Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing, Praise!Kink (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
10
Aku bisa mendengar suara Mei yang berasal dari koridor saat Kakashi membuka pintu masuk. Mereka sedang mengobrol tapi aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan. Aku menarik napas panjang berkali-kali. Apa Mei tahu kedatanganku di kamar ini untuk melakukan apa? Kalau dilihat-lihat, sih, dia tidak keberatan dengan kehadiranku. Aku menunduk untuk melihat cangkir kopiku sudah kosong. Sebelum Kakashi kembali, aku merapikan rambut dan berusaha membuat tubuhku lebih rileks dari sebelumnya. Percakapan kami barusan cukup intens, yang pada akhirnya membuka satu tabir sisi dari hidupku. Siapa yang menyangka jika aku memiliki praise kink? Mungkin karena orang-orang di sekitarku tak pernah melakukannya, kecuali Tsunade dan Shizune. Tapi pujian dari kedua wanita itu terasa berbeda jika dilontarkan oleh orang lain. Mungkin seperti teman, sahabat atau kekasih? Tapi aku tidak memiliki kekasih. Teman? Aku punya Ino. Tapi Ino terkesan sarkas yang membuatku sudah terbiasa menerimanya. Haha. Aku punya Naruto yang biasa memujiku jika, sekali lagi aku tekankan, jika aku membantunya menyelesaikan tugas kuliah. Huh. Dasar bocah pirang itu.
"Kemarilah, Sakura."
Aku berbalik, melihat Kakashi kini berdiri di tengah ruangan dengan sekotak besar pizza di tangannya. Mata hijauku membulat dan aku berteriak dalam hati: PIZZA! Melihat reaksiku, Kakashi tertawa. Tanpa pikir panjang aku segera ke ruang tengah dengan langkah cepat dan duduk di atas sofa. Saat Kakashi duduk di sebelahku, napasku langsung tercekat. Padahal ada jarak sekitar setengah meter di antara kami. Apa karena ini pertama kalinya kami duduk berdekatan? Beberapa pertemuan kami, Kakashi selalu mengambil posisi duduk berhadapan, kecuali saat berada di dalam mobil setelah kejadian di perpustakaan.
Mungkin menyadari situasiku, Kakashi terasa duduk lebih jauh dari sebelumnya. Aku melirik pria itu yang kini bersandar pada lengan sofa sementara diriku berada di ujung lain sofa. Such a nice guy! Aku berdehem pelan. "Maafkan aku, Kakashi. Aku tidak bermaksud… duh, maksudku aku bukannya merasa tidak nyaman tapi…"
"Bagaimana dengan ini?" Tampak pria itu menjauh dari lengan sofa dan kini duduk di bagian tengah. Senyum masih tersungging di bibir merahnya membuatku merutuk dalam hati.
"A-aku… itu tidak apa-apa. Maafkan aku."
"Kau tidak perlu minta maaf, Sakura." Tubuh Kakashi condong ke depan, pada kotak pizza dan membukanya. Aroma daging, keju dan mozzarella segera menghiasi rongga hidungku membuat perutku berkerucuk semakin keras. "Apa kau ingin membuat aturan tentang hal ini?"
"Tidak!" Aku menggeleng cepat. Menyadari suaraku begitu keras dan tanpa tedeng aling-aling, wajahku langsung memerah. "Uh, maksudku, kenapa aku harus membuat aturan tentang hal ini? Siapapun ingin duduk berdekatan denganmu, Kakashi. Terutama… terutama dalam situasi seperti ini. Kau tidak apa-apa dengan itu 'kan?"
"Kau benar-benar fans beratku, ya?" Kini posisi Kakashi semakin mendekatiku. Saat pria rambut perak itu meletakkan sepotong pizza di antara kami, aku langsung meraihnya dan menggigitnya dengan penuh semangat. Kakashi kini menyampirkan lengannya ke punggung sofa dengan tubuh menghadap padaku. "Aku tidak keberatan melakukannya. Duduk berdampingan denganmu dan mengobrol seperti ini. Bersantai sambil makan pizza, menikmati coke adalah salah satu hal yang sangat jarang kulakukan."
Aku menoleh pada pria itu. Wajahku kembali sewarna dengan warna rambutku. Aku sadar jika Kakashi tidak menggigit pizza miliknya sedikit pun. Dia hanya duduk di sana sembari menatapku dengan sepasang mata abu-abunya yang menawan.
"Cute," ujarnya pelan.
Aku mengangkat pizza di tangan, membuka lebar mulutku sebelum menggigit pinggirannya hingga benang-benang mozzarella terbentuk. Alih-alih memejamkan mata, aku terus menatap pria itu sepolos mungkin, mengunyah dan menjilati sudut bibirku saat saus tomat singgah di sana. Sekilas mata pria itu berkilat akan sesuatu yang sebelumnya kutemukan saat menyentuh tangannya di kafe tempatku bernyanyi.
"Shit." Kakashi mengumpat pelan. "Such a naughty girl. Jika kau tidak mengonfirmasi sebelumnya bahwa kau tidak pernah melakukan ini, maka aku tidak akan percaya. Apa kau akan benar-benar menjadi baby-ku? Apa kau ingin menambah deret aturan lagi?"
"Yes, Daddy. Am I doing good?" Aku menggigit bibir bawahku begitu keras. Apa yang kulakukan? Berusaha menggoda Kakashi? Ya Tuhan! Ini… ini rasanya tidak benar tapi di sisi lain rasanya menyenangkan!
"Oh fuck. Yes, Baby, you doing good." Tangan Kakashi terjulur. Ibu jarinya mengusap bibir bawahku.
"Kakashi, boleh aku bertanya?" Jantungku bertalu-talu seperti genderang dengan seruan Yibambe saat Perang Wakanda akan dimulai.
"Mhm." Kakashi menarik tangannya kembali ke sisi tubuhnya. Tampak jelas matanya menelusuri setiap lekuk wajahku.
"Apa ini pertama kalinya kau menawarkan diri menjadi Sugar Daddy?"
"Tidak," sahut Kakashi cepat.
Aku mengangguk mengerti. "Jadi sebelum aku, sudah ada Sugar Baby yang lain?"
"Tentu saja."
Aku meraih coke, menyesapnya sedikit. Kopi dan coke? Bukan kombinasi yang bagus. "Ada berapa?"
"Dua." Kakashi kini menggigit pizza-nya, membuatku rahangku terbuka. Oh, God, bahkan menggigit saja dia bisa tampak indah begitu. Benar-benar Adonis berjalan.
"Di mana mereka sekarang?" Aku meletakkan sisa pizza, tak menyentuhnya karena berpikir apa yang akan dikatakan Kakashi lebih menarik dari makanan saat ini.
"Mereka sudah menjadi orang yang sukses secara finansial. Mereka di mana dan apa pekerjaan mereka, mungkin aku bisa memberitahumu suatu hari nanti. Tidak sekarang. Tapi aku bangga dengan pencapaian mereka. My Babies, in the end, bisa mandiri dan mencari kehidupan masing-masing. Dan kau…" Kakashi menatapku dalam namun kehangatan terpancar jelas di sana. "Kau pun akan melakukan hal yang sama. Ingat dengan perkataanku bahwa kau adalah berlian? Aku salah. Kau bukan berlian. Kau adalah intan. Masih perlu diasah dan yakinlah, aku ada di sini untuk membantumu."
Tanpa sadar tangan kananku menekan dadaku. Napasku memburu. Rasa senang itu seketika menjalar di sekujur tubuhku hingga terasa sakit. Sakit dalam arti yang menyenangkan. Setelah bisa mengendalikan diri, aku kembali menatap Kakashi dengan ragu. "Apa menjadi Sugar Baby bisa dikatakan melacurkan diri?"
Kakashi lalu bersandar pada punggung sofa dengan agak keras dan berkata, "Sugar Baby biasa diberi label negatif sebagai 'prostitusi kelas tinggi". Tapi ingat, Sakura, tidak selamanya hubungan SugarDaddy-Sugar Baby harus berhubungan seksual, tergantung perjanjian atau batasan dan aturan yang dibuat. Sugar Baby tidak harus melakukan hal yang mereka tidak suka. Kau—sebagai Sugar Baby—dan aku bisa memiliki pemahaman yang sama dalam hal memenuhi kebutuhan masing-masing tanpa menghakimi satu sama lain. Mendapatkan apa yang kita inginkan. It's a win-win situation."
Aku bisa menemukan ada sedikit nada kesal dalam suara Kakashi, membuatku merasa bersalah. Kakashi tidak ingin menganggapku sebagai seorang prostitusi dan dia pun ingin aku tidak menganggap dirinya adalah pengguna jasa prostitusi karena dalam situasi kali ini, diriku bukanlah seorang prostitusi. Seketika aku merasa frustrasi. Apa yang telah kupikirkan?!
"You're not a whore." Kakashi menoleh padaku, menatapku dengan mata sayunya. Tangannya kembali menggenggam wajah mungilku. "We're not seeking sex. Di samping itu, jika bercinta untuk mendapatkan uang, selama pilihan mereka tidak merugikan satu sama lain, itu tidak masalah. Is that clear?"
"Yes."
"So are you gonna be my Sugar Baby from now on? Atau kau masih ada pertanyaan untuk meyakinkan hatimu?" Ibu jari Kakashi membuat gerakan melingkar di tulang pipiku.
Aku menarik napas panjang dan menjawab mantap. "Tidak. Aku ingin menjadi Sugar Baby-mu mulai sekarang."
"Kau yakin?" Kakashi tak pernah melepaskan tatapannya dariku. Sebuah tatapan yang membuat aliran darahku seketika memanas.
"Yes."
"Yes what?"
"Yes, Daddy."
"Good girl." Terdengar nada kepuasan dalam suara bariton Kakashi dan kilasan lengkungan di salah satu sudut bibirnya nampak. Kakashi lalu mengecup pipiku dengan lembut, membuatku ingin pingsan di tempat.
Aku berdehem pelan, meletakkan kedua tanganku ke dadanya yang bidang dan mendorongnya lembut. "Satu lagi, Kakashi. Jika kau tidak membiarkanku menggandeng tanganmu lalu kenapa kita bisa berciuman baik itu di pipi atau bibir?"
"Karena… my baby girl… pekerjaanku adalah selebriti. Seorang fans yang mengecup pipi idolanya adalah satu hal yang biasa. Tapi bergandengan tangan? Yakinlah, jika siapapun itu, ditemukan bergandengan tangan denganku, headline akan dipenuhi berita seperti itu."
Aku mengerjap. Sesaat tadi aku lupa jika yang duduk bersamaku saat ini adalah Kakashi Hatake yang pamornya di dunia showbizz tak perlu diragukan lagi. Lalu aku menyadari pesan tersirat dalam kalimat Kakashi tadi yang kali ini membuatku memerah dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Jadi maksudmu… uh maksudmu kita bisa bertemu di tempat umum?"
"Tentu saja. Aku bisa mengaturnya." Kakashi tersenyum lebar, membuat kerutan di kedua sudut matanya nampak namun hal itu tak mengurangi ketampanannya. Justru dia tampak semakin menarik dengan cara yang maskulin.
"Lalu jika kita bisa bertemu di tempat umum apa aku… um, apa aku boleh mengecup pipimu?"
"Tentu."
"Bibir?"
"Bersiaplah bersenang-senang di sosial media."
"Oh." Artinya akan menjadi skandal jika aku mencium bibir Kakashi di tempat umum.
"Tapi kau bisa melakukannya jika kita sedang berdua."
Saat melihat Kakashi bergerak, aku mematung, aku bahkan tak kuasa bernapas. Aku bisa merasakan jantungku seperti duh-duhn-duh-duhn. Wajah Kakashi, dengan tulang pipi yang tinggi dan tajam seolah bisa memotong kayu, rahangnya yang kuat serta hidungnya yang nampak seperti patung dipahat oleh seniman terkenal, mendekatiku. Oh, aku bisa kena serangan jantung sekarang. Is this gonna be the best place to die? I guess so. Lalu pria rambut perak itu tertawa dan mengecup pipiku. God, I swear bahkan burung-burung pun akan berhenti bersuara saat mendengar tawa indahnya dan mengisi udara dengan suara menakjubkan yang berasal dari dadanya. He's amazing in every single way!
Setelah itu kami menghabiskan sekotak besar pizza hingga hampir mati kekenyangan.
…
Pukul 12 lewat 23 menit, aku duduk bersila di atas tempat tidur sambil mempelajari smartphone yang diberikan Kakashi. Setelah memindahkan beberapa nomor yang ada di kontak ponsel lamaku, aku mulai membuka aplikasi chatting dan menghubungi pria itu.
Tes
Sakura?
Dari mana kau tahu ini aku?
Aku sudah menyimpan nomormu^^
Apa kau sudah tidur?
Jika aku sudah tidur aku tidak akan
membalas pesanmu
Huh. Oh, Daddy?
Shit
Thank you :)
Your welcome, my baby ;)
Aku berteriak kegirangan. Tapi aku tak peduli karena di kamar ini aku hanya sendirian.
Kapan kita akan bertemu lagi?
Already miss me?
Kurasa begitu.
Kau butuh sesuatu?
Tidak. Untuk saat ini sudah cukup.
Aku menatap beberapa lembar uang yang Kakashi berikan padaku sebelum pulang. Uang untuk membeli beberapa pakaian dan sepatu baru. Kurasa semua pakaian yang di lemariku saat ini akan segera kusumbangkan. Kakashi juga telah meminta nomor rekeningku jadi jika aku butuh sesuatu, dia tinggal mengirimkannya.
Ponsel baru kembali berdenting.
Aku ada syuting jam sembilan besok.
Kau bisa singgah di tempatku?
Sure!
Tanpa pikir panjang aku mengirim satu kata itu, membuatku tertawa. Entahlah, rasanya begitu menyenangkan. Oh God, jantungku rasanya sakit karena berdetak begitu kencang. Tapi aku tidak peduli! Aku. Tidak. Peduli.
Good. Aku ingin kita sarapan bersama.
Kujatuhkan tubuhku ke kasur dengan begitu keras. Kasur dingin dan tak empuk itu mungkin saja bisa mematahkan tulang punggungku. Aku lalu berguling-guling, mengambil bantal untuk menutupi wajahku dan berteriak kencang. Sialan kau, Kakashi! Kenapa kau membuat perasaanku campur aduk begini?
Tentu! Tentu saja aku akan datang!
Kau ada kuliah besok?
Jam 10.
Datanglah jam tujuh. Bisa kan?
Bisa. Sangat bisa!
Good. Tidurlah.
Kegembiraan mengalir di dalam tubuhku, menghangatkan kulitku bagai sinar mentari pertama di musim panas. Aku bahagia seperti babon di pohon pisang. Seperti kuda nil bermain di lumpur. Seperti anak kucing yang berguling-guling di atas krim kue. Seperti kelinci di kebun wortel. Detak jantungku bergerak seperti tarian tango dan kurasa aku tak butuh dokter.
Aku meraih ponsel dan kembali mengetik.
Daddy?
Aku terkikik senang.
Good nite.
Good nite to you too, baby girl.
::::
TBC
::::
(Pens KakaSaku mana nih? Kok melempem? Resiko crack pair yaaa hahaha #garukpipi).
Anw apa rating fic ini butuh dinaikkan ke M? Tapi saya ngga jamin jika sudah rating M ada adegan enaena #ditimpuk. Seperti biasa, tinggalkan jejak, pals. Lebih bagus lagi jika jejaknya dalam bentuk Review.
Pojok Review
AshShey: thanks ripyunya.
Saskey Saki: udah ada kejelasan dikit kan ttg hubungan mereka di sini.
V3: istri simpanan? Ya kalau udah berkeluarga. Kalau nggak kan bukan istri simpanan. Semoga selalu ikutin fic ini ya karena ada beberapa penjelasan di dalamnya.
Annis874: Sakura jadi artis? We'll see.
LuchiaThia: Terima kasih ripyunya. Saya udah singgah di sana dan ceritanya lumayan. Thanks rekomendasinya.
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
