Title: SHOVE

Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura

Type: Multichapter

Rating: T

Genre: Romance, General

Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing, Praise!Kink (jika tak suka, silakan kembali)

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)

Non-edited. So all mistakes are mine.

::::

SHOVE

9

Dua hari kemudian, setelah menghabiskan dua jam di kafe tempatku bekerja paruh waktu sebagai penyanyi, aku kembali ke hotel Carlyle untuk menemui pria rambut perak itu. Cukup lama aku berdiri di koridor. Pintu tak kunjung membuka dan lagi, aku mengirim pesan pada Kakashi. Aku menghela napas. Kedsku mulai mengetuk-ngetuk lantai dan aku menertawai diriku sendiri. Apa yang kulakukan? Seolah aku begitu putus asanya menemui pria itu. Seperti seorang pacar yang meminta kejelasan karena diputuskan sepihak. Hoho!

Terdengar suara yang tak asing membuatku menoleh ke kanan dan di sana aku menemukan Kakashi sedang berbincang dengan asisten pribadinya. Oh, dia di luar ternyata. Melihat dari pakaiannya malam itu, sepertinya dia baru selesai fitness. Wait a minute… Tubuhku menegak saat menatap otot-otot bisepnya , membuat napasku tercekat di tenggorokan. Kaos abu-abu longgar tanpa lengan, celana pendek selutut berwarna hitam dan handuk putih yang melingkar di lehernya. This is… This. Is. Heaven… ya Tuhan, apa aku melihat surga sekarang? Oke, mungkin aku sangat berlebihan tapi siapa, sih yang kebal dengan penampilan seperti itu? Tubuh Kakashi yang penuh peluh nampak bersinar di bawah sinar lampu. Rambut peraknya lembab dan poninya jatuh menutupi alis kirinya. Dia sedang berbicara dengan Mei, tampak intens, dan mataku tertuju pada bibirnya. Holy shit, bibirnya seperti diolesi darah. Ada ya orang bibirnya semerah itu? Aku saja yang seorang perempuan jadi iri.

Mei yang pertama kali melihatku. Wanita itu tersenyum padaku. Melihat Mei yang berhenti berbicara membuat Kakashi menoleh dan sepasang mata milik kami bertemu. Aku tersenyum canggung ke arahnya. Kakashi malah tersenyum lebar. Oke, dia memang tidak tahu kalau jantungku kini mau mematahkan rusuk-rusukku jadi aku tak akan menyalahkannya.

"Selamat malam, Nona Haruno." Mei mengangguk padaku lalu beralih pada Kakashi. "Perhatikan jadwalmu. Aku tidak ingin membangunkanmu berkali-kali untuk kegiatan esok." Wanita rambut merah itu menepuk-nepuk pelan lengan Kakashi.

"Kau asisten pribadiku. Kau memang ditugaskan untuk itu. Jangan makan gaji buta," kata Kakashi sambil menyeringai dan seketika Mei mencubitnya keras membuat pria itu meringis. "Shit, Mei! I'm joking!"

"I can't take that jokes right now so behave, Old Man," tukas Mei dengan tenang sambil mengerling ke arahku membuatku mengerjap.

"Old Lady," gerutu Kakashi. "Shoo shoo."

Aku masih berdiri di koridor, menatap punggung Mei menghilang dengan menyisakan bunyi detakan sepatunya yang beradu dengan lantai. "Sakura." Suara Kakashi lagi-lagi menyadarkanku. Kulihat pria itu berdiri di depan pintu yang telah terbuka. "Kau ikut?"

"Ah. Ye-yeah. Maaf." Kuikuti Kakashi masuk ke kamar hotel, mengambil duduk di atas sofa sambil mendekap ranselku ke dada. Aku mendengar tawa kecil itu lagi, khas seorang Kakashi.

"Kau tahu kau tidak harus melakukan itu. Make yourself comfortable, Sakura. Kau bahkan bisa memakai dapurku."

"Aku… yes." Aku melepaskan ransel dan berdiri menyeberangi ruangan menuju dapur dengan Kakashi mengekoriku.

"Aku tahu kau gugup. Apa kau butuh waktu lagi?"

Aku berhenti melangkah, berbalik untuk menemukan Kakashi menunduk menatapku. Ya Tuhan, mata itu… seolah bisa membaca pikiranku. Tidak, bukan itu. Mata itu memang bisa menembus pikiranku. What should I do? Apa aku telah mengambil keputusan yang salah?! "Yaaaah!" Aku menarik napas panjang. "Aku memang gugup! Tapi aku tidak akan mundur! Kau tahu alasanku kemari 'kan? Jadi cepatlah bersihkan dirimu dan aku akan duduk di sini menunggumu. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan!"

"Good girl," ujar Kakashi sembari tersenyum membuat wajah dan kupingku memerah.

Kakashi masuk ke kamarnya dan aku memilih untuk mengagumi interior dapur yang klasik. Tak ingin berlama-lama, aku membuka kulkas dan menemukan cake rasa green tea, poptart, irisan apel dalam kotak bekal serta diet coke. Aku meraih sepotong poptart, menggigitnya hingga habis lalu menutup kulkas. Hm, mungkin aku harus membuat kopi. Aku membuka kabinet, mencari-cari kopi dan voila, there you are! Aku memanaskan air di kompor listrik dan saat itu ujung mataku menemukan sebuah mesin pembuat kopi. Kepalaku meneleng ke samping. What the hell… sejak kapan benda itu ada di sini? Aku mengingat-ingat dua malam lalu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kamar ini. Jika mesin itu sudah ada, lalu kenapa Kakashi memilih untuk memanaskan air di kompor? Aku mengedikkan bahu. Sudahlah, lagipula aku juga tak tahu cara menggunakannya.

Aku kembali ke sofa hijau, membuka ransel dan menarik sebuah map. Saat Kakashi keluar dari kamarnya, aku sudah duduk di bangku sambil menikmati kopi hitam. "Wow. Kau sudah menyiapkan semuanya." Aku menengadah, mendapati pria itu telah berdiri di seberang meja. Aku terlalu serius membaca apa yang tertera pada kertas di tanganku hingga tak menyadari kehadirannya. Aku menelan cairan hitam dengan susah payah.

"Uh, yes, kau tahu ini pertama kalinya bagiku," jawabku sambil memperhatikan rambut peraknya yang masih lembab. Dari sini aku bahkan bisa menghirup aroma vanila di sana.

"Sungguh? Well, damn, I'm lucky guy I guess." Kakashi duduk di depanku setelah menuang kopi ke cangkirnya sendiri. "Terima kasih sudah membuat kopi."

"Terima kasih kembali." Aku tersenyum dengan wajah—lagi-lagi—memerah. Kakashi merasa beruntung? Oh, kau salah Tuan. Aku yang merasa beruntung bertemu denganmu! Mari kita berhitung persentasenya. Seberapa banyak orang yang bisa bertemu dengan idolanya? 70%. Seberapa banyak orang yang bisa bertemu dan berbincang dengan idolanya? Mari kurangi hingga 30 %. Seberapa banyak orang yang bertemu, berbincang, diajak minum kopi, hingga membuat arrangement, seperti dalam posisiku? Well, sudah pasti aku adalah gadis paling beruntung di sini.

"Jadi kita mulai dari mana?" Setelah menyesap kopi, Kakashi meletakkan kedua tangannya ke atas meja, menjalin jari jemarinya dengan elegan, membuatnya tampak profesional. Hoho, dia memang profesional. Tak heran banyak sutradara senang bekerja sama dengannya.

Aku menyodorkan selembar kertas dengan ketikan yang tak kalah profesionalnya. Kakashi meraih kertas itu, mengangkatnya, mendekatkannya ke wajahnya hingga sepasang matanya saja yang nampak. Aku menggigit bibir bawah menunggu reaksinya, apapun itu. Napasku tertahan saat matanya melihatku sebelum kembali membaca, membuat kedua kakiku bergoyang gelisah di bawah meja. Aku menggeram pelan lalu bergerak untuk menarik kertas dari tangan Kakashi.

"You know what? Fuck it! Here's the deal. Jika tak melibatkan seks, kurasa kita harus bertemu di tempat umum," ujarku akhirnya sambil menatap wajah Kakashi dengan perasaan bersalah. Apa yang telah kulakukan?!

"Kau membaca pikiranku. Kita tidak butuh kertas ini. Kita hanya butuh membicarakannya secara langsung." Kakashi bersandar di punggung bangku.

"I'm glad we're on the same page about this," jawabku setelah menarik napas panjang. "Jadi tak ada seks. Kita sudah sepakat."

"Yes. Tak ada seks. I'm not considering a sexual relationship."

"Bagus. Aku juga. Lalu bagaimana dengan skinship?"

"Aku menyerahkannya padamu." Tangan Kakashi terjulur ke arahku, gestur membiarkanku untuk terus berbicara.

"Kurasa kecupan di pipi bagiku tak masalah," putusku kemudian.

"Yeah, karena kau sudah mencuri start lebih dulu," seringai Kakashi.

"Shoot! Kau mengingatnya!" seruku saat kejadian di mobil begitu pulang minum kopi bersama Kakashi terputar kembali di kepalaku. "Oke. Oke." Aku tertawa. "Jadi kecupan di pipi tak masalah. Bagaimana jika bergandengan tangan?"

Mata abu-abu pria di depanku memicing. "Kurasa bagiku itu sudah termasuk intim. Nope."

Aku merasa sedikit kecewa mendengarnya. Bergandengan tangan dengan idola? Siapa yang menolak? Tapi sekali lagi aku sadar jika bergandengan tangan, bagiku, hanya dilakukan sepasang kekasih. Dan sudah jelas aku dan Kakashi tidak seperti itu. "Yes, sepakat. Um. Lalu soal, kau tahu… income."

"Berapa banyak yang bisa kusediakan?" Alis Kakashi terangkat tinggi, seolah bisa mencapai garis rambutnya.

"Untuk kebutuhan kuliahku atau mungkin baju dan apartemen?" Suaraku memelan, tatapanku menunduk. Shit, Sakura, kau seperti gadis yang tergila-gila pada uang!

"Hei, Sakura, tatap aku. Kau tak perlu malu mengatakannya. Aku di sini bukan untuk menertawaimu, oke? C'mon, angkat wajah manis itu dan tatap aku."

Wajahku memerah, melampaui warna rambutku. "Uh, aku tidak tahu apa-apa soal ini jadi… yah… maaf."

"Sshh... " Kakashi meraih tanganku dan menggenggamnya. "Kau tidak butuh skill dalam hal ini." Genggaman hangat tangan pria itu membuat detak jantungku kembali normal. Yeah itu kalau 150/menit masih bisa dibilang normal. Haha. "Jadi pertanyaanmu tadi soal income." Kakashi tidak melepas tanganku saat berbicara. "Aku bisa menyediakan hingga 5000 dolar."

"D-d-d-dolar?" Aku menggeragap.

"Itu di luar income spesial," sahut Kakashi lagi, kali ini dengan seringai tampan yang lebih lebar dari sebelumnya. "Aku bisa menyediakan hingga 20,000 dolar."

"Holy shit! Fuck! Seberapa kaya dirimu?" Aku menarik napas berkali-kali, merasa seperti ikan yang kehabisan air. Kakashi tersenyum, melepaskan tanganku lalu melipat tangannya ke dada. Arti senyumnya seolah berkata, 'aku jauh lebih kaya dari yang bisa kau bayangkan'. "Good, yeah. Aku…" Menarik napas dalam-dalam, aku menyampirkan rambut merah mudaku di balik telinga lalu menatap pria itu dengan tulus. "Terima kasih. Aku sangat berterima kasih."

"Apa yang membuatmu menerima tawaranku, Sakura?" Kali ini Kakashi meletakkan sikunya di lengan bangku untuk menopang dagunya.

Aku menyesap kopi lagi dan berkata, "Salah satunya adalah aku butuh uang. Kau tahu, aku kerja paruh waktu di kafe tempat kita pertama kali bertemu. Dan aku tidak ingin bergantung pada orang tua asuhku."

"So you're a foster child?" Terlihat kedua alis Kakashi kembali naik. "Di mana orang tua kandungmu?"

Aku menatap kertas dinding bergambar mural mawar merah dan kuning di belakang Kakashi, tak menatap pria itu yang rasa-rasanya membuatku bisa menumpahkan semua tentang masa laluku. "Ayahku… dia ditangkap karena kepemilikan obat-obatan terlarang. Dan ibuku, pengadilan menetapkan kalau dia tak memiliki kapabilitas untuk merawatku, jadi aku diserahkan pada Dinas Sosial. Salah satu petugas menemukan orang tua asuh untukku dan membawaku ke sana. Mereka, Shizune dan Tsunade adalah dua wanita hebat yang sangat berperan dalam hidupku." Aku merasakan titik-titik air mulai berkumpul di sudut mataku jadi aku menengadah, berharap titik-titik itu terkuras dan tak tumpah.

"Kau 19 tahun. Seorang anak asuh akan dilepas begitu berusia 17 tahun karena usia itu sudah matang untuk mengambil jalan sendiri," sahut Kakashi yang tak bergerak dari tempatnya tapi aku bisa merasakan tatapannya berubah... sedih?

"Itu benar. Aku memilih untuk kuliah di kota besar. Begitu sampai di sini aku tidak menyangka harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhanku." Aku tertawa, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang mulai membelit dadaku. "Menekan pengeluaran dengan membeli pakaian bekas, memilih tinggal di basement kecil satu gedung, dan yah, seperti kau tahu aku bahkan tak bisa membeli ponsel pintar demi membeli buku-buku kuliah. Laptopku bahkan masih tinggal di tempat servis karena aku belum punya uang untuk mengambilnya."

"Itulah kenapa kau sangat marah saat aku menegur ponselmu di kafe malam itu." Suara Kakashi berubah serak. Tangannya terjulur untuk menggenggam tanganku lagi. "Maafkan aku."

"Aku sangat kacau. Aku bahkan tidak menyangka kau datang dan di sinilah kita." Aku tersenyum. "Apa yang membuatmu memilihku, Kakashi? Ada ribuan remaja atau wanita muda di luar sana yang mungkin bisa memenuhi ekspektasimu."

"Kau punya potensi," sahut Kakashi singkat.

"Potensi?" Kepalaku miring ke satu sisi.

"Ya. Aku pun tak ingin memilih kucing dalam karung. Aku bisa melihat potensi dalam dirimu yang suatu hari nanti aku yakin bisa membawamu pada kesuksesan. Sungguh sangat disayangkan jika potensi itu tak diasah dan dimanfaatkan. Kau bagai berlian yang terbenam dalam lumpur. Seseorang harus menggali lebih dalam untuk menemukan berlian itu. Dan aku sangat beruntung bahwa akulah orang yang berani melakukannya."

Rahang bawahku terbuka lebar. Kakashi menganggap aku memiliki potensi. Mataku kembali berkaca-kaca. Dia berkata bahwa aku adalah berlian. Air mataku pun tumpah dengan jemarinya menggenggam rahangku.

"Shit. Bernapaslah, Sakura. I got you, baby."

"Aku… aku…" Aku mengusap air mata di pipi dengan ujung jaketku. Kakashi kini duduk di sebelahku, menggenggam wajahku dengan kedua telapak tangannya yang besar.

"I got you, baby girl, look at me."

Aku mencari-cari mata abu-abu yang menenangkan itu dan saat menemukannya, aku menyerot hidung dan tersenyum polos. "Bisakah… bisakah kau melakukan itu lagi?"

"Melakukan apa?" Ibu jari Kakashi bermain di kedua tulang pipiku.

"Praise me?"

Pertanyaanku membuat salah satu sudut bibir Kakashi tertarik ke samping. "Praise kink, huh?"

"Kurasa begitu. Mungkin karena sejak kecil aku jarang mendapatkannya. Apakah itu buruk?" tanyaku khawatir. Oh God, kurasa Kakashi telah membawa keluar sesuatu yang buruk dari dalam diriku.

"Tidak sama sekali." Kakashi lalu berdiri untuk mengambil segelas air putih. Dia kembali duduk di sebelahku dan menyodorkan tepi gelas ke bibirku. "Minumlah. Agar kau lebih tenang." Aku meneguk air hingga habis, dengan gelas dari tangan Kakashi. Rasa khawatir dan rasa tak aman yang sempat mendera, perlahan menghilang. "Apa kau masih ingin melanjutkan arrangement kita?"

Aku mengangguk. "Tentu saja."

::::

TBC

::::

Akan ada banyak percakapan mereka di chapter berikut. So stay with me, 'kay?

"What many people fail to see is, sugar babies have a choice and don't have to do anything they don't want to."—Jane.

Tinggalkan jejak review, pals. Soalnya jumlah views dan review nggak sebanding hahaha #ngarep.

Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.