe. Jujur saja aku membenarkan perkataannya. Si resepsionis kembali tertawa.

"Kau benar, dear, kau benar!"

Aku mengetuk salah satu pintu kamar dan seorang pemuda dengan wajah rupawan membukanya. "Kau bukan Naruto," ujarku dengan dahi mengernyit.

"Dia masih tidur."

Pemuda itu membuka pintu lebih lebar dan aku segera masuk hanya untuk menemukan orang yang kucari masih mendengkur di tempat tidur. Aku kembali menatap pemuda yang membukakan pintu tadi. Dia hanya mengenakan boxer dan kaos putih sambil memegang secangkir kopi.

"Kau mau aku membangunkannya?" tanya pemuda itu yang dari tatapan mata black jade-nya bisa kuketahui jika dia juga sedang menilai diriku.

"Tidak usah." Aku langsung duduk di meja belajar milik Naruto, membuka laptopnya dan segera mencetak tugas kuliahku. "Bilang saja padanya kalau tadi aku ke sini." Segera kukumpulkan lembar demi lembar tugasku dan menyatukannya dengan paper clip. "Oh, boxer yang bagus, omong-omong," ujarku sambil menyeringai lalu menutup pintu dari luar.

Kegiatan perkuliahan rasanya berlangsung singkat karena aku hanya memiliki dua mata kuliah hari ini jadi sekitar pukul dua siang, aku meninggalkan kampus menuju perpustakaan wilayah. Aku suka berada di sana karena tidak hanya dekat dengan kafe Army, tapi juga hanya perlu berjalan kaki selama lima menit untuk sampai di tempat tinggalku. Jadi di sinilah aku sekarang, dengan kopi hitam di cangkir kertas, menghabiskan waktu dengan membuat sketsa di buku setelah membaca sebuah buku non-fiksi.

Aku sadar waktu sudah menunjuk pukul lima sore. Aku bahkan telah membuat lima sketsa hari ini. Wajah Naruto yang sedang tidur, pemuda bermata black jade itu—hm, dia cukup tampan—danau di taman kota, serta dua sketsa wajah Kakashi Hatake yang kutemui semalam. Ujung ibu jariku menghitam saat mengusap-usap sudut bibir Tuan Hatake untuk membuat gradasi. Aku tersenyum saat melihat hasilnya. Ah, bagaimana aku bisa membencimu jika kau setampan ini, Kakashi Hatake?

"Yup, definitely handsome."

Aku terkesiap, refleks membalik buku sketsaku dan menoleh pada suara yang berasal dari kursi di belakangku. Aku menemukan sepasang abu-abu milik pria itu dan senyum tipisnya yang bisa membuat lututku meleleh seperti mentega yang dicairkan. "Kau!"

Kakashi Hatake sedang duduk dengan dagu diletakkan di atas kedua tangannya yang terlipat di punggung kursi, masih menatapku.

"Sejak kapan kau di situ?"

"10 menit yang lalu."

"Aku tidak mendengarmu." Mataku lalu memicing. "Apa yang kau lakukan di sini? Menguntitku?"

"Kau terlalu larut dalam duniamu sendiri. Gambar yang bagus. Boleh aku lihat?" tunjuk pria rambut perak itu pada buku sketsaku, mengabaikan pertanyaanku.

"Tidak boleh." Aku mendengus, memasukkan buku sketsaku dengan terburu-buru ke dalam ransel, bersiap-siap untuk pergi.

"Ada apa denganmu? Semalam kau sangat berbeda. Maksudku, aku sangat menikmati percakapan kita semalam dan tiba-tiba…"

Aku tidak menjawab dan hanya berjalan meninggalkannya. Wow, aku terkejut pada diriku sendiri yang dengan begitu gagahnya meninggalkan seorang Kakashi Hatake. Apa kita sedang syuting sebuah film? Lalu di mana kamera-kamera itu? Mungkin aku tanpa sengaja ikut dalam permainan Menahan Godaan dari Kakashi Hatake?

"Aku minta maaf."

Kalimat itu membuat langkahku berhenti.

"Aku minta maaf, oke? Apapun yang kulakukan atau kukatakan semalam, aku sungguh-sungguh minta maaf."

Aku berbalik dan melihat Tuan Tampan Pemilik Senyum Menawan itu berdiri dengan kasual, kedua tangannya berada di saku jaket hitamnya. Sepasang mata abu-abunya menatapku layaknya seorang anak kecil yang tidak tahu kesalahannya ada di mana. Ouch, hatiku terenyuh melihatnya. Aku lalu menarik napas panjang.

"Tidak apa-apa, Tuan Hatake." Tangan kananku bergerak perlahan menuju saku jeans-ku di mana ponsel lipatku berada. Mungkin aku yang terlalu mudah tersinggung. Mungkin aku yang terlalu lelah dan banyak pikiran malam itu. Seharusnya aku mengambil sisi positifnya saja, bukannya langsung lari seperti semalam. "Seperti yang kau bilang, Same Shit Different Day." Dan aku tersenyum. Pria itu membalasku dengan seringai khasnya. "Jadi apa kau sedang syuting di sini? Atau kau sengaja menguntitku?"

"Hei, aku bahkan tidak tahu kau ada di sini." Kakashi Hatake bersikap defensif dan aku tahu dia berkata jujur. Dia lalu bergerak mendekatiku. "Kami ada pengambilan gambar di kota ini, di beberapa wilayah tertentu."

"Apa perpustakaan ini jadi salah satunya?" Aku menengadah untuk melihatnya yang kini berdiri tepat di hadapanku. Oh, God, kepalaku bahkan hanya mencapai pundaknya. Dan aroma apa ini? Aroma yang menguar dari tubuhnya. Aroma yang menggambarkan spontanitas, menawan dan mencuri perhatian. Seperti dirinya. Aku tidak keberatan untuk mengendusmu setiap hari, Tuan Hatake. Mataku yang terpejam tiba-tiba membuka dengan cepat. Apa yang kulakukan? Apa aku benar-benar mengendusnya? Apa dia melihatku? Aku menengadah kembali dan mendapati pria itu menyeringai. Oh, dia memergokiku. "Uh, itu, aku…" Tidak tahu berkata apa lagi, aku berjalan menuju pintu keluar dan pria itu mengikutiku.

"Nah," geleng Kakashi Hatake yang kali ini sudah memasang topi baseball dan kacamata dengan lensa polar pelangi. Sebuah buku tebal terapit di lengan kirinya. "Aku hanya mencari referensi tentang tokoh yang kuperankan kali ini."

Aku ingat pernah membaca sebuah artikel jika Kakashi Hatake akan bermain sebagai tokoh yang memiliki kepribadian ganda. Tapi aku tak tahu jika syutingnya akan berlangsung di kota Konoha. Mungkin inilah yang dimaksud pria itu.

"Bagus. Bagus sekali," ujarku sambil mendorong pintu dan seketika aku menariknya kembali agar tertutup dan menahannya. "Kau ke sini dengan siapa?"

"Sendiri. Supirku menunggu di ujung jalan… oh shit. Mereka ada di luar?"

Aku mengangguk.

"Berapa banyak?"

Aku menggeleng. "Mereka pasti menguntitmu. Topi baseball dan kacamata itu tidak cukup untuk menyembunyikan wajahmu." Karena kau terlihat semakin tampan dengan kacamata itu, shit. "Ikuti aku. Aku tahu jalan keluar dari sini."

Seorang pustakawati terkejut melihat kami bergerak di antara rak-rak buku dan seolah tahu apa yang membuat kami tergesa-gesa, dia menunjuk jalan keluar yang terletak di bagian belakang perpustakaan, dekat dengan bagian kearsipan.

"Hubungi supirmu untuk menunggu di luar. Jadi kau bisa langsung masuk ke mobilmu begitu kita keluar dari sini." Aroma buku-buku tua terasa menyengat tapi aku tak keberatan. Cahaya matahari sore menyilaukan mata saat aku berada di luar. Kakashi Hatake masih lebih beruntung karena mengenakan kacamata polar. Aku menarik napas lega saat mengetahui sisi jalan ini nampak sepi. Orang-orang yang mengejar pria itu sampai ke perpustakaan mungkin tidak menyadari jika incaran mereka sudah melarikan diri. Mwahahaha!

Pria itu memasukkan kembali ponsel ke saku jeans-nya dan tak sampai 30 detik, jemputannya tiba. Meski menampilkan senyum terbaik, namun hatiku masih terasa berat untuk melepas pria itu.

"Ikutlah denganku," kata Kakashi Hatake sesaat sebelum masuk ke mobil hitam.

"Apa?"

"Ska vi fika?" Dia bertanya dalam bahasa yang tak aku mengerti, kali ini dengan suara bariton yang lebih rendah dari sebelumnya.

"Huh? Aku… apa artinya?"

Kakashi Hatake lagi-lagi memperlihatkan senyumnya yang menawan dengan pintu mobil terbuka lebar. Kepalaku miring ke satu sisi. Dia mengajakku? Tapi ke mana? Lalu aku melihat beberapa orang mulai bermunculan di ujung gang di belakang kami sambil menyerukan nama pria yang sedang bersamaku. Aku tidak mengerti apa pertanyaannya tadi tapi yang jelas… "Oh, fuck it. I'm in!"

::::

TBC

:::

Glosarium:

Ska vi fika (Swedia): coffee date

POJOK REVIEW

Ai Chwann: thanks.

Zeedezly. Clalucindtha: Yup.

Febri593: Benar sekali.

Hvig: Sugar daddy—pria usia 30-40 th atau lebih tua lagi, di mana mereka menghabiskan uang demi wanita muda yang membutuhkan. Ide tentang Sugar Daddy adalah kaya raya sebenarnya penuh stereotype dan klise ya. Faktanya, kadang-kadang wanita muda yang miskin atau membutuhkan, sebenarnya hanya menginginkan Sugar Daddy untuk memberi makan, atau membelikan tv atau membiayai pendidikan hingga wanita muda ini bisa mandiri.

Sugar Daddy, di mata orang awam dianggap sebagai "kegiatan tak bermoral" tapi hal ini terjadi hanya karena sesuatu yang tabu seperti hubungan pria tua/wanita muda yang memang masih belum bisa diterima masyarakat daripada masalah uang itu sendiri. Karena hal yang masih dianggap tabu inilah, menjadi Sugar Daddy atau memiliki Sugar Daddy (disebut Sugar Baby female jika wanita dan Sugar Baby male jika pria muda), kebanyakan hubungan ini dirahasiakan. Kau tidak akan pernah tahu jika seorang wanita usia 20 tahun memiliki Sugar Daddy berusia 40 tahun yang memiliki gaji di atas 50 juta/bulan dan selalu menyirami Sugar Baby dengan apapun seolah wanita itu adalah istrinya.

Semoga bisa menjawab kebingunganmu. Thanks.

Yumehara: thanks.

KanonAiko: Baik. Amaya juga baik, aunty.

Terima kasih buat yang udah fave dan follow fic simple ini *bow*

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.