Title: SHOVE
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi/ Haruno Sakura
Type: Multichapter
Rating: T
Genre: Romance, General
Warnings: SugarDaddy!Kakashi, SugarBaby!Sakura, Swearing, Praise!Kink (jika tak suka, silakan kembali)
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
(Kami tidak mencari keuntungan dalam bentuk materi apapun dari penggunaan karakter-karakter ciptaan Masashi Kishimoto)
Non-edited. So all mistakes are mine.
::::
SHOVE
11
Mei menemuiku di lobi. Selama perjalanan menuju kamar Kakashi, kami tidak berbicara banyak. Dia hanya bertanya mengenai kabarku dan sebaliknya. Saat pintu lift menutup dengan hanya kami berdua di dalamnya, wanita rambut merah itu pun membuka suara, membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang dan bahuku menegang.
"Kau pasti tidak menyangka akan bertemu dengan Kakashi, bahkan secara privat bertemu dengannya. Satu kesempatan di antara sejuta."
"Yeah, kau benar, Mei-san." Mata hijauku menatap lurus pada bayanganku yang terpantul di cermin lift. Siapa yang menyangka gadis berpakaian lusuh sepertiku ternyata pada akhirnya memiliki hubungan 'spesial' dengan Kakashi Hatake, sang superstar yang sepertinya popularitasnya terus menuju puncak?
"He's a nice guy." Mata kami bertemu di cermin. Aku merasa bisa melihat kilasan defensif di mata wanita itu. "Aku tidak akan mencampuri urusan kalian, apapun itu. Kakashi adalah pria dewasa yang tahu apa keinginannya. Dan di sini, kuharap setiap tindak-tandukmu dilakukan dengan penuh kehati-hatian."
Kalimat itu adalah sebuah peringatan. Mei mungkin asisten pribadi Kakashi, tapi aku tahu bahwa wanita itu bisa melakukan apa saja jika aku bertindak ceroboh. Kepalaku lalu menoleh pada Mei, menatapnya dengan tulus dari dalam hatiku.
"Mei-san?"
Wanita itu menunduk melihatku. Dia terlihat lebih tinggi dengan sepatu high heels yang dipakainya. Rahangnya tampak mengeras. Aku tidak heran melihat sikapnya seperti itu padaku. Aku tahu Kakashi pasti menceritakan semuanya. Maksudku, semuanya. Jika aku melakukan satu kesalahan, sekecil apapun itu, yang mendapat kerugian paling besar tentu saja Kakashi Hatake. Siapa yang akan peduli dengan seorang gadis kelas menengah ke bawah yang tinggal di salah satu basement kota Konoha?
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik dan tidak akan mengkhianati kepercayaan Kakashi padaku," ujarku dengan mantap.
"I hope you will." Pandangan wanita itu melembut dan finally! Aku bisa bernapas lega.
Terdengar bunyi ding! dan pintu lift membuka, memperlihatkan koridor lantai tempat kamar Kakashi berada. Mei mengantarku hingga di depan pintu, mengetuknya dan seperti biasa, seorang Adonis kini berdiri hadapan kami, membuat rahangku terbuka. Tidak, bukan terbuka secara mental tapi benar-benar terbuka. Bagaimana mungkin makhluk seperti ini bisa berjalan-jalan dengan santainya? Dia harus ditangkap! Dia seorang kriminal! Dia bisa membuat para gadis dan wanita menggila hanya dengan mengibaskan rambut peraknya! Oh God!
"Dua jam, Kakashi. Setelah itu kita harus berangkat ke lokasi," kata Mei sambil memperlihatkan daftar jadwal Kakashi pagi ini lewat bukunya. Dan aku? Aku hanya terpana berdiri di sana dengan mata tak berkedip sama sekali. Ini sungguh memalukan!
"Dua jam sudah lebih dari cukup untukku yang selalu sibuk ini," sahut Kakashi cepat sambil menarik tanganku, mengembalikanku ke dunia nyata dengan tiba-tiba membuatku berseru pelan. "Thank you, Mei, and have a nice day!"
"Terima kasih, Mei-san!" seruku dengan tubuh tersentak dan kini sebuah dada yang bidang dan lembut menempel di pipiku. Aku sadar jika pintu di belakang kami telah menutup. Tanpa sadar mataku terpejam, menyesap wangi laundry dari kaos putih polosnyabercampur vanila dan satu aroma yang membuat maskulinitas pria di atasku makin terasa. Hei, Kakashi, maukah kau jadi bantal tidurku? Rasanya aku tidak ingin terbangun dari dadamu ini.
"Kulihat kau dan Mei lebih akrab dari sebelumnya." Suara bariton Kakashi yang keluar dari dadanya membuat mataku terbuka, tertarik dari dunia khayalku dan aku mengangkat wajah untuk menatap pria itu yang kini tersenyum dengan kerutan samar di kedua sudut matanya. Wajah kami begitu dekat hingga aku bisa melihat sebuah tahi lalat kecil di sudut kanan bibir atasnya. Oh my… lalat itu benar-benar beruntung bisa menandai wajah Kakashi. Dia lalu melepas genggamannya dari kedua lenganku sebelum memutar tubuhku menghadap ruangan yang lebih luas.
"Kami berbicara sedikit," ujarku setelah menemukan suaraku yang sempat hilang. Kedua tangannya kini berada di pundakku, meremasnya lembut membuatku menahan napas.
"Tentangku?"
"Yeah," jawabku pelan. Kakashi mendorongku pelan menuju meja bundar dekat jendela. "Wait." Aku berhenti sesaat untuk membuka keds-ku. Dengan kaki telanjang aku melangkah, kedua tangan Kakashi tak lepas dari pundakku. Dia menuntunku, menarik kursi untukku dan menghenyakkan bokongku di atasnya. Tak lama Kakashi duduk di hadapanku. Aku menunduk dan menemukan variasi sarapan kami hari ini. "Wow."
"Mhmm." Jemari Kakashi yang panjang dan ramping tampak sedang menaburkan sesuatu ke atas roti bakar.
Aku bertanya dengan polos, "Apa itu?" Hei, jangan salahkan aku yang memang belum pernah melihat serbuk kecoklatan itu. Apakah itu jenis makanan para selebriti yang bagi kami, rakyat jelata, belum pernah mencobanya? Rakyat jelata? Tanpa sadar aku tersenyum.
"Kayu manis. Want some?" Kakashi menunjuk dengan dagunya pada roti bakar milikku. Dalam hati aku bersyukur dia sama sekali tidak menegur ketidaktahuanku soal… err, makanan ini.
"Yes, please," ujarku pelan dengan mulut yang sudah dipenuhi saliva. Tapi tangan Kakashi tak kunjung bergerak. Ah, aku hampir lupa! Aku berdehem pelan, "Please, Daddy."
"Good girl." Salah satu sudut bibir Kakashi melengkung membuatku tersenyum bangga.
Sarapan kami adalah roti bakar dengan toping berbeda. Milikku adalah dua tangkup roti bakar dengan toping bluberi sementara Kakashi dengan toping cinnamon apple. Aku tak henti-hentinya menggumam sambil memejam mata merasakan kenikmatannya. Jujur saja, sarapanku jika bukan ramen, aku bisa mendapatkan panekuk dengan toping madu di kedai Army bersama secangkir kopi espresso. But this… this is so fucking delicious!
"Terima kasih untuk sarapannya," kataku setelah meneguk Mocha Latte. Mataku lalu menatap ke luar jendela, pada langit biru cerah."Ini enak sekali, sungguh. Apa kau membuatnya?"
"Nope," sahut Kakashi dengan cara khasnya: membuat bunyi 'pop' dengan bibirnya kala tiba di huruf terakhir. "Aku memesannya."
"Haha, tentu saja!" Aku memukul kepalaku sendiri. "Saking sibuknya kau mungkin tidak bisa memasak untuk dirimu sendiri. Lagipula kau punya asisten yang bisa memenuhi keinginanmu, bukan?"
Kakashi tersenyum tipis. "Bukan tidak bisa tapi jarang. Aku bisa memasak." Dia mengiris roti bakarnya, memenuhinya dengan cinnamon apple, mengambilnya dengan jari lalu mengarahkannya ke bibirku. "Eat."
Bibirku bergerak terpisah, rahangku membuka dan serta merta Kakashi memasukkan roti ke mulutku. Aku mulai mengunyah dan napasku seketika tercekat di tenggorokan saat ujung telunjuk pria itu terapit di antara kedua bibirku. Aku tak tahu apa dia sengaja melakukannya tapi yang jelas tindakannya kali ini telah berhasil membuat perutku bergejolak tak karuan. Oh shit, perasaan apa ini? Namun alih-alih menolaknya, dan entah rasa percaya diri muncul dari mana, aku justru menggigit jarinya dengan tatapan tak lepas dari wajahnya. Mata kami bertemu. Sepasang abu-abu Kakashi nampak berkilat gelap, sesuatu yang sulit kuartikan. Sementara bibirku mulai mencecap ujung jarinya yang terasa manis, kedua tanganku berdiam kaku di pangkuan. Perut bagian bawahku terasa berputar aneh dan napasku mulai memburu. Tatapan kami tak terputus. Ujung lidahku pada akhirnya menyentuh telunjuk Kakashi dan pria itu tiba-tiba menariknya keluar, membawa jari ramping itu ke bibirnya sendiri dan menjilatinya. Oh. Oh my fuckin' God… Aku membekap mulutku dan mengerjap tak terkendali.
"Apa yang telah kulakukan?" Aku mengerang pelan sembari menjatuhkan kepalaku ke atas meja dengan bunyi tuk! Rasanya sekujur tubuhku memerah dan aliran darahku memanas. Rasanya aku tak sanggup untuk menatap pria itu lagi. Lalu kurasakan sebuah tangan besar menepuk-nepuk kepalaku.
"You doing good, Sakura."
Kepalaku terangkat. Rona merah masih belum hilang dari telinga dan pipiku saat kutemukan Kakashi menatapku dengan kilatan yang sepertinya menyatakan rasa bangga di mata abu-abunya.
"Am I?" tanyaku lirih.
"Fuck, yes, baby girl. Jika aku adalah kekasihmu, aku akan menyingkirkan semua yang ada di atas meja dan bercinta denganmu di sini, sekarang juga." Suara Kakashi berubah rendah dan serak membuat tubuhku mematung seketika.
"…"
Aku hanya terdiam menatapnya sambil berkedip pelan. Suasana canggung seketika. Aku sendiri hanya bisa menebak-nebak apakah kalimat barusan yang meluncur dari bibir Kakashi, dikatakannya secara sadar atau hanya spontanitas belaka.
Rasanya hal itu berlangsung selama beberapa menit hingga Kakashi berdehem lalu meneguk kopi miliknya. Kali ini aku menunduk, merasa deretan roti bakar yang tinggal setengah jauh lebih menarik dibanding memandang lama pria di depanku, tapi aku yakin tatapannya tak pernah lepas dariku. Ya, Tuhan, jangan biarkan aku kena serangan jantung sebelum lulus kuliah. Kumohon!
"Apa itu?" Mataku mendapati setumpuk kertas tak jauh dari siku Kakashi berada. Syukurlah! Hitung-hitung ini sebagai usaha pengalih perhatian.
"Naskahku." Kakashi meletakkan cangkirnya ke atas meja.
"Kau jadi detektif 'kan?" Aku menyentuh tumpukan naskah itu. "May I?" Saat Kakashi mengangguk mengijinkan, aku menarik naskah tersebut dan mulai membuka-bukanya. "Kau jadi detektif yang berusaha memecahkan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja berkepribadian ganda… wow, I got spoiler!" seruku saat memilih langsung ke halaman terakhir. "A lot of spoilers!" Aku menyeringai pada Kakashi yang kini bersandar dengan kedua lengan terlipat ke dada bidangnya. "Ini seperti hak istimewa!"
"Because you are my baby girl," ujarnya pelan dengan suara bariton rendah itu lagi.
"Daddy?" Aku merasa tensi beberapa menit lalu yang sempat memanas kini mulai mendingin.
"Yes, baby?"
"Apa Sugar Baby sebelumnya juga sarapan bersamamu?"
"Tidak selalu tapi tentu saja."
"Lalu apakah mereka bisa melihat naskah dialog seperti yang kulakukan sekarang ini?" Aku menatap Kakashi yang tampak berpikir sejenak kemudian menggeleng. Senyumku berkembang. "Jadi tidak masalah 'kan jika aku bilang ini adalah hak istimewa?"
Punggung Kakashi menegak, salah satu tangannya kini terlipat di permukaan meja dan yang lainnya terjulur untuk mengusap tulang pipiku. Aku menikmati tangannya di pipiku, membuatku seperti kucing yang dielus. Oh jangan bilang aku juga mendengkur senang!
"Tentu saja tidak masalah, kitten."
Kitten. I like that.
Aku masih ingin bertanya mengenai satu hal yang mengganjal di hatiku saat sebuah ketukan terdengar di pintu depan. Ketukan yang terkesan tegas dan elegan. Bisa kudengar Kakashi mengumpat pelan. Dia berdiri, melintasi ruangan untuk membuka pintu depan.
"Selamat pagi, Hatake!"
Aku meneguk ludah. Suara itu… apakah dia benar berdiri di sana atau hanya imajinasiku? Aku menoleh untuk menemukan Kakashi berdiri dengan pintu yang tak terbuka lebar. Pandanganku terhalang oleh tubuh jangkungnya tapi perasaan tak enak langsung melandaku. Aku mengenal suara itu.
"Aku membawakanmu sarapan!"
"Fujikaze." Terdengar suara Kakashi yang rupanya sama terkejutnya dengan diriku.
Detak jantungku terdengar semakin keras dan keras. Oh, ini tidak baik. Apa yang harus kulakukan?
"Ini adalah hari pertama kita berada di lokasi syuting yang sama, jadi kurasa kita bisa sarapan bersama untuk lebih mendekatkan diri!"
Aku langsung menghadap ke depan, tak lagi berani menoleh apalagi memutar tubuh saat pintu terbuka lebar. Jadi aku hanya duduk di kursiku, dengan detak jantung yang tak bisa kukendalikan sementara langkah ringan itu semakin mendekat dan ketika aroma mawar Inggris memenuhi rongga hidungku, aku tahu jika Yukie Fujikaze telah berdiri tak jauh dariku dan dia pun berkata dengan nada yang tak dapat kudeskripsikan tapi aku yakin rasa kecewa adalah salah satu di antaranya.
"Oh. Kau sudah punya teman sarapan rupanya."
::::
TBC
::::
Pojok Review:
V3: Saya hanya memperlihatkan yang indah-indah saja demi kelancaran fic ini ^^. Ada juga sisi gelap dari dunia SugarDaddy/SugarBaby tp saya nggak akan membahas banyak tentang itu di sini. Thanks.
Yumehara: udah up. Thanks.
Zeedezly. Clalucindtha: tentu saja. Karena dia adalah SugarDaddy Sakura. Thanks.
Shinaciku: udah up. Thanks.
Adoringharuno: Kakashi manis? Saya rasa juga begitu haha. Thanks krn udah baca fic-fic kami. Ditunggu ripyunya. Thanks.
Silver Red Hatake: semangat juga. Thanks!
savanass: thanks. Ini sudah up! Ripyu ditunggu!
Amore. Ai: yang ngenalin pertama kali ke KakaSaku sih sebenarnya Amaya. Saya lebih dulu berkutat di S.N.S kalau di fandom Naruto. Lebih dulu mendarat sebenarnya di Bleach dengan pair ByakuyaRukia dan pair UlquiHime. Meski kapal KakaSaku karam (udah tau sih sebenarnya kalau mereka nggak bakal bersatu) seenggaknya masih ada FFN yang memfasilitasi imajinasi #gayaSpongebob. Thanks ripyunya!
Cantik: orang ketiga? Hmm… boleh. Thanks anw.
Rieki Kikkawa: halo kak, long time no see juga. Ripyunya ditunggu. Thanks.
Ash Shey: sisi gelap dunia ini juga ada. Saya akan membahasnya tapi nggak detil. So stay with me! Thanks!
Annis874: Tak ada manusia yang sempurna. Jadi stay with me, 'kay?
Saya mengedit scene-scene terakhir. Yah, saya adalah tipe author yang publish dulu edit kemudian #dilemparrotibakar. Ripyu chapter ini lumayan banyak and I'm so glad #bow. Ini seperti drugs yang membuat saya untuk selalu cepat apdet. Thanks everyone!
Once again, feel free to send PM, review, constructive criticisms and suggestions.
