Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
4
Aku melirik Kakashi Hatake yang tengah memainkan ponsel pintarnya sepanjang perjalanan menuju... aku tak tahu apa yang tadi dia katakan. Tapi aku rela ke manapun kau mengajakku pergi, Kakashi Hatake! Lalu apakah artinya ini adalah kencan?! Kembali aku merasakan wajahku memanas seperti ketel air di atas kompor. Bibirku pun menyunggingkan senyum. Ah, mimpi apa aku semalam?
"Tenzou, kita berhenti di Fika."
"Baik."
Dengan memarkir mobil di salah satu gang yang agak jauh dari keramaian, Kakashi Hatake turun dari mobil. Aku tidak sadar pintu mobil di sisiku telah membuka saking sibuknya dengan pikiranku yang menduga-duga jika aku sedang kencan bersama pria itu. Aku hanya menengadah padanya yang berdiri di luar sambil menatapku dengan sepasang mata abu-abunya yang berkilat. Oh, aku tidak bisa merasakan kakiku!
Berdehem keras untuk menyembunyikan kegugupanku, aku turun dari mobil. Tak ada kesulitan berarti saat kami memasuki bangunan dua lantai melalui jalan belakang dan menyadari jika bangunan tempatku berdiri sekarang adalah kedai kopi bernama Fika. Oh, jadi dia mengajakku minum kopi. Seringaiku menjadi semakin lebar. Jadi apakah ini yang dimaksud dengan coffee date? Tiba-tiba aku panik. Coffee date?! Shit! Bagaimana penampilanku? Rambutku rambutku… Aku mengendus sembunyi-sembunyi lengan dan ketiakku. "Uh, apa aku bisa ke toilet sebentar?"
"Tentu," sahut Kakashi Hatake. "Aku akan menunggu di sana," tunjuknya pada salah satu meja yang terletak di sudut dan agak tersembunyi.
Aku mengangguk pelan dan setelah yakin tidak terlihat lagi, aku segera berlari ke toilet dan menumpahkan isi ranselku ke wastafel. Buku, pulpen, buku, kertas post-it, buku, tagihan listrik, struk belanja, buku tabungan, bukti setor tunai… where the fuck deodorant is when you need it the most?! Oh, there it is. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri lalu membuka kemeja flanel hijau tua yang kukenakan. Aku lalu membasuh wajah, leher, lengan serta ketiakku, mengeringkannya dengan tisu lalu memakai deodorant. Aku mengikat ekor kuda rambut merah mudaku, menepuk-nepuk pipiku agar tampak merona. Aku merapikan kembali isi ranselku dan setelah itu aku siap. Kencan pertamaku dengan Kakashi Hatake. How cool is that?!
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu begitu aku duduk di depannya.
"Ya, tidak. Aku tidak baik-baik saja." Aku menarik napas panjang, kakiku bergerak-gerak gelisah. Mataku memerhatikan sekeliling. Kedai yang sangat nyaman dan seharusnya bisa membuatku tenang. Tapi bagaimana aku bisa tenang jika kini aku duduk berhadapan dengan Kakashi Hatake?
"Hei, tenanglah." Jemari pria rambut perak itu kembali menyentuhku di bagian pipi, membuatku menatapnya. Apa pria ini mengerti tentang personal bubble? Tapi aku sih tidak masalah selama itu Kakashi Hatake. Aku mencoba tersenyum. "Nah, begitu."
Salah satu pelayan wanita mendekati meja kami. Kakashi Hatake mulai melihat menu dan aku tak pernah mengalihkan mataku dari wajah pria itu. Sepasang mata abu-abu terang, tulang pipi yang tinggi, hidung mancung, bibir menyerupai busur Cupid, dan rahang yang terpahat tegas. Pria ini bukan manusia, dia adalah Adonis.
"… cchino. Dan kau memesan apa?"
"Huh? Apa?" Aku mengerjap-ngerjap. "Kau bicara padaku?"
Kakashi Hatake hanya tertawa ringan. "Ya, Nona. Kau pesan yang mana?"
"Uh, yang biasa saja." Aku menggigit bibir bawah. Aku tidak membaca daftar menu jadi aku tidak tahu jenis kopi apa saja yang ada di kedai ini. Sejujurnya aku tidak begitu tahu ada berapa jenis kopi yang disediakan di sini. Kuharap saat berkata 'yang biasa saja' itu artinya espresso. Aku menatap Kakashi Hatake kembali dan dahinya mengernyit.
"Macchiato untuknya."
Aku tidak tahu Macchiato itu jenis kopi yang seperti apa. Tapi jika itu adalah pilihan Kakashi Hatake, aku tidak keberatan. Aku menengadah pada wanita yang melayani kami. Pelayan wanita itu tersenyum manis sambil menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Dua kancing teratas dari seragam kerjanya terbuka, memperlihatkan belahan dadanya. Wow, dia flirting dengan Kakashi Hatake. Haha.
Selang setengah jam kemudian, aku menikmati Macchiato dan Kakashi Hatake menyesap Marocchino miliknya. Untuk pertama kalinya aku juga memakan smӧrgås—sandwich yang diisi mentega, keju, daging dingin dan sayur. Enak dan mengenyangkan! Oh, dan juga cinnamon buns serta tart almond!
"Aku tidak tahu namamu." Kakashi Hatake menatapku dari balik cangkirnya.
"Sakura. Ha-Haruno Sakura," jawabku setelah menyesap kopi.
"Senang bertemu denganmu, Sakura," sahut Kakashi Hatake.
"Senang bertemu denganmu juga Tuan Kakashi," balasku setelah menelan segigit tart almond.
"Please, just Kakashi."
"Oke, Kakashi." Wajahku menyeringai lebar hingga pipiku sakit. Jadi sekarang kita memanggil nama pertama, ya? Aww, Kakashi Kakashi Kakashi Kakashi, aku tak akan pernah bosan menyebut namamu! Aku bahkan mengigau menyebut namamu dalam tidurku! "Jadi apakah ini kencan?"
"Ya, ini kencan," jawab Kakashi membuat ribuan titik darah berkumpul di kedua pipiku.
Kencan dengan Kakashi Hatake! Oksigen, oksigen, kau di mana?
Kami mengobrol lagi mengenai kegiatannya di kota Konoha. Aku memberitahunya jika diriku adalah mahasiswi jurusan literatur tahun kedua. Dia berkata bahwa dia juga menyukai literatur dan membaca banyak novel. Dia bahkan punya perpustakaan kecil di rumahnya. Dan aku hanya… wow, perpustakaan kecil?
Garis peach dan semburat jingga sekali lagi mewarnai langit. Rasanya senja datang begitu cepat, sangat cepat hingga aku berharap sore tidak akan pernah berakhir. Aku menghabiskan kopi yang tinggal sedikit hingga tetes terakhir karena aku tidak yakin apakah aku akan kembali ke sini jadi aku berusaha untuk menikmati setiap detiknya. Aku kembali menatap Kakashi yang kini sibuk membalas pesan di ponselnya dengan lincah dan aku mendesah.
"Apa manajermu tidak mencarimu?" tanyaku sambil menarik ranselku ke pangkuan.
"Dia mencariku, tentu saja. Dia menyuruhku segera kembali ke hotel. Aku ada talk show malam ini," jawab Kakashi sambil menyimpan ponselnya ke saku jeans hitamnya. "Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu."
Dia ada talk show malam ini tapi menyempatkan diri untuk minum kopi bersamaku? Seorang Sakura Haruno, bukan artis atau orang terkenal ataupun hubungan pekerjaan, hanya mahasiswi biasa yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat? Aku menahan senyum dengan menggigit bagian dalam pipiku kuat-kuat. Selama dua hari ini, hidupku terasa luar biasa. Di tengah-tengah kesibukan kuliah dan beberapa kesialan yang menimpaku, alam semesta sepertinya bekerja untuk memberiku satu kebahagiaan yang tak bisa terlukiskan. Bertemu dengan Kakashi Hatake. Berbincang bahkan menyentuhnya. Lari dari perpustakaan menghindari fans. Coffee date bersamanya. Bahkan sedikit marah padanya. Ini terlalu menakjubkan. Jika aku benar-benar sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan aku!
Mobil yang membawa kami berhenti di depan sebuah bangunan lima lantai. Kakashi menahan lenganku saat aku berniat turun, membuat jantungku berdegup ribuan kali lebih cepat dari biasanya.
"Ponselmu?"
"Uh, ada apa dengan ponselku?"
"Berikan saja ponselmu padaku." Telapak tangan pria itu menghadap ke atas. Sambil menggigit bibir bawah aku memberikan ponselku padanya. Dia meraih benda itu, membukanya lalu memberikannya lagi padaku. "Password?"
"Oh." Aku mengambil ponsel lipatku dan mengetik password-nya. Saat benda itu kembali ke tangannya, dia mulai mengetik sesuatu dan selang beberapa detik kemudian sebuah lagu terdengar dari ponselnya.
Hooooly shiiiit… Kakashi memberikan nomornya padaku? Benar-benar nomornya? Nomor pribadinya? Bukan nomor manajernya atau nomor siapapun itu? Air mata haru memaksa untuk keluar. Sialan, meski ini air mata bahagia, aku tidak ingin dia melihatku menangis seperti anak kecil yang diberikan sepeda atau beruang Teddy sebagai hadiah ulang tahun.
"Aku sangat menikmati hari ini," ujar Kakashi setelah mengembalikan ponsel lipatku.
"Aku juga. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Bagiku ini adalah hari yang luar biasa," sahutku dengan tatapan yang tak beralih dari wajahnya. Entah keberanian dari mana, aku pun mengecup pipinya. Kecupan singkat tapi cukup untuk membuat tubuhku panas dingin. Aku tak peduli usianya berapa! Aku berhasil menciumnya, astaga!
Aku mendengar tawa renyah dari pria itu yang kini membuka pintu di belakangku. "Maaf aku tidak turun mengantarmu. Kau tahu… siapa pun bisa melihat… kita."
"Oh, tapi orang-orang bisa saja menduga kalau aku hanya asisten pribadimu," gumamku menyadari penampilanku hari itu. Mengingat pelayan wanita tadi di kafe yang mengabaikanku, kurasa dia menduga seperti itu.
"Bagiku kau adalah teman kencanku hari ini. Teman kencan yang cute, adorable, menyenangkan." Kakashi Hatake memakai suara bariton rendah itu lagi, membuat napasku tercekat di tenggorokan. "Off you go, kitten."
…
Kitten. Aku guling-guling di tempat tidur.
Cute. Aku memegang kedua pipiku yang memanas.
Adorable. Oh, Tuan Kakashi. Bukan aku yang adorable melainkan dirimu. Bagaimana bisa pria sepertimu ada di dunia ini?
Aku membuka laci bufet dan menarik salah satu edisi majalah Esquire di mana dia menjadi cover. Aku memeluk majalah itu ke dadaku dan untuk hari ini… Tuan Kakashi, bolehkah aku kali ini tidak setuju dengan quote Same Shit Different Day milikmu? Karena hari ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.
::::
TBC
::::
Glosarium:
Macchiato: espresso yang ditambah sedikit susu (steam milk) tanpa diaduk tapi terlihat seperti diendapkan di bagian atas espresso agar melapisinya. Ada dua macam jenis macchiato yaitu espresso macchiato dan latte macchiato.
Marocchino: dari Italia, terbuat dari espresso yang ditambah dengan sedikit susu buih dan coklat bubuk. Kopi ini memiliki rasa manis dan lembut.
POJOK REVIEW
Pearl Jeevas: saya jg merasa kalau fic crackers lebih cocok ya haha. Nggak perlu mikir keras buat chap berikutnya. Thanks.
Yumehara: thanks.
Hvig: sama-sama. Thanks.
Ai Chwann: ini udah manis? Thanks.
Lady Violet: thank you.
KanonAiko: Aunty nanti jadi sider aja. Jangan gangguin mereka. Anw thanks ripyunya.
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
