Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

6

Okay. Aku menarik napas panjang melalui hidung dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Let me get this straight. Aku berusaha menjernihkan isi kepalaku agar bisa berpikir tenang. Aku bertemu dengan aktor terkenal, Kakashi Hatake, sekitar dua hari lalu di kafe tempatku bekerja paruh waktu sebagai seorang penyanyi yang berlanjut dengan saling bertukar nomor ponsel, lebih tepatnya dia menyimpan nomornya sendiri di ponselku. Setelah berpikir lama dengan mengesampingkan otak fangirl-ku, finally I was like… what the hell? Sepertinya aku tak punya alasan logis kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, mungkin semesta dari sembilan alam—Nine Realms seperti yang muncul di film Thor—telah bekerja sama memberiku setitik keberuntungan untuk menjalani hari-hari kuliah di perantauan.

Tapi sekali lagi, kenapa aku? Aku tidak memiliki tubuh semampai, tulang pipi yang tinggi, hidung mungil atau kulit selembut krim atau rambut panjang tergerai seperti ombak berlarian menuju bibir pantai. Sebaliknya, tubuhku mungil, wajahku agak bulat di bagian pipi dan jidatku lebar—Ino biasa memanggilku Jidat Lebar, katanya jidatku bisa dipakai main bola—serta kulitku yang pucat. Jika aku harus mengambil selfie, aku yakin satu aplikasi itu harus bekerja ekstra keras untuk mengubahku, hahaha.

Lalu aku terkesiap. Aku memukul-mukul sisi kanan kepalaku sambil memaki pelan. Apa yang kau pikirkan, Haruno? Dasar kau mesum! Kenapa aku langsung menyimpulkan jika Kakashi tertarik padaku… umm, tertarik dalam arti… kau tahu. Akh, aku tak ingin menjelaskannya karena apa yang ada di kepalaku saat ini bisa jadi salah besar. Mungkin saja Kakashi tertarik untuk berteman denganku. Atau mungkin dia sedang bosan dan memilih santai sejenak di tengah hiruk pikuk kota Konoha dengan segala aktivitasnya. Aku sadar dengan reaksiku dua hari lalu adalah hal yang wajar saat fans bertemu idolanya.

Aku membuang gelas espresso ke tempat sampah dan melewati koridor kampus. Tak ada seorang pun yang peduli atau menyadari keberadaanku. Aku bahkan menunduk untuk melihat keds bututku. Yep, I'm still here; aku belum menghilang. Tapi aku menyukainya. Seseorang pernah berkata padaku jika aku memiliki wajah yang mudah dilupakan. Tidak akan dilirik dua kali atau kau tak bisa membedakan mana diriku mana tembok. Bagus. Diperhatikan atau menarik perhatian hanya membawa masalah padaku di masa lalu. Karena itu… Aku memasuki ruang kuliah. Saat Kakashi melihatku di kafe malam itu… Aku mengambil duduk di barisan tengah. Perasaanku campur aduk. Di satu sisi aku senang dia menyadari keberadaanku—aku 19 tahun, apa lagi yang bisa kulakukan?—namun di sisi lain, aku was-was akan menarik masalah. Semoga saja tidak.

Ponsel lipatku bergetar. Aku mengeluarkannya dari saku jeans dan membaca pesan dari Kakashi yang membuatku tersedak salivaku sendiri.

Have a nice day, kitten ;)

Aku tidak memiliki kelas lagi setelah pukul dua siang jadi aku segera meninggalkan kampus menuju kota. Aku mengantri di kafe favoritku dan 20 menit kemudian aku sudah duduk di taman kota, pada sisi kolam yang berbentuk oktagonal, tetes-tetes air memercik di setiap kaki yang duduk di sekeliling kolam, mengalir dari bibir putri duyung bertubuh gemuk. Aku mengeluarkan kantong kertas dari ranselku dan menarik burger serta air mineral sebagai makan siang. Di antara suara percikan di belakang dan jeritan keramaian kota yang perlahan menghilang, aku menikmati makan siang dengan tenang. Dari sini aku mengagumi bangunan-bangunan tua yang nampak terang hari ini.

Tapi semuanya buyar saat orang-orang di sekelilingku tiba-tiba berdiri, berbisik, lalu bergerak menuju satu titik tertentu. Beberapa wanita memekik tertahan. Remaja-remaja menjerit pelan. Penasaran, aku mengikuti arah langkah mereka dan berhenti tak jauh dari danau buatan yang terletak di tengah taman. Orang-orang nampak berkerumun mengelilingi tiga buah mobil trailer yang terparkir di sana. Melihat orang-orang yang keluar dari trailer nampak membawa kamera, alisku terangkat.

"Ada syuting?" Aku bertanya pada siapapun yang mau menjawab pertanyaanku.

"Kurasa begitu. Kakashi Hatake ada di kota ini," jawab seorang wanita, mungkin usianya beberapa tahun di atasku, dengan nada suara penuh damba.

Ah. Aku tersenyum. Jadi tempat ini adalah salah satu lokasi pengambilan gambar.

"Itu dia!" seru wanita di sebelahku sambil menunjuk ke arah salah satu trailer di mana seorang pria rambut perak melangkah turun. Sontak spesimen perempuan yang ada di sekitarku mendesah penuh impian, berbisik malu, dan mulai mengambil gambar melalui kamera ponsel.

Pria itu berdiri di sana dan harus kuakui dia tampak sangat atraktif dalam jaket hijau navy yang membungkus pundak lebarnya. Kapan sih pria itu tidak nampak atraktif? Dia berjalan dengan langkah panjang, kakinya menyentuh lembut paving di bawahnya. Jemari panjangnya menyapu rambut peraknya yang justru malah kembali ke tempatnya semula—sisi kanan dahinya—sesaat setelah tangannya melewatinya. Cahaya mentari membuat kulit pucatnya seolah berpendar. Tulang pipi yang tinggi begitu sempurna membingkai wajahnya, dan bibirnya yang merah muda membentuk senyuman. Kedua matanya, yang normalnya berwarna abu-abu terang, sekarang nampak seperti baby blue saat tertimpa sinar mentari, seolah meneriakkan emosi yang terkandung di dalamnya. Well, mungkin dia sedang mendalami karakternya.

Aku menggigit bibir bawahku. Tanganku bergerak seolah ingin menjangkaunya tapi aku susah payah menahannya. Haha, jika kau menyentuhnya di depan publik, Sakura, kau akan menjadi ranting tipis yang diinjak-injak oleh fans-nya. Tubuhku gemetar membayangkannya. Aku memerhatikan bagaimana Kakashi bergerak dengan elegan, ada sesuatu dalam dirinya, seperti perpaduan antara seorang prajurit dan sebuah kelembutan yang membuat jantungku berdetak berkali lipat. Dan seketika, Kakashi berbalik. Sepasang mata miliknya menatapku. Aku yang berdiri di antara kerumunan orang yang tak bisa mendekatinya karena adanya pita pembatas, terkunci oleh tatapannya. Sebuah seringai bermain di wajahnya membuat sekujur tubuhku dialiri kehangatan.

"Hello, there."

Aku tak sadar kalau kini dia berdiri tegak di depanku, membuatku mengerjap-ngerjap tak terkendali. Dia berbicara padaku? Aku menoleh kiri dan kanan dan menyadari jika Kakashi benar-benar berbicara padaku. Pull yourself together, Sakura! "Ha-halo." Aku tergagap. Apa yang harus kulakukan? Kenapa dia berdiri begitu dekat dengan seringai menawan itu? Aku panik.

"Jadi kau ada di sini," ujar Kakashi pelan. Aku mendengar orang-orang di sekelilingku terkesiap dan bisa kurasakan tatapan mereka seolah ingin mencabik-cabikku. Oh, apa yang kau lakukan, Kakashi?

"Mm, uh, yeah…" Aku menjatuhkan pandanganku pada keds hitam butut yang sedang kupakai, berusaha menahan rasa panas yang mengalir dari leher, wajah hingga telingaku. Kumohon berhenti, Kakashi. This is not good. This is not good. Dan salah satu jemari Kakashi menyapu sudut bibirku. Oke, ini jauh lebih buruk dari yang seharusnya. Mungkin sebaiknya aku segera pergi dari sini!

"Ada minyak. Kau makan burger hari ini?"

Aku menengadah padanya dan meneguk salivaku. Those eyes should be illegal. Really. Tapi aku segera mengendalikan diri dan dengan sorot mata memohon aku memintanya agar menghentikan ini. Jika tadi setiap tatapan yang ada di sekelilingku ingin mencabikku, maka kini tatapan-tatapan itu berubah ingin mencincangku, memasukkan potongan-potongan tubuhku ke dalam karung lalu membuangnya ke palung Mariana. Lalu punggung Kakashi menegak, tangannya menjauh dari wajahku. Dia menatap sekeliling dan seolah lupa bahwa aku ada di sana, dia berseru.

"Ladies, aku ingin kalian berjejer rapi. Siapa yang ingin mengambil gambarku?" Orang-orang selain kru melompat kegirangan. "Sekalian kita adakan high five, yeah!"

Dan aku? Aku memilih mundur dari kerumunan, menggunakan bahuku untuk membuka jalan di antara para wanita dan remaja yang bergerak maju. Aku kembali ke kolam air mancur, menatap bungkusan makan siangku yang terkoyak. Oh, well… burger-ku yang malang. Air mineralku tersayang… Dan ponselku kembali bergetar. Aku menarik napas panjang mengetahui identitas si pengirim pesan. K.

Hotel Carlyle. 9 pm. Tunggu di lobi.

Aku memijat-mijat daerah di antara kedua alisku sambil mendesah.

::::

TBC

::::

Nggak usah takut, nggak usah malu, nggak usah gengsi buat Review, Follow, atau Fave ^^. I don't bite, really.

Once again, feel free to send PM, review, constructive cruiticisms and suggestions.