Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

8

Aku berkedip sekali saat menatap Kakashi, diam-diam mengagumi tulang pipinya yang tinggi, sebelum berkata ragu, "Aku pernah mendengarnya, entah di mana, tapi aku tidak tahu artinya apa." Punggung Kakashi menegak dan dia menatapku langsung. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat tubuhku bergetar. Oh God, matanya sungguh menawan!

"Seorang pria yang bisa memberikan apapun yang kau inginkan." Kakashi berbicara dengan tenang.

"Apapun?" Dahiku mengernyit.

"Apapun," jawab Kakashi sambil menyeringai membuat aku harus berpegangan erat pada tepi meja. "Sakura? Kau baik-baik saja? Wajahmu… merah."

Apa wajahku sejelas itu, ya? Apa dia tahu kalau sekarang aku menahan diri untuk tidak berteriak layaknya seorang fangirl?

"Aku… baik-baik saja," jawabku sambil tertawa. "Go on about Sugar Daddy."

"Seorang Sugar Daddy tidak akan keberatan menghabiskan uang demi kekasihnya, a mistress, girlfriend or boyfriend." Kakashi terus berbicara, tak melepaskan tatapannya dari wajahku yang membuatku harus menarik napas panjang beberapa kali dengan sangat pelan. Saaaangat pelan. "Aku melihatmu pertama kali di kafe saat kau bernyanyi malam itu. Yang ada di kepalaku saat itu?" Kakashi melipat kedua tangannya ke atas meja dan tubuhnya condong ke arahku. "Aku ingin kau bernyanyi hanya untukku. Aku ingin tatapan mata itu tertuju hanya padaku. Aku ingin kau hanya melemparkan senyuman itu ke arahku. Aku ingin membungkusmu dengan kertas kado paling indah, mengikat pita di lehermu lalu memasukkanmu ke saku bajuku. Saat tak sengaja bertemu di perpustakaan, aku ingin goresan tanganmu hanya menggambar wajahku."

Sampai di sini Kakashi berhenti. Kerongkonganku tiba-tiba kering, tenggorokanku terasa menyempit membuatku sulit untuk menarik napas. Kalimat itu terasa mengerikan bagiku tapi karena keluar dari bibir indah Kakashi, aku seolah tak keberatan. Seorang Kakashi posesif padaku? Siapa yang menyangka?

"Tapi kenapa?" Suaraku berubah serak. Aku ingin meneguk kopi tapi aku sadar kopi tak akan menghilangkan rasa gugup yang semakin menjalar ke setiap urat syarafku.

"Kau atraktif. Kau manis. Adorable. Kau adalah fansku. Dan yang paling penting…" Kakashi menekuk satu jemari, berhitung. Saat ibu jarinya menekuk, dia berhenti secara dramatis. "Kau butuh uang."

Aku ingin membuka mulut lagi tapi telunjuk pria itu menghentikanku.

"Aku ingin menjadi Sugar Daddy-mu. Aku bisa menyediakan kebutuhanmu. Sebutkan saja. Tagihan listrik? Tv? Sofa baru?" Kakashi melirik ponsel di atas meja. "Ponsel keluaran terbaru? Apartemen? Perjalanan ke luar negeri?" Sudut bibirnya lalu tertarik ke satu sisi, sepasang mata abu-abunya kembali mengunci mata hijauku. "Atau sneaker baru?"

Aku membayangkan semua yang dikatakannya. Mataku berkilat. Alam bawah sadarku mulai bermain-main. Aku yang membawa berkantong-kantong belanjaan, keluar masuk dari satu toko mahal ke toko mahal lainnya. Aku yang memakai sepatu baru. Aku yang tak perlu susah payah membayar tagihan sana-sini.

"Dan kau tak perlu bekerja. Biarkan aku yang menyediakan semuanya."

Suara bariton Kakashi mengembalikanku ke dunia nyata. Aku menggeleng keras. Dia pasti meminta sesuatu dariku. Jika dia berani memberikan apa yang kuinginkan, dia pasti meminta timbal balik. Aku meraih cangkir kopi, meneguknya sekali. Suaraku terdengar bergetar saat bertanya, "Lalu apa yang kau inginkan dariku?" Pundak Kakashi tiba-tiba berubah kaku. Owh, apa aku menanyakan pertanyaan yang salah?

"Seks?"

Aku terkesiap, merasakan udara semakin sulit untuk kuhirup. OhGodohGodohGod! Apa aku tidak salah dengar?

"Hei, Sakura, tenanglah!"

Tanganku mengipas-ngipas wajahku yang kepanasan. Saat melihat Kakashi tertawa dengan santai, tubuh bersandar pada punggung kursi, aku menarik napas panjang.

"Dengarkan aku." Kakashi masih setengah tertawa. "Sex is off the card." Thank God! "Aku pria yang sibuk. Aku tidak ada waktu untuk kencan konvensional. Jadi tenanglah."

Kakiku bergerak-gerak gelisah di bawah meja. "Bagaimana dengan…" Aku menunjuk bibir dan pipiku. Kakashi lagi-lagi tersenyum.

"Itu bukan ranahku untuk memberitahumu. Jika kau menerima tawaran ini, kau yang harus membuat batasan dan memberitahukannya padaku. Kau bahkan bisa menulisnya, menandatanganinya. Aku bisa menyediakan pengacara untuk memastikannya. Aku tidak memaksamu, Sakura. Aku menyerahkannya sepenuhnya padamu. Aku senang jika kau menerimanya. Jika tidak, bagiku tidak masalah."

Aku menggigit bibir bawah, berpikir. Usiaku 19 tahun. Apa yang ditawarkan Kakashi lebih dari sekedar menggiurkan. Berapa lagi usianya? Oh, 36 tahun. Dia tak ada masalah dengan uang. Tak melibatkan seks. Menyerahkan semua keputusan di tanganku. Aku berdehem. "Aku…"

"Tak perlu kau jawab sekarang, Sakura. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Aku tidak akan menuntut," potong Kakashi cepat membuat diriku merasa lebih tenang dari sebelumnya. "Kuberi waktu dua hari untuk memikirkan tawaranku. Apa itu cukup? Atau kurang?"

Aku menarik tanganku dari bawah meja, mengulurkannya pada tangan Kakashi untuk menyentuhnya lembut. So soft so delicate. Aku menyelipkan telunjukku di antara ibu jari dan telunjuk miliknya, membuat genggamannya seketika mengerat di jariku. "Itu sudah cukup," ujarku akhirnya dengan tersenyum. Aku menatap pria rambut perak itu dengan dada bertalu-talu sebelum melepas tangannya.

Aku menenggak kopi hingga habis, beranjak dari tempatku duduk. Kakashi berjalan di belakangku sambil berbicara, "Mei akan memesan grab car untukmu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu turun."

Aku berbalik menghadapnya dengan kedua tanganku berada di saku hoodie. "Aw, it's okay, Mister Hatake. Aku yakin manajermu tidak ingin berita aneh-aneh muncul di kolom gosip," seringaiku.

Kakashi membuka pintu untukku. Mei, sang asisten pribadi pria itu telah menunggu di koridor. "Dua hari lagi."

Aku menengadah pada pria rambut perak itu. Tatapan matanya nampak maskulin dan lagi lagi, sial! membuat lututku bergetar. "Mm. Dua hari lagi. Aah…" Aku berseru kecil, terkejut, saat Kakashi meletakkan telapak tangan kanannya yang besar di punggung bawahku, tepat di atas garis celana jeans-ku lalu membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan ibu jarinya.

"Aku menunggumu," bisiknya dengan nada yang membuat napasku tinggal satu-satu. Kakashi tidak melepasku sebelum aku mengangguk untuk mengkonfirmasi kata-katanya. Aku begitu malu mengetahui jika Mei yang berdiri di luar tentu saja melihat jelas kami berdua.

Kakashi menggigit bibir bawahnya, membuatnya nampak kekanak-kanakan lalu tertawa. Aku berbalik untuk meninggalkannya dan memohon berkali-kali dalam hati agar kakiku sanggup membawaku keluar dari hotel.

Dua hari kemudian, aku tengah berdiri di koridor, di depan kamar milik Kakashi Hatake, dengan ransel yang membawa sebuah map berisikan selembar kertas perjanjian.

::::

TBC

::::

Uchiha Marlina: udah apdet.

KanonAiko: udah jelas dengan sugar daddy, aunty?

Pollux: haha, gomen, saya yang error. itu nggak sengaja sebenarnya. udah diedit kok. thanks udah nunjukin kesalahannya ya.

zeedezly. clalucindtha: we'll see yeah

annis874: udah apdet lagi.

Ash Shey: ringannya akan tetap dipertahankan. thanks ^^

Dan untuk yang fav-fol, thanks.

Tinggalkan jejak, pals!

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.