Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

5

Rasa gugup belum hilang meski mobil yang kutumpangi memasuki sebuah pekarangan rumah yang dipenuhi dengan rumpun begonia yang tertata rapi. Di dalam mobil aku menarik napas panjang beberapa kali, melirik wanita yang berdiri di luar dengan senyum hangat di wajahnya. Tubuhku masih gemetar saat membuka pintu mobil namun tangan wanita itu menyentuh lembut pundakku, berusaha menenangkan diriku. Keds lusuhku menginjak lantai paving dan kini aku berdiri sambil menatap rumah kayu bercat putih di hadapanku.

"Siapa namamu, sayang?"

Seorang wanita yang memiliki rambut kecoklatan bertanya padaku. Aku menoleh pada Shizune-san, wanita yang membawaku ke rumah ini, dan dia mengangguk pelan.

"Sa-Sakura Haruno," jawabku lirih sambil memainkan ujung kaosku.

"Nama yang indah."

"Terima kasih," sahutku pelan. Kedua wanita itu kemudian kembali berbincang dan aku memilih untuk melihat sekeliling. Ruang tamu yang didominasi warna coklat dan hijau mengingatkanku akan hutan di belakang sekolah. Beberapa lukisan yang membuat kepalaku miring ke satu sisi, nampak tergantung di dinding. Ruangan ini terasa nyaman, tidak seperti tempat tinggalku sebelumnya. Aku lalu berjalan ke ruang keluarga dan sekali lagi menemukan perasaan nyaman mengalir di dadaku. Dari sini aku mendengar samar-samar kedua wanita itu masih berbincang mengenai diriku.

"Pengadilan telah memutuskan jika Sakura…"

Saat aku kembali duduk di sebelah Shizune-san, wanita berambut coklat itu melihatku dengan sepasang mata coklat madunya yang menenangkan. "Kau suka?" Dia bertanya dan aku mengangguk. "Mulai saat ini kau tinggal bersamaku, Sakura. Kau tidak keberatan?"

Aku mengedip pelan, ingatan-ingatan mengenai apa yang kualami di tempat tinggalku sebelumnya kembali berkelebat di kelopak mataku. Aku lalu menggeleng pelan. Wanita itu, yang kuketahui bernama Tsunade, tersenyum lebar. Dia lalu membawaku ke lantai dua, Shizune mengekori kami, sebelum berhenti di depan sebuah pintu. Tsunade lalu membukanya dan menemukan satu hal yang membuat dadaku berdegup kencang.

Sebuah kamar.

Kamar dengan tempat tidur satu orang, sebuah bufet sederhana, lemari tak jauh dari pintu masuk serta laci ukuran besar di sebelahnya. Yang membuat kamar itu tampak menakjubkan adalah kertas dindingnya yang berwarna hijau dengan kelopak-kelopak bunga sakura berguguran. Tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum. Rasa gugup yang sedari tadi melingkupiku pun perlahan menghilang.

"Apakah ini…" Aku melangkah masuk, tidak menyelesaikan kalimatku.

"Ya, Sakura. Ini adalah kamarmu."

Aku menengadah pada Tsunade yang merangkul pundakku lalu melihat Shizune, wanita penyelamatku. Aku menyeringai seolah berkata pada Shizune, "Kamarku sendiri. Lemariku sendiri. Laciku sendiri." Dan wanita itu menanggapiku sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

"Ini menakjubkan," ujarku dengan suara tercekat. Aku segera lari ke arah tempat tidur, naik ke atasnya dan melompat-lompat. Aku tidak peduli apa kata kedua wanita itu saat melihatku. Hei, ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak usia sembilan tahun!

"Kurasa dia menyukainya!" Terdengar tawa dari Shizune.

"Dia anak yang manis. Kurasa kami bisa bekerja sama." Kali ini Tsunade yang berbicara.

Aku melompat turun dari tempat tidur dan segera memeluk kedua wanita itu. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih!" Aku mengucapkannya seperti merapal mantra.

Pukul lima sore, Shizune pun meninggalkan kami. Dia berjanji akan kembali di akhir pekan untuk mengunjungiku, begitu juga di pekan-pekan berikutnya. Saat mobil Shizune tak nampak lagi, Tsunade mengajakku membuat makan malam seraya menceritakan kisahnya sendiri padaku.

Tapi kenyamanan yang begitu menakjubkan ini seakan sirna begitu aku memasuki hari pertama di sekolah baruku. Entah bagaimana berita beredar dengan sangat cepat. Anak-anak di sekolah mengetahui bahwa diriku adalah seorang foster child—anak asuh—dan sejak hari itu mereka merundungku.

Ini adalah hari kelima beberapa anak merundungku dengan meletakkan sisa-sisa permen karet di tasku, melemparku dengan bola saat pelajaran olahraga atau menghinaku secara verbal. Aku pulang berjalan kaki menuju rumah, menyapukan jemariku pada pagar-pagar kawat sambil menarik napas panjang. Aku mengusap pipiku yang basah oleh air mata dan bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah salah menjadi seorang anak asuh? Bukan keinginanku ayahku sekarang dipenjara karena narkoba. Bukan mauku ibuku tidak becus merawatku dan kini berakhir di pengadilan dengan keputusan tak bisa lagi mendapat hak asuh. Semua anak ingin terlahir dalam keluarga yang sempurna. Yang penuh canda tawa dan menikmati makanan enak.

Tapi saat kulihat wajah penuh senyum dari Tsunade dan tawa hangat dari Shizune yang menungguku pulang sekolah di hari Jumat, kesedihanku sirna seketika. Aku beruntung dipertemukan dengan dua wanita ini. Dua wanita yang bekerja keras mengembalikan rasa percaya diriku, mengembalikan diriku yang hilang.

Ponselku meneriakkan alarm membuatku bangun dengan menggeragap. Aku segera melompat dari tempat tidur dan seketika aku mendengar suara robekan kertas. Mataku membeliak saat menyadari jika semalam aku membawa tidur majalah Esquiere. Kuangkat telapak tangan dan aku pun memaki pelan saat menemukan sampul majalah itu robek. Aargh, majalah edisi terbatas yang kubeli setelah menabung selama dua bulan pada akhirnya robek juga. Sial!

Aku menyimpan majalah itu kembali ke laci bufet sambil menyerot hidung dan bergerak pelan menuju kamar mandi. 10 menit kemudian aku keluar, memakai kemeja flanel biru navy di atas kaos putih bertuliskan I Love Konoha—norak? I don't give a shit—jeans hitam, dan keds hitam. Aku mengikat ekor kuda rambut merah mudaku. Menyampirkan ranselku di salah satu pundakku, aku menapaki beberapa anak tangga untuk membuka pintu tempat tinggalku. Anak tangga? Yup, aku tinggal di basement yang tidak digunakan oleh pemilik gedung. Sekali lagi kau tidak salah baca. Aku memang tinggal di salah satu basement bangunan itu. Basement itu tidak terlalu luas dan kata pemilik gedung, daripada tidak terpakai, lebih baik disewakan. Kebetulan harga sewanya cocok, jadi aku mengambilnya tanpa pikir panjang. Tanpa pikir panjang. Sekali lagi itu benar. Saking murahnya, aku tidak mendapatkan air hangat. Haha. Ironis. Tapi tidak mengapa. Yang penting aku masih bisa mandi. Selalu melihat sisi positif dari semuanya, begitu kata Tsunade.

Aku ada kelas pukul sembilan pagi. Waktu menunjuk pukul setengah sembilan jadi aku masih punya waktu setengah jam. Berjalan kaki menuju kafe Army untuk memesan espresso, ponselku bergetar. Aku membukanya.

Good morning.

Pesan dari seseorang bernama K. K? Aku mengernyit. Aku tidak punya teman bernama K. Apa ini seperti nama K di film Men In Black? Aku lalu membalas pesan itu.

Siapa?

Aku mendorong pintu kafe Army dan mengambil antrian di bagian kopi. Ponselku kembali bergetar.

Ouch, hatiku sakit sekali kau melupakanku begitu saja *pout*

Alisku terangkat. Apa semalam aku mabuk, ya? Hingga menyimpan nama orang yang tak kukenal di ponselku. Antrianku maju beberapa langkah. Aku kembali mengetik di ponsel.

Namamu inisial K. Aku tak punya teman bernama K.

Please, siapa ini?

Aku tiba di depan kasir. Ponselku bergetar kembali.

My bad. Sorry. Ska vi fika? Remember?

Hm, kalimat itu terdengar tidak asing. Di mana aku pernah mendengarnya? Ow, shit.

"Anda ingin pesan apa, Nona?"

Shit, shit, shit. Bagaimana mungkin aku lupa kalau… aku mengetik kembali.

Kakashi? As in Kakashi Hatake? The most handsome man in the world that will make women shaking like a jelly?

"Hei, cepatlah sedikit! Bukan hanya kau yang ingin minum kopi, Nona!"

Aku mendesis pada pria di belakangku membuatnya terdiam. Nah, aku menggeleng lalu menghapus kalimat tadi.

Kakashi?

"Espresso satu." Aku segera membayar segelas espresso milikku lalu keluar dari Army dan berjalan kaki menuju kampus. Mataku terus menatap layar ponsel, menyesap kopi, dan saat logo amplop muncul, aku segera membukanya, membuat senyumanku melebar di pagi itu.

Yep. You got it right. How's your morning, kitten?

::::

TBC

::::

FYI: Usia Sakura di sini adalah 19 tahun. Tidak jailbait dan juga belum begitu dewasa. Lalu percakapan Sakura dan Kakashi lewat pesan akan berformat seperti di atas. Kakashi (Bold, Italic) dan Sakura (italic). Bagi yang menanyakan usia Kakashi? Clue: 30 tahun ke atas. Haha. Bagi yang mencari konflik? Tenang, kita dalam perjalanan. Tapi karena ini fic ringan jadi konfliknya ringan-ringan saja. Stay with me, 'kay?

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.